Persepsi Perawat Terhadap Prinsip Perawatan Atraumatik Pada Anak Di Ruang III RSU Dr. Pirngadi Medan

(1)

Persepsi Perawat Terhadap Prinsip Perawatan Atraumatik

Pada Anak Di Ruang III RSU Dr.Pirngadi Medan

Sri Kurniawati

Skripsi

Program Studi Ilmu Keperawatan

Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara

Medan, 2009


(2)

Judul : Persepsi Perawat Terhadap Prinsip Perawatan Atraumatik Pada Anak Di Ruang III RSU Dr. Pirngadi Medan

Nama : Sri Kurniawati

NIM : 071101076

Tahun Akademik : 2008/2009

Pembimbing Penguji

... ... Penguji 1 Cholina T Srg, M.Kep, Sp. KMB Cholina T Srg, M.Kep, Sp. KMB NIP. 132 299 795 NIP. 132 299 795

... Penguji 2

Reni Asmara A, S.Kp, MARS

NIP. 132 296 508

... Penguji 3 Farida L. S Srg, S.Kep, M.Kep

NIP. 132 307 220

Program Studi Ilmu Keperawatan telah menyetujui ini sebagai bagian persyaratan kelulusan untuk Sarjana Keperawatan

... ... (Erniyati, S.Kp, MNS) Prof. Guslihan Dasa Tjipta, Sp.A (K) NIP. 132 238 510 NIP. 140 105 363


(3)

Judul : Persepsi perawat terhadap prinsip perawatan atraumatik pada anak di Ruang III Rumah Sakit Umum Dr.Pirngadi Medan

Peneliti : Sri Kurniawati

Nim : 071101076

Jurusan : Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokeran Universitas Sumatera Utara

Tahun Akademik : 2008/2009

ABSTRAK

Perawatan atraumatik adalah perawatan terapeutik yang diberikan kepada anak sebagai intervensi terpenting dalam perawatan anak untuk mencapai tumbuh kembang optimal ketika berada di rumah sakit. Apabila seorang perawat memiliki persepsi yang baik, maka perawat juga akan bersikap dan berperilaku baik dalam memberikan asuhan keperawatan. Prinsip perawatan atraumatik meliputi 5 komponen yaitu mencegah dampak dari perpisahan keluarga, meningkatkan kemampuan orang tua dalam mengontrol perawatan anak, mencegah terjadinya trauma dan mengurangi nyeri, tidak melakukan kekerasan pada anak dan modifikasi lingkungan fisik.

Penelitian dilakukan dengan tujuan untuk mengidentifikasi persepsi perawat terhadap 5 prinsip perawatan atraumatik di Ruang III Rumah Sakit Umum Dr. Pirngadi Medan. Desain penelitian ini adalah deskriptif dengan jumlah sampel 25 orang dengan teknik total sampling. Pengumpulan data dengan menggunakan kuesioner yang terdiri dari data demografi perawat dan persepsi perawat terhadap prinsip perawatan atraumatik pada anak.

Persepsi perawat terhadap prinsip perawatan atraumatik secara keseluruhan menunjukkan bahwa 16 (64%) perawat telah memiliki persepsi cukup baik dan 9 (36%) perawat yang memiliki persepsi baik. Analisa perkomponen dapat dilihat dari persepsi perawat cukup baik (60%) berkaitan dengan mencegah dampak dari perpisahan keluarga, persepsi perawat cukup baik (68%) berkaitan dengan meningkatkan kemampuan orang tua dalam mengontrol perawatan anak, persepsi perawat cukup baik (96%) dalam mencegah cedera dan mengurangi nyeri pada anak, dan persepsi perawat cukup baik (80%) terhadap modifikasi lingkunag fisik. Untuk itu diharapkan kepada perawat agar lebih memahami prinsip perawatan atraumatik dan dapat menerapkannya sebagai intervensi terpenting dalam melakukan perawatan anak di rumah sakit dan dapat mempercepat proses penyembuhan dan mengoptimalkan tumbuh kembang anak.

Kata Kunci : Persepsi Perawat, Prinsip perawatan atraumatik pada anak


(4)

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillah segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya yang tidak terkira sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan Judul “Persepsi perawat terhadap prinsip perawatan atraumatik pada anak di Ruang III Rumah Sakit Umum Dr.Pirngadi Medan”, yang merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih banyak kekurangan, sehingga dengan kerendahan hati penulis sangat mengharapkan saran dan kritik demi kesempurnaan skripsi ini.

Penyelesaian skripsi ini tidak terlepas dari berbagai pihak, untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Prof. Gontar A. Siregar. Sp. PD-KGEH selaku Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Bapak Prof. Guslihan Dasa Tjipta, Sp.A (K) selaku pembantu Dekan I Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, Ibu Erniyati, S.Kp, MNS selaku Ketua Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedoteran Universitas Sumatera Utara, Ibu Cholina Trisa Siregar. S.Kep, M.Kep Sp. KMB selaku dosen pembimbing dan penguji I sidang skripsi yang telah bersedia meluangkan waktunya dalam memberikan bimbingan dan arahan serta memberikan sumbangsih pikiran kepada penulis, ibu Reni Asmara Ariga, S.Kp, MARS selaku dosen penguji II dan Ibu Farida L.S. S.Kep, M.Kep selaku penguji III, ibu Anna Kasfi, S.Kep, Ns selaku dosen Pembimbing Akademik, dan seluruh staf pengajar Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara, bapak direktur RSU Dr.Pirngadi Medan, seluruh staf keperawatan maupun administrasi RSU Dr.Pirngadi Medan dan seluruh perawat yang bersedia menjadi responden dalam penelitian ini

Teristimewa buat kedua orang tuaku, Ayahanda tersayang Eri Wahyu Widayatman, Ibunda tersayang Zulhayati S.Pdi yang tidak pernah bosan mencurahkan perhatian, doa dan pengorbanan baik moril maupum meteril, yang


(5)

kesemua itu tidak mampu ku ungkapkan dan ku lukiskan lewat kata dan lisanku, untuk setiap belaian sayang dan pengorbanan panjangmu, aku tahu bahwa setiap langkah berbalut peluh engkau simpan sejuta harapan untuk kebahagiaanku, aku juga tahu hidup ini sangat singkat untuk berfikir kerdil, untuk itu aku ingin menjadi seseorang yang pantas engkau banggakan dan kebanggaan terbesarku adalah karena akun terlahir sebagai putrimu. Abang ku (Syafriadi, S.E) dan adik-adikku (Arif Kurniawan Hidayatullah, A.Md, Nurhidayati dan Ilham Rabikhi) tersayang yang selalu senantiasa menghadiahkan keceriaan, dorongan serta semangat ketika aku menghadapi semua masalah dan menjadi alasan bagi ku untuk tetap semangat, terus maju dan berusaha, dan kepada Irwan, S.T adalah seseorang yang menjadi inspirasi penulis dan memberikan semangat serta dorongan dalam menyelesaikan Skripsi ini, dan tidak lupa juga kepada kak Ana dan Bapak Syarif Purba dan adik-adikku di kos (Ety, Inoer, Ummil yang usil abiez), dan sahabat-sahabatku tersayang Boreg, Arika, Rina, dan seluruh sahabat PSIK-B Stambuk 2007 yang telah memberikan semangat dan bantuan serta sama-sama berjuang di PSIK FK USU. Semoga persahabatan kita tetap abadi. Harapan penulis semoga skripsi ini bermanfaat nantinya demi kemajuan ilmu pegetahuan khususnya ilmu keperawatan.

Medan, 12 Maret 2009


(6)

DAFTAR ISI

Halaman

LEMBAR PERSETUJUAN ……… i

ABSTRAK... ii

KATA PENGANTAR... iii

DAFTAR ISI... v

DAFTAR SKEMA... viii

DAFTAR TABEL... ix

BAB 1 PENDAHULUAN A. Latar Belakang... 1

B. Pertanyaan Penelitian... 4

C. TujuanPenelitian... 4

a. Tujuan Umum... 4

b. Tujuan Khusus... 4

D. Manfaat Penelitian ... 5

a. Praktek Keperawatan... 5

b. Pendidikan Keperawatan... 5

c. Rumah Sakit... 5

d. Penelitian Keperawatan... 5

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA A. Persepsi... 7

a. Defenisi Persepsi... 7

b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi... 8

B. Perawat... 9

a. Defenisi Perawat... 9

b. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Persepsi Perawat dalam Asuhan Keperawatan Bermutu... 10

c. Peran Perawat Anak... 10

d. Persepsi Perawat Terhadap Prinsip Perawatan Atraumatik pada Anak... 12

C. Konsep Anak... ... 14

a. Paradigma Keperawatan Anak... 14

b. Asuhan yang Berpusat pada Keluarga... 15

c. Prinsip-prinsip Perawatan Anak... 15

D. Konsep Keamanan Fisik... 17

a. Pengertian Keamanan Fisik... 17

b. Karakteristik Keamanan... 18


(7)

D. Perawatan Atraumatik pada Anak... 21

a. Defenisi Perawatan Atraumatik... 21

b. Prinsip Perawatan Atraumatik pada Anak... 22

c. Prosedur yang Berhubungan dengan Mempertahankan Keamanan ... 27

d. Pencegahan Kecelakaan Pada Anak... 28

e. Pengelompokan Masalah Keperawatan Anak yang Dirawat di Rumah Sakit... 29

f. Pedoman Orientasi Ruangan pada Penderita Anak... 29

BAB 3 KERANGKA PENELITIAN A. Kerangka Konseptual.. ... 31

B. Defenisi Operasional... ... 32

BAB 4 METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian ... 34

B. Populasi dan Sampel Penelitian ... 34

a. Populasi Penelitian... 34

b. Sampe Penelitian... 34

C. LokasidanWaktuPenelitian... ... 34

D. Pertimbangan Etik... 35

E. Instrumen Penelitian ... 35

a. Kuesiuner Data Demografi... 35

b. Kuesioner Persepsi Perawat... 36

F. Validitas Instrumen... . 36

G. Uji Reliabilitas... 37

H. Pengumpulan Data... 37

I. Analisa Data... 38

BAB 5 HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian... 40

a. Karakteristik Responden... 40

c. Persepsi Perawat berkaitan dengan Mencegah Dampak dari Perpisahan Keluarga... 41

d. Persepsi Perawat berkaitan dengan Meningkatkan KemampuanOrang Tua dalam Mengontrol Perawatan Anak... 42

e. Persepsi Perawat dalam Mencegah Cedera (injury) dan Mengurangi Nyeri (dampak psikologis)... 42

f. Persepsi Perawat berkaitan dengan Tidak Melakukan Kekerasan pada Anak... 43

g. Persepsi Perawat Terhadap Modifikasi Lingkungan Fisik... 43


(8)

h. Persepsi Perawat Terhadap Prinsip Perawatan

Atraumatik pada Anak... 44

B. Pembahasan... . 44

a. Karakteristik Responden... 44

b. Persepsi Perawat berkaitan dengan Mencegah Dampak dari Perpisahan Keluarga... 47

c. Persepsi Perawat berkaitan dengan Meningkatkan KemampuanOrang Tua dalam Mengontrol Perawatan Anak... 48

d. Persepsi Perawat dalam Mencegah Cedera (injury) dan Mengurangi Nyeri (dampak psikologis... 49

e. Persepsi Perawat berkaitan dengan Tidak Melakukan Kekerasan pada Anak... 50

f. Persepsi Perawat Terhadap Modifikasi Lingkungan Fisik... 51

g. Persepsi Perawat Terhadap Prinsip Perawatan Atraumatik pada Anak... 52

BAB 6 KESIMPULAN DAN REKOMENDASI A. Kesimpulan... 53

B. Rekomendasi... . 53

a. Praktek Keperawatan... 53

b. Institusi Pendidikan Keperawatan... 54

c. Penelitian Keperawatan Selanjutnya... 54

DAFTAR PUSTAKA DAFTAR LAMPIRAN

1. Formulir persetujuan menjadi responden penelitan 2. Instrumen penelitian

3. Uji reliabilitas kuesioner persepsi perawat terhadap prinsip perawatan atraumatik pada anak

4. Hasil pengolahan data demografi responden

5. Hasil pengolahan data persepsi perawat terhadap prinsip perawatan atraumatik pada anak

6. Surat izin penelitian dari PSIK FK USU

7. Surat keterangan penelitian dari RSU Dr.Pirngadi Medan 8. Curiculum vitae


(9)

