Impact of Development In Dki Jakarta to Disparities In Dki Jakarta and Outside Dki Jakarta After and Before Regional Autonomy

DAMPAK PEMBANGUNAN WILAYAH DKI JAKARTA
TERHADAP DISPARITAS DKI JAKARTA DAN LUAR
DKI JAKARTA SEBELUM DAN SETELAH
OTONOMI DAERAH

OLEH
SURYO AJI
HI4080112

DEPARTEMEN ILMU EKONOMI
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012

ABSTRACT
IMPACT OF DEVELOPMENT IN DKI JAKARTA TO DISPARITIES IN DKI
JAKARTA AND OUTSIDE DKI JAKARTA AFTER AND BEFORE REGIONAL
AUTONOMY
In the new order development policy is more centralized. The goal of that
development strategy is referred to as the trickle-down effects. However, these
strategies proved less successful wealth creation and distribution as expected. Besides
economic development is more concentrated in Java, especially Jakarta thus
providing a role for economic growth imbalances between Jakarta and outside
Jakarta.
After the enactment of Act 22 of 1999 on Regional Autonomy has changed
fundamentally in the Indonesian state ordinances. Many problems such as
increasingly sharp inequalities and corruption are almost evenly distributed
throughout the region, of course, can not be directly concluded that regional
autonomy for the benefit and progress of the nation.
The purpose of this study are (1) to analyze the pattern of economic growth
based approach Klassen Typology before and after decentralization, (2) the trend of
inequality in Jakarta and the outside Jakarta and (3) the relationship between
inequality Williamson index with GDP per capita growth rate both before and after
decentralization.
The results of the analysis of the pattern of economic growth shows, the
number of regions including the fast forward and fast-growing before more autonomy
than before decentralization. Conversely the number of areas including the relatively
lagging before decentralization is less than after decentralization. Inequality index
Williamson in Jakarta is relatively large with an average of 0.7539 before and 0.7112
after the regional autonomy. While outside Jakarta relatively small limp levels by an
average of 0.1518 before and 0.1765 after the regional autonomy.
These results indicate that a relatively advanced and ready to face regional
autonomy, more capable of improving social welfare, seen from the decrease in the
level of inequality is seen from Williamson's inequality index. While the Kuznets
hypothesis describing the relationship between inequality indices Williamson with
GDP per capita growth rates before and after decentralization (1993-2010), a Ushaped upside as any indication, do not apply in Jakarta and outside Jakarta.
Key Words : Klassen Typology, Williamson Index, and Regional Autonomy

RINGKASAN
SURYO AJI. Dampak Pembangunan Wilayah DKI Jakarta terhadap Disparitas
DKI Jakarta dan Luar DKI Jakarta Sebelum dan Setelah Otonomi Daerah
(dibimbing oleh DIDIN S. DAMANHURI)
Pada masa orde baru kebijakan pembangunan lebih bersifat sentralistik.
Strategi pembangunan tersebut diharapkan akan menghasilkan apa yang dimaksud
dengan trickle down effects. Akan tetapi strategi tersebut ternyata kurang berhasil
menciptakan kesejahteraan dan pemerataan seperti yang diharapkan. Selain itu
pembangunan ekonomi yang lebih terpusat di Jawa, khususnya DKI Jakarta
sehingga memberikan peran terhadap ketimpangan pertumbuhan ekonomi antara
DKI Jakarta dan Luar DKI Jakarta.
Setelah diberlakukannya Undang-Undang No.22 Tahun 1999 tentang
Otonomi Daerah telah mengubah secara fundamental tata cara bernegara di
Indonesia. Banyaknya masalah seperti kian tajamnya kesenjangan dan praktek
korupsi yang hampir merata di seluruh daerah, tentunya tidak dapat langsung
disimpulkan bahwa otonomi daerah tidak memberi manfaat dan kemajuan bagi
bangsa.
Tujuan penelitian ini adalah, (1) menganalisis pola pertumbuhan ekonomi
berdasarkan pendekatan Klassen Typology sebelum dan setelah otonomi
daerah,(2) trend ketimpangan di DKI Jakarta dan Luar DKI Jakarta dan (3)
hubungan antara tingkat ketimpangan Indeks Williamson dengan laju
pertumbuhan PDRB per kapita baik sebelum dan setelah otonomi daerah.
Hasil analisis pola pertumbuhan ekonomi menunjukkan, jumlah daerah
yang termasuk daerah cepat maju dan cepat tumbuh sebelum otonomi daerah
lebih banyak dibanding sebelum otonomi daerah. Sebaliknya jumlah daerah yang
termasuk daerah yang relatif tertinggal sebelum otonomi daerah lebih sedikit
dibanding setelah otonomi daerah. Indeks ketimpangan Williamson di DKI
Jakarta relatif besar dengan rata-rata 0,7539 sebelum otonomi daerah dan 0,7112
setelah otonomi daerah. Sedangkan diluar DKI Jakarta tingkat ketimpangannya
relatif kecil dengan rata-rata 0,1518 sebelum otonomi daerah dan 0,1765 setelah
otonomi daerah.
Hasil tersebut mengindikasikan bahwa daerah yang relatif maju dan siap
dalam menghadapi otonomi daerah, lebih mampu meningkatkan kesejahteraan
sosial, dilihat dari penurunan tingkat ketimpangan yang dilihat dari indeks
ketimpangan Williamson. Sedangkan Hipotesis Kuznets yang menggambarkan
hubungan antara tingkat ketimpangan indeks Williamson dengan laju
pertumbuhan PDRB per kapita sebelum dan setelah otonomi daerah (1993-2010),
yang berbentuk U-Terbalik sebagai indikasi, tidak berlaku di DKI Jakarta maupun
luar DKI Jakarta.

DAMPAK PEMBANGUNAN WILAYAH DKI JAKARTA
TERHADAP DISPARITAS DKI JAKARTA DAN LUAR DKI
JAKARTA SEBELUM DAN SETELAH
OTONOMI DAERAH

Oleh
SURYO AJI
H14080112

Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi
pada Departemen Ilmu Ekonomi

DEPARTEMEN ILMU EKONOMI
FAKULTAS EKONOMI DAN MANAJEMEN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012

Judul Skripsi

: Dampak Pembangunan Wilayah DKI Jakarta terhadap
Disparitas DKI Jakarta dan Luar DKI Jakarta Sebelum
dan Setelah Otonomi Daerah.

Nama

: Suryo Aji

NIM

: H14080112

Menyetujui,
Dosen Pembimbing,

Prof. Dr. H. Didin S. Damanhuri, SE. MS. DEA
NIP. 19520408 1984031001. 03

Mengetahui,
Ketua Departemen Ilmu Ekonomi,

Dr. Ir. Dedi Budiman Hakim, M.Ec.
NIP. 19641022 198903 1 003

Tanggal Kelulusan :

PERNYATAAN

DENGAN INI SAYA MENYATAKAN BAHWA SKRIPSI INI ADALAH
BENAR-BENAR HASIL KARYA SAYA SENDIRI YANG BELUM PERNAH
DIGUNAKAN

SEBAGAI

SKRIPSI

ATAU

KARYA

ILMIAH

PADA

PERGURUAN TINGGI ATAU LEMBAGA MANAPUN.

