Konstruksi Pemberitaan Kekerasan Terhadap Jemaat Ahmadiyah Pada Tayangan Provocative Proactive (Studi Analisis Framing Tentang Konstruksi Pemberitaan Dalam Frame Kekerasan Terhadap Jemaat Ahmadiyah Pada Tayangan Provocative Proactive di Metro TV)

KONSTRUKSI PEMBERITAAN KEKERASAN TERHADAP JEMAAT AHMADIYAH PADA TAYANGAN PROVOCATIVE PROACTIVE
(Studi Analisis Framing Tentang Konstruksi Pemberitaan Dalam Frame Kekerasan Terhadap Jemaat Ahmadiyah Pada Tayangan Provocative Proactive di Metro TV)
SKRIPSI Diajukan untuk memenuhi persyaratan menyelesaikan pendidikan Sarjana
(S-1) pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
DiajukanOleh : Kris Ahasyweros L
060904034
DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011
Universitas Sumatera Utara

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK
DEPARTEMEN ILMU KOMUNIKASI

LEMBAR PERSETUJUAN

Skripsi ini disetujui untuk dipertahankan oleh :

NAMA

: KRIS AHASYWEROS L

NIM DEPARTEMEN JUDUL

: 060904034 : ILMU KOMUNIKASI : KONSTRUKSI PEMBERITAAN KEKERASAN

TERHADAP JEMAAT AHMADIYAH PADA

TAYANGAN PROVOCATIVE PROACTIVE

(Studi Analisis Framing Tentang Konstruksi Pemberitaan

Dalam Frame Kekerasan Terhadap Jemaat Ahmadiyah

Pada Tayangan Provocative Proactive di Metro TV)

Dosen Pembimbing

Medan, 06 Juli 2011 Ketua Departemen

Syafruddin Pohan, M.Si, Ph.D NIP.

Dra. Fatma Wardi Lubis, MA NIP. 196208281987012001
Dekan,

Prof. Dr. Badaruddin, M.Si NIP. 1968052519992031002
Universitas Sumatera Utara

ABSTRAKSI
Penelitian ini berjudul Konstruksi Berita Kekerasan Terhadap Jemaah Ahmadiyah (Studi Analisis Framing Tentang Konstruksi Berita Dalam Frame Pemberitaan Kekerasan Terhadap Jemaah Ahmadiyah Pada Tayangan Provocative Proactive di Metro TV). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana tayangan Provocative Proactive memaknai, memahami dan membingkai berita kasus kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah dan melihat posisi tayangan Provocative Proactive dalam mengkonstruksi berita, yang dalam hal ini kasusnya terkait dengan kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah.
Subjek penelitian ini hanya mengambil subjek penelitian yang relevan dengan penelitian, yaitu Provocative Proactive episode Kekerasan Dalam Republik Tercinta I (KDRT I) yang tayang pada tanggal 10 Februari 2011 dan episode Kekerasan Dalam Republik Tercinta II (KDRT II) yang tayang pada tanggal 17 Februari 2011. Pemberitaan tersebut dianalisis menggunakan metode analisis framing Robert Entman.Dalam pengamatan Entman, framing berada dalam dua dimensi besar, yaitu seleksi isu dan penonjolan aspek-aspek tertentu. Entman kemudian mengonsepsikan dua dimensi besar tersebut ke dalam sebuah perangkat framing, yaitu: Definisi masalah (DefiningProblems), Memperkirakan sumber masalah (Diagnose Causes), Membuat keputusan moral (Make Moral Judgement/Evaluation), Menekankan penyelesaian (TreatmentRecommendation),
Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa Provocative Proactive memaknai, memahami dan membingkai kasus kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah sebagai masalah hukum yang terkait dengan isu agama dan sebuah pengalihan isu.Di sini juga dapat dilihat posisi Provocative Proactive mengkritisi kinerja Pemerintah khususnya Kepolisian Republik Indonesia dalam mengatasi masalah Ahmadiyah.
Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR
“Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi merekayang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah” (Roma 8 : 28)
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus karena berkat kasih karunia-Nya yang senantiasa memberikan kesehatan dan semangat kepada penulis, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Penulis juga mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada kepada kedua orang tua penulis, Drs. Ramli Lubis dan Mince Tampubolon yang senantiasa mendoakan, memberikan dukungan dan kasih sayang yang diberikan kepada penulis. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada kakak ku Kristyanti Lubis, adik ku Kris Fiska Julita Lubis dan my lovely Erawati Tampubolon yang selalu memberikan dukungan kepada penulis.
Skripsi ini berjudul Konstruksi Pemberitaan Kekerasan Terhadap Jemaah Ahmadiyah pada Tayangan Provocative Proactive, dibuat sebagai salah satu persyaratan kelulusan dan perolehan gelar sarjana dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, departemen Ilmu Komunikasi Universitas Sumatera Utara. Dalam penelitian dan penyusunan skripsi ini penulis mendapatkan bimbingan, nasehat serta dukungan dari berbagai pihak.
Penulis juga menyampaikan rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Badaruddin, M.Si, selaku Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.
Universitas Sumatera Utara

2. Ibu Dra. Fatma Wardi Lubis, MA, dan Ibu Dra. Dayana, M.Si, selaku Ketua dan sekretaris Departemen Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Syafruddin Pohan, M.Si, Ph.D, selaku dosen pembimbing penulis, yang sangat banyak membantu penulis untuk menyelesaikan skripsi ini. Mulai dari meluangkan waktu, memberikan sarandan kritik berharga dan berkenan berdiskusi dengan penulis
4. Bapak Drs. Humaizi, MA. selaku dosen wali yang telah membimbing penulis selama menjalani masa studi sebaga mahasiswa FISIP USU.
5. Seluruh Staf Dosen dan Adiministrasi Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU, yang telah memberikan pendidikan pelajaran, bimbingan serta bantuan lainnya pada penulis dari semester awal hingga menamatkan perkuliahan.
6. Erawati Tampubolon, yang telah memberikan waktu,perhatian, pikiran serta dukungan yang sebesar-besarnya kepada penulis sampai skripsi ini dapat selesai.
7. Teman-teman penulis di “LANTAI 3 PHOTOGRAPHY” Edward Sibuea, Pangeran Hutapea, Ikram Angkat, dan Johannes Ginting.
8. Teman-teman penulis di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik , terkhusus kepada Ryan Juskal, Bayu Juliandra, Ade Ardianta, Pradani Savitri, Yahdi Gufron, dan seluruh keluarga besar New Magacine (adik-adik Komunikasi 2010).
Universitas Sumatera Utara

