Profil Penderita Tumor Otak Di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2011-2013

PROFIL PENDERITA TUMOR OTAK DI RSUP H. ADAM MALIK MEDAN TAHUN 2011-2013 Oleh : YAUMIL REIZA 110100124
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2014
Universitas Sumatera Utara

PROFIL PENDERITA TUMOR OTAK DI RSUP H. ADAM MALIK MEDAN TAHUN 2011-2013
Karya Tulis Ilmiah ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh kelulusan Sarjana Kedokteran Oleh: YAUMIL REIZA 110100124
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2014
Universitas Sumatera Utara

LEMBAR PENGESAHAN

Judul
Nama NIM

: Profil Penderita Tumor Otak di RSUP H. Adam Malik Tahun 2011-2013 : Yaumil Reiza : 110100124

Pembimbing

Penguji I

dr. Alya Amila Fitrie, M.Kes, Sp.PA Prof. Dr. Sutomo Kasiman, Sp.PD, Sp.JP (K)

NIP: 1976 1004 2001 12 2002

NIP: 1946 0430 1973 02 1001

Penguji II

dr. Edhie Djohan Utama, Sp.MK NIP: 130535845
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

(Prof. dr. Gontar Alamsyah Siregar, Sp. PD-KGEH) NIP: 1954 0220 198011 1001
Universitas Sumatera Utara

ii
PROFIL PENDERITA TUMOR OTAK DI RSUP H. ADAM MALIK MEDAN TAHUN 2011-2013 Yaumil Reiza
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara ABSTRAK
Latar Belakang: Tumor otak, yaitu lesi ekspansif jinak atau ganas yang membentuk massa di intrakranial atau medula spinalis, adalah salah satu tumor yang dapat menimbulkan progresi yang buruk. Tujuan: Mengetahui profil penderita tumor otak di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011-2013 berdasarkan kelompok usia, jenis kelamin, gambaran histopatologi, lokasi tumor, dan gejala klinis utama. Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif retrospektif. Data diambil dengan teknik total sampling di Instalasi Rekam Medis RSUP H. Adam Malik Medan pada tahun 2011-2013, kemudian diolah dan dikelompokkan sesuai variabel yang ditemukan, disajikan dalam bentuk tabel, diagram, atau grafik, dan dideskripsikan. Hasil: Dari 57 orang penderita tumor otak di RSUP H. Adam Malik Medan pada tahun 2011-2013, kejadian tumor otak paling banyak ditemukan pada kelompok usia 51-60 tahun (35,09%) dan jenis kelamin perempuan (52,63%). Tipe histopatologi yang paling banyak dijumpai adalah meningioma (43,86%), dan lokasi tumor yang paling banyak dijumpai adalah lobus frontalis (17,54%). Sebanyak 39 orang (68,42%) mengeluhkan adanya defisit neurologis fokal, sebanyak 14 orang (24,56%) mengeluhkan adanya kejang, dan sebanyak 48 orang (84,21%) mengeluhkan adanya kelainan neurologis nonfokal berupa sakit kepala, mual/muntah, dan penurunan kesadaran. Kata kunci: penelitian deskriptif, tumor otak
Universitas Sumatera Utara

iii
PROFILE OF BRAIN TUMOR PATIENTS AT H. ADAM MALIK CENTRAL GENERAL HOSPITAL MEDAN IN 2011-2013 Yaumil Reiza Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara ABSTRACT
Background: Brain tumor, which is benign or malignant expansive lesions that form intracranial or spinal cord masses, is one of the tumors that shows bad progression. Objective: To know the profiles of patients with brain tumors who were treated at H. Adam Malik Central General Hospital Medan in 2011-2013 based on age, sex, histopathological type, tumor location, and main clinical manifestation. Method: This is a retrospective descriptive study. Data were retrieved with total sampling technique from the Medical Records Installation at H. Adam Malik Central General Hospital Medan in 2011-2013, processed and categorized according to desired variables, presented in tables, diagrams, or charts, and described. Results: Of 57 patients with brain tumors at H. Adam Malik Central General Hospital Medan in 2011-2013, most cases occurred in the age group 51-60 years (35,09%) and female sex (52,63%). The most common histopathological type was meningioma (43,86%), and the most common tumor location was frontal lobe (17,54%). Focal neurological deficits was found in 39 patients (68,42%), seizures was found in 14 patients (24,56%), and nonfocal neurological disorders was found in 48 patients (84,21%). Keywords: descriptive study, brain tumor
Universitas Sumatera Utara

iv
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya yang begitu besar sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan hasil penelitian yang berjudul ”Profil Penderita Tumor Otak di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2011-2013”. Laporan hasil penelitian ini disusun sebagai tugas akhir dalam menyelesaikan pendidikan di Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Penulis mengucapkan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada semua pihak yang telah turut serta membantu penulis dalam menyelesaikan laporan hasil penelitian ini, di antaranya: 1. Kepada Prof. dr. Gontar Alamsyah Siregar, Sp.PD-KGEH, selaku Dekan
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. 2. Kepada dosen pembimbing dalam penelitian ini, dr. Alya Amila Fitrie,
M.Kes., Sp. PA, yang dengan sepenuh hati telah meluangkan waktu untuk membimbing penulis, mulai dari awal penyusunan penelitian, pelaksanaan di lapangan, hingga penyelesaian laporan hasil penelitian ini. Juga kepada Prof. dr. Sutomo Kasiman, Sp. PD, Sp.JP dan dr. Edhie Djohan Utama, Sp.MK selaku dosen penguji yang telah memberikan saran dan masukan yang membangun untuk penelitian ini. 3. Kepada seluruh staf RSUP H. Adam Malik Medan yang telah banyak membantu penulis baik pada saat melakukan survei awal penelitian maupun pada saat pengumpulan data penelitian. 4. Kepada kedua orangtua penulis, Ayahanda Setiawardi dan Ibunda Nazarni, adik-adik penulis, Siti Sarah Fazira dan Qastaril Faisa yang senantiasa mendukung dan memberikan bantuan moral dan material dalam menyelesaikan laporan hasil penelitian ini. 5. Kepada sahabat-sahabat sejawat Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, khususnya angkatan 2011, atas dukungan moral dan material yang diberikan dalam penyusunan laporan hasil penelitian ini.
Universitas Sumatera Utara

v 6. Kepada semua pihak lainnya yang telah membantu dalam proses penulisan
laporan hasil penelitian ini yang tidak bisa disebutkan satu per satu. Penulis menyadari bahwa penulisan laporan hasil penelitian ini masih
belum sempurna. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi perbaikan laporan hasil penelitian ini di kemudian hari. Semoga penelitian ini dapat memberikan kontribusi bagi perkembangan ilmu pengetahuan khususnya di bidang ilmu kedokteran.
Medan, Desember 2014 Penulis
Universitas Sumatera Utara

