Pengaruh Teknik Pernapasan Buteyko Terhadap Penurunan Gejala Pasien Asma Kota Tangerang Selatan

(1)

TERHADAP PENURUNAN GEJALA PASIEN ASMA

KOTA TANGERANG SELATAN

Skripsi

Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Keperawatan (S.Kep.)

OLEH :

NURDIANSYAH

108104000013

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA


(2)

(3)

(4)

(5)

iv

Nama : Nurdiansyah

Tempat, Tgl. Lahir : Bekasi, 20 Desember 1989

Alamat : Jl. Raya Pertamina Kp. Kedaung Ds. Kedung Jaya Rt. 004 Rw. 002 No. 17 Kec. Babelan Kab. Bekasi No. Telp/HP : 08561949405

e-mail : iand_elsyah@yahoo.com

Riwayat Pendidikan :

1. MI Attaqwa 14 Kedaung, Bekasi-Jawa Barat 2. MTs Attaqwa 01 Pusat Putera, Bekasi-Jawa Barat 3. MA Attaqwa 01 Pusat Putera, Bekasi-Jawa Barat

Pengalaman Organisasi :

1. Ketua Dewan Ambalan Perguruan Attaqwa, Bekasi-Jawa Barat.

2. Kepala Bagian Kesehatan Pengurus Persatuan Pelajar Attaqwa (PPA), Bekasi-Jawa Barat.

3. Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Jurusan Ilmu Keperawatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

4. Direktur Kesekretariatan Lembaga Kesehatan Mahasiswa Islam (LKMI) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ciputat, Banten.

5. Ketua Umum Komisariat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan HMI Cabang Ciputat, Banten.

Penghargaan :

1. Juara 3 Pidato Bahasa Indonesia MTs Attaqwa Pusat Putra Tahun 2004 2. Juara 1 Puisi Bahasa Indonesia Mts Attaqwa Pusat Putra Tahun 2004 3. Juara 1 Musikalisasi Puisi Pon-Pes Attaqwa Putra Tahun 2007 4. Juara 1 Puisi Bahasa Inggris MA Attaqwa Pusat Putra Tahun 2007 5. Juara 1 Presentasi Ilmiah Pon-Pes Attaqwa Putra Tahun 2008


(6)

v Nurdiansyah, NIM: 108014000013

Pengaruh Teknik Pernapasan Buteyko Terhadap Penurunan Gejala Pasien Asma Kota Tangerang Selatan

xviii + 86 Halaman, 19 Tabel, 5 Gambar, 7 Lampiran ABSTRAK

Asma adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermiten, reversibel dimana trakea dan bronki berespons secara hiperaktif terhadap stimuli tertentu. Seseorang yang menderita asma mengalami gejala asma berupa batuk-batuk, sesak napas, bunyi saat bernapas (wheezing atau ngik..ngik..), rasa tertekan di dada, dan gangguan tidur karena batuk atau sesak napas. Teknik pernapasan Buteyko digunakan sebagai teknik alami untuk menurunkan gejala asma dan keparahan asma. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh teknik pernapasan Buteyko terhadap penurunan gejala asma pasien asma. Desain penelitian ini adalah eksperimen semu dengan rancangan

non-random control group pretest-postest. Sampel penelitian berjumlah 20 orang (10 orang sebagai kelompok intervensi dan 10 orang sebagai kelompok kontrol) yang diambil secara quota sampling. Hasil penelitian adalah ada pengaruh kuat antara teknik pernapasan Buteyko terhadap penurunan gejala asma pada pasien asma (p value 0.00 dan nilai eta squared 0.93). Teknik pernapasan Buteyko dapat diterapkan bagi pelayanan keperawatan sebagai intervensi keperawatan komplementer dalam upaya menurunkan gejala asma. Bagi peneliti yang akan melakukan penelitian sejenis dimasa yang akan datang maka perlu membandingkan teknik pernapasan Buteyko dengan metode lain penurun gejala asma.

Kata Kunci: Asma, Teknik Pernapasan Buteyko, Gejala Asma Daftar Bacaan: 58 (1999-2012)


(7)

vi PROGRAM STUDY OF NURSING SCIENCE Paper, 05 January 2013

Nurdiansyah, NIM: 108104000013

The Effect of Buteyko Breathing Techniques to Decrease Patients Asthma Symptoms in South Tangerang City

xviii + 86 Pages, 19 Tables, 5 Figure, 7 Appendix

ABSTRACT

Asthma is an intermittent, reversible, obstructive airway disease characterized by increased responsiveness of the trachea and bronchi to various stimuli. A patient with asthma have asthma symptoms such as coughing, dyspnea, wheezing, chest tightness, pain or pressure and sleep disturbance due to cough or shortness of breath. Buteyko breathing technique is used as a natural technique to reduce the symptoms of asthma and asthma severity. This researched aims to determine the effect of the Buteyko breathing technique to decrease patients asthma symptoms. The research design was quasi-experimental design with a non-randomized control group pretest-posttest. Sample this researched 20 persons (consisting of 10 persons as the intervention group and 10 as control group) which were taken by quota sampling. As the results, there was influence of the Buteyko breathing technique to decrease patients asthma symptoms with large effect (p value 0.00 and eta square value 0.93). I suggest when we will nursing interventions, Buteyko breathing technique can be used decrease asthma symptoms as a complementary nursing intervention. The researchers who intends to research the same way in next time must be compared the Buteyko breathing technique with other methods of reducing the symptoms of asthma.

Keywords: Asthma, Buteyko Breathing Technique, Asthma Symptoms References: 58 (1999-2012)


(8)

vii

Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh

Puji syukur kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan limpahan kenikmatan kepada penulis, terutama kesehatan yang selalu dijaga-Nya sehingga penulis mampu menyelesaikan penulisan skripsi ini.

Solawat dan salam disampaikan kepada Muhammad SAW, penyampai pesan ke-islaman dan menjadi inspirasi penulis untuk selalu terus melaksanakan kewajiban yang diemban ini.

Manusia sebagai insan sosialis, yang sangat memerlukan manusia lainnya dalam beraktivitas. Begitupula penulis sebagai insan yang selalu dibantu dalam menyelesaikan penulisan ini mengucapkan terimakasih kepada berbagai pihak diantaranya:

1. Ayahanda Mulyadi dan Ibunda Maryanih yang memberikan kasih sayangnya secara total kepada penulis dan selalu memberikan dukungan kepada penulis untuk menyelesaikan penulisan ini.

2. Prof. dr.Dr (hc) M.K Tadjudin, Sp.And selaku Dekan Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

3. Pak Waras Budi Utomo, S.Kep., Ns., M.KM. selaku Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan dan pembimbing skripsi yang terus membimbing proses penelitian. 4. Ibu Eni Nuraeni S.Kep., Ns., M.Sc. selaku Sekretaris Program Studi Ilmu


(9)

viii

bosan memberikan arahan dan motivasi untuk menyelesaikan penulisan ini. 6. Ibu Ita Yuanita, S.Kp, M.Kep serta Ibu Maftuhah, Ph.D. selaku penguji yang

memberikan masukan dan sarannya untuk menyempurnakan penulisan ini. 7. Keluarga besar Dosen Progam Studi Ilmu Keperawatan Universitas Islam Negeri

Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan ilmu yang bermanfaat dan motivasi selama proses perkuliahan hingga penyusunan tugas akhir skripsi. 8. Ketua Dinas Kesehatan Tangerang Selatan Pak Dadang, M. Epid, Kepala

Puskesmas UPT Ciputat dan Ciputat Timur yang memberikan izin untuk membantu mempermudah proses pengambilan data dalam penulisan ini.

9. Masyarakat Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur yang telah berpartisipasi dalam penelitian.

10.Segenap Staf bidang Akademik FKIK dan Program Studi Ilmu Keperawatan. 11.Minfadillah dan Annisa Sri Mulyani adikku tercinta, serta Endah Nurfitriani

yang selalu menjadi pemberi senyum dan penyemangat saat penulis mulai jenuh untuk menyelesaikan penulisan ini.

12.Kawan-kawan dan Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Ciputat, Komisariat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan maupun Lembaga Kesehatan Mahasiswa Islam (LKMI), Kanda Adi Hasan, S.Si, Kanda Wahyu, Kanda Mahmudah, Kanda Kiki, Iah, Risma, Imam, Aan, Ihsan, Septi, Pura, Ica, Mayang, Luqman, Titi dan lainya lagi yang tidak bisa disebutkan satu-persatu namun tidak mengurangi kecintaan dan persahabatan penulis kepada kalian yang


(10)

ix

13.Kakak-kakak dan adik-adik BEM Ilmu Keperawatan Kak Egi, Kak Tya, Sandra, Rusmanto serta lainnya yang memberikan motivasi terus kepada penulis dan mengingatkan untuk segera menyelesaikan penulisan ini.

14.Adik-adik Forum Komunikasi Mahasiswa Attaqwa (FKMA) Yutih, Dirli, Mahfudin, Anang, Dzul, Daus, Miftah dan lainya yang kadang penulis susahkan untuk membantu penulis.

15.Teman – teman seperjuangan Angkatan 2008 yang telah memberikan dukungan dan motivasi selama proses perkuliahan hingga penyusunan tugas akhir Skripsi.

Layaknya sebuah pepatah ” Tiada Gading Yang Tak Retak ”, Penulis pun

menyadari bahwa proses penyusunan skripsi ini tak lepas dari kekurangan, karena sesungguhnya kesempurnaan hanyalah milik Allah. Semoga kekurangan yang ada dalam skripsi ini dapat dijadikan motivasi bagi adik – adik dari disiplin ilmu Keperawatan untuk mengembangkan kembali penelitian yang dilakukan dan kelebihan yang ada pada skripsi ini semoga dapat memberikan manfaat bagi segenap jajaran institusi pendidikan di Bidang Keperawatan.

Billahi taufiq walhidayah

Wassalamu’alaikum Wr.Wb

Tangerang Selatan, 05 Januari 2013


(11)

x

Halaman

LEMBAR PERSETUJUAN ... i

LEMBAR PENGESAHAN ... ii

LEMBAR PERNYATAAN ... iii

RIWAYAT HIDUP ... iv

ABSTRAK ... v

ABSTRACT ... vi

KATA PENGANTAR ... vii

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xiv

DAFTAR TABEL ... xv

DAFTAR GAMBAR ... xvi

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 2

B. Perumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 5

1. Tujuan Umum ... 5

2. Tujuan Khusus ... 5

D. Manfaat Penelitian ... 6

E. Ruang Lingkup Penelitian ... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 8

A. Asma ... 8

1. Pengertian Asma ... 8

2. Jenis-jenis Asma ... 9

3. Etiologi ... 10

4. Tanda dan Gejala Asma ... 11


(12)

xi

8. Pengobatan Asma ... 23

9. Pemeriksaan Diagnostik ... 25

B. Teknik Pernapasan Buteyko ... 31

1. Definisi ... 31

2. Manfaat ... 32

3. Teori Dasar Teknik Pernapasan Buteyko... 33

4. Tujuan ... 34

5. Cara Melakukan Teknik Pernapasan Buteyko ... 35

6. Konsep Transpor Karbon Dioksida dalam Darah ... 40

7. Teori Karbon Dioksida Perspektif Buteyko ... 41

8. Penelitian Terkait ... 43

C. Konsep Kebutuhan Dasar menurut Maslow dan Teori Self Care Orem ... 44

D. Kerangka Teori ... 46

BAB III KERANGKA KONSEP, HIPOTESA DAN DEFINISI OPERASIONAL ... 47

A. Kerangka Konsep ... 47

B. Hipotesis ... 48

C. Definisi Operasional ... 49

BAB IV METODOLOGI PENELITIAN ... 50

A. Desain Penelitian ... 50

B. Populasi dan Sampel ... 51

1. Populasi ... 51

2. Sampel ... 51

C. Tempat Penelitian ... 53

D. Waktu Penelitian ... 54


(13)

