Penggunaan Bahasa dalam Berita Utama Surat Kabar Republika Analisis Bahasa Jurnalistik

Republika juga mempunyai kata-kata yang telah disepakati bersama. Maksudnya apabila terdapat perbedaan dan banyak pendapat mengenai kata yang memungkinkan banyak ragam dalam penulisannya, Republika mempunyai kesepakatan bersama atau konsensus. Misalnya kata “kabah” apakah penulisannya adalah “ka’bah” atau “kabah.” Contoh lain kata “Al Qaida” apakah ditulis “Al Qaeda” atau “Al Qaida”. Mengenai kasus tersebut Republika mempunyai kesepakatan atau konsensus di luar Kamus Besar Bahasa Indonesia KBBI. Untuk penulisan kata “Al Qaida” Republika mengambilnya dari bahasa Arab langsung. Sehingga penulisan kata tersebut adalah “Al Qaida.” Seperti yang diungkapkan oleh Elba Damhuri sebagai berikut: ”Contoh lain Al Qaida kalau bahasa Indonesia Al Qaeda, tetapi karena kita mengambilnya dari bahasa Arab langsung jadi kita menulisnya Al Qaida.” 50

B. Penggunaan Bahasa dalam Berita Utama Surat Kabar Republika

Berita utama merupakan berita yang disajikan pada halaman pertama surat kabar. Masing-masing surat kabar akan berbeda dalam menentukan berita utama. Tergantung hasil rapat redaksi yang dilakukan di masing-masing berita. Berita utama surat kabar Republika ditentukan pada rapat redaksi yang dilakukan setiap hari pukul 13.00 WIB. Pemilihan berita utama di surat kabar Republika berdasarkan beberapa kriteria. Kriteria yang paling utama adalah dilihat dari nilai beritanya. Selain itu, dilihat dari segi dampaknya terhadap publik. Maksudnya adalah apakah sangat besar dampaknya bagi publik atau tidak. 50 Lampiran wawancara Dalam penyajian berita utama, surat kabar Republika mempunyai pedoman yang disebut SOP dan bersandar pada Kamus Besar Bahasa Indonesia KBBI. SOP ini menjadi pegangan wajib bagi wartawan, reporter, redaktur dan semua yang ada dalam harian umum Republika. Salah satu contohnya adalah dalam penulisan paragraf. Dalam satu paragraf terdiri dua kalimat. Satu kalimat paling banyak sebelas kata. Karena memudahkan pembaca untuk membaca. Penulisan judul pun tidak boleh lebih dari enam kata.