vi
DAFTAR ISI
HALAMAN PERSETUJUAN .......................................................................... i ABSTRAK .......................................................................................................... ii ABSTRACT ........................................................................................................ iii KATA PENGANTAR ........................................................................................ iv DAFTAR ISI ....................................................................................................... vi DAFTAR TABEL .............................................................................................. ix DAFTAR GAMBAR .......................................................................................... x DAFTAR SINGKATAN .................................................................................... xi DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................... xii BAB 1 PENDAHULUAN .................................................................................. 1 1.1. Latar Belakang .............................................................................................. 1 1.2. Rumusan Masalah ........................................................................................ 2 1.3. Tujuan Penelitian .......................................................................................... 2
1.3.1. Tujuan Umum ...................................................................................... 2 1.3.2. Tujuan Khusus ..................................................................................... 2 1.4. Manfaat Penelitian ........................................................................................ 3 BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ......................................................................... 4 2.1. Sistem Saraf Pusat ........................................................................................ 4 2.1.1. Embriologi ........................................................................................... 4 2.1.2. Anatomi ............................................................................................... 5 2.1.3. Histologi .............................................................................................. 7 2.1.4. Fisiologi ............................................................................................... 10 2.2. Tumor Otak .................................................................................................. 12 2.2.1. Definisi ................................................................................................ 12 2.2.2. Etiologi dan Faktor Risiko ................................................................... 13 2.2.3. Epidemiologi ....................................................................................... 14 2.2.4. Patogenesis .......................................................................................... 15 2.2.5. Patofisiologi.......................................................................................... 16 2.2.6. Gejala Klinis ........................................................................................ 17
Universitas Sumatera Utara

vii
2.2.7. Diagnosis ............................................................................................. 19 2.2.8. Klasifikasi ............................................................................................ 21 2.2.9. Staging ................................................................................................. 30 2.2.10. Penatalaksanaan ................................................................................... 30 BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL .............. 33 3.1. Kerangka Konsep ......................................................................................... 33 3.2. Definisi Operasional ..................................................................................... 33 BAB 4 METODE PENELITIAN ...................................................................... 35 4.1. Jenis Penelitian ............................................................................................. 35 4.2. Waktu dan Tempat Penelitian ...................................................................... 35 4.2.1. Waktu Penelitian ................................................................................. 35 4.2.2. Tempat Penelitian ................................................................................ 35 4.3. Populasi dan Sampel ..................................................................................... 35 4.2.1. Populasi ............................................................................................... 35 4.2.2. Sampel ................................................................................................. 35 4.4. Metode Pengumpulan Data .......................................................................... 36 4.5. Metode Pengolahan dan Analisis Data ......................................................... 36 BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .................................... 37 5.1. Hasil Penelitian ............................................................................................. 37 5.2.1. Deskripsi Lokasi Penelitian ................................................................. 37 5.2.2. Karakteristik Data Penelitian ............................................................... 37 5.2.3. Distribusi Data Penelitian .................................................................... 38
5.1.3.1. Distribusi Penderita Tumor Otak Berdasarkan Usia .................... 38 5.1.3.2. Distribusi Penderita Tumor Otak Berdasarkan Jenis Kelamin ..... 39 5.1.3.3. Distribusi Penderita Tumor Otak Berdasarkan Gambaran
Histopatologi ................................................................................ 39 5.1.3.4. Distribusi Penderita Tumor Otak Berdasarkan Lokasi Tumor ..... 40 5.1.3.5. Distribusi Penderita Tumor Otak Berdasarkan Gejala Klinis
Utama ........................................................................................... 41 5.2. Pembahasan .................................................................................................. 42
5.2.1. Analisis Distribusi Penderita Tumor Otak Berdasarkan Usia ............. 42
Universitas Sumatera Utara

viii
5.2.2. Analisis Distribusi Penderita Tumor Otak Berdasarkan Jenis Kelamin ............................................................................................... 43
5.2.3. Analisis Distribusi Penderita Tumor Otak Berdasarkan Gambaran Histopatologi ....................................................................................... 43
5.2.4. Analisis Distribusi Penderita Tumor Otak Berdasarkan Lokasi Tumor .................................................................................................. 47
5.2.5. Analisis Distribusi Penderita Tumor Otak Berdasarkan Gejala Klinis Utama .................................................................................................. 48
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN .............................................................. 54 6.1. Kesimpulan ................................................................................................... 54 6.2. Saran ............................................................................................................. 55 DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 56 LAMPIRAN ........................................................................................................ 61
Universitas Sumatera Utara

ix

DAFTAR TABEL

Nomor 2.1. 2.2.
2.3. 2.4. 5.1. 5.2. 5.3. 5.4. 5.5. 5.6.
5.7.
5.8.
5.9.
5.10.
5.11.

Judul Fungsi komponen utama otak Distribusi tumor otak berdasarkan usia dan jenis kelamin di RSUP H. Adam Malik dan RS Haji Medan tahun 20032004 Klasifikasi tumor otak menurut WHO 2007 Staging tumor otak menurut WHO 2007 Distribusi penderita tumor otak di RSUP H. Adam Malik tahun 2011-2013 berdasarkan kelompok usia Distribusi penderita tumor otak di RSUP H. Adam Malik tahun 2011-2013 berdasarkan jenis kelamin Distribusi penderita tumor otak di RSUP H. Adam Malik tahun 2011-2013 berdasarkan gambaran histopatologi Distribusi penderita tumor otak di RSUP H. Adam Malik tahun 2011-2013 berdasarkan lokasi tumor Distribusi penderita tumor otak di RSUP H. Adam Malik tahun 2011-2013 berdasarkan gejala klinis utama Distribusi penderita tumor otak di RSUP H. Adam Malik tahun 2011-2013 berdasarkan banyaknya gejala klinis yang diderita Distribusi penderita tumor otak di RSUP H. Adam Malik tahun 2011-2013 berdasarkan gambaran histopatologi tumor dan jenis kelamin Distribusi penderita tumor otak di RSUP H. Adam Malik tahun 2011-2013 berdasarkan gambaran histopatologi tumor dan kelompok usia Distribusi penderita tumor otak di RSUP H. Adam Malik tahun 2011-2013 berdasarkan lokasi tumor dan ada tidaknya defisit neurologis fokal Distribusi penderita tumor otak di RSUP H. Adam Malik tahun 2011-2013 berdasarkan lokasi tumor dan ada tidaknya kejang Distribusi penderita tumor otak di RSUP H. Adam Malik tahun 2011-2013 berdasarkan lokasi tumor dan ada tidaknya kelainan neurologis nonfokal

Halaman 11 15
28 30 38 39 39 40 41 41
45
46
50
51
53

Universitas Sumatera Utara

x

DAFTAR GAMBAR

Nomor 2.1. 2.2. 2.3. 2.4. 2.5. 2.6. 2.7.
2.8. 2.9. 2.10. 2.11.
2.12.
2.13.
2.14. 3.1.

