Pengaruh Desentralisasi Fiskal Dan Fiscal Stress Terhadap Pertumbuhan Ekonomi Melalui Kinerja Keuangan Daerah Di Kabupaten/Kota Se-Propinsi Aceh

PENGARUH DESENTRALISASI FISKAL DAN FISCAL STRESS
TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI MELALUI KINERJA
KEUANGAN DAERAH
DI KABUPATEN/KOTA SE-PROPINSI ACEH

TESIS

Oleh

SARTINA NA
097017060/Ak

SEKOLAH PASCASARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
1
Universitas Sumatera Utara

2011
PENGARUH DESENTRALISASI FISKAL DAN FISCAL STRESS
TERHADAP PERTUMBUHAN EKONOMI MELALUI KINERJA
KEUANGAN DAERAH
DI KABUPATEN/KOTA SE-PROPINSI ACEH

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Sains
dalam Program Ilmu Akuntansi Pada Sekolah Pascasarjana
Universitas Sumatera Utara

Oleh

SARTINA NA
097017060/Ak

SEKOLAH PASCA SARJANA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2
Universitas Sumatera Utara

Judul Tesis

:

2011
PENGARUH DESENTRALISASI FISKAL DAN
FISCAL STRESS TERHADAP PERTUMBUHAN
EKONOMI
MELALUI
KINERJA
KEUANGAN
DAERAH
DI KABUPATEN/KOTA SE-PROPINSI
ACEH

Nama Mahasiswa :

Sartina NA

Nomor Pokok

:

097017060

Program Studi

:

Ilmu Akuntansi

Menyetujui :
Komisi Pembimbing,

(Prof. Erlina, SE, M.Si, Ph.D, Ak.)
Ketua

Ketua Program Studi,

(Drs. Zainul Bahri Torong, M.Si, Ak.)
Anggota

Direktur,

(Prof. Dr. Ade Fatma Lubis, MAFIS MBA, CPA) (Prof.Dr.Ir.A.Rahim Matondang,
MSIE)

3
Universitas Sumatera Utara

Tanggal lulus

: 25 Juli 2011

Telah diuji pada
Tanggal

: 25 Juli 2011

PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua

:

Prof. Erlina, SE., M.Si., Ph.D., Ak.

Anggota

:

1. Prof. Dr. Ade Fatma Lubis, MBA, MAFIS, Ak.
2. Drs. Zainul Bahri Torong, M.Si., Ak.
3. Dr. Rina Bukit, SE., M.Si., Ak.
4. Dra. Tapi Anda Sari Lubis, M.Si. Ak.
4
Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menguji pengaruh desentralisasi
fiskal dan fiscal stress terhadap pertumbuhan ekonomi Kabupaten/Kota se-Propinsi
Aceh, baik secara langsung maupun melalui kinerja keuangan daerah. Permasalahan
yang diteliti dalam penelitian ini : Apakah desentralisasi fiskal dan fiscal stress
berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi Kabupaten/Kota se- Propinsi Aceh, baik
secara langsung maupun melalui kinerja keuangan? Hipotesis yang diajukan dalam
penelitian ini : Desentralisasi fiskal dan fiscal stress berpengaruh terhadap
pertumbuhan ekonomi Kabupaten/Kota se-Propinsi Aceh, baik secara langsung
maupun melalui kinerja keuangan daerah.
Permasalahan dan hipotesis dalam penelitian ini dijawab dan dibuktikan
dengan menggunakan analisis secara statistik deskriptif dan analisis secara statistik,
yang meliputi : uji asumsi klasik, analisis regresi berstruktur, uji F, Uji t, analisis
jalur, analisis dekomposisi dan analisis koefisien determinasi..
Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, dijustifikasi bahwa (1)
Desentralisasi fiskal dan fiscal stress berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan
ekonomi Kabupaten/Kota se-Propinsi Aceh; (2) Desentralisasi fiskal berpengaruh
negatif terhadap kinerja keuangan Kabupaten/Kota se- Propinsi Aceh, sedangkan
fiscal stress berpengaruh positif terhadak kinerja keuangan Kabupaten/Kota sePropinsi Aceh; (3) Kinerja keuangan berpengaruh positif terhadap pertumbuhan
ekonomi Kabupaten/Kota se-Nanggroe Aceh; (4) Kinerja keuangan daerah
berpengaruh didalam menstimulus pengaruh negatif desentralisasi fiskal dan fiscal
stress terhadap pertumbuhan ekonomi Kabupaten/Kota se- Kabupaten/Kota sePropinsi Aceh.

Kata Kunci : Desentralisasi Fiskal, Fiscal Stress, Kinierja Keuangan, Pertumbuhan
Ekonomi.

5
Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT

This research is conducted as a mean to test the fiscal decentralization
influence and fiscal stress to economic growth of Kabupaten/Kota at Propinsi Aceh,
either through direct and also through financial performance. Accurate problems in
this research : Are there fiscal decentralization and fiscal stress have an effect on to
economic growth of Kabupaten/Kota at Propinsi Aceh, in directly and also by
fincancial performance? Hypothesis raised in this research is Fiscal decentralization
and fiscal stress have an effect on to economic growth of Kabupaten/Kota at Propinsi
Aceh, in directly and also by financial performance.
The problems And hypothesis in this research are replied and proved by using
descriptive analysis statistically and analysis statistically, covering : classic
assumption test, structure regression test, , test of the F, Test of the t, path analysis,
decomposition analysis and analysis of the determination coefficient.
Based on analysis, judged that : ( 1) Fiscal decentralization and fiscal stress
have an negative affected to economic growth of Kabupaten/Kota at Propinsi Aceh; (
2) Fiscal decentralization have an negative affected to financial performance of of
Kabupaten/Kota at Propinsi Aceh, while fiscal stress have an positive affected to
financial performance of Kabupaten/Kota at Propinsi Aceh; ( 3) Financial
Performance have an positive affected to economic growth of Kabupaten/Kota at
Propinsi Aceh; ( 4) Financial performance have an affected to stimulus negative
affected fiscal decentralization and fiscal stress to economic growth of
Kabupaten/Kota at Propinsi Aceh.
Keywords :

Fiscal Decentralization, Fiscal Stress, Financial Performance,
Economic Growth.