Bogor, September 2012

Suryo Aji
H14080112

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta pada tanggal 7
September 1988 dan merupakan anak kesembilan dari sepuluh bersaudara dari
pasangan Siswo Harjono dan Sukinem.
Penulis mengawali pendidikannya pada tahun 1995 sampai dengan tahun
2001 di SD Muhammadiyah 1 Senggotan. Selanjutnya meneruskan ke pendidikan
lanjutan tingkat pertama dari tahun 2001 sampai tahun 2004 di SMP Negeri 16
Yogyakarta. Setelah itu, penulis melanjutkan pendidikan menengah umum di
SMA Muhammadiyah 6 Yogyakarta dan lulus pada tahun 2007.
Pada tahun 2008, penulis diterima di Institut Pertanian Bogor (IPB)
melalui jalur SNMPTN kemudian terdaftar sebagai mahasiswa Fakultas Ilmu
Ekonomi dan Manajemen (FEM)

pada Departemen Ilmu Ekonomi dengan

Program Studi Ekonomi dan Studi Pembangunan.
Selain menekuni dunia pendidikan, berbagai kejuaraan olahraga
mahasiswa diikuti antaranya meraih Juara 3 Kejuaraan Softball Tingkat Nasional
(2009), Juara 1 Kejuaraan Softball Tingkat Kota Bogor (2010), Juara 3 Futsal
SPORTAKULER FEM IPB 2010, Juara 2 Futsal SPORTAKULER FEM IPB
2011, Juara 2 Voli Putra SPORTAKULER FEM IPB 2011, dan Juara 1 Futsal
Mahasiswa Pencinta Alam se-Bogor (MAPALA se-Bogor) 2011.
Selama menjadi mahasiswa, penulis aktif di beberapa organisasi. Pada
tingkat pertama penulis aktif di UKM Soof IPB, UKM Taekwondo IPB. Tingkat
dua dan tingkat tiga penulis aktif di organisas Badan Pengawas HIPOTESA (BPHipotesa), dan Keluarga Ekonomi dan Manajemen Pencinta Alam (KAREMATA
FEM IPB).

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas rahmat, hidayah,
dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini.
Shalawat serta salam tak lupa tercurah kepada Rasulullah Muhammad SAW dan
kita semua sebagai pengikutnya hingga akhir zaman. Skripsi yang berjudul
“Dampak Pembangunan Wilayah DKI Jakarta terhadap Disparitas DKI
Jakarta dan Luar DKI Jakarta Sebelum dan Setelah Otonomi Daerah” ini
merupakan hasil karya penulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Sarjana Ekonomi pada Departemen Ilmu Ekonomi, Fakultas Ekonomi dan
Manajemen, Institut Pertanian Bogor.
Penulis menyadari bahwa dalam proses penyusunan skripsi ini terdapat
banyak kekurangan yang dikarenakan oleh keterbatasan pengetahuan dan
kemampuan yang dimiliki. Namun pada akhirnya, karya ini berhasil penulis
selesaikan atas bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Untuk itu, penulis ingin
menyampaikan ungkapan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada:
1.

Allah SWT atas segala nikmat dan karunia-Nya.

2.

Ayah dan Ibu tercinta yang selalui memberikan doa, dukungan, dan dorongan
bagi penulis untuk menyelesaikan penelitian ini. Kakak dan adik yang
memberikan semangat dan dukungan moral tanpa henti.

3.

Prof. Dr. H. Didin S. Damanhuri, sebagai dosen pembimbing atas masukan
dan bimbingan dalam proses penyelesaian skripsi ini.

4.

Dr. Sri Mulatsih, sebagai penguji utama dan Salahuddin el Syyubi, MA,
sebagai penguji komisi pendidikan atas kritik dan masukan yang positif
dalam penyempurnaan penulisan.

5.

Seluruh dosen khususnya staf dosen Ilmu Ekonomi yang tanpa pamrih
memberikan ilmu serta pengalamannya dalam empat tahun penulis belajar di
Institut Pertanian Bogor.

6.

Kepala Tata Usaha beserta staf pelaksana Departemen Ilmu Ekonomi yang
telah membantu dan bekerja sama dalam menyelesaikan skripsi ini.

7.

Seluruh rekan-rekan di Ilmu Ekonomi 45, keluarga besar KAREMATA FEM
IPB.

8. Beasiswa BUMN yang sangat membantu saya secara financial semasa kuliah
hingga peneliaan selesai.
9. Semua pihak yang telah membantu penulis secara langsung maupun tidak
langsung yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu.
Akhir kata, penulis mengharapkan masukan-masukan positif dari semua
pihak untuk kesempurnaan skripsi ini. Semoga karya ini dapat memberikan
manfaat bagi semua pihak. Amin ya Robbal’ alamin.

Bogor, September 2012

Suryo Aji
H14080112

i

DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR ISI ...............................................................................................

i

DAFTAR TABEL .......................................................................................

iii

DAFTAR GAMBAR ..................................................................................

v

DAFTAR LAMPIRAN ...............................................................................

vi

I. PENDAHULUAN ..................................................................................

1

1.1. Latar Belakang ................................................................................

1

1.2. Perumusan Masalah .........................................................................

17

1.3. Tujuan Penelitian .............................................................................

19

1.4. Manfaat Penelitian ...........................................................................

19

II.TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN .................

21

2.1. Pembangunan Ekonomi ...................................................................

21

2.2. Pertumbuhan Ekonomi ....................................................................

28

2.3. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) .....................................

34

2.4. Ketimpangan Distribusi Pendapatan ...............................................

36

2.5. Indeks Williamson ........................................................................

40

2.6. Otonomi Daerah dan Desentralisasi ................................................

41

2.7. Penelitian Terdahulu........................................................................

44

2.8. Kerangka Pemikiran ........................................................................

48

III.METODOLOGI PENELITIAN .............................................................

51

3.1. Pengertian Metodologi Penelitian ...................................................

51

3.2. Jenis dan Sumber Data ....................................................................

51

3.3. Metode Analisis ...............................................................................

52

3.3.1. Klassen Typology ..................................................................

52

3.3.2. Indeks Williamson .................................................................

54

3.3.2. Analisi Trend Ketimpangan ..................................................

55

IV. GAMBARAN UMUM .........................................................................

57

4.1. Letak Geografis dan Wilayah Administrasi DKI Jakarta .............

57

4.2. Demografi .....................................................................................

58

ii

4.3. Perekonomian DKI Jakarta ...........................................................

60

4.3.1. Pertumbuhan ekonomi .........................................................

60

4.3.2. Struktur Ekonomi Menurut Lapangan Usaha ......................

61

4.3.3. Struktur Ekonomi Menurut Komponen Pengeluaran ..........

63

4.3.4. Perkembangan PDRB Per Kapita ........................................

64

4.3.5. Inflasi/Deflasi ......................................................................

65

4.4. Kondisi Perekonomian dan Pembangunan di Indonesia ...............

66

V. HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................

72

5.1. Analisis Pola Pertumbuhan Ekonomi Parsial DKI Jakarta
dan Luar DKI Jakarta Sebelum Otonomi Daerah Berdasarkan
Pendekatan Tipologi Klassen .......................................................

72

5.2. Analisis Pola Pertumbuhan Ekonomi Parsial DKI Jakarta
dan Luar DKI Jakarta Setelah Otonomi Daerah Berdasarkan
Pendekatan Tipologi Klassen .......................................................