xii

2. Prosedur Penelitian ... 55

F. Uji Validitas dan Realibilitas ... 56

G. Pengolahan dan Analisa data ... 57

1. Pengolahan Data ... 57

2. Analisa Data ... 58

H. Etika Penelitian ... 60

1. Informed Consent ... 60

2. Anonimity (Tanpa Nama) ... 61

3. Kerahasiaan (Confedentiality) ... 61

BAB V HASIL PENELITIAN ... 63

A. Analisa Univariat ... 63

1. Karakteristik Responden ... 64

2. Skor Gejala Asma Responden... 65

B. Analisa Bivariat ... 66

1. Uji Normalitas (Kolmogorov-Smirnov Test) ... 67

2. Uji Beda Dua Mean Independen ... 68

3. Uji Dua Mean Dependen (Uji T Dependen) ... 70

BAB VI PEMBAHASAN ... 73

A. Interpretasi dan Hasil Diskusi ... 73

1. Karakteristik Responden ... 74

a. Karakteristik Responden Menurut Usia ... 74

b. Karakteristik Responden Menurut IMT ... 74

c. Karakteristik Responden Menurut Jenis Kelamin ... 75

2. Skor Gejala Asma Responden... 75

3. Perbandingan Penurunan Gejala Asma antara post teknik Pernapasan Buteyko dan Post Kontrol ... 76


(14)

xiii

B. Keterbatasan Penelitian ... 83

C. Implikasi Hasil Penelitian ... 83

1. Implikasi terhadap Pelayanan Keperawatan ... 83

2. Implikasi Terhadap Keilmuwan ... 84

BAB VII KESIMPULAN DAN SARAN ... 85

A. Kesimpulan ... 85

B. Saran ... 86

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN


(15)

xiv

Lampiran 1 Lembar Persetujuan Responden

Lampiran 2 Kuisioner Data Demografi dan Penapisan & Lembar Observasi Gejala Asma Pada Pasien Asma

Lampiran 3 Langkah dan Laporan Pelaksanaan Teknik Pernapasan Buteyko

Lampiran 4 Hasil Uji T-Test

Lampiran 5 Surat Permohonan Ijin Pengambilan Data Lampiran 6 Surat Ijin Penelitian


(16)

xv

Tabel 2.1 Klasifikasi Derajat Berat Asma Berdasarkan Gambaran Klinis (Sebelum

Pengobatan)... 14

Tabel 2.2 Klasifikasi Derajat Berat Asma pada Pasien dalam Pengobatan ... 15

Tabel 2.3 Derajat Kontrol Asma ... 16

Tabel 2.4 Asthma Therapy Assessment Questionnaire (ATAQ) ... 17

Tabel 2.5 Kuisioner Asthma Control Test (ACT) ... 19

Tabel 2.6 Lembar Observasi Gejala Asma Mingguan ... 21

Tabel 2.7 Nilai Normal dari Gas Darah Arteri ... 29

Tabel 2.8 Perubahan Asam-Basa pada Asidosis dan Alkalosis ... 30

Tabel 3.1 Definisi Operasional ... 49

Tabel 5.1 Distribusi Frekuensi Usia ... 64

Tabel 5.2 Data Demografi Berdaasarkan Indeks Massa Tubuh pada Responden Penelitian... 64

Tabel 5.3 Data Demografi Berdasarkan Jenis Kelamin pada Responden Penelitian .. 65

Tabel 5.4 Analisa Skor Gejala Asma Mingguan pada Kunjungan Awal, Minggu Ke-1 dan Minggu Ke-2 pada Kelompok Intervensi ... 65

Tabel 5.5 Analisa Skor Gejala Asma Mingguan pada Kunjungan Awal, Minggu Ke-1 dan Minggu Ke-2 pada Kelompok Kontrol ... 66

Tabel 5.6 Analisa Hasil Uji Normalitas Data Responden Intervensi dan Kontrol... 67

Tabel 5.7 Analisa Hasil Perbedaan Rata-rata Skor Gejala Asma Kunjungan antara Kelompok Intervensi dan Kontrol ... 68

Tabel 5.8 Analisa Hasil Uji Beda Dua Mean Independen Responden pada Kelompok Kontrol dan Intervensi ... 69

Tabel 5.9 Analisa Hasil Uji Paired Sample Test Responden Pada Kelompok Intervensi... 70 Tabel 5.10 Analisa Hasil Uji Paired Sample Test Responden Pada Kelompok Kontrol71


(17)

xvi

Nomor Gambar Halaman

Gambar 2.1. Set Buteyko Minggu Ke-1 ... 36

Gambar 2.2. Set Buteyko Minggu Ke-2 ... 36

Gambar 2.3.Kerangka Teori ... 46

Gambar 3.1. Kerangka Konsep ... 47


(18)

1 A.LATAR BELAKANG

Asma adalah penyakit inflamasi kronik saluran napas yang menyebabkan peningkatan hiperesponsif jalan napas yang menimbulkan gejala episodik berulang berupa mengi, sesak napas, dada terasa berat dan batuk-batuk terutama malam menjelang dini hari. Gejala tersebut terjadi berhubungan dengan obstruksi jalan napas yang luas, bervariasi dan seringkali bersifat reversibel dengan atau tanpa pengobatan (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2006). Brunner dan Sudarth (2002) mengatakan bahwa asma adalah penyakit jalan napas obstruktif intermitten, reversibel dimana trakea dan bronki berespons dalam secara hiperaktif terhadap stimuli tertentu. World Health Organization (WHO) mendefinisikan asma sebagai penyakit kronis bronkial, yaitu saluran udara yang menuju ke paru-paru (WHO, 2011). Istilah asma ini diambil dari kata yunani yang artinya terengah-engah dan berarti serangan pendek. (Price dan Wilson, 2006).

Penyakit asma menjadi masalah yang sangat dekat dengan masyarakat karena jumlah populasi yang menderita asma semakin bertambah. Hal tersebut dinyatakan dalam survey The Global Initiative for Asthma (GINA), ditemukan bahwa kasus asma diseluruh dunia mencapai 300 juta jiwa dan diprediksi pada tahun 2025 pasien asma bertambah menjadi 400 juta jiwa (GINA, 2005). WHO pun mendukung pernyataan tersebut dengan hasil penelitiannya yang memperkirakan bahwa 235 juta


(19)

orang saat ini menderita asma. Sebagian besar asma terkait kematian, hal ini terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah-kebawah (WHO, 2011).

Di Indonesia penyakit asma menduduki urutan sepuluh besar penyebab kesakitan dan kematian (Depkes RI, 2009). Hal ini sesuai dengan Survey Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) di berbagai propinsi di Indonesia. SKRT tahun 1986 menunjukkan asma menduduki urutan ke-5 dari 10 penyebab kesakitan (morbiditas) bersama-sama dengan bronkhitis kronik dan emfisema. Pada SKRT 1992, asma, bronkhitis kronik dan emfisema sebagai penyebab kematian ke-4 di Indonesia atau sebesar 5,6%. Tahun 1995, prevalensi asma di seluruh Indonesia sebesar 13/1000, dibandingkan bronkhitis kronik 11/1000 dan obstruksi paru 2/1000 (PDPI, 2006). Selain itu, penelitian yang dilakukan di 37 puskesmas di Jawa Timur terhadap 6.662 responden usia 13-70 tahun (rata-rata 35,6 tahun) menunjukkan prevalensi asma sebesar 7,7% dengan rincian laki-laki 9,2% dan perempuan 6,6% (PDPI, 2006).

Asma dapat menyebabkan terganggunya pemenuhan kebutuhan dan menurunkan produktivitas penderitanya (PDPI, 2006). Asma terbukti menurunkan kualitas hidup penderitanya. Dalam sebuah studi ditemukan bahwa dari 3.207 kasus yang diteliti, pasien yang mengaku mengalami keterbatasan dalam berekreasi atau olahraga sebanyak 52,7%, 44-51% mengalami batuk malam dalam sebulan terakhir, keterbatasan dalam aktivitas fisik sebanyak 44,1%, keterbatasan dalam aktivitas sosial sebanyak 38%, keterbatasan dalam memilih karier sebanyak 37,9%, dan keterbatasan dalam cara hidup sebanyak 37,1%. Bahkan, pasien yang mengaku mengalami keterbatasan dalam melakukan pekerjaan rumah tangga sebanyak 32,6%, 28,3% mengaku terganggu tidurnya minimal sekali dalam seminggu, dan 26,5%


(20)

orang dewasa juga absen dari pekerjaan. Selain itu, total biaya pengobatan untuk asma sangat tinggi dengan pengeluaran terbesar untuk ruang emergensi dan perawatan di rumah sakit (United States Environmental Protection Agency, 2004). Biaya pengobatan untuk asma diperkirakan mencapai 850 poundsterling tiap tahunnya (Thomas, 2004).

Pengontrolan terhadap gejala asma dapat dilakukan dengan cara menghindari alergen pencetus asma, konsultasi asma dengan tim medis secara teratur, hidup sehat dengan asupan nutrisi yang memadai, dan menghindari stres (Wong, 2003). Semua penatalaksanaan ini bertujuan untuk mengurangi gejala asma dengan meningkatkan sistem imunitas (The Asthma Foundation of Victoria, 2002).

Akhir-akhir ini, para pasien asma mulai memanfaatkan terapi komplementer (nonfarmakologis) untuk mengendalikan asma yang dideritanya. Jumlah pasien asma yang sudah memanfaatkan terapi komplementer ini diperkirakan cukup tinggi yaitu sekitar 42% dari populasi pasien asma yang ada di New Zealand (McHugh et al., 2003).

Pengontrolan asma dengan terapi komplementer dapat dilakukan dengan teknik pernapasan, teknik relaksasi, akupunktur, chiropractic, homoeopati, naturopati dan hipnosis. Teknik-teknik seperti ini merupakan teknik yang banyak dikembangkan oleh para ahli. Salah satu teknik yang banyak digunakan dan mulai populer adalah teknik pernapasan. Dalam teknik ini diajarkan teknik mengatur napas bila pasien sedang mengalami asma atau bisa juga bersifat latihan saja (The Asthma Foundation of Victoria, 2002). Teknik ini juga bertujuan mengurangi gejala asma dan memperbaiki kualitas hidup ( McHugh et al., 2003).


(21)

Salah satu metode yang dikembangkan untuk memperbaiki cara bernapas pada pasien asma adalah teknik olah napas. Teknik olah napas ini dapat berupa olahraga aerobik, senam, dan teknik pernapasan seperti Thai chi, Waitankung, Yoga, Mahatma, Buteyko dan Pranayama (Fadhil, 2009). Olahraga pernapasan sebagai salah satu bentuk olah napas efektif terhadap menurunkan gejala asma mingguan dan gejala asma bulanan pada pasien asma (Mardhiah, 2008). Beberapa teknik olah napas ini tidak hanya khusus dirancang untuk pasien asma, karena sebagian dari teknik pernapasan ini dapat bermanfaat untuk berbagai penyakit lainnya. Namun demikian, ada juga beberapa teknik pernapasan yang memang khusus untuk pasien asma yaitu teknik pernapasan Buteyko dan Pranayama (Thomas, 2004; Fadhil, 2009).