Judul Potongan otak secara sagital Bagian-bagian neuron Astrosit fibrosa dan kapiler di otak Oligodendrosit otak Mikroglia otak Sel ependimal pada kanalis sentralis medula spinalis Gambaran histopatologi dari astrositoma pilositik (WHO grade I) Gambaran histopatologi dari glioblastoma multiforme Gambaran histopatologi dari ependimoma Gambaran histopatologi dari oligodendroglioma Gambaran histopatologi dari berbagai varian meningioma WHO grade I Gambaran histopatologi dari berbagai varian meningioma WHO grade II Gambaran histopatologi dari berbagai varian meningioma WHO grade III Gambaran histopatologi dari meduloblastoma Kerangka konsep penelitian

Halaman 5 8 9 9 10 10 23
23 24 24 26
27
27
27 34

Universitas Sumatera Utara

xi

DAFTAR SINGKATAN

CT EEG H&E MRI RSUP SSP TIK TNM WHO

Computed tomography Elektroensefalogram Hematoksilin dan eosin Magnetic resonance imaging Rumah Sakit Umum Pusat Sistem saraf pusat Tekanan intrakranial Tumor, Nodule, Metastasis World Health Organization

Universitas Sumatera Utara

xii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5

Daftar Riwayat Hidup Peneliti Data Induk Ethical Clearance Surat Izin Penelitian Lembar Kegiatan Bimbingan KTI

Universitas Sumatera Utara

ii
PROFIL PENDERITA TUMOR OTAK DI RSUP H. ADAM MALIK MEDAN TAHUN 2011-2013 Yaumil Reiza
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara ABSTRAK
Latar Belakang: Tumor otak, yaitu lesi ekspansif jinak atau ganas yang membentuk massa di intrakranial atau medula spinalis, adalah salah satu tumor yang dapat menimbulkan progresi yang buruk. Tujuan: Mengetahui profil penderita tumor otak di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011-2013 berdasarkan kelompok usia, jenis kelamin, gambaran histopatologi, lokasi tumor, dan gejala klinis utama. Metode: Penelitian ini bersifat deskriptif retrospektif. Data diambil dengan teknik total sampling di Instalasi Rekam Medis RSUP H. Adam Malik Medan pada tahun 2011-2013, kemudian diolah dan dikelompokkan sesuai variabel yang ditemukan, disajikan dalam bentuk tabel, diagram, atau grafik, dan dideskripsikan. Hasil: Dari 57 orang penderita tumor otak di RSUP H. Adam Malik Medan pada tahun 2011-2013, kejadian tumor otak paling banyak ditemukan pada kelompok usia 51-60 tahun (35,09%) dan jenis kelamin perempuan (52,63%). Tipe histopatologi yang paling banyak dijumpai adalah meningioma (43,86%), dan lokasi tumor yang paling banyak dijumpai adalah lobus frontalis (17,54%). Sebanyak 39 orang (68,42%) mengeluhkan adanya defisit neurologis fokal, sebanyak 14 orang (24,56%) mengeluhkan adanya kejang, dan sebanyak 48 orang (84,21%) mengeluhkan adanya kelainan neurologis nonfokal berupa sakit kepala, mual/muntah, dan penurunan kesadaran. Kata kunci: penelitian deskriptif, tumor otak
Universitas Sumatera Utara

iii
PROFILE OF BRAIN TUMOR PATIENTS AT H. ADAM MALIK CENTRAL GENERAL HOSPITAL MEDAN IN 2011-2013 Yaumil Reiza Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara ABSTRACT
Background: Brain tumor, which is benign or malignant expansive lesions that form intracranial or spinal cord masses, is one of the tumors that shows bad progression. Objective: To know the profiles of patients with brain tumors who were treated at H. Adam Malik Central General Hospital Medan in 2011-2013 based on age, sex, histopathological type, tumor location, and main clinical manifestation. Method: This is a retrospective descriptive study. Data were retrieved with total sampling technique from the Medical Records Installation at H. Adam Malik Central General Hospital Medan in 2011-2013, processed and categorized according to desired variables, presented in tables, diagrams, or charts, and described. Results: Of 57 patients with brain tumors at H. Adam Malik Central General Hospital Medan in 2011-2013, most cases occurred in the age group 51-60 years (35,09%) and female sex (52,63%). The most common histopathological type was meningioma (43,86%), and the most common tumor location was frontal lobe (17,54%). Focal neurological deficits was found in 39 patients (68,42%), seizures was found in 14 patients (24,56%), and nonfocal neurological disorders was found in 48 patients (84,21%). Keywords: descriptive study, brain tumor
Universitas Sumatera Utara

1
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Salah satu tumor yang dapat menimbulkan progresivitas yang buruk
adalah tumor otak. Menurut Hakim (2005), tumor otak adalah lesi ekspansif jinak atau ganas yang membentuk massa di intrakranial atau medula spinalis. Tumor otak, baik primer ataupun metastasis, merupakan salah satu penyakit yang ditakuti masyarakat karena dapat menyebabkan kematian atau kecacatan. Meskipun jinak, tumor otak tetap berbahaya sama seperti tumor yang ganas tergantung pada lokasi tumor, di mana tumor yang terletak pada bagian otak yang penting akan menimbulkan gejala yang serius (Cancer Research UK, 2013). Diperkirakan setiap tahunnya, sekitar 445.000 orang di seluruh dunia didiagnosis dengan tumor yang berlokasi di otak atau di bagian mana pun di SSP. Angka harapan hidup penderita tumor otak dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu usia, stadium, jenis histopatologi, ada atau tidaknya defisit neurologis, dan modalitas terapi (Widjanarko, 2011).
Menurut Cancer Research UK (2013), pada tahun 2008-2010 di Inggris Raya, didapat bahwa sekitar 43% tumor SSP didiagnosis pada pria dan wanita berusia 65 tahun ke atas dan 10% didiagnosis pada kelompok umur di bawah 30 tahun. Tingkat insidensi spesifik-umur relatif stabil dari masa kanak-kanak ke kelompok usia 20-24, kemudian meningkat secara perlahan ke kelompok usia 4549, sebelum meningkat secara tajam, khususnya pada pria, pada kelompok usia 55-59. Pada tahun 2010, terdaftar sebanyak 9.156 kasus tumor SSP dengan rincian 4.541 kasus (49,60%) terdapat pada pria dan 4.615 kasus (50,40%) pada wanita dengan tipe yang paling sering ditemukan adalah astrositoma (34%) dan meningioma (21%).
Hakim (2005) menemukan bahwa pada tahun 2003-2004 di Rumah Sakit Umum Pusat H. Adam Malik dan Rumah Sakit Haji, Medan, Indonesia, terdapat 48 kasus tumor otak dengan persentase penderita tumor otak yang terbanyak adalah laki-laki (72,92%) pada kelompok umur di atas 60 tahun. Tipe tumor otak
Universitas Sumatera Utara