9. Teman-teman penulis stambuk 2006 yang telah lebih dahulu lulus Andi Simatupang, Nelvita, Erinstella, Mey, Imaniuri, Efron, dan seluruh temanteman yang tidak dapat disebutkan.
10. Teman-teman penulis di Guru Sekolah Minggu dan Naposobulung HKBP Tanjung Sari.
11. Keluarga Besar Yayasan Pekabaran Injil “EE” Base Clinic Medan. 12. Keluarga besar “SendalJepit” 13. Semua pihak yang telah membantu yang tidak dapat disebutkan.
Penulis juga menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, masih terdapat kekurangan Oleh karena itu diharapkan kritik dan saran yang membangun untuk kedepannya bagi penulis. Semoga skripsi ini dapat berguna bagi seluruh pihak yang membacanya.
Medan, Juli 2011 Penulis,
Kris Ahasyweros Lubis
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
Abstraksi Kata Pengantar ………………………………………………………………......i Daftar Isi …………………………………………………………………..…….v Daftar Tabel …………………………………………………………………….vii BAB I PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang Masalah ………………………………………………1 I.2. Perumusan Masalah .…………………………………………………..6 I.3. Pembatasan Masalah……………..…………………………………….7 I.4. Tujuan dan Manfaat Penelitian
I.4.1. Tujuan Penelitian ……………….……………………………...7 I.4.2. Manfaat Penelitian …………………………………………......7 I.5. Kerangka Teori I.5.1. Komunikasi ………………………………………………….....8 I.5.2. Komunikasi Massa ………………………………………….....9 I.5.3. Paradigma Konstruktivisme ……………………………….....10 I.5.4. Analisis Framing ..…………...…………………………….....11 I.6. Kerangka Konsep………………..…………………………………....12 I.7. Operasional Konsep…………….………………………………….....13 I.8. Metodologi Penelitian ..…………….………………………………...15 I.9. Defenisi Operasional………………..………………………………...19 I.10. Hipotesis ………………………………………………………..........23
BAB II URAIAN TEORITIS II.1. Komunikasi …………………….…………………………………….19 II.1.1. Proses Komunikasi ………………………………………......21 II.1.2. Ruang Lingkup Komunikasi ………………………………...22 II.1.3. Tujuan Komunikasi ……………………………………….....24 II.1.4. Fungsi Komunikasi ………………………………………….25 II.2. Komunikasi Massa ………………………………………………......25 II.2.1. Ciri-ciri Komunikasi Massa ………………………………....26 II.2.2. Fungsi Komunikasi Massa …………………………………..28 II.3. Teori Dramatisme……………………,……………………………....29 II.4. Paradigma Konstruktivisme.………………………………………....34 II.5. Analisis Framing ..…………………………………………………....41
BAB III METODOLOGI PENELITIAN III.1. Deskripsi Objek Penelitian...………….……………………………...46 III.1.1. Sejarah dan Profil Singkat Metro TV………………………...46 III.1.2. Visi dan Misi Metro TV……………………………………...47 III.1.3. Profil Singkat Tayangan Provocative Proactive……………..48 III.2. Subjek Penelitian .………………….………………………………...50 III.3. Teknik Pengumpulan Data...……….………………………………...50
Universitas Sumatera Utara

III.4. Teknik Analisis Data…………………………………………………51 BAB IV PEMBAHASAN
IV.1. Frame Pemberitaan Kekerasan Terhadap Jemaah Ahmadiyah………53 IV.2. Pembahasan
IV.2.1. Frame Pemberitaan Pada Tayangan Provocative Proactive Episode Kekerasan Dalam Republik Tercinta I (KDRT I)…………..54 IV.2.2. Frame Pemberitaan Pada Tayangan Provocative Proactive Episode Kekerasan Dalam Republik Tercinta II (KDRT II)…………61 BAB V PENUTUP V.1. Kesimpulan ………………….……………………………………...98 V.2. Saran ………………………..……………………………………….99 DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL DAN GAMBAR Tabel 1 : Skrip Tayangan Provocative Proactive Episode Kekerasan di Republik Tercinta I Tabel 2 :Skrip Tayangan Provocative Proactive Episode Kekerasan di Republik Tercinta II Tabel 3 : Frame Isi Pemberitaan Gambar 1 : Tabel Pengalihan Isu Gambar 2 : Dramatisasi Film 300
Universitas Sumatera Utara

ABSTRAKSI
Penelitian ini berjudul Konstruksi Berita Kekerasan Terhadap Jemaah Ahmadiyah (Studi Analisis Framing Tentang Konstruksi Berita Dalam Frame Pemberitaan Kekerasan Terhadap Jemaah Ahmadiyah Pada Tayangan Provocative Proactive di Metro TV). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana tayangan Provocative Proactive memaknai, memahami dan membingkai berita kasus kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah dan melihat posisi tayangan Provocative Proactive dalam mengkonstruksi berita, yang dalam hal ini kasusnya terkait dengan kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah.
Subjek penelitian ini hanya mengambil subjek penelitian yang relevan dengan penelitian, yaitu Provocative Proactive episode Kekerasan Dalam Republik Tercinta I (KDRT I) yang tayang pada tanggal 10 Februari 2011 dan episode Kekerasan Dalam Republik Tercinta II (KDRT II) yang tayang pada tanggal 17 Februari 2011. Pemberitaan tersebut dianalisis menggunakan metode analisis framing Robert Entman.Dalam pengamatan Entman, framing berada dalam dua dimensi besar, yaitu seleksi isu dan penonjolan aspek-aspek tertentu. Entman kemudian mengonsepsikan dua dimensi besar tersebut ke dalam sebuah perangkat framing, yaitu: Definisi masalah (DefiningProblems), Memperkirakan sumber masalah (Diagnose Causes), Membuat keputusan moral (Make Moral Judgement/Evaluation), Menekankan penyelesaian (TreatmentRecommendation),
Dari hasil penelitian dapat dilihat bahwa Provocative Proactive memaknai, memahami dan membingkai kasus kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah sebagai masalah hukum yang terkait dengan isu agama dan sebuah pengalihan isu.Di sini juga dapat dilihat posisi Provocative Proactive mengkritisi kinerja Pemerintah khususnya Kepolisian Republik Indonesia dalam mengatasi masalah Ahmadiyah.
Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN
I.1. LATAR BELAKANG MASALAH Fenomena keberagamaan di Indonesia merupakan sebuah fenomena yang
menarik dan unik.Dengan keberagaman suku dan budaya para pahlawan Indonesia telah mempersatukan Indonesia di bawah Bendera Merah Putih.Di negeri ini juga hidup dan berkembang berbagai agama.Salah satunya adalah agama Islam yang berkembang merata di seantero nusantara sebagai anutan mayoritas rakyat Indonesia.Dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika yang memiliki arti berbeda-beda tapi tetap satu jua, Indonesia berdiri sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia selama 65 tahun dan sebentar lagi akan menuju 66 tahun. Sebenarnya ini suatu kebanggaan bagi kita rakyat Indonesia yang selama ini bisa bersatu walaupun dengan keberagaman yang seperti ini.Tapi sekarang tampaknya kebhinekaan kita sudah mulai pudar dengan banyaknya terjadi kasus kekerasan yang disebabkan keragaman tersebut.
Keberagaman yang seharusnya dulu kita banggakan sekarang malah menjadi faktor pemecah persatuan Negara Republik Indonesia.Dan kasus ini sudah banyak terjadi di Indonesia, apalagi kasus kekerasan yang deisebabkan perbedaan agama.Keberagaman itu menjadi hal yang sangat sensitif bagi rakyat Indonesia.Dan sekarang yang baru-baru ini terjadi adalah kasus kekerasan terhadap jemaat Ahmadiyah.
Muculnya aliran-aliran yang mengakui atau membawa nama agama islam, sudah lama merebak dikalangan masyarakat. Dan aliran-aliran itu sangat
Universitas Sumatera Utara

