Organisasi Pada BSA Owner Motorcycle’ Siantar BOM’S di kota Pematangsiantar “.
1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan hal-hal yang telah dipaparkan diatas maka rumusan masalah penelitian ini adalah , bagaimana budaya organisasi pola prilaku interaksi
anggota, norma-norma kelompok, prinsip atau nilai-nilai, kebijakan umum atau keahlian khusus, dan kepemimpinan pada BSA Owner Motorcycle Siantar
BOM’S di kota Pematangsiantar?
1.3. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana budaya organisasi pola prilaku interaksi anggota, norma-norma kelompok, prinsip
atau nilai-nilai, kebijakan umum atau keahlian khusus, dan kepemimpinan pada BSA Owner Motorcycle Siantar BOM’S.
1.4. Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Teoritis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat teoritis, antara lain:
1. Dapat memberikan masukan dan sumber informasi bagi disiplin ilmu
sosial terutama pada bidang Studi Pembangunan, mengenai budaya organisasi pola prilaku interaksi anggota, norma-norma kelompok,
Universitas Sumatera Utara
prinsip atau nilai-nilai, kebijakan umum atau keahlian khusus, dan kepemimpinan BOM’S di kota Pematangsiantar.
2. Dapat menjadi masukan bagi para peneliti lain yang tertarik untuk
meneliti lebih jauh mengenai budaya organisasi dan organisasi BOM’S.
1.4.2 Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat praktis, antara lain:
1. Memberikan masukan dan sumber informasi bagi para anggota
maupun simpatisan organisasi BSA Owner Motorcycle Siantar BOM’S.
2. Memberikan masukan dan sumber informasi bagi pembaca, pengamat
sosial, dan pihak-pihak yang terlibat langsung dalam penelitian ini mengenai budaya organisasi pada BSA Owner Motorcycle Siantar
BOM’S.
Universitas Sumatera Utara
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Budaya Organisasi 2.1.1 Defenisi Organisasi
Organisasi berasal dari bahasa yunani organon, yang berarti “alat”. Kata ini masuk ke bahasa latin, menjadi organizatio, dan kemudian ke bahasa prancis
abad ke-14 menjadi organisation. Pengertian awalnya tidak merujuk pada benda atau proses, melainkan tubun manusia atau mahluk biologis lainnya. tidak sama
dengan alat mekanis, organon terdiri dari bagian-bagian yang tersusun dan terkoordinasi hingga mampu menjalankan fungsi tertentu secara dinamis. Tangan
manusia atau kaki seekor belalang memiliki kesamaan dalam hal fungsi gerak yang dinamis ini, jadi orgonon merujuk pada keteraturan atau susunan tertentu
yang memungkinkan suatu fungsi dijalankan oleh tubuh atau mahluk hidup. Pengertian ini masih tersisa sampai sekarang. Kata ‘organ tubuh’, ‘organik’, serta
‘organisme’ biasanya selalu mengacu pada mahluk hidup. Belakangan, kata ini dipergunakan untuk menggambarkan penyusunan dan pengelolaan berbagai
aktivitas manusia baik dengan institusilembaga maupun tidak, yang bertujuan menjalankan suatu fungsi atau maksud tertentu. Inilah ‘organisasi’ dalam
pengertian modern. Karateristik utama organisasi dapat diringkas sebagai 3-P, yaitu: Purposes,
People, dan Plan Gerloff, 1985. Sesuatu tidak bisa di sebut sebagai organisasi jika tidak memiliki tujuan purposes, anggota people, dan rencana plan.
10
Universitas Sumatera Utara
Dalam aspek ‘rencana’ terkandung semua ciri lainnya, seperti sistem, struktur, desain, strategi, dan proses, yang seluruhnya dirancang untuk menggerakkan
unsur manusia people dalam mencapai berbagai tujuan purposes yang telah ditetapkan. Menurut Kusdi dalam buku ini, organisasi ialah suatu entitas sosial
yang secara sadar terkoordinasi, memiliki suatu batas yang relatif dapat diidentifikasi, dan berfungsi secara relatif kontinu berkesinambungan untuk
mencapai suatu tujuan atau seperangkat tujuan bersama. Beberapa Pengertian Organisasi
Berikut merupakan beberapa pendapat dari berbagai ahli mengenai organisasi.
a Oliver Sheldon 1923 : Organisasi adalah proses penggabungan
pekerjaaan yang para individu atau kelompok-kelompok harus melakukan dengan bakat-bakat yang diperlukan untuk melakukan tugas-tugas,
sedemikian rupa, memberikan saluran terbaik untuk pemakaian yang efesien, sistematis, positif, dan terkoordinasi dari usaha yang tersedia.
b Chester I. Bernard 1938 : Organisasi adalah suatu sistem tentang
aktivitas-aktivitas kerja sama dari dua orang atau lebih sesuatu yang tak berwujud dan tak bersifat pribadi, sebagian besar mengenai hal hubungan-
hubungan. c
Harleigh Trecker 1950 : Organisasi adalah perbuatan atau proses menghimpun atau mengatur kelompok-kelompok yang saling
berhubungan dari instansi menjadi keseluruhan yang bekerja.
Universitas Sumatera Utara
d Ralp Currier Davis 1951 : Organisasi adalah suatu kelompok orang-
orang yang sedang bekerja ke arah tujuan bersama di bawah kepemimpinan.
e Dwight Waldo 1956 : Organisasi adalah struktur hubungan-hubungan
diantara orang-orang berdasarkan wewenang dan bersifat tetap dalam suatu sistem administrasi.
f William G. Scott 1962 : Suatu organisasi formal adalah suatu sistem
mengenai aktivitas-aktivitas yang dikoornasikan dari sekelompok orang yang bekerja sama ke arah suatu tujuan bersama dibawah wewenang dan
kepemimpinan. g
Michael J. Juchius 1962 : Istilah organisasi disini dipakai untuk menunjukkan pada suatu kelompok orang yang bekerja dalam hubungan
yang saling bergantung ke arah tujuan atau tujuan-tujuan bersama. h
Van Miller, George R. Madden, James B. Kincheloe 1972 : Istilah organisasi menuju pada sekelompok orang yang telah mengikat mereka
sendiri bersama-sama menuntut tujuan-tujuan tertentu, telah menugaskan tugas-tugas kepada macam-macam anggota, telah mengembangkan
kepribadian khusus untuk menjalankan tugas-tugas, dan telah memberikan wewenang tertentu kepada para anggotanya untuk melaksanakan tugas-
tugas. i
Cyril Soffer 1973 : Organisasi adalah perserikatan orang, yang masing- masing diberi peranan tertentu dalam suatu sistem kerja dan pembagian
kerja dalam mana pekerjaan dibagi menjadi rincian tugas, diberikan
Universitas Sumatera Utara
diantara para pemegang peranan, dan kemudian digabung dalam beberapa bentuk hasil.
j J. H. Vesting, I. V. Fine and Gary J. Zent 1976 : Organisasi diperlukan
apabila orang-orang bergabung berusaha mencapai beberapa tujuan bersama.
Organisasi tak berwujud, agar organisasi menjadi konkrit maka harus mempunyai nama tertentu, misalnya Pemerintah Daerah Sumatera Utara,
Universitas Sumatera Utara, BSA Owner Motorcycle Siantar. Tetapi walaupun sudah diberi nama jenis tertentu kadang-kadang yang tertunjuk itu hanya nama
gedung tempat kerja organisasi yang bersangkutan, maka agar yang ditunjuk tidak hanya sekedar gedung tempat kerja, organisasi harus membentuk struktur
organisasi sehingga jelas organisasi yang dimaksud, dan struktur organisasi ini akan nampak lebih tegas apabila dituangkan dalam bagan organisasi. Struktur
organisasi ialah kerangka antar hubungan satuan-satuan organisasi yang di dalamnya terdapat pejabat, tugas serta wewenang yang masing-masing
mempunyai peranan tertentu dalam kesatuan yang utuh. Pengertian struktur organisasi tersebut merupakan kesimpulan sederhana dari beberapa pendapat
berikut: a
Ralph Currier Davis : Struktur organisasi adalah hubungan antara fungsi- fungsi tertentu, faktor-faktor fisik dan orang.
b John Pfiffner Owen Lane : Struktur organisasi adalah hubungan antara
para pegawai dan aktivitas-aktivitas mereka satu sama lain serta terhadap keseluruhan, bagian-bagiannya adalah tugas-tugas pekerjaan-pekerjaan
Universitas Sumatera Utara
atau fungsi-fungsi dan masing-masing anggota kelompok pegawai yang melaksanakannya.
c Robert Y. Durant : Struktur organisasi ialah bagan hubungan dan tugas-
tugas dari orang-orang yang digunakan oleh organisasi terutama sekali pelaksanaan fungsi-fungsi manajerial.
