Dinamika Keanekaragaman Jenis dan Karakteristik Habitat Kupu-kupu di Kawasan Kampus IPB Darmaga

(1)

KAMPUS IPB DARMAGA

NARARYA GUNADHARMA

DEPARTEMEN

KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA

FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2013


(2)

DINAMIKA KEANEKARAGAMAN JENIS DAN

KARAKTERISTIK HABITAT KUPU-KUPU DI KAWASAN

KAMPUS IPB DARMAGA

NARARYA GUNADHARMA

Skripsi

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kehutanan Pada Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata

Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor

DEPARTEMEN

KONSERVASI SUMBERDAYA HUTAN DAN EKOWISATA

FAKULTAS KEHUTANAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2013


(3)

NARARYA GUNADHARMA. Dinamika Keanekaragaman Jenis dan Karakteristik Habitat Kupu-kupu di Kawasan Kampus IPB Darmaga. Dibimbing oleh LIN NURIAH GINOGA dan NOOR FARIKHAH HANEDA.

Keanekaragaman jenis satwaliar diantaranya kupu-kupu merupakan salah satu faktor yang menjadi pertimbangan pencanangan Institut Pertanian Bogor (IPB) sebagai Kampus Biodiversitas. Perkembangan penggunaan lahan di kampus IPB Darmaga memerlukan penelitian tentang hubungan antara karakteristik habitat dengan keanekaragaman jenis kupu-kupu sebagai pembanding dengan penelitian sebelumnya untuk memberikan data manajemen habitat pengelolaan kampus IPB Darmaga.

Penelitian ini dilakukan pada delapan tipe habitat di Kampus IPB Darmaga yaitu: 1) Arboretum lansekap, 2) Hutan Al Hurriyah, 3) Hutan Sengon, 4) Hutan Akasia, 5) Kawasan DAR Fakultas Kehutanan (Kawasan DAR), 6) Perumahan dosen, 7) Cikabayan dan 8) Kawasan Gymnasium. Hasil dari penelitian ini mendapatkan 707 individu kupu-kupu yang terdiri atas 55 jenis kupu-kupu. Kupu-kupu yang ditemukan terdiri dari 5 famili, yaitu Papilionidae (8 jenis), Nymphalidae (29 jenis), Pieridae (8 jenis), Lycaenidae (4 jenis) dan Hesperidae (6 jenis).

Tipe habitat Perumahan dosen merupakan tipe habitat yang memiliki nilai keanekaragaman jenis tertinggi sebesar 2,93 dengan karakteristik suhu rata-rata 30,33 0C, kelembaban relatif rata-rata 75,89%, nilai tutupan tajuk (LAI) sebesar 1,51 dan memiliki keanekaragaman jenis tumbuhan pakan larva, tumbuhan pakan kupu-kupu dan shelter. Secara umum nilai indeks keanekaragaman jenis dan jumlah jenis kupu-kupu mengalami penurunan dibandingkan penelitian sebelumnya yang disebabkan adanya perubahan pengunaan lahan di kampus IPB Darmaga yang mengganggu habitat kupu-kupu.


(4)

NARARYA GUNADHARMA. The Dinamics of Species Diversity and Habitat Characteristics of Butterflies in IPB Darmaga. Under supervision of LIN NURIAH GINOGA and NOOR FARIKHAH HANEDA.

The diversity of wildlife including butterfly is one of the factors that becomes a consideration on the declaration of Bogor Agricultural Institute (IPB) as Campus Biodiversity. The development of land use at IPB Darmaga requires a research on the relationship between habitat characteristics with the diversity of butterfly as a comparison with the previous study to provide habitat management data for the management of IPB Darmaga campus.

The study was conducted at eight habitat types in IPB Darmaga, which are: 1) Arboretum of Landscape, 2) Al Hurriyah Forest, 3) Sengon Forest, 4) Akasia Forest, 5) DAR Area, Faculty of Forestry, 6) Residential of Lecturers (Perumahan dosen), 7) Cikabayan and 8) Gymnasium Area. The result of this research gets 707 butterfly consisting 55 species of butterfly. Butterflies which were found consists of five families, namely Papilionidae (8 species), Nymphalidae (29 species), Pieridae (8 species), Lycaenidae (4 species) and Hesperidae (6 species).

Residential of Lecturers (Perumahan dosen) habitat has the highest species diversity value of 2.93 with an average temperature characteristics of 30.330C, relative humidity average of 75.89%, the value of Leaf Area Index (LAI) of 1.507 and has a diversity of larvae feed plants, butterflies feed plants and shelters. Generally, species diversity index values and the number of butterfly species has decreased compared to previous studies due to changes in land use on IPB Darmaga campus that disturbs the habitat of butterfly.


(5)

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi berjudul “Dinamika Keanekaragaman Jenis dan Karakteristik Habitat Kupu-kupu di Kawasan Kampus IPB Darmaga” adalah benar-benar hasil karya saya sendiri dengan bimbingan dosen pembimbing dan belum pernah digunakan sebagai karya ilmiah pada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, Februari 2013

Nararya Gunadharma E34080097


(6)

Judul Skripsi : Dinamika Keanekaragaman Jenis dan Karakteristik Habitat Kupu-kupu di Kawasan Kampus IPB Darmaga

Nama : Nararya Gunadharma

NIM : E34080097

Menyetujui,

Pembimbing I Pembimbing II

Ir. Lin Nuriah Ginoga, M.Si. Dr. Ir. Noor Farikhah Haneda, MS. NIP. 19651116 199203 2 001 NIP. 19660921 199003 2 001

Mengetahui

Ketua Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor

Prof. Dr. Ir. Sambas Basuni, MS. NIP. 19580915 198403 1 003


(7)

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya sehingga karya ilmiah ini berhasil diselesaikan. Judul yang dipilih dalam penelitian ini adalah “Dinamika Keanekaragaman Jenis dan Karakteristik Habitat Kupu-kupu di Kawasan Kampus IPB Darmaga” yang dibimbing oleh Ibu Ir. Lin Nuriah Ginoga, M.Si. dan Ibu Dr. Ir. Noor Farikhah Haneda, MS. Semoga karya ilmiah ini dapat memberikan manfaat bagi semua pihak.

Perjalanan dalam menyelesaikan karya ilmiah ini banyak memberikan informasi serta pengalaman bagi penulis dan menjadi masukan berharga dalam menyajikan hasil akhir dari keseluruhan karya ilmiah ini. Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyususnan karya ilmiah ini. Ucapan terimakasih penulis sampaikan kepada semua pihak yang telah memberikan saran dan kritik yang membangun selama penyelesaian karya ilmiah ini.

Bogor, Februari 2013 Penulis


(8)

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 28 April 1990. Penulis merupakan anak pertama dari dua bersaudara dari pasangan Bapak Ibnu Slamet dan Ibu Poppy Nurcahya. Pendidikan formal penulis dimulai di SDN Tebet Barat 05 pagi (1996-2002), kemudian penulis melanjutkan ke SMPN 115 jakarta (2002-2005), dan SMAN 55 Jakarta (2005-2008). Setelah lulus SMA, penulis diterima di Perguruan Tinggi Negeri melalui jalur Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) yaitu pada mayor Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

Selama menempuh pendidikan di IPB penulis aktif di berbagai organisasi diantaranya aktif sebagai pengurus Taekwondo IPB dan Himpunan Mahasiswa Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata (Himakova). Adapun kegiatan lapang yang pernah diikuti adalah Eksplorasi Fauna dan Flora Indonesia (RAFFLESIA) di Cagar Alam Gunung Burangrang (2010) dan Taman Nasional Gunung Halimun Salak (2011) serta kegiatan Studi Konservasi Lingkungan (SURILI) di Taman Nasional Sebangau (2010) dan Taman Nasional Kerinci Seblat (2011).

Kegiatan akademik lapangan yang pernah diikuti antara lain Praktek Pengelolaan Ekosistem Hutan (PPEH) di Cilacap-Baturraden (2010), Praktek Pengelolaan Hutan (PPH) di Hutan Pendidikan Gunung Walat (2011), serta Praktek Kerja Lapang di Taman Nasional Meru Betiri (2012). Untuk menyelesaikan tugas sebagai syarat meraih gelar Sarjana Kehutanan, penulis melaksanakan penelitian yang berjudul “Dinamika Keanekaragaman Jenis dan Karakteristik Habitat Kupu-kupu di Kawasan Kampus IPB Darmaga. dibimbing oleh Ibu Ir. Lin Nuriah Ginoga, M.Si. dan Ibu Dr. Ir. Noor Farikhah Haneda, MS.


(9)

UCAPAN TERIMAKASIH

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, karena atas rahmat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Penghargaan dan ucapan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu penulis menyelesaikan skripsi ini dan penulis mengucapkan terimakasih kepada:

1. Orang tua, adik dan segenap keluarga yang terus memberi doa, motivasi dan kasih sayang.

2. Ibu Ir. Lin Nuriah Ginoga, M.Si. dan Ibu Dr. Ir. Noor Farikhah Haneda, MS selaku pembimbing penulis yang senantiasa memberikan ilmu, nasehat dan bimbingan dengan ikhlas dan penuh kesabaran.

3. Bapak Ir. Agus Priyono, MS selaku ketua sidang dan Bapak Ir. Andi Sukendro, MS selaku dosen penguji yang telah memberikan bimbingan, arahan, saran dan kritik dalam penyempurnaan skripsi ini.

4. Ibu Eva Rachmawati yang bersedia memberikan bimbingan dan nasehat, seluruh Bapak/Ibu dosen yang telah memberikan dan mengajarkan ilmu kepada penulis, serta keluarga besar Departemen Konservasi Sumberdaya Hutan dan Ekowisata, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor.

5. Teman-teman yang selalu memberikan nasehat, kebersamaan dan saran dalam bertukar pikiran (Mbak Jadda, Teh Lina, Kak Aron, Ismi, Mira, Rika, Lintang, Nurika, Indra Purnama, Ucok, Rifki Putra, Adis).

6. Teman-teman yang telah membantu dalam kegiatan penelitian dan pengambilan data (Meyla, Mega, Dwinda, Intan, Nuga).

7. Teman-teman Laboratorium Konservasi Eksitu Satwaliar (Debora, Meidilaga, Widi, Bang Maiser, Nazmi, Yenti).

8. Keluarga besar ”EDELWEIS 45” yang telah memberikan segala pengalaman berharga dan pelajaran hidup yang tak ternilai.


(10)

9. Keluarga besar Himakova, ”Anggrek Hitam 46”, ”Nephentes 47” dan ”Pongo pygmaeus 48”.

10.Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Bogor, Februari 2013

Nararya Gunadharma E34080097


(11)

DAFTAR ISI

Halaman

DAFTAR ISI ... i

DAFTAR TABEL ... iii

DAFTAR GAMBAR ... iv

DAFTAR LAMPIRAN ... v

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang... 1

1.2 Tujuan ... 2

1.3 Manfaat ... 2

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... 3

2.1 Morfologi kupu-kupu ... 3

2.2 Daur hidup kupu-kupu ... 4

2.3 Klasifikasi kupu-kupu ... 6

2.4 Ekologi kupu-kupu ... 7

2.5Habitat dan penyebaran kupu-kupu ... 8

BAB III METODE PENELITIAN ... 10

3.1 Waktu dan tempat ... 10

3.2 Alat dan bahan ... 11

3.3 Jenis data yang dikumpulkan... 11

3.4 Metode pengumpulan data ... 12

3.5 Analisis data ... 15

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN... 10

4.1 Kondisi habitat... 18

4.2 Kelimpahan dan kekayaan jenis kupu-kupu ... 25

4.3 Keanekaragaman jenis kupu-kupu ... 27

4.4 Kemerataan jenis kupu-kupu ... 29

4.5 Koefisien kesamaan jenis kupu-kupu ... 30

4.6 Perbandingan nilai karakteristik habitat- pada masing-masing tipe habitat ... 31


(12)

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN... 39

5.1 Kesimpulan ... 39

5.2 Saran ... 39

DAFTAR PUSTAKA ... 40


(13)

DAFTAR TABEL

No Halaman

1 Jenis tumbuhan yang menjadi sumber pakan larva kupu-kupu ... 8

2 Alat dan bahan penelitian ... 11

3 Jumlah jenis vegetasi pakan larva, pakan kupu-kupu dan shelter pada masing-masing habitat ... 22

4 Jenis vegetasi yang mendominasi pada masing-masing habitat ... 23

5 Penyebaran Jenis Kupu-kupu di Kampus IPB Darmaga ... 25

6 Daftar jenis kupu-kupu yang ditemukan pada habitat tertentu ... 28

7 Koefisien kesamaan jenis kupu-kupu antar tipe habitat ... 30

8 Perbandingan nilai karakteristik habitat terhadap nilai keanekaragaman jenis, kemerataan jenis dan kekayaan jenis pada masing-masing tipe habitat ... 31

