Analisis Makna Simbolik Yang Terkandung Dalam Gambar Tato Tradisional Jepang Yang Bergambar Binatang (Horimono/Irezumi)

ANALISIS MAKNA SIMBOLIK YANG TERKANDUNG
DALAM GAMBAR TATO TRADISIONAL JEPANG
BERGAMBAR BINATANG (HORIMONO/IREZUMI)
DOBUTSU NO E NO ARU NAKA NO NIHON NO DENTOTEKINA
IREZUMI GAZO NI FUKUMARETE IRU SHOUCHOU TEKINA IMI NO
BUNSEKI

SKRIPSI
Skripsi Ini Ditujukan Kepada Panitia Ujian Fakultas Sastra Universitas
Sumatera Utara Medan Untuk Melengkapi Salah Satu Syarat Ujian Sarjana
Dalam Bidang Ilmu Sastra Jepang

Disusun Oleh :
ASTIRAWATI NOERMATIAS
NIM : 060708007

DEPARTEMEN SASTRA JEPANG
FAKULTAS SASTRA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

ANALISIS MAKNA SIMBOLIK YANG TERKANDUNG
DALAM GAMBAR TATO TRADISIONAL JEPANG YANG
BERGAMBAR BINATANG (HORIMONO/IREZUMI)
DOBUTSU NO E NO ARU NAKA NO NIHON NO DENTOTEKINA
IREZUMI GAZO NI FUKUMARETE IRU SHOUCHOU TEKINA IMI NO
BUNSEKI
SKRIPSI
Skripsi Ini Ditujukan Kepada Panitia Ujian Fakultas Sastra Universitas
Sumatera Utara Medan Untuk Melengkapi Salah Satu Syarat Ujian Sarjana
Dalam Bidang Ilmu Sastra Jepang
Dan Telah Disetujui Oleh :
Pembimbing I

Pembimbing II

Drs. Eman Kusdiyana, M. Hum

Prof.Drs. Hamzon Situmorang, M.S.Ph.D.

NIP : 19600919 198803 1 001

NIP : 19580704 1984 12 1 001

DEPARTEMEN SASTRA JEPANG
FAKULTAS SASTRA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

Disetujui Oleh
Fakultas Sastra
Universitas Sumatera Utara
Medan

Departemen S-1 Sastra Jepang

Ketua,

Drs. Eman Kusdiyana, M. Hum
NIP : 19600919 198803 1 001

Medan, Maret 2011

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR………………………………………..

i

DAFTAR ISI ..………………………………………………...

iv

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah ……………………………

1

1.2 Perumusan Masalah………………………………….

5

1.3 Ruang Lingkup Pembahasan…………………………

6

1.4 Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teori……………….

7

1.5 Tujuan dan Manfaat Penelitian …………………….

10

1.6 Metode Penelitian……………………………………

11

BAB II TINJAUAN UMUM MAKNA SIMBOLIK PADA TATO
(HORIMONO/IREZUMI) DALAM MASYARAKAT
JEPANG
2.1 Pengertian Tato ………………………………………….

14

2.2 Sejarah Tato ……………………………………………..

17

2.3 Konsep Makna Simbolik…………………………...........

21

Universitas Sumatera Utara

2.4 Pandangan Masyarakat Jepang Tentang
Horimono/Irezumi.........................................................

24

BAB III ANALISIS MAKNA SIMBOLIK YANG
TERKANDUNG DALAM GAMBAR TATO
TRADISIONAL JEPANG BERGAMBAR BINATANG
(HORIMONO/ IREZUMI)
3.1 Naga ( Dragon )…………………………………...

29

3.2 Singa Anjing ( Lion Dog )..…………………….....

31

3.3 Kura-Kura ( Turtle ) ……………………………....

33

3.4 Harimau ( Tiger ) ……………………………….....

35

3.5 Ikan Koi ( Koi Fish ) ……………………………...

37

3.6 Ular ( Snake ) ……………………………………..

39

BAB IV KESIMPULAN DAN SARAN
4.1 Kesimpulan ………………………………………..

41

4.2 Saran…………………………………………….....

44

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR PUSTAKA……………………………………….

45

ABSTRAK
LAMPIRAN

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR
Terlebih dahulu penulis mengucapkan puji dan syukur kepada Allah SWT
karena atas berkat dan rahmat-Nya lah penulis dapat menyelesaikan penulisan
skripsi ini. Cukup banyak hambatan dan kesulitan yang penulis hadapi dalam
menyelesaikan skripsi ini. Karena itulah usaha diiringi doa merupakan dua hal
yang memampukan penulis untuk menyelesaikan skripsi ini. Namun kesulitankesulitan yang dihadapi diharapkan juga bisa dijadikan motivasi. Selain
itu,bantuan dari berbagai pihak sangat mendukung dalam penulisan skripsi ini.
Skripsi yang berjudul “ Analisis Makna Simbolik Yang Terkandung
Dalam Gambar Tato Tradisional Jepang (Horimono/Irezumi)” ini penulis susun
sebagai salah satu syarat untuk meraih gelar Sarjana Sastra pada jurusan Sastra
Jepang Fakultas sastra Universitas Sumatera Utara Medan.
Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada:
1. Bapak

Dr. Syahron Lubis, M.A., selaku Dekan Fakultas Sastra

Universitas Sumatera Utara Medan.
2. Bapak Drs. Eman Kusdiyana, M. Hum, selaku Ketua Program Studi S-1
Sastra Jepang Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara Medan dan juga
selaku Dosen Pembimbing I.
3. Bapak Prof. Drs. Hamzon Situmorang, M.S., Ph.D., selaku Dosen
Pembimbing II, yang banyak memberikan waktu dan tenaga untuk
membimbing penulis dan memberikan pengarahan dengan sabar dalam
penyusunan skripsi ini hingga selesai.

Universitas Sumatera Utara

4. Ibu Adriana Hasibuan, S.S, M. Hum selaku Dosen Penasehat Akademik.
5. Bapak/ Ibu Dosen Program Studi Sastra Jepang S-1 Universitas Sumatera
Utara yang telah banyak memberikan ilmu dan pendidikan kepada penulis.
6. Kepada kedua Orang Tua tercinta penulis, Bapak Asra Noermatias dan
Ibunda Upik, yang selalu mendoakan dan mendukung agar penulis selalu
sehat dan semangat, serta telah banyak memberikan duku ngan moral dan
material yang tidak terhingga sehingga penulis bisa menyelesaikan skripsi
ini dan menyelesaikan perkuliahan dan mendapat gelar sarjana seperti
yang telah dicita-citakan. Dan tanpa kedua Orang Tua penulis, penulis
tidak akan mampu untuk menjadi seperti sekarang ini.
7. Kepada adikku Alfian Noermatias dan sepupu tersayang Abrar Muchlis
yang telah mendukung dan memberi semangat kepada penulis dalam
menyelesaikan skripsi ini.
8. Kepada teman-teman penulis di Departemen Sastra Jepang Stambuk 2006,
Andar Beny Prayogi, Andi Pranata Silalahi, Christyani Siregar, Elisabeth
Fransisca Sinaga, Friska Mawarni Sagala, Fredy Walis Sembiring, Febri
Antoni, Frida Winata Togatorop, Ferdian Pardede, Farah Adibah, Fadiah
Sofiani, Harry Eka Pratama, Hartati Sinambela, Jessi Mega, Simanjuntak,
Zulvianita, Irwan , Okky Khaeriani, Sari Zulia Peunawa, Ivana Widya
Sari, Musfahayati Amelia, Suci, Wulandari Fikri, Surya Ningrum, Octora
Hanna Grace, Rizal, Novaria Tampubolon, Randy Simanjuntak, Teddy
sumbari, Wilma Prima Yuniza, Hyantes T Pasaribu, Siska Margaret Purba,
Victor Julianto.