DAFTAR SKEMA

Skema Halaman

1. Keranka konseptual penelitian perseps perawat terhadap prinsip perawatan atraumatik di Ruang III


(10)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 3.1. Defenisi operasional variabel dan Sub variabel penelitian.... 32 Tabel 5.1. Distribusi frekuensi karakteristik responden

di Ruang III RSU Dr.Pirngadi Medan

Tahun 2009 (N=25)... 41 Tabel 5.2. Distribusi dan persentase persepsi perawat

perawat dalam mencegah dampak dari perpisahan keluarga di Ruang III RSU Dr.Pirngadi Medan

Tahun 2009 (N=25)... 41 Tabel 5.3. Distribusi dan persentase persepsi perawat berkaitan

Dengan meningkatkan kemampuan orang tua dalam Mengontrol perawatan anak di Ruang III

RSU Dr.Pirngadi Medan Tahun 2009 (N=25)... 42 Tabel 5.4. Distribusi dan persentase persepsi perawat dalam

mencegah terjadinya cedera (injury) dan mengurangi nyeri (dampak psikologis) di Ruang III

RSU Dr.Pirngadi Medan Tahun 2009 (N=25)... 43 Tabel 5.5. Distrbusi dan persentase persepsi perawat berkaitan

dengan tidak melakukan kekerasan pada anak di Ruang III RSU Dr.Pirngadi Medan

Tahun 2009 (N=25)... 43 Tabel 5.6. Distribusi dan persentase persepsi perawat terhadap

modifikasi lingkungan fisik di Ruang III

RSU Dr.Pirngadi Medan Tahun 2009 (N=25)... 44 Tabel 5.7. Distibusi dan persentase persepsi perawat terhadap

prinsip perawatan atraumatik pada anak di Ruang III

RSU Dr.Pirngadi Medan Tahun 2009 (N=25)... 44


(11)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam kehidupan sehari-hari, terkadang apa yang kita inginkan, orang lain tahu maksud kita. Kenyataannya, tidak semua orang yang kita harapkan mengerti, Begitu juga berhadapan dengan pasien, dan yang perlu kita tanyakan apakah yang dimaksud pasien sama yang kita pikirkan. Karena persepsi yang salah dapat menyebabkan seseorang menjadi tegang, tidak suka, tidak nyaman, dan tidak puas, oleh karena itu kita perlu memahami persepsi (Mustikasar, 2006).

Seorang perawat adalah individu yang bertanggung jawab dan berwewenang memberikan pelayanan keperawatan, akan tetapi memiliki persepsi yang berbeda. Karena persepsi dapat dipengaruhi oleh individu yang bersangkutan, sasaran persepsi dan situasi (Siagian, 2004). Apabila seorang perawat memiliki persepsi yang positf, maka perawat juga akan bersikap dan berperilaku yang positif dalam memberikan asuhan keperawatan (Satiadarma, 2001).

Salah satu faktor yang mempengaruhi persepsi perawat pelaksana dalam asuhan keperawatan adalah tersedianya sarana dan prasarana yang dapat memperlancar kegiatan keperawatan seperti peralatan medik (obat-obatan, set infus, kateter), peralatan keperawatan (materi pencegahan infeksi, pencegahan trauma), dan peralatan pendukung keperawatan (Herymrt, 2008).


(12)

Hospitalisasi pada anak merupakan proses karena suatu alasan yang berencana atau darurat mengharuskan anak untuk tinggal di rumah sakit menjalani terapi dan perawatan sampai pemulangan kembali kerumah. Selama proses tersebut, anak dapat mengalami berbagai kejadian yang menunjukkan pengalaman yang sangat trauma dan penuh dengan stres (Nursalam, 2005).

Tindakan yang dilakukan dalam mengatasi masalah anak, apapun bentuknya harus berlandaskan pada prinsip atraumatik care atau asuhan yang terapuetik karena bertujuan sebagai terapi bagi anak. Perawatan atraumatik pada anak tidak terlepas dari peran serta orang tua (Supartini, 2004). Sebuah hasil penelitian yang dilakukan oleh Hanna dan Sherlock (1989) menyebutkan bahwa 90 % anak yang berusia 4 sampai 11 tahun menginginkan orang tua mereka menemani selama proses perawatan di rumah sakit (Wong, 2002).

Hasil penelitian dari Sherlock (1990) dalam Supartini (2007) menunjukkan bahwa lingkungan rumah sakit yang dapat menimbulkan trauma pada anak adalah lingkungan fisik rumah sakit, tenaga kesehatan baik dari sikap maupun pakaian putih, alat-alat yang digunakan dan lingkungan sosial antar sesama pasien. Dengan adanya stresor tersebut, distres yang dapat dialami anak adalah gangguan tidur, pembatasan aktivitas, perasaan nyeri, dan suara bising sedangkan distres psikologis mencakup kecemasan, takut marah, kecewa, sedih, malu, dan rasa bersalah.

Lingkungan fisik dan psikososial rumah sakit dapat menjadi stresor bagi anak untuk menimbulkan trauma. Prinsip dasar dari perawatan atraumatik yang harus dimiliki oleh setiap perawat anak terdiri dari 5 komponen yang meliputi menurunkan atau mencegah perpisahan dari keluarga, meningkatkan


(13)

kemampuan orang tua dalam mengontrol perawatan pada anak, mencegah atau mengurangi cedera dan nyeri, tidak melakukan kekerasan pada anak dan modifikasi lingkungan fisik. Selain itu perilaku petugas dan ruangan perawatan anak tidak dapat disamakan seperti orang dewasa (Hidayat, 2005).

Oleh karena itu perlunya peran serta perawat dan persepsi yang baik terhadap perawatan atraumatik yang bertujuan untuk tidak terjadinya trauma pada anak baik fisik maupun psikis (Supartini, 2004). Dari hasil penelitan yang dilakukan oleh (Sitio, 2008) menyebutkan bahwa 11 orang (44%) perawat memiliki persepsi yang baik dan 14 orang (56%) perawat yang memiliki persepsi cukup baik terhadap keterlibatan orang tua dalam perawatan anak yang merupakan salah satu prinsip perawatan atraumatik pada anak.

Rumah Sakit Umum Dr.Pirngadi Medan merupakan salah satu rumah sakit yang memberikan pelayanan keperawatan anak, dari hasil wawancara pada 4 orang anak berumur 5-7 tahun yang di rawat di ruang III dan diperoleh mereka merasa takut dan terasa sakit ketika diberikan tindakan medis misalnya pemberian obat melalui injeksi, pembersihan luka, dan lain-lain. Hal ini menunjukkan mereka masih mengalami trauma fisik dan psikis.

Berdasarkan uraian diatas, peneliti merasa tertarik untuk meneliti bagaimana persepsi perawat terhadap prinsip perawatan atraumatik pada anak di ruang III RSU Dr.Pirngadi Medan yang merupakan salah satu rumah sakit rujukan di kota Medan.


(14)

B. Pertanyaan Penelitian

Bagaimana persepsi perawat terhadap prinsip perawatan atraumatik pada anak di Ruang III RSU Dr. Pirngadi Medan.

C. Tujuan Penelitian a. Tujuan Umum

Mengidentifikasi persepsi perawat terhadap prinsip perawatan atraumatik pada anak di Ruang III RSU Dr. Pirngadi Medan.

b.Tujuan Khusus

1. Untuk mengidentifikasi karakteristik demografi perawat yang berada di Ruang III RSU Dr.Pirngadi Medan.

2. Untuk mengidentifikasi persepsi perawat mengenai pencegahan dampak dari perpisahan keluarga.

3. Untuk mengidentifikasi persepsi perawat mengenai peningkatkan kemampuan orang tua dalam mengontrol perawatan anak.

4. Untuk mengidentifikasi persepsi perawat mengenai pencegahan cedera atau pengurangan nyeri.

5. Untuk mengidentifikasi persepsi perawat berkaitan dengan tidak melakukan kekerasan pada anak.

6. Untuk mengidentifikasi persepsi perawat berkaitan dengan memodifikasi lingkungan fisik rumah sakit.


(15)

D. Manfaat penelitian a. Praktek Keperawatan

Hasil penelitian diharapkan dapat digunakan sebagai masukan bagi perawat untuk melakukan peraktek keperawatan profesional dalam upaya meningkatkan pelayanan keperawatan khususnya pemberian perawatan atraumatik pada anak.

b. Pendidikan Keperawatan

Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi bagi pendidikan perawatan tentang gambaran praktek keperawatan yang ada di rumah sakit,. Sehingga dapat memotivasi pendidikan keperawatan untuk menciptakan lulusan perawat yang siap mengimplementasikan praktek keperawatan professional khususnya dalam keperawatan anak.

c. Rumah Sakit

Hasil peneitian ini dapat digunakan sebagai data dasar untuk mengimplementasikan perawatan atraumatik pada anak di RSU Dr. Pringadi Medan.

d. Penelitian Keperawatan

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai sumber data dan data dasar bagi penelitian selanjutnya dalam ruang lingkup yang sama.


(16)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

A. Persepsi

a. Defenisi persepsi

Ada banyak ahli yang mendefenisikan persepsi. Desiderato (1976) mendefenisisikan persepsi merupakan pengalaman tentang objek, peristiwa atau hubungan-hubungan yang diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan atau memberikan makna pada stimulasi indera (Rahmat, 2005).

Persepsi adalah proses pengorganisasian, penginterpretasian terhadap rangsang yang diterima oleh organisme atau individu sehingga merupakan sesuatu yang berarti dan merupakan aktivitas yang merupakan aktivis yang integrated dalam diri individu (Bimo, 2001 dalam Sunaryo, 2004).

Menurut Maramis (1999, dikutip dari Sunaryo, 2004) persepsi adalah daya mengenal barang, kualitas atau hubungan, dan perbedaan antara hai ini melalui proses mengamati, mengetahui, atau mengartikan setelah pancainderanya mendapat rangsang. Dengan demikian, persepsi dapat diartikan sebagai proses diterimanya rangsang melalui pancaindera yang didahului oleh perhatian sehingga individu mampu mengetahui mengartikan, dan menghayati tentang hal yang diamati, baik yang ada di luar maupun yang ada di dalam diri individu.


(17)

Demikian juga disampaikan oleh Hanna bahwa persepsi adalah proses menyeleksi, mengorganisir, dan menginterpretasikan stimulus, untuk membentuk gambaran yang berkaitan dan memiliki arti (Wozniak, 2001).

b. Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi

Siagian (2004), menyatakkan bahwa diri orang yang bersangkutan, sasaran persepsi, dan faktor situasi merupakan faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang.

1. Diri orang yang bersangkutan sendiri

Apabila seseorang melihat sesuatu dan berusaha memberikan interpretasi tentang apa yang dilihatnya itu. Dalam hal ini yang berpengaruh adalah karakteristik individual sikap, motif, kepentingan, minat, pengalaman dan pengharapan. Melalui pengalaman, seseorang bisa mendapatkan informasi baik secara langsung maupun tidak langsung. Langsung artinya pengalaman tertentu dialami sendiri oleh individu yang bersangkutan dan tidak langsung artinya individu yang bersangkutan memperoeh informasi dari buku atau sumber lain

2. Sasaran persepsi tersebut

Yang menjadi sasaran persepsi dapat berupa orang, benda atau peristiwa, dimana sifat-sifat dari sasaran persepsi dapat mempengaruhi persepsi orang yang melihatnya. Hal-hal lain yang ikut menentukan persepsi seseorang adalah gerakan, suara, ukuran, tindak tanduk dan ciri-ciri lain dari sasaran persepsi.


