Pertumbuhan Anak Domba dari Induk yang dicekok Jamu Veteriner Selama Periode Kebuntingan.

ABSTRAK
LEO SEPALENI SOINBALA. Pertumbuhan Anak Domba dari Induk yang
Dicekok Jamu Veteriner Selama Periode Kebuntingan. Dibimbing oleh WASMEN
MANALU dan ANDRIYANTO
Sembilan ekor domba betina dengan bobot badan berkisar antara 17-25 kg
digunakan untuk mengetahui pengaruh pencekokan jamu veteriner pada induk domba
selama periode kebuntingan terhadap pertumbuhan anaknya. Induk domba
dialokasikan sesuai rancangan acak kelompok ke dalam 3 kelompok, masing-masing
kelompok terdiri dari 3 ekor domba. Kelompok pertama adalah kelompok kontrol,
tanpa perlakuan. Kelompok kedua diberi jamu veteriner dosis 15 mL/ekor. Sementara
itu, kelompok ketiga diberi jamu veteriner dosis 30 mL/ekor. Sinkronisasi siklus
estrus dilakukan dengan penyuntikan PGF2 alpha dosis 7,5 mg/ekor sebanyak 2 kali
dengan interval waktu 11 hari. Perkawinan induk domba dilakukan sekitar 24-36 jam
setelah penyuntikan. Variabel yang diamati adalah bobot lahir dan pertambahan bobot
badan anak domba. Hasil pengamatan menunjukan bahwa perlakuan pencekokan
jamu veteriner pada induk domba selama periode kebuntingan mampu meningkatkan
bobot lahir, rasio anak per induk, dan pertambahan bobot badan hingga mencapai
masa sapih.
Kata kunci: domba betina, jamu veteriner, bobot badan, anak domba.

ABSTRACT
LEO SEPALENI SOINBALA. Growth Performances of Lambs Borned to Ewes
Treated with Jamu Veteriner during Pregnancy. Superviced by WASMEN
MANALU and ANDRIYANTO
Nine ewes (body weight ranging from 17 to 25 kg) were used to study the
effect of jamu veteriner administration during pregnancy on the lamb growth. The
experimental ewes were assigned into a randomized design with 3 treatments with 3
ewes per treatment. The first group was control, without jamu veteriner. The second
group was treated with 15 mL/ewes of jamu veteriner. Meanwhile, the third group
was treated with 30 mL/ewes of jamu veteriner. Estrous cycle of does were
synchronized by injection of PGF2α at dosage of 7,5 mg/ewes twice with 11 days
interval. The estrous-experimental ewes were mated naturally at 24 to 36 hour after
the second injection of PGF2α. Parameters measured were lambs birth weight and
preweaning growth. The result showed that administration of jamu veteriner during
pregnancy increased lambs birth weight, lamb ratio per ewes, and preweaning
growth.
Keywords: ewes, jamu veteriner, body weight, lambs.

PERTUMBUHAN ANAK DOMBA DARI INDUK YANG
DICEKOK JAMU VETERINER SELAMA PERIODE
KEBUNTINGAN

LEO SEPALENI SOINBALA

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER
INFORMASI
Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi yang berjudul: Gambaran pertumbuhan
anak domba dari induk yang dicekok jamu veteriner selama periode kebuntingan
adalah benar-benar hasil karya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apapun
kepada perguruan tinggi manapun. Semua sumber data dan informasi yang berasal
atau dikutip dari karya-karya yang diterbitkan maupun yang tidak diterbitkan dari
penulis lain telah disebutkan dalam teks dan tercantum dalam Daftar Pustaka di
bagian akhir skripsi ini.

Bogor, Juli 2012

Leo Sepaleni Soinbala
NIM B04080013

ABSTRAK
LEO SEPALENI SOINBALA. Pertumbuhan Anak Domba dari Induk yang
Dicekok Jamu Veteriner Selama Periode Kebuntingan. Dibimbing oleh WASMEN
MANALU dan ANDRIYANTO
Sembilan ekor domba betina dengan bobot badan berkisar antara 17-25 kg
digunakan untuk mengetahui pengaruh pencekokan jamu veteriner pada induk domba
selama periode kebuntingan terhadap pertumbuhan anaknya. Induk domba
dialokasikan sesuai rancangan acak kelompok ke dalam 3 kelompok, masing-masing
kelompok terdiri dari 3 ekor domba. Kelompok pertama adalah kelompok kontrol,
tanpa perlakuan. Kelompok kedua diberi jamu veteriner dosis 15 mL/ekor. Sementara
itu, kelompok ketiga diberi jamu veteriner dosis 30 mL/ekor. Sinkronisasi siklus
estrus dilakukan dengan penyuntikan PGF2 alpha dosis 7,5 mg/ekor sebanyak 2 kali
dengan interval waktu 11 hari. Perkawinan induk domba dilakukan sekitar 24-36 jam
setelah penyuntikan. Variabel yang diamati adalah bobot lahir dan pertambahan bobot
badan anak domba. Hasil pengamatan menunjukan bahwa perlakuan pencekokan
jamu veteriner pada induk domba selama periode kebuntingan mampu meningkatkan
bobot lahir, rasio anak per induk, dan pertambahan bobot badan hingga mencapai
masa sapih.
Kata kunci: domba betina, jamu veteriner, bobot badan, anak domba.

ABSTRACT
LEO SEPALENI SOINBALA. Growth Performances of Lambs Borned to Ewes
Treated with Jamu Veteriner during Pregnancy. Superviced by WASMEN
MANALU and ANDRIYANTO
Nine ewes (body weight ranging from 17 to 25 kg) were used to study the
effect of jamu veteriner administration during pregnancy on the lamb growth. The
experimental ewes were assigned into a randomized design with 3 treatments with 3
ewes per treatment. The first group was control, without jamu veteriner. The second
group was treated with 15 mL/ewes of jamu veteriner. Meanwhile, the third group
was treated with 30 mL/ewes of jamu veteriner. Estrous cycle of does were
synchronized by injection of PGF2α at dosage of 7,5 mg/ewes twice with 11 days
interval. The estrous-experimental ewes were mated naturally at 24 to 36 hour after
the second injection of PGF2α. Parameters measured were lambs birth weight and
preweaning growth. The result showed that administration of jamu veteriner during
pregnancy increased lambs birth weight, lamb ratio per ewes, and preweaning
growth.
Keywords: ewes, jamu veteriner, body weight, lambs.

