Tindak Tutur Permintaan Dalam Film Tokyo Love Story

TINDAK TUTUR PERMINTAAN
DALAM FILM TOKYO LOVE STORY
TESIS

Oleh
ROSMITA SYAHRI / LNG
097009004

SEKOLAH PASCA SARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2011

Universitas Sumatera Utara

TINDAK TUTUR PERMINTAAN
DALAM FILM TOKYO LOVE STORY

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar
Magister Humaniora pada Program Studi Linguistik Pada
Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara

Oleh

ROSMITA SYAHRI / LNG
097009004

SEKOLAH PASCA SARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2011

Universitas Sumatera Utara

Persetujuan Komisi Pembimbing
Judul Tesis
Nama Mahasiswa
Nomor Pokok
Program Studi
Konsentrasi

: TINDAK TUTUR PERMINTAAN
DALAM FILM TOKYO LOVE STORY
: Rosmita Syahri
: 097009004
: Linguistik
: Bahasa Jepang

Menyetujui
Komisi Pembimbing

( Prof. Amrin Saragih, M. A., Ph. D)
Ketua

Ketua Pogram Studi

(Dra. Siti Muharami Malayu, M. Hum)
Anggota

Direktur

(Prof. T. Silvana Sinar, M. A., Ph. D) (Prof. Dr. Ir. A. Rahim Matondang, MSIE )

Tanggal lulus: 2 Agustus 2011

Universitas Sumatera Utara

Telah diuji pada
Tanggal 2 Agustus 2011

PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua

: Prof. Amrin Saragih, M.A.,Ph.D.

Aggota

: 1. Dra. Siti Muharami Malayu, M.Hum.
2. Dr. Deliana, M. Hum
3. Dr. Eddy Setia, M.Ed. TESP.

Universitas Sumatera Utara

PERNYATAAN

TINDAK TUTUR PERMINTAAN
DALAM FILM TOKYO LOVE STORY
Dengan ini saya menyatakan bahwa Tesis ini disusun sebagai Syarat untuk
memperoleh gelar Magister Humaniora pada Program Studi Linguistik Sekolah
Pascasarjana Universitas Sumatera Utara adalah benar merupakan hasil karya saya
sendiri.
Adapun pengutipan yang saya lakukan pada bagian –bagian tertentu dari hasil karya
orang lain dalam Tesis ini, telah saya cantumkan sumbernya sacara jelas sesuai dengan
norma, kaidah dan etika penulisan ilmiah.
Apabila di kemudian hari ternyata di temukan Tesis ini bukan hasil karya saya sendiri
atau adanya plagiat, saya bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang saya
sandang dan sanksi-sanksi lainya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

Medan, 2 Agustus 2011

Rosmita Syahri

Universitas Sumatera Utara

RIWAYAT PENULIS

A. IDENTITAS

Nama

: Rosmita Syahri

Tempat / Tgl lahir

: Medan / 4 Oktober 1986

Jenis Kelamin

: Perempuan

Pendidikan

: Mahasiswa

Agama

: Islam

Alamat

: Jln, SMA 7 no. 44 Lubuk Buaya Padang

Email

: tabitha_libra2000@yahoo.com

B. PENDIDIKAN
1. Tahun 1992-1998 tamat SDN 20 Sangkir, Lubuk Basung.
2. Tahun 1998-2001 tamat SMPN 10 Medan.
3. Tahun 2001- 2004 tamat SMU ADABIAH Padang.
4. Tahun 2004-2008 tamat kuliah Jurusan Sastra Asia Timur Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Bung Hatta Padang.
5. Tahun 2007-2008 Mendapat Beasiswa Pertukaran Mahasiswa antara Universitas
Bung Hatta dengan Sonoda Women’s University, Osaka Jepang.
6. Tahun 2009 – Sekarang tercatat sebagai Mahasiswa Sekolah Pascasarjana Pada
Program Studi Konsentrasi Linguistik Jepang, Universitas Sumatera Utara Medan.

Universitas Sumatera Utara

C. PENGALAMAN KERJA
1. Tahun 2008 – 2009 Guru honorer SMK N 10 Kelautan Padang.
2. Tahun 2010 – Sekarang Guru MA. Miftahussalam Medan.

D. PENGALAMAN ORGANISASI
1. Tahun 2006-2007 tercatat sebagai Anggota Jurnalistik Wawasan Proklamator (Koran
Kampus) Universitas Bung Hatta.
2. Tahun 2007-2008 tercatat sebagai Anggota klub nihon buyou (Tari Jepang) Sonoda
University, Osaka Jepang.
3. Tahun 2007-2008 tercatat sebagai Anggota klub shadou (Kebudayaan Teh Jepang)
Sonoda University, Osaka Jepang.

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis ucapkan ke hadirat Allah SWT,
serta salawat dan salam penulis sampaikan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW,
atas segala rahmat dan karunia Nya lah sehingga tesis ini dapat diselesaikan.
Tesis ini disampaikan untuk melengkapi salah satu persyarat menyelesaikan studi
pada Program Studi Konsentrasi Linguistik Jepang, Sekolah Pascasarjana Universitas
Sumatera Utara.
Tesis ini berjudul “Tindak Tutur Permintaan Dalam Film Tokyo Love Story” yang
terdiri atas enam bab yaitu: Bab I : Pendahuluan, Bab II : Tinjauan Pustaka, Bab III :
Metode Penelitian, Bab : IV : Analisis dan Pembahasan, Bab V : Temuan Hasil Penelitian,
Bab VI : Simpulan dan Saran.
Pemilihan judul ini berkaitan dengan ketertarikan peneliti, sebagai pembelajar
bahasa Jepang, terhadap temuan dan teori-teori para linguis yang berkenaan dengan
kajian pragmatik khususnya mengenai tindak tutur.
Hasil penelitian yang tertuang pada tesis ini diharapkan dapat memberi
sumbangan bagi kajian pragmatik di Indonesia khususnya bagi pembelajar bahasa Jepang
mengenai tindak tutur dalam bahasa Jepang.Akhirnya penulis mengharapkan sumbangan
pikiran, pendapat, serta kritik membangun dari segala pihak untuk kesempurnaan tesis ini.
Medan,