(18)

3. Faktor situasi

Persepsi harus dilihat secara kontekstual yang berarti dalam situasi mana persepsi itu timbul perlu pula mendapatkan perhatian memiliki hubungan yang bersifat timbal balik. Persepsi tentang sesuatu hal akan mengarahkan seseorang untuk memperhatikan hal-hal tertentu. Sebaliknya, apabila seseorang menaruh perhatian pada suatu hal tertentu maka perhatian seseorang tersebut akan mempengaruhi persepsinya (Satiadarma, 2001). Situasi merupakan faktor yang turut berperan dalam penumbuhan persepsi seseorang. Misalnya, seorang anak akan menunjukkan suatu pola prilaku tertentu bila berhadapan dengan orang tua seperti sopan, tertib dan sejenisnya, berbeda dengan prilakunya apabila berada di tengah-tengah rekan sebayanya.

B. Perawat

a. Defenisi perawat

Menurut Undang-Undang Kesehatan RI Nomor 23/1992 mendefenisikan perawat sebagai orang yang memiliki kemampuan dan kewenangan melakukan tindakan keperawatan berdasarkan ilmu yang dimilikinya yang diperoleh dari pendidikan keperawatan (Gaffar, 1999)

Sedangkan keperawatan adalah suatu profesi. Melalui Seminar Nasional Keperawatan pengertian keperawatan yaitu suatu bentuk pelayanan profesional sabagai bagian integral dari pelayanan kesehatan yang meliputi aspek bio-psiko-sosio-spritual yang komprehensif, ditujukan kepada individu, keluarga dan masyarakat yang sehat maupun sakit yang mencakup siklus hidup manusia (Gaffar, 1999).


(19)

Pelayanan keperawatan dilakukan dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan, mencegah penyakit, penyembuhan, pemulihan serta pemeliharaan kesehatan dengan penekanan pada upaya pelayanan kesehatan utama untuk memungkinkan setiap penduduk mencapai kemampuan hidup sehat dan produktif yang dilakukan sesuai dengan wewenang, tanggung jawab dan etika profesi keperawatan (Gaffar, 1999).

b. Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi perawat dalam asuhan keperawatan Bermutu (Herymrt, 2008).

1. Pemberian kewenangan utuh untuk mendesain, mengatur, melaksanakan, dan mengevaluasi pelayanan keperawatan karena hanya perawat yang tahu kondisi pasien dan lingkungan sekitarnya.

2. Pelayanan keperawatan diberikan dalam lingkungan kerja pratek profesional

3. Kualifikasi keperawatan yang memadai ini bertujuan untuk mengoptimalkan pelayanan pada pasien di rumah sakit

4. Tersedianya sarana dan prasarana yang dapat mempelancar kegiatan keperawatan seperti peralatan keperawatan (alat tenun yang cukup, meteri pencegah infeksi, pencegahan trauma).

5. Diberlakukannya sistem penghargaan (promosi dan kompensasi) memadai yang memungkinkan perawat tidak harus berfikir tentang kepentingan sendiri, pendidikan, dan masa depan karirnya.

c. Peran perawat anak

Beberapa peran penting seorang perawat anak menurut (Nursalam, 2005) yaitu sebagai pendidik baik secara langsung dengan memberi


(20)

penyuluhan atau pendidikan kesehatan pada orang tua anak maupun secara tidak langsung dengan menolong orang tua atau anak memahami pengobatan dan perawatan anaknya. Tiga domain yang dapat diubah oleh perawat melalui pendidikan kesehatan adalah pengetahuan, keterampilan, serta sikap keluarga dalam hal kesehatan, khususnya perawatan anak sakit.

Suatu waktu anak dan keluarganya mempunyai kebutuhan psikologis berupa dukungan atau dorongan mental. Sebagai konselor, perawat dapat memberi konseling keperawatan ketika anak dan orang tuanya membutuhkan.

Perawat berada pada posisi kunci untuk menjadi koordinator pelayanan kesehatan karena 24 jam berada disamping pasien. Keluarga adalah mitra perawat, oleh karea itu kerja sama dengan keluarga juga harus terbina dengan baik, tidak hanya saat perawat membutuhkan informasi dari keluarga saja, melainkan rangkaian proses perawatan anak harus melibatkan keluarga secara aktif. Dengan pendekatan interdisiplin, perawat melakukan koordinasi dan kolaborasi dengan anggota tim kesehatan lain, dengan tujuan terlaksananya asuhan yang holistik dan komprehensif.

Perawat dituntut untuk dapat berperan sebagai pembuat keputusan etik dengan berdasarkan pada nilai moral yang diyakini dengan penekanan pada hak pasien untuk mendapat otonomi, menghindari hal-hal yang merugikan pasien, dan asuhan keperawatan, yaitu meningkatkan kesejahteraan pasien. Perawat yang paling mengerti tentang layanan keperawatan anak. Oleh karena itu, perawat harus dapat meyakinkan pemegang kebijakan bahwa


(21)

usulan tentang perencanaan pelayanan keperawatan yang diajukan dapat memberikan dampak terhadap peningkatan kualitas asuhan keperawatan.

Perawat juga berperan sebagai peneliti, yang membutuhkan keterlibatan penuh dalam upaya menemukan masalah-masalah keperawatan anak yang harus diteliti, melaksanakan penelitian langsung, menggunakan hasil penelitian kesehatan atau keperawatan anak dengan tujuan meningkatkan kualitas asuhan keperawatan pada anak.

d. Persepsi perawat terhadap prinsip perawatan atraumatik pada anak

Perawat memiliki persepsi yang berbeda-beda terhadap prinsip perawatan atraumatik pada anak orang tua dalam melakukan perawatan anak di rumah sakit. Ada perawat yang memiliki persepsi yang baik, artinya perawat tersebut memiliki pendapat yang baik terhadap prinsip perawatan atraumatik pada anak sedangkan persepsi tidak baik yaitu tidak sependapat dengan prinsip perawatan atraumatik (Herymrt, 2008). Menurut (Carpenito 1995 dalam tobing, 2007), ternyata tingkat pendidikan dapat mempengaruhi seseorang dalam melakukan tindakan terhadap kliennya, karena semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang perawat maka semakin tinggi tingkat pengetahuannya dalam memberikan asuhan keperawatan. Pengalaman dalam bekerja juga dapat mempengaruhi persepsi seseorang, hal ini sesuai dengan pendapat (Rahmat, 1992) bahwa pengalaman seseorang dalam bekerja dapat mempengaruhi persepsi.


(22)

Atraumatic care atau asuhan yang tidak menimbulkan trauma pada

anak da keluarganya merupakan asuhan yang terapeutik karena bertujuan sebagai terapi bagi anak. Dasar pemikiran pentingnya asuhan terapeutik ini adalah bahwa walaupun ilmu pegetahuan dan teknologi di bidang pediatrik telah berkembang pesat, tindakan yang dilakukan pada anak tetap menimbulkan trauma, rasa nyeri, marah, cemas dan takut pada anak. Sangat disadari bahwa sampai saat ini belum ada teknologi yang dapat mengatasi masalah yang timbul sebagai dampak perawatan tersebut diatas. Hal ini memerlukan perhatian khusus dari tenaga kesehatan, khususnya perawat dalam melaksanakan tindakan pada anak dan orang tua (Supartini, 2004).

Dan hasi penelitian yang dilakukan oleh (Sitio, 2008) yang berjudul persepsi perawat terhadap keterlibatan orang tua dalam perawatan anak menyebutkan 11 orang (44%) perawat memiliki persepsi yang baik dan 14 orang (56%) perawat yang memiliki persepsi cukup baik yang merupakan salah satu prinsip dari perawatan atraumatik pada anak.

Beberapa bukti penelitian menunjukkan bahwa lingkungan rumah sakit yang dapat menimbulkan trauma bagi anak adalah lingkungan fisik rumah sakit, tenaga kesehatan baik dari sikap maupun pakaian putih, alat-alat yang digunakan, dan lingkunagan sosial antar sesama pasien. Dengan adanya streor tersebut, distres yang dapat dialami anak adalah gangguan tidur, pembatasan aktivitas, perasaan nyeri, dan suara bising, sedangkan dostres psikologis mencakup kecemasan, takut, marah, kecewa, sedih, malu, dan rasa bersalah (Supartini,2004).


(23)

C. Konsep anak

a. Paradigma keperawatan anak

Paradigma keperawatan anak menurut (Supartini, 2004) dikelompokkan 4 komponen yaitu:

1. Manusia (Anak)

Manusia sebagai klien dalam keperwatan anak adalah individu yang berusia antara 0 sampai 18 tahun, yang sedang dalam proses tumbuh kembang, mempunyai kebutuhan yang spesifik (fisik, psikologik, dan spiritual) yang berbeda dengan orang dewasa.

2. Sehat

Sehat dalam keperawatan anak adalah sehat dalam rentang sehat-sakit. Sehat adalah keadaan kesejahteraan optimal antara fisik, mental, dan sosial yang harus dicapai sepanjang kehidupan anak dalam rangka mencapai tingkat pertumbuhan dan perkembangan yang optimal sesuai dengan usianya.

3. Lingkungan

Lingkungan terdiri atas lingkungan interna dan lingkungan eksternal yang dapat mempengaruhi kesehatan anak. Lingkungan interna, yaitu genetik (keturunan), kematangan biologis, jenis kelamin, intelektual, emosi, dan adanya predisposisi atau resistensi terhadap penyakit. Lingkungan eksternal yaitu status nutrisi, orang tua, saudara sekandung (sibling), masyarakat atau kelompok sekolah dan lain-lain.


(24)

4. Keperawatan

Untuk memperoleh pertumbuhan dan perkembangan yang optimal, perawat dapat membantu anak dan keluarganya memenuhi kebutuhan yang spesifik dengan cara membina hubungan terapeutik dengan anak atau keluarga melalui perannya sebagai pembela, pemulih atau pemelihara kesehatan, koordinator, kolabolator, pembuat keputusan etik dan perencana kesehatan.

b. Asuhan yang berpusat pada keluarga

Hal ini bertujuan agar dengan difasilitasnya hubungan antara orang tua dan anaknya, orang tua diharapkan mempunyai kesempatan untuk meneruskan peran dan tugasnya merawat anak selama di rumah sakit. Perawat juga mempunyai peran penting untuk meningkatkan kemampuan orang tua dalam merawat anaknya ( Supartini, 2004).

Elemen pokok yang berpusat pada keluarga menurut (Supartini, 2004). 1. Hubungan anak dan orang tua adalah unik, berbeda antara yang satu dan

yang lainnya. Setiap anak mempunyai karakteristik yang berbeda dan berespon terhadap sakit dan perawatan di rumah sakit secara berbeda pula. Demikian pula orang tua mempunyai latar belakang individu yang berbeda dalam berespon terhadap kondisi anak dan perawatan di rumah sakit.

2. Orang tua dapat memberikan asuhan yang efektif selama hospitalisasi anaknya. Telah terbukti dalam beberapa penelitian bahwa anak akan merasa nyaman apabila berada di samping orang tuanya, terlebih lagi pada saat menghadapi situasi menakutkan seperti dilakukan prosedur


(25)

invasive. Dengan demikian, tujuan asuhan akan tercapai dengan baik apabila ada kerja sama yang baik antara perawat dan orang tua.