meresahkan masyarakat.seperti yang lagi hangat diperbincangkan saat ini yaitu, aliran ahmadiyah yang membawa nama agama islam. Tetapi aliran ini sudah melenceng dari ajaran islam, aliran ini tidak mengakui Nabi Muhammad SAW sebagai Nabi terakhir tetapi memunculkan nama Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi terakhir. Dengan begitu banyak pihak yang menginginkan Ahmadiyah segera dibubarkan. Dan untuk mengatasi ini pemerintah mengeluarkan SKB 3 Menteri, yang yang isinya termasuk melarang jemaah ahamadiyah Indonesia agar menghentikan semua kegiatan yang tidak sesuai dengan penafsiran Agama Islam pada umumnya. Seperti pengakuaan adanya Nabi setelah Nabi Muhammad SAW. Selain itu dalam SKB 3 Menteri ini juga melarang semua warga negara melakukan tindakan yang melanggar hukum terhadap penganut jemaat ahmadiyah. Tetapi sepertinya hal ini masih belum membuat puas berbagai ormas agama.Dan pada tanggal 6 Februari 2011 terjadi kerusuhan di Desa Umbulan, Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang.Dimana pada kerusuhan ini warga menyerbu rumah milik jamaah Ahmadiyah di Cikeusik, Pandeglang.
Menurut saksi salah seorang warga Cikeusik, aktivitas jamaah Ahmadiyah di kampung itu sudah berlangsung sekitar 3 bulan terakhir.Jumlah pengikutnya semakin hari semakin bertambah, terakhir jumlah pengikut Ahmadiyah ditaksir mencapai 60-an orang.Para jamaah Ahmadiyah tersebut sering terlihat berkumpul di kediaman Suparman, sebagai pimpinan untuk wilayah Cikeusik.Sementara itu, tokoh masyarakat Cikeusik, mengatakan keberadaan Suparman dan pengikutnya sudah sangat meresahkan warga.Bahkan beberapa kali tokoh masyarakat, ulama, dan jajaran pengurus MUI setempat telah memperingatkan Suparman.Namun setiap kesepakatan selalu dilanggar dan diingkari. Dan hal inilah yang menjadi
Universitas Sumatera Utara

pemicu kemarahan warga, sehingga pada Minggu pagi sekitar seribuan warga dari

berbagai daerah, di antaranya berasal dari Kecamatan Cibaliung, Cikeusik,

Kabupaten Pandeglang dan Kecamatan Malingping, Kabupaten Lebak,

mendatangi

rumah

Parman.

Saat massa tiba, puluhan Jamaah Ahmadiyah yang berada di rumah Parman sudan

siap dan mereka membawa berbagai jenis senjata tajam, seperti samurai, parang,

dan tombak. Dan akhirnya pecahlah kerusuhan berdarah ini yang mengakibatkan

sekitar 3 orang tewas dan 5 luka-luka. Dan kasus ini sampai sekarang masih

dalam tahap proses penyelidikan. Peristiwa kekerasan yang terjadi pada jemaah

Ahmadiyah ini mendapat perhatian dari berbagai media massa, terutama media

televisi. Dan Metro TV sebagai stasiun TV swasta yang memfokuskan pada berita

perkembangan politik dan ekonomi juga memberitakan peristiwa ini.Hampir

seluruh tayangan yang mereka sajikan, merupakan koreksi terhadap lembaga

pemerintahan.MetroTV lebih mengutamakan tayangan yang mendidik

dibandingkan hiburan. Walaupun mereka tidak melupakan fungsi media massa

dalam member hiburan. Karena itu Metro TV menggabungkan fungsi edukasi,

politik dan hiburan dalam satu tayangan talk show, salah satu contohnya adalah

Tayangan Provocative Proactive.Dan peristiwa kekerasan yang terjadi pada

jemaah Ahmadiyah diangkat menjadi topik atau tema dalam tayangan ini.

Tayangan Provocative Proactive semula terkesan seperti acara televisipada

umumnya, namun konsep yang dibuat oleh MetroTV membuat tayangan ini

berbeda dan jauh lebih menarik. Dalam tayangan ini akan membahas berita dan

kabar terpanas dalam 1 minggu dalam gaya yang agak berbeda.Tayangan ini

sebenarnya mempunyai visi dan misi kepada penontonnya adalah “Yang Tidak

Universitas Sumatera Utara

Tahu Menjadi Tahu, Yang Tidak Peduli Menjadi Peduli”. Tayangan Provocative Proactive dibawakan oleh 5 orang host yang memerankan perannya masingmasing. Host utama adalah Pandji Pragiwaksono yang memerankan seorang pegawai kantoran, kedua Ronal Suradpradja yang memerankan sebagai rakyat jelata, ketiga Raditya Dika yang memerankan seorang mahasiswa kristis, keempat J-Flow yang memerankan seorang pengusaha muda sukses dan terakhir Andhari yang memerankan penjaga warung kopi.
Ada konsep yang berbeda dari tayangan ini dimana ada 2 pembagian segmen dalam tayangan ini.Dimana segmen pertama adalah segmen berita, Pandji sebagai host utama membacakan berita yang sedang panas di dalam satu minggu.Dan pada segmen kedua sebuah talk show yang dinamakan “Warung Kopi”. Warung kopi termasuk dalam salah satu budaya Indonesia dimana kita bisa bersosialisasi dengan orang lain dan mengobrol bebas. Dan satu hal filosofi yang menarik dari warung kopi adalah semua orang sama dan semua orang bisa membahas apa saja. Dan seperti itu lah yang diangkat dalam tayangan Provoctive Proactive dalam segmen Warung Kopi.Dimana para perangkat acara bebas membahas dan mengkritisi berita atau peristiwa yang sedang panas dalam satu minggu.Tayanganini tidak memberi kesimpulan dan solusi. Tetapi semua hal itu, dikembalikan kepada penonton. Fungsi kami adalah memberi fakta dan sudut pandang (Pandji Pragiwaksono).Satu kelebihan yang dimiliki acara ini adalah keberanian para host mengkritisi dengan sangat tajam dan dibalut dengan komedikomedi segar. Dan hal itu dibuktikan dengan prestasi yang ditoreh mereka ketika tayangan perdana sudah bisa menjadi trending topics di Twitter. Tayangan Provoctive Proactive telah tayang sejak Agustus 2010.Tayangan Provoctive
Universitas Sumatera Utara