9 Jenis kupu-kupu baru yang ditemukan pada penelitian tahun 2012 ... 33

10 Perbandingan tingkat keanekaragaman, kemerataan dan jumlah jenis kupu-kupu pada tahun 2007 dan 2012 ... 34

11 Koefisien kesamaan jenis vegetasi pada masing-masing tipe habitat pada kedua penelitian ... 35

12 Koefisien kesamaan jenis kupu-kupu pada masing-masing tipe habitat pada kedua penelitian ... 36

13 Data pembangunan gedung di Kampus IPB Darmaga pada selang waktu 2009-2011 ... 38


(14)

DAFTAR GAMBAR

No Halaman

1 Bentuk dan bagian tubuh kupu-kupu. ... 4

2 Daur hidup kupu-kupu ... 5

3 Lokasi Penelitian di Kampus IPB Darmaga ... 11

4 Metode jalur berpetak ... 13

5 Bentuk jalur metode transek ... 15

6 Kondisi habitat ... 18

7 Hasil Pengukuran suhu dan kelembaban udara rata-rata pada masing-masing tipe habitat ... 19

8 Sumber air ... 20

9 Tutupan tajuk pada masing-masing tipe habitat ... 21

10 Nilai Leaf Area Index pada masing-masing tipe habitat ... 21

11 Perbandingan famili kupu-kupu yang ditemukan ... 25

12 Nilai kekayaan jenis kupu-kupu di masing-masing tipe habitat ... 26

13 Nilai keanekaragaman jenis kupu-kupu pada masing-masing tipe habitat ... 27

14 Nilai kemerataan jenis kupu-kupu pada masing-masing tipe habitat ... 29

15 Perbandingan jumlah jenis yang ditemukan pada penelitian tahun 2007 dan tahun 2012 ... 29


(15)

DAFTAR LAMPIRAN

No Halaman

1 Jenis Kupu-kupu pada habitat Arboretum Lansekap ... 44

2 Jenis Kupu-kupu pada habitat Hutan Al Hurriyah ... 45

3 Jenis Kupu-kupu pada habitat Hutan Sengon ... 46

4 Jenis Kupu-kupu pada habitat Hutan Akasia ... 47

5 Jenis Kupu-kupu pada habitat Kawasan DAR ... 48

6 Jenis Kupu-kupu pada habitat Perumahan Dosen ... 49

7 Jenis Kupu-kupu pada habitat Cikabayan ... 50

8 Jenis Kupu-kupu pada habitat Kawasan Gymnasium ... 51

9 Jumlah Kupu-kupu pada setiap tipe habitat ... 52

10 Jenis Kupu-kupu yang ditemukan pada penelitian ... 54

11 Jenis Kupu-kupu yang ditemukan pada penelitian Saputro (2007) ... 56

12 Jenis tumbuhan pada kawasan kampus IPB Darmaga ... 58

13 Hasil analisis tingkat semai dan tumbuhan bawah... 60

14 Hasil analisis tingkat pancang ... 62

15 Hasil analisis tingkat tiang ... 64

16 Hasil analisis tingkat pohon ... 65

17 Jenis tumbuhan pakan larva, pakan kupu dan shelter yang ditemukan pada kawasan kampus IPB Darmaga ... 68

18 Jenis vegetasi pakan larva ... 70

19 Data LAI hasil pengukuran di lapangan ... 71

20 Hasil perhitungan uji dua sampel berpasangan pada nilai kekayaan jenis kupu-kupu ... 72

21 Hasil perhitungan uji dua sampel berpasangan pada nilai keanekaragaman jenis kupu-kupu ... 73


(16)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Institut Pertanian Bogor (IPB) merupakan salah satu perguruan tinggi yang masih terus melakukan pengembangan sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk mendukung aktivitas pendidikan. Adanya pengembangan sarana dan prasarana Kampus di IPB mengakibatkan lahan-lahan yang ada mengalami perubahan penggunaan. Kondisi ini menyebabkan terganggunya habitat bagi satwaliar sehingga mengakibatkan jenis-jenis satwa tertentu sulit untuk ditemukan kembali. Keberadaan satwaliar dapat digunakan sebagai indikator kelestarian dan kesehatan lingkungan.

Momentum tersebut sangat tepat dengan pencanangan IPB sebagai Kampus Biodiversitas yang mengembangkan pengelolaan Kampus IPB Darmaga dengan mempertimbangkan keanekaragaman hayati dalam perencanaan dan pengelolaan di kawasannya dan peningkatan kesadaran publik terhadap keberadaan dan manfaat kawasan Kampus IPB Darmaga sebagai sistem pendukung kehidupan manusia. Keanekaragaman hayati di Kampus IPB dicirikan oleh jenis-jenis flora dan fauna yang jumlahnya mengalami fluktuasi.

Salah satu keanekaragaman hayati yang ada di Kampus IPB Darmaga adalah keanekaragaman jenis kupu-kupu. Kampus IPB Darmaga merupakan salah satu habitat yang baik untuk jenis kupu-kupu. Kupu-kupu memiliki peran sebagai penyerbuk pada proses pembuahan bunga, sehingga perubahan keanekaragaman dan kepadatan populasi kupu-kupu dapat dijadikan salah satu indikator kelestarian dan kualitas lingkungan.

Penelitian mengenai keanekaragaman jenis kupu-kupu di kawasan Kampus IPB Darmaga sebelumnya sudah pernah dilakukan, diantaranya penelitian Simanjuntak (2000) yang memperoleh data kupu-kupu sebanyak 37 spesies dari 5 famili, yaitu: Papilionidae (9 spesies), Pieridae (10 spesies), Nymphalidae (11 spesies), Danaidae (6 spesies) dan Satyridae (1 spesies) dengan mengambil lokasi: 1)Taman Rektorat, 2) Kebun Karet, 3) Arboretum, 4) Cikabayan dan 5) Gedung Olahraga. Hasil penelitian Saputro (2007) menyebutkan bahwa di kawasan


(17)

Kampus IPB Darmaga terdapat 77 spesies dari 4 famili, yaitu: Papilionidae (9 spesies), Pieridae (13 spesies), Nymphalidae (45 spesies) dan Lycaenidae (10 spesies). Penelitian tersebut dilakukan di delapan tipe habitat yang ada di kawasan Kampus IPB Darmaga yaitu 1) Arboretum Lansekap, 2) Hutan Alam Al Hurriyah, 3) Hutan Tanaman Akasia, 4) Hutan Tanaman Sengon, 5) Gymnasium, 6) Kawasan DAR Fakultas Kehutanan, 7) Perumahan Dosen (Jalan Jati) dan 8) Kebun Percobaan Cikabayan. Perkembangan perubahan penggunaan lahan yang begitu cepat di Kampus IPB Darmaga memerlukan penelitian tentang hubungan antara karakteristik habitat dengan kekayaan, dominansi, keanekaragaman dan kemerataan jenis kupu-kupu.

1.2 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk:

1. Menganalisis hubungan karakteristik habitat terhadap keanekaragaman jenis kupu-kupu

2. Menganalisis dinamika kekayaan jenis dan keanekaragaman jenis kupu-kupu.

1.3 Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah untuk memberikan data keanekaragaman hayati kupu-kupu sebagai dasar bagi pengelolaan kawasan Kampus IPB Darmaga sebagai Kampus Biodiversitas.


(18)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Morfologi Kupu-kupu

Tubuh kupu-kupu sebagian besar memiliki rangka luar yang dilapisi zat kitin dan terbagi atas 3 bagian, yaitu kepala, dada (toraks) dan perut (abdomen) (Fleming 1983 diacu dalam Efendi 2009). Bagian kepala dan dada dilengkapi dengan otot-otot yang berperan sebagai alat gerak dari bagian-bagian mulut dan sayap. Kepala kupu-kupu terdiri atas 6 ruas, yaitu tiga ruas pertama berasosiasi dengan 3 komponen sensori berupa mata majemuk, mata tunggal dan antena. Tiga ruas kepala lainnya berasosiasi dengan bagian mulut (Noerdjito & Aswari 2003).

Pada bagian kepala terdapat antena, mata, dan alat mulut pengisap (haustellate) dalam bentuk probosis yang berfungsi untuk menghisap nektar (Busnia 2006). Probosis terletak pada mandibula (rahang bawah), apabila tidak sedang digunakan proboscis ini digulung, dan dapat dijulurkan kembali untuk menghisap nectar bunga. Antena Kupu-kupu terletak di ujung kepala dilengkapi dengan sel-sel saraf yang berfungsi sebagai alat pencium dan peraba (Noerdjito & Aswari 2003). Bentuk antena dari kupu-kupu ramping dan membulat pada bagian ujung (Triplehorn & Johnson 2005).

Bagian toraks kupu-kupu terbagi menjadi 3 yaitu protoraks, mesotoraks dan metatoraks (Smart 1976). Ketiga bagian toraks ini merupakan tempat melekatnya ketiga pasang kaki. Pasangan kaki depan melekat pada protoraks, sedangkan kaki tengah melekat pada mesotoraks dan pasangan kaki belakang melekat pada metatoraks (Noerdjito & Aswari 2003). Kupu-kupu memiliki dua pasang sayap yaitu pasangan sayap depan yang melekat pada mesotoraks dan pasangan sayap belakang melekat pada metatoraks (Smart 1976).

Bentuk sayap kupu-kupu sangat bervariasi. Sayap kupu-kupu ditutupi oleh sisik-sisik yang membuatnya menjadi berwarna-warni. Sayap merupakan organ yang terpenting bagi pergerakan kupu-kupu berupa selaput tipis dan dilengkapi dengan vena-vena sehingga memperkuat melekatnya sayap pada toraks (Noerdjito & Aswari 2003). Sayap kupu-kupu bersifat membraneous dan bervariasi dalam hal ukuran, bentuk, dan pola. Venasi sayap bersifat spesifik pada suatu spesies


(19)

(Tofilski 2004). Banyak spesies kupu-kupu menunjukkan dimorfisme seksual yang mempunyai pola sayap berbeda pada permukaan dorsal dan ventral (Beldade & Brakefield 2002)

Bagian perut terdiri dari 10 segmen, terdiri dari dorsum, sternum dan pleurum. Dua atau tiga ruas abdomen terakhir sangat mengalami modifikasi membentuk alat genetalia. Alat genetalia jantan dan betina serta saluran alat kelamin betina sering dipergunakan untuk penentuan marga dan jenis kupu-kupu (Braby 2000). Alat pencernaan kupu-kupu, jantung, organ ekskresi dan organ kelamin serta sistem otot yang kompleks terdapat di dalam abdomen ini (Noerdjito & Aswari 2003). Bentuk dan bagian tubuh kupu-kupu disajikan pada Gambar 1.

Gambar 1 Bentuk dan bagian tubuh kupu-kupu. (Sumber: D’ Abrera 1977 diacu dalam Noerdjito & Aswari 2003 ).

2.2 Daur Hidup Kupu-Kupu

Daur hidup kupu-kupu melalui tahapan metamorphosis (Worral 1995). Tahapan siklus hidup kupu-kupu meliputi stadium telur, larva (ulat), pupa (kepompong) dan tahap imago atau kupu-kupu dewasa Kupu-kupu menghasilkan telur melalui proses perkawinan kupu-kupu jantan dan betina, telur dapat ditemukan di bawah permukaan daun inangnya (Noerdjito & Aswari 2003).


(20)

Telur pada setiap jenis famili memiliki bentuk yang beragam yang membantu mereka bertahan dari cuaca dan predator. Telur berukuran hingga 3mm dan pada jenis tertentu tidak dapat dilihat dengan mata telanjang (Wilson 2008). Telur menetas dan berkembang menjadi larva atau ulat, kemudian saat menetas larva akan memakan kulit telurnya sampai habis (Barret 1951).

Pada fase ulat mereka memakan daun tanaman inangnya untuk tumbuh. Fase ulat mengalami beberapa kali tahapan moulthing sepanjang hidupnya, yaitu proses pengelupasan dan pergantian kulit yang disebut fase instar. Larva pada fase instar tertentu akan mengalami perubahan bentuk tubuh dan warna (Barret 1951).

Proses untuk menjadi pupa didahului oleh adanya moulthing pada instar terakhir. Kulit pupa yang baru berganti ini masih basah dan lunak. Lebih kurang satu minggu kulit pupa akan mengeras yang disebut dengan fase pupa dan hingga waktu tertentu lahirlah kupu-kupu dewasa (Noerdjito & Aswari 2003). Daur hidup kupu-kupu disajikan pada Gambar 2.


(21)

2.3 Klasifikasi Kupu-Kupu

Menurut hasil penamaan ilmiah Symposium Royal Entomology Society (1984) diacu dalam Sihombing (1999), kupu-kupu digolongkan kepada Kingdom Animalia, Phylum Arthopoda, Class Insecta, Ordo Lepidoptera, Sub Ordo Rhopalocera, dan selanjutnya digolongkan kembali pada beberapa famili. Indonesia memiliki 5 famili kupu-kupu dari 15 famili yang ada di dunia, yaitu: 1. Papilionidae ( Swallowtails, 700 spp.)