Universitas Sumatera Utara

9. Kepada senior dan junior di Departemen Sastra Jepang yang mendukung
penyelesaian skripsi ini.
10. Kepada teman-teman IMIB ( Ikatan Mahasiswa Imam Bonjol ) yang telah
memberi dukungan kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini,
khususnya kepada Ridha Rahmatan Hafiz, Badai Adra Sikumbang, Edo
Febrian, Jefri Rahmadhinata, Suci Handayani, Alvia Rahmi.
Penulis sadar bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan dan jauh dari
sempurna, untuk itu penulis sanagat mengaharapkan kritik dan saran yang
membangun agar dapat memperbaiki kesalahan pada masa mendatang.
Akhir kata, penulis berharap kiranya skripsi ini bermanfaat bagi penulis
sendiri dan khususnya pada pembaca.
Medan,

2011

Penulis
\

Astirawati Noermatias

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Salah satu unsur kebudayaan adalah kesenian. Kesenian terbagi dalam:
seni musik, seni tari, seni pahat/ukir, seni lukis, seni rupa dan lain-lain. Tato
merupakan sebuah seni, dan digolongkan kedalam seni lukis. Tato berasal dari
kata “tatau” dalam bahasa Tahiti yang konon artinya tanda atau menandakan
sesuatu. Tato merupakan adaptasi dari bahasa Inggris, yaitu tattoo yang dalam
bahasa Indonesia disebut dengan istilah “rajah”. Dalam bahasa Jepang, tato
dikenal dengan istilah horimono. “hor i” yang berarti ukiran atau pahatan.
Sedangkan “mono” adalah barang atau benda. Jadi horimono adalah benda yang
berukir atau berpahat. Istilah tato dalam Bahasa Jepang sering juga disebut
“irezumi ” yang secara harfiah berarti "memasukkan tinta".
Sejak zaman dahulu kala, tato sudah digunakan sebagai salah satu kegiatan
dalam ritual keagamaan bagi suku-suku bangsa kuno yang ada di dunia.
Diantaranya, suku Maori, Inca, Ainu, Polynesians, Nuer, Indian, Mesir, Yunani
kuno, Romawi, dll. Di Cina dan Jepang, tato pada zaman dahulu digunakan
sebagai hukuman bagi para pelaku kejahatan. Cara pembuatannya yang sangat
menyakitkan sehingga diharapkan para pelaku kejahatan menjadi jera dan tidak
mengulanginya lagi.
Selain untuk ritual keagamaan dan hukuman bagi para pelaku kejahatan,
tato juga berfungsi sebagai penanda anggota suatu perkumpulan masyarakat
Masih banyak masyarakat yang menganggap bahwa orang-orang yang memakai
tato merupakan seorang penjahat, narapidana, atau preman. Tetapi tidak sedikit
pula masyarakat yang memandang tato dari nilai seninya. Gambar-gambar yang

Universitas Sumatera Utara

digunakan untuk tato mempunyai nilai seni yang tinggi khususnya gambargambar yang mempunyai tingkat kesulitan yang tinggi dalam proses
pembuatannya. Karena alasan seni tersebut banyak masyarakat umum yang
memakai tato agar tubuh mereka terlihat lebih indah.
Keindahan pada tato ini memiliki makna khusus, disamping interaksi
masing-masing objek itu sendiri. Perpaduan beberapa objek gambar pada tato juga
menghasilkan interaksi makna simbolik tersendiri. Diantara gambar-gambar yang
banyak dijadikan objek tato tersebut, masing-masing memiliki makna simbolik
yang terkandung didalamnya. Interaksi makna simbolik adalah segala hal yang
saling berhubungan dengan pembentukan makna dari suatu benda atau lambang
atau simbol, baik benda mati maupun benda hidup, melalui proses komunikasi
baik sebagai pesan verbal maupun

non verbal, dan tujuan akhirnya adalah

memaknai lambang atau simbol (objek) tersebut berdasarkan kesepakatan
bersama yang berlaku di wilayah atau kelompok komunitas masyarakat tertentu.
Makna simbolik yang terkandung dalam satu tato dengan tato yang lain
memiliki makna simbolik tertentu. Gambar tato biasanya berupa benda-benda
hidup, benda mati, dan simbol-simbol yang bersifat abstrak lainnya. Benda-benda
hidup tersebut diantaranya adalah binatang. Binatang yang banyak dijadikan
sebagai objek dalam pembuatan tato diantaranya: naga, singa anjing, kura-kura,
harimau, ikan koi, dan ular. Makna yang terkandung dalam gambar binatang
tersebut antara lain :


Naga ( Dragon ) melambangkan pertahanan. Di Amerika, naga
melambangkan

kekuatan.

Sedangkan

di

Jepang,

naga

Universitas Sumatera Utara

melambangkan keinginan (cita-cita) dan kepintaran. Menurut
tradisi di Jepang, naga menjabat sebagai dewa.


Singa Anjing ( Lion Dog ) melambangkan pengawalan / pelindung
serta melambangkan keganasan.



Kura-kura ( Turtle ) melambangkan umur panjang dalam banyak
kebudayaan di dunia, termasuk di negara Jepang sendiri. Selain
melambangkan umur panjang, kura-kura juga melambangkan
kebahagiaan.



Harimau ( Tiger ) dapat melambangkan rasa tidak terkalahkan atau
kekuasaan.

Nafsu

atau

keinginan,

keganasan,

sensualitas,

kecepatan dan keindahan adalah beberapa hal yang dikaitkan
dengan harimau di Jepang. Hewan ini juga dikenal karena
kekejaman dan kemurkaannya sehingga merupakan simbol yang
sangat populer digunakan di banyak kebudayaan di Asia. Karena
alasan diataslah simbol ini sangat populer dalam seni tato di
Jepang.


Ikan Koi (Koi Fish) melambangkan keberanian, biasanya
digabungkan

dengan

unsur

air

sehingga

menjadi

simbol

kemampuan untuk mencapai tujuan yang tinggi, dan mengatasi
kesulitan hidup.


Ular ( Snake ) melambangkan daya baik, alam gaib, kesuburan,
regenerasi dan kebijaksanaan. Makna simbolik ular lainnya dapat

Universitas Sumatera Utara

berupa: siklus, kebangkitan, kesabaran, kesuburan, keabadian,
keseimbangan, licik, intuisi, kesadaran, penyembuhan, intelek,
perlindung, peremajaan, dan transformasi.