Juli 2011

Penulis,

Rosmita Syahri

Universitas Sumatera Utara

UCAPAN TERIMA KASIH

Alhamdulillah, segala puji dan syukur penulis ucapkan ke hadirat Allah SWT,
serta salawat dan salam penulis sampaikan kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW,
atas segala rahmat dan karunia Nya lah sehingga tesis ini dapat diselesaikan.
Adapun yang menjadi topik penelitian dalam tesis ini adalah suatu analisis tindak
tutur yang diberi judul : ‘Tindak Tutur Permintaan Dalam Film Tokyo Love Story ‘.
Tesis ini merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi guna menyelesaikan Sekolah
Pascasarjana pada Program Studi Konsentrasi Linguistik Jepang, Universitas Sumatera
Utara.
Penulis menyadari bahwa masih banyak terdapat kekurangan yang perlu
disempurnakan terutama yang berkaitan dengan isi tesis ini, untuk itu dengan segala
kerendahan hati penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari
para pembaca.
Dalam proses penulisan tesis ini, banyak pihak yang telah memberikan saran,
bimbingan, bantuan dan dukungan baik secara langsung maupun tidak langsung sejak
awal penulisan sampai tesis ini terselesaikan. Oleh karena itu, pada kesempatan ini
penulis menyampaikan rasa terima kasih kepada orang tuaku yang sangat kusayangi yang
telah banyak membantu penulis dalam menyelesaikan tesis ini yakni ayahanda Syahrial
S.S.,M.Hum dan ibunda Rosdaini beserta adik-adik penulis yang penulis sayangi (Erni,
Budi dan Lia) serta untuk seseorang yang sangat penulis sayangi terima kasih untuk
semangatnya yang selalu dibagi kepada penulis untuk menyelesaikan tesis ini. Penulis
juga mengucapkan terima kasih kepada:

Universitas Sumatera Utara

1. Bapak Prof. Dr. Ir. A. Rahim Matondang, MSIE, sebagai Direktur Sekolah
Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.
2. Ibu Prof. Tengku Silvana Sinar, Ph.D.,sebagai Ketua Program Studi Linguistik
Sekolah Pascasarjana dan ibu Dr. Nurlela M,Hum., sebagai Sekretaris Program
Studi Linguistik Sekolah Pascasarjana.
3. Bapak Drs. Yuddi Adrian Muliadi M.A., Sebagai Koordinator Konsentrasi
Bahasa Jepang Program Studi Magister Linguisik Sekolah Pascasarjana
Universitas Sumatera Utara.
4. Bapak Prof. Amrin Saragih, M.A., Ph.D., sebagai dosen pembimbing pertama
yang telah bersedia menyediakan waktu untuk membagi pengetahuan, pandangan,
masukan serta bimbingan bagi penulis selama pengerjaan tesis ini.
5. Ibu Dra. Siti Muharami Malayu, M. Hum., sebagai dosen pembimbing kedua
yang telah bersedia menyediakan waktu untuk membagi pengetahuan, pandangan,
masukan serta bimbingan bagi penulis selama pengerjaan tesis ini.
6. Ibu Dr. Deliana, M. Hum dan Bapak Dr. Eddy Setia, M.Ed. TESP sebagai dosen
penguji atas segala koreksi, masukan-masukan selama kolokium, seminar hasil
dan sidang.
7. Seluruh staf pengajar / dosen-dosen saya di Program Magister Linguistik USU
yang telah memberikan pendidikan pelajaran dan bimbingan pada penulis dari
semester awal hingga menamatkan perkuliahan.
8. Seluruh staf pengajar / dosen-dosen saya di Fakultasa Ilmu Budaya Sastra Asia
Timur Universitas Bung Hatta yang telah memberikan dorongan serta masukanmasukan selama penulis menjalani masa studi.

Universitas Sumatera Utara

9. Seluruh staf administrasi Program Magister Linguistik Universitas Sumatera
Utara.
10. Teman-teman angkatan 2009 baik yang dari Jurusan Linguistik Umum,
Konsentrasi Linguistik Jepang, Konsentrasi Linguistik Arab, Analisis Wacana dan
Kesusastraan dan Translation.
11. Teman-teman penulis di Bung Hatta (via dan putri) beserta teman-teman yang
lainnya ang telah memberikan semangat serta masukan untuk penulis.
12. Panitia Seminar Linguistik USU 2010-2011 yang telah berkenan hadir dalam
prakolokium dan memfasilitasi pra seminar hasil di program studi linguisti.
13. Penulis juga mengucapkan rasa terima kasih pada semua pihak yang secara
langsung atau tidak langsung, membantu penulis menyelesaikan tesis ini.
Selanjutnya penulis mengucapkan terimakasih kepada keluarga ibunda Ermiati,
SS dan pak Zulnaidi, SS, M, Hum beserta keluarga (kak Evi, bang Andi, Ani, Erna
dan Tia) yang telah banyak sekali membantu penulis dalam masa perkuliahan sampai
akhirnya penulis menyelesiakan tesis ini baik secara moril ataupun materil dan tidak
henti-hentinya memberikan dukungan, semangat serta saran kepada penulis.
Terimakasih penulis ucapkan kepada Kak Elviati Saprina Amd beserta suami Drs.
Husnel Anwar Matondang M.Ag dan anak (Rido, Shaza, Dura, Fudla dan Tsuroiya)
dan Terimakasih juga penulis ucapkan kepada Bang Sabriandi Erdian, SS, M, Hum.
beserta istri kak Eka Satria Bukhari dan anak (‘Akilla dan Mufliha) yang telah
membantu penulis selama masa kuliah dan menyelesaikan tesis ini.
Penulis menyadari bahwa tesis ini masih jauh dari kesempurnaan dan oleh karena
itu, penulis menerima segala kritik dan saran membangun demi menyempurnakan

Universitas Sumatera Utara

tesis ini. Semoga amal baik yang telah diberikan kepada penulis mendapat imbalan
yang setimpal dari Allah SWT, Amien Yaa Rabbal Alamin. Akhir kata penulis
berharap semoga tesis ini bermanfaat bagi semua pihak.

Medan,

Juli 2011

Penulis,

Rosmita Syahri

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

ABSTRAK...........................................................................................................................i
ABSTRACT.........................................................................................................................ii
KATA PENGANTAR......................................................................................................iii
UCAPAN TERIMA KASIH.............................................................................................v
RIWAYAT HIDUP........................................................................................................viii
DAFTAR ISI......................................................................................................................x
DAFTAR TABEL...........................................................................................................xiii
DAFTAR LAMPIRAN...................................................................................................xiv

BAB I PENDAHULUAN...................................................................................................1
1.1 Latar Belakang Masalah……………………………………………………....1
1.2 Rumusan Masalah……………………………………………………………..8
1.3 Tujuan Penelitian……………………………………………………………...9
1.4 Manfaat Penelitian………………………………………………………….....9
1.5 Landasan Teori……………………………………………………………….10

BAB II TINJAUAN PUSTAKA.....................................................................................13
2.1 Bahasa Jepang..........……………………………………………....................13
2.2 Sosiopragmatik.................................................……………………………...14
2.2.1 Sosiolinguistik..................................................................................16
2.2.2 Pragmatik..........................................................................................17
2.2.3 Pragmatik Bahasa Jepang.................................................................18
2.3 Tindak Tutur...................................................................................................19
2.3.1 Tindak Tutur Permintaan..................................................................22
2.3.2 Konsep Tindak Tutur Permintaan.....................................................24
2.4 Kesopanan.......................................................................................................26
2.5 Fungsi Tindak Tutur .......................................................................................26
2.6 Jenis Tindak Tutur...........................................................................................29
2.7 Ragam Bahasa Hormat dan Ragam Bahasa Biasa...........................................31

