Pandangan Hukum Islam terhadap Perlindungan Saksi dan korban dalam perkara pidana di Indonesia: kajian terhadap pasal (1) UU No.13 Tahun 2006

PANDANGAN HUKUM ISLAM TERHADAP PERLINDUNGAN
SAKSI DAN KORBAN DALAM PERKARA PIDANA DI
INDONESIA
(Kajian Terhadap Pasal (1) UU No. 13 Tahun 2006)
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Syariah (S.Sy)

Oleh :
Daimatul Ihsan
NIM : 206043103772

KONSENTRASI PERBANDINGAN MADZHAB FIQIH
PROGRAM STUDI PERBANDINGAN MADZHAB DAN HUKUM
FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1431 H / 2010 M

i

LEMBAR PERNYATAAN
Dengan ini saya menyatakan bahwa:
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi
salah satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di Universitas Islam Negeri
(UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan
sesuai dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN)
Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya
atau merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia
menerima sanksi yang berlaku di Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, Desember 2010

Daimatul Ihsan

ii

KATA PENGANTAR
‫بسم اه الر حمن الرحيم‬
Puji dan syukur dengan tulus kami persembahkan kehadirat Allah SWT, yang
telah memberikan taufiq, hidayah serta inayah-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan penyusunan dan penulisan skripsi ini, yang disusun dan ditulis dalam
rangka memenuhi syarat untuk mencapai gelar Sarjana Strata Satu (S1) pada Fakultas
Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Shalawat serta salam senantiasa tercurahkan kepada baginda Rasulullah SAW,
keluarga, sahabat dan para pengikutnya serta orang-orang yang menyeru dengan
seruannya dengan berpedoman dengan petunjuknya.
Suka cita selalu menyelimuti penulis seiring dengan selesainya penyusunan
skripsi ini. Hal tersebut tidak lain karena dorongan dan bantuan berbagai pihak. Oleh
karenanya penulis megucapkan terima kasih yang tak terhingga kepada yang
terhormat:
1.

Bapak Prof. Dr. H. M. Amin Suma, SH, MA, MM, selaku Dekan Fakultas
Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

2.

Bapak Dr. H. Ahmad Mukri Adji, MA, selaku Ketua Program Studi
Perbandingan Madzhab dan Hukum dan Dr. H. Muhammad Taufiki, M.Ag,
selaku Sekretaris Program Studi Perbandingan Madzhab dan Hukum.

iii

3.

Bapak Dr. Djawahir Hejazziey, SH., MA. selaku Pembimbing, yang telah rela
memberikan bimbingan dengan penuh ketekunan, kesabaran dan perhatian
hingga terselesaikannya skripsi ini.

4.

Segenap Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Syariah dan Hukum yang telah
mewariskan ilmunya kepada penulis dengan konsep ikhlas.

5.

Pimpinan, staf Perpustakaan Utama UIN Syarif Hidayatullah dan Perpustakaan
Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah serta Perpustakaan Umum
Iman Jama yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk
pengumpulan bahan dalam skripsi ini.

6.

Ayahanda tercinta Wangsit dan Ibunda tercinta Tasmilah, yang selalu
mendo‟akan dan memberikan bantuan serta dorongan baik berupa moril maupun
materiil hingga selesainya penulisan skripsi ini.

7.

Mas Supriyono yang telah banyak membantu do‟a morel dan mareril sehingga
segala sesuatu berjalan dengan lancar.

8.

Teman-teman sekampung yang telah mendukung dan memberi motifasi sehingga
selalu semangat dalam menyelesaikan skripsi ini.

9.

Teman-teman seperjuangan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif
Hidayatullah periode 2006, teman-teman yang tidak disebutkan satu persatu yang
telah turut mendukung penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

10. Bapak Rizal, ibu Yen beserta keluarga dan ibu Yerli yang telah banyak
membantu.

iv

Atas semuanya itu, penulis hanya dapat memanjatkan do‟a kepada Allah Swt
semoga amal baiknya diterima dan mendapatkan balasan yang lebih baik. Amin…
Akhirnya penulis memanjatkan do‟a dan memohon semoga Allah Swt
memberikan kemanfaatan atas skripsi ini baik bagi penulis sendiri maupun pembaca
pada umumnya, serta melimpahkan pertolongan dan kebenaran kepada kita semua.
Amin…

Jakarta, 18 November 2010

Penulis

v

DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR ..................................................................................................
i
DAFTAR ISI .................................................................................................................
iv

BAB I

BAB II

BAB III

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah .........................................................................

1

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah......................................................

7

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ...........................................................

8

D. Review Studi Terdahulu .........................................................................

9

E. Metode Penelitian ...................................................................................

10

F. Sistematika Penulisan ............................................................................

12

KERANGKA TEORITIS
A. Saksi .......................................................................................................

14

B. Korban .....................................................................................................

26

C. Perlindungan Hukum .............................................................................

31

D. Pidana .....................................................................................................

33

PANDANGAN HUKUM TERHADAP SAKSI PERKARA
PIDANA DALAM UU NO 13 TAHUN 2006
A. UU No. 13 Tahun 2006 ...........................................................................

38

B. Kajian Pasal (1, 5 sampai 9) Undang-Undang No. 13 Tahun 2006 .......

44

C. Perlindungan Hukum Dalam UU No. 13 Tahun 2006 Terhadap Saksi .............

54

vi

BAB IV

PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN DALAM
KASUS PIDANA DI INDONESIA
A. Pandangan Hukum Islam Terhadap Perlindngan Saksi dan
Korban ..................................................................................................

60

B. Pandangan Hukum Positif Terhadap Perlindungan Saksi dan

C.

BAB V

Korban ..................................................................................................

65

Analisa Perbandingan Antara Hukum Islam dan Hukum Positif ....................

71

PENUTUP
A. Kesimpulan ..........................................................................................

77

B. Saran-Saran ..........................................................................................

78

DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................

79

vii

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Perlindungan saksi dan korban kejahatan dalam sistem hukum nasional
nampaknya belum memperoleh perhatian serius. Hal ini terlihat dari masih sedikitnya
hak-hak saksi dan korban kejahatan memperoleh pengaturan dalam perundangundangan nasional. Adanya ketidak seimbangan antara perlindungan korban
kejahatan dengan pelaku kejahatan pada dasarnya merupakan salah satu pengingkaran
dari asas setiap warga negara bersamaan kedudukannya dalam hukum dan
pemerintahan, sebagaimana diamanatkan oleh Undang-undang Dasar 1945, sebagai
landasan konstitusional. Selama ini muncul pandangan yang menyebutkan pada saat
pelaku kejahatan telah diperiksa, diadili dan dijatuhi hukuman pidana, maka pada saat
itulah perlindungan terhadap korban telah diberikan, padahal pendapat demikian tidak
sepenuhnya benar.
Salah satu alat bukti yang sah dalam proses peradilan pidana adalah
keterangan saksi yang mendengar, melihat, atau mengalami sendiri terjadinya
suatu tindak pidana (korban yang menjadi saksi). Keberadaan saksi dan korban
sangat penting mengingat sering kali aparat penegak hukum mengalami kesulitan
dalam mencari dan menemukan kejelasan tentang tindak pidana yang di sebabkan
tidak dapat menghadirkan saksi. Ketidak hadiran saksi dan korban memenuhi
panggilan atau permintaan aparat penegak hukum ini sering kali di sebabkan