C. Analisis Bahasa Jurnalistik

Penulisan berita tidak mutlak selalu benar dan bersandar pada KBBI, EYD, dan SOP. Sehingga sering ditemukan salah ejaan, kata-kata mubazir, penulisan paragraf terdiri dari satu kalimat, dan sebagainya. Hal ini bisa saja terjadi karena faktor deadline yang tinggi. Peneliti meneliti teks berita utama surat kabar Republika bulan Desember 2008. Tujuannya untuk mengetahui seberapa jauh penggunaan bahasa jurnalistik atau bahasa jurnalistik Indonesia di surat kabar tersebut. Untuk membantu dalam penelitian, peneliti menyediakan ciri bahasa jurnalistik yang dikemukakan Kunjana Rahardi. Hasil penelitian akan disajikan dalam sebuah tabel. Tabel tersebut berisi paragraf, data kalimat dan analisis bahasa jurnalistiknya. Selanjutnya peneliti menghitung modus masing-masing ketidaksesuaian dengan ciri bahasa jurnalistik. Modus menunjukkan frekuensi terbesar pada suatu kelompok data. Modus tersebut merupakan frekuensi yang paling sering muncul. Hal tersebut dilakukan untuk mengetahui ketidaksesuaian yang sering muncul objek yang diteliti dengan ciri bahasa jurnalistik. Hasil penelitian dan pembahasannya lebih lanjut sebagai berikut: Berita 1 Berita pertama adalah Berita utama surat kabar Republika tanggal 1 Desember 2008. Berita yang disajikan oleh koran tersebut berjudul Produksi Padi Terus Naik. Berita tersebut terdiri dari 14 paragraf dan 40 kalimat. Analisis datanya adalah sebagai berikut: Tabel 1. Analisis bahasa jurnalistik berita utama 1 Desember 2008 Paragraf Data Kalimat Analisis 1 Produksi padi tahun 2008 diperkirakan naik 5,4 persen atau merupakan yang tertinggi dalam 20 tahun terakhir. Paragraf pertama melanggar ciri tidak mubazir. Pembuktiannya ialah kata merupakan menurut hemat peneliti seharusnya di buang. Tanpa adanya kata tersebut tidak mengurangi makna sebenarnya, bahkan terlihat lebih ringkas. Kalimat tersebut menjadi sebagai berikut: Produksi padi tahun 2008 diperkirakan naik 5,4 persen atau yang tertinggi dalam 20 tahun terakhir. 2 Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengklaim pertanian maju pesat sejak program revitalisasi pertanian diluncurkan tiga tahun lalu. Buktinya, kata dia, Indonesia berhasil swasembada beras dan jagung. Paragraf dua tidak ada kesalahan atau tidak ada masalah. Pembuktiannya ialah kalimat tersebut spesifik, jelas makna, komunikatif, hemat kata dan tidak ada kata mubazir. komunikatif artinya kalimat di samping tidak berbelit-belit dan langsung pada pokok permasalahan. Spesifik maksudnya disusun oleh kalimat-kalimat pendek. Jika kita mengamatinya paragraf di samping masing- masing kalimat tersusun kurang dari 20 kata. Hal ini memudahkan pembaca mengerti maksud yang disampaikan oleh wartawan dalam tulisannya. Hemat kata artinya memegang teguh prinsip ekonomi kata. Maknanya jelas dan mudah ditangkap, dan tidak terdapat kata- kata mubazir. 3 Adapun kenaikan 5,4 persen tahun ini merupakan yang tertinggi dalam 20 tahun terakhir. Paragraf tiga melanggar ciri tidak mubazir. Kata adapun pada kalimat kedua menurut hemat penulis dihilangkan. Tanpa adanya kata adapun makna kalimat kedua tetap sama. Sehingga kalimat kedua menjadi sebagai berikut: Kenaikan 5,4 persen tahun ini merupakan yang tertinggi dalam 20 tahun terakhir. 4 Keberhasilan ini, kata presiden, merupakan buah kerja kerja keras petani, penyuluh, dan pemerintah. “Mari, jadikan Indonesia sebagai lumbung pangan dunia,” kata Presiden pada acara Jambore dan Festival Karya Penyuluh Pertanian II Paragraf empat tidak ada kesalahan atau tidak ada masalah. Pembuktiannya ialah kalimat- kalimat di samping mudah ditangkap maksudnya. Serta kalimatnya tidak berbunga-bunga dan tidak melenceng dari pokok isi berita. di Cibodas, Cianjur, Jawa Barat, Ahad 3011. 5 Presiden tak terima jika pertanian dikatakan gagal. “Kalau dikatakan pertanian gagal, sakit saudara-saudara. Sakit para bupati, sakit para gubernur, sakit kita semua,” kata Presiden pada acara yang dihadiri 4.500 penyuluh dari seluruh Indonesia itu. Paragraf lima tidak ada kesalahan atau tidak ada masalah. Isi paragraf lima bersifat spesifik, mudah ditangkap maksudnya, tidak terdapat kata-kata mubazir dan hemat kata. 6 Menteri Pertanian Anton Apriyanto mengatakan produksi bahan pangan lain juga meningkat. Produksi jagung, misalnya, diperkirakan 15,86 juta ton atau meningkat 19,6. Kedelai, kelapa sawit, dan daging, kata Anton, juga diperkirakan naik. Paragraf enam melanggar ciri tidak mubazir. Dapat dilihat pada kalimat ketiga. Menurut hemat penulis kata seperti kata Anton seharusnya dihilangkan. Alasannya ialah pada kalimat pertama telah disebutkan bahwa Menteri Pertanian Anton Apriyanto Mengatakan….dst. Sehingga kata “kata Anton” tidak perlu digunakan lagi, sebab sudah merujuk pada kalimat pertama. 7 Untuk tahun depan, meski ada krisis keuangan global, tetap Rp 33 triliun. Kalimat di samping melanggar ciri tidak mubazir. Pembuktiannya ialah Kata untuk dalam kalimat tersebut sebaiknya dihilangkan saja. Kalimat tersebut menjadi lebih ringkas apabila kata untuk dihapus. Kalimat tersebut menjadi: Tahun depan, meski ada krisis keuangan global, tetap Rp 33 triliun. 8 Sementara itu, Dirut Perum Bulog, Mustafa Abubakar, mengatakan, Indonesia sudah bisa mengekspor beras pertengahan 2009. Paragraf delapan melanggar ciri tidak mubazir. Seharusnya kata sementara itu dibuang saja, karena tanpa adanya kata sementara itu tidak mengurangi makna kalimat pertama dalam paragraf kedelapan. Sehingga kalimat pertama pada paragraf kedelapan ialah: Dirut Perum Bulog, Mustafa Abubakar, mengatakan, Indonesia sudah bisa mengekspor beras pertengahan 2009. 9 Setidaknya ada tiga kondisi Paragraf sembilan melanggar ciri yang memungkinkan ekspor. Ketiga, Februari dan Maret 2009 akan ada panen beras musim rendengan. tidak mubazir. Menurut hemat penulis kata setidaknya dihilangkan, karena tanpa adanya kata setidaknya tidak menghilangkan makna sebenarnya. Sehingga bunyi kalmiat pertama pada paragraf sembilan ialah: Ada tiga kondisi yang memungkinkan ekspor. Kalimat tersebut melanggar ciri tidak mubazir. Pembuktiannya ialah Penggunaan kata akan pada kalimat disamping bisa dihapus. Alasannya ialah kata akan menunjukan arti masa yang akan datang atau waktu yang akan datang. Sedangkan keterangan waktu dalam kalimat tersebut sudah jelas yaitu Februari dan Maret. Jadi kalimat tersebut menjadi sebagai berikut: Ketiga, Februari dan Maret 2009 ada panen beras musim rendengan. 