Karakteristik Penderita Tumor Ganas Laring di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2010-2011

KARAKTERISTIK PENDERITA TUMOR GANAS LARING DI RSUP H. ADAM MALIK MEDAN TAHUN 2010-2011 Oleh IKKE ERNAWATI 090100312
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2012

KARAKTERISTIK PENDERITA TUMOR GANAS LARING DI RSUP H.ADAM MALIK MEDAN TAHUN 2010-2011
Karya Tulis Ilmiah ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh kelulusan Sarjana Kedokteran Oleh IKKE ERNAWATI 090100312
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2012

LEMBAR PENGESAHAN
Karakteristik Penderita Tumor Ganas Laring di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2010-2011
Nama : Ikke Ernawati NIM : 090100312

Pembimbing

Penguji I

(dr. Ferryan Sofyan, M.Kes, Sp.THT-KL) NIP. 198109142009121002

(dr. Maya Savira, M.kes) NIP. 197611192003122001

Penguji II

(dr. Sri Amelia, M.kes) NIP. 197409132003122001
Medan, 10 Januari 2013
Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

Prof. dr. Gontar Alamsyah Siregar, Sp.PD-KGEH NIP. 19540220198110100

ABSTRAK
Seiring dengan perkembangan zaman, kanker laring bukanlah hal yang jarang ditemui. Etiologi kanker laring belum sepenuhnya diketahui tetapi kanker laring dapat terjadi oleh karena perubahan gaya hidup seseorang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain retrospective. Sampel penelitian ini adalah semua penderita tumor ganas laring di RSUP HAM Medan dalam kurun waktu Januari 2010 sampai Desember 2011. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik total sampling. Data yang dikumpulkan berupa data sekunder dari rekam medis penderita tumor ganas laring.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik penderita tumor ganas laring di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2010-2011.
Hasil penelitian dari 36 penderita kanker laring didapatkan laki-laki sebanyak 34 (94,4%) dan wanita dua orang (5,6%). Usia terbanyak 51-60 tahun lima belas orang (41,7%). Faktor risiko perokok 21 orang (58,3%) diikuti konsumsi alkohol enam orang (16,7%). Kemudian, didapati keluhan suara serak 33 orang (91,7%), sesak 29 orang (80,6%), batuk 21 orang (58,3%) dan massa dileher dua belas orang (33,3%). Letak tumor di glottis dua puluh orang (55,6%), supraglottis sepuluh orang (27,8%), dan subglottis empat orang (11,1%). Gambaran histopatologi karsinoma sel skuamosa 25 orang (69,4%), adenokarsinoma dan carcinoma papilary masing-masing satu orang (2,8%). Stadium I dua belas orang (33,3%), stadium III sebelas orang (30,6%), Stadium II enam orang (16,7%) dan stadium IV lima orang (13,5%). Penderita tumor ganas laring yang melakukan operasi tiga puluh orang (83,3%), kemoterapi delapan belas orang (50%) dan radiasi dua belas orang (33,3%).
Kesimpulan penelitian ini adalah sebagian besar penderita kanker laring adalah laki-laki dengan kategori usia terbanyak 51-60 tahun. Faktor risiko tertinggi adalah perokok dan keluhan tersering yaitu suara serak. Sebagian besar penderita menderita kanker glottis. Gambaran histopatologi terbanyak adalah karsinoma sel skuamosa. Selain itu pasien juga banyak berada pada stadium I dan operasi adalah tindakan yang banyak diterima pasien.
Kata kunci : laring, tumor ganas, karakteristik

ABSTRACT
Nowadays, laryngeal cancer is a common case. The etiology of laryngeal cancer is not fully known but it may caused by lifestyle. This research is a descriptive study with retrospective design. Subjects are all laryngeal cancer patients in RSUP HAM Medan in January 2010 to December 2011, taken by using total sampling technique. Data is the secondary data from laryngeal cancer patient’s medical records.
This study aim to know the laryngeal cancer patient’s characteristics in RSUP HAM Medan in 2010 to 2011.
Result of this study shows from 36 laryngeal cancer patients obtained 34 males 94,4% and 2 females 5,6%. The majority of age 51-60 years 15 persons (41,7%). Smoker risk factor 21 persons 58, 3% followed by alcohol consumption six persons (16, 7%). In addition, there are hoarseness complaints 33 persons (91, 7%), dyspnoea 29 persons (80, 6%), cough 21 persons (58, 3%) and mass in the neck 12 persons (33, 3%). According tumour position, glottic 20 persons (55,6%), supraglottic 10 persons (27,8%) and subglottic 4 persons (11,1%). According to histopathologic appearances, squamous cell carcinoma 25 persons (55,6%), Adenocarcinoma and carcinoma papillary each 1 person ( 2,8%). Stage I 12 persons (33,3%), stage II 6 persons (16,7%) stage III 11 persons (30,6%), and stage IV 5 persons (13,9%). Patients with laryngeal cancer who receive the surgery 30 persons (83,3%), chemotherapy 18 persons (50%) and radiation 12 persons (33,3%).
The conclusion of this study is the most laryngeal cancer patients are male with highest age category 51-60 years. The most common risk factor is smoker. The most common complaint is hoarseness. Majority of patients get the glottis cancer and squamous cell carcinoma appearance. Most of patients in the stage I and get surgery.
Key words: Larynx, malignant tumour, characteristics

