Analisis Yuridis Mengenai Dualisme Kewenangan Mengadili Tindak Pidana Korupsi Antara Pengadilan Negeri Dan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi

ANALISIS YURIDIS MENGENAI DUALISME KEWENANGAN
MENGADILI TINDAK PIDANA KORUPSI ANTARA PENGADILAN
NEGERI DAN PENGADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI

SK RIPSI
Disusun dan Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi
Syarat-Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada
Universitas Sumatera Utara

Oleh :
PERISTA FRANSISXA. S
060200261
DEPARTEMEN HUKUM PIDANA

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2010

Universitas Sumatera Utara

ANALISIS YURIDIS MENGENAI DUALISME KEWENANGAN
MENGADILI TINDAK PIDANA KORUPSI ANTARA PENGADILAN
NEGERI DAN PENGADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI

SK RIPSI
Disusun dan Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi
Syarat-Syarat Guna Memperoleh Gelar Sarjana Hukum Pada
Universitas Sumatera Utara

OLEH:
PERISTA FRANSISXA. S
NIM : 060200261
Ketua Departemen Hukum Pidana

Abul Khair S.H, M.Hum
196107021989031001

Dosen Pembingbing I

Prof. Dr. Syafruddin Kalo, S.H, M.Hum
Nip : 1951021061980021001

Dosen Pembingbing II

Edi Yunara, S.H, M.Hum
Nip : 196012221986031003

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2010

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur atas berkat dan anugerahNya, penulis dapat menyelesaikan
menyusun skripsi yang berjudul : “Analisis Yuridis Mengenai Dualisme Kewenangan
Mengadili Antara Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi ”.
Penyusunan skripsi ini dilakukan untuk memenuhi syarat-syarat untuk mencapai
gelar Sarjana Hukum Universitas Sumatera Utara Medan.
Untuk orang tua penulis yang sangat mendukung dan senantiasa member
masukan atas pengerjaan skripsi ini. Dan untuk seluruh keluarga yang turut membantu
atas penyelesaian skripsi ini, hanya beribu terima kasih yang dapat penulis ucapkan.
Dengan segala kerendahan hati, pada kesempatan ini penulis menyampaikan
rasa terima kasih dan penghargaan yang tulus atas bantuan dan dorongan dari berbagai
pihak, sehingga skripsi ini dapat diselesaikan. Rasa terima kasih dan penghargaan ini
penulis sampaikan kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Runtung SH. M.Hum, selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas
Sumatera Utara Medan;
2. Bapak Abul Khair, SH. M.Hum, selaku Ketua Departemen Hukum Pidana.
3. Bapak Prof. Dr. Syafruddin Kalo, SH.M.Hum selaku dosen pembimbing I penulis
yang telah menyediakan waktu dan pikirannya untuk membimbing dan
mengarahkan penulis sehingga skripsi ini dapat diselesaikan.
4. Bapak Edi Yunara, SH, M.Hum, selaku dosen pembimbing II penulis, yang
selama ini telah memberikan masukan-masukan yang sangat berarti bagi
penulisan skipsi ini dan juga telah meluangkan waktu sehingga skipsi ini dapat
terselesaikan dengan bapak, tampa bapak skipsi ini takkan dapat saya selesaikan.

Universitas Sumatera Utara

5. Ibu Nurmalawaty, SH. M.Hum, selaku dosen yang banyak membantu dan
memberikan saran dalam penyiapan judul diawal pembuatan skripsi ini;
6. Untuk orangtua yang paling aku cintai, untuk Bapak Serinta Singarimbun dan
buat Mama Purnama Waty Lubis, Sth, terima kasih untuk semua dukungan, doa
serta kasih sayang yang sudah diberikan kepada penulis, sehingga gelar sarjana ini
bisa didapatkan, ini persembahan buat kalian;
7. Untuk Adik-adik ku tercinta, Luther Prananta Singarimbun, yang telah
memberikan semangat dan menemani penulis selama pengerjaan skipsi
ini,makasih dek atas smua perhatiannya juga Tiyolita Frastika dan Putri
Fransionita trimakasih atas doa kalian semua kakak sayang kalian;
8. Untuk Nenekku dan Alm.Bolang dan Opungku, yang slama ini selalu mendukung
sepenuhati dan memberi semangat kepada penulis selama perkulianhan,trimakasih
buat kalian yang selalu menyayangiku.
9. Keluarga besar Singarimbun dan keluarga besar Lubis yang tak dapat penulis
tuliskan satu persatu, trimakasih atas doa dan dukungannya;
10. Untuk Jhon Timothy tow Ginting, yang telah memberikan Pengertian, Perhatian
dan kesabaran bagi penulis selama penulis mengerjakan skipsi ini.terimakasih atas
kepercayaanmu.
11. Untuk Astrya Umacy Saragih, Yuni Tabita Manurung, Tifanny Ruslan Hasibuan,
Vera Patricia Madanna Purba, Jenny Adelina Napitupulu, Rasmita, Vania,
Desi,yang telah banyak membantu penulis dalam perkuliahan dan dalam
penyelesaian skripsi ini serta tempat berbagi banyak cerita bagi penulis dan
dukungannya;

Universitas Sumatera Utara

12. Untuk Sahabatku Era Mutiara terimakasih atas dukungan dan doanya,aku sangat
merindukanmu.

Besar harapan penulis, semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat bagi yang
membacanya, meskipun penulis menyadari kekurangan dalam penyusunan skripsi ini.

