Profil Penderita Tumor Ganas Ovarium di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan pada Tahun 2012

Profil Penderita Tumor Ganas Ovarium di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik
Medan pada Tahun 2012
Oleh : MARIA BINTANG A.P.
100100098
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2013
Universitas Sumatera Utara

Profil Penderita Tumor Ganas Ovarium di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan pada
Tahun 2012
KARYA TULIS ILMIAH Ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh
kelulusan Sarjana Kedokteran Oleh :
MARIA BINTANG A.P. 100100098
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2013
Universitas Sumatera Utara

LEMBAR PERNYATAAN

Profil Penderita Tumor Ganas Ovarium di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan pada Tahun 2012

Nama : Maria Bintang A.P.

NIM : 100100098

Dosen Pembimbing,

Dosen Penguji 1,

dr. Jessy Chrestella, M. Ked (PA), Sp. PA NIP. 198201132008012006

dr. Kiking Ritarwan, Sp. S NIP. 196811171997021002 Dosen Penguji 2,

dr. Dedi Ardinata, M. Kes NIP. 196812271998021002 Medan, 10 Januari 2014 Dekan Fakultas Kedokteran USU,

Prof. dr. Gontar Alamsyah Siregar, Sp. PD., KGEH NIP. 195402201980111001
Universitas Sumatera Utara

HALAMAN PERSETUJUAN Karya Tulis Ilmiah dengan Judul: Profil Penderita Tumor Ganas Ovarium di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan pada Tahun 2012
Yang dipersiapkan oleh: MARIA BINTANG A.P.
100100098 Karya Tulis Ilmiah ini telah diperiksa dan disetujui
Medan, Desember 2013 Disetujui,
Dosen Pembimbing
(dr. Jessy Chrestella, M. Ked (PA), Sp. PA)
Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Tumor ganas ovarium menduduki peringkat kelima dari keganasan pada wanita di Indonesia menurut data dari GLOBOCAN Project yang merupakan salah satu program World Health Organization (WHO) pada tahun 2008. Gejala klinis yang tidak spesifik pada stadium dini, kurangnya kesadaran diri wanita dengan faktor risiko untuk melakukan skrining serta kurangnya pengetahuan tentang faktor risiko tumor ganas ovarium menyebabkan pasien lebih banyak didiagnosa pada stadium lanjut.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui profil penderita tumor ganas ovarium yang dirawat inap di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik pada tahun 2012. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional dengan desain cross-sectional. Jumlah penderita tumor ganas ovarium pada penelitian ini adalah 42 orang.
Dari hasil penelitian, didapatkan bahwa tumor ganas ovarium paling banyak berdasarkan umur, pada kelompok usia 40-60 tahun; berdasarkan jumlah paritas, pada kelompok nullipara; berdasarkan status hormon penderita, pada kelompok produktif; berdasarkan stadium, pada kelompok stadium III; berdasarkan indeks massa tubuh, pada kelompok normal; berdasarkan penggunaan pil kontrasepsi, pada kelompok yang tidak mengkonsumsi pil kontrasepsi; berdasarkan tipe histopatologi, pada kelompok epithelial ovarian tumor, dan terapi adjuvan adalah jenis penatalaksanaan yang paling banyak dipilih.
Berbagai faktor dapat menjadi penyebab pada seorang wanita dalam mendapat tumor ganas ovarium. Oleh karena itu, wanita dengan faktor risiko haruslah diskrining dan dievaluasi untuk deteksi dini dan langkah awal untuk mencegah terjadinya tumor ganas ovarium.
Kata kunci : tumor ganas ovarium, profil
Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT Malignant ovarian tumors was ranked fifth of malignancy in women in Indonesia, according to GLOBOCAN Project which was a program from the World Health Organization (WHO) in 2008. Non-spesific clinical symptoms at an early stage, lack of self-awareness of women with high risk factors for screening and lack of knowledge about risk factors for malignant ovarian tumors cause more patients were diagnosed at an advanced stage. This study was conducted to determine the profile of patients with malignant ovarian tumors who were admitted to Haji Adam Malik Hospital in 2012. This was a descriptive observational research with cross-sectional study design. The total number of patients in this study was 42. The result shows that malignant ovarian tumors were found mostly in the age group 40-60 years old, women with productive age, among women who have never giving birth, and who did not use contraceptive pills. Based on body mass index, most women with malignant ovarian tumors fall into the normal BMI category. Most malignant ovarian tumors was diagnosed at stage III with epithelial histopathology type. For the management, adjuvant therapy was the most preferred. There were various factors influencing a woman in having ovarian cancer. Therefore women with high risk factors should be screened and frequently evaluated as for early detection and one step to prevent malignant ovarian tumors.
Key words : malignant ovarian tumors, profile
Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan segala rahmat dan karunia-Nya sehingga Karya Tulis Ilmiah yang berjudul “Profil Penderita Tumor Ganas Ovarium di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan pada Tahun 2012” berhasil diselesaikan.
Di dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini ternyata penulis mendapat banyak bantuan baik akal moral, materil, dan spiritual dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih setinggi-tingginya kepada :
1. Prof. dr. Gontar A. Siregar, Sp. PD. KGEH selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara atas izin penelitian yang telah diberikan.
2. dr. Jessy Chrestella, M. Ked (PA), Sp. PA selaku dosen pembimbing saya yang telah memberikan bantuan, bimbingan, dan pengarahan kepada penulis selama menyelesaikan penulisan Karya Tulis Ilmiah ini.
3. dr. Kiking Ritarwan, Sp. S dan dr. Dedi Ardinta, M. Kes selaku dosen penguji saya yang banyak memberikan kritik dan saran yang membangun dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini.
4. dr. Lukmanul Hakim Nasution, Sp. KK selaku direktur Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan atas izin penelitian yang diberikan untuk melakukan penelitian di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan.
5. Kedua orangtua saya, Alm. Adrianus Parlindungan Panggabean, dan Ria Veronica Sinaga, SE, MBA serta Happy Mentari, Regina Claudia, Gabriel Roito sebagai adik saya atas doa dan dukungannya.
6. Teman – teman saya tercinta Nelfi Disya, Nurma Sheila, Monica Hutapea, Rahmi Silvi, dan Dwi Meutia atas semua bantuan dan sarannya dalam penulisan Karya Tulis Ilmiah ini.
Universitas Sumatera Utara

7. Seluruh pegawai Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara yang telah membantu dalam proses pembuatan surat izin penelitian dan ethical clearence. Penulis sadar bahwa Karya Tulis Ilmiah ini masih jauh dari sempurna.
Oleh karena itu, penulis mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun untuk lebih menyempurnakan karya tulis ini agar berguna untuk kehidupan orang banyak. Demikian dan terimakasih.
Medan, Desember 2013 Penulis
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

Halaman

Lembar Pengesahan............................................................................ i

Halaman Persetujuan.......................................................................... ii

Abstrak................................................................................................. iii

Abstract................................................................................................ iv

Kata Pengantar................................................................................... v

Daftar Isi............................................................................................... vii

Daftar Tabel.......................................................................................... ix

Daftar Gambar...................................................................................... x

Daftar Singkatan................................................................................... xi

Daftar Lampiran................................................................................... xii

BAB 1 PENDAHULUAN..................................................................... 1

1.1.Latar Belakang...................................................................... 1.2.Rumusan Masalah................................................................. 1.3.Tujuan Penelitian..................................................................
1.3.1. Tujuan Umum........................................................ 1.3.2. Tujuan Khusus....................................................... 1.4.Manfaat Penelitian................................................................ 1.4.1. Bagi Ilmu Pengetahuan........................................ 1.4.2. Bagi Masyarakat..................................................

