PENGARUH KUALIFIKASI AKADEMIK TERHADAP KINERJA GURU SD DABIN I DAN IV KECAMATAN PITURUH KABUPATEN PURWOREJO

(1)

i

PENGARUH KUALIFIKASI AKADEMIK

TERHADAP KINERJA GURU SD DABIN I DAN IV

KECAMATAN PITURUH KABUPATEN PURWOREJO

SKRIPSI

diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar

oleh Rini Triasningsih

1401411510

JURUSAN PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG

2015


(2)

ii

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN

Saya yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bahwa skripsi ini benar-benar hasil karya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain baik sebagian atau keseluruhannya. Pendapat/temuan orang lain terdapat dalam skripsi ini dirujuk berdasakan kode etik ilmiah.

Tegal,26 Mei 2015


(3)

i

Skripsi ini telah disetujui oleh pembimbing untuk diajukan ke sidang panitia ujian skripsi Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang.

di : Tegal

tanggal : 27 Mei 2015

Mengetahui,

Koordinator PGSD UPP Tegal

Drs. Akhmad Junaedi, M.Pd 19630923 198703 1 001

Dosen Pembimbing

Dra. Sri Ismi Rahayu, M.Pd 19560414198503 2 001


(4)

iv

PENGESAHAN

Skripsi dengan judul Pengaruh Kualifikasi Akademik Terhadap Kinerja Guru SD Dabin I dan IV Kecamatan Pituruh Kabupaten Purworejo, oleh Rini Triasningsih NIM 1401411510, telah dipertahankan di hadapan Sidang Panitia Ujian Skripsi Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang.

PANITIA UJIAN

Ketua

Prof. Dr. Fakhruddin, M. Pd. 19560427 198603 1 001

Sekretaris

Drs. Akhmad Junaedi, M. Pd. 19630923 198703 1 001

Penguji Utama

Ika Ratnaningrum, S.Pd, M.Pd 19820814 200801 2 008

Penguji Anggota 1

Drs. Suhardi, M.Pd 19570201198103 1 006

Penguji Anggota 2

Dra. Sri Ismi Rahayu, M.Pd 19560414198503 2 001


(5)

v

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

Motto

1. “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada dir mereka sendiri..” (Q.S-Ar-Ra’d: 11) 2. Bersikaplah kukuh seperti batu karang yang tidak putus-putusnya dipukul

ombak. Ia tidak saja berdiri kukuh, bahkan ia menentramkan amarah ombak dan gelombang itu (Marcus Aurelius).

3. Bila engkau lunak terhadap dirimu, maka lingkunganmu semakin keras. Tetapi bila engkau keras terhadap dirimu, maka lingkunganmu akan lunak padamu (Andrie Wongso).

4. Berusahalah dengan terbaik semampumu, walaupun hasilnya terkadang tak sesuai harapan namun tetap ikhas dan tersenyum karena rencana Tuhan jauh lebih indah (Peneliti).

Persembahan

Untuk Ibuku, Krisnaningsih dan Bapakku, Sutriono tercinta yang telah mendidik dan membesarkanku tak kenal lelah.

Untuk adikku, Yeni Prasculina dan Rizky Kristianto yang telah memberi dukungan dan semangat dalam hidupku.

Sahabatku Novita, Kartika R, Kartika W, Ira, Singgih, Imam,teman kost dan teman-temanku yang selalu memberikan motivasi dan uluran tangannya.


(6)

vi

PRAKATA

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga penyusunan skripsi yang berjudul“Pengaruh Kualifikasi Akademik Terhadap Kinerja Guru SD Dabin I dan IV Kecamatan Pituruh Kabupaten Purworejo”dapat terselesaikan.

Peneliti menyadari bahwa dalam penyelesaian skripsi ini tidak terlepas dari dukungan dan bimbingan berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini peneliti menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada:

1. Prof. Dr. Fathur Rokhman, M.Hum., Rektor Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan kesempatan untuk menuntut ilmu di Universitas Negeri Semarang.

2. Prof. Dr. Fakhruddin, M.Pd., Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan ijin untuk melaksanakan penelitian. 3. Dra. Hartati, M.Pd., Ketua Jurusan PGSD Universitas Negeri Semarang yang

telah memberikan kesempatan untuk menyusun skripsi ini.

4. Drs. Akhmad Junaedi, M.Pd., Koordinator PGSD UPP Tegal yang telah memfasilitasi ijin untuk melaksanakan penelitian.

5. Dra. Sri Ismi Rahayu, M. Pd., Dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan di setiap waktu yang beliau miliki.

6. Ika Ratnaningrum, S.Pd., M.Pd., Dosen penguji utama yang telah memberi bimbingan dan saran dalam penyelesaian skripsi.


(7)

vii

7. Drs. Suhardi, M.Pd., Dosen penguji anggota 1 yang telah memberi saran dalam penyelesaian skripsi.

8. Bapak dan Ibu dosen PGSD UNNES UPP Tegal yang telah banyak memberikan ilmu kepada peneliti selama menempuh pendidikan.

9. Staff TU dan karyawan yang telah membantu terkait administrasi dalam penyusunan skripsi.

10. Kepala SD Dabin I dan IV Kecamatan Pituruh Kabupaten Purworejo yang telah memberikan ijin kepada peneliti untuk melaksanakan penelitian.

11. Kepala SD Dabin II Kecamatan Pituruh Kabupaten Purworejo yang telah memberikan ijin kepada peneliti untuk melaksanakan ujicoba penelitian. 12. Guru Dabin I, II dan IV Kecamatan Pituruh Kabupaten Purworejo yang telah

memberikan waktu dan bimbingannya dalam membantu peneliti melaksanakan penelitian.

13. Mahasiswa PGSD UNNES UPP Tegal angkatan 2011, teman seperjuangan dalam menggapai cita-cita.

14. Teman dan sahabatku, Arum Sari dan Wury Anggun K yang telah membantu penyelesaian skripsi ini.

Semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat dan kontribusi bagi peneliti dan pembaca.

Tegal, Mei 2015


(8)

viii

ABSTRAK

Triasningsih, Rini. 2015. Pengaruh Kualifikasi Akademik Terhadap Kinerja Guru SD Dabin I Dan IV Kecamatan Pituruh Kabupaten Purworejo.Skripsi, Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang. Pembimbing : Dra. Sri Ismi Rahayu, M.Pd. Kata Kunci:Kinerja Guru; KualifikasiAkademik

Kualifikasi akademik merupakan salah satu bentuk wujud dari ukuran kinerja guru. Kualifikasi akademik menjadi syarat yang dimiliki oleh guru. Masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah guru yang belum memenuhi standar kualifikasi akademik dan kurang optimalnya kinerja guru. Apabila dilihat dari tugas mengajar sehari-hari, tentu guru lulusan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) atau Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) berorientasi pada guru kelas bukan guru bidang studi. Pada kenyataannya masih terdapat guru yang kurang sesuai. Ada pula guru kurang menguasai bahan ajar untuk mata pelajaran tertentu dan terkesan terpaksa mengajar karena system guru kelas.

Diketahui pula bahwa sebagian guru tidak menguasai bahan yang akan diajarkan, sehingga siswa hanya disuruh mencatat atau mengerjakan tugas-tugas.Terdapat guru yang tidak mempunyai bahan ajar yang ditulisnya (buku pegangan), sehingga guru yang bersangkutan merasa tidak percaya diri dan dalam menerapkan pembelajaran tidak efektif dan kondusif. Sebagian guru tidak menguasai landasan kependidikan,tidak mampu melaksanakan fungsi dan tugas sebagai pendidik dan pengajar. Terdapat guru yang tidak mempersiapkan apa yang akan diajarkan.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) pengaruh kualifikasi akademikt erhadap kinerja guru, dan (2) seberapa besar pengaruh kualifikasi akademik terhadap kinerja guru. Penelitian ini menggunakan metode ex post facto

dengan pendekatan kuantitatif. Populasi dalam penelitian yaituseluruh guru Sekolah Dasar Dabin I dan IV Kecamatan Pituruh Kabupaten Purworejo dengan kualifikasi akademik minimal Diploma berjumlah115 guru. Sampel penelitian sebanyak 92 guru yang ditentukan menggunakan teknik Proporsional Random Sampling.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) tingkat kualifikasi akademik sebesar 46,16% dan termasuk dalam kategori sedang, (2) tingkat kinerja guru sebesar 87,44% dan termasuk dalam kategori tinggi, (3) Nilai t hitung sebesar 3,283 dan nilai t tabel 1,987 karena 3,283 > 1,987, maka H0 ditolak dan Ha diterima secara hubungan kualifikasi akademik berpengaruh terhadap kinerja guru, (4) koefisien determinasi (R2) 0,107 menunjukkan bahwa persentase sumbangan pengaruh variabel bebas sebesar 10,7%. Hal ini menunjukkan bahwa 10,7% kinerja guru dipengaruhi oleh kualifikasi akademik, sedangkan 89,3% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak dibahas dalam penelitian. Dapat disimpulkan bahwa kualifikasi akademik mempengaruhi kinerja guru.


(9)

ix

DAFTAR ISI

Halaman

JUDUL ... i

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ... ii

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... iii

PENGESAHAN ... iv

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... v

PRAKATA ... vi

ABSTRAK ... viii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR TABEL ... xiii

DAFTAR GAMBAR ... xiv

DAFTAR LAMPIRAN ... xv

BAB 1 PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Identifikasi Masalah ... 7

1.3 Pembatasan Masalah ... 8

1.3.1 Objek Penelitian ... 8

1.3.2 Subjek Penelitian ... 8

1.4 Rumusan Masalah ... 9

1.5 Tujuan Penelitian ... 9

1.5.1 Tujuan Umum ... 9

1.5.2 Tujuan Khusus ... 9

1.6 Manfaat Penelitian ... 9

1.6.1 Manfaat Teoritis ... 9

1.6.2 Manfaat Praktis ... 9

2 KAJIAN PUSTAKA... 11

2.1 Landasan Teori... 11


(10)

x

2.1.1.1 Pengertian Guru ... 12

2.1.1.2 Peran dan Fungsi Guru ... 13

2.1.2 Kualifikasi Akademik ... 14

2.1.2.1 Pengertian Kulifikasi ... 14

2.1.2.2 Kualifikasi Guru Sekolah Dasar ... 15

2.1.2.3 Indikator Kualifikasi Akademik ... 19

2.1.2.4 Penilaian Kualifikasi Akademik ... 19

2.1.3 Kinerja Guru ... 20

2.1.3.1 Pengertian Kinerja Guru ... 21

2.1.3.2 Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja Guru ... 22

2.1.3.3 Penilaian Kinerja Guru ... 27

2.1.3.4 Hubungan Kualifikasi Akademik dengan Kinerja Guru ... 32

2.2 Kajian Empiris ... 33

2.3 Kerangka Berpikir ... 38

2.4 Hipotesis Penelitian ... 39

3 METODOLOGI PENELITIAN ... 41

3.1 Desain Penelitian ... 41

3.2 Variabel Penelitian ... 42

3.2.1 Variabel Bebas (Independen) ... 42

3.2.2 Variabel Terikat (Dependen) ... 43

3.3 Populasi dan Sampel ... 43

3.3.1 Populasi ... 43

3.3.2 Sampel ... 44

3.4 Definisi Operasional ... 46

3.4.1 Kualifikasi Akademik ... 46

3.4.2 Kinerja Guru ... 47

3.5 Teknik Pengumpulan Data ... 47

3.5.1 Wawancara ... 47

3.5.2 Angket atau Kuesioner ... 49

3.5.3 Dokumentasi ... 50


(11)