2
yang paling banyak terdapat di Medan, Indonesia, adalah meningioma (25%) dan lokasi tumor paling banyak adalah di serebelum (20,83%).
Sementara itu, Sari, Windarti, dan Wahyuni (2014) menemukan bahwa di Rumah Sakit Umum Daerah Abdul Moeloek dan Rumah Sakit Immanuel, Bandar Lampung, terdapat 173 kasus tumor otak selama periode 1 Januari 2009 – 31 Oktober 2013 dengan wanita lebih banyak terkena dibandingkan dengan pria (rasio 1,8 : 1). Meningioma merupakan tumor terbanyak dengan 100 kasus dari 173 kasus (57,8%) dengan lokasi tumor terbanyak pada lobus frontalis (30,1%). Kasus tumor otak meningkat pada rentang usia 30-34 tahun (9,2%) dan mencapai puncak pada 40-44 tahun (17,9%), kemudian terjadi penurunan kasus pada usia yang lebih tua.
Penelitian mengenai epidemiologi tumor otak, terutama di Indonesia, masih tergolong sedikit, padahal tumor otak merupakan salah satu penyakit yang serius. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk meneliti bagaimana profil para penderita tumor otak di Medan, yaitu di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) H. Adam Malik Medan pada tahun 2011-2013.
1.2. Rumusan Masalah Bagaimana profil penderita tumor otak di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011-2013?
1.3. Tujuan Penelitian 1.3.1. Tujuan Umum Tujuan umum dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui profil penderita tumor otak di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011-2013.
1.3.2. Tujuan Khusus Tujuan khusus dalam penelitian ini adalah untuk: 1. Mengetahui karakteristik tumor otak di RSUP H. Adam Malik Medan tahun
2011-2013 berdasarkan usia.
Universitas Sumatera Utara

3
2. Mengetahui karakteristik tumor otak di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011-2013 berdasarkan jenis kelamin.
3. Mengetahui karakteristik tumor otak di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011-2013 berdasarkan gambaran histopatologi.
4. Mengetahui karakteristik tumor otak di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011-2013 berdasarkan lokasi tumor.
5. Mengetahui karakteristik tumor otak di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2011-2013 berdasarkan gejala klinis utama.
1.4. Manfaat Penelitian Manfaat penelitian ini adalah: 1. Bagi peneliti, penelitian ini merupakan salah satu syarat kelulusan untuk
menyelesaikan program pendidikan sarjana (S1) dan diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan kemampuan peneliti di bidang penelitian. 2. Bagi pihak RSUP H. Adam Malik Medan, penelitian ini diharapkan dapat: a. Memberikan informasi mengenai profil penderita tumor otak di RSUP H.
Adam Malik Medan b. Membantu pihak rumah sakit dalam pengolahan data tentang tumor otak di
RSUP H. Adam Malik Medan c. Sebagai landasan untuk penelitian-penelitian tentang tumor otak di masa
mendatang, baik bagi peneliti maupun bagi pihak lainnya 3. Bagi masyarakat, penelitian ini diharapkan dapat menyediakan informasi
tentang tumor otak sehingga meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat dalam penanganan tumor otak.
Universitas Sumatera Utara

4
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Sistem Saraf Pusat 2.1.1. Embriologi
Menurut Sadler (2010), sistem saraf pusat (SSP) terbentuk pada awal minggu ketiga sebagai lempeng neuralis (neural plate) pada daerah middorsal di depan nodus primitif. Tepi-tepi lateralnya bergerak naik untuk membentuk lipatan-lipatan neuralis (neural folds). Seiring perkembangannya, lipatan-lipatan neuralis ini terus menaik, saling mendekati satu sama lain di garis tengah, dan akhirnya menyatu membentuk tuba neuralis. Fusi dimulai di daerah servikal dan begitu dimulai, ujung-ujung tuba neuralis yang terbuka membentuk neuroporus kranialis dan kaudalis yang berhubungan dengan rongga amniotik. Penutupan akhir neuroporus kranial terjadi pada tahap 18-20 somit (hari ke-25), sedangkan penutupan akhir neuroporus kaudal terjadi kira-kira dua hari kemudian.
Ujung sefalik dari tuba neuralis menunjukkan tiga pelebaran, yaitu vesikel-vesikel otak primer: (a) prosensefalon, atau otak depan; (b) mesensefalon, atau otak tengah; dan (c) rhombensefalon, atau otak belakang. Secara bersamaan akan terbentuk dua fleksura: (a) fleksura servikalis pada pertemuan otak belakang dan medula spinalis, dan (b) fleksura sefalik di daerah otak tengah. Ketika embrio berumur lima minggu, prosensefalon terdiri dari dua bagian: (a) telensefalon dan (b) diensefalon (Sadler, 2010).
Rhombensefalon dipisahkan dari mesensefalon oleh isthmus rhomboensefalikus. Rhombensefalon juga terdiri dari dua bagian: (a) metensefalon, yang nantinya membentuk pons dan serebelum, dan (b) mielensefalon. Kedua bagian ini dibatasi oleh fleksura pontin. Lumen medula spinalis, yaitu kanalis sentralis, berkesinambungan dengan vesikel-vesikel otak. Rongga pada rhombensefalon merupakan ventrikel keempat, rongga pada diensefalon merupakan ventrikel ketiga, dan rongga pada hemisfer serebri merupakan ventrikel-ventrikel lateral. Lumen mesensefalon menghubungkan ventrikel ketiga dan keempat. Lumen ini menjadi sangat sempit dan kemudian
Universitas Sumatera Utara