1 4 4 4 4 4 4 5

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA........................................................... 6

2.1.Anatomi Ovarium................................................................. 2.2.Histologi Ovarium................................................................ 2.3.Tumor Ganas Ovarium..........................................................
2.3.1. Etiologi................................................................ 2.3.2. Klasifikasi............................................................ 2.3.3. Faktor Risiko........................................................ 2.3.4. Gejala Klinis......................................................... 2.3.5. Stadium................................................................ 2.3.6. Deteksi Dini.......................................................... 2.3.7. Penatalaksanaan.................................................... 2.3.8. Prognosis...............................................................

6 7 9 9 13 17 18 19 20 21 22

Universitas Sumatera Utara

BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL.. 24

3.1.Kerangka Konsep Penelitian.................................................. 3.2.Definisi Operasional..............................................................
3.2.1. Variabel Bebas...................................................... 3.2.2. Variabel Terikat....................................................

24 25 25 25

BAB 4 METODE PENELITIAN......................................................... 29

4.1.Jenis Penelitian...................................................................... 4.2.Lokasi dan Waktu Penelitian................................................. 4.3.Populasi dan Sampel Penelitian.............................................
4.3.1. Populasi Penelitian................................................ 4.3.2. Sampel Penelitian.................................................. 4.4.Teknik Pengumpulan Data...................................................... 4.5.Metode Analisa Data..............................................................

29 29 29 29 30 30 30

BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN......................... 31

5.1.Hasil Penelitian....................................................................... 5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian.................................... 5.1.2. Deskripsi Karakteristik Sampel.............................. 5.1.2.1.Berdasarkan Umur..................................... 5.1.2.2.Berdasarkan Jumlah Paritas....................... 5.1.2.3.Berdasarkan Status Hormon...................... 5.1.2.4.Berdasarkan Stadium................................. 5.1.2.5.Berdasarkan Indeks Massa Tubuh............. 5.1.2.6.Berdasarkan Pil Kontrasepsi...................... 5.1.2.7.Berdasarkan Tipe Histopatologi................ 5.1.2.8.Berdasarkan Penatalaksanaan....................
5.2.Pembahasan.............................................................................

31 31 31 32 32 33 33 34 35 35 36 36

BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN................................................... 47

6.1.Kesimpulan.............................................................................. 47 6.2.Saran........................................................................................ 47

DAFTAR PUSTAKA.............................................................................. 49

LAMPIRAN

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

Nomor 2.1. 2.2.
5.1. 5.2. 5.3. 5.4. 5.5. 5.6. 5.7. 5.8. 5.9.
5.10
5.11
5.12

Judul

Halaman

Klasifikasi Tumor Ovarium berdasarkan WHO

14

Staging Tumor Ganas Ovarium Berdasarkan

18

International Federation of Gynecologist and

Obstetricians (FIGO, 1987)

Deskripsi Sampel Berdasarkan Umur

32

Deskripsi Sampel Berdasarkan Jumlah Paritas

32

Deskripsi Sampel Berdasarkan Status Hormon Penderita

33

Deskripsi Sampel Berdasarkan Stadium

33

Deskripsi Sampel Berdasarkan Indeks Massa Tubuh Penderita 34

Deskripsi Sampel Berdasarkan Penggunaan Pil Kontrasepsi 35

Deskripsi Sampel Berdasarkan Tipe Histopatologi

35

Deskripsi Sampel Berdasarkan Penatalaksanaan

36

Distribusi Penderita Tumor Ganas Ovariun Berdasarkan Kelompok Umur dan Kelompok Histopatologi

37

Distribusi Penderita Tumor Ganas Ovarium Berdasarkan Kelompok Stadium dan Kelompok Umur

38

Distribusi Penderita Tumor Ganas Ovarium Berdasarkan Kelompok Histopatologi dan Kelompok Penatalaksanaan

39

Distribusi Penderita Tumor Ganas Ovarium Berdasarkan Kelompok Stadium dan Kelompok Penatalaksanaan

40

Universitas Sumatera Utara

Nomor 2.1. 2.2. 2.3.

DAFTAR GAMBAR
Judul Anatomi Ovarium Histologi Ovarium Histologi Ovarium

Halaman 6 8 9

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR SINGKATAN

BMI MHT FSH LH HBOC HNPCC RB CUSA

body mass index menopausal hormone therapy follicle stimulating hormone luteinizing hormone hereditary breast and ovarian cancer hereditary nonpolyposis colorectal cancer retinoblastoma cavitron ultrasonic surgical aspirator

Universitas Sumatera Utara

Lampiran 1 Lampiran 2 Lampiran 3 Lampiran 4 Lampiran 5

DAFTAR LAMPIRAN
Daftar Riwayat Hidup Surat Izin Penelitian Surat Ethical Clearance Data Penelitian / Data Induk Hasil Penelitian / Data Output SPSS