d Dalton E. McFarland : Struktur organisasi diartikan sebagai pola jaringan
hubungan antara bermacam-macam jabatan dan para pemegang jabatan. e
F. G. Anderson : Struktur organisasi ialah susunan hubungan-hubungan, pertanggung jawaban-pertanggungjawaban, dan wewenang-wewenang
melalui tujuan organisasi pada pencapaian sasarannya. f
Richard A. Johnson, Fremont E. Kast dan James E. Rosenzweig : Struktur organisasi ialah hubungan antara macam-macam fungsi atau aktivitas di
dalam organisasi. Struktur organisasi yang akan dibentuk tentunya struktur organisasi yang
baik. Struktur organisasi yang baik harus memenuhi syarat sehat dan efesien. Struktur organisasi yang sehat berarti tiap-tiap satuan organisasi yang ada dapat
menjalankan perannya dengan tertib, struktur organisasi yang efesien berarti dalam menjalankan perannya tersebut masing-masing satuan organisasi dapat
mencapai perbandingan terbaik antara usaha dan hasil kerja. Struktur organisasi yang sehat dan efesien dapat dibentuk dengan memperhatikan berbagai asas
organisasi. Asas organisasi memiliki dua peranan yaitu, sebagai pedoman untuk
membentuk struktur organisasi yang sehat dan efesien, dan peranan kedua sebagai pedoman untuk melakukan kegiatan organisasi agar dapat berjalan lancar. Atas
Universitas Sumatera Utara
dasar dua peranan organisasi tersebut maka dapat disusun defenisi organisasi sebagai berikut, asas-asas organisasi adalah berbagai pedoman yang sejauh
mungkin hendaknya dilaksanakan agar diperoleh struktur organisasi yang baik dan aktivitas organisasi dapat berjalan lancar.
Beberapa pendapat mengenai asas-asas organisasi ; James D. Mooney Alan C. Reily :
1. Asas koordinasi 2. Asas jenjang
3. Asas penyusunan fungsi 4. Asas staff
Luther Gulick Lyndall Urwick : 1. Orang yang layak pada struktur organisasi
2. Pengakuan seorang pemimpin puncak sebagai sumber wewenang
3. Yang bersangkutan dengan kesatuan perintah 4. Memakai staff khusus dan umum
5. Departemanisasi berdasarkan tujuan, proses, orang dan tempat
6. Pelimpahan dan pemakaian asas pengecualian
Universitas Sumatera Utara
7. Membuat tanggung jawab sepadan dengan wewenang 8. Mempertimbangkan rentangan kontrol yang tepat
L. P. Alford H. Russel Beatty : 1. Asas tujuan
2. Asas wewenang dan tanggung jawab 3. Asas wewenang pokok
4. Asas penugasan kewajiban-kewajiban 5. Asas defenisi
6. Asas kesamaan 7. Asas efektifitas organisasi
Louis A. Allen : 1. Tujuan
2. Pembagian fungsi 3. Tanggung jawab wewenang
4. Pelimpahan 5. Pengawasan
6. Kontrol
Universitas Sumatera Utara
Pengertian masing-masing bentuk organisasi : a
Bentuk organisasi tunggal adalah organisasi yang pucuk pimpinannya ada di tangan seseorang. Sebutan jabatan untuk bentuk tunggal antara lain
Presiden, Ketua, Direktur, Kepala. b
Bentuk organisasi jamak adalah organisasi yang pucuk pimpinannya ada di tangan beberapa sebagai satu kesatuan. Sebutan jabatan yang digunakan
antara lain Presidium, Direksi, Dewan. c
Bentuk organisasi jalur adalah organisasi yang wewenang dari pucuk pimpinan dilimpahkan ke satuan-satuan organisasi dibawahnya dalam
semua bidang pekerjaan. d
Bentuk organisasi fungsional adalah organisasi yang wewenang dari pucuk pimpinan dilimpahkan kepada satuan-satuan organisasi dibawahnya dalam
bidang pekerjaan tertentu; pimpinan tiap bidang berhak memerintah kepada semua pelaksana yang ada sepanjang menyangkut bidang kerjanya.
e Bentuk organisasi jalur dan staff adalah organisasi yang wewenang dari
pucuk pimpinan dilimpahkan kepada satuan-satuan organisasi dibawahnya dalam semua bidang dan dibawah pucuk pimpinan atau pimpinan satuan
organisasi yang memerlukan diangkat pejabat yang tidak memeliki wewenang komando tetapi hanya dapat memberikan nasehat tentang
bidang keahlian tertentu. f
Bentuk organisasi fungsional dan staff adalah organisasi yang wewenang dari pucuk pimpinan dilimpahkan ke satuan-satuan organisasi dibawahnya
dalam bidang pekerjaan teretntu, pimpinan dari tiap bidang kerja berhak memerintah kepada semua pelaksana yang ada sepanjang menyangkut
Universitas Sumatera Utara
bidang kerjanya, dan dibawah pucuk pimpinan atau pimpinan satuan diangkat pejabat yang tidak memiliki wewenang komando tetapi hanya
dapat memberikan nasihat tentang bidang keahlian tertentu. g
Bentuk organisasi fungsional dan jalur adalah organisasi yang wewenang dari pucuk pimpinan dilimpahkan kepada satuan-satuan organisasi
dibawahnya dalam bidang pekerjaan tertentu, pimpinan tiap bidang kerja berhak memerintah kepada semua pelaksana yang ada sepanjang
menyangkut bidang kerjanya, dan tiap-tiap satuan pelaksana kebawah memiliki wewenang dalam semua bidang kerja.
h Bentuk organisasi jalur, fungsional dan staff adalah organisasi yang
wewenang dari pucuk pimpinan dilimpahkan kepada satuan-satuan organisasi di bawahnya dalam bidang pekerjaan tertentu, pimpinan tiap
bidang berhak memerintah kepada semua pelaksana yang ada sepanjang menyangkut bidang kerjanya, dan tiap-tiap satuan pelaksana kebawah
memiliki wewenang dalam semua bidang kerja, dan dibawah pucuk pimpinan atau pimpinan bidang diangkat pejabat yang tidak memiliki
wewenang komando tetapi hanya dapay memberikan nasihat dalam bidang keahlian tertentu.
Struktur organisasi akan lebih jelas dan tegas apabila digambarkan dalam bagan organisasi, berikut beberapa pendapat mengenai bagan organisasi :
a William Grant Ireson : Bagan organisasi akan menunjukkan dengan amat
jelas bagaimana informasi mengalir dari satuan organisasi yang satu ke satuan organisasi yang lain, tingkatan tanggung jawab, dari mana
informasi berasal, dan kemana tempat tujuan terakhir.
Universitas Sumatera Utara
b W. Warren Haynes Joseph L. Massie : Mempelajari bagan akan
memberikan pengertian tentang organisasi dalam kenyataan. c
William R. Spriegel Richard H. Landsburgh : Suatu bagan organisasi mengikhtiarkan untuk menggambarkan seperti lukisan hubungan struktur
antara bermacam-macam satuan-satuan organisasi dan kedudukan dalam perusahaan.
d Louis A. Allen : Bagan organisasi adalah suatu alat yang melukiskan
dengan nyata yang melukiskan data organisasi. e
Lyman A. Keith Carlo E. Gubellini : Bagan organisasi menggambarkan seperti lukisan hubungan fungsi dan individu-individu serta menunjukkan
tingkatan dan aliran wewenang serta tanggung jawab. f
George R. Terry : Suatu bagan organisasi adalah suatu gambaran lukisan dari suatu struktur organisasi. Itu dapat dianggap sebagai suatu gambar
struktur organisasi; itu menunjukkan satuan-satuan organisasi, hubungan- hubungan dan saluran-saluran wewenang yang sah.
2.1.2 Budaya Organisasi
Konsep budaya organisasi bisa dikatakan masih relatif baru yakni baru berkembang sekitar awal tahun 1980-an. Konsep ini, seperti diakui para teoritis
organisasi, diadopsi dari konsep budaya yang terlebih dahulu berkembang pada disiplin antropologi. Oleh karenanya, keragaman pengertian budaya pada disiplin
antropologi juga akan berpengaruh pada keragaman pengertian budaya pada disiplin organisasi. Hal ini misalnya ditegaskan oleh Linda Smircich yang
mengingatkan agar kita tidak terkejut jika kita mendapatkan aneka pengertian budaya organisasi.
Universitas Sumatera Utara
Secara umum konsep budaya organisasi dibagi menjadi dua school of thought mazhab-ideational dan adaptationist school. Mahzab pertama ideational
school lebih melihat budaya sebuah organisasi dari apa yang di shared dipahami, dijiwai, dan dipraktikkan bersama anggota sebuah komunitas atau masyarakat.