xi

3.6.1 Angket atau Kuesioner ... 50

3.6.1.1 Uji Validitas ... 51

3.6.1.2 Uji Reliabilitas ... 53

3.7 Analisis Data ... 54

3.7.1 Analisis Statistik Deskriptif ... 54

3.7.2 Uji Prasyarat Analisis ... 55

3.7.2.1 Uji Normalitas ... 56

3.7.2.2 Uji Linearitas ... 56

3.7.3 Analisis Akhir ... 57

3.7.3.1 Analisis Regresi Sederhana ... 57

3.7.3.2 Koefisien Diterminan ... 58

4 HASIL DAN PEMBAHASAN ... 60

4.1 Hasil Penelitian ... 60

4.1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian ... 60

4.2 Analisis Deskriptif ... 62

4.2.1 Kualifikasi Akademik ... 62

4.2.1.1 Deskripsi Data Kualifikasi Akademik ... 63

4.2.1.2 Analisis Deskripsi Presentase Kualifikasi Akademik ... 64

4.2.1.3 Analisis Deskripsi Indeks Kualifikasi Akademik ... 67

4.2.2 Kinerja Guru ... 72

4.2.2.1 Deskripsi Data Kinerja Guru ... 72

4.2.2.2 Analisis Deskripsi Presentase Kinerja Guru ... 73

4.2.2.3 Analisis Deskripsi Indeks Kinerja Guru ... 77

4.3 Uji Prasyarat Akhir ... 81

4.3.1 Uji Normalitas ... 81

4.3.2 Uji Linearitas ... 82

4.4 Analisi Akhir ... 83

4.4.1 Analisis Regresi Sederhana ... 83

4.4.2 Uji Koefisien Regresi Sederhana ... 85

4.4.3 Koefisien Diterminan ... 87


(12)

xii

4.5.1 Kualifikasi Akademik ... 88

4.5.2 Kinerja Guru ... 89

4.5.3 Pengaruh Kualifikasi Akademik Terhadap Kinerja Guru ... 91

4.5.4 Besar Pengaruh Kualifikasi Akademik Terhadap Kinerja Guru .. 94

5 PENUTUP ... 96

5.1 Simpulan ... 96

5.2 Saran ... 97

DAFTAR PUSTAKA ... 99


(13)

xiii

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

3.1 Populasi ... 43

3.2 Penarikaan Sampel Guru ... 45

3.3 Skor Pernyataan Instreumen Skala Likert... 50

4.1 Analisis Deskripsi Data Kualifikasi Akademik ... 63

4.2 Kriteria Skor Kualifikasi Akademik Per Guru... 65

4.3 Kategori Skor Kualifikasi Akademik... 66

4.4 Indeks Kualifikasi Akademik ... 70

4.5 Analisis Deskripsi Data Kinerja Guru ... 73

4.6 Kriteria Skor Kinerja Guru ... 74

4.7 Kategori Skor Kinerja Guru... 75

4.8 Indeks Kinerja Guru ... 78

4.9 Rekapitulasi Rata-rata Indeks Variabel ... 81

4.10 Hasil Uji Normalitas ... 82

4.11 Hasil Uji Linearitas ... 83

4.12 Hasil Uji Regresi... 84


(14)

xiv

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

2.1 Kerangka Berpikir ... 39

3.1 Desain Penelitian ... 42

4.1 Diagram Indeks Kualifikasi Akademik ... 71

4.2 Diagram Indeks Kinerja Guru ... 80


(15)

xv

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran Halaman

1 Daftar Nama SD Dabin I dan IV ... 103

2 Daftar Nama Populasi ... 104

3 Daftar Nama Guru Sampel ... 107

4 Daftar Nama Guru Uji Coba ... 110

5 Kisi-kisi Angket Uji Coba ... 111

6 Instrumen Penelitian Angket Uji Coba ... 112

7 Kisi-kisi Angket Setelah Uji Validitas dan Reliabilitas ... 121

8 Instrumen Penelitian Setelah Uji Validitas dan Reliabilitas ... 122

9 Hasil Wawancara ... 129

10 Output Uji Validitas Hasil Uji Coba ... 131

11 Rekapitulasi Uji Validitas Angket Uji Coba ... 135

12 Output Uji Reliabilitas Hasil Uji Coba ... 137

13 Hasil Uji Validitas oleh Ahli ... 138

14 Rekapitulasi Skor Angket Penelitian ... 141

15 Rekapitulasi Skor Presentase Per Guru ... 156

16 Hasil Analisis Indeks Angket ... 159

17 Output Hasil Uji Normalitas ... 161

18 Hasil Uji Lineritas ... 162

19 Output Hasil Analisi Regresi dan Koefien Diterminan ... 163

20 Surat Ijin Penbelitian FIP UNNES ... 164

21 Surat Ijin Penelitian Kantor PNPM Kab. Purworejo ... 166

22 Surat Ijin Pelaksanaan Penelitian ... 167


(16)

1

BAB 1

PENDAHULUAN

Pada bagian pendahuluan akan dijelaskan tentang: latar belakang masalah, identifikasi masalah, pembatasan masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian dan manfaat penelitian. Latar belakang masalah menguraikan masalah-masalah yang menjadi dasar untuk diadakannya penelitian, kemudian diidentifikasi. Setelah diidentifikasi, masalah dibatasi agar memperoleh titik fokus permasalahan sehinggan mendapatkan hasil yang maksimal. Kemudian dibuat rumusan dari pembatasan masalah dan dipecahkan dengan pelaksanaan penelitian. Berikut penjelasan selengkapnya:

1.1

Latar Belakang Masalah

Pendidikan merupakan hal yang tak bisa lepas pada era globalisasi saat ini. Pendidikan memiliki peran penting dalam mengembangkan sumber daya manusia. Sumber daya manusia yang unggul dan berkualitas tentu akan mampu bersaing dalam berbagai aspek kehidupan. Kualitas sumber daya manusia menjadi peran utama dalam menentukan kemajuan suatu bangsa. Maka dari itu, pendidikan mengubah sumber daya manusia yang belum berkualitas menjadi sumber daya manusia yang unggul dan berkualitas tinggi. Hal ini sesuai dengan Undang Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang menjelaskan bahwa:


(17)

Proses pendidikan secara nasional Indonesia memiliki tujuan yaitu: mengembangkan potensi peserta didik, agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga yang demokratis serta bertanggungjawab.

Dalam Mulyasa (2009:3) terdapat tiga syarat utama yang harus diperhatikan dalam pembangunan pendidikan agar dapat berkontribusi terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), yakni: (1) sarana gedung, (2) buku yang berkualitas, (3) guru dan tenaga pendidikan yang profesional.

Sumber daya manusia yang berkualitas dapat diciptakan melalui lembaga pendidikan baik lembaga pendidikan formal, non formal maupun informal. Secara umum, guru dan tenaga kependidikan disebut sebagai pendidik. Dalam pendidikan formal, guru memiliki peran serta aktif dalam mengembangkan potensi siswa yang dimilikinya. Guru memiliki tanggungjawab untuk membawa dan mengantarkan para siswanya ke taraf kedewasaan tertentu dan taraf yang dicita-citakan. Dalam rangka ini, guru tidak semata-mata sebagai pengajar (transfer of knowledge), tapi juga sebagai pendidik (transfer of values) sekaligus sebagai pembimbing yang memberikan pengarahan dan menuntun siswa dalam belajar. Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 16 Tahun 2009 Tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya Bab I Pasal 1 ayat 2 berbunyi:

Guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Agar dapat melaksanakan peran dan tugasnya, seorang guru harus memenuhi berbagai syarat. Hal ini yang membedakan guru dengan profesi


(18)

lainnya. Adapun syarat kompetensi guru profesional sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru yakni kompetensi pedagogik, kompetensi personal, kompetensi profesional dan kompetensi sosial.

Kualifikasi guru telah diatur Pemerintah dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan bab VI pasal 28 dikatakan bahwa:

(1) pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran, sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan nasional; (2) kualifikasi akademik sebagaimana disebut pasal 1 adalah tingkat pendidikan minimal yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik yang dibuktikan dengan ijazah dan/ atau sertifikat keahlian yang relevan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku; (3) kompetensi sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah serta pendidikan anak usia dini; (4) seseorang yang tidak memiliki ijazah dan/ atau sertifikat keahlian sebagaiman dimaksud pada ayat 2, tetapi memiliki keahlian khusus yang diakui dan diperlukan dapat diangkat menjadi pendidik setelah melewati uji kelayakan dan kesetaraan; (5) kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran sebagaimana dimaksud pada ayat 1 sampai dengan ayat 4 dikembangkan oleh BSNP dan ditetapkan dengan Peraturan

Menteri.

Menurut Yamin (2007:2), guru profesional disamping mereka memiliki kualifikasi akademis, juga dituntut memiliki kompetensi, artinya memiliki pengetahuan, ketrampilan, perilaku yang harus dimiliki, dihayati dan dikuasainya dalam melaksanakan tugas keprofesionalnya. Sejalan dengan pendapat tersebut, Mulyasa (2007:31) mengatakan bahwa kompetensi guru diperlukan dalam rangka mengembangkan dan mendemonstrasikan perilaku pendidikan, bukan sekedar mempelajari keterampilan-keterampilan mengajar tertentu, tetapi merupakan


(19)

penggabungan yang saling bertautan dalam bentuk perilaku nyata. Dengan demikian, guru harus dibekali dengan perangkat kompetensi yang diperlukan sesuai dengan tugas dan tanggungjawab yang diembannya serta sesuai dengan perkembangan masyarakat dan zaman.

Suprihatiningrum (2012:73) mengatakan terdapat lima ukuran seorang guru profesional yakni (1) memiliki komitmen pada siswa dan proses belajarnya, (2) secara mendalam menguasai bahan ajar dan cara mengajarkan, (3) bertanggung jawab memantau kemampuan belajar siswa melalui teknik evaluasi, (4) mampu berpikir sistematis dalam melakukan tugas, (5) menjadi bagian dari masyarakat belajar di lingkungan profesinya. Syarat dalam pendapat Suprihatiningrum tersebut telah memenuhi kompetensi guru yang dipersyaratkan.

Dalam meningkatkan kualitas pendidikan, kualitas seorang guru profesional tentu menjadi seseorang yang berkontribusi utama. Semakin profesional, meningkat pula kualitas pendidikan dan peserta didik yang dihasilkan. Profesional seorang guru dapat dilihat dari kinerja tersebut. Suryadi Prawirosentono (1999) dalam Widoyoko (2013:200) kinerja sebagai hasil kerja yang dapat dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang dalam rangka upaya mencapai tujuan secara legal.