10 Yang diekspor, kata Mustafa, adalah beras premium yang memiliki harga kompetitif di pasar internasional, seperti Cianjur, Pandan Wangi, dan Organik SRI. Setelah itu, beras medium, seperti Ciherang dan IR III. Paragraf sepuluh melanggar ciri spesifik dan ekonomi kata atau hemat kata. Kalimat pertama melanggar ciri spesifik, kalimat tersebut bisa menjadi dua kalimat. Seharusnya menurut hemat penulis kalimat tersebut menjadi sebagai berikut: Mustafa Mengatakan beras yang diekspor ialah beras premium yang memiliki harga kompetitif di pasar internasional. Seperti Cianjur, Pandan Wangi, dan Organik SRI. Kata adalah pada kalimat pertama tidak tepat, karena kata adalah digunakan untuk menunjukkan sebuah definisi. Kata adalah diganti oleh kata ialah. Kata setelah itu pada kalimat kedua dihilangkan saja dan lebih baik diganti dengan kata kemudian . Alasannya ialah prinsip ekonomi kata atau hemat kata. 11 “Kita bisa ekspor ke negara yang letak geografisnya dekat dengan Indonesia, seperti Timor Leste, Filipina, Malaysia, Brunei, Singapura, dan Hong Kong,” kata Mustafa. Paragraf sebelas tidak ada kesalahan dalam segi spesifik, jelas makna, hemat kata, komunikatif dan tidak mubazir. Tetapi, ada satu kesalahan yaitu dalam satu paragraf terdiri dari satu kalimat. Seharusnya paragraf terdiri sedikitnya dua kalimat. 12 Pengamat ekonomi pertanian Bustanul Arifin, mengatakan, tak masalah bila pemerintah hendak melakukan ekspor, asalkan harga stabil dan kebutuhan dalam negeri tercukupi. “Yang jelas, jangan sampai kita ekspor beras, tetapi rakyat kelaparan. Selain itu yang berhak melakukan ekspor beras hanya Bulog dengan pengawasan ketat pemerintah,” katanya. Paragraf dua belas tidak ada masalah atau tidak ada kesalahan. Pembuktiannya ialah kalimat disampaikan dengan mudah dapat dipahami oleh khalayak umum pembaca. Selain itu, menyampaikan pengertian atau makna informasi secara langsung dengan menghindari bahasa yang berbunga-bunga. Sehingga kalimat tersebut tidak melanggar prinsip spesifik, komunikatif, jelas makna, hemat kata dan tidak mubazir. 13 Dia juga mengingatkan, Paragraf tiga belas tidak ada lahan pertanian menyusut 40-70 ribu hektare per tahun. Kebanyakan lahan tersebut dialihfungsikan menjadi perumahan, perkantoran, dan pusat perbelanjaan. Padahal, membuat sawah baru tak mudah karena perlu tanah yang cocok dengan pengairan baik. “Pemerintah seharusnya bersikap tegas dalam mengamankan lahan pertanian,” katanya. masalah atau tidak ada kesalahan. Pembuktiannya ialah dilihat dari segi komunikatif kalimat tersebut tidak berbelit-belit. Paragraph di samping disusun oleh kalimat yang singkat dan padat informasi spesifik. Dilihat dari segi jelas makna, kalimat di samping mudah ditangkap maksudnya tidak menimbulkan makna yang bukan sebenarnya. Selain itu, kata-kata dalam kalimat di samping berciri minim karakter hemat kata dan tidak terdapat kata-kata mubazir. 14 Soal revitalisasi pertanian, Bustanul Arifin menilai belum sepenuhnya berhasil. “Produksi padi yang meningkat memang merupakan indikasi bahwa revitalisasi pertanian berjalan cukup baik. Tapi, masih perlu diperbaiki. Sebab, Paragraf empat belas tidak ada masalah atau tidak ada kesalahan. Maksudnya kalimat tersebut disusun oleh kalimat-kalimat yang komunikatif, spesifik, jelas makna, dan tidak terdapat kata-kata yang mubazir. Kalimat di samping menyampaikan makna secara langsung dengan menghindari masih banyak bahan pangan kita yang bergantung dari luar negeri, seperti impor kedelai dan daging sapi,” katanya. bahasa yang berbunga-bunga. Tabel 2. Ketidaksesuaian berita utama 1 Desember 2008 dengan ciri bahasa jurnalistik No. Ciri-ciri Bahasa Jurnalistik Frekuensi 1 Komunikatif - 2 Spesifik 1 3 Hemat Kata 1 4 Jelas Makna - 5 Tidak Mubazir dan Tidak Klise 7 Dalam berita utama tanggal 1 Desember 2008. Ciri tidak mubazir dan tidak klise merupakan yang sering dilanggar. Buktinya ialah dari 40 kalimat yang diteliti, terdapat tujuh kalimat yang melanggar ciri bahasa jurnalistik tidak mubazir dan tidak klise. Satu kalimat yang melanggar ciri bahasa jurnalistik spesifik dan hemat kata. Berita 2 Berita kedua adalah Berita utama surat kabar Republika tanggal 9 Desember 2008. Berita yang disajikan oleh koran tersebut berjudul ‘Indonesia Butuh Keteladanan’. Berita tersebut terdiri dari 12 paragraf dan 32 kalimat. Analisis datanya adalah sebagai berikut: Tabel 3. Analisis bahasa jurnalistik berita utama 9 Desember 2008 Paragraf Data Kalimat Analisis 1 Keteladanan Nabi Ibrahim dan Ismail, kata Nuh, sangat patut dijadikan inspirasi. Paragraf pertama melanggar ciri tidak mubazir. Buktinya dapat dilihat pada kalimat terakhir paragraf tersebut. Menurut hemat penulis kata sangat patut seharusnya ditulis patut saja, sehingga lebih sederhana. Kalimat tersbut menjadi sebagai berikut: Keteladanan Nabi Ibrahim dan Ismail, kata Nuh, patut dijadikan inspirasi. 2 Nuh mengatakan, Ibrahim telah memperlihatkan keikhlasan melaksanakan perintah menyembelih anaknya, Ismail. Paragraf dua melanggar ciri tidak mubazir. Pembuktiannya ialah kata telah seharusnya dihilangkan. Alasan lainnya ialah bahasa Indonesia tidak mengenal bentuk kata lampau. Kalimat di samping menjadi sebagai berikut: Nuh mengatakan, Ibrahim memperlihatkan keikhlasan melaksanakan perintah menyembelih anaknya, Ismail. 3 Dalam konteks kekinian, pengorbanan Ibrahim dan Ismail itu dapat diwujudkan dalam kesediaan melepaskan apa saja yang dianggap berharga-seperti deposito, jabatan, dan kedudukan- demi kepentingan yang lebih besar. Paragraf tiga tidak ada masalah dalam segi spesifik, komunikatif, jelas makna, hemat kata dan tidak mubazir. Tetapi terdapat kesalahan yaitu paragraf terdiri dari satu kalimat. Seharusnya paragraf sedikitnya terdiri dua kalimat. 