Mahzab ini biasanya di anut oleh para organization theorist yang menggunakan pendekatan antropologi sebagai basisnya. Mahzab kedua adaptationist school
melihat budaya dari apa yang bisa di observasi baik dari bangunan organisasi seperti arsitekturtata ruang bangunan fisik sebuah organisasi maupun dari orang-
orang yang terlibat didalamnya seperti pola perilaku dan cara mereka berkomunikasi. Pendek kata para adaptationist school melihat budaya dari kulit
luar organisasi. Disamping kedua mahzab diatas , gabungan keduanya realist school juga banyak dikenal. Penganut mahzab ketiga menyadari bahwa budaya
organisasi merupakan sesuatu yang kompleks yang tidak bisa dipahami hanya dari pola perilaku orang-orangnya saja tetap juga sumber pola perilaku tersebut.
Hubungan resiprokal keduanya menjadi cukup penting dalam mempelajari budaya organisasi.
Pengertian Budaya Organisasi Menurut Ideational School Andrew Pettigrew 1979, orang pertama yang secara formal
menggunakan istilah budaya organisasi, memberikan pengertian budaya organisasi sebagai sistem makna yang diterima secara terbuka dan kolektif, yang
berlaku untuk waktu tertentu bagi sekelompok orang tertentu. Dalam hal ini sistem makna diharapkan bisa memberikan gambaran tentang jati diri budaya
organisasi sebuah organisasi pada orang-orang yang berada dalam organisasi dan orang-orang yang berada diluar organisasi melalui proses pemaknaan terhadap
Universitas Sumatera Utara
semua aspek kehidupan organisasi. Biasanya hanya orang-orang tertentu utamanya elit organisasi yang dapat dan merasa layak untuk memaknai semua
aspek kehidupan organisasi, oleh karena itu jika proses pemakanaan tersebut berhenti pada elit organisasi, bisa dipastikan banyak orang yang tidak memahami
makna sesungguhnya dari setiap fenomena, kejadian atau kegiatan organisasi. Karena alasan itu pulalah proses pemakanaan tersebut harus di komunikasikan
dan di internalisasikan kepada setiap orang, atau dengan kata lain untuk bisa menjadi budaya, sistem makna tersebut harus di shared dipahami, dijiwai, dan
dipraktikkan bersama diantara orang orang yang berada didalam organisasi agar menghasilkan shared meaning.
Seperti halnya Andrew Pettigrew, Vijai Sathe 1983 juga menekankan pentingnya shared meanings untuk memahami budaya organisasi. Dalam hal ini
Sathe mengartikan budaya organisasi sebagai satu set asumsi yang dianggap sangat penting meski kadang tidak tertulis yang di shared oleh para anggota
organisasi. Asumsi dalam hal ini berati suatu anggapan mendasarsentral yang berdampak luas bagi kehidupan organisasi dibandingkan suatu anggapan yang
lain. Pengertian Budaya Organisasi Menurut Adaptationist School
Defenisi budaya menurut Stanley Davis 1984, budaya perusahaan ialah keyakinan dan nilai bersama yang memberikan makna bagi anggota sebuah
institusi dan menjadikan keyakinan dan nilai tersebut sebagai aturanpedoman berperilaku dalam organisasi. Defenisi tersebut menunjukkan bahwa istilah yang
digunakan Stanley Davis bukan budaya organisasi tetapi budaya perusahaan.
Universitas Sumatera Utara
Sebagai seorang konsultan yang banyak berhubungan langsung dengan perusahaan, sangat wajar jika Davis lebih suka menggunakan istilah budaya
perusahaan meski objek yang dikaji sama yakni budaya yang berkembang didalam organisasiperusahaan. Sama seperti Davis, Charles Hamdten-Turner
1994 menggunakan istilah budaya perusahaan dan mendefenisikannya sebagai “ budaya perusahaan adalah pandangan hidup, cara pandang sebagai cara dasar
untuk bertindak, mengungkapkan perasaan dan berpikir jyang semuanya itu merupakan hasil pembelajaran sekelompok orang yang tidak disebabkan karena
faktor keturunan “. Sedangkan Deal dan Kennedy 1998 secara sederhana mengatakan bahwa budaya organisasi adalah cara kita melakukan sesuatu di
lingkungan organisasi ini. Ketiga defenisi tersebut yang mewakili adaptationist school lebih
menekankan pada pentingnya memahami budaya dari aspek perilaku manusia behavior. Mereka mengakui bahwa keyakinan dan tata nilai adalah inti sebuah
budaya, namun mereka juga mengakui bahwa keduanya keyakinan dan tata nilai lebih merupakan sumber inspirasi yang wujud kongkritnya akan tercermin dari
kejelasan, konsistensi, dan konsensus perilaku masing-masing individu dalam organisasi. Pandangan tentang budaya semacam ini, yang tidak lain merujuk pada
konsep budaya seperti yang dikemukakan Ruth Benedict 1934 pada umumnya dianut oleh para manajer dan praktisi bisnis yang mengelola organisasi
berorientasi laba. Penyebabnya tidak lain karena para manajer cendrung lebih pragmatis dalam memahami budaya dan lebih memperdulikan hal-hal praktis
yang diperkirakan secara langsung berhubungan dengan kinerja perusahaan. Itulah sebabnya dalam memahami budaya manajer lebih memperhatikan aspek budaya
Universitas Sumatera Utara
yang kasat mata yang mudah di manag, sedangkan aspek budaya yang lebih soft dan susah di manag diperlakukan sebagai simbol yang jarang dijamah.
Pengertian Budaya Organisasi Menurut Realist School Pengertian budaya yang bisa dikatakan menggabungkan ideational school
dan Adaptationist School diberikan oleh Edgar Schein sebagai berikut, “ budaya organisasi adalah pola asumsi dasar yang di shared oleh sekelompok orang
setelah sebelumnya mereka mempelajari dan meyakini kebenaran pola asumsi tersebut sebagai cara untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang berkaitan
dengan adaptasi eksternal dan integrasi internal, sehingga pola asmusi dasar tersebut perlu diajarkan kepada anggota-anggota baru sebagai cara yang benar
untuk berpersepsi, berpikir, dan mengungkapkan perasaannya dalam kaitannya dengan persoalan-persoalan organisasi.
Seperti halnya Schein, Ogbonna dan Harris 1998 juga masuk kedalam kelompok tengah antara ideational school dan adaptationist school. Dalam bahasa
mereka, Ogbonna dan Harris menyebut dirinya kelompok realist. Mereka mendefenisikan budaya organisasi sebagai keyakinan, tata nilai, makna dan
asumsi-asumsi yang secara kolektif di shared oleh sebuah kelompok sosial guna membantu mempertegas cara mereka saling berinteraksi dan mempertegas mereka
dalam merespon lingkungan. Kedua defenisi diatas menegaskan bahwa budaya organisasi dalam
pandangan Edgar Schein dan Ogbonna dan Harris merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan antara elemen yang bersifat idealistik dan behavioral.
Artinya budaya tidak bisa semata-mata dipahami dari aspek yang paling dalam –
Universitas Sumatera Utara
asumsi dasar, demikian juga sangat keliru jika memahami budaya hanya dari perilaku manusia. Secara bersama-sama kedua elemen tersebut harus dipahami
sebagai unsur pembentuk budaya. Elemen Budaya Organisasi
Secara umum terdapat 2 elemen budaya organisasasi yaitu elemen yang bersifat idealistik dan elemen yang bersifat behavioral, berikut pemaparannya:
a Elemen yang idealistik
Dikatakan idealistik karena elemen ini menjadi ideoloigi organisasi yang tidak mudah berubah walaupun disisi lain organisasi secara natural
harus selalu berubah dan beradaptasi dengan lingkungannya. Elemen ini juga bersifat terselubung, tidak tampak kepermukaan dan hanya orang-
orang tertentu saja biasanya elit organisasi yang tahu apa sesungguhnya ideologi mereka dan mengapa organisasi itu didirikan.
Bagi organisasi yang baru berdiri dan masih relatif kecil dimana seorang pemilik atau pendiri biasanya menjadi penguasa tunggal dan
sekaligus juga merangkap sebagai manajer dan pegawai, elemen yang idealistik itu umumnya tidak tertulis. Sebaliknya elemen tersebut melekat
pada diri pendiri atau pemilik dalam bentuk doktrin, falsafah hidup atau nilai-nilai individual para pendiri atau pemilik organisasi. Itulah sebabnya
organisasi yang masih kecil, figur pendiri atau pemilik organisasi sangat sentral dan menentukan. Hidup matinya organisasi dan keberhasilan
organisasi di masa datang bergantung pada karakter, insiatif dan semangat para pendiri atau pemiliknya. Para anggota organisasi hanya sekedar
Universitas Sumatera Utara
menjadi pengikut yang menjalankan aktivitas sesuai dengan jalan pikiran pemilik organisasi.
