Efektivitas Kelembagaan Partisipatoris di Hulu Daerah Aliran Sungai Citarum (Studi Kasus Komunitas Cikapundung Rehabilitation Program dan Komunitas Zero, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat)

ii
ii

ABSTRACT
SITI HALIMATUSADIAH. Effectiveness of Participatory Institutions in Upstream
Area of Citarum River Basin (Case Study: Cikapundung Rehabilitation Program
Community and Zero Community, Coblong Subdistrict, Bandung, West Java Province).
(Supervised by ARYA HADI DHARMAWAN and RINA MARDIANA).

Upstream watershed is one of the sub-watersheds that serve to maintain
the availability of water for the central and downstream region. So that, when
damage occurs in that area, it will effect to the middle and lower area of the
watershed. The purposes of this study were (1) to determine the stakeholders who
involved in the rescue of Citarum watershed upstream, (2) to know the
effectiveness of participatory institutions to change attitudes and behavior of
society around the Citarum watershed upstream. This study was conducted using
a quantitative approach supported by qualitative approach. Meanwhile, the
results of this study showed (1) institutional participatory have successfully
changed attitudes and behavior of society to not to dispose the household
garbage and sewage into the river again (2) participatory institutional not yet
managed to change the manner of private parties to not to dispose garbage and
industrial waste into the river, and (3) participatory institutions in central are
more effective to change society attitudes and behavior to be more concerned for
the environment than the existing participatory institutions in the upstream. In
generally, the participatory institutions have successfully established
collaborative between public, private and government at the sub-watershed
upstream.
Keywords:

stakeholders, participatory institutional,
watershed, community participation.

rescue of

upstream

1

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Barber (1997) menyatakan bahwa Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan
suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anakanak sungainya serta berfungsi menampung, menyimpan dan mengalirkan air
yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami. Batas di darat
merupakan pemisah topografis dengan batas di laut sampai daerah perairan yang
masih terpengaruh aktivitas daratan. DAS merupakan kesatuan ekosistem yang
utuh dari hulu hingga hilir yang terdiri dari unsur utama tanah, vegetasi, air
maupun udara, serta memiliki fungsi penting dalam pembangunan ekonomi
masyarakat yang berkelanjutan.
DAS dapat dibagi ke dalam tiga komponen yaitu: bagian hulu, tengah dan
hilir. Ekosistem bagian hulu merupakan daerah tangkapan air utama dan pengatur
aliran. Ekosistem bagian tengah sebagai daerah distributor dan pengatur air,
sedangkan ekosistem bagian hilir merupakan pengguna air. Hubungan antara
ekosistem-ekosistem tersebut menjadikan DAS sebagai satu kesatuan hidrologis
yang tidak dapat dipisahkan. Kesatuan pengelolaan DAS menjadi hal penting
untuk dilakukan sebagai upaya untuk mengendalikan hubungan timbal balik
antara sumberdaya alam dengan manusia dan segala aktivitasnya dengan tujuan
membina kelestarian dan keserasian ekosistem serta meningkatkan kemanfaatan
sumberdaya alam bagi kesejahteraan manusia (Barber 1997).
Kerusakan DAS yang terjadi saat ini dipercepat oleh peningkatan
pemanfaatan sumberdaya alam sebagai akibat dari pertambahan penduduk,
konflik kepentingan, kurangnya keterpaduan antar sektor, dan antara wilayah
hulu-tengah-hilir. Degradasi DAS diperparah dengan pesatnya perkembangan
ekonomi dimana banyaknya industri-industri menyebabkan meningkatnya
permintaan terhadap sumberdaya alam hingga berujung pada tingginya tekanan
terhadap DAS dan berakhir pada kerusakan ekosistem DAS (Dephut 2006). Saat
ini, di Indonesia terdapat 458 DAS yang dikelola oleh masing-masing pemerintah
daerah beserta jajaran terkait. Dalam 20 tahun terakhir, jumlah DAS kritis di

2

Indonesia meningkat dari 22 menjadi 62 ekosistem DAS yang merupakan
prioritas pertama; 232 DAS prioritas kedua; dan 178 DAS prioritas ketiga,
terhadap penanganan akibat kerusakannya. Tingkat kerusakan DAS ini
diindikasikan dengan fluktuasi debit sungai yang tajam antara musim penghujan
dan kemarau, pendangkalan sungai, danau, dan waduk, serta terjadinya tanah
longsor, banjir dan kekeringan. Deforestasi yang menyebabkan degradasi lahan di
bagian hulu dan tengah DAS memicu terjadinya erosi yang berdampak pada
sedimentasi di bagian hilir DAS. Prinsip interkonektivitas untuk daerah DAS
sangatlah besar. Bila terjadi kerusakan di salah satu bagian DAS, maka akan
mempengaruhi bagian DAS yang lain (Dephut 2008).
Perubahan situasi sosial, politik, ekonomi dan budaya yang terjadi di
Indonesia bersamaan dengan krisis multidimensi dalam beberapa tahun terakhir
ini, telah mendorong terjadinya perubahan pada arah pengelolaan DAS. Semenjak
diberlakukannya otonomi daerah, pengelolaan DAS menjadi terkotak-kotak, tidak
terintegrasi dan sektoral. Hingga saat ini, belum ada satu lembaga/instansi
pengelolaan DAS yang dapat mengintegrasikan seluruh pemangku kepentingan
dari berbagai sektor yang ada. Tidak adanya pedoman yang sama yang digunakan
oleh masing-masing sektor membuat pengelolaan terhadap DAS semakin
terpecah-pecah dimana lembaga-lembaga pengelolaan DAS hanya bekerja pada
wilayahnya masing-masing serta hanya berdasarkan batas wilayah administratif
semata (Dephut 2008).
Pemerintah di berbagai daerah selama ini memandang DAS sebagai suatu
komoditas yang dapat meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) dengan
berlomba-lomba membuat kebijakan yang membuka peluang kepada pihak swasta
untuk dapat mengelola sumberdaya alam dibandingkan dengan masyarakat
setempat.

Otonomi

daerah

yang

seharusnya

berfungsi

mensejahterakan

masyarakat lokal serta mendekatkan pemerintah dengan masyarakat justru
sebaliknya. Program penghijauan, konservasi dan pemberdayaan yang selama ini
dilakukan membuktikan bahwa sekian upaya dengan biaya yang besar tidak
mampu mencegah bencana di DAS berupa banjir dan longsor serta belum dapat
menyentuh dan menjawab kebutuhan masyarakat sekitar DAS, karena pada

3

perjalanannya, masyarakat tidak dilibatkan dalam perencanaan, pelaksanaan
hingga evaluasi program pengelolaan DAS tersebut.
Mekanisme bottom up yang selama ini menjadi inti dari otonomi daerah
sepertinya masih sulit diterapkan oleh aparat pemerintah dimana pemerintah sulit
untuk melepaskan dominasi kewenangan dan kekuasaanya untuk diberikan
kepada masyarakat lokal sebagai pihak yang menentukan setiap kegiatan di
daerahnya masing-masing. Koordinasi antar lembaga terkait dalam pengelolaan
DAS menjadi elemen penting untuk terlaksananya pengelolaan DAS secara
optimal. Pengelolaan DAS terpadu pada dasarnya merupakan bentuk pengelolaan
yang

bersifat

partisipatif

dari

berbagai

pemangku

kepentingan

yang

berkepentingan dalam memanfaatkan sumberdaya alam pada tingkat DAS.
Pengelolaan partisipatif ini mempersyaratkan adanya rasa saling mempercayai,
keterbukaan, rasa tanggung jawab, dan mempunyai rasa ketergantungan
(interdependency). Peran pemangku kepentingan menjadi hal yang sangat
strategis

karena

pengelolaan

DAS

individu/kelompok/organisasi/kelembagaan

sangat
yang

tergantung

mengelolanya.

pada

Pemangku

kepentingan harus menyadari betapa pentingnya peranan partisipasi masyarakat
dalam sebuah kelembagaan pengelolaan DAS, mulai dari perencanaan, perumusan
kebijakan, pelaksanaan hingga pemungutan manfaat.
Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan di atas, penulis bermaksud
mengkaji kelembagaan partisipatoris yang berada di hulu DAS Citarum (Sub DAS
Cikapundung). Penulis juga melakukan telaah lebih dalam terhadap pihak-pihak
yang terlibat dalam pengelolaan serta penyelamatan hulu DAS Citarum (Sub DAS
Cikapundung).