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan karya tulis ilmiah ini, yang merupakan salah satu syarat untuk memperoleh kelulusan sarjana kedokteran Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Karya Tulis Ilmiah ini berjudul “Karakteristik Penderita Tumor Ganas Laring di RSUP H. Adam Malik Medan Tahun 2010-2011”. Dalam penyelesaian penulisan karya tulis ilmiah ini, penulis banyak menerima bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu penulis ingin menyampaikan ucapan rasa terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada:
1. Prof. dr. Gontar Alamsyah Siregar, Sp.PD-KGEH, selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
2. Prof. dr. Guslihan dasa Tjipta, SpA (K) Selaku Pembantu Dekan I.
3. Prof. dr. Sutomo Kasiman, SpPD., SpJP(K) selaku Ketua Komisi Etik Penelitian Bidang Kesehatan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara atas izin penelitian yang telah diberikan.
4. dr. Ferryan Sofyan, M.Kes, Sp. THT-KL sebagai Dosen Pembimbing saya yang telah banyak memberi arahan dan masukan kepada penulis, sehingga karya tulis ilmiah ini dapat diselesaikan dengan baik.
5. dr. Maya Savira, Mkes dan dr. Sri Amelia, Mkes selaku dosen penguji yang telah memberikan saran-saran untuk pembuatan karya tulis ilmiah ini.
6. Drs. Palas Tarigan, Apt, Kepala Instalasi Litbang yang telah mengizinkan penulis untuk mengambil data penelitian di ruang penyimpanan rekam medis RSUP HAM Medan.
7. Semua dosen dan staf/ pegawai di Fakultas Universitas Sumatera Utara atas bimbingan selama perkuliahan hingga penyelesaian studi dan juga penulisan karya tulis ilmiah ini.

8. Orang tua tercinta, ayahanda Paidi dan ibunda Mudiyah serta adik penulis Hanang Yus Setiawan yang tak henti-hentinya memberikan semangat, dukungan baik moral dan materi serta doa kepada penulis selama ini sehingga penulis dapat menyelesaikan studi dan penyelesaian karya tulis ilmiah ini
9. Seluruh teman-teman saya tidak bisa saya sebutkan satu persatu, terima kasih atas bantuan, kritik dan saran serta dukungannya dalam menyelesaikan karya tulis ilmiah ini.
10. Dan berbagai pihak lain, yang tidak bisa disebutkan satu-persatu yang telah membantu penulis pada kesempatan ini.
Penulis menyadari bahwa karya tulis ilmiah ini masih jauh dari sempurna. Untuk itu penulis mengharapkan masukan berupa kritik dan saran yang membangun demi kesempurnaan karya tulis ilmiah ini. Semoga karya tulis ilmiah ini dapat berguna bagi kita semua.
Medan, Januari 2013 Penulis

DAFTAR ISI Halaman
HALAMAN PENGESAHAN ................................................................ i ABSTRAK.............................................................................................. ii ABSTRACT ........................................................................................... iii KATA PENGANTAR............................................................................ iv DAFTAR ISI ......................................................................................... vi DAFTAR TABEL .................................................................................. x DAFTAR GAMBAR.............................................................................. xi DAFTAR LAMPIRAN .......................................................................... xii
BAB 1 PENDAHULUAN....................................................................... 1 1.1. Latar Belakang.................................................................. 1 1.2. Rumusan Masalah............................................................. 3 1.3. Tujuan Penelitian .............................................................. 3 1.3.1. Tujuan Umum ....................................................... 3 1.3.2. Tujuan khusus ....................................................... 3 1.4. Manfaat Penelitian ............................................................ 4 1.4.1. RSUP HAM Medan .............................................. 4 1.4.2. Peneliti.................................................................. 4 1.4.3. Pembaca................................................................ 4
BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA ............................................................. 5 2.1. Definisi............................................................................. 5 2.2. Etiologi dan Faktor Risiko Tumor Ganas Laring ............... 5 2.3. Patofisiologi Tumor Ganas laring...................................... 9 2.3.1 Dasar Molekuler Kanker: Karsinogenesis................. 10 2.4. Gejala Klinis Tumor Ganas Laring.................................... 14 2.5. Lokasi Terjadinya Tumor Ganas Laring ............................ 16 2.6. Diagnosis Tumor Ganas Laring......................................... 17 2.7. Gambaran Histopatologi Tumor Ganas Laring .................. 20 2.8. Stadium Tumor Ganas Laring ........................................... 21 2.9. Pengobatan Tumor Ganas Laring ...................................... 24

2.5. Lokasi Terjadinya Tumor Ganas Laring ............................ 16 2.6. Diagnosis Tumor Ganas Laring......................................... 17 2.7. Gambaran Histopatologi Tumor Ganas Laring .................. 20 2.8. Stadium Tumor Ganas Laring ........................................... 21 2.9. Pengobatan Tumor Ganas Laring ...................................... 24 2.10. Komplikasi Tumor Ganas Laring ...................................... 28 2.11. Pencegahan Tumor Ganas Laring ..................................... 28
BAB 3 KERANGKA KONSEP DAN DEFENISI OPERASIONAL ... 29 3.1. Kerangka Konsep Penelitian ............................................. 29 3.2. Definisi Operasional ......................................................... 30
BAB 4 METODE PENELITIAN .......................................................... 33 4.1. Rancangan Penelitian........................................................ 33 4.2. Lokasi dan Waktu Penelitian............................................. 33 4.3. Populasi dan Sampel Penelitian......................................... 33 4.4. Teknik Pengumpulan Data................................................ 33 4.5. Pengolahan dan Analisa Data............................................ 34
BAB 5 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .......................... 35 5.1. Hasil Penelitian................................................................. 35 5.1.1. Deskripsi Lokasi Penelitian ................................... 35 5.1.2. Karakteristik Individu............................................ 35 5.2. Hasil Analisa Data ............................................................ 37 5.2.1. Distribusi Frekuensi Riwayat faktor Risiko ........... 37 5.2.2. Tabulasi Silang Frekuensi Jenis Kelamin dan Faktor Risiko........................................................ 39 5.2.3. Distribusi Frekuensi Keluhan ................................ 39 5.2.4. Distribusi Lokasi Terjadinya Tumor Ganas Laring ................................................................... 41 5.2.5. Distribusi Frekuensi Gambaran Histopatologi Tumor