RIWAYAT HIDUP
Penulis lahir di Timor-NTT, 1 September 1990, dari pasangan Th. Soinbala,
BA dan Hagar Bulan. Penulis merupakan anak ke- 5 dari 6 orang bersaudara. Penulis
melaksanakan pendidikan sekolah dasar di SD Inpers Oenasi di kota Soe, Nusa
Tenggara Timur pada tahun 1996. Pada tahun 2002 penulis melanjutkan sekolah di
SMP N 1 Soe hingga tahun 2005. Tahun 2005 penulis melanjutkan sekolah di SMA
N 1 Soe hingga lulus tahun 2008. Pada tahun yang sama penulis masuk Institut
Pertanian Bogor (IPB) melalui jalur Undangan Seleksi Masuk (USMI) IPB. Penulis
memilih Program Studi Kedokteran Hewan sebagai pilihan pertama. Selama
perkuliahan di Fakultas Kedokteran Hewan penulis mengikuti organisasi Himpunan
Minat dan Profesi Ruminansia. Selain itu, penulis juga tercatat sebagai anggota
Persekutuan Mahasiswa Kristen (PMK) IPB dan Organisasi Mahasiswa Daerah
(OMDA) Keluarga Mahasiswa NTT (Gamanusratim).

PRAKATA
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat TUHAN karena atas limpahan
hikmat dan pengertianNya sehingga skripsi ini dapat selesai dan dipergunakan
sebagai salah satu prasyarat untuk mendapatkan gelar Sarjana Kedokteran Hewan
pada Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
dalam penyelesaian skripsi ini:
1. Penulis mengucapkan terima kasih kepada Prof. Dr. Ir. Wasmen Manalu dan
Drh. Andryanto M.Si, selaku dosen pembimbing yang selalu memberikan
bimbingan, saran, kritik, dan arahan selama berlangsungnya penelitian hingga
penyelesaian skripsi ini. Tidak lupa penulis ucapkan terima kasih juga kepada
Bu Sri, Bu Ida, Bu Anti, Pak Bondan dan Pak Edi atas bantuannya.
2. Terima kasih penulis sampaikan kepada Dr. drh. H. Akhmad Arif Amin
selaku dosen pembimbing akademik yang selalu memberikan bimbingan dan
nasihat selama penulis berada di FKH.
3. Terima kasih penulis sampaikan kepada kedua orang tua (Th. Soinbala dan H
Bulan), semua saudara (Ester, Maria, Deici, Santi, Maya, Jefry, Yanto, Rizet,
Dethan, dan Christian), keluarga To’o Abe Tuulima, keluarga Bu’ Yafet
Wohangara, serta keluarga Bapak Obaja Soinbala yang senantiasa mendoakan
dan memberikan dukungan.
4. Terima kasih kepada teman-teman sepenelitian (Yudi, Miftah, Mitha, Nila,
Vivin, Jasmine, dan Rika) atas bantuan dan kerjasamanya. Penulis juga
mengucapkan terima kasih kepada Geng balak Enam (Arif, Matho, Meichris,
Olavio, Gregor, Mathias, Andrew, Priskilla, Jefri), teman-teman Omda
Gamanusratim, semua teman Avenzoar 45 yang selalu memberikan motivasi
kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini, dan pihak-pihak lain yang
tidak dapat disebutkan satu per satu.
Penulis menyadari masih terdapat kekurangan dalam penulisan skripsi ini
sehingga masih membutuhkan saran dan kritik dari berbagai pihak. Akhir kata,

semoga skripsi ini dapat bermanfaat untuk kemajuan ilmu pengetahuan dan
teknologi.

Bogor, Juli 2012

Penulis

© Hak Cipta milik IPB, tahun 2012
Hak Cipta dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau
menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan,
penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau
tinjauan suatu masalah, dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang
wajar IPB
Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis
dalam bentuk apa pun tanpa izin IPB

PERTUMBUHAN ANAK DOMBA DARI INDUK YANG
DICEKOK JAMU VETERINER SELAMA PERIODE
KEBUNTINGAN

LEO SEPALENI SOINBALA

Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Kedokteran Hewan pada
Fakultas Kedokteran Hewan
Institut Pertanian Bogor

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
BOGOR
2012

Judul Skripsi

:

Nama
NRP

:
:

Pertumbuhan Anak Domba dari Induk yang dicekok Jamu
Veteriner Selama Periode Kebuntingan.
Leo Sepaleni Soinbala
B04080013

Disetujui,
Pembimbing 1

Pembimbing 2

Prof. Dr. Ir. Wasmen Manalu
NIP. 19571220 198312 1 001

drh. Andriyanto, M.Si
NIP. 19820104 2006040 1 006

Mengetahui,
Wakil Dekan Fakultas Kedokteran Hewan
Institut Pertanian Bogor

drh. H. Agus Setiyono, MS, Ph.D, APVet
NIP. 19630810 198803 1 004

Tanggal lulus:

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR GAMBAR ……………………………………………………..

xi

DAFTAR LAMPIRAN …………………………………………………..

xii

I. PENDAHULUAN ……………………………………………………...

1

1.1. Latar Belakang ……………………………………………………..

1

1.2. Tujuan Penelitian …………………………………………………..

2

1.3. Manfaat Penelitian ………………………………………………....

2

II. TINJAUAN PUSTAKA ………………………………………………

3

2.1. Domba ……………………………………………………………..

3

2.2. Jamu Veteriner ……………………………………………………..

5

2.2.1. Lempuyang …………………………………………………….

5

2.2.2. Sambiloto (Andrographis paniculata Nees) …………………...

6

2.2.3. Kayu Manis (Cinnamomum burmannii) ……………………….

8

2.2.4. Jahe (Zingiber officinale R.) …………………………………...

9

2.2.5. Merica (Piper nigrum L.) ………………………………………

10

III. BAHAN DAN METODELOGI ………………………………………

12

3.1. Waktu dan Tempat …………………………………………………

12

3.2. Alat dan Bahan ……………………………………………………..

12

3.3. Kandang, Pakan, dan Minum ………………………………………

12

3.4. Rancangan Percobaan ……………………………………………...

12

3.5. Tahap Perlakuan ……………………………………………………

13

3.6. Pengukuran Bobot Badan Anak Domba……………………………

13

3.7. Metode Analisis Data ………………………………………………

13

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ……………………………………....