1.2 Perumusan Masalah
Menurut Dephut

(2006) pengelolaan

DAS

sebagai

bagian dari

pembangunan wilayah dalam implementasinya melibatkan banyak pemangku
kepentingan yang lintas wilayah, serta multi disiplin ilmu. Berbagai permasalahan
terkait pengelolaan DAS, merupakan hal yang kompleks dan saling terkait, serta
tidak mungkin diselesaikan hanya didasarkan pada satu kepentingan atau sudut
pandang DAS saja. Kegiatan pengelolaan DAS tersebut mencakup aspek-aspek

4

perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan kegiatan di lapangan, pengendalian
dan aspek pendukung yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan, baik
unsur pemerintah, swasta maupun masyarakat. Masyarakat merupakan unsur
pelaku utama dalam pengelolaan DAS, sedangkan pemerintah sebagai unsur
pemegang otoritas kebijakan, fasilitator dan pengawas yang direpresentasikan
oleh instansi-instansi sektoral pusat dan daerah yang terkait dengan pengelolaan
DAS.
Kerusakan DAS yang selama ini terjadi adalah akibat dari para pemangku
kepentingan yang berkuasa dalam mengelola DAS, hal ini harus segera ditangani
dengan cepat dan sigap. Perubahan lingkungan ekosistem DAS yang semakin hari
kian parah akan membawa dampak yang sangat berbahaya khususnya bagi
masyarakat yang tinggal di sekitar DAS, dikarenakan berpotensi mengalami
bencana seperti banjir, longsor dan kekeringan. Salah satu langkah awal untuk
mengatasi kerusakan DAS yang semakin parah adalah dengan membentuk
gerakan masyarakat untuk bersama-sama melestarikan dan menjaga ekosistem
DAS. Untuk membentuk gerakan masyarakat tersebut dibutuhkan suatu wadah
yang dapat menampung aspirasi dan koordinasi dalam mengelola DAS.
Prinsipnya kelembagaan DAS dibentuk atas kesadaran dan kebutuhan masyarakat
sekitar DAS untuk melaksanakan pengelolaan DAS yang lebih baik sebagai akibat
dari permasalahan-permasalahan yang timbul seperti konflik kepentingan antar
sektor dan antar pemerintah daerah yang menyebabkan degradasi DAS.
Pembentukan kelembagaan DAS harus didasarkan pada komitmen bersama dalam
pencapaian tujuan pengelolaan DAS. Dengan keanggotaan kelembagaan
demikian, maka akan terbangun komunikasi dan jejaring kerja (networking)
diantara pemangku kepentingan yang terkait dengan pengelolaan DAS. Masingmasing pihak dapat memperoleh manfaat, peran, tanggungjawab dan membangun
komitmen untuk mencapai tujuan bersama dalam meningkatkan kesejahteraan
masyarakat dan melestarikan ekosistem DAS (Dephut 2003 b).
Berdasarkan uraian yang dipaparkan sebelumnya, untuk terus memberi
manfaat bagi seluruh pihak khususnya masyarakat sub DAS tengah dan hilir maka
dibutuhkan upaya penyelamatan pada hulu DAS. Upaya penyelamatan hulu DAS
tersebut sangat bergantung pada sejauh mana kelembagaan yang terdapat di

5

daerah hulu tersebut berperan dalam menjaga pelestarian lingkungan, fungsi dan
kualitas air bagi sub DAS tengah dan hilir. Terkait hal tersebut, penulis
merumuskan masalah penelitian, sebagai berikut:
1. Sedalam dan seluas apakah pemangku kepentingan terlibat dalam upaya
penyelamatan hulu DAS Citarum (Sub DAS Cikapundung)?
2. Bagaimana efektivitas kelembagaan partisipatoris dalam mengubah sikap dan
perilaku masyarakat di sekitar hulu DAS Citarum (Sub DAS Cikapundung)?

1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah di atas, disusunlah beberapa tujuan
penelitian sebagai berikut:
1. Mengetahui pemangku kepentingan yang terlibat dalam upaya penyelamatan
hulu DAS Citarum (Sub DAS Cikapundung).
2. Mengetahui efektivitas kelembagaan partisipatoris dalam mengubah sikap dan
perilaku masyarakat di sekitar hulu DAS Citarum (Sub DAS Cikapundung).

1.4 Kegunaan Penelitian
Melalui penelitian ini, diharapkan dapat memberikan pengantar atau
sebagai pengenalan lebih lanjut mengenai konsep kelembagaan di hulu DAS yang
menjadi topik kajian sekaligus untuk mencari penguatan teori yang telah diperoleh
di perkuliahan. Melalui penelitian ini, terdapat juga beberapa hal yang ingin
penulis sumbangkan pada berbagai pihak, yaitu:

1.4.1 Bidang Akademis
Kegunaan penelitian ini dapat menjadi referensi bagi peneliti yang ingin
mengkaji permasalahan kelembagaan DAS serta untuk meningkatkan kemampuan
peneliti dalam menerapkan berbagai konsep, teori dan pendekatan masalah DAS
dengan menggunakan teori partisipatif. Penelitian ini merupakan salah satu
perwujudan

dari

Tridharma

Perguruan

Tinggi

yang

diharapkan

dapat

meningkatkan khasanah ilmu pengetahuan, khususnya bidang ekosistem DAS.

6

1.4.2 Masyarakat Umum
Penelitian ini diharapkan dapat berdampak positif bagi masyarakat
setempat, menambah pengetahuan tentang kajian kelembagaan di DAS khususnya
untuk upaya penyelamatan di hulu DAS.

1.4.3 Pemerintah
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan atau dijadikan bahan
pertimbangan bagi para penentu kebijakan (pemerintah) yang berkaitan dengan
pengelolaan DAS.