3. Kerja sama dalam model asuhan adalah fleksibel dan menggunakan konsep dasar asuhan keperawatan anak yaitu perawat dapat melakukan asuhan keluarga dan keluarga dapat melakukan asuhan keperawatan. 4. Keberhasilan dari pendekatan ini bergantung pada kesepakatan tim

kesehatan untuk mendukung kerja sama yang aktif dari orang tua. Kesepakatan untuk menggunakan pendekatan Family centred tidak cukup hanya dari perawat, tetapi juga seluruh petugas kesehatan yang lain.

c. Prinsip-prinsip perawatan anak

Diantara prinsip dalam asuhan keperawatan anak menurut (Hidayat, 2005). 1. Anak bukan miniature orang dewasa tetapi sebagai individu yang unik.

Prinsip ini mengandung arti bahwa tidak boleh memandang anak dari ukuran fisik saja, karena anak mempunyai pola pertumbuhan dan perkembangan menuju proses kematangan

2. Anak adalah sebagai individu yang unik dan mempunyai kebutuhan sesuai dengan tahap perkembangan.

3. Pelayanan keperawatan anak berorientasi pada upaya pencegahan penyakit dan peningkatan derajat kesehatan untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian.

4. Keperawatan anak merupakan disiplin ilmu kesehatan yang berfokus pada kesejahteraan anak sehingga perawat bertanggungjawab


(26)

komprehensif dalam memberikan asuhan keperawatan anak misalnya

anak tidak merasakan gangguan psikologis, rasa cemas dan takut.

5. Praktik keperawatan anak mencakup kontrak dengan anak dan keluarga untuk mencegah, mengkaji, mengintervensi, dan meningkatkan kesejahteraan hidup, dengan menggunakan proses keperawatan yang sesuai dengan aspek moral (etik) dan aspek hukum (legal).

6. Tujuan keperawatan anak dan remaja adalah untuk meningkatkan maturasi atau kematangan yang sehat bagi anak dan remaja sabagai makhluk biopsikososial dan spiritual dalam konteks keluarga dan masyarakat.

7. Pada masa yang akan datang kecendrungan keperawatan anak berfokus pada ilmu tumbuh kembang .

D. Konsep keamanan fisik a. Pengertian keamanan fisik

Keamanan adalah kebutuhan dasar manusia prioritas kedua berdasarkan kebutuhan fisiologis dalam hirarki Maslow yang harus terpenuhi selama hidupnya, sebab dengan terpenuhinya rasa aman setiap individu dapat berkarya dengan optimal dalam hidupnya. Ilmu keperawatan sebagai ilmu yang berfokus pada manusia dan kebutuhan dasarnya memiliki tanggung jawab dalam mencegah terjadinya kecelakaan dan cedera sebagaimana merawat klien yang telah cedera tidak hanya di lingkungan rumah sakit tapi juga di rumah, tempat kerja, dan komunitas. (Patmawati, 2007).


(27)

Secara umum keamanan (safety) adalah status seseorang dalam keadaan aman, kondisi yang terlindungi secara fisik, sosial, spiritual, finansial, politik, emosi, pekerjaan, psikologis atau berbagai akibat dari sebuah kegagalan, kerusakan, kecelakaan, atau berbagai keadaan yang tidak diinginkan. Menurut Craven (2000) keamanan tidak hanya mencegah rasa sakit dan cedera tetapi juga membuat individu merasa aman dalam aktifitasnya. Keamanan dapat mengurangi stres dan meningkatkan kesehatan umum (Patmawati, 2007).

b. Karakteristik keamanan

Menurut Fatmawati (2007) ada 3 karakteristik keamanan yaitu:

1. Periveness (insidensi) keamanan bersifat pervasive artinya luas mempengaruhi semua hal. Artinya klien membutuhkan keamanan pada seluruh aktifitasnya seperti makan, bernafas, kerja, dan bermain.

2. Perception (persepsi) persepsi seseorang tentang keamanan dan bahaya mempengaruhi aplikasi keamanan dalam aktifitas sehari-harinya. Tindakan penjagaan keamanan dapat efektif jika individu mengerti dan menerima bahaya secara akurat.

3. Management (pengaturan) ketika individu mengenali bahaya pada lingkungan klien akan melakukan tindakan pencegahan agar bahaya tidak terjadi dan itulah praktek keamanan. Pencegahan adalah karakteristik dari keamanan.


(28)

c. Jenis-jenis bahaya yang mengancam keamanan fisik

Beberapa bahaya yang sering mengancam klien baik yang berada di tempat pelayanan kesehatan, rumah, maupun komunitas diantaranya (Patmawati, 2007).

1. Api atau kebakaran.

Api adalah bahaya umum baik di rumah maupun rumah sakit. Penyebab kebakaran yang paling sering adalah rokok dan hubungan pendek arus listrik. Kebakaran dapat terjadi jika terdapat tiga elemen sebagai berikut: panas yang cukup, bahan yang mudah terbakar, dan oksigen yang tidak cukup.

2. Luka bakar (scalds and burns).

Scald adalah luka bakar yang diakibatkan oleh cairan atau uap panas, seperti uap air panas. Burn adalah luka bakar diakibatkan terpapar oleh panas tnggi, bahan kimia, listrik, atau agen radioaktif. Klien di rumah sakit yang berisiko terhadap luka bakar adalah klien yang mengalami penurunan sensasi suhu dipermukaan kulit.

3. Jatuh.

Terjatuh bisa terjadi pada siapa saja terutama bayi dan lansia. Jatuh dapat terjadi akibat lantai licin dan berair, alat-alat yang berantakan, lingkungan dengan pencahayaan yang kurang.

4. Keracunan.

Racun adalah semua zat yang dapat mencederai atau membunuh melalui aktivitas kimianya jika dihisap, disuntikkan, digunakan, atau diserap dalam jumlah yang cukup sedikit. Penyebab utama keracunan pada


(29)

anak-anak adalah penyimpanan bahan berbahaya atau beracun yang sembarangan, pada remaja adalah gigitan serangga dan ular atau upaya bunuh diri. Pada lansia biasanya akibat salah makan obat (karena penurunan pengelihatan) atau akibat overdosis obat (karena penurunan daya ingat).

5. Sengatan listrik.

Sengatan listrik dan hubungan arus pendek adalah bahaya yang harus diwaspadai oleh perawat. Perlengkapan listrik yang tidak baik dapat menyebabkan sengatan listrik bahkan kebakaran, contoh: percikan listrik didekat gas anestesi atau oksigen konsentrasi tinggi.

6. Suara bising.

Suara bising adalah bahaya yang dapat menyebabkan hilangnya fungsi pendengaran, tergantung dari: tingkat kebisingan, frekuensi terpapar kebisingan, dan lamanya terpapar kebisingan serta kerentanan individu. Suara diatas 120 desibel dapat menyebabkan nyeri dan gangguan pendengaran walaupun klien hanya terpapar sebentar. Terpapar suara 85-95 desibel untuk beberapa jam per hari dapat menyebabkan gangguan pendengaran yang progressive. Suara bising dibawah 85 desibel biasanya tidak mengganggu pendengaran.

7. Radiasi

Cedera radiasi dapat terjadi akibat terpapar zat radioaktif yang berlebihan atau pengobatan melalui radiasi yang merusak sel lain. Zat radioaktif digunakan dalam prosedur diagnoostik seperti radiografi,


(30)

fluoroscopy, dan pengobatan nuklir. Contoh isotop yang sering digunakan

adalah calsium, iodine, dan fosfor .

8. Suffocation (asfiksia) atau choking (tersedak).

Tersedak (suffocation atau asphyxiation) adalah keadaan kekurangan

oksigen akibat gangguan dalam bernafas. Suffocation bisa terjadi jika sumber udara terhambat atau terhenti contoh pada klien tenggelam atau kepalanya terbungkus plastik. Suffocation juga bisa disebabkan oleh adanya benda asing di saluran nafas atas yang menghalangi udara masuk ke paru-paru. Jika klien tidak segera ditolong bisa terjadi henti nafas dan henti jantung serta kematian.

9. Lain-lain

Kecelakaan bisa juga disebabkan oleh alat-alat medis yang tidak berfungsi dengan baik (equipment-related accidents) dan kesalahan prosedur yang tidak disengaja (procedure-related equipment).

E. Perawatan atraumatik pada anak

a. Defenisi perawatan atraumatik pada anak

Menurut Hidayat (2005), atraumatik care adalah perawatan yang tidak menimbulkan adanya trauma pada anak maupun keluarga. Perawatan tersebut difokuskan dalam pencegahan terhadap trauma yang merupakan bagian dalam keperawatan anak. Perhatian khusus kepada anak sebagai individu yang masih dalam usia tumbuh kembang, sangat penting karena masa anak merupakan proses menuju kematangan.


(31)

Dengan demikian, atraumatik care sebagai bentuk perawatan terapeutik dapat diberikan kepada anak dan keluarga dengan mengurangi dampak psikologis dari tindakan keperawatan yang diberikan seperti memperhatikan dampak tindakan yang diberikan dengan melihat prosedur tindakan atau aspek lain yang kemungkinan berdampak adanya trauma (Hidayat, 2005).

Menurut (Whaley and Wong 1995) dalam Wong (2005) atraumatic

care merupakan sebagai ketetapan dan kepedulian dari tim pelayanan

kesehatan melalui intervensi yang meminimalkan atau meniadakan stressor yang dialami oleh anak dan keluarga di rumah sakit baik fisik maupun psikis. Perawatan atraumatik juga disebut dengan perawatan yang terapeutik yang meliputi pada pencegahan trauma, hasil diagnosa, dan mengurangi dampak kondisi-kondisi yang akut maupun kronis. Dan Wiggins (1994) dalam (Wong, 2005) mengungkapkan bahwa stresor lingkungan yang sering dialami oleh anak adalah lingkungan rumah sakit yang tidak nyaman bagi mereka yang mengakibatkatkan anak stress selam dirawat dirumah sakit.

b. Prinsip Perawatan Atraumatik pada Anak

Pada umumnya anak yang dirawat di rumah sakit akan timbul rasa takut baik pada dokter maupun perawat, apalagi jika anak telah mempunyai pengalaman mendapatkan imunisasi. Dalam bayangannya, perawat atau dokter akan menyakiti dan menyuntik. Selain itu anak juga merasa terganggu hubungannya dengan orang tua dan saudaranya. Lingkungan di rumah tentu berbeda bentuk dan suasananya dengan ruang perawatan. Reaksi pertama selain ketakutan, tidak mau makan dan minum bahkan


(32)

menangis. Untuk mengatasi masalah tersebut adalah memberikan perawatan atraumatik.

Ada beberapa prinsip perawatan atraumatik yang harus dimiliki oleh perawat anak (Hidayat, 2005).

1. Menurunkan atau mencegah dampak perpisahan dari keluarga.

Dampak perpisahan dari keluarga, anak akan mengalami gangguan psikologis seperti kecemasan, ketakutan, kurangmya kasih sayang, gangguan ini akan menghambat proses penyembuhan anak dan dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak. Bila anak dirawat di rumah sakit dan selama itu tidak boleh berhubungan dengan orang tuanya, maka ia akan merasa ditolak oleh keluarga dan mengakibatkan anak cendrung emosi saat kembali pada keluarganya. Pada umumnya anak bereaksi negatif waktu pulang ke rumah (Mc.Ghie, 1996) dalam Juli (2008). Selama anak mengalami hospitalisasi, keluarga memainkan peran bersifat dukungan moril seperti kasih sayang, perhatian, rasa aman, dan dukungan materil berupa usaha keluarga untuk memenuhi kebutuhan anggota keluarga. Jika dukungan tersebut tidak ada, maka keberhasilan untuk penyembuhan sangat berkurang.

Untuk mencegah atau meminimalkan dampak perpisahan dari keluarga dapat dilakukan dengan cara melibatkan orang tua berperan aktif dalam perawatan anak dengan cara membolehkan mereka untuk tinggal bersama anak selama 24 jam (rooming in), jika tidak mungkin untuk rooming in, beri kesempatan orang tua untuk melihat anak setiap saat dengan maksud mempertahankan kontak antar mereka dan mempertahankan


(33)

kontak dengan kegiatan sekolah, diantaranya dengan memfasilitasi pertemuan dengan guru, teman sekolah dan lain-lain (Supartini, 2004).