Famili ini meliputi kupu-kupu berukuran sedang hingga besar. Memiliki tiga pasang kaki, dengan kaki depan yang memiliki taji. Sayap berukuran besar, sel pada sayap belakang tertutup dan sering terdapat ekor. Ulat memiliki tanduk (osmeterium) yang mempunyai aroma, kepompong berduri, terikat pada bagian pinggang dan ekor dengan benang sutera. Telur bulat dengan warna putih hingga kuning.

2. Pieridae (White, yellows butterflies, 1.000-2.000 spp.)

Famili Pieridae meliputi kupu-kupu berukuran kecil hingga sedang (25- 100 mm), memiliki tiga pasang kaki, sayap tidak berekor, dan biasanya berwarna putih atau kuning dengan sel sayap belakang yang tertutup. Famili ini dapat terbang jauh (beberapa spesies mempunyai sifat migrasi) dan sering ditemukan dalam jumlah banyak di sekeliling air. Ulat berwarna hijau atau coklat, telanjang atau sedikit berbulu, dan tidak memiliki tanduk atau duri. Kepompong tergantung dengan kepala keatas, kedua ujung agak tajam, Telur tajam pada kedua sisi. 3. Nymphalidae (6.000 spp)

Famili Nymphalidae meliputi kupu-kupu berukuran sedang hingga besar (25-150 mm). Kaki depan mereduksi sampai tidak berfungsi sehingga kelihatan hanya memiliki empat kaki, terutama pada jantan. Famili ini dapat terbang dengan cepat, suka pada sinar matahari dan sesuatu yang berbau busuk. Sayap berwarna cerah dan memiliki antena berukuran pendek (separuh dari panjang sayap). Ulat memiliki bulu dengan ekor yang terbagi dua. Kepompong bergantung dengan kepala ke bawah.


(22)

4. Lycaenidae (Coppers, 6.000 spp.)

Kupu-kupu Lycaenidae memiliki ukuran tubuh kecil hingga sedang (15-80 mm), agak lemah dan rapuh. Memiliki tiga pasang kaki, kaki depan jantan mempunyai satu jari, sedangkan pada betina terdapat dua jari. Anggota famili ini memiliki ukuran sayap yang pendek dan sering berwarna cerah seperti logam, biasanya sayap bagian atas berwarna lebih gelap dari pada sayap bagian bawah. Sel sayap belakang terbuka, bentuk sayap betina lebih membulat. Ulat berbentuk seperti bekicot dan berbulu.

5. Hesperidae (Skipers, 3.500 spp.)

Dari segi evolusi famili ini merupakan jenis kupu-kupu primitif dan agak mirip dengan ngengat. Memiliki tubuh yang pendek, gemuk, dan kuat. Jarak antara kedua ujung antena agak jauh. Ukuran sayap pendek, seukuran dengan panjang badan. Sayap berdiri atau rata pada saat istirahat, dapat terbang dengan cepat. Warna sayap coklat, gelap, kekuningan. Ulat biasanya terdapat dalam gulungan daun.

2.4 Ekologi Kupu-Kupu

Kupu-kupu merupakan satwa yang bersifat diurnal atau memiliki waktu aktif pada pagi hingga siang hari dengan waktu aktif mulai matahari terbit pukul 06.00 hingga saat matahari terbenam pukul 18.00 pada daerah tropika (Noerdjito & Aswari 2003). Warna pada sayap berperan terhadap penyerapan panas karena kupu-kupu merupakan salah satu fauna berdarah dingin yang mendapatkan panas dari luar tubuhnya. Kupu-kupu mendinginkan tubuh dengan diam dalam naungan atau menutup sayapnya. Hal ini dilakukan untuk mengurangi terserapnya sinar matahari pada tubuhnya (Smart 1975).

Selama menjalani daur hidupnya kupu-kupu memerlukan makanan pada fase larva dan fase dewasa. Larva kupu-kupu memakan bagian tumbuhan seperti daun dan lainnya termasuk buah dan biji untuk membantu tumbuh dengan cepat sebelum masuk ke fase kepompong. Kupu-kupu dewasa pakan utama kupu-kupu adalah serbuk sari dan nektar. Fungsi lain dari tumbuhan selain sebagai sumber pakan bagi kupu-kupu adalah sebagai tumbuhan inang. Kupu-kupu meletakan telur-telurnya pada tumbuhan inang, jenis tumbuhan yang menjadi inang


(23)

berbeda-beda sama seperti halnya pada jenis tumbuhan sebagai sumber pakannya (Indriani 2010). Jenis tumbuhan yang menjadi sumber pakan larva kupu-kupu akan disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1 Jenis tumbuhan yang menjadi sumber pakan larva kupu-kupu

Nama Lokal Nama Latin Jenis Larva

Sirih hutan Aristolochia tagala Troides sp., Pachilopta aristolochiae Sirsak Annona muricata Graphium agamemnon

Kayu manis Cinnamomum burmanni G. sarpedon

Sicerek Clausenia excavate Papilio demoleus, P. helenus, P. polytes Jeruk sundai Citrus amblycarpa P. memnon, P. polytes, P. demoleus Jeruk nipis Citrus aurantifolia P. nephelus, P. memnon

Jeruk purut Citrus hystrix P. memnon, P. demoleus

Jeruk kasturi Citrus microcarpa P. memnon, P. polytes, P. demoleus Jeruk manis Citrus sinensis P. memnon, P. polytes, P. demoleus Pauh-pauh Euodia malayana P. karna, P. paris, P. demoleus Passiflora Passiflora foetida Chetosia hypsea, Vindula dejone Melati jepang Pseuderanthemum reticulatum Doleschalia bisaltide

Kamboja Cerbera manghas Euploea phaenareta Musaenda Mussaenda pubescens Moduza procris Sumber: Syahputra (2011)

2.5 Habitat dan Penyebaran Kupu-Kupu

Habitat adalah segala sumberdaya dan kondisi saat ini pada suatu daerah yang dijadikan hunian oleh suatu organisme termasuk kelangsungan hidup dan reproduksinya (Krausman 1999). Menurut Alikodra (1990) komponen yang menyusun habitat terdiri dari komponen fisik dan komponen biotik. Komponen fisik meliputi air, radiasi matahari, temperatur, aliran dan tekanan udara, tanah, dan panjang hari sedangkan komponen biotik terdiri dari vegetasi dan satwaliar yang ada pada habitat tersebut. Faktor lingkungan yang berperan dalam keberadaan dan keragaman kupu-kupu diantaranya suhu, curah hujan, cahaya, kelembaban, vegetasi , predator dan parasit (Effendi 2009).

Penyebaran jenis kupu-kupu dibatasi oleh faktor-faktor geologi, faktor ekologi yang cocok dan sebaran tanaman inang yang menjadi pakan bagi


(24)

kupu-kupu dewasa maupun pada saat fase larva (Amir et al. 2003). Kupu-kupu-kupu memiliki penyebaran yang beragam, berbagai jenis kupu-kupu ada yang wilayah sebarannya terbatas pada tempat tertentu (endemik) dan ada yang sebarannya luas (kosmopolit) karena mudah beradaptasi dengan berbagai kondisi lingkungan. Satwa ini dapat dijumpai pada hampir seluruh tipe habitat dimana terdapat jenis vegetasi yang menjadi pelindung, tumbuhan inang dan pakannya. Apabila keadaan lingkungan tidak mendukung kupu-kupu akan bermigrasi untuk mencari lingkungan yang cocok untuk menjadi habitatnya.

Pergerakan kupu-kupu juga dilakukan oleh kupu-kupu betina dalam pemilihan tanaman pakan inang untuk perkembangan larva yang dilakukan saat peletakan telur (Nurjanah 2010). Peletakan telur pada vegetasi yang tepat akan mempengaruhi kelangsungan hidup keturunannya. Salah satu bentuk hubungan kupu-kupu dengan habitatnya adalah ketergantungan larva dan kupu-kupu dewasa terhadap keragaman tumbuhan inang. Walaupun kupu-kupu dapat bermigrasi ke daerah yang baru, namun jika sumber tumbuhan pakan larva kupu-kupu musnah maka kupu-kupu tidak dapat berkembangbiak (Efendi 2009).

Kupu-kupu mudah ditemukan pada areal terbuka yang cahaya matahari dapat mudah masuk ke lantai hutan. Termoregulasi merupakan bagian penting dari kupu-kupu dewasa, terutama untuk spesies kupu-kupu yang hidup di habitat terbuka. Kupu-kupu akan berjemur di bawah cahaya matahari sebelum terbang untuk memperoleh suhu tubuh optimal (Watanabe & Imoto 2003).

Komponen habitat yang penting bagi kehidupan kupu-kupu adalah faktor cahaya yang cukup, udara yang bersih atau tidak terpolusi dan air sebagai materi yang dibutuhkan untuk kelembaban lingkungan tempat kupu-kupu tersebut hidup (Aidid 2001). Kupu-kupu merupakan salah satu spesies dari kelompok serangga yang dipergunakan sebagai indikator terhadap perubahan ekologis karena hal tersebut diatas.


(25)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat

Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret-Agustus 2012. Lokasi pengamatan pada kawasan Kampus IPB Darmaga Bogor dengan membaginya menjadi delapan tipe habitat yaitu: 1) Arboretum lansekap, 2) Hutan Al Hurriyah, 3) Hutan Sengon, 4) Hutan Akasia, 5) Kawasan DAR Fakultas Kehutanan (Kawasan DAR), 6) Perumahan dosen, 7) Cikabayan dan 8) Kawasan Gymnasium. Peta lokasi penelitian disajikan pada Gambar 3.

Gambar 3 Lokasi penelitian di Kampus IPB Darmaga.

Lokasi penelitian dipilih berdasarkan ketersediaan struktur vegetasi, keterbukaan wilayah, suhu, kelembaban, kerapatan tajuk dan keberadaaan sumber air. Delapan lokasi penelitian ini juga digunakan pada penelitian Saputro (2007) sehingga dinamika dari hasil penelitian yang pernah dilakukan dapat diketahui.


(26)

3.2 Alat dan Bahan

Berbagai jenis alat dan bahan digunakan pada penelitian ini guna mempermudah kegiatan pengambilan data di lapang, adapun jenis alat dan bahan yang digunakan pada penelitian ini beserta fungsinya disajikan dalam Tabel 2. Tabel 2 Alat dan bahan penelitian

No Nama Jenis Fungsi

Alat Bahan

1 Termometer dry-wet √ Pengukuran iklim mikro

2 Meteran √ Analisis vegetasi

3 Kantong plastic √ Menyimpan spesimen tumbuhan

4 Jaring serangga √ Menangkap Kupu-kupu

5 Alkohol 70% √ Pembuatan spesimen kupu-kupu

6 Jarum suntik √ Pembuatan spesimen kupu-kupu 7 Kertas papilot √ Pembuatan spesimen kupu-kupu 8 Kotak specimen √ Penyimpanan spesimen kupu-kupu

9 Kamper √ Penyimpanan spesimen kupu-kupu

10 Fieldguide Kupu-kupu √ Identifikasi Jenis Kupu-kupu

11 Tallysheet √ Mencatat data pengamatan

12 Alat tulis √ Mencatat data pengamatan

13 Kamera Digital √ Dokumentasi

14 Hemispherical lens √ Pengukuran penutupan kanopi

15 Kupu-kupu √ Sumber data kupu-kupu

16 Tumbuhan √ Sumber data analisis vegetasi

3.3 Jenis Data yang dikumpulkan a. Data Primer

Data primer diperoleh dari pengamatan secara langsung di lapangan. Adapun data primer yang dikumpulkan adalah karakteristik habitat (keberadaan daerah terbuka, ketersediaan air, penutupan tajuk), analisis vegetasi (struktur, komposisi dan jenis), data iklim mikro (suhu dan kelembaban udara) dan populasi kupu-kupu (jenis dan jumlah individu).

b. Data Sekunder

Data sekunder diperoleh melalui pustaka dan literatur. Adapun data sekunder yang dikumpulkan adalah peta Kampus IPB Darmaga, data kondisi fisik


(27)

lokasi (letak dan luas), data pembangunan Kampus IPB Darmaga , data kondisi biologi lokasi dan data keanekaragaman kupu-kupu pada penelitian sebelumnya.

3.4 Metode Pengumpulan Data a. Karakteristik Habitat

Pengambilan data karakteristik habitat dilakukan dengan melakukan pengamatan secara langsung terhadap area terbuka di setiap lokasi pengamatan. Data yang diambil mengenai karakteristik habitat diantaranya mengamati keberadaan sumber air, keberadaan ruang terbuka, kerapatan tajuk untuk serta pengamatan keberadaan satwa lain.

b. Iklim Mikro

Perkembangan kupu-kupu mulai dari fase larva hingga dewasa memerlukan kondisi iklim yang sesuai dengan toleransi jenis kupu-kupu sehingga iklim menjadi komponen fisik yang mempengaruhi populasi kupu-kupu. Beberapa hal yang membentuk iklim mikro suatu habitat adalah suhu dan kelembaban udara sehingga variabel tersebut perlu diukur.

