Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keterlambatan Proyek Konstruksi (Studi Kasus : Proyek Pembangunan Jembatan Rel Kereta Api di Kuala Tanjung – Sumatera Utara)

(1)

TUGAS AKHIR

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI

KETERLAMBATAN PROYEK KONSTRUKSI

(STUDI KASUS : Proyek Pembangunan Jembatan Rel Kereta Api di Kuala Tanjung – Sumatera Utara)

TUGAS AKHIR

Diajukan untuk melengkapi syarat penyelesaian Pendidikan sarjana Teknik Sipil

Oleh :

Muhammad Nur Irsyad

09 0404 187

Dosen Pembimbing I :

Ir. Syahrizal, M.T

NIP. 19611231 198811 1 001 Dosen Pembimbing II :

Ir.Andy Putra Rambe, M.B.A

NIP. 19680429 199703 1 002

DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL

FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN


(2)

ABSTRAK

Keterlambatan proyek akan menyebabkan kerugian bagi pihak – pihak terkait terutama pemilik dan kontraktor, karena umumnya disertai konflik. Salah satu bentuk dari perencanaan suatu proyek adalah penjadwalan proyek. Penjadwalan proyek merupakan salah satu elemen hasil perencanaan, yang dapat memberikan informasi tentang jadwal rencana dan kemajuan proyek dalam hal kinerja sumber daya berupa biaya, tenaga kerja, peralatan dan material serta rencana durasi proyek dengan progres waktu untuk penyelesaian proyek.

Proyek pada umumnya memiliki batas waktu (deadline), artinya proyek harus diselesaikan sebelum atau tepat pada waktu yang telah ditentukan. Namun pada kenyataannya di lapangan, suatu proyek tidak selalu berjalan sesuai dengan penjadwalan yang telah dibuat. Ada banyak faktor yang mengakibatkan hal tersebut terjadinya salah satu yang paling sering terjadi adalah karena turunnya hujan yang mengakibatkan proses kegiatan konstruksi harus ditunda. Keterlambatan waktu proyek yang terjadi selama pelaksanaan konstruksi dapat menjadi masalah besar untuk kontraktor, karena pada pihak owner pasti sangat tidak menginginkan terjadinya keterlambatan pada proyek. Maka disini kontraktor dituntut untuk mengatur strategi agar proyek dapat selesai sesuai atau sebelum jadwal yang telah disepakati.

Adapun tujuan penilitian ini adalah untuk meninjau faktor yang mempengaruhi keterlambatan proyek konstruksi dan faktor intensitas terjadinya penyebab keterlambatan proyek konstruksi. Dengan menggunakan program SPSS, faktor yang paling mempengaruhi keterlambatan proyek adalah Pengaruh perencanaan dan penjadwalan pekerjaan (X1) dengan nilai rata 0,636.


(3)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya ucapkan kepada Allah SWT, karena atas rahmat karunia-Nya, serta dukungan dari berbagai pihak, sehingga saya dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini dengan baik. Sholawat dan Salam tidak lupa pula saya curahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW, yang telah membawa kita menuju alam yang terang benderang akan ilmu pengetahuan seperti saat ini.
Tugas Akhir ini berjudul “ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KETERLAMBATAN PROYEK KONSTRUKSI” Tugas akhir ini disusun sebagai salah satu syarat menempuh jenjang pendidikan Strata Satu (S-1) pada Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara.

Untuk dapat menyelesaikan Tugas Akhir ini, tentunya tidak dapat terlepas dari segala hambatan dan rintangan, namun berkat bantuan moril maupun materil dari berbagai pihak serta dukungan dan saran dari berbagai pihak, akhirnya Tugas Akhir ini dapat diselesaikan dengan baik. Untuk tidak berlebihan kiranya dalam kesempatan ini saya mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Ing. Johannes Tarigan, selaku Ketua Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara

2. Bapak Ir. Syahrizal, MT., selaku Sekretaris Departemen Teknik Sipil dan juga selaku dosen pembimbing yang telah memberikan begitu banyak ilmu yang tak ternilai harganya serta masukan-masukan, tenaga, pikiran yang dapat membimbing saya sehingga terselesaikannya Tugas Akhir ini.


(4)

3. Bapak/Ibu Dosen Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas 
Sumatera Utara, terutama kepada Ir.Andy Putra Rambe, MT selaku sebagai Co-Pembimbing yang telah memberikan banyak sekali ilmu yang bermanfaat selama saya menempuh pendidikan di Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara.

4. Bapak/Ibu Staf TU Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas 
Sumatera Utara, yang telah memberikan bantuan dalam proses administrasi selama saya menempuh pendidikan di Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara.

5. Teristimewa di hati buat keluarga saya, terutama kepada kedua orang tua saya, Ibnu Khaldun dan Nurbaini yang telah memberikan doa, motivasi, semangat dan nasihat kepada saya. Terimas kasih yang tak terhingga atas segala pengorbanan, cinta, kasih sayang, dan doa yang tiada batas untuk Abang saya Dr. Muhammad Nur Ikbal, Adik saya Khalidazia, Se, Adik saya Nadika Azzahra. Dan juga buat keluarga saya yang telah banyak membantu dan mendukung saya selama ini terima kasih atas doanya. 6. Teman mahasiswa seperjuangan 2009, terutama buat Gustara Iqbal, Hafiz

Maulana Lida, Mohammad Fandhu Al-Addiat, Khibran Samudra, Muhammad Rizk Tamba, Muhammad Fakhru Rozi, Rizky Utama, Teuku Diputra Kerliansyah, Bambang Kennedy, Dewi Tambunan, Yusuf Aulia Lubis, Onza Tiranda, Willy BJS, Mario Sitohang, Ersawaty Limbong, makasih ya dan buat stambuk 2009 yang tidak bisa di ketik satu-satu. 7. Abang dan Kakak Senior saya terumata Indra Jaya, ST.MT dan Gejond,ST


(5)

dukungan untuk menyelesaikan Tugas Akhir ini.

8. Adik-adik mahasiswa stambuk 2010, 2012 dan 2013 yang telah banyak membantu memberikan dukungan untuk menyelesaikan Tugas Akhir ini. Saya menyadari bahwa Tugas Akhir ini masih jauh dari sempurna,

sehingga saya mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk menambah pengetahuan dan wawasan saya di masa depan.

Akhirnya saya berharap semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi saya dan rekan-rekan serta adik-adik di Departemen Teknik Sipil, Fakultas Teknik, Universitas Sumatera Utara.

Medan, ………2015


(6)

DAFTAR ISI

ABSTRAK...i

KATAPENGANTAR...ii

DAFTAR ISI...v

DAFTAR GAMBAR...viii

DAFTAR TABEL...ix

DAFTAR RUMUS...x

BAB I PENDAHULUAN...1

1.1 Latar Belakang...1

1.2 Rumusan Masalah...4

1.3 Tujuan Penelitian...4

1.4 Manfaat Penelitian...5

1.5 Batasan Masalah...5

1.6 Metodologi Penilitan...6

1.7 Sistematika Penulisan...7

BAB II LANDASAN TEORI...9

2.1 Pendahuluan...9

2.2 Review Penelitian Sebelumnya...9

2.3 Manajemen Proyek...13

2.4 Manajemen Waktu...14

2.4.1 Definisi Kegiatan...14

2.4.2 Urutan Kegiatan...14

2.4.3 Perhitungan Sumber Daya ...15

2.4.4 Perhitungan Durasi Kegiatan...15

2.4.5 Pengembangan Jadwal...15

2.4.6 Pengendalian Jadwal...15

2.5 Penjadwalan...16

2.5.1 Definisi Penjadwalan...16


(7)

2.6 Keterlambatan...18

2.6.1 Pengertian Keterlambatan Proyek...18

2.6.2 Penyebab Keterlambatan...20

2.6.3 Dampak Keterlambatan...22

2.6.4 Tipe Keterlambatan...23

2.5.5 Mengatasi Keterlambatan...26

2.7 Kinerja Waktu...27

2.8 Hubungan Biaya Terhadap Waktu...28

2.9 Pengumpulan data...29

2.10 Uji Validitas...33

2.11 Analisis Korelasi...35

2.12 Uji Reliabilitas ...36

2.13 Program dan Cara Kerja SPSS (Statistical Program and Service Solution)...36

BAB III METODOLOGI PENELITIAN...39

3.1 Pendahuluan ...39

3.2 Variabel Penelitian...39

3.3 Instrumen Penilitian...40

3.4 Proses Penelitian ...41

3.5 Bagan Alir Penelitian...45

BAB IV ANALISA DAN PEMBAHASAN...46

4.1 Pelaksanaan Penelitian ...46

4.2. Hasil Penelitian ...46

4.2.1 Hasil Kuesioner...47

4.3 Uji Validitas ...49

4.4 Analisis Korelasi...51

4.5 Uji Reliabilitas ...52

4.6 Faktor-Faktor Utama Penyebab Keterlambatan ...52

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN...56

5.1 Kesimpulan ...56

5.2 Saran ...57


(8)

(9)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Grafik hubungan waktu dengan biaya total,biaya langsung dan biaya tak langsung………..29 Gambar 2.2 Cara Kerja Proses Perhitngan dengan SPSS………..…..….37 Gambar 3.1 Bagan Alir Penelitian………...………...45


(10)

DAFTAR TABEL

Tabel 3.1 Variabel Penilitian………….………40

Tabel 3.2 Instrumen Penilitian………...……….41

Tabel 3.3 Skala Penilaian Kuesioner..………...…42

Tabel 4.1 Profil Responden………...…...….46

Tabel 4.2 Hasil Tabulasi Kuesioner………...…47

Tabel 4.3 Tabel Hasil Uji Validitas………...…………50

Tabel 4.4 Tabel Hasil Uji Korelasi………51

Tabel 4.5 Tabel Hasil Uji Reliabilitas………...……....52


(11)

DAFTAR RUMUS

Rumus 2.1 Menghitung Koefisien Korelasi Product Momen……….…...34 Rumus 2.2 Menghitung Reliabilitas Dengan Analisis Alpha Cronbach...36


(12)

ABSTRAK

Keterlambatan proyek akan menyebabkan kerugian bagi pihak – pihak terkait terutama pemilik dan kontraktor, karena umumnya disertai konflik. Salah satu bentuk dari perencanaan suatu proyek adalah penjadwalan proyek. Penjadwalan proyek merupakan salah satu elemen hasil perencanaan, yang dapat memberikan informasi tentang jadwal rencana dan kemajuan proyek dalam hal kinerja sumber daya berupa biaya, tenaga kerja, peralatan dan material serta rencana durasi proyek dengan progres waktu untuk penyelesaian proyek.

Proyek pada umumnya memiliki batas waktu (deadline), artinya proyek harus diselesaikan sebelum atau tepat pada waktu yang telah ditentukan. Namun pada kenyataannya di lapangan, suatu proyek tidak selalu berjalan sesuai dengan penjadwalan yang telah dibuat. Ada banyak faktor yang mengakibatkan hal tersebut terjadinya salah satu yang paling sering terjadi adalah karena turunnya hujan yang mengakibatkan proses kegiatan konstruksi harus ditunda. Keterlambatan waktu proyek yang terjadi selama pelaksanaan konstruksi dapat menjadi masalah besar untuk kontraktor, karena pada pihak owner pasti sangat tidak menginginkan terjadinya keterlambatan pada proyek. Maka disini kontraktor dituntut untuk mengatur strategi agar proyek dapat selesai sesuai atau sebelum jadwal yang telah disepakati.

