PERKEMBANGAN DAN MOTIVASI BERAGAMA PADA

PERKEMBANGAN DAN MOTIVASI BERAGAMA PADA ANAK
(ANALISIS PEMIKIRAN ZAKIAH DARADJAT)

SKRIPSI

Oleh:
Adi Putra Ariawan
05110154

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Oktober, 2009

PERKEMBANGAN DAN MOTIVASI BERAGAMA PADA ANAK
(ANALISIS PEMIKIRAN ZAKIAH DARADJAT)

SKRIPSI
Diajukan kapada Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Maulana Malik
Ibrahim Malang untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Guna Memperoleh
Gelar Strata Satu Sarjana Pendidikan Islam (S. Pd. I)

Oleh:
Adi Putra Ariawan
05110154

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS TARBIYAH
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
MAULANA MALIK IBRAHIM MALANG
Oktober, 2009

PERSEMBAHAN

Dengan sebuah karya yang sederhana ini kupanjatkan puji syukur kehadirat Illahi
Robbi dan Nabi Muhammad SAW Sebagai pembawa cahaya kebenaran, dan
kususun skripsi ini dengan ilmu yang kupelajari, dengan materi, tenaga, fasilitas
dan dukungan moral serta bimbingan dan anugerah Allah maka dengan segala
kerendahan hati kupersembahkan karya ini kepada orang-orang yang sangat
berarti dalam perjalanan hidupku…….

Sepasang mutiara hati (Ayah dan ibu), yang memancarkan sinar kasih sayang
yang tiada pernah usai dalam mendo'akan, memotivasi, mendidikku. Kasih
mereka tiada tara hingga tak dapat kuungkapkan yang akan selalu kurangkai
dalam do'a…..semoga amal mereka diridhoi oleh Allah SWT.

Kakakku tercinta (Mas Didit dan Mbak Rina) dan istriku tersayang (Aim imut)
mereka telah banyak memberikan semangat dalam meniti jalan panjang kehidupan
untuk meraih segala asa hingga ku sampai pada gerbang masa depan yang cerah,
dengan kalianlah kulalui hari-hari penuh kasih dan sayang dari keluarga.

Guru dan dosenku yang mulia yang telah memberikan ilmunya kepadaku, karena
engkaulah diri ini menjadi terbimbing dan terdidik.

HALAMAN PERSETUJUAN
PERKEMBANGAN DAN MOTIVASI BERAGAMA PADA ANAK
(ANALISIS PEMIKIRAN ZAKIAH DARADJAT)

SKRIPSI

Oleh:
Adi Putra Ariawan
NIM: 05110154

Telah disetujui oleh,
Dosen Pembimbing:

Dra. Hj. Sulalah, M. Ag
NIP. 150 267 279

Mengetahui,
Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam

Drs. Moh. Padil, M. Pdi
NIP. 150 267 235

PERKEMBANGAN DAN MOTIVASI BERAGAMA PADA ANAK
(ANALISIS PEMIKIRAN ZAKIAH DARADJAT)

SKRIPSI
Dipersiapkan dan disusun oleh
Adi Putra Ariawan (05110154)
telah dipertahankan di depan dewan penguji pada tanggal 24 Oktober 2009
dan telah dinyatakan diterima sebagai salah satu persyaratan untuk memperoleh
gelar strata satu Sarjana Pendidikan Agama Islam (S. Pd. I)

Panitian Ujian

Tanda Tangan

Ketua Sidang,
Dra. Hj. Sulalah, M. Ag
NIP. 150 267 279

:

Sekretaris Sidang,
Drs. A. Zuhdi
NIP. 150 275 611

:

Pembimbing,
Dra. Hj. Sulalah, M. Ag
NIP. 150 267 279

:

Penguji Utama,
Prof. Dr. HM. Djunaidi Ghony
NIP.150 042 031

:

Mengesahkan,
Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim

Dr. M. Zainuddin, MA
NIP. 150 275 502

MOTTO

Artinya: "setiap anak yang dilahirkan itu telah membawa fitrah beragama
(perasaan percaya kepada Allah) maka kedua orang tuanyalah yang menjadikan
anak tersebut beragama Yahudi, Nasrani atau Majusi (HR. Imam Baihaqi)."

Dra. Hj. Sulalah, M. Ag
Dosen Fakultas Tarbiyah
Universitas Islam Negeri (UIN)
Maulana Malik Ibrahim Malang
NOTA DINAS PEMBIMBING
Hal
: Skripsi Adi Putra Ariawan
Lamp : 6 (enam) Eksemplar

Malang, 12 Oktober 2009

Kepada Yth.
Dekan Fakultas Tarbiyah UIN Maulana Malik Ibrahim
di
Malang
Assalamu’alaikum Wr. Wb.,
Sesudah melakukan beberapa kali bimbingan, baik dari segi isi, bahasa,
maupun teknik penulisan, dan setelah membaca skripsi mahasiswa tersebut di
bawah ini:
Nama
NIM
Jurusan
Judul Skripsi

:
:
:
:

Adi Putra Ariawan
05110154
Pendidikan Agama Islam
“Perkembangan dan Motivasi Beragama Pada Anak (Analisis
Pemikiran Zakiah Daradjat)”

Maka selaku Pembimbing, kami berpendapat bahwa skripsi tersebut sudah layak
diajukan untuk diujikan.
Demikian, mohon dimaklumi adanya.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.,

Pembimbing,

Dra. Hj. Sulalah, M. Ag
NIP. 150 267 279

SURAT PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya
yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan pada suatu perguruan
tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya, juga tidak terdapat karya atau pendapat
yang pernah ditulis atau ditertibkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis
diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Malang, 12 Oktober 2009

Adi Putra Ariawan
NIM. 05110154

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
kepada penulis berbagai nikmat berupa nikmat keimanan dan nikmat kesehatan,
sehingga penulisan skripsi ini dapat terselesaikan dengan tepat waktu.
Shalawat serta salam tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi besar
Muhammad SAW yang telah menuntun kita dari zaman kebodohan menuju
zaman yang penuh pengetahuan dalam naungan agama Islam.
Yang ketiga kalinya untaian terima kasih yang sedalam-dalamnya penulis
haturkan kepada:
1. Bapak dan Ibu tercinta yang senantiasa mendo’akan, membina, mendidik,
mengarahkan dan memberikan kepercayaan kepada anaknya untuk menuntut
ilmu dengan harapan menjadi manusia yang berguna bagi agama dan bangsa
dan kepada Kakak-kakak, Mbak Rina dan Mas Didit, serta semua keluarga
yang sangat saya cintai dan saya banggakan.
2. Bapak Prof. H. Imam Suprayogo. Selaku Rektor Universitas Islam Negeri
Maulana Malik Ibrahim Malang.
3. Bapak Dr. M. Zainuddin, MA. Selaku Dekan Fakultas Tarbiyah Universitas
Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang.
4. Bapak Drs. Moh. Padil, M. Pd.I Selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama
Islam Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang
5. Ibu Dra. Hj. Sulalah M. Ag Selaku Dosen Pembimbing yang telah
memberikan bimbingan sehingga skripsi ini dapat terselesaikan.

