Pandangan hukum Islam terhadap perlindunagn saksi dalam perkara pidana di Indonesia menurut UU No.13 tahun 2006

PANDANGAN HUKUM ISLAM TERHADAP PERLINDUNGAN SAKSI
DALAM PERKARA PIDANA DI INDONESIA MENURUT UU NO. 13
TAHUN 2006
Skripsi
Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Hukum Islam (SHI)

Oleh:
ABDUL ROZAK
NIM: 103043227981
KONSENTRASI PERBANDINGAN HUKUM
JURUSAN PERBANDINGAN MADZHAB DAN HUKUM
FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA

1429 H / 2008 M

PANDANGAN HUKUM ISLAM TERHADAP PERLINDUNGAN SAKSI
DALAM PERKARA PIDANA DI INDONESIA MENURUT UU NO. 13
TAHUN 2006
SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Syari’ah dan Hukum
Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Hukum Islam (S. H. I)

Oleh:
ABDUL ROZAK
NIM: 103043227981

Di bawah Bimbingan

Pembimbing I,

Pembimbing II,

DR. HA. Juaini Syukri, LCS, MA
NIP : 150 256 969

Dedy Nursyamsi, M. Hum
NIP : 150 264 001

KONSENTRASI PERBANDINGAN HUKUM
PROGRAM STUDI PERBANDINGAN MAZDHAB DAN HUKUM
FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1429 H / 2008 M

PENGESAHAN PANITIA UJIAN
Skripsi yang berjudul “PANDANGAN HUKUM ISLAM TERHADAP
PERLINDUNGAN SAKSI DALAM PERKARA PIDANA DI INDONESIA
MENURUT UU NO. 13 TAHUN 2006” Telah diujikan dalam sidang munaqasyah
Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta
pada tanggal 3 Juni 2008. Skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk
memperoleh gelar Sarjana Hukum Islam pada Program Strata 1 (S1) pada Jurusan
Perbandingan Madzhab dan Hukum Program Studi Perbandingan Hukum.

Jakarta, 3 Juni 2008
Mengesahkan,
Dekan Fakultas Syariah dan Hukum

Prof. Dr. H. Muhammad Amin Suma. SH.,MA.,MM
NIP: 150 210 422

PANITIA UJIAN MUNAQASYAH
Ketua: Dr. H. Mujar Ibnu Syarif, M.Ag
NIP: 150 275 509

: ……………………

Sekertaris:H. Muhammad Taufiqi. M.Ag
NIP: 150 290 159

: ……………………

Pembimbing I: Dr. HA. Juaini Syukri, LCS, MA
NIP: 150 256 969

: ……………………

Pembimbing II: Dedy Nursyamsi. SH.,M. Hum
NIP: 150 264 001

: ……………………

Penguji I: H. Zoebir Laini, SH
NIP: 150 009 273

: ……………………

Penguji II: Dr. Yayan Sopyan, M.Ag
Nip: 150 277 991

: ……………………

‫اﷲ ا ﺮ ﺎن ا ﺮ‬
KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, Segala puji bagi Allah SWT. Pencipta dan Pemelihara alam
semesta, yang telah memberikan nikmat dan karunia-Nya. Sehingga dengan izin dan
iradat-Nyalah penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Shalawat serta
salam yang selalu tercurah keharibaan Nabi besar Muhammad SAW dan segenap
para sahabat-sahabatnya.
Penulis sangat menyadari, bahwa penulisan skripsi ini tidak mungkin
terselesaikan tanpa bantuan dan uluran tangan dari berbagai pihak, oleh karenanya
dari renung hati yang paling dalam, penulis ucapkan terima kasih yang tiada hingga
kepada yang terhornat:
1. Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Bapak Prof. Dr. H. Muhammad Amin Suma,
SH., MA., MM. beserta jajarannya yang telah memberikan dukungan moril
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
2. Ketua Program Studi Perbandingan Madzhab dan Hukum Bapak Dr. H. Ahmad
Mukri Aji MA. dan Sekertaris Program Studi Bapak H. Muhammad Taufiqi
M.Ag. serta para dosen dan karyawan di Fakultas Syariah Dan Hukum.
3. Kepada Bapak Dr. HA. Juaini Syukri, LCS, MA dan Bapak Dedy Nursyamsi, SH,
M.Hum, selaku dosen pembimbing yang telah mengerahkan waktu, tenaga dan
ilmunya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

4. Kepada Pimpinan Perpustakaan Utama dan Perpustakaan Fakultas Syariah Dan
Hukum serta karyawan dan pegawai yang telah membantu dalam pencarian
sumber bacaan buku dan referensi.
5. Kepada para Dosen penulis haturkan banyak terima kasih, khususnya dari civitas
akademika Fakultas Syariah dan Hukum yang telah berkontribusi positif bagi
khazanah dialetika pemikiran penulis selama proses pendidikan berlangsung demi
memahami kondisi kontemporer dengan penuh kearifan. Terutama kepada Bapak
Dr. JM. Muslimin, dan Bapak Alfitra SH, MH, serta para dosen yang lain yang
tidak bisa penulis sebutkan satu-persatu dan tidak mengurangi rasa hormat
penulis.
6. Kepada Ayahanda tercinta Bapak Satiri dan Ibunda Rohani yang selalu setia
menanti ananda dalam meraih gelar kesarjanaan. Berkat jasa dan doa beliaulah
penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini dengan baik. Semoga Allah
membalas kebaikan-kebaikan Ayah dan Ibu. Amin.
7.

Kepada Keluarga besar Kedoya Jak Bar: Satiri Mansyur {Bapak}, Satria,
Saanah, Suhatih, Sitinah, Rohani {Ibu}, Royani, Rohadi, Rohmat, Rozak.
Terutama untuk kakakku Bang Roy, Ka Amril, Bang Madun, Mpo Ana, Mpo
Titin yang selalu memberikan suport serta dukungan morilnya kepada penulis.
Dari merekalah penulis sangat terinspirasi dan termotivasi untuk menyelesasikan
skripsi ini dengan baik. Semoga Allah membalas kebaikan-kebaikan mereka.

8. Kepada Ibunda Ustadzah Diah {Istri almarhum KH. Ahmad Dimiyati} dan
Ustadz Yazid {Putra almarhum KH. Ahmad Dimiyati}, yang telah memberikan
semangat dan do’a kepada penulis. Dan kepada rekan-rekan Alumni Ponpes
Daarul Uluum Lido, Arif, Indra, Firdaus, Heri, Juniardi, Cucum, dan sahabatsahabat lainnya. Yang banyak memberikan dorongan moril dan nasihatnya bagi
penulis. Thanks for all.
9. Rekan-rekan seperjuangan dan sepenanggungan anak-anak Perbandingan Hukum
angkatan 2003, sengaja saya paparkan semua teman sekelas agar tidak terlupakan
satu diantara kalian, walaupun ada yang tidak sampai akhir perjuangan: A.
Zaenudin, A. Qodir, A. Rozak, Abdulazim, Abdurrahman, Agung Gunawan,
Agus Hermawan, Ahmad Hafidz, Ahmad Ratomi Zaen, Ahmad Zaki, Alwanih,
Anhar Kurniawan, Azwardi, Firdaus Ahmad, Harun Rosyid, Imroah, Istiamah,
Maysaroh, Makiyah, Miftah Faridh, Mohammad Syaiban, M. Abdul Fatah HS, M.
Alif Yusuf, M. Fathurrahman, M. Iqbal, M. Jauhar Haekal, M. Syukron, Mukhtar
Efendi, Neni Syafrida, Nur Hasan, Salman Faris, Sunarti, Syadat M. Nur, Syahril
Aili, Teguh Widyantarto, Unun Ru’yatul Hilal, Yakobus Liga, Yustam Syahril.
Dan lebih spesial dari kawan gue yang sudah banyak bantu, kepada: Aal, Tomi,
Maman, Syadat, Ucup, Fathur, Miftah {Ustadz}, Qodir, Narti, Unun, thanks abiz
atas apa yang telah kamu berikan kepadaku dan jangan pernah lupakan KKS
Subang yang begitu manis dan indah. Dan juga kepada Dadan, Bondan, Solihin,
Gozali, Miftah Dirosat, dan Ujang yang banyak membantu dalam menyelesaikan
tugas skripsi.

Semoga segala partisipasi, dan motivasi serta doa kepada penulis
memohonkan ridha di sisi-Nya. Harapan terakhir, semoga skripsi ini dapat
berguna bagi pembangunan ke Ilmuan, ke Islaman dan ke Indonesian. akhirnya,
hanya kepada-Nya segala urusan dan akan kembali pula kepada-Nya. Tiada daya
dan upaya hanya milik-Nya, lalu kita memohon hidayah dan ampunan-Nya.

Jakarta, 29 Jumadil Ula 1429 H
4 Juni 2008

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR........................................................................................

i

DAFTAR ISI........................................................................................................

v

BAB I

BAB II

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang .............................................................................

1

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ...........................................

8

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian .................................................

9

D. Metode Penelitian .........................................................................

10

E. Sistematika Penulisan ..................................................................

12

TINJAUAN UMUM TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI
DALAM HUKUM ISLAM
A. Saksi Menurut Hukum Islam ........................................................

14

1. Pengertian................................................................................

14

2. Macam-macam dan Syarat-syarat Saksi .................................

18

3. Hak-hak Saksi dan Tujuan Saksi ............................................

29

4. Dasar Hukum .........................................................................

38

B. Saksi Menurut Hukum Positif.......................................................

41

1. Pengertian................................................................................

41

2. Macam-macam dan Syarat-syarat Saksi .................................

42

3. Hak-hak dan Tujuan Saksi ......................................................

44

4. Dasar Hukum .........................................................................

47

C. Tujuan Perlindungan Saksi ...........................................................

46

1. Menurut Hukum Islam ............................................................

46

2. Menurut Hukum Posistif .........................................................

48

BAB IIIPERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP SAKSI PADA PERKARA PIDANA DALAM U
A. Saksi Dalam Perkara Pidana .........................................................

50

1. Perkara Pidana ..........................................................................

50

2. Saksi Sebagai Alat Bukti ..........................................................

52

3. Faktor Penyebab Perlunya Perlindungan Saksi Dalam Undang
-undang Nomor 13 Tahun 2006 ................................................

54

B. UU No. 13 Tahun 2006.................................................................

56

1. Sejarah Terbentuknya ...............................................................

56

2. Tujuan Pembentukannya ..........................................................

58

3. Landasan Hukumnya ................................................................

59

4. Susunan dan Isi ........................................................................

59

C. Perlindungan Hukum Dalam UU No. 13 Tahun 2006 Terhadap
Saksi .............................................................................................

61

1. Perlindungan Hukum Dari Ancaman Terhadap Saksi .............

61

2. Pemberian Restitusi, Pelayanan Rehabilitasi Kesehatan, dan
Sosial .........................................................................................

67

BAB IV

ANALISIS HUKUM ISLAM MENGENAI PERLINDUNGAN
HUKUM TERHADAP SAKSI DALAM UU NO. 13 TAHUN
2006

BAB V

A. Analisis Terhadap Perlindungan Saksi Dari Ancaman ................

72

B. Analisis Terhadap Restitusi ..........................................................

75

C. Analisis Terhadap Rehabilitasi ....................................................

83

PENUTUP
A. Kesimpulan ..................................................................................

89

B. Saran-saran....................................................................................

91

DAFTAR PUSTAKA ..........................................................................................

93

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Manusia adalah makhluk yang paling dimuliakan Allah. Allah SWT
menciptakannya dengan tangan (kekuasaan)-Nya sendiri, meniupkan ruh dariNya kepadanya, memerintahkan sujud semua Malaikat kepadanya, menundukkan
semua apa yang ada dilangit dan dibumi kepadanya, menjadikan kholifah-Nya
dibumi, dan membekalinya dengan kekuatan serta bakat-bakat agar ia dapat
menguasai bumi ini, dan supaya ia dapat meraih dengan semaksimal
kemampuannya akan kesejahteraan kehidupan materil dan spirituilnya.1
Islam adalah agama yang universal dalam mengatur segala hal dan
permasalahan. Tidak ada satupun dari aspek kehidupan dialam semesta ini yang
lepas dari kontrol dan aturan yang telah digariskan oleh syari’at Islam, demikian
pula dalam hal sistem persaksian sudah tercakup didalamnya.
Syari’at Islam telah mengatur sedemikian rupa tentang aturan persaksian,
termasuk didalamnya mengatur tentang kewajiban saksi terhadap kejadian yang
telah dialaminya.2 Firman Allah SWT menyatakan :

( 283:‫… )ا ﺮة‬

1

‫ﻜ ﻬﺎ ﺈ ءاﺛ‬

‫… و ﻜ ﻮا ا ﻬﺎدة و‬

Sayyid Sabiq, Fiqih Sunnah, terj (Bandung : Al-Ma’arif, 1987), Cet ke-2 h. 13
Ahmad ad-Da’ur, terj- Syamsuddin Ramadlan., Hukum Pembuktian dalam Islam,
(Bogor : Pustaka Thariqul Izzah, 2002), Cet. ke- 1, h. 21
2

Artinya: “…dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian. Dan
barang siapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia adalah
orang yang berdosa hatinya ….” (Q. S Al-Baqarah : 283).
Sementara dalam Undang-undang Nomor 13 Tahun 2006 Tentang
Perlindungan Saksi juga telah diatur pula dalam persaksian, baik itu mengenai
hak-hak bagi para saksi atau lainnya, seperti yang tercantum pada pasal 5 yang
berbunyi “ Perlindungan atas keamanan pribadi, keluarga, dan harta bendanya,
serta bebas dari ancaman yang berkenaan dengan kesaksian yang akan, sedang,
atau telah diberikannya, dan sebagainya.3
Hak yang paling utama dijamin oleh Islam adalah hak hidup, hak
pemilikan, hak memiliki kehormatan, hak kemerdekaan, hak persamaan, dan hak
menuntut ilmu pengetahuan. Hak paling penting dan yang sangat diperlukan
dalam perhatian diantara hak-hak tersebut adalah hak hidup, tidak dibenarkan
secara hukum dilanggar kemuliaannya dan tidak boleh dianggap remeh
eksistensinya.
Manusia juga sebagai makhluk hidup yang sempurna, tentu saja memiliki
akal serta pikiran yang sehat. Di dalam kehidupan yang dijalani, pasti muncul
persoalan-persoalan yang dihadapi, entah antara individu dengan individu,
individu dengan golongan, atau golongan dengan golongan. Untuk mengatasi hal
ini, maka manusia membentuk aturan-aturan yang kita kenal dengan hukum.
Dalam memperhatikan fungsi hukum dimasyarakat yang dapat berjalan tanpa

3

Cet. ke- 1. h. 3

Undang-undang Perlindungan Saksi dan Korban (Jakarta : Sinar Grafika Offset, 2006),

menerima pelayanan hukum. Keadaan ini menjadi lebih jelas lagi apabila kita
berhadapan dengan masyarakat yang tidak lagi tradisional dimana kontak-kontak
pribadi serta konflik-konflik kepentingan terjadi dengan lebih efektif.4
Untuk menyelesaikan konflik yang ada, maka dibentuklah badan-badan
peradilan untuk menyelesaikan berbagai konflik yang muncul didalam kehidupan
masyarakat, berbangsa dan bernegara.
Jika manusia ingat bahwa kebenaran dapat dicapai dengan usaha-usaha
pikiran dan lainnya, maka manusia mempunyai dasar yang sehat dalam agama.
Manusia tidak menjadi orang berharga jika percaya dengan mudah atau menolak
sesuatu kepercayaan dengan mudah pula, dengan tidak memakai penyelidikan
yang seksama. Oleh karena sebuah pendapat adalah lebih dekat kepada kebenaran
dari pada pendapat yang lain, maka kewajiban manusia adalah mengetahui
pendapat yang lebih dekat kepada kebenaran itu. Kebenaran akan menjadi lebih
terlihat dengan adanya saksi dan bukti, tapi disamping itu manusia harus
membedakan antara saksi yang benar dan yang tidak benar, dan harus belajar
menarik kesimpulan dari pada saksi yang mutlaq.5
Sesungguhnya keadilan itu dapat diwujudkan dengan menyampaikan
setiap hak kepada yang berhak dan dengan melaksanakan hukum-hukum yang

4

Satjipto Rahardjo, Hukum dan Masyarakat (Bandung : Angkasa, 1979), Cet ke-4 h. 11
David Trueblood, terj- M. Rasjidi, Filsafat Agama, (Jakarta : PT Bulan Bintang, 1965),
Cet. ke- 1, h. 30
5

telah disyari’atkan Allah SWT serta dengan menjauhkan hawa nafsu melalui
pembagian yang adil diantara sesama manusia.6
Peradilan adalah suatu tugas suci yang diakui oleh seluruh bangsa, baik
mereka yang tergolong bangsa-bangsa yang telah maju ataupun yang belum. Di
dalam peradilan yang terkandung perintah menyuruh ma’ruf dan mencegah yang
mungkar, menyampaikan hak kepada yang harus menerimanya dan menghalangi
orang yang zalim daripada berbuat aniaya, serta mewujudkan perbaikan umum.
Dengan peradilanlah dilindungi jiwa, harta dan kehormatan. Apabila peradilan itu
tidak terdapat dalam suatu masyarakat, maka masyarakat itu akan menjadi
masyarakat yang kacau balau.7
Walaupun tidak sepenuhnya dipercaya, pengadilan tetap merupakan
tumpuan masyarakat dalam mengusung keadilan yang dicita-citakan. Hal ini
meniscayakan lembaga pengadilan untuk mampu mengeluarkan keputusan yang
tidak memihak, membenarkan yang benar dan menyalahkan yang salah. Inilah
doktrin idealisme dari aliran pemikiran hukum liberal (Liberal Legal Thought
School).8

6

Sayyid Sabiq, terj- Mahyuddin Syaf, Fiqih Sunnah (Bandung : Al-Ma’arif, 1994), Cet
ke- 4, Jilid 14, h. 17
7
Hasbi Ash-Shiddieqy, Peradilan dan Hukum Acara Islam, (Yogyakarta : Al-Ma’arif,
1964), h. 7
8
Ifdhal Kasim, Berkenaan dengan “Critical Legal Studies” dalam Roberto M. Unger,
Gerakan Studi Hukum Kritis, (terj), (Jakarta : ELSAM, 1999), Cet. Ke- 1, h. XI (Kata Pengantar).
Gerakan ini dipelopori antara lain oleh Ronald Dworkin. Lihat Karya Ronald Dworkin, A Matter Of
Principle,(Cambridge : Harvard University Press, 1985)

Satu hal yang menarik adalah, sehubungan dengan kedudukan peradilan
sebagai lembaga yang secara resmi diberi wewenang untuk menentukan suatu
keputusan demi terciptanya keadilan kepastian hukum di tengah masyarakat,
pengadilan sering kali dituduh tidak memihak kepada pihak-pihak yang merasa
dirugikan.9
Kenyataan ini memang kerap kali terjadi pada taraf pengambilan
keputusan. Barangkali penyebabnya adalah tidak terpenuhinya sumber-sumber
atau dasar-dasar yang dapat meyakinkan hakim secara sempurna dalam proses ini,
sedangkan hakim tertuntut secara yuridis untuk menjatuhkan satu ketetapan yang
mengikat pihak-pihak berperkara itu, sesuai dengan azas hukum acara, bahwa
hakim mengadili setiap perkara yang diajukan kepadanya.10
Sumber-sumber yang dipergunakan seorang hakim dalam mengambil
keputusan disebut sebagai “alat bukti”. Setiap alat bukti berbeda-beda kekuatan
satu dengan yang lainnya. Yang secara langsung dapat mempengaruhi keputusan
yang dihasilkan. Jika kekuatan alat bukti dapat diakui, maka seorang hakim untuk
memutuskan perkara memerlukan waktu yang tidak singkat, sehingga hakim
merasa yakin dengan keputusannya.
Hakim sebagai salah satu unsur atau bagian dari proses penegakan hukum
yang berada dalam suatu institusi peradilan. Dalam memutuskan suatu perkara
9

Inilah fokus dari titik gerakan Critical Legal Studies bahwa proses-proses hukum tidak
pernah bekerja dalam ruang hampa, melainkan berlangsung dalam realitas yang tidak netral dari nilai
yang ada dibelakangnya ialah subyektif. Ibid., h. XVI (Kata Pengantar)
10
A. Mukti Arto, Praktek Perkara Perdata pada Pengadilan Agama, (Yogyakarta :
Pustaka Pelajar, 2000), Cet. ke- 3, h. 11

baik perkara perdata maupun perkara pidana, yang diajukan oleh seseorang.
Tentulah seorang hakim memerlukan alat bukti untuk menganalisa suatu perkara
dengan yakin.
Pembuktian dengan saksi yang merupakan salah satu alat bukti adalah
pembuktian yang sangat banyak dipergunakan. Tapi dengan mempergunakan
pembuktian dengan saksi perlu diperhatikan bahwa keterangan seorang saksi
tidak selalu sesuai dengan kenyataannya. Lain daripada itu yang sangat
disayangkan ialah bahwa seorang saksi tanpa disadari, dapat memberikan
keterangan yang sebetulnya tidak betul.11
Dalam permasalahan kesaksian, sebagaimana diungkapkan dalam buku
Hukum Pembuktian dalam Islam oleh Ahmad ad-Daur, bahwa kesaksian adalah
dasar pembuktian.12 Terjadi pembedaan yang mendasar dalam Hukum Islam dan
Hukum Positif pada “jumlah saksi”. Dimana dalam peradilan Islam ada sebuah
ketegasan yang terperinci dalam jumlah saksi.
Adapun menurut pasal 184 ayat (1) KUHAP, alat-alat bukti yang sah yaitu
keterangan saksi, keterangan saksi ahli, surat, petunjuk serta keterangan terdakwa.
Kalau dilihat dari urutannya keterangan saksi adalah pembuktian yang paling
utama. Dalam keterangan saksi tidak termasuk keterangan yang diperoleh dari
orang lain atau Testimoniom De Auditu. Kedudukan seorang saksi dalam proses

11

Ali Afandi, Hukum Waris, Hukum Keluarga, Hukum Pembuktian : Menurut Undangundang Hukum Perdata (RW), (Jakarta : PT Bina Aksara, 1986), Cet. ke- 3, h. 204
12
Ahmad ad-Da’ur, terj- Syamsuddin Ramadlan., Hukum Pembuktian dalam Islam,
(Bogor : Pustaka Thariqul Izzah, 2002), Cet. ke- 1, h. 18

persidangan amatlah penting dalam peranannya, sebab tanpa kehadiran saksi
acara persidangan dapat ditunda atau bisa saja gagal tanpa adanya saksi. Oleh
karena itu masyarakat sangat memerlukan perlindungan hukum atas saksi, agar
rasa prihatin masyarakat dapat teratasi.
Usaha penegakan hukum pidana ditanah air acap kali terganjal oleh
susahnya memperoleh alat bukti dalam proses peradilan pidana berupa keterangan
saksi dan korban. Para saksi dan korban kerap kali mengalami intimidasi,
ancaman, tekanan dari pihak pelaku atau pihak tertentu yang tak ingin
kejahatannya terbongkar, akibatnya, para saksi dan korban tidak bisa secara
leluasa menyampaikan informasi yang sebenarnya tentang kejadian yang mereka
dengar, lihat, dan alami sendiri.
Sebelumnya memang telah ada peraturan yang mengatur tentang
perlindungan saksi dan korban, namun dikhususkan untuk tindak pidana tertentu,
sehingga belum dapat menampung perlindungan terhadap saksi dan korban untuk
tindak pidana secara umum yang semakin beragam dan kompleks pada zaman
sekarang. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, akhirnya pada tanggal 18 Juli
2006, DPR mengesahkan Undang-Undang tentang Perlindungan saksi dan
korban.13 Dengan demikian, bagaimana tinjauan Hukum Islam dan Hukum Positif
dalam menyikapi tindak perlindungan saksi di Indonesia.
Beranjak dari latar belakang masalah yang telah dipaparkan diatas maka
penulis tertarik untuk membahas dan mengkaji lebih jauh tentang :
13

Lihat Undang-undang Perlindungan Saksi dan Korban Ibid. h. v

“PANDANGAN HUKUM ISLAM TERHADAP PERLINDUNGAN SAKSI
DALAM PERKARA PIDANA DI INDONESIA MENURUT UU NO 13 TAHUN
2006”
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah
Agar permasalahan ini lebih terarah dan terfokus berdasarkan latar
belakang dari uraian di atas, dalam hal ini penulis akan mencoba membatasi
penelitian ini hanya mengenai masalah yang menyangkut: Saksi dalam perkara
pidana, pandangan hukum Islam terhadap perlindungan saksi dalam perkara
pidana di Indonesia, menurut UU No 13 Tahun 2006”
Untuk memudahkan dalam pembahasan skripsi ini maka penulis
merumuskan masalah sebagai berikut :
D. Bagaimana Hukum Islam memposisikan saksi dalam perkara pidana ?
E. Faktor apa yang menyebabkan saksi dalam perkara pidana perlu mendapat
perlindungan hukum oleh undang-undang Nomor 13 Tahun 2006 ?
F. Bagaimana Undang-undang No. 13 Tahun 2006 memberikan perlindungan
hukum terhadap saksi dalam perkara pidana ?
G. Bagaimana pandangan hukum Islam mengenai perlindungan hukum terhadap
saksi dalam perkara pidana menurut Undang-undang No. 13 Tahun 2006 ?

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian
Dari latar belakang dan perumusan masalah yang dikemukakan diatas,
maka dapat diakui bahwa :
1. Tujuan Penelitian :
a

Untuk mengetahui posisi saksi dalam perkara pidana menurut hukum
Islam.

b. Untuk mengetahui faktor-faktor penyebab terjadinya perlindungan hukum
terhadap saksi oleh undang-undang Nomor 13 Tahun 2006.
c. Untuk mengetahui tentang perlindungan hukum terhadap saksi perkara
pidana dalam undang-undang perlindungan saksi.
d. Untuk Mengetahui pandangan hukum Islam terhadap saksi perkara pidana
dalam undang-undang perlindungan saksi nomor 13 tahun 2006.
2. Kegunaan Penelitian :
a. Hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi perkembangan ilmu
hukum baik hukum Islam maupun hukum positif.
b. Diharapkan dapat menjadi salah satu sumbangan pemikiran dan
memperkaya kepustakaan (Khasanah intelektual khususnya dalam bidang
hukum), dan dapat menambah wawasan para pembaca tentang
Perlindungan Saksi di Indonesia khususnya yang berkenaan dengan
pelanggaran dalam perlindungan saksi kejahatan. Seperti tindak kejahatan
terhadap saksi.

D. Metode Penelitian
1. Jenis Data
Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan melakukan
pendekatan deskriptif yaitu yang bertujuan untuk membuat gambaran yang
sistematis dan akurat tentang fakta-fakta, sifat dan hubungan fenomena yang
ada dalam objek yang diteliti. Sedangkan kualitatif adalah sebuah pemaparan
dan penjelasan terhadap masalah yang diangkat sehingga pada akhirnya akan
membangun kesimpulan-kesimpulan dari permasalahan yang ada dan dengan
cara deskripsi dalam bentuk kata-kata atau bahasa, pada konteks yang lebih
khusus.
2. Sumber Data
Sumber data yang digunakan salah satu bagian yang terpenting dalam
penelitian ini. Maka pencarian data yang digunakan dalam penelitian ini
diperoleh dari :
a. Data Primer
Data yang diperoleh secara langsung dari sumber asli tidak melalui
perantara. Data primer ini diperoleh dari data bahan hukum primer
diantaranya Undang-Undang, dalil-dalil al-Qur’an dan Hadits, yang
mengatur masalah yang diangkat.

b. Data Skunder
Data skunder adalah data yang diperoleh secara tidak langsung melalui
media perantara (diperoleh dan dicatat oleh pihak lain). Jenis data skunder
dapat berupa bukti, catatan atau laporan historis yang telah tersusun dalam
arsip (data dokumenter) baik telah dipublikasikan maupun tidak
dipublikasikan. Bahan data skunder ini penulis peroleh dari Al-Qur'an, AsSunah, Buku-buku ilmu Hukum, dokumen-dokumen, makalah dan data-data
lain yang relevansi dan berkaitan dengan judul skripsi ini.
3. Teknik Pengumpul Data
Studi kepustakaan seperti buku, dokumen dan lain sebagainya, dengan
cara dibaca, dikaji dan dikelompokkan sesuai dengan pokok masalah yang
terdapat didalam skripsi ini.
4. Analisis data :
Dalam analisis data, penulis menggunakan content analisis atau
analisis isi, yaitu teknik penelitian untuk membuat inferensi-inferensi yang
dapat ditiru (replicabel), dan sahih data dengan memperhatikan konteksnya.
Analisis isi berhubungan dengan komunikasi atau isi komunikasi, dengan
rumusan:
1. Analisis teks al-Qur’an
2. Analisis teks al-Hadits
3. Analisis teks undang-undang No. 13 tahun 2006

5. Tekhnik penulisan :
Dalam penulisan proposal ini, penulis sepenuhnya menggunakan buku
pedoman skripsi yang di terbitkan Tahun 2007 oleh Fakultas Syari’ah dan
Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Sehingga penulisan ini tidak
melenceng dari aturan teknik penulian yang ada. 14
Dokumen yang penyusun peroleh, maka penyusun racik dan
memaparkan secara deskriptif, koporatif, dan analisis konstruktif. Tiga
pendekatan semacam ini lazim dipakai dalam penelitian kualitatif ini. Maka
penyusun kombinasikan untuk menghasilkan sebuah konstruksi yang sinergis
dan ilmiah.
Dalam tekhnik penulisan skripsi ini penulis berpedoman pada buku
“Pedoman Penulisan Skripsi, Tesis, dan disertai yang disusun oleh Tim UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2007.
E. Sistematika Penulisan
Untuk lebih memperinci gambaran dari penulisan skripsi ini, penulis
menyusun penulisan menjadi lima bab yang saling berkaitan satu sama lainnya
dengan perincian sebagai berikut :
Bab I Merupakan

pendahuluan

yang

meliputi

latar

belakang

masalah,

pembatasan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, metode penelitian,
dan sistematika penulisan.

14

Tim Penulis dari Fakultas Syari’ah Dan Hukum, Buku Panduan Skripsi, (Jakarta : Fak.
Syari’ah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta)

Bab II Merupakan bab yang membahas tinjauan umum tentang perlindungan
saksi dalam hukum Islam dan positif, yang isinya tentang pengertian saksi,
macam-macam, syarat-syarat, hak-hak, dan tujuan saksi. Dasar hukumnya
dalam hukum Islam dan positif. Tujuan perlindungan hukum terhadap
saksi dalam hukum Islam dan hukum Positif.
Bab III Perlindungan hukum terhadap saksi pada perkara pidana dalam UU no. 13
tahun 2006. Bab ini menguraikan tentang pengertian perkara pidana, saksi
sebagai alat bukti, faktor penyebab perlunya perlindungan saksi, proses
penyusun undang-undang, yang berkaitan dengan perlindungan dari
ancaman terhadap saksi dan korban, pemberian restitusi dan rehabilitasi.
Bab IVAnalisis hukum islam mengenai perlindungan hukum terhadap saksi
menurut dan uu no. 13 tahun 2006. Merupakan bab yang membahas
tentang analisis terhadap perlindungan saksi dari ancaman, restitusi, dan
rehabilitasi.
Bab V

Merupakan bab penutup yang berisi kesimpulan dan saran-saran dari

penulis terkait permasalahan yang dibahas.

BAB II
TINJAUAN UMUM TENTANG PERLINDUNGAN SAKSI DALAM HUKUM
ISLAM

A. Saksi Menurut Hukum Islam
1. Pengertian
Kesaksian menurut bahasa adalah (‫ ﻬﺪ‬-‫ ) ﻬﺪ‬yang berarti mengamati atau
memberi kesaksian.15 Kemudian kata saksi dalam bahasa Arab adalah
(‫ﺮ ﺎ ﻬﺪو‬

‫ ) ﺎهﺪا ﺬى‬atau (‫ ) ﺎهﺪ‬lafadz (‫ ) ﻬﺪ‬yaitu orang yang mengetahui dan

menerangkan apa yang diketahuinya, kata jamaknya adalah (‫ ) ﻬﺪاء‬masdarnya
adalah (‫ )ا ﻬﺎدة‬yang berarti kabar yang pasti.16
Dikatakan pula bahwa kesaksian (‫ )ا ﻬﺪة‬semakna dengan kata “

‫”ا‬

(Pemberitahuan), berdasarkan firman Allah SWT :

(18 :3/ ‫)ا ﺮان‬... ‫إ إ هﻮ‬

‫أ‬

‫ﻬﺪ ا‬

Artinya: “ Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan selain Dia”… (alImran/3: 18).

15

Ahmad Warson al-Munawir, Kamus al-Munawir, (Yogyakarta: Pustaka Progresif,
1997), ed. 2, h. 746
16
Ibnu Manzur al-Aushari, Lisan al-Arab, (Cairo: Daru al-Misr)tt. Juz 4 h. 225

Disini arti ‫ﻬﺪ‬

adalah

(mengetahui). Syahid adalah orang yang

membawa kesaksian dan menyampaikannya, sebab dia menyaksikan apa yang
tidak diketahui orang lain.17
Dalam hukum Islam, kesaksian disebut dengan ‫ﻬﺪة‬

yang dapat

didefinisikan sebagai berikut. Dalam kitab Qolyubi wa Umairah dijelaskan
bahwa kesaksian adalah:
18

.‫ﺮ ﻰ ا ﺮ ﻆ أ ﻬﺪ‬

‫أ ﻬﺎ ا ﺎر‬

Artinya: “Bahwasanya kesaksian itu adalah memberitahukan dengan
sebenarnya hak seseorang terhadap orang lain dengan lafadz aku
bersaksi”.
19

‫ﺎء‬

‫ا‬

‫ﻆ ا ﻬﺎدة ﻰ‬

‫ا ﺎر ﺪق ﺛ ﺎت‬

Artinya: “Pemberitahuan yang benar untuk menetapkan suatu hak dengan
ucapan kesaksian didepan sidang pengadilan”.
20

‫ﺛ ﺎت ﻰ ا ﺮ‬

‫ﻆ ا ﻬﺎدة‬

‫ا ﻜ‬

‫ا ﺎر ﺪق ﻰ‬

‫ا ﻬﺎدة ﺎرة‬

Artinya: “Kesaksian adalah istilah mengenai pemberitahuan seseorang yang
benar didepan sidang pengadilan dengan ucapan kesaksian untuk
menerapkan suatu hak terhadap orang lain”.
Dari beberapa pengertian diatas dapat diambil kesimpulan bahwa
kesaksian itu harus memenuhi unsur-unsur yaitu :
1. Adanya suatu persengketaan dalam perkara sebagai objek.
2. Dalam objek tersebut terdapat hak yang harus ditegakkan oleh hakim.

17

Sayyid Sabiq, terj –Mahyuddin Syaf, Fiqih Sunnah, (Bandung : PT. Al-Ma’arif,
1994), Cet ke-4, Jilid 14, h. 55
18

Mahalli, Hasyiyatan Qaliyubi wa’ Umairah, (Riyadh: al-Riyadh al-Hadits, 1995), Jilid

19

Ibnul Hamman, Syarah Fathul Qadir, (Mesir : Mustofa Al Babil Halabi, 1970), Jilid 7,

4, h. 318
h. 415
20

Muhammad Salam Madzkur, al-Qadha fi al-Islam, (Kairo: Dar al-Nadhatu alArabiyyah, 1964), h. 83

3. Adanya orang yang memberitahukan apa yang diketahuinya.
4. Orang yang memberitahukan objek tersebut harus berita yang sebenarnya.
5. Pemberitahuan itu diberitahukan kepada yang berhak menerimanya, dan
pemberitahuan itu dengan suatu ucapan kesaksian.
Kesaksian merupakan salah satu alat bukti yang kuat bagi hakim dalam
menetapkan suatu hukum Eksistensinya kesaksian sebagai salah satu alat
bukti terdapat dalam Firman Allah SWT :

‫وا ﺮأ ﺎن‬
‫ﺬآﺮ‬

‫إ ﺪاه ﺎ‬

‫ﺮ‬

‫ﻜﻮ ﺎ ر‬

‫ر ﺎ ﻜ ﺈن‬

‫إ ﺪاه ﺎ أن‬

‫ﻬﺪوا ﻬ ﺪ‬

‫ا ﻬﺪاء أن‬

(282 :2 / ‫ )ا ﺮة‬... ‫ﺄب ا ﻬﺪاء إذا ﺎ د ﻮا‬

‫ وا‬...
‫ﺮ ﻮن‬

‫إ ﺪاه ﺎاﻷ ﺮى و‬

Artinya: “…Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang
laki-laki diantaramu. Jika tidak ada dua laki-laki, maka boleh
seorang lelaki dan orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu
ridhoi supaya jika seorang lupa maka seorang lagi
mengingatkannya. Janganlah saksi-saksi itu enggan (memberi
keterangan) apabila mereka dipanggil…” (Al-Baqaroh: 2 - 282).
Bagian akhir ayat tersebut menunjukkan bahwa seorang saksi tidak boleh
menolak diminta keterangannya. Sebab memberi kesaksian hukumnya adalah
“Fardhu Kifayah”.21 Sebab tuntutan untuk memberi atau mendatangkan
kesaksian bersifat pasti. 22 Allah SWT berfirman:

(283 :2: ‫ )ا ﺮة‬...
21

‫ﻜ ﻬﺎ ﺈ ءاﺛ‬

‫ و ﻜ ﻮا ا ﻬﺎدة و‬...

Fardhu Kifayah, ialah Suatu kewajiban yang harus dilakukan oleh sebagian orang, bila
tidak ada yang mengerjakan kewajiban tersebut maka seluruh penduduk wilayah tersebut berdosa.
Abdullah bin Muhammad. Terj—Abd. Ghaffar, Tafsir Ibnu Katsir, (Pustaka Imam asy- Syafi’I, 2001),
Cet. ke 1, Jilid 1, h. 565
22
Ahmad ad-Da’ur, terj- Syamsuddin Ramadlan., Hukum Pembuktian dalam Islam,
(Bogor : Pustaka Thariqul Izzah, 2002), Cet. ke- 1, h. 21

Artinya: “…dan janganlah kamu (para saksi) menyembunyikan persaksian.
Dan barang siapa yang menyembunyikannya, maka sesungguhnya ia
adalah orang yang berdosa hatinya …”. (Al-Baqoroh/ 2 - 283).
Ada yang mengatakan bahwa hal itu merupakan pendapat Jumhur Ulama.
Sedangkan yang dimaksud dengan bagian akhir ayat diatas, yakni untuk
melaksanakan kesaksian, karena hakekat mereka sebagai saksi. Seorang saksi
hakekatnya adalah pihak yang bertanggung jawab. Jika dipanggil, maka ia
berkewajiban untuk memenuhinya. Jadi hal itu sebagai Fardhu ‘Ain. Jika
tidak,23 maka berkedudukan sebagai Fardhu Kifayah.
Menurut al-Jauhari dalam kitab Subulus Salam, Juz IV yang dikutip oleh
Abdur Rahman Umar mengatakan :
24

‫ﺮ‬

‫ﺎهﺪ ﺎ ﺎب‬

‫ا ﻬﺎدة و ﺆد ﻬﺎﻷ‬

‫وا ﺎهﺪ ﺎ‬

Artinya: “Saksi adalah orang yang mempertanggung jawabkan kesaksian dan
mengemukakannya, karena dia menyaksikan sesuatu (peristiwa)
yang orang lain tidak menyaksikannya”.
Saksi adalah orang yang memberikan keterangan atau kesaksian didepan
pengadilan mengenai apa yang mereka ketahui, lihat sendiri, dengar sendiri,
yang dengan kesaksian itu akan menjadi jelas suatu perkara. Menurut sifatnya
saksi dapat dibagi dua bagian antara lain:
1. Saksi kebetulan
Saksi kebetulan adalah saksi yang kebetulan melihat, mengalami atau
mendengar sendiri peristiwa-peristiwa yang menjadi perkara. Saksi
23

Fardhu ‘ain, ialah kewajiban yang harus dilakukan oleh tiap orang yang mukallaf
(dewasa). Abd. Ghaffar, Ibid
24
Abdur Rahman Umar, Kedudukan Saksi dalam Peradilan Menurut Hukum Islam,
(Jakarta: Pustaka Al-Husna, 1986), Cet. I h. 37

demikian misalnya para tetangga, orang yang secara kebetulan melihat
ataupun mendengar peristiwa tersebut.
2. Saksi Sengaja
Saksi sengaja adalah saksi yang pada perbuatan hukum itu dilakukan
sengaja telah meminta untuk menyaksikannya, misalnya kepala desa,
camat, notaris dan lain-lain.25
2. Macam-macam dan Syarat-syarat Saksi
Para Ulama Menetapkan, bahwa dalam hal ini diperlukan jumlah bilangan
saksi. Karena ini termasuk urusan ta’abudi, walaupun menurut logika,
kebenaran itu berdasarkan keadilan dan kejujuran orang yang memberi
kesaksian itu, bukan kepada jumlah bilangan saksi.
a. Macam-macam saksi
Dengan demikian macam-macam saksi tersebut dapat dibedakan
sebagai berikut:
1. Kesaksian empat orang laki-laki
Seluruh madzhab menetapkan bahwa dalam masalah zina
diharuskan adanya empat orang saksi. Ketentuan ini ditegaskan oleh
al-Qur’an sendiri:

(15 :4/‫ )ا ﺎء‬... ‫ﻬ أر ﺔ ﻜ‬

25

‫ﻬﺪوا‬

‫ﺎﻜ ﺎ‬

‫ﺔ‬

‫ا ﺎ‬

‫ﺄ‬

‫وا‬

Darwan Prinst, Strategi Menyusun dan Menganani Perdata, (Bandung: PT. Citra
Aditya Bakti, 2002), h. 180

Artinya: “Dan (terhadap) para wanita yang mengerjakan perbuatan
keji, hendaklah ada empat orang saksi diantara kamu (yang
menyaksikannya)”. (An-Nisaa/ 4-15).

‫ﺄ ﻮا ﺄر ﺔ ﻬﺪاء ﺎ ﺪوه ﺛ ﺎ‬

‫ﺎت ﺛ‬

‫ﺮ ﻮن ا‬
‫وا ﺬ‬
(4 /24 :‫ )ا ﻮر‬... ‫ﺪة‬

Artinya: “Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baikbaik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat
orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu)
delapan puluh kali dera. … (An-Nuur/ 24-4).
Nabi Muhammad SAW bersabda:

‫ﻮ‬

‫ أرا‬:

‫و‬

‫ﻰ اﷲ‬

‫ﺎدة ﺎل ﺮ ﻮل اﷲ‬

‫ ﺎل ر ﻮل اﷲ‬.‫ﻰ ا ﻰ ﺄر ﺔ ﻬﺪاء‬
(‫ﻚ‬

26

‫اﻬ‬
‫)روا‬.

‫ا ﺮأ ﻰ ر‬
:

‫و‬

‫ﺪ‬
‫و ﺪت‬
‫ﻰ اﷲ‬

Artinya: “Dari Sa’id bin Ubadah, ia berkata kepada Rasulullah:
sependapatkah engkau andai kata aku mendapati laki-laki
lain bersama istriku lalu kutunda dahulu (menuduh istriku
lalu berbuat zina) sampai aku mendapatkan empat orang
saksi laki-laki? Nabi Muhammad SAW menjawab: ya !”.
(H.R. Imam Malik).
Berdasarkan dalil-dalil diatas, jelaslah bahwa untuk dapat
membuktikan seseorang telah berbuat zina diharuskan mendatangkan
empat orang saksi laki-laki yang benar-benar menyaksikan perbuatan
zina tersebut. Hukuman zina baru dapat dilaksanakan apabila telah
memenuhi empat orang saksi laki-laki.

26

Sulaiman bin al-Asy ‘as Abu Daud al-Sajastani al-Azadi, Sunan Abu Daud, (Mesir:
Daarul Fikr) tt., Juz 2, h. 589

2. Kesaksian tiga orang laki-laki
Kesaksian tiga orang laki-laki diperlukan untuk membuktikan
bahwa benar seseorang yang telah diketahui oleh masyarakat adalah
orang kaya yang jatuh pailit.27
Berdasarkan hadits yang diriwayatkan oleh Qubaidhah bin
Mukhariq yang berbunyi:

‫ﺎل‬
‫ﺪ‬

‫ا‬
‫ﻮ‬

‫ﺎﺔ ﺄ‬
‫ﻰ‬
28

‫ذوى ا‬

:‫ﻰ ﺎل‬

‫ﺎرق ا ﻬ‬

‫ﺎ ﺔ ﻰ ﻮل ﺛ ﺛﺔ‬

(‫ )روا ا ﻮداود‬... ‫ﺔ‬

‫ا‬

‫ﺔ‬
‫ا ﺎ‬

‫ ور‬...

‫ﺎا ﺎ ﺔ‬

‫ا ﺎ‬

Artinya: “Dari Qubaidhah bin Mukhariq Al-Hilali, Ia berkata: aku
menagguh suatu penderitaan (permasalahan) lalu aku
mendatangi Nabi (untuk mengadukannya). Maka Nabi
bersabda: … dan seseorang yang jatuh pailit, sampai
berkata tiga orang laki-laki dari kaumnya: sesungguhnya si
fulan telah jatuh pailit. Maka dengan demikian lepaslah si
fulan dari persoalannya itu (kewajiban berzakat)”. (H.R Abu
Daud).
3. Kesaksian dua orang laki-laki tanpa wanita
Dalam masalah selain zina dan pembunuhan, cukuplah dua orang
saksi saja. Seluruh madzhab sependapat dalam masalah ini. Mereka
berpegang pada ayat Al-Qur’an dan Hadits:

‫ﺔ‬

‫اﻮ‬

‫ﺮ أ ﺪآ ا ﻮت‬

(106: 5:‫ )ا ﺎ ﺪة‬... ‫ﺮآ‬

27
28

‫ﻜ إذا‬

‫ءا ﻮا ﻬﺎدة‬

‫ﺎأ ﻬﺎ ا ﺬ‬

‫اﺛ ﺎن ذوا ﺪل ﻜ أو ءا ﺮان‬

Abdur Rahman Umar, Ibid, h. 59
Abu Daud, As-Sunan, (Mesir: Mustafa al-Babil Halabi, 1371 H / 1952 M), Juz 3, h. 59

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, apabila salah seorang kamu
menghadapi kematian, sedang dia akan berwasiat, maka
hendaklah (wasiat itu) disaksikan oleh dua orang yang adil
diantara kamu, atau dua orang yang berlainan agama
dengan kamu …”(Al-Maidah/5: 106).
Dan hadits Nabi mengatakan:

:

‫و‬

‫ﻰ اﷲ‬

‫ ﺎل ر ﻮل اﷲ‬: ‫ﻬﺎ ﺎ‬
(‫ﻰ‬

29

‫اﷲ‬

‫ )روا‬.‫ﺮ ﺪ و ﺎهﺪي ﺪل‬

‫ﺎ ﺔر‬
‫ﻮ‬

‫ﻜﺎح ا‬

Artinya: “Dari Aisyah ra ia berkata: bersabda Rosulullah SAW tidak
sah nikah kecuali dengan wali dan dua orang saksi yang
adil. (HR. al-Bayhaqi).
Kesaksian dua orang laki-laki yang tidak adil, diperlukan oleh
seluruh fuqoha dalam segala rupa hukuman had, terkecuali zina. Dan
diperlukan pula dua saksi laki-laki oleh Malik dan Ahmad dalam
masalah-masalah yang biasanya hanya disaksikan oleh laki-laki seperti
perkawinan dan perceraian. Dalam hal ini, dan Ahmad tidak menerima
kesaksian wanita. Dalam pada itu Atha Hammad dan Imam Daud azZahiri menerimanya.30
4. Kesaksian dua orang lelaki, atau seorang lelaki dua orang wanita
Jumlah kesaksian ini adalah berdasarkan Al-Qur’an mengenai
kesaksian utang piutang yang ditentukan waktu pembayarannya. Allah
SWT berfirman:

29

Baihaqi al-Jalil Abi Bakr Ahmad ibn Ali al-Bayhaqi, al-Sunan al-Kubra, (Beirut: Dar
al-Sadir, tt), Jilid 7, h. 125
30
T. M. Hasby Ash-Shiddieqy, Ibid., h. 120-121

‫ﺮ‬

‫ﻜﻮ ﺎ ر‬

‫ﺈن‬

‫ر ﺎﻜ‬

‫ﻬﺪ‬

‫ﻬﺪوا‬

‫ وا‬...

(282 :2 : ‫ )ا ﺮة‬...‫وا ﺮأ ﺎن‬
Artinya: …“Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi (diantara
kamu), jika tidak ada dua orang laki-laki, maka (boleh)
seorang laki dan dua orang wanita…. (Al-Baqarah/ 2: 282).
Berdasarkan ayat ini, seluruh mazhab menerima kesaksian ini
dalam masalah harta, seperti jual beli, hutang piutang dan sebagainya.
Golongan Hanafiah menerima kesaksian ini dalam segala urusan
perdata, baik mengenai harta maupun nikah dan talak. Dalam pada itu,
tidak diterima terhadap hak-hak Allah yaitu dalam masalah-masalah
pidana.31
5. Kesaksian Khusus Wanita
Semua mazhab menerima kesaksian wanita yang tidak disertai
laki-laki, hanya saja terbatas dalam hal-hal yang pada lazimnya
diketahui oleh wanita saja dan tidak dapat dilihat oleh orang laki-laki.
Seperti peristiwa kelahiran bayi, keperawanan, cacat pada tubuh
wanita sebagainya.
Para ulama berselisih tentang ketentuan jumlahnya: mazhab Hanafi
dan Hambali mencukupkan kesaksian seorang wanita. Sementara
Imam Malik dan Syafi’I mengharuskan paling sedikit adanya empat
orang saksi wanita. Pendapat ini berdasarkan pertimbangan bahwa
kedudukan wanita sama dengan dua orang saksi laki-laki, dimana
31

Ibid., h. 121

Allah telah memerintahkan adanya kesaksian dua orang laki-laki
dalam perkara-perkara selain zina.
Imam-imam lain mengatakan, ketentuan saksi wanita itu adalah
dua orang. Tapi dalam masalah penyusuan bayi pada saat
kelahirannya,

terjadi

pula

perbedaan

pendapat.

Abdurrahman

mengatakan, bahwa Imam Syafi’i:
“Tetap mengharuskan adanya saksi empat orang wanita dan dapat
menerima kesaksian wanita yang menyusukan dengan tiga wanita
lainnya. Sedangkan Ibnu Abbas dan Imam Ahmad bin Hanbal
menerima kesaksian wanita yang menyusukan anak tersebut
sendirinya”.32
Berdasarkan hadits dari Uqabah:

‫ﺎءت‬
‫ﺎل‬

‫ا ﺮاة‬
‫و‬

‫ ﺰو‬:‫ﺎل‬
‫اﷲ‬
‫ا ﺎرث ر‬
‫ﻰ اﷲ‬
‫ا‬
‫ا ﺮاة ﺎ ا ﻰ ﺪار ﻜ ﺎ ﺎ‬
33
(‫وآ و ﺪ د ﻬﺎ ﻚ او ﻮ )روا ا ﺎرى‬

Artinya: “Dari Uqbah bin Haris RA: ia berkata aku mengawini
seorang wanita, lalu datang seorang wanita yang berkata:
sesungguhnya aku telah menyusukan kamu berdua. Lantas
aku menghadap kepada Nabi SAW. Lalu beliau bersabda:
bagaimana jadinya, sedangkan wanita itu telah
mengatakannya. Tinggalkanlah (ceraikan) istrimu atau
perkataan lain seperti itu”. (H.R Bukhori).

32

Abdur Rahman Umar, Ibid, h. 67
Ahmad bin Husein bin Ali bin Musa Abu Bakar al-Baihaqi, Sunan al-Baihaqi alKubra, (Mekkah al-Mukarromah: Maktabah Daarul Baaz, 1994), Juz 7, h. 463
33

Adapun Imam Malik dalam masalah ini mencukupkan kesaksian
dua orang wanita. Imam Abu Hanifah menilai, penyusuan anak
termasuk hak-hak badan yang dapat diketahui laki-laki atau seorang
laki-laki dengan dua orang wanita. Kesaksian wanita yang
menyusukan itu saja tidak cukup karena hal itu hanya pengakuan
terhadap perbuatannya.34
Uraian-uraian diatas menyatakan bahwa kesaksian khusus wanita
adalah diterima dalam hal-hal tertentu yang dapat dilihat oleh wanita
saja. Dan kesaksian wanita dipandang setengah dari kesaksian lakilaki.
6. Kesaksian seorang laki-laki dan sumpah si penggugat.
7. Kesaksian seorang laki-laki.
b. Syarat-syarat
1. Islam
Dalam suatu kesaksian diperlukan syarat-syarat yang sesuai
dengan ketentuan, sehingga kesaksian tersebut dapat diterima, dalam
hal ini para ahli hukum Islam telah memberikan persyaratan yang
harus dipenuhi bagi orang saksi. Sebagai hasil dari ijtihad yang
dilakukan, sudah barang tentu terdapat perbedaan di sana-sini yang
terlepas dari faktor sosio-kultural pada waktu itu.

34

Ibid., h. 68

Secara umum ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi dalam
hal kesaksian dan berlaku sama terhadap setiap perkara yang
memerlukan saksi sebagai alat bukti.35
Saksi adalah benar-benar orang yang wajar serta telah dikenal
kejujurannya sebagai saksi, dan telah berulang-ulang melaksanakan
tugas tersebut. Dengan demikian tidak ada keraguan menyangkut
kesaksiannya. Sebagaimana firman Allah SWT:

‫ﺮ‬

‫ﻜﻮ ﺎ ر‬

‫ﺈن‬

‫ر ﺎﻜ‬

(282 :2 /‫ )ا ﺮة‬... ‫ا ﻬﺪاء‬

‫ﻬﺪ‬
‫ﺮ ﻮن‬

‫ﻬﺪوا‬

‫ وا‬...
‫وا ﺮأ ﺎن‬

Artinya: “…Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orangorang laki-laki diantaramu. Jika tidak ada dua laki-laki,
maka boleh seorang lelaki dan orang perempuan dari saksisaksi yang kamu ridhoi…” (QS. al-Baqaroh/ 2 - 282).
Prof. M. Quraish Shihab dalam Tafsir al-Misbah menjelaskan
bahwa yang dimaksud dua orang saksi sebagaimana yang telah
disebutkan pada ayat diatas adalah saksi-saksi laki-laki yang
merupakan anggota masyarakat Muslim.36 Dengan demikian syarat
keharusan beragama Islam sangat penting terhadap suatu kesaksian
karena nilai-nilai agama dapat mempengaruhi tinggi rendahnya moral
seseorang.
2. Baligh

35
36

h. 566

Abdur Rahman Umar, Ibid, h. 43-52
M. Quraish Shihab, Tafsir al-Mishbah, (Jakarta: Lentera Hati, 2000), Cet. ke-1, Vol. 1,

Baligh adalah syarat diterimanya kesaksian, karena kedewasaan
telah mampu untuk berfikir dan bertindak secara sadar dan baik, dalam
segala tindakannya. Allah berfirman:

(282/2:‫ )ا ﺮة‬... ‫ر ﺎ ﻜ‬

‫ﻬﺪوا ﻬﺪ‬

‫ وا‬...

Artinya: “… dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang
laki-laki (diantara kamu)”… (Q. S Al-Baqarah/ 2: 282).
Pemakaian lafadz

‫اﺮ‬

menunjukkan pengertian orang yang

sudah baligh, bukan anak-anak.37 Sedangkan untuk laki-laki yang
belim baligh, anak-anak dalam istilah Arab dikenal dengan

.

3. Berakal
Orang gila tidak dapat menjadi saksi, apabila untuk menerima
kesaksian. Karena orang gila adalah orang yang setiap tindakannya
tidak dapat mempertimbangkan dengan akalnya. Disamping itu, akal
yang sehat pun tidak dapat menerima kesaksian mereka, serta mereka
jelas bukan termasuk orang yang disenangi untuk menjadi saksi. Allah
berfirman:

(282/2:‫ )ا ﺮة‬... ‫ا ﻬﺪاء‬

‫ﺮ ﻮن‬

...

Artinya: “… dari saksi-saksi yang kamu ridhoi”… (Q.S Al-baqarah: 2
: 282)
4. Adil
Sifat adil dijadikan sebagai persyaratan untuk menjadi saksi sesuai
dengan firman Allah:
37

Abdur Rahman Umar, Ibid, h. 48

(2:65:‫وا ﻬﺪواذوي ﺪل ﻜ وا ﻮاا ﻬﺎدة ﷲ )ا ﻄ ق‬
Artinya: “…dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil
diantara kamu”… (Q.S Ath-thalak: 65: 2).
5. Dapat Berbicara
Seorang saksi sudah seharusnya orang yang dapat berbicara untuk
dapat menyampaikan dan menerangkan kepada hakim yang telah
disaksikannya. Oleh karena itu, dapatnya saksi berbicara adalah sangat
penting dan merupakan suatu keharusan.
Namun demikian, para ulama berbeda pendapat tentang kesaksian
orang bisu yang isyaratnya dapat dipahami dan pandai menulis,
diantaranya ialah:38
a).

Madzhab Hambali: tidak menerima dengan isyarat walaupun
dimengerti, tetapi menerima bila ia sanggup menulis;

b).

Madzhab Maliki: dapat menerima kesaksian orang bisu yang
dapat dimengerti isyaratnya;

c). Madzhab Syafi’I: dalam madzhab ini ada beberapa pendapat,
pertama dapat

menerima dengan isyaratnya, dalam masalah

perkawinan dan thalak. Adapun yang tidak menerimanya, oleh
karena itu isyarat orang bisu hanya bisa diterima dalam keadaan
darurat;

38

Ibid., h. 51-52

d). Madzhab Hanafi: tidak menerima baik dengan isyarat maupun ia
pandai menulis.
6. Baik Ingatan dan Teliti
Kesaksian bagi orang yang daya ingatnya sudah tidak normal,
pelupa dan sering salah, maka jelas kesaksian ini diragukan
kebenarannya. Sebab hal ini akan banyak mempengaruhi ketelitiannya
baik dalam ingatan maupun mengemukakan kesaksiannya. Maka
kesaksiannya tidak dapat dipegang.
7. Tidak Tuhmah
Yang dimaksud dengan tidak tuhmah disini adalah tidak ada
sangkaan buruk terhadap maksud baik dan kejujuran seseorang dalam
mengemukakan kesaksiannya.39 Karena tuhmah adalah orang yang
disangsikan dalam mengemukakan kesaksian, mungkin karena benci
atau karena terlalu sangat cintanya terhadap orang yang disaksikannya
seperti: Kesaksian Ayah terhadap anaknya atau kesaksian sesorang
terhadap musuhnya.
3. Hak-hak dan Tujuan saksi
a. Hak-hak
Disini akan dijelaskan bahwa ada dua bagian dalam hak-hak saksi,
diantaranya adalah:
1. Hak Allah

39

Ibid., h. 52

2. Hak Adami.
a. Hak Allah
Hak-hak Allah terbagi menjadi 3 macam, yaitu:
1. Tidak dapat diterima saksi yang kurang dari empat orang laki-laki.
Yaitu zina. Keempat orang laki-laki tersebut memandang
perbuatan zina dengan tujuan bersaksi.40
Allah SWT. berfirman:

(13 :‫ )ا ﻮر‬. ‫ﺄ ﻮا ﺄر ﺔ ﻬﺪاء ﺎ ﺪوه‬

‫ﺎت ﺛ‬

‫ﺮ ﻮن ا‬

‫وا ﺬ‬

Artinya: Dan Orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang
baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan
empat orang saksi, maka deralah mereka. (QS. An Nur:
4).
Dalam ayat diatas ditegaskan, bahwa tuduhan itu dapat
mengakibatkan dera karena tidak dapat mendatangkan empat orang
saksi, maka demikian pula zina, tidak bisa dianggap tanpa ada
empat orang saksi.
Allah SWT. berfirman:

. ‫ﻬ أر ﺔ ﻜ‬
(15:‫)ا ﺎء‬

‫ﻬﺪوا‬

‫ﺎﻜ ﺎ‬

‫ﺔ‬

‫ا ﺎ‬

‫ﺄ‬

‫وا‬

Artinya: Dan (terhadap) para wanita yang mengerjakan perbuatan
keji, hendaklah ada empat orang saksi diantara kamu
(yang menyaksikannya). (QS. An Nisa’: 15).

40

Musthafa Dieb al-Bigha, Fiqh Sunnah, (Surabaya: Insan Amanah, 1424 H), h. 512

Dan firman Allah dalam haditsul ifki, yaitu tuduhan terhadap
Aisyah RA. Telah berbuat serong:

‫ﺪ‬

‫ﺄ ﻮا ﺎ ﻬﺪاء ﺄو ﻚ‬

‫ﺄر ﺔ ﻬﺪاء ﺈذ‬

‫ﺎءوا‬

‫ﻮ‬

(13 :‫)ا ﻮر‬.‫ه ا ﻜﺎذ ﻮن‬
Artinya:

‫ا‬

Mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak
mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong
itu? Oleh karena mereka tidak mendatangkan saksisaksi maka mereka itulah pada sisi Allah orang-orang
yang dusta. (QS. A

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

119 3984 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1057 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 945 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 632 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 790 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1348 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

66 1253 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 825 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 1111 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1350 23