Medan,

Maret 2010

Penulis

Perista Fransisxa.s
060200261

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAKSI
Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 012-016-019/PUU-IV/2006 tanggal
19 Desember 2006 atas judicial review Pasal 53 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002
tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi terkait dengan dasar hukum
Pengadilan Tipikor membawa polemik hukum yang saat ini menjadi perhatian. Putusan
MK menyatakan bahwa Pasal 53 Undang-undang Nomor 30 Tahun 2002 bertentangan
dengan UUN RI 1945 dan tetap memiliki kekuatan hukum mengikat sampai diadakan
perubahan paling lambat tiga tahun setelah sejak putusan ini diucapkan. Dalam prinsip
kepastian hukum, dinyatakan tidak boleh ada dualisme hukum. Sementara dalam konteks
sidang perkara korupsi yang berlaku pada saat ini, perkara korupsi dapat disidangkan di
dua pengadilan yang berbeda yaitu Pengadilan Umum dan Pengadilan Tipikor. Untuk
meniadakan dualisme yang selama ini terjadi dalam sidang perkara-perkara korupsi,
maka seharusnya hanya ada satu pengadilan. Dan jika Pengadilan Tipikor masih
dikehendaki eksistensinya, maka harus disertai dengan UU yang khusus mengaturnya.
Permasalahan yang akan dibahas dalam skripsi ini adalah apakah dasar hukum
terbentuknya Pengadilan Tipikor yang kewenangan mengadili tindak pidana korupsi
berada di Pengadilan Negeri serta tugas dan kewenangan masing-masing lembaga
peradilan tersebut dan penyelesaian hukum yang dilakukan oleh kedua badan peradilan
tersebut dalam penanganan tindak pidana korupsi juga mengenai mekanisme
pemeriksaan yang dilakukan dalam mengadili tindak pidana korupsi di Indonesia beserta
factor-faktor penyebab terjadinya dualisme kewenangan mengadili tersebut dan upaya
penanggulangannya.
Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini dilakukan dengan
penelitian yuridis normatif melalui studi kepustakaan dan untuk menunjang data yang
diperlukan, maka dilakukan kegiatan wawancara dengan responden. Kemudian dalam
pengambilan kesimpulannya dengan menggunakan tekhnis analisis subtantif yang
berpedoman pada cara berfikir induktif.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa salah satu
fenomena hukum di masyarakat yang mengemuka beberapa waktu belakangan ini adalah
wacana Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk melimpahkan seluruh kasus
korupsi yang saat ini ditangani Pengadilan Negeri kepada Pengadilan Tindak Pidana
Korupsi (Tipikor). Seperti diketahui bersama bahwa saat ini di Indonesia terdapat 2 (dua)
jalur mekanisme hukum dalam menangani kasus-kasus korupsi, yaitu melalui Peradilan
Umum biasa dan melalui Peradilan Khusus Tindak Pidana Korupsi yang
pembentukannya berdasarkan Undang-undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK). Pada dasarnya landasan dari keberadaan
Pengadilan Tipikor ini adalah karena praktek korupsi di Indonesia dianggap sudah
melembaga dan sistematis sehingga mengakibatkan Pembagian tugas dan kewenangan
yang diberikan oleh undang-undang kepada Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tipikor
ini sesungguhnya adalah semata-mata untuk melakukan pemberantasan korupsi di negeri
ini secara lebih efektif dan efisien, dimana pemberantasan korupsi harus dilakukan secara
simultan, baik oleh Pengadilan Negeri maupun Pengadilan Tipikor. Pasal 2 Undangundang Nomor 48 Tahun 2009 menentukan bahwa kekuasaan kehakiman di Indonesia
dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan di bawahnya dalam
lingkung peradilan umum.

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR...............................................................................................i
ABSTRAKSI.............................................................................................................iv
DAFTAR ISI..............................................................................................................v

BAB I : PENDAHULUAN
A.
B.
C.
D.
E.
1.
2.
3.
4.
5.
F.
G.