Universitas Sumatera Utara

2.8 Kajian Terdahulu / Sebelumnya.......................................................................33
2.9 Kerangka Konseptual.......................................................................................34

BAB III METODOLOGI PENELITIAN......................................................................36
3.1 Metode Penelitian............................................................................................36
3.2 Sumber Data....................................................................................................36
3.3 Teknik Pengumpulan Data...............................................................................37
3.4 Analisis Data....................................................................................................37
3.5 Contoh Analisis Data.......................................................................................38

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN..................................................................40
4.1 Analisis Data....................………………………………………………………40
4.1.1 Ragam Kinerja Verbal Tindak Tutur Permintaan, pada Data Ragam
Kinerja Verbal..............................................................................................40
4.1.2 Kinerja Kesopanan……………………………………………………......45
4.1.3 Kinerja Ketidaksopanan…………………………………………………..47
4.1.4 Pemakaian Ragam Kinerja Verbal Tindak Tutur Permintaan Bahasa
Jepang dalam Film Tokyo Love Story.................................................................48
4.2 Pembahasan………………………………....………………………………….48
4.2.1 Ragam Kinerja Verbal Tindak Tutur Permintaan……………………….48
4.2.1.1Tuturan Bermodus Imperatif……….………………………………...49
4.2.1.2 Tuturan Performatif Eksplisit………………………………………52
4.2.1.3 Tuturan Performatif Berpagar……………….……………………...54
4.2.1.4 Tuturan Dengan Proposisi Keharusan………….………..…………57
4.2.1.5 Tuturan yang Menunjukkan Kesangsian (pesimis)…………………59
4.2.1.6 Tuturan Pengandaian Bersyarat…………………………..………...64
4.2.1.7 Tuturan yang Menyertakan Alasan……………………………..…..66
4.2.2 Kinerja Kesopanan………………………………………………………68

Universitas Sumatera Utara

4.2.3 Kinerja Ketidaksopanan………………………………..………………..72
4.2.4 Pemakaian Ragam Kinerja Verbal Tindak Tutur Permintaan Bahasa
Jepang dalam

Film Tokyo Love Story……………………..………..….74

BAB V TEMUAN HASIL PENELITIAN....................................................................77
5.1 Temuan hasil penelitian.................................................................................77

BAB VI SIMPULAN DAN SARAN…………………………………………………...79
Simpulan………….……………..………………………………......…….…………79
Saran…………………………………………….………………..………..………...81
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

No
1.

Judul

Halaman

Protoaksi Dalam Bahasa…………………………………………………………28

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR LAMPIRAN

No

Judul

Halaman

1.

Ragam kinerja verbal tindak tutur………………………………………………..40

2.

Kinerja kesopanan………………………………………………………………..45

3.

Kinerja ketidaksopanan…………………………………………………………..47

4.

Temuan hasil penelitian………………………………………………………….77

5.

Lampiran Data………..………………………………………………………….82

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Rosmita Syahri . 2011. Tindak Tutur Permintaan Dalam Film Tokyo Love Story
Medan : Program Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.
Tesis ini mengkaji tentang tindak tutur permintaan dalam bahasa Jepang pada Film Tokyo
Love Story .Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan dan menguraikan jenis dan
fungsi tindak tutur permintaan dalam bahasa Jepang pada Film Tokyo Love Story.Teori
utama yang digunakan adalah untuk menganalisis jenis tindak tutur penulis menggunakan
teori Rahardi (2009 : 19) yang membedakan jenis –jenis tindak tutur menjadi dua jenis.
Untuk menganalisis fungsi tindak tutur penulis menggunakan pendapat Blum Kulka
(1987) yang membagi fungsi tindak tutur menjadi sembilan kelompok.Metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yaitu suatu metode yang
memecahkan masalah dengan jalan mengumpulkan data, menyusun dan
mengklasifikasikannya, menganalisis serta menginterprestasikannya.. Data dikumpulkan
dengan cara mendengarkan dan mencatat semua tuturan permintaan pada kolom jenis
tindak tutur dan fungsi tindak tutur. Hasil penelitian tentang tindak tutur permintaan
dalam bahasa Jepang pada Film Tokyo Love Story ini menunjukkan dalam interaksi
masyarakat Jepang tuturan senioritas, yang lebih tua, majikan, atasan, genderlaki-laki
lebih cenderung menggunakan tuturan yang kurang sopan, sementara tuturan dalam
interaksi yang digunakan oleh junior, lebih muda, pembantu, gender perempuan lebih
cenderung menggunakan tuturan yang sopan dan disampaikan dengan jenis tuturan
tidaklangsung (ketidakterusterangan).

Kata kunci : Sosiopragmatik, Tindak Tutur, Permintaan

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT

Rosmita Syahri. 2011. Speect acts found in the Tokyo Love Story Film.
School Student. Medan. Postgraduate Program North Sumatera University.
This thesis deals with speect acts in Japanese found in the Tokyo Love Story Film. The
objective of the study is to describe and explain the function of speect acts in the film. The
study is based on the theory of speect acts as proposed by Rahardi (2009 : 19) in which
two kinds of speect acts are elaborated to analyze the speect act function, reference is
made to Blum Kulka (1987) who categorized the speect acts into nine types. The study
was based on descriptive approach. Data were collected by listening to the expression
and categorizing the types of speect act. Finding of the research about speech act order
in Japanese at Tokyo Love Story film show that in interaction society of Japan speech
seniority old age, boss, employer, man inclined use impolite speech, while speech in
interaction use of junior, younger age, assistant, servant, woman inclined use polite and
show with indirect speech (roguishness).
.

Key words

: Sosiopragmatic, Speect acts, Found

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Rosmita Syahri . 2011. Tindak Tutur Permintaan Dalam Film Tokyo Love Story
Medan : Program Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.
Tesis ini mengkaji tentang tindak tutur permintaan dalam bahasa Jepang pada Film Tokyo
Love Story .Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan dan menguraikan jenis dan
fungsi tindak tutur permintaan dalam bahasa Jepang pada Film Tokyo Love Story.Teori
utama yang digunakan adalah untuk menganalisis jenis tindak tutur penulis menggunakan
teori Rahardi (2009 : 19) yang membedakan jenis –jenis tindak tutur menjadi dua jenis.
Untuk menganalisis fungsi tindak tutur penulis menggunakan pendapat Blum Kulka
(1987) yang membagi fungsi tindak tutur menjadi sembilan kelompok.Metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yaitu suatu metode yang
memecahkan masalah dengan jalan mengumpulkan data, menyusun dan
mengklasifikasikannya, menganalisis serta menginterprestasikannya.. Data dikumpulkan
dengan cara mendengarkan dan mencatat semua tuturan permintaan pada kolom jenis
tindak tutur dan fungsi tindak tutur. Hasil penelitian tentang tindak tutur permintaan
dalam bahasa Jepang pada Film Tokyo Love Story ini menunjukkan dalam interaksi
masyarakat Jepang tuturan senioritas, yang lebih tua, majikan, atasan, genderlaki-laki
lebih cenderung menggunakan tuturan yang kurang sopan, sementara tuturan dalam
interaksi yang digunakan oleh junior, lebih muda, pembantu, gender perempuan lebih
cenderung menggunakan tuturan yang sopan dan disampaikan dengan jenis tuturan
tidaklangsung (ketidakterusterangan).