Berbeda dengan organisasi yang relatif masih kecil, bagi organisasi yang sudah cukup lama berdiri dan sudah cukup besar, para pendiri
organisasi biasanya tidak lagi terlibat secara langsung dalam kegiatan sehari-hari organisasi. Namun bukan berarti ketidak terlibatan para pendiri
atau pemilik organisasi menyebabkan organisasi kehilangan ideologinya. Ideologi organisasi berupa doktrin, falsaha, dan nilai-nilai organisasi yang
jauh dibangun sebelumnya oleh para pendiri dalam batas-batas tertentu akan tetap dipertahankan oleh para generasi penerus organisasi. Hal
tersebut biasanya dinyatakan secara formal dalam anggaran dasar organisasi dan visi misi organisasi. Memang tidak jarang generasi penerus
memodifikasi atau paling tidak menginterpretasi ulang ideologi lama dengan bahasa yang lebih cocok dengan situasi lingkungan berjalan.
Meski demikian substansi dari ideologi lama biasanya masih tetap dipertahankan.
Stanley Davis 1984 mengungkapkan bahwa elemen yang idealistik ini sebagai keyakinan yang menjadi penuntun kehidupan sehari-
hari sebuah organisasi. Sementara itu Schein dan Rousseau 1990 mengatakan bahwa elemen yang idealistik tidak hanya terdiri dari nilai-
nilai organisasi tetapi masih ada komponen-komponen yang lebih esensial yakni asumsi dasar, yang bersifat diterima apa adanya dan dilakukan
diluar kesadaran. Meski masing-masing teoritis organisasi mempunyai pendapat yang berbeda tentang komponen idealistik budaya organisasi,
Universitas Sumatera Utara
mereka pada dasarnya sepakat bahwa elemen yang bersifat idealistik ini merupakan ruh nya organisasi, karena itulah karateristik organisasi sangat
bergantung pada elemen ini. Itulah sebabnya elemen ini sering disebut sebagai ruh nya budaya organisasi dan karena ini pula budaya organisasi
sering juga disebut ruh nya organisasi. Schein dalam Rollinson, 2005 menambahkan bahwa ada 2 aspek
dalam elemen idealistik ini, yaitu : 1
Asumsi dasar, merupakan keyakinan mendasar yang dianggap benar oleh sebagian besar anggota kelompok dan
disetujui oleh mereka secara tidak sadar. 2
Nilai dan keyakinan, merupakan alasan atau pertimbangan bagi anggota kelompok atas tindakan yang mereka lakukan.
Nilai dan keyakinan secara sadar dipegang dan merupakan sandi moral dan etik ysng menuntun perilaku dengan cara
menempatkan asumsi dasar kedalam bentuk praktis. b
Elemen Behavioral Elemen yang bersifat behavioral adalah elemen yang kasat mata,
muncul ke permukaan dalam bentuk perilaku sehari-hari para anggotanya dan bentuk-bentuk lain seperti desain dan arsitektur
organisasi. Bagi orang luar organisasi, elemen ini sering dianggap sebagai representasi dari budaya sebuah organisasi sebab elemen
ini mudah diamati, dipahami, dan diirprentasikan meski interpretasinya kadang-kadang tidak sama dengan interpretasi
orang-orang yang terlibat langsung dalam organisasi. Itu sebabnya
Universitas Sumatera Utara
ketika orang luar organisasi mencoba mengidentifikasikan dan memahami budaya sebuah organisasi, cara paling mudah yang
mereka lakukan adalah dengan mengamati bagaimana para anggota organisasi berperilakku dan kebiasaan-kebiasaan yang mereka
lakukan. Davis 1984 menyebutkan sebagai daily belief – praktik sehari-hari organisasi. Dalam bahasa Hofstede 1997, kebiasaan
tersebut muncul dalam praktik-praktik manajemen, apakah sebuah organisasi lebih berorientasi pada proses atau hasil, lebih peduli
pada kepentingan pekerjaan atau karyawan, lebih parochial atau profesional, lebih terbuka atau tertutup dan lebih pragmatis atau
normatif. Sementara Schein 1990 dan Rousseau 1990 berpendapat bahwa kebiasaan sehari-hari muncul dalam bentuk
artefak termasuk didalamnya adalah perilaku para anggota organisasi. Artefak bisa berupa bentukarsitektur bangunan, logo
atau jargon, cara berkomunikasi, cara berpakaian atau cara bertindak yang bisa dipahami oleh orang luar organisasi.
Lebih ringkasnya, Schein Rollinson, 2005 menerangkan ada 6 hal utama dalam elemen behavioral ini, yaitu :
1 Norma, merupakan seperangkat kode perilaku yang didasari
oleh asumsi, nilai dan terus menerus diabadikan ketika anggota kelompok menyaksikan norma tersebut.
2 Bahasa, keberadaan bahasa yang di gunakan oleh anggota
kelompok dapat menjadi indikasi yang sangat bernilai dari budaya organisasi, hal ini bagaimana atasan berbicara pada
Universitas Sumatera Utara
bawahan dan sebaliknya dapat menunjukkan informasi mengenai nilai status, jargon, dan kata kunci yang sering
digunakan untuk menandakan siapa yang diterima dan siapa yang tidak dalam organisasi tersebut.
3 Simbol, dapat mengkomunikasikan posisi sosial dan tingkatan
sosial dalam struktur. Kedudukan tersebut dapat menjadi indikasi seberapa penting posisi tersebut dalam mengatur
kebijakan. 4
Ritual dan seremoni, baik formal maupun informal biasanya cukup sering dilakukan di dalam kebanyakan organisasi dan
seringkali memiliki makna yang penting bagi anggota kelompok yang terlibat di dalamnya.
5 Mitos dan cerita, merupakan cara yang sering digunakan untuk
mengkomunikasikan nilai dan asumsi dasar kepada orang lain. 6
Taboo, merupakan penanda atas apa yang tidak boleh dilakukan dan sebaiknya dihindari dalam organisasi tersebut.
Keith Davis dan Jhon W. Newstorm 1989 mengemukakan bahwa ”Budaya organisasi adalah kesatuan dari asumsi, kepercayaan, nilai, dan norma-
norma yang di bagi bersama para anggota organisasi”. Lebih lanjut Jhon R. Scermerhorn dan James G. Hunt 1991 mengemukakan bahwa ”Budaya
organisasi adalah suatu sistem kepercayaan bersama dan nilai yang dibangun suatu organisasi dan membentuk kepercayaan dari anggotanya”. Sedangkan Edgar
H. Schein 1992 berpendapatan bahwa: “Budaya organisasi adalah pola asumsi dasar , yang ditemukan atau dikembangkan oleh para anggota organisasi, dimana
Universitas Sumatera Utara
didalamnya mereka belajar untuk memecahkan masalah eksternal maupun internal, dan hal tersebut dapat di pelajari oleh anggota baru bagaimana cara
organisasi tersebut berpersepsi, berpikir dan mendapatkan pemecahan masalah bersama”. Berdasarkan pendapat itu dapat disimpulkan bahwa pengertian budaya
organisasi adalah seperangkat asumsi atau sistem keyakinan, nilai-nilai dan norma yang dikembangkan dalam organisasi yang dijadikan pedoman tingkah
laku bagi anggota-anggotanya untuk mengatasi masalah adaptasi eksternal dan integrasi internal.
Landasan dan Tujuan Penerapan Budaya Organisasi Pelaksanaaan perusahaan di indonesia sangat memprihatinkan karena
masih banyak pimpinan dan manejer yang melupakan moral. Tampaknya, mereka terpengaruh oleh budaya barat yang kapitalitas, mereka lupa bahwa bekerja itu
beribadah dan tanggung jawabnya tidak hanya di dunia saja, tetapi di akhirat nanti. Begitu pula banyak pimpinan dan menejer yang hanya memperalat
karyawan dan mereka memperkaya dirinya sendiri. Tepatlah apa yang dikemukakan oleh herman soewardi 1995 bahwa: “manusia yang melupakan
tuhannya akan menjadi manusia pelayan hawa nafsunya”, sedangkan menurut ajaran agama islam, bahwa nafsu manusia harus dikendalikan”. Sebagaimana
hadist nabi muhammad saw bahwa:”orang dilarang berlebih-lebihan”. Begitu pula dalam Al-quran at-taubah: 41 dan 111. Dikemukakan bahwa:” fungsi harta
hanyalah sebagai alat saja dalam beribadah atau bekal untuk beribadah “. Berdasarkan pendapat herman soewardi dan ajaran Al-quran maupun al hadist
tersebut, jelaslah bahwa budaya organisasi berlandaskan pada moral.
Universitas Sumatera Utara
Tujuan penerapan budaya organisasi adalah agar seluruh individu dalam perusahaan atau organisasi mematuhi dan berpedoman pada sistem nilai
keyakinan dan norma-norma yang berlaku dalam perusahaan atau organisasi tersebut.