1

adanya ancaman, baik fisik maupun psikis dari pihak tertentu yang ditujukan
kepada saksi dan korban.
Kedudukan saksi dan korban dalam sistem peradilan pidana saat ini belum
ditempatkan secara adil bahkan cenderung terlupakan. Kondisi ini berimplikasi
pada dua hal yang fundamental, yaitu tidak adnya perlindungan hukum bagi saksi
dan korban dan tidak adanya putusan hakim yang memenuhi rasa keadilan bagi
korban, pelaku maupun masyarakat luas.
Peradilan adalah suatu tugas suci yang di akui oleh seluruh bangsa, baik
mereka yang tergolong bangsa-bangsa yang telah maju ataupun yang belum. Di
dalam peradilan yang terkandung perintah menyuruh baik dan mencegah yang
buruk menyampaikan hak kepada yang harus menerimanya dan menghalangi
orang yang zalim dari pada berbuat aniaya, serta mewujudkan perbaikan umum.
Dengan peradilanlah dilindungi jiwa, harta dan kehormatan. Apabila peradilan itu
tidak terdapat dalam suatu masyarakat, maka masyarakat itu akan menjadi
masyarakat yang kacau balau.
Walaupun tidak sepenuhnya dipercaya, pengadialan tetap merupakan
tumpuan masyarakat dalam mengusung keadilan yang dicita-citakan. Hal ini
meniscayakan lembaga pengadilan untuk mampu mengeluarkan keputusan yang
tidak memihak, membenarkan yang benar dan menyalahkan yang salah.
Sumber-sumber yang di pergunakan hakim dalam mengambil keputusan di
sebut sebagai “alat bukti”. Setiap alat bukti berbeda-beda kekuatan satu dengan
yang lainnya, yang secara langsung dapat mempengaruhi keputusan yang di
2

hasilkan. Jika kekuatan alat bukti dapat di akui, maka seseorang hakim untuk
memutuskan perkara memerlukan waktu yang tidak singkat, sehingga hakim
merasa yakin dengan keputusannya.

.

Keberpihakan hukum terhadap saksi dan korban yang sangat timpang terlihat
dari beberapa peraturan yang lebih banyak memberikan hak-hak istimewa kepada
tersangka atau terdakwa. KUHAP sebagai landasan untuk beracara dalam perkara
pidana ternyata cendrung lebih banyak memberikan porsi perlindungan terdakwa
dan tersangka dari pada kepada saksi. Dengan kondisi ini, KUHAP sendiri
menjadi tameng hukum yang efektif bagi dinikmati hak-hak terdakwa dan
tersangka dan posisi yang sebaliknya justru dialami oleh para korban dan saksi,
mereka tidak mendapat hak-hak yang seharusnya mereka terima sebagai seorang
yang ikut berperan dalam penegakan hukum. Saksi dan korban sangat jarang
bahkan tidak pernah mendapatkan hak pemulihan bagi dirinya dan keluarganya. 1
Logika sederhana kenapa kemudian penting untuk melindungi para saksi dan
korban.
Keberadaan lembaga perlindungan saksi dan korban menjadi sedemikian
pentingnya, di Indonesia pada saat ini mengingat lembaga penegak hukum seperti
kepolisian dan kejaksaan membutuhkan instrumen hukum untuk melakukan
pekerjaan perlindungan saksi dan korban berstandarkan prinsip Internosional.

1

Supriadi Widodo Eddyono,dkk, perlindumgan saksi dan korban Pelanggaran HAM Bera
(jakarta:ELSAM,2005). h. 1.

3

Undang-undang perlindungan saksi dan korban adalah jalan utama untuk
memperbaiki konsep lembaga perlindungan saksi dan korban di Indonesia.
Proses peradilan pidana yang mulanya berupa putusan hakim dipengadilan
sebagaimana yang terjadi saat ini, tampak cenderung melupkan dan meninggalkan
saksi dan korban. Para pihak terkait antara jaksa penuntut umum tersangka/
terdawa, penasehat hukum, saksi dan korban serta hakim dengan didukung alat
bukti yang ada, cenderung berpumpun (fucus) pada pembuktian atas tuduhan jaksa
penuntut umum, atas jaksa dan

tersangka / terdakwa. Proses peradilan lebih

kepada perbuatan tersangka / terdakwa memenuhi rumusan pasal hukum pidana
yang dilanggar atau tidak. Dalam proses seperti itu tampak hukum acara pidana
sebagai landasan beracara dengan tujuan untuk mencari kebenaran materiil
(substantial

truth)

sebagai

kebenaran

yang

selengkap–lengkapnya

dan

perlindungan hak asasi manusia (protection of human righ) tidak seluruh tercapai.2
Dilupakannya unsur saksi dan korban dalam proses peradilan cenderung
menjauhkan putusan hakim yang memenuhi rasa keadilan bagi pelaku maupun
masyarakat.. Dalam beberapa kasus, saksi dan korban dapat berperan dengan
berbagai derajat kesalahan dari yang tidak bersalah sama sekali hingga derajat
yang lebih salah dari para pelaku.

Angkasa,dkk ,”Kedudukan korban tindak pidana Dalam sistem peradilan Pidana “(Kajian
Model Perlindungan Hukum Bagi Korban Serta Pengembangan Model Pemidanaan Dengan
Mempertimbangkan Peranan Korban), Penelitian Hukum “ Supremasi Hukum “Vol.12 No.2 Agustus
2007,FH UNIB Bengkulu,hal.119-128.
2

4

Ketika terjadi suatu tindak pidana biasanya paling dirugikan adalah korban.
Tetapi saat terjadi pemeriksaan di kepolisian, kemudian stigmatisasi negatif dari
masyarakat - untuk kejahatan kekerasan seksual, pergantian kerugian memakan
waktu yang lama – kalaupun ada berminggu-minggu, serta bentuk perlindungan
dari negara yang tidak jelas. Secara pisikologis korban lebih “tersiksa” dari pada
saksi ketika harus berhadapan dengan masyarakat.
Pasal 3, 4 dan 5 DUHAM pada dasarnya menegaskan hak hidup dan
mendapatkan perlindungan pada diri setiap orang, tanpa membeda - bedakan suku
warna kulit dan agama yang dianutnya.3
Jadi, perlindungan tidak hanya diberikan kepada orang yang sedang
teraniaya (korban) melainkan kepada orang yang menganiaya (pelaku) itu sendiri
yaitu dengan jalan melepaskan tangannya dari perbuatan aniaya (zalim) tersebut.
Dalam konteks persidangan hakim membutuhkan sesuatu yang otentik dan
orisinil yang kemudian dapat dijadikan pegangan yang kuat untuk mengambil
suatu putusan. Saksi dan korban merupakan dari persidangan yang keterangannya
sangat dibutuhkan untuk mendapatkan kebenaran materi.
Menurut Hukum Islam ada beberapa tindak pidana yang ancaman saksinya
sangat berat sampai mati. Seperti perkara pembunuhan, murtad