Ganas Laring......................................................... 41 5.2.6. Distribusi Frekuensi Stadium Kanker pada Tumor
Ganas Laring......................................................... 42 5.2.7. Distribusi Frekuensi Pengobatan yang Diterima
Pasien Penderita Tumor Ganas Laring .................. 42 5.3. Pembahasan...................................................................... 45
5.3.1. Faktor Risiko Jenis Kelamin, Usia, dan Pekerjaan Penderita Tumor Ganas Laring ............................. 45
5.3.2. Faktor Risiko Riwayat Merokok dan Konsumsi Alkohol pada Penderita Tumor Ganas Laring Secara keseluruhan................................................ 46
5.3.3. Penderita Tumor Ganas Laring dengan Satu atau Lebih Riwayat Faktor Risiko ................................. 46
5.3.4. Keluhan yang Dialami Penderita Tumor Ganas Laring Secara Keseluruhan.................................... 47
5.3.5. Penderita tumor Ganas Laring dengan Satu atau Lebih Keluhan ...................................................... 48
5.3.6. Lokasi terjadinya Tumor Ganas Laring pada Penderita Tumor Ganas Laring .............................. 48
5.3.7. Gamabaran Histopatologi Tumor Ganas Laring pada Penderita Tumor Ganas Laring...................... 49
5.3.8. Stadium Tumor Ganas Laring pada Penderita Tumor Ganas laring............................................... 49
5.3.9. Penderita Tumor Ganas Laring yang Menerima Pengobatan secara Keseluruhan............................. 50
5.3.10. Penderita Tumor Ganas Laring yang Menerima Satu atau Lebih Tindakan Pengobatan ................... 50
BAB 6 KESIMPULAN DAN SARAN................................................... 52 6.1. Kesimpulan ..................................................................... 52 6.2. Saran ............................................................................... 53

DAFTAR PUSTAKA............................................................................. 54 LAMPIRAN

Nomor

DAFTAR TABEL Judul

Halaman

2.1 Insidensi Kanker Laring Berdasarkan Ras 5.1 Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin 5.2 Distribusi Frekuensi Usia 5.3 Distribusi Frekuensi Pekerjaan 5.4 Distribusi Frekuensi Riwayat Merokok 5.5 Distribusi Frekuensi Konsumsi Alkohol Penderita
Tumor Ganas Laring 5.6 Distribusi Frekuensi Penderita Tumor Ganas Laring
dengan Satu atau Lebih Faktor Risiko 5.7 Tabulasi Silang Frekuensi Jenis Kelamin dan Faktor
Risiko 5.8 Distribusi Frekuensi Keluhan yang Dialami
Penderita Tumor Ganas Laring Secara Keseluruhan 5.9 Distribusi Frekuensi Penderita Tumor Ganas Laring
dengan Satu atau Lebih Keluhan 5.10 Distribusi Frekuensi Lokasi Terjadinya Tumor
Ganas Laring 5.11 Distribusi Frekuensi Gambaran Histopatologi
Tumor Ganas Laring 5.12 Distribusi Frekuensi Stadium Tumor Ganas Larin 5.13 Distribusi Frekuensi Pengobatan yang Diterima
Penderita Tumor Ganas Laring secara Keseluruhan 5.14 Distribusi Frekuensi Penderita Tumor Ganas Laring
dengan Satu atau Lebih pengobatan 5.15 Tabulasi Silang Frekuensi Stadium dan Satu
Tindakan Pengobatan 5.16 Tabulasi Silang Frekuensi Stadium dan Dua
Tindakan Pengobatan/ lebih

7 36 36 37 37 38
38
39
39
40
41
41 42
42
43
43
44

Nomor 3.1

DAFTAR GAMBAR
Judul Kerangka Konsep Penelitian

Halaman 29

DAFTAR LAMPIRAN
1. Riwayat Hidup Peneliti 2. Surat Izin Penelitian 3. Ethical Clearance 4. Data Induk 5. Hasil SPSS