14

V. PENUTUP ……………………………………………………………..

20

5.1. Kesimpulan ………………………………………………………....

20

5.2. Saran ………………………………………………………………...

20

VI. DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………...

21

xi

DAFTAR GAMBAR
Halaman
1. Sambiloto (Andrographis paniculata Nees)………………………..

6

2. Senyawa kimia Sambiloto (Andrographis paniculata Nees)……….

7

3. Tanaman Kayu Manis (Cinnamomum burmannii)…………………

8

4. Jahe (Zingiber officinale)…………………………………………...

9

5. Merica (Piper nigrum L.) ………………………………………….. 10
6. Rataan bobot lahir dan bobot badan anak pada bulan ke-1 sampai
ke-3pada kelompok domba kontrol ( ) , pemberian formula jamu
veteriner Dosis 15 mL (■), dan pemberian formula jamu veteriner
Dosis 30 mL (▲).……………………..............................................

16

xii

DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
Lampiran 1. Analisis bulan ke-0 ………………………………………..

25

Lampiran 2. Analisis bulan ke-1 ………………………………………..

27

Lampiran 3. Analisis bulan ke-2 ……………………………………......

29

Lampiran 4. Analisis bulan ke-3 ……………………………………......

31

Lampiran 5. Analisis rasio anak per induk pada awal kelahiran ……….. 33
Lampiran 6. Analisis rasio anak yang disapih per induk ……………….

35

Lampiran 7. Data Rataan Bobot Badan Anak Domba ………………….

37

Lampiran 8. Data Rataan Bobot Badan Induk Domba Sebelum Partus...

37

1

BAB
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Pertumbuhan penduduk Indonesia mengalami peningkatan dari tahun ke
tahun. Laju pertumbuhan penduduk Indonesia adalah sebesar 1,49% per tahun (BPS
2010). Pertumbuhan penduduk yang cepat menyebabkan terjadinya peningkatan
komsumsi protein hewani. Salah satu sumber protein hewani dengan jumlah
permintaan yang tinggi ialah daging domba. Penyebab tingginya permintaan daging
domba adalah harga daging domba relatif lebih terjangkau oleh masyarakat. Selain
itu, secara fisik daging domba memiliki sebaran lemak (marbling) yang merata,
sehingga lebih disukai masyarakat (Munier 2008). Tingginya tingkat permintaan
daging domba tersebut, ternyata tidak disertai peningkatan populasi ternak domba.
Akibatnya, permintaan daging domba tidak tercukupi. Solusi untuk mengatasi
permasalahan tersebut adalah melalui pengembangan sistem peternakan ke arah
peningkatan produktivitas ternak. Ternak diharapkan mudah dalam pemeliharaannya
dan dapat bereproduksi dengan cepat (Adriani et al. 2004).
Peningkatan produktivitas ternak dapat dicapai melalui pemberian obat-obatan
tradisional. Pengetahuan mengenai penggunaan obat-obatan tradisional ini didapatkan
berdasarkan pengalaman dan ketrampilan yang diturunkan secara turun-temurun antar
generasi (Sari 2006). Obat-obatan tradisional yang digunakan untuk hewan dikenal
dengan nama jamu hewan. Penggunaanya lebih banyak diterapkan oleh peternak
skala kecil karena bahan obat-obatan pabrik yang mahal sehingga sering tidak
terjangkau (Zainuddin 2006).
Beberapa tanaman yang sering digunakan oleh peternak untuk memacu
produktivitas ternak, antara lain: lempuyang (zingiber), sambiloto (Andrographis
panniculata), kayu manis (cinnamomum burmannii), jahe (Zingiber officinale), dan
merica (Piper nigrum). Khasiat tanaman-tanaman tersebut banyak dan beragam.
Lempuyang dipercaya berkhasiat sebagai penambah nafsu makan, obat asma,
cacingan, anemia, sembelit, malaria, dan TBC (Hariana 2007; Sari 2006). Sambiloto

2

dipercaya dapat meningkatkan nafsu makan, mengobati demam, disentri, dan sebagai
imunomodulator (Setyawati 2009). Kayu manis dipercaya dapat mengobati asam urat
(gout arthritis), keropos tulang, hernia, dan muntah-muntah (Hariana 2007). Jahe
dipercaya dapat meningkatkan nafsu makan, mengobati rematik, luka, pilek, encok,
dan pegal linu (Muhlisah 1999; Widiarti 2010). Sementara itu, merica dipercaya
sebagai obat demam, rematik, impotensi, sakit lambung, hernia, frigiditas, muntah,
panas dalam, perut kembung, asam urat, sakit perut, dan sakit kepala (Hariana 2007).
Kombinasi dari tanaman-tanaman tersebut diatas akan menghasilkan ramuan
jamu veteriner yang dapat digunakan memacu produktivitas ternak. Harapannya,
pemberian sediaan yang berasal dari kekayaan budaya lokal bangsa Indonesia ini,
dapat memacu pertumbuhan fetus yang diukur dari pertambahan bobot anak domba.
1.2. Tujuan
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pertumbuhan anak
domba dari induk yang dicekok jamu veteriner selama periode kebuntingan. Selain
itu, penelitian ini juga bertujuan untuk memberikan informasi ilmiah mengenai
penggunaan jamu veteriner sebagai pemacu produktivitas ternak.
1.3. Manfaat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan solusi alternatif bagi
peternak untuk menggunakan bahan obat-obatan tradisional dalam meningkatkan
pertumbuhan domba, sehingga pada masa yang akan datang dapat bermanfaat dalam
meningkatkan produksi daging domba lokal. Harapannya produktivitas ternak yang
meningkat akan memberikan sumbangsih berarti bagi pemenuhan kebutuhan protein
hewani masyarakat.