Adapun tujuan penilitian ini adalah untuk meninjau faktor yang mempengaruhi keterlambatan proyek konstruksi dan faktor intensitas terjadinya penyebab keterlambatan proyek konstruksi. Dengan menggunakan program SPSS, faktor yang paling mempengaruhi keterlambatan proyek adalah Pengaruh perencanaan dan penjadwalan pekerjaan (X1) dengan nilai rata 0,636.


(13)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Proyek konstruksi merupakan suatu rangkaian kegiatan yang hanya satu kali dilaksanakan dan umumnya berjangka waktu tertentu dengan sumber daya yang terbatas dan di tuntut untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan sesuati waktu, mutu dan biaya dilokasikan. Dalam rangkaian kegiatan tersebut, terdapat suatu proses yang mengolah sumber daya proyek menjadi suatu hasil kegiatan yang berupa bangunan. Proses yang terjadi dalam rangkaian kegiatan tersebut tentunya melibatkan pihak-pihak yang terkait, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sumber daya merupakan faktor penentu dalam keberhasilan suatu proyek kontruksi. Sumber daya yang berpengaruh dalam proyek terdiri dari man, materials, machine, money dan method.

Dewasa ini sering kita temukan proyek konstruksi yang melakukan pekerjaan - pekerjaan yang sama dan berkelanjutan pada satu proyek. Sehingga kebutuhan akan pemakaian sumber daya juga berkelanjutan, seperti pembangunan rumah-rumah pada proyek - proyek perumah-rumahan, ruas – ruas jalan pada proyek jalan raya, proyek pemasangan pipa dan sebagainya.

Keterlambatan proyek akan menyebabkan kerugian bagi pihak – pihak terkait terutama pemilik dan kontraktor, karena umumnya disertai konflik. Salah satu bentuk dari perencanaan suatu proyek adalah penjadwalan proyek. Penjadwalan proyek merupakan salah satu elemen hasil perencanaan, yang dapat memberikan informasi tentang jadwal rencana dan kemajuan proyek dalam hal


(14)

kinerja sumber daya berupa biaya, tenaga kerja, peralatan dan material serta rencana durasi proyek dengan progress waktu untuk penyelesaian proyek.

Proyek pada umumnya memiliki batas waktu (deadline), artinya proyek harus diselesaikan sebelum atau tepat pada waktu yang telah ditentukan. Namun pada kenyataannya di lapangan, suatu proyek tidak selalu berjalan sesuai dengan penjadwalan yang telah dibuat. Ada banyak faktor yang mengakibatkan hal tersebut terjadinya salah satu yang paling sering terjadi adalah karena turunnya hujan yang mengakibatkan proses kegiatan konstruksi harus ditunda. Keterlambatan waktu proyek yang terjadi selama pelaksanaan konstruksi dapat menjadi masalah besar untuk kontraktor, karena pada pihak owner pasti sangat tidak menginginkan terjadinya keterlambatan pada proyek. Maka disini kontraktor dituntut untuk mengatur strategi agar proyek dapat selesai sesuai atau sebelum jadwal yang telah disepakati.

Keterlambatan Proyek (Construction delay) diartikan sebagai penundaan penyelesaian pekerjaan sesuai kontrak kerja dimana secara hukum melibatkan beberapa situasi yang menyebabkan timbulnya klaim. Keterlambatan proyek timbul ketika kontraktor tidak dapat menyelesaikan proyek sesuai dengan waktu yang tercantum dalam kontrak. Waktu kontrak (Contract Time) merupakan maksimum waktu yang di perlukan oleh kontraktor untuk menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan dokumen kontrak (Wijayanthi, 2005)

Dalam pekerjaan konstruksi. Penundaan biasa digambarkan sebagai kelebihan waktu baik di luar tanggal kontrak maupun di luar tanggal ketika di setujui untuk penyerahan dari suatu proyek (Menesi, 2007). Merangkum penelitian yang diperoleh oleh para peneliti tersebut, maka dihimpun sebagai


(15)

jenis penyebab keterlambatan yang didapat dikelompokkan dalam 3 kategori bentuk keterlambatan, yakni:

a. Keterlambatan yang layak mendapatkan ganti rugi (Compensable delay)

b. Keterlambatan yang tidak dapat dimaafkan (Non- Excusable Delays)

c. Keterlambatan yang dapat dimaafkan (Excusable delays)

Ada tiga tahap yang harus dilakukan dalam manajemen proyek yaitu:

a. Perencanaan (Planning); Mencakup penetapan sasaran. Pendefinisian proyek dan organisasi tim.

b. Penjadwalan (Schedulling); Menghubungkan antara tenaga kerja, uang, bahan yang digunakan dalam proyek

c. Pengendalian (Controlling); Pengawasan sumber daya, biaya, kualitas dan budgjet, jika perlu merevisi, ubah rencana, menggeser atau menglola uang sehingga tepat waktu dan biaya.

Di dalam proses manajemen pelaksanaan pekerjaan proyek konstruksi, berbagai jenis keterlambatan proyek diklasifikasikan dalam 6 aspek kajian yakni:

1. Aspek Perencanaan dan Penjadwalan pekerjaan 2. Aspek Lingkup dan Dokumen Pekerjaan

3. Aspek Orginasi, Koordinasi dan Komunikasi 4. Aspek Kesiapaan/ Penyiapan Sumber Daya


(16)

5. Aspek Sistem Inspeksi, Kontrol dan Evaluasi Pekerjaan 6. Aspek Force Majeure

Berdasarkan permasalahan tersebut, penulis akan melakukan sebuah penelitian tentang faktor – faktor keterlembatan pada sebuah proyek pembangunan Jembatan Rel Kereta Api yang sedang berlangsung di Kota Kuala Tanjung – Sumatera Utara.

1.2 Rumusan Masalah

Dengan memperhatikan hal-hal yang telah dijelaskan dalam latarbelakang, maka muncul permasalahan sebagai berikut:

1. Faktor apa yang paling berpengaruh terhadap keterlambatan proyek konstruksi di kota Kuala Tanjung?

2. Bagaimanakah tingkatan faktor – faktor penyebab keterlambatan proyek di konstruksi di kota Kuala Tanjung?

1.3 Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini dilakukan untuk :

1. Untuk mengetahui faktor yang paling berpengaruh terhadap keterlambatan proyek kontruksi di kota Kuala Tanjung.

2. Untuk mengetahui tingkatan faktor – faktor penyebab keterlambatan proyek konstruksi di kota Kuala Tanjung.

1.4 Manfaat Penelitian

Adapun Manfaat dari penelitian ini adalah:

1. Penelitian ini bermanfaat bagi penulis dan juga sebagai masukan bagi pihak pihak yang terlibat, perusahaan kontraktor, pemilik , sehingga


(17)

dapat meminimalkan keterlambatan pada pelaksaan proyek jembatan dan sejenisnya yang akan datang.

2. Untuk mengatasi kekurangan-kekurangan yang ada pada proses perencaan dan penjadwalan pekerjaan, sehingga keterlambatan dapat dikendalikan lebih dini dalam tahap pelaksanaan proyek jembatan. 3. Bagi akademisi, dapat menjadi bahan bacaan dan literature untuk

penulisan karya ilmiah yang berhubungan dengan keterlambatan proyek sehingga dapat diketahui faktor-faktor penyebab keterlambatan tersebut.

1.5Batasan Masalah

Setiap proyek mempunyai tujuan khusus, misalnya membangun rumah tinggal gedung, jembatan dan lainnya. Dalam proses tersebut, ada batasan yang harus dipenuhi, yaitu:

1. Biaya (anggaran) proyek, tidak melebihi batas yang telah direncanakan atau telah disepakati sebelumnya atau sesuai dengan kontrak suatu pelaksanaan pekerjaan.

2. Mutu pekerjaan, mutu hasil akhir pekerjaan dan proses/ cara pelakasanaan pekerjaan harus memenuhi standar tertentu sesuai dengan kesepakatan, perencanaan ataupun dokumen kontrak pekerjaan.

3. Waktu penyelesaian pekerjaan, harus memenuhi batas waktu yang telah disepekati dalam dokumen perencaan atau dokumen kontrak pekerjaan yang bersangkutan.


(18)

Adapun 6 Aspek manajemen pelaksanaan pekerjaan proyek konstruksi, jenis keterlambatan proyek diklasifikasikan yaitu:

1. Aspek Perencanaan dan Penjadwalan pekerjaan 2. Aspek Lingkup dan Dokumen Pekerjaan

3. Aspek Orginasi, Koordinasi dan Komunikasi 4. Aspek Kesiapaan/ Penyiapan Sumber Daya

5. Aspek Sistem Inspeksi, Kontrol dan Evaluasi Pekerjaan 6. Aspek Force Majeure.

1.6Metodologi Penelitian

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dari observasi melalui wawancara dan menggunakan daftar pertanyaan yang telah disiapkan/ kuisioner, sedangkan data sekunder diperoleh dari dokumen perusahaan serta publikasi lainnya yang memuat informasi yang mendukung penelitian ini. Untuk dapat memperoleh data yang dapat dipercaya, maka daftar pertanyaan (kusioner) disampaikan pada pihak – pihak yang terlibat langsung dalam proses pembangunan proyek konstruksi. Variabel yang dianalisis dalam penelitian ini dibedakan menjadi dependen dan variabel indenpenden.

1. Variabel Dependen (Y) 2. Variabel Indenpenden (X)

a. Variabel (� ) adalah Aspek Perencanaan dan Penjadwalan Pekerjaan.


(19)

c. Variabel (� ) adalah Aspek Sistem Organisasi, Koordinasi dan Komunikasi.

d. Variabel (� ) adalah Aspek Kesiapan/ Penyiapan Sumber Daya.

e. Variabel (� ) adalah Aspek Sistem Inspekasi, Kontrol dan Evaluasi Pekerjaan.

f. Variabel (� ) adalah Aspek Force Majeure. 1.7 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan laporan penelitian ini terdiri dari lima bab. Masing-masing bab dibagi dalam sub bab mengenai pokok pembahasan, kemudian diuraikan dengan tujuan dapat diketahui permasalahan yang dibicarakan. Adapun sistematika penulisan penelitian ini adalah sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

Terdiri dari latar belakang, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penulisan, batasan masalah dan sistematika penulisan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Terdiri dari uraian tentang teori dasar yang digunakan dalam mendukung penelitian ini.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Terdiri dari kerangka pemecahan masalah dan gambaran umum dalam pengumpulan data, pengolahan data serta analisa dari masalah yang diteliti.


(20)

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN

Terdiri dari pembahasan mengenai penyelesaian masalah dikaitkan dengan teori maupun literature secara sistematis

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Terdiri dari kesimpulan hasil penelitian dan saran yang diperlukan atas pembahasan dan penyelesaian masalah yang telah dilakukan serta untuk penelitian lanjut.


(21)

BAB II

LANDASAN TEORI 2.1 Pendahuluan

Setiap proyek konstruksi memiliki rencana jadwal kegiatan dan rencana pembiayaan proyek yang dibuat pada saat proses pekerjaan di lapangan berjalan, tujuan dari pembuatan rencana biaya dan jadwal kegiatan tersebut adalah agar proyek dapat dilaksanakan sesuai dengan acuan yang direncanakan oleh kontraktor. Namun pada pelaksanaanya, sering terjadi perbedaan antara jadwal kegiatan yang sudah direncanakan dengan realisasi yang terjadi di lapangan. Pelaksanaan yang tidak sesuai dengan jadwal dapat mengakibatkan keterlambatan yang akan menyebabkan perubahan pada biaya proyek.