(keluar dari

agama Isalm), dan bughat pemberontakan. Sedangkan hukuman mati adalah
bagian dari hukuman yang sifatnya irreversible, yaitu hukuman yang seketika
3

Ahmat Kosasi.HAM Dalam perspektif Islam, Menyingkapi Persamaan dan perbedan antara
Isalm dan Barat, (Jakarta salemba Diniyah.2003), h. 68

5

dijatuhkan dan dilaksanakan maka tidak ada kesempatan bagi hakim untuk
memperbaiki.
Untuk hukum seperti ini hakim harus mendapatkan keterangan yang
orisinil dan se-aktual mungkin lebih para saksi dan korban. Dari pada korban yang
kemudian menjadi saksi korban, hakim juga perlu menggali keterangan yang
terkait dengan perkara yang sedang ditanganinya. Bukan hanya karena ancaman
hukuman yang dijatuhkan berat, tetapi dari pada untuk menghargai hak tersangka
untuk tidak di perdana, baik secara sosial maupun legal formal sebelum adanya
hukum ( in kraht van gewijscd ).
Keberadaan saksi dan korban sebagai bagian dari alat bukti merupakan
sesuatu yan wajib. Dalam kitab Undang-undang Hukum Acara pidana diterangkan
bahwa alat bukti yang sah ada lima, yaitu; 1. keterangan saksi; 2. keterangan ahli;
3. surat; 4. petunjuk; 5. keterangan terdakwa. 4
Dalam hukum acara pidana keberadaan saksi dan korban merupakan faktor
yang sangat penting. Keterangan korban juga merupakan dari keterangan saksi.
Hukum Islam juga mengatur eksistensi keterangan saksi, korban yang juga
menjadi saksi.
Sebelumnya memang telah ada peraturan yang mengatur tentang
perlindungan saksi dan korban, namun dikhususkan untuk tindak pidana tertentu,
sehingga belum dapat menampung perlindungan terhadap saksi dan korban untuk
tindak pidana secara umum yang semakin beragam dan komplek pada zaman
4

Kitab Undang- Undang Hukum Acara Pidana pasal 184

6

sekarang. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, akhirnya pada tanggal 18 juli
2006, DPR mengesahkan Undang-Undang tentang perlindungan saksi dan
korban.5 Dengan demikian bagaimana tinjauan hukum islam dan hukum positif
dalam menyikapi tindak soal terkait tentang perlindungan saksi dan korban di
Indonesia.
Berangkat dari latar belakang masalah yang telah di paparkan diatas maka
penulis

tertarik

untuk

membahas

dan

mengkaji

lebih

tentang:

“PERLINDUNGAN SAKSI DAN KORBAN PERKARA PIDANA DALAM
PERSPEKTIF HUKUM ISLAM DAN HUKUM POSITIF” (Kajian UndangUndang RI No. 13 Tahun 2006).

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah
Agar permasalahan ini lebih terarah dan terfokus berdasarkan latar
belakang dari uraian diatas, dalam hal ini penulis akan mencoba membatasi
penelitian ini hanya mengenai masalah yang menyangkut: Saksi dan korban dalam
perkara pidana, dalam pandangan Fiqih konvensioal terhadap perlindungan saksi
dan korban dalam perkara pidana di indonesia.
Untuk memudahkan dalam pembahasan skripsi ini maka penulis
merumuskan masalah sebagai berikut:
1. Bagaimana kedudukan saksi dan korban dalam perkara pidana di Indonesia

5

Lihat Undang-Undang Perlindungan Saksi Dan Korban (Jakarta : Sinar Grafika Offset,

2006)

7

mana perlindungan hukum terhadap saksi dan korban perkara pidana dalam perspektif hukum Islam

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Dari latar belakang dan perumusan masalah yang di kemukakan diatas,
maka dapat diakui bahwa:
1. Tujuan penelitian :
a. Untuk mengetahui posisi saksi dan korban dalam perkara pidana menurut
Hukum Islam
b. Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab terjadinya perlindungan hukum
terhadap saksi dan korban dalam perkara pidana dalam undang-undacng
Nomer 13 Tahun 2006.
c. Untuk mengetahui tentang perlindungan hukum terhadap saksi dan korban
dalam undang-undang perlindungan saksi.
2. Kegunaan penelitian :
a. Hasil penelitian ini di harapkan dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu
hukum baik hukum islam maupun hukum positif.,
b. Diharapkan

dapat

menjadi

salah

satu

sumbangan

pemikiran

dan

memperkaya kepustakaan (Khasanah intelektual khususnya dalam bidang
hukum), dan dapat menambah wawasan para pembaca tentang perlindungan
saksi dan korban di Indonesia khususnya yang berkenaan dengan
pelanggaran dalam perlindungan saksi kejahatan. Seperti tindak kejahatan
terhadap saksi.
8

D. Review Studi Terdahulu
Dalam baberapa literatur yang berada di perpustakaan FSH, penulis
mengambil untuk di jadikan sebuah perbandingan mengenai upaya perlindungan
hukum bagi saksi.
Abdul Razak (SJPMH 2008) dengan judul skripsi pandangan hukum islam
terhadap perlindungan saksi dalam perkara pidana di Indonesia menurut UndangUndang No. 13 tahun 2006 penulis membahas tentang kajian teori terhadap
kebijakan perlindungan saksi. Materi yang terdapat dalam skripsi ini menitik
beratkan kepada proses pemberian restitusi, pelayanaan, rehabiltasi, kesehatan dan
sosial oleh pemerintah, serta kajian teori yang tertulis hanya seputar isi materi
yang terdapat dalam Undang-Undang tahun 2006.
Husni Mubarok (SJJS 2008) dengan judul skripsi kedudukan LPSK di
Indonesia (HI) penulis membahas tentang bagaimana konsep lembaga LPSK yang
di cerminkan dalam Undang-Undang No. 13 tahun 2006 tentang LPSK dalam
kajian HI.
Rahmad Tri Fianto (SJ PMH 2009) Dengan judul skripsi peranan lembaga
perlindungan saksi dan korban dalam memberikan perlindungan bagi saksi dan
korban menurut perspektif hukum pidana positif dan hukum pidana Islam, penulis
membahas atau memberi gambaran tentang LPSK serta peran lembaga LPSK
dalam upaya memberikan perlindungan dan bantuan.
9