6
Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Dengan segala kerendahan hati, tulus dan ikhlas, penulis menyampaikan puji
dan syukur kehadirat Allah SWT, oleh karena dorongan rahmat dan ridhoNya yang
berkelimpahan, sehingga penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis ini.
Dalam menyelesaikan tesis ini tentu saja penulis banyak menemui kesulitankesulitan, kendala-kendala dan hambatan-hambatan, akan tetapi berkat bantuan,
bimbingan, petunjuk dan masukan dari berbagai pihak lainnya penulis dapat
menyelesaikannya. Untuk itu, dengan segala kerendahan hati, tulus dan ikhlas penulis
mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc (CTM), SP.A(K), selaku
Rektor Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan kesempatan dan
fasilitas untuk mengikuti dan menyelesaikan Sekolah Pascasarjana.
2. Bapak Prof. Dr. Ir. A. Rahim Matondang, MSIE, selaku Direktur Sekolah
Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, yang senantiasa dengan sabar dan
secara berkesinambungan meningkatkan layanan pendidikan
di Sekolah
Pascasarjana Universitas Sumatera Utara.
3. Ibu Prof. Dr. Ade Fatma Lubis, MAFIS ,MBA, , CPA., selaku Ketua Program
Studi Ilmu Akuntansi Sekolah Pascasarjana Universitas Sumatera Utara, sekaligus
sebagai Ketua Komisi Dosen Pembanding yang telah banyak memberikan saran
dan kritik yang konstruktif dalam membimbing penulis sejak awal hingga
selesainya tesis ini.
4. Ibu Prof. Dr. Erlina, M.Si, selaku Ketua Komisi Dosen Pembimbing yang telah
banyak memberikan saran dan kritik yang konstruktif dalam membimbing penulis
sejak awal hingga selesainya tesis ini.
5. Bapak Drs. Zainul Bahri Torong, M.Si, Ak, selaku Anggota Komisi Dosen
Pembimbing yang yang telah banyak memberikan saran dan kritik yang
konstruktif dalam membimbing penulis sejak awal hingga selesainya tesis ini.
6. Ibu Dr. Rina Bukit, M.Si., selaku Anggota Komisi Dosen Pembanding yang yang
telah banyak memberikan saran dan kritik yang konstruktif dalam membimbing
penulis sejak awal hingga selesainya tesis ini.

7
Universitas Sumatera Utara

7. Ibu Dra. Tapi Anda Sari Lubis, M.Si. Ak, selaku Anggota Komisi Dosen
Pembanding yang yang telah banyak memberikan saran dan kritik yang
konstruktif dalam membimbing penulis sejak awal hingga selesainya tesis ini.
8. Suami tercinta Merah Sakti, SH., dan anak-anak tersayang : T. Raypa Andrian
Sastra, Cut Intan Mutia dan T. Syahru Setiawan Sastra yang senantiasa
memberikan motivasi dan semangat kepada penulis sejak memulai perkuliahan
hingga penulisan tesis ini.
9. Ayahanda tercinta Alm. H. Nawawi Arifin dan Ibunda tersayang Hj. Mariana
Hasan yang senantiasa memberikan motivasi dan semangat kepada penulis sejak
memulai perkuliahan hingga penulisan tesis ini.
10. Ayahanda mertua Alm. H. R. Jamaluddin dan Ibunda mertua Hj. Sudah yang juga
senantiasa memberikan motivasi dan semangat kepada penulis sejak memulai
perkuliahan hingga penulisan tesis ini.
11. Pemerintah Kota Subullusallam yang telah memberikan bantuan Bea Siswa Tugas
Belajar kepada Penulis.
12. Rekan – rekan mahasiswa di Sekolah Pascasarjana Program Studi Ilmu Akuntansi
Universitas Sumatera Utara.
Penulis menyadari bahwa tesis ini masih jauh dari sempurna baik dari segi
penyajian maupun dari segi penyusunannya. Untuk itu penulis sangat
mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari para pembaca
guna penyempurnaan tesis ini pada masa yang akan datang.
Akhir kata penulis mengucapkan semoga tesis ini bermanfaat bagi para pembaca,
khususnya bagi rekan mahasiswa/i.

Medan,
Juli 2011
Penulis,

Sartina NA.
097017060/Akt
8
Universitas Sumatera Utara

RIWAYAT HIDUP
Nama
Tempat/Tgl. Lahir
Jenis Kelamin
Agama
Alamat
Telepon
Orang Tua (Ayah)
(Ibu)
Nama
Suami
Anak

:
:
:
:
:
:
:
:
:
:

Sartina. NA
Blang Pidie, 16 Desember 1968
Perempuan
Islam
Subulussalam
082166812345
Alm. H. Nawawi Arifin
Hj. Mariana Hasan
Merah Sakti, SH.
1. T. Raypa Andiran Sastra
2. Cut Intan Mutia Sastra
3. T. Syaru Setiawan Sastra

Riwayat Pendidikan
2009 – 2011

: Kuliah di Program Studi Ilmu Akuntansi Sekolah
Pascasarjana Universitas Sumatera Utara

2009 – 2011

: Kuliah di Program Studi Ilmu Manajemen Sekolah
Pascasarjana Institut Magister Manajemen Indonesia
(IMMI)

2002 – 2008

:

Universitas Abulyatama Blang Pidie, Fakulktas Ekonomi,
Departemen Akuntansi.

1984 – 1987

:

SMA Negeri 1 Blang Pidie

1981 – 1984

:

SMP Negeri 1 Blang Pidie

1975 - 1981

:

SD Negeri Blang Pidie

2009 s.d. Sekarang

:

PNS Non Aktif

2008 – 2009

:

Staf Bendaharawan P.U

2007 – 2008

:

Staf Kasda Walikota

2001 – 2006

:

Staf Bendaharawan Kantor Camat

Riwayat Pekerjaan

9
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

Halaman
ABSTRAK ........................................................................................................
ABSTRACT .......................................................................................................
KATA PENGANTAR ......................................................................................
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ........................................................................
DAFTAR ISI......................................................................................................
DAFTAR TABEL ............................................................................................
DAFTAR GAMBAR ........................................................................................
DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................
BAB

I

: PENDAHULUAN .....................................................................
1.1.
1.2.
1.3.
1.4.
1.5.

BAB II

BAB IV

1

Latar Belakang ...................................................................
Perumusan Masalah ...........................................................
Tujuan Penelitian ..............................................................
Manfaat Penelitian ............................................................
Originalitas Penelitian .......................................................

1
9
10
10
11

: TINJAUAN PUSTAKA ............................................................

13

2.1. .....................................................................................L
andasan Teoritis ................................................................
2.1.1. Pertumbuhan Ekonomi ..........................................
2.1.2. Otonomi Daerah .....................................................
2.1.3. Kinerja Keuangan Daerah .....................................
2.1.4. Desentralisasi Fiskal...............................................
2.1.5. Fiscal Stress ..........................................................
2.2. Review Penelitian Terdahulu .............................................
BAB III

i
ii
iii
v
vi
viii
x
xi

13
13
16
19
22
27
31

: KERANGKA KONSEPTUAL DAN HIPOTESIS ...............

38

3.1. Kerangka Konseptual ........................................................
3.2. Pengembangan Hipotesis ..................................................

38
42

: METODE PENELITIAN ........................................................

43

4.1. Rancangan Penelitian ........................................................
4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ............................................
4.3. Populasi dan Sampel .........................................................
4.3.1. Populasi Penelitian ................................................