Berdasarkan hasil survei data dan wawancara pada tanggal 19-26 Januari 2015 dengan Kepala Sekolah di beberapa SD Dabin I dan IV Kecamatan Pituruh Kabupaten Purworejo, peneliti menemukan bahwa kinerja guru Sekolah Dasar masih kurang optimal. Hal ini terlihat kualifikasi akademik guru SD Dabin I dan


(20)

IV Kecamatan Pituruh Kabupaten Purworejo diperoleh informasi memiliki kualifikasi akademik SMA ada 2 orang (1,58%), SMK ada 2 orang (1,58%), SGO ada 1 orang (0,79%), SPG ada 5 orang (3,96%), KPG ada 1 orang (0,79%), Diploma II ada 18 orang (14,28%), Diploma III ada 1 orang (0,79%), Sarjana Strata 1 ada 94 orang (74,60%) dan Sarjana Strata 2 ada 2 orang (1,58%). Dilihat dari kualifikasi akademik guru yang ada, hal tersebut tentu menjadi suatu perhatian karena masih banyak guru yang belum memenuhi standar kualifikasi akademik yang dipersyaratkan yaitu DIV/S1.

Setiap orang tentu memiliki pandangan bahwa semakin tinggi kualifikasi akademik seorang guru tentu memiliki semangat, motivasi serta kinerja guru yang tinggi pula. Namun, guru yang berijazah Sekolah Pendidikan Guru (SPG) tetapi memiliki semangat kerja yang tinggi, disiplin, rajin, kreatif, inovatif, memiliki wawasan luas, dan bertanggungjawab. Sebaliknya, ada pula guru yang berijazah diploma atau sedang mengikuti pendidikan program S1 namun kurang disiplin, kreatif dibandingkan dengan guru-guru yang hanya tamatan Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Apabila dilihat dari tugas mengajar sehari-hari, tentu guru lulusan Sekolah Pendidikan Guru (SPG) atau Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) berorientasi pada guru kelas bukan guru bidang studi. Pada kenyataannya masih terdapat guru yang kurang sesuai. Ada guru mengajar tidak sesuai keahlian dikarenakan sekolah kekurangan guru sehingga harus merangkap kelas sekaligus guru bidang studi seperti Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (Penjaskes) yang menjadi guru kelas. Hal tersebut tentu mempunyai pengaruh kurang baik terhadap kualitas kerja guru dan mutu pendidikan. Ada pula guru


(21)

kurang menguasai bahan ajar untuk mata pelajaran tertentu dan terkesan terpaksa mengajar karena sistem guru kelas. Diketahui pula bahwa sebagian guru tidak menguasai bahan yang akan diajarkan, sehingga siswa hanya disuruh mencatat atau mengerjakan tugas-tugas. Terdapat guru yang tidak mempunyai bahan ajar yang ditulisnya (buku pegangan), sehingga guru yang bersangkutan merasa tidak percaya diri dan dalam menerapkan pembelajaran tidak efektif dan kondusif. Sebagian guru tidak menguasai landasan kependidikan, tidak mampu melaksanakan fungsi dan tugas sebagai pendidik dan pengajar. Terdapat guru yang tidak mempersiapkan apa yang akan diajarkan. Dengan keadaan demikian, maka siswa cenderung tidak tertarik untuk belajar dengan sungguh-sungguh.

Kecamatan Pituruh memiliki 5 Dabin yang tersebar di seluruh wilayahnya baik di dataran rendah maupun dataran tinggi. Peneliti memilih Dabin I dan IV karena kualifikasi guru pada SD di Dabin tersebut cukup bervariasi. Dabin I meliputi 8 SD, meliputi SD Negeri Tersidilor, SD Negeri Blekatuk, SD Negeri Keburusan, SD Negeri Tapen, SD Negeri Wonoyoso, SD Negeri Tasikmadu, SD Negeri Sumber, dan SD Negeri Tunjungtejo. Sedangkan Dabin IV meliputi 8 SD, yaitu SD Negeri Megulungkidul, SD Negeri Megulunglor, SD Negeri Munggangsari, SD Negeri Sepathi, SD Negeri 1 Prapaglor, SD Negeri 2 Prapaglor, SD Negeri Sawangan dan SD Negeri Somogede.

Kajian empiris yang relevan dengan masalah tersebut yaitu penelitian yang dilakukan oleh Sri Hartini (2012) yang mengadakan penelitian tentang ”Pengaruh Kualifikasi Akademik, Pengalaman Kerja dan Motivasi Kerja Terhadap Kinerja Kepala Sekolah Dasar Se-Kecamatan Wiradesa Kabupaten Pekalongan”. Hasil


(22)

penelitian menunjukkan bahwa besarnya pengaruh kualifikasi akademik sebesar 32%, pengalaman kerja 42,9%, motivasi kerja 35,2% dan pengaruh secara bersama-sama 59,7%. Disamping itu penelitian lainnya juga pernah dilakukan oleh Ermelinda Yosefa Awe, Nyoman Dantes, I Wayan Lasmawan (2014) yang

meneliti tentang ”Hubungan Antara Kualifikasi Akademik, Kompetensi, Motivasi Kerja dengan Kinerja Guru Sekolah Dasar (SD) di Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada”. Penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara kualifikasi akademik dengan kinerja guru sekolah dasar di Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada.

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka peneliti akan mengkaji masalah

tersebut dengan melakukan penelitian yang berjudul “Pengaruh kualifikasi

akademik terhadap kinerja guru SD Dabin I dan IV Kecamatan Pituruh Kabupaten

Purworejo”

1.2

Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, peneliti dapat mengidentifikasikan masalah antara lain:

1. Guru yang belum memenuhi standar kualifikasi akademik yang dipersyaratkan.

2. Guru yang kurang menguasai bahan ajar yang akan diajarkan.

3. Guru yang tidak mempunyai bahan ajar yang ditulisnya (buku pegangan).


(23)

4. Guru tidak menguasai landasan kependidikan, tidak mampu melaksanakan fungsi dan tugas sebagai pendidik dan pengajar.

1.3

Pembatasan Masalah

Dalam penelitian ini, peneliti membatasi ruang lingkup dan fokus masalah yang akan diteliti yakni :

1.3.1 Objek Penelitian

Objek penelitian ini merupakan aspek dari subjek penelitian yang menjadi sasaran penelitian yakni kualifikasi akademik guru SD Dabin I dan IV Kecamatan Pituruh Kabupaten Purworejo.

1.3.2 Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini yaitu guru SD Dabin I dan IV Kecamatan Pituruh Kabupaten Purworejo dengan standar minimal kualifikasi akademik Diploma.

1.4

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka perumusan masalah yang diajukan adalah:

1. Adakah pengaruh kualifikasi akademik terhadap kinerja guru SD Dabin I dan IV Kecamatan Pituruh Kabupaten Purworejo?

2. Seberapa besar pengaruh kualifikasi akademik terhadap kinerja guru SD Dabin I dan IV Kecamatan Pituruh Kabupaten Purworejo?


(24)

1.5

Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini dilaksanakan adalah sebagai berikut: 1.5.1 Tujuan umum

Untuk mengetahui gambaran pengaruh kualifikasi akademik dengan kinerja guru SD Dabin I dan IV Kecamatan Pituruh Kabupaten Purworejo. 1.5.2 Tujuan khusus

1) Untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh kualifikasi akademik terhadap kinerja guru SD Dabin I dan IV Kecamatan Pituruh Kabupaten Purworejo.

2) Untuk mengetahui seberapa besar pengaruh kualifikasi akademik terhadap kinerja guru SD Dabin I dan IV Kecamatan Pituruh Kabupaten Purworejo.

1.6

Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini dilaksanakan adalah sebagai berikut: 1.6.1 Manfaat Teoritis

Manfaat teoritis dalam penelitian ini adalah untuk memberikan informasi ilmu pengetahuan tentang manajemen pendidikan melalui kualifikasi akademik dalam rangka meningkatkan kinerja guru.

1.6.2 Manfaat Praktis


(25)

1) Bagi guru, diharapkan dapat memberi motivasi untuk terus meningkatkan kualifikasi akademik yang dimiliki, sehingga kinerja semakin optimal.

2) Bagi kepala sekolah, diharapkan dapat menjadi masukan dalam melakukan usaha meningkatkan dan mengembangkan kinerja guru dengan berbagai peningkatan kualifikasi akademik.

3) Bagi peneliti, untuk meningkatkan dan menambah pengetahuan tentang pengaruh kualifikasi akademik terhadap kinerja guru dan sebagai penerapan ilmu tentang manajemen pendidikan.


(26)

11

KAJIAN PUSTAKA

Pada bagian kajian pustaka akan dijelaskan mengenai landasan teori, kajian empiris, kerangka berpikir dan hipotesis penelitian. Landasan teori menguraikan tentang teori-teori yang mendasari pelaksanaan penelitian. Kajian empiris merupakan kajian mengenai penelitian yang sejenis dengan penelitian yang akan dilakukan. Kerangka berpikir berisi gambaran singkat pemikiran peneliti mengenai penelitian yang akan dilakukan. Kemudian kajian pustakan akan diuraikan hipotesis yang yang diajukan dalam penelitian. Penjelasan selengkapnya sebagai berikut:

2.1

Landasan Teori

Beberapa teori yang dijadikan landasan dalam penelitian ini adalah (1) guru, (2) kualifikasi akademik, (3) kinerja guru. Uraian selengkapnya sebagai berikut:

2.1.1 Guru

Guru merupakan komponen paling menentukan dalam sistem pendidikan secara keseluruhan, yang harus mendapat perhatian sentral, pertama dan utama. Guru memegang peran utama dalam pembangunan pendidikan, khususnya yang


(27)

diselenggarakan secara formal di sekolah. Guru juga sangat menentukan keberhasilan siswa, terutama dalam kaitannya dengan proses belajar mengajar. Oleh karena itu, perbaikan kualitas pendidikan harus berpangkal pada guru.

2.1.1.1Pengertian Guru

Suharso dan Retnoningsih (2013:158), guru diartikan sebagai orang yang kerjanya mengajar. Undang Undang Guru dan Dosen Nomor 14 Tahun 2005 pasal 2, guru dikatakan sebagai tenaga profesional yang mempunyai arti bahwa pekerjaan guru hanya dapat dilakukan oleh seseorang yang mempunyai kualifikasi akademik, kompetensi, dan sertifikat pendidik sesuai dengan persyaratan untuk setiap jenis dan jenjang pendidikan tertentu.

Adler (1982) dalam Bafadal (2009:4) menyatakan guru merupakan unsur manusiawi yang sangat menentukan keberhasilan pendidikannya. Sedang Uno (2007) dalam Suprihatiningrum (2012:24) terdapat beberapa pendapat, antara lain pendapat Laurence & Jonathan dalam This is Teaching (halaman 10), “teacher is profesional person who conducts classes”, (guru adalah seseorang yang

mempunyai kemampuan dalam menata dan mengelola kelas) dan pendapat Jan & Morris dalam Foundation of Teaching, an Introduction to Modern Educational (halaman 141): “teacher are those persons who consciously direct the places”,

yang berarti guru adalah mereka yang secara sadar mengarahkan pengalaman dan tingkah laku dari seorang individu sehingga dapat terjadi pendidikan.