6. Teman-teman yang ada di jurusan Pendidikan Agama Islam yang tidak bisa
saya sebutkan satu-persatu.
7. Dan semua pihak yang mendukung dan mendorong saya untuk menyelesaikan
tugas ini yang tidak bisa saya sebutkan satu persatu.
Semoga Allah SWT akan selalu melimpahkan rahmat dan balasan yang
tiada tara kepada semua pihak yang telah membantu hingga terselesaikannya
penulisan skripsi ini. Kami hanya bisa mendo’akan semoga amal ibadahnya
diterima oleh Allah SWT sebagai amal yang mulia. Amin
Penulis menyadari penuh dengan kelemahan yang dimilikinya, sehingga
dalam menyelesaikan skripsi ini di sana-sini masih dapat kesalahan dan
kekurangan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan akan adanya saran dan kritik
dari semua pihak guna menyempurnakan hasil laporan ini. Akhirnya, mudahmudahan penelitian ini dapat bermanfaat bagi kita semua, lebih-lebih kepada
penulis. Amiin…
Penulis,

Adi Putra Ariawan
NIM. 05110154

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL
HALAMAN PERSEMBAHAN
HALAMAN PERSETUJUAN
HALAMAN PENGESAHAN
HALAMAN MOTTO
HALAMAN NOTA DINAS
HALAMAN PERNYATAAN
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI ...............................................................................................................

i

ABSTRAK ..................................................................................................................

iv

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ........................................................................................

1

B. Rumusan Masalah....................................................................................

8

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ...........................................................

8

D. Tinjauan Pustaka .....................................................................................

9

E. Ruang Lingkup .........................................................................................

10

F. Penegasan Istilah ......................................................................................

11

G. Sistematika Pembahasan .........................................................................

13

BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. PERKEMBANGAN BERAGAMA PADA ANAK ...............................

15

1. Tumbuhnya Jiwa Beragama Pada Anak ................................................

15

2. Perkembangan Beragama Pada Anak ....................................................

18

3. Sifat-sifat Beragama Pada Anak ............................................................

21

B. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI
PERKEMBANGAN BERAGAMA PADA ANAK ..............................

25

1. Faktor Internal .......................................................................................

25

2. Faktor Eksternal ....................................................................................

29

C. TINJAUAN TENTANG MOTIVASI ......................................................

41

1. Pengertian Motivasi ...............................................................................

41

2. Bentuk-bentuk Motivasi ........................................................................

42

3. Peranan Motivasi ...................................................................................

43

4. Teori-teori Tumbuhnya Motivasi Beragama .........................................

45

BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis dan Pendekatan Penelitian ...........................................................

48

B. Instrument Penelitian .............................................................................

48

C. Sumber Data ............................................................................................

49

D. Metode Pengumpulan Data ....................................................................

50

E. Metode Pengolahan Data ........................................................................

50

BAB IV PEMAPARAN DAN ANALISIS DATA
A. Setting Historis Zakiah Daradjat ..........................................................

52

1. Biografi Singkat Zakiah Daradjat ..........................................................

52

2. Karya-karya Zakiah Daradjat ................................................................

55

B. Perkembangan dan Motivasi Beragama Pada Anak Usia 0-12
Tahun Menurut Pemikiran Zakiah Daradjat .......................................

56

1. Perkembangan Beragama Pada Anak ....................................................

56

2. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Beragama ..............

63

3. Kiat-kiat Menumbuhkan Motivasi Beragama Pada Anak ....................

73

C. Analisis ....................................................................................................

78

BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan ...............................................................................................

94

B. Saran-saran ...............................................................................................

95

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN

ABSTRAK
Ariawan, Adi Putra, 2009, Perkembangan dan Motivasi Beragama Pada Anak
(Analisis Pemikiran Zakiah Daradjat). Skripsi, Jurusan Pendidikan Agama
Islam, Fakultas Tarbiyah, Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik
Ibrahim Malang, Dra. Hj. Sulalah, M. Ag.
Anak adalah anugerah dari Allah SWT yang selalu diharapkan oleh setiap
keluarga. Anak juga merupakan amanat dari Allah SWT yang harus dijaga dengan
sebaik-baiknya. Namun, tidak semua orang (orang tua) dapat menjaga dan
mengasuh anak-anaknya dengan baik sesuai dengan apa yang diperintahkan oleh
Alllah SWT melalui ajaran-ajaran agama. Mungkin karena berbagai sebab dan
alasan, orang tua tidak menghiraukan lagi pendidikan agama anak. Pada akhirnya,
dampak negatifnya akan sangat dirasakan oleh orang tua lebih-lebih bagi pribadi
anak sendri.
Untuk dapat membentuk kesadaran beragama pada anak, pemahaman
terhadap dimensi keagamaan pada anak merupakan hal penting, teori tentang
tumbuhnya jiwa keagamaan serta perkembangan beragama pada anak perlu
mendapat perhatian, selain itu yang tidak kalah pentingnya setelah mengetahui
karakteristik perkembangan beragama pada anak adalah menumbuhkan motivasi
beragama secara optimal. Banyak ahli psikologi agama yang mencurahkan
perhatiannya terhadap perkembangan beragama pada anak, salah satunya adalah
tokoh pendidikan Islam dari Sumatra Barat, Zakiah Daradjat. Berangkat dari latar
belakang itulah, penulis kemudian ingin membahas dalam skripsi dan mengambil
judul “Perkembangan dan Motivasi Beragama Pada Anak (Analisis Pemikiran
Zakiah Daradjat).”
Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk mengetahui 1) Bagaimana
karakteristik/ciri-ciri perkembangan beragama pada anak usia 0-12 tahun, 2)
Faktor-faktor apa yang mempengaruhi perkembangan beragama pada anak usia 012 tahun, dan 3) Bagaimana kiat-kiat yang tepat untuk menumbuhkan motivasi
beragama pada anak usia 0-12 tahun, dengan menganalisis pemikiran Zakiah
Daradjat.
Penelitian yang penulis lakukan ini adalah termasuk dalam penelitian
pustaka (library research). Dalam pengumpulan data, penulis menggunakan
metode dokumenter. Sedangkan untuk analisisnya, penulis menggunakan teknik
analisis deskriptif kualitatif, yaitu berupa data-data yang tertulis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Sifat beragama yang umumnya
selalu ada pada anak usia 0-12 tahun adalah sifat unreflectif (tidak mendalam), 2)
Faktor yang dominan mempengaruhi perkembangan beragama pada anak usia 012 tahun adalah faktor ekstern (keluarga/khususnya ibu), 3) Kiat menumbuhkan
motivasi beragama yang paling sesuai pada anak usia 0-12 tahun adalah metode
keteladanan, karena memiliki banyak kelebihan dibandingkan metode yang lain.
Kata kunci: Perkembangan, Motivasi beragama, dan Anak