Latar Belakang Masalah………………………………………………….. 1
Perumusan Masalah………………………………………………………. 5
Tujuan dan Manfaat Penulisan……………………………………………. 5
Keaslian Penulisan………………………………………………………… 7
Tinjauan Kepustakaan…………………………………………………….. 7
Pengertian Tindak Pidana……………………………………………...
7
Pengertian korupsi……………………………………………………..
9
Pengertian Tindak Pidana Korupsi…………………………………….
10
Pengertian Pengadilan Negeri………………………………………….
18
Pengertian Pengadilan Tindak Pidana Korupsi………………………...
20
Metode Penelitian …………………………………………………………. 21
Sistematika Penulisan ……………………………………………………... 22

BAB II : PERANAN DAN KEWENANGAN PENGADILAN NEGERI DAN
PENGADILAN TINDAK PIDANA KORUPSI DALAM MENGADILI
TINDAK PIDANA KORUPSI
A. Latar Belakang dan Dasar Hukum Dijadikannya Pengadilan Negeri sebagai
Lembaga yang Berwenang Dalam Mengadili Tindak Pidana Korupsi................ 24
B. Tugas dan Kewenangan Pengadilan negri dalam Mengadili Tindak Pidana
Korupsi..................................................................................................................31
C. Latar Belakang dan Dasar Hukum Dijadikannya Pengadilan Tindak Pidana
Korupsi sebagai Lembaga yang Berwenang Dalam Mengadili Tindak Pidana
Korupsi............................................................................................................. 42
D. Tugas dan Kewenangan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi dalam Mengadili
Tindak Pidana Korupsi......................................................................................... 45

BAB III : MEKANISME PEMERIKSAAN YANG DILAKUKAN DALAM
MENGADILI TINDAK PIDANA KORUPSI DI INDONESIA
a. Proses Penyelidikan, Penyidikan dan Penuntutan dalam Mengadili Tindak
Pidana Korupsi...................................................................................................... 53

Universitas Sumatera Utara

b.
c.
d.
e.

Konektisitas dan pemeriksaan Sidang Pengadilan...........................................60
Tindakan – tindakan selama Proses Perkara ...................................................67
Sidang In Absensia...........................................................................................75
Pembuktian Terbalik........................................................................................78

BAB IV : FAKTOR-FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA DUALISME
KEWENANGAN MENGADILI ANTARA PENGADILAN NEGERI DAN
PENGADILAN TINDAK PIDANA
A.
B.
1.
2.
3.

Faktor Penyebab Terjadinya Dualisme Kewenangan Mengadili……….……80
Upaya Penanggulangannya..............................................................................82
Perbaikan Terhadap Undang Undang Tindak Pidana Korupsi...................... 82
Pembentukan Badan Anti Korupsi.................................................................83
Kasus Korupsi Besar Hendaknya Diserahkan Kepada Pengadilan
Tindak Pidana Korupsi............................................................................... 89

BAB : KESIMPULAN DAN SARAN
A.
B.

Kesimpulan……………………………………………………………………91
Saran…………………………………………………………………………..96

DAFTAR PUSTAKA

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAKSI
Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi (MK) Nomor 012-016-019/PUU-IV/2006 tanggal
19 Desember 2006 atas judicial review Pasal 53 Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2002
tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi terkait dengan dasar hukum
Pengadilan Tipikor membawa polemik hukum yang saat ini menjadi perhatian. Putusan
MK menyatakan bahwa Pasal 53 Undang-undang Nomor 30 Tahun 2002 bertentangan
dengan UUN RI 1945 dan tetap memiliki kekuatan hukum mengikat sampai diadakan
perubahan paling lambat tiga tahun setelah sejak putusan ini diucapkan. Dalam prinsip
kepastian hukum, dinyatakan tidak boleh ada dualisme hukum. Sementara dalam konteks
sidang perkara korupsi yang berlaku pada saat ini, perkara korupsi dapat disidangkan di
dua pengadilan yang berbeda yaitu Pengadilan Umum dan Pengadilan Tipikor. Untuk
meniadakan dualisme yang selama ini terjadi dalam sidang perkara-perkara korupsi,
maka seharusnya hanya ada satu pengadilan. Dan jika Pengadilan Tipikor masih
dikehendaki eksistensinya, maka harus disertai dengan UU yang khusus mengaturnya.
Permasalahan yang akan dibahas dalam skripsi ini adalah apakah dasar hukum
terbentuknya Pengadilan Tipikor yang kewenangan mengadili tindak pidana korupsi
berada di Pengadilan Negeri serta tugas dan kewenangan masing-masing lembaga
peradilan tersebut dan penyelesaian hukum yang dilakukan oleh kedua badan peradilan
tersebut dalam penanganan tindak pidana korupsi juga mengenai mekanisme
pemeriksaan yang dilakukan dalam mengadili tindak pidana korupsi di Indonesia beserta
factor-faktor penyebab terjadinya dualisme kewenangan mengadili tersebut dan upaya
penanggulangannya.
Metode penelitian yang digunakan dalam penulisan skripsi ini dilakukan dengan
penelitian yuridis normatif melalui studi kepustakaan dan untuk menunjang data yang
diperlukan, maka dilakukan kegiatan wawancara dengan responden. Kemudian dalam
pengambilan kesimpulannya dengan menggunakan tekhnis analisis subtantif yang
berpedoman pada cara berfikir induktif.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa salah satu
fenomena hukum di masyarakat yang mengemuka beberapa waktu belakangan ini adalah
wacana Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk melimpahkan seluruh kasus
korupsi yang saat ini ditangani Pengadilan Negeri kepada Pengadilan Tindak Pidana
Korupsi (Tipikor). Seperti diketahui bersama bahwa saat ini di Indonesia terdapat 2 (dua)
jalur mekanisme hukum dalam menangani kasus-kasus korupsi, yaitu melalui Peradilan
Umum biasa dan melalui Peradilan Khusus Tindak Pidana Korupsi yang
pembentukannya berdasarkan Undang-undang Nomor 30 Tahun 2002 tentang Komisi
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK). Pada dasarnya landasan dari keberadaan
Pengadilan Tipikor ini adalah karena praktek korupsi di Indonesia dianggap sudah
melembaga dan sistematis sehingga mengakibatkan Pembagian tugas dan kewenangan
yang diberikan oleh undang-undang kepada Pengadilan Negeri dan Pengadilan Tipikor
ini sesungguhnya adalah semata-mata untuk melakukan pemberantasan korupsi di negeri
ini secara lebih efektif dan efisien, dimana pemberantasan korupsi harus dilakukan secara
simultan, baik oleh Pengadilan Negeri maupun Pengadilan Tipikor. Pasal 2 Undangundang Nomor 48 Tahun 2009 menentukan bahwa kekuasaan kehakiman di Indonesia
dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan di bawahnya dalam
lingkung peradilan umum.