Proactive ditayangkanan secara langsung setiap hari Kamis pukul 22.05 WIB, dan siaran ulang setiap hari Sabtu pukul 16.00 WIB.Dalam setiap tayangannya, tema yang diangkat selalu berbeda sesuai dengan berita yang sedang panas pada satu minggu.
Program tersebut tidak hanya menghibur para penontonnya dengan guyonan dan lelucon yang disampaikan para pelaku dalam tayangan tersebut.Lelucon tersebut biasanya berbentuk kritikan yang disampaikan kepada pemerintah dan pihak terkait, namun dibungkus dalam konsep cerita yang menghibur.Tayangan ini juga tidak semata-mata hanya menampilkan lelucon dari para pemain yang terlibat, tetapi banyak pesan pendidikan terutama bidang politik yang disampaikan.Dalam tayangan tersebut juga hadir narasumber dari kalangan politisi atau bidang tertentu yang turut memberikan pendapat membahas permasalahan yang diangkat dalam cerita.
Dan ketika berita kekerasan terhadap jemaah ahmadiyah ini sedang panaspanasnya dibahas oleh media massa, tayangan ini pun seakan tidak mau ketinggalan mengangkat berita ini menjadi tema dalam tayangan mereka. Dengan memberi judul ”KDRT (Kekerasan Dalam Republik Tercinta) tayangan ini langsung mendapat sorotan dari khalayak. Bahkan Provocative Proactive kembali mengangkat tema yang sama pada episode mereka selanjutnya. Mereka memberi judul ”KDRT Jilid II”. Dengan kritikan-kritikan tajam dan pedasnya mereka kembali memberitakan kasus kekerasan yang terjadi pada jemaah ahmadiyah di Cikeusik. Dan tidak hanya menyoroti peristiwa di cikeusik, mereka juga memberitakan kasus yang terjadi temanggung dan di daerah lain yang terjadi karena keberagaman Indonesia. Karena kritikan dan penyampaian yang tajam,
Universitas Sumatera Utara

pedas dan berani di dalam tayangan ini maka penulis memilih tayangan ini sebagai subjek penelitian.
Perangkat analisis yang digunakan peneliti adalah analisis framing.Analisis framing dipakai untuk membedah cara-cara atau ideologi media saat mengkonstruksi fakta. Dengan kata lain, framing adalah pendekatan untuk mengetahui bagaimana perspektif atau cara pandang yang digunakan oleh wartawan ketika menyeleksi isu dan menulis berita (Sobur, 2004: 162). Dan analisis framing yang digunakan dalam penelitian ini adalah model analisis framing Robert Entman. Entman melihat framing dalam dua dimensi besar, yaitu: seleksi isu dan penekanan atau penonjolan aspek-aspek tertentu dari realitas atau isu (Eriyanto. 2002: 187).
Berdasarkan uraian di atas, peneliti merasa tertarik untuk meneliti konstruksi pemberitaan kekerasan terhadap jemaat Ahmadiyah pada tayangan Provocative Proactive di Metro TV. I.2. PERUMUSAN MASALAH
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka peneliti merumuskan masalah sebagai berikut :
Bagaimana tayangan Provocative Proactive mengkonstruksi berita kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah?
I.3. PEMBATASAN MASALAH Untuk menghindari ruang lingkup yang terlalu luas dan memfokuskan
arah penelitian yang akan dilakukan, maka peneliti menetapkan pembatasan masalah sebagai berikut:
1. Penelitian bersifat kualitatif deskriptif
Universitas Sumatera Utara

2. Media yang diteliti adalah berbentuk siaran televisi. Dalam hal ini adalah tayangan talk show Provocative Proactive, karena dianggap tayangan ini termasuk tayangan yang sangat kritis dalam mengkritisi suatu berita
3. Jenis berita yang diteliti adalah berita seputar kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah
4. Berita yang diteliti adalah yang tayang pada tanggal 10 Februari 2011 dan 17 Februari 2011
I.4. TUJUAN DAN MANFAAT PENELITIAN I.4.1. Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui cara tayangan Provocative Proactive memaknai, memahami dan membingkai berita kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah 2. Untuk mengetahui posisi tayangan Provocative Proactive dalam mengkonstruksi berita yang dalam hal ini kasusnya terkait dengan kekerasan terhadap jemaah Ahmadiyah I.4.2. Manfaat Penelitian 1. Menguji pengalaman teoritis penulis selama mengikuti studi di Departemen Ilmu Komunikasi FISIP USU terutama dalam bidang Jurnalistik. 2. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi sumbang pikir penulis dalam melengkapi perbendaharaan penelitian mengenai analisis media.
I.5.KERANGKA TEORI
Teori merupakan himpunan konstruk (konsep), defenisi dan preposisi yang mengemukakan pandangan sistematis tentang gejala dengan menjabarkan relasi di
Universitas Sumatera Utara

antara variabel, untuk menjelaskan dan meramalkan gejala tersebut (Rakhmat, 2004:6).Teori berfungsi untuk menjelaskan, meramalkan, dan memberikan pandangan terhadap sebuah permasalahan. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah : I.5.1. Komunikasi
Secara epistemologis istilah komunikasi atau dalam bahasa Inggris communication berasal dari bahasa latin yakni communication, dan bersumber dari kata communis yang berarti “sama”. Sama dalam arti kata ini bisa dikatakan dengan pemaknaan yang sama. Jadi secara sederhana dalam proses komunikasi yang terjadi adalah bermuara pada usaha untuk mendapatkan kesamaan makna atau pemahaman pada subjek yang melakukan komunikasi tersebut. Komunikasi bukan hanya hal yang paling wajar dalam pola tindakan manusia, tetapi juga paling rumit (Purba dkk,2006:29). Ungkapan diatas tidak dapat dipungkiri, karena komunikasi merupakan hal yang dilakukan sejak manusia lahir ke bumi. Komunikasi dapat diartikan sebagai bentuk interaksi manusia yang saling memperngaruhi antara yang satu dengan yang lain sengaja atau tidak sengaja, dan tidak terbatas pada komunikasi verbal saja (Cangara,2003:20).
Dalam perkembangannya, banyak ahli komunikasi mendefenisikan komunikasi secara berbeda-beda. Sejak awal abad 20 tepatnya 1930-1960, defenisi-defenisi mengenai komunikasi telah banyak diungkap, ketika itu para ahli di Amerika Serikat mulai merasakan kebutuhan akan “Science Of Communication”, dan diantaranya adalah Carl I. Hovland. Menurutnya, Ilmu Komunikasi adalah suatu usaha yang sistematis untuk merumuskan secara tegas azas-azas dan atas dasar azas-azas tersebut disampaikan informasi serta dibentuk
Universitas Sumatera Utara

