Analisis Daya Saing dan Strategi Industri Nasional di Era Masyarakat Ekonomi ASEAN dan Perdagangan Bebas

WP/3/2015

WORKING PAPER

ANALISIS DAYA SAING DAN STRATEGI
INDUSTRI NASIONAL DI ERA MASYARAKAT
EKONOMI ASEAN DAN PERDAGANGAN BEBAS

Masagus M. Ridhwan
Gunawan Wicaksono
Linda Nurliana
Pakasa Bary
Fenty Tri Suryani
Redianto Satyanugroho

September, 2015

Kesimpulan, pendapat, dan pandangan yang disampaikan oleh penulis dalam
paper ini merupakan kesimpulan, pendapat, dan pandangan penulis dan
bukan merupakan kesimpulan, pendapat, dan pandangan resmi Bank
Indonesia.

ANALISIS DAYA SAING DAN STRATEGI INDUSTRI NASIONAL
DI ERA MASYARAKAT EKONOMI ASEAN DAN
PERDAGANGAN BEBAS
Masagus M. Ridhwan, Gunawan Wicaksono, Linda Nurliana, Pakasa Bary,
Fenty Tri Suryani, Redianto Satyanugroho1
Abstrak
Penelitian ini mengkaji kinerja perdagangan internasional Indonesia dan
daya saing termasuk faktor pendukung yang berkontribusi terhadap kinerja
perdagangan tersebut. Dari hasil analisis yang dilakukan, daya saing produk
manufaktur domestik, khususnya yang berbasis teknologi menengah dan
tinggi, relatif tertinggal jika dibandingkan dengan negara peers di ASEAN
(Singapura, Malaysia dan Thailand) dan extra ASEAN khususnya Tiongkok.
Sementara daya saing produk yang berbasis teknologi rendah hingga saat ini
masih cukup baik meskipun ke depan akan semakin berkompetisi ketat
dengan Vietnam khususnya. Struktur ekspor industri nasional juga masih
sangat berorientasi resource based dengan nilai tambah rendah. Hasil studi
ini juga mengidentifikasi sejumlah faktor yang menyebabkan lemahnya daya
saing dimaksud terutama berkaitan erat dengan faktor kapabilitas domestik
khususnya masalah skill set dan ketenagakerjaan, logistik, kebijakan, dan
institusi domestik yang kurang kondusif serta kurangnya dukungan akses
pasar. Untuk itu, strategi nasional perlu diarahkan untuk membangun industri
yang berdaya saing tinggi. Hal itu dapat dicapai melalui peningkatan
(upgrading) dan deepening industri, penciptaan nilai tambah domestik, serta
pewujudan Indonesia sebagai basis produksi (hub) yang berorientasi ekspor.
Dengan demikian, rekomendasi strategi kebijakan (dengan semangat
reformasi) yang perlu dilakukan meliputi aspek industri, investasi, dan
perdagangan yang bertumpu pada tujuh aspek, yaitu i) faktor institusi dan
leadership, ii) skema insentif trade and investment, iii) faktor sumber daya
manusia (SDM) dan ketenagakerjaan, iv) infrastruktur, v) efisiensi teknis dan
business services, vi) akses pembiayaan, serta vii) akses pasar.
Key word

: ASEAN Economic Community, International Trade,
Industrial Policy

JEL Classification : O2, O57, L52

1

Adalah Peneliti Ekonomi di Grup Riset Ekonomi (GRE), Departemen Kebijakan Ekonomi
dan Moneter (DKEM), Bank Indonesia. Pandangan dalam paper ini merupakan pandangan
penulis dan tidak merefleksikan pandangan DKEM atau Bank Indonesia. Penulis
menyampaikan penghargaan kepada Bpk. Solikin M. Juhro, Bpk. Yoga Affandi, Bpk. Reza
Anglingkusumo, Ibu Titik Anas dan semua pihak yang memberikan bantuan/ dukungan
hingga dapat tersusunnya hasil studi ini.

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) secara formal akan diimplementasikan
pada akhir tahun 2015 meskipun prosesnya telah dimulai sejak ditandatanganinya
The ASEAN Framework Agreement on Economic Cooperation oleh para pemimpin
ASEAN pada tahun 1992 (Kemenko, 2015). Dengan demikian, perdagangan bebas
sejatinya telah mulai diterapkan secara bertahap dan progresif oleh negara anggota
ASEAN melalui regional trade agreement (RTA) berbentuk ASEAN Free Trade Area
(AFTA). Berbeda dengan AFTA, MEA lebih bersifat komprehensif yang mencakup
empat pilar dengan tujuan untuk mentransformasi ASEAN menjadi pasar tunggal
dengan basis produksi yang terintegrasi, dalam suatu kawasan ekonomi yang
berdaya saing, dengan tingkat pembangunan ekonomi yang semakin merata, dan
terhubung dengan jaringan produksi global. Komitmen negara–negara ASEAN di
MEA tidak hanya terdiri atas liberalisasi, tetapi juga meliputi reformasi ekonomi,
fasilitasi, dan harmonisasi regulasi. Secara substansial penerapan MEA sebenarnya
sebagian besar telah tercapai, misalnya, melalui penghapusan tarif, fasilitasi
perdagangan, agenda integrasi pasar jasa, fasilitasi investasi, simplifikasi dan
harmonisasi framework kebijakan pasar modal, fasilitas tenaga kerja terampil, dan
lainnya. MEA 2015 bukanlah tujuan akhir, melainkan merupakan suatu langkah
penting bagi perkembangan perekonomian ASEAN yang semakin terintegrasi.
Bagi Indonesia implementasi MEA merupakan salah satu langkah strategis
yang dapat diambil oleh Pemerintah Indonesia dalam rangka mengambil manfaat
yang sebesar–besarnya dari globalisasi ekonomi. Aspirasi multilateral, terutama
yang berkaitan dengan integrasi ekonomi kawasan, seperti MEA dan lainnya, selain
memberikan kesempatan/peluang pasar yang lebih luas, juga mengandung
sejumlah tantangan/permasalahan yang kompleks.
Dalam hal ini, pemberlakuan MEA selain meningkatkan perdagangan intra
regional ASEAN, juga akan meningkatkan persaingan untuk mendapatkan
investasi, produksi, dan perdagangan di kawasan. Dengan perdagangan yang akan
semakin meningkat, surplus atau defisit perdagangan yang terjadi bagi suatu negara
cenderung akan semakin dinamis dan multidimensi. Dalam konteks hubungan
dagang internasional itu tentu akan sangat relevan dengan tugas Bank Indonesia
dalam rangka stabilitas makroekonomi domestik, khususnya inflasi dan nilai tukar.

Defisit transaksi berjalan Indonesia yang telah terjadi sejak akhir tahun 2011
hingga periode berjalan sangat dipengaruhi oleh dua faktor utama, yaitu faktor
domestik: masalah struktural pada industri dan perdagangan, dan faktor eksternal:
shock global. Struktur ekspor Indonesia saat ini didominasi oleh industri
pengolahan berbasis sumber daya alam (SDA) yang kinerjanya bergantung pada
harga komoditas. Berakhirnya commodity super cycle dan perlambatan ekonomi
dunia menyebabkan turunnya harga komoditas yang berdampak negatif terhadap
ekspor Indonesia.