Kata kunci : Sosiopragmatik, Tindak Tutur, Permintaan

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT

Rosmita Syahri. 2011. Speect acts found in the Tokyo Love Story Film.
School Student. Medan. Postgraduate Program North Sumatera University.
This thesis deals with speect acts in Japanese found in the Tokyo Love Story Film. The
objective of the study is to describe and explain the function of speect acts in the film. The
study is based on the theory of speect acts as proposed by Rahardi (2009 : 19) in which
two kinds of speect acts are elaborated to analyze the speect act function, reference is
made to Blum Kulka (1987) who categorized the speect acts into nine types. The study
was based on descriptive approach. Data were collected by listening to the expression
and categorizing the types of speect act. Finding of the research about speech act order
in Japanese at Tokyo Love Story film show that in interaction society of Japan speech
seniority old age, boss, employer, man inclined use impolite speech, while speech in
interaction use of junior, younger age, assistant, servant, woman inclined use polite and
show with indirect speech (roguishness).
.

Key words

: Sosiopragmatic, Speect acts, Found

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Bahasa adalah wahana komunikasi yang paling efektif bagi manusia dalam
menjalin hubungan dengan dunia di luar dirinya. Hal itu berarti bahwa fungsi utama
bahasa adalah sumber daya untuk berkomunikasi. Sebagai media komunikasi, bahasa
tidak dapat dipisahkan dari masyarakat pemakaianya. Bahasa itu muncul karena adanya
kepentingan untuk menjalin hubungan interaksi sosial.
Sebagai alat komunikasi, bahasa sangat esensial dalam kehidupan manusia, yakni
untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya. Dengan bahasa, manusia dapat berbuat
sesuatu usaha yang berhubungan dengan kebutuhannya untuk meningkatkan taraf
kesejahteraan.
Begitu juga sebagai unsur kelengkapan hidup manusia, seperti kebudayaan, ilmu
pengetahuan, teknologi, dan seni, merupakan kelengkapan kehidupan manusia yang
dibudidayakan dengan menggunakan bahasa menurut Suparno dan Oka ( 1993 : 1).
Sebagai salah satu wujud budaya, bahasa dengan berbagai fungsinya merupakan
bentuk keterampilan yang harus dimiliki seseorang dalam menjalani kehidupan seharihari. Melalui bahasa maksud perasaan ataupun pola pikir dari penutur dapat diketahui.
Diantara

berbagai

fungsi

bahasa

seperti

untuk

menyampaikan

perasaan,

menginformasikan sesuatu, memberi perintah dan sebagainya.

Universitas Sumatera Utara

Bahasa tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Menguraikan peran
bahasa dalam setiap aspek kehidupan manusia, seperti berkomunikasi berpikir oleh
Kartomiharjo ( 1988 : 1).
Dengan demikian kajian tentang bagaimana bahasa digunakan di masyarakat
sangat diperlukan. Di masyarakat, bahasa berperan sebagai pengikat anggota-anggota
masyarakat pemakainya menjadi suatu masyarakat yang kuat, bersatu dan maju dan
fungsinya adalah untuk berinteraksi dengan sesamanya guna memenuhi segala kebutuhan
hidupnya. Bagi individu, bahasa diguakan untuk berfikir, berintrospeksi diri, berkhayal,
dan lain-lain. Sebenarnya manuasia dalam diam itu, tetap menggunakan bahasa.
Walaupun tampak diam, namun dia tidak dapat dikatakan sepenuhnya diam. Dalam
kondisi diam itu, pikiran manusia masih tetap aktif dan dalam keaktifannya itu berarti
manuasia berbahasa.
Begitu juga dalam menuturkan suatu kalimat, seseorang tidak semata-mata
mengatakan sesuatu dengan pengucapan kalimat, ia juga “menindakkan” sesuatu. Contoh
dalam pengucapan kalimat Mau minum apa? si pembicara tidak semata-mata
menanyakan atau meminta jawaban tertentu ; ia juga menindakkan sesuatu, yakni
menawarkan minuman.
Seperti contoh berikut : seorang ibu rumah pondokan putri berbicara kepada tamu
laki lakinya;
Sudah jam sembilan!
Pada contoh diatas si ibu tidak hanya semata-mata memberi tahu keadaan jam
pada waktu itu, tetapi menindakkan sesuatu, yakni memerintahkan lawan bicara. Agar
tamu laki-laki supaya pergi meninggalkan rumah pondokannya. Hal-hal yang dapat

Universitas Sumatera Utara

ditindakan di dalam berbicara antara lain, permintaan (request), pemberian izin
(permission ), tawaran (offers), ajakan (invitation), penerimaan akan tawaran (acceptation
of offers) menurut Purwo ( 1990 : 19-20).
Wujud praktis penggunaan bahasa dapat dilihat dalam tindak tutur. Dalam
bertindak tutur , antara penutur dan mitra tutur selalu berhubungan dengan fungsi,
maksud, modus dan konteks yang melatari terjadinya interaksi Leech (1983 :13). Istilah
fungsi berhubungan dengan tujuan tindak, misalnya tindak yang hanya berorientasi
penutur, mitra tutur , atau tindak yang berorientasi baik penutur maupun mitra tutur
dalam interaksi. Istilah maksud berhubungan dengan tujuan tindak yang telah dibebani
oleh kemauan atau motivasi yang sadar dari pemakainya dalam interaksi Verhaar (1982 :
131) misalnya persuasi, menyindir dan sebagainya. Modus adalah strategi penyampaian
tutur sehubungan dengan tujuan dan maksud tutur tersebut dalam interaksi, misalnya
permintaan disampaikan dengan bentuk kalimat pernyataan sebagai modus langsung,
permintaan disampaikan dengan bentuk kalimat pernyataan sebagai modus tidak
langsung, dan sebagainya. Dapat dilihat pada contoh yang ditulis oleh Purwo (1990 : 20)
berikut ini:
(1)

( Tindak Ujaran langsung )
A: Minta uang untuk membeli gula
B: Ini

(2) (Tindak Ujaran tak langsung )
A: Gulanya habis, nyah.
B: Ini uangnya. Beli sana!