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang
Salah satu fenomena hukum di masyarakat yang mengemuka beberapa waktu
belakangan ini adalah wacana Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) untuk
melimpahkan seluruh kasus korupsi yang saat ini ditangani Pengadilan Negeri kepada
Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor). Seperti diketahui bersama bahwa saat ini
di Indonesia terdapat 2 (dua) jalur mekanisme hukum dalam menangani kasus-kasus
korupsi, yaitu melalui Peradilan Umum biasa dan melalui Peradilan Khusus Tindak
Pidana Korupsi yang pembentukannya berdasarkan Undang-Undang Nomor 30 Tahun
2002 Tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UUKPK). Pada dasarnya
landasan dari keberadaan Pengadilan Tipikor ini adalah karena praktek korupsi di
Indonesia dianggap sudah begitu melembaga dan sistematis sehingga mengakibatkan
kerugian keuangan negara yang demikian besar, disamping hilangnya kepercayaan
masyarakat terhadap komitmen para Aparat Penegak Hukum, baik Polisi, Jaksa dan
Hakim dalam memberantas tindak pidana korupsi.

Sehingga dianggap perlu untuk

membentuk suatu pengadilan yang secara khusus menangani perkara-perkara korupsi
dengan segala ciri dan pengaturannya yang khas, antara lain mengenai struktur
organisasi, personil dan hukum acaranya. 1

1

Ronald Lumbuun, Suatu Analisa Yuridis Terhadap Wacana “Pengadilan Korupsi Satu Atap”

( Jakarta : Djambatan, 2006) Hal. 41

Universitas Sumatera Utara

Tidak dapat dipungkiri bahwa lemahnya kinerja dari Pengadilan Umum dalam hal
ini Pengadilan Negeri sangat mempengaruhi berkembangnya kasus korupsi dewasa ini,
dapat kita lihat bahwa selama beberapa tahun belakangan ini dalam penanganan perkara
korupsi, masih sangat mengecewakan. Baik Mahkamah Agung, maupun Pengadilan
Umum dibawahnya Pengadilan Tinggi dan Pengadilan Umum. Berdasarkan pemantauan
dari Indonesia Corruption Watch selama tahun 2009 terdapat 199 perkara korupsi dengan
378 orang terdakwa yang diperiksa dan diputus oleh pengadilan diseluruh Indonesia,
terdapat bahwa 224 terdakwa yang mendapat putusan atau divonis bebas oleh pengadilan
( 59,26 % ) dan hanya 154 terdakwa ( 40,74 % ) yang akhirnya divonis bersalah. 2 Hal
tersebut tentu tidak akan memberikan efek jera bagi para pelaku korupsi tersebut, karena
vonis hukuman yang diberikan tidak sebanding dengan perbuatan yang telah mereka
perbuat.
Ada beberapa hal yang perlu dicermati dari sejumlah perkara yang diadili oleh
pengadilan umum selama tahun 2009 ini, yaitu :
1. jumlah vonis bebas atau lepas bagi terdakwa masih dominan dan mengalami kenaikan
dari tahun-tahun sebelumnya dimana berdasarkan pemantauan Indonesia Corruption
Watch jumlah terdakwa yang mendapat vonis bebas/lepas pada tahun 2009 adalah
224 terdakwa hal ini menambah jumlah terdakwa yang dibebaskan atau dilepaskan
oleh pengadilan umum sejak tahun 2005.
2. adanya kebiasaan baru dimana terdakwa divonis ringan sesuai batas minimal
penjatuhan pidana yakni 1 tahun bahkan ada yang dibawah 1 tahun sedangkan yang