E. Metode Penelitian
1. Jenis penelitian
Penelitian ini dilakukan melalui pendekatan kualitatif. Sebenarnya
banyak yang mendefinisikan apa itu penelitian kualitatif. Bahwa penelitian
kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang
apa yang dialami oleh subyek penelitian, misalnya perilaku, persepsi, motivasi,
tindakan, dan lain-lain., secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk
kata-kata dan bahasa, pada suatu kontek khusus yang alamiah dan dengan
memanfaatkan berbagai metode alamiah.6
Penelitian ini terdiri dari penelitian hukum normatif (penelitian hukum
kepustakaan) yang mengkaji asas-asas dan norma-norma suatu sistem hukum.
Penelitian hukum normatif adalah penelitian hukum yang dilakukan dengan
cara meneliti bahan pustaka atau data sekunder belaka. Penelitian ini juga
menuturkan dan menafsirkan data yang berkenaan dengan satu variabel dengan
menyajikannya apa adanya.
2. Teknik Pengumpulan Data
Data dalam penelitian ini di peroleh dengan menggunakan teknik studi
dokumentasi, yakni mengkaji : bahan hukum, terdiri dari bahan hukum primer
dan bahan hukum skunder. Bahan hukum primer yaitu bahan-bahan hukum
6

Lexi J Morang, Metode Penelitian Kuaalitatif (Bandung, Remaja Rosda Karya, 2005 ) cet

ke-21. h.6

10

yang mengikat. Dalam kaitan ini peraturan perundang-undangan yaitu kitab
Undang-undang hukum pidana dan Undang-undang dan Undang-undang
Republik Indonesia Nomer 8 Tahun 1981 tentang kitab Undang-undang Hukum
acara pidana serta Undang-undang Republik Indonesia Noner 13 Tahun 2006
tentang perlindungan saksi dan korban.
Sedangkan bahan hukum sekundernya adalah buku-buku hukum serta
catatan dan tulisan-tulisan lain yang mendukung dan memperjelas bahan hukum
primer serta bahan hukum lain yang penulis dapatkan baik melalui penelusuran
buku-buku yang berkaitan, surfing internet, artikel-artikel, jurnal-jurnal ataupun
dari sumber lainnya.

3. Teknik Analisa Data
Dalam menganalisis data, di terapkan teknik analisis ini secara
kualitatif. Jadi, dengan teknik ini penulis berusaha untuk mengkualifikasikan
data-data yang telah di peroleh dan di susun, kemudian melakukan interpretasi
dan formulasi.
Untuk mencapai sasaran sesuai yang di harapkan maka sistematika
pembahasan ini di bagi menjadi lima bab. Teknik penulisxan yang di gunakan
dalam skripsi ini mengacu kepada buku pedoman penulisan skripsi Fakultas
syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2007.

11

F. Sistematika Penulisan
Adapun sistematika pembahasan sebagai berikut :
BAB I Merupakan bagian pendahuluan atau berisikan pengantar, yang
memuat latar belakang masalah, pembahasan dan perumusan masalah, tujuan
penelitian, review terdahulu, metode penelitian dan sistematika pembahasan.
Dimaksudkan dengan pendahuluan, agar para pembaca sudah dapat mengetahui
garis besar penelitian. Bab pertama ini adalah sebagai pengantar.
BAB II Terdiri dari Dua sub bab yang membahas tentang, Pengertian
Saksi, Macam-macam dan Syarat-syarat Saksi, Hak-hak dan Tujuan Saksi, Dasar
Hukum sub kedua tentang korban dan Hak-hak korban
BAB III Terdiri dari Tiga sub, sub yang pertama tentang UU No 13 tahun
2006,Sejarah, tujuan pembentukannya, landasan hukumnya, susunan dan isi. Sub
kedua tentang kajian pasal 1 UU No 13 2006, Sub ketiga tentangPerlindungan
hukum dalam UU No. 13 tahun 2006
BAB IV Merupakan Perlindungan saksi dan korban dalam kasus pidana di
Indonesia. Bab ini terbagi menjadi tiga sub bab. Sub pertama pandangan Hukum
Islam tentang perlindungan saksi dan korban, Sub kedua tentang pandangan
hukum positif positif terhadap perlindungan saksi dan korban, sub ketiga tentang
Analisis pandangan hukum positif dan hukum islam terhadap perlindungan saksi
dan korban

12

BAB V Adalah penutup, terdiri kesimpulan dan saran-saran. Bab V sebagai
kesimpulan adalah konsekuensi dari metodologi. Pengambilan kesimpulan ini
harus di lakukan untuk menemukan jawaban yang di ajukan pada penelitian ini.

13

BAB II
KERANGKA TEORITIS

A. SAKSI
1. Pengertian Saksi
Saksi menurut bahasa Indonesia adalah “orang yang melihat atau
mengetahui”7. Kemudian kata saksi dalam bahasa Arab adalah (
lafadz (

‫شه‬

)

‫ ) ش‬yaitu orang yang mengetahui dan menerangkan apa yang dia

ketahuinya, kata jamaknya adalah ( ‫ ) ش اء‬masdarnya (

‫ ) ال‬yang berarti

kabar yang pasti.8
‫ ) ال‬semakna dengan kata “ ‫“ إع لم‬

Dikatakan pula bahwa kesaksian (
(pemberitahuan), berdasarkan Firman Allah:

) 18 : 3 /

‫ ه ( ا ع‬     

Artinya : “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan selain Dia”. . .
(QS. 3 (Ali-Imran) : 18

7

W. J. S. Purwadarmita, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai pustaka, 1976),

h. 825
8

Ahmad Warson al-Munawir, Kamus Al-Munawir, (Yogyakarta: Pustaka Progresif, 1997)
ed. 2, h. 746.

14

Disini arti ( ‫ )ش‬adalah (‫( )علم‬mengetahui). Syahid adalah orang yang
membawa kesaksian dan menyampaikannya, sebab dia menyaksikan apa yang
tidak diketahui orang lain.9‫ا‬
‫ )ال‬yang dapat

Dalam hukum Islam, kesaksian disebut dengan (

didefinisikan sebaga berikut; dalam kitab Qolyubi wa Umairah dijelaskan
bahwa kesaksian adalah :

.‫ف مجلس القض ء‬

10

Artinya:

‫ل ظ ال‬

‫ح‬

‫ص إث‬

‫إخ‬

“Pemberitahuan yang benar untuk menetapkan suatu hak
dengan ucapan kesaksian di depan sidang pengadilan”.