Dari contoh (1) di atas, dengan modus langsung penutur A meminta uang untuk
membeli gula dan secara eksplisit ditunjukkan dengan performatifnya minta, tetapi pada

Universitas Sumatera Utara

contoh (2) penutur A tidak semata-mata menyatakan bahwa gulanya habis, ia dengan
tidak langsung juga “menindakkan” sesuatu, yakni meminta uang untuk membeli gula
walaupun tidak ditunjukkan secara eksplisit dengan performatif minta. Konteks
mengacu kepada aspek-aspek yang berhubungan dengan lingkungan fisik dan
sosiobudaya dalam interaksi.
Contoh kasus di atas bukan hanya terdapat pada penutur bahasa Indonesia, tetapi
juga terdapat pada penutur bahasa asing lainnya seperti bahasa Jepang. Bahasa Jepang
ialah bahasa yang dipakai sebagai alat komunikasi antar anggota masyarakat di seluruh
pelosok negara Jepang. Bahasa Jepang dipakai sebagai bahasa resmi, bahasa
penghubung antar anggota masyarakat Jepang yang memiliki berbagai macam dialek ,
dan dipakai sebagai bahasa pengantar di semua lembaga pendidikan di Jepang sejak
sekolah taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi menurut Sudjianto (1995 : 1).
Selain itu bahasa Jepang juga mengenal adanya tingkatan bahasa, dalam
penggunaanya perlu dipertimbangkan banyak faktor seperti status sosial pembicara dan
pendengar serta suasana yang mengiringinya. Disamping itu, pula perlu dikenali apakah
ungkapan tersebut umum digunakan oleh laki-laki atau perempuan, anak-anak, atau orang
dewasa serta bagaimana hubungan yang mempertautkan mereka menurut Edizal (2001 :
1)
Karena adanya penggunaan konsep tersebut dalam stratifikasi sosial masyarakat
Jepang maka terbentuklah ragam bahasa Jepang yang terdiri dari ragam hormat dan
ragam biasa.
Kajian tentang stratifikasi sosial tersebut dibahas pada cabang ilmu sosiolinguistik.
Sering dikatakan, sosiolinguistik itu sangat berkaitan dengan pragmatik (yang oleh

Universitas Sumatera Utara

segolongan orang dimasukkan ke dalam linguistik). Salah satu kaitan yang dapat kita
lihat adalah munculnya istilah tindak tutur dalam kedua bidang kajian itu Sumarsono
(2004 : 322).
Sehubungan dengan peran tindak tutur tersebut, pemakaian tindak tutur dalam
interaksi antara penutur dan mitra tutur cenderung memiliki keberagaman kinerja bentuk
verbal dan mendapatkan status dan konteks interaksi tersebut.
Tesis ini mengkaji tindak tutur direktif, khususnya tindak tutur permintaan pada
penutur bahasa Jepang pada film TLS. Permintaan adalah salah satu tindak tutur yang
dikelompokkan ke dalam kategori tindak tutur direktif. Direktif adalah tindak tutur atau
ujaran yang dilakukan penuturnya dengan maksud agar penutur melakukan tindakan yang
disebutkan di dalam ujaran itu (misalnya : menyuruh, meminta, memohon, menuntut,
menyarankan, menentang) Searle (1975 : 24). Bach dan Harnish (1979) juga menyatakan
bahwa direktif juga mengungkapkan sikap penutur terhadap tindakan yang akan
dilakukan oleh petutur, tindakan direktif juga bisa mengungkapkan maksud penutur
(keiginan, harapan) sehinggga ujaran atau sikap yang diungkapkan dijadikan sebagai alas
an untuk bertindak oleh petutur.
Tindak tutur direktif yang dikhususkan pada tuturan permintaan adalah tindak
tutur yang dilakukan penutur dalam bentuk perintah atau suruhan dengan maksud
meminta mitra tutur untuk melakukan sesuatu.
Kendala tindak tutur permintaan dari fungsi dan jenis penyampaiannya menurut
hasil pengamatan banyak dijumpai pada ragam bahasa Jepang sebagai peristiwa peristiwa tutur sehari- hari.

Universitas Sumatera Utara

Sebagai contoh analisis yaitu pada film TLS adalah:
A:

( Episode 1)
Nande, sono kao yo, waratte, waratte.
Kenapa raut wajah kamu, tersenyumlah.

B:
Yaa, boku wa hitoride Ehime kara kite, nani wo suru ka, wakaranaiyo.
Saya sendirian datang dari Ehime, apa yang mau dikerjakanpun belum paham.
Pada tuturan di atas A adalah teman wanita dari B. A meminta agar B tersenyum
karena melihat raut muka B yang murung. Menurut Rahardi (2009: 19-20) tuturan
yang modus penyampaiannya sama dengan kalimat menggambarkan pernyataan
permintaan secara langsung dan literal karena makna / maksud dari kalimat
tersebut sama dengan tuturan yang disampaikan. Jadi tuturan diatas merupakan
jenis tindak tutur langsung literal dan berfungsi menawarkan dengan
menggunakan kalimat bermodus imperatif. Sebagaimana pendapat Alisjahbana
(1959 : 54) dapat dimaksudkan sebagai perintah langsung, yang menggunakan
tuturan yang bermodus imperatif cenderung dimaksudkan sebagai perintah positif,
karenanya cenderung lugas.
Penelitian ini di fokuskan pada bahasa Jepang dengan objek studi kasus serial
drama Jepang TLS. Film ini dimulai dengan kepindahan Kanji Nagao ke Bagian
Penjualan, Heart Sports di Tokyo, dari desa kecil yang bernama Ehime. Dan
mempertemukannya dengan teman baru satu kantornya yang bernama Rika Akana.
Selama berada di Tokyo, Kanji yang biasa mengikuti reuni dengan teman-teman satu
SMA-nya yang tinggal di Tokyo, yakni Mikami dan Satomi. Ketiganya adalah teman

Universitas Sumatera Utara

sejak kecil dan tumbuh bersama. Mikami adalah sahabat laki-lakinya yang
berkepribadian terbuka, dan cenderung playboy. Sementara Satomi adalah wanita yang
diam-diam dicintainya sejak mereka SMA dulu, tapi Kanji tidak pernah menyatakan
perasaannya.
Kanji yang naif dan peragu langsung shock ketika melihat Mikami dan Satomi
berjalan bersama dengan mesra, Mikami yang memang sering bertengkar dengan Kanji
karena Satomi bahkan tidak ragu mengumumkan hubungan mereka. Dia mengatakan,
Satomi yang pendiam membalas perasaannya. Dia tidak peduli bila hal tersebut akan
menyakitiKanji.
Namun kehadiran Rika yang periang dan selalu bersemangat mampu menghibur
kekecewaan Kanji. Bahkan dia berusaha terus berada di dekat ketiga sahabat tersebut
sehingga membuat persahabatan mereka tidak putus, Kanji yang mengetahui Rika secara
diam-diam juga menyukai dirinya akhirnya menerima Rika sebagai kekasihnya.
Hubungan mereka sempat terganggu, karena Kanji mendengar Rika pernah punya
hubungan

dengan

bos

mereka

Sendo,

yang

sudah

berkeluarga.

Sifat Mikami yang cenderung playboy membuatnya tak mampu menahan diri
untuk mendekati teman kuliahnya, Naoko Nagasaki, meskipun dia sudah menjalin
hubungan dengan Satomi. Kecuekan Naoko membuatnya penasaran. Tapi ternyata,
sebenarnya Naoko yang sudah dijodohkan tersebut juga diam – diam menyukai Mikami.
Bahkan,

dia

rela

membatalkan

pernikahannya

demi

Mikami.