2

KPK Pos, Putusan Korupsi Coreng Wajah Pengadilan Umum, Edisi 85 ( 15-21 Februari
2010 ), Hal. 5

Universitas Sumatera Utara

ditentukan oleh Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo Undang-Undang Nomor
20 Tahun 2001 disebutkan bagi pelaku korupsi yang terbukti bersalah, maka dijatuhi
pidana paling sedikit 1 tahun penjara dan paling banyak 20 tahun penjara.
3. fenomena hukuman percobaan dalam perkara korupsi semakin marak pula terjadi,
hingga akhir 2009 ditemukan adanya 16 koruptor yang divonis dengan hukuman
percobaan. Umumnya mereka dijatuhi vonis 1 tahun penjara dengan masa percobaan
2 tahun, dengan kondisi ini maka dapat dipastikan terdakwa tidak perlu menjalani
hukuman meskipun telah dinyatakan bersalah. 3

Terdapatnya disparitas Putusan Hakim dalam perkara korupsi tersebut
menimbulkan suatu wacana untuk memperluas kewenangan Pengadilan Tipikor – yang
berdasarkan pasal 53 UU KPK secara khusus hanya berwenang untuk memeriksa dan
memutus tindak pidana korupsi yang penuntutannya diajukan oleh KPK dan menyangkut
kerugian negara paling sedikit Rp. 1.000.000.000,- (satu milyar rupiah) sebagaimana
diatur dalam pasal 11 huruf c UU KPK – sehingga juga mengadili seluruh perkara
korupsi yang diajukan oleh Kepolisian dan Kejaksaan. 4
Pembagian tugas dan kewenangan yang diberikan oleh undang-undang kepada
Pengadilan Tipikor dan Pengadilan Negeri ini sesungguhnya adalah semata-mata untuk
melakukan pemberantasan korupsi di negeri ini secara lebih efektif dan efesien, dimana
pemberantasan korupsi harus dilakukan secara simultan, baik oleh Pengadilan Negeri

3

Ibid.

4

http://khairuddinhsb.blog.plasa.com/2008/07/21/yudikatif-dan-korupsi/ diakses tanggal 5 Maret
2010 jam 15.10

Universitas Sumatera Utara

maupun Pengadilan Tipikor. Pasal 2 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 Tentang
Kekuasaan Kehakiman menentukan bahwa Kekuasaan Kehakiman di Indonesia
dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan badan peradilan yang berada di bawahnya
dalam lingkungan Peradilan Umum, Peradilan Agama, Peradilan Militer, Peradilan Tata
Usaha Negara, dan oleh sebuah Mahkamah Konsitusi. Kedudukan Pengadilan Tipikor
itu sendiri telah secara jelas ditentukan melalui pasal 54 ayat (1) UU KPK berada di
dalam lingkungan Peradilan Umum yang mana di dalamnya dapat diadakan
pengkhususan melalui suatu Undang-Undang, diantaranya adalah Pengadilan Tipikor.
Adapun yang dimaksud dengan ”pengkhususan” disini adalah suatu diferensiasi dan
spesialisasi yang terbatas pada Struktur Organisasi, Personil dan Hukum Acara guna
tercapainya pemberantasan tindak pidana korupsi secara lebih efektif dan efisien, namun
bukan terhadap “keberadaan” dari Pengadilan Tipikor yang telah secara jelas disebutkan
pada pasal 54 ayat (1) UU KPK tersebut berada di dalam lingkungan Peradilan Umum.
Dengan demikian, sesungguhnya yang sangat dibutuhkan oleh Bangsa kita
dewasa ini guna dapat menyelesaikan perkara korupsi secara adil dan benar menurut
hukum bukanlah dengan hanya sekedar mempersoalkan tentang “keberadaan” dari
Pengadilan Korupsi, melainkan lebih kepada adanya suatu komitmen kolektif dari para
Aparat Penegak Hukum, termasuk para Hakim di setiap jalur dan tingkatan Pengadilan,
untuk menjadikan korupsi sebagai musuh bersama. Disamping tentunya diperlukan pula
ketelitian dan kecermatan Jaksa Penuntut Umum dalam mengkonstruksi suatu dakwaan
yang berkualitas sehingga
mampu membuktikan adanya unsur kesalahan dari Terdakwa berkaitan dengan perbuatan
yang didakwakan kepadanya.