3

BAB
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Domba
Domba merupakan salah satu hewan ternak yang banyak dikembangkan oleh
masyarakat. Pemeliharaannya relatif mudah dan tidak membutuhkan banyak tenaga,
sehingga ternak domba diusahakan sebagai sambilan. Domba juga memiliki daya
adaptasi yang baik terhadap bermacam-macam hijauan pakan dan berbagai kondisi
lingkungan (Mulyono 2003). Daging domba tidak berbau dan sebaran lemaknya
(Marbling) merata membuat daging ini disukai oleh masyarakat (Munier 2008).
Perkembangan bangsa domba di dunia, awalnya berasal dari empat spesies
domba liar. Spesies-spesies tersebut, ialah: domba moufflon (Ovis musimon) di Eropa
dan Asia Barat, domba Urial (Ovis orientalis; Ovis vignei) di Afganistan hingga Asia
Barat, domba Argali (Ovis ammon) di Asia Tengah, dan domba bighorn (Ovis
canadensis) di Asia Utara dan Amerika Utara. Domba yang ada di Indonesia
diperkirakan berasal dari Asia Barat dan India (Williamson dan Payne 1993). Jenis
domba yang diternakan di Indonesia, kemudian dikenal dengan istilah domba lokal.
Pada awalnya, jenis domba di Indonesia adalah domba Javanese-Thin-Tailed yang
terdapat di Jawa Barat dan East-Java-Fat-Tailed yang terdapat di Jawa Timur dan
Jawa Tengah. Selanjutnya, kedua tipe domba lokal tersebut menyebar hampir ke
seluruh wilayah Indonesia. Proses persilangan dan adaptasi terhadap lingkungan
kemudian memunculkan jenis domba baru, yaitu domba priangan atau domba garut
dan domba kisar. Domba garut merupakan hasil persilangan domba lokal dengan
domba Merino dan Kaapstad (Duldjaman et al. 2006). Sedangkan domba kisar
diduga merupakan hasil proses adaptasi domba ekor gemuk terhadap lingkungan di
Maluku (Salamena 2006).
Domba ekor tipis atau Javanese-Thin-Tailed merupakan domba asli Indonesia
dengan populasi terbesar berada di pulau Jawa. Populasi yang terpusat di Jawa
membuat domba ini dikenal juga dengan nama domba jawa atau domba kacang.
Nama domba ekor tipis mengacu pada ciri fisik ekor domba, yaitu kecil dan tipis. Ciri

4

lain dari domba ekor tipis adalah rambut domba yang umunya berwarna putih,
kadang-kadang diselingi warna lain, seperti belang hitam atau cokelat. Domba betina
umumnya tidak bertanduk, sedangkan domba jantan bertanduk kecil dan bentuknya
melingkar. Bobot badan domba jantan dewasa berkisar 30 sampai dengan 40 kg,
sedangkan bobot domba betina berkisar 15 sampai dengan 20 kg. Selain domba ekor
tipis, domba lainnya yang banyak diternakan di Indonesia adalah domba ekor gemuk
atau East-Java-Fat-Tailed. Sama seperti domba ekor tipis, ciri fisik utama dari
domba ekor gemuk terletak pada ekornya. Ekor domba ini berbentuk panjang, lebar,
tebal, besar, dan makin mengecil pada bagian ujung. Bentuk tersebut dikarenakan
adanya timbunan lemak, yang berfungsi sebagai cadangan energi domba. Ciri lainnya
adalah warna rambut domba yang umumnya putih dan tidak mempunyai tanduk, baik
itu domba jantan maupun domba betina. Bobot badan domba jantan berkisar antara
50-70 kg, sedangkan domba betina berkisar antara 25-40 kg.
Persilangan domba lokal dengan domba luar menghasilkan jenis domba lain,
yaitu domba priangan. Domba ini berasal dari Kabupaten Garut, Jawa Barat sehingga
dikenal juga dengan nama domba garut. Ciri fisik domba garut lebih besar
dibandingkan domba ekor tipis dan domba ekor gemuk. Bobot badan domba jantan
dewasa dapat mencapai 60-80 kg, sedangkan domba betina berkisar 30-40 kg. Ciri
lainnya adalah daun telinga yang relatif kecil dan tanduk berukuran besar, yang hanya
tumbuh pada domba jantan. Jenis domba luar yang dikembangkan di Indonesia,
antara lain: domba merino, domba suffolk, dan domba dorset. Domba merino
merupakan penghasil wol, dengan obot badan jantan dewasa berkisar antara 64-79 kg
dan domba betina antara 45-75 kg. Domba suffolk merupakan domba pedaging,
dengan bobot badan jantan mencapai 135-200 kg dan betina 100-150 kg. Sayangnya,
bobot badan domba ini jika dikembangkan di Indonesia hanya dapat mencapai 60-80
kg. Berbeda dengan domba merino dan domba suffolk, domba dorset dapat
dimanfaatkan sebagai penghasil wol maupun penghasil daging. Bobot badan domba
jantan mencapai 100-125 kg dan domba betina 70-90 kg (Mulyono 2003).