pendapat dan sikap (a systematic attempt to formulate in rigorous fashion the principles by which information is transmitted and opinions and attitudes are formed) (Purba dkk, 2006:29). JikaCarl I. Hovland mendefenisikan komunikasi sebagai usaha yang sistematis, maka Harold Laswell menerangkan cara terbaik untuk menggambarkan komunikasi adalah dengan menjawab pertanyaanpertanyaan berikut: Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect? Yang berarti “Siapa Mengatakan Apa dengan Saluran Apa Kepada Siapa Dengan Pengaruh Bagaimana?”(Mulyana,2005:62). I.5.2. Komunikasi Massa
Komunikasi dapat dipahami sebagai proses penyampaian pesan, ide, atau informasi kepada orang lain dengan menggunakan sarana tertentu guna mempengaruhi atau mengubah perilaku penerima pesan. Komunikasi Massa adalah komunikasi melalui media massa, atau komunikasi kepada banyak orang (massa) dengan menggunakan sarana media. Media massa sendiri ringkasan dari media atau sarana komunikasi massa.(http://id.shvoong.com/social-sciences/1877099-definisi-komunikasimassa/)
Dari defenisi komunikasi massa di atas kita dapat mengetahui bahwa komunikassi massa harus menggunakan media massa. Jadi sekalipun komunikasi itu disampaikan kepada khalayak yang banyak, seperti rapat akbar di lapangan luas yang dihadiri puluhan ribu orang, jika tidak menggunakan media massa, maka itu bukan komunikasi massa. Media komunikasi yang termasuk media massa adalah radio siaran, dan televisi yang dikenal sebagai media elektronik, surat kabar dan majalah yang disebut disebut dengan media cetak.
Universitas Sumatera Utara

Komunikasi massa itu menghasilkan suatu produk berupa pesan-pesan komunikasi. Produk tersebut disebarkan, didistribusikan kepada khalayak luas secara terus menerus dalam jarak waktu yang tetap, misalnya harian, mingguan, mingguan atau bulanan. Proses memproduksi pesan tidak dapat dilakukan oleh perorangan, melainkan harus oleh lembaga, dan membutuhkan suatu teknologi tertentu. I.5.3. Paradigma Konstruktivisme
Konsep mengenai konstruktivisme pertama kali diperkenalkan oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckman.Pemikiran Berger melihat realitas kehidupan sehari-hari memilki dimensi subjektif dan objektif.Manusia dan masyarakat adalah produk yang dialektis, dinamis dan plural secara terus menerus. Masyarakat tidak lain adalah produk manusia, namun secara terus menerus mempunyai aksi kembali terhadap penghasilnya.
Teori konstruktivisme menyatakan bahwa individu menginterpretasikan dan bereaksi menurut kategori konseptual dan pikiran. Realitas tidak menggambarkan diri individu namun harus disaring melalui cara pandang orang terhadap realitas tersebut. Realitas itu bersifat subjektif, realitas itu hadir karena dihadirkan oleh konsep subjektif wartawan.Tidak ada realitas yang bersifat objektif karena realitas itu tercipta lewat konstrusi dan pandangan tertentu.
Dalam proses konstruksi realitas, bahasa adalah unsur utama. Bahasa merupakan instrumen pokok untuk menceritakan realitas. Seluruh media massa menggunakan bahasa, verbal maupun non-verbal. Keberadaan bahasa tidak lagi sebagai alat semata untuk menggambarkan realitas, melainkan bias menentukan gambaran (makna citra) mengenai suatu realitas yang akan muncul di benak
Universitas Sumatera Utara

khalayak. Oleh sebab itu penggunaan bahasa berpengaruh terhadap konstruksi realitas karena bahasa mengandung makna. Semua proses konstruksi (mulai dari memilih fakta, sumber, pemakai kata, gambar sampai proses penyuntingan) member andil bagaimana realitas tersebut hadir di hadapan khalayak. I.5.4. Analisis Framing
Analisis framing dipakai untuk membedah cara-cara atau ideologi media saat mengkonstruksi fakta. Dengan kata lain, framing adalah pendekatan untuk mengetahui bagaimana perspektif atau cara pandang yang digunakan oleh wartawan ketika menyeleksi isu dan menulis berita (Sobur, 2004: 162). Cara pandang dan perspektif itu pada akhirnya menentukan fakta apa yang akan diambi, bagian mana yang ditonjolkan dan dihilangkan, serta hendak dibawa kemana berita tersebut.
Ada dua aspek penting dalam framing.Pertama, memilih fakta/realitas. Proses memilih fakta ini berdasarkan pada asumsi, wartawan tidak mungkin melihat peristiwa tanpa perspektif. Dalam memilih fakta ini ada dua kemungkinan, yaitu apa yang dipilh dan apa yang dibuang. Kedua, menuliskan fakta.Bagaimana fakta yang sudah dipilih tersebut ditekankan dengan pemakaian perangkat tertentu, penempatang yang meyolok, pengulangan, pemakaian grafis untuk mendukung dan memperkuat penonjolan, dan lain-lain. Prinsip analisis framing menyatakan bahwa terjadi proses seleksi dan penajaman terhadap dimensi-dimensi tertentu dari fakta yang diberitakan lewat media. Fakta tidak ditampilkan apa adanya, namun diberi bingkai sehingga menghasilkan konstruksi makna yang spesifik.
Universitas Sumatera Utara

Dalam penelitian ini model framing yang digunakan adalah model analisis framing Robert Entman. Entman melihat framing dalam dua dimensi besar, yaitu: seleksi isu dan penekanan atau penonjolan aspek-aspek tertentu dari realitas atau isu (Eriyanto. 2002: 187). Seleksi isu berkaitan dengan pemilihan fakta.Dari realitas yang kompleks dan beragam, aspek mana yang diseleksi untuk ditampilkan.Penonjolan aspek-aspek tertentu dari isu berkaitan dengan penulisan fakta.Ketika aspek tertentu dari suatu peristiwa dipilih, bagaimana aspek tersebut ditulis.Hal ini sangat berkaitan dengan pemakaian kata, kalimat, gambar, dan citra tertentu untuk ditampilkan kepada khalayak. I.6.KERANGKA KONSEP
Kerangka Konsep adalah hasil pemikiran rasional yang bersifat kritis dalam memperkirakan kemugkinan hasil penelitian yang dicapai (Nawawi, 1993: 40). Konsep merupakan istilah dan defenisi yang akan digunakan untuk menggambarkan secara abstrak suatu fenomena yang hendak diuji (Singarimbun, 1995 : 32). Jadi kerangka konsep adalah hasil pemikiran yang rasional dalam menguraikan rumusan hipotesis yang merupakan jawaban sementara dari masalah yang diuji kebenarannya. Kerangka konsep yang digunakan dalam penelitian ini memakai analisis framing Robert Entman. Entman melihat framing dalam dua dimensi besar, yaitu: seleksi isu dan penekanan atau penonjolan aspek-aspek tertentu dari realitas atau isu (Eriyanto. 2002: 187). Seleksi isu berkaitan dengan pemilihan fakta.Dari realitas yang kompleks dan beragam, aspek mana yang diseleksi untuk ditampilkan.Penonjolan aspek-aspek tertentu dari isu berkaitan dengan penulisan fakta.Ketika aspek tertentu dari suatu peristiwa dipilih, bagaimana aspek tersebut
Universitas Sumatera Utara