Pelaksanaan dan Fungsi Budaya Organisasi Fred luthans 1989 berpendapat bahwa: “organizitional culture has a
member of important characteristics. Some of the most readly agreed upon are the following: observed behavioral regularities, norms, dominant values, philosophy,
rules, and organizitional cilmate”. Stephen P. Robbins 1992: 253 mengemukakan sebagai berikut: “there
apear to be ten characteristics that when mixed and matched, expose the essence of an organization culture: individual initiative, risk tolerance, direction,
integration, manegement support, control, indentevity, reward system, conflict tolerance, and communication petterns”.
Berdasarkan pendapatan Fred Luthans dan Stephen P. Robbins dapat dikemukakan bahwa pelaksanaan budaya organisasi dapat dikaji dari karakteristik
budaya organisasi yaitu: 1.
Perilaku individu yang tampak 2.
Norma-norma yang beralku dalam organisasi 3.
Nilai-nilai yang dominan dalam kehidupan organisasi. 4.
Falsafah manajemen. 5.
Peraturan-peraturan yang berlaku. 6.
Iklim organisasi.
Universitas Sumatera Utara
7. Inisiatif individu organisasi.
8. Tolaransi terhadap risiko.
9. Pengarahan pimpinan manajemen.
10. Integrasi kerja.
11. Dukungan manajemen pimpinan dan manajer.
12. Pengawasan kerja.
13. Identitas individu organisasi.
14. Sistem penghargaan terhadap prestasi kerja.
15. Toleransi terhadap konflik.
16. Pola komunikasi kerja.
Fungsi budaya organisasi dapat membantu mengatasi masalah adaptasi eksternal dan integrasi koperasi. Hal ini sesuai dengan pendapat John R.
Schermerhorn dan James G. Hunt 1991 bahwa: “the culture of an organization can help it deal with problems of both esternal adaption and internal integration”.
Permasalahan yang berhubungan dengan adaptasi eksternal dapat dilakukan melalui pengembangan tentang strategi dan misi koperasi, tujuan utama
organisasi dan pengukuran kinerja. Sedangkan permasalahan yang berhubungan dengan integrasi internal dapat dilakukan antara lain komunikasi, kriteria
karyawan, penentuan standar bagi insentif reward dan sanksi punishment serta melakukan pengawasan pengendalian internal organisasi.
Budaya organisasi dapat didefenisikan sebagai perangkat sistem nilai-nilai, keyakinan-keyakinan, asumsi-asumsi, atau norma-norma yang telah lama berlaku,
disepakati dan diikuti oleh para anggota suatu organisasi sebagai pedoman
Universitas Sumatera Utara
pedoman perilaku dan pemecahan masalah-masalah organisasinya. Dalam budaya organisasi terjadi sosialisasi nilai-nilai dan menginternalisasi dalam diri para
anggota, menjiwai orang per orang didalam organisasi. Dengan demikian maka Kilmann dkk 1988 berpendapat bahwa budaya organisasi merupakan jiwa
organisasi dan jiwa para anggota organisasi. Budaya organisasi yang kuat mendukung tujuan tujuan perusahaaan, sebaliknya yang lemah atau negatif
menghambat atau bertentangan dengan tujuan-tujuan organisasi. Budaya yang kuat dan positif sangat berpengaruh terhadap perilaku dan efektivitas kinerja
organisasi sebagaimana dinyatakan oleh Deal Kennedy 1982, Miner 1990, Robbins 1990, karena menimbulkan antara lain sebagai berikut:
1. Nilai-nilai kunci yang saling menjalin, tersosialisasikan,
menginternalisasi, menjiwai para anggota, dan merupakan kekuatan yang tidak tampak;
2. Perilaku-perilaku orang-orang didalam organisasi secara tidak disadari
terkendali dan terkoordinasi oleh kekuatan yang informal atau tidak tampak;
3. Para anggota merasa loyal dan komit pada organisasi;
4. Adanya musyawarah dan kebersamaan dalam hal-hal yang berarti
sebagai bentuk partisipasi, pengakuan, dan penghormatan terhadap anggota;
5. Semua kegiatan berorientasi atau diarahkan pada misi ataupun tujuan
organisasi; 6.
Para anggota merasa senang, karena diakui dan dihargai martabat dan kontribusinya, yang sangat rewarding;
Universitas Sumatera Utara
7. Adanya koordinasi, integrasi, dan konsistensi yang menstabilkan
kegiatan-kegiatan organisasi; 8.
Berpengaruh kuat terhadap organisasi dalam tiga aspek: pengarahan perilaku dan kinerja organisasi, penyebarannya pada anggota
organisasi, dan kekuatannya, yaitu menekan para anggota untuk melaksanakan nilai-nilai budaya.
9. Budaya berpengaruh terhadap perilaku individual maupun kelompok.
Fungsi Budaya Organisasi Menurut Robbins 2001, budaya organisasi memiliki beberapa fungsi,
diantaranya: c
Budaya mempunyai suatu peran pembeda. Hal itu berarti bahwa budaya kerja menciptakan pembedaan yang jelas antara satu organisasi dengan
yang lain. d
Budaya organisasi membawa suatu rasa identitas bagi anggota-anggota organisasi.
e Budaya organisasi mempermudah timbul pertumbuhan komitmen pada
sesuatu yang lebih luas daripada kepentingan diri individual. f
Budaya organisasi itu meningkatkan kemantapan sistem sosial.
Dalam hubungan nya dengan segi sosial Gordon 1991 berpendapat bahwa, budaya berfungsi sebagai perekat sosial yang membantu mempersatukan
organisasi itu dengan memberikan standar-standar yang tepat untuk apa yang harus dikatakan dan dilakukan oleh para anggota. Akhirnya, budaya berfungsi
Universitas Sumatera Utara
sebagai mekanisme pembuat makna dan kendali yang memandu dan membentuk sikap serta perilaku para anggota.
Budaya organisasi yang kohesi atau efektif tercermin pada kepercayaan, keterbukaan komunikasi, kepemimpinan yang mendapat masukan, dan didukung
oleh bawahan, pemecahan masalah oleh kelompok, kemandirian kerja, dan pertukaran informasi Anderson dan Kryprianou, 1994. Nelson dan Quick 1997
mengemukakan perasaan identitas dan menambah komitmen organisasi, alat pengorganisasian anggota, menguatkan nilai-nilai dalam organisasi dan
mekanisme kontrol dalam perilaku. Budaya yang kuat meletakkan kepercayaan-kepercayaan, tingkah laku, dan
cara melakukan sesuatu tanpa perlu dipertanyakan lagi, oleh karena itu berakar dalam tradisi, budaya mencerminkan apa yang dilakukan, dan bukan apa yang
akan berlaku Pastin, 1986. Sehingga, fungsi budaya organisasi, adalah sebagai perekat sosial dalam mempersatukan anggota-anggota dalam mencapai tujuan
organisasi berupa ketentuan-ketentuan dan nilai-nilai yang harus dikatakan dan dilakukan oleh para anggota. Hal ini dapat berfungsi pula sebagai kontrol atas
perilaku anggota dan pembeda antar anggota organisasi. Manfaat Budaya Organisasi
Beberapa manfaat budaya organisasi yang dikemukakan oleh Robins 1993, sebagai berikut:
1. Membatasi peran yang membedakan antara organisasi yang satu dengan
organisasi lainnya. Setiap organisasi mempunyai peran yang berbeda
Universitas Sumatera Utara
sehingga perlu memiliki akar budaya yang kuat dalam sistem dan kegiatan yang ada dalam organisasi.
2. Menimbulkan rasa memiliki identitas bagi para anggota organisasi. Dalam
budaya organisasi yang kuat, anggota organisasi akan merasa memiliki identitas yang merupakan ciri khas organisasi.
3. Mementingkan tujuan bersama daripada mengutamakan kepentingan
individu. 4.
Menjaga stabilitas organisasi. Kesatuan komponen-komponen organisasi yang direkatkan oleh pemahaman budaya yang sama akan membuat
kondisi organisasi relatif stabil. Keempat manfaat tersebut menunjukkan bahwa budaya organisasi dapat
membentuk perilaku dan tindakan anggota dalam menjalankan aktivitasnya didalam organisasi, sehingga nilai-nilai yang ada dalam budaya organisasi perlu
ditanamkan sejak dini ‘pada setiap individu organisasi. Kesimpulan
Budaya organisasi merupakan suatu kekuatan sosial yang tidak tampak, yang dapat menggerakkan orang-orang dalam suatu organisasi untuk melakukan
aktivitas organisasi. Secara tidak sadar tiap-tiap orang di dalam suatu organisasi mempelajari budaya yang berlaku dalam organisasinya. Apalagi bila ia sebagai
orang yang baru supaya dapat diterima oleh lingkungan organisasinya, ia berusaha mempelajari apa yang dilarang dan apa yang diwajibkan, apa yang baik dan apa
yang buruk, apa yang benar dan apa yang salah, juga apa yang harus dilakukan
Universitas Sumatera Utara
dan tidak harus dilakukan didalam organisasi tersebut, jadi budaya organisasi mensosialisasikan dan menginternalisasi pada para anggota organisasi.