Menurut Douglas Dupler (2005) teknik pernapasan Buteyko merupakan sebuah metode untuk mengatur asma. Teknik ini didasari oleh latihan pernapasan yang bertujuan untuk mengurangi kontriksi jalan nafas. Buteyko merupakan sebuah terapi yang mempelajari teknik pernapasan yang dirancang untuk memperlambat dan mengurangi masuknya udara ke paru-paru, jika teknik ini dipraktikan sering, maka dapat mengurangi gejala dan tingkat keparahan masalah pernapasan (Longe, 2005). Courtney dan Cohen (2008) menyatakan bahwa teknik pernapasan Buteyko dapat memengaruhi perubahan pada gejala dispnea didasari pada efisiensi biomekanik pernapasan. Metode pernafasan Butekyo juga memberikan pengaruh terhadap pasien asma yang sedang mengalami terapi kortikosteroid inhalasi yaitu mengurangi penggunaan terapi pengobatan tersebut (Cowie, et.al. 2007)

Pemberian latihan teknik pernapasan Buteyko secara teratur akan memperbaiki buruknya sistem pernapasan pada pasien asma sehingga akan


(22)

menurunkan gejala asma (Kolb, 2009). Prinsip latihan teknik pernapasan Buteyko ini adalah latihan teknik bernapas dangkal (GINA, 2005) dan teknik pernapasan Buteyko ini efektif terhadap peningkatan derajat kontrol asma (Prasetya, 2011). Hal tersebutlah yang mejadi latar belakang penulisan yang peneliti lakukan untuk mencoba mengkaji dan meneliti lebih dalam terkait tentang pengaruh teknik pernapasan Buteyko terhadap penurunan gejala asma.

B.PERUMUSAN MASALAH

Teknik pernapasan Buteyko banyak dilaporkan sebagai salah satu teknik pernapasan yang dapat mengontrol asma. Maka dalam penelitian ini, peneliti ingin melihat bagaimana pengaruh teknik pernapasan Buteyko terhadap penurunan gejala pasien asma Kota Tangerang Selatan.

C.TUJUAN PENELITIAN 1. Tujuan Umum:

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh teknik pernapasan Buteyko terhadap penurunan gejala asma.

2. Tujuan Khusus:

a. Mengidentifikasi gambaran karakteristik demografi pasien asma di wilayah Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur Kota Tangerang Selatan.

b. Mengidentifikasi gejala asma sebelum melakukan teknik pernapasan Buteyko. c. Mengidentifikasi gejala asma sesudah melakukan teknik pernapasan Buteyko.


(23)

d. Membandingkan antara asien asma diintervensi dengan kontrol tentang penurunan gejala asma.

D.MANFAAT PENELITIAN 1. Untuk klien :

Penelitian ini dapat memberikan masukan kepada pasien asma agar teknik pernapasan Buteyko sebagai metode alternatif dalam mengontrol asmanya.

2. Untuk institusi pendidikan :

Hasil penelitian ini dapat menjadi masukan untuk menambah wawasan tentang pengaruh teknik pernapasan Buteyko pada pasien asma terhadap penurunan gejala asma.

3. Untuk peneliti :

Penelitian ini mampu menjadi awal pola pemikiran peneliti untuk melakukan penelitian-penelitian selanjutnya, sebagaimana peran perawat sebagai researcher. 4. Untuk penelitian akan datang :

Hasil penelitian dapat dijadikan data dasar dalam pengembangan penelitian lain dengan ruanglingkup yang sama.

E.RUANG LINGKUP PENELITIAN

Penelitian ini dilakukan dengan desain studi kuasi eksperimen dan metode pendekatan kuantitatif. Data yang digunakan adalah data primer dengan menggunakan intervensi langsung terhadap pasien asma. Intervensi yang digunakan


(24)

yaitu dengan teknik pernapasan Buteyko. Populasi dalam penelitian ini adalah pasien asma di Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur Kota Tangerang Selatan.


(25)

8

TINJAUAN PUSTAKA A.Asma

Pernapasan memiliki fungsi yang sangat penting, dimana O2 (Oksigen) diperoleh

dari proses inspirasi untuk digunakan oleh sel tubuh, kemudian mengeliminasi CO2

(karbon dioksida) saat ekspirasi yang dihasilkan oleh sel (Sherwood, 2001). Terdapat tiga langkah proses oksigenasi yaitu 1) ventilasi yang merupakan proses untuk menggerakkan gas ke dalam dan keluar paru-peru, 2) perfusi sebagai fungsi utama sirkulasi paru yaitu mengalirkan darah ke dan dari membran kapiler alveoli, dan 3) difusi sebagai proses oksigenasi yang menggerakan molekul dari suatu daerah dengan konsentrasi yang lebih tinggi ke daerah dengan konsentrasi yang lebih rendah (Potter dan Perry, 2006). Pada pasien dengan menderita asma dimana terjadi obstruksi jalan napas difus revesibel yang akan mengganggu proses pernafasan secara normal (Brunner dan Suddarth, 2002).

1. Pengertian Asma

Asma adalah satu keadaan klinik yang ditandai oleh terjadinya penyempitan bronkus yang berulang namun reversibel, dan di antara episode penyempitan bronkus tersebut terdapat keadaan ventilasi yang lebih normal. (Price dan Wilson, 2006).

Brunner dan Suddarth (2002) mendefinisikan asma adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermiten, reversibel dimana trakea dan bronki berespons dalam secara hiperaktif terhadap stimuli tertentu.


(26)

Asma didefinisikan juga sebaagai gangguan inflamasi kronik saluran napas yang melibatkan banyak sel dan elemennya. Inflamasi kronik menyebabkan peningkatan hiperesponsif jalan napas yang menimbulkan gejala episodik berulang berupa mengi, sesak napas, dada terasa berat dan batuk-batuk terutama malam dan atau dini hari. Episodik tersebut berhubungan dengan obstruksi jalan napas yang luas, bervariasi dan seringkali bersifat reversibel dengan atau tanpa pengobatan (PDPI, 2006).

2. Jenis-jenis Asma

Asma terbagi menjadi tiga jenis, yaitu alergik, idiopatik dan gabungan (Brunner dan Suddarth, 2002).

Asma alergik disebabkan oleh alergen misalnya debu, bulu binatang, ketome, serbuk sari dan lainnya. Alergen yang umumnya menyebabkan asma ini adalah alergen yang penyebarannya melalui udara dan alergen yang secara musiman. Pasien asma alergik biasanya memiliki riwayat penyakit alergi pada keluarga dan riwayat pengobatan ekzema atau rhinitis alergik. Paparan alergik inilah yang mencetuskan terjadinya serangan asma (Brunner dan Suddarth, 2002).

Asma idiopatik atau non alergi, merupakan jenis asma yang tidak berhubungan secara langsung dengan alergen spesifik. Faktor-faktor seperti

common cold, infeksi saluran napas atas, aktivitas, emosi, dan polusi lingkungan dapat menimbulkan serangan asma. Beberapa agen farmakologi, antagonis beta-adrenergik, dan agen sulfite (penyedap makanan) juga dapat berperan sebagai faktor pencetus. Serangan asma idiopatik atau nonalergik dapat menjadi lebih


(27)

berat dan sering kali dengan berjalannya waktu dapat berkembang menjadi bronkhitis dan emfisema. Pada beberapa pasien, asma jenis ini dapat berkembang menjadi asma gabungan (Brunner dan Suddarth, 2002).

Asma gabungan, merupakan bentuk asma yang paling sering ditemukan. Dikarakteristikan dengan bentuk kedua jenis asma alergi dan idiopatik atau nonalergi (Brunner dan Suddarth, 2002).

3. Etiologi

Pasien asma meskipun prevalensinya pada populasi Indonesia tidak kecil yaitu 13/1000 (PDPI, 2006), namun etiologi pada asma menurut beberapa referensi belum ditetapkan dengan pasti (Djojodibroto, 2009). Walaupun belum ditetapkan dengan pasti, pada pasien asma terjadi fenomena hiperaktivitas bronkhus. Bronkus pasien asma sangat peka terhadap rangsang imunologi maupun non imunologi. Karena sifat tersebut, maka serangan asma mudah terjadi akibat berbagai rangsang baik fisik, metabolisme, kimia, alergen, dan infeksi. Faktor penyebab yang sering menimbulkan asma perlu diketahui dan sedapat mungkin dihindarkan. Faktor-faktor tersebut adalah:

a. Alergen utama seperti debu rumah, spora jamur, dan tepung sari rerumputan

b. Iritan seperti asap, bau-bauan, dan polutan

c. Infeksi saluran napas terutama yang disebabkan oleh virus d. Perubahan cuaca yang ekstrem

e. Aktivitas fisik yang berlebihan f. Lingkungan kerja


(28)

g. Obat-obatan h. Emosi

i. Lain-lain seperti refluks gastro esofagus (Somantri, 2007).

Jenis kelamin dan obesitas merupakan faktor resiko asma. Pada jenis kelamin, pria merupakan risiko untuk asma pada anak. Sebelum usia 14 tahun, prevalensi asma pada anak laki-laki adalah 1,5-2 kali dibanding anak perempuan. Tetapi menjelang dewasa perbandingan tersebut lebih kurang sama dan pada masa menopause perempuan lebih banyak. Sedangkan pada obesitas atau peningkatan indeks massa tubuh (IMT) menjadi faktor resiko asma dikarenakan mediator tertentu seperti leptin dapat memengaruhi fungsi saluran napas dan meningkatkan kemungkinan terjadinya asma. Meskipun mekanismenya belum jelas, penurunan berat badan pasien obesitas dengan asma, dapat memperbaiki gejala fungsi paru, morbiditas dan status kesehatan (Rengganis, 2008).

4. Tanda dan Gejala Asma

Gejala asma sering timbul pada waktu malam dan pagi hari. Gejala yang di timbulkan berupa batuk-batuk pagi hari, siang, dan malam hari, sesak napas, bunyi saat bernapas (wheezing atau “ngik..ngik..), rasa tertekan di dada, dan gangguan tidur karena batuk atau sesak napas. Gejala ini terjadi secara reversibel dan episodeik berulang (Yayasan Asma Indonesia, 2008; Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2006; Lewis et al, 2011).

Umumnya terdapat tiga gejala asma, yaitu batuk, dispnea dan mengi. Pada beberapa keadaan, batuk mungkin merupakan satu-satunya gejala. Serangan


(29)

asma sering kali terjadi pada malam hari. Penyebabnya tidak dimengerti dengan jelas, tetapi mungkin berhubungan dengan variasi sirkadian, yang memengaruhi ambang reseptor jalan napas. Serangan asma biasanya bermula mendadak dengan batuk dan rasa sesak dalam dada, disertai dengan pernapasan lambat, mengi, laborius. Ekspirasi selalu lebih susah dan panjang dibanding inspirasi, sehingga mendorong pasien asma untuk duduk tegak dan menggunakan otot-otot aksesori pernapasan. Jalan napas yang tersumbat menyebabkan dispnea. Batuk pada awalnya susah dan kering tetapi segera menjadi lebih kuat. Sputum yang terdiri atas sedikit mukus mengadung masa gelatinosa bulat, kecil yang dibatukkan dengan susah payah. Tanda selanjutnya termasuk sianosis sekunder terhadap hipoksia hebat, dan gejala-gejala retensi karbon dioksida, termasuk berkeringat, takikardia, dan pelebaran tekanan nadi (Brunner dan Suddarth, 2002).

5. Klasifikasi Asma

Asma dapat diklasifikasikan berdasarkan etiologi, berat penyakit dan pola keterbatasan aliran udara. Klasifikasi asma berdasarkan berat penyakit penting bagi pengobatan dan perencanaan penatalaksanaan jangka panjang, semakin berat asma semakin tinggi tingkat pengobatan. Berat penyakit asma diklasifikasikan berdasarkan gambaran klinis sebelum pengobatan dimulai (PDPI, 2006)

Durasi asma berhubungan dengan menurunnya fungsi paru dan banyaknya gejala asma (Zeiger, dkk., 1999). Umumnya pasien yang sudah dalam pengobatan, dan pengobatan yang telah berlangsung seringkali tidak adekuat.