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Tumor ganas ovarium menduduki peringkat kelima dari keganasan pada wanita di Indonesia menurut data dari GLOBOCAN Project yang merupakan salah satu program World Health Organization (WHO) pada tahun 2008. Gejala klinis yang tidak spesifik pada stadium dini, kurangnya kesadaran diri wanita dengan faktor risiko untuk melakukan skrining serta kurangnya pengetahuan tentang faktor risiko tumor ganas ovarium menyebabkan pasien lebih banyak didiagnosa pada stadium lanjut.
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui profil penderita tumor ganas ovarium yang dirawat inap di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik pada tahun 2012. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif observasional dengan desain cross-sectional. Jumlah penderita tumor ganas ovarium pada penelitian ini adalah 42 orang.
Dari hasil penelitian, didapatkan bahwa tumor ganas ovarium paling banyak berdasarkan umur, pada kelompok usia 40-60 tahun; berdasarkan jumlah paritas, pada kelompok nullipara; berdasarkan status hormon penderita, pada kelompok produktif; berdasarkan stadium, pada kelompok stadium III; berdasarkan indeks massa tubuh, pada kelompok normal; berdasarkan penggunaan pil kontrasepsi, pada kelompok yang tidak mengkonsumsi pil kontrasepsi; berdasarkan tipe histopatologi, pada kelompok epithelial ovarian tumor, dan terapi adjuvan adalah jenis penatalaksanaan yang paling banyak dipilih.
Berbagai faktor dapat menjadi penyebab pada seorang wanita dalam mendapat tumor ganas ovarium. Oleh karena itu, wanita dengan faktor risiko haruslah diskrining dan dievaluasi untuk deteksi dini dan langkah awal untuk mencegah terjadinya tumor ganas ovarium.
Kata kunci : tumor ganas ovarium, profil
Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT Malignant ovarian tumors was ranked fifth of malignancy in women in Indonesia, according to GLOBOCAN Project which was a program from the World Health Organization (WHO) in 2008. Non-spesific clinical symptoms at an early stage, lack of self-awareness of women with high risk factors for screening and lack of knowledge about risk factors for malignant ovarian tumors cause more patients were diagnosed at an advanced stage. This study was conducted to determine the profile of patients with malignant ovarian tumors who were admitted to Haji Adam Malik Hospital in 2012. This was a descriptive observational research with cross-sectional study design. The total number of patients in this study was 42. The result shows that malignant ovarian tumors were found mostly in the age group 40-60 years old, women with productive age, among women who have never giving birth, and who did not use contraceptive pills. Based on body mass index, most women with malignant ovarian tumors fall into the normal BMI category. Most malignant ovarian tumors was diagnosed at stage III with epithelial histopathology type. For the management, adjuvant therapy was the most preferred. There were various factors influencing a woman in having ovarian cancer. Therefore women with high risk factors should be screened and frequently evaluated as for early detection and one step to prevent malignant ovarian tumors.
Key words : malignant ovarian tumors, profile
Universitas Sumatera Utara

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Tumor ovarium merupakan bentuk neoplasma yang paling sering ditemukan pada wanita. Sekitar 80% merupakan tumor jinak dan sisanya adalah tumor ganas ovarium (Crum, 1999).
Tumor ganas ovarium merupakan peringkat ketujuh keganasan yang paling sering didiagnosis dan peringkat kelima jenis keganasan yang paling mematikan di dunia. Pada tahun 2008 dilaporkan terdapat 224.747 kasus baru keganasan ovarium di dunia, dengan 99.521 kasus didiagnosis di negara berkembang dan 125.226 kasus lainnya di negara kurang berkembang (Stewart, 2012).
Data dari GLOBOCAN Project, 2008 menunjukkan bahwa tumor ganas ovarium berada pada peringkat kelima dari keganasan pada wanita di Indonesia setelah tumor ganas payudara, kolonrektal, serviks uteri, dan paru-paru. Sedangkan menurut Djuana, 2001, tumor ganas ovarium menduduki urutan keenam terbanyak dari keganasan pada wanita setelah tumor ganas serviks uteri, payudara, kolorektal, kulit, dan limfoma. Dari beberapa penelitian di Indonesia, tingkat kejadian keganasan ovarium adalah 30,5% di Yogyakarta, 7,4% di Surabaya, 13,8% di Jakarta, dan 10,64% di Medan dari seluruh angka kejadian keganasan ginekologi (Sahil, 2007).
Tumor ganas ovarium, terutama keganasan yang berasal dari sel epitel, umumnya tidak menunjukkan gejala atau asimptomatik hingga tumor bermetastasis ke rongga perineum. Hal ini menyebabkan lebih dari dua pertiga kasus tumor ganas ovarium yang didiagnosis telah berada pada stadium lanjut (Berek, 2000). Berdasarkan asal keganasan ovarium dilaporkan bahwa 91,9% tumor ganas ovarium berasal dari sel epitel, 1,2% berasal dari sex cord-stromal
Universitas Sumatera Utara

cell, dan 1,9% berasal dari germ cell (Stewart, 2012). Kira-kira 75-80% keganasan ovarium tipe epitel merupakan tipe serous, 10%, merupakan tipe mucinous dan endometrioid dan masing-masing kurang lebih 1% merupakan tipe clear cell dan Benner (Berek, 2000).
Faktor umur telah dilaporkan sebagai publikasi insidensi yang paling sering pada tumor ganas ovarium. Menurut Crum (1999), tumor jinak ovarium umumnya lebih banyak terjadi pada wanita berumur 20-45 tahun, sedangkan tumor ganas lebih sering menyerang wanita dengan umur 45-60 tahun. Secara umum, insidensi tumor ganas ovarium meningkat seiring dengan bertambahnya umur. Pada umur 0-14 tahun didapat insidensi sebesar 0,2 dan pada umur diatas 75 tahun didapatkan angka 29,2. Hal ini lebih sering ditemukan pada negara yang lebih berkembang. Di Amerika Serikat, insidensi tumor ganas ovarium pada umur 5-9 tahun adalah 0,3 dan pada umur diatas 85 tahun didapat insidensi sebesar 44,2. Pada umur 80-84 adalah puncak insidensi dengan angka 50,6 (Stewart, 2012).
Selain faktor umur, masih banyak lagi faktor yang dapat meningkatkan insidensi kejadian tumor ganas ovarium, yaitu faktor genetik, reproduksi, hormonal, dan gaya hidup seperti aktivitas fisik, diet, dan merokok. Faktor genetik mungkin adalah faktor yang paling berhubungan dengan meningkatnya insidensi tumor ganas ovarium. Dilaporkan sekurangnya 10% dari tumor ganas epitel ovarium merupakan penyakit keturunan, dengan 90% nya berhubungan dengan mutasi gen BRCA (Stewart, 2012).
Sedangkan dari faktor reproduksi, penelitian-penelitian sebelumnya selalu menunjukkan bahwa insidensi kejadian tumor ganas ovarium meningkat pada wanita nulliparity atau yang tidak melahirkan. Histerektomi dan ligasi tuba dapat menjadi faktor protektif pada tumor ganas ovarium. Penggunaan kontrasepsi oral dilaporkan dapat menurunkan risiko keganasan ovarium sedangkan terapi hormon pada wanita menopause dapat meningkatkan risiko keganasan ovarium (Stewart, 2012).
Universitas Sumatera Utara