Berdasarkan pengertian tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa pengertian guru adalah pendidik profesional dengan keahlian khusus dan syarat tertentu yang harus dipenuhi. Guru memiliki tugas utama mendidik dan mengajar


(28)

anak didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan menengah.

2.1.1.2Peran dan Fungsi Guru

Guru merupakan pendidik profesional dengan keahlian khusus dan syarat tertentu yang harus dipenuhi. Guru memiliki banyak peranan dalam menjalankan tugas yang diembannya. Peran dan fungsi guru berpengaruh terhadap pelaksanaan pendidikan di sekolah.

Mulyasa (2007:19) menyatakan peran dan fungsi guru antara lain sebagai pendidik dan pengajar, sebagai anggota masyarakat, sebagai pemimpin, sebagai administrator dan sebagai pengelola pembelajaran.

Dalam Mulyasa (2009:37) terdapat sedikitnya 19 peran guru yakni guru sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, pelatih, penasehat, pendorong (inovator), model dan teladan, pribadi, peneliti, pemindah kemah, pembawa ceritera, aktor, emansipator, evaluator, pengawet, dan sebagai kulminating.

Guru sebagai pendidik profesional memiliki banyak peran yang harus dilaksanakan guna membentuk kepribadian siswa, menyiapkan sumber daya manusia dan mensejahterakan kemajuan bangsanya. Guru memiliki kedudukan yang terhormat karena guru merupakan pahlawan tanpa tanda jasa yang patut untuk dihormati, oleh karena itu sebagai seorang guru harus selalu menjaga sikap dan kepribadiaannya dengan baik agar menjadi contoh bagi anak didik dan masyarakat.


(29)

2.1.2 Kualifikasi Akademik

Guru mempunyai tugas yang berat dan mulai dalam mengantarkan anak-anak bangsa ke puncak cita-cita. Untuk dapat menjalankan tugasnya dengan baik maka seorang guru selayaknya memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi yang berkaitan dengan tugas dan tanggung jawabnya. Dengan adanya kualifikasi dan kompetensi tersebut diharapkan seorang guru menjadi tenaga pendidik dan pengajar yang profesional.

2.1.2.1Pengertian Kualifikasi

Secara etimologis kata kualifikasi diadopsi dari bahasa Inggris,

qualification yang berarti training, test, diploma, etc that qualifies a person

(Manser dan Fergus, 1995:337). Kualifikasi berarti latihan, tes, ijazah dan lain-lain yang menjadikan seseorang memenuhi syarat. Suharso dan Retnoningsih (2013:271), kualifikasi adalah pendidikan khusus untuk memperoleh suatu keahlian.

Undang Undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 1 ayat 9 menggunakan istilah kualifikasi akademik, yang didefinisikan sebagai ijazah jenjang pendidikan akademik yang harus dimiliki oleh guru atau dosen sesuai dengan jenis, jenjang, dan satuan pendidikan formal di tempat penugasan. Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Pasal 28 ayat 2, kualifikasi akademik diartikan sebagai tingkat pendidikan minimal yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik yang dibuktikan dengan ijazah dan/atau sertifikat keahlian yang relevan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 bab VI pasal 28 ayat 2, kualifikasi


(30)

akademik adalah tingkat pendidikan minimal yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik yang harus dibuktikan dengan ijazah dan/ atau sertifikat keahlian yang relevan sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Sedang Masnur Muslich (2007:13), kualifikasi akademik yaitu tingkat pendidikan formal yang telah dicapai guru baik pendidikan gelar seperti S1, S2 atau S3 maupun nongelar seperti D4 atau Post Graduate Diploma.

Berdasarkan pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa kualifikasi

mendorong seseorang untuk memiliki suatu “keahlian atau kecakapan khusus”.

Dalam dunia pendidikan, kualifikasi dimengerti sebagian keahlian atau kecakapan khusus dalam bidang pendidikan, baik sebagai pengajar mata pelajaran, administrasi pendidikan dan seterusnya. Dengan kata lain, kualifikasi merupakan pendidikan khusus yang dipersyaratkan untuk menjabat suatu jabatan tertentu terutama guru.

2.1.2.2Kualifikasi Guru Sekolah Dasar

Suparlan (2008: 27), berdasarkan tanggung jawab yang diembannya, guru dapat dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu: (1) guru kelas; (2) guru mata pelajaran; (3) guru bimbingan konseling; (4) guru pustakawan, dan; (5) guru ekstrakulikuler. Dari kelima jenis guru tersebut, guru yang mengajar di SD/MI merupakan guru kelas karena mengajar seluruh mata pelajaran pada kelas tertentu.

Undang Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan

Nasional pasal 42 ayat 1 menyatakan “Pendidik harus memiliki kualifikasi


(31)

jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan

pendidikan nasional”. Kualifikasi guru untuk jenjang pendidik pada SD/MI, atau bentuk lain sederajat tercantum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Pendidikan Nasional, Bab IV, bagian kesatu, pasal 29, butir keempat. Peraturan Pemerintah tersebut berbunyi pendidik pada SD/MI, atau bentuk lain yang sederajat memiliki: (1) kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1); (2) latar belakang pendidikan tinggi dengan program pendidikan yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan; (3) sertifikasi profesi guru untuk SD/MI.

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 pasal 1

ayat 1 menyatakan “Setiap guru wajib memenuhi standar kualifikasi akademik

dan kompetensi guru yang berlaku secara nasional”. Dalam penjelasan tersebut sangat jelas dikatakan bahwa guru di Indonesia harus memiliki kualifikasi minimum serta harus mengikuti sertifikasi untuk meningkatkan kualifikasi akademik dan kompetensi guru.

Selain memiliki kualifikasi akademik minimum D-IV atau S1, sertifikasi bagi guru dalam jabatan dilaksanakan melalui uji kompetensi untuk memperoleh sertifikasi pendidik yang dilakukan dalam bentuk penilaian portofolio.

Peraturan Menteri Pendididikan Nasional Nomor 18 Tahun 2007 tentang Sertifikasi Bagi Guru Dalam Jabatan pasal 2, penilaian portofolio merupakan pengakuan atas pengalaman profesional guru dalam bentuk penilaian terhadap kumpulan dokumen yang mendeskripsikan:


(32)

(1) kualifikasi akademik; (2) pendidikan dan pelatihan; (3) pengalaman mengajar;

(4) perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran; (5) penilaian dari atasan dan pengawas;

(6) prestasi akademik;

(7) karya pengembangan profesi; (8) keikutsertaan dalam forum ilmiah;

(9) pengalaman organisasi di bidang kependidikan dan sosial; (10) penghargaan yang relevan dengan bidang pendidikan.

Dalam lampiran Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 Tanggal 4 Mei 2007 Tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, ada dua kualifikasi akademik guru yaitu kualifikasi guru melalui pendidikan formal dan kualifikasi guru melalui uji kelayakan dan kesetaraan.

(1) Kualifikasi Akademik Guru Melalui Pendidikan Formal

Kualifikasi akademik guru pada satuan pendidikan jalur formal mencakup kualifikasi akademik guru pendidikan Anak Usia Dini/Taman Kanak-Kanak/Raudatul Atfal (PAUD/TK/RA), guru sekolah dasar/madrasah ibtidaiyah (SD/MI), guru Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTs)


(33)

guru Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah (SMA/MA), guru Sekolah Dasar Luar Biasa/Sekolah Menengah Luar Biasa/Sekolah Menengah Atas Luar Biasa (SDLB/SMPLB/SMALB), guru Sekolah Menengah Kejuruan/Madrasah Aliyah Kejuruan (SMK/MAK), sedang kualifikasi guru SD/MI sebagaimana telah diatur oleh Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 16 Tahun 2007 Tanggal 4 Mei 2007 Tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru yaitu harus memiliki kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1) dalam bidang pendidikan SD/MI (D-IV/S1 PGSD/PGMI) yang diperoleh dari program studi yang terakreditasi.

(2) Kualifikasi Akademik Guru Melalui Uji Kelayakan dan Kesetaraan

Kualifikasi akademik yang dipersyaratkan untuk dapat diangkat sebagai guru dalam bidang-bidang khusus yang sangat diperlukan tetapi belum dikembangkan di perguruan tinggi dapat diperoleh melalui uji kelayakan dan kesetaraan. Uji kelayakan dan kesetaraan bagi seseorang yang memiliki keahlian tanpa ijazah dilakukan oleh perguruan tinggi yang diberi kewenangan untuk melaksanakannya.

Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa kualifikasi akademik adalah tingkat pendidikan minimal yang harus dipenuhi oleh seorang pendidik yang harus dibuktikan dengan ijazah dan/ atau sertifikat keahlian yang relevan. Sedang jenis kualifikasi akademik guru yang diambil untuk penelitian ini yaitu kualifikasi akademik pada guru Sekolah Dasar/Madarasah Ibtidiyah (SD/MI).


(34)

2.1.2.3Indikator Kualifikasi Akademik

Kualifikasi guru untuk jenjang pendidik pada SD/MI, atau bentuk lain sederajat tercantum dalam Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Pendidikan Nasional, Bab IV, bagian kesatu, pasal 29, butir keempat. Peraturan Pemerintah itu berbunyi pendidik pada SD/MI, atau bentuk lain yang sederajat memiliki: (1) kualifikasi akademik pendidikan minimum diploma empat (D-IV) atau sarjana (S1); (2) latar belakang pendidikan tinggi dengan program pendidikan yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan; (3) sertifikasi profesi guru untuk SD/MI.

Dalam penjelasan tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa indikator penilaian kualifikasi akademik yaitu ijazah formal pendidikan terakhir, relevansi jurusan pendidikan yang diampu dan memiliki sertifikasi keahlian mengajar. Indikator-indikator tersebut dapat dijadikan sebagai acuan dalam penilaian kualifikasi akademik guru yang dilakukan dalam penelitian ini.

2.1.2.4Penilaian Kualifikasi Akademik

Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas) telah mengelompokkan dan memberikan nilai dalam penilaian fortofolio mengenai kualifikasi akademik guru sebagai berikut:

Tabel 2.1 Pedoman Penilaian Kualifikasi Akademik Guru

Ijazah Relevansi Skor

S1 Kependidikan sesuai dengan bidang studi (mapel) 150 Nonkependidikan sesuai bidang studi (mapel)

memiliki akta mengajar 150

Kependidikan sesuai dengan rumpun bidang studi 140 Nonkependidikan sesuai dengan bidang studi (mapel) 130


(35)

Kependidikan tidak sesuai dengan bidang studi dan

rumpun bidang studi (mapel) 120

Nonkependidikan tidak sesuai dengan bidang studi dan rumpun bidang studi (mapel) memiliki akta mengajar

120 Nonkependidikan tidak sesuai dengan bidang studi

dan rumpun bidang studi (mapel) 110

Post Graduate

Sesuai bidang studi 80

Tidak sesuai 50

S2 Kependidikan sesuai dengan bidang studi (mapel) 175 Kependidikan sesuai dengan rumpun bidang studi

(mapel) 160

Nonkependidikan sesuai dengan bidang studi (mapel) 160 Kependidikan tidak sesuai dengan bidang studi dan

rumpun bidang studi (mapel) 145

Nonkependidikan tidak sesuai dengan bidang studi 130 S3 Kependidikan sesuai dengan bidang studi (mapel) 200

Kependidikan sesuai dengan rumpun bidang studi

(mapel) 180

Nonkependidikan sesuai dengan bidang studi (mapel) 180 Kependidikan tidak sesuai dengan bidang studi dan

rumpun bidang studi (mapel) 160

Nonkependidikan tidak sesuai dengan bidang studi

dan rumpun bidang studi (mapel) 140

Sumber: Buku III Rubrik Penilaian Portofolio Sertifikasi Guru Dalam Jabatan Tahun 2007

2.1.3 Kinerja Guru

Guru sangat menentukan keberhasila pendidikan suatu negara. Guru mempunyai peran strategis dan menentukan guru dalam mengantarkan keberhasilan pendidikan suatu negara yang dijabarkan Mulyasa (1995) dalam


(36)

Supardi (2013:7) yakni “bahwa keberhasilan pembaruan sekolah sangat

ditentukan oleh gurunya, karena guru adalah pemimpin pembelajaran, fasilitator,

dan sekaligus merupakan pusat inisiatif pembelajaran”. Dalam penjelasan

tersebut sangat jelas dikatakan bahwa seorang guru tentu harus memiliki kinerja yang optimal dan baik dalam melaksanakan tugas yang dimiliki.