2.2 Review Penelitian Sebelumnya

1. Judul : Analisis Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Keterlambatan Proyek Konstruksi Pembangunan Gedung di Kota Lamongan.

Peneliti : 1. Ariful Bakhtiyar 2. Agoes Soehardjono 3. M. Hamzah Hasyim

Abstrak : “Penelitian sebelumnya adalah bertujuan untuk mengetahui faktor – faktor yang menentukan terjadinya keterlambtan proyek dan intensitas terjadinya, menilai tingkat kepentingan serta mengetahui tingkatan faktor – faktor penyebab keterlambatan proyek konstruksi di kota Lamongan. Sampel yang digunakan adalah Simple Random Sampling (pengambilan sampel secara sederhana/acak). Uji validitas dilakukan dengan metode internal validity metode korelasi Product Moment, dimana


(22)

kriteria – kriteria yang digunakan berasal alat uji itu sendiri dan tiap item variable dikorelasikan dengan nilai total yang diperoleh dari koefisien korelasi produk. Untuk pengujian reliabilitas instrument dengan menggunakan teknik alpha kronbach. Analisis lintas (Path Analysis) digunakan untuk mengetahui tingkatan pengaruh dari faktor – faktor penyebab keterlambatan proyek. Hasil penelitian diklasifikasikan berdasarkan Responden Kontraktor dan Responden Pemilik Pekerjaan.” 2. Judul : Analisis Faktor Penyebab Keterlambatan Penyelesaian Proyek

Gedung .

Peneliti : Suyatno

Abstrak : “Penyedia jasa yang terlibat dalam suatu proyek konstruksi pada

umumnya sangat mengharapkan proyek berjalan sesuai dengan rencana. Namun dalam proses pelaksanaan tersebut, sering terjadi hambatan-hambatan yang tidak diketahui sebelumnya. Untuk itu kiranya perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui faktor-faktor penyebab keterlam batan penyelesaian proyek agar waktu penyelesaian proyek sesuai dengan rencana (tepat waktu). Dari latar belakang tersebut diatas dapat dirumuskan permasalahan yang timbul yaitu : (1) Apa faktor-faktor penyebab keterlambatan penyelesaian proyek, dan (2) Bagaiman peringkat (ranking) dari pada faktor – faktor penyebab keterlambatan penyelesaian proyek tersebut

Tujuan penelitian ini adalah : (1) Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab keterlambatan penyelesaian proyek, (2) Untuk mengetahui peringkat (ranking) menurut persepsi penyedia jasa terhadap faktor -faktor


(23)

penyebab keterlambatan penyelesaian proyek. Penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi penyedia jasa yang ada dieks karidenan Surakarta dan pihak – pihak terkait langsung dengan pengolalaan proyek sehingga keterlambatan penyelesaian proyek-proyek dibawah Dinas Pekerjaan Umum (DPU) dapat diantisipasi pada waktu yang akan datang dan proyek dapat selesai sesuai dengan waktu yang direncanakan (tepat waktu).

Penelitian ini termasuk penelitian survey yaitu penelitian yang menggambil sampel dari suatu populasi dengan menggunakan kuesioner dan wawancara sebagai alat pengumpulan data yang disebarkan kepada responden, memegang jabatan sebagai manajer proyek dan manajer lapanagan dimana jumlah responden adalah 30 (tiga puluh) di Karesidenan Surakarta. Program SPSS dipakai untuk menghitung indeks kepentingan, guna menganalisa peringkat faktor-faktor penyebab kepentingan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa faktor-faktor penyebab keterlambatan penyelesaian proyek-proyek dibawah Dinas Pekerjaan Umum (DPU) di Karesidenan Surakarta yang cukup penting, mempunyai urutan peringkat (ranking) sebagai berikut : (1) Kekurangan tenaga kerja, (2) Kesalahan dalam perencanaan dan spesifikasi, (3) Cuaca buruk/hujan deras/lokasi tergenang, (4) Produktivitas tidak optimal oleh kontraktor, (5) Kesalahan pengelolaan material, dan (6) Perubahan scope pekerjaan oleh konsultan .

Penelitian ini juga menyimpulkan bahwa dari uji Chi Square dan uji model regresi didapati adanya persamaan persepsi pada masing-masing responden terhadap factor penyebab keterlambatan penyelesaian proyek –


(24)

proyek Dinas Pekerjan Umum (PU) diKaresidenan Surakarta, ditinjau dari Jabatan responden, Pengalaman responden, Nilai proyek, Jenis proyek dan Luas lantai bangunan, yaitu dipakai tingkat kepercayaan 95% atau alfa 0.050 = 5% didapat Chi Square hitung < Chi Square tabel atau Asymptotic significance > 0.05, maka H0 diterima, H1 ditolak dan uji regresi diperoleh r hitung lebih besar dari r tabel atau F hitung lebih besar F tabel maka koefisien korelasi ganda yang diuji signifikan, dengan taraf kesalahan 5% maupun 1%. “

3. Judul : Faktor Penyebab Keterlambatan Pekerjaan Konstruksi Bangunan Gedung Beringkat yang Berpengaruh Terhadap Perubahan Anggaran Biaya Pada Pekerjaan Struktur

Peneliti : Ryan Ariefasa

Abstrak : “Penelitian ini membahas faktor penyebab keterlambatan pada

pekerjaan struktur bangunan gedung bertingkat. Pekerjaan struktur menjadi penting karena hampir seluruh komponen yang berada di dalamnya termasuk dalam jalur kritis. Keterlambatan juga memiliki pengaruh terhadap perubahan anggaran biaya yang telah direncanakan. Penelitian ini bertujuan untuk menemukan faktor dominan penyebab keterlambatan pekerjaan struktur bangunan gedung bertingkat, dan berapa besar pengaruh dari keterlambatan tersebut terhadap perubahan RAB struktur. Setelah ditemukan faktor dominan penyebab keterlambatan dan hubungan terhadap perubahan RAB struktur, kemudian dilakukan strategi pengendalian agar efek yang ditimbulkan dapat diminimalisir dan dicegah untuk fase pekerjaan selanjutnya agar proyek dapat berjalan dengan lancar


(25)

dan selesai tepat pada waktu yang telah direncanakan. “

2.3 Manajemen Proyek

Manajemen proyek terdiri dari dua kata yaitu “Manajemen” dan “Proyek”. Menurut Husen (2009), manajemen adalah suatu ilmu pengetahuan tentang seni memimpin organisasi yang terdiri atas kegiatan perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan pengendalian terhadap sumber-sumber daya terbatas dalam usaha mencapai tujuan dan sasaran yang efektif dan efisien.

Manajemen merupakan proses terpadu dimana individu-individu sebagai bagian dari organisasi dilibatkan untuk memelihara, mengembangkan, mengendalikan, dan menjalankan program-program yang kesemuanya diarahkan pada sasaran yang telah ditetapkan dan berlangsung terus menerus seiring dengan berjalannya waktu (Dipohusodo, 1996).

Sedangkan proyek adalah upaya yang diorganisasikan untuk mencapai tujuan, sasaran dan harapan-harapan penting dengan menggunakan anggaran dana serta sumber daya yang tersedia, yang harus diselesaikan dalam jangka waktu tertentu (Dipohusodo, 1996).

Menurut Husen (2009), proyek adalah gabungan dari sumber-sumber daya seperti manusia material, peralatan, dan modal/ biaya yang dihimpun dalam suatu wadah organisasi sementara untuk mencapai sasaran dan tujuan.

Sebuah proyek adalah usaha yang kompleks, tidak rutin, yang dibatasi oleh waktu, anggaran, sumber daya, dan spesifikasi kinerja yang dirancang untuk memenuhi kebutuhan pelanggan (Larson, 2006).

Berdasarkan definisi tersebut dapat disimpukan beberapa pengertian dari manajemen proyek. Manajemen proyek adalah penerapan ilmu pengetahuan,


(26)

keahlian dan keterampilan, cara teknis yang terbaik dan dengan sumber daya yang terbatas, untuk mencapai sasaran dan tujuan yang telah ditentukan agar mendapatkan hasil yang optimal dalam hal kinerja biaya, mutu dan waktu serta keselamatan kerja (Husen 2009).

Menurut Ervianto (2005), manajemen proyek adalah semua perencanaan, pelaksanaan, pengendalian, dan koordinasi suatu proyek dari awal (gagasan) hingga berakhirnya proyek untuk menjamin pelaksanaan proyek secara tepat waktu, tepat biaya dan tepat mutu.

2.4 Manajemen Waktu

Penjadwalan konstruksi terkait dengan manajemen waktu yang diperlukan untuk memenuhi penyelesaian proyek. Menurut PMBOK(Project Management Body of Knowledge) dalam proses manajemen waktu meliputi.

2.4.1 Definisi Kegiatan

Definisi kegiatan adalah identifikasi jadwal kegiatan spesifik yang diperlukan untuk menghasilkan berbagai deliverable proyek. Identifikasi jadwal kegiatan bertujuan untuk mengetahui secara rinci kegiatan-kegiatan yang akan ada dalam pelaksanaan proyek. Dalam proses ini dihasilkan pengelompokkan semua aktivitas yang menjadi ruang lingkup proyek dari level tertinggi hingga level yang terkecil atau disebut Work Breakdown Structure (WBS)

2.4.2 Urutan Kegiatan

Urutan kegiatan adalah identifikasi dan mendokumentasikan ketergantungan diantara jadwal kegiatan. Masing-Masing aktivitas harus diurutkan secara akurat untuk mendukung pengembangan jadwal sehinga diperoleh jadwal yang realitis.


(27)

2.4.3 Perhitungan Sumber Daya Kegiatan

Memperkirakan tipe dan jumlah dari sumber daya yang diperlukan untuk melaksanakan masing – masing jadwal kegiatan

2.4.4 Perhitungan Durasi Kegiatan

Durasi aktivitas adalah fungsi dari jumlah (kuantitas) pekerjaan yang harus diselesaikan dan produk kerja tiap satuan waktu (Production Rate) Kuantitas pekerjaan dapat diketahui dari lingkup/dokumen kontrak. Kegiatan ini merupakan perhitungan sejumlah periode-periode pekerjaan yang diperlukan untuk melengkapi jadwal kegiatan individual. Tingkat akurasi estimasi durasi sangat tergantung dari banyaknya informasi yang tersedia.

2.4.5 Pengembangan Jadwal

Analisa urutan kegiatan, durasi, kebutuhan sumber daya, dan batasan-batasan jadwal untuk membuat jadwal proyek. Pembuatan jadwal proyek merupakan proses iterasi dari proses input yang melibatkan estimasi durasi dan biaya hingga penentuan jadwal proyek

2.4.6 Pengendalian Jadwal

Mengendalikan perubahan-perubahan ke dalam jadwal proyek. Hal yang perlu diperhatikan dalam pengendalian jadwal adalah:

a. Pengaruh dari faktor-faktor yang menyebabkan perubahan jadwal dan memastikan perubahan yang terjadi disetujui

b. Menentukan perubahan dari jadwal

c. Melakukan tindakan bila pelaksanaan proyek berbeda dari perencaan awal proyek.


(28)

2.5 Penjadwalan

2.5.1 Definisi Penjadwalan

Secara umum penjadwalan proyek didefinisikan sebagai proses perhitungan waktu penyelesaian proyek, berdasarkan pola pelaksanaan kegiatan-kegiatan proyek yang telah ditentukan terlebih dahulu, dan dengan mempertimbangkan keterbatasan-keterbatasan yang mempengaruhi pelaksanaan kegiatan-kegiatan tersebut.