(30)

Dipahami bahwa pengobatan akan mengubah gambaran klinis bahkan faal paru, oleh karena itu penilaian berat asma pada pasien dalam pengobatan juga harus mempertimbangkan pengobatan itu sendiri. Pada tabel berikut, menunjukan bagaimana melakukan penilaian berat asma pada pasien yang sudah dalam pengobatan. Bila pengobatan yang sedang dijalani sesuai dengan gambaran klinis yang ada, maka derajat berat asma naik satu tingkat. Contoh seorang pasien dalam pengobatan asma persisten sedang dan gambaran klinis sesuai asma persisten sedang, maka sebenarnya berat asma pasien tersebut adalah asma persisten berat. Demikian pula dengan asma persisten ringan. Akan tetapi berbeda dengan asma persisten berat dan asma intermiten pada tabel berikut. Pasien yang gambaran klinis menunjukan persisten berat maka jenis pengobatan apapun yang sedang dijalani tidak mempengaruhi penilaian berat asma, dengan kata lain pasien tersebut tetap asma persisten berat. Demikian pula pasien dengan gambaran klinis asma intermiten yang mendapat pengobatan sesuai dengan asma intermiten, maka derajat asma adalah intermiten (PDPI, 2006).


(31)

Tabel 2.1. Klasifikasi Derajat Berat Asma Berdasarkan Gambaran Klinis (Sebelum Pengobatan)

Derajat Asma Gejala Gejala

Malam

Faal paru

I. Intermiten Bulanan APE ≥ 80%

Gejala < 1 kali/minggu Tanpa gejala di luar

serangan

Serangan singkat

≤ 2 kali sebulan

VEP1≥ 80% nilai

prediksi

APE ≥ 80% nilai terbaik

Variabiliti APE < 20%

II. Persisten

ringan

Mingguan APE > 80%

Gejala > 1 kali/minggu, tetapi < 1 kali/hari

Serangan dapat

mengganggu aktiviti dan tidur

> 2 kali sebulan

VEP1 > 80% nilai

prediksi

APE > 80% nilai terbaik

Variabiliti APE 20-30%

III. Persisten sedang

Harian APE 60-80%

Gejala setiap hari

Serangan mengganggu aktiviti dan tidur

Membutuhkan bronkodilator setiap hari

> 1 kali seminggu

VEP1 60-80%

nilai prediksi APE 60-80% nilai terbaik Variabiliti APE

>30%

IV. Persisten

berat

Kontinyu APE ≤ 60%

Gejala terus-menerus Sering kambuh Aktiviti fisik terbatas

Sering VEP1≤ 60% nilai

prediksi

APE ≤ 60 nilai terbaik

Variabiliti APE >30%

Persatuan Dokter Paru Indonesia.2006. ASMA; Pedoman Diagnosis & Penatalaksanaan Di Indonesia. Jakarta:PDPI


(32)

Tabel 2.2. Klasifikasi Derajat Berat Asma pada Pasien dalam Pengobatan Tahap Pengobatan yang digunakan saat penilaian

Gejala dan faal paru dalam Pengobatan Tahap I Intermitten Tahap 2 Persisten Ringan Tahap 3 Persisten Sedang Tahap I: Intermitten

Gejala < 1x/mgg Serangan singkat

Gejala malam <2x/bulan

Faal paru normal diluar serangan

Intermiten Persisten Ringan

Persisten Sedang

Tahap II: Persisten Ringan Gejala >1x/mgg, tetapi <1x/hari Gejala malam >2x/bln, tetapi <1x/mgg

Faal paru normal diluar serangan

Persisten Ringan

Persisten

Sedang Persisten Berat

Tahap III: Persisten sedang Gejala setiap hari

Serangan mempengaruhi aktiviti daan tidur

Gejala malam >1x/mgg

60%<VEP1<80% nilai prediksi

60%<APE<80% nilai terbaik

Persisten

Sedang Persisten Berat Persisten Berat

Tahap IV: Persisten Berat Gejala terus menerus Serangan sering Gejala malam sering

VEP1 ≤60% nilai prediksi, atau

APE ≤60% nilai terbaik

Persisten Berat Persisten Berat Persisten Berat

Persatuan Dokter Paru Indonesia.2006. ASMA; Pedoman Diagnosis & Penatalaksanaan Di Indonesia. Jakarta:PDPI


(33)

6. Pengukuran Keparahan dan Terkontrolnya Asma

Pada pasien asma, ada beberapa instrument yang digunakan untuk mengkaji dan mengukur keparahan asma dan terkontrolnya asma. Kuisioner tersebut seperti Asthma Control Test (ACT), dan Asthma Theraphy Assesment Questionnaire (ATAQ) (Donell, 2009).

Menurut Global Strategy For Astma Management and Prevention GINA-Global Initiative for Astha (2011), seorang penyandang asma dikatakan terkontrol apabila memiliki 6 kriteria: (1) Tidak atau jarang mengalami gejala asma; (2) Tidak pernah terbangun di malam hari karena asma; (3) Tidak pernah atau jarang menggunakan obat pelega; (4) Dapat melakukan aktivitas dan latihan secara normal; (5) Hasil tes fungsi paru-paru normal atau mendekati normal; (6) Tidak pernah atau jarang mengalami serangan asma. Seperti tabel dibawah ini:

Tabel. 2.3 Derajat Kontrol Asma

Kriteria Penilaian Terkontrol (Semua Penilaian) Terkontrol Sebagian (Minimal Salah Satu) Tidak Terkontrol Gejala harian/siang kurang dari 2

kali per minggu

lebih dari dua kali perminggu

didapatkan tiga atau lebih kriteria terkontrol sebagian dalam seminggu

gangguan aktivitas tidak ada kadang gejala

malam/terbangun

tidak ada kadang penggunaan obat

pelega

kurang dari 2 kali per minggu

lebih dari dua kali perminggu

fungsi paru (PFR atau VEP1)

Normal <80% prediksi atau nilai terbaik (jika diketahui)

Global Initiative fo Asthma.2011. Global Strategy For Asthma Management and Prevention. www.ginasthma.org


(34)

Asthma Theraphy Assesment Quetionnaire (ATAQ) adalah kuisioner untuk mengukur keparahan dan terkontrolnya asma yang memiliki 4 item pertanyaan dan 4 poin pengukuran dalam 4 minggu terakhir yang mencangkup terganggunya aktivitas harian seperti sekolah atau bekerja, bangun pada malam hari, terkontrolnya asma menurut pasien, penggunaan beta2 agonist. Kemudian, masing-masing elemen tersebut dibedakan dengan poin 0 diartikan baik dan poin 1 diartikan buruk. Dan total elemen tersebut dikatakan terkontrol baik jika total nilai 0, tidak terkontrol baik jika total poin 1-2, dan sangat buruk dikontrol jika total poin 3-4 (Donell MD, 2009). Berikut tabel ATAQ.

Tabel 2.4 Asthma Therapy Assessment Questionnaire (ATAQ) No. Pertanyaan

1 Dalam 4 minggu terakhir ini, apakah Anda melewatkan sesuatu pekerjaan, sekolah, atau kegiatan sehari-hari karena asma Anda? (1 poin untuk Ya)

2 Dalam 4 minggu terakhir ini, apakah Anda terbangun di malam hari karena asma Anda? (1 poin untuk Ya)

3 Yakinkah Anda, bahwa asma Anda terkontrol dengan baik dalam 4 minggu terakhir ini? (1 poin untuk Ya)

4 Apakah Anda menggunakan inhalasi untuk segera meredakan gejala asma? Jika ya, dalam 1 hari berapa kali anda menyemprotkannya? (1 poin jika lebih dari 12 kali)

Keterangan: 0: terkontrol baik, 1-2: tidak terkontrol baik, 3-4: sangat buruk

Donell MD., Aaron, 2009. Measuring Asthma Control with Patient-Completed Questiinnaires. www.chicagoasthma.org

Kontrol asma dapat dilakukan dengan cara yang mudah, efektif dan efisien dengan Asthma Control Test yang disebut (ACT). Asthma Control Test (ACT) adalah suatu uji skrening berupa kuisioner tentang penilaian klinis seseorang pasien asma untuk mengetahui asmanya terkontrol atau belum. Kuisioner ini dideesain untuk pasien berumur ≥ 14 tahun. Metode ini dilakukan dengan cara meminta pasien untuk menjawab lima pertanyaan mengenai penyakit mereka. Berapa sering penyakit asma mengganggu anda untuk melakukan pekerjaan


(35)

sehari-hari di kantor, di sekolah ataau di rumah, mengalami sesak napas, gejala asma (bengek, batuk-batuk, sesak napas, nyeri dada, atau rasa tertekan di dada) menyebabkan anda terbangun malam hari atau lebih awal dari biasanya, menggunakan obat semprot atau obat oral (tablet/sirup) untuk melegakan pernapasan dan bagaimana anda sendiri menilai tingkat kontrol asma anda apakah sudah terkontrol atau belum? Setiap pertanyaan mempunyai lima jawaban dan penilaian dari asma terkontrol sebagai berikut. Skor jawaban dari kelima pertanyaan itu 25 artinya asmanya sudah terkontrol secara total, skor 20 sampai 24 berarti asmanya terkontrol baik, skor jawaban kurang dari atau sama dengan 19 berarti asmanya tidak terkontrol (Donell MD, 2009). Berikut adalah kuisioner ACT.


(36)

Tabel 2.5 Kuisioner Asthma Control Test (ACT)

No Pertanyaan Skoring

1 2 3 4 5

1 Dalam 4 minggu terakhir, seberapa sering penyakit asma mengganggu Anda dalam melakukan pekerjaan sehari-hari di kantor, di sekolah, atau di rumah?

Selalu Sering Kadang-kadang

Jarang Tidak Pernah

2 Dalam 4 minggu terakhir, seberapa

sering Anda

mengalami sesak napas?

Lebih dari 1 kali sehari

1 kali sehari

3-6 kali seminggu

1-2 kali seminggu

tidak pernah

3 Dalam 4 minggu terakhir, seberapa sering gejala asma (bengek, batuk-batuk, sesak napas, nyeri dada atau rasa tertekan di dada) menyebabkan Anda terbangun di malam hari atau lebih awal dari biasanya?

4 kali atau lebih seminggu

1-2 kali seminggu

1 kali seminggu

1-2 kali sebulan

tidak pernah

4 Dalam 4 minggu terakhir, seberapa

sering Anda

menggunakan obat semprot darurat atau obat oral untuk melegakan

pernapasan

> 3 kali sehari

1-2 kali sehari

2-3 kali seminggu

< 1 kali seminggu

tidak pernah

5 Bagaimana penilaian Anda terhadap tingkat kontrol asma Anda tidak terkontrol sama-sekali kurang terkontrol Cukup terkontrol terkontrol dengan baik Terkontrol penuh SKOR TOTAL:

Penilaian: <19 Tidak Terkontrol, 20-24: Terkontrol Baik, 25 terkontrol Total

Donell MD., Aaron, 2009. Measuring Asthma Control with Patient-Completed Questiinnaires. www.chicagoasthma.org


(37)

Lembar observasi penurunan gejala asma, digunakan untuk mengidentifikasi tingkat keparahan pasien asma yang mengukur gejala asma selama seminggu. Keparahan gejala asma akan terlihat berdasarkan nilai total skor yang diperoleh, semakin besar total skor yang diperoleh maka gejala asma yang dialami dalam rentang waktu yang diukur semakin parah, sebaliknya semakin kecil nilai total skor gejala asma yang diperoleh maka semakin kecil tingkat keparahan gejala asma yang dialami dalam rentang waktu yang diukur. Gejala asma yang diukur dalam seminggu ini adalah batuk, sesak, wheeze, dada tertekan, dan gangguan tidur. (Mardhiah, 2009). Berikut adalah tabel lembar observasi gejala asma mingguan.


(38)

Tabel 2.6 Lembar Observasi Gejala Asma Mingguan

Gejala Tingkatan

Batuk Tidak pernah batuk (0)

Kadang-kadang batuk tapi tidak menganggu aktivitas (1)

Sering batuk dan mengganggu aktivitas (2) Sesak napas/ susah bernapas Tidak pernah sesak napas/susah bernapas (0)

Sedikit mengalami sesak napas/susah bernapas tapi tidak mengganggu aktivitas (1)

Sangat sesak napas/susah bernapas dan mengganggu aktivitas (2)

Bernapas dengan suara wheeze (ngik…ngik…)

Tidak pernah bernapas dengan suara wheeze (0) Kadang-kadang bernapas dengan suara wheeze (ngik..ngik..) tapi tidak mengganggu aktivitas (1) Sering bernapas dengan suara wheeze

(ngik..ngik..) dan mengganggu aktivitas (2) Rasa tertekan di dada Tidak ada rasa tertekan di dada (0)

Sedikit ada rasa tertekan di dada (1) Dada sangat tertekan (2)

Gangguan tidur karena batuk, sesak napas/susah bernapas.