4 Pengorbanan seperti ini, dinilai Nuh merupakan investasi yang baik untuk masa depan. “Sanggupkah kita mengorbankan itu? Insya Allah kita semua bisa. Allah yang mengganti pengorbanan itu.” Paragraf empat tidak ada kesalahan atau tidak ada masalah. Kalimatnya menghindari penjelasan yang panjang dan bertele-tele. Membuang kata-kata mubazir dan menerapkan ekonomi kata. 5 Shalat Idul Adha di Masjid Istiqlal, antara lain, dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Wakil Presiden Jusuf Kalla, menteri-menteri Kabinet Indonesia Bersatu KIB, duta besar negara sahabat, dan masyarakat umum. Paragraf lima melanggar ciri tidak mubazir. Menurut hemat peneliti kata antara lain dapat dihilangkan. Tanpa kehadiran kata tersebut makna kalimat pada paragraf kelima tetap sama. Kalimat tersebut menjadi sebagai berikut: Shalat Idul Adha di Masjid Istiqlal dihadiri Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, Wakil Presiden Jusuf Kalla, menteri-menteri Kabinet Indonesia Bersatu KIB, duta besar negara sahabat, dan masyarakat umum. 6 Nuh mengibaratkan kehidupan seperti sebuah sekolah. Ada murid, guru, dan proses belajar mengajar. “Guru bangsa tidak hanya mengajarkan bagaimana menghadapi dan menyelesaikan masalah, tapi juga Paragraf enam tidak ada kesalahan atau tidak ada masalah. Kalimatnya langsung pada pokok masalah to the point , tidak memboroskan waktu pembaca. Maksudnya tidak baur dan tidak kabur. Kalimat tersebut bisa dimengerti oleh semua pembaca baik kalangan atas, menengah, dan bawah. Inti dari memberikan contoh yang nyata dan tegas. Indonesia butuh keteladanan guru bangsa,” katanya. paragraf tersebut ialah Indonesia butuh keteladanan. 7 Tugas umat, kata dia, adalah mencari jawaban, bukan mempersoalkan persoalan. Paragraf tujuh melanggar ciri ekonomi kata. Buktinya adalah kata adalah pada kalimat kedua seharusnya diganti dengan kata ialah . Selain itu penggunaan kata adalah dalam kalimat tersebut tidak tepat, karena kata adalah lazim digunakan untuk menunjukkan definisi. 8 Pada Idul Adha tahun ini, Masjid Istiqlal menerima 15 sapi dan 218 kambing. Paragraf delapan melanggar ciri tidak mubazir. Menurut hemat peneliti kata pada dalam kalimat tersebut dihilangkan saja dan maknanya pun tetap sama tidak berubah. Sehingga bunyi kalimat tersebut ialah: Idul Adha tahun ini, Masjid Istiqlal menerima 15 sapi dan 218 kambing. 9 Saat menyampaikan Paragraf sembilan tidak ada khutbah Idul Adha di Stadion Siliwangi, Cimahi, Jawa Barat, Ketua Umum PP Muhammadiyah, Din Syamsuddin, menyatakan esensi Idul Adha adalah gerakan tauhid. “Dengan gerakan tauhid, umat Islam dapat bangkit dari keterpurukan.” Kata Din, ada sejumlah watak yang perlu dimiliki oleh bangsa ini untuk bangkit. Diantaranya, tidak mementingkan diri sendiri. masalah. Kalimat di samping menceritakan peristiwa di tempat berbeda. Tetapi, masih dalam konteks peristiwa yang sama yaitu Idul Adha. Kalimatnya tidak berbelit-belit, disusun dengan kalimat yang singkat. Mudah ditangkap maksudnya dan menggunakan kata yang mengandung makna sebenarnya. 10 Ketua PBNU, Said Agil Siradj, lebih menekankan pada aspek kelembutan ajaran Islam saat menyampaikan khutbah Idul Adha di Masjid Raya Jakarta Islamic Center. Melanggar ciri tidak mubazir. Kata lebih menekankan seharusnya ditulis menekankan saja, sehingga bunyi kalimat tersebut ialah: Ketua PBNU, Said Agil Siradj, menekankan pada aspek kelembutan ajaran Islam saat menyampaikan khutbah Idul Adha di Masjid Raya Jakarta Islamic Center. 11 Dia juga meminta umat Islam berkorban dengan mengesampingkan hal-hal yang bersifat parsial furu’iyah. “Itu hanya membuang waktu dan energi, yang seharusnya kita gunakan untuk berpikir dan bekerja demi kemajuan dan kemaslahatan umat.” Paragraf sebelas melanggar ciri jelas makna. Kalimat pertama terdapat kata “parsial furu’iyah” seharusnya kata tersebut dijelaskan terlebih dahulu. Sehingga semua pembaca mengetahui maksud atau makna kalimat tersebut. Surat kabar di baca oleh semua kalangan sehingga dalam penyajian kalimatnya harus dimengerti oleh semua kalangan pembaca. 12 Di Masjid Al-Azhar, Jakarta Selatan, Menteri Pemuda dan Olahraga, Adhyaksa Dault, yang menjadi khatib, menyatakan, kecintaan dan ketaatan kepada Allah menuntut kesiapan berkorban. Dia mengkritik pengorbanan umat Islam yang dinilainya menurun. Paragraf dua belas tidak ada kesalahan atau tidak ada masalah. Kalimat di samping tidak berbelit- belit sehingga pembaca tidak perlu menganalisisnya ketika membaca. Kalimatnya jelas makna, tidak terdapat kata mubazir, spesifik, dan memegang teguh prinsip ekonomi kata. “Umat Islam enggan ke masjid, namun ringan ke shopping center .” Tabel 4. Ketidaksesuaian berita utama 9 Desember 2008 dengan ciri bahasa jurnalistik No. Ciri-ciri Bahasa Jurnalistik Frekuensi 1 Komunikatif - 2 Spesifik - 3 Hemat Kata 1 4 Jelas Makna 1 5 Tidak Mubazir dan Tidak Klise 5 Dalam berita utama tanggal 9 Desember 2008. Ciri tidak mubazir dan tidak klise merupakan yang sering dilanggar. Buktinya ialah dari 32 kalimat yang diteliti, terdapat lima kalimat yang melanggar ciri bahasa jurnalistik tidak mubazir dan tidak klise. Masing-masing satu kalimat yang melanggar ciri bahasa jurnalistik hemat kata dan jelas makna. Berita 3 Berita ketiga adalah Berita utama surat kabar Republika tanggal 17 Desember 2008. Berita yang disajikan oleh koran tersebut berjudul RUU Minerba Disahkan. Berita tersebut terdiri dari 14 paragraf dan 30 kalimat. Analisis datanya adalah sebagai berikut: Tabel 5. Analisis bahasa jurnalistik berita utama 17 Desember 2008 Paragraf Data Kalimat Analisis 1 Pembahasan Rancangan Undang-Undang RUU Mineral dan Batu Bara Minerba yang dimulai sejak 4 Juli 2005, akhirnya ketok palu, kemarin. Paragraf satu melanggar ciri tidak mubazir. Pembuktiannya ialah kata akhrinya ketok palu seharusnya diganti dengan kata berakhir atau ditutup. Sehingga kalimat tersebut menjadi: Pembahasan Rancangan Undang- Undang RUU Mineral dan Batu Bara Minerba yang dimulai sejak 4 Juli 2005, berakhirditutup, kemarin. 