Belum ada kesimpulan yang pasti pada hubungan faktor gaya hidup dengan peningkatan insidensi kejadian tumor ganas ovarium. Beberapa penelitian menunjukkan ada peningkatan risiko pada wanita obesitas sedangkan penelitian lain menunjukkan tidak ada hubungan antara body mass index (BMI) dengan risiko terjadi tumor ganas ovarium (Stewart, 2012).
Hal ini juga ditemukan pada hubungan aktivitas fisik dengan peningkatan risiko tumor ganas ovarium. Penelitian menunjukkan adanya hubungan antara aktivitas fisik dengan risiko keganasan ovarium, sedangkan penelitian lain menyimpulkan tidak ada hubungan antara keduanya. Merokok dilaporkan menunjukkan peningkatan risiko pada epithelial subtype mucinous adenocarcinoma, tetapi tidak pada subtipe yang lainnya (Stewart, 2012).
Pemeriksaan tumor marker CA125 yang telah diketahui sebagai salah satu skrining pada tumor ganas ovarium mempunyai spesifisitas yang paling tinggi dibandingkan pemeriksaan lainnya. Pada 83% pasien dengan tumor ganas epitel ovarium ditemukan peningkatan level CA125. Peningkatan juga ditemukan pada 50% pasien pada stadium awal dan pada lebih dari 90% pasien dengan stadium lanjut (Menon, 2000).
Selain dengan pemeriksaan tumor marker CA125, tumor ganas ovarium juga dapat dideteksi dengan pemeriksaan transabdominal ultrasonography. Spesifisitas pemeriksaan ini memang tidak setinggi pemeriksaan tumor marker, namun pemeriksaan ini menunjukkan sensitifitas yang tinggi dalam mendeteksi tumor ganas ovarium stadium awal (Berek, 2000).
Untuk pengobatan tumor ganas ovarium umumnya ditentukan berdasarkan stadium keganasannya. Pada stadium awal tumor borderline, operasi primary tumor resection paling sering dilakukan. Histerektomi dan salpingooophorectomy merupakan pilihan operasi pada stadium awal dengan resiko rendah kanker ovarium. Sedangkan pada stadium lanjut, jenis operasi yang paling sering dilakukan adalah debulking atau cytoreductive surgery (Berek, 2000).
Universitas Sumatera Utara

Diketahui tingkat kejadian tumor ganas ovarium di kota Medan adalah sebesar 10,64% (Sahil, 2007), melatarbelakangi peneliti untuk mengetahui profil apa saja yang dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya tumor ganas ovarium. Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan sebagai salah satu pusat pelayanan dan pusat rujukan kesehatan untuk wilayah regional Pulau Sumatera dipilih peneliti untuk menjadi tempat penelitian. 1.2. Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka permasalahan penelitian dapat dirumuskan sebagai berikut: bagaimanakah profil penderita tumor ganas ovarium di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan pada tahun 2012? 1.3. Tujuan 1.3.1. Tujuan Umum
1. Mengetahui profil penderita tumor ganas ovarium di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan pada tahun 2012
1.3.2. Tujuan Khusus 1. Untuk mengetahui profil penderita tumor ganas ovariun di Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan pada tahun 2012 berdasarkan umur, status hormon, jumlah anak, riwayat keluarga, dan diagnosa tumor ovarium. 2. Untuk mengetahui hasil pemeriksaan penunjang dengan gambaran histopatologi tumor malignant ovarium dan subtipenya. 3. Untuk mengetahui jenis penatalaksanaan atau jenis operasi apa yang dilakukan.
Universitas Sumatera Utara

1.4. Manfaat Penelitian 1.4.1. Bagi Ilmu Pengetahuan
1. Penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu bahan acuan untuk skrining pasien tumor ganas ovarium.
2. Penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu bahan acuan untuk diagnosa pasien tumor ganas ovarium.
1.4.2. Bagi Masyarakat 1. Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan informasi tentang bahaya penyakit tumor ganas ovarium. 2. Penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan informasi tentang pentingnya skrining tumor ganas ovarium pada usia muda.
                   
Universitas Sumatera Utara

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Anatomi Ovarium Ovarium adalah sepasang organ berbentuk buah kenari yang mempunyai
panjang sekitar 1,5 inchi atau 4 cm, lebar 1,5 cm, dan tebal 1 cm, terletak di kiri dan di kanan, dekat pada dinding pelvis di fossa ovarika. Ovarium melekat pada lapisan belakang ligamentum latum dengan mesovarium. Selain mesovarium, ovarium juga mempunyai dua perlekatan lain, ligamentum infundibulopelvikum (ligamentum suspensorium ovarii), yang merupakan tempat melintasnya pembuluh darah, pembuluh limfe, dan persarafan ovarium dari dinding pelvis, dan ligamentum ovarii, yang menghubungkan ovarium dan uterus (Ellis, 2006).
Ovarium menerima aliran darah dari arteri ovarii yang merupakan percabangan dari aorta. Pada aliran darah balik, vena ovarii kanan menuju ke vena cava inferior, sedangkan vena ovarii kiri menuju ke vena renal. Pembuluh limfe ovarium melewati aortic nodes di level yang sama dengan pembuluh ginjal, mengikuti peraturan umum bahwa aliran pembuluh limfe suatu organ sama seperti aliran pembuluh vena organ tersebut. Untuk persarafan, ovarium menerima persarafan dari aortic plexus (T10) (Ellis, 2006).
Gambar 2.1. Anatomi Ovarium (Martini et al., 2012)
Universitas Sumatera Utara

2.2. Histologi Ovarium
Setiap ovarium mempunyai bagian-bagian histologi sebagai berikut :
1. Germinal Epithelium atau epitel germinativum adalah epitel selapis gepeng atau selapis kuboid yang menutupi permukaan ovarium (Junqueira, 2002).
2. Tunica Albuginea atau tunika albuginea adalah selapis jaringan ikat padat yang menyebabkan warna ovarium menjadi keputihan dan terletak di bawah epitel germinativum (Junqueira, 2002).
3. Ovarian Cortex atau daerah korteks terletak dibawah tunika albuginea, merupakan daerah yang terutama ditempati folikel ovarium dan oositnya. Folikel ini terbenam dalam jaringan ikat (stroma) di daerah korteks. Stroma ini terdiri atas fibroblas berbentuk kumparan khas yang berespon dengan berbagai cara terhadap rangsangan hormon dari fibroblas organ lain (Junqueira, 2002).
4. Ovarian Medulla atau daerah medula yang terletak dibawah daerah korteks, merupakan bagian terdalam ovarium. Tidak ada batas tegas antara daerah korteks dan medulla, tetapi daerah medulla tersusun dari jaringan ikat longar dan berisi pembuluh darah, pembuluh limfe, dan saraf (Junqueira, 2002).
5. Ovarian Follicles atau folikel ovarium terdapat di daerah korteks dan terdiri atas oosit yang dikelilingi oleh satu atau lebih sel folikel, atau sel granulosa. Ketika sel folikel membentuk selapis sel kuboid, folikel ini sekarang disebut folikel primer unilaminar. Sel folikel terus berproliferasi dan membentuk epitel folikel berlapis, atau lapisan granulosa, dengan selsel yang saling berkomunikasi melalui taut rekah. Folikel ini kini disebut folikel primer multilaminar atau preantrum. Sewaktu folikel tumbuh, terutama karena sel granulosa bertambah besar dan bertambah banyak, folikel ini berpindah ke daerah korteks yang lebih dalam. Cairan (liquor folliculi) mulai mengumpul di antara sel-sel folikel. Celah-celah kecil yang mengandung cairan ini menyatu, dan sel-sel granulosa mengatur diri
Universitas Sumatera Utara