Tidak pernah mengalami gangguan tidur (0) Pernah 1 kali terbangun dari tidur dengan batuk atau sesak napas/susah bernapas (1)

2-3 kali atau lebih terbangun dari tidur dengan batuk atau sesak napas/susah bernapas (2)

Mardhiah. 2009. Efektifitas Olahraga Pernapasan Terhadap Penurunan Gejala Asma Pada Penderita Asma Di Lembaga Seni Pernapasan Satria Nusantara Cabang Medan. Skripsi. Fakultas Keperawatan USU. 2009.

7. Patofisiologi Asma

Asma adalah obstruksi jalan napas difus reversibel. Obstruksi disebabkan oleh satu atau lebih dari yang berikut: (1) kontraksi otot-otot yang mengelilingi bronki, yang menyempitkan jalan napas; (2) pembengkakan membran yang melapisi bronki; dan (3) pengisian bronki dengan mukus yang kental. Selain itu, otot-otot bronkial dan kelenjar mukosa membesar; sputum yang kental, banyak


(39)

dihasilkan dan alveoli menjadi hiperinflamasi, dengan udara terperangkap di dalam jaringan paru. Mekanisme yang pasti dari perubahan ini tidak diketahui, tatapi apa yang paling diketahui adalah keterlibatan sistem imunologis dan sistem saraf otonom (Brunner dan Suddarth, 2002).

Beberapa individu dengan asma mengalami respons imun yang buruk terhadap lingkungan mereka. Antibodi yang dihasilkan (IgE) kemudian menyerang sel-sel mast dalam paru. Pemajanan ulang terhadap antigen mengakibatkan ikatan antigen dengan antibodi, menyebabkan pelepasan produk sel-sel mast (disebut mediator) seperti histamin, bradikinin, dan prostaglandin serta antifilaksis dari substansi yang bereaksi lambat (SRS-A). Pelepasan mediator ini dalam jaringan paru memengaruhi otot polos dan kelenjar napas, menyebabkan bronkospasme, pembengkakan membran mukosa, dan pembentukan mukus yang sangat banyak (Brunner dan Suddarth, 2002).

Sistem saraf otonom mempersarafi paru. Tonus otot bronkial diatur oleh impuls saraf vagal melalui sistem parasimpatis. Pada asma idiopatik atau nonalergi, ketika ujung saraf pada jalan napas dirangsang oleh faktor seperti infeksi, latihan, dingin, merokok, emosi, dan polutan, jumlah asetilkolin yang dilepaskan meningkat. Pelepasan asetilkolin ini secara langsung menyebabkan bronkokontriksi juga merangsang pembentukan mediator kimiawi. Individu dengan asma dapat mempunyai toleransi rendah terhadap respons parasimpatis (Brunner dan Suddarth, 2002).

Selain itu, reseptor α- dan β-adrenergik dari sistem saraf simpatis terletak dalam bronki. Ketika reseptor α-adrenergik dirangsang, terjadi bronkokontriksi;


(40)

bronkodilatasi terjadi ketika reseptor β-adrenergik yang dirangsang. Keseimbangan antara reseptor α- dan β-adrenergik dikendalikan terutama oleh siklik adenosin monofosfat (cAMP). Stimulasi reseptor-alfa mengakibatkan penurunan cAMP, yang mengarah pada peningkatan mediator kimiawi yang dilepaskan oleh sel-sel mast bronkokontriksi. Stimulasi reseptor-beta mengakibatkan peningkatan tingkat cAMP, yang menghambat pelepaasan mediator kimiawi dan menyebabkan bronkodilatasi. Teori yang diajukan adalah bahwa penyekatan β-adrenergik terjadi pada individu dengan asma. Akibatnya, asmatik rentan terhadap peningkatan pelepasan mediator kimiawi dan kontriksi otot polos (Brunner dan Suddarth, 2002).

8. Pengobatan Asma

Pada dasarnya pengobatan asma ditujukan untuk mengatasi dan mencegah gejala obstruksi jalan napas, terdiri atas pengontrol dan pelega (PDPI, 2006). a. Pengontrol (Controllers)

Pengontrol merupakan pengobatan asma jangka panjang untuk mengontrol asma, diberikan setiap hari untuk mencapai dan mempertahankan keadaan asma terkontrol pada asma persisten. Pengontrol sering disebut pencegah, yang termasuk obat pengontrol :

1) Kortikosteroid inhalasi 2) Kortikosteroid sistemik 3) Sodium kromoglikat 4) Nedokromil sodium 5) Metilsantin


(41)

6) Agonis beta-2 kerja lama, inhalasi 7) Agonis beta-2 kerja lama, oral 8) Leukotrien modifiers

9) Antihistamin generasi kedua (antagonis -H1) (PDPI, 2006).

b. Pelega (Reliever)

Prinsipnya untuk dilatasi jalan napas melalui relaksasi otot polos, memperbaiki dan atau menghambat bronkostriksi yang berkaitan dengan gejala akut seperti mengi, rasa berat di dada dan batuk, tidak memperbaiki inflamasi jalan napas atau menurunkan hiperesponsif jalan napas.

Termasuk pelega adalah :

1) Agonis beta2 kerja singkat

2) Kortikosteroid sistemik. (Steroid sistemik digunakan sebagai obat pelega bila penggunaan bronkodilator yang lain sudah optimal tetapi hasil belum tercapai, penggunaannya dikombinasikan dengan bronkodilator lain).

3) Antikolinergik 4) Aminofillin

5) Adrenalin (PDPI, 2006). c. Metode alternatif pengobatan asma

Selain pemberian obat pelega dan obat pengontrol asma, beberapa cara dipakai orang untuk mengobati asma. Cara tersebut antara lain homeopati, pengobatan dengan herbal, ayuverdic medicine, ionizer, osteopati dan


(42)

manipulasi chiropractic, spleoterapi, buteyko, akupuntur, hypnosis dan lain-lain (PDPI, 2006).

7. Pemeriksaan Diagnostik a. Pengukuran Fungsi Paru

Umumnya pasien asma sulit menilai beratnya gejala dan persepsi mengenai asmanya, demikian pula dokter tidak selalu akurat dalam menilai dispnea dan mengi; sehingga dibutuhkan pemeriksaan objektif yaitu faal paru antara lain untuk menyamakan persepsi dokter dan pasien, dan parameter objektif menilai berat asma (PDPI, 2006). Pengukuran faal paru digunakan untuk menilai:

 Obstruksi jalan napas

 Reversibiliti kelainan faal paru

 Variabiliti faal paru, sebagai penilaian tidak langsung hiperes-ponsif jalan napas

Metode penilaian faal paru yang diterima secara luas adalah pemeriksaan spirometri dan arus puncak ekspirasi (APE) (PDPI, 2006).

1) Spirometri

Pengukuran volume ekspirasi paksa detik pertama (VEP1) dan

kapasisti vital paksa (KVP) dilakukan dengan manuver ekspirasi paksa melalui prosedur yang terstandar. Untuk mendapatkan nilai yang akurat, diambil nilai tertinggi dari 2-3 nilai yang reproducible dan acceptable. Obstruksi jalan napas diketahui dari nilai rasio VEP1/KVP ,75% atau


(43)

Manfaat pemeriksaan spirometri dalam diagnosis asma:

 Obstruksi jalan napas diketahui dari nilai rasio VEP1/KVP < 75%

atau VEP1 < 80% nilai prediksi.

 Reversibiliti, yaitu perbaikan VEP1 ≥ 15% secara spontan , atau

setelah inhalasi bronkodilator (uji bronkodilator), atau setelah pemberian bronkodilator oral 10-14 hari, atau setelah pemberian kortikosteroid (inhalasi/oral) 2 minggu. Reversibiliti ini dapat membantu diagnosis asma.

 Menilai deraajat berat asma (PDPI, 2006). 2) Arus Puncak Ekspirasi (APE)

Pemeriksaan arus puncak ekspirasi adalah pengukuran jumlah udara maksimal yang dapat dicapai saat ekspirasi paksa dalam waktu tertentu yang dilakukan dengan menggunakan peak flow meter atau spirometer. Tujuan dari pengukuran ini adalah mengukur secara objektif arus udara pada saluran napas besar (Rasmin, dkk., 2001).

Pada pemeriksaan arus puncak ekspirasi (APE) yang diambil adalah nilai rata-rata arus puncak ekspirasi tersebut. Yaitu suatu nilai rata-rata aliran udara yang secara maksimum diekspiraksikan dengan paksa. Nilai tersebut dapat membantu dalam memonitor bronkokontriksi pada asma, dengan nilai rata-rata sampai dengan 600 L/min (Lewis, et.al., 2011).


(44)

 Reversibiliti, yaitu perbaikan nilai APE ≥ 15% setelah inhalasi bronkodilator (uji bronkodilator), atau bronkodilator oral 10-14 hari, atau respons terapi kortikosteroid (inhalasi/oral, 2 minggu )  Variabiliti, menilai variasi diurnal APE yang dikenal dengan

variabiliti APE harian selama 1-2 minggu. Variabiliti juga dapat digunakan menilai derajat berat penyakit (PDPI, 2006).

b. Tes provokasi bronkhus

Tes ini dilakukan pada spirometri internal. Penurunan FEV sebesar 20% atau lebih setelah tes provokasi dan denyut jantung 80-90% dari maksimum dianggap bermakna bila menimbulkan penurunan PEFR 10% atau lebih (Muttaqien, 2011).

Pada pasien dengan gejala asma dan faal paru normal sebaiknya dilakukan uji provokasi bronkus. Pemeriksaan uji provokasi bronkus mempunyai sensitiviti yang tinggi tetapi spesifitasinya rendah, artinya hasil negatif dapat menyingkirkan diagnosis asma persisten, tetapi hasil positif tidak selalu berarti bahwa pasien tersebut asma. Hasil positif dapat terjadi pada penyakit lain seperti rinitis alergi, berbagai gangguan dengan penyempitan jalan napas seperti PPOK, bronkiektasi, dan fibrosis kistik (PDPI, 2006).

b. Pemeriksaan kulit

Pemeriksaan kulit menggunakan uji Prick yaitu uji dengan memasukan alergen melalui tusukan jarum di kulit pada sisi volar lengan bawah.


(45)

Fungsinya untuk mengetahui ada tidaknya sensitisasi terhadap alergen Rasmin, dkk., 2001)

Tes kulit positif dan teridentifikasi alergen spesifik adalah yang menyebabkan reaksi lepuh dan hebat (Brunner dan Suddarth, 2002).

c. Pemeriksaan Laboratorium 1) Gas Darah Arteri.

Gas darah arteri menunjukkan hipoksik selama serangan akut. Awalnya terdapat hipokapnea (Penurunan tekanan karbon dioksida dalam darah arterial) dan respirasi alkalosis dan tekanan parsial karbon dioksida (PCO2) yang rendah. Dengan memburuknya kondisi dan pasien menjadi

lebih letih, PCO2 dapat meningkat. PCO2 yang normal dapat menunjukkan

gagal napas yang mengancam. Karena PCO2 20 kali lebih dapat berdifusi

dibanding dengan oksigen, adalah sangat jarang bagi PCO2 untuk normal

atau meningkat pada individu yang bernapas dengan sangat cepat (Brunner dan Suddarth, 2002).

