Kedua adalah observasi langsung yang dilaksanakan di kantor BOM’S dan kegiatan langsung di lapangan. Data yang didapat dari observasi langsung
terdiri dari pemberian rinci tentang kegiatan, perilaku, tindakan orang-orang, serta juga keseluruhan kemungkinan interaksi interpersonal, dan proses
penataan yang merupakan bagian dari pengalaman manusia yang dapat diamati.
Ketiga adalah penelaahan terhadap dokumen tertulis. Data yang diperoleh dari metode ini berupa cuplikan, kutipan atau penggalan dari catatan-
catatan organisasi BOM’S, klinis, atau program; memorandum-memorandum dan korespondensi; terbitan dan laporan resmi; buku harian pribadi; dan
jawaban tertulis yang terbuka terhadap kuesioner dan survei Suyanto dkk,
2005. 3.5 Analisis Data
Data yang dikumpulkan akan dianalisis dengan pendekatan kualitatif model interaktif, yang terdiri dari tiga hal utama, yaitu reduksi data, penyajian
data, dan penarikan kesimpulanverifikasi sebagai sesuatu yang jalin menjalin pada saat sebelum, selama dan sesudah pengumpulan data dalam bentuk yang
sejajar, untuk membangun wawasan umum yang disebut analisis.
3.6 Penyajian Data
Prinsip dasar penyajian data adalah membagi pemahaman kita tentang sesuatu hal pada orang lain. Oleh karena ada data yang diperoleh dalam
penelitian kualitatif berupa kata-kata dan tidak dalam bentuk angka, penyajian biasanya berbentuk uraian kata-kata dan tidak berupa tabel-tabel dengan
Universitas Sumatera Utara
ukuran-ukuran statistik. Seringkali data disajikan dalam bentuk kutipan- kutipan langsung dari kata-kata wawancara sendiri. Selain itu hasil penelitian
kualitatif juga dapat disajikan dalam bentuk life history, yaitu deskripsi tentang peristiwa dan pengalaman penting dari kehidupan atau beberapa bagian pokok
dari kehidupan seseorang dengan kata-katanya sendiri Suyanto dkk, 2003.
Universitas Sumatera Utara
BAB IV PEMBAHASAN
4.1. Kota Pematangsiantar 4.1.1 Sejarah Kota Pematangsiantar
Setelah Belanda memasuki daerah Sumatera Utara, Simalungun menjadi daerah kekuasaan Belanda sehingga pada tahun 1907 berakhirlah kekuasaan raja-
raja. Controleur Belanda yang semula berkedudukan di perdagangan pada tahun 1907 dipindahkan ke Pematangsiantar. Sejak itu Pematangsiantar berkembang
menjadi daerah yang banyak dikunjungi pendatang baru, bangsa Cina mendiami kawasan Timbang Galung dan Kampung Melayu.
Pada tahun 1910 didirikan badan persiapan kota Pematangsiantar. Kemudian pada tanggal 1 Juli 1917 bedasarkan Stad Blad No.285,
Pematangsiantar berubah menjadi Geemente yang mempunyai otonomi sendiri. Sejak Januari 1939 berdasarkan Stad Blad No.717 berubah menjadi Geemente
yang mempunyai dewan. Pada jaman Jepang berubah menjadi Siantar Estate dan dewan dihapus.
Setelah Proklamasi Kemerdekaan, Pematangsiantar kembali menjadi daerah otonomi. Berdasarkan UU No.221948 status geemente menjadi Kota Kabupaten
Simalungun dan Walikota dirangkap oleh Bupati Simalungun sampai 1957. Berdasarkan UU No.11957 berubah menjadi kota Praja penuh dan dengan
keluarnya UU No.181965 berubah menjadi Kotamadya, dan dengan keluarnya UU No.51974 tentang pokok-pokok pemerintah di daerah, berubah menjadi
61
Universitas Sumatera Utara