ABSTRAK
Seiring dengan perkembangan zaman, kanker laring bukanlah hal yang jarang ditemui. Etiologi kanker laring belum sepenuhnya diketahui tetapi kanker laring dapat terjadi oleh karena perubahan gaya hidup seseorang. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain retrospective. Sampel penelitian ini adalah semua penderita tumor ganas laring di RSUP HAM Medan dalam kurun waktu Januari 2010 sampai Desember 2011. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik total sampling. Data yang dikumpulkan berupa data sekunder dari rekam medis penderita tumor ganas laring.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik penderita tumor ganas laring di RSUP H. Adam Malik Medan tahun 2010-2011.
Hasil penelitian dari 36 penderita kanker laring didapatkan laki-laki sebanyak 34 (94,4%) dan wanita dua orang (5,6%). Usia terbanyak 51-60 tahun lima belas orang (41,7%). Faktor risiko perokok 21 orang (58,3%) diikuti konsumsi alkohol enam orang (16,7%). Kemudian, didapati keluhan suara serak 33 orang (91,7%), sesak 29 orang (80,6%), batuk 21 orang (58,3%) dan massa dileher dua belas orang (33,3%). Letak tumor di glottis dua puluh orang (55,6%), supraglottis sepuluh orang (27,8%), dan subglottis empat orang (11,1%). Gambaran histopatologi karsinoma sel skuamosa 25 orang (69,4%), adenokarsinoma dan carcinoma papilary masing-masing satu orang (2,8%). Stadium I dua belas orang (33,3%), stadium III sebelas orang (30,6%), Stadium II enam orang (16,7%) dan stadium IV lima orang (13,5%). Penderita tumor ganas laring yang melakukan operasi tiga puluh orang (83,3%), kemoterapi delapan belas orang (50%) dan radiasi dua belas orang (33,3%).
Kesimpulan penelitian ini adalah sebagian besar penderita kanker laring adalah laki-laki dengan kategori usia terbanyak 51-60 tahun. Faktor risiko tertinggi adalah perokok dan keluhan tersering yaitu suara serak. Sebagian besar penderita menderita kanker glottis. Gambaran histopatologi terbanyak adalah karsinoma sel skuamosa. Selain itu pasien juga banyak berada pada stadium I dan operasi adalah tindakan yang banyak diterima pasien.
Kata kunci : laring, tumor ganas, karakteristik

ABSTRACT
Nowadays, laryngeal cancer is a common case. The etiology of laryngeal cancer is not fully known but it may caused by lifestyle. This research is a descriptive study with retrospective design. Subjects are all laryngeal cancer patients in RSUP HAM Medan in January 2010 to December 2011, taken by using total sampling technique. Data is the secondary data from laryngeal cancer patient’s medical records.
This study aim to know the laryngeal cancer patient’s characteristics in RSUP HAM Medan in 2010 to 2011.
Result of this study shows from 36 laryngeal cancer patients obtained 34 males 94,4% and 2 females 5,6%. The majority of age 51-60 years 15 persons (41,7%). Smoker risk factor 21 persons 58, 3% followed by alcohol consumption six persons (16, 7%). In addition, there are hoarseness complaints 33 persons (91, 7%), dyspnoea 29 persons (80, 6%), cough 21 persons (58, 3%) and mass in the neck 12 persons (33, 3%). According tumour position, glottic 20 persons (55,6%), supraglottic 10 persons (27,8%) and subglottic 4 persons (11,1%). According to histopathologic appearances, squamous cell carcinoma 25 persons (55,6%), Adenocarcinoma and carcinoma papillary each 1 person ( 2,8%). Stage I 12 persons (33,3%), stage II 6 persons (16,7%) stage III 11 persons (30,6%), and stage IV 5 persons (13,9%). Patients with laryngeal cancer who receive the surgery 30 persons (83,3%), chemotherapy 18 persons (50%) and radiation 12 persons (33,3%).
The conclusion of this study is the most laryngeal cancer patients are male with highest age category 51-60 years. The most common risk factor is smoker. The most common complaint is hoarseness. Majority of patients get the glottis cancer and squamous cell carcinoma appearance. Most of patients in the stage I and get surgery.
Key words: Larynx, malignant tumour, characteristics

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Seiring dengan perkembangan zaman, kanker laring bukanlah hal yang
jarang ditemui. Perubahan gaya hidup juga sangat mempengaruhi terjadinya kanker laring ini.
Di USA jumlah penderita kanker laring sekitar 1% dari semua jenis kanker dan merupakan 0,75% kasus kematian yang disebabkan oleh semua jenis kanker. Dari 30% kasus kanker kepala dan leher, sekitar 90% merupakan karsinoma sel skuamosa. Berdasarkan lokasinya, kanker laring terbagi menjadi 3 yaitu tumor glottis, supraglottis dan subglottis. Angka kejadian tumor glottis adalah 60-70% kasus, supraglottis 25-40% kasus, sedangkan tumor subglottis 22 mg tar memiliki insidensi 2 kali lebih tinggi menderita kanker laring dibandingkan dengan orang yang tidak merokok atau perokok dengan tar yang rendah. Kandungan yang terdapat dalam rokok merupakan bahan karsinogenik. Berdasarkan Brunneman dan Hoffman (1992) dalam World Health Organization International Agency for Research on Cancer (IARC, 2007) telah menyebutkan bahwa terdapat 28 jenis bahan karsinogen yang terkandung dalam rokok.