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Jepang sebagai negara besar dan maju memiliki kebudayaan yang kaya
akan eksotisme dan mengundang banyak orang mempelajarinya . Sebagai salah
satu negara kuat, baik dalam hal identitas dan kekuatan ekonomi yang mampu
menyaingi keadidayaan Amerika Serikat dan mayoritas negara maju di benua
Eropa, pengaruh Jepang tidak hanya dalam ruang lingkup ekonomi semata.
Melalui jalur perekonomian, Jepang secara tidak langsung mulai menancapkan
pengaruh-pengaruh kebudayaannya dalam komunitas masyarakat dunia. Hal ini
membuat kebudayaan Jepang mulai diterima oleh masyarakat dengan kebudayaan
berbeda dan menjadi salah satu kebudayaan yang universal.
Menurut C.K Luckhon dalam Koentjaraningrat (1976:203-204), unsurunsur kebudayaan universal dalam kebudayaan di dunia ada tujuh buah unsur
universal, yaitu : (1) bahasa, (2) sistem teknologi, (3) mata pencaharian atau
ekonomi, (4) organisasi sosial, (5) sistem pengetahuan, (6) religi, (7) kesenian.
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa salah satu unsur
kebudayaan adalah kesenian. Yang termasuk dalam kesenian adalah didalamnya
seni musik, seni tari, seni pahat/ukir, seni lukis, seni rupa dan lain-lain. Tato
merupakan sebuah seni, dalam hal ini dapat digolongkan kedalam seni lukis.
Secara spesifik, tato merupakan sebuah seni rajah tubuh yang berkembang di
berbagai negara di dunia tidak terkecuali Jepang. Tato dianggap sebagai salah satu
bentuk kesenian karena proses menato merupakan sebuah proses kreativitas yang

Universitas Sumatera Utara

mencakup proses mendesain bentuk, aplikasi desain dalam media berupa tubuh
manusia, hingga pewarnaan yang memerlukan tidak sekedar teknik, tapi juga
sense of art dan ketelitian.
Seni tato merupakan suatu hasil kebudayaan yang berupa gambar yang
didalamnya terdapat makna. Makna pada gambar hanya dapat dipelajari melalui
makna semiotik, dimana makna semiotik menurut Pierce (1992: 1), mengatakan:
tanda-tanda memungkinkan kita berpikir, berhubungan dengan orang lain dan
memberi makna pada apa yang ditampilkan oleh alam semesta.
Beberapa kelompok masyarakat di dunia masih memandang tato sebagai
hal yang negatif. Dalam artian bahwa orang yang memiliki tato dianggap sebagai
orang yang jahat, preman atau merupakan perilaku kriminal dalam kehidupan
sehari-hari.
Sebagai contoh, di Indonesia sendiri masih banyak kelompok masyarakat
yang menilai orang-orang yang bertato sebagai orang jahat atau sering disebut
dengan preman. Walaupun faktanya pada beberapa suku di Indonesia, tato
merupakan bagian dari prosesi adat dan ritus keagamaan. Contohnya pada
masyarakat suku Mentawai, Dayak, dan Bali.
Sementara itu di Jepang, orang yang memiliki tato identik dengan yakuza1.
Yakuza secara umum diidentikkan dengan organisasi yang penuh dengan
kekerasan dan kekejaman sehingga ditakuti dalam masyarakat. Yakuza memiliki
latar belakang yang panjang dan cukup unik sehingga membuatnya berbeda dari
organisasi-organisasi kriminal lainnya di negara-negara lain di dunia.
___________
1

Yakuza merupakan suatu bentuk organisasi kriminal yang terbentuk pertama kali pada zaman Edo, tepatnya

pada pemerintahan Shogun Tokugawa dan sampai sekarang organisasi ini masih tetap eksis dalam
masyarakat Jepang serta merupakan organisasi terbesar di Jepang.

Universitas Sumatera Utara

Di Jepang sendiri tato pada awalnya merupakan sebuah bagian dari ritus
keagamaan pada masyarakat asli Jepang yaitu bangsa Ainu di Zaman Jomon. Pada
perkembangan selanjutnya, tato mulai mengalami pergeseran makna karena
dijadikannya tato sebagai bentuk hukuman yang digunakan untuk mengasingkan
pelanggar hukum dari masyarakat, yang biasanya terdapat di sekitar lengan untuk
setiap kejahatan yang dilakukannya.
Tato pun dapat memiliki makna lain selain sebagai hukuman, diantaranya
adalah sebagai penanda anggota suatu perkumpulan masyarakat. Jika setiap orang
dalam satu kelompok masyarakat melakukan suatu kegiatan yang sama maka
setiap orang di dalam kelompok itu juga harus melakukan hal yang sama. Hal
tersebut juga berlaku dalam organisasi yakuza1 yang diidentikkan dengan tato.
Oleh karena itu semua anggota yakuza harus ditato. Pada saat ini tato digunakan
sebagai simbol atau lambang dari masing-masing organisasi yakuza tempat dia
bergabung.
Dalam bahasa Jepang, tato dikenal dengan istilah horimono ( 彫り物 )
Secara harfiah kata horimono berasal dari kata “hori” yang berarti ukiran atau
pahatan. Sedangkan “mono” adalah barang atau benda. Jadi horimono adalah
benda yang berukir atau berpahat. Namun kata tersebut biasanya digunakan untuk
kegiatan mengukir/memberi ornamen pada mata pedang. Atau “irezumi (入れ墨
atau 入墨,)” secara harfiah berarti "memasukkan tinta". dipakai untuk kegiatan
merajah tubuh yang disebut “irezumi”. Akan tetapi irezumi selalu diidentikkan
untuk merajah tubuh seorang kriminal.

Universitas Sumatera Utara

Oleh karena itu lebih sering digunakan kata horimono untuk merujuk ke
kegiatan pentatoan agar tidak selalu identik dengan narapidana (kriminal). Kata
horimono dianggap lebih sopan dan dapat digunakan untuk menunjuk berbagai
jenis rajahan (Animonster volume 119, Horimono:Japanese Tattoos Februari
2009).
Proses penatoan tradisional Jepang merupakan sesuatu yang sangat
menyakitkan. Peralatan yang digunakan terbuat dari tulang kayu yang dipahat dan
pada ujungnya dipasang jarum. Proses ini memakan waktu yang tidak sebentar,
bahkan untuk tato seluruh tubuh waktu yang diperlukan bisa mencapai lebih dari
100 jam tergantung dari gambar yang diinginkan oleh seseorang yang ingin
membuat gambar tato tersebut.
Kegiatan menato seluruh tubuh ini bukan hanya digunakan oleh anggota
yakuza di Jepang. Kegiatan ini juga dilakukan oleh anggota kelompok mafia di
Amerika seperti Mara Salvatrucha atau yang lebih dikenal sebagai MS – 13 dan
kelompok TRIAD yang merupakan bentuk lain mafia di negara China.
Umumnya pemilik tato menyatakan bahwa mereka menggambar tato di
tubuhnya karena dianggap memiliki nilai artistik. Gambar yang biasa dijadikan
desain tato adalah gambar binatang, gambar bunga, gambar dewa, gambar
pahlawan dan tokoh kabuki. Dari setiap gambar tato tersebut memiliki makna
simbolik masing-masing. Misalnya, ada yang bermakna pertahanan, pengawalan,
kebahagiaan, ketabahan, keberuntungan, pengabdian, dan lain-lain. Keterkaitan
antara gambar tato dan pemaknaan tersebut sangat menarik untuk dibahas pada
skripsi ini. Dengan demikian, penulis dalam skripsi ini ingin membahas tentang

Universitas Sumatera Utara

makna simbolik dari gambar-gambar tato tradisional Jepang (horimono)
khususnya yang bergambar binatang.
Dari penjelasan diatas peneliti tertarik untuk membahas mengenai tato
tradisional Jepang (horimono), mulai dari sejarahnya, makna simbolik yang
terkandung dalam setiap gambar horimono hingga perkembangannya.