ditulis.Hal ini sangat berkaitan dengan pemakaian kata, kalimat, gambar, dan citra tertentu untuk ditampilkan kepada khalayak.
Dari pemikiran di atas Entman merumuskan dalam bentuk model framing sebagai berikut:
a. Definisi Masalah (Defining Problems) Bagaimana suatu peristiwa dilihat? Sebagai apa? Atau sebagai masalah apa?
b. Memperkirakan sumber masalah (Diagnose Cause) Peristiwa itu disebabkan oleh apa? Apa yang dianggap sebagai penyebab dari suatu masalah? Siapa actor yang dianggap sebagai penyebab masalah?
c. Membuat Keputusan Moral (Make Moral Judgement) Nilai moral apa yang disajikan untuk menjelaskan masalah? Nilai moral apa yang dipakai untuk melegitimasi atau mendelegitimasi suatu tindakan?
d. Menekankan Penyelesaian (Treatment Recommendation) Penyelesaian apa yang ditawarkan media untuk mengatasi masalah itu?
I.7.OPERASIONAL KONSEP a. Definisi Masalah (Defining Problems) Elemen yang pertama kali dapat kita lihat dalam analisis framing.Elemen ini merupakan master frame atau bingkai paling utama.Di tahapan inilah awal berita dikonstruksi sehingga dalam sebuah berita diteliti apakah yang menjadi pokok masalah terhadap isu, wacana, atau peristiwa yang diliput, diberitakan dan peristiwa dipahami oleh wartawan. b. Memperkirakan sumber masalah (Diagnose Cause)
Universitas Sumatera Utara

Bagaimana sebuah media membungkus siapakah actor atau pelaku yang

menyebabkan sebuah masalah timbul. Di sini penyebab bisa berarti apa

(what) dan bias juga aspek siapa (who).

c. Membuat Keputusan Moral (Make Moral Judgement)

Elemen framing yang dipakai untuk membenarkan atau memberikan

argument atau pendefenisian yang telah dibuat, ketika masalah dan

penyebab masalah telah ditentukan, maka dibutuhkan argumentasi yang

kuat untuk mendukung gagasan tersebut.

d. Menekankan Penyelesaian (Treatment Recommendation)

Pesan moral baik secara eksplisit atau implicit bagaimana seharusnya

sebuah masalah atau peristiwa itu diselesaikan, ditanggulangi, diantisipasi

dan dihindari.

Definisi Masalah (Defining

a. Peristiwa dilihat sebagai apa

Problems)

b. Peristiwa sebagai masalah apa

Memperkirakan sumber masalah (Diagnose Cause)

a. Siapa penyebab masalah b. Peristiwa itu disebabkan ole apa

Membuat Keputusan Moral (Make Moral Judgement)
Menekankan Penyelesaian

a. Nilai moral apa yang disajikan untuk menjelaskan masalah
b. Nilai apa yang dipakai untuk mendelegitimasi/legitimasi suatu tindakan
a. Penyelesaian yang ditawarkan

Universitas Sumatera Utara

(Treatment Recommendation)

untuk menyelesaikan masalah b. Jalan yang ditawarkan dan harus
ditempuh untuk mengatasinya

Sumber : Majalah Kajian Media Dictum Vol I, No. 2 September 2007 I.8.METODOLOGI PENELITIAN
Metode dalam penelitian ini dimaksudkan untuk menggambarkan bagaimana peneliti dalam menggambarkan tentang tata cara pengumpulan data yang diperlukan, serta analisis data. Metodologi dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif.
Riset kualitatif bertujuan untuk menjelaskan fenomena dengan sedalamdalamnya melalui pengumpulan data sedalam-dalamnya.Riset ini tidak mengutamakan besarnya populasi atau sampling, bahkan populasi atau samplingnya sangat terbatas.Jika data yang terkumpul sudah mendalam dan bisa menjelaskan fenomena yang diteliti, maka tidak perlu mencari sampling lainnya. Di sini yang lebih ditekankan adalah persoalan kedalaman (kualitas) bukan banyaknya (kuatitas) (Kriyantono, 2008 : 56-57). 1.8.1 Metode Penelitian
Metode penelitian yang akan dipakai dalam penelitian ini menggunakan model analisis framing yang dibuat oleh Robert Entman. 1.8.2 Subjek Penelitian
Subjek penelitian pada penelitian ini berupa tayangan talk show Provocative Proactive episode Kekerasan di Republik Tercinta I dan Kekerasan di Republik Tercinta II.

Universitas Sumatera Utara

1.8.3 Teknik Pengumpulan Data

Adapun teknik pengumpulan data yang dilakukan oleh peneliti adalah :

a. Studi dokumenter, yaitu data-data unit analisis yang dikumpulkan dengan

cara men-downloaddata dari situs Metro TV.

b. Studi kepustakaan, yaitu penelitian dilakukan dengan cara mempelajari

dan mengumpulkan data melalui literature dan sumber bacaan yang

relevan dan mendukung penelitian. Dalam hal ini penelitian kepustakaan

dilakukan dengan membaca buku-buku, literature serta tulisan yang

berkaitan dengan masalah yang dibahas.

1.8.4 Teknik Analisis Data

Penelitian ini akan memusatkan pada penelitian kualitatif dengan

perangkat metode analisis isi memakai analisis framing.

Tabel 1. Isi Tayangan Provocative Proactive Episode Kekerasan di Republik

Tercinta I

No Nama Komunikator

Isi Dialog

Tabel 2. Isi Tayangan Provocative Proactive Episode Kekerasan di Republik

Tercinta II

No Nama Komunikator

Isi Dialog

Tabel 3.Frame Isi Pemberitaan

Universitas Sumatera Utara

Pendefenisian Masalah Memeperkirakan Masalah Memebuat Keputusan Moral Menekankan Penyelesaian

Sistematika Penulisan BAB I Pendahuluan
1.1 Latar Belakang Masalah 1.2 Perumusan Masalah

Universitas Sumatera Utara

1.3 Pembatasan Masalah 1.4 Tujuan dan Manfaat Penelitian 1.5 Kerangka Teori 1.6 Kerangka Konsep 1.7 Operasional Variabel BAB II Uraian Teoritis II.1 Komunikasi II.2 Komunikasi Massa II.3 Paradigma Konstruktivis II.4 Analisis Framing BAB III Metodologi Penelitian III.1 Deskripsi dan Sumber Data III.2 Tahapan Penelitian III.3 Metode Penelitian III.4 Pengumpulan dan Pencatatan Data BAB IV Pembahasan BAB V Penutup V.1 Kesimpulan V.2 Saran Dartar Pustaka Lampiran
BAB II URAIAN TEORITIS
Universitas Sumatera Utara