2. Meningkatkan kemampuan orang tua dalam mengontrol perawatan pada anak.

Melalui peningkatan kontrol orang tua pada diri anak diharapkan anak mampu dalam kehidupannya. Anak akan selalu berhati-hati dalam melakukan aktivitas sehari-hari, selalu bersikap waspada dalam segala hal. Serta pendidikan terhadap kemampuan dan keterampilan orang tua dalam mengawasi perawatan anak. Dan fokuskan intervensi keperawatan pada upaya untuk mengurangi ketergantungan dengan cara memberi kesempatan anak mengambil keputusan dan melibatkan orang tua.

3. Mencegah atau mengurangi cedera (injury) dan nyeri (dampak psikologis)

Mengurangi nyeri merupakan tindakan yang harus dilakukan dalam keperawatan anak. Proses pengurangan rasa nyeri tidak bisa dihilangkan secara cepat akan tetapi dapat dikurangi melalui berbagai teknik misalnya, distraksi, relaksasi, imaginary. Apabila tindakan pencegahan tidak dilakukan maka cedera dan nyeri akan berlangsung lama pada anak sehingga dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak.

Untuk meminimalkan rasa takut terhadap cedera tubuh dan rasa nyeri dilakukan dengan cara mempersiapkan psikologis anak dan orang tua untuk tindakan prosedur yang mnimbulkan rasa nyeri, yaitu dengan menjelaskan apa yang akan dilakukan dan memberikan dukungan psikologis pada orang tua. Lakukan permainan terlebih dahulu sebelum melakukan persiapan fisik


(34)

anak, misalnya dengan bercerita yang berkaitan dengan tindakan atau prosedur yang akan dilakukan pada anak.

Aktivitas bermain dilakukan perawat pada anak akan memberikan keuntungan seperti meningkatkan hubungan antara klien (anak dan keluarga dan perawat karena bermain merupakan alat komunikasi yang efektif antara perawat dan klien, aktivitas bermain yang terprogram akan memulihkan perasaan mandiri pada anak, dan bisa mengekspresikan perasaan anak. Pertimbangkan untuk menghadirkan orang tua pada saat dilakukan atau prosedur yang menimbulkan rasa nyeri apabila mereka tidak dapat menahan diri, bahkan menangis bila melihatnya. Dalam kondisi ini, tawarkan pada anak dan orang tua untuk mempercayakan kepada perawat sebagai pendamping anak.

Tunjukkan sikap empati sabagai pendekatan utama dalam mengurangi rasa takut akibat prosedur yang menyakitkanPada tindakan pembedahan elektif, lakukan persiapan khusus jauh hari sebelumnya apabila memungkinkan. Misalnya, dengan mengorientasikan kamar bedah, tindakan yang akan dilakukan dan lain-lain.

4. Tidak melakukan kekerasan pada anak

Secara umum kekerasan didefenisikan sebagai sutu tindakan yang dilakukan oleh individu terhadap individu lain yang mengakibatkan gangguan fisik dan psikis. Kekerasan pada anak adalah tindakan yang dilakukan seseorang atau individu pada mereka yang belum genap berusia 18 tahun yang menyebabkan kondisi fisik dan psikis terganggu (Sugiarno, 2007).


(35)

Kekerasan pada anak akan menimbulkan gangguan psikologis yang sangat berarti dalam kehidupan anak. Apabila ini terjadi pada saat anak dalam proses tumbuh kembang maka kemungkinan pencapaian kematangan akan terhambat, dengan demikian tindakan kekerasan pada anak sangat tidak dianjurkan karena akan memperberat kondisi anak seperti melakukan tindakan keperawatan yang berulang-ulang (dalam pemasangan IVFD).

5. Modifikasi lingkungan fisik.

Melalui modifikasi lingkungan fisik rumah sakit yang bernuansa anak dapat meningkatkan keceriaan, perasaan aman, dan nyaman bagi lingkungan anak sehingga anak selalu berkembang dan merasa nyaman di lingkungannya. Modifikasi ruang perawatan dengan cara membuat situasi ruang rawat seperti di rumah dan Ruangan tersebut memerlukan dekorasi yang penuh dengan nuansa anak, seperti adanya gambar dinding berupa gambar binatang, bunga, tirai dan sprei serta sarung bantal yang berwarna dan bercorak binatang atau bunga, cat dinding yang berwarna, serta tangga yang pegangannya berwarna ceria.

Wong (2005) mengungkapkan ada 3 prinsip perawatan atraumatik yang harus dimiliki oleh tim kesehatan dalam merawat pasien anak yaitu diantaranya adalah mencegah atau meiminimalkan stressor fisik dan psikis yang meliputi prosedur yang menyakitkan seperti suntikan, kegelisahan, ketidakberdayaan, tidur yang tidak nyaman, pengekangan, suara bising, bau yang tidak sedap dan lain-lain, mencegah dampak perpisahan orang tua dan anggota keluarga yang lain, bersikap empati kepada keluarga dan anak yang


(36)

sedang dirawat serta memberikan pendidikan kesehatan tentang kondisi sakit yang dialami anak.

c. Prosedur-prosedur yang berhubungan dengan mempertahankan keamanan menurut (Wong, 2003)

1. Pastikan bahwa tindakan penjagaan keamanan lingkungan sudah dilakukan misalnya : kebiasaan tidak merokok, pencahayaan baik, dan lantai tidak licin dan lain-lain.

2. Tempat tidur pasien ambulasi dikunci pada ketinggian yang memungkinkan akses mudah ke lantai.

3. Tempatkan anak yang dapat memanjat di atas sisi boks yang dirancang khusus yang bagian atasnya ditutupi dengan jaring pengaman. Ikatkan jaring tersebut ke kerangka tempat tidur untuk bersiap-siap jika terjadi suatu kegawatan.

4. Kaji keamanan mainan yang dibawa ke rumah sakit dengan orang tua dan tentukan apakah mainan tersebut sesuai dengan usia dan kondisi anak. 5. Jaga terus bayi atau anak kecil yang ada di boks yang pagarnya tidak

terpasang tanpa mempertahankan kontak dengan punggung dan abdomen agar anak tidak terguling, merangkak atau melompat dari boks yang.


(37)

d. Pencegahan kecelakaan pada anak

Ada beberapa cara pencegahan kecelakaan terhadap anak sebagai berikut (Sacharin, 1996).

1. Jatuh dari tempat tidur

Hal ini merupakan kecelakaan yang umum terjadi pada anak-anak di bangsal rumah sakit. Tempat tidur harus dirancang sehingga bagian sisi tempat tidur dapat dikunci dan cukup tinggi sehingga anak yang mulai berjalan tidak dapat memanjat keluar. Karena itu perawat harus menjamin bahwa sisi tempat tidur terkunci setelah menyelesaikan suatu tindakan. 2. Mandi

Terseduh air panas dan tenggelam merupakan konsekuensi dari perencanaan dan prosedur yang sembrono. Olek karena itu suhu air harus aman bagi anak. Untuk mencegah tenggelam maka diperlukan pengawasan yang konstan selama mandi. Tidak selalu memungkinkan untuk mencegah anak masuk kamar mandi, karena hal ini sebagian besar tergantung pada penataan bangsal.

3. Obat-obatan

Penyimpanan obat-obatan secara aman merupakan ketentuan hukum yang mengikat semua perawat. Selama pembagian obat harus dibawah pengawasan perawat.

4. Peralatan (rumah sakit)

Setiap peralatan yang digunakan harus dalam keadaan dapat dipakai dan secara mekanis dan listrik dalam keadaan aman seperti termometer, mainan dari rumah sakit, spuit, dan lain-lain.


(38)

e. Pengelompokan Masalah Keperawatan Anak yang Dirawat di Rumah Sakit (Nursalam, 2004).

1. Masalah fisik

Masalah fisik yan terjadi bisa berupa perubahan tanda- tanda vital : suhu, pernafasan, nadi dan tekanan darah, gangguan terhadap kebutuhan cairan dan nutrisi, gangguan terhadap aktivitas dan istirahat, penurunan respon imun.

2. Masalah psikis

Masalah psikis pada anak yang sering terjadi adalah perasaan tidak berdaya karena perpisahan dengan keluarga atau pengasuh (caregiver), protes, apatis (despair), penolakan, Cemas serta takut terhadap lingkungan baru (alat- alat, peraturan, dan sikap petugas kesehatan).

Masalah sosial yang sering terjadi pada anak adalah perasaan terisolasi dan suka menyendiri. Sedangkan masalah ketergantungan bisa berupa perasaan bersalah, dan memerlukan pertolongan.

f. Pedoman orientasi ruangan pada penderita anak( Dikembangkan dari Skripsi Agung P, 2001, dalam Nursalam, 2004).

1. Mengenalkan kepada perawat jaga.

2. Perawat memberikan orientasi ruangan kepada pasien seperti tempat tidur (tempat tidur dan fasilitas lainnya), cara memanggil petugas ( tombol atau lampu ), hiburan (TV, jika ada ), kamar mandi dan penggunaan telepon 3. Memperkenalkan dengan teman sekamar.


(39)

4. Menunjukkan tempat khusus : tempat bermain, tindakan medis, dapur, dan ruangan lain.

5. Memberitahukan peraturan di rumah sakit : jam berkunjung, siapa yang boleh berkunjung jam makan dan aturan membawa makanan, waktu istirahat, dll.

6. Melaksanakan kegiatan rutin : observasi tanda – tanda vital dan hal – hal yang lain


(40)

BAB 3

KERANGKA PENELITIAN

A.Kerangka Penelitian

Perawatan atraumatik pada anak adalah merupakan asuhan keperawatan yang terapeutik yaitu perawatan yang tidak menimbulkan trauma bagi anak.

Skema 1: Kerangka Konsep Persepsi Perawat Terhadap Perawatan Atraumatik Pada Anak di Ruang III RSU Dr. Pringadi Medan. Keterangan:

: Variabel yang di teliti : Variabel yang tidak diteliti

Faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi: 1. Diri orang yang

bersangkutan 2. Sasaran persepsi

tersebut 3. Faktor situasi Karakteristik

Demografi Perawat

Prinsip Perawatan Atraumatik 1. Menurunkan atau mencegah

dampak dari perpisahan keluarga 2. Meningkatkan kemampuan

orangtua dalam mengontrol perawatan pada anak. 3. Mencegah atau mengurangi

cedera dan nyeri.

4. Tidak melakukan kekerasan pada anak.

5. Modifikasi lingkungan fisik.

Persepsi Perawat - Baik

- Cukup baik - Kurang baik - Tidak baik

Tidak terjadi trauma fisik dan psikis pada anak


(41)

B. Defenisi Operasional

Tabel 1. Uraian variabel dan sub variabel penelitian

Variabel Defenisi

Operasional

Alat Ukur Hasil Ukur Skala

- Prinsip perawatan atraumatik pada anak. a). Mencegah dampak perpisahan keluarga b).Meningkatkan kemampuan orang tua dalam mengontrol perawatan pada anak c). Mencegah atau mengurangi cedera dan nyeri

Suatu aturan yang harus dipatuhi perawat untuk melakukan perawatan yang tidak menimbulkan trauma pada anak yang terdiri dari 5 komopnen.