Pengukuran iklim mikro (suhu dan kelembaban udara) dilakukan pada masing- masing lokasi saat pengamatan dilakukan dimulai pukul 09.00-12.00 dengan interval 60 menit sekali agar terlihat fluktuasi suhu yang signifikan. Pengukuran suhu pada pengamatan ini dilakukan sebanyak 3 kali pengambilan data pada tiap selang satu jam pada saat pengambilan data kupu-kupu menggunakan termometer bola basah dan bola kering. Suhu udara diukur dengan ketinggian tempat pengukur 120 cm dari permukaan tanah.

c. Cahaya Matahari

Analisis mengenai pentingnya cahaya matahari bagi kupu-kupu dilakukan dengan mengukur tutupan tajuk pada masing-masing tipe habitat. Pengukuran tutupan tajuk dilakukan menggunakan alat Hemispherical Photograph dengan lensa fish eye yang dapat mengambil gambaran wilayah sebesar 180°, kemudian gambar yang diperoleh dianalisa menggunakan Hemiview 2.1 Canopy Analysis Software sehingga dapat diperoleh informasi mengenai distribusi cahaya ke permukaan tanah dan tingkat kerindangan habitat.


(28)

d. Analisis Vegetasi

Analisis vegetasi dilakukan untuk mengetahui jenis-jenis tumbuhan pakan dan shelter bagi kupu-kupu pada tiap-tiap tipe habitat di Kampus IPB Darmaga. Pengamatan dilakukan dengan metode jalur berpetak. Jumlah jalur berpetak untuk analisis vegetasi pada tiap tipe habitat sebanyak satu buah. Bentuk jalur berpetak disajikan pada Gambar 4.

Gambar 4 Metode jalur berpetak

Keterangan: a. Tingkat semai dan tumbuhan bawah (2m x 2m) b. Tingkat pancang (5m x 5m)

c. Tingkat tiang (10m x 10m) d. Tingkat pohon (20m x 20m)

Jenis-jenis yang diperoleh pada tiap-tiap tipe habitat kemudian diklasifikasikan ke dalam jenis tumbuhan yang termasuk tumbuhan pakan dan shelter bagi kupu-kupu. Pengklasifikasian dilakukan dengan melakukan pengamatan terhadap jenis-jenis tumbuhan yang terdapat ulat, telur pada daunnya dan juga pada jenis-jenis tumbuhan yang banyak didatangi kupu-kupu.

Pakan larva adalah jenis yang menjadi tempat bertelur bagi kupu-kupu serta sebagai sumber pakan larva apabila telur tersebut menetas. Pakan kupu-kupu adalah tanaman bunga-bungaan yang menghasilkan nektar dan biasanya memiliki bunga dengan warna yang menarik. Jenis vegetasi yang berfungsi sebagai shelter adalah jenis yang berfungsi sebagai perlindungan bagi kupu-kupu dari kondisi cuaca, predator dan tempat beristirahat.

a b

c d

d a

b c

c b a

d

arah jalur


(29)

e. Populasi Jenis Kupu-kupu

Metode inventarisasi kupu-kupu dilakukan dengan metode transek (Noerdjito & Aswari 2003), jumlah transek garis yang dibuat untuk setiap tipe habitat sebanyak satu jalur transek. Pengamatan dilakukan dengan rincian tiga kali ulangan pada setiap tipe habitat. Kegiatan inventarisasi dilakukan dengan membuat satu jalur transek sepanjang 500 m dan lebar 20 m pada tiap-tiap tipe habitat dengan jeda antar plot sepanjang 10 m (Gambar 5).

Gambar 5 Bentuk jalur metode transek.

Kegiatan pengambilan data mengenai populasi kupu-kupu terdiri dari beberapa tahapan, yaitu:

1. Penangkapan kupu-kupu

Penangkapan kupu-kupu dilakukan pada waktu aktif kupu-kupu yaitu pukul 09.00-12.00 pada kondisi cuaca cerah (Saputro 2007). Kupu-kupu ditangkap menggunakan jaring kupu-kupu sesuai dengan perjumpaan yang terjadi. Penangkapan pada kupu-kupu tidak dilakukan pada semua individu yang ada di lokasi, apabila menemukan individu kupu-kupu pada jenis yang sama dengan yang telah ditangkap maka cukup dihitung jumlahnya. Kupu-kupu yang ditangkap dimatikan dengan cara menekan bagian thoraks atau disuntik alkohol 70%. Kupu-kupu yang telah mati kemudian dibungkus dengan menggunakan kertas papilot dan mencatat data pada tallysheet meliputi lokasi penangkapan, keadaaan cuaca, jenis tumbuhan di lokasi, nama ilmiah kupu-kupu, famili kupu-kupu, aktivitas saat di tangkap dan waktu ditangkap.

Plot 1 Plot 2

10m

jeda


(30)

2. Identifikasi Jenis Kupu-kupu

Kupu-kupu yang didapat dari hasil pengamatan kemudian dikumpulkan per jalur untuk kemudian diidentifikasi menggunakan bantuan buku panduan lapang (fieldguide) kupu-kupu. Buku identifikasi yang digunakan adalah, Identification guide for butterflies of West Java (Schulze), Practical Guide to The Butterflies of Bogor Botanic Garden (Peggie & Mohammad 2006), dan The Ilustrated Encyclopedia of the Butterfly World (Smart 1975).

3. Pembuatan spesimen kupu-kupu

Pembuatan spesimen dilakukan dengan merentangkan sayap kupu-kupu di atas sterofoam. Perentangan sayap dibantu menggunakan kertas minyak agar sayap kupu-kupu dapat merentang sempurna, kemudian spesimen dikeringkan ke dalam oven. Spesimen yang sudah selesai dioven difoto dan disimpan pada kotak spesimen yang sudah ditaburi kapur barus.

3.5 Analisis Data

Analisis data dilakukan untuk melihat tingkat kekayaan, keanekaragaman jenis, kemerataan jenis, frekuensi jenis, dominansi jenis, kesamaan jenis kupu-kupu dan dinamikanya untuk setiap tipe habitat di Kampus IPB Darmaga.

Kekayaan Jenis

Nilai kekayaan jenis kupu-kupu dihitung menggunakan Indeks Diversitas Margalef (Magurran 1988) dengan rumus:

���= (� − �)/��� Keterangan:

Dmg = Diversitas Margalef N = Jumlah individu

S = Jumlah jenis yang diamati ln = Logaritma Natural

Keanekaragaman Jenis

Nilai kekayaan jenis kupu-kupu dihitung menggunakan Indeks Keanekaragaman Shannon-Wiener (Magurran 1988) dengan rumus:


(31)

�′=− � ������

Keterangan:

H’ = Indeks keanekaragaman Shannon-Wiener Pi = Proporsi nilai penting

Kemerataan Jenis

Nilai kemerataan jenis dihitung menggunakan rumus Eveness indeks Shannon (Magurran 1988) dengan rumus:

�=�′/��� Keterangan:

E = indeks kemerataan (nilai antara 0 – 10) H’ = keanekaragaman jenis kupu-kupu

Kesamaan Jenis

Kesamaan jenis digunakan untuk mengetahui nilai kesamaan jenis antar habitat dihitung menggunakan koefisien Jaccard (Magurran 1988) dengan rumus

��= �/(�+� − �) Keterangan:

Sj = Koefisien kesamaan Jaccard

a = Jumlah jenis yang ditemukan pada tipe habitat a dan b b = Jumlah jenis yang ditemukan pada tipe habitat b c = jumlah jenis yang ditemukan pada tipe habitat a

Analisis vegetasi digunakan untuk mengetahui kondisi vegetasi pada habitat kupu-kupu sehingga dapat diketahui nilai komposisi dan dominansi tumbuhan pada suatu tipe habitat. Persamaan-persamaan yang dicari antara lain:

Kerapatan Suatu Jenis (K)

K = jumlah individu suatu jenis luas petak contoh


(32)

Kerapatan Relatif Suatu Jenis (KR)

KR = kerapatan suatu jenis

kerapatan seluruh jenis x 100%

Frekuensi Suatu Jenis (F)

F = jumlah plot ditemukan suatu jenis jumlah seluruh subpetak contoh

Frekuensi Relatif (FR)

FR = frekuensi suatu jenis

frekuensi seluruh jenis x 100%

Indeks Nilai Penting (INP)

INP = KR + FR

Uji dua Sampel Berpasangan (Paired sample T Test)

Uji dua sampel berpasangan digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya perbedaan rata-rata antara dua kelompok sampel yang berpasangan atau sebuah sampel tetapi mengalami dua perlakuan berbeda, dengan perhitungan sebabagai berikut.

�= �1��� − �2���

��12 �1 +

�22

�2 −2� � � 1

√�1� � �√�22 �

Uji dua sampel berpasangan digunakan untuk mengetahui adanya pengaruh perubahan tipe habitat yang terjadi pada selang waktu 2007 hingga 2012 terhadap kekayaan jenis dan nilai indeks keanekaragaman jenis kupu-kupu di kawasan Kampus IPB Darmaga.


(33)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Kondisi Habitat

Tipe habitat yang dijadikan lokasi penelitian memiliki karakteristik yang berbeda. Delapan tipe habitat pada kawasan Kampus IPB Darmaga disajikan pada Gambar 6.

Gambar 6 Kondisi habitat: 1) Arboretum Lansekap, 2) Hutan Al-Hurriyah, 3) Hutan Sengon, 4) Hutan Akasia, 5) Kawasan DAR, 6) Perumahan dosen, 7) Cikabayan dan 8) Kawasan Gymnasium.

Deskripsi kedelapan tipe habitat diuraikan sebagai berikut: 1) Arboretum Lansekap merupakan tipe habitat yang ditumbuhi berbagai macam pohon bertajuk rindang, memiliki padang terbuka dan beragam tanaman buah; 2) Hutan Al Hurriyah adalah kawasan yang ditumbuhi berbagai jenis pepohonan berkayu besar, tinggi, memiliki tajuk pohon rindang dan rapat serta topografi yang sedikit berlereng; 3) Hutan Sengon terletak di dekat Situ Leutik danau Lembaga Studi Informasi (LSI) Kampus IPB Darmaga, dan merupakan tipe habitat yang ditumbuhi tegakan sengon; 4) Hutan Akasia adalah tipe habitat yang terdiri dari tegakan akasia dan terletak dekat dengan sungai Cihideung; 5) Kawasan DAR Fakultas Kehutanan merupakan kawasan gedung perkuliahan yang memiliki areal dengan tegakan karet, gmelina, mahoni dan jenis lainnya; 6) Perumahan dosen adalah tipe habitat yang terbuka yang terdiri dari pekarangan rumah dan kebun; 7)


(34)

Cikabayan merupakan kebun percobaan yang memiliki habitat terbuka dan ditumbuhi oleh beragam tanaman buah; 8) Kawasan Gymnasium terdiri dari kawasan terbuka yang ditumbuhi tumbuhan bawah dan juga tumbuhan berkayu seperti jenis akasia dan sengon. Tipe habitat pada kawasan Kampus IPB Darmaga disajikan pada Gambar 6.

4.1.1 Komponen Fisik Habitat a. Suhu dan Kelembaban Udara

Pengamatan dilakukan pada bulan Maret hingga Mei 2012 yang merupakan musim kemarau. Nilai suhu dan kelembaban udara tersaji pada Gambar 7.

Gambar 7 Hasil Pengukuran suhu dan kelembaban udara rata-rata pada masing-masing tipe habitat.

Tipe habitat dengan suhu udara tertinggi adalah Cikabayan yaitu dengan suhu udara rata-rata sebesar 31,56°C dan tipe habitat dengan suhu udara terendah pada Akasia dan Hutan Al-Hurriyah dengan suhu udara rata-rata sebesar 29,11°C. Kelembaban udara rata-rata tertinggi berada pada kawasan Perumahan dosen yaitu sebesar 75,89% dan kelembaban udara terendah pada kawasan DAR sebesar 64,43%. Seluruh tipe habitat yang terdapat pada kawasan Kampus IPB Darmaga memiliki kisaran suhu rata-rata 29,11° - 32,00°C yang sesuai dengan suhu kupu-kupu untuk beraktivitas (Watanabe & Imoto 2003), sedangkan kelembaban udaranya berkisar antara 64,43% sampai 75,89%.