5
disebut aqueduct of Sylvius. Ventrikel-ventrikel lateral berhubungan dengan ventrikel ketiga melalui interventricular foramina of Monro (Sadler, 2010).
Pada mulanya sel-sel neuroektoderm yang membatasi tuba neuralis berdiferensiasi menjadi neuroblas dan spongioblas. Neuroblas merupakan cikal bakal neuron, sedangkan spongioblas berdiferensiasi menjadi spongioblas yang sebagian menetap dan membentuk jaringan epitel yang membatasi langsung tuba neuralis sebagai spongioblas ependim. Sebagian lagi menjadi spongioblas yang bebas meninggalkan jajaran epitel dan berkembang menjadi berbagai bentuk sel glia seperti astrosit protoplasmatik, astrosit fibrosa, dan oligodendrosit (Subowo, 1989). 2.1.2. Anatomi
Gambar 2.1. Potongan otak secara sagital (Sumber: Netter, F.H., 2011. Atlas of Human Anatomy. 5th ed. United States of America: Saunders Elsevier, 105)
Menurut Hansen (2010), otak dan medula spinalis dikelilingi oleh tiga lapisan jaringan ikat membranosa yang disebut meninges, yang meliputi:
Universitas Sumatera Utara

6
1. Dura mater, yaitu lapisan terluar yang kaya akan serabut saraf sensoris. Dura mater terutama disarafi oleh cabang-cabang sensoris meningeal dari nervus trigeminus, nervus vagus, dan saraf-saraf servikal atas. Dura mater juga membentuk lipatan atau lapisan jaringan ikat tebal yang memisahkan berbagai regio otak seperti falks serebri, falks serebeli, tentorium serebeli, dan diafragma sella.
2. Araknoid mater, yaitu lapisan di bawah dura mater yang avaskular. Ruang di antara araknoid mater dan pia mater disebut spatium subarachnoideum dan mengandung cairan serebrospinalis.
3. Pia mater, yaitu lapisan jaringan ikat yang langsung membungkus otak dan medula spinalis. Araknoid mater dan pia mater tidak memiliki serabut saraf sensoris. Bagian yang paling menonjol dari otak manusia adalah hemisfer serebri.
Beberapa regio korteks serebri yang berhubungan dengan fungsi-fungsi spesifik dibagi atas lobus-lobus. Lobus-lobus tersebut dan fungsinya masing-masing antara lain: 1. Lobus frontal memengaruhi kontrol motorik, kemampuan berbicara ekspresif,
kepribadian, dan hawa nafsu 2. Lobus parietal memengaruhi input sensoris, representasi dan integrasi, serta
kemampuan berbicara reseptif 3. Lobus oksipital memengaruhi input dan pemrosesan penglihatan 4. Lobus temporal memengaruhi input pendengaran dan integrasi ingatan 5. Lobus insula memengaruhi emosi dan fungsi limbik 6. Lobus limbik memengaruhi emosi dan fungsi otonom (Hansen, 2010)
Komponen-komponen otak lainnya antara lain: 1. Talamus merupakan pusat relai di antara area kortikal dan subkortikal. 2. Serebelum mengkoordinasikan aktivitas motorik halus dan memproses posisi
otot. 3. Batang otak (otak tengah, pons, dan medula oblongata) menyampaikan
informasi sensoris dan motorik dari somatik dan otonom serta informasi motorik dari pusat yang lebih tinggi ke target-target perifer (Hansen, 2010).
Universitas Sumatera Utara

7
Otak mengandung empat ventrikel, yaitu dua ventrikel lateral serta ventrikel ketiga dan keempat yang terletak di sentral. Cairan serebrospinalis dihasilkan oleh pleksus koroideus, beredar melalui ventrikel-ventrikel, dan kemudian memasuki ruang subaraknoid melalui foramen Luschka atau foramen Magendie di ventrikel keempat. Otak terutama diperdarahi oleh arteri vertebral yang berasal dari arteri subklavia, naik melalui foramen transversum dari vertebra C1-C6, dan memasuki foramen magnum tengkorak; dan arteri karotid internal yang berasal dari arteri karotis komunis di leher, naik di leher, dan memasuki kanalis karotis dan melintasi foramen laserum sehingga berakhir sebagai arteri serebral anterior dan medial yang beranastomosis dengan sirkulus Willisi (Hansen, 2010).
2.1.3. Histologi Menurut Eroschenko (2008), otak dan medula spinalis dilindungi oleh
tulang, jaringan ikat, dan cairan serebrospinalis. Di dalam kranium dan foramen vertebrale terdapat meninges, yaitu suatu jaringan ikat yang terdiri dari tiga lapisan, yaitu dura mater, araknoid mater, dan pia mater. Di antara araknoid mater dan pia mater terdapat spatium subarachnoideum, tempat beredarnya cairan serebrospinalis yang membasahi dan melindungi otak dan medula spinalis.
Sel struktural dan fungsional jaringan saraf adalah neuron. Setiap neuron terdiri dari soma atau badan sel, banyak dendrit, dan satu akson. Badan sel atau soma mengandung nukleus, nukleolus, berbagai organel, dan sitoplasma atau perikarion. Dari badan sel muncul tonjolan-tonjolan sitoplasma yang disebut dendrit yang membentuk percabangan dendritik. Neuron dikelilingi oleh sel yang lebih kecil dan lebih banyak yaitu neuroglia, yaitu sel penunjang nonneural yang memiliki banyak percabangan di SSP dan mengelilingi neuron, akson, dan dendrit. Sel ini tidak terangsang atau menghantarkan impuls karena secara morfologis dan fungsional berbeda dari neuron. Sel neuroglia dapat dibedakan dari ukurannya yang jauh lebih kecil dan nukleus yang berwarna gelap dan jumlahnya sekitar sepuluh kali lipat lebih banyak daripada neuron (Eroschenko, 2008).
Universitas Sumatera Utara

8
Gambar 2.2. Bagian-bagian neuron (X100, H&E) (Sumber: Mescher, A.L., 2009. Junqueira’s Basic Histology Text & Atlas. 12th ed. United States of America: The McGraw-Hill Professional)
Empat jenis sel neuroglia adalah astrosit, oligodendrosit, mikroglia, dan sel ependimal. Astrosit adalah sel neuroglia terbesar dan paling banyak ditemukan di substansia grisea. Astrosit terdiri dari dua jenis, yaitu astrosit fibrosa dan astrosit protoplasmik. Oligodendrosit membentuk selubung mielin akson di SSP. Mikroglia berasal dari sumsum tulang dan fungsi utamanya mirip dengan makrofag jaringan ikat. Sel ependimal adalah sel epitel kolumnar pendek atau selapis kuboid yang melapisi ventrikel otak dan kanalis sentralis medula spinalis (Eroschenko, 2008).
Otak dan medula spinalis mengandung substansia grisea dan substansia alba. Substansia grisea terdiri dari neuron-neuron, dendrit-dendritnya, dan neuroglia, sedangkan substansia alba tidak mengandung badan sel neuron dan terutama terdiri dari akson bermielin, sebagian akson tidak bermielin, dan oligodendrosit penunjang (Eroschenko, 2008).
Universitas Sumatera Utara