membentuk rongga yang lebih besar, yaitu antrum. Folikel ini sekarang disebut folikel sekunder atau folikel antrum (Junqueira, 2002). 6. Mature (Graafian) Follicle atau folikel matang, pra-ovulasi, atau folikel Graaf, sangat besar (berdiameter sekitar 2,5 cm) sehingga dapat menonjol dari permukaan ovarium dan dapat dideteksi dengan ultrasonografi. Folikel ini merupakan folikel dominan yang dapat mengalami ovulasi dan biasanya hanya satu untuk setiap siklus menstruasi. Sedangkan folikel lainnya mengalami atresia (Junqueira, 2002). 7. Corpus Luteum atau korpus luteum (badan kuning) merupakan folikel matang setelah ovulasi. Korpus luteum menghasilkan progesterone, estrogen, relaxin, dan inhibin akibat rangsangan LH (Luteinizing Hormone). Nasib korpus luteum ditentukan oleh ada tidaknya kehamilan. Setelah dirangsang LH, korpus luteum terprogram untuk bersekresi selama 10-12 hari. Jika tidak ada rangsangan hormon lain dan tidak ada kehamilan, sel-sel korpus luteum akan berdegenerasi melalui apoptosis. Fibroblas di dekatnya memasuki daerah ini dan membentuk parut jaringan ikat padat yang disebut korpus albikans atau badan putih (karena banyaknya kolagen) (Junqueira, 2002).
Gambar 2.2. Histologi Ovarium (Tortora et al., 2009)
Universitas Sumatera Utara

Gambar 2.3. Histologi Ovarium (Tortora et al., 2009) 2.3. Tumor Ganas Ovarium
Tumor ganas ovarium jenis epitel adalah penyebab utama kematian akibat keganasan ginekologi di Amerika Serikat. Pada tahun 2003 diperkirakan terdapat 25.400 kasus tumor ganas ovarium dengan 14.300 kematian, yang mencakup kirakira 5% dari semua kematian wanita karena tumor ganas (Busmar, 2006).
Karena belum ada metode skrining yang efektif untuk tumor ganas ovarium, 70% kasus ditemukan pada keadaan yang sudah lanjut yakni setelah tumor menyebar jauh di luar ovarium (Busmar, 2006). 2.3.1. Etiologi Tumor Ganas Ovarium
Ada beberapa teori yang mencoba menjelaskan etiologi tumor ganas ovarium. Berikut ini akan diuraikan beberapa teori tentang etiologi tersebut.
Universitas Sumatera Utara

1. Hipotesis Incessant Ovulation Teori ini pertama sekali diperkenalkan oleh Fathalla pada tahun 1972, yang menyatakan bahwa pada saat terjadi ovulasi terjadi kerusakan pada sel-sel epitel ovarium. Untuk penyembuhan luka yang sempurna dibutuhkan waktu. Jika sebelum penyembuhan tercapai terjadi lagi ovulasi atau trauma baru, proses penyembuhan akan terganggu dan dapat menimbulkan proses transformasi dari sel-sel ovarium menjadi sel-sel tumor (Busmar, 2006).
2. Hipotesis Gonadotropin Teori ini didasarkan pada data yang diperoleh dari percobaan terhadap binatang dan data epidemiologi. Hormon hipofisa diperlukan untuk perkembangan tumor ovarium pada beberapa percobaan pada binatang rodenria. Pada percobaan ini ditemukan bahwa jika kadar hormon estrogen rendah di sirkulasi perifer, maka kadar hormon gonadotropin akan meningkat. Peningkatan kadar hormon gonadotropin ini ternyata berhubungan dengan makin bertambah besarnya tumor ovarium pada binatang percobaan. Berkurangnya risiko tumor ganas ovarium pada wanita multipara dan wanita pemakai pil kontrasepsi dapat diterangkan dengan rendahnya kadar gonadotropin pada kedua kelompok ini (Busmar, 2006).
3. Hipotesis Androgen Teori ini pertama sekali dikemukakan oleh Risch pada tahun 1998 yang menyatakan bahwa androgen mempunyai peran penting dalam terbentuknya tumor ganas ovarium. Teori ini didasarkan pada bukti bahwa epitel ovarium mengandung reseptor androgen. Epitel ovarium selalu terpapar pada androgenik steroid yang berasal dari ovarium itu sendiri dan kelenjar adrenal, seperti androstenedion, dehidroepiandrosteron, dan testosterone. Dalam percobaan invitro, androgen dapat menstimulasi pertumbuhan epithel ovarium normal dan sel-sel tumor ganas ovarium jenis epitel dalam kultur sel.
Universitas Sumatera Utara

Dalam penelitian epidemiologi juga ditemukan tingginya kadar androgen (androstenedion, dehidroepiandrosteron) dalam darah wanita penderita tumor ganas ovarium. Jadi, berdasarkan hipotesis ini menurunnya risiko terjadinya tumor ganas ovarium pada wanita yang memakai pil kontrasepsi dapat dijelaskan yaitu dengan terjadinya penurunan kadar androgen (Busmar, 2006). 4. Hipotesis Progesteron Progesteron memiliki peranan protektif terhadap terjadinya tumor ganas ovarium dan epitel normal ovarium mengandung reseptor progesteron. Progesteron menginduksi terjadinya apoptosis sel epitel ovarium, sedangkan estrogen menghambatnya. Pada kehamilan, dimana kadar progesteron tinggi akan menurunkan risiko tumor ganas ovarium. Hal ini menjelaskan mengapa risiko terjadinya tumor ganas ovarium pada wanita dengan paritas yang tinggi lebih rendah dibandingkan dengan wanita yang nulipara. Pil kontrasepsi kombinasi atau yang hanya mengandung progesteron yang menekan ovulasi juga menurunkan risiko tumor ganas ovarium (Busmar, 2006). 5. Paritas Penelitian menunjukkan bahwa wanita dengan paritas yang tinggi memiliki risiko terjadinya tumor ganas ovarium yang lebih rendah daripada nulipara, yaitu dengan risiko relatif 0,7. Pada wanita yang mengalami 4 atau lebih kehamilan aterm, risiko terjadinya tumor ganas ovarium berkurang sebesar 40% jika dibandingkan dengan wanita nulipara (Busmar, 2006). 6. Pil Kontrasepsi Penelitian dari Centre for Disease Control menemukan penurunan risiko terjadinya tumor ganas ovarium sebesar 40% pada wanita usia 20-54 tahun yang memakai pil kontrasepsi, yaitu dengan risiko relatif 0,6. Penelitian lain melaporkan juga bahwa pemakaian pil kontrasepsi selama satu tahun menurunkan risiko sampai 11%, sedangkan pemakaian sampai
Universitas Sumatera Utara