32,00 31,56 30,33 30,44 29,11 29,89 29,11 29,89 71,56 65,89 75,89 64,43 71,56 74,78 73,89 73,33

0 10 20 30 40 50 60 70 80

Kawasan Gymnasium Cikabayan Perumahan dosen Kawasan DAR Hutan Akasia Hutan Sengon Hutan Al Hurriyah Arboretum Lansekap


(35)

b. Sumber Air dan Keberadaan Daerah Terbuka

Sumber air yang menyediakan ketersediaan air sepanjang tahun pada delapan tipe habitat hanya dimiliki pada dua tipe habitat yaitu pada tipe habitat Hutan Sengon dan Akasia. Pada tipe habitat Sengon letaknya bersebelahan dengan Situ Leutik Danau LSI IPB dan pada tipe habitat Akasia letaknya berbatasan dengan sungai Cihideung. Tipe habitat Arboretum Lansekap, Hutan Al-Huriyah, Kawasan DAR, Perumahan dosen, Cikabayan dan Gymnasium terdapat sumber air berupa genangan air dan aliran air pada selokan. Keberadaan sumber air pada tipe habitat hutan Akasia dan Sengon disajikan pada Gambar 8.

Gambar 8 Sumber air pada tipe habitat: 1) Hutan Akasia dan 2) Hutan Sengon. Keberadaan ruang terbuka ditemukan pada semua tipe habitat. Arboretum lansekap, kawasan DAR Fakultas kehutanan, perumahan dosen, Cikabayan dan Gymnasium menyediakan ruang terbuka yang cukup sedangkan pada hutan Al-huriyah, Sengon dan Akasia, hanya terdapat daerah terbuka berupa jarak antara tegakan vegetasi yang agak jarang.

c. Cahaya Matahari

Pengambilan data mengenai distribusi cahaya matahari diukur melalui tingkat tutupan tajuk pada masing-masing tipe habitat. Tingkat tutupan tajuk pada masing-masing tipe habitat disajikan pada Gambar 9.


(36)

Gambar 9 Tutupan tajuk pada masing-masing tipe habitat: 1) Arboretum Lansekap, 2) Hutan Al-Hurriyah, 3) Hutan Sengon, 4) Hutan Akasia, 5) Kawasan DAR, 6) Perumahan dosen, 7) Cikabayan dan 8) Kawasan Gymnasium.

Gambar dari tutupan tajuk pada masing-masing tipe habitat kemudian dianalisis menggunakan Hemiview 2.1 Canopy Analysis Software sehingga dapat diperoleh nilai Leaf Area Index (LAI) mengenai distribusi cahaya ke permukaan tanah dan tingkat kerindangan habitat. Hasil yang diperoleh dari analisis nilai Leaf Area Index (LAI) tersaji pada Gambar 10.

Gambar 10 Nilai Leaf Area Index pada masing-masing tipe habitat.

Tipe habitat yang memiliki penutupan tajuk paling besar adalah kawasan DAR dan hutan Al-Hurriyah sedangkan tipe habitat yang memiliki tutupan tajuk

2,22 1,36

1,51

3,23 1,00

1,44

3,12 1,90

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5

Kawasan Gymnasium Cikabayan Perumahan dosen Kawasan DAR Hutan Akasia Hutan Sengon Hutan Al Hurriyah Arboretum Lansekap


(37)

terendah adalah akasia. Besarnya nilai LAI dapat menjelaskan bahwa akibat adanya penutupan tajuk yang besar maka intensitas cahaya matahari yang akan sampai ke lantai hutan semakin rendah.

4.1.2 Komponen Biotik Habitat a. Vegetasi

Vegetasi merupakan salah satu komponen habitat yang penting bagi kupu-kupu. Ketersediaan vegetasi sebagai sumber pakan dan pelindung mempengaruhi keberadaan kupu-kupu. Berdasarakan hasil kegiatan analisis vegetasi pada masing-masing habitat diperoleh 61 jenis tumbuhan yang terdiri dari 15 famili pada kawasan Kampus IPB Darmaga. Perbandingan famili dan jenis tumbuhan yang ditemukan disajikan pada Lampiran 4, sedangkan jumlah jenis vegetasi pakan larva, pakan kupu-kupu dan shelter pada masing-masing habitat dijabarkan pada Tabel 3.

Tabel 3 Jumlah jenis vegetasi pakan larva, pakan kupu-kupu dan shelter pada masing-masing habitat.

No Tipe Habitat Pakan Kupu-kupu Pakan Larva Shelter

1 Arboretum Lansekap 0 8 9

2 Hutan Al-Hurriyah 1 6 3

3 Hutan Sengon 1 3 3

4 Hutan Akasia 3 0 4

5 Kawasan DAR 0 5 11

6 Perumahan Dosen 5 5 4

7 Cikabayan 3 7 3

8 Kawasan Gymnasium 4 5 6

Hasil kegiatan analisis vegetasi mendapatkan jenis-jenis vegetasi yang dominan pada masing-masing tipe habitat di kawasan Kampus IPB Darmaga. Jenis vegetasi yang dominan pada masing-masing tipe habitat dijabarkan pada Tabel 4.


(38)

Tabel 4 Jenis vegetasi yang mendominasi pada masing-masing habitat

Habitat Tingkat dan INP

Tumbuhan bawah INP Pancang INP Tiang INP Pohon INP

A Ipomoea cairica 63,88 Psidium guajava 83,33 Garcinia mangostana 200,00 Arthocarpus heteropilus 25,38

Swietenia macrophylla 25,38

Intsia bijuga 25,38

B Costus sp 200,00 - - Durio zibethinus 200,00 Filicium decipiens 34,18

Averrhoa carambola 34,18

C Cyperus sp 80,00 Averrhoa carambola 116,67 Paraserianthes falcataria 200,00 Paraserianthes falcataria 200,00

D Cyperus sp 89,61 Agathis damara 200,00 - - Acasia mangium 171,42

E Cyperus sp 106,12 Shorea pinanga 81,81 Shorea pinanga 50,00 Gmelina arbarea 76,92

Gmelina arborea 50,00

F Lantana camara 47,91 Gnetum gnemon 100,00 Gnetum gnemon 83,33 Schima wallichii 54,86

Eusideroxylon zwageri 100,00

G Cyperus sp 97,53 Psidium guajava 70,83 - - Filicium decipiens 34,18

Averrhoa carambola 34,18

H Cyperus sp 78,69 Acasia mangium 58,33 - - Leucaena leucocephala 69,16

Keterangan: A: Arboretum lansekap, B: Hutan Al Hurriyah, C: Hutan Sengon, D: Hutan Akasia, E: Kawasan DAR, F: Perumahan Dosen, G: Cikabayan dan H: Kawasan Gymnasium.


(39)

Pengamatan pada kawasan Kampus IPB Darmaga menemukan 23 jenis tumbuhan pakan larva dengan jenis pakan larva terbanyak pada tipe habitat Arboretum Lansekap dengan jumlah yang ditemukan sebanyak 8 jenis. Beberapa contoh pakan larva yang ditemukan berasal dari famili Anacardiaceae, Annonaceae, Bombacaceae, Clusiaceae, Lauraceae, Moraceae dan Rutaceae.

Jenis pakan kupu-kupu yang ditemukan pada kawasan Kampus IPB Darmaga sebanyak 10 jenis dengan jenis pakan kupu-kupu terbanyak pada tipe habitat Perumahan dosen dengan jumlah yang ditemukan sebanyak 5 jenis. Beberapa contoh pakan kupu-kupu yang ditemukan adalah famili Asteraceae, Malvaceae, Melastomaceae, Rubiaceae, Theaceae dan Verbenaceae.

Pengamatan pada kawasan Kampus IPB Darmaga menemukan 28 jenis vegetasi yang berfungsi sebagai shelter dengan jenis terbanyak pada tipe habitat kawasan DAR dengan jumlah yang ditemukan sebanyak 11 jenis. Beberapa contoh shelter yang ditemukan adalah famili Araceae, Dipterocarpaceae, Fabaceae dan Verbenaceae, hal ini sesuai dengan penelitian Tampubolon (2001) bahwa jenis tumbuhan yang digunakan sebagai shelter umumnya merupakan pohon-pohon besar, tinggi dan biasanya fungsi shelter hanya bersifat sementara. Jenis pakan larva, pakan kupu-kupu dan shelter yang ditemukan di kawasan Kampus IPB Darmaga disajikan pada Lampiran 9.

b. Hewan Lain

Aktivitas kupu-kupu dalam membantu proses polinasi tersebut menguntungkan satwa herbivora dan pemakan buah karena membantu tersedianya berbagai jenis tumbuhan sebagai sumber pakannya. Jenis-jenis satwa yang diuntungkan dengan keberadaan kupu-kupu pada kawasan Kampus IPB Darmaga diantaranya satwa pemakan buah seperti bajing kelapa (Callosciurus notatus) dan burung.

Hubungan kupu-kupu dengan satwa lainnya disebabkan karena kupu-kupu merupakan satwa yang termasuk di dalam rantai makanan. Keberadaan satwa predator dalam suatu habitat juga mempengaruhi keberadaan kupu-kupu. Jenis satwa predator bagi kupu-kupu yang ditemukan pada lokasi pengamatan adalah burung pemakan serangga seperti wallet (Collocalia sp.), kadal (Eutropis sp.) dan laba-laba (Nephila sp.).


(40)

Kupu-kupu memiliki satwa pesaing dalam habitatnya. Persaingan antara kupu-kupu dengan satwa lain disebabkan karena adanya kebutuhan sumber pakan yang sama yaitu nektar. Berdasarkan pengamatan pada masing-masing tipe habitat jenis satwa pesaing yang umum dijumpai adalah lebah (Xylocopa sp.).

4.2 Kelimpahan dan Kekayaan Jenis Kupu-kupu

Kelimpahan jenis kupu-kupu diketahui berdasarkan jumlah jenis kupu-kupu yang ditemukan pada masing-masing tipe habitat. Penelitian pada delapan tipe habitat yang ada di Kampus IPB Darmaga menemukan 707 individu kupu-kupu yang terdiri atas 55 jenis kupu-kupu. Kupu-kupu yang ditemukan terdiri dari 5 famili, yaitu Papilionidae (8 jenis), Nymphalidae (29 jenis), Pieridae (8 Jenis), Lycaenidae (4 jenis) dan Hesperidae (6 jenis). Perbandingan Famili yang ditemukan pada penelitian dijabarkan pada Gambar 11 dan penyebaran kupu-kupu pada delapan tipe habitat disajikan pada Tabel 5.

Gambar 11 Perbandingan famili kupu-kupu yang ditemukan Tabel 5 Penyebaran Jenis Kupu-kupu di Kampus IPB Darmaga

Famili

No Tipe Habitat A B C D E Jumlah

Total

1 Arboretum Lansekap 1 13 5 0 0 19

2 Hutan Al-Hurriyah 1 6 5 1 2 15

3 Hutan Sengon 1 8 3 0 5 17

4 Hutan Akasia 1 5 2 1 1 10

5 Kawasan DAR 3 4 4 0 0 11

6 Perumahan Dosen 5 14 5 1 1 26

7 Cikabayan 6 8 4 0 0 18

8 Kawasan Gymnasium 4 11 5 1 0 21

Keterangan: A (Papilionidae), B (Nymphalidae), C (Pieridae), D (Lycaenidae) dan E (Hesperidae) 5%

1%

60% 8%

26% Hespiridae

Lycaenidae Nymphalidae Papilionidae Pieridae


(41)

Kekayaan jenis kupu-kupu dihitung menggunakan Diversitas Margalef (Dmg), hasil perhitungan kekayaan jenis kupu-kupu pada masing-masing tipe habitat tersaji pada Gambar 12.

Gambar 12 Nilai kekayaan jenis kupu-kupu di masing-masing tipe habitat. Tipe habitat yang memiliki jenis kupu-kupu tertinggi adalah tipe habitat Perumahan dosen dengan jumlah jenis yang ditemukan sebanyak 26 jenis dan nilai kekayaan jenis sebesar 3,81; sedangkan tipe habitat yang memiliki jenis kupu-kupu terendah adalah tipe habitat akasia dengan jumlah jenis yang ditemukan sebanyak 10 jenis dan nilai kekayaan jenis sebesar 1,37. Hasil penelitian memperoleh data dari delapan tipe habitat yang ada di Kampus IPB Darmaga. Famili Papilionidae, Pieridae, Nymphalidae, Hesperidae dan Lycaenidae hanya ditemukan pada tiga tipe habitat yaitu Hutan Akasia, Hutan Al-Hurriyah dan Perumahan dosen.

Famili Lycaenidae merupakan famili kupu-kupu yang mempunyai jumlah jenis terendah. Famili ini tidak ditemukan pada tipe habitat Arboretum Lansekap, Cikabayan, kawasan DAR dan Sengon sedangkan famili Hesperidae tidak ditemukan pada tipe habitat Arboretum Lansekap, Cikabayan, Gymnasium dan Kawasan DAR. Kedua famili kupu-kupu ini memiliki ukuran tubuh yang kecil dan cara terbang yang cepat sehingga sulit untuk ditemukan.