Sedangkan menurut Soeharto (1995) definisi dari jadwal adalah penjabaran perencanaan proyek yang menjadi urutan langkah-langkah kegiatan yang sistematis untuk mencapai satu sasaran. Pendekatan yang dipakai jadwal adalah pembuatan jaringan kerja yang menggambarkan suatu grafik hubungan urutan pekerjaan proyek. Pekerjaan mana yang harus didahulukan dari pekerjaan yang lain harus diidentifikasikan secara jelas dalam kaitannya dengan waktu pelakasanaan pekerjaan.

Output dari proses penjadwalan adalah suatu rencana pelaksanaan kegiatan-kegiatan proyek, yang berisi informasi antara lain tentang:

a. Waktu dimulainya suatu kegiatan (paling cepat, paling lambat) b. Waktu selesainya suatu kegiatan (paling cepat, paling lambat) c. Kegiatan-kegiatan kritis berikut lintasan kritisnya

d. Waktu selesainya proyek secara kesuluruhan

e. Jadwal pemakaian sumber daya, teruatam tenaga kerja dan peralatan Jadwal Aliran kas/uang.


(29)

2.5.2 Fungsi dari penjadwalan Menurut PMBOK(Project Management Body of Knowledge) 4th edition

a. Memberikan pedoman untuk pelaksanaan kegiatan dan untuk memberikan prioritas perhatian dalam pengawasan dan pengendalian, agar proyek dapat diselesaikan sesuai rencana, terhindar dari keterlambatan, kenaikan biaya, dan perselisihan-perselisihan kontraktual.

b. Dipakai sebagai dasar penentuan progress payment, penyusunan cash flow proyek dan pembuatan pendanaan proyek.

c. Merupakan dasar atau pedoman untuk pengendalian, baik yang berkaitan dengan waktu maupun biaya proyek. Dari pengukuran kemajuan pekerjaan, dapat diketahui apabila ada penyimpangan pelaksanaan terhadap rencana/jadwal, yang dengan bantuan alat-alat analisis tertentu, misalnya dengan trend analysis dan sensitivity analysis, dapat segera dilakukan tindakan-tindakan koreksi, untuk penyelesaian sisa proyek.

d. Memberikan pedoman kepada sub-ordinate units mengenai batas-batas waktu bagi mulainya dan berakhirnya tugas masing-masing.

e. Menghindari pengelolaan pelaksanaan proyek yang hanya mengandalkan naluri saja.

f. Menghindari pemakaian sember daya dengan intensitas yang tinggi sejak awal proyek, dengan harapan dapat diselesaikan secepatnya. g. Memberikan kepastian waktu pelaksanaan kegiatan-kegiatan proyek.


(30)

lebih lama dari waktu yang diperlukan, bergombol menanti penugasan, mondar-mandir tanpa tujuan, dan sebagainya.

h. Dapat dipakai untuk mengevaluasi dampak akibat adanya perubahan-perubahan pelaksanaan proyek, baik yang berkaitkan dengan waktu penyelesaian proyek, maupun biaya proyek. Hasil evaluasi dapat dipakai sebagai dasar penyelesaian masalah kontraktual, seperti untuk menyelesaikan tuntutan-tuntutan (Claims) kenaikan biaya maupun perpanjangan waktu.

i. Apabila jadwal di-update secara teratur, sehingga selain untuk tindakan koreksi, berfungsi pula sebagai dokumentasi adanya perubahan-perubahan didalam pelaksanaan pekerjaan, keterlambatan yang tidak diharapkan, perubahan waktu penyelesaian kegiatan, dan adanya change order, maka pedokumentasi-an jadwal awal berikut perubahan perubahannya dapat dipakai sebagai dokumen historis proyek.

Memberikan dukungan yang sangat berharga dalam komunikasi diantara pihak-pihak yang terlibat/berkepentingan dalam penyelenggaran proyek.

2.6 Keterlambatan

2.6.1 Pengertian Keterlambatan Proyek

Peran aktif manajemen merupakan salah satu kunci utama keberhasilan pengelolaan kegiatan proyek. Pengkajian jadwal proyek diperlukan untuk menentukan langkah – langkah apa yang akan merubah kegiatan proyek menurut R. Amperawan Kusjadmikahadi (1999) bahwa, keterlambatan proyek. Konstruksi berarti bertambahnya waktu pelaksanaan penyelesaian proyek yang telah direncanakan dan tercantum dalam dokumen kontrak. Penyelesaian pekerjaan


(31)

tidak sesuai dengan jadwal atau tepat waktu adalah kekurangan dari tingkat produktifitas dan sudah barang tentu kesemuanya ini akan mengakibatkan pemborosan dalam pembiayaan proyek, baik berupa pembiayaan langsung atau tidak langsung yang di belanjakan untuk proyek – proyek Pemerintah, maupun berwujud pembengkakan investasi dan kerugian – kerugian pada proyek – proyek swasta. Manajemen merupakan salah satu kunci utama keberhasilan pengelolaan proyek yang harus mempenyuai peran penting. Pengkajian jadwal proyek sangat diperlukan untun menentukan langkah – langkah untuk mengambil perubahan kegiatan proyek dapat dihindari atau dikurangi.

Menurut Levis dan Atherley (1996), jika suatu pekerjaan sudah ditargetkan harus selesai pada waktu yang telah ditetapkan namun karena suatu alasan tertentu tidak dapat dipenuhi maka dapat dikatakan pekerjaan itu mengalami keterlambatan. Hal ini akan berdampak pada perencaan semula serta pada masalahan keuangan. Keterlambatan yang terjadi dalam suatu proyek konstruksi akan memperpanjang durasi proyek atau meningkatkan biaya maupun keduanya. Adapun dampak keterlambatan pada klien atau owner adalah hilangnya kesempatan untuk menempatkan sumber dayanya ke proyek lain, meningkatkan biaya langsung yang dikeluarkan yang berarti bahwa bertambahnya pengeluaran untuk gaji karyawan, sewa peralatan dan lain sebagainya serta mengurangi keuntungan.

Menurut Callahan (1992), keterlambatan (delay) adalah apabila suatu aktifitas atau kegiatan proyek konstruksi mengalami penambahan waktu, atau tidak disenggelarakan sesuai dengan rencana yang diharapkan. Keterlambatan proyek dapat diidentifikasi dengan jelas melalui schedule. Dengan melihat


(32)

schedule, akibat keterlambatan suatu kegiatan terhadap kegiatan lain dapat terlihat dan diharapkan dapat segera diantisipasi.

Apa yang telah diuraikan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa kegiatan proyek mengalami keterlambatan apabila tidak dapat diserahkan atau selesai oleh penyedia jasa kepada pengguna jasa pada tanggal serah terima pekerjaan pertama yang telah ditetapkan dikarenakan suatu alasan tertentu.

2.6.2 Penyebab Keterlambatan

Pekerjaan proyek – proyek konstruksi banyak yang terjadi keterlembatan dan dapat mengakibatkan meningkatnya waktu dari suatu kegiatan ataupun mundurnya waktu penyelesaian pekerjaan suatu proyek secara keseluruan maupun sebagian. Beberapa penyebab yang paling sering terjadi atau ditemui antara lain : perubahan kondisi lapangan / lahan, perubahan desain / gambaran atau spesifikasi teknis, perubahan cuaca (alam), ketidak tersedianya tenaga kerja, material (susah mendapatkannya), ataupun peralatan, terjadinya hambatan pengiriman material juga dapat terjadi. Dalam bagian ini akan diterangkan beberapa pendapat para ahli mengenai penyebab- penyebab keterlambatan proyek konstruksi. Menurut Levis dan Atherley dalam Langford (1996) mengelompokkan penyebab- penyebab keterlambatan dalam suatu proyek menjadi tiga bagian yaitu:

1. Excusable Non-Compensable Delays, Penyebab keterlambatan yang paling sering mempengaruhi waktu pelaksanaan proyek pada keterlambatan tipe ini, adalah:

a. Acf of God, seperti gangguan alam antara lain gempa bumi, tornado, letusan gunug api, banjir, kebakaran dan lain-lain.


(33)

b. Forse Majeure, termasuk didalamnya adalah semua penyebab Act of God, kemudian perang, huru hara, demo, pemogokan karyawan dan lain-lain.

c. Cuaca, ketika cuaca menjadi tidak bersahabat dan melebihi kondisi normal maka hal ini menjadi sebuah fakot penyebab keterlambatan yang dapat di maafkan (Excusing Delay) .

2. Excusable Compensable Delays, keterlambatan ini disebabkan oleh Owner client, kontraktor berhak atas perpanjangan waktu dan claim atas keterlambatan yang termasuk dalam Compensbale dan Excusable Delay adalah:

a. Terlambatnya penyerahan secara total lokasi (site) proyek b. Terlambatanya pembayan kepada pihak kontraktor

c. Kesalahan pada gambar dan spesifikasi

d. Terlambatnya persetujuan atas gambar-gambar fabrikasi

3. Non-Excusable Delays, Keterlambatan ini merupakan sepenuhnya tanggung jawab dari kontraktor, karena kontraktor memperpanjang waktu pelaksanaan pekerjaan sehingga melewati tanggal penyelesaian yang telah disepekati, yang sebenarnya penyebab keterlambatan dapat diramalkan dan dihindari oleh kontraktor. Dengan demikian pihak Owner client dapat meminta monetary damages untuk keterlambatan tersebut. Adapun penyebab antara lain:

a. Kesalahan mengkoordinasikan pekerjaan bahan serta peralatan b. Kesalahan dalam pengelolaan keuangaan proyek


(34)

d. Kesalahan dalam memperkerjakan personil yang tidak cukup Menurut Antill (1989), bahwa keterlambatan proyek disebabkan oleh beberapa faktor yang berasal dari Kontraktor, Owner dan selain dari kedua belah pihak.

a. Keterlambatan akibat kesalahan Kontraktor, antara lain:  Terlambatnya memulai pelaksanaan proyek  Pekerja dan Pelaksana kurang berpengalaman  Terlambat mendatangkan peralatan

 Mandor yang kurang aktif  Rencana kerja yang kurang baik b. Keterlambatan akibat kesalahan Owner

1. Terlambatnya angsuan pembayaran oleh kontraktor. 2. Terlambatnya penyediaan lahan.

3. Mengadakan perubahan Kontraktor lain untuk mengerjakan proyek tersebut.

4. Keterlambatan yang diakibatkan selain kedua belak pihak diatas, antara lain:

1. Akibat kebakaran yang bukan kesalahan Kontraktor, Konsultan, Owner.

2. Akibat perang, gempa, banjir ataupun bencana lainnnya. 3. Perubahan Manometer.

2.6.3 Dampak Keterlambatan

Keterlambatan dalam menyelesaikan pekerjaan atau proyek akan menimbulkan kerugian pada pihak Kontraktor, Konsultak dan Owner, yaitu:


(35)

a. Pihak Kontraktor

Keterlambatan penyelesaian proyek berakibat naiknya overhead karena bertambah panjanngnya waktu pelaksanaan. Biaya overhead meliputi biaya untuk perusahaan secara kesuluran, terlepas ada tidaknya kontrak yang sedang ditangani.

b. Pihak Konsultan Pengawas

Konsultan Pengawas akan mengalami kerugian waktu, serta akan terlambat dalam mengerjakan proyek yang lainnya, jika pelaksanaan proyek mengalami keterlambatan penyelesaian.

c. Pihak Owner

Keterlambatan proyek ada pihak pemilik/Owner, berarti kehilangan penghasilan dari bangunan yang seharusnya sudah dapat digunakan atau disewakan. Apabila pemilik adalah pemerintah, untuk fasilitas umum misalnya rumah sakit tentunya keterlembatan akan merugikan program kesehatan masyarakat, atau merugikan program pelayanan yang telah disusun. Kerugian ini tidak dapat dinilai dengan uang, tidak dapat dibayar kembali. Sedangkan apabila pihak pemilik adalah non pemerintah, misalnya pembangunan gedung, pertokoan atau hotel, tentu jadwal pemakaian gedung tersebut akan mundur dari waktu yang direncanakan, sehingga ada waktu kosong tanpa mendapatkan uang.