9
Gambar 2.3. Astrosit fibrosa dan kapiler di otak. Pewarnaan: metode Cajal. Pembesaran sedang. (Sumber: Eroschenko, V.P., 2008. diFiore’s Atlas of Histology with Functional Correlations. 11th ed. United States of America: Lippincott Williams & Wilkins. Terjemahan Brahm U. Pendit. Atlas Histologi diFiore dengan Korelasi Fungsional. 2008. Edisi Ke-11. Jakarta: EGC, 159)
Gambar 2.4. Oligodendrosit otak. Pewarnaan: metode Cajal. Pembesaran sedang. (Sumber: Eroschenko, V.P., 2008. diFiore’s Atlas of Histology with Functional Correlations. 11th ed. United States of America: Lippincott Williams & Wilkins. Terjemahan Brahm U. Pendit. Atlas Histologi diFiore dengan Korelasi Fungsional. 2008. Edisi Ke-11. Jakarta: EGC, 159)
Universitas Sumatera Utara

10
Gambar 2.5. Mikroglia otak. Pewarnaan: metode Hortega. Pembesaran sedang. (Sumber: Eroschenko, V.P., 2008. diFiore’s Atlas of Histology with Functional Correlations. 11th ed. United States of America: Lippincott Williams & Wilkins. Terjemahan Brahm U. Pendit. Atlas Histologi diFiore dengan Korelasi Fungsional. 2008. Edisi Ke-11. Jakarta: EGC, 159)
Gambar 2.6. Sel ependimal pada kanalis sentralis medula spinalis (X200, H&E) (Sumber: Mescher, A.L., 2009. Junqueira’s Basic Histology Text & Atlas. 12th ed. United States of America: The McGraw-Hill Professional) 2.1.4. Fisiologi
Menurut Sherwood (2011), sistem saraf pusat (SSP) terdiri dari otak dan medula spinalis. Tidak ada bagian otak yang bekerja sendiri dan terpisah dari bagian-bagian otak lain karena anyaman neuron-neuron terhubung secara anatomis oleh sinaps, dan neuron-neuron di seluruh otak berkomunikasi secara
Universitas Sumatera Utara

11

ekstensif satu sama lain dengan cara listrik atau kimiawi. Akan tetapi, neuronneuron yang bekerja sama untuk melaksanakan fungsi tertentu cenderung tersusun dalam lokasi yang terpisah. Karena itu, meskipun merupakan suatu keseluruhan yang fungsional, otak tersusun menjadi bagian-bagian yang berbeda. Bagianbagian otak dapat dikelompokkan dalam berbagai cara bergantung pada perbedaan anatomik, spesialisasi fungsi, dan perkembangan evolusi.
Medula spinalis memiliki lokasi strategis antara otak dan serat aferen dan eferen susunan saraf tepi. Lokasi ini memungkinkan medula spinalis memenuhi dua fungsi primernya, yaitu sebagai penghubung untuk transmisi informasi antara otak dan bagian tubuh lainnya dan mengintegrasikan aktivitas refleks antara masukan aferen dan keluaran eferen tanpa melibatkan otak. Jenis aktivitas refleks ini disebut refleks spinal (Sherwood, 2011).

Tabel 2.1. Fungsi komponen utama otak

KOMPONEN OTAK

FUNGSI UTAMA

Korteks serebri
Nukleus basalis Talamus Hipotalamus
Serebelum

1. Persepsi sensorik 2. Kontrol gerakan sadar 3. Bahasa 4. Sifat kepribadian 5. Proses mental canggih (fungsi luhur), misalnya
berpikir, mengingat, mengambil keputusan, kreativitas, dan kesadaran diri 1. Inhibisi tonus otot 2. Koordinasi gerakan lambat, menetap 3. Menekan pola gerakan yang tidak bermanfaat 1. Stasiun pemancar untuk semua masukan sinaps 2. Kesadaran kasar akan sensasi 3. Berperan dalam kesadaran 4. Berperan dalam kontrol motorik 1. Regulasi banyak fungsi homeostatik, misalnya kontrol suhu, haus, pengeluaran urin, dan asupan makanan 2. Penghubung penting antara sistem saraf dan endokrin 3. Banyak terlibat dalam emosi dan pola perilaku dasar 1. Mempertahankan keseimbangan 2. Meningkatkan tonus otot 3. Mengkoordinasikan dan merencanakan aktivitas otot sadar terampil

Universitas Sumatera Utara

12

Batang otak (otak 1. Asal dari sebagian besar saraf kranialis perifer

tengah, pons, dan 2. Pusat kontrol kardiovaskular, respirasi, dan

medula)

pencernaan

3. Regulasi refleks otot yang berperan dalam

keseimbangan dan postur

4. Penerimaan dan integrasi semua input sinaps dari

medula spinalis; pengaktifan korteks serebri dan

keadaan terjaga

5. Peran dalam siklus tidur-bangun

(Sumber: Sherwood, L. 2007. Human Physiology: From Cells to Systems. 6th ed.

Singapore: Cengange Learning Asia Pte Ltd. Terjemahan Brahm U. Pendit.

Fisiologi Manusia dari Sel ke Sistem. 2011. Edisi Ke-6. Jakarta: EGC, 155)

2.2. Tumor Otak 2.2.1. Definisi
Menurut Hakim (2005), tumor otak adalah lesi ekspansif jinak atau ganas yang membentuk massa di intrakranial atau medula spinalis. Tumor otak dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu tumor otak primer dan tumor metastasis. Tumor otak primer merupakan tumor yang muncul sebagai akibat dari pertumbuhan abnormal jaringan otak itu sendiri. Tumor metastasis berasal dari organ-organ lain seperti paru-paru, payudara, prostat, dan ginjal (Sagar dan Israel, 2010).
Menurut Kumar (2013), tumor otak memiliki karakteristik unik yang membedakannya dengan tumor-tumor lain, di antaranya adalah: 1. Tumor otak tidak memiliki tahap premaligna atau in situ yang dapat dideteksi
seperti pada karsinoma. 2. Tumor low-grade sekalipun dapat menginfiltrasi regio otak sehingga
menyebabkan defisit klinis yang serius, tidak dapat direseksi, dan prognosis yang buruk. 3. Lokasi anatomis tumor dapat memengaruhi perjalanan penyakit tanpa memandang tipe histopatologis karena efek lokal yang ditimbulkan atau tumor tidak dapat direseksi. 4. Tumor otak jarang bermetastasis ke luar SSP.