Gambar 1. Alur Pikir Permasalahan dan Strategi
Selain itu, pangsa industri Indonesia semakin menurun pada 1–2 dekade
terakhir dan secara bersamaan rata–rata pertumbuhan ekonomi menjadi lebih
rendah jika dibandingkan dengan tahun 1980-an. Saat ini industri pengolahan
Indonesia sendiri umumnya didominasi oleh industri yang berorientasi domestik
dengan tingkat kandungan impor yang tinggi. Salah satu penyebabnya adalah
lemahnya kebijakan investasi dan kurangnya koneksi pada pasar global.
Indonesia sendiri mempunyai potensi yang jauh melebihi kinerja saat ini.
Indonesia mempunyai sumber daya alam yang melimpah, mengalami bonus
demografi, dan mempunyai letak geografis yang strategis. Selain itu, Indonesia juga
dapat mengoptimalkan momentum the rise of Asia untuk ikut mengembangkan
ekonominya.
Dalam mengatasi berbagai permasalahan di atas dan untuk mengoptimalkan
potensi Indonesia, transformasi ekonomi perlu dilakukan melalui peningkatan daya

saing industri di pasar global. Industri menjadi sentral dalam transformasi karena
industri merupakan lokomotif pertumbuhan menuju negara maju. Penyerapan
banyak tenaga kerja dapat menciptakan nilai tambah dalam perekonomian yang
pada akhirnya dapat menjadi sumber devisa secara fundamental.
Studi terkait MEA telah banyak dilakukan sebelumnya, baik dilakukan Bank
Indonesia maupun eksternal. Penelitian sebelumnya oleh Nugroho dan Yanfitri
(2011) yang menganalisis dampak liberalisasi di sektor barang, jasa, modal, dan
investasi menyimpulkan bahwa daya saing Indonesia lemah sehingga terdapat
kemungkinan Indonesia menjadi pihak yang dirugikan dari MEA. Salah satu studi
ERIA menyebutkan bahwa MEA akan memberikan manfaat bagi semua anggota
meskipun besarnya tidak sama. Indonesia tetap tumbuh, tetapi lebih rendah jika
dibandingkan dengan negara ASEAN lainnya. Survei yang dilakukan oleh BCG
(2014) menunjukkan bahwa perusahaan Indonesia cenderung memandang
pemberlakuan MEA sebagai ancaman, sedangkan perusahaan di Malaysia dan
Singapura lebih optimis dan memandang MEA sebagai peluang. Laporan AT&K
(2013) menyebutkan perusahaan lokal yang hanya berfokus pada pasar domestik
adalah

perusahaan

mengindikasikan

yang

bahwa

paling

rentan

perusahaan

terhadap

atau

MEA.

industri

Temuan

Indonesia

tersebut

cenderung

berorientasi domestik dan berdaya saing rendah di pasar global.
Dengan mempertimbangkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk
melihat secara mendalam daya saing Indonesia dan kemudian merumuskan strategi
kebijakan nasional untuk meningkatkan daya saing Indonesia. Secara khusus
kebijakan ekonomi dan perdagangan yang telah diambil harus senantiasa ditinjau
ulang dan dipertajam agar Indonesia sebagai anggota terbesar di ASEAN dapat
menarik manfaat dari MEA. Pendekatan yang digunakan pada tahap awal adalah
analisis daya saing (trade competitiveness diagnostics) yang mengukur kinerja
perdagangan internasional Indonesia dibandingkan peer countries–nya, dalam hal
ini dengan negara ASEAN lainnya. Aktivitas perdagangan merupakan lensa yang
berguna untuk mengukur daya saing. Pasar ekspor umumnya memiliki tingkat
persaingan yang tinggi sehingga negara yang memiliki daya saing tinggi di ekspor,
umumnya juga lebih unggul pada faktor domestik. Hal itu sejalan dengan hubungan
timbal balik antara perdagangan dan produktivitas. Pelaku usaha yang produktif
menjadi eksportir dan akan semakin produktif dengan adanya permintaan dari
pasar ekspor. Lebih lanjut, Reis dan Farole (2012) menyatakan bahwa hambatan
utama negara berkembang untuk bersaing dalam perdagangan internasional
umumnya bersifat behind the border, yaitu faktor internal dalam suatu negara

seperti logistik, bea cukai, pembiayaan, kondisi faktor produksi, dan kurangnya
kompetisi.
Studi mengenai perdagangan tidak akan terlepas dari studi mengenai industri
dan investasi mengingat eratnya hubungan ketiga hal ini dalam menentukan daya
saing suatu negara, terlebih dalam pola perdagangan global value chain (GVC) saat
ini. Studi tersebut selanjutnya akan menjadi masukan dalam merumuskan
kebijakan industri, perdagangan, dan investasi sebagai strategi nasional dalam
menyambut MEA 2015–2025.

1.2 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah: (a) menganalisis daya saing industri nasional
pada era perdagangan bebas dunia (termasuk MEA, dll), dan (b) menyusun strategi
industri nasional yang berdaya saing tinggi.
Selain dapat memberikan kontribusi pada literatur terkait yang ada
sebelumnya, kontribusi penelitian ini juga diharapkan dapat memberikan (a)
asesment pada kinerja dan daya saing ekspor Indonesia secara komprehensif dan
menyeluruh (upstream ke downstream); serta (b) perumusan strategi nasional yang
khususnya berkaitan dengan peningkatan daya saing industri.

1.3 Batasan Penulisan
Penelitian ini mencakup analisis dan perumusan rekomendasi strategi
nasional terkait daya saing pada sektor industri manufaktur. Cakupan penelitian
tidak termasuk pada sektor jasa, seperti keuangan dan tenaga kerja, lalu lintas
modal, dan pilar keempat MEA berkaitan dengan integrasi pada ekonomi global.

1.4 Organisasi Penulisan
Penulisan kajian ini akan dibagi ke dalam lima bab yang dimulai dengan Bab
1 mengenai pendahuluan dan tujuan dari penelitian ini, kemudian dilanjutkan
dengan Bab 2 yang berisi studi literatur yang pernah dilakukan. Pada Bab 3
diuraikan metode dan data yang digunakan dalam riset ini. Hasil empiris, analisis,
dan rekomendasi kebijakan yang berupa strategi nasional yang dapat ditempuh
untuk meningkatkan daya saing Indonesia dalam upaya menjadikan Indonesia
sebagai basis produksi dan investasi, terutama di kawasan ASEAN, akan diuraikan

pada Bab 4. Kajian ini ditutup pada Bab 5 yang berupa simpulan dan rekomendasi
penelitian lebih lanjut.

II. STUDI LITERATUR
BAB II – STUDI LITERAT
2.1 Sekilas tentang Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA)
Declaration of ASEAN Concord II pada Oktober 2003 untuk pertama kalinya
memperkenalkan

konsep

Masyarakat

Ekonomi

ASEAN

(ASEAN

Economic

Community) atau MEA yang merupakan perwujudan pasar tunggal bagi negara–
negara anggota ASEAN. Selain itu, pembentukan MEA diharapkan mendorong
terwujudnya kesatuan basis produksi ASEAN yang didukung oleh aliran bebas
barang, jasa, tenaga kerja, dan modal (investasi). MEA diharapkan menjadi kawasan
ekonomi yang berdaya saing tinggi, kawasan dengan pembangunan yang merata,
dan terintegrasi dengan ekonomi global. Pasar tunggal ASEAN dapat menjadi
peluang bagi perekonomian Indonesia, dan negara-negara ASEAN lainnya, untuk
mendorong aktivitas dan pertumbuhan ekonomi yang dapat meningkatkan
kesejahteraan hidup bangsa Indonesia.