2.6.4 Tipe Keterlambatan

Jervis (1988), Mengklasifikasikan keterlambatan menjadi 4 type:

1. Excusable delay, yaitu keterlambatan kinerja kontraktor yang terjadi karena faktor yang berada diluar kendali kontraktor dan


(36)

owner. Kontraktor berhak mendapat perpanjangan waktu yang setara dengan keterlambatan tersebut dan tidak berhak atas kompensasinya.

2. Non Excusable delay, yaitu keterlambatan dalam kinerja kontraktor yang terjadi karena kesalahan kontraktor tidak secara tepat melaksanakan kewajiban dalam kontrak. Kontraktor tidak berhak menerima penggantian biaya maupun perpanjangan waktu.

3. Compensable delay, keterlambatan dalam kinerja kontraktor yang terjadi karena kesalahan pihak owner untuk memenuhi dan melaksanakan kewajiban dalam kontrak secara tepat. Dalam hal ini kontraktor berhak atas kompensasi biaya dan perpanjangan waktu. 4. Concurrent delay, yaitu keterlambatan yang terjadi karena dua

sebab yang berbeda. Jika excusable delay dan compensable delay terjadi bersamaan dengan non excusable delay maka keterlambatan akan menjadi non excuseable delay. Jika compensable delay terjadi bersamaan dengan excuseable delay maka keterlambatan akan diberlakukan sebagai excusable delay.

Menurut Donal S Barie (1984), keterlambatan dapat disebabkan oleh pihak – pihak yang berbeda, yaitu:

1. Pemilik atau wakilnya (Delay caused by owner or his agent). Bila pemilik atau wakilnya menyebabkan suatu keterlambatan, katakan misalnya karena terlambat pemberian gambar kerja atau keterlambatan dalam memberikan persetujuan terhadap gambar, maka kontraktor umumnya akan diperkenankan untuk


(37)

mendapatkan perpanjangan waktu dan juga boleh mengajukan tuntutan yang sah untuk mendapatkan kompensasi ekstranya. 2. Keterlambatan oleh pihak ketiga yang diperkenankan (Excusable

thirdparty delay) sering terjadi keterlambatan yang disebabkan oleh kekuatan yang berbeda diluar jangkauan pengendalian pihak pemilik atau kontraktor. Contoh yang umumnya tidak dipersoalkan lagi diantaranya adalah kebakaran, banjir, gempa bumi dan hal yang lain disebut sebagai “tindak Tuhan Yang Maha

Kuasa”. Hal – hal lainnya yang sering kali menjadi masalahan

peselisihan meliptu pemogokan, embargo untuk pengangkutan, kecelakaan dan keterlambatan dalam menyerahkan yang bisa dimengerti. Termasuk pula yang tidak dapat dimasukkan dalam kondisi yang telah ada pada saat penawaran dilakukan dan keadaan cuaca buruk. Dalam hal ini dapat disetujui, tipe keterlambatan dari tipe – tipe ini umumnya menghasilkan perpanjangan waktu namuk tidak diserta dengan kompensasi tambahan.

3. Keterlambatan yang disebabkan kontraktor (contractor- caused delay). keterlambatan semacam ini umumnya akan berakibat tidak diberikannya perpanjangan waktu dan tiada pemberian suatu kompensasi tambahan. Sesungguhnya pada situasi yang ekstrim maka hal-hal ini akan menyebabkan terputusnya ikatan kontrak.


(38)

2.6.5 Mengatasi Keterlambatan

Menurut Istimawan Dipohusodo (1996) , selama proses konstruksi selalu saja muncul gejala kelangkaan periodik atas material – material yang diperlakukan, berupa material dasar atau barang jadi baik yang lokal maupun import. Cara penanganannya sangat bervariasi tergantung pada kondisi proyek, sejak yang ditangani langsung oleh staf khusus dalam organisasi sampai bentuk pembagian porsi tanggung jawab diantara pemberi tugas, kontraktor dan sub-kontraktor, sehingga penawaran material suatu proyek dapat tugas, kontraktor dan sub- kontraktor, pemasok atau agen, importer, produsen atau industri, yang kesemuanya mengacu pada dokumen perencanaan dan spesifikasi teknis yang telah ditetapkan. Cara mengendalikan keterlambatan adalah:

1. Mengerahkan sumber daya tambahan

2. Melepas rintangan – rintangan, ataupun upaya – upaya lain untuk menjamin agar pekerjaan meningkat dan membwa kembali ke garis rencana.

3. Jik tidak mungkin tetap pada garis rencana semula mungkin diperlukan revisi jadwal, yang untuk selanjutnya dipakai sebagai dasar penilaian kemajuan pekerjaan pada saat berikutnya.

Menurut Agus Ahyari (1987), untuk mengatasi keterlambatan bahan yang terjadi karena pemasok mengalami suatu hal, maka perlu adanya pemasok cadangan. Dalam penyusunan daftar prioritas pemasok, tidak cukup sekali disusun dan digunakan selanjutnya. Daftar tersebut setiap periode tertentu harus diadakan evaluasi mengenai pemasok biasa dilakukakan berdasarkan hubungan pada waktu


(39)

yang lalu. Untuk mengetahui kualitas pemasok biasa dilihar dari karakteristik pola kebiasaan, pola pengiriman, cara penggantian atas barang yang rusak.

Sedangkan menurut Donal S Baffie (1990), sekalipun sudah dipergunakan prosedut yang terbaik, namuk permasalahan akan timbul juga. Kadang – kadang terjadi suatu perubahan rencana kontraktor itu sendiri yang memerlukan barang kritis harus lebih dipercepat lagi penyerahannya dari tanggal yang sudah disetujui sebelumnya. Keterlembatan lain mungkin timbul dari pihak pemasok atau kontraktor, atau pada proses pengiriman dan lain – lain. Tugas dari ekspeditur profesional yang berpengelaman adalah menentukan cara yang efektif dalam menjaga agar pengadaan barang tetap sesuai jadwal yang telah ditetapkan dengan pengaruh kerugian sekecil mungkin. Bila suatu material tidak dapat diperoleh lagi atau menjadi sangat mahal, maka spesialis pengadaan harus mengetahui tempat memperoleh material pengganti (subsitusi) yang akan dapat memenuhi atau melampaui persyaratan aslinya.

2.7 Kinerja Waktu

Kinerja waktu adalah proses dari memperbandingkan kerja di lapangan (actual work) dengan jadwal yang direncanakan . Definisi waktu proyek menurut Clough (1994) adalah penyelesaian proyek pada waktu yang telah disepakati dalam kontrak, atau waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan setiap pekerjaan. Waktu proyek adalah durasi yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan konstruksi dimulai dari proses prosesi awal dilokasi proyek hingga pekerjaan selesai. Durasi adalah waktu, umumnya dalam bentuk satuan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan seluruh proses proyek, mulai dari fase pekerjaan pertama hingga pekerjaan terakhir.


(40)

Apabila proses pekerjaan konstruksi memakan waktu sesuai atau lebih cepat dari jadwal yang direncanakan (on schedule), maka tidak akan menyebabkan permasalahan dari segi waktu proyek. Yang menjadi masalah adalah apabila waktu yang diperlukan untuk mengerjakan suatu fase pekerjaan proyek ternyata lebih lama dari yang tercantum pada jadwal. Kondisi seperti ini dinamakan terlambat (delay / time overrun). Efek dari keterlambatan pada suatu pekerjaan proyek dapat mempengaruhi seluruh waktu dan biaya yang dibutuhkan untuk menyelesaikan pekerjaan proyek yang akan dilaksanakan setelah pekerjaan yang terlambat tersebut selesai. (Ryan Ariefasa, 2011)

2.8 Hubungan Biaya Terhadap Waktu

Biaya total proyek adalah penjumlahan dari biaya langsung dan biaya tak langsung yang digunakan selama pelaksanaan proyek. Besarnya biaya ini sangat tergantung oleh lamanya waktu (durasi) penyelesaian proyek, kedua-duanya berubah sesuai dengan waktu dan kemajuan proyek. Meskipun tidak dapat diperhitungakan dengan rumus tertentu, tapi pada umumnya makin lama proyek berjalan makin tinggi komulatif biaya tak langsung yang diperlukan (Soeharto, 1997). Pada Gambar 2.1 dihalaman berikut ditunjukkan hubungan biaya langsung, biaya tak langsung dan biaya total dalam suatu grafik dan terlihat bahwa biaya optimum didapat dengan mencari total biaya proyek yang terkecil.


(41)

Gambar 2.1 Grafik hubungan waktu dengan biaya total, biaya langsung, dan biaya tak langsung. Sumber: Soeharto (1999)

Penyelesaian aktivitas di dalam suatu proyek memerlukan penggunaan sejumlah sumber daya minimum dan waktu penyelesaian yang optimum, sehingga aktivitas akan dapat diselesaikan dengan biaya normal dan durasi normal. Jika suatu saat diperlukan penyelesaian yang lebih cepat, penambahan sumber daya memungkinkan pengurangan durasi proyek dari suatu normalnya, tetapi biaya yang dikeluarkan akan lebih besar lagi. Dalam mempercepat penyelesaian suatu proyek dengan melakukan kompresi durasi aktivitas, harus tetap diupayakan agar penambahan dari segi biaya seminimal mungkin. Pengendalian biaya yang dilakukan adalah biaya langsung, karena biaya inilah yang akan bertambah apabila dilakukan pengurangan durasi biaya telah optimum.