Gas darah arteri (GDA) menggambarkan pertukaran gas antara paru-paru dan darah. GDA pada eksaserbasi asma ringan akan menunjukan alkalosis respiratori (Gershwin dan Albertson, 2001). Alkalosis respiratorik adalah kondisi klinis di mana pH arterial lebih tinggi dari 7,45 dan PaCO2 kurang dari 38 mm Hg. Alkalosis respiratorik selalu

dikarenakan oleh hiperventilasi, yang menyebabkan kelebihan “blowing off’ karbon dioksida dan, selanjutnya penurunan dalam kondisi asam karbonik plasma (Brunner dan Suddarth, 2002).


(46)

Sedangkan pada eksaserbasi asma berat tampilannya akan normal atau menunjukan asidosis respiratori (Gershwin dan Albertson, 2001). Asidosis respiratorik adalah gangguan klinis di mana pH kurang dari 7,35 dan tekanan parsial karbondioksida arteri (PaCO2) lebih besar dari 42 mmHg.

Asidosis respiratorik selalu akibat tidak adekuatnya ekskresi karbon dioksida dengan tidak adekuatnya ventilasi, sehingga mengakibatkan kenaikan kadar karbon dioksida plasma (Brunner dan Suddarth, 2002).

GDA yang menunjukan normal atau asidosis respiratori pada kekambuhan yang berat merupakan tanda buruk dan membutuhkan bantuan ventilasi, pemantauan dan terapi secara intensif (Gershwin dan Albertson, 2001).

Tabel 2.7. Nilai Normal dari Gas Darah Arteri Pengukuran Gas Darah Simbol Nilai Normal

Tekanan CO2 PaCO2 35-45 mmHg (rata-rata 40

mmHg)

Tekanan O2 PaO2 80-100 mmHg

Persentase kejenuhan O2 SaO2 97

Konsentrasi ion hidrogen pH 7,35-7,45

Bikarbonat HCO3- 22-26 mEq/L

Price, Sylvia A. dan Lorraine M. Wilson. 2006. Patofisiologi; Konsep Klinis, Proses-proses penyakit. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC.


(47)

Tabel 2.8. Perubahan Asam-Basa pada Asidosis dan alkalosis

Gangguan asam-basa pH HCO3- PaCO2

Asidosis respiratorik ↓ ↑ ↑

Alkalosis respiratorik ↑ ↓ ↓

Asidosis metabolik ↓ ↓ ↓

Alkalosis metabolik ↑ ↑ ↑

Price, Sylvia A. dan Lorraine M. Wilson. 2006. Patofisiologi; Konsep Klinis, Proses-proses penyakit. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC

2) Sputum

Adanya badan kreola adalah karakteristik untuk serangan asma yang berat, karena hanya reaksi yang hebat saja yang menyebabkan transudasi dari edema mukosa, sehingga terlepaslah sekelompok sel-sel epitel dari perlekatannya. Pewarnaan gram penting untuk melihat adanya bakteri, cara tersebut kemudian diikuti kultur dan uji resistensi terhadap antibiotik (Muttaqien, 2011).

3) Sel eosinofil

Sel eosinofil pada klien dengan status asmatikus dapat mencapai 1000-1500/mm3 baik asma intrinsik ataupun ekstrinsik, sedangkan hitung sel eosinofil normal antara 100-200/mm3. Perbaikan fungsi paru disertai penurunan hitung jenis sel eosinofil menunjukan pengobatan telah tepat (Muttaqien, 2011).


(48)

4) Pemeriksaan darah rutin dan kimia

Jumlah sel leukosit yang lebih dari 15.000/mm3 terjadi karena adanya infeksi. SGOT dan SGPT meningkat disebabkan kerusakan hati akibat hipoksia atau hiperkapnea (Muttaqien, 2011).

d. Pemeriksaan Radiologi

Hasil pemeriksaan radiologi pada klien dengan asma bronkhial biasanya normal, tetapi prosedur ini harus tetap dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan adanya proses patologi di paru atau komplikasi asma seperti pneumothoraks, pneumomediastinum, atelektasiss, dan lain-lain (Muttaqien, 2011).

B.Teknik Pernapasan Buteyko 1. Definisi

Teknik pernapasan Buteyko adalah sebuah teknik pernapasan yang dikembangkan oleh profesor Konstantin Buteyko dari Rusia. Ia meyakini bahwa penyebab utama penyakit asma menjadi kronis karena masalah hiperventilasi yang tersembunyi, dengan program dasar memperlambat frekuensi pernafasan agar menjadi normal. Program tersebut termasuk sebuah panduan untuk memperbaiki pernapasan diafragma (dada) dan belajar bernafas melalui hidung (Lingard, 2008).

Motin mengatakan bahwa teknik pernapasan Buteyko ini dikembang sejak tahun 1940-an sebagai strategi untuk menurunkan gejala asma dengan prinsip „breathe less’ (bernapas lebih sedikit) (Thomas, 2004).


(49)

2. Manfaat

Teknik pernapasan ini terutama digunakan sebagai teknik alami untuk menurunkan gejala asma dan keparahan asma. Selain itu, teknik pernapasan Buteyko digunakan oleh para pasien asma untuk menurunkan ketergantungannya terhadap obat. Metode ini juga bisa digunakan untuk penyakit saluran pernapasan lain termasuk empisema dan bronkitis (Longe, 2005).

McKeown (2004) menyatakan bahwa teknik pernapasan Buteyko berguna untuk mengurangi ketergantungan pasien asma terhadap obat atau medikasi asma. Selain itu, teknik pernapasan ini juga dapat meningkatkan fungsi paru dalam memperoleh oksigen dan mengurangi hiperventilasi paru.

3. Teori Dasar Teknik Pernapasan Buteyko

Metode Buteyko merupakan konsep baru tentang manajemen asma. Konsep Buteyko memahami secara fisiologis bahwa ketika pasien mengalami serangan asma, hal ini disebabkan oleh bronkonspasme pada paru-paru sehingga menyebabkan berkurangnya kadar karbon dioksida (CO2 dalam alveoli. Hal

tersebut mengakibatkan terjadi peningkatan tekanan pada otot polos dalam bronkus sehingga menimbulkan konstriksi pada bronkus dan susah bernapas. Sehingga konsep metode Buteyko tersebut berusaha mengatasi masalah penurunan kadar CO2 agar kembali pada kadar normal. Hal inilah yang akhirnya

menyebabkan relaksasi otot polos pada dinding bronkus dengan demikian menghindari bronkospasme dan membuka jalan napas serta mencegah terjadinya serangan asma (Novozhilov, 2004).


(50)

Selama serangan asma, pasien asma bernapas dua kali lebih cepat dibandingkan orang normal, yang kemudian kondisi ini dikenal dengan istilah hiperventilasi (Rakhimov, 2011). Teori Buteyko menyatakan bahwa dasar penyebab dari penyakit asma adalah kebiasaan bernapas secara berlebihan ( over-breathing) yang tidah disadari (VitaHealth, 2006). Teori yang mendasari Buteyko dalam mengembangkan teknik pernapasan ini adalah:

Bila pasien asma melakukan pernapasan dalam, maka jumlah CO2 yang

dikeluarkan akan semakin meningkat. Hal ini dapat menyebabkan jumlah CO2 di

paru-paru, darah dan jaringan akan berkurang (Rakhimov, 2011).

Terjadinya defesisensi CO2 disebabkan oleh cara bernapas dalam yang

dapat menyebabkan pH darah menjadi alkalis. Perubahan pH dapat menggganggu keseimbangan protein, vitamin dan proses metabolisme. Bila pH mencapai nilai 8, maka hal ini dapat menyebabkan gangguan metabolik yang fatal (Rakhimov, 2011).

Terjadinya defesiensi CO2 menyebabkan spasme pada otot polos bronkus,

kejang pada otak, pembuluh darah, spastik usus, saluran empedu dan organ lainnya. Bila pasien asma bernapas dalam, maka semakin sedikit jumlah oksigen yang mencapai otak, jantung, ginjal dan organ lainnya yang mengakibatkan hipoksia disertai hipertensi arteri (Rakhimov, 2011).

Kekurangan CO2 dalam pada organ-organ vital (termasuk otak) dan sel-sel

saraf meningkatkan stimulasi terhadap pusat pengendalian pernapasan di otak yang menimbulkan rangsangan untuk bernapas, dan lebih lanjut meningkatkan


(51)

pernapasan sehingga proses pernapasan lebih intensif yang kemudian dikenal dengan hiperventilasi atau over-breathing (Rakhimov, 2011).

Over-breathing dapat menyebabkan ketidakseimbangan kadar CO2 di

dalam tubuh (terutama paru-paru dan sirkulasi) sehingga hal ini akan mengubah kadar O2 darah dan menurunkan jumlah O2 seluler. Keseimbangan asam-basa

tubuh juga dipengaruhi oleh pola napas dan konsentrasi O2 dan CO2. Pada

waktu serangan, over-breathing dapat menyebabkan stres pada tubuh (Rakhimov, 2011).

Jika terjadi defisiensi CO2 pada udara di alveoli jalan satu-satunya untuk

mencegah terjadinya tekanan yang berlebihan pada otot polos tersebut yaitu dengan pengobatan. Bagaimanapun menurut pemahaman matode Buteyko, obat tersebut hanya menangani gejala saja, sehingga jika pengobatan dihentikan maka akan muncul kembali. Konsep metode Buteyko inilah yang mengatasi secara alami terhadap defisiensi kadar CO2 dalam alveoli (Novozhilov, 2004).

4. Tujuan

Pada metode teknik pernapasan Buteyko, ada beberapa hal yang menjadi tujuan dari teknik tersebut yaitu:

a. Memperbaiki pola pernapasan, sehingga mempertahankan keseimbangan kadar CO2 dan oksigenasi seluler (Longe, 2005).

b. Berusaha menghilangkan kebiasaan buruk bernapas yang berlebihan untuk menggantikannya dengan kebiasaan yang baru melalui pola napas yang lambat dan dangkal, yang disebut “reduced breathing” (Longe, 2005).


(52)

c. Faktor alergen yang terhirup menjadi berkurang, serta keringnya dan iritasi pada saluran napas pun berkurang (Longe, 2005).

d. Produksi mukus dan histamin menurun, infalamasi pun menurun serta pernapasan menjadi lebih mudah (Longe, 2005).

5. Cara Melakukan Teknik Pernapasan Buteyko

Teknik pernapasan Buteyko dilakukan secara terus menerus selama 2 minggu, dilakukan tiga kali sehari. Idealnya, teknik pernapasan Buteyko ini dilakukan sebelum sarapan, sebelum makan siang/malam dan sebelum tidur (Brindley, 2010).

Sebelum melakukan teknik pernapasan Buteyko, ada beberapa hal yang harus diperhatikan antaralain; (1) Pemilihan tempat yang benar, karena latihan Buteyko memerlukan konsentrasi yang baik, dimana ideal tempatnya harus tenang, tidak ada gangguan seperti televisi, musik, suara telepon atau lainnya; (2) Dilakukan secara rutin; (3) menentukan tujuan yang ingin dicapai (Brindley, 2010).