3,05 2,591

3,81 1,52

1,37

2,44 2,13

2,74

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5 4 4.5

Kawasan Gymnasium Cikabayan Perumahan Dosen Kawasan DAR Hutan Akasia Hutan Sengon Hutan Al Hurriyah Arboretum Lansekap


(42)

Famili yang memiliki jumlah jenis terbanyak adalah Nymphalidae hal ini sesuai dengan penelitian Saputro (2007), bahwa Famili Nymphalidae memiliki tingkat keanekaragaman tertinggi di kawasan Kampus IPB Darmaga. Tingginya keanekaragaman famili Nymphalidae dikarenakan jenis kupu-kupu dalam famili ini mudah beradaptasi dan memiliki jumlah jenis paling banyak diantara famili lainnya.

4.3 Keanekaragaman Jenis Kupu-kupu

Keanekaragaman jenis kupu-kupu dihitung menggunakan indeks Shannon-Wiener (H’). Hasil perhitungan keanekaragaman jenis kupu-kupu pada masing-masing tipe habitat tersaji pada Gambar 13.

Gambar 13 Nilai keanekaragaman jenis kupu-kupu pada masing-masing tipe Habitat.

Tipe habitat yang memiliki keanekaragaman jenis tertinggi yaitu pada tipe habitat Perumahan dosen dengan nilai keanekaragaman sebesar 2,93. Tipe habitat Perumahan dosen sebagian besar berbentuk pekarangan yang memiliki cukup areal terbuka, hal ini sesuai dengan pernyataan Tampubolon (2001) bahwa pekarangan rumah berfungsi sebagai sumber pakan, tempat berlindung dan bermain bagi kupu-kupu. Tipe habitat ini ditumbuhi berbagai jenis tumbuhan pakan larva dan pakan kupu-kupu seperti Solanum torvum, Melastoma candidum, Lantana camara, Ixora coccinea, Hibiscus rosa dan jenis lainnya. Tipe habitat

2,70 2,70

2,93 2,06

1,94

2,64 2,33

2,43

0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5

Kawasan Gymnasium Cikabayan Perumahan Dosen,

Kawasan DAR Hutan Akasia, Hutan Sengon, Hutan Al Hurriyah, Arboretum Lansekap,


(43)

dengan keanekaragaman terendah pada tipe habitat Akasia dengan nilai keanekaragaman sebesar 1,94; hal ini dikarenakan pada tipe habitat Akasia tidak memiliki jenis pakan larva dan memiliki sedikit areal terbuka.

Penelitian ini menemukan 18 jenis kupu-kupu pada habitat tertentu. Semua jenis tersebut terdiri dari 4 jenis di tipe habitat Sengon, 4 jenis di tipe habitat Perumahan dosen, 3 jenis di habitat Arboretum Lansekap, 2 jenis di tipe habitat Cikabayan, 2 jenis di tipe habitat Gymnasium dan masing-masing 1 jenis di tipe habitat Hutan Al Hurriyah, Akasia dan kawasan DAR. Jenis kupu yang ditemukan pada habitat tertentu dijabarkan dalam Tabel 6.

Tabel 6 Daftar jenis kupu-kupu yang ditemukan pada habitat tertentu

No Jenis Famili Tipe Habitat Jumlah

1 Acraea violae Nymphalidae Sengon 11

2 Orsotriaena medus Nymphalidae Sengon 10

3 Dophla evelina Nymphalidae Arboretum lanskap 1

4 Phaedyma columella Nymphalidae Arboretum lanskap 1

5 Elymnias nesaea Nymphalidae Cikabayan 3

6 Athyma perius Nymphalidae Cikabayan 7

7 Moduza procris Nymphalidae Kawasan Gymnasium 1

8 Danaus genutia Nymphalidae Perumahan dosen 1

9 Borbo cinnara Hesperidae Sengon 5

10 Telicota augias Hesperidae Perumahan dosen 1

11 Tagiades ultra Hesperidae Sengon 4

12 Chilades pandava Lycaenidae Akasia 1

13 Rapala sufusa Lycaenidae Kawasan Gymnasium 1

14 Zizina otis Lycaenidae Perumahan dosen 4

15 Loxura atymnus Lycaenidae Hutan Al-Hurriyah 3

16 Delias belisama Pieridae Arboretum lanskap 1

17 Losaria coon Papilionidae Perumahan dosen 1

18 Papilio polytes Papilionidae Kawasan sekitar DAR 1

Beberapa jenis kupu-kupu ditemukan dalam jumlah yang rendah atau hanya pada satu tipe habitat saja. Hal ini dapat diakibatkan oleh terganggunya habitat dari kupu-kupu tersebut yang membuat mereka terisolir dan hanya dapat beradaptasi pada tipe habitat tertentu. Penelitian Sunduvu dan Dumbuya (2008)


(44)

menjelaskan bahwa jenis kupu-kupu yang bersifat sensitif terhadap gangguan habitat ditemukan dalam jumlah yang rendah atau hanya pada satu habitat saja.

4.4 Kemerataan Jenis Kupu-kupu

Berdasarkan hasil perhitungan, nilai indeks kemerataan jenis (Eveness) Shannon pada masing-masing tipe habitat tersaji pada Gambar 14.

Gambar 14 Nilai kemerataan jenis kupu-kupu pada masing-masing tipe habitat. Berbagai jenis kupu-kupu pada tiap tipe habitat hampir memiliki jumlah yang merata, hal ini dapat dilihat dari besarnya nilai eveness yang mendekati angka maksimal. Angka kemerataan jenis terendah terdapat pada tipe habitat Arboretum Lansekap yaitu sebesar 0,83; hal ini menunjukan pada tipe habitat arboretum lansekap memiliki jenis dominan. Jenis kupu-kupu yang ditemukan dengan jumlah terbanyak pada tipe habitat Arboretum Lansekap adalah jenis Ypthima baldus dari famili Nymphalidae yang menunjukan baawa jenis Y. baldus merupakan jenis yang dominan di habitat Arboretum Lansekap.

Penelitian Saputro (2007) juga menyatakan bahwa genus Yphtima ditemukan dengan jumlah individu paling banyak di Kampus IPB Darmaga. Tumbuhan pakan dari genus Yphtima adalah Cyperaceae yang dominan ditemukan di kawasan Kampus IPB Darmaga. Menurut Effendi (2009) kupu-kupu jenis Ypthima sp. merupakan kupu-kupu yang memiliki larva bersifat polifag atau generalis yaitu pakan larva jenis tersebut tidak tergantung pada satu jenis tumbuhan sehingga memiliki tingkat kelimpahan yang tinggi bila dibandingkan

0,89

0,93 0,90

0,86 0,84

0,94 0,86

0,83

0.76 0.78 0.8 0.82 0.84 0.86 0.88 0.9 0.92 0.94 0.96 Kawasan Gymnasium

Cikabayan Perumahan Dosen Kawasan DAR Hutan Akasia Hutan Sengon Hutan Al Hurriyah Arboretum Lansekap


(45)

dengan jenis kupu-kupu yang memiliki larva monofag atau pemakan satu jenis tumbuhan tertentu. Polifag menyebabkan jenis Ypthima sp. dapat berkembang pada habitat terganggu. Beberapa jenis kupu-kupu yang juga dominan ditemukan di Kampus IPB Darmaga yaitu Leptosia nina, Y. philomella, Mycalesis janardana, Eurema hecabe, Hypolimnas bolina dan Appias libythea.

4.5 Koefisien Kesamaan Jenis Kupu-kupu

Tingkat kesamaan jenis dalam penggunaan habitat diketahui dengan melihat indeks kesamaan jenis antara tipe habitat kupu-kupu di kawasan Kampus IPB Darmaga. Koefisien kesamaan jenis menunjukan seberapa besar kesamaan antar komunitas jenis. Koefisien kesamaan antar jenis tipe habitat tersaji pada Tabel 7.

Tabel 7 Koefisien kesamaan jenis kupu-kupu antar tipe habitat

Habitat A B C D E F G H

A 0,31 0,20 0,04 0,25 0,22 0,16 0,21

B 0,33 0,19 0,24 0,21 0,14 0,20

C 0,17 0,22 0,16 0,13 0,23

D 0,23 0,31 0,27 0,24

E 0,19 0,26 0,33

F 0,37 0,42

G 0,44

H

Keterangan: A: Arboretum Lansekap, B: Hutan Al Hurriyah, C: Hutan Sengon, D: Hutan Akasia, E: Kawasan DAR, F: Perumahan Dosen, G: Cikabayan dan H: Kawasan Gymnasium.

Berdasarkan perhitungan data yang dilakukan, koefisien kesamaan tertinggi adalah pada tipe habitat kawasan Gymnasium dan Cikabayan dengan nilai koefisien kesamaan sebesar 0,44. Nilai koefisien yang tinggi menandakan adanya kesamaan jenis yang tinggi di kedua tipe habitat. Jumlah jenis kupu-kupu yang ditemukan pada kedua tipe habitat sebanyak 12 jenis yaitu A. libythea, Delias hyparete, Doleschallia bisaltide, E. hecabe, G. Agamemnon, G. sarpedon, Ideopsis juventa, Junonia hedonia, L. nina, P. demoleus, P. memnon, Y. baldus. Kedua habitat ini memiliki kondisi lingkungan yang hampir sama seperti memiliki ruang terbuka yang cukup bagi pergerakan kupu-kupu. Jenis vegetasi yang ditemukan pada ke dua habitat berasal dari famili Asteraceae, Cyperaceae, Fabaceae, Moraceae dengan jenis dominan Cyperus sp.


(46)

4.6 Perbandingan Nilai Karakteristik Habitat pada masing-masing Tipe Habitat

Kedelapan tipe habitat memiliki karakteristik masing-masing yang berpengaruh terhadap tingkat kekayaan, keanekaragaman dan kemerataan jenis kupu-kupu. Perbandingan nilai karakteristik habitat terhadap nilai keanekaragaman jenis, kemerataan jenis dan kekayaan jenis pada masing-masing tipe habitat tersaji pada Tabel 8.

Tabel 8 Perbandingan nilai karakteristik habitat terhadap nilai keanekaragaman jenis, kemerataan jenis dan kekayaan jenis pada masing-masing tipe habitat.

Tipe habitat H E Dmg Suhu Kelembaban LAI Pakan Larva

Pakan

Kupu Shelter Arboretum

lansekap 2,43 0,83 2,74 29,89 73,33 1,90 8 0 9 Hutan

AlHurriyah 2,33 0,86 2,13 29,11 73,89 3,11 6 1 3 Hutan

Sengon 2,66 0,94 2,44 29,89 74,78 1,44 3 1 3 Hutan

Akasia 1,94 0,84 1,37 29,11 71,56 1,00 0 3 4 Kawasan

DAR 2,06 0,86 1,52 30,44 64,43 3,23 5 0 11 Perumahan

Dosen 2,93 0,90 3,81 30,33 75,89 1,51 5 5 4 Cikabayan 2,70 0,93 2,59 31,56 65,89 1,36 7 3 3

Gymnasium 2,70 0,89 3,05 32,00 71,56 2,22 5 4 6 Keterangan: H: Keanekaragaman jenis, E: Kemerataan jenis, Dmg: Kekayaan jenis, LAI: Leaf

Area index

Berdasarkan Tabel 8 nilai indeks kekayaan jenis kupu-kupu (Dmg) dan nilai indeks keanekaragaman jenis (H) tertinggi berada pada rata-rata suhu 30,33°C, rata-rata kelembaban 75,89% dan nilai LAI sebesar 1,51 yaitu pada tipe habitat Perumahan dosen. Penelitian yang dilakukan Azahra (2012) dapat menunjukan bahwa nilai LAI tidak berpengaruh secara langsung terhadap tingkat keanekaragaman jenis, kemerataan jenis dan kekayaan jenis kupu-kupu. Adanya preferensi kupu-kupu dalam memilih lingkungannya ditandai dengan keanekaragaman jenis kupu-kupu pada tiap tipe habitat dengan nilai rata-rata suhu dan kelembaban yang berbeda-beda.


(47)

Tipe habitat Perumahan dosen memiliki 5 jenis tumbuhan pakan kupu-kupu, 5 jenis tumbuhan pakan larva dan 4 jenis tumbuhan shelter. Data yang diperoleh pada tipe habitat perumahan dosen memiliki jenis pakan larva dan pakan kupu-kupu yang bervariasi dengan jumlah jenis pakan kupu-kupu terbanyak diatara tujuh tipe habitat lainnya sehingga dapat disimpulkan keberadaan pakan larva dan pakan kupu-kupu berpengaruh terhadap komunitas kupu-kupu. Adapun tumbuhan pakan larva yang ditemukan berasal dari famili Solanaceae, Euphorbiaceae, Lauraceae, Oxalidaceae dan Moraceae sedangkan tumbuhan pakan kupu-kupu yang ditemukan berasal dari famili Melastomaceae, Verbenaceae, Rubiaceae, Malvaceae dan Theaceae.