75

5.3. Analisis Ketimpangan Wilayah di DKI Jakarta dan Luar
DKI Jakarta ..................................................................................

80

5.3.1. Indeks Williamson DKI Jakarta Sebelum dan Setelah
Otonomi Daerah ................................................................

80

5.3.2. Indeks Williamson Luar DKI Jakarta Sebelum dan Setelah
Otonomi Daerah ..................................................................

83

5.4. Analisis Trend Ketimpangan di DKI Jakarta dan Luar
DKI Jakarta ....................................................................................

85

VI. KESIMPULAN DAN SARAN ...........................................................

89

6.1. Kesimpulan ...................................................................................

89

6.2. Saran .............................................................................................

90

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................

92

LAMPIRAN ...............................................................................................

94

iii

DAFTAR TABEL

Nomor

Halaman

1.1. Distribusi Pembangian Pengeluaran per Kapita dan Indeks Gini,
2006-2010...........................................................................................

4

1.2. PDRB, PDRB Per Kapita, Laju PertumbuhanEkonomi,
dan Persentase Penduduk Miskin Menurut Provinsi di Indonesia .....

6

1.3. Jumlah Dana Simpanan Masyarakat per Provinsi (Rp 000),
tahun 2008 ..........................................................................................

7

1.4. Ekspor dan Impor Non-Migas per Provinsi (dalam juta US$) ..........

9

1.5. Perkembangan Sekilas Infrastruktur Daerah Pasca-Otonomi Daerah
(dalam Persen) ....................................................................................

12

2.1. Beberapa Indeks Ketimpangan Regional Dalam PDRB Per Kapita
Menurut Kabupaten/Kota ..................................................................

45

2.2. Indeks Ketimpangan Williamson Antar Wilayah Di Indonesia .........

46

2.3. Indeks Ketimpangan Pendapatan di Indonesia tahun 1996-2006 ......

50

3.1. Klasifikasi Tipologi Klassen Pendekatan Daerah ..............................

54

4.1. Luas Daerah dan Pembagian Daerah Administrasi Menurut
Kabupaten/Kota Administrasi ...........................................................

57

4.2. Peduduk dan Laju Pertumbuhan Penduduk Menurut Kabupaten/Kota
Administrasi Hasil Sensus Penduduk 2000 dan 2010 .......................

58

4.3. Peranan Sektor Ekonomi dalam PDRB atas Dasar Harga
Berlaku 2005-2009 ............................................................................

62

4.4. Distribusi Persentase PDRB menurut Pengeluaran 2005-2009 .........

63

4.5. PDRB Per Kapita Provinsi DKI Jakarta 2006-2010 ..........................

64

4.6. Indikator Inflasi Indeks Harga Implisit PDRB DKI Jakarta Menurut
Lapangan Usaha 2005-2009 ..............................................................

65

4.7. PDB Indonesia Atas Harga Berlaku dan Konstan 1993 di Tahun

iv

1993-200 dan Konstan 2000 di tahun 2001-2010 .............................

67

4.8. Indeks Pembangunan Manusia tiap Provinsi di Indonesia .................

69

4.9. Persentase Penduduk Miskin tiap Provinsi di Indonesia....................

70

5.1. Indeks Williamson Berdasarkan PDRB Per Kapita Tanpa Migas
ADHK DKI Jakarta Tahun 1993-2010 ..............................................

81

5.2. Indeks Williamson Berdasarkan PDRB Per Kapita Tanpa Migas
ADHK Luar DKI Jakarta Tahun 1993-2010 .....................................

83

v

DAFTAR GAMBAR

Nomor

Halaman

1.1. Distribusi Regional Simpanan Masyarakat di Perbankan ..................

14

1.2. Distribusi Regional Penyaluran Kredit Perbankan ............................

15

2.1. Teori Harrod-Domar dalam Grafik ....................................................

33

2.2. Kurva Lorenz untuk Memperkirakan Koefisien Gini ........................

37

2.4. Kerangka Pemikiran ...........................................................................

50

4.1. Penduduk Berusia 15 Tahun Keatas Yang Bekerja dan Mencari
Pekerjaa, 2005-2010 ..........................................................................

59

4.2. Laju Pertumbuhan Ekonomi DKI Jakarta Tahun 2006-2010 ............

60

4.3. Peranan Sektor Andalan dalam PDRB atas Harga Berlaku
Tahun 2000-2009 ...............................................................................

61

5.1. Klassen Typology Indonesia Tahun 1995-1999 ................................

74

5.2. Klassen Typology Indonesia Tahun 2006-2010 ................................

77

5.3. Trend Ketimpangan di Jakarta dan Luar DKI Jakarta ......................

88

vi

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor
1.

Halaman

Perhitungan Nilai Ketimpangan Williamson antar Kabupaten/Kota
di Provinsi DKI Jakarta Tahun 1993 .................................................

99

Perhitungan Nilai Ketimpangan Williamson antar Kabupaten/Kota
di Provinsi DKI Jakarta Tahun 1994 .................................................

99

Perhitungan Nilai Ketimpangan Williamson antar Kabupaten/Kota
di Provinsi DKI Jakarta Tahun 1995 .................................................

100

Perhitungan Nilai Ketimpangan Williamson antar Kabupaten/Kota
di Provinsi DKI Jakarta Tahun 1996 .................................................

100

Perhitungan Nilai Ketimpangan Williamson antar Kabupaten/Kota
di Provinsi DKI Jakarta Tahun 1997 .................................................

101

Perhitungan Nilai Ketimpangan Williamson antar Kabupaten/Kota
di Provinsi DKI Jakarta Tahun 1998 .................................................

101

Perhitungan Nilai Ketimpangan Williamson antar Kabupaten/Kota
di Provinsi DKI Jakarta Tahun 1999 .................................................

102

Perhitungan Nilai Ketimpangan Williamson antar Kabupaten/Kota
di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2000 .................................................

102

Perhitungan Nilai Ketimpangan Williamson antar Kabupaten/Kota
di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2001 .................................................

103

10. Perhitungan Nilai Ketimpangan Williamson antar Kabupaten/Kota
di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2002 .................................................

103

11. Perhitungan Nilai Ketimpangan Williamson antar Kabupaten/Kota
di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2003 .................................................

104

12. Perhitungan Nilai Ketimpangan Williamson antar Kabupaten/Kota
di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2004 .................................................

104

13. Perhitungan Nilai Ketimpangan Williamson antar Kabupaten/Kota
di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2005 .................................................

105

14. Perhitungan Nilai Ketimpangan Williamson antar Kabupaten/Kota
di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2006 .................................................

105

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

9.

vii

15. Perhitungan Nilai Ketimpangan Williamson antar Kabupaten/Kota
di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2007 .................................................

106

16. Perhitungan Nilai Ketimpangan Williamson antar Kabupaten/Kota
di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2008 .................................................

106

17. Perhitungan Nilai Ketimpangan Williamson antar Kabupaten/Kota
di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2009 .................................................

107

18. Perhitungan Nilai Ketimpangan Williamson antar Kabupaten/Kota
di Provinsi DKI Jakarta Tahun 2010 .................................................

107

19. Perhitungan Nilai Ketimpangan Williamson antar Provinsi di
Indonesia Tanpa DKI Jakarta Tahun 1993 ........................................

