Infeksi Cacing A. lumbricoides siswa-siswi SDN 060923 Kecamatan Medan Amplas

Berdasarkan analisa tabel di atas, didapatkan dari 28 subjek penelitian yang terinfeksi cacing A. lumbricoides 4 subjek mengalami kenaikan eosinofilia dengan rentang 4-5, 17 subjek mengalami kenaikan eosinofilia dengan rentang 6-9 dan 7 subjek mengalami kenaikan eosinofilia lebih dari 9 dari total seluruh hitung jenis sel leukosit darahnya. Berdasarkan hasil analisa statistik dengan menggunakan uji Chi – Square diperoleh p = 0,01 yang artinya p 0,05 dapat dikatakan bahwa ada hubungan bermakna antara Infeksi cacing A. lumbricoides Askariasis dengan kadar eosinofil.

5.3 Pembahasan Hasil Penelitian

5.3.1 Infeksi Cacing A. lumbricoides siswa-siswi SDN 060923 Kecamatan Medan Amplas

Hasil penelitian pada siswa SDN 060923 Medan Amplas menunjukkan bahwa dari 55 sampel yang dilakukan pemeriksaan feses di Laboratorium FK USU didapatkan sebanyak 28 sampel yang positif terinfeksi cacing Ascaris lumbricoides. Dari 28 sampel yang positif terdapat 15 siswa laki-laki dan 13 siswa perempuan. Dapat disimpulkan bahwa siswa yang positif terinfeksi cacing Ascaris lumbricoides kebanyakan siswa laki-laki. Hal ini dapat disebabkan karena siswa laki-laki kurang menjaga higienitas pribadi, Menurut penelitian Nanda, 2011 didapatkan subjek yang mengalami infeksi cacing sebanyak 14 orang 11,4 . Siswa yang terinfeksi cacing Ascaris lumbricoides sebanyak 10 orang 8,8, Trichuris trichiura 3 orang 2,6, dan Cacing Tambang 1 orang 2,6 . Hasil penelitian pada murid sekolah dasar wajib belajar di wilayah Jakarta Utara sebanyak 102 sampel yang positif telur cacing sebanyak 50 49,02 , Jakarta Selatan sebanyak 123 sampel yang positif telur cacing sebanyak 19 15,45 . Dari hasil penelitian Teresia,2013 dkk jumlah sampel yang terinfeksi 14 sampel dari 80 sampel atau sekitar 14,75 . Hal ini disebabkan karena anak usia Universitas Sumatera Utara sekolah dasar SD merupakan golongan paling rentan terhadap cacingan, karena perilaku anak-anak yang tidak sehat antara lain sebelum makan dan sesudah buang air besar tidak cuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir, kuku dibiarkan kotor dan bermain tanah di sekitar rumah. Perbedaan angka infeksi kecacingan pada masing-masing penelitian ini kemungkinan disebabkan oleh berbagai faktor seperti kondisi sanitasi lingkungan, kebersihan diri perseorangan dan kondisi sekitar lingkungan tempat tinggal. Pada Ascaris lumbricoides dalam lingkungan yang sesuai 20- 2 ℃ telur yang dibuahi tumbuh menjadi bentuk infektif dalam waktu kurang dari 3 minggu. Bentuk infektif ini bila tertelan manusia, akan menetas menjadi larva di usus halus kemudian masuk ke usus besar menjadi dewasa dan menetap. Usia anak sekolah paling rentan terjadi infeksi kecacingan karena aktivitas bermain dilakukan kontak dengan tanah diluar lingkungan sekolah yang tidak diimbangi dengan kebiasaan mencuci tangan. Hal ini mengakibatkan telur Ascaris menempel di tangan akan tertelan ketika tangan yang sudah terinfeksi masuk ke mulut. Selain kebiasaan bermain dengan tanah, kebiasaan mencuci tangan sebelum makan juga dapat mempengaruhi terjadinya infeksi cacing. Usia anak sekolah biasanya sering memasukkan tangan mereka ke dalam mulut atau makan tanpa mencuci tangan terlebih dahulu setelah kontak dengan tanah. Akibatnya telur-telur yang tertelan akan berkembang di usus.

5.3.2 Kadar Eosinofil siswa-siwi SDN 060923 Kecamatan Medan Amplas