Nilai indeks kemerataan jenis kupu-kupu tertinggi yaitu pada rata-rata suhu 29,89 rata-rata kelembaban 74,78% dan nilai LAI sebesar 1,44 berada pada tipe habitat hutan Sengon. Tipe habitat hutan Sengon memiliki 3 jenis tumbuhan pakan kupu-kupu, 1 jenis tumbuhan pakan larva dan 3 jenis tumbuhan shelter. Jenis tumbuhan Melastoma candidum yang sedang berbunga ditemukan dengan jumlah yang banyak pada tipe habitat ini. Keberadaan bunga membuat ditemukannya aktivitas berbagai jenis kupu-kupu sehingga nilai kemerataan jenis kupu-kupu menjadi tinggi.

4.7 Analisis Hasil Penelitian dengan Penelitian Terdahulu

Penelitian mengenai keanekaragaman jenis kupu-kupu di kawasan Kampus IPB Darmaga sebelumnya sudah dilakukan, diantaranya penelitian Saputro (2007). Penelitian ini memiliki kesamaan lokasi dengan penelitian Saputro yang membagi kawasan Kampus IPB Darmaga menjadi 8 tipe habitat yaitu arboretum lansekap, hutan alam Al Hurriyah, hutan tanaman Sengon, hutan tanaman Akasia, kawasan sekitar DAR Fakultas Kehutanan, Perumahan dosen (Jalan Jati), Cikabayan dan kawasan Gymnasium.

Berdasarkan penelitian terdahulu pada semua tipe habitat memperoleh data kupu-kupu sebanyak 70 jenis dari 4 famili, yaitu: Papilionidae (9 jenis), Pieridae (12 jenis), Nymphalidae (39 jenis) dan Lycaenidae (10 jenis) sedangkan pada penelitian ini ditemukan 55 jenis kupu-kupu yang terdiri dari 5 famili, yaitu Papilionidae (8 jenis), Nymphalidae (29 jenis), Pieridae (8 Jenis), Lycaenidae


(48)

(4 jenis) dan Hesperidae (6 jenis). Perbandingan jumlah jenis yang ditemukan pada kedua penelitian disajikan pada Gambar 15.

Gambar 15 Perbandingan jumlah jenis yang ditemukan pada penelitian tahun 2007 dan tahun 2012.

Jenis kupu-kupu yang baru ditemukan sebanyak 20 jenis yang terdiri dari Papilionidae (1 jenis), Pieridae (1 jenis), Nymphalidae (10 jenis), Lycaenidae (2 Jenis) dan Hesperidae (6 jenis). Jenis kupu-kupu yang baru ditemukan disajikan pada Tabel 9.

Tabel 9 Jenis kupu-kupu baru yang ditemukan pada penelitian tahun 2012 No Nama spesies Famili Tipe Habitat

1 Pachliopta aristolochiae Papilionidae Arboretum Lansekap

2 Delias pasithoe Pieridae Arboretum Lansekap

3 Acraea violae Nymphalidae Sengon

4 Athyma perius Nymphalidae Cikabayan

5 Dophla evelina Nymphalidae Arboretum Lansekap

6 Euploea camaralzeman Nymphalidae Arboretum Lansekap, Gymnasium,

Perumahan dosen

7 Euploea phaenarete Nymphalidae Cikabayan, Perumahan dosen

8 Hypolimnas misippus Nymphalidae Akasia, Cikabayan

9 Melanitis zitenius Nymphalidae Arboretum Lansekap, hutam

Al-Hurriyah

10 Moduza procris Nymphalidae Gymnasium

11 Neptis hylas Nymphalidae Arboretum Lansekap, hutam

Al-Hurriyah, Perumahan dosen

12 Phaedyma columella Nymphalidae Arboretum Lansekap

13 Chilades pandava Lycaenidae Akasia

14 Rapala sufusa Lycaenidae Gymnasium

15 Borbo cinnara Hesperidae Sengon

16 Hidari irava Hesperidae Hutan Al-Hurriyah

17 Oriens gola Hesperidae Akasia, Hutan Al-Hurriyah

18 Pelopidas conjunctus Hesperidae Sengon

19 Tagiades ultra Hesperidae Sengon

20 Telicota augias Hesperidae Perumahan dosen

9 12

39

10

0

8 8

29

4 6

0 10 20 30 40 50

Papilionidae Pieridae Nymphalidae Lycaenidae Hespiridae 2007 2012

Famili Jumlah

Jenis


(49)

Famili Hesperidae merupakan famili yang baru ditemukan pada penelitian ini. Famili ini memiliki ukuran tubuh yang kecil dan memiliki kebiasaan terbang dengan cepat pada lantai hutan sehingga kemungkinan mempengaruhi tingkat kesulitan penangkapan dan pengidentifikasian famili ini pada penelitian sebelumnya. Hasil penelitian ini tidak menemukan 35 jenis kupu-kupu yang pernah ditemukan pada penelitian sebelumnya, jenis kupu-kupu yang ditemukan pada penelitian Saputro (2007) disajikan pada Lampiran 3. Adanya perbedaan jumlah tersebut dipengaruhi oleh cuaca serta ketelitian kolektor pada saat pengamatan dan penangkapan.

Perubahan penggunaan habitat berpengaruh pada tingkat keanekaragaman, dan jumlah jenis kupu-kupu di kawasan Kampus IPB Darmaga, perbandingan tingkat keanekaragaman, kemerataan dan jumlah jenis kupu-kupu pada tahun 2007 dan 2012 disajikan pada Tabel 10.

Tabel 10 Perbandingan tingkat keanekaragaman, kemerataan dan jumlah jenis kupu-kupu pada tahun 2007 dan 2012.

Tipe Habitat Tahun

2007 2012

Arboretum lansekap

H' 2,80 2,43

E 0,79 0,83

Jumlah jenis 35 19

Hutan AlHurriyah

H' 2,38 2,33

E 0,70 0,86

Jumlah jenis 20 15

Hutan Sengon H' E 2,53 0,79 2,66 0,94

Jumlah jenis 25 17

Hutan Akasia

H' 2,65 1,94

E 0,87 0,84

Jumlah jenis 21 10

Kawasan DAR

H' 3,10 2,06

E 0,88 0,86

Jumlah jenis 34 11

Perumahan Dosen

H' 3,00 2,93

E 0,85 0,90

Jumlah jenis 34 26

Cikabayan

H' 3,17 2,70

E 0,87 0,93

Jumlah jenis 39 18

Gymnasium

H' 2,70 2,19

E 0,72 0,89

Jumlah jenis 21 21


(50)

Nilai indeks keanekaragaman jenis kupu-kupu tertinggi pada tahun 2007 berada pada tipe habitat Cikabayan dengan nilai 3,17 sedangkan pada tahun 2012 tipe habitat yang memiliki nilai indeks keanekaragaman jenis kupu-kupu tertinggi adalah tipe habitat perumahan dosen dengan nilai 3,00. Nilai indeks kemeratan jenis kupu-kupu tertinggi pada tahun 2007 berada pada tipe habitat Cikabayan dengan nilai 3,17 sedangkan pada tahun 2012 tipe habitat yang memiliki nilai indeks keanekaragaman jenis kupu-kupu terbesar adalah tipe habitat Perumahan dosen dengan nilai 3,00.

Secara umum penurunan jumlah jenis kupu-kupu terjadi pada semua tipe habitat, penurunan jumlah jenis tertinggi terjadi pada tipe habitat kawasan DAR dari 34 jenis pada tahun 2007 menjadi 11 jenis pada tahun 2012. Adanya perubahan nilai keanekaragaman, kemerataan dan jumlah jenis kupu-kupu ini dikarenakan oleh perubahan penggunaan lahan di Kampus IPB Darmaga sehingga mengurangi luasan habitat kupu-kupu.

Perbandingan kesamaan kondisi masing-masing tipe habitat pada selang waktu 2007 hingga 2012 di analisis dengan mencari nilai indeks kesamaan jenis kupu-kupu dan koefisien kesamaan jenis vegetasi pada masing-masing tipe habitat pada kedua penelitian. Koefisien kesamaan jenis vegetasi pada masing-masing tipe habitat pada kedua penelitian tersaji pada Tabel 11.

Tabel 11 Koefisien kesamaan jenis vegetasi pada masing-masing tipe habitat pada kedua penelitian

2007 A B C D E F G H

2012

A 0,11

B 0,10

C 0,23

D 0,21

E 0,15

F 0,10

G 0

H 0,12

Keterangan: A: Arboretum Lansekap, B: Hutan Al Hurriyah, C: Hutan Sengon, D: Hutan Akasia, E: Kawasan DAR, F: Perumahan Dosen, G: Cikabayan dan H: Kawasan Gymnasium.

Berdasarkan nilai koefisien kesamaan jenis vegetasi pada Tabel 11 kedelapan tipe habitat yang ada di Kampus IPB Darmaga memiliki kisaran nilai 0 hingga 0,231. Kisaran nilai tersebut tergolong rendah yang menunjukan bahwa


(51)

kedelapan tipe habitat tersebut mengalami perubahan komposisi vegetasi yang berbeda pada penelitian sebelumnya.

Perubahan komposisi vegetasi dapat mempengaruhi perubahan jenis-jenis kupu-kupu yang terdapat pada masing-masing tipe habitat. Pengaruh perubahan komposisi vegetasi terhadap kehadiran kupu-kupu tersebut dianalisis dengan mencari koefisien kesamaan jenis kupu-kupu pada masing-masing tipe habitat pada kedua penelitian. Koefisien kesamaan jenis kupu-kupu pada masing-masing tipe habitat pada kedua penelitian tersaji pada Tabel 12.

Tabel 12 Koefisien kesamaan jenis kupu-kupu pada masing-masing tipe habitat pada kedua penelitian

2007 A B C D E F G H

2012

A 0,21

B 0,22

C 0,27

D 0,15

E 0,27

F 0,37

G 0,27

H 0,50

Keterangan: A: Arboretum Lansekap, B: Hutan Al Hurriyah, C: Hutan Sengon, D: Hutan Akasia, E: Kawasan DAR, F: Perumahan Dosen, G: Cikabayan dan H: Kawasan Gymnasium.

Nilai koefisien kesamaan jenis kupu-kupu pada masing-masing tipe habitat pada kedua penelitian menunjukan kisaran nilai antara 0,14 hingga 0,50. Kisaran nilai tersebut tergolong rendah dan menunjukan adanya pergeseran komposisi jenis kupu-kupu dalam waktu lima tahun terakhir sehingga ditemukan perbedaan jenis kupu-kupu pada kedua penelitian . Hal ini berbanding lurus dengan nilai koefisien kesamaan jenis vegetasi yang membuktikan bahwa perubahan struktur vegetasi berpengaruh terhadap kehadiran beragam jenis kupu-kupu.

Uji dua sampel berpasangan (Paired sample T test) dilakukan untuk mengetahui adanya pengaruh perubahan tipe habitat yang terjadi pada selang waktu 2007 hingga 2012 terhadap kekayaan jenis dan nilai indeks keanekaragaman jenis kupu-kupu di kawasan Kampus IPB Darmaga. Hasil uji dua sampel berpasangan tersaji pada Lampiran 11 dan 12.

Berdasarkan hasil uji dua sampel berpasangan (Paired sample T Test) pada rata-rata nilai indeks Keanekaragaman Jenis di Kampus IPB Darmaga pada tahun 2007 dan 2012 diperoleh hasil –t hitung lebih besar -t tabel (-1,491 > -2,365) dan


(52)

signifikansi (0,18 > 0,05) sehingga ada perbedaan antara rata-rata nilai H pada tahun 2007 dengan rata-rata nilai H pada tahun 2012. Rata-rata nilai indeks keanekaragaman (H) pada tahun 2007 adalah 2,73 dan pada tahun 2012 adalah 2,47 artinya bahwa rata-rata nilai indeks keanekaragaman pada tahun 2012 lebih rendah dibandingkan tahun 2007.

Uji dua sampel berpasangan pada rata-rata Kekayaan Jenis di Kampus IPB Darmaga pada tahun 2007 dan 2012 memperoleh hasil –t hitung lebih besar -t tabel (-4,77 ≤ -2,37) dan signifikansi (0,02 < 0,05),berarti ada perbedaan antara rata-rata Kekayaan jenis pada tahun 2007 dengan rata-rata kekayaan jenis pada tahun 2012. Rata-rata nilai indeks kekayaan pada tahun 2007 adalah 29,88 dan pada tahun 2012 adalah 17,12 artinya bahwa rata-rata nilai indeks kekayaan pada tahun 2012 lebih rendah dibandingkan tahun 2007, sehingga dapat disimpulkan adanya perubahan (dinamika) pada tipe habitat yang ada di kawasan Kampus IPB Darmaga pada selang waktu 2007 hingga tahun 2012 yang berpengaruh mengurangi kekayaan jenis dan nilai indeks keanekaragaman jenis kupu-kupu.