2 “Meskipun tidak tercapai kesepakatan secara bulat, RUU tetap disahkan,” kata pimpinan Sidang Paripurna DPR, Muhaimin Iskandar, menutup sidang, Selasa 1612. Dilihat dari segi spesifik, komunikatif, hemat kata, jelas makna dan tidak mubazir kalimat di samping tidak ada masalah. Kalimatnya tidak berbunga-bunga sehingga pembaca tidak perlu menganalisisnya ketika membaca. Pembaca akan mengetahui isi dari kalimat di samping tanpa membaca berulang-ulang. Kalimatnya sarat informasi dan makna kalimat sudah jelas yaitu meskipun tidak tercapai kesepakatan bulat RUU Minerba tetap disahkan. 3 Saat menyampaikan pandangan, Menteri ESDM, Purnomo Yusgiantoro, mengatakan, keberadaan UU Minerba itu untuk menjaga supaya iklim usaha di sektor pertambangan umum tetap terjaga. Paragraf tiga terdapat kesalahan yaitu singkatan ESDM pada paragraf tersebut tidak dijelaskan. Seharusnya menurut hemat penulis singkatan ESDM tersebut dijelaskan seperti berikut: Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral ESDM. Kalimat disamping melanggar ciri ekonomi kata dan tidak mubazir. Pembuktiannya ialah kata itu untuk seharusnya dihilangkan saja. Karena kata tersebut merupaka kata mubazir. Apabila kata itu untuk dihapus, kalimat di samping akan enak dibaca. Pembuktian selanjutnya penggunaan kata supaya diganti oleh kata agar. Alasannya ialah bahasa jurnalistik harus memegang teguh prinsip ekonomi kata. Kalimat tersebut menjadi sebagai berikut: Saat menyampaikan pandangan, Menteri Eneregi dan Sumber Daya Mineral ESDM, Purnomo Yusgiantoro, mengatakan, keberadaan UU Minerba menjaga agar iklim usaha di sektor pertambangan umum tetap terjaga. 4 Dia juga menegaskan, kontrak yang sudah berjalan selama ini tetap dihormati. “Kita ingin menghormati kontrak yang sudah ada untuk menjaga iklim usaha,” paparnya. Namun, sejumlah pasal dalam kontrak lama tetap akan disesuaikan dengan UU yang baru. “Isi kontrak lama akan disesuaikan, kecuali untuk Paragraf empat tidak ada masalah. Pembuktiannya kalimat-kalimat yang terdapat dalam paragraf empat langsung pada pokok permasalahan seputar UU Minerba. Kalimat-kalimatnya bersifat spesifik disusun dengan kalimat-kalimat yang singkat. Kalimat-kalimatnya berciri hemat kata dan tidak terdapat kata mubazir. Maknanya dapat ditangkap oleh semua kalangan penerimaan Negara.” pembaca tanpa harus menganalisisnya lagi. 5 Usai sidang, Dirjen Mineral Batu Bara dan Panas Bumi Departemen ESDM, Bambang Setiawan, menjelaskan, pasal-pasal yang diperdebatkan dalam UU Minerba sebenarnya sudah diatur. “Kalau bentuknya perjanjian pengusahaan, kontrak yang berbentuk izin usaha akan tetap berlaku.” Paragraf lima tidak ada masalah. Paragraf lima tidak melenceng dari topik pembahasan mengenai UU Minerba. Masih memperkuat paragraf-paragraf sebelumnya. Kalimatnya tidak disusun dengan kalimat yang berbunga-bunga dan tidak berbelit-belit sehingga pembaca mudah membacanya. Pembaca mudah mengetahui maksud paragraf lima tanpa harus mengerutkan dahi. Kalimatnya tidak terdapat kata yang mubazir dan menerapkan prinsip ekonomi kata. 6 Ketua Komite Tetap Kadin Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral, Herman Afif Kusumo, menilai, UU itu lebih menjamin kedaulatan Negara dan pengusaha Paragraf enam melanggar ciri ekonomi kata. Pembuktiannya ialah kata Ketua Komite Tetap Kadin Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral seharusnya menjadi Ketua Komite Tetap Kadin Bidang nasional atas pengusahaan pertambangan. ESDM . 7 “Kalau ada asing yang protes, wajar saja. Tapi, semua persoalan bisa dibicarakan melalui dialog dan duduk bersama dengan pemerintah,” katanya. Paragraf tujuh tidak ada masalah. Kalimat di samping tersusun oleh kalimat-kalimat yang pendek dan singkat. Menggunakan makna yang sebenarnya. Kalimatnya tidak membahas kepada persoalan yang lain. Pembaca mudah menangkap maksud yang disampaikan oleh wartawan melalui tulisannya. 8 Herman juga mengatakan, ketentuan peralihan UU Minerba yang menyebutkan keberadaan Kontrak Karya KK dan Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batu Bara PKP2B sudah merupakan jaminan bagi kepastian hukum di Indonesia. “Kita harus menghormati, jangan sampai Paragraf delapan tidak ada masalah. Paragraf di samping disusun oleh kalimat-kalimat yang tidak bertele-tele. Tidak melenceng ke pembahasan lain. bSelain itu, tidak memboroskan waktu pembaca untuk menangkap isi pesan yang terkandung dalam kalimat. Karena maksud yang disampaikan melalui tulisan tersebut mudah ditangkap oleh mereka lari.” pembaca. Sehingga pembaca tidak perlu berulang-ulang membacanya. Kalimat yang terdapat dalam paragraf delapan tidak terdapat kata-kata yang mubazir. 9 Pengelolaan pertambangan menurutnya, mesti saling menguntungkan, sehingga sumber daya alam dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya untuk bangsa dan negara. “UU Minerba ini juga telah memberikan aspek ekonomi dan administrasi, termasuk lingkungan yang lebih baik.” UU Minerba ini akan mengganti UU No. 11 Tahun 1967 tentang Pokok-Pokok Pertambangan. Paragraf sembilan tidak ada masalah. Pembuktiannya ialah kalimat disampaikan dengan mudah dapat dipahami oleh khalayak umum pembaca. Selain itu, menyampaikan pengertian atau makna informasi secara langsung dengan menghindari bahasa yang berbunga-bunga. Sehingga kalimat tersebut tidak melanggar prinsip spesifik, komunikatif, jelas makna, hemat kata dan tidak mubazir. 10 Berlarut-larutnya penyelesaian penyusunan Paragraf sepuluh melanggar ciri tidak mubazir. Pembuktiannya UU baru ini, memang sempat membuat iklim investasi di sektor pertambangan Indonesia penuh ketidak- pastian. adalah kata memang sempat seharusnya ditulis sempat. Tidak adanya kata memang tidak membuat maknaarti kalimat tersebut berubah. 