Pada umumnya dalam beberapa kitab Fiqih tidak ditemukan definisi
saksi secara gamblang dan jelas, yang lebih dititik beratkan kebanyakan adalah
definisi kesaksian atau (

‫)ال‬. Oleh sebab itu terlebih dahulu dijelaskan

beberapa pengertian tentang kesaksian yang dikemukakan oleh para fuqoha,
antara lain yaitu:
a. Menurut Muhammad Salam Madzkur, bahwa yang dimaksud dengan
kesaksian adalah:

‫ح عل الغي‬

‫إث‬

‫ف مجلس الح م ل ظ ال‬

‫ص‬

‫ع اخ‬

‫ع‬

‫ال‬

Artinya: “Kesaksian adalah istilah mengetahui pemberitahuan seseorang
yang benar di depan pengadilan dengan ucapan kesaksian untuk
menerapkan suau hak terhadap orang lain”.11
Sayyid Sabiq, Terj-Mahyuddin Syaf, Fiqih Sunnah, (Bandung: PT. Al-Ma‟arif,1994), cet
ke-4, Jilid 14, h. 55.
9

10

Ibnul Hamman, Sarah Fathul Qodir ( Mesir: Mustafa al-Babil al-Hadad , 1970) Jilid VII, h. 415
11
Muhammad Salam Madzkur. Al-qada fi al-islam, (al-qahirah: dar al-Nahdahal-Arabiyah,
1964), h. 83

15

b. Menurut Ibnu al-Hamman, bahwa yang dimaksud dengan kesaksian adalah:

.‫ف مجلس القض ء‬

‫ل ظ ال‬

‫ح‬

‫ص إث‬

‫إخ‬

Artinya: “pemberitahuan yang benar untuk menetapkan suatu hal dengan
ucapan kesaksian di depan pengadilan”. 12
Dari beberapa pengertian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa
kesaksian itu harus memenuhi unsur-unsur yaitu:
1) Adanya suatu persengketaan dalam perkara sebagai obyek.
2) Dalam obyek tersebut terdapat hak yang harus di tegakkan oleh hakim.
3) Adanya orang memberitahukan apa yang dia ketahuinya.
4) Orang memberitahukan obyek tersebut harus berita yang sebenarnya.
5) Pemberitahukan itu diberitahukan kepada yang berhak menerimanya, dan
pemberitahuan itu dengan suatu ucapan kesaksian.13
Kesaksian merupakan salah satu alat bukti yang kuat bagi hakim dalam
menetapkan suatu hukum eksistensinya kesaksian sebagai salah satu alat bukti
terdapat Firman Allah SWT :

           

       
    

)282 : 2 / ‫ (ال ق ا‬   
   

12

Ibnu Hamman, Syarah Fath al- Qadir, (misr: Mustafa al-Babi al-Hadad, 1970 ) jilid VII, h.

415
13

Abdul Rahman Umar, Kadudukan Saksi Dalam Peradilan Menurut Hukum,(Jakarta: PT.
Pustaka al-Husna, 1986), Cet. Ke-1, h. 36

16

Artinya: “Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang
lelaki (di antaramu) jika tak ada dua oang lelaki, Maka (boleh)
seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu
ridhai, supaya
jika seorang lupa Maka yang seorang
mengingatkannya. janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi
keterangan) apabila mereka dipanggil.(QS. 2 (al-Baqarah). 282
Bagian akhir ayat tersebut menunjukkan bahwa seorang saksi tidak
boleh menolak diminta keterangannya. Sebab memberi kesaksian hukumnya
adalah fardhu kifayah.14
Sebab tuntutan untuk memberi atau mendatangkan kesaksian bersifat
pasti. Allah SWT berfirman Qs Al Baqarah 283

)283 : 2 / ‫(ال ق ا‬        

Artinya: “Dan janganlah kamu (para saksi) Menyembunyikan persaksian.
dan Barangsiapa yang menyembunyikannya, Maka Sesungguhnya ia
adalah orang yang berdosa hatinya”( QS. 2 (al-Baqarah). 283)
Ada yang mengatakan bahwa hal itu merupakan pendapat jumhur
ulama‟. sedangkan yang dimaksud dengan bagian akhir ayat di atas, yakni
untuk melaksanakan kesaksian, karena hakekat mereka menjadi saksi. Seorang
saksi hakekatnya adalah pihak yang bertanggung jawab. Jika dpanggil, maka ia
berkewajiban untuk memenuhinya. Jadi hal itu sebagai Fardhu „Ain. Jika tidak,
maka kedudukan sebagai fardhu kifayah.
2. Hak- Hak dan Tujuan Saksi
a. Hak-Hak Saksi
14

Fardhu kifayah, adalah suatu kuwajiban yang harus dilakukan oleh sebagian orang, bila tidak
ada yang mengerjakan kewajiban tersebut berdosa., Abdullah bin Muhammad, terj- Abd. Ghaffar,
Tasfsir Ibnu katsir, (Pustaka Imam asy-Syafi‟I, 2001),cet. Ke-1, jilid 1, h. 565.

17

Disini akan dijelaskan bahwa ada dua bagian dalam hak-hak saksi, di
antaranya adalah :
1) Hak Allah
Hak-hak Allah terbagi menjadi tiga macam, yaitu :
a) Tidak dapat diterima saksi yang kurang dari empat orang laki-laki.
Yaitu zina. Keempat orang laki-laki tersebut memandang perbuatan
perbuatan zina dengan tujuan bersaksi.15
Allah SWT berfirman:

)4: 24 /

‫ (ال‬
       
   

Artinya: “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baikbaik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat
orang saksi, Maka deralah mereka” (QS. 24 (an-Nur ):4)
b) Hak kedua dari hak-hak Allah adalah hak di mana diterima kesaksian
dua orang laki-laki. Penyusun menjelaskan hal ini dengan ucapan:
yaitu hukuman selain zina, hukuman minum arak.
Allah SWT berfirman

) 282 :2 /

‫ ( ال ق‬  

Artinya: “Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orangorang lelaki (di antaramu)” (QS. 2 (al-Baqarah) :282)
Allah SWT berfirman :

) 2 : 65 / ‫ (الطا‬
15

Musthafa Died al-Bigha, Fiqh Sunnah, (Surabaya : Insan Amanah, 1424 H), h. 512.

18

Artinya: “Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil”
(QS. 65 (ath-Thalak) : 2)
c) Hak ketiga dari hak Allah adalah hak dimana diterima di terima
kesaksian seorang laki-laki. Yaitu hilal bulan ramadhan saja, bukan
bulan lainnya. Hikmah dan diterimanya kesaksian seseorang dalam hal
ini adalah untuk berhati-hati dalam urusan berpuasa. Sebab keliru
dalam mengerjakan ibadah akan lebih ringan mafsadahnya dari pada
keliru meninggalkan ibadah. Karena itulah dalam hal menetapkan
tanggal satu sawal tidak dapat di terima kecuali sedikitnya ada dua
orang saksi.16
2) Hak Adami
Hak adami ada tiga macam yaitu :
a) Pertama; adalah hak dimana tidak dapat diterima, kecuali dua saksi
laki-laki.17
Allah SWT berfirman

          

)106: 5 / ‫ (ال ئ‬   

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, apabila salah seorang kamu
menghadapi kematian, sedang Dia akan berwasiat, Maka hendaklah
(wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil di antara kamu”
(QS. 5 (al-Maidah) : 106
Allah SWT berfirman dalam
16
17

Ibid
Musthafa Dieb al-Bigha, Op. Cit., h. 503

19

        