108

20. Perhitungan Nilai Ketimpangan Williamson antar Provinsi di
Indonesia Tanpa DKI Jakarta Tahun 1994 ........................................

109

21. Perhitungan Nilai Ketimpangan Williamson antar Provinsi di
Indonesia Tanpa DKI Jakarta Tahun 1995 ........................................

110

22. Perhitungan Nilai Ketimpangan Williamson antar Provinsi di
Indonesia Tanpa DKI Jakarta Tahun 1996 ........................................

111

23. Perhitungan Nilai Ketimpangan Williamson antar Provinsi di
Indonesia Tanpa DKI Jakarta Tahun 1997 ........................................

112

24. Perhitungan Nilai Ketimpangan Williamson antar Provinsi di
Indonesia Tanpa DKI Jakarta Tahun 1998 ........................................

113

25. Perhitungan Nilai Ketimpangan Williamson antar Provinsi di
Indonesia Tanpa DKI Jakarta Tahun 1999 ........................................

114

26. Perhitungan Nilai Ketimpangan Williamson antar Provinsi di
Indonesia Tanpa DKI Jakarta Tahun 2000 ........................................

115

27. Perhitungan Nilai Ketimpangan Williamson antar Provinsi di
Indonesia Tanpa DKI Jakarta Tahun 2001 ........................................

116

28. Perhitungan Nilai Ketimpangan Williamson antar Provinsi di
Indonesia Tanpa DKI Jakarta Tahun 2002 ........................................

117

29. Perhitungan Nilai Ketimpangan Williamson antar Provinsi di
Indonesia Tanpa DKI Jakarta Tahun 2003 ........................................

118

30. Perhitungan Nilai Ketimpangan Williamson antar Provinsi di
Indonesia Tanpa DKI Jakarta Tahun 2004 ........................................

120

viii

31. Perhitungan Nilai Ketimpangan Williamson antar Provinsi di
Indonesia Tanpa DKI Jakarta Tahun 2005 ........................................

121

32. Perhitungan Nilai Ketimpangan Williamson antar Provinsi di
Indonesia Tanpa DKI Jakarta Tahun 2006 ........................................

123

33. Perhitungan Nilai Ketimpangan Williamson antar Provinsi di
Indonesia Tanpa DKI Jakarta Tahun 2007 ........................................

124

34. Perhitungan Nilai Ketimpangan Williamson antar Provinsi di
Indonesia Tanpa DKI Jakarta Tahun 2008 ........................................

126

35. Perhitungan Nilai Ketimpangan Williamson antar Provinsi di
Indonesia Tanpa DKI Jakarta Tahun 2009 ........................................

127

36. Perhitungan Nilai Ketimpangan Williamson antar Provinsi di
Indonesia Tanpa DKI Jakarta Tahun 2010 ........................................

129

1

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pembangunan dalam perspektif luas dapat dipandang sebagai suatu proses
multidimensional yang mencakup berbagai perubahan mendasar atas struktur
sosial, sikap-sikap masyarakat dan institusi-institusi nasional, disamping
penanganan ketimpangan pendapatan dan pengentasan kemiskinan dengan tetap
mengejar akselerasi pertumbuhan ekonomi.
Pembangunan ekonomi merupakan salah satu bagian penting dari
pembangunan nasional dengan tujuan utama untuk meningkatkan kesejahteraan
masyarakat. Pembangunan ekonomi memiliki berbagai acuan, salah satunya
adalah pertumbuhan ekonomi.

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan

berkelanjutan merupakan kondisi utama dan suatu keharusan bagi kelangsungan
pembangunan ekonomi.1 Kuznets mendefinisikan pertumbuhan ekonomi sebagai
kenaikan kapasitas dalam jangka panjang suatu negara yang bersangkutan untuk
menyediakan barang-barang ekonomi kepada penduduknya.2
Pada awal pemerintahan orde baru para pembuat kebijakan dan perencana
pembangunan ekonomi di Indonesia lebih berorientasi kepada pertumbuhan
ekonomi yang tinggi. Pembangunan ekonomi yang awalnya terpusat di Jawa,
khususnya DKI Jakarta, diharapkan strategi pembangunan tersebut akan
menghasilkan apa yang dimaksud dengan trickle down effects atau efek menetes
ke bawah. Yaitu pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan menimbulkan tetesan ke
1

Tulus Tambunan, Perekonomian Indonesia:Beberapa masalah penting (Jakarta:Ghalia
Indonesia,2001), h. 39.
2
Michael P. Todaro dan Stephen C. Smith. Pembangunan Ekonomi Di Dunia Ketiga (Jakarta:
Erlangga,2006), h. 99.

2

bawah bagi masyarakat secara menyeluruh. Kesejahteraan dan pemerataan akan
tercapai dengan sendirinya serta berjalan beriringan mengikuti pertumbuhan
ekonomi yang ada.
Pembangunan pada saat itu juga hanya terpusatkan pada wilayah dan sektorsektor tertentu saja yang secara potensial memiliki kemampuan

besar untuk

menghasilkan nilai tambah tinggi. Adanya strategi tersebut diharapkan
menghasilkan pembangunan yang mampu “menetes” ke sektor-sektor dan wilayah
Indonesia lainnya. Akan tetapi strategi tersebut ternyata kurang berhasil
menciptakan kesejahteraan dan pemerataan seperti yang diharapkan. Oleh karena
itu, sejak Pelita III strategi pembangunan mulai berubah agar tidak lagi hanya
berfokus pada pertumbuhan ekonomi, tetapi pada peningkatan pemerataan
pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. Sampai terjadinya krisis ekonomi
Tahun 1997, sudah banyak dilasanakan program-program pemerintah yang
bertujuan untuk mengurangi jumlah orang miskin dan ketimpangan pendapatan
antar kelompok miskin dan kaya di tanah air.3
Berkaitan dengan masalah di atas, terdapat pertanyaan besar yang selama
pemerintahan orde baru hingga masa reformasi saat ini, walaupun pembangunan
ekonomi berjalan dengan baik dan Indonesia memiliki laju pertumbuhan yang
relatif tinggi, mengapa kesenjangan dalam distribusi pendapatan dan kemiskinan
tetap ada. Apakah Hipotesis Kuznets mengenai evolusi atau perubahan
kesenjangan pendapatan, dimana pada awal proses pembangunan, ketimpangan
pendapatan bertambah besar sebagai akibat dari proses urbanisasi dan
industrialisasi, namun setelah itu pada tingkat pembangunan yang lebih tinggi

3

Tulus Tambunan, op. cit., h. 82-83.