II.1. KOMUNIKASI
Setiap orang yang hidup dalam masyarakat secara kodrati senantiasa terlibat dalam komunikasi.Terjadinya komunikasi adalah konsekuensi dari hubungan sosial (sosial relations). Istilah komunikasi atau communication berasal dari kata latin communication dan bersumber dari kata communis yang berarti sama. Sama dalam artian sama makna.
Menurut Carl I. Hovland komunikasi adalah proses mengubah perilaku orang lain (communication is the process to modify the behavior of other individuals)(Effendy, 2005:10). Akan tetapi, perubahan sikap, pendapat atau perilaku orang lain dapat terjadi apabila komunikasi tersebut berlangsung secara komunikatif.
Jadi, jika dua orang terlibat dalam komunikasi, maka akan terjadi selama ada kesamaan makna, sehingga komunikasi yang dilakukan kedua orang tersebut bersifat komunikatif. Akan tetapi, pengertian komunikasi di atas sifatnya dasariah, dalam arti kata bahwa komunikasi minimal harus mengandung kesamaan makna antara dua pihak yang terlibat. Dikatakan minimal karena kegiatan komunikasi tidak hanya informatif, yakni agar orang lain mengerti dan mengetahui, tetapi juga persuasif, yaitu agar orang lain bersedia menerima suatu paham atau keyakinan melakukan suatu perbuatan atau kegiatan.
Sedangkan Harold Lasweel memberikan pengertian komunikasi melalui paradigma yang dikemukakannya dalam karyanya The Structire abd Function of Communication in Society.Lasswell mengatakan bahwa cara yang baik untuk menjelaskan komunikasi adalah menjawab pertanyaan “Whos Says What In
Universitas Sumatera Utara

Which Channel To Whom With What Effect ?” Paradigma Lasswell menunjukkan bahwa komunikasi meliputi lima unsur sebagai jawaban dari pertanyaan yang diajukan, yakni :
· Komunikator (communicator, source, sender) Komunikator adalah seseorang atau sekelompok orang yang memberikan informasi kepada lawan bicaranya.
· Pesan (Message) Pesan merupakan seperangkat lambang yang bermakna yang disampaikan oleh komunikator.
· Media (channel, media) Media adalah saluran komunikasi tempat berlalunya pesan dari komunikator kepada komunikan.
· Komunikan (communicant, receiver, recipient) Komunikan adalah seseorang atau sekelompok orang yang menerima pesan atau informasi dari komunikator.
· Efek (effect, impact, influence) Efek adalah tanggapan atau seperangkat reaksi pada komunikan setelah diterpa pesan. Berdasarkan paradigma lasswell tersebut komunikasi adalah proses
penyampaian pesan oleh komunikator kepada komunikan melalui media yang menimbulkan efek tertentu (Effendy, 2005:10).
Berdasarkan defenisi diatas dapat diketahui bahwa komuikasi merupakan proses penyampaian pesan melalui penggunaaan simbol/ lambang yang dapat
Universitas Sumatera Utara

menimbulkan efek berupa perubahan tingkah laku yang bisa dilakukan dengan menggunakan media tertentu. II.1.1. Proses Komunikasi
Proses komunikasi terbagi menjadi dua tahap, yaitu : 1. Proses Komunikasi secara primer
Proses komunikasi secara primer adalah proses penyampaian pikiran dan atau perasaan seseorang kepada orang lain dengan menggunakan lambang (symbol)sebagai media. Lambang sebagai media primer dalam proses komunikasi adalah bahasa, isyarat, gambar dan lain sebagaianya yang secara langsung mampu menerjemahkan pikiran atau perasaan komunikator kepada komunikan (Effendy, 2005:16).
2. Proses Komunikasi secara sekunder Proses Komunikasi secara sekunder adalah proses penyampaian pesan
oleh seseorang kepada orang lain dengan menggunakan alat atau sarana sebagai media kedua setelah memakai lambang secara media pertama. Seorang komunikator menggunakan media kedua dalam komunikasinya karena komunikan sebagai sasarannya berada di tempat yang relative jauh atau jumlahnya banyak. Surat, telepon, surat kabar, majalah, radio, televisi, film, dan lain sebagainya merupakan media kedua yang sering digunakan dalam komunikasi (Effendy, 2005:16).
II.1.2. Ruang Lingkup Komunikasi
Ilmu komunikasi merupakan ilmu yang mempelajari, menelaah, dan meneliti kegiatan-kegiatan komunikasi manusia yang luas ruang lingkup dan banyak
Universitas Sumatera Utara

dimensinya. Berikut ini jenis-jenis komunikasi menurut konteksnya (Efendi, 1993:52-54) :
1. Berdasarkan bidang komunikasi Yang dimaksud dengan bidang disini adalah bidang kehidupan manusia, dimana di antara jenis kehidupan yang satu dengan jenis kehidupan lainnya terdapat perbedaan yang khas dan kekhasan ini menyangkut proses komunikasi. Berdasarkan bidangnya komunikasi meliputi : a. Komunikasi sosial (sosial communication) b. Komunikasi organisasional/manajemen (organization.management communication) c. Komunikasi bisnis (business communication) d. Komunikasi politik (political communication) e. Komunikasi internasional (international communication) f. Komunikasi antarbudaya (intercultural communication) g. Komunikasi pembangunan (development communication) h. Komunikasi tradisional (traditional communication)
2. Berdasarkan sifat komunikasi Ditinjau dari sifatnya komunikasi diklasifikasikan sebagai berikut : a. Komunikasi verbal (verbal communication) 1) Komunikasi lisan (oral communication) 2) Komunikasi tulisan (written communicaaation) b. Komunikasi nirverbal (nonverbal communication) 1) Komunikasi kial (gestural/body communication)
Universitas Sumatera Utara

2) Komunikasi gambar (pictorial communication) 3) Lain-lain c. Komunikasi tatap muka (face-to-face communication) d. Komunikasi bermedia (mediated communication) 3. Berdasarkan tatanan komunikasi Yang dimaksud dengan tatanan komunikasi adalah proses komunikasi ditinjau dari jumlah komunikan, apakah satu orang, sekelompok orang, atau sejumlah orang yang bertempat tinggal secara tersebar. Berdasarkan situasi komunikan seperti itu, maka diklasifikasikan mejadi bentuk sebagai berikut: a. Komunikasi pribadi (personal communication) 1) Komunikasi intrapribadi (intrapersonal communication) 2) Komunikasi antarpribadi (interpersonal communication) b. Komunikasi kelompok (group communication) 1) Komunikasi kelompok kecil (small group communication)
a) Ceramah b) Forum c) Symposium d) Diskusi panel e) Seminar f) Lain-lain 2) Komunikasi kelompok besar (large group communication) c. Komunikasi Massa (mass communication) 1) Komunikasi media massa cetak
Universitas Sumatera Utara