7

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Tinjauan Pustaka
2.1.1 Daerah Aliran Sungai
2.1.1.1 Definisi Daerah Aliran Sungai
Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan suatu sistem ekologi yang
tersusun atas komponen-komponen biofosik dan sosial (human systems) yang
dipandang sebagai satu kesatuan yang tak terpisahkan satu sama lain (Dharmawan
et al. 2005). Menurut Manan (1976) sebagaimana dikutip Dharmawan et al.
(2005), DAS didefinisikasn sebagai bentang lahan yang dibatasi oleh topografi
pemisah aliran (topographic divide), yaitu punggung bukit atau gunung yang
menangkap curah hujan, menyimpan dan kemudian mengalirkannya melalui
saluran-saluran pengaliran ke suatu titik (outlet) yang umumnya berada di muara
sungai biasa atau danau.
Menurut Kartodihardjo et al. (2004), definisi DAS dari sudut pandang
institusi bukan menunjuk pada hak-hak terhadap sumberdaya di dalam DAS,
batas yurisdiksi pihak-pihak yang berada dalam DAS maupun bentuk-bentuk
aturan perwakilan yang diperlukan dalam pengambilan keputusan seputar caracara yang digunakan (teknologi), melainkan bagaimana para pihak mempunyai
kapasitas dan kemampuan untuk mewujudkan aturan main diantara mereka,
termasuk kesepakatan dalam penggunaan teknologi itu sendiri, sehingga
masing-masing pihak mempunyai kepastian hubungan yang

sejalan dengan

tujuan yang telah ditetapkan.
Pendefinisian DAS dalam konsep daur hidrologi sangat diperlukan
terutama untuk melihat masukan berupa curah hujan yang selanjutnya
didistribusikan melalui beberapa cara. Chay Asdak (2002) sebagaimana dikutip
Dephut (2003c), menjelaskan konsep daur hidrologi DAS bahwa air hujan
langsung sampai ke permukaan tanah untuk kemudian terbagi menjadi air larian,
evaporasi dan air infiltrasi, yang kemudian akan mengalir ke sungai sebagai debit
aliran. Komponen-komponen utama ekosistem DAS, terdiri dari: manusia,
hewan,

vegetasi,

tanah,

iklim,

dan

air.

Masing-masing

komponen

8

tersebut memiliki sifat yang khas dan keberadaannya tidak berdiri sendiri,
namun berhubungan dengan komponen lainnya membentuk kesatuan sistem
ekologis (ekosistem). Manusia memegang peranan yang penting dan dominan
dalam mempengaruhi kualitas suatu DAS. Gangguan terhadap salah satu
komponen ekosistem akan dirasakan oleh komponen lainnya dengan sifat dampak
yang berantai. Keseimbangan ekosistem akan terjamin apabila kondisi hubungan
timbal balik antar komponen berjalan dengan baik dan optimal.

2.1.1.2 Kesatuan dan Fungsi Daerah Aliran Sungai
Fungsi hidrologis DAS sangat dipengaruhi jumlah curah hujan yang
diterima, geologi yang mendasari dan bentuk lahan. Fungsi hidrologis yang
dimaksud termasuk kapasitas DAS menurut Farida et al. (2005) untuk: (1)
mengalirkan air; (2) menyangga kejadian puncak hujan; (3) melepas air secara
bertahap; (4) memelihara kualitas air; dan (5) mengurangi pembuangan massa
(seperti tanah longsor). Aktivitas yang mempengaruhi komponen DAS di bagian
hulu akan mempengaruhi kondisi DAS bagian tengah dan hilir. Batas DAS secara
administratif hanya dapat tercakup dalam satu kabupaten hingga melintas batas
provinsi dan negara. Suatu DAS yang sangat luas dapat terdiri dari beberapa sub
DAS yang kemudian dapat dikelompokkan lagi menjadi DAS bagian hulu, DAS
bagian tengah dan DAS bagian hilir (Dephut 2003 c). Fungsi dari setiap sub DAS
tersebut adalah sebagai berikut:
Pertama, DAS bagian hulu dapat diindikasikan dari kondisi tutupan
vegetasi lahan DAS, kualitas air, kemampuan menyimpan air (debit), dan curah
hujan. DAS bagian hulu dicirikan sebagai daerah dengan lanskap pegunungan
dengan variasi topografi, mempunyai curah hujan yang tinggi dan sebagai daerah
konservasi untuk mempertahankan kondisi lingkungan DAS agar tidak
terdegradasi. DAS bagian hulu mempunyai arti penting terutama dari segi
perlindungan fungsi tata air, karena itu setiap terjadinya kegiatan di daerah hulu
akan menimbulkan dampak di daerah hilir dalam bentuk perubahan fluktuasi debit
dan transport sedimen sistem aliran airnya.
Kedua, DAS bagian tengah didasarkan pada fungsi pemanfaatan air
sungai yang dikelola untuk dapat memberikan manfaat bagi kepentingan sosial

9

dan ekonomi, yang antara lain dapat diindikasikan dari kuantitas air, kualitas air,
kemampuan menyalurkan air, dan ketinggian muka air tanah, serta terkait pada
prasarana pengairan seperti pengelolaan sungai, waduk, dan danau.
Ketiga, DAS bagian hilir didasarkan pada fungsi pemanfaatan air sungai
yang dikelola untuk dapat memberikan manfaat bagi kepentingan sosial dan
ekonomi, yang diindikasikan melalui kuantitas dan kualitas air, kemampuan
menyalurkan air, ketinggian curah hujan, dan terkait untuk kebutuhan pertanian,
air bersih, serta pengelolaan air limbah. Bagian hilir merupakan daerah
pemanfaatan yang relatif landai dengan curah hujan yang lebih rendah. Semakin
ke hilir, mutu air, kontinuitas, kualitas dan debit akan semakin berkurang
kualitasnya dibandingkan dengan DAS bagian hulu. Hal ini terjadi karena badan
air di hulu tercemari oleh kegiatan-kegiatan manusia baik domestik maupun
industri, sehingga badan air di bagian hilir mengalami kondisi dan kualitas yang
kurang baik. Keberadaan sektor kehutanan di daerah hulu yang terkelola dengan
baik dan terjaga keberlanjutannya dengan didukung oleh prasarana dan sarana di
bagian tengah akan dapat mempengaruhi fungsi dan manfaat DAS di bagian hilir,
baik untuk pertanian, kehutanan maupun untuk kebutuhan air bersih bagi
masyarakat secara keseluruhan.

2.1.1.3 Pengelolaan Daerah Aliran Sungai
Pengelolaan

DAS

adalah

upaya manusia

untuk

mengendalikan

hubungan timbal balik antara sumberdaya alam dengan manusia dan segala
aktivitasnya, dengan tujuan membina kelestarian dan keserasian ekosistem
serta meningkatkan kemanfaatan sumberdaya alam bagi kesejahteraan manusia.
Prinsip dasar dalam pengelolaan DAS yaitu “satu DAS, satu perencanaan, satu
pengelolaan”. Dengan prinsip ini pengelolaan DAS dilakukan dengan pendekatan
ekosistem dengan asas keterpaduan, kemanfaatan,

kelestarian,

dan keadilan

(Sumampouw et al. t.t).
Pengelolaan DAS menurut Dephut (2008) adalah upaya dalam mengelola
hubungan timbal balik antar sumberdaya alam terutama vegetasi, tanah dan air
dengan sumberdaya manusia di DAS dan segala aktivitasnya untuk mendapatkan
manfaat ekonomi dan jasa lingkungan bagi kepentingan pembangunan dan