Gambar 2. Pilar MEA
Dalam Cetak Biru MEA 2015 terdapat empat tujuan pilar utama MEA yang
ingin dicapai dan memiliki keterkaitan erat satu sama lain. Pertama, pembentukan
pasar tunggal dan basis produksi. Tujuan ini akan menciptakan terjadinya aliran
bebas barang, jasa, investasi, tenaga kerja, serta aliran modal yang lebih bebas
antarnegara di kawasan. Sebagai tahap awal disepakati dua belas sektor kerja
prioritas yang mewakili lebih dari 50% perdagangan intra-ASEAN, yaitu (1)
pengolahan agro, (2) industri berbasis karet, (3) industri berbasis kayu, (4)

penerbangan, (5) otomotif, (6) elektronik, (7) teknologi komunikasi informasi, (8)
perikanan, (9) kesehatan, (10) logistik, (11) tekstil, serta (12) pariwisata. Indonesia
menjadi negara koordinator untuk sektor otomotif dan industri berbasis kayu.
Tercapainya tujuan tersebut akan mentransformasikan berbagai keragaman
karakteristik di kawasan menjadi peluang bisnis yang dapat menjadikan ASEAN
lebih dinamis dan kuat dalam global supply chain. Terbentuknya pasar tunggal akan
memfasilitasi terbangunnya jejaring produksi di dalam kawasan dan meningkatkan
kapasitas ASEAN sebagai pusat produksi global atau bagian dari global supply
chain.Untuk mencapai tujuan tersebut, setiap negara anggota ASEAN dituntut
untuk meliberalisasi atau membuka pasar domestiknya.
Kedua, kawasan ekonomi yang kompetitif. Tujuan itu merupakan prakondisi
yang dibutuhkan untuk mendukung pencapaian pasar tunggal dan basis produksi
internasional. Pencapaian tujuan kedua itu dilakukan melalui kerja sama di
berbagai bidang yang meliputi (i) pengembangan infrastruktur, seperti transformasi,
informasi, energi, pertambangan, dan keuangan; (ii) kebijakan persaingan; (iii)
pelindungan konsumen; (iv) hak kekayaan intelektual; (v) perpajakan; dan (vi) e–
commerce.
Ketiga, pembangunan ekonomi yang merata. Kawasan ASEAN memiliki
tahapan pembangunan ekonomi yang berbeda sehingga berdampak pada kesiapan
dan kecepatan dari negara anggota masing–masing untuk melakukan liberalisasi.
ASEAN harus dapat menjamin manfaat integrasi ekonomi kawasan yang dapat
dirasakan seluruh anggota dan masyarakat ASEAN. Hal tersebut dilakukan melalui
pengembangan UMKM dan kerja sama serta bantuan teknis dalam rangka
mengurangi kesenjangan pembangunan di antara negara–negara anggota, terutama
antara negara ASEAN-5 dan Brunei, Cambodia, Myanmar, Laos, dan Vietnam.
Keempat, terintegrasinya perekonomian global. Dengan tercapainya ketiga tujuan
di atas diharapkan pasar ASEAN semakin menarik bagi penanaman modal asing
dan industri ASEAN dapat semakin kompetitif di global supply chain. Dalam upaya
pencapaian tujuan itu, dilakukan pendekatan yang koheren dalam hubungan
ekonomi eksternal ASEAN dengan mitra dagang seperti ASEAN+1 (ASEAN+Tiongkok,
ASEAN+India, ASEAN+Jepang) atau ASEAN++ (ASEAN+3, EAS) untuk memastikan
sentralitas dari ASEAN dan memperluas partisipasi ASEAN dalam global supply
chain.
Implementasi cetak biru MEA 2015 secara substansial telah tercapai.
Pencapaian scorecard MEA per 30 Juni 2015 mencapai 91,1% dan ditargetkan akan

mencapai 95% pada akhir tahun 2015. Untuk scorecard MEA Indonesia sendiri telah
mencapai 92,7%. Tingginya pencapaian scorecard MEA baik ASEAN dan Indonesia
mencerminkan bahwa ASEAN dan Indonesia secara konsisten telah memenuhi
komitmennya.
Dalam perjalanannya pada Cebu Declaration Januari 2007 pemimpin ASEAN
menyepakati untuk mempercepat pembentukan MEA menjadi efektif per 1 Januari
2016 untuk sektor–sektor strategis tertentu. Batas waktu implementasi pasar
tunggal ASEAN makin dekat sehingga perlu dilakukan asesment pencapaian
komitmen-komitmen yang telah disepakati dalam pembentukan MEA. Hasil
pengukuran gap analysis yang telah dilakukan oleh Bank Indonesia secara umum
menunjukkan bahwa upaya untuk mewujudkan aliran bebas perdagangan barang,
jasa, investasi, tenaga kerja terampil, serta aliran modal yang lebih bebas telah
menunjukkan kemajuan yang cukup tinggi. Di antara pencapaian liberalisasi
tersebut adalah penurunan tarif impor hingga 0%, pemenuhan komitmen
liberalisasi foreign equity participation (FEP) untuk beberapa subsektor jasa,
penghapusan restriksi investasi dan pengembangan sistem informasi investasi,
penandatanganan mutual recognition agreement (MRA), dan liberalisasi aliran modal.

2.2 Penelitian Sebelumnya
Sejumlah studi yang terkait dengan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA),
khususnya yang mendalami pemetaan pasar barang, jasa, tenaga kerja, modal, dan
investasi di kawasan ASEAN-5 serta melakukan gap analysis terhadap pencapaian
proses liberalisasi yang mengacu pada cetak biru MEA dan pencapaian key
deliverables ASEAN secara keseluruhan, dapat diringkas pada Tabel 1.

Tabel 1. Studi Literatur

Penelitian

Ringkasan Studi

Reis dan Farole (2012) –
“Trade competitiveness
diagnostic toolkit”

Framework analisis perdagangan internasional dengan
dua pendekatan:

Reis dan Wrinkler (2012) –
“Export Competitiveness in
Indonesia’s Manufacturing
Sector”

1. Trade

outcomes analysis: menganalisis kinerja
perdagangan dalam dimensi intensive, extensive,
quality, dan sustainability
2. Competitivenss diagnostics: menganalisis kinerja
faktor yang memengaruhi daya saing perdagangan –
akses pasar, macro–incentive framework, factor
conditions, trade promotion infrastructure
Menganalisis kinerja ekspor dan determinan industri
manufaktur untuk sektor apparel, furnitur kayu, dan
komponen otomotif.
Indonesia
memiliki
peluang
kedua
untuk
mengembangkan industri manufaktur tradisional yang
menyerap banyak tenaga kerja. Hal ini didorong
ketersediaan tenaga kerja dengan tingkat upah yang
lebih rendah dibandingkan Tiongkok, ukuran pasar
domestik, serta keterbukaan Indonesia di pasar dunia.
Policy actions yang harus diambil:






Munandar, et al (2007) –
“Integrasi Ekonomi Regional,
Mobilitas Faktor Produksi
Serta Peran Otoritas Moneter”

Jangka pendek: mengeksploitasi gap upah dengan
Tiongkok
Jangka menengah: memanfaatkan pasar domestik
dan potensi masuk ke Global Value Chain
Jangka panjang: persiapan saat keunggulan dari sisi
biaya tidak lagi berlaku
Dengan prioritas reformasi di: i) transportasi dan
logistik, ii) akses pembiayaan, iii) rigiditas pasar
tenaga kerja dan training, iv) inovasi, v) standar, vi)
collective actions, vii) transparansi dan predictability,
viii) SEZ.