Budaya organisasi yang kuat mendukung tujuan tujuan perusahaaan, sebaliknya yang lemah atau negatif menghambat atau bertentangan dengan tujuan-
tujuan organisasi. Budaya organisasi yang benar-benar dikelola sebagai alat manajemen akan berpengaruh dan menjadi pendorong bagi anggota untuk
berperilaku positif, dedikatif dan produktif. Nilai-nilai budaya itu tidak tampak, tetapi merupakan kekuatan yang mendorong perilaku untuk mencapai tujuan, visi
dan misi organisasi.
2.2. BSA Owner Motorcycle Siantar BOM’S
Becak BSA merupakan alat transportasi yang hanya dapat kita temui dan khas kota Pematangsiantar, mengingat keberadaannya yang sudah ada sejak awal
tahun 1960 di Pematangsiantar. Situasi ini harusnya dapat menjadi nilai positif bagi para penarik becak BSA dengan nilai jual sejarah dan keunikan motor
bermesin besarnya, namun kini para penarik becak BSA mengalami kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan sehari-harinya dan berpeluang menimbulkan efek
negatif di masyarakat, kriminalitas misalnya. Keberadaan Becak Siantar telah melegenda di Sumatera Utara, Indonesia,
bahkan dunia. Hal tersebut dikarenakan Pematangsiantar merupakan satu-satunya kota di dunia yang menggunakan sepeda motor gede merk BSA secara massal.
Perjalanan waktu sejak zaman penjajahan telah membuktikan kehandalan dan ketangguhan mesin sepeda motor BSA melewati rute naik turun, ciri tipologi kota
Pematangsiantar yang berbukit-bukit.
Universitas Sumatera Utara
Becak Siantar unik karena digerakkan oleh mesin sepeda motor merek BSA Birmingham Small Arm buatan kota Birmingham, Inggris, yang kini tidak
ada lagi pabriknya dan sudah tidak di produksi. Umumnya sepeda motor BSA yang digunakan tipe M 20 buatan tahun 1938 – 1948 berkapasitas mesin 500 cc,
dan tipe ZB 31 buatan tahun 1950 – 1956 berkapasitas mesin 350 cc. BSA dan becaknya sudah menjadi public domain milik masyarakat kota
Pematangsiantar, hal ini dikarenakan keberadaan becak Siantar yang sudah berpuluh-puluh tahun beroperasi di kota Pematangsiantar sehingga menjadi ciri
khas dari kota Pematangsiantar. Menarik untuk diketahui, pada medio Mei 2006 Becak BSA sudah mau di
bumi hanguskan diganti dengan becak motor bermesin Jepang oleh oknum DPRD kota Pematangsiantar beserta aparat terkait. Hal ini ditentang oleh masyarakat
kota Pematangsiantar baik abang becak BSA, tokoh agama, pemuda dan elemen masyarakat lainnya, namun hal itu tidak dihiraukan semua dianggap angin lalu.
Dalam situasi atmosfir konfrontasi ditengah pesimistis masyarakat Siantar untuk mempertahankan becak BSA, lahirlah organisasi BOM’S BSA Owner
Motorcycle’ Siantar sebagai jawaban. Terdiri dari para bikers dan abang-abang becak BSA, bersatu padu menentang keras kebijakan penghapusan tersebut dan
menuntut agar segera menghentikan keinginan barbar penguasa menghilangkan bukti bisu sejarah kota Siantar Becak BSA, akhirnya keputusan penghapusan itu
gagal total dan dapat dihentikan oleh organisasi BOM’S, melalui perjuangan panjang yang tak kenal lelah dengan tekad “ Maju bersama sampai tetes darah
terakhir”.
Universitas Sumatera Utara
Becak Siantar seharusnya sudah dapat dijadikan salah satu situs purbakalacagar budaya dan resmi dimasukkan dalam Peraturan Daerah Perda
agar dilarang keluar dari kota Pematangsiantar, ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010, disebut setiap benda peninggalan sejarah diatas usia 50
tahun dapat dinyatakan cagar budaya dan wajib dilindungi pemerintah. Menurut pasal 1 ayat 2 Undang-Undang Nomor 11 tahun 2010, benda cagar budaya adalah
benda alam danatau benda buatan manusia, baik bergerak maupun tuidak bergerak, berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya, atau sisa-
sisanya yang memiliki hubungan erat dengan kebudayaan dan sejarah perkembangan manusia
kebudayaan.kemendikbud.go.idbpcbmakassar20140125undang-undang- nomor-11-tahun-2010-tentang-cagar-budaya.
Becak Siantar, selain menjadi kendaraan angkutan umum, dapat diandalkan menjadi sumber pemasukan devisa negara dan pemerintah daerah
sebagai obyek wisata sejarah, karena keunikannya sekaligus menambah pendapatan ekstra bagi masyarakat yang berprofesi sebagai penarik Becak BSA,
dengan konsep memasukkannya dalam Peraturan Daerah sebagai kendaraan angkutan pariwisata resmi satu-satunya. Sehingga bagi para wisatawan domestik
maupun mancanegara yang singgah di kota Pematangsiantar, diwajibkan menggunakan becak BSA untuk trip wisata kota yang teknisnya dapat diatur
sedemikian rupa. Untuk mewujudkan hal tersebut, diperlukan adanya wahana perjuangan
dan pergerakan yang kuat, mampu menyalurkan aspirasi dan menyatukan saluruh potensi pengguna, pemilik, penggemar dan pecinta motor tua bermerk BSA dikota
Universitas Sumatera Utara
Pematangsiantar dengan suatu cita-cita dapat melestarikan becak BSA dan menjadikannya sebagai situs cagar budaya serta ikon kota Pematangsiantar. Maka
komunitas, dan perkumpulan pengguna, pemilik, penggemar, dan pecinta motor BSA mendirikan sebuah wadah organisasi sosial yang berangkat dari kesamaan
cita-cita dengan nama BSA Owner Motorcycle’ Siantar BOM’S. Menurut Oliver Sheldon 1923 : Organisasi adalah proses penggabungan pekerjaaan yang para
individu atau kelompok-kelompok harus melakukan dengan bakat-bakat yang diperlukan untuk melakukan tugas-tugas, sedemikian rupa, memberikan saluran
terbaik untuk pemakaian yang efesien, sistematis, positif, dan terkoordinasi dari usaha yang tersedia..
BOM’S didirikan pada 25 Juni 2006, di Kota Pematangsiantar, Provinsi Sumatera Utara, untuk waktu yang tidak terbatas. Sifat dan bentuk BOM’S yang
tertuang dalam ADART pasal 3 sifat dan bentuk, merupakan Organisasi otomotif motor tua roda dua dan roda tiga becak khususnya merk BSA yang
bersifat terbuka untuk semua warga negara Republik Indonesia, tanpa membedakan suku bangsa, ras, profesi, jenis kelamin, agama, dan kepercayaan
terhadap terhadap Tuhan Yang Maha Esa. BOM’S memiliki 2 divisi dalam struktur organisasinya, yaitu divisi roda
dua bikers dan divisi roda tiga becak. Divisi roda dua BOM’S memiliki 30 anggota dan divisi roda tiga berjumlah 320 anggota.