10

kelestarian ekosistem DAS. Mengacu pada penelitian Citanduy, pengelolaan DAS
dalam konteks yang lebih luas dipandang sebagai suatu sistem sumberdaya,
satuan pengembangan sosial ekonomi dan satuan pengaturan tata ruang wilayah
yang dijalankan

berdasarkan

prinsip

konservasi

sumberdaya

(resources

sustainability) yang mengandung makna keterpaduan antara prinsip produktivitas
dan konservasi sumberdaya (sustainability = productivity + conservation of
resources) dalam mencapai tujuan-tujuan pengelolaan DAS (Dharmawan et al
2005). Tujuan-tujuan pengelolaan DAS tersebut menurut Dephut (2008) meliputi:
1. Lahan yang produktif dan berkelanjutan sesuai dengan daya dukungnya;
2. DAS yang mempunyai tutupan vegetasi tetap yang memadai dan aliran (debit)
air sungai stabil dan jernih tanpa ada pencemaran air;
3. Kesadaran, kemampuan dan partisipasi aktif para pihak termasuk masyarakat
di dalam pengelolaan DAS semakin lebih baik;
4. Kesejahteraan masyarakat yang lebih baik.
Ruang lingkup kegiatan pengelolaan DAS sebagaimana dinyatakan oleh
(Dephut 2008) meliputi :
1. Penatagunaan lahan (landuse planning) untuk memenuhi berbagai kebutuhan
barang dan jasa serta kelestarian lingkungan;
2. Penerapan konservasi sumberdaya air untuk menekan daya rusak air dan untuk
memproduksi air (water yield) melalui optimalisasi penggunaan lahan;
3. Pengelolaan lahan dan vegetasi di dalam dan luar kawasan hutan (pemanfaatan,
rehabilitasi, restorasi, reklamasi dan konservasi);
4. Pembangunan dan pengelolaan sumberdaya buatan terutama yang terkait
dengan konservasi tanah dan air;
5. Pemberdayaan masyarakat dan pengembangan kelembagaan pengelolaan DAS.
Pengelolaan DAS selama ini memperlihatkan bahwa lembaga-lembaga
pengelolaan DAS hanya bekerja pada batas wilayah administratif masing-masing.
Pedoman yang digunakan lembaga-lembaga terkait untuk mengelola DAS pun
berbeda-beda. Umumnya pengelolaan DAS yang dilakukan oleh lembagalembaga yang ada hanya berupa rehabilitasi dan konservasi. Program-program
tersebut hanya akan muncul jika telah terjadi deforestasi dan degradasi pada DAS.

11

2.1.1.4 Kerusakan Ekosistem Daerah Aliran Sungai
Tingkat kekritisan suatu DAS ditunjukkan oleh menurunnya penutupan
vegetasi permanen dan meluasnya lahan kritis sehingga menurunkan kemampuan
DAS dalam menyimpan air. Sampai dengan tahun 2007 penutupan hutan di
Indonesia sekitar 50 persen dari luas daratan dan ada kecenderungan luasan areal
yang tertutup hutan terus menurun dengan rata-rata laju deforestasi tahun 20002005 sekitar 1,089 juta ha per tahun, sedangkan lahan-lahan kritis dan sangat
kritis masih tetap luas yaitu sekitar 30,2 juta ha (terdiri dari 23,3 juta ha sangat
kritis dan 6,9 juta ha kritis), serta erosi dari daerah pertanian lahan kering yang
padat penduduk tetap tinggi melebihi yang dapat ditoleransi (15 ton/ha/th)
sehingga fungsi DAS dalam mengatur siklus hidrologi menjadi menurun (Dephut
2008).
Menurut Kartodihardjo et al. (2004), rusaknya SDA disebabkan antara lain
oleh: (1) berbagai kegiatan pembangunan yang lebih menitik-beratkan pada
produksi komoditas (tangible product); (2) lemahnya institusi (dalam arti aturan
main maupun organisasi) yang tujuannya mencegah rusaknya sumberdaya yang
berupa stock (dan menghasilkan

intangible product) seperti bentang alam,

watershed, danau, kawasan lindung dan pantai-laut-pulau kecil; (3) lemahnya
institusi yang tugasnya melakukan penyelesaian konflik dan penataan penguasaan,
pemilikan

serta

pemanfaatan

sumber-sumber

agraria.

Perkembangan

pembangunan yang masih tertuju pada pertumbuhan ekonomi dan peningkatan
kesempatan kerja akan senantiasa mengeksploitasi sumberdaya alam sebagai
faktor produksi yang diperlukan. Orientasi ekonomi pada komoditas (barang)
sumberdaya alam ini dalam kondisi lemahnya institusi publik yang mengaturnya
akan mengabaikan fungsi sumberdaya alam sebagai daya dukung kehidupan
(jasa).
Dalam 20 tahun terakhir, jumlah DAS kritis di Indonesia meningkat dari
22 menjadi 60 (Sumampouw et al. t.t). Buku Laporan Status Lingkungan Hidup
Indonesia (SLHI) tahun 2007 mencatat ada 60 DAS kritis yang menduduki
prioritas utama. Sebuah DAS disebut kritis dan masuk kategori prioritas utama
bila seluruh parameter penilaian memperlihatkan hasil di bawah standar. Salah

12

satu parameternya adalah tutupan lahan di sekitar DAS. Singkatnya, setiap tahun
jumlah DAS kritis terus bertambah.
Tabel 2.1 DAS Kritis di Indonesia
Daerah Aliran Sungai Kritis di Indonesia
Kategori
Jumlah
Prioritas 1
60
Prioritas 2
222
Prioritas 3
176
Sumber: (Sumampouw et al t.t)

Kondisi kritis DAS ini ditandai dengan menurunnya kemampuan DAS
untuk menyimpan air. Dampaknya adalah meningkatnya frekuensi banjir, erosi,
sedimentasi dan longsor pada musim hujan serta kekeringan pada musim
kemarau. Peningkatan jumlah DAS kritis ini menimbulkan kerugian materi dan
jiwa. Saat ini, kerusakan DAS dipercepat oleh peningkatan pemanfaatan
sumberdaya alam sebagai akibat dari pertambahan penduduk dan perkembangan
ekonomi, konflik kepentingan dan kurang keterpaduan antar sektor yaitu antara
wilayah hulu-tengah-hilir, terutama pada era otonomi daerah, dimana sumberdaya
alam ditempatkan sebagai sumber PAD (Dephut 2006).
Tingkat kekritisan DAS sangat berkaitan dengan tingkat sosial ekonomi
masyarakat petani di daerah tengah hingga hulu DAS terutama jika kawasan hutan
dalam DAS tidak luas seperti DAS-DAS di pulau Jawa dan Bali. Tingkat
kesadaran dan kemampuan ekonomi masyarakat petani yang rendah akan
mendahulukan kebutuhan primer dan sekunder (sandang, pangan, dan papan)
bukan kepedulian terhadap lingkungan, sehingga sering terjadi perambahan hutan
di daerah hulu DAS, penebangan liar dan praktik-praktik pertanian lahan kering di
perbukitan yang akan meningkatkan kekritisan DAS. Bentuk kerusakan ekologi
ini didominasi oleh kerusakan hutan yang berdampak pada kerusakan DAS
(Dephut 2008).

2.1.2 Pengelolaan Daerah Aliran Sungai Terpadu
2.1.2.1 Konsep Pengelolaan Kolaboratif Daerah Aliran Sungai
Menurut Gray (1989) sebagaimana dikutip Means et al. (2005), kolaborasi
adalah suatu proses dimana dua pemangku kepentingan atau lebih yang berbeda

13

kepentingan dalam suatu persoalan yang sama menjajagi dan bekerjasama melalui
perbedaan-perbedaan untuk bersama-sama mencari pemecahan bagi keuntungan
bersama. Suporahardjo (2005) menyebutkan pendekatan kolaborasi sering disebut
sebagai “jembatan” (bridges) untuk meningkatkan pengelolaan sumberdaya.
Sebagai jembatan penyeberangan yang berfungsi mengintegrasikan batas-batas
yang dibatasi oleh geografi, kepentingan dan persepsi, Straus (2002) sebagaimana
dikutip Suporahardjo (2005), menyatakan pendekatan kolaborasi juga dikenal
sebagai salah satu pendekatan yang bukan bersifat permusuhan (nonadversarial
approach) untuk penyelesaian masalah dan konflik. Dalam prakteknya kolaborasi
banyak digunakan untuk menyelesaikan sengketa antara para pihak dalam konflik
multi pihak.
Chrislip dan Larson (1994) sebagaimana dikutip Suporahardjo (2005),
menyatakan bahwa strategi kolaborasi berhasil dilaksanakan karena sembilan
faktor berikut:
1.