3

atau akhir dari proses pembangunan ketimpangan menurun, tidak berlaku untuk
kasus di Indonesia.
Salah satu cara untuk menganalisa tentang ketimpangan pendapatan adalah
indeks Gini. Indeks Gini merupakan salah satu ukuran yang digunakan untuk
mengukur ketimpangan pendapatan yang didasarkan pada kurva Lorenz. Nilai
indeks Gini berada pada selang 0 sampai dengan 1. Bila nilainya 0 maka
menunjukkan kemerataan yang sempurna dan jika nilainya 1 maka menunjukkan
ketidakmerataan yang sempurna. Artinya, satu orang (atau satu kelompok
pendapatan) di suatu negara menikmati semua pendapatan negara tersebut.4
Berdakan Tabel 1.1, nilai indeks Gini di Indonesia dalam lima tahun terahir
relatif cukup stabil. Pada tahun 2006 nilai indeks Gini adalah sebesar 0,36, tahun
2007 mengalami kenaikan menjadi 0,38, Tahun 2008 turun menjadi 0,37, dan di
Tahun 2009 dan 2010 masing-masing nilainya adalah 0,37 dan 0,38. Pada saat
yang sama Indonesia mencatat angka pertumbuhan yang mengesankan, kurang
lebih rata-rata 6 persen. Dari data di atas menunjukkan bahwa ketimpangan
distribusi pendapatan di Indonesia belum berkurang walaupun pertumbuhan
ekonomi relatif tinggi.
Berdasarkan Tabel 1.1, pada Tahun 2006, 40 persen masyarakat
berpengeluaran rendah memperoleh sebesar 21,42 persen dari total distribusi
pengeluaran nasional. Menurut ukuran yang digunakan Bank Dunia angka
tersebut menunjukkan kondisi relatif merata. Pada tahun 2007 menjadi 18,74
persen, tahun 2008 menjadi 18,72 persen, dan di tahun 2009 dan 2010 masing-

4

Ibid., h. 95

4

masing distribusinya sebesar 18,96 dan 18,05 persen yang cenderung
menunjukkan makin kurang merata.
Tabel 1.1. Distribusi Pembagian Pengeluaran per Kapita dan Indeks Gini,
2006-2010
Daerah

Tahun

Kota

2006

Desa

Desa+
Kota

40%
40%
20%
Berpengeluar- Berpengeluar- Berpengeluaran Rendah
an Sedang
an Tinggi
19,79
36,90
43,33

Indeks
Gini
0,35

2007

19,08

37,13

43,80

0,37

2008

18,55

37,00

44,45

0,37

2009

18,49

36,58

44,93

0,37

1010

17,57

36,99

45,44

0,38

2006

23,42

39,04

37,53

0,28

2007

22,00

37,94

40,05

0,30

2008

22,06

38,58

39,36

0,30

2009

22,45

38,45

39,10

0,29

1010

20,98

38,78

40,24

0,32

2006

21,42

37,65

41,26

0,36

2007

18,74

36,51

44,75

0,38

2008

18,72

36,43

44,86

0,37

2009

18,96

36,13

44,91

0,37

1010

18,05

36,48

45,47

0,38

Sumber: Statistik Indonesia: Statistical Yearbook of Indonesia 2008.BPS. Hal 478
Statistik Indonesia: Staistical Yearbook of Indonesia 2011.BPS. Hal 469

Sedangkan 20 persen masyarakat berpengeluaran tinggi di Tahun 2006,
memperoleh 41,26 persen dari total distribusi pengeluaran nasional. Pada Tahun
2007 meningkat menjadi 44,75 persen, tahun 2008 kembali mengalami
peningkatan menjadi 44,86 persen, dan di tahun 2009 dan 2010 masing-masing
distribusinya sebesar 44,91 persen dan 45,47 persen. Jika dilihat dari data tersebut

5

distribusi untuk 20 persen masyarakat berpengeluaran tinggi cenderung
mengalami peningkatan.
Walaupun bukan merupakan indikator yang bagus, kesejahteraan di suatu
wilayah dapat juga dilihat dari Produk Domestik Regional Bruto atau PDRB per
kapita,5 laju pertumbuhan ekonomi, tingkat kemiskinan. Suatu wilayah yang
memiliki angka kemiskinan yang tinggi namun juga memiliki PDRB per kapita
dan laju pertumbuhan ekonomi yang tinggi pula menunjukkan gejala bahwa
wilayah tersebut memiliki indeks ketimpangan yang cenderung tinggi. Tingkat
kemiskinan di suatu wilayah dapat dilihat dari jumlah persentase penduduk miskin
di wilayah tersebut.
Dengan beragamnya karakteristik dan potensi yang dimiliki oleh setiap
provinsi di Indonesia maka nilai PDRB, PDRB per kapita, dan angka kemiskinan
cukup bervariatif antar provinsi seperti ditunjukkan oleh Tabel 1.2. Provinsi yang
memiliki nilai PDRB terbesar adalah DKI Jakarta yang merupakan ibu kota
negara sekaligus sebagai pusat perekonomian dan pemerintahan Indonesia,
sehingga nampak bahwa perekonomian cenderung terpusat di wilayah ini. Hal
tersebut menandakan bahwa tingkat kesejahteraan masyarakat secara rata-rata di
wilayah ini cukup tinggi, karena PDRB per kapita merupakan besaran yang
digunakan untuk mengukur kesejahteraan masyarakat di suatu wilayah, tanpa
melihat pendapatan antar golongan dalam masyarakat.

5

Maksudnya, indikator tersebut kurang dapat menunjukkan kondisi kesejahteraan yang
sebenarnya. Bisa saja tingkat pendapatan di suatu wilayah tinggi namun sebagian besar(misalnya
50%) dari pendapatan total dinikmati hanya sebagian kecil (misal 20%) dari penduduknya.
Dengan kata lain, selain indikator ini harus dilihat bagaimana distribusi pendapatan di wilayah
tersebut. Lihat Tulus Tambunan, Perekonomian Indonesia: Beberapa masalah penting,
Jakarat:Ghalia Indonesia,2001, h.39.

6

Tabel 1.2. PDRB , PDRB Per Kapita, Laju Pertumbuhan Ekonomi, dan
Persentase Penduduk Miskin Menurut Provinsi di Indonesia,
2010
Provinsi
1
2
3
4
NAD
7.358,3
33.071,1
2,64
21,0
Sumatera Utara
9.138,7
118.640,9
6,35
11,3
Sumatera Barat
8.017,5
38.860,1
5,93
9,5
Riau
17.640,9
97.701,6
4,17
8,7
Jambi
5.648,0
17.465,2
7,33
8,3
Sumatera Selatan
8.554,7
63.735,9
5,43
15,5
Bengkulu
4.855,9
8.330,3
5,14
18,3
Lampung
5.034,6
38.305,2
5,75
18,9
Kep. Bangbel
8.883,2
10.866,8
5,85
6,5
Kep. Riau
24.466,5
41.083,2
7,21
8,1
DKI Jakarta
41.181,6
395.664,4
6,51
3,5
Jawa Barat
7.476,1
321.875,8
6,09
11,3
Jawa Tengah
5.774,6
186.995,4
5,84
16,6
DIY
6.086,5
21.042,2
4,87
16,8
Jawa Timur
9.133,1
342.280,7
6,68
15,3
Banten
7.177,0
88.393,7
5,94
7,2
Bali
28.880,6
7.133,9
5,83
4,9
Kalimantan Barat
6.890,9
30.292,3
5,35
9,0
Kalimantan Tengah
8.493,8
18.788,9
6,47
6,8
Kalimantan Selatan
8.458,1
30.674,1
5,58
5,2
Kalimantan Timur
110.57,8
31.121,7
4,95
7,7
Sulawesi Utara
8.090,9
18.371,2
7,12
9,1
Sulawesi Tengah
6.486,1
17.437,1
7,79
18,1
Sulawesi Selatan
6.371,9
51.197,0
8,18
11,6
Sulawesi Tenggara
5.218,2
12.226,3
8,19
17,1
Gorontalo
2.804,8
2.917,4
7,62
23,2
Sulawesi Barat
4.094,7
4.744,3
11,91
13,6
NTB
4.456,9
20.056,7
6,29
21,6
NTT
2.675,5
12.531,6
5,13
23,0
Maluku
2.772,3
4.251,3
6,47
17,7
Maluku Utara
2.768,1
3.035,1
7,96
9,4
Papua Barat
9.307,7
8.685,6
26,82
34,9
Papua
8.600,9
22.620,2
(2,65)
36,8
Indonesia
9.723,4
6,10
2.310.689,8
13,3
Sumber: Statistik Indonesia: Staistical Yearbook of Indonesia 2011.BPS.Hal 172,
558, 562, dan hal 564.
Keterangan:
1: PDRB ADHK 2000 (miliar rupiah)
2: PDRB Per Kapita (ribu rupiah)