2.9 Pengumpulan Data

Pengumpulan data merupakan proses pengumpulan informasi atau data yang dibutuhkan dalam penelitian ini. Sebelum proses pengumpulan data dilakukan, maka hal yang perlu dilakukan adalah menentukan apakah penelitian ini akan


(42)

mengumpulkan data dari populasi (kelompok besar individu yang mempunyai karakteristik umum yang sama) secara keseluruhan subjek atau hanya sebagiannya yang biasa disebut sebagai sampel (bagian dari populasi yang memiliki ciri sama dengan populasi) . Ronald (1995) mendefinisikan sampel adalah suatu himpunan bagian dari populasi. Apabila populasi besar dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, maka dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi. Secara garis besar terdapat 2 jenis teknik sampling yakni probability sampling dan non probability sampling. Dalam penelitian ini, maka peneliti akan melakukan pengambilan data dengan cara sampling (pengumpulan data dengan penarikan sampel). Sampling adalah kegiatan mengambil sebagian dari populasi yang akan diteliti dengan cara tertentu yang dapat dipertanggungjawabkan supaya sebagian yang akan diambil mewakili ciri populasinya yang nantinya akan menghasilkan data perkiraan (estimate) atas populasi. Prosedur pengambilan sampel dapat dilakukan dengan dua cara yakni random dan non random. Berikut adalah penjabaran dari prosedur random dan non random :

a. Random atau Acak

Teknik sampling ini dikenal juga sebagai sampling peluang, dimana teknik ini memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel . Dalam prosedurnya, setiap anggota populasi memiliki peluang yang sama untuk terambil sebagai sampel karena pengambilannya dilakukan secara acak. Untuk mengambil sampel dengan sampling peluang, maka langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut ini:


(43)

a Menentukan kesalahan sampling

Kesalahan sampling adalah kekeliruan yang disebabkan oleh kenyataan adanya pemeriksaan yang tidak lengkap terhadap populasi. Tingkat kesalahan berhubungan dengan risiko pengambilan keputusan dan ukuran sampel yang akan diambil. Pengambilan sampel secara acak juga merupakan salah satu cara untuk mengurangi kesalahan sampling karena membuat terambilnya seluruh ciri anggota populasi ke dalam sampel terpilih.

b Menentukan ukuran sampel

Prinsip dalam penentuan ukuran sampel adalah semakin besar sampel , maka akan semakin dekat sampel dengan populasi, sehingga tingkat kesalahan semakin kecil.

c Mengambil sampel dengan teknik yang tepat

Cara mengambil sampel sangatlah tergantung kepada teknik sampling yang digunakan. Terdapat beberapa cara mengambil sampel dalam sampling random yaitu sampling acak sederhana, sampling acak berstarata, sampling acak berkluster dan sampling acak bertingkat.

b. Non Random

Pengambilan sampel dimana tidak setiap anggota populasi memiliki peluang terpilih sebagai sampel (non probability sampling) Dalam prosedur pengambilan sampel non random tidak terdapat kegiatan penentuan kesalahan sampling dan ukuran sampel sebab penarikan sampel dari populasinya tidak memperhitungkan peluang kesesatan dalam pengambilan keputusan berdasarkan sampel. Berdasarkan pertimbangan yang menjadi dasar dilakukan


(44)

sampling, terdapat beberapa jenis sampling yang tergolong sampling tidak acak adalah sampling bertujuan, sampling kebetulan, sampling kuota, sampling tersedia, sampling sistematik.

Menurut Arikunto (1997), pengumpulan data dapat diartikan sebagai proses atau kegiatan yang dilakukan peneliti untuk mengungkap atau menjaring berbagai fenomena, informasi atau kondisi lokasi penelitian sesuai dengan lingkup penelitian. Dalam penelitian ini terdapat dua jenis data yakni data primer yang didapatkan dari hasil wawancara dengan pakar, maupun jawaban dari responden yang adalah orang-orang yang memiliki kemampuan dibidangnya, ataupun data lainnya seperti:

a. Dokumen, data teknis lainnya terkait sistem distribusi dan pelanggan. b. Keterangan langsung dari pelanggan.

Sementara untuk data sekunder adalah informasi yang diperoleh dari literatur, jurnal maupun laporan akhir suatu proyek. Selain itu, data-data juga dapat diperoleh dari hasil penyebaran kuisioner terhadap responden yang dibagi menjadi dua tahapan kuisioner. Kuesioner tahap 1 berguna untuk memvalidasi pakar apakah subvariabel yang telah penulis cantumkan ke dalam kuisoner tersebut merupakan sesuatu yang akan mempengaruhi perbandingan biaya konstruksi, serta untuk memperkaya variabel yang ada melalui masukan tambahan dari responden. Selanjutnya, setelah mendapatkan variabel- variabel yang sesuai dengan penelitian ini sesuai dengan arahan pakar, maka penelitian dapat dilanjutkan dengan menggunakan kuisioner tahap 2 yang merupakan olahan lanjutan dari kuisioner tahap 1 yang berfungsi untuk mengetahui seberapa besar pengaruh penerapan variabel yang diberikan kepada responden. Namun, sebelum


(45)

seluruh kuisioner tahap 2 disebarkan pada responden, maka peneliti akan melakukan pilot survey yakni merupakan penelitian pendahuluan untuk menguji keefektifan dari metode survey yang digunakan, ataupun untuk melihat apakah responden dapat memahami isi dari kuisioner sesuai dengan yang diharapkan peneliti. Sampel yang digunakan dalam pilot survey tidak harus banyak, tetapi harus cukup dianggap dapat mewakili karakteristik responden. Hasil dari pilot survey ini menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki kuisioner sebelum melakukan survey secara keseluruhan pada seluruh responden dengan menggunakan kuisioner tahap 2.

Berikutnya, setelah semua tahapan itu dilakukan, maka yang selanjutnya dilakukan adalah melakukan uji validitas, analisa korelasi dan uji realibitas. Validitas berasal dari bahasa latin validus yang berarti kuat. Terdapat dua buah konsep validitas yakni validitas penelitian dan validitas pengukuran. Validitas penelitian adalah derajat kebenaran kesimpulan yang ditarik dari sebuah penelitian yang dipengaruhi dan sinilai berdasarkan metode penelitian yang digunakan, keterwakilan sampel penelitian dan sifat populasi asal sampel (Last, 2001). Sementara untuk validitas pengukuran merupakan pernyataan tentang derajat kesesuaian hasil pengukuran sebuah alat ukur (instrumen) dengan apa yang sesungguhnya ingin diukur oleh peneliti.

2.10 Uji Validitas

Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukan tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Suatu Instrumen yang valid mempunyai validitas tinggi, sebaliknya instrumen yang kurang valid mempunyai validitas rendah. Sebuah Instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan.


(46)

Cara untuk menguji validitas adalah sebagai berikut:

1. Mendefinisikan secara operasional konsep yang akan diukur, yaitu dengan (1) mencari definisi dan merumuskan tentap konsep yang akan diukur yang telah ditulis para ahli dalam literatur, (2) kalau sekiranya tidak ditemukan dalam literatur maka untuk lebih mematangkan definisi dan rumusan tersebut peneliti harus mendiskusikannya dengan para ahli. (3) menanyakan langsung kepada calon responden penelitian mengenai aspek-aspek konsep yang akan diukur. Dari jawaban yang diperoleh peneliti dapat membuat kerangka konsep dan kemudian menyusun pertanyaan yang operasional.

2. Melakukan uji coba skala pengukuran yang dihasilkan dari langkah pertama kepada sejumlah responden. Responden diminta untuk menjawab apakah mereka setuju atau tidak setuju dari masing-masing pertanyaan. Sangat disarankan agar jumlah responden untuk uji coba, minimal 30 orang agar distribusi skor (nilai) akan lebih mendekati kurve normal. 3. Mempersiapkan tabel tabulasi jawaban

4. Menghitung korelasi antara masing-masing pernyataan dengan skor total dengan menggunakan rumus teknik korelasi produk moment. Adapun rumusnya adalah:

(1)

Keterangan :


(47)

Y : produktivitas pekerja Xi : elemen variabel bebas n : jumlah data

( Masri Singarimbun, 1987 )

Syarat minimum untuk dianggap memenuhi syarat validitas adalah jika r hitung > r tabel dan taraf signifikasinya sebesar 5 % ( Suharsimi Arikunto, 1996).

2.11 Analisis Korelasi

Analisis korelasi adalah metode statistika yang digunakan untuk menentukan kuatnya atau derajat hubungan linier antara dua variabel atau lebih. Semakin nyata hubungan linier (garis lurus), maka semakin kuat atau tinggi derajat hubungan garis lurus antara kedua variabel atau lebih. Ukuran untuk derajat hubungan garis lurus ini dinamakan koefisien korelasi.

Korelasi dilambangkan dengan r dengan ketentuan nilai r tidak lebih dari harga (-1 ≤ r ≤ ). Apabila nilai r = -1 artinya korelasi negatif sempurna; r = 0 artinya tidak ada korelasi; dan r = 1 artinya korelasi sangat kuat.

2.12 Uji Reliabilitas

Pengukuran reliabilitas adalah pengukuran tentang stabilitas dan konsintensi dari alat pengukuran. Reabilitas menunjukkan pada satu pengertian bahwa sesuatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik. Instrumen reliabel sebenarnya yang menganduk arti bahwa instrumen tersebut cukup baik sehingga mampu mengungkapkan data yang bisa dipercaya.

Untuk mengukur reliabilitas dapat digunakan analisis Alpha Cronbach dengan rumus sebagai berikut:


(48)

(2)

)rn : Reliabilitas instrument

k : Banyaknya butir pertanyaan

∑αb2 : Jumlah Varian butir

αt2 : Varian Total

(Suharsimi Arikunto 1996)

Cara pengujian reliabilitas dilakukan dengan bantuan computer program SPSS

versi 19, yang dilakukan dengan metode Cronbach Alpha, dimana suatu kuesioner

dikatakan reliable jika nilai Cronbach Alpha lebih besar dibandingkan dengan

nilai reliabilitas.

2.13 Program dan Cara Kerja SPSS (Statistical Product and Service Solution)

Statistik adalah ilmu yang berhubungan dengan angkat. Oleh karena itu statistik sering dikaitkan dengan data-data yang bersifat kuantitatif (angka), yang salah satunya adalah program SPSS.

Untuk dapat memahami cara kerja software SPSS, berikut dikemukakan kaitan antara cara kerja computer dengan SPSS dalam mengolah data. Cara kerja proses perhitugan dengan SPSS adalah sebagai berikut:


(49)

Gambar.2.1 ( Cara kerja proses perhitungan dengan SPSS.Sumber : Singgih Santoso, 2001)

Penjelasan proses statistik dengan SPSS:

1. Data yang akan diproses dimasukan lewat menu DATA EDITOR yang otomatis muncul dilayar saat SPSS dijalankan

2. Data yang telah diinput kemudian kemudian diproses, juga lewat menu DATA EDIT

3. Hasil pengolahan data muncul dilayar (Window) yang lain dari SPSS, yaitu OUTPUT NAVITGATOR

Pada menu Output Navigator, informasi atau output statistic dapat ditampilkan secara:

a. Teks atau tulisan. Pengerjaan (perubahan bentuk huruf, penambahan, pengurangan dan lainnya) yang berhubungan dengan output teks dapat dilakukan lewat menu Teks Output Editor.

b. Tabel. Pengerjaan (pivoting label, penambahan, pengurangan label dan lainnya) yang berhubungan dengan output berbentuk label dapat dilakukan lewat menu Pivot table Editor.


(50)

c. Chart atau grafik, Pengerjaan (perubahan tipe grafik dan lainnya) yang berhubungan dengan output berbentuk grafik dapat dilakukan lewat menu Chart Editor.


(51)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Pendahuluan

Metodologi penelitian adalah suatu kerangka pendekatan pola pikir dalam rangka menyusun dan melaksanakan suatu penelitian. Tujuan dari adanya suatu metodologi penelitian adalah untuk mengarahkan proses berfikir dan proses kerja untuk menjawab permasalahan yang akan diteliti lebih lanjut.

Sebuah penelitian dilakukan untuk memperoleh jawaban atas sesuatu yang saat ini terjadi, sehingga dalam melakukan sebuah penelitian, perlu dibuat suatu sistem penelitian yang sistematis dan mudah untuk dilakukan secara efektif agar penelitian tersebut dapat mencapai tujuan yang hendak dicapai dan menjawab permasalahan yang diinginkan. Dalam bab ini, akan dijelaskan bagaimana penulis melakukan metode penelitian yang dapat mencapai tujuan dan sasaran penelitian. 3.2. Variabel Penelitian

Variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, objek atau suatu kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang telah ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga dapat ditarik kesimpulannya .

Variabel dapat dibedakan menjadi 2 jenis , yaitu:

1. Variabel Independen (bebas), variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahan atau timbulnya variabel dependen (terikat).