43
44
44
44

10
Universitas Sumatera Utara

BAB V

BAB VI

4.3.2. Sampel dan Teknik Pengambilan Sampel .............
4.4. Definisi Operasionalisasi dan Pengukuran Variabel
Penelitian ...........................................................................
4.5. Metode Pengumpulan Data ...............................................
4.5.1. Jenis dan Sumber Data ..........................................
4.5.2. Teknik Pengumpulan Data.....................................
4.6. Metode Analisis Data ........................................................
4.6.1. Analisis Deskriptif ................................................
4.6.2. Uji Asumsi Klasik .................................................
4.6.3. Model Analisis Data ..............................................
4.6.4. Pengujian Hipotesis ...............................................
4.6.5. Analisis Koefisien Determinasi ............................

47
52
52
52
52
53
53
56
57
59

: HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ......................

61

5.1. Seleksi dan Tabulasi Data .................................................
5.2. Analisis Statistik Deskriptif ..............................................
5.2.1. Pertumbuhan Ekonomi ..........................................
5.2.2. Desentralisasi Fiskal ..............................................
5.2.3. Fiskal Stress ..........................................................
5.2.4. Kinerja Keuangan .................................................
5.3. Analisis Data .....................................................................
5.3.1. Uji Asumsi Klasik .................................................
5.3.2. Model Analisis Data ..............................................
5.3.3. Pengujian Hipotesis ...............................................
5.3.4. Analisis Koefisien Determinasi ............................
5.4. Pembahasan .......................................................................

61
63
64
66
68
70
73
73
76
79
85
86

: KESIMPULAN DAN SARAN ................................................

92

6.1. .....................................................................................K
esimpulan ..........................................................................
6.2. .....................................................................................K
eterbatasan Penelitian ........................................................
6.3. .....................................................................................S
aran.....................................................................................
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................

45

92
93
93
95

11
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

Nomor

1.1.

Judul

Halaman

Pertumbuhan Ekonomi Propinsi Aceh Menurut Lapangan Usaha
Tahun 2005 – 2008 (Persentase) ..........................................................

2

2.1.

Review Penelitian Terdahulu ..............................................................

36

4.1.

Populasi Penelitian ..............................................................................

45

4.2.

Populasi yang Memenuhi Kriteria Sampel .........................................

46

4.3.

Sampel Penelitian ................................................................................

47

4.4.

Matriks Operasionalisasi dan Pengukuran Variabel Penelitian ..........

51

4.5.

Dekomposisi Pengaruh Antar Variabel Model Analisis Jalur .............

59

5.1.

Data Pertumbuhan Ekonomi, Desentralisasi Fiscal, Fiscal Stress dan
Kinerja Keuangan 13 Kabupaten/Kota se- Propinsi Aceh...................

61

Hasil Analisis Statistik Deskriptif Pertumbuhan Ekonomi,
Desentralisasi Fiscal, Fiscal Stress dan Kinerja Keuangan
Kabupaten/Kota se- Propinsi Aceh Tahun 2002 – 2009......................

64

Statistik Deskriptif Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten/Kota sePropinsi Aceh dari Tahun 2002 – 2009 ...............................................

65

Statistik Deskriptif Desentralisasi Fiskal Kabupaten/Kota sePropinsi Aceh dari Tahun 2002 – 2009 ...............................................

68

Statistik Deskriptif Fiskal Stress Kabupaten/Kota se- Propinsi Aceh
dari Tahun 2002 – 2009 .......................................................................

70

Statistik Deskriptif Kinerja Keuangan Kabupaten/Kota se- Propinsi
Aceh dari Tahun 2002 – 2009..............................................................

72

Hasil Uji Normalitas ...........................................................................

73

5.2.

5.3.

5.4.

5.5.

5.6.

5.7.

12
Universitas Sumatera Utara

5.8.

Hasil Uji Heterokedastistias.................................................................

74

5.9.

Hasil Uji Multikolinieritas ...................................................................

75

5.10.

Pengaruh Desentralisasi Fiskal, Fiskal Stress terhadap Pertumbuhan
Ekonomi Kabupaten/Kota se- Propinsi Aceh ......................................

80

Pengaruh Desentralisasi Fiskal, Fiskal Stress terhadap Kinerja
Keuangan Kabupaten/Kota se- Propinsi Aceh.....................................

80

Hasil Uji t Hubungan Kausalitas Desentralisasi Fiskal, Fiskal Stress,
Kinerja Keuangan dan Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten/Kota sePropinsi Aceh .......................................................................................

81

Dekomposisi Pengaruh Desentralisasi Fiskal dan Fiskal Stress
terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten/Kota se- Provinsi Aceh,
Baik secara Langsung maupun melalui Kinerja Keuangan Daerah.....

84

Hasil Analisis Koefisien Determinasi Pengaruh Desentralisasi Fiskal
dan Fiskal Stress terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten/Kota
se- Propinsi Aceh .................................................................................

85

Hasil Analisis Koefisien Determinasi Pengaruh Desentralisasi Fiskal
dan Fiskal Stress terhadap Kinerja Keuangan Kabupaten/Kota sePropinsi Aceh .......................................................................................

85

5.11.

5.12.

5.13.

5.14.

5.15.

13
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR

Nomor

Judul

Halaman

3.1.

Diagram Kerangka Konseptual .........................................................

38

4.1.

Diagram Durbin – Watson ................................................................

56

4.2.

Model Path Desentralisasi Fiskal, Fiscal Stress, Kinerja Keuangan
dan Pertumbuhan Ekonomi ...............................................................

57

Trend Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten/Kota se- Propinsi
Aceh ..................................................................................................

66

Trend Tingkat Desentraliasi Fiskal Kabupaten/Kota se- Propinsi
Aceh ..................................................................................................

68

5.3.

Trend Tingkat Fiskal Sterss Kabupaten/Kota se- Propinsi Aceh......

70

5.4.

Trend Kinerja Keuangan Kabupaten/Kota se- Propinsi Aceh ..........

72

5.5.

Hasil Uji Autokorelasi ......................................................................

76

5.6.

Diagram Path Hubungan Desentralisasi Fiskal dan Fiskal Stress
dengan Pertumbuhan Ekonomi Kabupaten/Kota se-Propinsi
Aceh, Baik secara Langsung maupun melalui Kinerja Keuangan
Daerah. ..............................................................................................

83

5.1.

5.2.

14
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor

Judul

Halaman

1.

Pengumpulan dan Proses Seleksi Data ............................................ 100

2.

Hasil Seleksi Data ............................................................................ 110

3.

Tabulasi Data ................................................................................... 111

4.

Output SPSS Analisis Regresi Desentralisasi Fiscal dan Fiscal
Stres Terhadap Pertumbuhan Ekonomi............................................. 114

5.

Output SPSS Analisis Regresi Desentralisasi Fiscal dan Fiscal
Stres Terhadap Kinerja Keuangan .................................................... 117

6.

Output SPSS Analisis Regresi Kinerja Keuangan Terhadap
Pertumbuhan Ekonomi...................................................................... 121

7.