3: Laju Pertumbuhan Ekonomi
4: Persentase Kemiskinan

7

Tabel 1.3. Jumlah Dana Simpanan Masyarakat per Provinsi (Rp 000), tahun
2008.
Provinsi
Giro
Tabungan
Deposito
Subtotal
NAD
7.259.531
6.036.217
5.000.677
18.296.425
Sumatera Utara
14.172.780 28.556.509 34.398.209
77.127.498
Sumatera Barat
3.823.352
6.270.497
4.040.365
14.134.214
Riau
11.111.516 12.870.351
7.738.126
31.719.993
Jambi
2.444.936
4.719.675
3.088.946
10.253.557
Sumatera Selat
5.311.963 11.156.291 10.073.584
26.541.838
Bengkulu
1.628.706
2.048.665
635.694
4.313.065
Lampung
2.143.227
6.498.216
5.027.459
13.668.902
Kep. Bangbel
2.361.119
3.384.293
1.790.783
7.536.195
Kep. Riau
5.583.102
5.546.692
3.556.590
14.686.384
DKI Jakarta
167.355.042 125.569.193 434.862.205
727.786.440
Jawa Barat
23.461.739 49.612.782 56.182.719
129.257.240
Jawa Tengah
10.602.944 36.419.377 32.808.822
79.831.143
DIY
2.515.570
8.293.985
6.073.816
16.883.371
Jawa Timur
28.336.825 57.121.604 70.309.728
155.768.157
Banten
6.534.400 13.153.274 13.025.309
32.712.983
Bali
5.783.679 12.425.928
9.107.437
27.317.044
Kal. Barat
3.673.965
8.044.610
4.833.105
16.551.680
Kal. Tengah
3.209.144
3.194.966
1.141.977
7.546.087
Kal. Selatan
4.304.509
7.578.511
3.354.327
15.237.347
Kal. Timur
11.664.486 14.598.200 11.360.109
37.622.795
Sulawesi Utara
1.272.577
3.854.309
2.853.617
7.980.503
Sulawesi Tengah
1.430.170
2.774.504
1.049.741
5.254.415
Sulawesi Selatan
4.486.995 13.343.965
8.135.207
25.966.167
Sulawesi Tengg
1.289.042
2.380.913
727.915
4.397.870
Gorontalo
203.067
923.567
576.570
1.703.204
Sulawesi Barat
485.616
801.744
67.789
1.355.149
NTB
1.337.029
3.504.828
1.179.148
6.021.005
NTT
2.407.249
3.576.483
1.724.908
7.708.640
Maluku
1.228.372
1.961.493
1.299.098
4.488.963
Maluku Utara
863.944
1.244.241
483.644
2.591.827
Papua Barat
1.802.344
1.797.330
847.044
4.446.718
Papua
6.021.707
4.965.088
3.940.950
14.927.745
Indonesia
346.110.647 464.228.301 741.295.618 1.551.634.566
Sumber: Bank Indonesia (2008) dalam Faisal Basri. Lanskap Ekonomi Indonesia.2009.
Hal 529

Selanjutnya indikator yang dapat menggambarkan proses pembangunan
ekonomi yang terpusat di Jawa, khususnya DKI Jakarta adalah kepemilikan dana
dan investasi.

Semakin banyak perputaran uang di suatu wilayah dapat

menggambarkan potensi pembangunan di daerah tersebut. Dalam Tabel 1.3

8

menunjukkan jumlah dana simpanan masyarakat di semua provinsi di Indonesia.
Dari total Rp 1.551.634.566.000 dana simpanan masyarakat di perbankan
Indonesia di bulan September 2008, penguasaan semua provinsi di Pulau Jawa
sebesar 73,6 persen, sedangkan penguasaan di DKI Jakarta hampir setengah dari
total semua yaitu 46,9 persen. Dengan demikian dapat disimpulkan adanya
ketimpangan distribusi simpanan masyarakat antara DKI Jakarta dengan wilayahwilayah lain di Indonesia.
Perdagangan luar negeri merupakan salah satu aspek penting dalam
perekonomian setiap negara. Dewasa ini tidak ada satu negara pun dimuka bumi
yang tidak melakukan hubungan dengan pihak luar. Begitu juga dengan
Indonesia. Perdagangan luar negeri menjadi semakin penting, bukan saja dalam
kaitan dengan haluan pembangunan yang berorientasi ke luar, yakni membidik
masyarakat di negara-negara lain sebagai pasar hasil-hasil produksi dalam negeri,
tapi juga berkaitan dengan pengadaan barang-barang modal untuk memacu
industri dalam negeri.6
Data ekspor dan impor selama ini masih menunjukkan dominasi DKI
Jakarta sebagai pusat kegiatan perdagangan internasional. Seperti yang terlihat
pada nilai ekspor dan impor non-migas per provinsi pada Tabel 1.4. Dimana pada
tahun 2006 dan 2007 nilai ekpor non-migas DKI menempati urutan pertama yaitu
sebesar 29.034,40 dan 31.280,90 atau 36,48 dan 33,92 persen dari nilai total
ekspor nasional. Begitu juga dengan nilai impor non-migas DKI Jakarta pada
tahun yang sama senilai 25.442,90 dan 33.019,00 atau 60,43 dan 62,84 persen dari
nilai total impor non-migas nasional. Angka ekspor dan impor yang sedemikian

6

Dumairy. Perekonomian Indonesia (Jakarta: Erlangga,1996), h. 178.

9

tinggi di DKI Jakarta tidak menunjukkan kepemilikan. Sehingga terjadinya
ketimpangan data ekspor dan impor karena lokasi pelaksanaan ekspor dan
impornya saja. Namun hal tersebut mengidikasikan bahwa infrastuktur untuk
mendukung kegiatan ekspor dan impor tersedia hanya di wilayah-wilayah tertentu
saja.
Tabel 1.4. Ekspor dan Impor Non-Migas per Provinsi ( dalam juta US$)
No.
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
30

Provinsi
DKI jakarta
Riau
Jawa Timur
Sumatera Utara
Kalimantan Timur
Papua
Jawa Tengah
Sulawesi Selatan
Kalimantan Selatan
Sumatera Selatan
Lampung
Sumatera Barat
NTB
Bangka Belitung
Kalimantan Barat
Jambi
Sulawesi Utara
Maluku Utara
Sulawesi Tenggara
Banten
Jawa barat
Bali
Sulawesi Tengah
Kalimantan Teng
Bengkulu
NAD
Maluku
Gorontalo
NTT
DI Yogyakarta
Non-Migas