2. Variabel Dependen (terikat), variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas.


(52)

Tabel 3.1 Variabel Penelitian

NO

Nomor Variabel

Variabel

1 X1 Aspek Perencanaan dan Pendjadwalan Pekerjaan

2 X2 Aspek Lingkup dan Dokumen Pekerjaan

3 X3 Aspek Sistem Organisasi, Koordinasi dan Komunikasi

4 X4

Aspek Kesiapan/ Penyiapan Sumber Daya

5 X5 Aspek Sistem Inspekasi, Kontrol dan Evaluasi Pekerjaan

6 X6 Aspek Force Majeure

1 Y Keterlambatan

Sumber : berdasarkan dari pengolahan.

Kemudian dari variabel tersebut akan dibagi lagi sub variabel yang akan dijadikan pertanyaan – pertanyaan akibat dari keterlambatan proyek yang diteliti. Sub variabel yang akan dijadikan pertanyaan bisa dilihat dilampiran.

3.3 Instrumen Penilitian

Instrumen penelitian merupakan sesuatu alat yang dapat membantu peneliti untuk mengumpulkan informasi yang diperlukannya. Hal ini dilakukan untuk mempermudah peneliti dalam melakukan penelitian.


(53)

Tabel 3.2 Instrumen Penelitian

NO Jenis Metode Jenis Instrumen

1 Angket (questionaire) a. Angket (questionaire) b. Daftar cocok (checklist) c. Skala (scale)

d. Inventori (inventory)

2 Wawancara (interview) a. Pedoman wawancara (interview guide) b. Daftar cocok (checklist)

3 Pengamatan (observasi) a. Lembar pengamatan b. Panduan pengamatan

c. Panduan observasi (observation sheet atau observation schedule)

d. Daftar cocok (checklist) 4 Ujian/Tes (test) a. Soal ujian (test)

b. Inventory (inventory) 5 Dokumentasi a. Daftar cocok (checklist)

b. Tabel

Sumber : Drs. Riduwan, MBA, “Skala Pengukuran Variabel-Variabel Penelitian”, Alfabeta, Bandung, 2007.

3.4 Proses Penelitian

Dalam melakukan sebuah penelitian, maka proses penelitian akan menjadi langkah (tahapan) yang akan dilakukan oleh peneliti untuk mendapatkan hasil (kesimpulan) dari penelitian tersebut. Secara sederhana proses penelitian dapat dibagi menjadi beberapa tahapan yakni:


(54)

a Identifikasi masalah

Mencari latar belakang dari permasalahan yang dipilih sebagai topik penulisan, dalam hal ini penulis memilih proyek Jembatan Rel Kereta Api di Kuala Tanjung.

b Menetapkan tujuan

Setelah menetapkan topik, maka hal yang harus dilakukan adalah menetapkan tujuan dari penelitian tersebut, hal apa saja yang akan didapatkan setelah melakukan penelitian ini.

c Studi Literatur

Mencari referensi teori yang relafan dengan kasus atau permasalahan yang ditemukan.

d Pembuatan dan Penyebaran Kuesioner

Kuesioner yang akan disebarkan kepada responden dibuat dengan variabel dan sub variabel yang sudah dipilih. Kemudian disusun untuk dijadikan sebagai pertanyaan, setelah itu setiap butir sub variabel memiliki nilai. Pernilai dari pertanyaan akan menggunakan metode skala Likert yaitu 1 -5, dimana kriteria masing – masing dapat dilihat dari tabel sebagai berikut: Tabel 3.3 Skala Penilaian Kuesioner

Skala Penilaian Skala

1 Sangat Tidak Menentukan/ Sangat Tidak Berpengaruh

1 2 Tidak Menentukan/ Tidak Berpengaruh 2

3 Netral/ Tidak Tahu 3

4 Menentukan/ Berpengaruh 4

5 Sangat Menentukan/ Sangat Berpengaruh 5 Sumber : Skala Likert

Kemudian penyeberan kuesioner akan disebarkan ke lapangan sesuai dengan responden yang sudah ditentukan.


(55)

e Pengumpulan data

Teknik pengumpulan data adalah cara-cara yang akan digunakan untuk mengumpulkan data, baik yang berupa data primer maupun data sekunder, melalui survei yang dilakukan pada lokasi penelitian. Survei yang dilakukan untuk memperoleh data yang dibutuhkan tersebut adalah :

a. Data Primer

Bertujuan untuk mencari data yang sifatnya tidak tertulis, ataupun merupakan data yang memiliki tingkat akurasi yang tinggi. Survei yang dilakukan tersebut antara lain adalah:

Pengamatan lapangan, tujuannya untuk menghasilkan data-data tidak tertulis yang hanya bisa didapatkan dengan pengamatan lapangan dan wawancara secara langsung kepada responden mengenai keterlambatan proyek Jembatan Rel Kereta Api di Kuala Tanjung.

b. Data Sekunder

Merupakan kegiatan pencarian data melalui kajian literatur, hasil penelitian terdahulu, peta-peta yang dibutuhkan, data , kondisi lokasi penelitian, ataupun data tertulis lainnya, yang didapatkan langsung dari instansi yang terkait. Tujuan dari survei ini adalah untuk mendapatkan data-data instansional yang selanjutnya akan diolah dengan alat analisis yang telah tersedia.

Teknik ini dibutuhkan untuk mempermudah peneliti dalam mengolah data, dan membuat target-target yang dibutuhkan dalam penelitian. Baik data primer maupun data sekunder yang berhasil dikumpulkan, dipisahkan sesuai karakteristik datanya. Data deskriptif dipisahkan dari data yang


(56)

berbentuk angka, atau data kualitatif dipilah dari data kuantitatif dan kemudian siap dianalisa.

Data disajikan dalam beberapa bentuk, yang meliputi : a. Tabulasi Data

Digunakan terutama untuk data yang berbentuk angka. Namun tidak menutup kemungkinan adanya data non angka, yang berisikan data tentang permasalahan yang diperoleh dari berbagai sumber sebagai persepsi.

f. Menganalisis data-data

Setelah mendapatkan data-data primer yang dibutuhkan, dan ditunjang dengan data sekunder yang telah diperoleh, maka penulis dapat menganalisa data-data tersebut.

Metode analisa data pada penelitian ini dilakukan dengan cara kualitatif yaitu hasil suvei berupa kuisioner kepada responden yang sebelumnya dilakukan pengujian validasi oleh pakar lalu diolah sesuai dengan metode yang digunakan. g. Membuat kesimpulan dan saran

Setelah data dikumpul dan dianalisis, maka dapat diambil kesimpulan. Sehingga kita juga dapat memberikan saran dari penilitian.


(57)

3.5 Bagan Alir Penilitian

Gambar 3.1 Bagan Alir Penilitan Faktor – Faktor

Keterlambatan Proyek

Tujuan Penelitian

Studi Literatur

Pemilik (Owner)

Manajer Proyek

Manajer Lapangan Pembuatan dan Penyebaran Kuesioner

Pilot Survey

Pelaksana Supervisor

Analisis Data Pengumpulan Data Identifikasi Masalah


(58)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1Pelaksanaan Penelitian

Pada penelitian ini respondennya adalah Owner, Manajer proyek, Manajer Lapangan, Supervisor dan Pelaksana yang menangani proyek yang sedang berlangsung, sehingga diharapkan jawabannya lebih actual. Dengan alasan itulah kuesioner disebarkan kepada responden yang sudah direncanakan yang sedang melaksanakan pembangunan jembatan rel kereta api di Kuala Tanjung.

Adapun jumlah penyebaran kuesioner yang direncanakan di Kuala Tanjung secara umum bisa terpenuhi. Dalam prakteknya responden sangat sulit meluangkan waktu untuk wawancara karena kesibukan proyek. Sebelum melakukan pengisian kuesioner, terlebih dahulu akan dijelaskan maksud dan tujuan dari penelitian ini, peneliti mengadakan langsung dengan Responden dilapangan.

4.2Hasil Penelitian

Data yang diperoleh dari kuesioner dari responden sebanyak 22 orang. Adapun penjelasan tentang hasil data dari responden seperti terlihat dari tabel 4.1

Tabel 4.1 Profil Responden

No. Jabatan Responden Jumlah Responden

1 Owner 1

2 Manajer Proyek 3


(59)

4 Supervisor 8

5 Pelaksana 4

Jumlah 22

Dari tabel 4.1 terlihat jumlah data Responden yang sudah terbagi menurut profil jabatan diproyek yang sedang berlangsung.

4.2.1 Hasil Kuesioner

Setelah menyebarkan kuesioner ke responden didapatkan hasil yang dipilih oleh responden. Kemudian diolah ke dalam tabulasi data, yang berfungsi untuk mempermudah pembacaan hasil dari kuesioner. Kemudian tabulasi data tersebut dilakukan uji validitas, uji korelasi dan uji Reliabilitas. Tabel dari tabulasi data dapat dilihat dari tabel sebagai berikut:

Tabel 4.2 Hasil Tabulasi Kuesioner

Variabel Pertanyaan Skala yang dipilih responden

1 2 3 4 5 N

X1.1 Penetapan jadwal proyek yang amat ketat oleh pemilik 2 7 2 9 2 22 X1.2

Tidak lengkapnya identifikasi jenis pekerjaan yang harus

ada 0 2 3 15 2 22

X1.3

Rencana urutan kerja yang tidak tersusun dengan

baik/terpadu 0 1 5 10 6 22

X1.4 Penentuan durasi waktu kerja yang tidak seksama 0 4 4 7 7 22 X1.5 Rencana kerja pemilik yang sering berubah-ubah 0 8 3 5 6 22 X1.6

Metode konstruksi/pelaksanaan kerja yang salah atau tidak

tepat 1 0 5 11 5 22

X2.1

Perencanaan (gambar/spesifikasi) yang salah/tidak

lengkap 1 3 1 12 5 22

X2.2

Perubahan disain/detail pekerjaan pada waktu

pelakasanaan 1 3 0 15 3 22

X2.3 Perubahan lingkup pekerjaan pada waktu pelaksanaan 0 6 3 12 1 22 X2.4 Proses pembuatan gambar kerja oleh kontraktor 4 7 9 2 0 22 X2.5

Proses permintaaan dan persetujuan gambar kerja oleh

pemilik 2 10 5 3 2 22


(1)

Validitas

Item-Total Statistics

Scale Mean if

Item Deleted

Scale Variance

if Item Deleted

Corrected Item-Total Correlation

Cronbach's Alpha if

Item Deleted

X1.3 90.18 114.156 .768 .875

X1.4 90.36 109.766 .372 .873

X1.5 90.73 113.160 .492 .881

X2.7 90.50 108.167 .412 .872

X3.3 90.95 110.712 .425 .871

X3.6 89.68 111.370 .553 .868

X3.7 90.50 111.595 .333 .874

X3.9 90.41 99.587 .776 .858

X4.1 89.64 114.052 .488 .871

X4.4 89.68 112.513 .536 .869

X4.6 89.82 108.537 .710 .864

X4.7 89.59 109.682 .677 .865

X4.8 89.77 109.422 .536 .867

X5.1 90.95 108.807 .568 .867

X5.3 90.64 104.338 .830 .859

X5.4 89.59 111.682 .604 .868

X5.5 89.64 112.052 .410 .871

X5.6 90.50 107.690 .499 .868

X6.4 90.36 107.195 .488 .869

X6.5 89.59 112.444 .387 .872

X6.6 90.00 109.619 .582 .867


(2)

Correlations

X1.3 X1.4 X1.5 X2.7 X3.3 X3.6 X3.7 X3.9 X4.1 X4.4 X4.6 X4.7 X4.8 X5.1 X5.3 X5.4 X5.5 X5.6 X6.4 X6.5 X6.6 Y

X1 .3

Pearson Correla tion

1 .332 ,428

* ,586

**

.197 ,437

* ,443

*

.151 .386 .288 .254 ,495

*

.339 ,566

**

.352 ,519

*

.409 ,445* .357 ,527* .207 ,741

**

Sig.