5

2.2. Jamu Veteriner
Indonesia merupakan negara yang kaya akan bermacam-macam tanaman obat
tradisional. Penggunaan obat-obatan tradisional untuk menyembuhkan penyakit
ataupun sebagai suplemen telah dilakukan sejak lama. Pengalaman empiris
masyarakat tentang khasiat obat-obatan tradisional kemudian diturunkan dari satu
generasi ke generasi berikutnya. Hal ini membuat penggunaan obat-obatan ini tetap
bertahan hingga sekarang. Beberapa tumbuhan yang diketahui mempunyai khasiat
sebagai sumber obat-obatan tradisional antara lain: lempuyang (zingiber), sambiloto
(Andrographis paniculata), kayu manis (Cinnamomum burmannii), jahe (Zingiber
officinale), dan merica (Piper nigrum). Kombinasi dari tumbuhan-tumbuhan ini akan
menghasilkan ramuan jamu veteriner yang dapat digunakan sebagai suplemen pada
ternak.
2.2.1. Lempuyang
Klasifikasi tanaman lempuyang ialah lempuyang berasal dari super divisi
Spermatophyta, divisi Magnoliophyta, kelas Liliopsida, sub kelas Commelinidae,
ordo Zingiberales, famili Zingiberaceae, genus Zingiber, dan terdiri dari 3 spesies,
yaitu: Zingiber aromaticum Val., Zingiber americans, dan Zingiber zerumbet Smith.
Tanaman ini merupakan tumbuhan tahunan yang tumbuh liar pada tempat dengan
ketinggian 0-1.200 m dpl. Tanaman yang dapat mencapai ketinggian 1,75 m ini,
terdiri atas rimpang, batang, daun, dan bunga. Rimpang lempuyang berukuran besar
dan berwarna kuning pucat. Batangnya merupakan batang semu yang terdiri atas
helaian daun yang berbentuk bulat memanjang dengan ujung meruncing. Sementara
itu, bunga lempuyang muncul dari umbi batang dan berbonggol di bagian atas
(Muhlisah 1999).
Lempuyang terdiri dari tiga spesies yang sulit dibedakan satu dengan yang
lainnya. Pertama, Lempuyang emprit (Zingiber amaricans). Ciri spesies ini adalah
berasa pahit, pedas, dan baunnya tidak tajam. Lempunyang emprit mengandung
minyak atsiri, diantaranya limonen dan zerumbon. Khasiat utamanya adalah sebagai
penambah nafsu makan, mengatasi alergi, cacingan, disentri, darah kotor, influenza,

6

kolera, nyeri lambung, rematik, dan migren. Kedua, lempuyang gajah (Zingiber
zerumbet). Cirinya adalah rasa pedas, tajam, dan bersifat hangat. Kandungan zat dan
khasiat lempuyang gajah sama dengan lempuyang emprit (Zingiber amaricans).
Perbedaan keduanya adalah lempuyang gajah (Zingiber zerumbet) memiliki bentuk
yang relatif lebih besar. Ketiga, lempuyang wangi (Zingiber aromaticum). Sifat dari
Lempuyang wangi adalah berasa pahit, pedas, dan aromatik. Kandungan zat
kimiawinya sama dengan dua spesies lainnya. Perbedaan dengan spesies lempuyang
lainnya adalah lempuyang wangi berwarna putih dan berbau wangi. Khasiat
lempuyang wangi, antara lain sebagai analgesik, penambah nafsu makan, mengobati
asma, cacingan, anemia, sembelit, TBC, maupun malaria (Hariana 2007; Sari 2006).
2.2.2. Sambiloto (Andrographis paniculata Nees)
Klasifikasi tanaman sambiloto ialah sambiloto berasal dari super divisi
Spermatophyta, divisi Magnoliophyta, kelas Magnoliopsida, sub kelas Asteridae,
ordo Scrophulariales, famili Acanthaceae, genus Andrographis, dan spesies
Andrographis paniculata Nees. Tanaman ini Sering ditemukan tumbuh pada dataran
rendah dengan ketinggian 100 m dpl. Tingginya berkisar antara 40-90 cm, berdaun
tunggal dengan panjang antara 2-8 cm dan lebar 1-3 cm. Buah sambiloto berbentuk
lonjong, panjangnya sekitar 1,5 cm dan lebarnya sekitar 0,5 cm. Ciri lain dari
sambiloto adalah rasanya yang pahit (Muhlisah 1999). Tanaman sambiloto disajikan
pada gambar 1.

Gambar 1. Sambiloto (Andrographis paniculata Nees)
(Sumber: http://www.plantamor.com/index.php?plant=96)

7

Sambiloto terbukti memiliki banyak khasiat, antara lain sebagai anti
inflamasi, analgesik, antipiretik, antidiabetes, dan antispermatogenik. Selain itu,
sambiloto juga dapat berguna untuk menurunkan tekanan darah, menurunkan
kontraksi usus, meningkatkan nafsu makan, mencegah kerusakan hati dan jantung,
serta sebagai imunomodulator. Penggunaan sambiloto sering diterapkan pada
penderita demam, disentri, radang paru-paru, dan penyakit-penyakit lainnya
(Setyawati 2009).
Khasiat yang beragam disebabkan oleh kandungan senyawa-senyawa kimia
dalam sambiloto. Zat aktif utama yang berkhasiat obat adalah andrografolid yang
kadarnya berkisar antara 2,5-4,6% dari berat kering. Kehadiran andrografolid
merupakan faktor utama yang menyebabkan rasa sambiloto menjadi pahit. Senyawa
lain yang terkandung dalam sambiloto adalah neo-andrografolid, panikulin, damar,
asam kersik dan mineral. Mineral utama yang terkandung adalah kalium dengan
kadar yang cukup tinggi, kalsium, dan natrium (Setyawati 2009). Senyawa kimia
yang terkandung dalam sambiloto disajikan pada gambar 2.

Gambar 2. Senyawa kimia Sambiloto (Andrographis paniculata Nees)
(Sumber: Tipakorn 2002)

8

2.2.3. Kayu Manis (Cinnamomum burmannii)
Kayu manis diklasifikasi berasal dari super divisi Spermatophyta, divisi
Magnoliophyta, kelas Magnoliopsida, sub kelas Magnoliidae, ordo Laurales, famili
Lauraceae, genus Cinnamomum, dan spesies Cinnamomum burmannii. Tanaman kayu
manis dapat tumbuh hingga ketinggian 2000 m dpl dan tingginya mencapai 15 m.
Secara morfologi, batang kayu manis berwarna hijau kecoklatan. Sementara itu, daun
kayu manis yang muda berwarna merah dan daun yang tua berwarna hijau. Mahkota
bunga berwarna kuning dan buahnya berwarna hijau saat muda, lalu menjadi hitam
saat tua (Syukur dan Hernani 2002). Tanaman kayu manis disajikan pada gambar 3.