Output SPSS Uji Kolmogorov-Smirnov ........................................... 124

8.

Output SPSS Uji Glejser ................................................................... 125

9.

Koefisien Korelasi Desentralisasi dan Fiskal Stress ......................... 126

15
Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menguji pengaruh desentralisasi
fiskal dan fiscal stress terhadap pertumbuhan ekonomi Kabupaten/Kota se-Propinsi
Aceh, baik secara langsung maupun melalui kinerja keuangan daerah. Permasalahan
yang diteliti dalam penelitian ini : Apakah desentralisasi fiskal dan fiscal stress
berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi Kabupaten/Kota se- Propinsi Aceh, baik
secara langsung maupun melalui kinerja keuangan? Hipotesis yang diajukan dalam
penelitian ini : Desentralisasi fiskal dan fiscal stress berpengaruh terhadap
pertumbuhan ekonomi Kabupaten/Kota se-Propinsi Aceh, baik secara langsung
maupun melalui kinerja keuangan daerah.
Permasalahan dan hipotesis dalam penelitian ini dijawab dan dibuktikan
dengan menggunakan analisis secara statistik deskriptif dan analisis secara statistik,
yang meliputi : uji asumsi klasik, analisis regresi berstruktur, uji F, Uji t, analisis
jalur, analisis dekomposisi dan analisis koefisien determinasi..
Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan, dijustifikasi bahwa (1)
Desentralisasi fiskal dan fiscal stress berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan
ekonomi Kabupaten/Kota se-Propinsi Aceh; (2) Desentralisasi fiskal berpengaruh
negatif terhadap kinerja keuangan Kabupaten/Kota se- Propinsi Aceh, sedangkan
fiscal stress berpengaruh positif terhadak kinerja keuangan Kabupaten/Kota sePropinsi Aceh; (3) Kinerja keuangan berpengaruh positif terhadap pertumbuhan
ekonomi Kabupaten/Kota se-Nanggroe Aceh; (4) Kinerja keuangan daerah
berpengaruh didalam menstimulus pengaruh negatif desentralisasi fiskal dan fiscal
stress terhadap pertumbuhan ekonomi Kabupaten/Kota se- Kabupaten/Kota sePropinsi Aceh.

Kata Kunci : Desentralisasi Fiskal, Fiscal Stress, Kinierja Keuangan, Pertumbuhan
Ekonomi.

5
Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT

This research is conducted as a mean to test the fiscal decentralization
influence and fiscal stress to economic growth of Kabupaten/Kota at Propinsi Aceh,
either through direct and also through financial performance. Accurate problems in
this research : Are there fiscal decentralization and fiscal stress have an effect on to
economic growth of Kabupaten/Kota at Propinsi Aceh, in directly and also by
fincancial performance? Hypothesis raised in this research is Fiscal decentralization
and fiscal stress have an effect on to economic growth of Kabupaten/Kota at Propinsi
Aceh, in directly and also by financial performance.
The problems And hypothesis in this research are replied and proved by using
descriptive analysis statistically and analysis statistically, covering : classic
assumption test, structure regression test, , test of the F, Test of the t, path analysis,
decomposition analysis and analysis of the determination coefficient.
Based on analysis, judged that : ( 1) Fiscal decentralization and fiscal stress
have an negative affected to economic growth of Kabupaten/Kota at Propinsi Aceh; (
2) Fiscal decentralization have an negative affected to financial performance of of
Kabupaten/Kota at Propinsi Aceh, while fiscal stress have an positive affected to
financial performance of Kabupaten/Kota at Propinsi Aceh; ( 3) Financial
Performance have an positive affected to economic growth of Kabupaten/Kota at
Propinsi Aceh; ( 4) Financial performance have an affected to stimulus negative
affected fiscal decentralization and fiscal stress to economic growth of
Kabupaten/Kota at Propinsi Aceh.
Keywords :

Fiscal Decentralization, Fiscal Stress, Financial Performance,
Economic Growth.

6
Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah
Pertumbuhan ekonomi berarti perkembangan kegiatan dalam perekonomian yang
menyebabkan barang dan jasa yang diproduksi dalam masyarakat bertambah dan
kemakmuran masyarakat meningkat. Masalah pertumbuhan ekonomi sudah menarik

minat para ahli ekonomi sejak masa Adam Smith sampai dengan banyak para ahli
ekonomi dewasa ini yang pada waktu-waktu yang lalu perhatian para ahli-ahli
ekonomi itu terutama hanya tertuju pada masalah pertumbuhan ekonomi negaranegara maju, dewasa ini perhatian sebagian dari mereka telah pula diarahkan pada
masalah pertumbuhan ekonomi di negara-negara yang sedang berkembang, termasuk
diantaranya Indonesia, dalam konteks ini lebih spesifik lagi Pemerintah
Kabupaten/Kota se- Propinsi Aceh.
Pertumbuhan ekonomi Kabupaten/Kota se-Propinsi Aceh sepanjang tahun
2005 hingga tahun 2008 cenderung mengalami penurunan bahkan mencapai minus 2
digit, seperti terlihat pada tahun 2005 PDRB Migas sebesar -10.12%, naik pada tahun
2006 menjadi 1.56%, kembali mengalami penurunan pada tahun 2007 dan 2008
masing – masing -2.36% dan -5.27%. Hal senada juga terjadi PDRB Tanpa Migas
namun masih positif, seperti pada tahun 2005 sebesar 1.22%, naik pada tahun 2006
menjadi 7.70% dan turun pada tahun 2007 dan 2008 masing – masing 7.23% dan

16
Universitas Sumatera Utara

14

1.88%.

Untuk lebih jelasnya, Pertumbuhan ekonomi Kabupaten/Kota se-

Propinsi Acehsepanjang tahun 2005 hingga tahun 2008 dapat dilihat Tabel 1.1.
dibawah ini.
Tabel 1.1.

Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Propinsi Aceh Menurut Lapangan
Usaha Tahun 2005 – 2008 (Persentase)

Lapangan Usaha / Industrial Origin
(1)
1
2

3

Pertanian/Agriculture
Pertambangan dan Penggalian/Mining
and Quarrying
a.Pertambangan Migas/Oil & Gas
Mining
b.Penggalian dan Penggaraman/
Mining and Quarrying
Industri Pengolahan/Manufacturing
Industries
a.Industri Migas/Oil & Gas Industries

4
5
6
7

8
9

b.Industri Tanpa Migas/Non Oil & Gas
Industries
Listrik dan Air minum/Electricity
and water supply
Bangunan & konstruksi/Building &
construction
Perdagangan, hotel & restoran/Trade,
hotel & restaurants
Pengangkutan &
Komunikasi/Transportation &
Communication
Bank & Lembaga keuangan
lainnya/Banking & Other Financial
Intermediaries
Jasa-jasa/Services

PDRB Migas / GRDP (Oil and Gas)
PDRB Tanpa Migas /GRDP (Non Oil and
Gas)