Ekspor
2006
2007
29.034,40 31.280,90
10.242,40 13.259,20
9.301,90 11.617,90
5.523,90
7.082,90
4.657,30
4.856,80
3.826,90
3.495,10
2.899,30
3.122,50
1.874,00
2.771,30
2.361,20
2.749,50
1.883,00
2.293,90
1.525,70
1.540,60
1.074,10
1.512,80
1.219,50
1.068,00
900,70
1.013,80
620,70
728,80
574,50
694,40
191,10
514,60
197,40
493,30
350,70
413,90
528,50
388,70
240,70
324,00
289,60
287,70
202,00
207,20
179,20
165,00
80,30
85,00
11,00
63,60
49,50
25,90
14,70
21,20
3,80
3,30
4,40
2,50
79.589,10 92.012,30

Impor
2006
2007
25.422,90
33.019,00
1.158,30
1.470,00
6.864,30
9.003,10
1.331,20
1.829,30
1.195,20
835,40
664,00
632,20
1.033,00
1.504,80
322,80
356,80
812,90
227,20
282,60
162,90
331,50
419,30
36,80
95,90
278,50
225,50
21,50
18,00
72,50
81,60
162,40
178,00
45,90
19,90
1,70
4,10
45,90
0,00
1.873,30
2.148,70
68,80
156,90
27,80
81,60
9,30
0,00
27,10
42,70
0,70
3,00
29,10
29,60
14,00
7,40
0,00
5,10
12,00
20,10
1,40
0,10
42.102,60
52.540,60

Sumber: Departemen Perdagangan (2008) dalam Faisal Basri. Lanskap Ekonomi
Indonesia.2009. Hal 525-526

10

Permasalahan seperti pertumbuhan ekonomi regional yang tidak merata,
terpusatnya segala aktivitas ekonomi, bertambahnya rumah tangga miskin, dan
pengangguran yang semakin meningkat merupakan tantangan yang harus dihadapi
pemerintah Indonesia maupun masyarakat itu sendiri sebagai pelaku ekonomi.
Pertumbuhan ekonomi yang kian membaik masih meninggalkan permasalahan
yang harus dihadapi. Salah satu realitas pertumbuhan ekonomi di DKI Jakarta
yang diakibatkan oleh adanya perbedaan laju pembangunan adalah terciptanya
disparitas/ketimpangan pembangunan DKI Jakarta dengan luar DKI Jakarta.
Berbagai penelitian dan kajian yang berdimensi regional, terutama
mengenai kualitas pembangunan regional dan distribusi sumber daya spasial, akan
selalu menjadi bahasan penting dan menarik di negara besar seperti Indonesia.
Terlebih setelah dipertegasnya pengakuan dan pelaksanaan pelimpahan otonomi
daerah dengan diberlakukannya Undang-Undang RI No. 22 dan 25 tahun 1999
yang disempurnakan dengan Undang-Undang RI No. 33 tahun 2000 tentang
perimbangan keuangan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah yang
mengunakan prinsip dasar yaitu fungsi pokok pelayanan publik dilaksanakan di
daerah, dengan dukungan pembiayaan pusat melalui penyerahan sumber-sumber
penerimaan kepada daerah. Undang-Undang No. 22/1999 tentang pemerintahan
daerah dan Undang-Undang No. 25/1999 tentang hubungan fiskal antar
pemerintah menjadi kerangka hukum untuk pengenalan desentralisasi fiskal di
Indonesia sedangkan Undang-Undang No. 32/2004 tentang pemerintah daerah
serta Undang-Undang No.33/2004 tentang desentralisasi fiskal kemudian
mengubah dan memperkuat desentralisasi fiskal.

11

Secara konsep, otonomi daerah dan desentralisasi fiskal bukanlah hal baru
di Indonesia. Kedua hal tersebut sudah diatur dalam Undang-Undang RI No.5
tahun 1974 tentang pokok-pokok pemerintahan di daerah. Namun selama
pemerintahan orde baru kebijakan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal belum
dilaksanakan

secara

konsisten.

Pemerintah

pusat

kurang

serius

dalam

mendelegasikan wewenang ke daerah. Bahkan pemerintah daerah merupakan
hasil dari sistem yang sentralistik dari pemerintah pusat. Sehingga kebijakan
otonomi pada pemerintahan orde baru kurang berperan dalam mengurangi
kesenjangan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.7
Dengan adanya otonomi daerah dan desentralisasi diharapkan dapat
mempermudah pemerintah untuk mengetahui dan memahami kebutuhan
masyarakat. Dengan demikian, dalam pelaksanaan pembangunan (ekonomi) untuk
mencapai kesejahteraan masyarakat dan mengurangi kesenjangan menjadi tujuan
utama, dapat lebih cepat tercapai. Bagi daerah, otonomi daerah dan desentralisasi
ini dimaksudkan untuk menentukan berapa uang yang digunakan pemerintah
daerah dalam pemberian pelayanan kepada mayarakat sehingga memberi
kewenangan yang lebih kepada daerah tersebut dalam pengelolaan dan
pembangunan wilayahnya.
Belum memadainya perimbangan keuangan antara pusat dan daerah hanya
salah satu dari sekian banyak masalah dari otonomi daerah. Sejauh ini
pelaksanaan otonomi daerah masih menyisakan banyak persoalan yang harus
diatasi. Setidaknya ada beberapa masalah besar dan saling berkaitan dalam
pelaksanaan otonomi daerah. Antara lain semakin melebarnya ketimpangan
7

M. Ryaas Rasyid. Desentralisasi Fiskal dan Otonomi Daerah: Desentralisasi, Demokrasi dan
Akuntabilitas Pemerintahan Daerah. Syamsuddin Haris, editor.(LIPI Press,2005), h. 4-5.

12

tingkat kemajuan pembangunan, kesejahteraan, dan kemampuan keuangan antar
daerah. Selain itu masih minimnya kemampuan daerah dalam mengelola diri
sendiri juga merupakan masalah yang dihadapi beberapa daerah di Indonesia.
Politisasi (otonomi daerah), terutama dalam kasus pemekaran wilayah yang
cenderung berlebihan hanya menyebabkan pemborosan uang negara. Demikian
pula maraknya korupsi di daerah, memunculkan fenomena “desentralisasi
korupsi”.8
Selain beberapa permasalahan tersebut, otonomi daerah juga memberikan
beberapa tanda-tanda adanya pemerataan pembangunan. Saat ini mulai muncul
tanda-tanda bahwa berbagai daerah yang pada masa lalu sangat pasif saat ini
mulai aktif. Bahkan tanda-tanda peningkatan infrastuktur daerah sudah mulai
terlihat pada gelombang pertama otonomi daerah.
Tabel 1.5.Perkembangan Sekilas Infrastruktur Daerah Pasca-Otonomi
Daerah (dalam persen)
Pulau

1996
PLN¹

1999

SD² Aspal³ PLN¹

2002

SD² Aspal³ PLN¹

SD² Aspal³

Sumatera

38,69 85,54

53,83 48,93 86,37

53,31 53,41 87,53

58,58

Jawa & Bali

64,42 99,34

77,06 78,98 99,40

74,85 77,73 99,32

72,55

Kalimantan

44,80 90,41

29,91 52,08 93,75

30,60 56,57 92,24

32,40

Sulawesi

39,38 96,86

54,79 49,98 93,70

54,41 51,71 95,59

59,20

Maluku,
29,25 91,53
Papua, dan
Nusa
Tenggara

43,81 37,08 89,86

41,21 36,63 88,34

41,33

Sumber: Usman (2007) dalam Faisal Basri. Lanskap Ekonomi Indonesia.2009. Hal 523
Keterangan:
1) Jumlah rumah tangga pelanggan PLN dibagi jumlah rumah tangga;
8

Faisal Basri. Lanskap Ekonomi Indonesia: Kajian dan Renungan Terhadap Masalah-masalah
Struktural, Transformasi Baru, dan Prospek Perekonomian Indonesi (Jakarta:Pernada Media Grup,
2009), h. 484.