Hubungan Mikami dan Naoko akhirnya diketahui Satomi. Kepada siapa lagi dia mengadu
selain pada teman akrabnya yang tidak lain adalah Kanji. Dia pun mulai menyadari,
sebenarnya Kanji sangat memperhatikannya, melebihi Mikami. Meski dia mengetahui

Universitas Sumatera Utara

hubungan Kanji dan Rika, dia berusaha menguji, apakah perasaan Kanji pada Rika lebih
besar daripada perasaan Kanji padanya. Kanji yang peragu tentu saja kesulitan ketika
dihadapkan pada pilihan ini. Apalagi dia mengira, Satomi yang pemurung lebih
memerlukan kehadirannya daripada Rika yang tampak selalu gembira seolah tak pernah
punya masalah.
Dari hubungan pertemanan mereka ini banyak menghasilkan tindak tutur
permintaan yang berbeda seperti tuturan permintaan pada waktu menolak, mengajak,
menerima dan sebagainya, baik dilihat dari segi gender, pendidikan, latar belakang sosial
maupunumur.
Film ini diadaptasi dari

manga “komik” dengan judul yang sama karya

Fumi Saimon yang di produksi oleh Fuji TV dengan sutradara Kozo Nakayama yang
terdiri dari 11 episode. Serial drama Jepang ini adalah teledrama Asia pertama yang
sangat populer di Indonesia setelah oshin di era TVRI. Selain itu tindak tutur yang diteliti
banyak terdapat pada drama ini dan bahasa Jepang yang digunakan juga mudah dipahami
oleh penulis sebagai pembelajar asing yang mempelajari bahasa Jepang.

1.2 Rumusan Masalah
Masalah dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut:
1.

Jenis tindak tutur permintaan apakah yang terdapat pada film TLS?

2.

Fungsi tindak tutur permintaan apakah yang terdapat pada film TLS?

3.

Jenis dan fungsi tindak tutur permintaan manakah yang paling dominan pada film
TLS?

Universitas Sumatera Utara

4. Apakah penyebab tindak tutur permintaan tertentu muncul lebih dominan pada
film TLS?

1.3 Tujuan Penelitian
Sejalan dengan masalah yang akan dikaji, tujuan penelitin ini adalah:
1.

Mendeskripsikan jenis tindak tutur permintaan yang terdapat pada film
TLS,

2.

Mendeskripsikan fungsi tindak tutur permintaan yang terdapat pada film
TLS,

3.

Menguraikan jenis dan fungsi tindak tutur permintaan yang paling
dominan pada film TLS,

4.

Menguraikan penyebab tindak tutur permintaan tersebut muncul lebih
dominan pada film TLS.

1.4 Manfaat Penelitian
Temuan penelitian diharapkan memberi manfaat teoritis dan praktis yakni,
Manfaat teoritis temuan penelitian adalah sebagai berikut:
1. Temuan penelitian ini dapat menigkatkan ilmu kebahasaan (Linguistik),
khususnya pada kajian pragmatik dan sosiopragmatik bahasa Jepang.
2. Temuan penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi dan pengetahuan
yang lengkap dan mendalam khususnya oleh pembelajar bahasa, budaya dan
sastra Jepang di Indonesia dalam memahami pola pikir bangsa Jepang.

Universitas Sumatera Utara

3. Temuan penelitian ini dapat menambah kajian kosakata bahasa Jepang khususnya
yang berhubungan dengan tindak tutur.

Manfaat praktis mencakup hal sebagai berikut:
1. Temuan penelitian ini juga diharapkan berguna bagi penelitian selanjutnya.
2. Temuan penelitian ini diharapkan berguna bagi pengajar dan pembelajar
khususnya bahasa Jepang.
3. Temuan penelitian ini dapat menambah khasanah kepustakaan pada bidang
Linguistik bahasa Jepang.

1.5 Landasan Teori
Tesis ini menggunakan teori sosiopragmatik dan tindak tutur sebagai landasan
teori. Uraian tentang teori yang berkaitan dengan sosiopragmatik dan tindak tutur akan
diberikan pada bab II.
Untuk teori sosiopragmatik sebagai kajian dalam tesis ini, penulis mengacu pada
pendapat Rahardi (2009 : 21) yang mengatakan sebagai ilmu bahasa yang mempelajari
kondisi penggunaan bahasa manusia, pada dasarnya sangat ditentukan oleh konteks
situasi yang mewadahi bahasa itu.
Untuk menganalisis tindak tutur penulis mengacu pada pendapat Saragih (2010 :
15) yang mengatakan tindak tutur adalah aksi yang dilakukan oleh pembicara melalui
ujaran atau dengan menggunakan bahasa. Saragih juga mengelompokkan tindak tutur
menjadi lima jenis, yaitu tindak tutur representatif, direktif, ekspresif, komisif, dan
deklarasi.

Universitas Sumatera Utara

Untuk menganalisis jenis tindak tutur, penulis juga menggunakan pendapat
Rahardi (2009 : 19) yang membedakan jenis-jenis tindak tutur menjadi:
1. Tindak tutur langsung dan tindak tutur tidak langsung.
2. Tindak tutur literal dan tindak tutur tidak literal.
Untuk menganalisis fungsi tindak tutur penulis menggunakan pendapat Blum
Kulka (1987) dalam Kartika (2000 : 29-30) dapat diungkapkan dengan menggunakan
berbagai ujaran seperti berikut:
1. Bermodus imperatif (Pindahkan kotak ini!).
2.

Performatif eksplisit (Saya minta Saudara memindahkan kotak ini)

3. Performatif berpagar (Saya sebenarnya mau minta Saudara memindahkan kotak
ini)
4. Pernyataan keharusan (Saudara harus memindahkankotak ini )
5. Pernyataan keinginan (Saya ingin kotak ini dipindahkan)
6. Rumusan saran ( Bagaimana kalau kotak ini dipindahkan)
7. Persiapan pernyataan (Saudara dapat memindahkan kotak ini?)
8. Isyarat kuat (Dengan kotak ini di sini, ruangan ini kelihatan sesak)
9. Isyarat halus ( Ruangan ini kelihatan sesak)
Untuk pengertian mengenai tindak tutur permintaan penulis menggunakan
pendapat Bach dan Harnish ( 1979 : 41 ) yang mengatakan tindak tutur permintaan
merupakan jenis tindak tutur yang dilakukan oleh penutur untuk membuat mitra tuturnya
melakukan sesuatu.