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan salah satu tonggak penting dan mendasar bagi
kebahagiaan hidup manusia. Nasib baik atau buruk secara lahir maupun batin
seseorang, sebuah keluarga, sebuah bangsa bahkan seluruh umat manusia
bergantung secara langsung pada bentuk pendidikan mereka sejak kanakkanak.
Supaya anak dapat tumbuh dan berkembang menjadi anak yang
berguna bagi dirinya sendiri, keluarga, masyarakat dan agamanya sesuai
dengan tujuan dan kehendak Allah SWT. Maka selama pertumbuhan dan
perkembangan anak tersebut harus diwarnai dan diisi dengan pendidikan yang
baik karena manusia menjadi manusia dalam arti sebenarnya ditempuh melalui
pendidikan sejak awal dalam kehidupannya, menempati posisi kunci dalam
mewujudkan harapan dan cita-cita “ menjadi manusia yang berguna.”1
Dalam perkembangan selanjutnya anak harus dapat pendidikan agama
sejak awal, baik secara teori maupun praktek. Praktek hidup keagamaan ini
sangat penting bagi seorang anak supaya dibiasakan agar dapat membentuk
kepribadian seorang anak melalui praktek keagamaan.2
Tujuan pendidikan tersebut hanya akan tercapai bila orang tua mampu
menciptakan suasana yang agamis di dalam keluarga, serta menciptakan
1

Bakir Yusuf Barmawi, Pembinaan Kehidupan Beragama Islam Pada Anak, (Semarang:
Dina Utama Semarang, 1993), hlm. 5.
2
Ibid., hlm. 19.

suasana yang harmonis lahir dan batin di antara anggota-anggota keluarganya.
Orang tua juga harus memperhatikan materi yang tepat yang dapat di berikan
kepada putera-puterinya dalam rangka mewujudkan kepribadian muslim pada
anak. Lebih dari itu keteladanan orangtua juga sangat berpengaruh besar
dalam membentuk kepribadian anak. Karena kepribadian terbentuk melalui
pengalaman-pengalaman dan nilai-nilai yang diterapkan anak dalam
pertumbuhannya, terutama pada tahun-tahun pertama dari umurnya.3
Anak membawa fitrah dan potensi tetapi sekaligus membawa
kelemahan-kelemahan.

Pendidikan

harus

berusaha

memelihara

dan

mengembangkan fitrah dan potensi di awal pertumbuhannya dan berusaha
agar kelemahan-kelemahan yang terbawa sebagai tabiat manusia itu tidak
tumbuh melebihi pertumbuhan fitrah dan potensi-potensinya. Atau dengan
kata lain bahwa pendidikan memberikan motivasi beragama pada anak sejak
dini dalam rangka menghantarkan anak menjadi manusia dewasa yang
berkepribadian Muslim. Kepribadian Muslim adalah merupakan tujuan akhir
pendidikan Islam.
Kondisi fitrah anak dapat kita perhatikan dari firman Allah berikut ini:

Artinya: “ Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama
(Allah): (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut

3

Jalaluddin Rahmat, Muhtar Gandaatmaja, Keluarga Muslim Dalam Masyarakat Modern,
(Bandung: Remaja Rosdakarya, 1994), hlm. 65.

fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus,
tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (QS. Ar-Rum: 30)4
Dari ayat tersebut kita dapat mengetahui bahwa pendidikan adalah
mutlak

diperlukan

oleh

manusia

dalam

rangka

memelihara

dan

mengembangkan fitrah yang dimilikinya sejak masih dalam kandungan. Islam
sangat memperhatikan fitrah manusia untuk dipelihara dengan dikembangkan
menuju terbentuknya kepribadian muslim yang diridhoi Allah SWT.
Sekarang yang menjadi permasalahan adalah bagaimana kita
memperlakukan anak pada fase perkembangan ini, dan bagaimana pula
memberikan pengendalian yang tepat kepadanya. Sebab cara menyikapi orang
tua terhadap anak pada usia ini akan sangat berpengaruh dalam membentuk
pribadi yang Islami, serta dalam menciptakan fondasi yang mantap, guna
membangun masyarakat yang baik.5
Apalagi dalam menghadapi era budaya global, orientasi materilistik
dan hedonis semakin transparan di kalangan masyarakat, membuat orang tua
semakin sibuk agar mampu hidup layak dengan berbagai fasilitas yang
tersedia. Jika masalah pendidikan anak dengan memenuhi berbagai fasilitas,
menyekolahkan pada sekolah favorit misalnya, tanpa memperhatikan keadaan
kondisi kejiwaan anak, seperti kasih sayang, pengawasan dan kontrol orang
tua dalam membimbing dan mengarahkan anak. Hal ini mempengaruhi

4

Departemen Agama RI, Al-Quran dan Terjemahnya, (Semarang: CV. Alwaah, 1995), hlm.

5

Aba Firdaus Al-Halwani, Melahirkan Anak Shaleh, (Yogyakarta: Mitra Pustaka, 1999),

645.
hlm. 72.

perkembangan mental anak salah satunya adalah kurangnya motivasi
beragama pada diri anak.
Lebih jauh lagi, derasnya arus informasi karena kemajuan ilmu
pengetahuan dan teknologi, telah berpengaruh pada pola kehidupan
masyarakat

termasuk

didalamnya anak-anak.

Memang perkembangan

teknologi ini banyak juga positifnya apabila di tinjau dari kemajuan zaman,
anak semakin kritis dan cerdas. Tetapi di sisi lain menyebabkan krisis
keberagamaannya, apabila mekanisme pertumbuhannya tidak di seimbangkan
antara pendidikan fisik, intelektual dan rohani.
Maka dari itu, anak harus di selamatkan dari keterbelakangan menuju
terbentuknya anak yang cerdas dan anak yang penuh harapan yang mampu
memahami ajaran-ajaran Allah, kemudian mengamalkannya sehingga menjadi
anak yang selamat hidupnya. Dalam Al-Qur’an Allah berfiman:

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan
keluargamu dari api neraka…..” (QS. At-Tahrim: 6)6
Dari sekian banyak tokoh pendidikan Islam yang mencurahkan
perhatiannya terhadap problem beragama pada anak seperti dikemukakan
sebelumnya, penulis mengangkat pemikiran dari Zakiah Daradjat. Penulis
tertarik untuk mengangkat pemikiran dari Zakiah Daradjat karena; Pertama,
6

Departemen Agama RI, op. cit., hlm. 951.

Beliau merupakan salah satu tokoh perempuan pembaharuan pendidikan Islam
di Indonesia (Padahal mayoritas tokoh pembaharuan pendidikan Islam adalah
laki-laki, misal: K. H. Ahmad Dahlan, Ki Hajar Dewantara, Prof. Dr. Malik
Fadjar, M. Sc., Prof. Dr. Azyumardi Azra, M. A., dan Muhammad Natsir)
Kedua, Beliau adalah Doktor Muslimah Pertama dalam bidang Psikologi
(Spesialisasi psikoterapi), sebetulnya sebelum beliau, telah ada tokoh
pendidikan Islam wanita yang juga berasal dari Sumatera Barat (Padang
Panjang) yaitu Rahmah El-Yunusiah (lahir 29 Desember 1900), menurut
beliau pendidikan agama yang kuat perlu ditanamkan pada anak didik,
sebagaimana pemikiran Zakiah Daradjat pun demikian, perbedaannnya
Rahmah El-Yunusiah tidak menjelaskan bagaimana cara menanamkan
pendidikan agam itu ditinjau dari segi kejiwaan atau psikologis, yang beliau
tekankan adalah bagaimana agar kaum wanita mendapatkan hak yang sama
dengan kaum pria terutama dalam hal pendidikan. Sedangkan Zakiah Daradjat
memiliki dasar yang mumpuni dalam hal motivasi (berhubungan dengan
masalah psikologi), sehingga penjelasan yang disampaikannya menyentuh dua
disiplin ilmu sekaligus yaitu psikologi dan agama, selain itu pemikiran Zakiah
Daradjat sejalan dengan pemikiran Syaikh Ibrahim Musa Parabek (Sumatra
Barat, lahir tahun 1884), pemikiran beliau yang terkenal adalah mengenai
pembinaan mental spiritual sejak dini, Zakiah Daradjat dan Syaikh Ibrahim
menyadari betapa pentingnya menanamkan motivasi spiritual (beragama)
sejak dini, agar masyarakat tidak terjerumus dalam adat istiadat yang buruk,
khurafat dan pertikaian. Ketiga, Beliau mencurahkan banyak perhatian