Universitas Sumatera Utara

13
2.2.2. Etiologi dan Faktor Risiko Menurut Cancer Research UK (2013), tumor otak tidak memiliki etiologi
yang pasti, namun melibatkan faktor-faktor risiko seperti: 1. Umur Umur memegang peran penting karena sebagian besar tumor otak terjadi pada anak-anak dan orang dewasa tua meskipun setiap kelompok usia memiliki peluang yang sama untuk mengidap tumor otak (American Society of Clinical Oncology, 2013; Cancer Research UK, 2013). 2. Jenis kelamin Berdasarkan jenis kelamin, laki-laki lebih mungkin menderita tumor otak daripada perempuan, namun beberapa jenis tumor otak yang spesifik seperti meningioma lebih umum terjadi pada perempuan (American Society of Clinical Oncology, 2013). 3. Industri dan pekerjaan Zat-zat karsinogenik dan neurotoksik seperti pelarut organik, minyak pelumas, akrilonitril, formaldehida, hidrokarbon aromatik polisiklik, dan fenol dapat menginduksi tumor otak pada hewan coba. Pekerjaan-pekerjaan yang berhubungan dengan operasi mesin kendaraan bermotor, pengolahan karet, dan penggunaan pestisida berkaitan dengan insidensi tumor otak (El-Zein, 2013). 4. Radiasi ionisasi Radiasi ionisasi dosis tinggi diketahui dapat meningkatkan risiko meningioma, glioma, dan nerve sheath tumor (Deangelis dan Rosenfeld, 2009; El-Zein, 2013). 5. Makanan dan diet Konsumsi senyawa N-nitrosourea diduga berperan sebagai neurokarsinogen dengan mekanisme-mekanisme yang melibatkan kerusakan pada DNA (deoxyribonucleic acid) (El-Zein, 2013). 6. Pemakaian telepon selular Telepon selular memiliki sebuah transmiter kecil yang memancarkan radiasi frekuensi radio berenergi rendah tepat di samping kepala sehingga memunculkan kekhawatiran bahwa individu yang terpapar radiasi memiliki risiko untuk mengidap tumor otak. Namun, penelitian-penelitian yang sudah ada belum
Universitas Sumatera Utara

14
menunjukkan adanya hubungan antara pemakaian telepon dengan tumor otak atau tumor lainnya (El-Zein, 2013). 7. Supresi imun Supresi sistem imun yang didapat seperti pada infeksi HIV (human immunodeficiency virus) atau terapi imunosupresif kronis setelah transplantasi organ meningkatkan risiko limfoma SSP primer. Risiko glioma juga meningkat pada individu yang terinfeksi HIV (Deangelis dan Rosenfeld, 2009). 8. Obat-obatan dan bahan kimia lainnya Beberapa penelitian telah menemukan adanya hubungan antara tumor otak pada anak-anak dengan paparan prenatal terhadap obat fertilitas, kontrasepsi oral, obat tidur, obat antinyeri, antihistamin, dan diuretik. Pada orang dewasa, obat sakit kepala, antinyeri, dan obat tidur memiliki efek protektif yang tidak signifikan terhadap tumor otak (El-Zein, 2013). 9. Sindrom genetik Menurut Deangelis dan Rosenfeld (2009), sejumlah sindrom herediter berhubungan dengan peningkatan risiko tumor otak. Misalnya, neurofibromatosis tipe 1 meningkatkan risiko glioma, neurofibromatosis tipe 2 meningkatkan risiko schwannoma vestibular dan meningioma, dan sindrom Li-Fraumeni yang berkaitan dengan mutasi pada gen supresor tumor p53 menyebabkan glioma dan meduloblastoma.
2.2.3. Epidemiologi Menurut Deangelis dan Rosenfeld (2009), tumor intrakranial dapat terjadi
pada usia manapun, tetapi histopatologi dan insidensi tumor bervariasi menurut usia. Kasus tumor otak lebih banyak terdapat pada pria daripada wanita, kecuali meningioma yang sangat didominasi oleh wanita. Pada anak-anak, meduloblastoma dan astrositoma low-grade lebih mendominasi, sedangkan pada orang dewasa, astrositoma maligna dan meningioma adalah tumor otak yang paling umum terjadi. Tabel 2.2. menunjukkan epidemiologi tumor otak di Medan, Indonesia, pada tahun 2003-2004.
Universitas Sumatera Utara

15

Tabel 2.2. Distribusi tumor otak berdasarkan usia dan jenis kelamin di RSUP H. Adam Malik dan RS Haji Medan tahun 2003-2004

No

Umur (tahun)

Jenis kelamin

Laki-laki

Perempuan

n%n%

Jumlah Persentas (N) e (%)

1 0-10

1 2,08 1 2,08

2

4,17

2 11-20

2 4,17 1 2,08

3

6,25

3 21-30

4 8,33 2 4,17

6

12,50

4 31-40

3 6,25 1 2,08

4

8,33

5 41-50

7 14,58 3

6,25

10

20,83

6 51-60

7 14,58 2

4,17

9

18,75

7 >60

11 22,92

3

6,25

14

29,17

Jumlah total 35 72,92 13 27,08

48

100,00

(Sumber: Hakim, A.A., 2005. Kasus-Kasus Tumor Otak di Rumah Sakit H. Adam Malik dan Rumah Sakit Haji Medan Tahun 2003-2004. Medan: Universitas Sumatera Utara. Tersedia di: http://repository.usu.ac.id/handle/123456789/15584)

2.2.4. Patogenesis Menurut Ropper dan Samuels (2009), tumor dapat berasal dari sel-sel
embrionik yang tertinggal di otak selama proses perkembangan. Tumor juga dapat muncul dari transformasi neoplastik sel-sel dewasa yang matang seperti astrosit, oligodendrosit, mikroglia, atau sel ependimal. Selama sel-sel ini memperbanyak diri, sel-sel anakan menjadi anaplastik dan derajat keganasan semakin bertambah.
Terbentuknya tumor didasarkan atas anggapan bahwa lapisan sel tuba neuralis bermigrasi dan berdiferensiasi menjadi meduloblas yang kemudian berdiferensiasi menjadi dua bagian, yaitu golongan neuron menjadi neuroblas dan neuron, dan golongan glia melalui spongioblas menjadi astrosit dan oligodendrosit. Lapisan sel tuba neuralis juga dapat menjadi sel ependimal. Setiap tipe sel ini dapat berubah menjadi neoplastik sehingga meduloblas menjadi meduloblastoma, neuroblas menjadi neuroblastoma dan ganglioneuroma, astrosit menjadi astrositoma, oligodendrosit menjadi oligodendroglioma, dan sel ependimal menjadi ependimoma. Tumor yang berasal dari sel-sel glia ini dinamakan glioma (Sobirin, 2001).
Identifikasi penyimpangan kromosom tertentu yang timbul pada sel-sel tumor sistem saraf memberi kesan bahwa biogenesis dan perkembangan tumor