2005
(2)

2006
(3)

2007
(4)

2008
(5)

-3,89

1,52

3,62

0,81

-22,62

-2,58

-21,10

-27,31

-22,99

-4,27

-22,56

-28,85

0,78

78,77

16,58

-1,01

-22,30

-13,18

-10,10

-7,73

-26,19

-17,33

-16,74

-12,96

-5,11

1,08

8,57

3,57

-1,95

12,06

23,70

12,73

-16,14

48,41

13,93

-0,85

6,64

7,41

1,70

4,59

14,39

10,99

10,95

1,38

-9,53

11,77

6,02

5,16

9,65

4,41

14,30

1,21

-10,12

1,56

-2,36

-5,27

1,22

7,70

7,23

1,88

Sumber : Badan Pusat Statistik Provinsi Aceh

Universitas Sumatera Utara

14

Masalah pertumbuhan ekonomi sebagaimana ditunjukkan pada fenomena
yang dialami Kabupaten/Kota se-Propinsi Aceh di atas, dapat dipandang sebagai
masalah makro ekonomi dalam jangka panjang. Pertumbuhan ekonomi merupakan
kunci dari tujuan ekonomi makro. Hal ini didasari oleh tiga alasan. Pertama, penduduk
selalu bertambah. Bertambahnya jumlah penduduk ini berarti angkatan kerja juga selalu
bertambah. Pertumbuhan ekonomi akan mampu menyediakan lapangan kerja bagi
angkatan kerja. Jika pertumbuhan ekonomi yang mampu diciptakan lebih kecil daripada
pertumbuhan angkatan kerja, hal ini mendorong terjadinya pengangguran. Kedua, selama
keinginan dan kebutuhan selalu tidak terbatas, perekonomian harus selalu mampu
memproduksi lebih banyak barang dan jasa untuk memenuhi keinginan dan kebutuhan
tersebut. Ketiga, usaha menciptakan kemerataan ekonomi (economic stability) melalui
retribusi pendapatan (income redistribution) akan lebih mudah dicapai dalam periode
pertumbuhan ekonomi yang tinggi.

Berbicara tentang makro ekonomi, maka tidak terlepas dari peran serta
Pemerintahan suatu Negara sebagai pengatur Kebijaksanaan dan pembuat Undang –
Undang. Menyikapi fenomena di atas, pada tahun 1999 Pemerintah Indonesia
mengeluarkan Undang – Undang No. 22 dan Undang – Undang No. 25 tentang
Pemerintah Daerah dan Perimbangan Keuangan Antara Pemerintah Pusat dan
Daerah. Selanjutnya pada tahun 2004, Pemerintah kembali menerbitkan UU No, 32
dan 34 Tahun 2004 sebagai pengganti kedua Undang – Undang tersebut. Hakekat
kedua Undang – Undang tersebut itu sendiri adalah adanya kewenangan daerah,
bukan pendelegasian (Saragih 2003), dan desentralisasi fiskal merupakan implikasi

Universitas Sumatera Utara

14

langsung dari kewenangan/fungsi yang diserahkan kepada daerah yaitu menyangkut
kebutuhan dana yang cukup besar, sehingga perlu diatur dan diupayakan perimbangan
keuangan secara vertikal antara pusat dan daerah yang dimaksudkan untuk membiayai
tugas yang menjadi tanggungjawabnya.

Kebijakan ini merupakan tantangan dan peluang bagi pemerintah daerah
untuk mengelola sumber daya yang dimiliki secara efisien dan efektif. Bagi daerahdaerah yang memiliki potensi sumber daya yang dapat diandalkan, baik sumber daya
manusia maupun sumber daya alam, kebijakan ini disambut baik, mengingat lepasnya
campur tangan pemerintah akan memberikan kesempatan yang lebih cepat untuk
meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Daerah tidak lagi sekedar menjalankan
instruksi pemerintah pusat, tetapi benar-benar mempunyai keleluasaan untuk
meningkatkan kreatifitas dalam mengembangkan potensi yang selama era sentralisasi
bisa dikatakan terpasung (Mardiasmo 2002).
Sebagian kalangan berpandangan bahwa pelaksanaan desentralisasi sebagai
pendekatan Bing Bang karena jangka waktu persiapan yang terlalu pendek untuk
ukuran negara yang begitu besar dengan kondisi geografis yang cukup menyulitkan
(Brodjonegoro 2003). Terlebih ditengah-tengah upaya bangsa melepaskan diri dari
krisis ekonomi moneter yang berkepanjangan dari pertengahan tahun 1997.
Akibatnya kebijakan ini memunculkan kesiapan (fiskal) daerah yang berbeda satu
dengan yang lain, terlebih kebijakan ini terlahir disaat disparitas pertumbuhan
(ekonomi) yang tinggi.

Universitas Sumatera Utara

14

Usman, et. el. (2007) menunjukkan bahwa sejak tanggal 1 Januari 2001 struktur
pengelolaan APBD telah berubah sesuai dengan kebijakan baru tentang
desentralisasi dan otonomi daerah. Alokasi dana dari pusat untuk APBD yang
sebelumnya berupa sumbangan daerah otonom (SDO) dan dana pembangunan
daerah (DPD), sekarang disatukan dalam DAU. Secara umum DU yang diterima
oleh daerah Propinsi dan daerah Kabupaten/Kota lebih besar daripada SDO
ditambah DPD. Namun, karena sekarang biaya operasional instansi daerah dan gaji
pegawai di daerah dibiayai oleh DAU, maka kebanyakan DAU yang diterima hanya
cukup untuk anggaran rutin. Sebenarnya Pemda masih mempunyai sumber lain
untuk memenuhi kebutuhannya, yaitu dari bagi hasil pajak dan bukan pajak, tetapi
banyak yang memperkirakan bahwa jumlahnya lebih kecil daripada dana sektor
yang selama ini dialokasikan ke daerah melalui tugas dekonsentrasi dan tugas
pembantuan. Pada dasarnya alokasi ”dana sektoral” masih mungkin diterima
daerah melalui pelaksanaan kedua tugas tersebut, namun peraturan pendukung atas
tugas dekonsentrasi dan tugas pembantuan yang diamanatkan oleh UU No 22 tahun
1999 dan UU No. 25 tahun 1999 sebagaimana telah diperbaharui melalui UU No.
32 tahun 2004 dan UU No. 33 tahun 2004.
Studi hubungan desentralisasi dan pertumbuhan ekonomi tidak konsisiten.
Ebel dan Yilmaz dalam Wibowo (2008) menemukan hubungan positif antara
desentralisasi dan pertumbuhan ekonomi, Akai dan Sakata (2002). Martinez dan
Robert (2005) menemukan desentralisasi mendorong pertumbuhan ekonomi di India
dan China. Mello dalam Wibowo (2008) menemukan desentralisasi mendorong
ketidakseimbangan fiskal. Davoodi dan Zou (1998) dengan data panel 46 negara
berkembang dan maju pada 1970-1989 menemukan desentralisasi menyebabkan
pertumbuhan ekonomi rendah, juga pada studi Xie et. al. (1999). Untuk Indonesia,
Swasono (2005) menemukan dampak negatif desentralisasi terhadap pertumbuhan
ekonomi.
Disisi lain bagi beberapa daerah, otonomi bisa jadi menimbulkan persoalan
tersendiri mengingat adanya tuntutan untuk meningkatkan kemandirian daerah.
Daerah mengalami peningkatan tekanan fiskal (fiscal stress) yang lebih tinggi