Aplikasi pendekatan equal share relationship dengan
menggunakan database makroekonomi negara ASEAN
untuk mengetahui dampak kebijakan moneter terhadap
investasi.

Tabel 1. (lanjutan)

Penelitian

Ringkasan Studi

Nugroho dan Yanfitri (2011) –

Analisis kualitatif melakukan pemetaan kondisi pasar

“Potensi Dampak

barang, jasa, tenaga kerja, investasi di ASEAN dan

Pembentukan Pasar Tunggal

mengidentifikasi beberapa potensi dampak positif dan

ASEAN terhadap

negatif pasar tunggal terhadap perekonomian Indonesia.

Perekonomian Indonesia”
Hasil Kajian lintas Satker
(2011) – “Masyarakat Ekonomi
ASEAN 2015: Proses
Harmonisasi di Tengah
Persaingan”

Analisis kualitatif dan kuantitatif mengenai dampak
implementasi integrasi ASEAN serta tantangan bagi
daya saing dan stabilitas makro Indonesia.

Anas, Narjoko, dan
Aswicahyono (2015) –
“Mapping of Indonesia
Potential on Trading
Manufacture Products: A
Regional Perspective”

Pemetaan daya saing dan potensi ekspor Indonesia
secara regional (daerah), khususnya sektor manufaktur,
antara lain dengan Regional Comparative Productivity
Advantage (RCPA). Selain itu, dilakukan FGD untuk
mengetahui penyebab performa ekspor dibawah
potensinya.

III. METODOLOGI DAN DATA
III–METODOLOGI DAN DATA
3.1 Analisis Daya Saing
Analisis

daya

saing

(TCD)

sebagian

besar

merujuk

pada

Trade

Competitiveness Diagnostic (Reis dan Farole, 2012) yang merupakan pendekatan
yang bertujuan untuk memberikan pemahaman mengenai posisi, performa, dan
kapabilitas sebuah negara pada pasar ekspor, serta faktor yang memengaruhi daya
saingnya. Aktivitas perdagangan merupakan lensa yang berguna untuk mengukur
daya saing. Pasar ekspor umumnya memiliki tingkat persaingan yang tinggi
sehingga negara yang berdaya saing tinggi pada ekspor umumnya juga lebih unggul
pada faktor domestiknya. Hal itu sejalan dengan hubungan timbal balik antara
perdagangan dan produktivitas. Pelaku usaha yang produktif menjadi eksportir dan
akan semakin produktif dengan adanya permintaan dari pasar ekspor.
Di era liberalisasi untuk mengukur kinerja suatu perekonomian, kinerja
ekspor menjadi lebih penting daripada sebelumnya.. Ekspor tetap relevan sebagai
sumber utama penghasilan devisa, sarana untuk mencapai skala ekonomi dan
spesialisasi produksi, serta untuk mengakses teknologi baru. Secara tidak langsung
ekspor juga merupakan indikator efisiensi sektor industri saat menghadapi
kompetisi lebih ketat (akibat liberalisasi) dan lebih intensif (akibat penurunan biaya
transportasi). Sepanjang industri tetap menjadi mesin pertumbuhan, perubahan
struktural, serta pertumbuhan teknologi dan modernisasi, ekspor manufaktur yang
bertumbuh menjadi tanda bahwa mesin tersebut bekerja.
Analisis daya saing yang dilakukan terdiri atas dua komponen yang
umumnya dilakukan secara berurutan, yaitu sebagai berikut.
1. Analisis kinerja perdagangan (trade outcomes analysis) adalah kerangka untuk
memperoleh gambaran detail atas kinerja ekspor secara historis. Analisis itu
dilakukan melalui berbagai macam pendekatan serta pengolahan data sekunder.
2. Diagnostik daya saing (competitiveness diagnostics) adalah diagnostik yang
bertujuan untuk menganalisis daya saing, termasuk faktor–faktor yang
berkontribusi terhadap kinerja ekspor seperti pada tahap 1. Diagnostik
dilakukan dengan pendekatan kuantitatif (analisis data sekunder) dan kualitatif
melalui survei dan wawancara (FGD), seperti wawancara dengan perumus
kebijakan, pelaku usaha, akademisi, ahli perdagangan, dan lainnya.

Hasil dari dua analisis tersebut akan dielaborasi lebih lanjut untuk
perumusan rekomendasi kebijakan dan perumusan strategi nasional. Gambar
berikut mengilustrasikan kerangka kerja dari analisis daya saing (TCD).

Sumber: Reis and Farole (2012)

Gambar 3. Framework Analisis Daya Saing
3.1.1 Analisis Kinerja Perdagangan
Analisis kinerja perdagangan (trade outcome analysis) memberikan penilaian
kuantitatif dan kualitatif dari performa perdagangan dengan menggunakan
dekomposisi pertumbuhan perdagangan internasional. Pertumbuhan ekspor dapat
terjadi karena empat dimensi sebagaimana ditunjukkan pada Gambar 4. Dimensi

Pertumbuhan Ekspor

Sumber: Reis and Farole (2012)

Gambar 4. Dimensi Pertumbuhan Ekspor

Dalam melakukan analisis kinerja perdagangan, terdapat empat faktor
utama, yaitu sebagai berikut.

1. Intensive Margin
Pertumbuhan ekspor dalam dimensi ini tercipta dengan menjual produk
yang sama pada pasar yang sama. Peningkatan intensive margin dapat tercipta
melalui spesialisasi, baik pada antarproduk (across) maupun dalam produk
(within). Dimensi ini secara umum mengevaluasi tingkat, pertumbuhan, dan
pangsa pasar ekspor yang terjadi saat ini (existing). Hasil analisis intensive
margin dapat menunjukkan posisi perdagangan Indonesia dibandingkan dengan
negara–negara peers–nya jika dilihat berdasarkan nilai atau volume ekspornya.
Ada beberapa indikator yang dianalisis seperti rasio nilai perdagangan terhadap
PDB, revealed comparative advantage (RCA) sektoral, trade intensity index, trade
complementary index.
2. Extensive Margin
Untuk negara berkembang, dimensi ini kritikal untuk mendorong ekspor
dan penciptaan lapangan kerja. Extensive margin berarti menjual produk baru
atau menjual produk yang ada saat ini (existing) ke pasar yang baru. Struktur
ekspor yang semakin terdiversifikasi akan mengurangi kerentanan akan
demand shocks dan pergerakan harga di luar negeri. Diversifikasi ekspor juga
penting sebagai indikasi arah pertumbuhan pada masa mendatang. Export
diversification melihat konsentrasi dan variasi produk dan pasar dari ekspor
suatu negara, tingkat kesesuaian portofolio ekspor suatu negara dengan produk
dan pasar dunia yang berkembang, dan evolusi pasar dari ekspor spesifik
(sukses atau tidak).
3. Quality Margin
Dimensi ini mengevaluasi produk-produk ekspor berdasarkan kualitas
dan kecanggihannya. Produk yang mengandung nilai tambah lebih tinggi dari
sisi orisinalitas (ingenuity), skill, dan teknologi akan memiliki harga yang lebih
tinggi di pasar. Dengan demikian peningkatan (upgrading) kualitas produk
menjadi sumber yang pasti bagi pertumbuhan ekspor dan ekonomi. Dimensi ini
diukur dengan menganalisis teknologi, pendapatan, factor contents dari ekspor
untuk menentukan tingkat kecanggihan dan nilai produk, serta product space
untuk mengidentifikasi sektor tempat suatu negara memiliki atau kehilangan
keunggulan.