lima tahun menurunkan risiko sampai 50%. Penurunan risiko semakin nyata dengan semakin lama pemakaiannya (Busmar, 2006). 7. Terapi Hormon Pengganti pada Masa Menopause Pemakaian terapi hormon pengganti pada masa menopause (Menopausal Hormone Therapy = MHT) dengan estrogen saja selama 10 tahun meningkatkan risiko relatif 2,2. Sementara itu, jika masa pemakaian MHT selama 20 tahun atau lebih, risiko relatif meningkat menjadi 3,2. Pemakaian MHT dengan estrogen yang kemudian diikuti dengan pemberian progestin, ternyata masih menunjukkan meningkatnya risiko relatif menjadi 1,5. Oleh karena itu, MHT, khususnya dengan estrogen saja, secara nyata meningkatkan risiko relatif terkena tumor ganas ovarium. Pemakaian MHT dengan kombinasi estrogen dan progestin, meskipun lebih aman dari MHT dengan estrogen saja, untuk jangka panjang tidak dianjurkan lagi sebagai salah satu terapi suportif bagi wanita yang telah menopause (Busmar, 2006). 8. Obat-obat yang Meningkatkan Kesuburan (Fertility Drugs) Obat-obat yang meningkatkan fertilitas seperti klomifen sitrat, yang diberikan secara oral, dan obat-obat gonadotropin yang diberikan dengan suntikan seperti Follicle stimulating hormone (FSH), kombinasi FSH dengan Luteinizing Hormone (LH), akan menginduksi terjadinya ovulasi atau multipel ovulasi. Menurut hipotesis incessant ovulation dan hipotesis gonadotropin, pemakaian obat penyubur ini jelas akan meningkatkan risiko relatif terjadinya tumor ganas ovarium. Pemakaian klomifen sitrat yang lebih dari 12 siklus akan menigkatkan risiko relatif menjadi 11. Tumor ovarium yang terjadi adalah tumor ovarium jenis borderline (Busmar, 2006). 9. Faktor Herediter Dari studi metanalisis pada tahun 1988 ditemukan risiko relatif yang meningkat dan berbeda pada anggota keluarga lapis pertama. Ibu dari penderita tumor ganas ovarium risiko relatifnya 1,1, saudara perempuan
Universitas Sumatera Utara

risiko relatifnya 3,8, dan anak dari penderita tumor ganas ovarium risiko relatifnya 6. Antara 5-10% dari tumor ganas ovarium dianggap bersifat herediter. Kelompok tumor ganas ovarium ini termasuk dalam sindroma hereditary breast and ovarian cancer (HBOC) dan disebabkan oleh terjadinya mutasi di gen BRCA1 dan BRCA2. Wanita dengan gen BRCA1 yang telah bermutasi, mempunyai risiko terkena tumor ganas ovarium sebesar 40%60%, dan risiko terkena tumor ganas payudara sebesar hampir 90%. Risiko untuk menderita tumor ganas ovarium pada wanita dengan gen BRCA2 yang telah bemutasi lebih rendah daripada risiko pembawa gen BRCA1 yang bermutasi yaitu 16%-27%. Selain itu, tumor ganas ovarium juga merupakan bagian dari sindroma hereditary nonpolyposis colorectal cancer (HNPCC). HNPCC adalah suatu kelainan yang disebabkan oleh autosomal dominant disorder yang berkaitan dengan kerusakan gen yang bertanggung jawab atas terjadinya reparasi yang tidak normal dari DNA (Busmar, 2006).
2.3.2. Klasifikasi Tumor Ovarium
Kira-kira 90% tumor ganas ovarium berasal dari epitel koelom atau mesotelium (epithelial ovarian tumor) dan 10% adalah tumor ganas ovarium nonepthelial (non-epithelial ovarian tumor).
Tumor ganas ovarium dikelompokkan atas 6 kelompok, yaitu:
 Tumor epitelial  Tumor sex-cord dan stromal  Tumor sel germinal  Tumor sel lipid  Sarkoma  Tumor metastasis (Busmar, 2006).
Universitas Sumatera Utara

Tabel 2.1. Klasifikasi Tumor Ovarium berdasarkan WHO (Busmar, 2006: 477-484)
Tumor Ovarium Epitel Serous Tumors
 Benign  Cystadenoma and papillary cystadenoma  Surface papilloma  Adenofibroma and cystadenofibroma  Tumor of low malignant potential
 Malignant  Adenocarcinoma  Surface papilary adenocarcinoma  Malignant adenofibroma and cystaadenofibroma
Mucinous Tumors  Benign  Cystadenoma  Adenofibroma and cystadenofibroma  Tumor of low malignant potential  Intestinal type  Endocervical like  Malignant  Adenocarcinoma  Malignant adenofibroma  Mural nodule arising in mucinous cystic tumor
Endometrioid Tumors  Benign  Adenoma and cystadenoma  Adenofibroma and cystadenofibroma  Tumor of low malignant potential  Endometrioid tumors (continued)
Universitas Sumatera Utara

 Malignant  Adenocarcinoma  Adenoacanthoma  Adenosquamous carcinoma  Malignant adenofibroma with a malignant stromal component  Adenosarcoma  Endometrial stromal sarcoma  Carcinosarcoma homologous and heterologous  Undifferentiated sarcoma
Clear Cell Tumors  Benign  Tumor of low malignant potential  Malignant  Adenocarcinoma
Transitional Cell Tumors  Benign  Brenner tumour  Borderline  Brenner tumour of borderline malignancy  Malignant  Malignant Brenner tumour  Transitional cell carcinoma (non-Brenner type)
Squamous Cell Tumors  Squamous cell carcinoma  Epidermoid cyst
Mixed Epithelial Tumours (specify type)  Benign  Borderline  Malignant
Undifferentiated and Unclassified Tumours
Universitas Sumatera Utara