Waktunya tepat dan kebutuhan yang jelas;

2.

Didukung oleh kelompok pemangku kepentingan yang kuat;

3.

Keterlibatan yang luas (mengupayakan keterlibatan banyak peserta dari
berbagai sektor);

4.

Kredibilitas dan keterbukaan proses;

5.

Komitmen dan keterlibatan level atas, pemimpin yang bervisi;

6.

Mendukung atau menyetujui penetapan kewenangan atau kekuasaan (power);

7.

Mengatasi ketidakpercayaan dan skeptisme;

8.

Kepemimpinan yang kuat terhadap proses;

9.

Keberhasilan sementara;

10. Bergerak ke kepedulian yang lebih luas.
Salah satu pendekatan kolaboratif yang dapat dilakukan dalam
pengelolaan DAS adalah pengelolaan DAS secara terpadu. Pengelolaan DAS
secara terpadu adalah rangkaian upaya yang memperlakukan DAS sebagai suatu
kesatuan ekosistem dari hulu sampai hilir dengan pendekatan lintas sektor dan
lintas wilayah administrasi pemerintahan secara partisipatif, koordinatif,
integratif, sinkron dan sinergis guna mewujudkan tujuan pengelolaan DAS
(Dephut 2009).

14

Pengelolaan DAS terpadu mengandung pengertian bahwa unsur-unsur atau
aspek-aspek yang menyangkut kinerja DAS dapat dikelola dengan optimal
sehingga terjadi sinergi positif yang akan meningkatkan kinerja DAS dalam
menghasilkan output, sementara itu karakteristik yang saling bertentangan yang
dapat melemahkan kinerja DAS dapat ditekan sehingga tidak merugikan kinerja
DAS secara keseluruhan. Pengelolaan DAS pada dasarnya ditujukan untuk
terwujudnya kondisi yang optimal dari sumberdaya vegetasi, tanah dan air
sehingga mampu memberi manfaat secara maksimal dan berkesinambungan bagi
kesejahteraan manusia (Dephut 2003c). Beberapa hal yang mengharuskan
pengelolaan DAS diselenggarakan secara terpadu (Dephut 2006) adalah:
1. Terdapat keterkaitan antar berbagai kegiatan (multi sektor) dalam pengelolaan
sumberdaya dan pembinaan aktivitasnya;
2. Melibatkan berbagai disiplin ilmu yang mendasari dan mencakup berbagai
bidang kegiatan;
3. Batas DAS tidak selalu bertepatan dengan batas wilayah administrasi
pemerintahan;dan
4. Interaksi daerah hulu sampai hilir yang berdampak negatif maupun positif
sehingga memerlukan koordinasi antar pihak.
Prinsip-prinsip yang harus menjadi dasar acuan dalam pengelolaan DAS
terpadu adalah sebagai berikut:
1. Pengelolaan DAS dilakukan dengan memperlakukan DAS sebagai satu
kesatuan ekosistem dari hulu sampai hilir, satu perencanaan dan satu sistem
pengelolaan;
2. Pengelolaan DAS terpadu melibatkan multipihak, koordinatif, menyeluruh dan
berkelanjutan;
3. Pengelolaan DAS bersifat adaptif terhadap perubahan kondisi yang dinamis
dan sesuai dengan karakteristik DAS;
4. Pengelolaan DAS dilaksanakan dengan pembagian tugas dan fungsi, beban
biaya dan manfaat antar multipihak secara adil;
5. Pengelolaan DAS berdasarkan akuntabilitas para pemangku kepentingan.
Secara garis besar ruang lingkup kegiatan pengelolaan DAS terpadu
meliputi:

15

1. Penatagunaan lahan (landuse planning) untuk memenuhi berbagai kebutuhan
barang dan jasa serta kelestarian lingkungan;
2. Penerapan konservasi sumberdaya air untuk menekan daya rusak air dan untuk
memproduksi air (water yield) melalui optimalisasi penggunaan lahan;
3. Pengelolaan lahan dan vegetasi di dalam dan luar kawasan hutan (pemanfaatan,
rehabilitasi, restorasi, reklamasi dan konservasi);
4. Pembangunan dan pengelolaan sumberdaya buatan terutama yang terkait
dengan konservasi tanah dan air; dan
5. Pemberdayaan masyarakat dan pengembangan kelembagaan pengelolaan DAS.
Pelaksanaan pengelolaan kolaboratif DAS, harus mengacu pada semboyan
“Satu Kelola DAS, Satu Rasa, Satu Aksi dengan Sejuta Manfaat”. Satu Kelola
DAS, Satu Rasa dan Satu Aksi dapat diartikan sebagai berikut (Sumampouw et al.
t.t):
1. Satu Kelola DAS: suatu area pengelolaan daerah aliran sungai skala kecil yang
ditentukan berdasarkan karakter bentang alam.
2. Satu Rasa: bahwa pemilihan pengelolaan suatu area satu kelola DAS skala
kecil didasarkan pada munculnya isu bersama, kepentingan bersama, kedekatan
budaya, dan tema bersama (contoh tema konservasi, hijau bersih sehat,
perlindungan sumber air dan lain-lain).
3. Satu Aksi: suatu rencana aksi pengelolaan bersama dan terpadu yang
merupakan hasil dari proses partisipasi masyarakat dan pemangku kepentingan
terhadap pentingnya satu kelola DAS yang diwujudkan dalam bentuk aksi
nyata.
4. Sejuta Manfaat: bahwa pengelolaan DAS membawa berbagai hasil serta
dampak positif bagi kehidupan manusia secara utuh, terutama yang
menyangkut hubungan manusia dengan alamnya.

2.1.2.2 Efektivitas Kelembagaan Partisipatoris Daerah Aliran Sungai
Pengertian kelembagaan adalah suatu tatanan dan pola hubungan antara
anggota masyarakat atau organisasi yang saling mengikat yang dapat menentukan
bentuk hubungan antar manusia atau antara organisasi yang diwadahi dalam suatu
organisasi atau jaringan dan ditentukan oleh faktor-faktor pembatas dan pengikat

16

berupa norma, kode etik aturan formal maupun informal untuk pengendalian
perilaku sosial serta insentif untuk bekerjasama dan mencapai tujuan bersama
(Djogo et al. 2010). Menurut Ostrom (1986) sebagaimana dikutip Djogo et al.
(2010), menerangkan bahwa kelembagaan adalah aturan dan rambu-rambu
sebagai panduan yang dipakai oleh para anggota suatu kelompok masyarakat
untuk mengatur hubungan yang saling mengikat atau saling tergantung satu sama
lain.
Menurut