)2: 65 / ‫ (الطا‬ 

Artinya: “Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, Maka rujukilah
mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan
persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu
dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah.
Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman
kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa kepada Allah
niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar”.(QS. )Ath –
talak( : 2)
Dalam ketiga nash di atas, saksi-saksi disebutkan dalam lafadz
mudzakar. Maka untuk hak-hak sejenis yang tidak dapat disebutkan
dalam ayat atau hadis, dikiaskan dalam hal di atas.
b) Di sini dapat diterima salah satu dari ketiga hal: dua orang saksi lakilaki dan dua orang wanita atau satu saksi dan sumpah pendakwa.
Namun sumpahnya harus harus dilakukan setelah kesaksian saksinya
dan saksi itu di nyatakan adil.18
Pendakwa dalam sumpahnya harus menyebutkan bahwa saksinya
benar mengenai apa, dimana dia bersaksi untuk pendakwa. Jika pendakwa
tidak bersumpah dan menuntut terdakwa untuk bersumpah, maka dia
berhak demikian. Jika terdakwa tidak mau bersumpah, maka pendakwa
boleh untuk sumpah balik menurut pendapat yang lebih jelas.
Allah SWT berfirman Al Baqarah 282

18

Musthafa Dieb al- Bigha, Op. Cit., h. 510

20

            

    
     
) 282 : 2 /

‫ (ال ق‬  

Artinya: “Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang
lelaki (di
antaramu). jika tak ada dua oang lelaki,
Maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari
saksi-saksi yang kamu ridhai, supaya jika seorang lupa Maka
yang seorang mengingatkannya”. (QS .2 (al-Baqarah) 282)
c) Ketiga adalah hak di mana bisa di terima bila di terima salah satu dari
dua hal, boleh seorang laki-laki dan dua orang perempuan, boleh
empat orang wanita. Penyusun menjelaskan hak ini dengan perkataan:
hak ini adalah sesuatu yang biasanya disaksikan oleh kaum laki-laki,
namun jarang, misalnya bersalin, haid dan susuan.
Ketahuilah bahwa tidak ada hak yang bisa ditetapkan berdasarkan
dua kesaksian wanita dan sumpah. Adapun hak-hak Allah, kesaksian
kesaksian wanita tidak diterima, hanya kesaksian laki-laki saja yang
diterima.
b. Tujuan Saksi
Kesaksian adalah menyampaikan perkara yang sebenarnya, untuk
membuktikan sebuah kebenaran dengan mengucapkan lafaz-lafaz kesaksian
di hadapan sidang pengadilan, inilah definisi kesaksian. Seperti mendengar,

21

melihat dan hal-hal yang serupa. Oleh karena itu untuk menyampaikan
kesaksian dinamakan dengan memberi sebuah kesaksian.19
Kesaksian tidak boleh didasarkan pada dzan, seperti bukti
meyakinkan yang berasal dari penginderaan oleh satu panca indra, maka
masyarakat di bolehkan bersaksi dengan bukti-bukti semacam itu. Semua
bukti yang tidak berasal melalui jalan ini, maka kesaksian atas bukti-bukti
itu tidak di perbolehkan. Sebab, Kesaksian tidak ditegakkan kecuali dengan
sesuatu yang meyakinkan. Dengan demikian kesaksian tidak boleh
ditetapkan dengan jalan as sama‟ (mendengar dari orang lain). Artinya orang
yang hendak bersaksi tidak boleh memberi kesaksian yang menyatakan : “
saya mendengar dari orang”, atau “ saya mendengar bahwa orang-orang
berkata”, atau yang lainnya. Namun demikian dikecualikan pada sembilan
kasus. Pada sembilan kasus tersebut boleh memberikan kesaksian yang as
sama‟. yaitu pada kasus pernikahan, nasab, kematian, dan peradilan. Pada
empat kasus ini tidak di jumpai adanya perbedaan pendapat tentang di
terimanya kesaksian dengan jalan as sama‟.
Jadi jelaslah pula bahwa hakekat kesaksian adalah menyampaikan
kebenaran, yaitu berita yang benar dan meyakinkan yang disampaikan oleh
orang yang jujur/benar. Kesaksian merupakan upaya untuk membuktikan
kebenran. Bukti juga disyariatkan untuk menampakkan kebenaran.

19

Ahmad ad-Daur, Terj-Syamsuddin Ramadlan, Hukum Pembuktian Dalam Islam, (Bogor:
Pustaka Thariqul Izzah, 2002), cet ke-1. h. 24

22

Berdasarkan hal ini maka kesaksian dengan penyangkalan murni tidak dapat
diterima, sebab hal ini bertentangan dengan definisi kesaksian. Namun jika
pengingkaran lebih dulu di awali dengan sebuah pembuktian, maka
kesaksiannya dengan demikian di perbolehkan. Karena kesaksian itu secara
otomatis bukan lagi menjadi kesaksian di dalam pembuktian. Oleh karena itu
di katakan “tidak bolehnya memberi kesaksian dengan penyangkalan murni,
tidak di katakan penyangkalan saja”, karena diperbolehkan memberi
kesaksian dengan penyangkalan yang diperkuat dengan bukti..20
4. Dasar Hukumnya
Dalam Al Quran ditegaskan, Allah SWT berfirman :

)‫ ا‬35: 3 / ‫ ( ال س ء‬  
       

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang
benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah” (QS. 3
(an-Nisa) :135)
Kesaksian, wajib ditunaikan oleh saksi jika dalam menunaikannya tidak
ada bahaya yang menimpa baik badannya, kehormatannya, hartanya, ataupun
keluarganya. Apabila saksi itu banyak dan tidak dihawatirkan kebenaran akan
di sia-siakan, maka kesaksian pada saat yang demikian menjadi sunnah,
sehingga bila seorang saksi terlambat menyampaikannya tanpa alasan, maka ia
tidak berdosa.21

20
21

Ibid.
Mustafa Dieb al-Bigha, Op. Cit., h. 510

23

Apabila persaksian tidak ditentukan, maka haram mengambil upah atas
persaksian itu, kecuali bila saksi keberatan dalam menempuh perjalanan untuk
menyampaikannya, maka ia boleh mengambil ongkos itu, apabila kesaksian itu
tidak ditentuka. Kesaksian itu fardhu „ain bagi orang yang memikulnya, bila ia
dipanggil untuk itu dihawatirkan kebenaran akan hilang, bahkan wajib apabila
dihawatirkan lenyapnya kebenaran meskipun dia tidak dipanggil untuk itu.22
Seperti yang telah ditegaskan dalam Firman-Nya :

)283: 2 /

‫ (ال ق‬        

Artinya: “Dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian.
dan barangsiapa yang menyembunyikannya, Maka sesungguhnya ia
adalah orang yang berdosa hatinya”. (QS. 2 (al-Baqarah) 283
Hukum mengemukakan kesaksian ada dua jalan, sebelum peristiwa
terjadi dan sesudah peristiwa terjadi. Yang dimaksud sebelum peristiwa terjadi
adalah kesediaan menjadi saksi dalam peristiwa tersebut, dalam hal ini Allah
SWT berfirman dalam surat al Baqarah ayat : 282 yang berbunyi :

)282: 2 /

‫ (ال ق‬    
   

Artinya: “Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi keterangan) apabila
mereka dipanggil” (QS. 2 (al-Baqarah) 282)

Berdasarkan ayat di atas, dibutuhkan atau tidaknya saksi tergantung dari
istiwa tersebut, dan juga berkesedianya menjadi saksi sebelum peristiwa terjadi
, dalam suatu peristiwa dimana adanya saksi menjadi salah satu syarat sahnya
peristiwa tersebut seperti saksi akad nikah. Menurut madzhab syafi‟i, maka
22

Ibid.