2.1.3.1Pengertian Kinerja Guru

Kamus Besar Bahasa Indonesia (2002:570) dalam Barnawi dan Arifin (2014:11), kinerja adalah sesuatu yang dicapai, prestasi yang diperlihatkan, atau kemampuan kerja. Sedangkan August W. Smith dalam Rusman (2013:50) berpendapat bahwa, performance is output derives from processes, human or otherwhise, yaitu kinerja adalah hasil dari suatu proses yang dihasilkan oleh manusia. Rachmawati dan Daryanto (2013:16) kinerja guru adalah kemampuan yang ditunjukkan oleh guru dalam melaksanakan tugas atau pekerjaannya. Dipaparkan pula oleh Supardi (2013:19), kinerja guru merupakan kemampuan dan keberhasilan guru dalam melaksanakan tugas-tugas pembelajaran.

Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Permenpan dan RB) Nomor 16 tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya Bab I pasal 1 ayat 8, menyatakan :

“Penilaian kinerja guru adalah penilaian dari dari tiap butir kegiatan tugas utama guru dalam rangka pembinaan karier kepangkatan dan

jabatannya”.

Supardi (2013: 54) menjelaskan bahwa “kinerja guru dapat diartikan

sebagai suatu kondisi yang menunjukkan kemampuan seorang guru dalam menjalankan tugasnya di sekolah/madrasah serta menggambarkan adanya suatu


(37)

perbuatan yang ditampilkan guru dalam atau selama melakukan aktivitas

pembelajaran”. Kinerja guru dapat terlihat jelas dalam pembelajaran yang diperlihatkan melalui prestasi hasil belajar siswanya.

Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa kinerja guru adalah kemampuan guru dalam menjalankan tugas pembelajaran sesuai tugas dan wewenangnya. Apabila guru melaksanakan tugasnya sebagai pendidik dengan baik, maka tujuan pendidikan akan tercapai. Kinerja guru yang baik akan menghasilkan prestasi belajar siswa yang baik pula.

2.1.3.2Faktor-faktor yang Mempengaruhi Kinerja Guru

Barnawi dan Arifin (2014:43), kinerja guru dipengaruhi oleh faktor tertentu yaitu faktor internal maupun faktor eksternal. Faktor internal guru adalah faktor yang datang dari dalam diri guru yang mempengaruhi kinerjanya, seperti kemampuan, ketrampilan, kepribadian, persepsi, motivasi menjadi guru, pengalaman lapangan, dan latar belakang keluarga. Sedangkan faktor eksternal guru adalah faktor yang datang dari luar guru yang dapat mempengaruhi kinerjanya, contoh gaji, sarana dan prasarana, lingkungan kerja fisik dan kepemimpinan.

Sedarmayanti dalam Supardi (2013:19) menjelaskan faktor yang mempengaruhi kinerja antara lain: sikap mental (motivasi kerja, disiplin kerja, etika kerja), pendidikan, ketrampilan, manajemen kepemimpinan, tingkat penghasilan, gaji dan kesehatan, jaminan sosial, iklim kerja, sarana dan prasarana, teknologi, kesempatan berprestasi. Gibson dalam Supardi (2014:19), kinerja guru


(38)

dipengaruhi oleh tiga kelompok variabel yaitu yaitu: “pertama variabel individu, kedua variabel organisasi, variabel psikologis individu”

Rachmawati dan Daryanto (2013:19) terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja guru antara lain kepribadian dan dedikasi, pengembangan profesi, kemampuan mengajar, antar hubungan dan komunikasi, hubungan dengan masyarakat, kedisiplinan, kesejahteraan, iklim kerja. Faktor-faktor tersebut telah mencakup faktor-faktor yang telah dijelaskan sebelumnya, uraian selengkapnya dijelaskan sebagai berikut:

(1) Kepribadian dan dedikasi

Setiap guru memiliki pribadi masing sesuai ciri-ciri masing-masing yang membedakan dengan guru lainnya. Djamarah (1994) dalam Rachmawati dan Daryanto (2013:19) berpendapat bahwa kepribadian yang sesungguhnya adalah abstrak, sukar dilihat atau diketahui secara nyata, yang dapat diketahui adalah penampilan atau bekasnya dalam segala segi dan aspek kehidupan misal tindakan, ucapan, caranya bergaul, berpakaian dan dalam menghadapi persoalan atau masalah.

Kepribadian guru akan tercermin dalam sikap dan perbuatannya dalam membina dan membimbing anak didik. Semakin baik kepribadian guru, semakin baik dedikasi dalam menjalankan tugas dan fungsinya sebagai pendidik. Kepribadian dan dedikasi yang tinggi dapat meningkatkan kesadaran akan pekerjaan dan mampu menunjukkan kinerja yang memuaskan seseorang atau kelompok dalam suatu organisasi.


(39)

(2) Pengembangan Profesi

Pengembangan profesi guru merupakan hal yang penting untuk diperhatikan guna mengantisipasi perubahan dan beratnya tuntutan terhadap profesi guru. Pengembangan profesi guru lebih menekankan kepada penguasaan ilmu pengetahuan atau kemampuan manajemen beserta strategi penerapannya.

Pantiwati (2001) dalam Rachmawati dan Daryanto (2013:25), upaya meningkatkan profesionalisme guru di antaranya melalui (1) peningkatan kualifikasi dan persyaratan jenjang pendidikan yang lebih tinggi bagi tenaga pengajar, (2) program sertifikasi. Supriadi (1998) dalam Rachmawati dan Daryanto (2013:25) menambahkan dengan mengoptimalkan fungsi dan peran kegiatan dalam bentuk Pusat Kegiatan Guru (PKG), Kelompok Kerja Guru (KKG), dan Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).

Pembinaan dan pengembangan profesi guru bertujuan untuk meningkatkan kinerja dan dilakukan secara terus menerus sehingga mampu menciptakan kinerja sesuai dengan persyaratan yang diinginkan, pembinaan juga harus sesuai arah dan tugas/fungsi yang bersangkutan dalam sekolah.

(3) Kemampuan Mengajar

Kemampuan mengajar guru merupakan cerminan penguasaan guru atas kompetensinya. Kompetensi guru terdiri dari 4 kompetensi antara lain kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional dan sosial.

Kemampuan mengajar guru yang sesuai dengan tuntutan standar tugas yang diemban memberikan efek positif bagi hasil yang ingin dicapai seperti


(40)

perubahan hasil akademik peserta didik, dan perubahan pola kerja guru yang makin meningkat.

(4) Antar Hubungan dan Komunikasi

Komunikasi merupakan aktivitas dasar manusia, manusia dapat saling berhubungan satu sama lain dalam kehidupan sehari-hari. Guru dalam proses pelaksanaan tugasnya perlu memperhatikan hubungan dan komunikasi baik antar guru dengan Kepala Sekolah, sesama guru, guru dengan peserta didik, guru dengan personalia lain di sekolah. Hubungan dan komunikasi yang baik membawa konsekuensi terjalinnya interaksi seluruh komponen dalam sekolah.

Komunikasi digunakan untuk memahami dan menukarkan pesan verbal maupun non verbal antar pengirim informasi dengan penerima informasi untuk mengubah tingkah laku. Terbinanya hubungan dan komunikasi di dalam lingkungan sekolah memungkinkan guru dapat mengembangkan kreativitasnya sebab adanya interaksi dan respon balik dari komponen lain di sekolah. Semakin baik pembinaan hubungan dan komunikasi dibina maka respon yang muncul semakin baik pula mendorongnya peningkatan kinerja.

(5) Hubungan dengan Masyarakat

Hubungan sekolah dengan masyarakat merupakan bentuk komunikasi ekstern yang dilaksanakan atas dasar kesamaan tanggung jawab dan tujuan. Agar hubungan dengan masyarakat terjamin baik dan berlangsung kontinu, maka diperlukan peningkatan profesi guru dalam hal berhubungan dengan masyarakat. Hubungan dengan masyarakat tidak hanya dibina oleh guru tetapi juga oleh personalia lain yang ada di sekolah. Kemampuan guru membawa diri baik di


(41)

tengah masyarakat dapat mempengaruhi penilaian masyarakat terhadap guru. Guru harus bersikap sesuai dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat, responsif dan komunikatif terhadap masyarakat, toleran dan menghargai pendapat mereka. Manfaat hubungan dengan masyarakat sangat besar bagi peningkatan aktivitas-aktivitas bersama, komunikasi yang kontinu dan proses saling menerima serta membuat instropeksi guru dan sekolah menjadi giat dan kontinu. Setiap aktivitas guru dapat diketahui oleh masyarakat, sehingga guru akan berupaya menampilkan kinerja yang lebih baik.

(6) Kedisiplinan

Kedisiplinan sangat perlu dalam menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai pengajar dan pendidik siswa. Disiplin yang tinggi akan mampu membangun kinerja yang profesional sebab pemahaman disiplin yang baik guru mampu mencermati aturan-aturan dan langkah strategis dalam melaksanakan proses kegiatan belajar mengajar. Perilaku disiplin dalam kaitan dengan kinerja guru sangat erat hubungannya karena hanya dengan kedisiplinan yang tinggi pekerjaan dapat dilakukan sesuai dengan aturan yang ada. Kedisiplinan yang baik ditunjukkan guru dalam melaksanakan tugas dan kewajibannya akan memperlancar pekerjaan guru dan memberikan perubahan dalam kinerja guru ke arah yang lebih baik dan dapat dipertanggungjawabkan.

(7) Kesejahteraan

Faktor kesejahteraan menjadi salah satu yang berpengaruh terhadap kinerja guru di dalam meningkatkan kualitasnya sebab semakin sejahtera seseorang semakin tinggi pula untuk meningkatkan kinerjanya. Profesionalitas


(42)

guru tidak hanya dilihat dari kemampuan guru dalam mengembangkan dan memberikan pembelajaran yang baik kepada peserta didik, tetapi juga harus dilihat oleh pemerintah dengan cara memberikan gaji yang pantas serta kelayakan. Peningkatan kesejahteraan berkaitan dengan intensif yang diberikan pada guru. Untuk memaksimalkan kinerja guru langkah strategis yang dilakukan pemeritah yaitu memberikan kesejahteraan yang layak sesuai volume kerja guru, selain itu memberikan intensif pendukung sebagai jaminan bagi pemenuhan kehidupan guru dan keluarganya.