11 Industri pertambangan memang berharap UU yang baru akan memberikan kepastian hukum dalam hal perizinan, pembebasan tanah dan keamanan, serta koordinasi yang lebih baik antara berbagai lembaga pemerintahan. Paragraf sebelas melanggar ciri tidak mubazir. Pembuktiannya ialah kata memang berharap seharusnya ditulis berharap saja. 12 Saat paripurna berlangsung, FPKS, FPAN, dan PKB walk out . Ketiganya mempersoalkan Bab 25 Pasal 169 ayat a dan b RUU Minerba. Juru bicara FPAN, Zulkifli Halim, menilai, Pasal 169 ayat a diskriminatif. Paragraf dua belas tidak ada masalah. Kalimat dalam paragraf dua belas terdiri kurang dari 20 kata. Ini menandakan bahwa kalimat di samping spesifik. Kalimat yang spesifik menunjukkan bahwa kalimatnya komunikatif tidak berbelit-belit, hemat kata, jelas makna dan tidak ada kata yang mubazir. Karena bahasa yang digunakan dalam berita yang bersifat langsung harus menerapkan ciri bahasa jurnalistik. 13 FPKS walk out dengan alasan dicabutnya penjelasan di Pasal 169 ayat b. “Padahal, penjelasan itu sangat substantif menyangkut kontrak karya KK,” kata juru bicara FPKS, Muhammad Idris Luthfi. Paragraf tiga belas tidak ada masalah. Pembuktiannya ialah sama seperti paragraf dua belas, kalimat di samping tersusun tidak lebih dari 20 kata. Kalimat yang tersusun tidak lebih dari 20 kata menandakan kalimat tersebut komunikatif, spesifik, jelas makna, hemat kata dan tidak mubazir. 14 Menurut Herman, pemerintah perlu segera menuntaskan peraturan pemerintah. Ini agar UU Minerba bisa segera diberlakukan. Paragraf empat belas melanggar prinsip ekonomi kata. Pembuktiannya ialah terdapat dalam kalimat kedua. Kata ini agar dalam kalimat kedua seharusnya diganti dengan kata supaya atau agar. Alasannya ialah dalam penulisan berita di media cetak harus memegang prinsip ekonomi kata. Tabel 6. Ketidaksesuaian berita utama 17 Desember 2008 dengan ciri bahasa jurnalistik No. Ciri-ciri Bahasa Jurnalistik Frekuensi 1 Komunikatif - 2 Spesifik - 3 Hemat Kata 3 4 Jelas Makna - 5 Tidak Mubazir dan Tidak Klise 4 Dalam berita utama tanggal 17 Desember 2008. Ciri tidak mubazir dan tidak klise merupakan yang sering dilanggar. Buktinya ialah dari 30 kalimat yang diteliti, terdapat empat kalimat yang melanggar ciri bahasa jurnalistik tidak mubazir dan tidak klise. Tiga kalimat yang melanggar ciri bahasa jurnalistik hemat kata. Berita 4 Berita keempat adalah Berita utama surat kabar Republika tanggal 26 Desember 2008. Berita yang disajikan oleh koran tersebut berjudul KPU Siapkan Aturan Baru. Berita tersebut terdiri dari 12 paragraf dan 22 kalimat. Analisis datanya adalah sebagai berikut: Tabel 7. Analisis bahasa jurnalistik berita utama 22 Desember 2008 Paragraf Data Kalimat Analisis 1 Ketua Komisi Pemilihan Umum KPU, Abdul Hafiz Anshary, menilai penetapan calon legislatif caleg terpilih pascaputusan Mahkamah Konstitusi MK membuat proses penentuan caleg terpilih lebih sederhana. Kesederhanaan itu, kata dia, akan membuat kerja KPU lebih mudah. Paragraf satu tidak ada masalah. Pembuktiannya ialah kalimat dalam paragraf satu menghindari penjelasan yang panjang dan bertele-tele. Informasi yang disampaikan wartawan mudah dipahami oleh khalayak umum pembaca. Struktur kalimatnya tidak menimbulkan penyimpanganpengertian makna yang berbeda. 2 “Sekarang tidak pusing. Siapa yang memperoleh suara terbanyak, dia yang jadi,” kata Hafiz, Rabu 2412. Paragraf dua tidak ada masalah. Buktinya ialah setiap kalimat yang terdapat dalam paragraf dua tersusun kurang dari 20 kata. Kalimat menjadi lebih mudah dipahami dibandingkan kalimat yang terdiri banyak kata-kata. Kalimat-kalimat di samping menandakan tidak melanggar ciri spesifik, komunikatif, hemat kata, jelas makna, tidak mubazir dan tidak klise. 3 Anggota KPU, Syamsulbahri, mengatakan KPU akan membuat aturan main, melakukan sosialisasi, dan memberikan bimbingan teknis kepada KPU daerah dan partai politik, pascaturunnya putusan MK yang membatalkan Pasal 214 UU No 102008 tentang pemilu legislatif. Apabila dilihat kalimat pertama yang terdapat dalam paragraf tiga sangat panjang. Kalimat tersebut melanggar ciri spesifik yaitu bahasa jurnalistik disusun dengan kalimat-kalimat yang singkat- singkat. Kalimat disamping terdiri kurang lebih dari 34 suku kata. Kalimat yang baik adalah kalimat yang terdiri dari 8-20 kata. Kalimat pertama paragraf tiga bisa dijadikan menjadi dua kalimat, sehingga kalimatnya lebih ringkas dibanding kalimat sebelumnya. Kalimat tersebut menjadi sebagai berikut: Anggota KPU, Syamsulbahri, mengatakan KPU akan membuat aturan main, melakukan sosialisasi, dan memberikan bimbingan teknis kepada KPU daerah dan partai politik. Kegiatan itu dilakukan pascaturunnya putusan MK yang membatalkan Pasal 214 UU No 102008 tentang pemilu legislatif. 4 Direktur Eksekutif Center for Electoral Reform Cetro, Hadar Navis Gumay, mengatakan yang perlu dilakukan KPU adalah membuat peraturan tata cara tentang calon terpilih. Kata adalah menurut peneliti diganti menjadi ialah. Penggunan kata adalah pada kalimat tersebut tidak cocok. Penggunaan kata adalah lazim digunakan untuk menguraikan suatu definisi. 5 Karena putusan MK tak mengutak-atik masalah suara sah di Pasal 176 UU Pemilu, Hafiz mengatakan, suara yang diberikan pemilih dengan mencoblos tanda gambar partai tetap sah. Tapi suara itu tak berfungsi menentukan calon terpilih. “Hanya berfungsi menentukan lolos tidaknya partai politik dari Paragraf lima melanggar ciri spesifik. Kalimat pertama bisa terdiri dua kalimat. Selain itu, maknanya mudah diketahui. Kalimat tersebut menjadi sebagai berikut: Mahkamah Konstitusi tidak mengutak-atik masalah suara sah di Pasal 176 UU Pemilu. Sehingga suara yang diberikan pemilih dengan mencoblos tanda gambar partai tetap sah, ujar Hafiz. Tapi parliamentary threshold PT dan penentuan kursi bagi partai yang lolos PT.” suara itu tak berfungsi menentukan calon terpilih. “Hanya berfungsi menentukan lolos tidaknya partai politik dari parliamentary threshold PT dan penentuan kursi bagi partai yang lolos PT.” 6 Mantan Ketua Panitia Khusus RUU Pemilu, Ferry Mursyidan Baldan, juga mengatakan suara pemilih yang mencoblos tanda gambar, “Dihitung sebagai suara untuk partai, bukan caleg.” Paragraf enam sebenarnya tidak ada masalah dengan ciri bahasa jurnalistik. Tetapi ada kesalahan yang sangat mendasar yaitu setelah tanda baca koma , dimulai dengan huruf kapital. 