Teknik pernapasan Buteyko yang dilakukan selama 2 minggu ini, memiliki

setting latihan yang berbeda pada tiap minggunya (Brindley, 2010). Berikut adalah setting tiap minggunya serta penjelasan pada tiap tahapan tekniknya:


(53)

1-2 menit Nose clearing exercise (jika diperlukan) dan pengukuran nadi 3 menit Control pause segera di ikuti relaxed breathing

20-30 detik Istirahat sejenak

3 menit Control pause segera di ikuti relaxed breathing

20-30 detik Istirahat sejenak

3 menit Control pause segera di ikuti relaxed breathing

20-30 detik Istirahat sejenak

3 menit Control pause segera di ikuti relaxed breathing

2 menit Istirahat panjang

pause dan pengukuran nadi terakhir Control Gambar 2.1 Set Buteyko Minggu ke-1

Sumber: J.L Brindley, 2010

1-2 menit Nose clearing exercise (jika diperlukan) dan pengukuran nadi 3 menit Control pause segera di ikuti reduced breathing

20-30 detik Istirahat sejenak

3 menit Control pause segera di ikuti reduced breathing

20-30 detik Istirahat sejenak

3 menit Extended pause segera di ikuti reduced breathing

20-30 detik Istirahat sejenak

3 menit Extended pause segera di ikuti reduced breathing

2 menit Istirahat panjang

Control pause dan pengukuran nadi terakhir Gambar 2.2 Set Buteyko minggu ke-2


(54)

a. Nose Clearing Exercise

Latihan ini dilakukan sebelum memulai teknik pernapasan Buteyko dan melakukan pernapasan hanya melalui hidung. Langkah latihan ini adalah sebagai berikut:

Nodding- 10 kali

1) Anggukan kepala ke depan dan ke belakang secara perlahan. Hitung secara perlahan sampai tiga ketika kepala ke belakang dan ke depan. 2) Hal ini dilakukan bersamaan dengan pernapasan. Yaitu ambil napas

ketika kepala ke belakang dan keluarkan napas ketika kepala ke depan.

Tipping-6 kali

1) Ambil napas dan keluarkan napas secara perlahan kemudian tahan hidung.

2) Rebahkan kepala ke belakang tiga sampai enam kali ketika menahan napas. Waktunya lebih cepat dari sebelumnya.

3) Lepaskan tangan dari hidung dan ambil napas secara perlahan. Jaga mulut tetap tertutup

Hold and Blow-6 kali

1) Ambil napas dan keluarkan napas secara normal dan lembut kemudian tahan hidung.

2) Tingkatkan tekanan pada belakang hidung dan coba tiup secara lembut. Jangan sampai pipi tergelembung tetapi hanya sampai telinga merasa ada letupan.


(55)

3) Jaga tekanan tersebut dan hitung sampai lima kemudian ambil napas melalui hidung. Jaga mulut tetap tertutup.

b. Relaxed Breathing

1) Duduk secara nyaman dengan punggung lurus, kaki tidak menyilang serta lutut-bahu direnggangkan. Pandangan agak ke atas atau tutup mata. 2) Letakkan tangan pada bagian atas dan bawah dada serta tenangkan diri

dengan cara bernapas dengan tenang dan perlahan melalui hidung.

3) Lalu, fokus pada area dimana merasakan gerakan napas. Konsentrasi pada bagian sekitar bawah dada. Coba lepaskan pada area ini sebanyak mungkin dan kurangi gerakan pada tangan bagian atas.

4) Setelah beberapa menit biarkan tangan istirahat di pangkuan. Sekarang, relaksasikan serta istirahatkan otot-otot seperti pada muka, dagu, leher dan pundak, bagian perut bawah, paha dan kaki. Pada saat ini mungkin dirasakan sedikit kekurangan udara. Hal ini menunjukkan latihan berjalan dengan baik.

5) Lanjutkan dengan perlahan teknik ini sekitar tiga menit kemudian kembali bernapas normal. Jaga pernapasan melalui hidung dan sesekali perhatikan pernapasan.

c. Control pause

Control pause memiliki dua fungsi, pertama adalah sebagai pengukur peningkatan latihan dan kedua sebagai cara cepat untuk memproduksi rasa kebutuhan udara derajat ringan ketika memulai siklus latihan Buteyko. Langkah control pause adalah sebagai berikut:


(56)

1) Ambil napas secara normal dan keluarkan melalui hidung. Pegang/tahan hidung secara lembut dan mulai hitung menggunakan stopwatch.

2) Tahan napas sampai merasa tahap awal mulai kekurangan udara.

3) Pada poin ini bebaskan hidung, ambil napas dengan lembut melalui hidung dan hentikan stopwatch.

d. Extended pause

1) Ambil napas secara normal, keluarkan dan pegang hidung

2) Tahan napas di tambah 5-10 detik melampaui control pause sambil menggunakan teknik distraksi seperti pindah dari kursi atau berjalan. 3) Lepaskan hidung, pastikan bernapas melalui hidung senyaman mungkin. 4) Segera mulai dengan reduced breathing dan relaksasi sampai merasakan

membutuhkan udara.

e. Reduced breathing

Latihan reduced breathing memerlukan agak sedikit udara sementara itu tetap jaga tubuh agar relaksasi khususnya otot-otot pernapasan.

1) pastikan duduk secara nyaman dan bernapas melalui hidung.

2) Mulai dengan control pause dan beralih ke dalam reduced breathing

3) perhatikan jeda alami yang dirasakan antara bernapas dan istirahat yaitu tidak bernapas untuk satu detik diantara pernapasan. Relaksasi sampai merasakan sedikit kekurangan udara. Fokuskan pada otot-otot sekitar dada bagian bawah dan perut.

4) Perhatikan ukuran dan kecepatan pernapasan. Letakkan jari tepat dibawah hidung dan akan ditemukan perlambatan aliran udara yang


(57)

masuk dan keluar dari lubang hidung. Biarkan sampai merasakan kebutuhan udara tetapi jangan sampai berlebihan. Kadang-kadang gerakan menggeliat dan perenggangan otot-otot dapat membantu membebaskan beberapa ketegangan otot yang muncul sebagai hasil dari kurangnya udara.

5) Jaga terus pola reduced breathing dan kembali bernapas normal tanpa melakukan sedikitpun pernapasan dalam (Buteyko reathing Association, 2010).

6. Konsep Transpor Karbon Dioksida dalam Darah

Homeostasis karbon dioksida (CO2) juga suatu aspek penting dalam

kecukupan respirasi. Transpor CO2 dari jaringan ke paru untuk dibuang

dilakukan dengan tiga cara. Sekitar 10% CO2 secara fisik larut dalam plasma,

karena tidak seperti oksigen (O2), CO2 mudah larut dalam plasma. Sekitar 20%

CO2 berikatan dengan gugus amino padaa Hb (karbaminohemoglobin) dalam sel

darah merah, dan sekitar 70% diangkut dalam bentuk bikarbonat plasma (HCO3-). CO2 berikatan dengan air dalam reaksi berikut:

CO2+H2O H2CO3 H+ + HCO3

-Reaksi ini reversibel dan disebut persamaan buffer asam bikarbonat-karbonat. Keseimbangan asam-basa tubuh ini sangat dipengaruhi oleh fungsi paru dan homeostasis CO2. Pada umumnya hiperventilasi (ventilasi alveolus

dalam keadaan kebutuhan metobolisme yang berlebihan) menyebabkan alkalosis akibat ekskresi CO2 berlebihan dari paru; hipoventilasi (ventilasi alveolus yang


(58)

CO2 oleh paru. Dengan memeriksa persamaaan, terbukti bahwa penurunan PCO2

seperti yang terjadi pada hiperventilasi, akan menyebabkan reaksi bergeser ke kiri sehingga menyebabkan penurunan konsentrasi H+ (kenaikan pH), dan peningkatan PCO2 menyebabkan reaksi menjurus ke kanan, menimbulkan

kenaikan H+ (Penurunan pH) (Price dan Wilson, 2006).

Dalam proses ikatan tersebut terdapat reaksi pengabungan (coupling) timbal-balik pengikatan proton dan O2 yang disebut efek bohr. Efek bohr terjadi

ketika karbon dioksida yang dihasilkan di jaringan perifer berikatan dengan air untuk membentuk asam karbonat yang terurai menjadi proton dan ion bikarbonat. Deoksihemoglobin bekerja sebagai dapar dengan mengikat proton dan meyalurkannya ke paru-paru. Di paru-paru, penyerapaan oksigen oleh hemoglobin membebaskan proton untuk berkombinasi dengan ion bikarbonat, membentuk asam karbonat yang jika mengalami dehidrasi oleh karbonik anhidrase akan menjadi karbon di oksida yang kemudian dihembuskaan keluar (Murray, dkk., 2009)

7. Teori Karbon Dioksida Perspektif Buteyko

Pada tahun 1962 Prof. Konstantin P. Buteyko menjelaskan perbedaan antara CO2 dalam darah dengan CO2 paru pada pasien asma yang menyebabkan

kerusakan jaringan paru sehingga menurunkan proses pertukaran gas. Buteyko menjelaskan pada kasus tersebut peningkatan ventilasi disebabkan karena kekurangan CO2 hanya pada paru yang akhirnya membuat peningkatan tonus

otot halus pada dinding bronkus dan menyebabkan bronkospasme (Novozhilov, 2004).


(59)

CO2 merupakan sistem pengatur keseimbangan asam-basa. Rendahnya

CO2 mengakibatkan alkalosis. Rendahnya CO2 tersebut disebabkan penggantian

dari pemisahan garis oksihemoglobin, dengan demikian tidak memungkinkan terjadinya oksigenasi yang baik pada jaringan dan organ vital. Oksigenasi yang buruk tersebut memicu terjadinya hipoxia dan gangguan medis lainnya. CO2

merupakan dilatator pembuluh pada otot halus, karena itu penurunan CO2 yang

signifikan dapat menyebaabkan spasme jaringan otak maupun jaringan bronkus. Hiperventilasi juga disebabkan karena kehilangan CO2 secara progresif yang

mengakibatkan tingginya pernapasan dan rendahnya kadar CO2 (Stalmatski,

1999).

Sehingga pada teknik pernapasan Buteyko ada tiga jalan yang menstabilkan kadar CO2 pada udara di alveoli/paru yaitu sebagai berikut:

a. Pengontrolan secara sadar.

Penurunan aliran digunakan sebagai pengontrolan secara sadar. Semua latihan teknik pernapasan Buteyko didesain untuk menurunkan kedalaman pernapasan dengan berbagai variasi.

b. Pelatihan

Melalui pelatihan inilah dapat meningkatkan aktivitas otot. c. Mengenali penyebabnya

Mengenali dan menyingkirkan beberapa penyebab pada napas dalam. Beberapa faktor yang dapat menyebabkan peningkatan pernapasan seperti makan berlebihan, terlalu banyak tidur, napas berlebih melalui berbicara,


(60)

stres yang panjang, dan kebiasaan lain. Metode Buteyko juga memberikan saran terhadap pola diet dan gaya hidup seperti itu. (Novozhilov, 2004). 8. Penelitian Terkait

Teknik pernapasan Buteyko di Indonesia tidak begitu populer, namun banyak hal-hal yang signifikan terhadap metode ini untuk menangani masalah Asma. Berikut beberapa penelitiannya:

a. McHugh et.al (2003) menyatakan bahwa teknik pernapasan Buteyko ini merupakan teknik manajemen asma yang aman dan efisien. Hal tersebut dibuktikan dengan penurunan penggunaan inhalasi steroid sebesar 50% dan β2-agonist sebesar 85% dalam waktu 6 bulan.

b. Courtney dan Cohen (2008) dalam penelitiannya menjelaskan bahwa

Breath Holding Time (waktu menahan napas) yang lebih rendah pada metode Buteyko berhubungan dengan pola pernapasan dada. Hal ini menunjukan bahwa perubahan pola napas dapat menyebabkan gejala pernapasan seperti dispnea dan bahwasanya terapi pernapasan seperti Buteyko ini mungkin mempengaruhi gejala tersebut, sehingga meningkatkan efisiensi biomekanika pernapasan.

c. Teknik pernapasan Buteyko secara signifikan menunjukan penurunan penggunaan β2 agonist, penggunaan inhalasi kortikosteroid, penurunan penggunaan obat bronkodilator, dan peningkatan kualitas hidup (Burgess J., et.al., 2011).

d. Prasetya, Arief Widhi (2011). Pengaruh Latihan Nafas Metode Buteyko Terhadap Peak Expiratory Flow Rate (PEFR) dan Derajat Kontrol


(61)

Penderita Asma Bronchiale di Puskesmas Pakis Kec. Sawahan Surabaya. Hasil penelitiannya menunjukan bahwa derajat kontrol asma (p= 0,002) dan PEFR (p= 0,305). Dengan kesimpulan bahwa teknik pernapasan Buteyko efektif terhadap peningkatan derajat kontrol asma tetaapi tidak berpengaruh terhadap PEFR.