masalah jiwa beragama pada anak-anak, terbukti telah banyak karya-karya
ilmiahnya yang menyinggung masalah tersebut, diantaranya; Ilmu Jiwa
Agama, Kesehatan Mental, Pendidikan Islam Dalam Keluarga dan Sekolah,
Perawatan Jiwa untuk Anak-anak, Ilmu Pendidikan Islam, Pembinaan
Remaja, Remaja Harapan dan Tantangan, dan lain sebagainya.
Zakiah Daradjat lahir di kampung Kotamerapak Sumatera Barat 6
November 1929. Beliau mempunyai gagasan dan pemikiran tentang
pendidikan yang seutuhnya, yang mencakup bidang akidah, ibadah dan
akhlak, yang secara keseluruhan merupakan inti ajaran Islam. Sebagai seorang
ahli psikologi agama, Zakiah menganggap bahwa pendidikan Islam dapat
diibaratkan seperti pertumbuhan dan perkembangan bunga-bunga yang
selanjutnya tumbuh menjadi buah yang dapat dinikmati. Anak didik dapat
diibaratkan seperti benih yang mengandung potensi-potensi dasar yang
tersembunyi. Sedangkan guru dapat diibaratkan seperti tukang kebun yang
dengan kasih sayang, tanggungjawab dan pemeliharaannya yang cermat dapat
membuka rahasia potensi-potensi yang tersembunyi tersebut. Mendidik ibarat
berkebun, di dalamnya terdapat menyemai, menanam, menyiram, memelihara
dan merawat benih agar tumbuh dengan sempurna.
Gagasan dan pemikiran Zakiah Daradjat juga mengenai konsep tentang
penanggungjawab pendidikan, yaitu; keluarga, sekolah dan masyarakat.
Ketiga lingkungan tersebut memiliki tanggung jawab yang sama dalam
pendidikan, yang berbeda hanya pada titik tekannya saja. Keluarga berperan
sebagai pembentuk akhlak dan kepribadian anak serta menanamkan nilai-nilai

agama dalam kehidupan sehari-hari, selanjutnya sekolah atau guru berperan
sebagai pemberi landasan teoritis dan dalil-dalil tentang segala sesuatu yang
diperbuat oleh anak, sehingga perbuatan tersebut semakin kokoh tertanam
dalam dirinya, sekolah juga bertugas mengembangkan wawasan dan
keterampilan anak didik dengan berbagai ilmu pengetahuan yang terus
berkembang. Selanjutnya lingkungan masyarakat yang dalam hal ini para
tokoh masyarakat berperan memberikan pengawasan, keteladanan serta
pengalaman pada anak didik tentang cara-cara hidup yang benar serta caracara mengamalkan ilmu yang mereka pelajari di sekolah.7
Dari tinjauan latar belakang tersebut terlihat betapa penting peran
pendidikan Islam yang tepat baik dalam keluarga, sekolah maupun masyarakat
untuk membantu anak dalam menumbuhkan motivasi beragama secara
optimal. Sehingga nantinya terbina kehidupan beragama pada anak yang baik,
akan mengantarkannya menjadi remaja, generasi muda, orang dewasa dan
orang tua yang berkepribadian agamis dan mampu mengendalikan perbuatan
yang buruk serta menjaga dari melakukan perbuatan yang jahat.
Oleh karena itu, berdasarkan latar belakang tersebut, penulis sangat
tertarik untuk mengadakan penelitian tentang perkembangan dan motivasi
beragama pada anak menurut pemikiran Zakiah Daradjat, yang diambil dari
berbagai sumber yang telah disebutkan sebelumnya. Dalam penelitian ini,
penulis mengangkat judul:

7

Abuddin Nata, Tokoh-Tokoh Pembaruan Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 2005), hlm. 427-428.

"Perkembangan Dan Motivasi Beragama Pada Anak (Analisis
Pemikiran Zakiah Daradjat)”

B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah adalah upaya untuk menyatakan secara tersirat
pertanyaan-pertanyaan yang hendak dicarikan jawabannya atau pernyataan
lengkap dan rinci mengenai ruang lingkup masalah yang akan dikaji
berdasarkan identifikasi dan masalah.
Selanjutnya dalam rangka memudahkan permasalahan agar lebih
praktis dan operasional, maka masalah studi ini dirumuskan dalam bentuk
sebagai berikut:
1. Bagaimana karakteristik/ciri-ciri perkembangan beragama pada anak
usia 0-12 tahun (analisis pemikiran Zakiah Daradjat)?
2. Faktor-faktor apa yang mempengaruhi perkembangan beragama pada
anak usia 0-12 tahun (analisis pemikiran Zakiah Daradjat)?
3. Bagaimana kiat-kiat menumbuhkan motivasi beragama pada anak usia
0-12 tahun (analisis pemikiran Zakiah Daradjat)?

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1. Tujuan Penelitian
a. Untuk

mendeskripsikan

karakteristik/ciri-ciri

perkembangan

beragama pada anak usia 0-12 tahun (analisis pemikiran Zakiah
Daradjat).

b. Untuk

mendeskripsikan

faktor-faktor

yang

mempengaruhi

perkembangan beragama pada anak usia 0-12 tahun (analisis
pemikiran Zakiah Daradjat).
c. Untuk mendeskripsikan bagaimana kiat-kiat menumbuhkan motivasi
beragama pada anak usia 0-12 tahun (analisis pemikiran Zakiah
Daradjat).
2. Kegunaan Penelitian
a.

Bagi peneliti:
Menambah bekal pengetahuan dan wawasan bagi penulis yang
mempersiapkan diri sebagai seorang yang terdidik.

b.

Bagi Lembaga:
Memberikan sumbangan pemikiran dan motivasi bagi para
pemerhati pendidikan, baik kalangan pengajar, orang tua, maupun
masyarakat yang memiliki ketertarikan dalam dunia pendidikan.

c.

Bagi Pembaca:
Memberikan kontribusi intelektual terhadap kemajuan umat Islam
dalam aspek menumbuhkan individu yang memiliki kesadaran
dalam membentuk dan mengembangkan kehidupannya.