4. Sustainability Margin
Agar ekspor baru dapat bertahan dan memberikan pertumbuhan jangka
panjang, diperlukan daya tahan sebagian besar perusahaan yang dapat

memanfaatkan kesempatan dan mengatasi hambatan pada tahun-tahun awal.
Sustainability margin of new exporter mengevaluasi survival rate dari barangbarang yang diekspor, baik barang baru maupun barang yang sudah lama
diekspor. Selain itu, pada tahap ini dilihat juga pertumbuhan dan survival rate
dari hubungan ekspor, intensitas faktor ekspor, dan perbandingan tingkat
endowment nasional. Bentuk partisipasi perusahaan dan survival pada sektor
ekspor membantu mengidentifikasi faktor utama (biaya entry, faktor, teknologi,
dan efisiensi) yang menjadi hambatan utama terhadap daya saing.
Analisis kinerja perdagangan dilakukan dengan 4 tahapan, yaitu sebagai
berikut.
a.

Pemilihan peer countries bertujuan sebagai benchmark dari kinerja negara yang
diukur. Umumnya peer countries meliputi kombinasi antara negara tetangga,
negara dengan ukuran, pertumbuhan ekonomi, struktur yang sama, dan negara
kompetitor.

b. Pengumpulan dan kompilasi data, baik cross section maupun time series.
c.

Analisis dan interpretasi.

d. Identifikasi tantangan utama pada daya saing.
3.1.2 Diagnostik Daya Saing
Dalam melakukan diagnostik daya saing, terdapat beberapa aspek yang
dianalisa, yaitu sebagai berikut.
1. Akses Pasar
Akses pasar merupakan sebuah konsep yang membahas kebijakan
perdagangan yang dapat memfasilitasi atau membatasi eksportir untuk masuk
dan menjaga daya saingnya di pasar. Dalam market access dilihat faktor–faktor
yang menghambat penjualan barang ekspor, seperti hambatan tarif dan
hambatan nontarif. Gambar 5 mengilustrasikan cakupan dari analisa market
access.

Sumber: Reis and Farole (2012)

Gambar 5. Cakupan Akses Pasar
2. Faktor Sisi Suplai
Faktor ini mencakup banyak hal, termasuk tata kelola dan macrofiscal,
kebijakan perdagangan dan domestik yang membentuk kerangka insentif bagi
pelaku usaha, serta faktor masukan (input) yang menentukan daya saing dari
sisi produksi.
3. Dukungan Promosi Perdagangan
Dukungan promosi perdagangan meliputi serangkaian intervensi oleh
pemerintah

unuk

mengatasi

kegagalan

pasar

(market failures,

seperti

coordination challenges, dan asymmetric information) dan kegagalan pemerintah
yang membatasi partisipasi dan kinerja ekspor seperti promosi ekspor, special
economic zones (SEZ), serta badan koordinasi industri dan standarisasi.
Masing–masing

dimensi

tersebut

membentuk kinerja ekspor

melalui

pengaruhnya terhadap perusahaan melalui jalur sebagai berikut:
a.

biaya tetap (fixed cost), risiko produksi, dan export entry;

b. biaya faktor dan transaksi yang menentukan daya saing produksi dari tingkat
pabrik; dan
c.

tingkat teknologi dan efisiensi dari sektor atau perusahaan.

3.1.3 Forum Diskusi Terpumpun (Focus Group Discussion (FGD))
Focus group discussion merupakan bagian penting dalam analisis TCD karena
menjadi sarana yang menghubungkan hasil benchmark data/kuantitatif yang telah

dilakukan dengan kondisi faktual yang terjadi. Secara garis besar FGD dilakukan
terhadap tiga kelompok, yaitu pelaku usaha, perumus kebijakan (pemerintah), dan
ahli dengan perincian sebagaimana tertera pada lampiran (Error! Reference source not
found.).
Selain kegiatan diskusi, juga terdapat kegiatan expert panel dalam
perumusan rekomendasi strategi nasional yang melibatkan kementerian terkait
(Kemendag, Kemenperin, dan Kemenko), panel ahli dan akademisi, serta kalangan
pengusaha (Apindo).

3.2 Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini berfrekuensi tahunan dari periode
tahun 2000 hingga 2014, tergantung ketersediaan data. Tabel di bawah ini
menunjukkan data–data yang digunakan secara umum serta sumber datanya.
Mengingat jenis data yang digunakan sangat beragam, detil penggunaan data akan
dijelaskan lebih lanjut pada bagian analisis.

Tabel 2. Data
Variabel

Sumber Data

Ekspor (per komoditas HS/SITC, per negara), Impor

World Integrated Trade

(per komoditas HS/SITC, per negara, revealed

Solution (WITS), World

comparative advantage, konten teknologi ekspor,

Bank.

product sophistication, tariff, non tariff barriers, dan
lain–lain.
Populasi, PDB, Suku bunga pinjaman riil, akses

World Development

pembiayaan, bandwidth internet, konsumsi listrik,

Indicators (WDI), World

logistik, dan lain–lain

Bank.

Lisensi teknologi, pelatihan formal, sertifikasi kualitas

Enterprise Surveys,

internasional, dan lain–lain.

World Bank.

Kemudahan berusaha, doing business index, waktu

Doing Business, World

untuk ekspor/impor, dan lain–lain.

Bank.

Global competitiveness

World Economic Forum

IV. HASIL DAN ANALISIS
BAB IV – HASIL DAN ANALIS
4.1

Pemetaan Daya Saing Indonesia
Analisis daya saing yang dilakukan mengindikasikan adanya banyak

tantangan atas kinerja ekspor dan daya saing Indonesia. Dari hasil analisis kinerja
perdagangan, tantangan utama Indonesia adalah dari aspek intensive margin serta
quality margin. Jika dilihat diagnostik daya saingnya, tantangan pada ekspor
tersebut terjadi karena kurangnya market access, incentive framework, factors
condition, serta trade promotion facilititation.
4.1.1. Analisis Kinerja Perdagangan
Dari hasil analisis kinerja perdagangan (Tabel 3), kinerja ekspor Indonesia
terlihat tertinggal jika dibandingkan dengan Malaysia dan Thailand dan masuk
dalam klasifikasi negara low middle income country yang cenderung bersifat resource
based dan rendah nilai tambah. Vietnam terlihat mengalami peningkatan kinerja
ekspor secara tajam dalam dua dekade terakhir. Secara umum Indonesia memiliki
permasalahan dan terlihat mengalami penurunan kinerja pada keempat dimensi
ekspornya dengan isu utama pada intensive dan quality margin. Kelemahan ekspor
Indonesia mengindikasikan bahwa industri Indonesia cenderung semakin inward
oriented yang didukung dengan temuan analisis keterkaitan nilai tambah.

Tabel 3. Ringkasan Hasil Analisis Kinerja Perdagangan
Permasalahan Utama Ekspor

Keterangan

Intensive Margin

↓↓

Keterbukaan perdagangan Indonesia turun
dibandingkan awal tahun 2000, dengan
pertumbuhan ekspor sebagian besar produk dan
pasar yang lebih rendah dari perdagangan dunia.