Universitas Sumatera Utara

14

dibanding era sebelum otonomi. Daerah dituntut untuk mengoptimalkan setiap
potensi maupun kapasitas fiskalnya dalam rangka untuk mengurangi tingkat
ketergantungan terhadap pemerintah pusat.
Dualisme konsekuensi penerapan desentralisasi dan tekan fiskal sebagaimana
disebutkan di atas sudah cukup lama mengundang perdebatan di kalangan praktisi
ekonomi . Isu utama yang menarik untuk senantiasa didiskusikan adalah mengenai
keterkaitan antara desentralisasi fiskal dan tekanan fiskal dengan salah satu indikator
kesejahteraan masyarakat, yakni pertumbuhan ekonomi. Disatu sisi, desentralisasi
fiskal dan tekanan fiskal berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi, dan
disisi lain berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonomi, seperti : Bohte dan
Meier (2000) melakukan komparasi pertumbuhan ekonomi pada pemerintahan yang
tersentralisasi dengan pemerintahan terdesentralisasi. Kedua peneliti ini menemukan
bahwa pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat dan lebih tinggi ternyata terjadi pada
pemerintahan yang terdesentralisasi.

Lebih lanjut Martinez dan Robert (2005)

menemukan bahwa hubungan antara desentralisasi fiskal dengan pertumbuhan
ekonomi belum tentu mempunyai dampak secara langsung. Desentralisasi akan
mempunyai dampak langsung terhadap pertumbuhan ekonomi yang tinggi apabila
desentralisasi fiskal dipusatkan pada pengeluaran atau pembelanjaan publik. Mahi
(2001) menemukan bahwa (1) dana alokasi umum lebih menjanjikan pertumbuhan
ekonomi dibandingkan dengan yang lainnya walaupun desain kebijakan dana alokasi
umum tidak mendukung pemerataan ekonomi antar daerah. (2) Bagi hasil pajak dan
bukan pajak menurunkan pertumbuhan ekonomi. (3) Kebutuhan bagi hasil sumber

Universitas Sumatera Utara

14

daya alam berpotensi mengurangi tingkat pertumbuhan ekonomi, dan meningkatkan
kesenjangan antar daerah. Brodjonegoro dan Dartanto (2003) mengatakan bahwa
setelah pelaksanaan desentralisasi fiskal kesenjangan keuangan antar wilayah
semakin besar antar daerah di Indonesia. Dalam era desentralisasi fiskal dengan
transfer dana dari pemerintah pusat dan kewenangan yang luas kepada daerah untuk
mengelola dan mengoptimalkan potensi-potensi ekonomi yang ada memberi efek
positif terhadap pertumbuhan ekonomi daerah. Sasana (2006) menemukan bahwa
desentralisasi fiskal berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan
ekonomi. Shamsub & Akoto (2004) menyebutkan salah satu penyebab timbulnya
fiscal stress adalah kondisi ekonomi seperti pertumbuhan yang menurun dan resesi.
Menurut Govindarajan dalam Lucyanda (2001), diperlukan upaya untuk
merekonsiliasi ketidakkonsistenan hubungan desentralisasi fiskal dan tekanan fiskal
dengan pertumbuhan ekonomi, yaitu dengan cara mengidentifikasikan faktor-faktor
kondisional antara kedua variabel tersebut dengan pendekatan kontijensi. Penggunaan
pendekatan kontijensi tersebut memungkinkan adanya variabel-variabel lain yang
bertindak sebagai variabel moderating atau variabel intervening. Lebih lanjut
Govindarajan dalam Lucyanda (2001) mengatakan pendekatan kontijensi berdimensi
variabel intervening mempengaruhi hubungan antara desentralisasi fiskal dan fiscal
stress dengan pertumbuhan ekonomi pada saat hubungan antara desentralisasi fiskal
dan fiskal stress dengan pertumbuhan ekonomi tidak searah atau berbanding terbalik.

Universitas Sumatera Utara

14

Pendekatan kontijensi berdimensi variabel intervening yang akan diteliti
dalam penelitian ini adalah kinerja keuangan daerah. Penggunaan variabel ini
didasarkan atas temuan penelitian : Hamzah (2006) menemukan bahwa secara
langsung antara kinerja keuangan terhadap pertumbuhan ekonomi menunjukkan rasio
kemandirian1, rasio kemandirian2, dan rasio efisiensi berpengaruh positif secara
signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi, sedangkan rasio efektifitas tidak
berpengaruh secara signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Purnaninthesa (2006)
membuktikan bahwa fiscal stress berpengaruh secara signifikan terhadap kinerja
keuangan pemerintah kabupaten/kota di Jawa Tengah. Purnaninthesa (2006)
menyimpulkan bahwa fiscal stress pada suatu daerah dapat menyebabkan motivasi
bagi daerah untuk meningkatkan pendapatan asli daerahnya yang pada akhirnya akan
bermuara pada bertumbuhnya perekonomian suatu daerah.
Setiyawan dan Adi (2006) menemukan bahwa

Fiscal Stress mempunyai

pengaruh yang positif terhadap pertumbuhan PAD dan fiscal stress mempunyai
pengaruh yang positif terhadap tingkat pertumbuhan belanja pembangunan/modal.
Fiscal Stress yang tinggi menunjukkan semakin tingginya upaya daerah untuk
meningkatkan PAD-nya. Sejalan dengan hal itu, harapan untuk terus meningkatkan
penerimaan sendiri ini akan sulit terwujud apabila alokasi belanja untuk modal/
pembangunan tidak ditingkatkan. Hasil penelitian Setiyawan dan Adi (2006)
memberikan implikasi diperlukannya suatu upaya yang lebih intensif melalui
penggalian potensi sumber-sumber penerimaan daerah kabupaten/kota di propinsi
Jawa Tengah agar mampu meningkatkan pertumbuhan PAD. Salah satu langkah yang

Universitas Sumatera Utara

14

dapat ditempuh adalah pemerintah kabupaten/kota harus lebih efektif dalam
pengalokasian belanja modal/pembangunan dalam guna memenuhi kepentingan
publik, baik yang mendukung pertumbuhan ekonomi maupun untuk pelayanan publik
secara langsung.
Deskripsi latar belakang di atas merupakan ide yang mendasari dilakukannya
penelitian replikasi tentang hubungan desentralisasi fiskal, fiscal stress, kinerja
keuangan daerah dan pertumbuhan ekonomi dengan jalinan struktur hubungan
variabel kinerja keuangan daerah sebagai variabel intervening.