Universitas Sumatera Utara

16
otak disebabkan oleh gangguan kendali siklus sel. Sebagian defek molekuler memengaruhi terbentuknya tumor, sedangkan sebagian yang lain mendasari perkembangan berikutnya, mempercepat transformasi menjadi ganas, dan menimbulkan sensitivitas atau resistansi terhadap kemoterapi. Mutasi pada gengen yang normalnya menekan proliferasi sel, yaitu gen supresor tumor, dapat memicu perkembangan tumor, contohnya mutasi berupa delesi gen supresor tumor p53 pada kromosom 17p yang ditemukan pada 50% kasus astrositoma (Ropper dan Samuels, 2009).
Perubahan lainnya adalah ekspresi berlebihan faktor-faktor pertumbuhan atau reseptornya. Perkembangan menjadi keganasan dapat dipicu oleh defek pada jalur signaling gen p16-retinoblastoma, hilangnya kromosom 10, atau ekspresi berlebihan gen faktor pertumbuhan epidermal (epidermal growth factor). Contohnya antara lain ekspresi berlebihan (overexpression) atau bentuk mutan dari EGFR (epidermal growth factor receptor) dan PDGFR (platelet-derived transforming growth factor receptor) pada sekitar 50% kasus glioma. Konsentrasi yang tinggi dari VEGF (vascular endothelial growth factor) ditemukan pada meningioma yang secara alamiah kaya akan pembuluh darah. Namun, belum jelas apakah penemuan ini menunjukkan suatu hubungan sebab-akibat atau hanya suatu penyimpangan proses genetik yang menyertai pertumbuhan dan perkembangan tumor (Ropper dan Samuels, 2009).
Saat ini, teori yang umum dianut adalah kanker berkembang melalui akumulasi dari perubahan genetik yang memungkinkan sel-sel untuk tumbuh di luar kendali mekanisme regulasi yang normal dan lolos dari proses penghancuran oleh sistem imun. Perubahan-perubahan genetik tersebut mencakup agregasi familial, sindrom-sindrom herediter, faktor-faktor metabolik, sensitivitas mutagen, serta instabilitas kromosom (El-Zein, 2013).
2.2.5. Patofisiologi Menurut Ropper dan Samuels (2009), kavum kranii memiliki volume yang
terbatas dan memiliki tiga unsur yang relatif tidak dapat terkompresi, yaitu otak (sekitar 1.200-1.400 mL), cairan serebrospinalis (70-140 mL), dan darah (150
Universitas Sumatera Utara

17
mL). Hukum Monro-Kellie menyatakan volume total ketiga unsur ini selalu konstan dan penambahan volume salah satu unsur mengurangi volume unsur lainnya. Tumor yang tumbuh di salah satu bagian otak akan menekan jaringan otak di sekitarnya dan mengurangi volume cairan serebrospinalis dan darah. Begitu batas akomodasi ini telah dicapai, tekanan intrakranial (TIK) akan meningkat.
Seiring pertumbuhan tumor, venula-venula di jaringan otak yang berdekatan dengan tumor akan tertekan sehingga tekanan kapiler meningkat, terutama pada jaringan substansia alba di mana edema lebih mencolok. Pertumbuhan tumor yang lambat memungkinkan otak untuk menyesuaikan diri dengan perubahan aliran darah otak dan peningkatan TIK. Pada stadium pertumbuhan tumor yang lebih lanjut, mekanisme kompensasi gagal serta tekanan cairan serebrospinalis dan TIK meningkat. Pada awalnya, tumor mulai menggeser jaringan di sekitarnya dan kemudian menggeser jaringan pada jarak tertentu dari tumor, menimbulkan tanda-tanda lokalisasi yang palsu (Ropper dan Samuels, 2009).
2.2.6. Gejala Klinis Menurut Hansen (2010), gejala klinis tumor otak bergantung pada lokasi
dan derajat peningkatan TIK. Tumor-tumor yang tumbuh dengan lambat di daerah-daerah yang relatif tenang seperti lobus frontalis mungkin saja tidak terdeteksi dan dapat menjadi cukup besar sebelum memunculkan gejala. Tumortumor kecil di daerah-daerah penting dapat menimbulkan kejang, hemiparesis, atau afasia.
Tumor otak biasanya muncul dengan salah satu dari tiga sindrom: (1) progresi subakut dari suatu defisit neurologis fokal, (2) kejang, atau (3) kelainan neurologis nonfokal. Adanya gejala sistemik seperti malaise, penurunan berat badan, anoreksia, atau demam cenderung menunjukkan suatu metastasis dibandingkan suatu tumor otak yang primer. Defisit neurologis fokal yang progresif muncul dari kompresi neuron dan jaras-jaras pada substansia alba oleh karena perkembangan tumor dan edema di sekitarnya. Tumor otak jarang muncul
Universitas Sumatera Utara

18
dengan defisit neurologis fokal yang bersifat tiba-tiba seperti pada stroke. Kejang dapat disebabkan oleh gangguan pada sirkuit kortikal. Kelainan neurologis nonfokal biasanya menunjukkan peningkatan TIK, hidrosefalus, atau penyebaran tumor yang difus. Peningkatan TIK dapat mengakibatkan kerusakan yang lebih luas dengan mengkompresi struktur otak yang kritis. Gejala-gejala yang umum dijumpai adalah penurunan kesadaran, malaise, sakit kepala, mual/muntah, dan papiledema. Sakit kepala pada tumor otak, selain disebabkan oleh peningkatan TIK, dapat juga diakibatkan oleh iritasi fokal atau pergeseran dari strukturstruktur yang sensitif terhadap nyeri (Sagar dan Israel, 2010).
Menurut Ropper dan Samuels (2009), tumor otak seringkali muncul tanpa adanya gejala yang berarti seperti gangguan kapasitas aktivitas mental, sedangkan tanda-tanda fokal lainnya tidak muncul. Pada kelompok pasien yang lain, terdapat indikasi awal adanya tumor otak berupa hemiparesis yang progresif, kejang yang muncul pada orang yang sebelumnya sehat, dan gejala-gejala lainnya. Kelompok pasien yang lainnya memiliki gejala berupa peningkatan TIK dengan atau tanpa tanda-tanda lokalisasi tumor. Beberapa pasien juga memiliki gejala-gejala yang sangat khas yang jarang muncul oleh karena penyakit yang lainnya sehingga dapat ditegakkan diagnosis bukan hanya eksistensi tumor otaknya saja, namun juga tipe dan lokasi tu

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

117 3875 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1031 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 925 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 622 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 774 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1322 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

65 1215 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 805 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 1086 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1320 23