7 Suara pemilih yang mencoblos tanda gambar ini, kata Ferry, nantinya akan digabung dengan suara yang mencoblos tanda gambar caleg, sehingga menjadi perolehan suara partai. “Itu ditotal semua dan menjadi suara parpol untuk acuan Paragraf tujuh melanggar ciri spesifik dan tidak mubazir. Buktinya ialah kalimat pertama bisa terdiri dua kalimat, sehingga kalimat tidak terlalu panjang. Kata ini dan nantinya dihilangkan sebab tanpa kehadiran kata tersebut tidak merubah maksudmakna kalimat. Sehingga kalimat tersebut seperti perolehan suara parpol. berikut: Suara pemilih yang mencoblos tanda gambar, akan digabung dengan suara yang mencoblos tanda gambar caleg. Sehingga menjadi perolehan suara partai, kata Ferry. “Itu ditotal semua dan menjadi suara parpol untuk acuan perolehan suara parpol.” 8 Tapi, pakar hukum tata negara, Saldi Isra, tetap meminta ketegasan suara yang diberikan dengan mencoblos tanda gambar partai tidak difungsikan untuk menentukan caleg terpilih. Paragraf delapan melanggar ciri tidak mubazir. Pembuktiannya ialah pada kata untuk, seharusnya kata tersebut ditulis dihilangkan saja. Sehingga kalimat tersebut menjadi: Tapi, pakar hukum tata negara, Saldi Isra, tetap meminta ketegasan suara yang diberikan dengan mencoblos tanda gambar partai tidak difungsikan menentukan caleg terpilih. 9 Hadar juga meminta KPU mengunci Pasal 218 UU No Kalimat di samping melanggar ciri tidak mubazir. Pembuktiannya 102008 agar tidak dijadikan celah untuk menentukan caleg dengan nomor urut. ialah kata untuk merupakan kata mubazir. Kalimat disamping cukup ditulis sebagai berikut: Hadar juga meminta KPU mengunci Pasal 218 UU No 102008 agar tidak dijadikan celah menentukan caleg dengan nomor urut. 10 Tapi, setelah pembatalan Pasal 214 tentang penentuan calon terpilih, Pasal 218 itu diduga akan berbalik untuk menentukan caleg dengan nomor urut. Kalimat di samping melanggar ciri tidak mubazir. Pembuktiannya ialah kata untuk merupakan kata mubazir. Kalimat disamping cukup ditulis sebagai berikut: Tapi, setelah pembatalan Pasal 214 tentang penentuan calon terpilih, Pasal 218 itu diduga akan berbalik menentukan caleg dengan nomor urut. 11 Salah satu cara KPU menguncinya, kata Hadar, adalah dengan mempertegas bahwa pengganti caleg yang mengundurkan diri adalah Paragraf sebelas melanggar dua ciri ekonomi kata dan dua ciri tidak mubazir. Paragraf tersebut terdapat dua kesalahan. Pertama kata adalah diganti saja dengan caleg daerah pemilihan yang sama, tapi memperoleh suara terbanyak berikutnya. Dengan begitu, kata Hadar, jika ada parpol yang ingin menarik calegnya yang mendapat suara terbanyak, KPU perlu mengecek apa betul mengundurkan diri. kata ialah. Selain itu penggunaan kata adalah tidak tepat karena kata tersebut dipakai untuk menguraikan definisi. Kedua ialah pada kalimat kedua kata kata Hadar dihilangkan saja dan diganti dengan ujarnya . Alasannya karena bahasa pers sebisa mungkin menggunakan kata yang sedikit hurufnya. Dalam berita utama berjudul KPU Siapkan Aturan Main Pengguanaan kata kata Hadar misalnya pada setiap kalimat kutipan membuat jenuh atau disebut dengan tiring words. Kata tersebut ditempatkan pada akhir kalimat Sehingga kalimat tersebut menjadi sebagai berikut: Dengan begitu, jika ada parpol yang ingin menarik calegnya yang mendapat suara terbanyak, KPU perlu mengecek apa betul mengundurkan diri, ujarnya. Bukti melanggar ciri mubazir ialah kata dengan dan bahwa pada kalimat pertama dihilangkan saja. Kalimat pertama menjadi sederhana tanpa adanya kata tersebut. Bunyi kalimatnya ialah sebagai berikut: Salah satu cara KPU menguncinya, kata Hadar, ialah mempertegas pengganti caleg yang mengundurkan diri ialah caleg daerah pemilihan yang sama, tapi memperoleh suara terbanyak berikutnya. 12 Saldi Isra meminta KPU membuat aturan agar partai tidak bisa memaksa caleg peraih suara terbanyak mengundurkan diri. Paragraf dua belas tidak ada masalah. Pembuktiannya ialah kalimat tidak tersaji dalam kalimat yang panjang. Kalimat tersebut terdiri kurang dari 20 kata. Tabel 8. Ketidaksesuaian berita utama 26 Desember 2008 dengan ciri bahasa jurnalistik No. Ciri-ciri Bahasa Jurnalistik Frekuensi 1 Komunikatif - 2 Spesifik 3 3 Hemat Kata 3 4 Jelas Makna - 5 Tidak Mubazir dan Tidak Klise 6 Dalam berita utama tanggal 26 Desember 2008. Ciri tidak mubazir dan tidak klise merupakan yang sering dilanggar. Buktinya ialah dari 22 kalimat yang diteliti, terdapat enam kalimat yang melanggar ciri bahasa jurnalistik tidak mubazir dan tidak klise. Masing-masing tiga kalimat yang melanggar ciri bahasa jurnalistik spesifik dan hemat kata. Hasil pembahasan dan penelitian yang pertama ialah mengupas penggunaan bahasa dalam berita surat kabar Republika. Kemudian meneliti teks berita utama tanggal 1, 9, 17 dan 26 Desember 2008. Hasil penelitian dibahas dalam tabel masing-masing berita. Penelitian selanjutnya ialah menghitung semua kalimat berita utama tersebut dengan ciri bahasa jurnalistik yang dikemukakan oleh Kunjana Rahardi. Maksudnya ialah untuk mengetahui ciri bahasa jurnalistik yang sering dilanggar. Untuk mengetahui sesuai atau tidak sesuai kalimat dengan ciri bahasa jurnalistik, peneliti akan sajikan dalam bentuk tabel. Tabel tersebut sebagai berikut: Tabel 9. Ketidaksesuaian berita utama tanggal 1, 9, 17 dan 22 Desember 2008 dengan ciri bahasa jurnalistik No. Ciri-ciri Bahasa Jurnalistik Frekuensi 1 Komunikatif - 2 Spesifik 4 3 Hemat Kata 8 4 Jelas Makna 1 5 Tidak Mubazir dan Tidak Klise 22 Dalam berita utama tanggal 1, 9, 17, dan 26 Desember 2008, ciri tidak mubazir dan tidak klise merupakan yang sering dilanggar. Buktinya ialah dari 124 kalimat yang diteliti, terdapat 22 kalimat yang melanggar ciri bahasa jurnalistik tidak mubazir dan tidak klise. empat kalimat yang melanggar ciri bahasa jurnalistik spesifik. Delapan kalimat melanggar hemat kata dan satu kalimat melanggar jelas makna.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Dokumen yang terkait