1.2. Perumusan Masalah
Tidak mudah menghilangkan image negatif tato dalam masyarakat
mengingat perkembangan tato yang diidentikkan dengan perkembangan aktivitas
kriminalitas individu dan kelompok. Apalagi pembahasan yang cenderung
terekspos mengenai tato di berbagai media baik itu cetak maupun elektronik
memperburuk citra tato dengan hanya menampilkan tato sebagai representasi dari
vandalisme (aktifitas perusakan dan kekerasan ) dan kriminalitas.

Namun tidak dapat dipungkiri masih banyak peminat tato sebagai seni
yang bertahan ditengah terpaan isu dan kritik negatif masyarakat konservatif.
Tato sebagai bentuk seni rupa memiliki sejarah yang awalnya positif dan tercatat
sebagai bagian kebudayaan yang terus lekat dalam perkembangan masyarakat
modern. Seperti tato Jepang (horimono/irezumi) yang telah berkembang ke
berbagai penjuru dunia. Horimono terkenal karena keunikannya, keindahannya
desain dan warnanya serta teknik pembuatannya yang tidak dapat disamakan
dengan tato-tato lainnya yang ada di dunia ini.

Gambar-gambar

horimono/irezumi

biasanya

berupa

hewan-hewan

mitologi tradisional, dewa-dewa, tokoh spiritual dan pahlawan, binatang,

Universitas Sumatera Utara

tumbuhan seperti bunga peony yang merepresentasikan sebuah makna bagi
pemilik tato. Sejarah unik dan makna simbolik yang terkandung dalam sebuah
gambar tato tanpa disadari bagi masyarakat umum memiliki arti tersendiri, sama
halnya dengan bentuk-bentuk seni lainnya yang ada dalam sebuah kebudayaan.
Makna-makna

simbolik

yang

terkandung

dalam

setiap

gambar

tato

(horimono/irezumi) khususnya yang bergambar binatang seperti naga, singa
anjing, kura-kura, harimau, ikan koi, dan ular yang masing-masing memiliki
makna pertahanan, pengawalan atau perlindungan, panjang umur, kebahagiaan,
kekuasaan, keganasan, ketekunan, keberanian, kesuburan dan lain-lain. Sehingga
keterkaitan antara gambar tato dengan makna simbol tersebut menjadikan gambar
tato ini menarik. Hal tersebut diatas menjadi ketertarikan penulis untuk meneliti
makna-makna yang terkandung dalam gambar-gambar tato tradisional Jepang
(horimono) khususnya yang bergambar binatang dan menuntaskan pertanyaanpertanyaan mengenai makna tato itu sendiri. Untuk itu penulis merumuskan
permasalahannya sebagai berikut :

1. Makna simbolik apa yang terkandung dalam gambar-gambar binatang
pada tato Jepang (horimono/irezumi) ?
2. Bagaimanakah pandangan orang Jepang mengenai makna-makna yang
terdapat dalam gambar-gambar tato Jepang (horimono/irezumi) ?

1.3. Ruang Lingkup Pembahasan
Dalam pembahasannya penulis menganggap perlu adanya pembatasan
ruang lingkup permasalahan agar masalah penelitian tidak terlalu luas dan

Universitas Sumatera Utara

berkembang jauh sehingga masalah yang akan dibahas dapat lebih terarah dalam
penulisan nantinya.
Dalam penelitian ini, ruang lingkup yang akan dibahas difokuskan pada
interpretasi makna simbolik yang terkandung pada tato tradisional Jepang yang
bergambar binatang yang umumnya sering digunakan sebagai objek pembuatan
tato . Untuk mendukung penelitian ini penulis akan menjelaskan juga mengenai :
1. Pengertian dan sejarah tato secara umum
2. Makna yang terkandung dalam gambar horimono/irezumi yang bergambar
binatang
3. Gambar-gambar tato
4. Pandangan masyarakat Jepang tentang tato atau horimono/irezumi

1.4. Tinjauan Pustaka dan Kerangka Teori
1.4.1. Tinjauan Pustaka
Menganalisa data pada umunya ataupun isi dari suatu kebudayaan
masyarakat tertentu, sebaiknya kita mengetahui terlebih dahulu unsur-unsur
kebudayaan universal (cultural universal).
Kebudayaan universal adalah unsur-unsur yang ada dalam semua
kebudayaan di seluruh dunia, baik yang kecil, yang bersahaja, terisolasi maupun
yang besar dan kompleks dengan suatu jaringan hubungan yang luas.
Menurut Suryohadiprojo (1982 : 192), kebudayaan adalah hasil dari
budi-daya dan hasil dari pemikiran manusia.
Menurut C.K Luckhon dalam Koentjaraningrat (1976:203-204),
unsur-unsur kebudayaan universal dalam kebudayaan di dunia ada tujuh buah

Universitas Sumatera Utara

unsur, yaitu : (1) bahasa, (2) sistem teknologi, (3) mata pencaharian atau
ekonomi, (4) organisasi sosial, (5) sistem pengetahuan, (6) religi, (7) kesenian.
Tato merupakan bagian dari hasil kesenian, termasuk didalamnya
horimono/irezumi di Jepang.
Tato merupakan adaptasi dari bahasa Inggris, yaitu tattoo yang dalam
bahasa Indonesia disebut dengan istilah “rajah”. Sementara itu menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesi Edisi ke-4 (2008) tato adalah gambar (lukisan) pada kulit
tubuh. Tato merupakan salah satu seni body decorating dengan menggambar kulit
tubuh dengan alat tajam (berupa jarum, tulang, dan sebagainya), kemudian bagian
tubuh yang digambar tersebut diberi zat pewarna atau pigmen berwarna-warni.

1.4.2. Kerangka Teori
Setiap penelitian memerlukan landasan teori dalam mengungkapkan
kebenaran yang terdapat di dalamnya. Jika membicarakan makna simbolik yang
terkandung dalam horimono atau irezumi, erat kaitannya dengan simbol atau
gambar yang ada pada tubuh seseorang. Oleh karena itu, pembahasan mengenai
makna simbolik horimono/irezumi memerlukan pendekatan semiotik atau teori
semiotika. Semiotika adalah studi tentang tanda dan segala yang berhubungan
dengannya,

cara

berfungsinya,

hubungannya

dengan

tanda-tanda

lain,

pengirimannya dan penerimaannya oleh mereka yang mempergunakannya.
Makna semiotik menurut Pierce (1992: 1), yaitu ia mengatakan tandatanda memungkinkan kita berpikir, berhubungan dengan orang lain dan memberi
makna pada apa yang ditampilkan oleh alam semesta.

Universitas Sumatera Utara

Selain itu, penulis juga menggunakan teori interaksi simbolik yang
bercikal bakal dari faham fenomenologi, berusaha memahami tentang suatu
“gejala” erat hubungannya dengan situasi, kepercayaan, motif pemikiran yang
melatarbelakangi.