1.2. Perumusan Masalah
Relevan dengan deskripsi latar belakang masalah di atas, maka permasalahan
yang akan diteliti dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :
1. Apakah desentralisasi fiskal dan fiscal stress berpengaruh terhadap
pertumbuhan ekonomi Kabupaten/Kota se-Propinsi Aceh?
2. Apakah desentralisasi fiskal dan fiscal stress berpengaruh terhadap kinerja
keuangan Kabupaten/Kota se- Propinsi Aceh?
3. Apakah kinerja keuangan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi
Kabupaten/Kota se- Propinsi Aceh?
4. Apakah desentralisasi fiskal dan fiscal stress berpengaruh terhadap
pertumbuhan ekonomi Kabupaten/Kota se-Propinsi Aceh melalui kinerja
keuangan?

Universitas Sumatera Utara

14

1.3. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan ditelitinya kedua permasalahan dalam penelitian ini adalah :
1. Untuk menguji pengaruh desentralisasi fiskal dan fiscal stress terhadap
pertumbuhan ekonomi Kabupaten/Kota se- Propinsi Aceh.
2. Untuk menguji pengaruh desentralisasi fiskal dan fiscal stress berpengaruh
terhadap kinerja keuangan Kabupaten/Kota se- Propinsi Aceh.
3. Untuk menguji pengaruh kinerja keuangan terhadap pertumbuhan ekonomi
Kabupaten/Kota se- Propinsi Aceh.
4. Untuk menguji pengaruh desentralisasi fiskal dan fiscal stress terhadap
pertumbuhan ekonomi Kabupaten/Kota se-Propinsi Aceh melalui kinerja
keuangan.

1.4. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi banyak pihak, diantaranya:
1. Peneliti
Sebagai bahan masukan bagi peneliti dalam menambah dan mengembangkan
khasanah ilmu pengetahuan dan wawasan dalam bidang akuntansi keuangan
daerah, khususnya tentang hubungan desentralisasi fiscal, fiscal stress,
kinerja keuangan daerah dan pertumbuhan ekonomi.
2. Pemerintah Kabupaten/Kota se-Propinsi Aceh
Sebagai bahan masukan bagi Pemerintah Kabupaten/Kota se-Propinsi Aceh
dalam

menyikapi

fenomena

yang

berkembang

sehubungan

dengan

Universitas Sumatera Utara

14

desentralisasi fiscal, fiscal stress, kinerja keuangan daerah dan pertumbuhan
ekonomi.
3. Calon Peneliti
Sebagai bahan referensi bagi peneliti selanjutnya dalam mengembangkan dan
memperluas penelitian.

1.5. Originalitas Penelitian
Originalitas penelitian ini berbentuk replikasi. Disamping masih minimnya
peneliti di Indonesia yang meneliti pengaruh desentralisasi fiskal dan fiscal stress
terhadap pertumbuhan ekonomi, baik secara langsung maupun tidak langsung,
Replikasi penelitian ini juga dilatarbelakangi belum ditemukannya keseragaman
kesimpulan tentang pengaruh desentralisasi fiscal dan fiscal stress terhadap
pertumbuhan ekonomi. Replikasi penelitian ini dilakukan terhadap penelitian Sasana
(2005).
Perbedaan penelitian Sasana (2005) dengan replikasi penelitian ini :
1. Objek Penelitian
Sasana (2005) mengamati objek penelitian Kabupaten/Kota di Jawa Tengah
Penelitian yang dilakukan dalam penelitian ini mengamati objek Penelitian
Kabupaten/Kota se-Propinsi Aceh. Perbedaan ini patut dipertimbangkan,
disamping perbedaan jumlah cakupan objek yang diteliti, juga didasarkan
perbedaan karakteristik, budaya, potensi dan besaran anggaran yang tentunya

Universitas Sumatera Utara

14

mempengaruhi pelaksanaan desentralisasi fiscal, tingkat fiscal stress, kinerja
keuangan dan pada akhirnya mempengaruhi pertumbuhan ekonomi.
2. Populasi Penelitian
Sasana (2005) mengamati 35 Kabupaten/Kota se-Jawah Tengah. Penelitian ini
mengamati 23 Kabupaten/Kota se- Propinsi Aceh.
3. Variabel penelitian
Sasana (2005) mengamati 1 variabel bebas dan 1 variabel terikat, yaitu
Desentralisasi fiscal sebagai variabel bebas dan pertumbuhan ekonomi
sebagai variabel terikat. Penelitian ini mengamati 2 (dua) variabel bebas, yaitu
desentralisasi fiscal dan Fiscal Stress, 1 (satu) variabel terikat, yaitu
pertumbuhan ekonomi dan 1 (satu) variabel intervening kinerja keuangan
yang diproxy melalui rasio efisiensi. (Hamzah (2006) menemukan salah satu
rasio kinerja keuangan yang berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi
adalah rasio efisiensi).

Universitas Sumatera Utara

14

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Landasan Teoritis
2.1.1. Pertumbuhan Ekonomi
Secara umum pertumbuhan ekonomi dapat diartikan perkembangan kegiatan
dalam perekonomian yang menyebabkan barang dan jasa yang diproduksi dalam
masyarakat bertambah dan kemakmuran masyarakat meningkat. Pertumbuhan
ekonomi dapat juga diartikan sebagai kenaikan Gross Domestic Product (GDP) atau
Gross National Product (GNP) tanpa memandang apakah kenaikan itu lebih besar
atau lebih kecil dari tingkat pertumbuhan penduduk atau apakah perubahan struktur
ekonomi terjadi atau tidak (Arsyad, 1999). Dari beberapa definisi diatas dapat
disimpulkan bahwa pertumbuhan ekonomi merupakan kemampuan suatu negara
dalam menyediakan kebutuhan akan barang dan jasa kepada masyarakat dalam
jumlah yang banyak sehingga memungkinkan untuk kenaikan standar hidup yang
mana berdampak pula bagi penurunan tingkat pengangguran dalam jangka panjang.
Pertumbuhan ekonomi (economic growth) menjelaskan atau mengukur
prestasi dari perkembangan suatu perekonomian. Dalam perekonomian yang
sebenarnya pertumbuhan ekonomi berarti perkembangan ekonomi secara fisik yang
terjadi di suatu negara, seperti pertambahan jumlah dan produksi barang industri,
pertambahan jumlah infrastruktur, sarana pendidikan, penambahan produksi kegiatankegiatan ekonomi yang sudah ada, dan berbagai perkembangan lainnya.