13

2) Jumlah SD dibagi jumlah desa; dan
3) Jumlah desa beraspal dibagi jumlah desa.

Pada Tabel 1.5 memperlihatkan, untuk infrastuktur trasportasi (jalan raya
beraspal) di Sumatera misalnya, pada tahun 1999 sekitar 53,31 persen jalan-jalan
di desa sudah beraspal. Angka ini lebih rendah daripada data di tahun 1996 yang
sudah mencapai 53,83 persen. Namun di tahun 2002 persentasenya meningkat
menjadi 58,58 persen. Peningkatan persentase jalan beraspal di pelosok perdesaan
pada periode 1999-2001 juga terjadi di Kalimantan, dari 30,6 menjadi 32,4
persen, Sulawesi dari 54,41 menjadi 59,20 persen. Adapun di Jawa dan Bali, pada
periode yang sama justru terjadi penurunan persentase jalan beraspal di perdesaan,
yakni dari 74,85 menjadi 72,55 persen.
Penurunan infrastruktur listrik (persentase rumah tanggga pelanggan PLN)
juga terjadi penurunan di Jawa dan Bali selama periode 1999-2002 (78,98 menjadi
77,73 persen). Hal serupa juga dialami oleh Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara,
dari 37,08 menjadi 36,63 persen. Adapun daerah-daerah lainya (meliputi
mayoritas daerah) di Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi mengalami kenaikan
persentase rumah tangga pelanggan PLN sehingga kondisi infrastruktur listrik di
daerah ini mengalami perbaikan. Peningkatan yang paling signifikan terjadi di
Sumatera (48,93 menjadi 53,41 persen), di susul Kalimantan (52,08 sampai 56,57
persen), lalu Sulawesi (49,98 menjadi 51,71 persen).
Selain perbaikan infrastuktur di daerah, pembangunan daerah juga ditopang
oleh lebih meratanya kepemilikan dan peredaran uang di seluruh Indonesia. Pada
Gambar 1.1, menunjukkan di tahun 1997, 86,6 persen dari seluruh simpanan
(deposito) milik masyarakat di Indonesia ada di Pulau Jawa. Namun di Jawa pun
sebenarnya tidaklah merata karena sebagian besar terpusat di DKI Jakarta, yaitu

14

sebesar 67,3 persen dan sisanya dibagi ke semua provinsi yang ada di Pulau Jawa.
Sumatera hanya sebesar 7,3 persen, dan yang paling menyedihkan seluruh
Indonesia bagian Timur hanya sebesar 6,2 persen. Kemudian tahun 2007, data
masyarakat di perbankan di Pulau Jawa turun menjadi 75,3 persen, walaupun DKI
Jakarta masih menguasai hampir setengah deposito masyarakat Indonesia.
80%
70%
60%
50%
1997

40%

2007

30%
20%
10%
0%
Indonesia
Timur

Jatim

Jateng & DIY

Jabar &
Banten

Jakarta

Sumatera

Sumber: Bank Indonesia (2008) dalam Faisal Basri. Lanskap Ekonomi Indonesia.2009.
Hal 528

Gambar 1.1. Distribusi Regional Simpanan Masyarakat di Perbankan.
Perubahan yang lebih signifikan terjadi pada penyaluran simpanan
masyarakat itu oleh perbankan sebagai kredit. Pada Gambar 1.2, menunjukkan
bahwa penyaluran kredit ke Sumatera dan Kawasan Indonesia Timur selama
periode 1999-2007 masing-masing naik lebih dari dua kali lipat. Dalam kurun
waktu yang sama, DKI Jakarta yang semula menguasai dua pertiga (68,2 persen)
alokasi kredit perbankan nasional turun proporsinya menjadi sekitar sepertiganya
(36,2 persen) dari kredit perbankan nasional, meskipun angka ini masih
menunjukkan dominasi DKI Jakarta.

15

Lonjakan kredit tertinggi terjadi di Jawa Barat dan Banten yang mencapai
hampir tiga kali lipat. Namun provinsi lain di Jawa tengah, Jawa Timur, dan DIY
mengalami kenaikan kredit yang paling kecil. Secara keseluruhan pada tahun
2007, provinsi yang ada di Jawa masih menguasai 71,5 persen dari total kredit
perbankan nasional. Proporsi ini sebenarnya sudah berkurang dibanding pada
tahun 1997, sebelum otonomi daerah, ketika seluruh provinsi di Pulau Jawa
menunjukkan angka 86,6 persen dari total kredit perbankan nasional.

80%
70%
60%
50%
40%

1997

30%

2007

20%
10%
0%
Indonesia
Timur

Jatim

Jateng & DIY

Jabar &
Banten

Jakarta

Sumatra

Sumber: Bank Indonesia (2008) dalam Faisal Basri. Lanskap Ekonomi Indonesia.2009.
Hal 528

Gambar 1.2. Distribusi Regional Penyaluran Kredit Perbankan
Pelaksanaan otonomi daerah sejauh ini memang banyak menimbulkan akses
negatif. Para pengusaha mengeluh karena banyak pungutan yang tidak memiliki
landasan yang kuat. Praktik korupsi yang hampir merata di seluruh daerah.
Sementara itu pelayanan publik justru cenderung memburuk dan pembangunan
infrastruktur dikesampingkan.

16

Meskipun demikian, banyaknya masalah dalam pelaksanaan otonomi daerah
tidak dapat digunakan sebagai pembenaran untuk menyimpulkan bahwa otonomi
harus diakhiri. Dari segi gagasannya, otonomi daerah tetap lebih baik dari pada
sentralisme

dan

karenanya

tetap

layak

diteruskan

dan

diperjuangkan.

Bagaimanapun, secara ideal otonomi daerah dapat berfungsi sebagai jangkar
pengaman untuk menjamin terlaksananya penyelenggaraan kegiatan pemerintahan
yang efektif untuk meningkatkan kemakmuran rakyat secara keseluruhan.
Efektifitas pemerintahan antara lain diukur dari kemampuannya memenuhi
pelayanan masyarakat dan mendorong pendayagunaan seluruh potensi sumber
daya secara optimal bagi kesejahteraan masyarakat.9
Selain beberapa keterbatasan pada pelaksanaannya, otonomi daerah telah
menunjukkan hasil dan kemajuan yang cukup mengembirakan. Bahwa manfaat
selama ini masih kurang jika dibanding dengan mudaratnya, kembali lagi bahwa
otonomi daerah merupakan proses pembelajaran. Demi memperoleh pemaham

Dokumen yang terkait

Impact of Development In Dki Jakarta to Disparities In Dki Jakarta and Outside Dki Jakarta After and Before Regional Autonomy