Extensive Margin



Kinerja Indonesia secara umum hanya lebih baik
dari Filipina. Jumlah kematian produk Indonesia
tertinggi dengan produk yang bertahan umumnya
berbasis SDA atau primary products.

Tabel 3. (lanjutan)
Permasalahan Utama Ekspor
Quality Margin

↓↓

Keterangan
Indonesia tertinggal pada ekspor produk high tech
dan sedikit unggul pada primary products. Selain
itu, bila dibandingkan selama 10–20 tahun terakhir,
terdapat indikasi pergeseran produk ekspor Indonesia
dari low dan hightech menjadi medtech dan resource–
based.

Sustainability Margin
Keterangan:


↓↓



Durasi ekspor Indonesia hanya lebih baik dari Filipina

: sedikit tertinggal dibandingkan peers
: tertinggal dibandingkan peers

4.1.1.1 Intensive Margin
Intensive margin diukur dengan melakukan asesmen terhadap tingkat,
pertumbuhan, dan pangsa pasar yang mencerminkan struktur dan daya saing dari
basket ekspor yang telah ada. Berdasarkan data neraca perdagangan pada periode
tahun 2009–2013, secara rata-rata Indonesia masih mencatat surplus meskipun
dengan tingkat yang lebih rendah jika dibandingkan dengan periode tahun 2004–
2008. Beberapa negara, seperti Malaysia, Thailand, dan Vietnam memiliki tingkat
ekspor yang cukup tinggi hingga mencapai lebih dari 50% dari PDB-nya. Meskipun
demikian, impor yang tinggi turut membebani kinerja neraca perdagangan negara–
negara tersebut. Namun, Malaysia mampu mencatat surplus neraca perdagangan
hingga 15% dari PDB sepanjang tahun 2009–2013.
Gambar 6 menunjukkan tingkat keterbukaan perdagangan suatu negara
relatif terhadap tingkat PDB per kapitanya. Indikator ini mengindikasikan seberapa
penting ekspor dan impor barang dan jasa dalam sebuah perekonomian atau
seberapa terintegrasi suatu perekonomian dengan dunia jika dibandingkan dengan
peers-nya. Tingkat keterbukaan Indonesia pada tahun 2009–2013 dibandingkan
tahun 2004–2008 menurun dari 60% ke 50%. Angka itu lebih rendah dibandingkan
peers seperti Vietnam (150%) dan Filipina (65%) yang juga mengalami tren
peningkatan jika dibandingkan dengan periode sebelumnya (Vietnam dan India).

Sumber: WDI, WITS Worldbank, diolah

Gambar 6. Openness to Trade
Indikator lainnya adalah ekspor/kapita yang mengukur keberadaan suatu
ekonomi di pasar internasional. Negara yang memiliki nilai ekspor/kapita yang
tinggi mengindikasikan pendapatan ekspor dolar yang tinggi dari basis produksi
domestik yang terdiversifikasi dengan baik dan tidak berbasis SDA. Ekspor per
kapita Indonesia (Gambar 7) sesuai dengan karakteristik lower middle income, yang
jauh lebih rendah dari upper middle-high seperti Malaysia dan Singapura. Jika
dilihat dari indikator lainnya, yaitu share of merchandise trade (non oil and gas),
rasio Indonesia bahkan lebih rendah dibandingkan lower middle income countries
(Gambar 8).

Sumber: WITS Worldbank, diolah

Gambar 7. Ekspor per Kapita

Sumber: WITS Worldbank, diolah

Gambar 8. Share of Merchandise
Trade

Pertumbuhan ekspor dapat disebabkan oleh perubahan pada harga (export
value), volume ekspor (export volume), atau keduanya. Export value index merupakan
nilai ekspor (c.i.f) yang dikonversi ke dolar AS dan dinyatakan dalam persentase dari
rata-rata tahun dasar. Export volume index merupakan rasio antara export value
index dan unit value index-nya. Indikator ini (Gambar 9) merefleksikan indeks
perdagangan berdasarkan nilai dan volume perdagangan. Selama periode tahun
2009–2012, Tiongkok dan Vietnam menunjukkan pertumbuhan ekspor yang cukup
tinggi berdasarkan nilai dan volume ekspornya. Meskipun berdasarkan export
volume index, Indonesia berada pada posisi terakhir, tetapi nilai barang ekspor
Indonesia relatif moderat.
Jika

dilihat

dari

pasar

tujuan

ekspornya,

pasar

ekspor

Indonesia

terkonsentrasi ke Tiongkok dan Jepang dengan pangsa 20% dan 18% dari total
ekspor. Malaysia, Thailand, dan Filipina juga menjadikan Tiongkok sebagai negara
tujuan ekspor utamanya dengan indeks intensitas perdagangan yang lebih tinggi
dibandingkan Indonesia.
Indikator trade intensity index (Gambar 10) menunjukkan tingkat intensitas
ekspor dari suatu negara ke negara mitra dagangnya. Indeks itu digunakan untuk
melihat apakah sebuah negara mengekspor lebih banyak ke mitra dagangnya
dibandingkan dengan ekspor dunia ke negara tersebut. Trade intensity index
menggunakan logika yang sama dengan RCA, tetapi untuk pasar bukan produk.
Jika trade intensity index > 100, hal itu mengindikasikan bahwa hubungan dagang
antara negara– dan

lebih intensif jika dibandingkan dengan rata–rata dunia (�)

dengan negara- . Indonesia memiliki intensitas perdagangan yang tinggi ke Jepang
dibandingkan dengan negara Eropa dan Amerika. Pola itu relatif sama dengan
negara berkembang lainnya, kecuali Vietnam yang memiliki trade intensity yang
tinggi ke USA.

Sumber: WITS Worldbank, diolah

Sumber: WITS Worldbank, diolah

Gambar 9. Export Value Index vs.
Export Volume Index

Gambar 10. Trade Intensity Index to
Japan

Trade complementarity index digunakan untuk melihat apakah profil ekspor
suatu negara sesuai dengan profil impor mitra dagangnya atau justru bersifat
komplementer.

Nilai

indeks

yang

tinggi

mengindikasikan

kedua

negara

mendapatkan keuntungan dari hubungan perdagangannya. Berdasarkan trade
complementarity index Indonesia sepanjang periode tahun 2009–2012, semua
negara peers rata–rata memilki besaran indeks yang sama. Hal tersebut
mengindikasikan bahwa kebutuhan impor Indonesia dipenuhi dari profil–profil
ekspor dari negara–negara tersebut sehingga dapat disimpulkan bahwa Indonesia
merupakan

pasar

ekspor

bagi

negara

peers–nya.

Sementara

itu,

trade

complementarity index Malaysia menunjukkan nilai yang rendah dengan Indonesia
dan Jerman, artinya produk ekspor Malaysia tidak sesuai dengan kebutuhan impor
Indonesia dan Jerman.
Indikator lainnya adalah orientasi pertumbuhan yang dapat dilihat dari
Orientasi Pertumbuhan Produk dan Pasar. Orientasi Pertumbuhan Produk
mengevaluasi potensi pertumbuhan ekspor dengan membandingkan compounded
annual growth rate (CAGR) dari produk ekspor utama suatu negara terhadap
pertumbuhan

perdagangan

dunia

untuk produk

tersebut.