Moeleong,

(2000:9)

mengatakan,

”Penekanan

kaum

Fenomenologis adalah aspek subjektif dari perilaku orang. Mereka berusaha
masuk ke dalam dunia konseptual para subjek yang ditelitinya sehingga mereka
mangerti apa dan bagaimana suatu pengertian yang dikembangkan di sekitar
peristiwa dalam kehidupannya sehari-hari.”
Teori interaksi simbolik berpandangan bahwa seseorang berbuat dan
bertindak bersama dengan orang lain, berdasarkan konsep makna yang berlaku
pada masyarakatnya; makna itu adalah produk sosial yang terjadi pada saat
interaksi; aktor sosial yang terkait dengan situasi orang lain melalui proses
interpretasi atau tergantung kepada orang yang menafsirkannya (Jhonson Pardosi
dalam Logat Jurnal Ilmiah Bahasa dan Sastra Volume IV No. 2 Oktober Tahun
2008).
Interaksi simbolik menurut Effendy (1989: 352) adalah suatu faham yang
menyatakan bahwa hakekat terjadinya interaksi sosial antara individu dan antar
individu dengan kelompok, kemudian antara kelompok dengan kelompok dalam
masyarakat, ialah karena komunikasi, suatu kesatuan pemikiran di mana
sebelumnya pada diri masing-masing yang terlibat berlangsung internalisasi atau
pembatinan.
Selain itu, penulis juga akan menyinggung tentang sejarah munculnya
tato sehingga dalam penelitian ini penulis juga akan menggunakan pendekatan
historis. Menurut Ratna (2004 : 66), pendekatan historis melihat konsekuensi

Universitas Sumatera Utara

karya sastra sebagai sarana untuk memahami aspek-aspek kebudayaan yang lebih
luas dimana karya sastra adalah gambaran kehidupan masyarakat di zamannya.
Dalam perjalanan historisnya, horimono/irezumi mengalami perkembangan dan
mengalami banyak perubahan mulai dari cara pembuatannya hingga makin
banyaknya pilihan gambar. Dan perubahan-perubahan tersebut tidak lepas dari
kondisi masyarakat pendukungnya.
Berdasarkan beberapa pendekatan diatas seperti pendekatan semiotik,
digunakan penulis untuk menginterpretasikan tanda-tanda atau simbol-simbol
yang ada dalam tato. Pendekatan interaksi simbolik digunakan penulis untuk
menjelaskan segala hal yang saling berhubungan dengan pembentukan makna dari
suatu benda atau lambang atau simbol. Dan pendekatan historis digunakan penulis
untuk menjelaskan tentang sejarah tato.

1.5. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1.5.1. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan pokok permasalahan sebagaimana yang telah
dikemukakan sebelumnya, maka tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :
a. Untuk mengetahui bagaimana sejarah tato dan horimono/irezumi
serta perkembangannya hingga sekarang.
b.

Untuk mengetahui makna simbolik apa saja yang terkandung dalam
setiap gambar horimono/irezumi.

Universitas Sumatera Utara

1.5.2. Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini nantinya diharapkan bermanfaat dan
berguna bagi pihak-pihak tertentu, yaitu :
1. Bagi peneliti sendiri dapat menambah wawasan mengenai sejarah dan
perkembangan tato serta makna yang terkandung dari setiap gambar
horimono/irezumi atau tato Jepang khususnya yang bergambar
binatang.
2. Memberikan informasi kepada masyarakat luas pada umumnya dan
mahasiswa Sastra Jepang pada khususnya tentang makna dari gambar
horimono/irezumi yang bergambar binatang.

1.6. Metode Penelitian
Metode adalah alat untuk mencapai tujuan dari suatu kegiatan. Dalam
penulisan ini penulis menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan
semiotik, dimana penelitian ini dilakukan seobjektif mungkin berdasarkan fakta
yang ada dengan pengkajian tanda atau simbol dan makna.
Menurut Koentjaraningrat (1976 : 30), penelitian yang bersifat deskriptif
yaitu memberikan gambaran secermat mungkin mengenai suatu individu,
keadaan, gejala, atau kelompok tertentu dalam memecahkan masalah penelitian,
mengumpulkan,

menyusun,

mengklasifikasikan,

mengkaji

dan

menginterpretasikan data.
Menurut Endraswara (2008:5), metode penelitian yang menggunakan
metode deskriptif merupakan sebuah penelitian terurai dalam bentuk kata-kata

Universitas Sumatera Utara

atau gambar jika diperlukan, bukan berbentuk angka. Penelitian ini juga
mencakup penelitian secara kualitatif.
Endraswara (2008:5) kembali menjabarkan bahwa penelitian kualitatif
merupakan

penelitian

yang

tidak

menggunakan

angka-angka,

tetapi

mengutamakan kedalaman penghayatan terhadap interaksi antar konsep yang
sedang dikaji secara empiris.
Dengan metode tersebut diatas, penulis akan menganalisa makna simbolik
yang terdapat dalam horimono atau irezumi melalui gambar-gambarnya.
Untuk dapat mendeskripsikan suatu masalah dengan tepat dan akurat serta
penelitian yang berkesinambungan berkesinambungan maka sebagai pendukung
digunakan metode kepustakaan. Studi kepustakaan merupakan suatu aktivitas
yang sangat penting dalam kegiatan penelitian yang ditujukan untuk mewujudkan
jalan memecahkan permasalahan penelitian. Beberapa aspek penting perlu dicari
dan digali, meliputi : masalah, teori, konsep dan penarikan kesimpulan dan saran
(Nasution, 2001 : 14)
Dengan kata

lain,

studi

kepustakaan

(library

research)

adalah

pangumpulan data dengan cara membaca buku-buku atau referensi yang berkaitan
dengan materi yang akan dibahas. Data yang diperoleh dari referensi tersebut
kemudian dianalisa untuk mendapatkan kesimpulan serta saran. Dalam penelitian
ini, peneliti juga menggunakan metode terjemahan ( translation method ) yaitu
metode yang berkenaan dengan rencana pelaksanaan (analisis, pengalihan,
penyerasian) penerjemahan (Machali, 2000 : 48). Karena data dan sumber bacaan
yang diperoleh hampir seluruhnya menggunakan teks bahasa Inggris.

Universitas Sumatera Utara

Dalam metode ini, penulis memanfaatkan sumber-sumber yang didapatkan
dari koleksi pribadi dan koleksi buku di perpustakaan pusat USU, perpustakaan
pusat dan jurusan Sastra Jepang Universitas Bung Hatta, perpustakaan Konsulat
Jenderal Jepang di Medan serta jurnal-jurnal ataupun artikel-artikel yang dimuat
di majalah maupun internet sebagai sumber data.

Universitas Sumatera Utara

BAB II
TINJAUAN UMUM MAKNA SIMBOLIK PADA TATO
(HORIMONO/IREZUMI) DALAM MASYARAKAT JEPANG
2.1. Pengertian Tato
Mengekspresikan pemikiran suatu emosi dapat dilakukan dengan berbagai
cara oleh manusia dan salah satu caranya adalah dengan pembuatan tato. Oleh
sebab itu, tato merupakan sebuah pernyataan untuk menyampaikan ungkapan
dengan melalui gambar-gambar tato yang memiliki fungsi dan makna bagi
pemakainya.
Tato dianggap sebagai kegiatan seni karena di dalamnya terdapat kegiatan
menggambar pola atau desain tato. Seni adalah “karya”, “praktik”, alih-ubah
tertentu atas kenyataan, versi lain dari kenyataan, suatu catatan atas kenyataan”.
Nilai seni muncul sebagai sebuah entitas yang emosional, individualistik, dan
ekspresif. Seni menjadi entitas yang maknawi. Berkaitan dengan tato, ia memang
dapat dikategorikan sebagai entitas seni karena selain merupakan wujud kasat
mata berupa artefak yang dapat dilihat, dirasakan, ia juga menyangkut nilai-nilai
estetis, sederhana, bahagia, emosional, hingga individual dan subjektif
(Sumardjo, 2000: 15-18). Dalam “General Anthropology” milik Melville Jacobs
dan Bernhard J. Stern, tato merupakan salah satu bentuk dari seni grafis
(1952:260).
Untuk lebih memahaminya perlu dikemukakan tentang beberapa
pengertian tato. Secara bahasa, tato berasal dari kata “tatau” dalam bahasa Tahiti

Universitas Sumatera Utara

yang konon artinya tanda atau menandakan sesuatu. Dalam Ensiklopedia
Indonesia (1984:241) dijelaskan :” Tato lukisan berwarna yang permanen pada
kulit tubuh. Caranya ialah dengan melubangi kulit dengan ujung jarum yang halus
untuk kemudian memasukan zat warna ke dalam luka-luka itu. Biasanya suatu
pola tidak diselesaikan sekaligus. Tato disukai para pelaut, prajurit,dan petualang.