Tumor Sex-Cord-Stromal Granulosa-Stromal Cell Tumors
 Granulosa cell tumors  Tumors of the thecoma-fibroma group
 Thecoma  Fibroma-fibrocarcoma  Sclerosing stromal tumor Androblastomas; Sertolli-Leydig-Cell Tumors  Well-differentiated  Sertolli cell tumor  Sertolli-Leydig-cell tumor  Leydig-cell tumour; hilus cell tumor  Moderately differentiated  Poorly differentiated (carcomatoid)  With heterologous elements Gynandroblastoma Sex Cord-Stromal Tumors of Mixed or Unclassified Cell Types Tumor Ovarium Sel Germinal Disgerminoma Teratoma  Immature  Mature  Solid  Cystic
 Dermoid cyst (mature cystic teratoma)  Dermoid cyst with malignant transformation  Monodermal and highly specialized  Struma ovarii  Carcinoid  Struma ovarii and carcinoid
Universitas Sumatera Utara

 Others Endodermal Sinus Tumor Embryonal Carcinoma Polyembryoma Choriocarcinoma Tumor Sel Lipid Sarkoma Ovarium Tumor Metastasis
2.3.3. Faktor Risiko
Ada beberapa faktor yang diduga berperan dalam perkembangan tumor ganas ovarium:
 Usia : tumor jinak ovarium umumnya lebih banyak terjadi pada wanita berumur 20-45 tahun, sedangkan tumor ganas lebih sering menyerang wanita dengan umur 45-60 tahun (Crum, 1999). Secara umum, insidensi tumor ganas ovarium meningkat seiring dengan bertambahnya umur. Pada umur 0-14 tahun didapat insidensi sebesar 0,2 dan pada umur diatas 75 tahun didapatkan angka 29,2. Hal ini lebih sering ditemukan pada negara yang lebih berkembang. Di Amerika Serikat, insidensi tumor ganas ovarium pada umur 5-9 tahun adalah 0,3 dan pada umur diatas 85 tahun didapat insidensi sebesar 44,2. Pada umur 80-84 adalah puncak insidensi dengan angka 50,6 (Stewart, 2012).
 Demografi : wanita berkulit putih lebih rentan dibanding wanita kulit berwarna (Waruwu, 2013).
 Faktor reproduksi : penelitian-penelitian sebelumnya selalu menunjukkan bahwa insidensi kejadian tumor ganas ovarium meningkat pada wanita nulliparity atau yang tidak melahirkan. Penggunaan kontrasepsi dilaporkan dapat menurukan risiko keganasan ovarium sedangkan terapi hormon pada wanita menopause dapat meningkatkan risiko keganasan ovarium (Stewart, 2012).
Universitas Sumatera Utara

 Hubungan familial/ familial tendency : sejumlah penelitian yang membuktikan hubungan tumor ganas ovarium dengan family history ada risiko menderita tumor ganas ovarium pada garis keturunan pertama (Busmar, 2006).
 Mutasi gen: 90% dari tumor ganas ovarium berhubungan dengan mutasi gen BRCA (Stewart, 2012).
 Diet : beberapa penelitian menunjukkan ada peningkatan risiko pada wanita obesitas sedangkan penelitian lain menunjukkan tidak ada hubungan antara body mass index (BMI) dengan risiko terjadi tumor ganas ovarium (Stewart, 2012).
 Faktor lingkungan : radiasi, asbesitosis, infeksi virus (rubella, mump), penggunaan talk (bedak) pada perineal (Waruwu, 2013).
2.3.4. Gejala Klinis
Tumor ganas ovarium tidak menunjukkan gejala yang khas pada stadium awal, hal ini yang menyebabkan lebih dari 70% penderita tumor ganas ovarium ditemukan pada stadium yang telah lanjut (stadium III dan IV) (Busmar, 2006).
Mayoritas penderita tumor ganas ovarium jenis epitelial tidak menunjukkan gejala sampai periode waktu tertentu. Pada stadium awal tumor ganas ovarium ini muncul dengan gejala-gejala tidak khas. Bila penderita dalam usia perimenopause, keluhan mereka adalah haid yang tidak teratur. Bila massa tumor telah menekan kandung kemih atau rektum, keluhan sering berkemih dan konstipasi muncul. Kadang-kadang gejala seperti distensi perut sebelah bawah, rasa tertekan, dan nyeri dapat pula ditemukan (Berek, 2000).
Pada stadium lanjut ini gejala-gejala yang ditemukan umumnya berkaitan dengan adanya asites, metastasis ke omentum (omental cake), atau metastasis ke usus (Berek, 2000).
Universitas Sumatera Utara

2.3.5. Stadium
Tabel 2.2. Staging Tumor Ganas Ovarium Berdasarkan International Federation of Gynecologist and Obstetricians (FIGO, 1987) (Busmar, 2006)
Stadium I Pertumbuhan terbatas pada ovarium
1. Stadium Ia : pertumbuhan terbatas pada satu ovarium; tidak ada asites yang berisi sel ganas, tidak ada tumor di permukaan luar, kapsul utuh.
2. Stadium Ib : pertumbuhan terbatas pada kedua ovarium; tidak ada asites yang berisi sel ganas, tidak ada tumor di permukaan luar, kapsul utuh.
3. Stadium Ic : tumor dengan stadium Ia atau Ib tetapi ada tumor di permukaan luar satu atau kedua ovarium; atau dengan kapsul pecah; atau dengan asites berisi sel ganas atau dengan bilasan peritoneum positif.
Stadium II Pertumbuhan pada satu atau kedua ovarium dengan perluasan ke panggul
1. Stadium IIa : perluasan dan/atau metastasis ke uterus dan/atau tuba.
2. Stadium IIb : perluasan ke jaringan pelvis lainnya. 3. Stadium IIc : tumor stadium IIa atau IIb tetapi dengan tumor
pada permukaan satu atau kedua ovarium; atau dengan kapsul pecah; atau dengan asites berisi sel ganas atau dengan bilasan peritoneum positif. Stadium III Tumor mengenai satu atau kedua ovarium dengan implan di peritoneum di luar pelvis dan/atau kelenjar getah bening retroperitoneal atau inguinal positif. Metastasis permukaan liver masuk stadium III. Tumor
Universitas Sumatera Utara