Negara

dengan

pertumbuhan ekspor lebih tinggi daripada pertumbuhan dunia berarti mengalami
peningkatan pangsa di pasar dunia. Negara yang ekspor utamanya di sektor yang
memiliki pertumbuhan tinggi memiliki posisi yang baik untuk pertumbuhan ke
depan.

Sementara

itu,

pertumbuhan

di

bawah

pertumbuhan

mengindikasikan adanya barrier yang menghambat pertumbuhan.

dunia

Sumber: WITS Worldbank, diolah

Gambar 11. Pertumbuhan Produk
Ekspor Indonesia

Sumber: WITS Worldbank, diolah

Gambar 13. Pertumbuhan Pasar
Ekspor Indonesia

Sumber: WITS Worldbank, diolah

Gambar 12. Pertumbuhan Produk
Ekspor Vietnam

Sumber: WITS Worldbank, diolah

Gambar 14. Pertumbuhan Pasar
Ekspor Vietnam

Gambar 11 memperlihatkan ekspor produk Indonesia yang umumnya
tumbuh lebih rendah dari perdagangan dunia (di bawah garis 45 derajat). Produk
Indonesia yang memiliki pangsa yang besar umumnya bersifatnya komoditas,
seperti mineral fuels. Untuk beberapa produk manufaktur, Indonesia meningkatkan
pangsanya dalam perdagangan dunia, tetapi porsinya masih kecil pada basket
ekspor Indonesia. Hal itu berbeda dengan Vietnam (Gambar 12) yang mengalami
peningkatan pasar untuk hampir semua produk unggulannya. Pertumbuhan ekspor
manufakturnya lebih besar dari pertumbuhan dunia dan merupakan produk
dominan pada basket ekspornya.
Orientasi Pertumbuhan Pasar mengevaluasi potensi pertumbuhan pasar
ekspor suatu negara dengan membandingkan CAGR dari ekspor ke suatu pasar
relatif terhadap pertumbuhan impor pasar tersebut dari rest of the world (ROW).
Gambar 13 memperlihatkan pertumbuhan ekspor Indonesia ke mitra dagangnya
lebih rendah dari pertumbuhan impor mitra dagang dari ROW. Pasar dimana
Indonesia meningkatkan pangsanya adalah Tiongkok dan India. Sementara Vietnam

(Gambar 14) justru meningkatkan pangsanya di hampir seluruh mitra dagangnya
dengan pangsa ekspor terbesar ke USA.
4.1.1.2 Extensive Margin
Extensive margin mengukur diversifikasi ekspor dari dua dimensi, yaitu
menjual produk baru atau menjual produk existing ke pasar yang baru. Ukuran
yang digunakan adalah konsentrasi dan variasi produk dan pasar dari ekspor suatu
negara, tingkat kesesuaian portofolio ekspor suatu negara dengan produk dan pasar
dunia yang berkembang, dan evolusi pasar dari ekspor spesifik (sukses atau tidak).
Dari sisi extensive margin, kinerja Indonesia relatif moderat dibandingkan
dengan peers meskipun dari beberapa ukuran, Indonesia tertinggal. Indikator
pertama menghitung jumlah mitra dagang dan produk yang diekspor suatu negara,
yang dihitung pada 6-digit HS level2. Dalam satu dekade (Lampiran–Gambar 49)
Indonesia mengalami peningkatan moderat dalam jumlah produknya sebesar 83,
sedangkan Vietnam bertambah signifikan sebesar 1024. Selain itu, hanya sebagian
kecil ekspor Indonesia yang ditujukan ke high income countries jika dibandingkan
dengan negara lain (Lampiran–Gambar 50).
Indikator

lainnya

adalah

jangkauan

ekspor.

Pertumbuhan

ekonomi

umumnya disertai dengan adanya produk baru dan kematangan ekonomi ditandai
dengan kemampuan negara tersebut untuk memelihara hubungan dagang.
Indikator jangkauan ekspor menginformasikan kelahiran, survival, dan kematian
produk serta nilai dan jumlah pasarnya. Tingkat kematian yang tinggi pada beragam
sektor mengindikasikan volatilitas ekonomi; sedangkan jika terkonsentrasi pada
beberapa industri, tingkat kematian itu mengindikasikan evolusi produksi domestik.
Gambar 15 memperlihatkan Error! Reference source not found.produk Indonesia
yang mencapai lebih dari 10 tujuan ekspor, pada tahun 2010 sebanyak 1.961
produk, kemudian pada tahun 2013 meningkat menjadi 2.099 produk. Jumlah itu
sekitar 50%–53% dari total 3.906 produk yang survive pada kurun waktu tahun
2010–2013.

Angka

tersebut

memperlihatkan

perbedaan

yang

jauh

jika

dibandingkan dengan Tiongkok (Lampiran-Gambar 51), yaitu produk yang
mencapai lebih dari 10 pasar adalah sebanyak 4.123 (2010) dan meningkat menjadi
4.133 (2013) yaitu sekitar 87–88% dari total 4.687 produk yang survive. Selain itu,
tingkat kematian produk Indonesia cukup tinggi dibandingkan peers (Tabel 4)

2

Mitra dagang dihitung apabila telah terjadi ekspor minimal satu barang dengan nilai
minimum 10,000 USD dan jumlah produk dihitung apabila setidaknya dikirim ke satu
negara dengan nilai setidaknya 10,000 USD.

dengan surviving product bernilai tinggi adalah natural resources–based goods (Tabel
5).

Sumber: WITS Worldbank, diolah

Gambar 15. Jangkauan Ekspor Indonesia Tahun 2010–2013
Tabel 4. Perbandingan ASEAN

Indonesia
Malaysia
Thailand
Filipina
Vietnam
Cina
India

2010-2013
Suriviving Product
New
Product Death Product
3906
311
308
4168
241
247
4455
132
217
1990
403
887
3242
285
487
4687
99
59
4655
137
128

Sumber: WITS Worldbank, diolah

Tabel 5. Top Surviving Product

Top Surviving Product
By Value

Palm oil, other than crude
Coal other than anthracite & bituminous
Natural gas, liquefied
Natural gas, in gaseous state
Lignite
By Number Paper & paperboard
of Market Carbon paper
Original sculptures & statuary
Seats with wooden frames
Women's/girls' dresses

Sumber: WITS Worldbank, diolah

Indikator lainnya adalah Hummels-Klenov untuk produk dan pasar. Indikator
ini terdiri atas intensive margin (IM) dan extensive margin (EM). IM produk mengukur
apakah suatu negara big player pada produk yang diekspornya (pangsa suatu
negara pada produk yang diekspornya di perdagangan dunia) dan EM mengukur
seberapa penting barang yang diekspornya secara global (ekspor ragam portofolio
relatif terhadap semua ekspor dunia). Untuk Hummels-Klenov pasar, IM
mengindikasikan apakah suatu negara big player pada pasar ekspornya dan EM
mengukur seberapa penting pasar ekspornya secara global. Dalam satu dekade

(Gambar 16 dan Gambar 17) Indonesia mengalami peningkatan moderat dan hanya
lebih baik dari Filipina dalam meningkatkan pangsanya di produk dan pasar ekspornya. Vietnam terlihat signifikan meningkatkan prduk dan pasar yang bernilai secara
global (EM) dan Tiongkok terlihat paling berhasil meningkatkan perannya pada
produk dan pasar ekspornya (IM).

