Lipstik Komponen Utama dalam Sediaan Lipstik

karena kulitnya yang tipis, saraf yang mengurus sensasi pada bibir menjadi lebih sensitif Wibowo, D.S., 2005. Kosmetika rias bibir selain untuk merias bibir ternyata disertai juga dengan bahan untuk meminyaki dan melindungi bibir dari lingkungan yang merusak, misalnya sinar ultraviolet. Ada beberapa macam kosmetika rias bibir, yaitu lipstik, krim bibir lip cream, pengkilap bibir lip gloss, penggaris bibir lip liner, dan lip sealer Wasitaatmadja, S.M., 1997.

2.6 Lipstik

Lipstik adalah sediaan kosmetika yang digunakan untuk mewarnai bibir dengan sentuhan artistik sehingga dapat meningkatkan estetika dalam tata rias wajah yang dikemas dalam bentuk batang padat. Hakikat fungsinya adalah untuk memberikan warna bibir menjadi merah, yang dianggap akan memberikan ekspresi wajah sehat dan menarik Ditjen POM, 1985. Dari sudut pandang kualitas, lipstik harus memenuhi persyaratan sebagai berikut : a. Tidak mengiritasi atau menimbulkan alergi pada bibir. b. Penampilan menarik, baik warna, bau, rasa maupun bentuknya. c. Memberikan warna yang merata pada bibir. d. Stabil dalam penyimpanan. e. Tidak meneteskan minyak, permukaannya mulus, tidak berbintik-bintik, atau memperlihatkan hal-hal yang tidak menarik. f. Melapisi bibir secara mencukupi. g. Dapat bertahan di bibir. h. Cukup melekat pada bibir, tetapi tidak sampai lengket. Universitas Sumatera Utara i. Melembabkan bibir dan tidak mengeringkannya Mitsui, T., 1997. Lipstik terdiri dari zat warna yang terdispersi dalam pembawa yang terbuat dari campuran lilin dan minyak, dalam komposisi yang sedemikian rupa sehingga dapat memberikan suhu lebur dan viskositas yang dikendaki. Suhu lebur lipstik yang ideal sesungguhnya diatur hingga suhu yang mendekati suhu bibir, bervariasi antara 36-38 o C. Tetapi karena harus memperhatikan faktor ketahanan terhadap suhu cuaca sekelilingnya, terutama suhu daerah tropik, suhu lebur lipstik dibuat lebih tinggi, yang dianggap lebih sesuai diatur pada suhu lebih kurang 62 o C, biasanya berkisar antara 55-75 o C Ditjen POM, 1985.