4.8 Pembangunan pada beberapa Tipe Habitat di Kampus IPB Darmaga

Berdasarkan pengamatan pada beberapa lokasi penelitian, didapatkan adanya perubahan penggunaan lahan di beberapa tipe habitat. Tipe habitat yang terjadi perubahan penggunaan lahan yaitu tipe habitat hutan Sengon, kawasan DAR dan Gymnasium. Bentuk perubahan penggunaan lahan pada tipe habitat Sengon yaitu adanya pembangunan gedung Green TV dan kantin Zea Mays.

Perubahan penggunaan lahan pada tipe habitat kawasan DAR yaitu adanya pembangunan gedung perkuliahan Wing X Fakultas Kehutanan, Wing U Tingkat Persiapan Bersama, Common classroom dan auditorium Sylva Pertamina yang mengurangi sebagian besar wilayah kawasan DAR. Tipe habitat kawasan Gymnasium terdapat pembangunan Lapangan Tennis dan perbaikan halaman Gymnasium. Data mengenai pembangunan di Kampus IPB Darmaga pada selang waktu 2009-2011 tercantum pada Tabel 13.


(53)

Tabel 13 Data pembangunan gedung di Kampus IPB Darmaga pada selang waktu 2009-2011

No Pembangunan Tahun pembangunan 1 Wing V (Departemen Sipil Lingkungan, Fakultas

Teknin Pertanian)

2009 2 Wing W (Fakultas Ekonomi dan Manajemen) 2009 3 Wing U (Tingkat Persiapan Bersama) 2009 4 Wing X (Fakultas Kehutanan) 2009 5 Common Classroom (Direktorat Tingkat

Persiapan Bersama)

2011

6 Kantin Zeamays 2011

7 Green TV 2011

8 Wing Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

2011

Sumber: Direktorat Fasilitas dan Properti IPB (2012)

Berkurangnya nilai keanekaragaman jenis, kemerataan jenis dan jumlah jenis kupu dapat dikarenakan berubahnya penggunaan dari habitat kupu-kupu. Sodhi et al. (2004) menyatakan bahwa konversi habitat merupakan penyebab utama menurunnya keragaman hayati. Sebagian besar bentuk perubahan penggunaan habitat di kawasan Kampus IPB Darmaga berupa pembangunan gedung-gedung perkuliahan dan fasilitas Kampus lainnya. Adanya bentuk perubahan penggunaan lahan berdampak langsung pada menurunnya tingkat keanekaragaman jenis kupu-kupu di Kampus IPB Darmaga dikarenakan berkurangnya luasan habitat mereka.


(54)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan

Kesimpulan penelitian ini adalah:

1. Tipe habitat Perumahan dosen adalah tipe habitat yang memiliki nilai keanekaragaman jenis dan kekayaan jenis kupu-kupu tertinggi yaitu dengan nilai keanekaragaman jenis sebesar 2,93 dan nilai kekayaan jenis sebesar 3,81. Tipe habitat ini memiliki rata-rata suhu 30,33°C, rata-rata kelembaban 75,89% dan nilai LAI sebesar 1,51 serta memiliki 5 jenis tumbuhan pakan kupu-kupu, 5 jenis tumbuhan pakan larva dan 4 jenis tumbuhan shelter.

2. Penelitian pada delapan tipe habitat yang ada di Kampus IPB Darmaga menemukan 707 individu kupu-kupu yang terdiri atas 55 jenis kupu-kupu. Kupu-kupu yang ditemukan terdiri dari 5 famili, yaitu Papilionidae (8 jenis), Nymphalidae (29 jenis), Pieridae (8 Jenis), Lycaenidae (4 jenis) dan Hesperidae (6 jenis). dengan 20 jenis yang tidak ditemukan pada penelitian sebelumnya dan tidak menemukan 35 jenis yang ditemukan pada penelitian sebelumnya. Secara umum nilai indeks keanekaragaman jenis dan jumlah jenis kupu-kupu mengalami penurunan dibandingkan penelitian sebelumnya hal ini disebabkan adanya perubahan pengunaan lahan di Kampus IPB Darmaga yang mengganggu habitat kupu-kupu.

5.2 Saran

Peranan kupu-kupu penting dalam mempertahankan keseimbangan ekosistem dan memperkaya keanekaragaman hayati, oleh karena itu sebaiknya dalam kawasan Kampus IPB Darmaga perlu dilakukan hal-hal yang menunjang peningkatan dan pengembangan potensi kupu-kupu, antara lain:

1. Monitoring kupu-kupu yang dilakukan secara berkala (setiap bulan) 2. Penambahan plot pengamatan pada tipe habitat yang ada di Kampus IPB

Darmaga

3. Pengayaan jenis tumbuhan pakan larva dan pakan bagi kupu-kupu kaitannya dengan pembangunan di Kampus IPB Darmaga


(1)

Lampiran 17 Jenis tumbuhan pakan larva, pakan kupu dan

shelter

yang

ditemukan pada kawasan kampus IPB Darmaga

No Jenis Famili Fungsi

1 Mangifera indica Anacardiaceae pakan larva

2 Spondias dulcis Anacardiaceae pakan larva

3 Annona muricata Annonaceae pakan larva

4 Cananga odorata Annonaceae pakan larva

5 Cerbera manghas Apocynaceae pakan larva

6 Caladium bicolor Araceae shelter

7 Typhonium flagelliforme Araceae shelter

8 Agathis damara Araucariaceae shelter

9 Wedelia trilobata Asteraceae pakan kupu

10 Ceiba pentandra Bombacaceae pakan larva

11 Durio zibethinus Bombacaceae pakan kupu

12 Calophyullum inophylum Clusiaceae pakan larva

13 Garcinia mangostana Clusiaceae pakan larva

14 Ipomoea cairica Convolvulaceae pakan larva

15 Cyperus sp Cyperaceae shelter

16 Dipterocarpus sp Dipterocarpaceae shelter

17 Hopea odorata Dipterocarpaceae shelter

18 Shorea pinanga Dipterocarpaceae shelter

19 Swietenia macrophylla Dipterocarpaceae shelter

20 Codiaeum variegatum Euphorbiaceae pakan larva

21 Hevea brasiliensis Euphorbiaceae shelter

22 Acasia mangium Fabaceae shelter

23 Bauhinia purpurea Fabaceae shelter

24 Dialium guineense Fabaceae shelter

25 Intsia bijuga Fabaceae shelter

26 Leucaena leucocephala Fabaceae shelter

27 Mimosa pudica Fabaceae shelter

28 Paraserianthes falcataria Fabaceae pakan larva

29 Pterocarpus indicus Fabaceae shelter

30 Gnetum gnemon Gnetaceae shelter

31 Altingia excelsa Hammamelidaceae shelter

32 Vitex pinata Lamiaceae shelter

33 Cinnamommum zeylanicum Lauraceae pakan larva


(2)

Jenis tumbuhan pakan larva, pakan kupu dan shelter yang ditemukan pada

kawasan kampus IPB Darmaga (Lanjutan)

No Jenis Famili Fungsi

35 Lagerstromia loudonii Lythraceae shelter

36 Hibiscus rosa Malvaceae pakan kupu

37 Theobroma cacao Malvaceae pakan larva

38 Melastoma candidum Melastomaceae pakan kupu

39 Swietenia macrophylla Meliaceae shelter

40 Artocarpus comune Moraceae pakan larva

41 Artocarpus heterophyllus Moraceae pakan larva

42 Ficus sp, Moraceae pakan larva

43 Myristica fragans Myristicaceae shelter

44 Psidium aquatica Myrtaceae pakan kupu

45 Psidium guajava Myrtaceae shelter

46 Averrhoa carambola Oxalidaceae pakan larva

47 Pinus merkusii Pinaceae shelter

48 Paspalum sp Poaceae pakan larva

49 Ixora coccinea Rubiaceae pakan kupu

50 Citrus sp, Rutaceae pakan larva

51 Dimocarpus longan Sapindaceae pakan kupu

52 Filicium decipiens Sapindaceae shelter

53 Nephelium mutabile Sapindaceae pakan larva

54 Chrysophyllum cainito Sapotaceae pakan kupu

55 Mimusops elengi Sapotaceae shelter

56 Solanum torvum Solanaceae pakan larva

57 Schima wallichii Theaceae pakan kupu

58 Gmelina arborea Verbenaceae shelter

59 Lantana camara Verbenaceae pakan kupu

60 Tectona grandis Verbenaceae shelter


(3)

Lampiran 18 Jenis vegetasi pakan larva

No Jenis

Nama Ilmiah

Famili

Jenis Kupu-kupu yang memanfaatkan

1

Mangga

Mangifera indica

Anacardiaceae

Euthalia monina

2

Kedongdong

Spondias dulcis

Anacardiaceae

Euthalia monina

3

Sirsak

Annona muricata

Annonaceae

Graphium agamemnon

4

Kenanga

Cananga odorata

Annonaceae

G, doson, G, sarpedon

5

Bintaro

Cerbera manghas

Apocynaceae

Euploea caramalzeman, E, phaenarette

6

Kapuk

Ceiba pentandra

Bombacaceae

Hesperidae

7

Nyamplung

Calophyullum inophylum

Clusiaceae

Junonia hedonia

8

Manggis

Garcinia mangostana

Clusiaceae

J, hedonia

9

Ubi Kates

Ipomoea cairica

Convolvulaceae

Leptosia nina, Hypolimnas bolina

10

Puring

Codiaeum variegatum

Euphorbiaceae

Dophla evelina, Eurema sp,

11

Sengon

Paraserianthes falcataria

Fabaceae

E, hecabe, E, blanda

12

Kayu manis

Cinnamommum burmanni

Lauraceae

G, sarpedon

13

Kayu Ulin

Eusideroxylon zwageri

Lauraceae

G, doson

14

Cokelat

Theobroma cacao

Malvaceae

J, hedonia, Nepthis hylas

15

Sukun

Artocarpus comune

Moraceae

Doleschallia bisaltide, Euploea

mulciber, Nepthis hylas

16

Nangka

Artocarpus heterophyllus

Moraceae

D, bisaltide, E, mulciber

17

Beringin

Ficus sp,

Moraceae

E, mulciber, N, hylas

18

Belimbing

Averrhoa carambola

Oxalidaceae

H, bolina

19

Paitan

Paspalum sp,

Poaceae

Melanitis leda, Mycalesis horsfieldii,

Yphtima philomela, Y, baldus

20

Jeruk

Citrus sp,

Rutaceae

Papilio memnon, P, demoleus, P,

polytes, P, demolion

21

Rambutan

Nephelium mutabile

Sapindaceae

H, bolina

22

Takokak

Solanum torvum

Solanaceae

L, nina


(4)

Lampiran 19 Data LAI hasil pengukuran di lapangan

SeqNo Label RadUnits VisSky LAI ELADP MLA GndCover LAIDev 1 Arboretum

Lansekap 0,152 1,896 1,301 49 0,672 2,288

6 Hutan Al

Hurriyah 0,093 3,115 0,666 66 0,685 1,709

2 Hutan

Sengon 0,236 1,444 998 0,038 0,764 0,706

3 Hutan

Akasia 0,346 1,004 13 6,251 0,627 1,261

7 Kawasan DAR 0,143 3,229 0,001 90 0,002 4,954

4 Perumahan

Dosen 0,259 1,507 0,001 90 0,001 4,798

5 Cikabayan 0,331 1,358 0,001 90 0,001 5,352

8 Kawasan


(5)

Lampiran 20 Hasil perhitungan uji dua sampel berpasangan (

paired sample t

test

) pada nilai kekayaan jenis kupu-kupu pada tahun 2007 dan

2012

NEW FILE,

DATASET NAME DataSet1 WINDOW=FRONT, DATASET ACTIVATE DataSet1,

DATASET CLOSE DataSet0,

T-TEST PAIRS=th2012 WITH th2007 (PAIRED) /CRITERIA=CI(,9500)

/MISSING=ANALYSIS,

T-Test

[DataSet1]

Paired Samples Statistics

Mean N Std, Deviation Std, Error Mean

Pair 1 th2012 17,12 8 5,222 1,846

th2007 29,88 8 6,813 2,409

Paired Samples Correlations

N Correlation Sig,


(6)

Lampiran 21 Hasil perhitungan uji dua sampel berpasangan (

paired sample t

test

) pada nilai keanekaragaman jenis kupu-kupu pada tahun 2007

dan 2012

T-TEST PAIRS=th2012 WITH th2007 (PAIRED) /CRITERIA=CI(,9500)

/MISSING=ANALYSIS,

T-Test

Paired Samples Statistics

Mean N Std, Deviation Std, Error Mean

Pair 1 th2012 2,46925 8 ,342804 ,121200

th2007 2,72938 8 ,351971 ,124440

Paired Samples Correlations

N Correlation Sig,