Kuesiner yang terdiri dari 20 pernyataan dengan pilihan jawaban: 1= Sangat Tidak

Setuju 2= Tidak Setuju 3= Setuju

4= Sangat Setuju

Kuesioner terdiri 4 pernyataan

Kuesioner terdiri dari 4 peryataan

Kuesioner terdiri dari 5 pernyataan

- Baik : 66-80 -Cukup baik: 51-65

- Kurang baik: 36-50 - Tidak baik: 20-35

- Baik: 14-16

- Cukup baik: 11-13 - Kurang

baik: 8-10 - Tidak baik:

4-7 - Baik: 14-16

- Cukup baik: 11-13 - Kurang

baik: 8-10 -Tidak baik: 4-7

- Baik: 18-20

- Cukup baik: 14-17

- Kurang baik: 10-13 - Tidak baik: 5-9


(42)

d). Tidak melakukan kekerasan pada anak

e). Modifikasi lingkungan fisik

Kuesioner terdiri dari 3 pernyataan

Kuesioner terdiri dari 4 pernyataan

-Baik: 10-12

- Cukup baik: 8-9

- Kurang baik:6-7 - Tidak baik:

3-5 - Baik: 14-16

- Cukup baik: 11-13 - Kurang

baik: 8-10 - Tidak baik:


(43)

BAB 4

METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian

Desain penelitian yang digunakan adalah deskriptif yang bertujuan untuk mengidentifikasi persepsi perawat terhadap prinsip perawatan atraumatik pada anak di Ruang III RSU Dr. Pirngadi Medan.

B. Populasi dan Sampel Penelitian a. Populasi Penelitian

Populasi adalah jumlah keseluruhan objek yang memungkinkan untuk diteliti (Notoadmodjo, 2002). Populasi dalam penelitian ini adalah perawat yang bekerja di Ruang III RSU Dr. Pirngadi Medan.

b. Sampel Penelitian

Sampel adalah sebagian yang diambil dari keseluruahan objek yang diteliti dan dianggap mewakili seluruh populasi (Arikunto, 2006). Pengambilan sampel dilakukan dengan cara total sampling, yaitu semua populasi dijadikan sampel yaitu berjumlah 25 orang.

C. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di Ruang III Rumah Sakit Umum Dr.Pirngadi Medan, dengan alasan rumah sakit ini sebagai salah satu rumah sakit pemerintah daerah rujukan di kota Medan, Selain itu rumah sakit ini juga merupakan salah satu rumah sakit pendidikan. Penelitian ini dilaksanakan 20 Januari sampai dengan 10 Februari 2009.


(44)

D. Pertimbangan Etik

Penelitian ini dilakukan setelah mendapat izin penelitian dari Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatra Utara dan Direktur RSU Dr. Pringadi Medan. Kemudian peneliti mendekati calon responden penelitian. Apabila calon responden bersedia, maka akan dijelaskan tujuan, manfaat, dan prosedur penelitian, kemudian responden dipersilahkan menandatangani Informed Consent. Tetapi jika calon responden tidak bersedia, maka responden berhak menolak.

Untuk menjaga kerahasiaan responden, peneliti tidak akan mencantumkan nama lengkap tapi hanya mencantumkan inisial nama responden atau memberi kode pada masing-masing lembar kuesioner. Kerahasiaan informasi dijamin oleh responden hanya diberikan oleh responden hanya digunakan untuk keperluan penelitian ini saja.

Selama proses pengambilan data tidak akan menimbulkan tekanan psikologis pada responden yang akan diteliti, sehingga tidak menimbulkan efek yang merugikan terhadap responden.

E. Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian dibuat berdasarkan studi kepustakaan dan dimodifikasi oleh peneliti. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner yang dibagi menjadi 2(dua) bagian, yaitu kuesioner data demografi dan kuesioner persepsi perawat terhadap prinsip perawatan atraumatik pada anak.

a. Kuesioner data demografi

Bagian yang pertama adalah kuesioner data demografi yang meliputi , umur, jenis kelamin, pendidikan terakhir, lama bekerja dan jabatan.


(45)

b. Kuesioner persepsi perawat

Bagian kedua adalah kuesioner persepsi perawat tentang prinsip perawatan atraumatik pada anak yang meliputi 5 aspek, yaitu komponen perawatan atraumatik yang meliputi: (1) menurunkan atau mencegah dampak perpisahan dari keluarga, yang terdiri dari 4 pernyataan, yaitu nomor 1 sampai nomor 4; (2) meningkatkan kemampuan orang tua dalam mengontrol perawatan pada anak, yang terdiri dari 4 pernyataan, yaitu nomor 5 sampai nomor 8; (3) mencegah dan mengurangi cedera (injury) dan nyeri (dampak psikologis), yang terdiri dari 5 pernyataan, yaitu nomor 9 sampai nomor 13; (4) tidak melakukan kekerasan fisik pada anak, yang terdiri dari 3 pernyataan, yaitu nomor 14 sampai nomor16; (5) modifikasi lingkungan fisik, yang terdiri dari 3 pernyataan, yaitu nomor 17 sampai nomor 20. pernyataan dibuat 2 jenis, yaitu pernyataan positif yang terdiri dari nomor 1,4,5,7,10,11,13,14,17,18, dan pernyataan negatif yaitu 2,3,6,8,9,12,15,16,19 dan 20. Masing-masing pernyataan menggunakan skala likert dengan penilaian untuk pernyataan positif, jawaban Sangat Tidak Setuju = 1; Tidak Setuju = 2; Setuju = 3; Sangat Setuju = 4. Sedangkan penilaian untuk pernyataan negatif, jawaban Sangat Tidak Setuju =4; Tidak Setuju =3; Setuju =2; Sangat Setuju = 1.

F. Validitas Instrumen

Validitas merupakan suatu ukuran yang menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Suatu instrumen yang valid atau sahih mempunyai validitas tinggi atau sebaliknya insrumen yang kurang valid berarti memiliki validitas yang rendah. Sebuah instrumen dikatakan valid


(46)

apabila mampu mengukur apa yang diinginkan dan dapat mengungkapkan data dari variabel yang diteliti secara tepat (Arikunto, 2006).

Dalam penelitian ini dilakukan uji validitas instrumen yaitu suatu pengujian apakah instrumen dapat menggali yang diinginkan oleh sipeneliti atau untuk menilai apakah instrumen itu valid atau tidak (Arikunto, 2006). Uji validitas intrumen dilakukan dengan uji content validity yaitu suatu pengujian instrument dilakukan oleh orang yang ahli dibidangnya dalam hal ini instrumen diuji oleh salah satu tim Keperawatan Anak PSIK - FK USU Medan.

G. Uji Reliabilitas

Alat ukur yang baik adalah alat ujur yang memberikan hasil yang sama meskipun digunakan beberapa kali pada kelompok sanpel (Ritonga, 2003). Uji reliabilitas ini dilakukan dengan menggunakan program komputerisasi untuk analisis Cronchbach Alpa mengenai persepsi perawat tentang prinsip perwatan atraumatik di rumah sakit. Untuk instrumen yang baru akan reliabel jika memiliki reliabilitas lebih dari 0,70 (Polit & Hungler, 1995). Berdasarkan uji reliabilitas yang telah dilakukan dan diperoleh hasil 0,750, dengan demikian instrumen ini reliabel untuk digunakan.

H. Pengumpulan Data

Ada beberapa prosedur yang dilakukan dalam pengumpulan data yaitu:

a. Mengajukan permohonan izin kepada Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara.

b. Mengajukan permohonan izin kepada direktur RSU Dr. Pirngadi Medan. c. Setelah mendapat izin dari RSUD. Pirngadi Medan, peneliti kemudian


(47)

d. Peneliti mendekati kepala ruangan kemudian menjelaskan tentang tujuan penelitian dan menyerahkan Informed Consen kepada perawat.

e. Menyerahkan kuesioner melalui kepala ruangan untuk diisi oleh perawat yang ada di Ruang III RSU Dr.Pirngadi Medan.

f. Pengolahan atau analisa data dilakukan setelah semua data yang diperlukan terkumpul.

I. Analisa data

Analisa data dilakukan setelah semua data terkumpul melalui baberapa tahap dimulai dari editing untuk memeriksa kelengkapan data, kemudian memberi kode (coding) untuk memudahkan melakukan tabulasi. Selanjutnya memasukkan (entry) data kedalam komputer dan dilakukan pengolahan data dengan teknik komputerisasi dimana data akan dianalisa secara statistik deskriptif dan disajikan dalam bentuk narasi, tabel distribusi frekuensi (Arikunto, 2006).

Berdasarkan rumus statiska P = Rentang/Banyak kelas (Sudjana, 2002), dimana P merupakan panjang kelas dengan rentang kelas (nilai tertinggi dikurangi nilai terendah) sebesar 60 dan 4 kategori kelas untuk persepsi perawat tentang perawatan atraumatik pada anak dengan tingkat persepsi (baik, cukup baik, kurang baik, tidak baik) menggunakan P=15 dan nilai terendah 20 sebagai batas kelas interval pertama, dan tentang persepsi perawat terhadap perawatan atraumatik pada anak di RSU Dr. Pirngadi Medan. Dikategorikan atas kelas interval sebagai berikut:


(48)

66-80: Baik 51-65: Cukup Baik 36-50: Kurang Baik 20-35 : Tidak baik

Selanjutnya dilakukan pengolahan data dengan menggunakan program SPSS untuk mengetahui frekuensi dan persentase data. Hasil analisa data demografi dan persepsi perawat terhadap prinsip perawatan atraumatik disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi.


(49)

BAB 5

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.Hasil Penenelitian

Pada bab ini akan diuraikan data hasil penelitian serta hasil pembahasan penelitian mengenai persepsi perawat terhadap prinsip perawatan atraumatik pada anak di Ruang III RSU Dr.Pirngadi Medan.

a. Karakteistik Responden

Deskripsi karakteristik responden mencakup umur, jenis kelamin, pendidikan terakhir, lama bekerja dan jabatan dapat dilihat pada tabel 5.1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh responden adalah perempuan. Berdasarkan umur responden, jumlah yang terbanyak berada dalam kelompok 37-42 tahun yaitu 10 orang ( 40% ), umur termuda 25 tahun dan umur tertua adalah 54 tahun. Latar belakang pendidikan terbanyak yaitu DIII Keperawatan sebesar 15 orang (60%), S1 Kep sebanyak 5 orang (20%), dan SPK sebanyak 5 orang (20%). Lama waktu bekerja yang paling tinggi yaitu antara 12-16 tahun sebanyak 8 orang (32%) dan hanya 2 orang (8%) yang telah bekerja antara 17-21 tahun.


(50)

Tabel 5.1. Distribusi frekuensi dan persentase karakteristik responden di Ruang III RSU Dr.Pirngadi Medan Tahun 2009 (N=25).

Karakteristik Frekuensi Persentase (%) Usia

- 25-30 - 31-36 - 37-42 - 43-48 - 49-54 Jenis Kelamin

- Perempuan Pendidikan Terakhir

- SPK - D.III - S1 Lama Bekerja

- 2 thn-6 thn - 7 thn-11thn - 12thn-16thn - 17thn-21thn - 22thn-26thn

4 4 10 5 2 25 5 15 5 7 5 8 2 3 16,0 16,0 40,0 20,0 8,0 100 20,0 60,0 20,0 28,0 20,0 32,0 8,0 12,0

b.Persepsi perawat berkaitan dengan mencegah dampak dari

perpisahan keluarga

Dari hasil penelitian diperoleh data perawat sebagian besar memiliki persepsi cukup baik sebanyak 15 orang (60%). Data tentang persepsi perawat mengenai dampak perpisahan keluarga dapat dilihat pada tabel 5.2.

Tabel 5.2. Distribusi dan persentase tentang persepsi perawat dalam mencegah dampak perpisahan keluarga di Ruang III RSU Dr.Pirngadi

Medan Tahun 2009 (N=25)

Prinsip perawatan atraumatik F (%)

Mencegah dampak dari perpisahan keluarga - Persepsi baik

- Persepsi cukup baik - Pesepsi kurang baik - Persepsi tidak baik

10 15 0 0 40,0 60,0 0 0


(51)

c. Persepsi perawat berkaitan dengan meningkatan kemampuan orang tua dalam mengontrol perawatan anak

Dari hasil penelitian diperoleh data perawat sebagian besar memiliki persepsi cukup baik sebanyak 17 orang (68%). Data mengenai persepsi perawat berkaitan dengan meningkatan orang tua dalam mengontrol perawatan anak dapat dilihat pada tabel 5.3.