Universitas Sumatera Utara

Semoga dengan terpenuhinya kedua hal tersebut diatas, pemberantasan segala
bentuk tindak pidana korupsi di negeri ini yang memang telah begitu banyak
menimbulkan kerugian bagi keuangan dan perekonomian negara serta menghambat
pembangunan nasional dapat segera terwujud.

B. Perumusan Masalah

1. Apa Saja Peranan Dan Kewenangan Dari Pengadilan Negri dan Pengadilan
Tindak Pidana Korupsi Dalam Mengadili Tindak Pidana Korupsi ?

2. Bagaimana Mekanisme yang Dilakukan dalam Mengadili Tindak Pidana Korupsi
di Indonesia?

3. Apakah Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Dualisme Kewenangan Mengadili
Antara Pengadilan Negeri Dan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi

dan

Bagaimana Upaya Penanggulangannya?

C. Tujuan Dan Mamfaat Penulisan
1. Tujuan Penulisan
Tujuan yang akan tercapai dari penulisan skipsi ini adalah :
a) Untuk mengetahui sejauh mana peranan dan kewenangan dari pengadilan negeri
dalam menangani kasus korupsi
b) Untuk mengetahui apa saja peranan dan kewenangan dari pengadilan Tindak
Pidana Korupsi dalam menangani kasus korupsi

Universitas Sumatera Utara

c) Untuk mengetahui Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Dualisme Kewenangan
Mengadili Antara Pengadilan Negeri Dan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi dan
Bagaimana Upaya Penanggulangannya

2. Manfaat Penulisan
a) Manfaat Teoritis
Untuk memberikan informasi,kontribusi,pemikiran dan menambah kasanah dalam
bidang pengetahuan Ilmu Hukum Pidana pada umumnya dan tentang Tindak
Pidana

Korupsi pada

khususnya.sehingga

diharapkan

skipsi

ini

dapat

memperkaya perbendaharaan dalam koleksi karya ilmiah yang berkaitan dengan
hal tersebut.
b) Manfaat Praktis
1) Untuk memberikan kontribusi dalam sosialisasi tentang Tindak Pidana
Korupsi kepada masyarakat yang diharapkan dapat meningkatkan
kesadaran akan peranan nya dalam mencegah dan memberantas Tindak
pidana Korupsi di Indonesia.
2) Memberikan kontribusi pemikiran bagi aparat penegak hukum pada umum
nya dan khususnya bagi Komisi Pemberantasan Korupsi dan pihak
pengadilan negeri untuk lebih meningkatkan profesionalisme dan
kinerjanya dalam menangani kasus korupsi demi upaya penegakan hukum
yang baik.
3) Untuk membantu memberikan pemahaman tentang Efektifitas berbagai
perundang-undangan yang mengatur tentang kewenangan mengadili

Universitas Sumatera Utara

dalam kasus Tindak Pidana Korupsi agar lembaga-lembaga yang telah
bertugas dibidangnya masing-masing lebih mampu memaksimalkan
kinerjanya untuk membantu mengurangi timbulnya kasus korupsi.

D. Keaslian Penulisan
Skipsi dengan judul ”Analisis Yuridis Mengenai Dualisme Kewenangan
Mengadili Tindak Pidana Korupsi Antara Pengadilan Negeri Dan Pengadilan Tindak
Pidana Korupsi”belum pernah ditulis oleh siapapun sebelumnya di Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara.skipsi tentang korupsi memang sudah ada sebelumnya
tetapi dapat dipastikan bahwa sebenarnya substansi pembahasannya berbeda.ide dan
pemikiran untuk menulis skipsi ini adalah benar-benar karya tulis penulis sendiri.oleh
karena itu skipsi ini adalah asli merupakan karya ilmiah milik penulis dan dapat
dipertanggungjawabkan baik secara moral maupun akademik.

E. Tinjauan Kepustakaan
1. Pengertian Tindak Pidana

Tindak Pidana adalah setiap perbuatan yang dapat dipidana yang diatur dalam
ketentuan menurut Undang- undang ( Pasal 1KUHP ) . Tindak pidana atau strafbaar feit
merupakan suatu perbuatan yang mengandung unsur perbuatan atau tindakan yang dapat
dipidanakan dan unsur pertanggungjawaban pidana kepada pelakunya. Sehingga dalam
syarat hukuman pidana terhadap seseorang secara ringkas dapat dikatakan bahwa tidak

Universitas Sumatera Utara

akan ada hukuman pidana terhadap seseorang tanpa adanya hal-hal yang secara jelas
dapat dianggap memenuhi syarat atas kedua unsur itu. 5

Tindak pidana hanyalah menunjuk kepada dilarang dan diancamnya perbuatan itu
dengan suatu pidana, kemudian apakah orang yang melakukan perbuatan itu juga dijatuhi
pidana sebagaimana telah diancamkan akan sangat tergantung pada soal apakah dalam
melakukan perbuatannya itu si pelaku juga mempunyai kesalahan. Sedangkan sebagai
dasar pertanggungjawaban adalah kesalahan yang terdapat pada jiwa pelaku dalam
hubungannya dengan kelakuannya yang dapat dipidana serta berdasarkan kejiwaannya itu
pelaku dapat dicela karena kelakuanya itu.