Secara garis besar terdapat tiga jenis nitroso dalam rokok, diantaranya adalah sebagai berikut: 1) Non-volatile TSNA ( Tobacco-Specific N-nitrosamin Acids) yang terdiri atas
4-(methylnitrosamino)-1-(3-pyridyl)-1-butanon (NNK) dan N2nitrosonornicotine (NNN). 2) N-nitrosamino acids yang terdiri dari N-nitrososarcosine (NSAR), 3 (methylnitrosamino) propionic acids (MNPA) dan 4-(methylnitrosamino) butyric acids (MNBA). 3) Volatile N-nitrosamin yang terdiri atas N-nitrosodimethylamine (NMDA), N-nitrosopyrrolidine (NPYR), N-nitrosopiperidine (NPIP) dan Nnitrosomorpholine (NMOR). Kandungan lain yang terdapat dalam rokok diantaranya adalah benzene, arsenik, dan hidrokarbon. Selain dari kandungan rokok tersebut, bahan karsinogenik juga dihasilkan dari pembakaran rokok (tembakau) oleh para perokok aktif diantaranya adalah nikotin, karbon monoksida, hydrogen sianida dan ammonia. Pemaparan bahan-bahan tersebut baik pada perokok aktif maupun pasif dapat menyebabkan kerusakan dari mukosa laring dimana sel-selnya akan bermetaplasia dan akan berkembang kearah keganasan. Hal tersebut akan meningkat jika seseorang juga mengkomsumsi alkohol. e. Alkohol Alkohol bukan merupakan faktor risiko tunggal yang menyebabkan terjadinya kanker laring, namun kombinasi antara penggunaan rokok dan konsumsi alkohol serta faktor lain yang memicu terjadinya karsinogenik memiliki risiko tinggi terjadinya kanker laring (American Cancer Society, 2011). Sebuah penelitian di Perancis menunjukkan bahwa peningkatan terjadinya tumor ganas laring dijumpai pada perokok dengan peminum alkohol (anggur) lebih dari 1,5 L per hari ( Andrew, 1995)

f. Virus Berdasarkan Heller dalam Ballenger (1977), virus dapat menyebabkan
terjadinya kanker. Infeksi virus tersebut tidak secara langsung menyebabkan kanker laring namun menyebabkan kanker secara umum. Pada awalnya virus akan melekatkan dirinya dalam mekanisme genetik sel yang abnormal dan akan memodifikasinya menjadi sel yang abnormal. Kemudian virus yang dorman dan bersembunyi didalam sel akan teraktivasi jika terpapar agen eksternal seperti Xrays sehingga sel akan tumbuh menjadi malignan. g. Paparan terhadap substansi (bahan) berbahaya dilingkungan kerja.
Bahan karsinogen yang berhubungan dengan terjadinya kanker laring dapat berupa asbestos, komponen nikel, dan beberapa minyak mineral, radiasi (Adams, 2005). Penelitian di Italia disebutkan bahwa, Serbuk kaca juga dapat meningkatkan angka kematian pada penderita kanker laring (Bertazzi, 1980 dalam Adams, 2005).
2.3. Patofisiologi Tumor Ganas Laring Tumor atau sering dikenal dengan neoplasma, sesuai definisi Willis dalam
kumar et al (2007), adalah massa abnormal jaringan yang pertumbuhannya berlebihan dan tidak terkoordinasikan dengan pertumbuhan jaringan normal dan terus demikian walaupun rangsangan yang memicu perubahan tersebut telah berhenti. Hal mendasar tentang asal neoplasma adalah hilangnya responsivitas terhadap faktor pengendali pertumbuhan yang normal.
Tumor ganas atau neoplasma ganas ditandai dengan differensiasi yang beragam dari sel parenkim, dari yang berdiferensiasi baik (well differentiated) sampai yang sama sekali tidak berdiferensiasi. Neoplasma ganas yang terdiri atas sel tidak berdiferensiasi disebut anaplastik.

Tidak adanya diferensiasi, atau anaplasia dianggap sebagai tanda utama keganasan. Neoplasma ganas (kanker) tumbuh dengan cara infiltrasi, invasi, destruksi dan penetrasi progresif ke jaringan sekitar. Kanker tidak membentuk kapsul yang jelas. Cara pertumbuhannya yang infiltratif menyebabkan perlu dilakukannya pengangkatan jaringan normal disekitar secara luas apabila suatu tumor ganas akan diangkat secara bedah (Kumar et al, 2007). 2.3.1. Dasar Molekular Kanker: Karsinogenesis
Kanker berhubungan dengan dua hal yaitu genetik dan perubahan epigenetik yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang memicu aktivasi atau inaktivasi yang tidak semestinya dari gen spesifik sehingga menyebabkan transformasi neoplastik (IARC/ International agency for Research on Cancer, 2007). Perkembangan kanker ini dikendalikan karena adanya perubahan dari struktur dan fungsi genom (IARC, 2007) .
Berdasarkan Kumar et al, 2007, pada awalnya kerusakan genetik nonletal merupakan hal sentral dalam karsinogenesis. Kerusakan genetik ini mungkin dapat dipengaruhi oleh llingkungan seperti zat kimia, radiasi, virus atau diwariskan dalam sel germinativum. Terdapat suatu hipotesis genetik pada kanker bahwa massa tumor terjadi akibat adanya ekspansi klonal satu sel progenitor yang telah mengalami kerusakan genetik. Sasaran utama kerusakan genetik tersebut adalah tiga kelas gen regulatorik yang normal yaitu protoonkogen yang mendorong pertumbuhan, gen penekan kanker (tumor supresor gen) yang menghambat pertumbuhan (antionkogen), dan gen yang mengatur kematian sel yang terencana (programmed cell death), atau apoptosis. Selain gen-gen tersebut terdapat juga gen yang mengatur perbaikan DNA yang rusak, berkaitan dengan karsinogenesis. Gen yang memperbaiki DNA mempengaruhi proliferasi atau kelangsungan hidup sel secara tidak langsung dengan mempengaruhi kemampuan organisme memperbaiki kerusakan nonletal di gen lain, termasuk protoonkogen, gen penekan tumor dan gen yang mengendalikan apoptosis. Kerusakan pada gen yang memperbaiki DNA dapat memudahkan terjadinya mutasi luas digenom dan transformasi neoplastik.