Gambar 3. Tanaman Kayu Manis (Cinnamomum burmannii)
(Sumber: http://www.plantamor.com/index.php?plant=329)
Bagian kayu manis yang sering digunakan sebagai bahan obat-obatan adalah
bagian kulit batang. Bahan obat ini berbau aromatik, berasa pedas dan manis, berbau
wangi, dan bersifat hangat. Sifat-sifat tersebut ditimbulkan oleh zat-zat kimia yang
terkandung dalamnya. Kayu manis mengandung minyak atsiri hingga mencapai 4%
dengan muatan sinamilaldehida, eganol, tarpen, seskuiterpen, dan furfural. Selain itu,
terdapat juga kandungan zat penyamak 2%, pati 4%, kalsium oksalat 4%, dan lender
4%. Kandungan tersebut membuat kulit batang kayu manis dapat digunakan untuk
karminatifa, penghangat lambung, dan jika dikombinasikan dengan astringensia
efektif untuk mengobati diare (Kartasapoetra 2004). Meskipun demikian, ternyata
tidak hanya kulit pada bagian batang yang dapat digunakan sebagai bahan obat-

9

obatan. Menurut Hariana (2007) daun dan akar kayu manis juga dapat dimanfaatkan
sebagai bahan obat-obatan. Beberapa penyakit lainnya yang dapat diobati dengan
bagian-bagian tersebut, antara lain asam urat (gout arthiritis), keropos tulang, hernia,
dan muntah-muntah.
2.2.4. Jahe (Zingiber officinale R.)
Jahe

diklasifikasi

berasal

dari

super

divisi

Spermatophyta,

divisi

Magnoliophyta, kelas Liliopsida, sub kelas Commelinidae, ordo Zingiberales, famili
Zingiberaceae, genus Zingiber, spesies Zingiber officinale. Tanaman ini merupakan
tanaman herba tegak yang dapat berumur tahunan. Tanaman yang dapat mencapai
tinggi 0,4-1 m ini terdiri dari akar, batang, daun, dan bunga. Akar jahe berbentuk
rimpang dengan bau yang harum dan berasa pedas. Batang jahe berupa batang semu
yang tersusun dari helaian daun yang berbentuk langsing membulat dengan ujung
melancip. Sementara itu, bagian Bunga berbentuk kerucut kecil dengan bagian ujung
yang melancip (Muhlisah 1999). Tanaman jahe disajikan pada gambar 4.

Gambar 4. Jahe (Zingiber officinale)
(Sumber: http://www.plantamor.com/index.php?plant=1306)
Jahe berbau aromatik dan berasa pedas. Hal tersebut ditimbulkan oleh zat-zat
yang terkandung di dalam jahe. Kandungan zat kimia jahe terdiri atas minyak atsiri
0,5-5,6%, pati 20-60%, damar, asam-asam organik, oleoresin, dan gingerin.
Kandungan penyusun minyak atsiri adalah gingerol, zingibetol, zingiberin, borneol,
kamfen, sineol dan falandren (Kartasapoetra 2004). Kandungan zat-zat yang tersebut
membuat jahe dapat digunakan untuk mengobati rematik, luka, eksim, dan saraf

10

muka yang sakit (Muhlisah 1999). Selain itu, jahe juga dapat digunakan untuk
mengobati batuk pilek, encok, dan pegal linu (Widiarti 2010).
2.2.5. Merica (Piper nigrum L.)
Merica diklasifikasi berasal dari super divisi Spermatophyta, divisi
Magnoliophyta, kelas Magnoliopsida, sub kelas Magnoliidae, ordo Piperales, famili
Piperaceae, genus Piper, dan spesies Piper nigrum. Tanaman yang dikenal juga
dengan nama lada ini merupakan komoditas perkebunan yang telah lama
dibudidayakan di Indonesia. Daerah pertumbuhannya terutama di wilayah Sumatera,
Jawa, dan Ujung pandang. Merica telah lama digunakan oleh masyarakat sebagai
bahan obat-obatan. Bagian dari merica yang utamanya digunakan adalah buah yang
telah masak dan kering. Bentuknya bulat telur dengan ujung meruncing,
permukaannya

keriput,

dan

berwarna

cokelat

sampai

cokelat

kehitaman

(Kartasapoetra 2004). Tanaman merica disajikan pada gambar 5.

Gambar 5. Merica (Piper nigrum L.)
(Sumber: http://www.plantamor.com/index.php?plant=1011)
Merica mengandung zat berkhasiat yang menimbulkan rasa pedas, aromatik,
dan berbau khas. Zat-zat tersebut antara lain: alkaloid, protein, mineral, saponin,
flavonoid, minyak atsiri, kavisin, resin, amilum, dihidrokarveol, kanyo-filene oksida,
kriptone, tran pinocarrol, minyak lada, kamfena, boron, calamine, carvacrol
chavicine, bisabolene, camphene, β-caryophyllene, terpenes, dan sesquiterpenes. Hal

11

ini membuat merica digunakan sebagai obat demam, masuk angin, rematik,
impotensi, sakit lambung, hernia, frigiditas, muntah, panas dalam, perut kembung,
asam urat, sakit perut, dan sakit kepala (Hariana 2007).

12

BAB
BAHAN DAN METODELOGI
3.1. Waktu dan tempat
Kegiatan penelitian ini berlangsung selama 9 bulan dari bulan Mei 2011
hingga bulan Januari 2012. Pelaksanaan penelitian berlangsung di kandang
peternakan milik Mitra Maju yang beralamat di Jl. Manungal Baru No.1, desa
Tegalwaru, kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor.
3.2. Alat dan bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah peralatan USG, timbangan,
tambang, selotip, dan marker. Sementara itu, bahan-bahan yang digunakan adalah
domba betina berjumlah 9 ekor, jamu veteriner, hormon PGF2 alpha (dinoprost dan
tromethamin), vitamin B kompleks, anthelmintik, antibiotik dan selang penanda.
3.3. Kandang, Pakan, dan Minum
Kandang yang digunakan ialah kandang model panggung. Ketinggian
kandang kira-kira 50 cm. Desain ini dimaksudkan agar kebersihan kandang relatif
lebih terjaga, menekan pertumbuhan mikroorganisme, dan mengurangi paparan gas
amoniak. Selanjutnya, pakan diberikan 3 kali dalam sehari, yaitu hijauan pada pagi
dan siang hari, serta singkong pada siang hari. Air minum diberikan sacara ad
libitum.
3.4. Rancangan Percobaan
Penelitian ini menggunakan 9 ekor domba betina yang tidak bunting dengan
bobot badan berkisar antara 17-25 kg. Domba-domba tersebut diaklimatisasi selama 2
minggu dan diberikan anthelmintik, vitamin B kompleks, dan antibiotik. Hal ini
dilakukan untuk menghindari infeksi domba oleh parasit dan bakteri. Selanjutnya,
domba dikelompokan dalam 3 kelompok. Masing-masing kelompok terdiri atas 3
ekor domba. Kelompok pertama bertindak sebagai kontrol (tanpa perlakuan).
Kelompok kedua diberi formula jamu veteriner dosis 15 mL/ekor, dan kelompok
ketiga formula jamu veteriner 30 mL/ekor.