Dalam kebanyakan rumusan tindak pidana, unsur kesengajaan atau yang disebut
dengan opzet merupakan salah satu unsur yang terpenting. Dalam kaitannya dengan
unsur kesengajaan ini, maka apabila didalam suatu rumusan tindak pidana terdapat
perbuatan dengan sengaja atau biasa disebut dengan opzettelijk, maka unsur dengan
sengaja ini menguasai atau meliputi semua unsur lain yang ditempatkan dibelakangnya
dan harus dibuktikan.

Tinjauan awal yang dilakukan adalah menentukan apakah suatu perbuatan seseorang
itu melanggar hukum atau tidak sehingga dapat dikualifikasikan sebagai tindak pidana
atau tidak. Dalam hal ini harus dipastikan terlebih dahulu adanya unsur obyektif dari
suatu tindak pidana. Jika tidak diketemukan unsur melawan hukum maka tidak lagi
diperlukan pembuktian unsur kesalahannya. Tetapi jika terpenuhi unsur perbuatan
melanggar hukumnya, selanjutnya dilihat apakah ada kesalahan atau tidak serta sejauh
5

Evi Hartanti, Tindak Pidana Korupsi, ( Jakarta : Sinar Grafika, 2006) Hal. 5

Universitas Sumatera Utara

mana tingkat kesalahan yang dilakukan pelaku sebagai dasar untuk menyatakan dapat
tidaknya seseorang memikul pertanggungjawaban pidana atas perbuatannya itu. 6

2. Pegertian Korupsi

Istilah

korupsi

berasal

dari

bahasa

latin

yaitu

corruptio

yang

artinya

penyuapan,corruptore yaitu merusak 7.gejala dimana para pejabat,badan-badan negara
menyalahgunakan

wewenang

dengan

terjadinya

penyuapan,pemalsuan

serta

ketidakberesan lainnya.adapun arti harfiah dari korupsi dapat berupa :
a) Kejahatan,kebusukan,dapat disuap,tidak bermoral,kebejatan dan ketidak jujuran 8.
b) Perbuatan

buruk

seperti penggelapan

uang,penerimaan

uang

sogok,dan

sebagainya 9.
c) Korup (busuk;suka menerima uang suap/sogok;memakai kekuasaan untuk
kepentingan sendiri dan sebagainya.
d) Korupsi ( perbuatan busuk seperti penggelapan uang,penerimaan uang sogok dan
sebagainya.
e) Koruptor (orang yang korupsi) 10

6

Ibid, hal 6

7

Ibid, hal 8

8

S.Wojowasito WJS Poerwadarminta,Kamus Lengkap Inggris Indonesia,Indonesia
Inggris, ( Bandung : Hasta.,1976 ) Hal. 156
9

Ibid

10

Muhammad Ali,Kamus Lengkap Bahasa Indonesia Modern, (Jakarta : Pustaka
Amani.,1993)1993 Hal. 135

Universitas Sumatera Utara

Secara harfiah korupsi merupakan sesuatu yang busuk, jahat dan merusak.Jika
membicarakan korupsi maka akan menemukan suatu kenyataan karena korupsi
menyangkut segi-segi moral, sifat dan keadaan yang busuk,jabatan dalam instansi atau
aparatur pemerintah, penyelewengan kekuasaan dalam jabatan dalam pemberian, faktor
ekonomi dan politik, serta penempatan keluarga

atau golongan kedalam kedinasan

dibawah kekuasaan jabatannya.Dengan demikian maka dapat kita simpulkan bahwa
sesungguhnya istilah korupsi memiliki arti yang sangat luas yakni :
a) Penyelewengan atau penggelapan (uang negara atau perusahaan )untuk
kepentingan diri sendiri
b) Busuk, rusak, suka memakai uang atau barang yang dipercayakan kepadanya 11
Sedangkan menurut Subekti, yang dimaksud dengan korupsi adalah perbuatan
curang,tindak pidana yang merugikan keuangan negara 12.