24

hukumnya fardhu kifayah. sedangkan terhadap orang yang diminta menjadi
saksi, hukuymnya fardhu „ain.23
Adapun dalam pertistiwa di mana adanya saksi tidak menjadi syarat
sahnya peristiwa tersebut, kemudian menjadi saksi hukumnya sunnah, karena
adanya saksi dapat di tetapkan adanya hak, baik seseorang jika dikemudian hari
terjadi perselisihan tentang hak tersebut. Kemudian kesaksian setelah terjadi,
menurut tujuan syara‟, menjadi saksi dan mengemukakannya adalah wajib.
Oleh karena itu, barang siapa yang menemui peristiwa yang ia saksikan sendiri
dan di dasari oleh pikiran dan perasaannya, maka menyembunyikan kesaksian
dapat di ibaratkan memenjarakan kesaksian didalam hatinya.24
Kasus terhadap seseorang dimana hanya dia yang dapat mengemukakan
kesaksiannya. Sedangkan hak di dalam peristiwa tersebut tidak akan dapat di
tegakkan tanpa adanya kesaksian tersebut, maka hukum mengemukakan
kesaksian baginya adalah fardhu „ain. Dalam hukum positif, saksi adalah alat
bukti yang sangat vital. Keterangan saksi dijadikan alat bukti seperti dalam
pasal 185 ayat (1) KUHAP, yaitu bahwa keterangan saksi sebagai alat bukti
ialah apa-apa yang saksi nyatakan di sidang pengadilan.25

B. KORBAN
23

Abdullah bin Muhammad, terj-Abd. Ghaffar, Tafsir Ibnu Katsir, h. 65.
Ibid
25
Andi Hamzah, KUHP dan KUHAP, (Jakarta: PT Rineka Cipta, 2004).
24

25

1. Pengertian Korban
Dalam Khazanah fiqih Islam. Istilah yang dipergunakan untuk “korban”
ialah al-majniy „alaih (yang menderita).26 Korban merupakan pihak hukum
yang mengalami penderitaan fisik maupun mental, kerusakan, luka atau segala
bentuk kerugian, tidak hanya dari sudut pandang hukum, tetapi juga dari sudut
ekonomi, sosial, politik maupun budaya.
Korban yaitu pihak yang menderita kerugian baik karena terluka,
kehilangan / kerusakan harta kekayaan, sosial, maupun trauma emosional
sebagai akibat dari suatu perbuatan tindak pidana yang untuk semua itu korban
tidak dimintai pertanggung jawaban, yang telah ditetapkan oleh peraturan
perundang-undangan pidana. Yang termasuk kriteria korban ialah leluarga
korban dan mereka yang menerima akibat yang sama dengan korban karena
mencegah tindak pidana, membantu korban atau membantu petugas penegak
hukum melawan pelaku tindak pidana.27
Korban adalah siapa saja yang rasa sakitnya dan penderitaannya (akibat
suatu jarimah) diabaikan oleh Negara (state) sedang Negara memiliki sumber
daya yang lengkap sekali untuk menburu dan menghukum sang pelaku tindak
pidana yang mesti bertanggung jawab rasa sakit dan penderitaannya itu.

Abd al-Qadir al- „Audah, al-Tasyri‟ al-Jinaiy al-Islamiy, (Beirut: al-Muassah al-Risalah)
Juz ke-2, h. 37.
27
Asmawi, Aplikasi masalah dalam perlindungan korban kejahatan menurutr hokum islam,
(Laporan penelitian Individual, program penelitian DIPA, Fakultas Syariah dan Hukum UIN Jakarta,
2007) h. 64.
26

26

Secara umum, korban merupakan perorangan atau golongan yang
menderita secara fisik, mental, dan sosial karena tindakan kejahatan, bahkan
korban dapat menderita karena trauma yang berkepanjangan jika ia melaporkan
perbuatan si pelaku kejahatan dan memberikan kesaksian yang memberatkan
pelaku tindak pidana di pengadilan.
Hak hidup, hak milik hak keamanan, hak kehormatan, hak keturunan,
hal jiwa dianggap sebagai urgensi dalam pandangan syari‟at Islam, syariat
diturunkan oleh Allah SWT untuk melindungi dan tidak boleh dilanggar oleh
siapapun. Bahkan Allah SWT telah menetapkan hukuman untuk memberikan
dan jaminan perlindungan agar tidak terjadi pelanggaran di kalangan umat
manusia di muka bumi ini.28
Hak hidup merupakan hak yang paling mendasar dimiliki manusia
menjalankan proses kehidupan. Perlindungan atas hak ini diberikan dalam
segala yang berkaitan dengan usaha manusia untuk membangun kehidupan,
mempertahankan dan

meningkatkan kualitas kehidupan dilingkungan

sekitarnya. Hak hidup di berikan kepada semua umat manusia.29
Hak untuk hidup merupakan salah satu hak yang sangat dilindungi
dalam ajaran islam. Berbagai ajaran yang terkandung dalam Al Qur‟an dan As
Sunah menegaskan dukungan dan jaminan atas hak hidup manusia, termasuk di

Yusuf al-Qardhawy, Fiqih Daulah Dalam Perspekrtif al-Qur‟an dan al-Sunah, (Jakarta:
Pustaka al-Kautsar, 1997), cet. Ke-1, h. 71.
29
Maulana Abul A‟la Maududi, Hak Asasi Manusia Dalam Islam, (Jakarta; Bumi Aksara) h .
21-23
28

27

dalamnya hukum-hukum yang mengatur tentang larangan bagi sesama manusia
untuk merugikan salah satu pihak.30
Nilai-nilai kemanusaan dipertahankan sangat ketat dalam pelaksanaan
hukum pidana islam. Pemberlakuan hukuman hanya berlaku bagi orang yang
terbukti bersalah. Pihak keluarga sebagai ahli waris dari korban tidak boleh
memberikan hukuman yang semena-mena dan harus memperhatikan nilai-nilai
kemanusiaan. Dengan alasan kemanusiaan inilah maka hukuman bisa terhapus
jika pihak keluarga korban memaafkan pelaku tindak pidana walaupun pelaku
tindak pidana tetap mendapat hukuman pengganti dari hukuman pokok.31
Hukuman pidana yang dijatuhkan semata-mata ditentukan oleh Negara melalui
undang-undang terlepas dari kehendak korban / ahli warisnya dan jenis
sanksinya.
Hal tersebut dijelaskan dalam Al Qur‟an surat Al Baqarah ayat 178,
Allah SWT berfirman:

‫أث‬
‫م‬

‫في القتل الح لح الع لع اأ ث‬
‫ي ي ال ي آم ا كت علي م القص‬
‫ف ع ي له م خيه شيء ف ت ع ل ع ف اء إليه إحس لك ت يف م‬
)١ :2 / ‫ح ف اعت ع لك فله ع ا ليم (ال ق‬

Artinya:”Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash
berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan
orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita.
Maka Barangsiapa yang mendapat suatu pema'afan dari saudaranya,
hendaklah (yang mema'afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan
hendaklah (yang diberi ma'af) membayar (diat) kepada yang memberi
30

Syekh Syaukat Hussain, Hak Asasi Manusia Dalam Islam (Jakarta: Gema Insani Press
1999), h. 60.
31
Al- „Audah, al-Tasyri‟ al-Jinaiy al-Islamiy, h. 38

28

ma'af dengan cara yang baik (pula). yang demikian itu adalah suatu
keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. Barangsiapa yang
melampaui batas sesudah itu, Maka baginya siksa yang sangat pedih
(QS. 2 (Al-Baqarah) : 178)
Perlunya diberikan perlindungan hukum terhadap korban tindak
kejahatan secara memadai tidak saja menjadi isu nasional, melainkan juga isu
internasional. Padahal, telah kita ketahui bahwa dalam persidangan keberadaan
korban itu sangat menentukan baik atau salahnya seseorang agar menghasilkan
penegakan keadilan yang efektif.
Dalam kaitan pemeriksaan suatu tindak pidana sering kali korban
kejahatan hanya diposisikan sebagai

pemberi kesaksian baik

dalam

pemeriksaan ataupun dalam pengadilan, sebagai pelapor dalam proes
penyidikan, dan sebagai sumber informasi atau sebagai salah satu kunci
penyelesaian perkara. Sebaliknya, pada saat korban tidak dapat memenuhi
kewjibannya sebagai saksi di persidangan, ia dikenakan sanksi.
Dalam setiap penangan perkara pidana, aparat penegak hukum sering
kali di hadapkan pada kewajiban untuk melindungi dua kepentingan yang
bekesan saling berlawanan, yaitu kepentingan korban yang harus dilindungi
untuik memulihkan penderitaannya. Karena telah menjadi korban kejahatan
(baik

secara

mental,

fisik,

maupun

materil)

dan

kepentingan

tersangka/terdakwa/terpidana sekalipun ia bersalah, tetapi dia tetap sebagai
manusia yang memiliki hak asasi yang tidak boleh di langgar.

29

Terlebih apabila atas perbuatannya belum ada putusan hakim yang
menyatakan pelaku bersalah; dan karena itu ia harus dianggap sebagi orang
yang tidak bersalah (asas praduga tidak bersalah). Perlindungan tidak hanya
diberikan kepada orang yang sedang teraniaya (korban) melainkan kepada
orang yang menganiaya (pelaku) itu sendiri yaitu dengan jalan melepaskan
tangannya dari perbuatan aniaya (zalim) tersebut.32

. C. Perlindungan Hukum
Perlindungan hukum terdiri dari dua suku kata yaitu “Perlindungan” dan
“Hukum”. Artinya perlindungan menurut hukum dan undang-undang yang
berlaku. Bahwa pada hakekatnya tidak ada orang yang salah 100% dan tidak ada
orang yang benar 100%. Apabila seseorang dituduh bersalah maka orang yang
dituduh bersalah itu harus diperiksa dan diadili sesuai hukum dan undang-undang
yang berlaku. Apabila seseorang yang dituduh bersalah akan tetapi diperiksa dan
diadili tidak sesuai hukum dan undang-undang yang berlaku maka apa bedanya
orang yang memeriksa dan mengadili dengan orang yang dituduh bersalah itu.33
Pengertian Perlindungan hukum menurut peraturan perlindungan hukum
adalah jaminan perlindungan pemerintah dan atau masyarakat kepada warganegara

32

Ahmad Kosasih, HAM Dalam Perspektif Islam, Menyingkap Persamaan dan Perbedaan
Antara Islam dan Barat, (Jakarta, Salemba Diniyah, 2003), h. 69.
33

Perlindungan Hukum. http://www.google.com.

30

dalam melaksankan fungsi, hak, kewajiban, dan peranannya sesuai dengan
ketentua perundang-undangan yang berlaku (UU 40/1999).34
Secara teoritis bentuk perlindungan terhadap saksi/ atau korban kejahatan
dapat diberikan dalam berbagai cara, tergantung pada penderitaan atau kerugian
oleh korban.35 Sebagai contoh untuk kerugian yang sifatnya mental atau psikis
tentunya cukup ganti rugi dalam bentuk materi atau uang tidaklah memadahai
apabila tidak disertai dengan upaya pemulihan mental korban. Sebaliknya, apabila
korban hanya menderita kerugian secara materil (seperti, harta benda hilang)
pelayanan yang sifatnya psikis terkesan terlalu berlebihan.36
Dengan mengacu pada beberapa kasus kejahatan yang pernah terjadi,

Dokumen yang terkait

Perlindungan Hukum Bagi Saksi Pengungkap Fakta (Whistleblower) Dalam Perkara Pidana (Analisis Yuridis Terhadap Undang-Undang No. 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi Dan Korban)

1 74 184

Perlindungan Terhadap Saksi Dalam Proses Pemeriksaan Di Kepolisian Sebelum Dan Sesudah Berlakunya UU Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi Dan Korban (Studi di Kepolisian Daerah Sumatera Utara)

0 43 97

Penyimpangan dalam pengadaan perumahan negara kajian hukum pidana Islam

0 6 100

Pandangan Hukum Islam terhadap Perlindungan Saksi dan korban dalam perkara pidana di Indonesia: kajian terhadap pasal (1) UU No.13 Tahun 2006

0 22 87

Kedudukan saksi dalam perkara pidana menurut UU Acara Malaysia dan Indonesia

0 6 78

Perspektif hukum Islam terhadap konsep kewarganegaraan Indonesia dalam UU No.12 tahun 2006

13 112 111

Pandangan hukum Islam terhadap perlindunagn saksi dalam perkara pidana di Indonesia menurut UU No.13 tahun 2006

0 10 103

Perlindungan Hak Kesehatan Narapidana Dalam Pandangan Hukum Positif dan Hukum Pidana Islam di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Pemuda Tanggerang (Analisis Yuridis UU No 12 Tahun 1995)

0 16 0

Perlindungan Hukum Terhadap Saksi Pengungkap Fakta (Whistle Blower) Dalam Perkara Pidana Dihubungkan Dengan Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi Dan Korban

0 7 35

Perlindungan Hukum Terhadap Saksi (Justice Collaborator) Dalam Tindak Pidana Korupsi Berdasarkan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 Tentang Hukum Acara Pidana Juncto Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2006 Tentang Perlindungan Saksi dan Korban

1 8 50

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

98 2962 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

36 756 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

34 653 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 424 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

24 579 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

49 973 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

49 888 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

14 540 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 797 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

33 959 23