Sumber: WITS Worldbank, diolah

Gambar 16. Hummels Klenov dari Segi Produk

Sumber: WITS Worldbank, diolah

Gambar 17. Hummels Klenov dari Segi Pasar
4.1.1.3 Quality Margin
Quality margin mengukur kinerja ekspor dari sisi kualitas, yang antara lain
dilakukan melalui analisis komponen teknologi, tingkat kecanggihan (product
sophistication), product space, serta relative quality. Klasifikasi produk ekspor
menurut

komponen

teknologi

dimungkinkan

menggunakan

SITC

3

digit

berdasarkan Hatzichronoglou (1997) dan Lall (2000). Analisis product sophistication

(EXPY)3 merujuk pada Hausmann, Hwang, and Rodrik (2007). Lebih lanjut, product
space merujuk pada Hidalgo et al. (2007) yang memetakan koneksi antarproduk
berkeunggulan komparatif pada suatu negara.
Komponen teknologi dan kecanggihan yang rendah pada produk ekspor
Indonesia membuat margin kualitas produk ekspor Indonesia sangat terbatas,
khususnya jika dibandingkan dengan negara–negara peers. Indonesia tertinggal
pada ekspor produk high tech dan sedikit unggul pada primary products. Selain itu,
apabila dibandingkan selama 10–20 tahun terakhir, terdapat indikasi pergeseran
produk ekspor Indonesia dari low dan high tech menjadi med tech dan resourcebased. Sementara itu, Tiongkok beralih dari low tech menjadi high tech.
Produk ekspor Indonesia memiliki tingkat kecanggihan yang rendah jika
dibandingkan dengan peer countries. Tingkat kecanggihan produk ekspor di
Indonesia mengalami tren penurunan walaupun PDB per kapita secara konsisten
meningkat. Padahal, menurut Felipe (2010), pada umumnya kenaikan EXPY 10%
meningkatkan pertumbuhan ekonomi sebesar 0.5%.

Sumber: WDI, WITS World Bank, diolah

Sumber: WDI, WITS World Bank, diolah

Gambar 18. Perkembangan dan Pangsa Ekspor berdasarkan Komponen
Teknologi

EXPY diukur dari proporsi ekspor atas PRODY masing–masing produk dan PRODY
merupakan tingkat kecanggihan suatu produk yang diukur dari pendapatan per kapita
negara (pada PPP) pengekspor utama produk tersebut di dunia.

Sumber: WDI, WITS World Bank, diolah

Gambar 19. Tingkat Kecanggihan Produk Ekspor dan PDB Per Kapita
Melalui analisis product space4, terdapat indikasi bahwa product space
Indonesia semakin menjauh dari core-nya. Indonesia mengalami penurunan jumlah
produk berkeunggulan komparatif pada dense forest (mesin, elektronik, garmen,
tekstil, dan furnitur) yang banyak “diserap” oleh Tiongkok. Keunggulan komparatif
hilang pada elektronik, mesin, dan furnitur yang merupakan tendensi keunggulan
komparatif pada upper-middle countries. Hal itu menunjukkan risiko (lower) middle
income trap. Menurut Hidalgo et al (2007) daya saing rendah pada klaster industri
dengan proximity tinggi (dense forest) akan menyulitkan transisi ke income group
yang lebih tinggi. Sementara itu, Tiongkok mengalami kenaikan keunggulan
komparatif pada mesin dan elektronik yang kemudian mengindikasikan bahwa
Tiongkok juga “menyerap” keunggulan komparatif pada Jepang.

4Konsep

product space mengacu pada Hidalgo et. al. (2007) yang dipetakan dengan product
space
explorer
(http://www.chidalgo.com/productspace/data.htm)
dan
Cytoscape
(www.cytoscape.org). Data RCA dihitung menggunakan data ekspor UN Comtrade dari World
Integrated Trade Solution, World Bank.

Sumber: Perhitungan peneliti dengan Cytoscape dan Product Space Explorer, sumber data
ekspor dari WITS.

Gambar 20. Product Space Indonesia Tahun 2000 dan 2013

Tabel 6. Perubahan Product Space pada Beberapa Negara Lain
Negara

Perubahan Product Space (2013 vs 2000)

Indonesia

Garmen, mesin, dan elektronik turun

Jepang

Mesin dan Elektronik turun

Thailand

Penurunan garmen dan tekstil, namun machinery naik

Malaysia

Penurunan furniture

Tiongkok

Machinery dan Electronics naik

Sumber: Perhitungan peneliti dengan Cytoscape dan Product Space Explorer, sumber data
ekspor dari WITS.

Beberapa produk terindikasi masih berkualitas baik dibandingkan peers.
Produk dengan kualitas yang kompetitif sekaligus bernilai tinggi adalah alat berat.
Pada komoditas penyumbang nilai ekspor tertinggi, relative quality5 dari produk
Indonesia yang tertinggi (dibandingkan peers) adalah copper, natural rubber, tin,
gold, dan chemical wood pulp. Pada komoditas dengan unit price tertinggi, relative

5

Mengikuti Reis dan Farole (2012), relative quality diproksikan dari rasio unit price suatu
produk terhadap unit price peers pada percentile 90. Asumsinya adalah saat suplai
kompetitif, harga yang tinggi umumnya terkait dengan kualitas = diferensiasi produk yang
lebih tinggi. Kategori produk menggunakan HS 6 digit.

quality dari produk Indonesia yang tertinggi (dibandingkan peers) adalah crane
lorries, lifting machinery, dan tower cranes.
Lebih lanjut, pada gambar dibawah, dapat diketahui produk ekspor dengan
pangsa pasar tinggi, tetapi kualitas rendah, yaitu natural gas dan nickel. Copper
mempunyai pangsa pasar tinggi dengan kualitas tinggi. Selain itu, produk yang
mempunyai pangsa pasar rendah, tetapi kualitas tinggi adalah crane lorries dan
lifting machinery. Lebih lanjut, antara tahun 2010 ke 2013 terdapat peningkatan
pangsa pasar dan kualitas pada crane lorries, pesawat, dan natural gas. Sementara
itu, terdapat penurunan pangsa pasar pada tower crane.

Sumber: Perhitungan peneliti; sumber data ekspor dari WITS.

Gambar 21. Posisi Pangsa Pasar dan Relative Quality Produk Ekspor
4.1.1.4 Sustainability Margin
Kemampuan untuk mempertahankan hubungan perdagangan merupakan
suatu ukuran perekonomian yang berkembang dengan baik (well developed
economy). Ada tiga indikator yang digunakan untuk mengevaluasi durasi dan
ketahanan hubungan produk-partner serta menjelaskan faktor–faktor yang
memengaruhi product birth dan extinction.
Export Duration yang mengukur tingkat kelangsungan hidup selama periode
tahun dari hubungan produk baru-pasar dengan nilai minimal USD10.000. Selama
rentang waktu 10 tahun (tahun 2003–2013), pangsa kelangsungan hidup hubungan
produk baru-pasar yang bertahan di Indonesia adalah sebesar 61,2% dengan jumlah
hubungan ekspor sebesar 326. Export duration ini hanya lebih baik dibandingkan

Filipina dan Malaysia, tetapi lebih rendah dibandingkan Vietnam, Thailand,
Tiongkok, dan India (Gambar 22).

Sumber: WITS World Bank, diolah

Gambar 22. Durasi Ekspor
Perubahan pada arus ekspor dapat terj

Dokumen yang terkait

Dokumen baru