Soekanto (1999) sebagaimana dikutip Manik et al. (2010),

fungsi kelembagaan antara lain: (1) sebagai pedoman bagi masyarakat untuk
bertingkah laku; (2) menjaga keutuhan masyarakat; dan (3) sebagai sistem
pengendalian sosial (social control),

artinya

sistem pengawasan

dari

masyarakat terhadap tingkah laku anggotanya. Ekawati (2008) sebagaimana
dikutip Manik et al. (2010), menyebutkan salah satu kegiatan untuk mendorong
keterpaduan dalam pengelolaan DAS adalah pembentukan kelembagaan
pengelolaan DAS.
Partisipasi masyarakat secara umum merupakan suatu proses yang
melibatkan masyarakat. Canter (1989) sebagaimana dikutip Arimbi (1993),
mendefinisikan

peran

serta

masyarakat sebagai

suatu

cara

melakukan

interaksi antara dua kelompok atau sebagai proses dimana masalah-masalah
dan kebutuhan lingkungan dianalisa oleh badan yang bertanggung jawab,
secara sederhana hal ini didefinisikannya sebagai feed forward information
(komunikasi dari Pemerintah kepada masyarakat tentang suatu kebijakan) dan
feed

back

information (komunikasi dari masyarakat ke Pemerintah atas

kebijakan). Menurut Arimbi (1993), partisipasi masyarakat merupakan instrumen
untuk mencapai tujuan tertentu (a means to an end), tujuan yang dimaksudkan
adalah terkait dengan keputusan atau tindakan yang lebih baik yang menentukan
kesejahteraan manusia. Keterlibatan secara aktif dari masyarakat atau sering
disebut partisipasi sangat

menentukan keberhasilan dalam mencapai

tujuan

pengelolaan DAS termasuk rehabilitasi hutan dan lahan.
Nasdian (2004) memaknai partisipasi sebagai proses aktif, inisiatif yang
diambil oleh warga komunitas sendiri, dibimbing oleh cara berfikir mereka
sendiri, dengan menggunakan sarana dan proses (lembaga dan mekanisme)

17

dimana mereka dapat menegaskan kontrol secara efektif. Partisipasi tersebut dapat
dikategorikan: Pertama, warga komunitas dilibatkan dalam tindakan yang telah
dipikirkan atau dirancang oleh orang lain dan dikontrol oleh orang lain. Kedua,
partisipasi merupakan proses pembentukan kekuatan untuk keluar dari masalah
mereka sendiri. Sementara itu, Cohen dan Uphoff (1977) sebagaimana dikutip
Intania (2003) membagi partisipasi ke dalam beberapa tahapan, yaitu:
1. Tahap pengambilan keputusan (perencanaan) yang diwujudkan dengan
keikutsertaan masyarakat dalam rapat-rapat;
2. Tahap pelaksanaan dengan wujud nyata partisipasi berupa:
1. Partisipasi dalam bentuk sumbangan pikiran;
2. Partisipasi dalam bentuk sumbangan materi; dan
3. Partisipasi dalam bentuk keterlibatan sebagai anggota proyek;
3. Tahap menikmati hasil, yang dapat dijadikan sebagai indikator keberhasilan
partisipasi masyarakat pada tahap perencanaan dan pelaksanaan proyek. Selain
itu, dengan melihat posisi masyarakat sebagai subyek pembangunan, maka
semakin besar manfaat proyek yang dirasakan berarti proyek tersebut berhasil
menangani sasaran; dan
4. Tahap evaluasi, dianggap penting sebab partisipasi masyarakat pada tahap ini
dianggap sebagai umpan balik yang dapat memberi masukan demi perbaikan
bagi pelaksanaan proyek selanjutnya.
Peran masyarakat dalam pengendalian dampak lingkungan berarti
adanya tindakan nyata yang dilakukan masyarakat dalam berbagai upaya
pengendalian dampak lingkungan. Peran masyarakat dalam pengendalian
dampak lingkungan sebagaimana disebutkan dalam Pasal 6 ayat (1) UU No.
23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup berbunyi:

setiap orang

mempunyai hak dan kewajiban untuk berperan serta dalam rangka pengelolaan
lingkungan hidup. Kemudian dipertegas dalam penjelasan bahwa hak dan
kewajiban setiap orang sebagai anggota masyarakat untuk berperan serta
dalam

kegiatan pengelolaan

lingkungan

hidup

mencakup

baik

tahap

perencanaan maupun tahap-tahap pelaksanaan dan penilaian. Selanjutnya,
Pasal 7 ayat (2) menyebutkan bahwa peran serta masyarakat dilakukan melalui
beberapa cara, yakni: (1) meningkatkan kemandirian, keberdayaan masyarakat

18

dan kemitraan; (2) menumbuhkembangkan kemampuan dan kepeloporan
masyarakat; (3) menumbuhkan rasa tanggap masyarakat untuk melakukan
pengawasan sosial; (4) memberikan saran dan pendapat, dan; (5) menyampaikan
informasi dan/atau menyampaikan laporan.
Partisipasi

masyarakat

merupakan

faktor

terpenting

dalam

pembangunan, sehingga hampir semua negara mengakui adanya kebutuhan
akan partisipasi

dalam semua proses pembangunan. Hal ini terlihat dengan

munculnya konsep pembangunan dari bawah yang melibatkan peran serta
masyarakat (bottom up) untuk mengimbangi modus konsep pembangunan dari
atas (top down) (Zulkarnain dan Dodo1989). Kesadaran dalam berpartisipasi ini
sangat

penting

artinya, terutama bila dikaitkan dengan perawatan atau

pengelolaan hasil pembangunan. Betapa pentingnya partisipasi dari seluruh
masyarakat, hal ini dikarenakan: (1) partisipasi masyarakat merupakan suatu alat
guna memperoleh

informasi mengenai kondisi,

kebutuhan

masyarakat

setempat, yang tanpa kehadirannya program pembangunan serta proyek-proyek
akan gagal; (2) masyarakat akan
pembangunan

jika

merasa

lebih mempercayai proyek atau program

dilibatkan

dalam

proses

persiapan

dan

perencanaannya, karena mereka akan lebih mengetahui seluk beluk proyek
tersebut dan akan mempunyai rasa memiliki terhadap proyek tersebut; (3)
merupakan

suatu

hak

demokrasi

bila

masyarakat

dilibatkan

dalam

pembangunan masyarakat mereka sendiri. Sentosa (1990) sebagaimana dikutip
Atmanto (1995), mengemukakan beberapa unsur penting dari partisipasi sebagai
berikut:
1. Komunitas yang menumbuhkan pengertian yang efektif;
2. Perubahan sikap, pendapat dan tingkah laku yang diakibatkan oleh
pengertian;
3. Kesadaran yang didasarkan atas perhitungan dan pertimbangan;
4. Spontanitas, yaitu kesediaan melakukan sesuatu yang tumbuh;
5. Menumbuhkan kesadaran; dari dalam lubuk hati sendiri tanpa dipaksa orang
lain; dan
6. Adanya rasa tanggung jawab terhadap kepentingan bersama.