(8) Iklim Kerja

Sekolah merupakan suatu sistem yang terdiri dari berbagai unsur yang membentuk satu kesatuan utuh. Interaksi yang terjadi dalam sekolah merupakan adanya keterkaitan satu dengan yang lainnya guna memenuhi juga sebagai tuntutan tugas dan tanggungjawab pekerjaannya. Iklim sekolah memegang peran penting sebab iklim menunjukkan suasana kehidupan pergaulan dan pergaulan di sekolah itu. Iklim menggambarkan kebudayaan, tradisi-tradisi, dan cara bertindak personalia yang ada di sekolah itu, khususnya kalangan guru. Terbentuknya iklim yang kondusif pada tempat kerja dapat menjadi faktor penunjang bagi peningkatan kinerja sebab kenyamanan dalam bekerja membuat guru berpikir dengan tenang dan terkonsentrasi hanya pada tugas yang sedang dilaksanakan.

2.1.3.3 Penilaian Kinerja Guru

Guru profesional tentu harus memenuhi syarat kualifikasi akademik dan kompetensi. Kompetensi yang dipersyaratkan seperti kompetensi pedagogik,


(43)

kompetensi profesional, kompetensi sosial, dan kompetensi kepribadian. Agar fungsi dan tugas yang melekat pada jabatan fungsional guru dilaksanakan sesuai dengan aturan yang berlaku, maka diperlukan penilaian guru yang menjamin terjadinya proses pembelajaran yang berkualitas di semua jenjang pendidikan.

Penilaian merupakan serangkaian kegiatan untuk memperoleh, menganalisis, dan menafsirkan data tentang proses dan hasil yang dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan, sehingga menjadi informasi yang bermakna dalam pengambilan keputusan (Rusman, 2013: 96).

Daryanto (2013:196-197) tujuan sistem penilaian kinerja guru antara lain: (1) Menentukan tingkat kompetensi seorang guru;

(2) Meningkatkan efisiensi dan efektivitas kinerja guru dan sekolah;

(3) Menyajikan suatu landasan untuk pengambilan keputusan dalam mekanisme penetapan efektif atau kurang efektifnya kinerja guru;

(4) Menyediakan landasan untuk program pengembangan keprofesian berkelanjutan bagi guru;

(5) Menjamin bahwa guru melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya serta mempertahankan sikap positif dalam mendukung pembelajaran peserta didik untuk mencapai prestasi, dan

(6) Menyediakan dasar dalam sistem peningkatan promosi dan karir guru serta bentuk penghargaan lainnya.

Pelaksanaan kinerja guru dimaksudkan bukan untuk menyulitkan guru, tapi penilaian dilaksanakan untuk mewujudkan guru yang profesional karena harkat dan martabat suatu profesi ditentukan oleh kualitas layanan profesi yang


(44)

bermutu, membantu meningkatkan pengetahuan serta ketrampilan. Diharapkan guru dapat memberikan kontribusi secara langsung pada peningkatan pembelajaran kualitas yang dilakukan, sekaligus pengembangan karir guru sebagai tenaga profesional.

Tolok ukur kinerja menurut T.R. Mitchell (1989) dalam Rachmawati dan Daryanto (2013: 120) terdapat lima hal yaitu:

(1) Quality of work– kualitas hasil kerja

(2) Promptness– ketepatan waktu menyelesaikan pekerjaan (3) Initiative– prakarsa dalam menyelesaikan tugas

(4) Capability– kemampuan menyelesaikan tugas

(5) Comunication– kemampuan membina kerjasama dengan pihak lain.

Sedangkan standar kinerja Tyson dan Jackson (1993) dalam Supardi (2013:70) meliputi:

(1) Quantity of Work: berkenaan dengan volume pekerjaan yang dapat dikerjakan guru.

(2) Quality of Work: berkenaan dengan ketelitian, dan kelengkapan hasil kerja. (3) Inisiatif: berkenaan dengan keinginan untuk maju, mandiri dan penuh

tanggung jawab terhadap pekerjaannya.

(4) Adaptability: berkenaan dengan kemampuan guru untuk merespons dan menyesuaikan dengan perubahan keadaan.

(5) Cooperative: berkenaan dengan kemampuan dan kemauan untuk bekerjasama dengan pimpinan dan sesama teman kerja.


(45)

Rachmawati dan Daryanto (2013:121-126) menjelaskan Georgia Departemen of Education telah mengembangkan teacher performance assesment instrument yang dimodifikasi oleh Depdiknas yaitu Alat Penilaian Kemampuan Guru (APKG) meliputi: (1) rencana pembelajaran (RPP), (2) prosedur pembelajaran, dan (3) hubungan antar pribadi. Indikator penilaian kinerja guru dijelaskan sebagai berikut:

(1) Perencanaan Pembelajaran

Tahap ini berhubungan dengan kemampuan guru dalam menguasai bahan ajar melalui cara penyusunan program kegiatan pembelajaran. Hal ini dilakukan dengan kegiatan pengembangan silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP). Komponen dalam RPP antara lain yaitu: (1) identitas RPP, (2) Standar Kompetensi (SK), (3) Kompetensi Dasar (KD), (4) Indikator, (5) Tujuan pembelajaran, (6) Materi pembelajaran, (7) Metode pembelajaran, (8) Langkah-langkah kegiatan, (9) Alat dan sumber pembelajaran, dan (10) Penilaian.

(2) Pelaksanaan Kegiatan Pembelajaran

Kegiatan pembelajaran di kelas merupakan inti penyelenggaraan pendidikan yang ditandai dengan kegiatan pengelolaan kelas, penggunaan media dan sumber belajar, dan penggunaan metode dan strategi pembelajaran.

(3) Evaluasi/Penilaian Pembelajaran

Penilaian hasil belajar adalah kegiatan yang dilakukan untuk mengetahui ketercapaian tujuan pembelajaran dan proses pembelajaran yang telah dilakukan. Maka dari itu penilaian pembelajaran harus sesuai dengan tujuan


(46)

pembelajaran yang telah ditetapkan. Guru dituntut memiliki kemampuan dalam menentukan pendekatan dan cara-cara evaluasi, penyusunan alat-alat evaluasi, pengolahan dan penggunaan hasil evaluasi.

Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Permenpan dan RB) Nomor 16 tahun 2009 tentang Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya Bab V pasal 11 menyatakan bahwa unsur dan sub unsur kegiatan guru yang dinilai angka kreditnya adalah:

(1) Pendidikan, meliputi:

1. Pendidikan formal dan memperoleh gelar/ijazah; dan

2. Pendidikan dan pelatihan (diklat) prajabatan atau sertifikat termasuk program induksi

(2) Pembelajaran/bimbingan dan tugas tertentu, meliputi:

1. Melaksanakan proses pembelajaran, bagi Guru Kelas dan Guru Mata Pelajaran;

2. Melaksanakan proses bimbingan, bagi Guru Bimbingan dan Konseling; dan

3. Melaksanakan tugas lain yang relevan dengan fungsi sekolah/madrasah; (3) Pengembangan keprofesi berkelanjutan, meliputi:

1. Pengembangan diri terdiri dari diklat fungsional dan kegiatan kolektif guru yang meningkatkan kompetensi dan/atau keprofesian Guru;

2. Publikasi ilmiah terdiri dari publikasi ilmiah atas hasil penelitian atau gagasan inovatif pada bidang pendidikan formal dan publikasi buku teks pelajaran, buku pengayaan, dan pedoman guru; dan


(47)

3. Karya inovatif terdiri dari menemukan teknologi tepat guna; menemukan/menciptakan karya seni; membuat/memodifikasi alat pelajaran/peraga/praktikum; dan mengikuti pengembangan penyusunan standar, pedoman, soal dan sejenisnya;

(4) Penunjang tugas Guru, meliputi:

1. Memperoleh gelar/ijazah yang tidak sesuai dengan bidang yang diampunya;

2. Memperoleh penghargaan/tanda jasa; dan

3. Melaksanakan kegiatan yang mendukung tugas guru, antara lain membimbing siswa dalam praktik kerja nyata/praktik industri/ekstrakurikuler dan sejenisnya; menjadi organisasi pramuka/kepramukaan; enjadi tim penila angka kredit; dan/atau menjadi tutor/pelatih/instruktur.

Berdasarkan penjelasan tersebut, indikator penilaian kinerja guru dalam penelitian ini yaitu perencanaan pembelajaran, pelaksanaan pembelajaran, penilaian pembelajaran. Penilaian tidak hanya untuk memperbaiki kinerja guru yang buruk, melainkan juga sebagai bahan acuan untuk meningkatkan kinerja guru.

2.1.3.4Hubungan Kualifikasi dengan Kinerja Guru

Mulyasa (2009:3) terdapat tiga syarat utama yang harus diperhatikan dalam pembangunan pendidikan agar dapat berkontribusi terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), yakni: (1) sarana gedung, (2) buku yang berkualitas, (3) guru dan tenaga pendidikan yang profesional.


(48)

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru yakni kompetensi pedagogik, kompetensi personal, kompetensi profesional dan kompetensi sosial. Hal tersebut sejalan dengan Yamin (2007:2) bahwa guru profesional disamping memiliki kualifikasi, juga dituntut memiliki kompetensi. Diperkuat oleh pendapat Suparlan (2008:147) bahwa kualifikasi, kompetensi dan kesejahteraan merupakan tiga aspek yang saling berpengaruh. Ketiga hal tersebut harus terpenuhi agar tercapai kompetensi guru yang optimal.

Rachmawati dan Daryanto (2013:121) mengatakan bahwa kinerja guru dapat dilihat dari dan diukur berdasarkan spesifikasi/kriteria kompetensi yang dimiliki. Wujud perilaku yang dimaksud adalah kegiatan guru dalam proses pembelajaran yaitu bagaimana merencanakan pembelajaran, melaksanakan pembelajaran, dan menilai hasil belajar. Sejalan dengan hal tersebut, kompetensi mengacu pada kemampuan melaksanakan sesuatu yang diperoleh melalui pendidikan, kompetensi merujuk kepada kinerja dan perbuatan yang rasional untuk memenuhi spesifikasi tertentu didalam pelaksanaan tugas-tugas pendidikan yang dikatakan rasional karena memiliki arah dan tujuan. Dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi kualifikasi guru maka semakin baik pula kinerja guru tersebut.

2.2

Kajian Empiris

Pertama, penelitian yang dilakukan oleh Harun Al Rasyid (2013) jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar Universitas Trunojoyo Madura, Bangkalan


(49)

dengan judul “Analisis Standar Kualifikasi Akademik Guru SD di Kecamatan Kras Kabupaten Kediri”. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 174 guru SD (77%) di Kecamatan Kras Kabupaten Kediri yang telah memenuhi kualifikasi akademik guru dari 226 jumlah keseluruhan guru, sebanyak 52 orang guru (23%) yang masih belum mencapai kualifikasi akademik sebagaimana yang dipersyaratkan. Jumlah 23% tersebut didominasi oleh guru yang masih memiliki kualifikasi akademik Diploma II (DII) yakni sebanyak 17 orang (7,5%).