Universitas Sumatera Utara

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Bahasa Jepang
Bahasa Jepang ialah bahasa yang dipakai sebagai alat komunikasi antar anggota
masyarakat di seluruh pelosok negara Jepang. Bahasa Jepang dipakai sebagai bahasa
resmi, bahasa penghubung antar anggota masyarakat Jepang yang memiliki berbagai
macam dialek , dan dipakai sebagai bahasa pengantar di semua lembaga pendidikan di
Jepang sejak sekolah taman kanak-kanak hingga perguruan tinggi dalam Sudjianto
(1995 :1).
Bahasa Jepang adalah bahasa yag unik, apabila kita melihat para penuturnya, tidak
ada masyarakat negara lain yang memakai bahasa Jepang sebaai bahasa nasionalnya.
Sebagai bandingan kita dapat melihat bahasa lain seperti bahasa Inggris yang dipakai di
beberapa negara sebagai bahasa nasionalnya seperti di Amerika, Inggris, Australia,
Selandia Baru, Kanada, dan sebagainya. Sehingga walaupun hanya menguasai bahasa
Inggris kita dapat berkomunikasi dengan warga negara-negara tersebut. Contoh lain
adalah bahasa Melayu yang biasa dipakai oleh orang-orang Indonesia, Malaysia, Brunei
Darussalam dan sebagainya. Bahasa Jepang tidak sama dengan bahasa –bahasa yag tadi.
Orang-orang yang lahir dan hidup di dalam lingkungan masyarakat dan kebudayaan
Jepang. Kita dapat berkomunikasi menggunakan bahasa Jepang atau dengan orang lain
yang pernah mempelajarinya menurut Sudjianto (1995 : 3)
Dari sisi lain kita juga melihat bangsa Jepang hanya memakai satu bahasa sebagai
bahasa nasionalnya yaitu bahasa Jepang. Tidak ada bahasa lain yang dipakai di Jepang

Universitas Sumatera Utara

sebagai bahasa nasionalnya. Keunikan bahasa Jepang lainnya berkaitan dengan rumpun
bahasanya. Bahasa-bahasa yang ada di dunia ini pada umumnya jelas rumpun
bahasanya. Sedangkan rumpun bahasa Jepang sampai sekarang masih diperdebatkan
oleh para ahlinya. Hal ini dapat disadari apabila melihat klasifikasi bahasa-bahasa yang
ada di dunia berdasarkan rumpun bahasanya menurut Shimizu (2000 : 14)
Dilihat dari aspek-aspek kebahasaannya, bahasa Jepang memiliki karakteristik
tetentu yang dapat kita amati dari huruf yang dipakainya, kosakata, sistem pengucapan,
gramatika, dan ragam bahasanya. Apabila melihat huruf

yang dipakai untuk

menuliskan bahasa Jepang , kita tahu bahwa bahasa Jepang memiliki sistem penulisan
yang sangat kompleks.
Selain itu bahasa Jepang juga mengenal adanya tingkatan bahasa, dalam
penggunaanya perlu dipertimbangkan banyak faktor seperti status sosial pembicara dan
pendengar serta suasana yang mengiringinya. Disamping itu, pula perlu dikenali apakah
ungkapan tersebut umum digunakan oleh laki-laki atau perempuan, anak-anak, atau orang
dewasa serta bagaimana hubungan yang mempertautkan mereka dalam Edizal (2001 : 1)

2.2 Sosiopragmatik
Pandangan yang berterima di kalangan pakar pramatik dan juga di kalangan pakar
sosiolinguistik saat ini adalah bahwa, jika kita berbicara atau mengeluarkan ujaran
(apakah ujaran itu berupa kalimat, frasa atau kata), apa yang keluar dari mulut kita itu
dapat dianggap sebagai tindakan. Tindakan itu dapat disebut sebgai tindakan berbicara,
tindakan berujar, atau tindakan bertutur. Istilah yang sekarang lazim dipakai untuk

Universitas Sumatera Utara

mengacu ke tindakan itu ialah tindak tutur, yang merupakan terjemahan istilah Inggris
speech act.
Sering dikatakan, sosiolinguistik itu sangat berkaitan dengan pragmatik (yang
oleh segolongan orang dimasukkan ke dalam linguistik ). Salah satu kaitan yang dapat
kita lihat adalah munculya istilah tindak tutur dalam kedua bidang kajian itu menurut
Sumarno dan Partana (2004 : 322)
Ihwal sosiopragmatik dapat dijelaskan dari pengertian oleh pakar-pakar linguistik
dalam Rahardi (2009 : 20) yaitu Levinson (1983) mendefiisikan sebagai studi bahasa
yang mempelajari relasi bahasa dengan konteknya. Batasan dari Levinson dapat dilihat
pada kutipan berikut: Pragmatics is the study of those relations between language and
context that are gramaticalizzed or encoded in the structure of a language menurut
Levinson (1983 : 9). Pada sisi lain, Parker (1986) dalam Rahardi (2009 : 20) dalam
bukunya yang berjudul Linguistics for Non-Linguists menyatakan bahwa itu cabang ilmu
bahasa yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal.
Tarigan (1990 : 26) mengatakan sosiopragmatik adalah telaah mengenai kondisikondisi ‘setempat’ atau kondisi-kondisi ‘lokal’ yang lebih khusus mengenai penggunaan
bahasa. Dalam masyarakat setempat yang lebih khusus ini jelas terlihat bahwa prinsip
koperatif atau prinsip kerjasama dan prinsip kesopansantunan berlangsung secara
berubah-ubah dalam kebudayaan yang berbeda-beda atau aneka masyarakat bahasa,
dalam situasi-situasi sosial yang berbeda-beda, dan sebagainya. Dengan kata lain,
sosiopragmatik merupakan tapal batas sosiologis pragmatik. Jadi jelas di sini betapa erat
hubungan antara sosiopragmatik dengan sosiologi.

Universitas Sumatera Utara

Dari batasan-batasan yang disampaikan ini dapat disimpulkan bahwa sosok
pragmatik, yakni ilmu bahasa yang mempelajari kondisi penggunaan bahasa manusia,
pada dasarnya sangat ditentukan oleh konteks situasi yang mewadahi bahasa itu. Konteks
yang dimaksud dapat mencakup dua macam hal, yakni konteks yang bersifat sosial dan
konteks yang bersifat sosietal. Konteks sosial adalah konteks yang timbul sebagai akibat
dari munculnya interaksi antaranggota masyarakat dalam suatu masyarakat sosial dan
budaya tertentu. Adapun yang dimaksud dengan konteks sosietal adalah konteks yang
faktor penentunya adalah kedudukan dari anggota masyarakat dalam institusi-institusi
sosial yang ada di dalam masyarakat dan budaya tertentu.

2.2.1 Sosiolinguistik
Sosiolinguistik merupakan ilmu antar disiplin antara sosiologi dan linguistik, dua
bidang ilmu empiris yang mempunyai kaitan sangat erat. Sosiolinguistik adalah bidang
ilmu antardisiplin yang mempelajari bahasa dalam kaitanya dengan penggunaan bahasa
itu di dalam masyarakat menurut Chaer dan Agustina (2004 : 2-3).
Menurut

Rahardi

(2010:16)

Sosiolinguistik

mengkaji

bahasa

dengan

memperhitungkan hubungan antara bahasa dan masyarakat, khususnya masyarakat
penutur bahasa itu. Jadi jelas, bahwa sosiolinguistik mempertimbangkan keterkaitan
antara dua hal, yaitu linguistik untuk segi kebahasaannya dan sosiologi untuk segi
kemasyarakatannya.