Analisis penerapan bahasa jurnalistik berita utama surat kabar Empat Lawang Express edisi Desember 2010

4 24 97

Profil Foto Berita Dalam Surat Kabar Republika Edisi Tahun 2004

0 7 253

Penerapan bahasa jurnalistik pada Bberita utama“Straight News” di surat kabar “Radar Bekasi” edisi 1-5 Oktober 2012

0 8 103

ANALISIS EUFEMISME PADA BERITA UTAMA SURAT KABAR SOLOPOS EDISI BULAN JANUARI 2015 Analisis Eufemisme Pada Berita Utama Surat Kabar Solopos Edisi Bulan Januari 2015.

1 3 14

ANALISIS EUFEMISME PADA BERITA UTAMA SURAT KABAR Analisis Eufemisme Pada Berita Utama Surat Kabar Solopos Edisi Bulan Januari 2015.

0 3 12

ANALISIS MAKNA BAHASA SAPAAN DALAM WACANA BERITA OLAHRAGA PADA SURAT KABAR SOLOPOS EDISI OKTOBER-DESEMBER 2014 Analisis Makna Bahasa Sapaan Dalam Wacana Berita Olahraga Pada Surat Kabar Solopos Edisi Oktober-Desember 2014.

0 3 15

ANALISIS MAKNA BAHASA SAPAAN DALAM WACANA BERITA OLAHRAGA DI SURAT KABAR SOLOPOS EDISI OKTOBER-DESEMBER 2014 Analisis Makna Bahasa Sapaan Dalam Wacana Berita Olahraga Pada Surat Kabar Solopos Edisi Oktober-Desember 2014.

0 3 14

ANALISIS KATEGORIAL CAMPUR KODE PADA JUDUL BERITA SURAT KABAR HARIAN SOLOPOS EDISI DESEMBER 2012 Analisis Kategorial Campur Kode Pada Judul Berita Surat Kabar Harian SOLOPOS Edisi Desember 2012.

0 5 14

BERITA UTAMA DI SURAT KABAR Studi Analisis Isi Tentang Tema- Tema Berita Utama di Harian Jawa Pos Dan Harian Republika Periode Mei 2008 - Oktober 2008).

0 1 9

BERITA UTAMA DI SURAT KABAR ( Studi Analisis Isi Tentang Tema- Tema Berita Utama di Harian Jawa Pos Dan Harian Republika Periode Mei 2008 - Oktober 2008).

0 0 10