Tato merupakan adaptasi dari bahasa Inggris, yaitu tattoo yang dalam
bahasa Indonesia disebut dengan istilah “rajah”. Sementara itu menurut Kamus
Besar Bahasa Indonesi Edisi ke-4 (2008) tato adalah gambar (lukisan) pada kulit
tubuh. Tato merupakan salah satu seni body decorating dengan menggambar kulit
tubuh dengan alat tajam (berupa jarum, tulang, dan sebagainya), kemudian bagian
tubuh yang digambar tersebut diberi zat pewarna atau pigmen berwarna-warni.
Dalam bahasa Jepang, tato dikenal dengan istilah horimono ( 彫り物 )
“hor i ( 彫り)” yang berarti ukiran atau pahatan. Sedangkan “mono (物)” adalah
barang atau benda. Jadi horimono adalah benda yang berukir atau berpahat. Atau
“irezumi ( 入 れ 墨 atau 入 墨 ,)” secara harfiah berarti "memasukkan tinta".
Menurut Richie dan Buruma (1982:12) dijelaskan : “Pada awalnya kedua kata
ini mempunyai makna yang berbeda walaupun lama-kelamaan keduanya
mempunyai arti yang sama. Tetapi apabila dilihat dari karakter huruf kanjinya,
kedua kata ini memang memiliki karakter yang berbeda walaupun pengertiannya
tidaklah terlampau berbeda seperti keterangan berikut : (1) Irezumi : ire is
renyokei of the verb Iru(-/2),’to put in, bringin, stow in, adm it, in sert; zumi
comes from sumi, ‘India(Chinese) ink’. The Literal meaning of the compound is

Universitas Sumatera Utara

‘inking’. ;(2) Horimono : hori is renyokei of the verb horu, to engrave, picture, in
cise, followed by mono object, thing here used as nomilizer.

Kedua istilah tersebut memerlukan waktu yang cukup lama sebelum kedua
kata tersebut memiliki satu pengertian. Pada pertengahan abad ke-17, kata Irezumi
lebih mengarah kepada pengertian tato yang diberikan pada para kriminal sebagai
hukuman sehingga orang memang dipaksa untuk ditato. Sedangkan Horimono
adalah orang yang ditato secara sukarela sehingga orang yang bertato dapat
menentukan model, gambar atau tulisan yang dikehendaki. Namun setelah
hukuman dengan tanda kenal tato dihapuskan sekitar tahun 1720, maka tato
dikenal dengan istilah Irezumi yang tidak lagi punya hubungan dengan kriminal.
Tetapi ada pula yang ditulis dengan huruf bunshin dengan karakter 纹身
yang secara harfiah berarti menghias tubuh (bun = menghiasi, shin = tubuh).
Namun demikian ucapannya tetap irezumi walaupun huruf (irezumi) masih tetap
digunakan. Selain ditulis dengan (bunshin), tato juga ditulis dengan huruf horiire
mon, mon yang berarti membuat pola dan dibeberapa wilayah seperti di Saka dan
Kyoto, tato disebut irebokuro. Tato semacam ini terkenal dikalangan wanita
penghibur yang umumnya dipakai sebagai pernyataan setia terhadap kekasihnya
atau pria pelanggannya.
Pada awal pemerintahan Meiji (1868-1912) terjadi beberapa perubahan
dalam penggunaan pengertian tato, (1) digunakan istilah irezumi, yang
mempunyai kaitan dengan hukum; (2) bunshin; (3) tetap diucapkan sebagai
irezumi atau shisei.

Universitas Sumatera Utara

Karakter yang menggabungkan 刺 青 makna "menembus", "menusuk",
atau "tusuk", dan "biru" atau "hijau", merujuk pada tradisional Jepang tato metode
dengan tangan . Pengertian pada huruf pertama berarti tato adalah menusuk atau
melubangi, sedangkan huruf yang kedua berarti hijau atau biru. Walaupun tato
pada umumnya dibuat dengan menggunakan tinta hitam, tetapi apabila sudah
masuk kedalam kulit warnanya akan tampak membiru. Hal inilah yang
menyebabkan huruf terakhir itu disebut biru. Berdasarkan kedua istilah tersebut
maka pengertian tato di Jepang, terdapat dua pengertian : (1) istilah irezumi lebih
umum digunakan bagi para kriminal, bersifat khusus; (2) istilah horimono lebih
kepada keinginan pribadi, bersifat umum.

2.2. Sejarah Tato
Tato berasal dari bahasa Tahiti “tatu” yang konon artinya tanda. Walaupun
bukti-bukti sejarah tato ini tidak begitu banyak, tetapi para ahli mengambil
kesimpulan bahwa seni tato ini sudah ada sejak 12.000 tahun SM. Zaman dahulu
tato semacam ritual bagi suku-suku kuno, seperti Maori, Inca, Ainu, Polynesians,
dll. Menurut sejarah bangsa Mesir-lah yang menjadi biang perkembangan tato di
dunia. Bangsa Mesir dikenal sebagai bangsa yang terkenal kuat, jadi karena
ekspansi mereka terhadap bangsa-bangsa lain, seni tato juga ikut-ikutan menyebar
luas, seperti ke daerah Yunani, Persia dan Arab.
Alasan bagi suku-suku kuno di dunia membuat tato diantaranya, yaitu bagi
bangsa Yunani kuno memakai tato sebagai tanda pengenal para anggota dari
badan intelijen mereka, alias mata-mata perang pada saat itu. Di sini tato
menunjukan pangkat dari si mata-mata tersebut. Berbeda dengan bangsa Romawi,
mereka memakai tato sebagai tanda bahwa seseorang itu berasal dari golongan