Universitas Sumatera Utara

2.2.2 Pragmatik
Tarigan (1996 : 34) menyatakan bahwa teori tindak tutur adalah bagian dari
pragmatik, dan pragmatik itu sendiri merupakan bagian dari performansi linguistik.
Pengetahuan mengenai dunia adalah bagian dari konteks dan dengan demikian pragmatik
mencakup bagaimana cara pemakai bahasa menerapkan pengetahuan dunia untuk
menginterprestasikan ucapan-ucapan.
Purwo (1990 : 16) dan Leech (1983: 21) mendefinisikan pragmatik sebagai ilmu
yang mengkaji makna tuturan, sedangkan semantik adalah ilmu yang mengkaji makna
kalimat, pragmatik mengkaji makna dalam hubungannya dengan situasi ujar.
Djajasudarma (1994 : 56) sendiri menerangkan bahwa pragmatik itu mengkaji
unsur makna ujaran yang tidak dapat dijelaskan melalui referensi langsung pada
pengungkapan ujaran dan juga mencakup studi interaksi antara pengetahuan kebahasaan
dan dasar pengetahuan tentang dunia yang dimiliki oleh pendengar / pembaca.
Purwo (1990 : 17-20) mengatakan bahwa pragmatik menjelajahi empat fenomena,
yaitu (1) deiksis, (2) praanggapan, (3) tindak ujaran, dan (4) implikatur percakapan.
Soemarno (1998) juga mengemukakan bahwa unsur-unsur penting yang perlu diamati
dalam penelitian pragmatik adalah deiksis, praanggapan, implikatur, pertuturan, dan
struktur wacana. Jadi jelas bahwa tindak tutur merupakan prasyarat dalam memperoleh
bahasa pada umumnya.

Universitas Sumatera Utara

2.2.3 Pragmatik Bahasa Jepang

Gouyouron ha gohou kensha shitari, kentou shitari suru bunmon dehanai. Gengou
dentatsu ni oite, hatsuwa aru bamen ni oitenasareru. haiwa toshite no bun ha, sore
yoirareru no naka de hajimete tekitou na imi wo motsu koto ni naru.
Pragmatik adalah studi dari penggunaan untuk pemeriksaan terhadap tindakan
dalam komunikasi linguistik, baik berupa ucapan yang dibuat dalam sebuah tuturan, baik
berupa teks yang tepat dalam pertama penggunaannya sehingga memiliki makna di
dalamnya.
 
Tatoeba:
(1) kore o mawashite kudasai.
Contoh:
(1) silahkan putar ini

1993 : 281-282
(1) no bun ga ba no kotoba de areba, [mawasu] ha hako no tottete o [kaitensaseru]
koto de aru. Futsu, go ya bun ha iku touri ka no imi o motsu koto ga ooi.
Koushita imi wo yomi to iuga, sono go ya bun ga tsukawawreru joutai ni yotte,
bashouni kanatta hitotsu no yomi ga kitensarer. Koizumi (1993 : 281-282)

Universitas Sumatera Utara

Contoh (1) pada kalimat di atas adalah kata (putar), untuk memutar sebuah kotak itu.
Biasanya, kata tersebut apabila berada dalam sebuah kalimat maka akan memiliki
beberapa makna.
Maka itu berarti, kata-kata dan pernyataan yang digunakan dalam beberapa situasi
itu menentukan suatu tindakan.

2.3 Tindak Tutur
Telaah mengenai bagaimana cara kita melakukan sesuatu dengan memanfaatkan
kalimat-kalimat adalah telaah mengenai tindak ujar / tindak tutur (speech act ) dalam
menelaah tindak ujar ini kita harus menyadari benar-benar betapa pentingnya konteks
ucapan / ungkapan. Teori tindak ujar bertujuan mengutarakan kepada kita, bila kita
mengemukakan pertanyaan padahal yang dimaksud adalah menyuruh, atau bila kita
mengatakan sesuatu hal dengan intonasi khusus padahal yang dimaksud justru sebaliknya
Tarigan (1990 : 33).
Chaer dan Austina (2004 : 50) Istilah dan teori mengenai tindak tutur mula-mula
diperkenalkan oleh J.L. Austin, seorang guru besar di Uiversitas Harvard, pada tahun
1956. Teori yang bersal dari materi kuliah itu kemudian dibukukan oleh J.O. Urmson
(1965) dengan judul How to do Thing with Word? Tetapi teori tersebut baru mulai
terkenal dalam studi linguistik setelah Searle (1969) menerbitkan buku berjudul Speech
Act and Essay in the Philosophy of Language.
Sehubungan dengan peran tindak tutur tersebut, pemakaian tindak tutur dalam
interaksi antara penutur dan mitra tutur cenderung memiliki keberagaman kinerja bentuk
verbal dan mendapatkan status dan konteks interaksi tersebut.

Universitas Sumatera Utara

Tindak tutur memerlukan penutur dan mitra tutur. Keberagaman kinerja tindak
tutur itu menurut Hymes (1980-23) dan Jacobson yang dikutip Djajengwasito (1984 : 45) dapat berfugsi sebagai:
1.

Repsentatif ( disebut juga asertif), yaitu tindak tutur yang mengikat
penuturnya kepada kebenaran atas apa yang dikatakannya (misalnya:
menyatakan, melaporkan, menunjukkan, menyebutkan);

2.

Direktif, yaitu tindak ujaran yang dilakukan penuturnya dengan maksud
agar penutur melakukan tindakan yang disebutkan di dalam ujaran itu
(misalnya : meminta, menyuruh, memohon, menuntut, menyarankan,
menentang);

3.

Ekspresif, tindak ujaran yang dilakukan dengan maksud agar ujarannya
diartikan sebagai evaluasi tentang hal yang disebutkan di dalam ujaran
itu ( misalnya : memuji, mengucapkan terima kasih, mengkritik,
mengeluh);

4.

Komisif, tindak ujaran yang mengikat penuturnya untuk melaksanakan
apa yang disebutkan di dalam ujarannya ( seperti : berjanji, bersumpah,
mengancam);

5.

Deklaratif, yaitu tindak ujaran yang dilakukan penutur dengan maksud
untuk menciptakan hal ( status, keadaan, dan sebagainya) yang baru
(misalnya:

memutuskan,

membatalkan,

melarang,

mengizinkan,

memberi maaf).
Austin (1962) dalam How to do Thing with Word mengemukakan bahwa
mengujarkan sebuah kalimat tertentu dapat dipandang sebagai melakukan tindakan (act),

Universitas Sumatera Utara

disamping memang mengucapkan kalimat tersebut. Ia membedakan tiga jenis tindakan