13

3.5. Tahap Perlakuan
Tahap awal perlakuan pada domba adalah sinkronisasi berahi induk domba.
Hal ini dilakukan untuk mendapatkan anak domba dengan umur lahir yang seragam.
Agen sinkronisasi yang digunakan adalah PGF2 alpha konsentrasi 5 mg/mL sebanyak
7,5 mg/ekor. Penyuntikan dilakukan sebanyak dua kali dengan interval waktu 11 hari.
Perkawinan induk domba dilakukan sekitar 24-36 jam setelah penyuntikan.
Domba yang telah menunjukan gejala estrus, berupa vulva yang terlihat merah,
bengkak, dan berlendir. Perkawinan dilakukan dengan perbandingan 2:1. Setiap dua
ekor domba betina dikawinkan dengan satu ekor penjantan. Perkawinan dibiarkan
terjadi secara alami dalam waktu 48 jam. Setelah dikawinkan, induk domba
dipisahkan dari pejantan dan dipelihara dalam kandang secara kelompok sesuai
dengan perlakuan. Diagnosis kebuntingan menggunakan peralatan USG dilakukan 40
hari pasca perkawinan. Selanjutnya, pencekokan formula jamu veteriner dilakukan
sekali setiap minggu hingga mencapai masa partus.
3.6. Pengukuran Bobot Badan Anak Domba
Domba dipelihara berkelompok sesuai perlakuan selama 5 bulan masa
kebuntingan. Menjelang partus, pengamatan induk domba difokuskan pada tandatanda kelahiran. Hal ini bertujuan untuk mengurangi kecelakaan pada anak domba
yang akan dilahirkan. Setelah semua domba yang bunting partus, pengukuran bobot
badan dilakukan pada kisaran waktu tidak lebih dari 24 jam. Bobot yang didapatkan
tersebut merupakan bobot lahir anak domba. Selanjutnya, pengukuran bobot kembali
dilakukan setiap bulan hingga anak domba berusia 3 bulan.
3.7. Metode Analisis Data
Data yang diperoleh akan dianalisis menggunakan analisis sidik ragam
(Anova) dan dilanjutkan dengan uji Duncan.

14

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Jumlah anak, rataan bobot lahir, bobot sapih, total bobot lahir, dan jumlah
anak sekelahiran pada kelompok domba kontrol dan perlakuan dengan pemberian
jamu veteriner disajikan pada Tabel 1.
Tabel 1. Jumlah anak, rataan bobot lahir, bobot sapih, total bobot lahir, dan jumlah
anak sekelahiran pada kelompok domba kontrol dan perlakuan dengan pemberian
jamu veteriner.
Parameter

Jumlah anak (ekor)
Rataan bobot lahir

Kontrol

Dosis 15

5

7
a

3,11±0,52

Dosis 30

6
a

3,78±0,68

4,10±0,69a

(kg)
Total bobot lahir

15,53

26,55

24,55

2,33±0,58a

2,00±0,00a

Per induk (kg)
Rasio anak per

1,67±0,58a

Induk
Tingkat kematian

40,00

14,29

0,00

Prasapih (%)
Rataan bobot

11,49±0,47a

13,52±0,49b

13,61±0,75b

badan sapih (kg)
Total bobot

34,47

81,14

81,63

2,00±0,00

2,00±0,00

badan sapih (kg)
Rasio anak

1,00±1,00

yang disapih
per induk
Ket: Superskrip berbeda pada baris yang sama menunjukkan berbeda nyata (P0.05). Meskipun demikian, dengan mengabaikan jumlah
anak per kelahiran, pemberian jamu veteriner mampu meningkatkan bobot lahir anak
domba sebesar 21,07% (3,11 vs 3,94) dibanding kontrol. Rasio anak per induk pada
kelompok yang diberi jamu veteriner juga mengalami peningkatan sebesar 22.92%
(1.67 vs 2.16) dibanding kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa anak dari induk dengan
pemberian jamu veteriner memiliki pertumbuhan yang lebih baik dibanding
kelompok kontrol. Perkembangan fetus periode prenatal menjadi penentu
pertambahan bobot lahir dan pertumbuhan anakan pada periode berikutnya (Adriani
et al. 2004).
Peningkatan ini diduga dipengaruhi oleh kandungan kimia yang terdapat
dalam bahan-bahan penyusun jamu veteriner, yaitu lempuyang dan kayu manis.
Lempuyang diketahui mempunyai khasiat sebagai penambah nafsu makan. Hal ini
diduga disebabkan oleh senyawa zerumben, koriofler, kanfersionil. Selain itu,
Lempuyang juga diketahui memilki daya antimikroba (Hariana 2007; Sari 2006).
Menurut Purwanti et al. (2003) kandungan minyak atsiri yang terdapat dalam
lempuyang mengandung senyawa

α-caryophyllene

yang memiliki aktivitas

antimikroba yang sangat kuat. Akibatnya, nafsu makan induk meningkat dan aktivitas
mikroorganisme patogen dapat terhambat sehingga berdampak positif bagi kesehatan
induk dan fetus. Sementara itu, kayu manis diketahui mempunyai aktivitas dalam
memperbaiki sistem peredaran darah dan sebagai antiinflamasi (Wang et al. 2009).
Kandungan minyak atsiri kayu manis juga diketahui berkhasiat sebagai penghangat
lambung dan efektif untuk antidiare (Kartasapoetra 2004). Efek tersebut diduga
berperan penting dalam efisiensi pencernaan induk domba sehingga dapat
meningkatkan bobot lahir anak domba.

16

Selanjutnya, rataan bobot badan anak (kg) pada awal kelahiran sampai bulan
ke-3 pada kelompok domba kontrol dan perlakuan dengan pemberian jamu veteriner
disajikan pada Gambar 6.