Karsinogenesis memiliki beberapa proses baik pada tingkat fenotipe maupun genotipe. Suatu neoplasma ganas memiliki beberapa sifat fenotipik, misalnya pertumbuhan berlebihan, sifat invasif lokal dan kemampuan metastasis jauh. Sifat ini diperoleh secara bertahap yang disebut sebagai tumor progression. Pada tingkat molekular, progresi ini terjadi akibat akumulasi kelainan genetik yang pada sebagian kasus dipermudah oleh adanya gangguan pada perbaikan DNA.
Perubahan genetik tersebut melibatkan terjadinya angiogenesis, invasi dan metastasis. Sel kanker juga akan melewatkan proses penuaan normal yang membatasi pembelahan sel. Tiap gen kanker memiliki fungsi spesifik, yang disregulasinya ikut berperan dalam asal muasal atau perkembangan keganasan.
Gen yang terkait dengan kanker perlu dipertimbangkan dalam konteks enam perubahan mendasar dalam fisiologi sel yang menentukan fenotipe ganas, diantaranya: a. Self-sufficiency (menghasilkan sendiri) sinyal pertumbuhan.
Gen yang meningkatkan pertumbuhan otonom pada sel kanker adalah onkogen. Gen ini berasal dari mutasi protoonkogen dan ditandai dengan kemampuan mendorong pertumbuhan sel walaupun tidak terdapat sinyal pendorong pertumbuhan yang normal. Produk gen ini disebut onkoprotein. Pada keadaan fisiologik, proliferasi sel awalnya terjadi karena terikatnya suatu faktor pertumbuhan ke reseptor spesifiknya di membran sel. Aktivasi reseptor pertumbuhan secara transien dan terbatas, yang kemudian mengaktifkan beberapa protein transduksi sinyal di lembar dalam plasma. Transmisi sinyal ditransduksi melintasi sitosol menuju inti sel melalui perantara kedua. Induks i dan aktivasi faktor regulatorik inti sel yang memicu transkrip DNA. Selanjutnya sel masuk kedalam dan mengikuti siklus sel yang akkhirnya menyebabkan sel membelah. Dengan latar belakang ini, kita dapat mengidentifikasi berbagai strategi yang digunakan sel kanker untuk memperoleh self-sufficiency dalam sinyal pertumbuhan (Kumar et al, 2007).

b. Insensitivitas Terhadap Sinyal yang Menghambat Pertumbuhan. Salah satu gen yang paling sering mengalami mutasi adalah gen penekan
tumor TP53 (dahulu p53). TP53 ini dapat menimbulkan efek antiproliferatif, tetapi yang tidak kalah penting gen ini juga dapat mengendalikan apoptosis. Secara mendasar, TP53 dapat dipandang sebagai suatu monitor sentral untuk stres, mengarahkan sel untuk memberikan tanggapan yang sesuai, baik berupa penghentian siklus sel maupun apoptosis.
Berbagai stres yang dapat memicu jalur respon TP53, termasuk anoksia, ekspresi onkogen yang tidak sesuai (misalnya MYC) dan kerusakan pada integritas DNA. Dengan mengendalikan respon kerusakan DNA, TP53 berperan penting dalam mempertahankan integritas genom.
Apabila terjadi kerusakan TP53 secara homozigot, maka kerusakan DNA tidak dapat diperbaiki dan mutasi akan terfiksasi disel yang membelah sehingga sel akan masuk jalan satu-satunya menuju transformasi keganasan (Kumar et al, 2007). c. Menghindar dari Apoptosis
Pertumbuhan dan kelangsungan hidup suatu sel dipengaruhi oleh gen yang mendorong dan menghambat apoptosis. Rangkaian kejadian yang menyebabkan apoptosis yaitu melalui reseptor kematian CD95 dan kerusakan DNA. Saat berikatan dengan ligannya, CD95L, CD95 mengalami trimerisasi, dan domain kematian sitoplasmanya menarik protein adaptor intrasel FADD. Protein ini merekrut prokaspase (prokaspase) 8 untuk membentuk kompleks sinya penginduksi kematian. Kaspase 8 mengaktifkan kaspase di hilir sepersi kaspase 3, suatu kaspase eksekutor tipikan yang memecah DNA dan substrat lain yang menyebabkan kematian. Jalur lain dipicu oleh kerusakan DNA akibat paparan radiasi, bahan kimia dan stres . Mitokondria berperan penting dijalur ini dengan membebaskan sitokrom c. Pembebasan sitokrom c ini diperkirakan merupakan kejadian kunci dalam apoptosis, dan hal ini dikendalikan oleh gen famili BCL2. Dengan kata lain bahwa peran BCL2 dapat melindungi sel tumor dari apoptosis (Kumar et al, 2007).