D. Tinjauan Pustaka
Kebutuhan beragama adalah kebutuhan universal setiap manusia yang
diakui baik ilmuwan barat maupun ilmuwan Islam. G. W Allport, A. Maslow,
WH. Clack, dan Fedrich Shleiremacher adalah tokoh-tokoh barat yang

membahas tentang keterkaitan manusia dengan agama menurut perspektif
sendiri-sendiri, sedangkan menurut Islam sudah jelas dalam Al-Qur’an
disebutkan bahwa pada diri manusia telah diberikan fitrah untuk beragama
tauhid (Ar-Rum: 30), yang perlu ditekankan di sini adalah bahwa fitrah untuk
beragama tersebut masih berupa potensi yang dimiliki oleh setiap manusia dan
untuk mewujudkannya sebagai kemampuan riil diperlukan usaha-usaha berupa
motivasi dan latihan-latihan pada seorang manusia yang harus dimulai
semenjak masa kanak-kanak.
Untuk dapat membentuk kesadaran pada anak, pemahaman terhadap
dimensi keagamaan pada anak merupakan hal yang penting, teori tentang
timbulnya jiwa keagamaan serta kondisi keagamaan pada anak perlu mendapat
perhatian. Penguasaan terhadap ciri-ciri keagamaan pada anak akan menjadi
titik pangkal proses pembentukan kesadaran keagamaan pada anak.
Berdasarkan tinjauan tersebut, maka penulis memilih judul skripsi
Perkembangan dan Motivasi Beragama Pada Anak (Analisis Pemikiran
Zakiah Daradjat), karena belum pernah dibahas pada skripsi terdahulu dan
penulis berpendapat bahwa pemikiran Zakiah Daradjat relevan dengan judul
yang diangkat oleh penulis, yaitu Perkembangan dan Motivasi Beragama Pada
Anak (Analisis Pemikiran Zakiah Daradjat).

E. Ruang Lingkup
Untuk menghindari melebar serta meluasnya permasalahan, serta
untuk mempermudah pemahaman, dalam penulisan skripsi ini ruang lingkup

permasalahn serta pembahasannya dibatasi pada masalah yang berkaitan
dengan judul skripsi;
a. Perkembangan beragama pada anak usia 0-12 tahun (analisis
pemikiran Zakiah Daradjat).
b. Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan beragama pada
anak usia 0-12 tahun (analisis pemikiran Zakiah Daradjat).
c. Kiat-kiat menumbuhkan motivasi beragama pada anak usia 0-12
tahun (analisis pemikiran Zakiah Daradjat).

F. Penegasan Istilah
1. Perkembangan
Perkembangan adalah proses perubahan sesuatu, missal: dari kecil
menjadi besar, sedikit menjadi banyak, tunas menjadi pohon, mentah menjadi
matang, kurang sempurna menjadi lebih sempurna, dan lain sebagainya. Jadi
perkembangan di sini adalah perkembangan yang diiringi perubahan kearah
yang lebih sempurna (kompleks).

2. Motivasi
Motivasi adalah motif seseorang untuk bertindak, atau dorongandorongan yang berasal dari diri seseorang untuk melakukan sesuatu, motivasi
dapat berasal dari luar maupun dari dalam diri seseorang. Motivasi dapat
berupa benda (materi) seperti; uang, mobil, rumah, naik gaji, dan yang berupa
non benda (non materi) seperti; Penghormatan, gengsi, dan lain sebagainya.

3. Beragama
Dari kata agama yang mendapat tambahan awalan berAgama berarti prinsip kepercayaan terhadap Tuhan dengan ajaran
kebaktian dan kewajiban-kewajiban yang berhubungan dengan kepercayaan
itu. Jadi beragama adalah menganut (memeluk) agama.
Jadi yang dimaksud dengan motivasi beragama adalah dorongan atau
usaha seseorang untuk melaksanakan prinsip kepercayaan terhadap Tuhan,
baik secara fisik lahiriyah maupun psikis batiniyah.

4. Anak
Anak adalah sekelompok manusia muda usia yang batasan umurnya
tidaklah selalu sama dalam psikologi perkembangan. Menurut Zakiyah
Darajdat, batasan umur anak dari 0 sampai 12 tahun.8 Masa anak ditandai
dengan proses tumbuh kembang yang meliputi aspek fisik, biologis serta
mental emosional dan psikososial. Diantara kurun masa anak yang cukup
panjang itu, masa balita merupakan masa dengan tingkat pertumbuhan dan
perkembangan yang cepat serta peka dalam peletakan dasar-dasar kepribadian.

5. Zakiah Daradjat
Zakiah Daradjat adalah perempuan yang berasal dari Sumatra Barat
(Bukittinggi), beliau merupakan salah satu dari banyak pemikir pendidikan
Islam yang banyak mencurahkan perhatiannya terhadap perkembangan

8

Zakiah Darajdat, Ilmu Jiwa Agama, (Jakarta: Bulan Bintang, 2003), hlm. 126.

beragama pada anak, hal ini terbukti dari beberapa karya ilmiah yang telah
ditulisnya, antara lain;

Ilmu Jiwa Agama, Kesehatan Mental, Pendidikan

Islam Dalam Keluarga dan Sekolah, Perawatan Jiwa untuk Anak-anak, Ilmu
Pendidikan Islam, Pembinaan Remaja, Remaja Harapan dan Tantangan, dan
lain sebagainya.
Dari

penegasan

istilah

tersebut,

maka

maksud

dari

judul

Perkembangan Dan Motivasi Beragama Pada Anak (Analisis Pemikiran
Zakiah Daradjat) adalah usaha untuk mendorong anak sejak dini agar dalam
dirinya tertanam nilai-nilai ajaran Islam yang baik dan benar menurut konsep
pemikiran Zakiah Daradjat (pendekatan psikologi agama Zakiah Daradjat),
sehingga nantinya dapat terwujud kepribadian muslim yang sempurna.

G. Sistematika Pembahasan
Sistematika pembahasan skripsi ini terdiri dari lima bab dan dari
setiap bab di bagi menjadi sub-sub bab. Untuk lebih jelasnya penulis
kemukakan sistematika pembahasan sebagai berikut:
Bab pertama, dalam bab ini akan diuraikan tentang hal-hal berikut:
latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian,
tinjauan pustaka, ruang lingkup, penegasan istilah, metode penelitian dan
sistematika pembahasan.
Bab kedua, dalam bab ini berisi kajian pustaka yang membahas: A.
Perkembangan beragama pada anak, 1) Tumbuhnya jiwa beragama pada anak,
2) Perkembangan beragama pada anak, 3) Sifat-sifat beragama pada anak, B.

Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan beragama pada anak, 1)
Faktor internal dan 2) Faktor eksternal, C. Pengertian Motivasi, 1) Pengertian
motivasi, 2) Bentuk-bentuk motivasi, 3) Peranan motivasi, dan 4) Teori-teori
tumbuhnya motivasi beragama.
Bab ketiga, akan dijelaskan mengenai metodologi penelitian yang
membahas: A.Pendekatan dan Jenis Penelitian, B. Instrumen Penelitian C.
Sumber Data, D. Metode Pengumpulan Data, dan E. Metode Pengolahan
Data.
Bab keempat, dalam bab ini dijelaskan hasil penelitian (Pemaparan
Data dan Analisis), yang terdiri dari: A. Setting Historis Zakiah Daradjat; 1.
Biografi singkat Zakiah Daradjat, 2. Gagasan dan Pemikiran dalam pendidikan
Islam, 3. Karya-karya Zakiah Daradjat, B. Perkembangan dan motivasi
beragama pada anak usia 0-12 tahun menurut Pemikiran Zakiah Daradjat, 1.
Perkembangan beragama pada anak usia 0-12 tahun, 2. Faktor-faktor yang
mempengaruhi perkembangan beragama pada anak usia 0-12 tahun, 3. Kiatkiat menumbuhkan motivasi beragama pada anak usia 0-12 tahun, C. Analisis
Bab kelima, merupakan bab terakhir atau penutup yang berisi
tentang kesimpulan dan saran-saran.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. PERKEMBANGAN BERAGAMA PADA ANAK
1. Tumbuhnya Jiwa Beragama Pada Anak
Pada hakekatnya manusia adalah makhluk yang dilahirkan dalam
keadaan lemah dan tiada berdaya, namun demikian ia telah mempunyai
potensi bawaan dan lingkungan dan salah satu sifat hakiki manusia adalah
mencapai kebahagiaan. Menurut Tabatabai untuk mencapai kebahagiaan itu
manusia membutuhkan agama.9
Menurut beberapa ahli anak dilahirkan bukanlah sebagai makhluk
religius. Anak yang baru dilahirkan mirip dengan binatang dan malahan
mereka mengatakan anak seekor kera lebih bersifat kemanusiaan daripada
bayi manusia itu sendiri. Selain itu ada pula yang berpendapat sebaliknya
bahwa, anak sejak lahir telah membawa fitrah keagamaan. Fitrah itu baru
berfungsi di kemudian hari melalui proses bimbingan dan latihan setelah
berada pada tahap kematangan.10
Jiwa beragama atau religius berkembang sejak usia dini melalui proses
perpaduan antara fitrah keagamaan dengan pengaruh yang datang dari luar diri
manusia. Dalam proses perkembangan tersebut akan terbentuk macam sifat
serta kualitas religiusitas yang akan terekspresikan pada tingkah laku seharihari.
9

Ismail SM, dkk, Paradigma Pendidikan Islam, (Yokyakarta: Pustaka Pelajar, 2001), hlm.

219.
10

Jalaluddin, Psikologi Agama, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2002), hlm. 64-65.

Islam sendiri sudah sangat jelas mengakui bahwa pada manusia yang
baru lahir sudah terdapat potensi untuk beragama yang disinyalir dalam ayat:

Artinya: “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anakanak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian
terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini
Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami
menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari
kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam)
adalah
orang-orang
yang
lengah
terhadap
ini
(keesaanTuhan).”11(QS. Al-A’raf: 172)
Dalam ayat ini Allah mengemukakan bahwa fitrah manusia yakni
dalam penciptaan dan tabiat dirinya terdapat kesiapan alamiah untuk
memahami keindahan ciptaan Allah dan mejadikan sebagai bukti tentang
adanya Allah dan keesaan-Nya.12 Berarti jiwa keagamaan telah tertanam kuat
dalam fitrahnya dan telah ada dalam relung jiwanya sejak zaman azali.
Manusia lahir dengan membawa kecenderungan bawaan untuk mengimani
dan menyembah Allah. Implikasinya adalah bahwa prinsip tauhid menyatu
dengan sifat dasar manusia.
Potensi dasar manusia yang diberikan oleh Allah adalah juga untuk
memenuhi kebutuhan dasar manusia itu, sebagaimana dinyatakan dalam alQur’an:
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Semarang: CV. Alwaah, 1995),
hlm. 250.
12
M. Utsman Najati, Al-Qur’an dan Ilmu Jiwa, (Bandung: Penerbit Pustaka, 2000), hlm.
41.
11

Artinya: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan
tidak mengetahui sesuatu pun, dan Dia memberi kamu pendengaran,
penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”13 (QS. An-Nahl: 78)

Dari ayat tersebut dapat diketahui bahwa sekalipun saat dilahirkan
manusia tidak mengetahui apa-apa, tetapi mereka dibekali oleh Allah suatu
potensi (kemampuan) untuk mendengar dan melihat yang bersifat fisikal dan
kemampuan berfikir yang bersifat intelektual serta emosi agama yang bersifat
spiritual.
Sesuai dengan prinsip pertumbuhannya maka seorang anak menjadi
dewasa memerlukan bimbingan sesuai dengan prinsip yang dimilikinya;14
a. Prinsip Biologis
Secara fisik anak baru lahir dalam keadaan lemah. Dalam segala gerak
dan tindak-tanduknya ia selalu memerlukan bantuan dari orang-orang
dewasa sekelilingnya. Dengan kata lain ia belum dapat berdiri sendiri karena
manusia bukanlah merupakan makhluk instintif. Keadaan tubuhnya belum
tumbuh secara sempurna untuk difungsikan secara maksimal.
b. Prinsip Tanpa Daya
Sejalan dengan belum sempurnanya pertumbuhan fisik dan psikisnya
maka anak yang baru dilahirkan hingga menginjak usia dewasa selalu

13
14

Departemen Agama RI, op. cit., hlm. 413.
Jalaluddin, op. cit., hlm. 63-64.

mengharapkan bantuan dari orangtuanya. Ia sama sekali tidak berdaya untuk
mengurus dirinya sendiri.
c. Prinsip Eksplorasi
Kemantapan dan kesempurnaan potensi manusia yang dibawanya sejak
lahir baik jasmani maupun rohani memerlukan pengembangan melalui
pemeliharaan dan latihan. Jasmaninya baru akan berfungsi secara sempurna
jika dipelihara dan dilatih. Akal dan fungsi mental lainnya pun baru akan
menjadi baik dan fungsi jika kematangan dan pemeliharaan serta bimbingan
dapat diarahakan kepada pengekplorasian perkembangannya.15

2. Perkembangan Beragama Pada Anak
Naluri beragama pada dasarnya telah menjadi bakat sejak lahir. Itu
sebabnya manusia disebut homo religius, yaitu makhluk yang bertuhan dan
beragama. perkembangan beragama pada anak sangat ditentukan oleh
pendidikan dan pengalaman yang dilaluinya, terutama pada masa-masa
pertumbuhan yang pertama (masa anak) dari umur 0-12 tahun. Seorang anak
yang pada masa itu tidak mendapat pendidikan agama dan tidak pula
mempunyai pengalaman beragama, maka ia nanti setelah dewasa akan
cenderung kepada sikap negative terhadap agama.
Faktor kejiwaan yang penting

pada awal perkembangan manusia

adalah perhatian yang diberikan pada masalah agama di masa kanak-kanak.
Masa kanak-kanak merupakan periode yang dinamis secara psikologis bagi

15

Jalaluddin, op. cit., hlm. 65-66.

perkembangan religiusitas dan merupakan

momentum pertama untuk

mengaktualisasikan fitrah beragama yang dianugerahkan Tuhan kepada
manusia.16
Menurut penelitian Ernest Harms perkembangan agama anak-anak itu
melalui beberapa fase (tingkatan). Dalam bukunya the development of religius
on children yang dikutip oleh Jalaluddin, ia mengatakan bahwa agama pada
anak-anak itu melalui tiga tingkatan,17 yaitu:
a. The Fairy Tale Stage (Tingkat dongeng).
Tingkatan ini dimulai pada anak yang berusia 3-6 tahun. Pada
tingkatan ini konsep mengenai Tuhan lebih banyak dipengaruhi oleh fantasi
dan emosi. Pada tingkatan

perkembangan ini anak menghayati konsep

ketuhanan sesuai dengan tingkat perkembangan kehidupan fantasi hingga
dalam menanggapi agama pun anak masih menggunakan konsep fantastis
yang diliputi oleh dongeng-dongeng yang kurang masuk akal.
Minat terhadap dongeng-dongeng itu mulai berkurang, kalau anak itu
kira-kira umur 8 tahun: kebanyakan dongeng itu menjadi cempelang bagi
anak-anak. pikiran kritis anak-anak itu tidak menerima begitu saja ceritacerita yang mustahil atau yang fantastis.
b. The Realistic Stage (Tingkat Kenyataan).
Tingkat ini dimulai sejak anak masuk sekolah dasar ke usia (masa
usia) adolensense. Pada masa ini ide ketuhanan anak sudah mencerminkan
konsep-konsep yang berdasarkan kepada kenyataan (realis).
16
17

Imam Bawani, Ilmu Jiwa Perkembangan, (Surabaya: PT Bina Ilmu, 1990), hlm. 106.
Jalaluddin, op. cit., hlm. 66-67.