Universitas Sumatera Utara

Menurut Todaro (2003) pertumbuhan ekonomi adalah kenaikan kapasitas
dalam jangka panjang dari negara bersangkutan untuk menyediakan berbagai barang
ekonomi kepada penduduknya. Kenaikan kapasitas ditentukan oleh kemajuan atau
penyesuaian teknologi, institusional, dan ideologis terhadap tuntutan keadaan yang
ada. Pressman (2000) juga menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi berkaitan
dengan perpaduan efek dari produktivitas yang tinggi dan populasi yang besar. Dari
kedua faktor ini pertumbuhan produktivitas jelas lebih penting, karena seperti yang
ditunjukkan oleh Adam Smith, pertumbuhan produktivitas inilah yang menghasilkan
peningkatan dalam standar kehidupan. Kuznets sangat menekankan pada perubahan
dan inovasi teknologi sebagai cara meningkatkan pertumbuhan produktivitas terkait
dengan redistribusi tenaga kerja dari sektor yang kurang produktif (yaitu pertanian)
ke sektor yang lebih produktif (yaitu industri manufaktur).
Todaro (2003) menyampaikan ada tiga faktor atau komponen utama dalam
pertumbuhan ekonomi dari setiap negara. Ketiga faktor tersebut adalah :
1. Akumulasi modal, yang meliputi semua bentuk atau jenis investasi baru yang
ditanamkan pada tanah, peralatan fisik, dan modal atau sumber daya manusia.
2. Pertumbuhan penduduk, yang pada akhirnya akan memperbanyak jumlah
angkatan kerja.
3. Kemajuan teknologi, berupa cara baru atau perbaikan cara-cara lama dalam
menangani pekerjaan-pekerjaan.

1
Universitas Sumatera Utara

Menurut teori Klasik, akumulasi modal serta jumlah tenaga kerja memiliki
peran yang sangat penting dalam pertumbuhan ekonomi. Ada tiga unsur pokok dalam
produksi suatu negara, yaitu :
1. Sumber daya yang tersedia, yaitu tanah.
2. Sumber daya insani, yaitu jumlah penduduk.
3. Stok barang modal yang ada.
Menurut Schumpeter dalam Pressman (2000) bahwa pertumbuhan ekonomi
tidak akan terjadi secara terus-menerus tetapimengalami keadaan di mana adakalanya
berkembang dan pada ketika lain mengalami kemunduran. Konjungtur tersebut
disebabkan oleh kegiatan para pengusaha (entrepreneur) melakukan inovasi atau
pembaharuan dalam kegiatan menghasilkan barang dan jasa. Untuk mewujudkan
inovasi yang seperti ini investasi akan dilakukan, dan pertambahan investasi ini akan
meningkatkan kegiatan ekonomi. Proses multiplier yang ditimbulkannya akan
menyebabkan peningkatan lebih lanjut dalam kegiatan ekonomi dan perekonomian
mengalami pertumbuhan yang lebih pesat
Dalam teori basis ekonomi (economic base theory) disebutkan bahwa laju
pertumbuhan ekonomi suatu wilayah ditentukan oleh besarnya peningkatan ekspor
dari wilayah tersebut, kegiatan ekonomi dikelompokkan atas kegiatan basis dan
kegiatan non basis. Hanya kegiatan basis yang dapat mendorong pertumbuhan
ekonomi wilayah (Sadono, 2001).

Universitas Sumatera Utara

2.1.2. Otonomi Daerah
Otonomi berasal dari kata Yunani autos dan nomos. Kata pertama berarti
sendiri dan kata kedua berarti pemerintah. Otonomi bermakna memerintah sendiri,
dalam wacana administrasi publik daerah sering disebut sebagai local self
government. Menurut Khusaini (2006) daerah otonom praktis berbeda dengan daerah
saja yang merupakan penerapan dari kebijakan yang dalam wacana administrasi
publk disebut sebagai local state government yang berarti pemerintah di daerah
merupakan kepanjangan dari pemerintah pusat (dalam Handayani, 2009). Otonomi
daerah menurut UU No.32 Tahun 2004, diartikan sebagai hak wewenang dan
kewajiban daerah otonom untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintah
dan kepentingan masyarakat setempat sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
Daerah otonom adalah masyarakat hukum yang mempunyai batas-batas wilayah yang
berwenang mengatur dan mengurus urusan pemerintah dan kepentingan masyarakat
setempat menurut prakarsa sendiri berdasarkan aspirasi masyarakat dalam sistem
Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Tujuan pemberian otonomi daerah adalah untuk memungkinkan daerah yang
bersangkutan mengatur dan mengurus rumah tangga sendiri dalam rangka
meningkatkan daya guna dan hasil guna penyelenggaraan pemerintahan bagi
pelayanan masyarakat dan pelaksanaan pembangunan (Handayani, 2009). Sebagai

Universitas Sumatera Utara

upaya untuk mencapai tujuan itu, maka kepada daerah diberikan wewenang untuk
melaksanakan urusan pemerintahan.
Menurut Handayani (2009) menyebutkan terdapat 4 (empat) unsur otonomi
daerah, yaitu :
a. Memiliki perangkat pemerintah sendiri yang ditandai dengan adanya Kepala
Daerah, DPRD, dan Pegawai Daerah;
b. Memiliki urusan rumah tangga sendiri yang ditandai dengan adanya
dinasdinasdaerah;
c. Memiliki sumber keuangan sendiri yang ditandai dengan adanya pajak daerah,
retribusi daerah, perusahaan daerah dan pendapatan dinas-dinas daerah;
d. Memiliki wewenang untuk melaksanakan inisiatif sendiri (diluar dari instruksi
dari pemerintahan pusat atau atasan) sepanjang tidak bertentangan dengan
peraturan perundangan yang lebih tinggi.
Otonomi daerah membawa dua implikasi khusus bagi pemerintah daerah yaitu
pertama adalah semakin meningkatnya biaya ekonomi (high cost economy) dan yang
kedua adalah efisiensi dan efektifitas. Oleh karena itu daesentralisasi membutuhkan
dana yang memadai bagi pelaksanaan pembangunan didaerah (Emelia, dalam
Handayani 2009).
Apabila suatu daerah tidak memiliki sumber-sumber pembiayaan yang
memadai maka dari hal ini akan mengakibatkan daerah bergantung terus terhadap
pembiayaan pemerintah pusat. Ketergantungan terhadap pembiayaan pemerintah

Universitas Sumatera Utara

pusat merupakan kondisi yang tidak sesuai dengan asas otonomi daerah. Oleh karena
itu perlu suatu upaya oleh pemerintah daerah dalam memutus ketergantungan tersebut
dalam rangka meningkatkan kemampuan daerah.
Menurut Syamsi (dalam Emelia, 2006) terdapat beberapa kriteria yang dapat
dijadikan ukuran agar suatu daerah dikatakan mampu untuk mengurus rumah
tangganya sendiri:
a. Kemampuan struktur organisasinya
Struktur organisasi pemerintah daerah yang mampu menampung seluruh
aktivitas dan tugas yang menjadi tanggung jawab pemerintah daerah.
b. Kemampua