19

Anggota kelembagaan partisipatoris DAS sendiri dapat terdiri dari
perwakilan tiga kelompok utama dalam pengelolaan sumberdaya alam, yaitu
kelompok pemerintah atau pemerintah daerah, kelompok dunia usaha dan
kelompok masyarakat. Kelompok pemerintah terkait dengan perencanaan
pembangunan, pengelolaan hutan dan lahan pertanian, pertambangan, perikanan,
sumberdaya air dan lingkungan hidup. Dunia usaha (swasta) bisa berupa badan
usaha milik pemerintah, pemerintah daerah maupun swasta yang berkepentingan
dengan pengelolaan DAS. Perwakilan masyarakat bisa berupa pakar dari
Perguruan Tinggi dan Lembaga Penelitian, LSM yang berkepentingan terhadap
pengelolaan DAS serta individu-individu/tokoh yang memberikan perhatian
terhadap pengelolaan (pemanfaatan/pelestarian) ekosistem DAS.
Melalui kelembagaan DAS maka akan terbangun komunikasi dan jejaring
kerja (networking) diantara para pihak yang terkait dengan pengelolaan DAS.
Masing-masing pihak bisa memperoleh manfaat, peran, tanggung jawab dan
membangun komitmen untuk mencapai tujuan bersama dalam meningkatkan
kesejahteraan masyarakat dan melestarikan DAS (Dephut 2003a). Kriteria untuk
efektivitas kelembagaan sendiri adalah seberapa baik suatu organisasi berjalan
dibandingkan dengan seperangkat standarnya sendiri. Kelembagaan DAS dapat
dikatakan efektif bila output yang direncanakan, efek yang diharapkan, dan
dampak yang dimaksudkan dapat tercapai.
Mengacu pada penelitian DAS Citanduy ukuran tingkat keberlanjutan
kelembagaan dapat dinilai berdasarkan variabel-variabel: (1) peran serta anggota;
(2) pelayanan terhadap anggota; (3) manfaat lembaga bagi anggota; (4) good
governance; dan (5) kompleksitas. Tingkat keberlanjutan kelembagaan komunitas
lokal juga dianalisis melalui faktor-faktor sebagai faktor penentu yang
mempengaruhi keberlanjutan kelembagaan komunitas lokal. Adapun determinan
faktor sebagai variabel-variabel independen dalam studi DAS Citanduy, meliputi:
(1) kepemimpinan; (2) pendidikan anggota; (3) aturan tertulis; (4) aturan tidak
tertulis; (5) ukuran kelembagaan; (6) intervensi pemerintah yang berdampak
positif; (7) intervensi pemerintah yang berdampak negatif; (8) ketersediaan
prasarana dan sarana umum; (9) jejaring kerjasama antar kelembagaan; (10) usia

20

kelembagaan; (11) proses pendirian kelembagaan; dan (12) kecukupan anggaran
(Dharmawan et al. 2005).
Menurut Fukuyama sebagaimana dikutip Nasdian (2004), keberlanjutan
kelembagaan dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal
tersebut terdiri dari (1) kepemimpinan; (2) pendidikan; dan (3) anggaran,
sedangkan faktor eksternal terdiri dari (1) kebijakan; (2) pemerintah lokal; dan (3)
insentif. Aksi kelembagaan di DAS Citanduy ini memfokuskan pada konstruksi
”Wadah Pengelolaan Bersama” yang terbagi menjadi tiga aras yaitu: (1)
internasional dan nasional; (2) supra lokal (antar provinsi/kabupaten/kota); dan (3)
komunitas lokal. Selain itu, kelembagaan pengelolaan DAS harus berlandaskan
kepada membangun kemitraan antar tiga “ruang kekuasaan”: civil society, state
dan private sector. Prinsip yang digunakan oleh kelembagaan pengelolaan DAS
antara lain:
1. Kelembagaan tersebut merupakan manifestasi dari “sharing” seluruh
pemangku

kepentingan,

dimana

peranan

masing-masing

pemangku

kepentingan dalam kelembagaan tersebut (pola hubungan) dapat ditelaah
secara kritis dari analisis pihak-pihak terkait. Telaah dianggap penting untuk
menetapkan kedudukan organisasi atau badan yang melaksanakan fungsi
hubungan kelembagaan tersebut.
2. Fokus “pekerjaan” kelembagaan tersebut adalah kepada aktivitas yang
partisipatif dan diperkirakan secara operasional dapat didukung dan difasilitasi
oleh beragam kebijakan central and local government.
3. Kelembagaan tersebut baik secara konseptual maupun operasional mampu
mengimplementasikan kaidah-kaidah desentralisasi dan otonomi daerah yang
telah ditetapkan pada satuan daerah tingkat dua atau kabupaten/kota (UU
Nomor 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah). Prinsip ini penting untuk
mendukung

aksi-aksi

kabupaten/kota

kolektif

dan/local

partisipatif

government

dan

mampu

sampai

sejauh

membiayai

mana

beragam

implementasi dari aktivitas partisipatif tersebut.
Pada penelitian DAS di Lampung, NTT dan DAS di Bhima India, terbukti
bahwa kelembagaan DAS yang diinisiasi oleh LSM dan NGO setempat jauh lebih
baik dan memiliki tingkat keberlanjutan yang tinggi dibandingkan kelembagaan

21

yang diinisiasi dan dibangun oleh pemerintah setempat (Hadi et al. 2006). Hal ini
dikarenakan posisi LSM dan NGO tersebut adalah untuk meningkatkan kapasitas
dan posisi tawar-menawar masyarakat lokal agar setara dengan para pemangku
kepentingan yang ada. Berdasarkan studi kasus geo-ekologis dan sosial ekonomi
DAS Citanduy, maka dapat diidentifikasi bahwa wilayah hilir adalah wilayah
yang memiliki tingkat keberlanjutan kelembagaan komunitas lokal tertinggi,
sedangkan kelembagaan konservasi merupakan kelembagaan dengan tingkat
keberlanjutan tertinggi di wilayah hulu dan tengah DAS Citanduy (Dharmawan et
al. 2005)

2.1.3

Pembangunan Daerah Aliran Sungai Berkelanjutan
Definisi tentang pembangunan berkelanjutan yang dikemukakan oleh

komisi dunia tentang lingkungan hidup dan pembangunan World Commission on
Environment and Development (WCED) adalah “pembangunan yang dapat
memenuhi kebutuhan generasi sekarang tanpa harus mengorbankan kemampuan
generasi mendatang dalam memenuhi kebutuhannya sendiri” (Arifin 2001).
Menurut Sugandhy (2007), pembangunan berkelanjutan yang berwawasan
lingkungan hidup adalah upaya sadar dan terencana yang memadukan lingkungan
hidup, termasuk sumberdaya, ke dalam proses pembangunan untuk menjamin
kemampuan, kesejahteraan, dan mutu hidup generasi masa kini dan generasi masa
depan.
Paradigma pembangunan yang terjadi selama ini oleh beberapa pihak
bahwa lingkungan adalah untuk pembangunan ekonomi (eco-developmentalism),
lingkungan untuk manusia (eco-humanis), dan lingkungan untuk lingkungan (ecoenvironmentalism). Namun apa yang terjadi selama tiga dekade adalah
pemanfaatan sumberdaya alam untuk pembangunan ekonomi. Paradigma
pembangunan yang berkelanjutan merupakan perpaduan dari tiga pandangan di
atas, dimana pembangunan hendaknya ditujukkan untuk kesejahteraan masyarakat
(termasuk di dalamnya pembangunan di dalam bidang ekonomi) dan kelestarian
lingkungan hidup (Purba 2002).
Dilihat dari sudut pandang DAS, hal yang menjadi dasar pemikiran
pengelolaan DAS adalah “Sustainable Resources Use Management” atau