Konsep ini timbul melalui lembaga-lembaga keagamaan dan
pengajaran agama dari orang dewasa lainnya. Pada masa ini ide keagamaan
pada anak didasarkan atas dorongan emosional, hingga mereka dapat
melahirkan konsep Tuhan yang formalis. Berdasarkan hal itu maka pada
masa ini anak-anak tertarik dan senang pada lembaga keagamaan yang
mereka lihat dikelola oleh orang dewasa dalam lingkungan mereka. Segala
bentuk tindak (amal) keagamaan mereka ikuti dan mempelajarinya dengan
penuh minat.
c. The Individual Stage (Tingkat Individu)
Pada tingkat ini anak telah memiliki kepekaan emosi yang paling
tinggi sejalan dengan perkembangan usia mereka. Konsep keagamaan yang
individualistis ini terbagi atas tiga golongan, yaitu:
1) Konsep ke-Tuhanan yang konvensional dan konservatif dengan
dipengaruhi sebagian kecil fantasi. Hal tersebut disebabkan oleh
pengaruh luar.
2) Konsep ke-Tuhanan yang lebih murni yang dinyatakan dalam
pandangan yang bersifat personal (perorangan).
3) Konsep ke-Tuhanan yang bersifat humanistik. Agama telah menjadi
etos humanis pada diri mereka dalam menghayati ajaran agama.
Perubahan ini setiap tingkatatan dipengaruhi oleh faktor intern yaitu
perkembangan usia dan faktor ekstern berupa pengaruh luar yang
dialaminya.

3. Sifat-Sifat Beragama Pada Anak
Kesadaran

beragama

seseorang

bersifat

dinamis-evolusionistis,

perkembangan secara berlanjut dari mulai adanya fitrah beragama, potensi
dasar yang akan direalisasikan atau dikembangkan melalui kesadaran agama
yang sama sampai menjadi kesadaran beragama yang matang. jika kita
memahami konsep keagamaan pada anak-anak berarti memamahami pula
sifat-sifat agama pada anak-anak. Dengan ciri yang mereka miliki, maka sifat
agama pada anak-anak tumbuh mengikuti pola ideas concept on outhority. Ide
keagamaan pada anak hampir sepenuhnya authoritarius, maksudnya konsep
keagamaan pada diri mereka dipengaruhi oleh faktor dari luar diri mereka.18
Berdasarkan hal itu maka bentuk dan sifat agama pada diri anak dapat dibagi
atas:
a. Unreflective (tidak mendalam)
Anggapan anak terhadap ajaran agama dapat saja mereka terima
dengan tanpa kritik. Kebenaran yang mereka terima tidak begitu mendalam
sehingga cukup sekedarnya saja dan mereka sudah merasa puas dengan
keterangan yang kadang-kadang kurang masuk akal. Konsep ketuhanan pada
diri anak sebesar 73 % menganggap tuhan itu bersifat seperti manusia.
Contoh: Tuhan itu maha mendengar, berarti tuhan itu sama seperti manusia
yang mendengar melalui telinganya.

18

Jalaluddin, op. cit., hlm. 68.

b. Egosentris
Anak memiliki kesadaran akan diri sendiri sejak tahun pertama usia
perkembangannya dan akan berkembang sejalan dengan pertambahan
pengalamannya. Apabila kesadaran akan diri itu mulai tumbuh subur pada
diri anak, maka akan tumbuh keraguan pada rasa egonya. Semakin
bertambah semakin menigkatnya pula egoisnya. Sehubungan dengan hal itu
maka dalam masalah keagamaan anak telah menonjolkan kepentingan
dirinya dan telah menuntut konsep keagamaan yang mereka pandang dari
kesenangan pribadinya. Seorang anak yang kurang mendapat kasihsayang
dan selalu mengalami tekanan anak bersifat kekanak-kanakan (childish) dan
memiliki sifat ego yang rendah. Hal yang demikian mengganggu
pertumbuhan keagamaannya.

c. Antromorphish
Sifat anthromorpish agama pada anak, dimana kata-kata dan gambaran
keagamaan diterjemahakan ke dalam pengalaman-pengalaman yang sudah
dijalani dan biasanya dalam bentuk orang-orang yang sudah di kenal.19
Melalui konsep yang sudah terbentuk dalam pikiran mereka
menganggap bahwa perikeadilan tuhan sama dengan manusia. Pekerjaan
Tuhan mencari dana menghukum orang yang berbuat jahat di saat orang itu
berada dalam tempat yang gelap.

19

Robbert W Crapps, Perkembangan Kepribadian Keagamaan, (Yokyakarta: Kanisius,
1994), hlm. 18.

Keimanan si anak kepada Tuhan belum merupakan suatu keyakinan
sebagai hasil pemikiran yang obyektif, akan tetapi merupakan bagian dari
kehidupan alam perasaan yang berhubungan erat dengan kebutuhan jiwanya
akan kasih sayang, rasa aman dan kenikmatan jasmaniah.20 Konsep
Ketuhananan yang demikian itu mereka bentuk sendiri berdasarkana fantasi
masing-masing.

d. Verbalis dan Ritualis.
Dari kenyataan yang kita alami ternyata kehidupan agama pada anakanak sebagian besar tumbuh mula-mula secara verbal (ucapan). Mereka
menghafal secara verbal kalimat-kalimat keagamaan dan selain itu pula dari
amaliah yang mereka laksanakan berdasarkan pengalaman menurut tuntutan
yang diajarakan kepada mereka. sepintas lalu kedua hal tersebut kurang ada
hubungannya dengan perkembangan agama pada anak di masa selanjutnya
tetapi menurut penyelidikan hal itu sangat besar pengaruhnya terhadap
kehidupan agama anak itu di usia dewasanya. Bukhori menunjukkan bahwa
banyak orang dewasa yang taat karena pengaruh ajaran dan praktek
keagamaan yang dilaksanakan pada masa anak-anak mereka. Sebaliknya
belajar agama di usia dewasa banyak mengalami kesukaran. Latihan-latihan
bersifat verbalis dana upacara keagamaan yang bersifat ritual (praktek)
merupakan hal yang berarti dan merupakan salah satu ciri dari tingkat
perkembangan agama pada anak-anak.
20

Abdul Aziz Ahyadi, Psikologi Agama Kepribadian Muslim Pancasila, (Bandung: Sinar
Baru, 1991), hlm. 41.

e. Imitatif
Dalam kehidupan sehari-hari dapat kita saksikan bahwa tindak
keagamaan yang dilakukan oleh anak-anak pada dasarnya diperoleh dari
meniru. Kecenderungan meniru kepada seluruh gerak dan perbuatan dari
figur yang menjadi idolanya adalah merupakan indikasi yang positif, karena
sangat berperan dalam pembinaan watak seorang anak. Berdoa dan shalat
misalnya

mereka

laksanakan

karena

hasil

melihat

perbuatan

dilingkungannya, baik berupa pembiasaan ataupun pengajaran yang intensif.
Walaupun anak mendapat ajaran agama tidak semata-mata berdasarkan
yang mereka peroleh sejak kecil namun pendidikan kegamaan (religious
paedagogies) sangat mempengaruhi terwujudnya tingkah laku keagamaan
(religious behaviour) melalui sifat meniru itu. Sikap anak yang suka meniru
ini harus mendapat pembinaan dan pengarahan dengan memberi contoh
yang baik, sehingga anak akan mengenali hal-hal yang baik dan tumbuh rasa
cinta kepada hal-hal pula. Kemudian anak akan berkembang terdorong untuk
merealisasikannya dalam bentuk amal nyata.

f. Rasa Heran
Rasa heran/kagum merupakan tanda dan sifat keagamaan yang terakhir
pada anak. Berbeda dengan rasa kagum yang ada pada orang dewasa, maka
rasa kagum pada anak ini belum bersifat kritis dan kreatif. Mereka hanya
kagum terhadap keindahan lahiriah saja. Hal ini merupakan langkah pertama

dari pernyataan kebutuhan anak akan dorongan untuk mengenal sesuatu
yang baru (new experience). Rasa kagum mereka dapat disalurkan melalui
cerita-cerita yang menimbulkana rasa takjub.

B. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERKEMBANGAN
BERAGAMA PADA ANAK
1. Faktor Internal
Pada umumnya perkembangan beragama seseorang ditentukan oleh
dua faktor; internal dan eksternal. Begitu pula perkembangan beragama pada
masa anak, dipengaruhi oleh dua faktor tersebut. Faktor internal; faktor
kecerdasan, emosi, moral dan sosial, sedangkan yang termasuk faktor
eksternal; keluarga, sekolah dan masyarakat.
a. Faktor Kecerdasan dalam Perkembangan Beragama Pada Anak
Islam menyatakan bahwa manusia lahir di dunia membawa
pembawaan yang disebut fitrah.21 salah satu aspek potensial dari apa yang
disebut “fitrah” adalah kemampuan berfikir manusia dimana rasio atau
intelegensia (kecerdasan) menjadi pusat perkembangannya.22 Karena ada
fitrah itu manusia selalu membutuhkan pegangan hidup yang disebut dengan
agama. Manusia merasa bahwa dalam jiwanya ada satu perasaan yang
mengakui adanya Yang Maha Kuasa, tempat mereka berlindung dan
memohon pertolongan. Hal semacam ini terjadi pada seluruh lapisan
masyarakat, baik masyarakat modern, agak modern, maupun masyarakat
21
22

Nur Uhbuyati, Ilmu Pendidikan Islam, (Bandung: CV Pustaka Setia, 1998), hlm. 102.
M. Arifin, Filsafat Pendidikan Islam, (Jakarta: Bumi Aksara, 1993), hlm. 158.

primitif. Mereka merasa tentram dan tenang dikala mereka mendekatkan diri
pada Allah SWT.23
Panca indera manusia sebagai alat pengamatan yang terdiri dari
penglihatan, pendengaran, penciuman, perasaan dan peraba memegang
peranan penting dalam mengantar manusia untuk percaya terhadap Tuhan.
Melalui pengamatan panca inderawi akan memperkuat kepercayaan secara
fitri yang dimiliki seseorang dan sekaligus juga dapat memberikan jawaban
terhadap keinginan batin dalam menuju kepercayaan terhadap Tuhan.24
Menurut Prof. Mukhtar Yahya, pertumbuhan akal anak-anak itu
adalah melalui dua taraf, yaitu panca indera dan taraf pikiran. 25 Anak pada
usia pertama berfikir berdasarkan tingkat indrawi. Dia tidak bisa mencapai
hal-hal

yang

abstrak

dan

tinjauan-tinjauan

filosofis.

Kalaupun

menyampaikan masalah ini pada anak-anak hendaklah dengan bentuk
inderawi dan mengkaitkannya dengan realitas dan kehidupannya.26
Dalam keadaan normal pikiran anak usia sekolah dasar berkembang
secara berangsur-angsur dan secara tenang. Pengetahuannya bertambah
secara pesat. Dalam iklim yang egosentris, anak memasuki dunia obyektif
dan dunia pikiran orang lain. 27

23

Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta: Klam Mulia, 1994), hlm. 203.
Hafi Anshori, Dasar-Dasar Ilmu Jiwa Beragama, (Surabaya: Usaha Nasional, 1991),
hlm. 42-43.
25
Mukhtar Yahya, Pertumbuhan Akal Dan Memanfaatkan Naluri Kanak-Kanak, (Jakarta:
Bulan Bintang, 1972), hlm. 19.
26
Ma’ruf Zurayk, Bimbingan Praktis Mendidik Anak Menuju Remaja: Aku dan Anakku,
(Bandung: Al-Bayan, 1998), hlm. 90.
27
Kartini Kartono, Psikologi Anak: Psikologi Perkembangan, (Bandung: Mandar Maju,
1990), hlm. 138-140.
24

b. Faktor Emosi Dalam Perkembangan Beragama Pada Anak
Menurut Elizabeth B. Hourlock emosi anak pada perkembangan ini
sangatlah kuat karena terjadi ketidak seimbangan dimana anak-anak keluar
dari fokus dalam artian bahwa ia mudah terbawa ledakan-ledakan
emosional, sehingga sulit dibimbing dan di arahkan. Hal ini ditandai dengan
ledakan amarah yang kuat, ketakutan yang hebat dan iri hati yang tak masuk
akal dan kebanyakan emosi yang tinggi disebabkan oleh masalah
psikologis.28
Dalam menumbuhkan motivasi beragama pada anak sedapat mungkin
diusahakan

agar

terjadi

pengalaman-pengalaman

emosional

yang

menyenangkan dalam diri anak bahwa agama itu baik, Allah itu tidak
menakutkan oleh karena itu perlu didekati.29Selain itu, pendidikan atau
latihan ritual keagamaan harus disesuaikan dengan kadar kemampuan atau
nalar seseorang. Dalam menghadapi anak-anak untuk mengajarkan agama
harus dengan cara yang lembut dan penuh kasih sayang, jangan sekali-kali
mengajarkan agama dengan kekerasan, karena anak akan menyangka bahwa
agama itu menyakitkan. Maka hubungan yang harmonis antara anak dan
orang tua (terutama), akan sangat membantu dalam proses menumbuhkan
motivasi beragama pada anak. Pangalaman-pengalaman emosional yang
menyenangkan akan mempermuda

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

PERKEMBANGAN DAN MOTIVASI BERAGAMA PADA