Tabel 5.3. Distribusi dan persentase persepsi perawat berkaitan dengan meningkatkan kemampuan orang tua dalam mengontrol

perawatan anak di Ruang III RSU Dr.Pirngadi Medan Tahun 2009 (N=25)

Prinsip perawatan atraumatik F (%)

Meningkatkan kemampuan orang tua dalam mengontrol perawatan anak

- Persepsi baik - Persepsi cukup baik - Pesepsi kurang baik - Persepsi tidak baik

8 17 0 0 32,0 68,0 0 0

d. Persepsi perawat dalam mencegah cedera (injury) dan mengurangi nyeri (dampak psikologis)

Dari hasil penelitian diperoleh data perawat sebagian besar memiliki persepsi cukup baik sebanyak 24 orang (96%). Data tentang persepsi perawat dalam mencegah cedera dan mengurangi nyeri dapat dilihat pada tabel 5.4.

Tabel 5.4. Distribusi dan persentase persepsi perawat dalam mencegah cedera (injury) dan mengurangi nyeri (dampak psikologis) di Ruang III

RSU Dr.Pirngadi Medan Tahun 2009 (N=25)

Prinsip perawatan atraumatik F (%)

Mencegah atau mengurangi cedera (injury) dan nyeri (dampak psikologis)

- Persepsi baik - Persepsi cukup baik - Pesepsi kurang baik - Persepsi tidak baik

1 24 0 0 4,0 96,0 0 0


(52)

e. Persepsi perawat berkaitan dengan tidak melakukan kekerasan pada anak

Dari hasil penelitian diperoeh data perawat sebagian besar memiliki persepsi cukup baik sebannyak 14 orang (56%). Data perespsi perawat berkaitan dengan tidak melakukan kekerasan pada anak dapat dilihat pada tabel 5.5.

Tabel 5.5. Distribusi dan persentase persepsi perawat berkaitan dengan tidak melakukan kekerasan pada anak di Ruang III RSU Dr.Pirngadi

Medan Tahun 2009 (N=25)

Prinsip perawatan atraumatik F (%)

Tidak melakukan kekerasan pada anak - Persepsi baik

- Persepsi cukup baik - Pesepsi kurang baik - Persepsi tidak baik

10 14 1 0 40,0 56,0 4 0

f.Persepsi perawat terhadap modifikasi lingkungan fisik

Dari hasil penelitian diperoleh data perawat yang memiliki persepsi cukup baik cukup baik sebanyak 20 orang (80%). Data tentang persepsi perawat terhadap modifikasi lingkungan fisik dapat dilihat pada tabel 5.6.

Tabel 5.6 Distribusi dan persentase persepsi perawat terhadap modifikasi lingkungan fisik di Ruang III RSU Dr.Pirngadi Medan

Tahun 2009 (N=25)

Prinsip perawatan atraumatik F (%)

Tidak melakukan kekerasan pada anak - Persepsi baik

- Persepsi cukup baik - Pesepsi kurang baik - Persepsi tidak baik

5 20 0 0 20,0 80,0 0 0


(53)

g. Persepsi perawat terhadap prinsip perawatan atraumatik

Berdasarkan hasil kuesioner yang diberikan kepada 25 orang perawat yang bekerja di ruang III RSU Dr.Pirngadi Medan diperoleh perawat yang mempunyai persepsi baik sebanyak 9 orang (36%), memiliki persepsi cukup baik sebanyak 16 orang ( 64%). Bukti kelengkapan data tentang persepsi perawat terhadap prinsip perawatan atraumatik dapat dilihat pada tabel 5.7.

Tabel 5.7 Distribusi dan persentase tentang persepsi perawat terhadap prinsip perawatan atraumatik di Ruang III RSU Dr.Pirngadi

Medan Tahun 2009 (N=25)

Prinsip Perawatan Atraumatik pada anak F (%)

- Persepsi baik - Persepsi cukup baik - Persepsi kurang baik - Persepsi tidak baik

9 16 0 0

36.0 64,0 0 0

B.Pembahasan

Persepsi merupakan suatu bentuk kesesuaian antara reaksi dengan stimulus. Proses terjadinya persepsi diperoleh dari adanya rangsangan melalui panca indera yang didahului oleh perhatian tentang hal yang diamati. Dengan persepsi seseorang dapat menyadari dan mengerti tentang apa yang ada di sekitarnya. Dalam penelitian ini akan dibahas tentang persepsi perawat terhadap prinsip perawatan atraumatik di Ruang III RSU Dr.Pirngadi Medan.

a. Karakteristik Perawat

Karakteritik perawat yang bekerja di Ruang III RSU Dr.Pirngadi medan, jika dilihat dari rentang usia terbanyak yaitu pada rentang usia 37-42 tahun sebanyak 10 orang (40%) dan rentang usia paling sedikit yaitu pada rentang 49-54 tahun sebanyak 2 orang (8%), ini menandakan bahwa perawat yang bekerja di ruangan III RSU Dr.Pirngadi Medan telah memahami tentang


(54)

perawatan anak, ini dikarenakan pada usia tersebut rata-rata perawat atau pada umumnya wanita telah mempunyai anak.

Begitu juga dengan persepsi seorang perawat dalam melakukan tindakan keperawatan dapat dipengaruhi oleh usianya (Kusnanto, 2007). Karena semakin tinggi umur seseorang maka akan memiliki daya analistis yang lebih tinggi sehingga persepsi yang dihasilkan juga berbeda. Pernyataan yang sama diungkapkan oleh Sofiana (2004) bahwa perawat yang berusia diatas 30 tahun memiliki daya analistis yang lebih tinggi dari pada kelompok umur yang lainnya.

Jika dilihat dari jenis kelamin responden semuanya adalah perempuan yaitu sebanyak 25 orang (100%), kemungkinan ini terjadi karena dunia keperawatan identik dengan ibu atau wanita yang lebih dikenal dengan mother

instinc. Sehingga untuk mencari perawat yang berjenis kelamin laki-laki

sangatlah terbatas. Ditambah lagi output perawat yang dihasilkan dari perguruan tinggi yang rata-rata juga wanita lebih banyak dibandingkan dengan laki-laki. Oleh karena wanita memiliki naluri seorang ibu, sehingga ia lebih menyayangi anak-anak walupun bukan anaknya sendiri. Hal serupa juga diungkapkan oleh Sularyo (2005) bahwa perempuan lebih menyayangi dan lebih memahami sifat anak dari pada laki-laki.

Pendidikan perawat terbanyak yaitu dari DIII keperawatan sebanyak 15 orang (60%), dari SPK 5 orang (20%) dan dari S1 Kep 5 orang (20%). ini menandakan bahwa RSU Dr.Pirngadi Medan telah menyiapkan pegawainya untuk profesional dibidangnya. Mereka yang masih berpendidikan SPK diberi kesempatan untuk melanjutkan studi ke jenjang pendidikan DIII Keperawatan,


(55)

sedangkan yang berpendidikan DIII Keperawatan diberi kesempatan untuk melanjutkan studi S1 keperawatan dengan izin belajar, tetapi ada juga perawat yang tidak mau melanjutkan studi yang lebih tinggi dikarenakan alasan usia.

Tingkat pendidikan seseorang perawat akan mempengaruhi persepsinya dalam melakukan tindakan keperawatan dalam hal ini perawatan pada anak. Karena semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang maka akan semakin tinggi pula tingkat pengetahuannya dalam memberikan asuhan keperawatan. Hal senada juga diungkapkan oleh (Carpenito, 1995 dalam Tobing, 2007) bahwa tingkat pendidikan dapat mempengaruhi seorang dalam melakukan tindakan keperawatan terhadap kliennya

Apabila dilihat dari pengalaman bekerja, rata-rata perawat yang mempunyai pengalaman bekerja paling lama yaitu pada rentang 12-16 tahun sebanyak 8 orang (32%) dan paling sedikit yaitu pada rentang 17-21 tahun sebanyak 2 orang (8%). Adanya variasi pengalaman kerja ini diharapkan para perawat dapat bertukar pendapat baik ilmu maupun keterampilan antar sesama perawat. Perawat yang sudah banyak berpengalaman dapat memberikan masukan dalam hal keterampilan pada perawat yang masih baru, begitu juga dengan perawat yang masih baru, bisa saja mereka memberikan masukan terhadap para perawat yang sudah lama tentang perkembangan terkini ilmu keperawatan. Hal yang sama diutarakan oleh Sujono (2005) yaitu dengan adanya saling menukar pengalaman keterampilan maupun ilmu pengetahuan terkini akan membuat perawat semakin menyukai profesinya. Pengalaman seorang perawat dalam bekerja dapat mempengaruhi persepsinya dalam melakukan tindakan keperawatan khususnya pada anak karena semakin lama


(56)

pengalaman dalam bekerja maka akan semakin profesional seorang perawat dalam menjalani profesinya. Hal ini sesuai dengan pendapat Rahmad (1992) bahwa pengalaman seseorang dalam bekerja dapat mempengaruhi persepsinya dalam melakukan suatu tindakan keperawatan.

Jika dilihat dari jabatan perawat rata-rata adalah perawat pelaksana sebanyak 24 orang (96%) dan 1 orang (4%) sebagai kepala ruangan. Ini menandakan bahwa di Ruang III RSU Dr.Pirngadi Medan telah memperhatikan tingkat ketergantungan pasien anak dengan jumlah perawat yang ada di ruangan tersebut dalam memberikan asuhan keperawatan. Hal ini bisa dilihat dari rata-rata jumlah pasien anak perbulan pada tahun 2008 yaitu sekitar 255 pasien, jadi jumlah pasien anak rata-rata perhari bisa sekitar 8 atau 9 pasien. Ini sesuai dengan perhitungan jumlah pasien dan jumlah tenaga yang dibutuhkan menurut rumus perhitungan tenaga keperawatan (Dep.Kes RI, 2002) dengan hasil 10-11 orang perawat yang dibutuhkan dalam merawat anak perhari.

a. Persepsi perawat berkaitan dengan mencegah dampak dari perpisahan keluarga

Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi yang baik berkaitan dengan mencegah dampak dari perpisahan keluarga sebanyak 10 orang (40%) dan persepsi cukup baik sebanyak 15 orang (60%). Hal ini sesuai dengan pendapat Platt (1959) dalam Supartini (2004) yaitu pada dasarnya setiap asuhan yang diberikan pada anak di rumah sakit memerlukan keterlibatan orang tua, keberadaan anggota keluarga yang lain, dan waktu kunjungan bagi orang tua terhadap anaknya harus terbuka selama 24 jam karena anak membutuhkan orang tua selama proses hospitalisasi.


(57)

Friedman (1999) menambahkan bahwa keluarga dapat menjadi sumber kesehatan yang efektif dan utama dalam proses perawatan atraumatik pada anak. Akan tetapi jika tidak memungkinkan untuk rooming in beri kesempatan kepada orang tua untuk melihat anak setiap saat guna mempertahankan kontak antara mereka (Supartini, 2004). Sebaliknya jika selama anak dirawat di rumah sakit diberi batasan untuk berhubungan dengan orang tuanya maka akan terjadi jarak antara anak dan orang tua yang nantinya akan memperlambat proses penyembuhan dan tumbuh kembang anak.

