di jalan umum, maka pelaku dapat diancam dengan pidana penjara selama 12 tahun menurut Pasal 285, dan pidana penajara 2 tahun 8 bulan menurut Pasal 281.
Dengan menggunakan sistem absorbsi, maka akan diambil pidana yang terberat, yaitu 12 tahun penjara.
Dalam Pasal 63 ayat 2 terkandung adagium lex specialis derogat legi generali aturan undang-undang yang khusus meniadakan aturan yang umum.
Jadi misalkan ada seorang ibu melakukan aborsipengguguran kandungan, maka dia dapat diancam dengan Pasal 338 tentang pembunuhan dengan pidana penjara
15 tahun. Namun, karena Pasal 341 telah mengatur secara khusus tentang tindak pidana ibu yang membunuh anaknya aborsi, maka dalam hal ini tidak berlaku
sistem absorbsi. Ibu tersebut hanya diancam dengan Pasal 341 disebabkan pengaturan yang lebih khusus tersebut.
B. Meerdaadse Samenloop Atau Concursus Realis
Apa yang disebut meerdaadse samenloop atau concursus Realis ataupun apa yang oleh Profesor van Hamel
44
juga telah disebut sebagai samenloop van delikten itu, oleh pembentuk undang-undang telah diatur di dalam Pasal-Pasal 65
sampai dengan 71 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. Tim penerjemah Wetboek van Strafrecht dari Badan Pembinaan Hukum
Nasional Departemen Kehakiman telah menerjemahkan rumusan Pasal 65 ayat 1 KUHP di atas dengan perkataan-perkataan :
45
“Dalam hal perbarengan beberapa perbuatan yang harus dipandang sebagai perbuatan yang berdiri sendiri sehingga merupakan beberapa kejahatan,
44
van HAMEL dalam P.A.F. Lamintang, Dasar-Dasar Hukum Pidana Indonesia, Op.Cit, halaman 696
45
P.A.F. Lamintang, Ibid, halaamn 696
Universitas Sumatera Utara
yang diancam dengan pidana pokok yang sejenis, maka dijatuhkan hanya satu pidana.”
Rumusan Pasal 66 ayat 1 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana itu
antara lain berbunyi sebagai berikut : “Dalam hal perbarengan bebrapa perbuatan yang masing-masing harus
dipandang sebagai sebagai perbuatan yang berdiri sendiri sehingga merupakan beberapa kejahatan yang diancam dengan pidana pokok yang tidak sejenis maka
dijatuhkan pidana atas tiap-tiap kejahatan, tetapi jumlahnya tidak boleh melebihi maksimum pidana terberat ditambah sepertiga.”
Dari terjemahan-terjemahan mengenai bunyi rumusan Pasal-Pasal 65 ayat
1 dan Pasal 66 ayat 1 KUHP oleh tim penerjemah Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Kehakiman di atas dapat diketahui bahwa tim penerjemah
telah menafsirkan perkataan-perkataan meerdaadse feiten di dalam Pasal-Pasal 65 dan 66 KUHP itu sebagai beberapa perbuatan dalam arti material.
Sistem penjatuhan pidana pada perbarengan perbuatan dibedakan menurut jenis-jenis perbarengan perbuatan. Mengenai pebarengan perbuatan undang-
undang telah membedakan menjadi 4 empat macam, yaitu :
46
1. perbarengan perbuatan yang terdiri dari beberapa kejahatan yang
masing-masing diancam dengan pidana pokok yang sama jenisnya Pasal 65, penjatuhan pidananya dengan menggunakan sistem
bisapan yang diperberat verscherpte absorbsi stelsel, yaitu dijatuhi satu pidana saja ayat 1 dan maksimum pidana yang
dijatuhkan itu ialah jumlah maksimum pidana yang diancamkan terhadap tindak pidana itu, tetapi tidak boleh blebih dari
maksimum pidana yang terberat ditambah sepertiganya ayat 2.
2. perbarengan perbuatan yang terdiri dari beberapa kejahatan yang
diancam dengan pidana pokok yang tidak sama jenisnya Pasal 66, penjatuhan pidananya dengan menggunakan sistem kumulasi
terbatas het gematigde cumulatie stelsel, artinya masing-masing kejahatan itu diterapkan; yakni pada si pembuatnya dijatuhi pidana
sendiri-sendiri sesuai dengan kejahatan-kejahatan yang dibuatnya, tetapi jumlahnya tidak boleh lebih berat dari maksimum pidana
46
Adami Chazawi, Pelajaran Hukum Pidana 2,Op.Cit, halaman 142
Universitas Sumatera Utara
yang terberat ditambah sepertiganya ayat 1. Apabila kejahatan yang satu diancam dengan pidana denda sedangkan kejahatan yang
lain dengan pidana hilang kemerdekaan penjara atau kurungan, maka untuk pidana denda dihitung dari lamanya kurungan
pengganti denda.
3. perbarengan perbuatan yang terdiri dari kejahatan dengan
pelanggaran, penjatuhan pidananya menggunakan sistem kumulasi murni het zuivere cumulatie stelsel, demikian juga;
4. perbarengan perbuatan yang terdiri dari pelanggaran dengan
pelanggaran, menggunakan sistem kumulasi murni, artinya semua kejahatan maupun pelanggaran itu diterapkan sendiri-sendiri
dengan menjatuhkan pidana pada si pembuat sesuai dengan ancaman pidana pada kejahatan maupun pelanggaran itu tanpa
adanya pengurangan ataupun penambahan batas tertentu.
Untuk menentukan lamanya hukuman yang terberat, sebagaimana yang dimaksudkan di dalam bunyi Pasal 66 ayat 1 KUHP , maka perbandingan berat
antara hukuman-hukuman pokok yang tidak sejenis itu ditentukan oleh urutan hukuman-hukuman pokok seperti yang telah diatur di dalam Pasal 10 KUHP.
Mengenai concursus realis ini telah diatur didalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana KUHP dimulai dari Pasal 65 sampai dengan Pasal 71. Di dalam
Pasal 70 diatur mengenai penjatuhan pidana atau hukuman. Rumusan ketentuan pidana di dalam Pasal 70 KUHP itu berbunyi :
1. Jika ada perbarengan seperti yang dimaksudkan dalam Pasal 65
dan 66, baik perbarengan pelanggaran dengan kejahatan, maupun pelanggaran
dengan pelanggaran,
maka untuk
tiap-tiap pelanggaran dijatuhkan pidana sendiri-sendiri tanpa dikurangi.
2. Mengenai pelanggaran, jumlah lamanya pidana kurungan dan
pidana kurungan pengganti paling banyak atu tahun empat bulan, sedangkan jumlah lamanya pidana kurungan pengganti, paling
banyak delapan bulan.
Dari ketentuan pidana seperti yang telah di atur di dalam Pasal 70 KUHP di aats dapat diketahui, bahwa pembentuk undang-undang telah menghendaki
dijatuhkannya hukuman dalam bentuk suatu penumpukan hukuman-hukuman
Universitas Sumatera Utara
yang besifat murni di dalam suatu pelanggaran-pelanggaran yang telah dilakukan pelaku.
C. Perbuatan Berlanjut Voortgezzete Handeling