a)surat kabar b) majalah
2) Komunikasi media massa elektronik
a) radio b) televisi c) film d) lain-lain d. Komunikasi medio a) surat b) telepon c) pamflet d) poster e) spanduk f) lain-lain II.1.3. Tujuan komunikasi Tujuan Komuniaksi (Effendy, 2003:55), yaitu : a. Mengubah sikap (to change attitude) b. Mengubah opini/pendapat/pandangan (to change the opinion) c. Mengubah perilaku (to change the behavior) d. Mengubah masyarakat (to change the society) II.1.4. Fungsi Komunikasi Fungsi komuniaksi (Effendy, 2003:55), yaitu ; a. Menginformasikan (to inform) b. Mendidik (to educate)
Universitas Sumatera Utara

c. Menghibur (to entertain) d. Mempengaruhi (to influence) II.2. KOMUNIKASI MASSA
Komunikasi massa diadopsi dari istilah bahasa Inggris “mass communication”,singkatan dari mass media communication. Artinya, komunikasi yang menggunakan media massa atau “mass mediated”.Komunikasi Massa merupakan suatu tipe komunikasi manusia (human communication) yang lahir bersamaan dengan mulai digunakannya alat-alat mekanik, yang mampu melipatgandakan pesan-pesan komunikasi (Wiryanto, 2000:1).
Defenisi komunikasi massa yang paling sederhana dikemukakan oleh Bittner yaitu komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan mellaui media massa pada sejumlah besar orang (mass communication is messages communicated through a mass medium to a large number of people)(Ardianto, 2004:3).
Defenisi komunikasi massa yang lebih rinci dikemukakan oleh Gerbner. Menurut Gerbner (1967) komunikasi massa adalah produksi dan distribusi yang berlandaskan teknologi dan lembaga dari arus pesan yang kontinyu serta paling luas dimiliki orang dalam masyarakat industri. Dari defenisi Gerbner tergambar bahwa komunikasi massa itu menghasilkan suatu produk berupa pesan-pesan komunikasi (Ardianto,2004:4) .
Produk tersebut disebarkan, didistribusikan kepada khalayak luas secara terus menerus dalam jarak waktu yang tetap, misalnya harian, mingguan, atau bulanan. Proses memproduksi pesan tidak dapat dilakukan perorangan,
Universitas Sumatera Utara

melainkan harus oleh lembaga, dan membutuhkan suatu teknologi tertentu sehingga komunikasi massa akan banyak dilakukan oleh masyarakat industri.
II.2.1. Ciri-ciri Komunikasi massa
Ciri-ciri komunikasi massa (Nurudin,2007:19), yaitu : 1. Komunikator dalam komunikasi massa melembaga
Komunikator dalam komunikasi massa itu bukan satu orang, tetapi kumpulan orang-orang. Artinya, gabungan antara berbagai macam unsur dan bekerja satu sama lain dalam sebuah lembaga. Lembaga yang dimaksud disini menyerupai sebuah sistem. Sebagaimana kita ketahui, sistem adalah sekelompok orang, pedoman dan media yang melakukan suatu kegiatan mengolah, menyimpan, menuangkan ide, gagasan, simbol, lambang menjadi pesan dalam membuat keputusan untuk mencapai suatu kesepakatan dan saling pengertian satu sama lain dengan mengolah pesan itu menjadi sumber informasi. Komunikator dalam komunikasi massa itu lembaga disebabkan elemen utama komunikasi massa adalah media massa.
2. Komunikan dalam komunikasi massa bersifat heterogen
Komunikan dalam komunikasi massa sifatnya heterogen/beragam. Artinya, penonton televisi itu beragam pendidikan, umur, jenis kelamin, status sosial, ekonomi, punya jabatan yang beragam, punya agama atau kepercayaan yang tidak sama pula.
Herbert Blumer pernah memberikan ciri tentang karakteristik audience/ komunikan, yaitu :
Universitas Sumatera Utara

1. Audience dalam komunikasi massa sangatlah heterogen. Artinya, ia mempunyai heterogenitas komposisi atau susunan. Jika ditinjau dari asalnya, mereka berasal dari berbagai kaelompok dalam masyarakat.
2. Bersisi individu-individu yang tidak tahu atau mengenal satu sama lain. Disamping itu, antara individu itu tidak berinteraksi satu sama lain secara langsung.
3. Mereka tidak mempunyai kepemimpinan atau organisasi formal.
3. Pesannya bersifat umum Pesan-pesan dalam komunikasi massa itu tidak ditujukan kepada satu
orang atau satu kelompok masyarakat tertentu. Dengan kata lain, pesan-pesan yang dikemukakannya pun tidak boleh bersifat khusus. Artinya, pesan itu memang tidak disengaja untuk golongan tertentu. Meskipun dalam televisi ada program acara yang dikhususkan pada kalangan tertentu tetapi televisi perlu menyediakan acara lain yang sifatnya lebih umum. Ini penting agar televisi tidak kehilangan ciri khasnya sebagai saluran komunikasi massa.
4. Komunikasinya berlangsung satu arah Komunikasi dalam komunikasi massa berlangsung satu arah. Artinya,
komunikasi berlangsung dari media massa ke khalayak, namun tidak terjadi sebaliknya. Respon yang diberikan oleh khalayak tidak terjadi langsung pada saat komunikasi tersebut berlangsung.Meskipun terkadang terjadi dua arah, namun tidak kepada semua khalayak.Misalnya, telepon interaktif yang dilakukan pembawa acara dan khalayak.
5. Komunikasi massa menimbulkan keserempakan
Universitas Sumatera Utara

Salah satu ciri komunikasi selanjutnya adalah bahwa dalam komunikasi massa itu ada keserempakan. Serempak disini berarti khalayak bisa menikmati media massa tersebut secara bersamaan.
6. Komunikasi mengandalkan peralatan teknis Media massa sebagai alat utama dalam menyampaikan pesan kepada
khalayaknya sangat membutuhkan bantuan peralatan teknis. Peralatan teknis yang dimaksud misalnya pemancar untuk media elektronik.
7. Komunikasi massa dikontrol oleh Gatekeeper Gatekeeper atau yang sering disebut pentapis informasi/ palang pintu/
penjaga gawang, adalah orang yang sangat berperan dalam penyebaran informasi melalui media massa. Gatekeeper ini berfungsi sebagai orang yang ikut menambah atau mengurangi, menyederhanakan, mengemas agar semua informasi yang disebarkan lebih mudah dipahami.
II.2.2. Fungsi Komunikasi Massa
Menurut Karnilah fungsi komunikasi massa secara khusus (Ardianto,2004:19-23) terdiri dari :
a. Fungsi informasi b. Fungsi pendidikan c. Fungsi mempengaruhi d. Fungsi proses pengembangan mental e. Fungsi adaptasi lingkungan f. Fungsi memanipulasi lingkungan
II.3. TEORI DRAMATISME
Uni

Dokumen yang terkait

Dokumen baru