Universitas Sumatera Utara

budak, dan tato juga dirajahi ke setiap tubuh para tahanannya. Suku Maori di
New Zealand membuat tato berbentuk ukiran-ukiran spiral pada wajah dan pantat.
Menurut mereka, ini adalah tanda bagi keturunan yang baik. Di Kepulauan
Solomon, tato ditorehkan di wajah perempuan sebagai ritus untuk menandai
tahapan baru dalam kehidupan mereka. Hampir sama seperti di atas, orang-orang
Suku Nuer di Sudan memakai tato untuk menandai ritus inisiasi pada anak lakilaki. Orang-orang Indian melukis tubuh dan mengukir kulit mereka untuk
menambah kecantikan atau menunjukkan status sosial tertentu.
Bukti awal tato di Jepang ditemukan dalam bentuk patung-patung tanah
liat yang memiliki wajah yang dicat atau diukir untuk mewakili tanda tato.
Angka-angka tertua dari jenis ini telah pulih dari makam tanggal ke 5000 SM atau
lebih tua.
Catatan tertulis pertama dari tato Jepang ditemukan dalam kompilasi
sejarah dinasti Cina. Menurut teks Jepang, “wajah laki-laki tua dan muda ditato
semua dan menghias tubuh mereka dengan desain.” Tato Jepang juga disebutkan
dalam sejarah Cina lainnya, tetapi hampir selalu dalam konteks negatif. Orangorang Cina menganggap tato sebagai tanda dan digunakan hanya sebagai
hukuman.
Pada saat awal abad ke-7 penguasa Jepang telah mengadopsi banyak gaya,
budaya yang sama dan sikap Cina, dan sebagai hasilnya tato dekoratif jatuh ke
ketidakkasihan resmi. Pada awal abad ke-17, ada kodifikasi yang berlaku umum.
Tanda tato digunakan untuk mengidentifikasi penjahat dan orang-orang di Jepang.
Orang buangan adalah tato di lengan: salib mungkin tato di lengan bagian dalam,
atau garis lurus di bagian luar lengan bawah atau di lengan atas. Penjahat ditandai

Universitas Sumatera Utara

dengan berbagai simbol yang ditunjuk tempat dimana kejahatan itu dilakukan.
Dalam satu daerah, yang pictograph untuk "anjing" adalah tato di dahi penjahat.
Tanda lainnya termasuk pola yang termasuk bar, salib, garis ganda, dan lingkaran
pada wajah dan tangan. Tato itu diperuntukkan bagi mereka yang melakukan
kejahatan serius, dan perseorangan tanda tato yang dikucilkan oleh keluarga dan
membantah semua partisipasi dalam kehidupan masyarakat. Untuk hukuman
pidana, tato adalah bentuk yang sangat parah dan mengerikan dari hukuman. Pada
akhir abad ke-17, tato sebagian besar telah digantikan oleh bentuk-bentuk lain dari
hukuman. Salah satu alasan adalah bahwa tato dekoratif menjadi populer, dan
penjahat menutupi tato pidana mereka dengan tato dekoratif yang lebih besar. Hal
ini juga dianggap asal historis dari asosiasi kejahatan tato dan terorganisir di
Jepang. Laporan awal dari tato dekoratif yang ditemukan dalam fiksi
dipublikasikan menjelang akhir abad ketujuh belas.
Gambar tato berkembang selama abad 17 sehubungan dengan budaya
populer Edo, seperti Tokyo kemudian disebut. Pada awal abad ke-18, penerbit
diperlukan ilustrasi untuk novel, teater diperlukan iklan untuk memainkan mereka
dan cetak blok kayu Jepang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut.
Pengembangan paralel blok kayu cetak, dan memiliki pengaruh besar pada,
perkembangan seni tato. " Karena hubungan antara pidana dan aktivitas tato, tato
itu dilarang dengan alasan bahwa itu "merusak dengan moral publik."
Tato terus berkembang di antara petugas pemadam kebakaran, buruh dan
lain-lain dianggap berada di ujung bawah skala sosial. Tato sangat disukai oleh
kelompok-kelompok yang disebut Yakuza, penjahat, petani miskin, buruh dan
orang aneh yang bermigrasi ke Edo dengan harapan memperbaiki kehidupan

Universitas Sumatera Utara

mereka. Yakuza merasa bahwa karena tato itu menyakitkan, itu adalah bukti
keberanian, karena permanen, itu bukti loyalitas seumur hidup untuk kelompok;
dan karena itu ilegal, itu membuat mereka penjahat selamanya.
Sekitar pertengahan abad ke-18, popularitas tato distimulasi oleh sebuah
novel Cina terkenal, Suikoden. Tato versi Jepang Suikoden digambarkan oleh
berbagai artis, masing-masing dibuat cetakan dengan interpretasi baru dari tato
yang dijelaskan dalam novel. Novel ini dan ilustrasi baru mempengaruhi semua
seni dan budaya Jepang.
Pada abad ke-19 ( tahun 1867), yang terakhir dari shogun Tokugawa
dijatuhkan dan kaisar itu dikembalikan ke kekuasaan. Undang-undang terhadap
tato yang ketat karena penguasa baru takut bahwa adat Jepang akan tampak
konyol, barbar dan Barat. Ironisnya, di bawah undang-undang baru seniman tato
Jepang diizinkan untuk tato asing tetapi tidak Jepang. Para master studio tato
terbaik didirikan di Yokohama dan melakukan banyak usaha tato pelaut asing.
Keterampilan mereka begitu besar sehingga mereka menarik sejumlah klien yang
sangat terkenal termasuk Duke of York (Raja George V), Czarevich Rusia (Czar
Nicholas II), dan pejabat Eropa lainnya.
Para empu tato Jepang juga terus tato klien Jepang secara ilegal, tetapi
setelah pertengahan abad ke-19, tema dan teknik tetap tidak berubah. Tato klasik
Jepang terbatas pada desain tertentu yang merupakan pahlawan legendaris dan
motif agama yang dikombinasikan dengan hewan simbolik tertentu dan bunga dan
berangkat dengan latar belakang gelombang, awan dan baut petir.

Universitas Sumatera Utara

Desain asli yang digunakan dalam tato Jepang diciptakan oleh beberapa
seniman ukiyoe terbaik. Para empu tato disesuaikan dan disederhanakan ini desain
untuk membuat mereka cocok untuk tato, tapi tidak menciptakan desain sendiri.
Tato Jepang tradisional berbeda dari tato Barat dalam yang terdiri dari
desain utama tunggal yang mencakup belakang dan meluas ke, kaki tangan dan
dada. Desain memerlukan komitmen besar waktu, uang dan energi emosional.
Selama sebagian besar dari abad ke-19, seorang seniman dan tato yang
bekerjasama. Artis gambar menggambar dengan kuas pada kulit pelanggan, dan
penato hanya disalin.
Pada abad ke-20 (tahun 1936), ketika pertempuran pecah di Cina, hampir
semua orang-orang itu direkrut menjadi tentara. Orang dengan tato yang dianggap
masalah disiplin, sehingga mereka tidak dirancang dan pemerintah mengeluarkan
peraturan terhadap tato. Setelah itu tattooists harus bekerja secara rahasia. Setelah
Perang Dunia II, Jenderal MacArthur liberalisasi hukum Jepang, dan tato menjadi
hukum lagi. Tetapi seniman tato terus bekerja secara pribadi oleh pengangkatan,
dan tradisi ini terus berlanjut hari ini.

2.3. Konsep Makna Simbolik
Dalam skripsi ini penulis menggunakan teori interaksi simbolik yang
bercikal bakal dari faham fenomenologi, berusaha memahami tentang suatu
“gejala” yang erat hubungannya dengan situasi, kepercayaan, motif pemikiran
yang melatarbelakanginya. Moeleong, (2000:9) mengatakan, ”Penekanan kaum
Fenomenologis adalah aspek subjektif dari perilaku orang. Mereka berusaha
masuk ke dalam dunia konseptual para subjek yang ditelitinya sehingga mereka

Universitas Sumatera Utara

mangerti apa dan bagaimana suatu pengertian yang dikembangkan di sekitar
peristiwa dalam kehidupannya sehari-hari.”