e. Mardhiah (2009) meneliti tentang Efektivitas Olahraga Pernapasan Terhadap Penurunan Gejala Asma Pada Penderita Asma Di Lembaga Seni Pernaapasan Satria Nusantara Medan. Hasilnya menunjukan adanya perbedaan gejala asma mingguan daan bulanan sebelum dan sesudah olahraga pernapasan. Temuan pada penelitian tersebut menunjukan bahwa terdapat penurunan gejala asma yang signifikan setelah olahraga pernapasan secara teratur

C.Konsep Kebutuhan Dasar menurut Maslow dan Teori Self Care Orem

Hirarki kebutuhan dasar manusia menurut Maslow adalah sebuah teori yang dapat digunakan perawat untuk memahami hubungan antara kebutuhan dasar manusia pada saat memberikan perawatan. Menurut konsep ini, beberapa kebutuhan manusia tertentu lebih besar daripada kebutuhan lainnya, oleh karena itu kebutuhan dasar harus dipenuhi sebelum kebutuhan lainnya. Kebutuhan dasar manusia adalah hal-hal seperti oksigen, cairan, nutrisi, temperatur, eliminasi, tempat tinggal, istirahat dan seks yang merupakan hal penting untuk bertahan hidup dan kesehatan. Oksigen merupakan kebutuhan fisiologis yang paling penting. Tubuh tergantung pada oksigen


(62)

dari waktu ke waktu untuk bertahan hidup. Untuk memenuhi oksigen dalam tubuh, manusia harus dapat bernapas secara normal (Potter dan Perry,2005)

Dorothea Orem (1971) mengembangkan konsep tentang self care yang didefinisikan sebagai keperawatan yang menekankan pada kebutuhan klien tentang perawatan diri sendiri (Potter dan Perry, 2005).

Teori self care Orem merupakan teori keperawatan yang secara umum dibentuk berdasarkan tiga hal berikut:

a. Teori self care menggambarkan kenapa dan bagaimana seseorang merawat dirinya sendiri (Tomey dan Alligood, 2006).

b. Teori self care menggambarkan dan menjelaskan kenapa seseorang dapat dibantu melalui keperawatan (Tomey dan Alligood, 2006).

c. Teori self care merupakan teori sistem keperawatan yang menggambarkan dan menjelaskan hubungan yang harus dibawa dan dipelihara untuk keperawatan yang akan menghasilkan sesuatu (Tomey dan Alligood, 2006). Teori self care yang dikembangkan oleh Dorothea E. Orem memiliki sebuah teori sistem yang dinamakan sistem dukungan edukatif. Hal ini berkaitan peran seorang perawat sebagai edukator yang bertindak mengatur pelatihan dan pengembangan self-care klien, pada akhirnya klien dapat menyempurnakan self-care-nya tersebut (Tomey dan Alligood, 2006).

Dari delapan self care yang dibutuhkan oleh orang dewasa maupun anak-anak salahsatunya yaitu perawatan intake udara yang cukup (Tomey dan Alligood, 2006). Pemenuhan kebutuhan oksigen pada manusia sangat penting hal ini dikarenakan udara/oksigen merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia (Potter dan Perry,


(63)

2005) maka teori pemenuhan kebutuhan yang dilakukan oleh keperawatan yang dilakukan untuk mengajarkan pasien harus dilakukan.

D.Kerangka Teori

Dalam penelitian ini, kerangka teori mengadopsi dan memodifikasi antara teori asma dan penatalaksanaan asma.

Gambar 2.3. Kerangka Teori

Sumber: GINA (2011) PDPI (2004) dan Maslow dalam Potter & Perry (2005)

Pasien Asma

Gejala Asma: Batuk, sesak napas, mengi, rasa berat di

dada, dan variabiliti berkaitan dengan cuaca. Penatalaksanaan serta Pengendalian

Asma:

1. Pengetahuan 2. Monitor

3. Menghindari faktor resiko

4. Pengobatan medis jangka panjang: obatan pengontrol dan obat-obatan peringan.

5. Metode pengobatan alternatif:

buteyko, homeopati, pengobatan dengan herbal, ayuverdic medicine, ionizer, osteopati dan manipulasi

chiropractic, spleoterapi, akupuntur, hypnosis.

6. Terapi penanganan terhadap gejala 7. Pemeriksaan teratur serta menjaga

kebugaran dan olahraga

Kebutuhan dasar manusia: oksigen, cairan, nutrisi, temperatur, eliminasi, tempat tinggal, istirahat dan seks

Gejala Asma: Batuk, sesak napas, mengi, dan rasa berat di dada.

Kebutuhan oksigen terpenuhi

Keterangan:

: diteliti : Tidak diteliti


(64)

47

KERANGKA KONSEP, HIPOTESA DAN DEFINISI OPERASIONAL

A.Kerangka Konsep

Kerangka konsep dalam penelitian ini terdiri dari dua variabel, yaitu variabel independen dan variabel dependen.

Variabel independen adalah Teknik Pernapasan Buteyko. Variabel dependen adalah penurunan gejala asma yang diukur menggunakan kuisioner tentang gejala asma.

Gambar 3.1. Kerangka Konsep

Berdasarkan kerangka konsep diatas, peneliti ingin mengetahui apakah teknik pernapasan Buteyko berpengaruh atau justru tidak berpengaruh terhadap penurunan gejala pasien asma di Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur Kota Tangerang Selatan.

Teknik Pernapasan Buteyko pada Asma


(65)

B.Hipotesis

Adapun hipotesa dari penelitian ini yang diajukan sehubungan dengan masalah diatas:

1. Ada beda penurunan gejala asma sebelum dan sesudah dilakukan teknik pernapasan Buteyko pada kelompok intervensi

2. Ada beda penurunan gejala asma yang tidak dilakukan teknik pernapasan Buteyko pada kelompok kontrol.

3. Ada beda skor gejala asma pada pasien asma sebelum dilakukan teknik pernapasan Buteyko pada kelompok intervensi dan kelopok kontrol.

4. Ada beda skor gejala asma pada pasien asma sesudah dilakukan teknik pernapasan Buteyko pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol.

5. Ada beda penurunan gejala asma pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol.


(66)

C.Definisi Operasional

Tabel 3.1 Definisi Operasional

Variabel Definisi Operasional Alat Ukur Hasil Ukur Skala Independen

Teknik Pernapasan Buteyko

Teknik pernapasan Buteyko yang dilakukan 3 kali sehari selama 2 minggu dengan beberapa prinsip teknik seperti nose clearing exercise, pengukuran nadi,

control pause, extended pause, relaxed breathing

dan reduce breathing

- - Nominal

Dependen Gejala Asma

Gejala asma adalah beberapa keluhan pasien asma berupa gejala asma mingguan seperti batuk, sesak napas, wheezing, rasa tertekan di dada, tidur yang terganggu yang diobservasi pada pasien asma

Lembar observasi gejala asma mingguan

Skor gejala asma dengan nilai 0-10


(67)

50

METODOLOGI PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain penelitian eksperimental yaitu suatu desain penelitian yang melakukan percobaan bertujuan untuk mengetahui suatu gejala atau pengaruh yang timbul, sebagai akibat perlakuan tertentu (Setiadi, 2007). Desain penelitian eksperimental pada penelitian ini menggunakan desain eksperimen semu (quasy experimental design).

Rancangan penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah rancangan

non random control group pretest – postest. Dalam rancangan ini, pengelompokan anggota sampel pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol tidak dilakukan secara random atau acak (Setiadi, 2007). Rancangan pada penelitian ini, dapat dilihat pada gambar dibawah ini:

Gambar 4.1 Desain Penelitian

C2 C 1

Intervensi Teknik Pernapasan

Buteyko

E 2 E 1


(68)

Dibandingkan :

E1 – E2 = X1 (pretes -postes kelompok intervensi) C1 – C2 = X2 (pretes-Postes kelompok kontrol) E1 – C1 = X3 (pretes kelompok intervensi-kontrol) E2 – C2 = X4 (postes kelompok intervensi-kontrol)

X1 – X2 = X5 (deviasi pretes-postes kelompok intervensi-kontrol) B. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: objek/subjek yang mempunyai kuantitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiono, 2004 dalam Hidayat, 2008). Populasi penelitian ini adalah pasien asma di Kecamatan Ciputat dan Ciputat Timur Kota Tangerang Selatan usia 20-60 tahun.

2. Sampel

Sampel adalah bagian dari populasi yang akan diteliti atau sebagian jumlah dari karakteristik yang dimiliki oleh populasi. Dalam penelitian keperawatan, kriteria sampel meliputi kriteria inklusi dan kriteria eksklusi (Hidayat, 2008). Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik sampling kuota yaitu cara pengambilan sampel dengan menentukan ciri-ciri tertentu sampai jumlah kuota yang ditentukan (Hidayat, 2008).


(1)

Independent Samples Test Levene's Test

for Equality of Variances

t-test for Equality of Means

F Sig. t Df Sig.

(2-tailed) Mean Difference Std. Error Difference 95% Confidence Interval of the

Difference Lower Upper

Skor Minggu Ke-2 Equal variances assumed

,679 ,421 -15,917 18 ,000 -6,30000 ,39581 -7,13157 -5,46843 Equal

variances not assumed

-15,917 12,707 ,000 -6,30000 ,39581 -7,15711 -5,44289

Eta squared = = = 0.933

UJI BEDA DUA MEAN DEPENDENT

Uji Beda Dua Mean Dependen Kelompok Intervensi

Paired Samples Statistics

Mean N Std. Deviation Std. Error Mean

Pair 1 Skor Kunjungan Awal 8,3000 10 1,41814 ,44845

Skor Minggu Ke-1 3,1000 10 1,10050 ,34801

Pair 2 Skor Kunjungan Awal 8,3000 10 1,41814 ,44845


(2)

Paired Samples Correlations

N Correlation Sig.

Pair 1 Skor Kunjungan Awal & Skor Minggu Ke-1 10 ,406 ,245

Pair 2 Skor Kunjungan Awal & Skor Minggu Ke-2 10 ,372 ,290

Paired Samples Test

Paired Differences t df Sig.

(2-tailed) Mean Std. Deviation Std. Error

Mean

95% Confidence Interval of the Difference Lower Upper Pair 1

Skor Kunjungan Awal - Skor Minggu Ke-1

5,20000 1,39841 ,44222 4,19964 6,20036 11,759 9 ,000

Pair 2

Skor Kunjungan Awal - Skor Minggu Ke-2

6,80000 1,31656 ,41633 5,85819 7,74181 16,333 9 ,000

Eta squared = = = 0.939 Eta squared = = = 0.967


(3)

Uji Beda Dua Mean Dependen Kelompok Kontrol

Paired Samples Statistics

Mean N Std. Deviation Std. Error Mean

Pair 1 Skor Kunjungan Awal 7,6000 10 1,07497 ,33993

Skor Minggu Ke-1 7,7000 10 1,15950 ,36667

Pair 2 Skor Kunjungan Awal 7,6000 10 1,07497 ,33993

Skor Minggu Ke-2 7,8000 10 1,13529 ,35901

Paired Samples Correlations

N Correlation Sig.

Pair 1 Skor Kunjungan Awal & Skor Minggu Ke-1 10 ,963 ,000

Pair 2 Skor Kunjungan Awal & Skor Minggu Ke-2 10 ,929 ,000

Paired Samples Test

Paired Differences t df Sig.

(2-tailed) Mean Std.

Deviation

Std. Error Mean

95% Confidence Interval of the Difference

Lower Upper

Pair 1

Skor Kunjungan Awal - Skor Minggu Ke-1

-,10000 ,31623 ,10000 -,32622 ,12622

-1,000 9 ,343 Pair

2

Skor Kunjungan Awal - Skor Minggu Ke-2

-,20000 ,42164 ,13333 -,50162 ,10162


(4)

(5)

(6)