Rataan Bobot Anak (Kg)

16
14
12
10
8
6

4
2

0
0

1

2

3

Bulan Pertumbuhan Anak Domba

Gambar 6. Rataan bobot lahir dan bobot badan anak pada bulan ke-1 sampai ke-3
pada kelompok domba kontrol ( ) , pemberian jamu veteriner dosis 15 mL/ekor (■),
dan pemberian formula jamu veteriner dosis 30 mL/ekor (▲).
Perlakuan pemberian jamu veteriner pada induk domba terbukti dapat
meningkatkan pertambahan bobot badan anak bulan ke-1 sampai bulan ke-3. Pada
perlakuan pemberian dosis jamu veteriner 15 mL/ekor terjadi peningkatan bobot
badan anak domba bulan ke-1 sampai bulan ke-3 sebesar 23,43% dibandingkan
kontrol. Sementara itu, pada perlakuan dosis jamu veteriner 30 mL/ekor terjadi
peningkatan bobot badan anak domba bulan ke-1 sampai ke-3 sebesar 12,65%
dibandingkan kontrol. Peningkatan ini diduga dipengaruhi oleh asupan susu yang
baik dari induk domba. Anak domba sepenuhnya bergantung pada susu induk hingga
7-8 minggu setelah lahir (Devendra & Burn 1994). Produksi susu induk selama
laktasi dipengaruhi oleh ketersediaan glukosa dan asetat terutama sebagai sumber
energi. Kadar glukosa hanya tinggi saat 1 jam setelah makan dan selanjutnya

17

menurun pada minggu ketiga sampai minggu keempat setelah laktasi. Efek ini terjadi
lebih tajam pada induk dengan jumlah anak yang banyak (Mege et al.2007; De Blasio
et al. 2007). Asupan pakan yang baik menentukan level glukosa dalam darah.
Kandungan zerumben yang terdapat dalam jahe (Rapuru 2008) dan Lempuyang
(Zingiber) diketahui mampu meningkatkan nafsu makan (Hariana 2007; Sari 2006).
Akibat meningkatnya asupan pakan, terjadi peningkatan level glukosa. Sejalan
dengan hal tersebut, jamu veteriner juga diduga dapat memperbaiki metabolisme
glukosa. kandungan methylhydroxychalcone yang terdapat dalam kayu manis yang
diduga menjadi penyebabnya. Hasil penelitian Taylor et al. (2001) berhasil
membuktikan bahwa derivate methylhydroxychalcone mempunyai efek kerja yang
menyerupai insulin dalam meningkatkan pengambilan glukosa. Hal ini menyebabkan
induk domba perlakuan pemberian jamu veteriner yang memiliki rasio anak yang
tinggi kemungkinan tetap memiliki produksi susu yang lebih baik dibandingkan
kontrol.
Pertambahan bobot badan anak domba dari induk yang diberi jamu veteriner
dosis 15 mL/ekor lebih tinggi dibandingkan anak domba dari induk yang diberi jamu
veteriner dosis 30 mL/ekor. Peningkatan kadar sambiloto dalam jamu veteriner dosis
30 mL/ekor diduga menjadi penyebab pertambahan bobot badan dosis 30 mL/ekor
lebih rendah dari dosis 15 mL/ekor. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Ridwan
(2006) yang menunjukan bahwa pemberian ekstrak sambiloto dosis rendah lebih baik
dalam meningkatkan pertambahan bobot badan dan nilai konversi pakan
dibandingkan dosis sedang dan tinggi. Selain itu, konsumsi sambiloto dalam jumlah
yang besar juga dapat menyebabkan efek embriotoksik yang berakibat pada hambatan
pertumbuhan, malformasi, hingga kematian intrauterin (Setyawati 2009).
Perlakuan pemberian jamu veteriner terbukti menurunkan tingkat kematian
prasapih. Tingkat kematian prasapih dari yang tertinggi ke terendah adalah 40%,
14.29%, dan 0%, masing-masing untuk kelompok kontrol, dosis 15 mL/ekor, dan
dosis 30 mL/ekor. Rasio anak yang disapih per induk juga mengalami peningkatan.
Rasio anak yang disapih per induk pada kelompok dosis 15 mL/ekor dan dosis 30
mL/ekor dua kali lebih tinggi dibandingkan kontrol. Sutama et al. (1993) menyatakan

18

bahwa tingkat mortalitas berbanding lurus dengan jumlah anak per kelahiran. Tingkat
mortalitas meningkat sejalan dengan meningkatnya jumlah anak per kelahiran.
Meskipun demikian, jamu veteriner terbukti dapat menekan tingkat mortalitas
sekalipun pada jumlah anak per kelahiran yang tinggi. Rasio anak pada kontrol,
perlakuan dosis 15 mL/ekor, dan 30 mL/ekor masing-masing adalah 1,67, 2,33, dan
2,00. Hal ini mengindikasikan bahwa jamu veteriner berperan dalam meningkatkan
kesehatan induk dan anak. Perpaduan zat-zat yang terdapat dalam jamu veteriner
diduga merupakan penyebabnya. Minyak atsiri Lempuyang diketahui mengandung
senyawa α-caryophyllene. Senyawa ini memiliki aktivitas antimikroba yang sangat
kuat (Purwanti et al. 2003). Selain itu, Jahe diketahui memiliki potensi sebagai
antikanker dan antiinflamasi. Khasiat ini ditimbulkan oleh kurkuminoid yang
terkandung dalam jahe (Suhirman et al. 2006). Senyawa-senyawa berkhasiat tersebut
diduga berperan dalam meningkatkan kesehatan fetus selama periode prenatal,
postnatal, dan periode pertumbuhan.
Rataan bobot sapih anak domba pada kelompok kontrol, pemberian jamu
veteriner dosis 15 mL/ekor, dan 30 mL/ekor berturut-turut ialah 11,49 kg, 13,52 kg,
dan 13.61 kg. Secara statistik rataan bobot sapih kelompok anak domba dengan
pemberian jamu veteriner berbeda nyata dibandingkan kontrol (p

Dokumen yang terkait

Dokumen baru