terbatas dalam pelvis kecil, tetapi secara histologik terbukti meluas ke usus besar atau omentum.
1. Stadium IIIa : tumor terbatas di pelvis kecil dengan kelenjar getah bening negatif tetapi secara histologik dan dikonfirmasi secara mikroskopik adanya penumbuhan (seeding) di permukaan peritoneum abdominal.
2. Stadium IIIb : tumor mengenai satu atau kedua ovarium dengan implan di permukaan peritoneum dan terbukti secara mikroskopik, diameter tidak melebihi 2 cm, dan kelenjar getah bening negatif.
3. Stadium IIIc : implan di abdomen dengan diameter > 2cm dan/atau kelenjar getah bening retroperitoneal atau inguinal positif.
Stadium IV Penumbuhan mengenai satu atau kedua ovarium dengan metastasis jauh. Bila efusi pleura dan hasil sitologinya positif dimasukkan dalam stadium IV. Begitu juga metastasis ke parenkim liver.
2.3.6. Deteksi Dini
Metode pemeriksaan yang sekarang ini digunakan sebagai skrining tumor ganas ovarium adalah:
 Pemeriksaan pelvik dan rektal: termasuk perabaan uterus dan ovarium untuk mengetahui bentuk dan ukuran yag abnormal, meskipun pemeriksaan rektovaginal tidak dapat mendeteksi stadium dini tumor ganas ovarium (Berek, 2000).
 Transabdominal Ultrasonography (USG): pemeriksaan ini memiliki spesifisitas yang terbatas tapi memiliki sensitivitas yang cukup tinggi untuk mendeteksi stadium awal tumor ganas ovarium (Berek, 2000).
 Tumor marker CA-125: pemeriksaan ini mempunyai spesifisitas dan positive predictive value yang rendah (Busmar, 2006). Namun
Universitas Sumatera Utara

pemeriksaan ini dapat mendeteksi 50% penderita pada stage 1 dan 60% penderita pada stage 2. Spesifisitas akan meningkat jika dilakukan bersamaan dengan transabdominal ultrasonography atau pemeriksaan secara berkala (Berek, 2000).  Computed Tomography Scanning (CT-Scan): dengan pemeriksaan ini dapat diketahui ukuran tumor primer, adanya metastasis ke hepar dan kelenjar getah bening, asites, dan penyebaran ke dinding perut. Akan tetapi CT-scan kurang disenangi karena (1) risiko radiasi, (2) risiko alergi terhadap zat kontras, (3) kurang tegas dalam membedakan tumor kistik dengan tumor padat, dan (4) biayanya mahal (Busmar, 2006).
2.3.7. Penatalaksanaan
Untuk pengobatan tumor ganas ovarium umumnya ditentukan berdasarkan stadium keganasannya. Pada stadium awal (I) tumor borderline, operasi primary tumor resection paling sering dilakukan. Histerektomi dan salpingooophorectomy merupakan pilihan operasi pada stadium awal dengan risiko rendah kanker ovarium. Sedangkan pada stadium lanjut (II, III, IV), jenis operasi yang paling sering dilakukan adalah debulking atau cytoreductive surgery/operasi sitoreduksi (Berek, 2000).
Operasi sitoreduksi adalah operasi yang bertujuan membuang massa tumor sebanyak mungkin. Berdasarkan alat-alat yang digunakan, operasi sitoreduksi dibagi menjadi dua, yaitu : (Busmar, 2006)
1. Sitoreduksi Konvensional Operasi sitoreduksi dengan menggunakan alat-alat operasi lazim seperti pisau, gunting, dan jarum jahit.
2. Sitoreduksi Teknik baru Operasi sitoreduksi dengan menggunakan alat-alat seperti:  Argon Beam Coagulator  Cavitron Ultrasonic Surgical Aspirator (CUSA)  Teknik Laser
Universitas Sumatera Utara

Setelah penatalaksanaan secara operasi, dapat diberikan juga terapi ajuvan pascaoperasi pada penderita tumor ganas ovarium stadium dini. Berdasarkan risiko terjadinya relaps pascaoperasi, para ahli sepakat untuk mengelompokkan penderita dalam dua kelompok: (Busmar, 2006)
1. Kelompok Risiko Rendah Penderita kanker ovarium stadium dini dimasukkan dalam kelompok risiko rendah jika:
 Stadium Ia atau Ib  Derajat diferensiasi 1 atau 2 2. Kelompok Risiko Tinggi
Penderita kanker ovarium stadium dini dimasukkan dalam kelompok risiko tinggi jika:  Stadium Ic  Stadium I, derajat diferensiasi 3  Stadium II  Tumor jenis clear cell
2.3.8. Prognosis
Prognosis seluruh kanker ovarium umumnya jelek akibat langsung dari pertumbuhannya yang sangat cepat dan pada stadium awal tidak menunjukkan gejala. Survival rate 5 Tahun: 35%; 10 Tahun : 28%; 25 tahun :15%.
Ada beberapa faktor yang mempengaruhi prognosis adalah sebagai berikut:
 Usia. Pasien usia muda prognosisnya lebih baik.  Ada tidaknya metastasis.  Asites. Jika dijumpai asites, salah satu tanda prognosis yang jelek.  Bordeline dibandingkan dengan tumor sudah invasive. Hal ini sangat
penting untuk menentukan prognosis. Tumor yang borderline prognosis sangat baik, dibandingkan tumor yang sudah invasive.
Universitas Sumatera Utara

 Grading dan jenis tumor. Grading kanker dan jenis kanker (serous, musinous, endometrioid atau yang lain) sangat erat hubungannya dengan survival rate.
 Psammoma bodies. Tumor serous mempunyai psammoma bodies memiliki prognosis yang lebih baik.
 Ruptur kapsul tumor. Tidak ada bukti yang menyakinkan bahwa komplikasi intraopeartive mempengaruhi tingkat survival rate.
 DNA ploidy. Pada analisis DNA dengan menggunakan Flow cytometry merupakan indikator prognosis yang kuat. Tumor yang eneuploid memiliki prognosis yang lebih jelek dibandingkan tumor yang diploid. Adanya hubungan antara tumor DNA ploidy dan respon terhadap kemoterapi.
 CA 125 . Serum marker meningkat pada stadium awal terutama stadium 2 dan dipakai sebagai parameter untuk menilai apakah ada rekurren.
 Penanda yang lain seperti : overekpressi P53, c-erbB-2 dan level dari colony stimulating faktor, memiliki hubungan dengan agresivitas kanker ovarium (Waruwu, 2013).
                 
Universitas Sumatera Utara

BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFINISI OPERASIONAL

3.1. Kerangka Konsep Penelitian
Kerangka konsep ialah rangkaian variabel-variabel yang tersusun dalam suatu bagan yang menjelaskan hubungan masing-masing sesuai tujuan penelitian. Berdasarkan tujuan penelitian di atas maka kerangka konsep dalam penelitian adalah:

Tumor Ganas Ovarium

Rekam Medik

Profil Penderita 1. Umur 2. Jumlah Paritas 3. Riwayat Keluarga 4. Status Hormon 5. Staging 6. Indeks Massa Tubuh 7. Penggunaan Pil Kontrasepsi 8. Tipe Histopatologi 9. Penatalaksanaan

Universitas Sumatera Utara

3.2. Definisi Operasional
3.2.1. Variabel Terikat
1. Tumor ganas ovarium Wanita yang didiagnosa

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

85 2203 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 567 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

30 488 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

12 317 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

22 437 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

36 699 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 612 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

11 390 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

16 572 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

27 698 23