d. Kemampuan Replikasi Tanpa Batas Secara normal, sel manusia memiliki kapasitas replikasi 60 sampai 70 kali
dan setelah itu sel akan kehilangan kemampuan membelah diri dan masuk masa nonreplikatif. Hal ini terjadi karena pemendekan progresif telomer di ujung kromosom. Namun pada sel tumor akan menciptakan cara untuk menghindar dari proses penuaan yaitu dengan mengaktifkan enzim telomerase sehingga telomer tetap panjang. Hal inilah yang menyebabkan replikasi sel tanpa batas (Kumar et al, 2007). e. Terjadinya Angiogenesis Berkelanjutan
Angiogenesis merupakan aspek biologik yang sangat penting pada keganasan. Angiogenesis tidak hanya untuk kelangsungan pertumbuhan tumor, tetapi juga untuk bermetastasis.
Faktor angiogenetik terkait tumor (tumor associated angiogenic factor) mungkin dihasilkan oleh sel tumor atau mungkin berasal dari sel radang (misal, makrofag). Terdapat dua faktor angiogenik terkait tumor yang palling penting yaitu vascular endothelial growth factor (VEGF, faktor pertumbuhan endotel vaskular) dan basic fibroblast growth factor. Paradigma menyatakan bahwa pertumbuhan tumor dikendalikan oleh keseimbangan antara faktor angiogenik dengan faktor yang menghambat angiogenesis (antiangiogenesis). Faktor antiangiogenesis tersebut diantaranya trombospondin-1 yang diinduksi oleh adanya gen TP53 wild-type, angiostatin, endostatin dan vaskulostatin. Mutasi gen TP53 wild-type ini menyebabkan penurunan kadar trombospondin-1 sehingga keseimbangan condong ke faktor angiogenik (Kumar et al, 2007). g. Kemampuan Melakukan Invasi dan Metastasis.
Pada awalnya invasi terjadi karena peregangan dari sel tumor. Peregangan ini dapat terjadi oleh karena mutasi inaktivasi gen E-kaderin. Secara fisiologis gen E-kaderin bekerja sebagai lem antarsel agarsel tetap menyatu. Proses selanjutnya adalah degradasi lokal membran basal dan jaringan interstitium. Invasi ini mendorong sel tumor berjalan menembus membran basal yang telah rusak dan matriks yang telah lisis (Kumar et al, 2007).

2.4. Gejala Klinis Tumor Ganas Laring Tanda dan gejala klinis yang dialami penderita tumor ganas laring
diantaranya suara serak, disfagia, hemoptisis, adanya massa di leher, nyeri tenggorok, nyeri telinga, gangguan saluran nafas dan aspirasi (Concus et al, 2008). Gejala klinis kanker laring ini bermacam-macam sesuai dengan sruktur laring yang terkena (Johnson, 2012). 2.4.1. Suara Serak
Sebagian besar penderita kanker laring datang ke rumah sakit atau dokter spesialis THT dengan mengeluhkan suara serak atau perubahan suara (Lee, 2003). Serak disebabkan oleh gangguan fungsi fonasi laring.
Pada tumor ganas laring, pita suara tidak berfungsi dengan baik disebabkan oleh ketidakteraturan pita suara, oklusi atau penyempitan celah glottik, terserangnya otot-otot vokalis, sendi, ligamen krikotiroid dan kadang menyerang saraf. Serak menyebabkan kualitas suara mennjadi kasar, menganggu, sumbang dan nadanya rendah dari biasa ( Hermani dan Abdurrachman, 2007).
Timbulnya suara serak tergantung dari letak tumor pada laring. Apabila tumor timbul pada pita suara asli, serak merupakan gejala dini dan menetap. Tumor yang tumbuh di daerah ventrikel laring, dibagian bawah plika ventrikularis atau dibatas bawah plika ventrikularis atau dibatas inferior pita suara, serak akan timbul kemudian. Namun tumor yang tumbuh pada daerah supraglottis dan subglottis, serak akan timbul kemudian atau bahkan tidak timbul (Hermani dan Abdurrachman, 2007).
2.4.2. Obstruksi Saluran Nafas Obstruksi saluran nafas oleh karena massa tumor dapat menyebabkan
dispnea dan stridor. Keluhan ini dapat timbul pada setiap lokasi laring yang terlibat, baik tumor supraglottis, glottis dan subglottis (Lee, 2003 dan Hermani & Abdurrachman, 2007).

2.4.3. Disfagia dan Odinofagia Disfagia dan odinofagia sering terjadi pada karsinoma supraglottis atau
tumor ganas lanjut yang mengenai struktur ekstra laring (Lee, 2003 dan Hermani & Abdurrachman, 2007).
2.4.4. Batuk dan Hemoptisis Batuk jarang ditemukan pada pada tumor ganas glottis, biasanya timbul
dengan tertekannya hipofaring disertai sekret yang mengalir kedalam laring. Hemoptisis sering terjadi pada tumor glottis dan supraglottis (Hermani dan Abdurrachman, 2007).
2.4.5. Nyeri Tenggorok Keluhan nyeri tenggorokan yang persisten berhubungan dengan lokasi
tumor pada daerah faring misalnya pada sinus piriform, ariepiglottis dan bagian dasar lidah. Keluhan ini juga dihubungkan dengan lesi epiglottis (Concus, 2008). Nyeri tenggorok ini dapat bervariasi dari rasa goresan sampai rasa nyeri yang tajam (Hermani dan Abdurrachman, 2007).
2.4.6. Benjolan dileher Benjolan di leher tumor ganas laring berhubungan dengan pembesaran
kelenjar getah bening leher. Hal ini menunjukkan adanya metastasis tumor pada stadium lanjut (Hermani dan abdurrachman, 2007; dan Lee, 2003).
2.4.7. Gejala Lain Gejala lain dapat berupa nyeri alih ke telinga ipsilateral, halitosis, batuk,
hemoptisis, dan penurunan berat badan menandakan perluasan tumor ke luar laring atau metastasis jauh ( Hermani dan abdurrachman, 2007).