Interaksi simbolik menurut Effendy (1989: 352) adalah suatu faham yang
menyatakan bahwa hakekat terjadinya interaksi sosial antara individu dan antar
individu dengan kelompok, kemudian antara kelompok dengan kelompok dalam
masyarakat, ialah karena komunikasi, suatu kesatuan pemikiran di mana
sebelumnya pada diri masing-masing yang terlibat berlangsung internalisasi atau
pembatinan.

Teori interaksi simbolik berpandangan bahwa seseorang berbuat dan
bertindak bersama dengan orang lain, berdasarkan konsep makna yang berlaku
pada masyarakatnya; makna itu adalah produk sosial yang terjadi pada saat
interaksi; aktor sosial yang terkait dengan situasi orang lain melalui proses
interpretasi atau tergantung kepada orang yang menafsirkannya (Jhonson Pardosi
dalam Logat Jurnal Ilmiah Bahasa dan Sastra Volume IV No. 2 Oktober Tahun
2008).

Menurut Ralph Larossa dan Donald C. Reitzes (1993) dalam WestTurner (2008: 96), interaksi simbolik pada intinya menjelaskan tentang kerangka
referensi untuk memahami bagaimana manusia, bersama dengan orang lain,
menciptakan dunia simbolik dan bagaimana cara dunia membentuk perilaku
manusia.

Penulis mendefinisikan interaksi simbolik adalah segala hal yang saling
berhubungan dengan pembentukan makna dari suatu benda atau lambang atau

Universitas Sumatera Utara

simbol, baik benda mati, maupun benda hidup, melalui proses komunikasi baik
sebagai pesan verbal maupun perilaku non verbal, dan tujuan akhirnya adalah
memaknai lambang atau simbol (objek) tersebut berdasarkan kesepakatan
bersama yang berlaku di wilayah atau kelompok komunitas masyarakat tertentu.

Interaksi simbolik ada karena ide-ide dasar dalam membentuk makna
yang berasal dari pikiran manusia (Mind) mengenai diri (Self), dan hubungannya
di tengah interaksi sosial, dan tujuan bertujuan akhir untuk memediasi, serta
menginterpretasi makna di tengah masyarakat (Society) dimana individu tersebut
menetap.

Seperti yang dicatat oleh Douglas (1970) dalam Ardianto (2007: 136),
Makna itu berasal dari interaksi, dan tidak ada cara lain untuk membentuk makna,
selain dengan membangun hubungan dengan individu lain melalui interaksi.

Definisi singkat dari ke tiga ide dasar dari interaksi simbolik, antara lain:

1. Pikiran (Mind) adalah kemampuan untuk menggunakan simbol
yang mempunyai makna sosial yang sama, dimana tiap individu
harus mengembangkan pikiran mereka melalui interaksi dengan
individu lain.
2. Diri (Self) adalah kemampuan untuk merefleksikan diri tiap
individu dari penilaian sudut pandang atau pendapat orang lain,
dan teori interaksionisme simbolis adalah salah satu cabang dalam
teori sosiologi yang mengemukakan tentang diri sendiri (the-self)
dan dunia luarnya.

Universitas Sumatera Utara

3. Masyarakat (Society) adalah jejaring hubungan sosial yang
diciptakan, dibangun, dan dikonstruksikan oleh tiap individu
ditengah masyarakat, dan tiap individu tersebut terlibat dalam
perilaku yang mereka pilih secara aktif dan sukarela, yang pada
akhirnya mengantarkan manusia dalam proses pengambilan peran
di tengah masyarakatnya.

2.4. Pandangan Masyarakat Jepang Tentang Horimono/Irezumi

Seni tato bergerak dan berubah dalam berbagai bentuk dan pemaknaan.
Mulai dari fungsi-fungsi tradisional yang religius sebagai simbol status, kemudian
ada masa ketika orang bertato harus ditembak mati, sampai pada saat ini tato
sebagai tren fashion. Pemaknaan itu merupakan hal yang menjadi sudut pandang
atau pemaknaan dari masyarakat. Bagaimana kondisi sosial menentukan nilai bagi
subjek-subjek material seperti tato yang akan memberi pengaruh secara langsung
terhadap penggunanya. Perubahan sosial masyarakat dalam memaknai tato ini
berkaitan dengan kepentingan yang ada saat ini. Kemudian, bila dilihat secara
antropologis maka pemaknaan dan fungsi dari tato ini berkaitan dengan teori
struktural fungsional. Secara struktural, penggunaan tato berpengaruh pada tingkat
kelompok masyarakat tertentu. misalnya, penggunaan tato pada masyarakat
Mentawai tentu memiliki makna tersendiri. Tato merupakan roh kehidupan. Tato
memiliki empat kedudukan pada masyarakat ini, salah satunya adalah untuk
menunjukkan jati diri dan perbedaan status sosial atau profesi. Tato dukun sikerei,
misalnya, berbeda dengan tato ahli berburu. Ahli berburu dikenal lewat gambar
binatang tangkapannya, seperti babi, rusa, kera, burung, atau buaya. Tato juga

Universitas Sumatera Utara

dipakai oleh kepala suku (rimata) Selain itu, bagi masyarakat Mentawai, tato juga
memiliki fungsi sebagai simbol keseimbangan alam. Dalam masyarakat itu,
benda-benda seperti batu, hewan, dan tumbuhan harus diabadikan di atas tubuh.
Tato, juga dipakai pada seniman tato (sipatiti). Tetapi, seiring dengan
perkembangan zaman dan pengaruh media akhirnya stigma mengenai tato (bahwa
tato = penjahat, kriminalitas, dan lain-lain) mulai berkurang. Karena masyarakat
sendiri yang menilai bahwa tato tidak selamanya seperti itu.

Perubahan nilai terhadap tato ini sangat dipengaruhi juga karena
konstruksi kebudayaan yang dianut oleh masyarakat. Kita harus memperhatikan
konteks yang ada pada zaman ini. Tato tradisional mungkin menjadi sesuatu yang
bersifat religius dan magis karena gambar yang digunakan berupa simbol-simbol
yang terkait dengan alam dan kepercayaan masyarakat. Kemudian ada suatu masa
ketika tato tersebut menyandang stigma yang negatif. Seperti pada kelompok
Yakuza di Jepang, mereka menggunakan horimono (tato tradisional Jepang) pada
tubuhnya. Karena organisasi Yakuza ini sering terlibat dengan hal-hal kriminal
(seperti perjudian, narkoba), maka masyarakat terkonstruksi untuk melihat tato
sebagai hal yang negatif. Lain halnya dengan perkembangan tato saat ini.
Masyarakat mulai memahami tato sebagai simbol-simbol ekspresi seni dan
sebagainya sehingga pemakaian tato lebih cenderung ke arah populer. Berawal
dari pemberontakan terhadap stigma negatif, memang, namun hal ini dapat
dipandang sebagai counter culture yang memberi perubahan dan variasi dalam
kehidupan masyarakat.

Universitas Sumatera Utara

Dilihat secara artistik, tato memang memiliki fungsi estetika. Tato
dipandang sebagai wujud ekspresi seni. Seni tato sekarang ini menempati suatu
kedudukan khusus dan menjadi pilihan di dunia fashion. Tato dapat disejajarkan
sebagai sebuah aksesori pelengkap gaya berpakaian masyarakat sekarang ini,
terutama di kalangan anak muda di kawasan urban. Sebagian masyarakat masih
ada yang menganggap tabu, tapi memiliki tato adalah s

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

Analisis Makna Simbolik Yang Terkandung Dalam Gambar Tato Tradisional Jepang Yang Bergambar Binatang (Horimono/Irezumi)