Kemudian penelitian yang dilakukan oleh Syaikhul Alim (2013) Manajemen Sekolah IAIN Walisongo dengan judul “Pengaruh Kualifikasi Pendidikan, Keikutsertaan Diklat dan Sikap Pada Profesi Terhadap Kompetensi

Guru PAI SD di Kabupaten Pekalongan”. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa

ada pengaruh yang signifikan dari kualifikasi pendidikan terhadap kompetensi guru PAI SD di Kab. Pekalongan dengan koefisien korelasi 0,388 dan sumbangan efektif sebesar 15,05%.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Iriyana Rahwi Narni (2012) dari

Universitas Negeri Yogyakarta dengan judul “Kontribusi Intensitas Kegiatan Kelompok Kerja Guru (KKG), Pelatihan-Pelatihan, dan Kualifikasi Akademik terhadap Kinerja Guru Sekolah Dasar di Kecamatan Pengaron Kabupaten Banjar” menunjukkan bahwa (1) terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara intensitas kegiatan Kelompok Kerja Guru (KKG) terhadap kinerja guru sebesar 0,324 dan kontribusi sebesar 10,5%; (2) terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara pelatihan-pelatihan dengan kinerja guru sebesar 0,322 dan kontribusi sebesar 10,4%; (3) terdapat hubungan yang positif


(50)

dan signifikan antara kualifikasi akademik terhadap kinerja guru sebesar 0,303 dan kontribusi sebesar 9,2%; (4) terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara intensitas kegiatan Kelompok Kerja Guru (KKG), pelatihan-pelatihan, dan kualifikasi akademik secara bersama-sama terhadap kinerja guru sebesar 0,482 dan kontribusi bersama-sama sebesar 23,2%.

Penelitian yang dilakukan oleh Meliaty Simbolon (2012) dengan judul

“Pengaruh Akademik Guru dan Kompetensi Profesional terhadap Kinerja Guru Atas Dasar Penilaian Kepala Sekolah (Sensus Pada Guru Mata Pelajaran

Kesesuaian Tingkat Sekolah Menengah Atas di Kota Binjai Sumatra Barat)”.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kualifikasi akademik dan kompetensi profesional mempunyai pengaruh secara bersana-sama terhadap Kinerja Guru Seni atas dasar penilaian Kepala Sekolah di SMA Negeri dan Swasta Kota Binjai.

Sedangkan penelitian yang dilakukan oleh Neng Siti Marjan Syakirah (2013) Pendidikan Manajemen Perkantoran Universitas Pendidikan Indonesia

dengan judul “Pengaruh Kualifikasi Akademik terhadap Kompetensi Profesional

Guru Produktif Program Administrasi Perkantoran di SMK Negeri 11 Bandung

dan SMK Pasundan 1 Bandung”. Hasil penelitian ini yaitu kualifikasi akademik

berpengaruh cukup kuat terhadap kompetensi profesional guru.

Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Safrudin (2011) Fakultas Ilmu

Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia dengan judul “Analisis Hubungan

Supervisi Kepala Sekolah Dan Kualifikasi Akademik Guru Terhadap Kompetensi Guru Dalam Proses Belajar Mengajar Di SMP Satu Atap Se-Kabupaten


(51)

kualifikasi akademik terhadap variabel kompetensi guru dalam proses belajar mengajar disebabkan karena sebanyak 40% guru di SMPN Satu Atap di Kabupaten Indramayu mengajar tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya.

Thomas O. Abe (2014) dengan judul “The effect of theachers’

qualifications on performance in mathematics”. “Pengaruh Kualifikasi Guru

Dalam Kinerja Pembelajaran Matematika”. The result showed that a significant difference existed in the performance of students taught by professional teachers and non professional teachers, between students taught by NCE teachers and B.Sc and Sc.Ed. Teachers and also between B. Sc teachers and . Sc Ed. teachers at P < 0.05. The study recommended that, only qualified mathematics teachers should be allowed to teach mathematics at the secondary school level

menunjukkan bahwa terdapat perbedaan prestasi siswa yang diajar oleh guru profesional dengan guru non profesional, diantara siswa yang diajarkan guru B. Sc (S. Si) dengan Sc. Ed (S. Pd) pada P < 0.05. Penelitian menyarankan bahwa hanya guru matematika berkualifikasi yang diijinkan untuk mengajar matematika pada tingkat sekolah menengah.

Lalu Olabode Thomas Owolabi (2012) Departement of Curriculum Studies, Ekiti State University, Ado-Ekiti, Nigeria yang berjudul “Effect of

Teacher’s Qualification on Performance of Senior Secondary School Physics

Students: Implication on Technology in Nigeria”. “Pengaruh Kualifikasi Guru

Terhadap Prestasi Siswa Fisika Sekolah Menengah: Keterlibatan Teknologi di


(52)

qualifications performed better than those taught by teachers with lower

qualifications. The result also showed that teacher’s gender has no effect on their

ability to impact knowledge students, much as he/she is a skilled teacher in that field of study. Hasil menunjukkan bahwa siswa yang diajarkan oleh guru dengan kualifikasi tinggi lebih baik daripada mereka yang diajarkan oleh guru dengan kualifikasi rendah. Hasil juga memperlihatkan bahwa jenis kelamin guru tidak berpengaruh pada kemampuannya untuk memberikan pelajaran pada siswa selama dia menjadi guru yang handal di dalam pelajaran.

Esuh Ossai-Igwe Lucky (PhD) & Nurahimah Bt Mohd Yusoff (PhD) (2013) dengan judul “A Conceptual Framework On Teaching Qualifications, Characteristics, Competence And Lecturer Performance For Higher Education Institutions In Nigeria”. “Sebuah Kerangka Konseptual Kualifikasi Mengajar,

Karakteristik, Kompetensi dan Performa Pengajar untuk Lembaga Pendidikan

Tinggi di Nigeria”. This theoretical paper examines the relationship between the teaching qualification, lecturer’s characteristic, lecturer’s competence and lecturer’s performance. As posited by the competency-based education theory (CBET) and personality theory, teacher’s characteristics and competence affect lecturer’s performance. Thus, within the context of these theories, it is argued here that lecturer’s activities and their characteristics would effectively affect lecturer’s performance. Tulisan teori ini menguji hubungan antara kualifikasi mengajar, karakteristik pengajar, kemampuan pengajar dan performa pengajar. Telah diungkapkan dalam teori pendidikan berbasis kompetensi dan teori kepribadian, karakteristik dan kemampuan pengajar berpengaruh pada performa


(53)

pengajar itu sendiri. Jadi, dengan konteks teori tersebut, dituliskan disini bahwa aktifitas pengajar dan karakteristik mereka berpengaruh efektif pada performa pengajar.

Berdasarkan kajian sebelumnya, penelitian tersebut memiliki persamaan dan perbedaan dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti. Perbedaannya terdapat pada lokasi penelitian, jumlah populasi, jumlah sampel dan jumlah variabel penelitian. Persamaan dari penelitian ini yakni sama-sama menggunakan variabel kualifikasi akademik sebagai variabel yang akan digunakan.

2.3

Kerangka Berpikir

Guru merupakan kedudukan yang sangat penting dalam pembelajaran. Untuk dapat melaksanakan tugas dengan baik dalam sistem pendidikan, maka perlu dikembangkan guru yang profesional dengan memiliki syarat tertentu, di antaranya adalah harus memiliki kualifikasi dan kompetensi. Kualifikasi berhubungan erat terhadap kinerja guru dalam menjalankan tugasnya. Kualifikasi dapat menunjukkan kredibilitas dalam melaksanakan tugas yang dimilikinya. Dengan demikian, kualifikasi seorang guru yang tinggi tentu dianggap memiliki kinerja guru yang tinggi pula.


(54)

Gambar 2.1 Kerangka Berpikir Keterangan:

Variabel Bebas (X) adalah Kualifikasi Akademik, dengan indikator meliputi: 1) Kualifikasi Akademik minimum DIV/S 1

2) Latar belakang pendidikan yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan 3) Sertifikasi profesi guru

Variabel Terikat (Y) adalah Kinerja Guru, dengan indikator meliputi: 1) Perencanaan Pembelajaran

2) Pelaksanaan Pembelajaran 3) Evaluasi Pembelajaran

2.4

Hipotesis Penelitian

Riduwan (2013:9), hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah atau sub masalah yang diajukan oleh peneliti, yang dijabarkan

Kualifikasi Akademik (X) - Kualifikasi Akademik minimum

DIV/S 1

- Latar belakang pendidikan yang sesuai dengan mata pelajaran yang diajarkan

- Sertifikasi profesi guru

Kinerja Guru ( Y ) - Perencanaan

Pembelajaran - Pelaksanaan

Pembelajaran - Evaluasi


(55)

dari landasan teori atau kajian teori dan masih harus diuji kebenarannya. Dalam penelitian ini dikemukakan:

H0 : Tidak ada pengaruh yang signifikan antara kualifikasi akademik terhadap kinerja guru SD Dabin I dan IV Kecamatan Pituruh Kabupaten Purworejo.

Ha : Ada pengaruh yang signifikan antara kualifikasi akademik terhadap kinerja guru SD Dabin I dan IV Kecamatan Pituruh Kabupaten Purworejo.


(56)

41

BAB 3

METODE PENELITIAN

Bagian metodologi penelitian berisi penjelasan tentang hal-hal yang berkaitan dengan metode yang digunakan dalam penelitian ini. Hal-hal tersebut antara lain : desain penelitian; variabel penelitian; populasi dan sampel; definisi operasional; teknik pengumpulan data; instrumen penelitian; dan analisis data. Berikut uraian selengkapnya:

3.1

Desain Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian ex post facto. Sugiyono (1997) dalam Riduwan (2013:50) mengatakan

“penelitian ex post facto adalah suatu penelitian yang dilakukan untuk meneliti peristiwa yang telah terjadi dan kemudian melihat ke belakang untuk mengetahui faktor-faktor yang dapat menimbulkan kejadian tersebut”.

Kerlinger (1973) dalam Emzir (2012:119) menyatakan “penelitian

kausal komparatif (causal comparative research) yang disebut juga sebagai penelitian ex post facto adalah penyelidikan empiris yang sistematis dimana ilmuwan tidak mengendalikan variabel bebas secara langsung karena variabel tersebut telah terjadi, atau karena variabel tersebut pada dasarnya tidak dapat

dimanipulasi”. Sedang Gay dalam Emzir (2012: 119) mengatakan ”penelitian ex post facto adalah penelitian dimana peneliti berusaha menentukan penyebab atau


(57)

alasan, untuk keberadaan perbedaan dalam perilaku atau status dalam kelompok

individu”.

Berdasarkan pengertian para ahli tersebut, dapat disimpulkan bahwa penelitian ex post facto merupakan penelitian yang dilakukan umtuk meneliti peristiwa yang telah terjadi dan kemudian melihat ke belakang untuk mengetahui penyebab atau alasan kejadian tersebut, sehingga variabel tersebut tidak dapat dimanipulasi.