2.7 Komponen Utama dalam Sediaan Lipstik

Penambahan zat warna dalam sediaan lipstik bertujuan untuk menambah intensitas warna bibir sehingga memberikan kesan sehat pada wajah, memberi bentuk pada bibir, serta menambah keselasaran dengan mata, rambut, dan pakaian. Komponen utama sediaan lipstik antara lain: a. Emolien. Castor oil, ester, lanolin, minyak alkohol dodecanol oktil, minyak jojoba dan trigliserida. b. Malam. Candelilla, carnauba, lilin lebah, ozokeritceresein, silikon alkil, polietilen, lanolin, parafin. c. Modifier wax. Bekerja bersama dengan malam untuk memperbaiki tekstur, aplikasi dan stabilitas termasuk asetat setil dan lanolin asetat, oleil alkohol, lanolin sintetik, lanolin alkohol asetat, dan vaselin putih dan kuning. Universitas Sumatera Utara d. Pewarna Di Amerika Serikat hanya zat warna yang telah diizinkan FDA yang dapat digunakan dalam makanan, obat-obatan dan kosmetika. Pembagian zat warna menurut FDA Food and Drugs Administration: 1. FD C color, untuk makanan, obat-obatan, dan kosmetik. 2. D C, untuk obat-obatan dan kosmetik tidak dapat digunakan untuk makanan. 3. Ext D C yang diizinkan untuk dipakai pada obat-obatan dan kosmetik dalam jumlah yang dibatasi. e. Zat aktif. Zat aktif yang ditambahkan dalam sediaan pewarna bibir adalah sebagai pelembab dan pelembut yaitu untuk memperbaiki kulit bibir yang kering dan pecah-pecah diantaranya: tokoferil asetat, natrium hyaluronate, ekstrak lidah buaya, ascorbyl palmitate, silanols, ceramides, Panthenol, asam amino, dan beta karoten. f. Pengisi. Mica, silica, boron nitride, BiOCl, pati, lisin lauroyl g. AntioksidanPengawet BHA, BHT, ekstrak rosemary, asam sitrat, propil paraben, metil paraben, dan tokoferol Barel, A.O., Paye, M., dan Maibach, H.I., 2001. Komponen Lipstik yang Digunakan: a. Oleum ricini Minyak jarak Minyak jarak adalah minyak lemak yang diperoleh dengan perasan dingin biji Ricinus communis L. yang telah dikupas. Pemeriannya berupa cairan kental, jernih, kuning pucat atau hampir tidak berwarna, bau lemah, rasa manis dan agak Universitas Sumatera Utara pedas. Kelarutannya yaitu larut dalam 2,5 bagian etanol 90, mudah larut dalam etanol mutlak, dan dalam asam asetat glasial Ditjen POM, 1979. b. Cera alba Malam putih Cera alba dibuat dengan memutihkan malam yang diperoleh dari sarang lebah Apis mellifera L. Pemeriannya yaitu berupa zat padat, berwarna putih kekuningan, dan bau khas lemah. Kelarutannya yaitu praktis tidak larut dalam air, agak sukar larut dalam etanol 95, larut dalam kloroform, eter, minyak lemak, dan minyak atsiri. Suhu leburnya yaitu antara 62 o hingga 64 o C. Khasiat umumnya digunakan sebagai zat tambahan Ditjen POM, 1979. c. Lanolin Lanolin merupakan zat serupa lemak yang dimurnikan, diperoleh dari bulu domba Ovis aries L. yang dibersihkan dan dihilangkan warna dan baunya. Mengandung air tidak lebih dari 0,25 . Pemeriannya yaitu massa seperti lemak, lengket, warna kuning, bau khas. Kelarutannya yaitu tidak larut dalam air, dapat bercampur dengan air lebih kurang dua kali beratnya, agak sukar larut dalam etanol dingin, lebih larut dalam etanol panas, mudah larut dalam eter, dan dalam kloroform. Suhu leburnya yaitu antara 38 o dan 44 o C Ditjen POM, 1995. d. Vaselin alba Vaselin alba adalah campuran hidrokarbon setengah padat yang telah diputihkan, diperoleh dari minyak mineral. Pemeriannya yaitu berupa massa lunak, lengket, bening, putih, sifat ini tetap walaupun zat telah dileburkan. Kelarutannya yaitu praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol 95, tetapi larut dalam kloroform dan eter. Suhu leburnya antara 38 o hingga 56 o C. Khasiat umumnya digunakan sebagai zat tambahan Ditjen POM, 1979. Universitas Sumatera Utara e. Setil alkohol Pemeriannya yaitu berupa serpihan putih licin, granul, atau kubus, putih, bau khas lemah, dan rasa lemah. Kelarutannya yaitu tidak larut dalam air, larut dalam etanol dan dalam eter, kelarutannya bertambah dengan naiknya suhu. Suhu leburnya yaitu antara 45 o dan 50 o Ditjen POM, 1995. f. Metil paraben Pemeriannya yaitu berupa hablur kecil, tidak berwarna atau serbuk hablur, putih, tidak berbau atau berbau khas lemah, mempunyai sedikit rasa terbakar. Kelarutannya yaitu sukar larut dalam air dan benzen, mudah larut dalam etanol dan dalam eter, larut dalam minyak, propilen glikol, dan dalam gliserol. Suhu leburnya antara 125 o C hingga 128 o C. Khasiatnya adalah sebagai zat tambahan zat pengawet Ditjen POM, 1995. g. Oleum rosae Minyak mawar Minyak mawar adalah minyak atsiri yang diperoleh dengan penyulingan uap bunga segar Rosa gallica L., Rosa damascena Miller, Rosa alba L., dan varietas Rosa lainnya. Pemeriannya yaitu berupa cairan tidak berwarna atau kuning, bau menyerupai bunga mawar, rasa khas, pada suhu 25 o C kental, dan jika didinginkan perlahan-lahan berubah menjadi massa hablur bening yang jika dipanaskan mudah melebur. Kelarutannya yaitu larut dalam kloroform dan berat jenisnya yaitu antara 0,848 sampai 0,863 Ditjen POM, 1979. h. Propilen glikol Propilen glikol beupa cairan jernih, tidak berwarna, dan praktis tidak berbau, rasa agak manis, dan stabil jika bercampur dengan gliserin, air, dan alkohol. Propilen glikol sangat luas digunakan dalam kosmetika sebagai pelarut. Universitas Sumatera Utara Dalam kosmetika propilen glikol berfungsi sebagai humektan Barel, A.O., Paye, M., dan Maibach, H.I., 2009. i. Titanium dioksida Pigmen titanium dioksida TiO 2 merupakan serbuk putih dengan daya peng”opak” yang tinggi. Dapat digunakan pada makanan, kosmetika, dan pelindung kulit dari sinar UV. Titanium dioksida sangat aman digunakan Anonim c ., 2008. Penambahan titanium dioksida ini untuk memperbaiki corak warna yang dikehendaki pada lipstik.

2.8 Uji Tempel Patch Test

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

97 2755 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

36 711 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 600 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 395 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

23 535 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

45 909 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

44 818 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

13 501 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 744 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

30 895 23