22

Pengelolaan yang Berkelanjutan, artinya, setiap upaya perlindungan, rehabilitasi,
dan adaptasi yang dilakukan, hendaknya dapat dilembagakan dalam bentuk
organisasi masyarakat (community organization). Bentuk ini sudah mulai muncul
dalam wujud forum-forum DAS dan terbentuknya kelompok masyarakat yang
bertindak langsung melakukan perlindungan dan rehabilitasi lahan DAS
(Sumampouw et al. t.t). Prinsip penting dari pengelolaan sumberdaya yang
berkelanjutan adalah:
1. Pentingnya Modal Sosial (social capital), dalam bentuk pendanaan mandiri
ataupun pendanaan bersama antara publik dengan pemerintah;
2. Modal Organisasi Masyarakat (modality in community organization) dalam
bentuk pengorganisasian masyarakat yang mandiri;
3. Adanya alih pengetahuan (transfer of knowledge) dari pelaku-pelaku yang
memiliki cerita sukses dan kreatif dalam penanganan satuan kelola daerah
aliran sungai;
4. Pentingnya kehendak politik (political will) dari pemerintah daerah serta lintas
sektoral yang tidak lagi didasarkan atas pertimbangan batas wilayah melainkan
lebih bertumpu pada pertimbangan batas ekosistem.
Menurut Kartodihardjo et al. (2004), pengelolaan DAS dikatakan telah
efektif jika tujuan manajemen dapat dicapai bersamaan dengan peningkatan
kesejahteraan sosial masyarakat penghuninya. Keberhasilan pengelolaan DAS
akan lebih mudah jika:
1. Sumberdaya di dalam DAS menghasilkan manfaat yang besar;
2. Peluang pendapatan masyarakat lokal sejalan dengan aktivitas rehabilitasi
DAS;
3. Hak atas lahan (tenureship) jelas, terjamin dan terdistribusi secara adil;
4. Ada insentif bagi mereka yang bersedia mengorbankan manfaat jangka
pendeknya (manfaat individu) untuk memperoleh manfaat jangka panjang
(manfaat sosial); dan
5. Ada kerjasama antar pemangku kepentingan pengelolaan DAS.
Pengelolaan DAS harus dilihat sebagai suatu kesatuan alamiah yang terdiri
dari wilayah hulu, tengah dan hilir, dalam konteks pengelolaan “One River, One
Plan,

One

Management”.

Sejarah

perkembangan

konsep

Pengelolaan

23

Pembangunan keberlanjutan dalam konteks DAS adalah bagaimana antara sub
hulu, tengah, hilir DAS terdapat kesamaan visi dan misi, dimana tidak hanya hulu
saja yang berperan dalam menjaga kelestarian DAS namun sub tengah maupun
hilir pun berkontribusi dalam menjaga kelestarian DAS melalui kolaborasi yang
dilakukan aktor-aktor terkait yaitu pemerintah, swasta, masyarakat, LSM, maupun
akademisi turut dilibatkan. Prinsip keberlanjutan (sustainability) menjadi acuan
dalam mengelola DAS, yakni fungsi ekologis, ekonomi, dan sosial budaya dari
berbagai sumberdaya dalam DAS dapat terjamin secara berimbang.

2.2 Kerangka Pemikiran
Gambar 2.1 menjelaskan bahwa kerusakan yang terjadi di hulu DAS
Citarum (Sub DAS Cikapundung) selama ini lebih disebabkan oleh pemangku
kepentingan yang mengelola DAS. Pemangku kepentingan tersebut terdiri dari
tiga aktor utama yaitu masyarakat, swasta, dan pemerintah. Kerusakan yang
terjadi di hulu DAS Citarum (Sub DAS Cikapundung) akan mempengaruhi sub
DAS lainnya yaitu bagian tengah dan hilir Sungai Cikapundung. Untuk itu
diperlukan suatu upaya penyelamatan hulu DAS Citarum (Sub DAS
Cikapundung) dalam rangka menjaga keberlangsungan ekosistem DAS yang baik.
Salah satu upaya tersebut adalah dengan membentuk kelembagaan partisipatoris
yang anggotanya terdiri dari masyarakat yang tinggal di sepanjang sungai yang
juga merupakan anggota dari 42 komunitas pegiat Sungai Cikapundung. Dengan
terbentuknya kelembagaan partisipatoris maka upaya penyelamatan hulu DAS
Citarum (Sub DAS Cikapundung) menjadi lebih cepat karena seluruh pihak baik
pemerintah, swasta dan akademisi turut mendukung serta bahu-membahu untuk
mempercepat pemulihan hulu DAS Citarum (Sub DAS Cikapundung) dengan
mengajak seluruh pihak khususnya masyarakat bantaran Sungai Cikapundung
untuk senantiasa berpartisipasi dalam upaya penyelamatan hulu DAS Citarum
(Sub DAS Cikapundung) karena selama ini masyarakat tersebutlah yang
berhubungan langsung dengan sungai.
Kegiatan-kegiatan

penyelamatan

hulu

DAS

Citarum

(Sub

DAS

Cikapundung) yang dilakukan oleh kelembagaan partisipatoris secara intensif dan
terus menerus inilah yang akhirnya dapat menyadarkan masyarakat di sekitar

24

bantaran Sungai Cikapundung (baik itu di hulu maupun di tengah Sungai
Cikapundung) untuk bersama-sama menjaga dan melestarikan ekosistem di DAS
guna mencegah bencana yang terjadi seperti banjir dan longsor di hilir.

Keterlibatan Pemangku
Kepentingan
 Masyarakat
 Swasta
 Pemerintah

Kerusakan Hulu DAS

Penyelamatan Hulu DAS
Citarum (Sub DAS
Cikapundung) oleh
Kelembagaan Partisipatoris
 Aksi Kali Bersih
 Aksi Tanam Pohon
 Pengolahan
Sampah/Limbah
 Penyuluhan dan
Penyadaran Warga

Tengah DAS

Hilir DAS

Warga di Hulu
Sungai
Cikapundung

Perubahan Sikap dan
Perilaku, Warga di Hulu DAS
Citarum (Sub DAS
Cikapundung) terhadap
Lingkungan Hidup

Warga di
Tengah
Sungai
Cikapundung

Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran

Keterangan:
: Mempengaruhi
: Tidak diteliti lebih lanjut
: Terdapat hubungan
: Kualitatif
: Kuantitatif

 Tingkat Pengetahuan
 Tingkat Membuang
Sampah/Limbah ke Sungai
 Tingkat Keterlibatan
Warga dalam Penghijauan
 Tingkat Gotong Royong

25

2.3 Hipotesis Penelitian
Berdasarkan kerangka pemikiran, maka hipotesis penelitian adalah sebagai
berikut:
1.

Semakin tinggi upaya penyelamatan hulu DAS Citarum (Sub DAS
Cikapundung) oleh kelembagaan partisipatoris maka akan semakin tinggi
tingkat pengetahuan, sikap dan perilaku masyarakat untuk menjaga dan
melestarikan Sungai Cikapundung.

2.

Semakin tinggi tingkat keterlibatan masyarakat dalam menjaga dan
melestarikan Sungai Cikapundung maka tingkat kerusakan di hulu DAS
Citarum (Sub DAS Cikapundung) akan semakin rendah.

2.4 Definisi Konseptual
1. Keterlibatan

pemangku

kepentingan

adalah

keikutsertaan

pemangku

kepentingan yang terdiri dari masyarakat, pemerintah dan juga swasta dalam
mengelola sumberdaya alam sehingga berkontribusi dalam menghasilkan
kerusakan di hulu DAS Citarum (Sub DAS Cikapundung), berikut penjelasan
dari masing-masing pemangku kepentingan tersebut.
i. Masyarakat adalah sekelompok orang yang saling berinteraksi antara
individu-individu yang berada dalam kelompok tersebut atau suatu
komunitas yang interdependen (saling tergantung satu sama lain) yang
terkait dalam pengelolaan ekosistem hulu DAS Citarum (Sub DAS
Cikapundung).
ii. Swasta adalah organisasi atau lembaga non pemerintah yang memiliki

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

Efektivitas Kelembagaan Partisipatoris di Hulu Daerah Aliran Sungai Citarum (Studi Kasus Komunitas Cikapundung Rehabilitation Program dan Komunitas Zero, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat)