Hubungan Kualitas Tidur Dengan Intensitas Nyeri Pada Penderita Nyeri Punggung Bawah Dan Nyeri Kepala Primer

HUBUNGAN KUALITAS TIDUR DENGAN INTENSITAS
NYERI PADA PENDERITA NYERI PUNGGUNG BAWAH
DAN NYERI KEPALA PRIMER

TESIS

SARI THERESIA BUKIT
087112007

PROGRAM MAGISTER KEDOKTERAN KLINIK
SPESIALIS ILMU PENYAKIT SARAF
FAKULTAS KEDOKTERAN USU / RSUP.H. ADAM MALIK
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

HUBUNGAN KUALITAS TIDUR DENGAN INTENSITAS
NYERI PADA PENDERITA NYERI PUNGGUNG BAWAH
DAN NYERI KEPALA PRIMER

TESIS

Untuk Memperoleh Gelar Magister Kedokteran Klinik Spesialis Saraf
Pada Program Studi Magister Kedokteran Klinik Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara

Oleh

SARI THERESIA BUKIT
087112007

PROGRAM MAGISTER KEDOKTERAN KLINIK
SPESIALIS ILMU PENYAKIT SARAF
FAKULTAS KEDOKTERAN USU / RSUP.H. ADAM MALIK
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

Judul Tesis

: HUBUNGAN KUALITAS TIDUR DENGAN
INTENSITAS

NYERI

PADA

PENDERITA

NYERI NYERI PUNGGUNG BAWAH DAN
NYERI KEPALA PRIMER
Nama Mahasiswa

: Sari Theresia Bukit

Nomor Induk Mahasiswa : 087112007
Program Magister

: Magister Kedokteran Klinik

Konsentrasi

: Ilmu Penyakit Saraf

Menyetujui
Komisi Pembimbing

Prof. DR. dr. H. Hasan Sjahrir, SpS(K)
Ketua

Ketua Program Studi

Dr. Yuneldi Anwar, SpS(K)

Ketua TKP PPDS I

dr. Zainuddin Amir, Sp.P(K)

Universitas Sumatera Utara

Tanggal lulus : 14 Juni 2011

Telah diuji pada
Tanggal: 14 Juni 2011

PANITIA PENGUJI TESIS
1. Prof. DR. Dr. Hasan Sjahrir, SpS(K)
2. Prof. Dr. Darulkutni Nasution, SpS(K)
3. Dr. Darlan Djali Chan, SpS
4. Dr. Yuneldi Anwar, SpS(K)
5. Dr. Rusli Dhanu, SpS(K)
6. Dr. Kiking Ritarwan, MKT, SpS(K)
7. Dr. Aldy S. Rambe, SpS(K)
8. Dr. Puji Pinta O. Sinurat, SpS
9. Dr. Khairul P. Surbakti, SpS
10. Dr. Cut Aria Arina, SpS
11. Dr. Kiki M. Iqbal, SpS
12. Dr. Alfansuri Kadri, SpS
13. Dr. Dina Listyaningrum, SpS, Msi. Med
14. Dr. Aida Fitri, SpS

Universitas Sumatera Utara

PERNYATAAN

HUBUNGAN KUALITAS TIDUR DENGAN INTENSITAS NYERI PADA
PENDERITA NYERI PUNGGUNG BAWAH DAN NYERI KEPALA PRIMER

TESIS

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang
pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan disuatu perguruan
tinggi, dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau
pendapat yang pernah dituliskan atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang
secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Medan, 14 Juni 2011

SARI THERESIA BUKIT

Universitas Sumatera Utara

UCAPAN TERIMA KASIH

Puji dan syukur saya panjatkan kepada Allah Yang Maha Kuasa atas
segala berkah, rahmat dan kasihNya yang telah memberikan kesempatan
untuk menyelesaikan penulisan tesis ini.
Tulisan ini dibuat untuk memenuhi persyaratan dan merupakan salah
satu tugas akhir dalam program pendidikan spesialis di Bidang Ilmu Penyakit
Saraf di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara / Rumah Sakit
Umum Pusat H. Adam Malik Medan.
Dengan segala keterbatasan, penulis menyadari dalam penelitian dan
penulisan tesis ini masih dijumpai banyak kekurangan, oleh sebab itu dengan
segala kerendahan hati, penulis mengharapkan masukan yang berharga dari
semua pihak untuk kebaikan dimasa yang akan datang.
Pada kesempatan ini perkenankan penulis menyatakan penghargaan
dan ucapan terimakasih yang sebesar-besarnya, kepada :
Yang terhormat Rektor Universitas Sumatera Utara, Prof. DR. Dr. H.
Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc (CTM), Sp.A(K), atas kesempatan dan
fasilitas yang diberikan kepada penulis untuk mengikuti dan menyelesaikan
Program Pendidikan Magister Kedokteran Klinik Spesialis Ilmu Penyakit Saraf
di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Yang terhormat Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera
Utara Prof. Dr. Gontar Alamsyah Siregar, Sp.PD(KGEH), atas kesempatan
dan

fasilitas

yang

diberikan

kepada

penulis

untuk

mengikuti

dan

menyelesaikan Program Pendidikan Magister Kedokteran Klinik Spesialis
Ilmu Penyakit Saraf di Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.
Yang terhormat Prof. DR. dr. Hasan Sjahrir, Sp.S(K) (Ketua
Departemen Neurologi Fakultas Kedokteran USU saat penulis diterima
sebagai PPDS), yang telah menerima saya untuk menjadi peserta didik serta
memberikan bimbingan selama mengikuti Program Pendidikan Magister
Kedokteran Klinik Spesialis Ilmu Penyakit Saraf ini.

Universitas Sumatera Utara

Yang terhormat Ketua Departemen / SMF Ilmu Penyakit Saraf Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatera Utara dr. Rusli Dhanu, Sp.S(K), yang telah
memberikan kesempatan, kepercayaan serta bimbingan selama mengikuti
Program Pendidikan Magister Kedokteran Klinik Spesialis Ilmu Penyakit Saraf
ini.
Yang terhormat Ketua Program Studi Departemen Neurologi Fakultas
Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Dr. Yuneldi Anwar, Sp.S(K) yang
telah memberikan kesempatan serta bimbingan dan arahan dalam menjalani
Program Pendidikan Magister Kedokteran Klinik Spesialis Ilmu Penyakit Saraf
ini.
Terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya penulis
sampaikan kepada Dr. Rusli Dhanu, Sp.S(K) dan Prof. DR. Dr. Hasan Sjahrir,
Sp.S(K), selaku pembimbing yang dengan sepenuh hati telah mendorong,
membimbing dan mengarahkan penulis mulai dari perencanaan, pembuatan
dan penyelesaian tesis ini.
Kepada guru-guru penulis: Prof. Dr. H. Darulkutni Nasution, Sp.S(K);
Dr. Darlan Djali Chan, Sp.S; Dr. Kiking Ritarwan, MKT, Sp.S(K); Dr. Aldy S.
Rambe, Sp.S(K); Dr. Irsan NHN. Lubis, Sp.S; Dr. Puji Pinta O. Sinurat, Sp.S;
Dr. Khairul P. Surbakti, Sp.S; Dr. Iskandar Nasution, Sp.S; Dr. Cut Aria Arina,
Sp.S; Dr. Irwansyah, Sp.S; Dr. Kiki M. Iqbal, Sp.S; dr Alfansuri Kadri, Sp.S; dr
Dina Listyaningsum, Sp.S, M.Si. Med; dr Aida Fitri, Sp.S dan lain-lain yang
tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, baik di Departemen Neurologi
maupun Departemen / SMF lainnya di lingkungan FK – USU / RSUP. H.
Adam Malik Medan, terima kasih yang setulus-tulusnya penulis sampaikan
atas segala bimbingan dan didikan yang telah penulis terima.
Kepada Drs. Abdul Jalil A. A, M.Kes, selaku pembimbing statistik yang
telah banyak membimbing, membantu dan meluangkan waktunya dalam
pembuatan tesis ini, penulis mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya.

Universitas Sumatera Utara

Direktur RSUP. H. Adam Malik Medan, yang telah memberikan
kesempatan, fasilitas dan suasana kerja yang baik sehingga penulis dapat
mengikuti Program Pendidikan Magister Kedokteran Klinik.
Ucapan terima kasih penulis kepada seluruh teman sejawat peserta
PPDS-I Departemen Neurologi FK-USU / RSUP. H. Adam Malik Medan, yang
banyak memberikan masukan berharga kepada penulis melalui diskusidiskusi dalam berbagai pertemuan formal maupun informal, serta selalu
memberikan dorongan-dorongan yang membangkitkan semangat kepada
penulis menyelesaikan Program Pendidikan Magister Kedokteran Klinik
Spesialis Ilmu Penyakit Saraf.
Ucapan terima kasih penulis kepada para perawat dan pegawai di
berbagai tempat dimana penulis pernah bertugas selama menjalani Program
Pendidikan Magister Kedokteran Klinik ini, serta berbagai pihak yang tidak
dapat penulis sebutkan satu persatu, yang telah banyak membantu penulis
dalam menjalani Program Pendidikan Magister Kedokteran Klinik Spesialis
Ilmu Penyakit Saraf.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada semua pasien nyeri
punggung bawah dan nyeri kepala primer yang telah bersedia berpartisipasi
secara sukarela dalam penelitian ini.
Ucapan terima kasih kepada kedua orang tua yang sangat penulis
hormati dan sayangi, Hubertus Sama Bukit dan Mariati Sembiring, yang
selalu memberikan dorongan, semangat dan nasehat serta doa restu kepada
penulis sejak lahir hingga saat ini.
Ucapan terimakasih juga penulis sampaikan kepada yang terhormat
tante-tante saya, Roslina Sembiring; drg. Martha Sembiring, Sp. Ort; Dra.
Kristina Sembiring, dan kepada kakek saya Drs. Wara Sinuhaji beserta nek
karo Rosa Sinuhaji atas nasehat, doa, dan dorongannya selama penulis
menyelesaikan pendidikan ini.
Kepada abang dan kakak saya, Darsah Bukit, BA; Editha Hariani
Sembiring; Rahmawati Bukit; dr. Irwansyah beserta seluruh keluarga yang
senantiasa membantu, memberi dorongan, pengertian, kasih sayang dan doa
dalam menyelesaikan pendidikan ini, penulis haturkan terima kasih yang
sebesar-besarnya.

Universitas Sumatera Utara

Kepada semua rekan dan sahabat yang tidak mungkin saya sebutkan
satu persatu yang telah membantu saya sekecil apapun, saya haturkan
terima kasih yang sebesar-besarnya, semoga Tuhan melimpahkan rahmat
dan kasihnya kepada kita semua. Akhirnya penulis mengharapkan semoga
penelitian dan tulisan ini bermanfaat bagi kita semua. Amin.

Penulis

Dr. Sari Theresia Bukit

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Latar Belakang: Gangguan tidur merupakan keluhan yang paling sering
ditemukan pada penderita nyeri punggung bawah dan nyeri kepala primer.
Peningkatan intensitas nyeri dapat mengakibatkan peningkatan gangguan
tidur, seperti memburuknya kualitas tidur.
Tujuan: Untuk mengetahui hubungan kualitas tidur dengan intensitas nyeri
pada penderita nyeri punggung bawah dan nyeri kepala primer.
Metode: Studi observasional dengan metode pengumpulan data secara cross
sectional, di Poliklinik Neurologi RSUP H. Adam Malik Medan. Setiap pasien
dinilai kualitas tidurnya berdasarkan Pittsburgh Sleep Quality Index, dan
intensitas nyeri berdasarkan Visual Analog Scale.
Hasil: Terdapat 23 pasien nyeri punggung bawah dan nyeri kepala primer,
dimana persentase penderita nyeri punggung bawah dan nyeri kepala primer
lebih banyak pada wanita (65,2%) dibandingkan pria (34,8%). Penyebab nyeri
punggung bawah yang terbanyak adalah spondylosis lumbalis (87%),
sedangkan nyeri kepala primer yang terbanyak adalah chronic tension type
headache (78,3%). Uji Gamma menunjukkan hubungan yang signifikan
antara kualitas tidur dengan intensitas nyeri pada penderita nyeri punggung
bawah (r= 0,906; p= 0,006) dan ditemukan hubungan yang tidak signifikan
antara kualitas tidur dengan intensitas nyeri pada penderita nyeri kepala
primer (r= 0,684; p= 0,059).
Kesimpulan: Peningkatan intensitas nyeri pada penderita nyeri punggung
bawah dan nyeri kepala primer dapat mengakibatkan kualitas tidur yang
semakin memburuk.
Kata Kunci: kualitas tidur, intensitas nyeri, nyeri punggung bawah, nyeri
kepala primer.

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT

Background: Sleep disturbances are the most common complaint of low
back pain and primary headache patients. Increasing of pain intensity could
have impact on increasing sleep disturbances, such as poor quality of sleep.
Objective: To find out the correlation between quality of sleep and pain
intensity in low back pain and primary headache patients.
Methods: This cross sectional study observed patients at Polyclinic of
Neurology RSUP H. Adam Malik Medan. Sleep quality of every patient was
assessed using Pittsburgh Sleep Quality Index, and pain intensity using
Visual Analog Scale.
Results: There were 23 patients who suffered from low back pain and
primary headache, where the percentage of low back pain and primary
headache mostly found in women (65,2%) than in men (34,8%). The most
common etiology of low back pain were spondylosis lumbalis (87%), while in
primary headache were chronic tension type headache. Gamma test showed
significant between quality of sleep and pain intensity in low back pain (r=
0,906; p= 0,006) and non-significant between quality of sleep and pain
intensity in primary headache patients (r= 0,684; p= 0,059).
Conclusions: Increasing pain intensity in low back pain and primary
headache patients had an impact on the worsening of sleep quality.
Key word: quality of sleep, pain intensity, low back pain, primary headache

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
HALAMAN
Lembar Pengesahan Tesis ......................................................................... ii
Ucapan Terima Kasih .................................................................................. v
Abstrak......................................................................................................... ix
Abstract........................................................................................................ x
Daftar Isi ..................................................................................................... xi
Daftar Singkatan .......................................................................................... xiv
Daftar Gambar ............................................................................................. xv
Daftar Tabel ................................................................................................. xvi
BAB I. PENDAHULUAN............................................................................... 1
I.1. Latar Belakang ............................................................................ 1
I.2. Perumusan Masalah.................................................................... 5
1.3. Tujuan Penelitian........................................................................ 5
1.4. Hipotesis..................................................................................... 6
1.5. Manfaat Penelitian...................................................................... 6
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ..................................................................... 7
II.1. Nyeri Punggung Bawah.............................................................. 7
II.1.1. Defenisi ........................................................................... 7
II.1.2. Epidemiologi ................................................................... 8
II.1.3. Faktor Resiko.................................................................. 8
II.1.4. Etiologi ............................................................................ 9
II.1.5. Patofisiologi..................................................................... 10
II.2. Nyeri Kepala............................................................................... 11
II.2.1. Defenisi ........................................................................... 11
II.2.2. Epidemiologi ................................................................... 12
II.2.3. Klasifikasi Nyeri Kepala................................................... 12
II.2.4. Klasifikasi Nyeri Kepala Primer ....................................... 13
II.2.5. Patofisiologi Nyeri Kepala Primer.................................... 14
II.3. Tidur ........................................................................................... 17
II.3.1. Defenisi ........................................................................... 17
II.3.2. Arsitektur Tidur................................................................ 17
II.3.3. Siklus Tidur ..................................................................... 18
II.3.4. Kebutuhan Tidur ............................................................. 19
II.3.5. Gangguan Tidur .............................................................. 19
II.3.6. Siklus Tidur Bangun........................................................ 20
II.4. Tidur dan Nyeri Punggung Bawah.............................................. 22
II.5. Tidur dan Nyeri Kepala Primer ................................................... 24
II.6. Kerangka Teori........................................................................... 26
II.7. Kerangka Konsepsional ............................................................. 27
BAB III. METODE PENELITIAN................................................................... 28
III.1. Tempat dan Waktu .................................................................... 28
III.2. Subjek Penelitian....................................................................... 28
III.2.1. Populasi Sasaran........................................................... 28
III.2.2. Populasi Terjangkau ...................................................... 28

Universitas Sumatera Utara

III.2.3. Besar Sampel ................................................................ 28
III.2.4. Kriteria Inklusi ................................................................ 29
III.2.5. Kriteria Eksklusi ............................................................. 29
III.3. Batasan Operasional ................................................................. 30
III.4. Instrumen Penelitian.................................................................. 31
III.5. Rancangan Penelitian ............................................................... 34
III.6. Pelaksanaan Penelitian ............................................................. 34
III.6.1. Pengambilan Sampel ..................................................... 34
III.6.2. Kerangka Operasional ................................................... 35
III.7. Variabel yang Diamati ............................................................... 36
III.8. Analisa Statistik ......................................................................... 36
BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN..................................... 37
IV.1. Hasil Penelitian ......................................................................... 37
IV.1.1. Karakteristik Subjek Penelitian..................................... 37
IV.1.1.1. Karakteristik Penderita Nyeri Punggung Bawah.. 37
IV.1.1.2. Karakteristik Penderita Nyeri Kepala Primer ....... 38
IV.1.2. Penyebab Nyeri Punggung Bawah dan
Nyeri Kepala Primer ..................................................... 42
IV.1.3. Intesitas nyeri pada nyeri punggung bawah
dan nyeri kepala primer................................................ 42
IV.1.3.1. Intensitas nyeri pada nyeri punggung bawah....... 42
IV.1.3.2. Intensitas nyeri pada nyeri kepala primer ............ 44
IV.1.4. Komponen kualitas tidur (PSQI) pada nyeri
punggung bawah dan nyeri kepala primer ................... 46
IV.1.4.1. Komponen kualitas tidur pada nyeri punggung
bawah................................................................... 46
IV.1.4.2. Komponen kualitas tidur pada nyeri
kepala primer ....................................................... 49
IV.1.5. Hubungan Kualitas Tidur dengan Intensitas Nyeri pada
Penderita Nyeri Punggung Bawah dan
Nyeri Kepala Primer ..................................................... 52
IV.1.5.1. Hubungan Kualitas Tidur dengan Intensitas Nyeri
Pada Penderita Nyeri Punggung Bawah ............. 52
IV.1.5.2. Hubungan Kualitas Tidur dengan Intensitas Nyeri
Pada Penderita Nyeri Kepala Primer ................... 53
IV.2. Pembahasan............................................................................. 54
IV.2.1. Karakteristik Subjek Penelitian..................................... 55
IV.2.1.1. Karakteristik Penderita Nyeri Punggung Bawah.. 55
IV.2.1.2. Karakteristik Penderita Nyeri Kepala Primer ....... 56
IV.2.2. Penyebab Nyeri Punggung Bawah dan
Nyeri Kepala Primer ..................................................... 58
IV.2.3. Intesitas nyeri pada nyeri punggung bawah
dan nyeri kepala primer................................................ 58
IV.2.3.1. Intensitas nyeri pada nyeri punggung bawah....... 58
IV.2.3.2. Intensitas nyeri pada nyeri kepala primer ............ 59
IV.2.4. Komponen kualitas tidur (PSQI) pada nyeri
punggung bawah dan nyeri kepala primer ................... 60
IV.2.4.1. Komponen kualitas tidur pada nyeri punggung
bawah.................................................................. 60

Universitas Sumatera Utara

IV.2.4.2. Komponen kualitas tidur pada nyeri
kepala primer ....................................................... 61
IV.2.5.

Hubungan Kualitas Tidur dengan Intensitas Nyeri pada
Penderita Nyeri Punggung Bawah dan
Nyeri Kepala Primer ........................................................... 62
IV.2.5.1. Hubungan Kualitas Tidur dengan Intensitas Nyeri
Pada Penderita Nyeri Punggung Bawah ............. 62
IV.2.4.2. Hubungan Kualitas Tidur dengan Intensitas Nyeri
Pada Penderita Nyeri Kepala Primer ................... 63

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................... 66
V.1. Kesimpulan ............................................................................... 66
V.2. Saran
............................................................................... 68

DAFTAR PUSTAKA..................................................................................... 69
LAMPIRAN
1.
Lembar Penjelasan Kepada Pasien
2.
Surat Persetujuan Ikut Dalam Penelitian
3.
Persetujuan Komite Etik
4.
Lembar Pengumpulan Data Penelitian
5.
Pittsburgh Sleep Quality Index
6.
Visual Analog Scale
7.
Karakteristik Data Pasien Nyeri Punggung Bawah
8.
Karakteristik Data Pasien Nyeri Kepala Primer
9.
Riwayat Hidup Peneliti

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR SINGKATAN
5-HT
Ach
CGRP
CTTH
EEG
ETTH
GABA
Gal
His
HNP
IHS
LC
LDT
LHA
MAPK
NA
NHIS
NPB
NREM
PPT
PSQI
PT
REM
SCN
SD
SLTP
SLTA
SSP
IL-1
SUNCT

:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:

SWS
TMN
TNF-α
VAS
VLPO

:
:
:
:
:

5 Hydroxytripthane
Acetylcholine
Calcitonin Gene Related Peptide
Chronic Tension Type Headache
Electroencephalography
Episodic Tension Type Headache
Gamma-aminobutyric acid
Galanin
Histamine
Hernia Nucleus Pulposus
International Headache Society
Locus Ceruleus
Laterodorsal Tegmental Nuclei
Lateral Hypothalamic Area
Mitogen-Activated Protein Kinase
Noradrenalin
National Health Interview Survey
Nyeri Punggung Bawah
Non Rapid Eye Movement
Pedunculopontine Tegmental
Pittsburg Sleep Quality Index
Perguruan Tinggi
Rapid Eye Movement
Suprachiasmatic Nucleus
Sekolah Dasar
Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama
Sekolah Lanjutan Tingkat Atas
Susunan Saraf Pusat
Interleukin-1
Short-lasting unilateral neuralgiform headache with
conjuctival injection and tearing
Slow Wave Sleep
Tuberomammilary Nucleus
Tumor Necrosis Factor-α
Visual Analog Scale
Venterolateral Preoptic

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR
Gambar 1.
Gambar 2.
Gambar 3.
Gambar 4.
Gambar 5.
Gambar 6.
Gambar 7.
Gambar 8.
Gambar 9.
Gambar 10.
Gambar 11.
Gambar 12.
Gambar 13.
Gambar 14.
Gambar 15.

Halaman
Regulasi CGRP pada trigeminal ganglia neuron
15
Sistem ascending arousal mengirimkan sinyal dari batang
21
otak dan hipothalamus posterior menuju seluruh forebrain
Diagram batang jenis kelamin penderita nyeri punggung
40
bawah dan nyeri kepala primer
Diagram batang pendidikan penderita nyeri punggung
40
bawah dan nyeri kepala primer
Diagram batang pekerjaan penderita nyeri punggung
41
bawah dan nyeri kepala primer
Diagram batang intensitas nyeri penderita nyeri punggung
41
bawah dan nyeri kepala primer
Diagram batang intensitas nyeri (VAS) pada nyeri punggung 44
bawah
Diagram batang intensitas nyeri (VAS) pada nyeri kepala
45
primer
Diagram batang gangguan tidur pada nyeri punggung
47
bawah
Diagram batang durasi tidur pada nyeri punggung bawah
48
Diagram batang latensi tidur pada nyeri punggung bawah
48
Diagram batang gangguan tidur pada nyeri kepala primer
50
Diagram batang durasi tidur pada nyeri kepala primer
51
Diagram batang latensi tidur pada nyeri kepala primer
51
Grafik Hubungan Kualitas Tidur dengan Intensitas Nyeri
53
pada Penderita Nyeri Punggung Bawah

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL
Tabel 1.
Tabel 2.
Tabel 3.
Tabel 4.
Tabel 5.
Tabel 6.
Tabel 7.
Tabel 8.
Tabel 9.
Tabel 10.
Tabel 11.

Halaman
Faktor Resiko Nyeri Punggung Bawah
9
Etiologi Nyeri Punggung Bawah
10
Kebutuhan tidur, Lama Tidur dan Stadium Tidur dengan Usia 19
Karakteristik Subjek Penelitian
39
Penyebab Nyeri Punggung Bawah dan Nyeri Kepala Primer
42
Intensitas nyeri (VAS) pada nyeri punggung bawah
43
Intensitas nyeri (VAS) pada nyeri kepala primer
45
Komponen kualitas tidur (PSQI) pada nyeri punggung bawah 47
Komponen kualitas tidur (PSQI) pada nyeri kepala primer
50
Hubungan kualitas tidur dengan intensitas nyeri pada
penderita nyeri punggung bawah
Hubungan kualitas tidur dengan intensitas nyeri pada
penderita nyeri kepala primer

52
54

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Latar Belakang: Gangguan tidur merupakan keluhan yang paling sering
ditemukan pada penderita nyeri punggung bawah dan nyeri kepala primer.
Peningkatan intensitas nyeri dapat mengakibatkan peningkatan gangguan
tidur, seperti memburuknya kualitas tidur.
Tujuan: Untuk mengetahui hubungan kualitas tidur dengan intensitas nyeri
pada penderita nyeri punggung bawah dan nyeri kepala primer.
Metode: Studi observasional dengan metode pengumpulan data secara cross
sectional, di Poliklinik Neurologi RSUP H. Adam Malik Medan. Setiap pasien
dinilai kualitas tidurnya berdasarkan Pittsburgh Sleep Quality Index, dan
intensitas nyeri berdasarkan Visual Analog Scale.
Hasil: Terdapat 23 pasien nyeri punggung bawah dan nyeri kepala primer,
dimana persentase penderita nyeri punggung bawah dan nyeri kepala primer
lebih banyak pada wanita (65,2%) dibandingkan pria (34,8%). Penyebab nyeri
punggung bawah yang terbanyak adalah spondylosis lumbalis (87%),
sedangkan nyeri kepala primer yang terbanyak adalah chronic tension type
headache (78,3%). Uji Gamma menunjukkan hubungan yang signifikan
antara kualitas tidur dengan intensitas nyeri pada penderita nyeri punggung
bawah (r= 0,906; p= 0,006) dan ditemukan hubungan yang tidak signifikan
antara kualitas tidur dengan intensitas nyeri pada penderita nyeri kepala
primer (r= 0,684; p= 0,059).
Kesimpulan: Peningkatan intensitas nyeri pada penderita nyeri punggung
bawah dan nyeri kepala primer dapat mengakibatkan kualitas tidur yang
semakin memburuk.
Kata Kunci: kualitas tidur, intensitas nyeri, nyeri punggung bawah, nyeri
kepala primer.

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT

Background: Sleep disturbances are the most common complaint of low
back pain and primary headache patients. Increasing of pain intensity could
have impact on increasing sleep disturbances, such as poor quality of sleep.
Objective: To find out the correlation between quality of sleep and pain
intensity in low back pain and primary headache patients.
Methods: This cross sectional study observed patients at Polyclinic of
Neurology RSUP H. Adam Malik Medan. Sleep quality of every patient was
assessed using Pittsburgh Sleep Quality Index, and pain intensity using
Visual Analog Scale.
Results: There were 23 patients who suffered from low back pain and
primary headache, where the percentage of low back pain and primary
headache mostly found in women (65,2%) than in men (34,8%). The most
common etiology of low back pain were spondylosis lumbalis (87%), while in
primary headache were chronic tension type headache. Gamma test showed
significant between quality of sleep and pain intensity in low back pain (r=
0,906; p= 0,006) and non-significant between quality of sleep and pain
intensity in primary headache patients (r= 0,684; p= 0,059).
Conclusions: Increasing pain intensity in low back pain and primary
headache patients had an impact on the worsening of sleep quality.
Key word: quality of sleep, pain intensity, low back pain, primary headache

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN

I.1.

Latar Belakang
Nyeri punggung bawah (NPB) sering disebut sebagai nyeri pinggang

atau low back pain merupakan keluhan yang sering dijumpai. Hampir 80%
penduduk di negara-negara industri pernah mengalami nyeri punggung
bawah (Sadeli dkk, 2001).
Penelitian cross-sectional pada 268 pasien yang berusia 18 tahun atau
lebih, yang dilakukan selama 6 bulan memperlihatkan hasil bahwa gangguan
tidur adalah hal yang umum ditemukan pada pasien-pasien yang dirawat
pada klinik rehabilitasi dengan diagnosis nyeri punggung bawah kronik. Lebih
jauh terdapat hubungan langsung antara intensitas nyeri dan derajat
gangguan tidur, yang bermanifestasi terutama pada penurunan kualitas tidur
(Marin dkk, 2006).
Studi kohort yang dilakukan pada tahun 1973-2000 diperoleh hasil
bahwa gangguan tidur sering dihubungkan dengan peningkatan probabilitas
rawatan inap di rumah sakit yang diakibatkan oleh nyeri punggung bawah
(Kangas dkk, 2006).
Penelitian kasus-kontrol yang meneliti kualitas tidur pada 101 pasien
dengan nyeri punggung bawah kronik memperlihatkan hubungan antara
intensitas nyeri punggung bawah kronik pada kehidupan sehari-hari dengan
beratnya gejala gangguan tidur ( Marty dkk, 2008).
Studi yang dilakukan pada 15 penderita nyeri punggung bawah kronik
dibandingkan dengan 15 orang kontrol diperoleh hasil bahwa 87% penderita

Universitas Sumatera Utara

nyeri punggung bawah kronik mengalami kualitas tidur yang buruk,
dibandingkan

dengan

kelompok

kontrol

dilaporkan

hanya

7%yang

mengalami kualitas tidur yang buruk (Donoghue dkk, 2009).
Penelitian yang dilakukan pada 70 penderita nyeri punggung bawah
kronik menemukan sebanyak 53% dari penderita nyeri punggung bawah
kronik menderita insomnia dan mencari pengobatan pada klinik-klinik nyeri
(Tang dkk, 2007)
Gangguan tidur diketahui meningkat kejadiannya pada kepustakaan
sebagai gejala-gejala yang penting secara klinis pada penderita nyeri
punggung bawah kronik. Ditemukan adanya peningkatan gangguan tidur
sebesar 55%

pada penderita nyeri punggung bawah kronik (Hurley dkk,

2010).
Nyeri kepala adalah suatu istilah sinonim yang paling tepat bagi istilah
kedokteran sefalgia, dimana pada orang awam sering disebut sebagai istilah
sakit kepala, pening dan lain-lainnya (Sjahrir, 2008).
Nyeri kepala menduduki komposisi jumlah pasien terbanyak yang
berobat jalan ke dokter saraf, ini dapat dibuktikan dari hasil pengamatan
insidensi jenis penyakit dari praktek klinik di Medan selama tahun 2003
didapati jumlah penderita sefalgia sebanyak 42% (Sjahrir, 2004).
Nyeri kepala merupakan nyeri yang paling sering dilaporkan pada
orang dewasa dan anak-anak. Menurut data yang didapat baru-baru ini dari
the National Health Interview Survey (NHIS) lebih dari 3,7 juta anak-anak dan
remaja yang berusia 4-17 tahun di Amerika menderita nyeri kepala yang
berlangsung selama lebih dari 12 bulan dalam satu periode waktu. Gangguan
tidur merupakan keluhan yang sering berhubungan dengan nyeri kepala

Universitas Sumatera Utara

primer. Disimpulkan bahwa peningkatan frekuensi dan intensitas nyeri kepala
dapat mengakibatkan peningkatan kejadian gangguan tidur termasuk
mengalami mimpi buruk, kesulitan untuk memulai tidur, terjaga sepanjang
malam, dan kualitas tidur yang buruk (Gilman dkk, 2007).
Ditemukan bahwa frekuensi nyeri kepala, intensitas nyeri kepala, dan
onset nyeri kepala memiliki hubungan yang signifikan dengan kebiasaan tidur
yang spesifik seperti mimpi buruk, kesulitan untuk memulai tidur dan kualitas
tidur yang buruk (Gilman dkk, 2007).
Penelitian Kelman dkk (2005) pada 1283 penderita migren ditemukan
bahwa gangguan tidur sering ditemukan pada pasien-pasien migren. Lebih
dari setengah penderita migren melaporkan mereka kadang-kadang kesulitan
untuk memulai dan mempertahankan tidur dan lebih dari sepertiga pasien
migren melaporkan kesulitan ini lebih sering dialaminya.
Miller dkk (2003) melakukan penelitian terhadap 118 anak-anak yang
berusia 2-12 tahun yang menderita migren menemukan bahwa penderita
migren mempunyai prevalensi yang tinggi terhadap gangguan tidur.
Frekuensi, durasi,dan intensitas nyeri pada penderita migren memiliki
hubungan yang signifikan dengan gangguan tidur yang spesifik, seperti durasi
tidur yang semakin pendek, somnabulisme, bruxisme dan kesulitan untuk
memulai tidur.
Boardman dkk (2005) menemukan bahwa masalah tidur berkaitan
dengan semua jenis nyeri kepala dan meningkatnya masalah gangguan tidur
berhubungan dengan meningkatnya frekuensi dan beratnya nyeri kepala.
Penelitian yang dilakukan pada 1073 anak-anak dan remaja yang
terdiri dari 50,89% laki-laki dan 49,11% wanita, menunjukkan hubungan

Universitas Sumatera Utara

antara nyeri kepala dan gangguan tidur, dimana penderita migren
memperlihatkan kualitas tidur yang buruk, dan keadaan mengantuk yang
berkepanjangan (Bruni dkk, 2008).
Carotenuto dkk (2005) melakukan penelitian nyeri kepala pada 170
anak-anak yang berusia antara 5-10 tahun, menemukan bahwa anak-anak
yang menderita migren mengalami gangguan tidur pada semua domain,
termasuk kesulitan untuk tertidur, durasi tidur yang makin pendek, rasa
mengantuk yang berkepanjangan dan gangguan tidur lainnya.
Kelman dan Rains (2005) melakukan investigasi pada 1283 penderita
migren dan dilakukan pemeriksaan fisik dan wawancara yang mengukur pola
tidur dimana pada penelitian ini menemukan bahwa keluhan tidur adalah hal
yang umum terjadi pada penderita migren. Lebih dari setengah penderita
migren dilaporkan kadang-kadang mengalami kesulitan memulai dan
mempertahankan tidur dan lebih sepertiga penderita migren melaporkan hal
ini sering dialaminya. Banyak dari penderita ini melaporkan pola tidur yang
semakin pendek, sama seperti yang dialami oleh pasien-pasien insomnia,
dengan 38% dari penderita migren mengalami tidur rata-rata 6 jam tiap
malam.

I.2.

Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang penelitian –penelitian terdahulu seperti

yang telah diuraikan di atas dirumuskanlah masalah sebagai berikut :
Apakah ada hubungan antara kualitas tidur dengan intensitas nyeri
pada penderita nyeri punggung bawah dan nyeri kepala primer?

Universitas Sumatera Utara

I.3.

Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan :

I.3.1. Tujuan Umum
Untuk mengetahui hubungan kualitas tidur dengan intensitas nyeri
pada penderita nyeri punggung bawah dan nyeri kepala primer
I.3.2. Tujuan Khusus
1.

Untuk mengetahui hubungan kualitas tidur dengan intensitas nyeri
pada penderita nyeri punggung bawah dan nyeri kepala primer di
RSUP H. Adam Malik Medan.

2.

Untuk mengetahui gambaran karakteristik demografik penderita nyeri
punggung bawah di RSUP H. Adam Malik Medan.

3.

Untuk mengetahui gambaran karakteristik demografik penderita nyeri
kepala primer di RSUP H. Adam Malik Medan.

I.4.

Hipotesis
1. Ada hubungan kualitas tidur dengan intensitas nyeri pada penderita

nyeri punggung bawah.
2. Ada hubungan kualitas tidur dengan intensitas nyeri pada penderita
nyeri kepala primer.

Universitas Sumatera Utara

I.5.

Manfaat Penelitian
1. Dengan mengetahui hubungan kualitas tidur dengan intensitas nyeri

pada penderita nyeri punggung bawah dan nyeri kepala primer dapat
diupayakan penatalaksanaan nyeri yang tepat.
2. Dengan mengetahui hubungan kualitas tidur dengan intensitas nyeri
pada penderita nyeri punggung bawah dan nyeri kepala primer dapat
memberi manfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan, khususnya di
bidang ilmu penyakit saraf, yaitu dengan memberi penyuluhan bagi penderita
nyeri punggung bawah dan nyeri kepala primer sehingga dapat mengurangi
angka kejadian gangguan tidur.
3. Dengan mengetahui hubungan kualitas tidur dengan intensitas nyeri
pada penderita nyeri punggung bawah dan nyeri kepala primer diharapkan
dapat menjadi acuan bagi pihak tenaga medis, baik dokter maupun perawat
sebagai strategi pencegahan kejadian gangguan tidur pada penderita nyeri
punggung bawah dan nyeri kepala primer.

Universitas Sumatera Utara

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1. NYERI PUNGGUNG BAWAH
II.1.1. Definisi
Nyeri punggung bawah adalah nyeri yang dirasakan di daerah
punggung bawah, dapat merupakan nyeri lokal maupun nyeri radikuler atau
keduanya. Nyeri ini terasa diantara sudut iga terbawah dan lipat bokong
bawah yaitu di daerah lumbal atau lumbo-sakral dan sering disertai dengan
penjalaran nyeri ke arah tungkai dan kaki. Nyeri yang berasal dari daerah
punggung bawah dapat dirujuk ke daerah lain atau sebaliknya nyeri yang
berasal dari daerah lain dirasakan di daerah punggung bawah (referred pain)
(Sadeli dkk, 2001).
Nyeri punggung bawah umumnya dikategorikan ke dalam akut,
subakut, dan kronik. Nyeri punggung bawah akut biasanya didefenisikan
suatu periode nyeri kurang dari 6 minggu, nyeri punggung bawah subakut
adalah suatu periode nyeri antara 6-12 minggu dan nyeri punggung bawah
kronik merupakan suatu periode nyeri lebih dari 12 minggu (van Tulder dkk,
2006).

Universitas Sumatera Utara

II.1.2. Epidemiologi
Hampir 80% penduduk di negara-negara industri pernah mengalami
nyeri punggung bawah. Di Amerika Serikat prevalensinya dalam satu tahun
berkisar antara 15%-20% sedangkan insidensi berdasarkan kunjungan pasien
baru ke dokter adalah 14,3%. Data epidemiologik mengenai nyeri punggung
bawah di Indonesia belum ada. Diperkirakan 40% penduduk Jawa Tengah
berusia diatas 65 tahun pernah menderita nyeri pinggang dan prevalensinya
pada laki-laki 18,2% dan pada wanita 13,6%. Prevalensi ini meningkat sesuai
dengan meningkatnya usia (Sadeli dkk, 2001).

II.1.3. Faktor Resiko
Dari data epidemiologik faktor resiko untuk nyeri pinggang bawah
adalah usia/ bertambahnya usia, kebugaran yang buruk, kondisi kesehatan
yang jelek, masalah psikososial, merokok, kelebihan berat badan, serta faktor
fisik yang berhubungan dengan pekerjaan seperti duduk dan mengemudi,
mengangkat, membawa beban, menarik beban dan membungkuk (Sadeli
dkk, 2001; Miranda dkk, 2008).
Faktor resiko nyeri punggung bawah adalah seperti terlihat pada Tabel 1.

Universitas Sumatera Utara

Tabel 1. Faktor resiko nyeri punggung bawah

Dikutip dari: Walsh, N.E. 2000. Back Pain Matters. Available from:
http://www.karger.com/gazette/65/walsh/index.htm

II.1.4. Etiologi
Etiologi nyeri punggung bawah banyak dan meliputi kongenital,
metabolik, infeksi, inflamasi, neoplastik, trauma, degenereatif, toksik,
vaskular, visceral dan psikososial.
Etiologi nyeri punggung bawah dapat dilihat pada Tabel 2.

Universitas Sumatera Utara

Tabel 2. Etiologi nyeri punggung bawah

Dikutip dari: Vukmir R.D. 1991. Low Back Pain: Review of Diagnosis and
Therapy. Am J Emerg Med. 9:328-335.

II.1.5. Patofisiologi
Tulang belakang merupakan struktur yang kompleks, dibagi ke dalam
bagian anterior dan bagian posterior. Bentuknya terdiri dari serangkaian
badan silindris vertebra, yang terartikulasi oleh diskus intervertebral dan diikat
bersamaan oleh ligamen longitudinal anterior dan posterior (Ropper A.H,
Brown R.H, 2005).

Universitas Sumatera Utara

Berbagai bangunan peka nyeri terdapat di punggung bawah.
Bangunan tersebut adalah periosteum, 1/3 bangunan luar anulus fibrosus,
ligamentum, kapsula artikularis, fasia dan otot. Semua bangunan tersebut
mengandung nosiseptor yang peka terhadap berbagai stimulus (mekanikal,
termal, kimiawi). Bila reseptor dirangsang oleh berbagai stimulus lokal, akan
dijawab dengan pengeluran berbagai mediator inflamasi dan substansi
lainnya, yang menyebabkan timbulnya persepsi nyeri, hiperalgesia maupun
alodinia yang bertujuan mencegah pergerakan untuk memungkinkan
perlangsungan

proses

penyembuhan.

Salah

satu

mekanisme

untuk

mencegah kerusakan atau lesi yang lebih berat ialah spasme otot yang
membatasi pergerakan. Spasme otot ini menyebabkan iskemia dan sekaligus
menyebabkan munculnya titik picu (trigger points), yang merupakan salah
satu kondisi nyeri (Meliala dkk, 2003).

II.2.

NYERI KEPALA

II.2.1. Definisi
Nyeri kepala adalah rasa nyeri atau rasa yang tidak mengenakkan
pada daerah atas kepala memanjang dari orbita sampai ke daerah belakang
kepala (area oksipital dan sebahagian daerah tengkuk) (Sjahrir, 2004).

II.2.2. Epidemiologi
Nyeri kepala sering ditemukan dalam populasi umum, dimana lebih
dari 2/3 melaporkan nyeri kepala pada tahun sebelumnya di United Kingdom
dan kebanyakan penderita melaporkan menggunakan obat untuk menangani
nyeri kepala mereka (Boardman dkk, 2005).

Universitas Sumatera Utara

Berdasarkan hasil penelitian multisenter berbasis rumah sakit pada 5
rumah sakit besar di Indonesia, didapatkan prevalensi penderita nyeri kepala
sebagai berikut: Migren tanpa aura 10%, Migren dengan aura 1,8%, Episodik
Tension type Headache 31%, Chronic tension type Headache 24%, Cluster
Headache 0,5%, Mixed Headache 14% (Sjahrir, 2004).

II.2.3. Klasifikasi Nyeri Kepala
Klasifikasi nyeri kepala menurut The International Classification of
Headache Disorders, 2nd Edition, dari the International Headache Society
(2004). Berikut ini pembagian nyeri kepala sesuai kelompok terbesarnya,
yaitu:
1. Migraine
2. Tension-type headache
3. Cluster headache and other trigeminal autonomic cephalalgias
4. Other primary headaches
5. Headache attributed to head and/or neck trauma
6. Headache attributed to cranial or cervical vascular disorder
7. Headache attributed to non-vascular disorder
8. Headache attributed to a substance or its withdrawal
9. Headache attributed to infection
10. Headache attributed to disorder of homeostasis
11. Headache or facial pain attributed to disorder of cranium, neck,
eyes, ears, nose, sinuses, teeth, mouth or other facial or cranial
structures
12. Headache attributed to psychiatric disorder

Universitas Sumatera Utara

13. Cranial neuralgias and central causes of facial pain
14. Other headache, cranial neuralgia, central or primary facial pain

II.2.4. Klasifikasi Nyeri Kepala Primer
Klasifikasi nyeri kepala primer sesuai The International Classification of
Headache Disorders, 2nd Edition adalah:
Untuk nyeri kepala primer secara garis besar klasifikasinya adalah:
1. Migren:
1.1.

Migren tanpa aura

1.2.

Migren dengan aura

1.3.

Sindroma periodik pada anak yang sering menjadi prekursor
migren

1.4.

Migren Retinal

1.5.

Komplikasi migren

1.6.

Probable migren

2. Tension-type Headache:
2.1.

Tension-type headache episodik yang infrequent

2.2.

Tension-type headache episodik yang frequent

2.3.

Tension-type headache kronik

2.4.

Probable tension-type headache

3. Nyeri kepala klaster dan sefalgia trigeminal-otonomik yang lainnya:
3.1.

Nyeri kepala Klaster

3.2.

Hemikrania paroksismal

3.3.

Short-lasting unilateral neuralgiform headache with conjunctival
injection and tearing (SUNCT)

Universitas Sumatera Utara

3.4.

Probable sefalgia trigeminal otonomik

4. Nyeri kepala primer lainnya:
4.1.

Primary stabbing headache

4.2.

Primary cough headache

4.3.

Primary exertional headache

4.4.

Nyeri kepala primer sehubungan dengan aktifitas seksual

4.5.

Hypnic headache

4.6.

Primary thunderclap headache

4.7.

Hemikrania kontinua

4.8.

New daily-persistent headache

II.2.5. Patofisiologi Nyeri Kepala Primer
Bukti eksperimental substansiil menunjukkan bahwa sensitisasi sentral,
yaitu peningkatan eksibilitas neuron pada sistem saraf pusat yang dihasilkan
oleh input nosiseptif yang lama masuk dari jaringan perikranial miofasial,
memainkan suatu peran penting pada patofisiologi dari nyeri kronis dan
tension-type headache kronis (Ashina, 2004).
Pada

pasien-pasien

tension-type

headache

didapati

adanya

peningkatan sensitisasi nyeri sentral pada level spinal dorsal horn/ trigeminal
nucleus yang disebabkan oleh input nosiseptif yang lama masuk dari jaringan
perikranial

miofasial.

Peningkatan

input

nosiseptif

ini

pada

struktur

supraspinal mengakibatkan sensitisasi dari supraspinal. Hal ini menyebabkan
meningkatnya

aktifitas

otot-otot

perikranial

atau

terjadi

pelepasan

neurotransmitter dari jaringan miofasial sehingga terjadi chronic tension-type
headache (Bendtsen, 2000)

Universitas Sumatera Utara

Gambar 1. Regulasi CGRP pada trigeminal ganglia neuron. Aktivasi nervus
tigeminalis menyebabkan pelepasan dari CGRP dan neuropeptida lain yang
merangsang pelepasan mediator-mediator inflamasi.
Mediator-mediator
inflamasi tersebut, termasuk TNF-α, selanjutnya meningkatkan sintesa dan
pelepasan CGRP melalui MAPKs.
Dikutip dari: Sjahrir. 2008. Nyeri Kepala dan Vertigo.

Pada migren, aktivasi nukleus Trigeminal melepaskan Calcitonin Gene
Related

Peptide

(CGRP)

yang

menyebabkan

pelepasan

mediator

proinflamasi. Mediator ini meningkatkan CGRP sintese lebih lanjut dan
dilepaskan dalam waktu beberapa jam-sampai berhari sesuai dengan episode
waktu yang 4-72 jam serangan migren. Peningkatan sintesa dan pelepasan
CGRP dimediasi oleh pengaktifan dari jaras mitogen-activated protein kinase
(MAPK), yang pada gilirannya dapat diatur oleh unsur inflamasi endogen
seperti tumor necrosis factor-α (TNF-α) dan yang dipengaruhi obat seperti
sumatriptan (Durham cit Sjahrir, 2008)
Patofisiologi yang jelas dari nyeri kepala klaster masih belum jelas.
Namun dari ciri khas nyeri kepala klaster ini dapat ditarik kesimpulan.
Pertama, oleh karena nyeri kepala klaster berpusat pada mata dan kening,
sangat mungkin bahwa jaras nosiseptif trigeminal yang ipsilateral terlibat.

Universitas Sumatera Utara

Kedua, gejala otonom ipsilateral pada klaster menunjukkan aktivasi dari
sistem parasimpatik kranial (lakrimasi dan rhinorhea) dan disfungsi dari saraf
simpatik ipsilateral (ptosis dan miosis). Cavernous carotid artery dianggap
lokasi yang utama, dimana disinilah saraf trigeminal, parasimpatik, dan
simpatik berkumpul (Dodick dkk, 2000)
Pada penderita nyeri kepala tipe tegang, sensitivitas otot maupun kulit
meningkat dengan demikian hipereksitabilitas dari nosiseptor ke sentral juga
meningkat akibat menurunnya sistem inhibitorik, terutama pada penderita
kronik (Purba dkk, 2010)

II.3. Tidur
II.3.1. Definisi
Tidur adalah keadaan hilangnya persepsi dan responsi yang reversibel
terhadap lingkungan luar (Dodick dkk, 2003).

II.3.2. Arsitektur Tidur
Rekaman electroencephalography (EEG) dan rekaman fisiologis
lainnya yang dilakukan sewaktu tidur mendefenisikan dua tahap tidur yang
nyata, yaitu stadium Rapid Eye Movement (REM) Sleep dan Non-Rapid Eye
Movement Sleep (NREM).
Tidur Non-REM dibagi lagi atas 4 tingkat (stadium), yaitu:
Tingkat 1: Tidur ringan
Tingkat 2: Tidur konsolidasi (consolidated sleep)
Tingkat 3 dan 4: Tidur dalam atau tidur gelombang lambat

Universitas Sumatera Utara

Stadium atau tingkat 1: keadaan mengantuk, tidur ringan, dapat terlihat
perlambatan reaksi terhadap rangsangan dan ketajaman intelektual menurun.
Stadium ini ditandai oleh aktivitas theta dengan amplitudo yang relatif rendah
bercampuran (intermixed) dengan episode aktivitas alpha.
Stadium 2: Pada stadium ini gerakan badan berkurang dan ambangbangun terhadap rangsang taktil dan bicara lebih tinggi. Stadium ini ditandai
oleh K-kompleks dan sleep-spindles.
Stadium 3 dan 4: Slow wave sleep (SWS), tidur gelombang lambat.
Stadium ini merupakan tingkat tidur yang paling dalam, ditandai oleh
imobilitas dan lebih sulit dibangunkan, dan terdapat gelombang lambat pada
rekaman EEG. Fase tidur ini sering disebut juga sebagai tidur- gelombangdelta atau tidur-dalam. Stadium tidur-gelombang-lambat ini bervariasi
berkaitan dengan usia.
Tidur REM berasosiasi dengan bermimpi. Pada tidur REM ditandai
oleh aktivitas simpatetik yang intens dan didapatkan gambaran EEG yang
serupa dengan keadaan bangun, dengan aktivitas cepat dan amplitudo
rendah, dan gerakan bola mata

serupa dengan keadaan bangun.

(Lumbantobing, S.M, 2004)

II.3.3. Siklus Tidur
Waktu tidur

normal,

stadium

ini cenderung terjadi berurutan,

membentuk arsitektur tidur. Umumnya, dari keadaan bangun seseorang jatuh
ke tingkat 1, diikuti tingkat 2, 3 dan 4 dan tidur REM. Urutan stadium tidur,
yang berakumulasi pada tidur REM, membentuk satu ”siklus tidur”. Lama
serta isi siklus tidur (sleep cycle) berubah sepanjang malam dan usia.

Universitas Sumatera Utara

Persentase tidur-dalam paling tinggi pada siklus tidur pertama dan kemudian
mengurang dengan berlanjutnya malam dan lamanya tidur. Rapid Eye
Movement meningkat selama sepanjang malam. Pada orang dewasa normal,
tidur malam hari terdiri atas 4-6 siklus tidur yang masing-masing siklus
berlangsung 90 menit yang terdiri atas tidur NREM dan tidur REM. (Sjahrir,
2008; Lumbantobing, 2004)
Bila dijumlahkan stadium tidur pada dewasa muda yang normal,
tingkat 1 mengambil 5% dari malam, tingkat 2: 50 %, tidur REM dan tidur
gelombang-lambat

masing-masing

20-25%.

(Lumbantobing,

2004)

Persentase relatif ini berubah dengan usia, demikian juga lamanya siklus.
(Dodick dkk, 2003)

II.3.4. Kebutuhan Tidur
Tiap makhluk hidup membutuhkan tidur. Dengan demikian tidur
merupakan

kebutuhan

hidup.

Bila

dilakukan

deprivasi

tidur

secara

eksperimental pada hewan, hal ini dapat mengakibatkan kematian dalam
beberapa hari atau minggu. (Lumbantobing S.M, 2004)

Tabel 3. Kebutuhan tidur, lama tidur dan stadium tidur dengan usia

Dikutip dari: Lumbantobing, S.M. 2004. Gangguan Tidur

Universitas Sumatera Utara

II.3.5. Gangguan Tidur
Saat ini dilaporkan berbagai jenis gangguan tidur, yaitu: insomnia,
hipersomnia, parasomnia, gangguan pada ritme (siklus) tidur-bangun
(Lumbantobing, S.M, 2004; Sadock dkk, 2007; Reite dkk, 2002)
1. Insomnia
Merupakan masalah tidur yang paling umum yang secara sederhana
didefinisikan sebagai kesulitan untuk memulai tidur (jatuh tidur), sulit
mempertahankan keadaan tidur, dan bangun terlalu pagi.
2. Hipersomnia
Merupakan suatu keadaan dimana pasien biasanya tetap mengantuk,
walaupun jumlah jam tidurnya adekuat.
3. Parasomnia
Menggambarkan keadaan-keadaan yang tidak diinginkan yang terjadi waktu
sedang tidur.
4. Gangguan siklus tidur-bangun
Gangguan siklus tidur-bangun yang disebut juga sebagai gangguan ritme
sirkadian (circadian rhtyhm) menggambarkan keadaan pasien yang pola
irama tidurnya terganggu, waktu tidur dan bangunnya tidak sebagaimana
lazimnya. Mungkin ia menjadi mengantuk dan tidur di siang hari, sedang di
malam hari ia bangun dan sulit tidur.

II.3.6. Siklus Tidur Bangun
Siklus tidur bangun pada manusia berkisar 24 jam setiap harinya.
Beberapa eksperimen menunjukkan bahwa siklus tidur bangun ini diatur oleh
jam biologis yang terletak pada suprachiasmatic nucleus (SCN) dari

Universitas Sumatera Utara

hipothalamus. Apabila neuron-neuron generator tidur yang terletak di area
preoptik ventrolateral diaktivasi maka neurotransmiter gamma amino butyric
acid (GABA) dan galanin akan dilepas yang berperan dalam proses tidur. Dari
berbagai neurotransmiter yang terlibat dalam SCN, melatonin mempunyai
peranan yang lebih spesifik. Melatonin berperan memodulasi aktivitas neuron
jam sirkadian dan terus menerus mengikuti irama sirkadian(Cohen cit Sjahrir,
2008; Dodick dkk, 2003)

Gambar 2. Sistem ascending arousal mengirimkan sinyal dari batang otak
dan hipotalamus posterior menuju seluruh forebrain
Dikutip dari: Sjahrir. 2008. Nyeri Kepala dan Vertigo

Universitas Sumatera Utara

Sistem

ascending

arousal

memancar

dari

batang

otak

dan

hipothalamus posterior ke arah forebrain. Sel-sel saraf pada laterodorsal
tegmental nuclei (LDT) dan pedunculopontine tegmental nuclei (PPT)
membawa serabut kolinergik (acetylcholine) ke semua target d