Gambar 3.1 Gambar Desain Penelitian

3.2

Variabel Penelitian

“Variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang,

obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya”, (Sugiyono, 2014:3). Dalam penelitian ini terdapat satu variabel bebas dan satu variabel terikat, yaitu:

3.2.1 Variabel Bebas (Independen)

Sugiyono (2014: 4) menerangkan bahwa, “variabel bebas adalah merupakan variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat)”. Dalam penelitian ini variabel bebasnya adalah kualifikasi akademik guru (X).


(58)

3.2.2 Variabel Terikat (Dependen)

Sugiyono (2014: 4) menjelaskan bahwa “variabel terikat merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas”. Variabel terikat (Y) dalam penelitian ini adalah kinerja guru SD daerah binaan I dan IV Kecamatan Pituruh Kabupaten Purworejo.

3.3

Populasi dan Sampel

3.3.1 Populasi

Sugiyono (2014: 61) menjelaskan bahwa, “populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek/subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya”. Sedang Riduwan (2013:54) menyatakan “populasi merupakan obyek atau subyek yang berada dalam pada suatu wilayah dan memenuhi syarat-syarat tertentu berkaitan dengan masalah penelitian.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh guru SD Dabin I dan IV Kecamatan Pituruh Kabupaten Purworejo tahun ajaran 2014/2015 yaitu sebanyak 16 SD dengan kualifikasi akademik minimal Diploma berjumlah 115 orang. Daftar nama populasi dapat dilihat pada lampiran 2.

Tabel 3.1 Populasi Penelitian

Sekolah Dasar Jumlah Guru

SD Negeri Tersidilor 8 orang

SD Negeri Blekatuk 7 orang

SD Negeri Keburusan 7 orang

SD Negeri Tapen 6 orang

SD Negeri Wonoyoso 6 orang


(59)

Sekolah Dasar Jumlah Guru

SD Negeri Sumber 8 orang

SD Negeri Tunjungtejo 8 orang SD Negeri Megulungkidul 8 orang SD Negeri Megulunglor 9 orang SD Negeri Munggangsari 6 orang

SD Negeri Sepathi 8 orang

SD Negeri 1 Prapaglor 7 orang SD Negeri 2 Prapaglor 7 orang

SD Negeri Sawangan 4 orang

SD Negeri Somogede 9 orang

Jumlah 115 orang

Sumber : Data survei Sekolah Dasar Dabin I dan IV Kecamatan Pituruh Kabupaten Purworejo tahun ajaran 2014/2015

3.3.2 Sampel

Sugiono (2013:120) menjelaskan bahwa sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki populasi tersebut. Bila populasi besar, dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, misalnya karena keterbatasan dana, tenaga dan waktu, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi itu. Apa yang dipelajari dari sampel itu, kesimpulannya akan dapat diberlakukan untuk populasi. Untuk itu sampel yang diambil dari populasi harus betul-betul representatif (mewakili).

Riduwan (2013:11) menjelaskan bahwa teknik pengambilan sampel atau teknik sampling adalah suatu cara mengambil sampel yang representatif dari populasi. Teknik pengambilan sampel penelitian ini menggunakan probability sampling dengan jenis simple random sampling merupakan teknik pengambilan sampel yang dilakukan secara undian. Pengambilan sampel peneliti menggunakan tabel Issac dan Michael dengan taraf signifikansi α = 0,05 (5%). Telah diketahui


(60)

jumlah populasi adalah 115 orang maka dengan melihat tabel Issac dan Michael

jumlah anggota sampel yang dapat diambil adalah 92 orang.

Arikunto (2013: 182) bahwa “ada kalanya banyaknya subjek yang terdapat pada setiap wilayah tidak sama. Oleh karena itu, untuk memperoleh sampel yang representatif, pengambilan subjek dari setiap wilayah ditentukan seimbang atau sebanding (proporsional) dengan banyaknya subjek dalam masing-masing wilayah”. Dalam penelitian ini, sampel yang akan diambil berupa sampel proporsi atau proportional sampel karena populasi guru di setiap sekolah berbeda. Daftar sampel dapat dilihat pada lampiran 3. Pengambilan sampel ini menggunakan rumus:

ni = x n Keterangan:

ni : sampel setiap sekolah n : jumlah sampel seluruhnya Ni : populasi setiap sekolah N : jumlah populasi seluruhnya

(Riduwan, 2012: 18) Tabel 3.2 Penarikan Sampel Guru

No. Sekolah Dasar

Jumlah Populasi

Guru

Sampel

1. SD Negeri Tersidilor 8 orang 8 / 115 x 93 = 6,46 = 6 2. SD Negeri Blekatuk 7 orang 7 / 115 x 93 = 5,66 = 6 3. SD Negeri Keburusan 7 orang 7 / 115 x 93 = 5,66 = 6 4. SD Negeri Tapen 6 orang 6 / 115 x 93 = 4,85 = 5 5. SD Negeri Wonoyoso 6 orang 6 / 115 x 93 = 4,85 = 5 6. SD Negeri Tasikmadu 7 orang 7 / 115 x 93 = 5,66 = 6


(61)

No. Sekolah Dasar

Jumlah Populasi

Guru

Sampel

7. SD Negeri Sumber 8 orang 8 / 115 x 93 = 6,46 = 6 8. SD Negeri Tunjungtejo 8 orang 8 / 115 x 93 = 6,46 = 6 9. SD Negeri Megulungkidul 8 orang 8 / 115 x 93 = 6,46 = 6 10. SD Negeri Megulunglor 9 orang 9 / 115 x 93 = 7,27 = 7 11. SD Negeri Munggangsari 6 orang 6 / 115 x 93 = 4,85 = 5 12. SD Negeri Sepathi 8 orang 8 / 115 x 93 = 6,46 = 6 13. SD Negeri 1 Prapaglor 7 orang 7 / 115 x 93 = 5,66 = 6 14. SD Negeri 2 Prapaglor 7 orang 7 / 115 x 93 = 5,66 = 6 15. SD Negeri Sawangan 4 orang 4 / 115 x 93 = 3,23 = 3 16. SD Negeri Somogede 9 orang 9 / 115 x 93 = 7,27 = 7

Jumlah 115 orang 92 orang

Sumber: Data diolah 2015

Sugiyono (2014: 73) menyatakan bahwa apabila dalam perhitungan sampel menghasilkan pecahan (terdapat koma) sebaiknya dibulatkan ke atas agar sampel yang diambil lebih aman. Oleh karena itu sampel yang akan diambil adalah 92 orang.

3.4

Definisi Operasional

Variabel dalam penelitian ini terdiri atas kualifikasi akademik sebagai variabel bebas dan kinerja guru sebagai variabel terikat. Definisi operasional dari kedua variabel tersebut, yaitu:

3.4.1 Kualifikasi Akademik

Kualifikasi akademik didefinisikan sebagai ijazah jenjang pendidikan akademik yang harus dimiliki oleh guru (Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pasal 1 ayat 9). Dimensi yang digunakan dalam pengukuran penilaian variabel kualifikasi akademik yaitu (1) ijazah formal


(62)

pendidikan terakhir, (2) relevansi jurusan pendidikan yang diampu, (3) memiliki sertifikasi keahlian mengajar.

3.4.2 Kinerja Guru

Kinerja guru kinerja guru adalah kemampuan guru dalam menjalankan tugas pembelajaran sesuai tugas dan wewenangnya. Rachmawati dan Daryanto (2013:121-126) menjelaskan Georgia Departemen of Education telah mengembangkan teacher performance assesment instrument yang dimodifikasi oleh Depdiknas yaitu Alat Penilaian Kemampuan Guru (APKG). Indikator penilaian kinerja guru dilakukan terhadap kegiatan pembelajaran di kelas yaitu perencanaan kegiatan pembelajaran, pelaksanaan kegiatan pembelajaran dan evaluasi/penilaian pembelajaran.

3.5

Teknik Pengumpulan Data

“Metode pengumpulan data ialah teknik atau cara-cara yang dapat

digunakan oleh peneliti untuk mengumpulkan data”, (Riduwan, 2012:69).

Pengumpulan data dilakukan dengan teknik yang tepat agar diperoleh data yang sesuai kebutuhan penelitian. Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara tidak terstrukur, angket atau kuesioner dan dokumentasi.

3.5.1 Wawancara

Wawancara atau interviu adalah suatu bentuk komunikasi verbal semacam percakapan yang brtujuan memperoleh informasi (Nasution, 2009:113). Dalam wawancara, pertanyaan dan jawaban diberikan secara verbal. Biasanya


(63)

komunikasi ini dilakukan dalam keadaan saling berhadapan, namun komunikasi dapat juga dilaksanakan melalui telepon. Hubungan antara peninterviu dan yang diinterviu bersifat sementara yaitu berlangsung dalam jangka waktu tertentu an kemudian diakhiri. Dalam ininterviu, peneliti menerima informasi yang diberikan oleh informan tanpa membantah, mengecam, menyetujui atau tidak menyetujuinya. Interviu bertujuan untuk memperoleh data yang dapat diperoleh untuk memperoleh generalisasi atau hal-hal bersifat umum. Tujuan bagi peneliti adalah menemukan prinsip yang lebih obyektif.

Nasution (2009:115) wawancara dapat dibagi dalam sejumlah jenis menurut berbagai caranya, yakni : menurut fungsinya yaitu diagnotik, therapeutik dan penelitian; menurut jumlah responden yaitu individual dan kelompok; menurut lama interviu yakni singkat dan panjang; menurut perana pewawancara dan responden yakni terbuka, tak berstruktur, bebas, non directive atau client centered dan tertutup, berstruktur.Wawancara yang digunakan dalam penelitian ini dalah wawancara tak berstruktur atau bebas.

Dalam wawancara tak berstruktur ini, peneliti tidak mencatat daftar pertanyaan sebelumnya namun hanya mencatat bagian-bagian penting yang perlu ditanyakan sesuai tujuan wawancara. Peneliti melakukan interviu kepada Kepala Sekolah di beberapa SD Dabin I dan IV, salah satunya yakni Bapak Suparno, S.Pd selaku Kepala Sekolah SD Negeri Munggangsari. Responden boleh menjawab secara bebas menurut isi hati atau pikirannya. Lama interviu juga tidak ditentukan dan diakhiri sesuai keinginan pewawancara.


(1)

(2)

Gambar 1 Bersama Kepala SD Negeri Tersidilor

Gambar 2 Bersama Kepala SD Negeri Blekatuk


(3)

Gambar 4 Bersama Kepala SD Negeri Tapen

Gambar 5 Bersama Kepala SD Negeri Wonoyoso

Gambar 6 Bersama Kepala SD Negeri Tasikmadu


(4)

Gambar 8 Bersama Kepala SD Negeri Tunjungtejo

Gambar 9 Bersama Kepala SD Negeri Megulungkidul

Gambar 10 Bersama Kepala SD Negeri Megulunglor


(5)

Gambar 12 Bersama Kepala SD Negeri Sepathi

Gambar 13 Bersama Kepala SD Negeri 1 Prapaglor

Gambar 14 Bersama Kepala SD Negeri 2 Prapaglor


(6)