Hal senada juga diungkapkan oleh Hidayat (2005) bahwa selama anak di rumah sakit, ia akan merasa dikucilkan oleh keluarga dan teman-temannya oleh karena itu memfasilitasi pertemuan dengan guru dan teman-teman sekolah merupakan upaya agar tidak terjadi gangguan psikologis yang akan mengganggu pertumbuhan dan perkembangan anak selama dirawat.

b. Persepsi perawat dalam meningkatkan kemampuan orang tua dalam mengontrol perawatan anak

Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi yang baik terhadap peningkatan kemampuan orang tua dalam mengontrol perawatan anak sebanyak 8 orang (32%) dan persepsi cukup baik sebanyak 17 orang (68%). Pentingnya penyuluhan atau pendidikan kesehatan pada orang tua anak yang dirawat akan menolong orang tua memahami pengobatan dan perawatan pada anaknya. Hal yang sama diungkapkan oleh Suparini (2004) bahwa kebutuhan orang tua terhadap pendidikan kesehatan meliputi pengertian dasar tentang penyakit anaknya, perawatan anak selama di rumah sakit, serta perawatan lanjut untuk persiapan pulang kerumah.


(58)

Mefokuskan intervensi perawatan dengan mengurangi ketergantungan pada perawat merupakan upaya untuk meningkatkan kemampuan orang tua dalam merawat anaknya. Hidayat (2005) menambahkan bahwa melalui peningkatan kontrol orang tua pada perawatan anak diharapkan anak mampu dalam kehidupannya dan anak akan selalu berhati-hati dalam melakukan aktivitas sehari-hari yaitu dengan cara memberi kesempatan pada orang tua untuk mengambil keputusan dalam perawatan anak

c. Persepsi perawat dalam mencegah atau mengurangi cedera (injury) dan nyeri (dampak psikologis)

Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi yang baik dalam mencegah atau mengurangi cedera (injury) dan nyeri (dampak psikologis) sebanyak 1 orang (4%) dan persepsi cukup baik sebanyak 24 orang (96%). Untuk mencegah terjadinya cedera (injury) dan mengurangi nyeri (dampak psikologis) pada anak tidak mudah dilakukan. karena hanya perawat yang keterampilan khusus dan profesinal yang bisa melakukan hal tersebut. Hal ini juga terkait dengan informasi yang sangat diperlukan oleh orang tua selama proses perawatan anaknya dan orang tua perlu mengetahui tentang kondisi anaknya serta tindakan medis yang akan dilakukan pada anaknya (Nursalam, 2003).

Hal yang sama diungkapkan oleh Supartini (2004) bahwa proses pengurangan nyeri tidak bisa dihilangkan secara cepat akan tetapi dapat dikurangi melalui berbagai teknik misalnya distraksi, relaksasi, imaginary dan apabila pencegahan tidak dilakukan maka cedera dan nyeri akan berlangsung lama sehingga dapat mengganggu pertumbuhan dan


(59)

perkembangan anak. Dalam melakukan perawatan anak, seorang perawat harus mempertimbangan untuk menghadirkan orang tua pada saat dilakukan prosedur yang menimbulkan rasa nyeri, apabila mereka tidak dapat menahan diri bahkan menangis bila melihatnya, dalam kondisi ini tawarkan pada orang tua untuk mempercayakan perawat serta tunjukkan sikap empati sebagai pendekatan utama dalam mengurangi rasa takut akibat prosedur yang menyakitkan (Hidayat, 2005).

d. Persepsi perawat berkaitan dengan tidak melakukan kekerasan pada anak

Berdasarkan hasil penelitian persepsi yang baik berkaitan dengan tidak melakukan kekerasan pada anak sebanyak 10 orang (40%), persepsi cukup baik sebanyak 14 orang (56%) dan persepsi kurang baik sebanyak 1 orang (4%). Dari hasil ini dapat dilihat bahwa masih ada perawat yang mempunyai persepsi yang kurang baik walaupun hanya 1 orang (4%) kemungkinan ini terjadi masih kurangnya pemahaman prinsip perawatan atraumatik mengenai tidak melakukan kekerasan pada anak dan ini didukung oleh hasil wawancara peneliti pada 4 orang anak yang berusia 5-7 tahun yang dirawat di ruang III bahwa mereka merasa takut kepada petugas kesehatan dan merasa sakit ketika diberikan tindakan medis misalnya pemberian obat melalui suntikan, pembersihan luka, dan lain-lain.

Kekerasan pada anak adalah tindakan yang dilakukan seseorang atau individu pada anak yang belum genap berusia 18 tahun yang menyebabkan kondisi fisik dan psikis terganggu (Sugiarno, 2007). Membuat anak stres di rumah sakit merupakan salah satu tindakan kekerasan pada anak seperti


(60)

memaksa anak ketika makan atau minum obat, merestrein anak terlalu lama, hal ini bisa ditandai dengan menangis terus menerus, tidak kooperatif terhadap petugas kesehatan, penolakan dalam melakukan tindakan, dan lain-lain sesuai dengan tahap pertumbuhan dan perkembangan anak.

Hal serupa diungkapkan oleh Hidayat (2005) bahwa kekerasan pada anak akan menimbulkan gangguan psikologis yang sangat berarti dalam kehidupan anak dan apabila ini terjadi pada saat anak dalam proses tumbuh kembang maka kemungkinan pencapaian kematangan akan terhambat, dengan demikian tindakan kekerasan akan mengakibatkan kondisi anak semakin berat.

e. Persepsi perawat terhadap modifikasi lingkunga fisik

Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi yang baik terhadap modifikasi lingkungan fisik sebanyak 5 orang (20%) dan cukup baik sebanyak 20 orang (80%). Melalui modifikasi lingkungan fisik rumah sakit yang bernuansa anak dapat meningkatkan keceriaan, perasaan aman dan nyaman bagi lingkungan anak sehingga anak selalu berkembang dan merasa nyaman dilingkungannya, akan tetapi jika lingkungan tidak nyaman seperti suara bising, tercium bau yang tidak sedap ini akan mengakibatkan anak menjadi stress dan menghambat proses pertumbuhan dan perkembangan (Supartini, 2004) .

Modifikasi ruang perawatan dengan cara membuat situasi ruang rawat seperti di rumah dan ruangan tersebut memerlukan dekorasi yang penuh dengan nuansa anak, seperti adanya gambar dinding berupa gambar binatang,


(61)

bunga, tirai dan sprei serta sarung bantal yang berwarna dan bercorak binatang atau bunga, cat dinding yang berwarna, serta tangga yang pegangannya berwarna ceria (Hidayat,2005)

f. Persepsi perawat terhadap prinsip perawatan atraumatik pada anak

Dari hasil penelitian yang dilakukan kepada 25 orang perawat yang bekerja di Ruang III RSU Dr.Pirngadi Medan diperoleh perawat yang mempunyai persepsi baik sebanyak 9 orang (36%) dan perawat yang memiliki persepsi cukup baik sebanyak 16 orang (64%). Hal ini kemungkinan terjadi karena beberapa faktor pendukung yaitu dari segi umur, jenis kelamin, tingkat pendidikan, lama bekerja dan jabatan pekerjaan yang bisa mempengaruhi persepsi perawat terhadap prinsip perawatan atraumatik. Secara umum ini menandakan bahwa perawat telah memahami prinsip-prinsip dari perawatan atraumatik yang merupakan intervensi terpenting dalam memberikan asuhan keperawatan pada anak yang bertujuan agar tidak terjadinya trauma fisik dan psikis.


(1)

Reliability

Case Processing Summary

N %

Cases Valid 10 100,0

Excluded

(a) 0 ,0

Total 10 100,0

a Listwise deletion based on all variables in the procedure.

Reliability Statistics

Cronbach's Alpha

Cronbach's Alpha Based

on Standardized

Items N of Items

,750 ,747 20

Item Statistics

Mean Std. Deviation N

K1 3,70 ,483 10

K2 2,80 ,789 10

K3 2,60 ,699 10

K4 3,40 ,516 10

K5 3,70 ,483 10

K6 2,60 ,843 10

K7 3,30 ,483 10

K8 2,70 ,675 10

K9 2,50 ,850 10

K10 3,40 ,516 10

K11 3,30 ,675 10

K12 2,70 1,059 10

K13 3,50 ,707 10

K14 2,80 ,632 10

K15 1,90 ,738 10

K16 2,80 ,632 10

K17 3,40 ,516 10

K18 3,50 ,527 10

K19 2,80 ,789 10

K20 2,90 ,876 10

Scale Statistics

Mean Variance Std. Deviation N of Items


(2)

K1

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent Valid tidak

setuju 2 8,0 8,0 8,0

setuju 2 8,0 8,0 16,0

sangat

setuju 21 84,0 84,0 100,0

Total 25 100,0 100,0

K2

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid tidak setuju 18 72,0 72,0 72,0

sangat

tidaksetuju 7 28,0 28,0 100,0

Total 25 100,0 100,0

K3

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid setuju 5 20,0 20,0 20,0

tidak setuju 15 60,0 60,0 80,0

sangat tidak

setuju 5 20,0 20,0 100,0

Total 25 100,0 100,0

K4

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid setuju 19 76,0 76,0 76,0

sangat

setuju 6 24,0 24,0 100,0

Total 25 100,0 100,0

K5

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid setuju 16 64,0 64,0 64,0

sangat

setuju 9 36,0 36,0 100,0

Total 25 100,0 100,0


(3)

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid setuju 2 8,0 8,0 8,0

tidak setuju 16 64,0 64,0 72,0

sangat tidak

setuju 7 28,0 28,0 100,0

Total 25 100,0 100,0

K7

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid setuju 13 52,0 52,0 52,0

sangat

setuju 12 48,0 48,0 100,0

Total 25 100,0 100,0

K8

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid tidak setuju 21 84,0 84,0 84,0

sangat tidak

setuju 4 16,0 16,0 100,0

Total 25 100,0 100,0

K9

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid tidak setuju 18 72,0 72,0 72,0

sangat tidak

setuju 7 28,0 28,0 100,0

Total 25 100,0 100,0

K10

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid setuju 19 76,0 76,0 76,0

sangat

setuju 6 24,0 24,0 100,0

Total 25 100,0 100,0

K12

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid tidak setuju 21 84,0 84,0 84,0

sangat tidak

setuju 4 16,0 16,0 100,0


(4)

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid setuju 20 80,0 80,0 80,0

sanagt

setuju 5 20,0 20,0 100,0

Total 25 100,0 100,0

K14

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent Valid tidak

setuju 12 48,0 48,0 48,0

setuju 9 36,0 36,0 84,0

sangat

setuju 4 16,0 16,0 100,0

Total 25 100,0 100,0

K15

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid sangat setuju 1 4,0 4,0 4,0

setuju 6 24,0 24,0 28,0

tidak setuju 11 44,0 44,0 72,0

sangat tidak

setuju 7 28,0 28,0 100,0

Total 25 100,0 100,0

K16

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid setuju 1 4,0 4,0 4,0

tidak setuju 17 68,0 68,0 72,0

sangat tidak

setuju 7 28,0 28,0 100,0

Total 25 100,0 100,0

K17

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid setuju 19 76,0 76,0 76,0

sangat

setuju 6 24,0 24,0 100,0

Total 25 100,0 100,0


(5)

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid setuju 19 76,0 76,0 76,0

sangat

setuju 6 24,0 24,0 100,0

Total 25 100,0 100,0

K19

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid tidak setuju 22 88,0 88,0 88,0

sangat tidak

setuju 3 12,0 12,0 100,0

Total 25 100,0 100,0

K20

Frequency Percent Valid Percent

Cumulative Percent

Valid setuju 2 8,0 8,0 8,0

tidak setuju 21 84,0 84,0 92,0

sangat tidak

setuju 2 8,0 8,0 100,0


(6)

Nama

: Sri Kurniawati

Tempat / Tanggal Lahir : Sungai Limau, 22 Juli 1985

Agama

: Islam

Status

: Belum Menikah

Alamat Rumah

: Jl. Utama Gg: Dang Merdu Kel. Bukit Timah KM. 7

Kec. Dumai Barat. Dumai- Riau

Riwayat Pendidikan

1.

SD Negeri 011 Mekar Sari Dumai

(1991-1997)

2.

MTS Negeri Dumai

(1997-2000)

3.

MA Negeri Dumai

(2000-2003)

4.

Akademi Keperawatan Sehat Binjai

(2003-2006)