2.4. Lokasi Terjadinya Kanker Laring. Sobin (1997) dalam Lee (2003), laring dibagi menjadi 3 bagian yaitu
supraglottis, glottis dan subglottis. Masing-masing bagian laring memiliki subbagian yang telah ditentukan oleh UICC (Union International Centre le Cancer). Subbagian tersebut adalah sebagai berikut: 2.5.1. Supraglottis
a. Suprahyoid epiglottis (tip, lingual anterior, laryngeal surface) b. Aryepiglottis fold, laryngeal aspect c. Arytenoid d. Infrahyoid epiglottis e. Ventricular bands (false cords) Tumor supraglottis ini terbatas mulai dari tepi atas epiglottis sampai batas atas glottis termasuk pita suara palsu dan ventrikel laring (Hermani dan Abdurrachman, 2007). 2.5.2. Glottis a. Vocal cords b. Anterior commisure c. Posterior commisure Tumor glottis mengenai pita suara asli. Batas inferior glottis adalah 10 mm dibawah tepi bebas pita suara, 10 mm merupakan batas inferior otot-otat intrinsik pita suara. Batas superior adalah ventrikel laring. Oleh sebab itu, tumor glottis dapat mengenai satu atau kedua pita suara, dapat meluas ke subglottis sejauh 10 mm, dan dapat mengenai komisura anterior atau posterior atai prosesus vokalis kartilagi aritenoid (Hermani dan Abdurrachman, 2007).
2.5.3. Subglottis Tumor subglottis tumbuh lebih dari 10 mm dibawah tepi bebas pita suara
asli sampai batas inferior krikoid. Tumor yang menyeberangi ventrikel dan mengenai pita suara asli dan pita suara palsu ataupun meluas ke subglottis lebih dari 10 mm merupakan tumor ganas transglottis (Hermani dan Abdurrachman, 2007).

2.6. Diagnosis Tumor Ganas Laring 2.6.1. Anamnesis
Anamnesis mengenai perjalanan penyakit dan faktor-faktor yang diduga sebagai penyebab terjadinya tumor ganas laring seperti merokok, konsumsi alkohol serta faktor lain seperti usia, jenis kelamin dan riwayat pekerjaan (Lee, 2003 dalam Sofyan, 2011).
2.6.2. Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan ini dilakukan untuk mengetahui keadaan pasien secara
keseluruhan. Pemeriksaan ini meliputi penilaian saluran nafas jika pasien mengeluhkan sesak nafas, melihat kondisi pasien apakah tampak sakit berat, serta menilai status nutrisi yang terlihat dari penurunan berat badan. Selain itu juga untuk menilai status fisik untuk tindakan biopsi, pembedahan, radioterapi dan kemoterapi (Concus et al, 2008; Lee, 2003 dan Sofyan, 2011).
Pada saat kanker laring telah dicurigai maka pemeriksaan kepala dan leher lengkap juga harus dilakukan, khususnya pada laring dan leher. Kualiatas suara juga perlu diperhatikan. Suara nafas bisa menunjukkan adanya paralisis pita suara dan suara yang meredam adanya lesi di supraglottis (Concus et al, 2008). a. Pemeriksaan Laring
Pemeriksaan laring dapat dilakukan secara tidak langsung yaitu dengan menggunakan indirect laryngoscopy (kaca laring) atau secara langsung dengan direct laryngoscopy (Ballenger, 1977 dan Hermani & abdurrachman, 2007). Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat batas yang irregular, warna, karakteristik dan mobilitas pita suara. Lesi pada kanker laring akan tampak seperi kembang kol, lunak, ulseratif atau terdapat perubahan warna mukosa (Concus et al, 2008).

Dalam Sofyan (2011), dengan pemeriksaan laringoskopi langsung kita dapat membedakan massa tumor laring berdasarkan gambarannya yaitu sebagai berikut: i) Tumor supraglottis akan tampak tepi tumor yang meninggi dan banyak bagian
sentral yang ulseratif atau kemerahan dan sering kali meluas. ii) Tumor glottis akan tampak lebih proliferatif daripada ulseratif. Gambaran
khas lesi menyerupai kembang kol dan berwarna keputihan. iii) Tumor subglottis akan tampak lebih difus dan memiliki ulkus yang
superfisial dengan tepi yang lebih tinggi. b. Pemeriksan Leher
Pemeriksaan leher dilakukan dengan palpasi, hal ini untuk menentukan apakah terdapat pembesaran kelenjar limfa dan metastasis tumor ke ekstra laring (Concus et al, 2008 dan Probst et al, 2006). Palpasi dilakukan dengan sistematis dimulai dari submental berlanjut kearah angulus mandibula, sepanjang muskulus sternokleimastoid, klavikula dan diteruskan sepanjang saraf assesorius. Pada saat pemeriksaan perlu diperhatikan mengenai lokasi, ukuran, batas, dan mobilitas tumor.
2.6.3. Pemeriksaan Laboratorium dan Penunjang a. Pemeriksaan Histopatologi
Pemeriksaan histopatologi dilakukan dengan biopsi pada lesi laring dengan laringoskop langsung. Hal ini perlu dilakukan untuk menilai keganasan (Concus et al, 2008 dan Ballenger, 1977) dan membedakannya dengan lesi jinak atau lesi lain misalnya oleh karena infeksi bakteri,