Universitas Sumatera Utara
Gambar 2.1. Struktur Organisasi BOM’S
KETUA UMUM
H. Kusma Erizal Ginting, SH
Ketua Divisi Bikers
Lim Cen Yen Akuang
Ketua Divisi Becak
Safii Ucok Ondon
Sekretaris Divisi Bikers
Alvin Husein Nst., SH
Bendahara Divisi Bikers
Glory Losari Aseng
Sekretaris Divisi Becak
M. Nuh
Bendahara Divisi Bikers
Yatmianto
Bidang Humas
Divisi Bikers
Edi Wirya, SH
Bidang Logistik
Divisi Bikers
Tjin Tji Toni
Bidang Kegiatan
Divisi Bikers
Arie Wijaya
Bidang Humas
Divisi Becak
Tono
Bidang Logistik
Divisi Becak
Hermanto
Bidang Kegiatan
Divisi Becak
Hamdan
Universitas Sumatera Utara
2.2.1 Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga BOM’S
Berikut isi dari Anggaran Dasar Anggaran Rumah Tangga BOM’S :
Pendahuluan
Keberadaan becak BSA di kota Pematangsiantar, Sumatera Utara, Indonesia telah melegenda. Becak BSA merupakan satu-satunya angkutan
umum di dunia yang masih menggunakan sepeda motor gede merek Birmingham Small Arm BSA secara massal. Perjalanan waktu sejak zaman
penjajahan telah membuktikan kehandalan dan ketangguhan mesin sepeda motor BSA melewati rute naik turun, ciri topologi kota Pematangsiantar yang
berbukit-bukit. Becsk BSA unik karena digerakkan oleh mesin sepeda motor merek BSA
buatan kota Birmingham, Inggris, yang kini tak ada lagi pabriknya dan sudah tidak diproduksi. Umumnya sepeda motor BSA yang digunakan adalah tipe
M20 buatan tahun 1939 sampai 1948 berkapasitas mesin 500 cc, dan tipe ZB31, BB31 dan B31 buatan tahun 1950 sampai 1956 berkapasitas mesin
350cc Becak BSA selain menjadi kendaraan angkutan umum, dapat diandalkan
untuk menjadi sumber pemasukan devisa negara, pemerintah daerah dan penarik becak BSA itu sendiri sebagai obyek wisata sejarah mengingat becak
BSA sudah merupakan benda cagar budaya, disebut setiap benda peninggalan sejarah diatas usia 50 tahun dapat dinyatakan cagar budaya dan wajib dilindungi
pemerintah. Menurut pasal 1 ayat 2 Undang-Undang Nomor 11 tahun 2010, benda cagar budaya adalah benda alam danatau benda buatan manusia, baik bergerak
Universitas Sumatera Utara
maupun tidak bergerak, berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya, atau sisa-sisanya yang memiliki hubungan erat dengan kebudayaan dan sejarah
perkembangan manusia. Pada pertengahan Mei 2006 becak BSA akan diremajakan dengan becak
bermesin Jepang oleh oknum DPRD Kota Pematangsiantar beserta aparat terkait, hal ini kemudian ditentang oleh masyarakat kota Pematangsiantar baik penarik
becak, tokoh agama, pemuda dan elemen masyarakat lainnya. Pada momen inilah lahir organisasi BOM’S BSA Owner Motorcycle’ Siantar sebagai satu-satunya
organisasi yang secara terus menerus memperjuangkan agar rencana penghapusan becak BSA tidak dilaksanankan dan pada akhirnya dibatalkan.
Setelah berhasil menggagalkan upaya peremajaan becak BSA, maka dirasa perlu untuk terus mendampingi dan mengayomi para penarik becak BSA di Kota
Pematangsiantar maka dengan memohon Rahmat Tuhan Yang Maha Esa, untuk mencapai cita-cita tersebut dibentuklah Komunitas dan Perkumpulan penggemar,
pemiliki, pengguna dan pecinta motor BSA dengan Anggaran Dasar sebagai berikut :
Universitas Sumatera Utara
ANGGARAN DASAR BAB I
NAMA, WAKTU, SIFAT DAN KEDUDUKAN PASAL 1
NAMA Organiasasi ini di beri nama BSA OWNER MOTORCYCLE’ SIANTAR
yang selanjutnya disingkat BOM’S
PASAL 2 WAKTU
BOM’S didirikan pada 25 Juni 2006, di Kota Pematangsiantar, Provinsi
Sumatera Utara, Indonesia, untuk waktu yang tidak berbatas.
PASAL 3 SIFAT DAN BENTUK
BOM’S organisasi otomotif motor tua roda dua dan roda tiga
khususnya merek BSA yang bersifat terbuka untuk semua warga negara Republik Indonesia, tanpa membedakan suku, agama, ras dan profesi.
Universitas Sumatera Utara
PASAL 4 TEMPAT KEDUDUKAN
BOM’S Mother ChapterPusat bertempat kedudukan di kota
Pematangsiantar, provinsi Sumatera Utara dan mempunyai cabang-cabang di beberapa kota di Indonesia dan sebagian Asia Tenggara
BAB II AZAS DAN TUJUAN
PASAL 5 AZAS
BOM’S adalah organisasi yang berazaskan Pancasila.
PASAL 6 TUJUAN
BOM’S bertujuan untuk memajukan anggota agar berperan aktif dalam
mewujudkan masyarakat yang demokratis, terbuka dan berkeadilan menuju masyarakat mandiri yang sejahtera yang dapat melestarikan motor tua terutama
merk BSA sebagai aset budaya cagar budaya dan pariwisata serta aset sejarah bangsa yang harus dijaga.
Universitas Sumatera Utara
PASAL 7 STRUKTUR ORGANISASI
Struktur organisasi BOM’S tersusun sebagai berikut :
1. Organ tertinggi pembuat keputusan adalah badan pendiri.
2. Pelaksana keputusan harian adalah badan pengurus.
3. Struktur pengurus diangkat, diberhentikan dan dapat dibubarkan
serta bertanggung jawab terhadap badan pendiri.
PASAL 8 PRINSIP-PRINSIP ORGANISASI
Prinsip organisasi BOM’S adalah :
1. Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.
2. Menjunjung tinggi nilai kebenaran, kejujuran, dan menegakkan
keadilan. 3.
Menjunjung tinggi nilai-nilai sejarah dan budaya serta memajukan pariwisata.
4. Sukarela dan gotong royong.
5. Saling menghormati dan rasa kepedulian sosial kepada sesama.
6. Konsistensi menjaga, memelihara, dan mencintai motor tua.
7. Patuh terhadap organisasi, menjaga persatuan, menumbuhkan
persaudaraan, dan kesejahteraan anggota.
Universitas Sumatera Utara
BAB IV RAPAT-RAPAT
PASAL 9 RAPAT BADAN PENGURUS
1. Rapat badan pengurus dihadiri oleh seluruh pengurus yaitu ketua
umum, ketua divisi biker dan becak, sekretaris divisi biker dan becak, bendahara divisi biker dan becak serta bidang-bidang yang
dilaksanakan sekurang-kurangnya sekali dalam sebulan. 2.
Tugas-tugas dan wewenangnya : a.
Memberi laporan tentang perkembangan organisasi internal ataupun eksternal.
b. Melakukan evaluasi kerja organisasi.
c. Membuat rekomendasi-rekomendasi kerja organisasi.
PASAL 10 MEKANISME RAPAT
1. Setiap rapat harus dipimpin oleh seorang pimpinan rapat dan
didampingi oleh sekretaris. 2.
Setiap rapat di tiap tingkatan harus didokumentasikan secara tertulis dan ditanda tangani oleh pimpinan rapat, dan sekretaris.
PASAL 11 QUORUM DAN PENGAMBILAN KEPUTUSAN
1. Rapat badan pengurus dapat dilaksanakan apabila dihadiri oleh
50+1 dari total jumlah pengurus organisasi.
Universitas Sumatera Utara
2. Dalam hal tidak dicapai quorum peserta rapat yang hadir, maka
rapat ditunda selama-lamanya satu minggu dari waktu yang ditentukan, quorum peserta yang hadir masih tidak tercapai maka
rapat ditunda selama satu jam untuk kemudian dilaksanakan rapat secara sah.
3. Rapat badan pengurus dilaksanakan untuk mencapai mufakat
tentang hal-hal yang akan diputuskan dan akan dilaksanakan.
BAB V LOGO ORGANISASI
PASAL 12 LOGO
PASAL 13 ARTI DAN MAKNA LOGO
1.
Logo organisasi BOM’S terdiri dari logo merek Birmingham
Small Arm yang diapit oleh sayap dikanan kirinya. 2.
Logo merek Birmingham Small Arm mengartikan merek sepeda motor yang digunakan oleh seluruh anggota organisasi.
Universitas Sumatera Utara
3. Sayap yang mengapit dikanan dan kiri mengartikan tekad dari
organisasi untuk dapat terbang tinggi menjadi oraganisasi sepeda motor yang terbaik.
PASAL 14 MOTTO
Save Our Heritage – Selamatkan Budaya Kita BAB IV
ATURAN TAMBAHAN DAN PERALIHAN PASAL 15
1. Hal –hal yang belum diatur didalam Anggaran Dasar, akan diatur dalam
Anggaran Rumah Tangga 2.
Anggaran DasarAnggaran Rumah Tangga merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat berdiri sendiri-sendiri.
3. Perubahan Anggaran DasarAnggaran Rumah Tangga hanya dapat
dilakukan jika telah mendapat persetujan sekurang-kurangnya 23 dua per tiga dari anggota badan pengurus.
4. Usulan perubahan disampaikan secara tertulis dan dilampiri penjelasan
rinci serta diserahkan kepada pengurus selambat-lambatnya 15 lima belas hari kerja sebelum pelaksanaan.
Universitas Sumatera Utara
ANGGARAN RUMAH TANGGA BAB I
ORGANISASI PASAL 1
MUSYAWARAH BADAN PENDIRI
1. Adalah pengambil keputusan tertinggi.
2. Dilaksanakan sekurang-kurangnya 1 satu tahun sekali, oleh anggota
badan pendiri yang dihadiri oleh sekurang-kurangnya 3 tiga orang.
PASAL 2 KEPENGURUSAN
Badan pengurus dipilih, diangkat dan diberhentikan oleh badan pendiri pada musyawarah tertinggi untuk masa jabatan 3 tiga tahun.
1. Badan pengurus berkedudukan di sekretariat organisasi
2. Badan pengurus merupakan badan badan pimpinan tertinggi
dibawah badan pendiri. 3.