(2-tailed)

.131 .047 .004 .380 .042 .039 .502 .076 .194 .253 .019 .123 .006 .108 .013 .059 .038 .103 .012 .356 .000

N 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22

X1 .4

Pearson Correla tion

.332 1 .070 .313 .318 ,540

** ,630** ,623** ,696** -.102

.051 .171 ,448

* .000 .192 .310 .226 .376 .309 -.047 -.127 ,502*

Sig. (2-tailed)

.131

.755 .156 .149 .009 .002 .002 .000 .651 .821 .447 .037 1.000 .393 .161 .313 .084 .162 .835 .575 .017

N 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22

X1 .5

Pearson Correla tion

,428* .070 1 .235 ,485

* ,481

*

.166 .017 .198 ,727

**

.273 ,513

*

.214 ,439

*

.373 .199 .196 ,531* .409 ,583** .390 ,666

**

Sig. (2-tailed)

.047 .755

.292 .022 .023 .460 .940 .377 .000 .219 .015 .339 .041 .087 .375 .381 .011 .059 .004 .073 .001

N 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22

X2 .7

Pearson Correla tion

,586** .313 .235 1 .007 .093 ,505

*

.114 .012

-.056 -.078

.403 .368 .280 .191 .211 .094 .269 .177 .362 .143 ,433

*

Sig. (2-tailed)

.004 .156 .292

.974 .680 .017 .615 .957 .806 .731 .063 .092 .207 .394 .347 .677 .226 .431 .098 .525 .044

N 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22

X3 .3

Pearson Correla tion

.197 .318 ,485

*

.007 1 ,740

**

.292 ,521

*

.264 .306 .226 .228 .152

-.064

.339 .418 -.086 ,856** ,592** .231 .248 ,604

**

Sig. (2-tailed)

.380 .149 .022 .974

.000 .188 .013 .235 .167 .313 .307 .499 .776 .123 .053 .703 .000 .004 .302 .266 .003


(3)

X3 .6

Pearson Correla tion

,437* ,540

** ,481* .093 ,740** 1 .405 ,606** ,658** .348 .113 .176 .278 .045 .246 ,464* .182 ,823

**

.360 .187 .338 ,704

**

Sig. (2-tailed)

.042 .009 .023 .680 .000

.061 .003 .001 .112 .616 .434 .210 .842 .269 .030 .418 .000 .100 .404 .124 .000

N 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22

X3 .7

Pearson Correla tion

,443* ,630

** .166 ,505* .292 .405 1 ,733** ,567**

-.166 -.086

.292 .319 .000 ,566

** ,620** .405 ,463

*

.363 -.047 .093 ,607

**

Sig. (2-tailed)

.039 .002 .460 .017 .188 .061

.000 .006 .461 .702 .187 .148 1.00

0

.006 .002 .062 .030 .097 .834 .680 .003

N 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22

X3 .9

Pearson Correla tion

.151 ,623

** .017 .114 ,521* ,606** ,733** 1 ,690**

-.142 -.036

.080 .319

-.283

.355 .398 .285 ,505* ,439* -.199 .098 ,499

*

Sig. (2-tailed)

.502 .002 .940 .615 .013 .003 .000

.000 .528 .875 .725 .149 .202 .105 .067 .199 .016 .041 .376 .663 .018

N 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22

X4 .1

Pearson Correla tion

.386 ,696

**

.198 .012 .264 ,658

** ,567

** ,690

**

1 .095 .152 .245 .411 .000 .215 .355 ,482* .383 .328 -.056 .141 ,587

**

Sig. (2-tailed)

.076 .000 .377 .957 .235 .001 .006 .000

.675 .500 .271 .057 1.00

0

.336 .105 .023 .079 .137 .803 .530 .004

N 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22

X4 .4

Pearson Correla tion

.288

-.102 ,727

** -.056

.306 .348

-.166 -.142

.095 1 .183 .187 .003 ,452

*

.176

-.081

.087 .248 .352 ,652** .022 .382

Sig. (2-tailed)

.194 .651 .000 .806 .167 .112 .461 .528 .675

.415 .404 .991 .035 .433 .719 .701 .266 .108 .001 .921 .079

N 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22

X4 .6

Pearson Correla tion

.254 .051 .273

-.078

.226 .113

-.086 -.036

.152 .183 1 ,677

** .351 ,438* .296 .144 .294 .327 .211 .373 -.110 ,452*

Sig. (2-tailed)

.253 .821 .219 .731 .313 .616 .702 .875 .500 .415


(4)

X4 .7

Pearson Correla tion

,495* .171 ,513

* .403 .228 .176 .292 .080 .245 .187 ,677** 1 .361 .370 .296 .313 .284 ,445

*

.269 .291 .080 ,618

**

Sig. (2-tailed)

.019 .447 .015 .063 .307 .434 .187 .725 .271 .404 .001

.099 .090 .182 .156 .201 .038 .225 .189 .725 .002

N 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22

X4 .8

Pearson Correla tion

.339 ,448

* .214 .368 .152 .278 .319 .319 .411 .003 .351 .361 1 .193 .222

-.023

.324 .350 .387 .325 .196 ,555

**

Sig. (2-tailed)

.123 .037 .339 .092 .499 .210 .148 .149 .057 .991 .109 .099

.389 .320 .918 .142 .111 .075 .140 .383 .007

N 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22

X5 .1

Pearson Correla tion

,566** .000 ,439

* .280

-.064

.045 .000

-.283

.000 ,452

* ,438* .370 .193 1 ,437* .178 .373 .065 .217 ,754

**

.142 ,488

*

Sig. (2-tailed)

.006 1.00

0

.041 .207 .776 .842 1.00

0

.202 1.00

0

.035 .041 .090 .389

.042 .429 .088 .773 .333 .000 .530 .021

N 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22

X5 .3

Pearson Correla tion

.352 .192 .373 .191 .339 .246 ,566

** .355 .215 .176 .296 .296 .222 ,437* 1 ,657** ,513

*

.390 .419 .319 .238 ,652

**

Sig. (2-tailed)

.108 .393 .087 .394 .123 .269 .006 .105 .336 .433 .181 .182 .320 .042

.001 .015 .072 .052 .148 .285 .001

N 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22

X5 .4

Pearson Correla tion

,519* .310 .199 .211 .418 ,464

* ,620

**

.398 .355

-.081

.144 .313

-.023

.178 ,657

**

1 .398 ,575** .236 -.060 .247 ,592

**

Sig. (2-tailed)

.013 .161 .375 .347 .053 .030 .002 .067 .105 .719 .521 .156 .918 .429 .001

.067 .005 .290 .791 .268 .004


(5)

X5 .5

Pearson Correla tion

.409 .226 .196 .094

-.086

.182 .405 .285 ,482

* .087 .294 .284 .324 .373 ,513* .398 1 .175 .291 .184 .063 ,511*

Sig. (2-tailed)

.059 .313 .381 .677 .703 .418 .062 .199 .023 .701 .184 .201 .142 .088 .015 .067

.437 .190 .412 .780 .015

N 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22

X5 .6

Pearson Correla tion

,445* .376 ,531

* .269 ,856** ,823** ,463* ,505* .383 .248 .327 ,445* .350 .065 .390 ,575** .175 1 ,467

*

.300 .312 ,780

**

Sig. (2-tailed)

.038 .084 .011 .226 .000 .000 .030 .016 .079 .266 .138 .038 .111 .773 .072 .005 .437

.028 .175 .158 .000

N 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22

X6 .4

Pearson Correla tion

.357 .309 .409 .177 ,592

**

.360 .363 ,439

*

.328 .352 .211 .269 .387 .217 .419 .236 .291 ,467* 1 ,462* .140 ,645

**

Sig. (2-tailed)

.103 .162 .059 .431 .004 .100 .097 .041 .137 .108 .345 .225 .075 .333 .052 .290 .190 .028

.031 .534 .001

N 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22

X6 .5

Pearson Correla tion

,527*

-.047 ,583

**

.362 .231 .187

-.047 -.199

-.056

,652 **

.373 .291 .325 ,754

**

.319

-.060

.184 .300 ,462* 1 .180 ,543

**

Sig. (2-tailed)

.012 .835 .004 .098 .302 .404 .834 .376 .803 .001 .087 .189 .140 .000 .148 .791 .412 .175 .031

.423 .009

N 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22

X6 .6

Pearson Correla tion

.207

-.127

.390 .143 .248 .338 .093 .098 .141 .022

-.110

.080 .196 .142 .238 .247 .063 .312 .140 .180 1 .475

Sig. (2-tailed)

.356 .575 .073 .525 .266 .124 .680 .663 .530 .921 .626 .725 .383 .530 .285 .268 .780 .158 .534 .423

.102

N 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22 22

Y Pearson

Correla tion

,741** ,502

* ,666** ,433* ,604** ,704** ,607** ,499* ,587** .382 ,452* ,618** ,555** ,488* ,652** ,592** ,511 *

,780** ,645** ,543** .358 1

Sig. (2-tailed)

.000 .017 .001 .044 .003 .000 .003 .018 .004 .079 .035 .002 .007 .021 .001 .004 .015 .000 .001 .009 .102


(6)

Dokumen yang terkait

Identifikasi Biaya Pasokan Besi Beton dengan Metode Least Total Cost (LTC) dan Pendekatan Period Order Quantity (POQ) (Studi Kasus : Proyek Pembangunan Jembatan Rel Kereta Api di Kuala Tanjung – Sumatera Utara)

6 95 89

Analisis Faktor-Faktor Penyebab Keterlambatan Proyek Konstruksi Jembatan Di Sumatera Utara Dan Aceh

8 86 172

Analisis Faktor-Faktor Penyebab Keterlambatan Proyek Konstruksi Jembatan di Wilayah Sumatera Utara dan Aceh

12 127 172

Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemintaan Jasa Pengangkutan Kereta Api (Studi Kasus : PT. Kereta Api Indonesia (Persero) Eksploatasi Sumatera Utara.

0 11 83

Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keterlambatan Proyek Konstruksi (Studi Kasus : Proyek Pembangunan Jembatan Rel Kereta Api di Kuala Tanjung – Sumatera Utara)

0 0 11

Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keterlambatan Proyek Konstruksi (Studi Kasus : Proyek Pembangunan Jembatan Rel Kereta Api di Kuala Tanjung – Sumatera Utara)

0 0 1

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Keterlambatan Proyek - Analisis Faktor-Faktor Penyebab Keterlambatan Proyek Konstruksi Jembatan Di Sumatera Utara Dan Aceh

1 11 56

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KETERLAMBATAN PROYEK KONSTRUKSI JEMBATAN DI WILAYAH SUMATERA UTARA DAN ACEH TESIS

1 5 15

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Keterlambatan Proyek - Analisis Faktor-Faktor Penyebab Keterlambatan Proyek Konstruksi Jembatan di Wilayah Sumatera Utara dan Aceh

0 4 56

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB KETERLAMBATAN PROYEK KONSTRUKSI JEMBATAN DI WILAYAH SUMATERA UTARA DAN ACEH TESIS

0 0 15