Badan pengurus sebagai pimpinan harian dan membuat keputusan harian organisasi.
4. Badan pengurus mempertanggungjawabkan kepengurusannya
dalam musyawarah tertinggi. 5.
Tugas dan tangggung jawabnya : a.
Melaksanakan keputusan. b.
Mengambil keputusan dan memberikan arahan kepada
anggota BOM’S.
Universitas Sumatera Utara
c. Menyelenggarakan rapat badan pengurus sekurang-
kurangnya sekali dalam sebulan. d.
Membuat laporan secara tertulis hasil kerjanya kepada badan pendiri.
e. Mengumpulkan uang iuran wajib anggota.
6. Anggota badan pengurus terdiri dari :
a. Ketua Umum
b. Ketua divisi biker – Ketua divisi becak
c. Sekretaris divisi biker – Sekretaris divisi becak
d. Bendahara divisi bikers – Bendahara divisi becak
e. Bidang-bidang divisi biker – Bidang-bidang divisi
becak
PASAL 3 STRUKTUR DAN TUGAS KEPENGURUSAN
1. Ketua Umum :
a. Mengepalai badan kepengurusan harian.
b. Mengkoordinir pengurus harian.
c. Mewakili organisasi dalam kerja-kerja eksternal.
d. Mempersiapkan, melaksanakan dan mengawasi keputusan.
e. Melaksanakan program organisasi.
2. Sekretaris :
a. Memimpin dan mengkoordinasi kerja-kerja internal dan eksternal
organisasi dibantu oleh bidang-bidangnya.
Universitas Sumatera Utara
b. Pengarsipan dokumen.
c. Menyiapkan seluruh bahan rapat untuk badan pengurus.
d. Menyelenggarakan rapat badan pengurus sekurang-kurangnya
sekali dalam sebulan. 3.
Bendahara : a.
Menyimpan dan mengelola keuangan organisasi. b.
Memberikan laporan keuangan pada rapat-rapat badan pengurusdan musyawarah tertinggi.
4. Bidang-bidang bertugas sesuai dengan bidangnya masing-masing dan
saling berkoordinasi untuk membantu jalannya roda organisasi.
BAB II KEANGGOTAAN
PASAL 4 SYARAT ANGGOTA
Syarat – syarat untuk menjadi anggota BOM’S adalah :
1. Memiliki sepeda motor atau becak merek BSA.
2. Memiliki pemahaman dan menyepakati prinsip serta program
BOM’S .
3. Telah mengajukan permohonan dan mengisi formulir anggota
serta tercatat dalam daftar anggota. 4.
Bersedia mematuhi ADART BOM’S
5. Telah menyerahkan uang pendaftaran divisi biker dan syarat-
syarat pendaftaran divisi biker dan divisi becak.
Universitas Sumatera Utara
PASAL 5 KEWAJIBAN-KEWAJIBAN ANGGOTA
1.
Mematuhi serta menjunjung tinggi ADART Organisasi.
2. Mematuhi kebijakan, keputusan dan aturan-aturan yang telah
ditetapkan.
3.
Menjalankan program serta melaksanakan keputusan kepengurusan.
4.
Membayar iuran anggota divisi biker.
5.
Berperan serta dalam mengembangkan dan memajukan organisasi. PASAL 6
HAK-HAK ANGGOTA
1. Ikut terlibat aktif dalam aktifitas yang diselenggarakan anggota.
2. Memperoleh advokasi dari organisasi apabila terdapat kasus yang
menyangkut pelaksanaan kegiatan organisasi. 3.
Mendapatkan arahan dan menjalankan program organisasi. 4.
Menyampaikan pendapat dan usulan. 5.
Mendapatkan informasi perkembangan organisasi. 6.
Berhenti atau mengundurkan diri dengan alasan yang benar dan wajar.
BAB III DISIPLIN ANGGOTA
PASAL 7 SANKSI
1. Teguran lisan.
2. Teguran tertulis.
Universitas Sumatera Utara
3. Skorsing dan kehilangan haknya sebagai anggota namun tetap
menjalankan kewajibannya. 4.
Pencabutan status keanggotaan BOM’S. PASAL 8
PELAKSANAAN SANKSI
1. Sanksi dilakukan atas penilaian yang benar dan adil.
2. Hasil keputusan diserahkan kepada Ketua Umum dan diumumkan
kepada anggota melalui rapat badan pengurus dan pada Majalah Dinding Organisasi.
PASAL 9 HAK PEMBELAAN DIRI
1. Anggota yang menerima sanksi berhak melakukan pembelaan diri di
depan badan pengurus. 2.
Apabila pembelaan diri diterima maka badan pengurus akan mencabut sanksi yang diberikan.
BAB IV KEUANGAN
PASAL 10 Sumber keuangan BOM’S didapat dari :
1. Iuran wajib anggota.
2. Donasi yang tidak mengikat dari simpatisan maupun sponsor.
Universitas Sumatera Utara
3. Kerja sama sosial-ekonomi.
PASAL 11 Setiap anggota BOM’S membayar iuran rutin bulanan sebesar Rp.100.000
seratus ribu rupiah.
PASAL 12
Untuk menjaga keamanan maka dana dapat disimpan di Bank atau
lembaga yang dipercaya atas nama BSA Owner Motorcycle’ Siantar BOM’S. BAB V
TAMBAHAN DAN PERALIHAN
Hal-hal yang belum diatur dalam Anggaran DasarAnggaran Rumah Tangga akan diatur dalam rapat-rapat Badan Pengurus.
Universitas Sumatera Utara
VISI DAN MISI VISI
Menjadi organisasi yang memperkenalkan dan mempertahankan keberadaan becak motor BSA sebagai ikon dan situs cagar budaya
daerah kota Pematangsiantar di kancah nasional dan internasional.
Misi
1. Menghimpun dan mempersatukan semua pengguna motor tua merk
BSA baik bikers roda 2 maupun becak motor roda 3. 2.
Melakukan upaya meningkatkan citra positif melalui kegiatan gotong royong, saling bantu dan mempererat tali persahabatan sesama anggota
dalam komunitas BSA Owner Motorcycles’ Siantar BOM’S. 3.
Melaksanakan kegiatan sosial kepada masyarakat khususnya kalangan abang becak motor dan lebih luas lagi pada masyarakat yang kurang
mampu. 4.
Menjadikan organisasi BSA Owner Motorcycles’ Siantar BOM’S sebagai club motor tua yang bersifat positif dan berorientasi pada sikap
yang profesional. 5.
Melakukan kegiatan yang dapat menjadi contoh bagi masyarakat dalam etika berkendaraan yang baik dan benar, mematuhi aturan lalu lintas
sesuai peraturan yang berlaku dan menjaga serta membantu ketertiban para pengguna jalan.
6. Mempererat tali persaudaraan sesama anggota BOM’S khususnya dan
club motor lainnya dari segala jenis merk pada umumnya.
Universitas Sumatera Utara
BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Kerangka Konsep Penelitian
Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Secara sederhana dapat dikatakan
bahwa penelitian kualitatif adalah meneliti informan sebagai subjek penelitian dalam lingkungan hidup kesehariannya Idrus,2009
Desain penelitian kualitatif bersifat naturalistik wajar karena peneliti tidak berusaha memanipulasi atau bahkan mensimulasi suasana penelitian. Hal
yang dikaji adalah situasi dunia nyata sebagaimana terjadi secara wajar. Peneliti berusaha sedapat-dapatnya tidak mengusik ataupun mengontrol, ia
bersifat terbuka terhadap apa saja yang muncul. Tidak ada kendala-kendala yang telah ditentukan dari awal terhadap hasil yang diharapkan Suyanto,
1995. Tesis ini akan mendeskripsikan bagaimana budaya organisasi kepemimpinan, kebijakan umum, prinsip atau nilai-nilai, norma-norma
kelompok dan pola prilaku interaksi anggota di organisasi BSA Owner Motorcycle’ Siantar BOM’S di kota Pematangsiantar.
56
Universitas Sumatera Utara
Gambar 3.1. Kerangka Pemikiran
ORGANISASI BSA OWNER MOTORCYCLE SIANTAR
BUDAYA ORGANISASI
Elemen Idealistik : 1.
Asumsi Dasar 2.
Nilai dan Keyakinan
Elemen Behavioral : 1.
Norma 2.
Bahasa 3.
Simbol 4.
Ritual dan Seremoni 5.
Mitos dan Cerita 6.
Taboo
Universitas Sumatera Utara
3.2 Lokasi Penelitian
Penelitian dilakukan di kota Pematangsiantar Provinsi Sumatera Utara. Alasan peneliti melakukan penelitian di lokasi ini karena alat transportasi
becak BSA tidak dapat ditemukan di kota manapun di dunia selain di kota Pematangsiantar, dan organisasi BOM’S bertempat di kota Pematangsiantar.
3.3 Informan