3. Pegertian Tindak Pidana Korupsi

Tindak pidana korupsi adalah jenis kejahatan yang dikategorikan sebagai salah
satu kejahatan kerah putih( white collar crime), pada dasarnya jenis kejahatan ini adalah
kejahatan yang dilakukan oleh seseorang yang terhormat, mempunyai status sosial tinggi
dan dilakukan dalam rangka pekerjaannya, umumnya merupakan pelanggaran
kepercayaan.pengertian lain dari white collar crime antara lain sebagai berikut :
1. kejahatan yang dilakukan oleh orang yang duduk dibelakang meja.
2. kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang berpangkat

11

Evi Hartanti, Op.Cit, Hal. 9

12

Subekti, Kamus Hukum, (Jakarta : Pradnya Paramita.,1973),Hal. 97

Universitas Sumatera Utara

3. kejahatan yang dilakukan oleh orang-orang yang berilmu pengetahuan.
4. ditafsirkan sebagai lawan kata ”crime using force” atau ”street crime”(kejahatan
biasa).
5. kejahatan yang dilakukan dengan teknologi canggih
6. kejahatan yang non konvensional;dilakukan oleh orang yang mempunyai keahlian
atau mempunyai pengetahuan teknologi canggih.
7. kejahatan terselubung.

Akibatnya dalam pengungkapan kasus kejahatan kerah putih, aparat penegak
hukum harus bekerja ekstra keras dibandingkan dengan pengungkapan kejahatan
konvensional.Aparat penegak hukum seolah-olah terlebih dahulu beradu kepintaran
dan kecerdikan dengan pelaku kejahatan 13.
Jika kita berbicara mengenai Tindak pidana korupsi, sudah barang tentu kita harus
merujuk kepada undang-undang untuk mengetahui apa yang dimaksud atau yang
digolongkan dalam tindak pidana itu.karena pada dasarnya setiap perbuatan baru
dapat digolongkan sebagai tindak pidana jika sudah ada undang-undang yang
mengaturnya terlebih dahulu. Dengan demikian undang-undang tersebut haruslah
merumuskan apa yang dimaksud dengan tindak pidana yang bersangkutan.jika ada
devenisi yang tegas dalam undang-undang itu maka kita harus melihat rumusannya
dari unsur-unsur yang disebutkan dalam redaksi pasal yang mengatur mengenai suatu
tindak pidana.
13

Romli atmasasmita, Analisis dan Evaluasi Hukum tentang Penyelidikan dan
Penyidikan Tindak Pidana Korupsi,Badan pembinaan hukum nasional Departemen Hukum dan
HAM,2007

Universitas Sumatera Utara

Istilah korupsi yang telah diterima dalam pembendaharaan kata bahasa Indonesia
itu, disimpulkan oleh Poerwadarminta dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia :
”korupsi adalah perbuatan yang buruk seperti penggelapan uang, penerimaan uang
sogok dan sebagainya” 14

Tindak pidana korupsi itu sendiri terbagi atas beberapa bagian yaitu :
A. Tindak Pidana Korupsi diLuar KUHP
Terbagi atas beberapa sub bagian :
a.

Tindak Pidana Korupsi yang bersifat Umum
Yang dimaksud dengan bersifat umum dalam hal ini adalah tindak pidana
korupsi yang dilakukan oleh orang yang mempunyai jabatan atau kekuasaan
atau aparat pemerintah/negara.artinya dapat dilakukan siapa saja dari
masyarakat umum. Hal ini diatur dalam pasal 2 Undang-undang Nomor 31
Tahun 1999, yang berbunyi sebagai berikut :
1. Setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan
memperkaya diri sendiri atau orang lain atau korporasi yang
dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara
dipidana penjara paling singkat 4 (empat ) tahun dan paling lama 20
(dua puluh ) tahun dan denda paling sedikit Rp.200.000.000,00 ( dua
ratus juta rupiah ) dan paling banyak Rp.1.000.000.000.,00 ( satu
miliar rupiah ).
2. Dalam hal Tindak pidana Korupsi sebagaimana dimaksud dalam
Ayat (1) dilakukan dalam keadaan tertentu, pidana mati diajatuhkan.

b.

14

Penyalahgunaan Kewenangan/Kekuasaan

S.Wojowasito WJS Poerwadarminta, Op. Cit, Hal. 167

Universitas Sumatera Utara

Hal ini diatur pasal 3 Undang-undang No.31 Tahun 1999,yang bunyinya
sebagai berikut :
” setiap orang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain
atau korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana
yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan
keuangan negara atau perekonomian negara, dipidana penjara paling sedikit
1 ( satu ) tahun dan paling lama 20 ( dua puluh )tahun dan atau denda
paling sedikit Rp.50.000.000,00
(lima puluh juta rupiah ) dan
paling banyak Rp.1.000.000.000,00
( satu miliar rupiah).
Berdasarkan rumusan pasal 3 di atas maka dapat diketahui bahwa tindak pidana
korupsi penyalahgunaan kewenangan/kekuasaan adalah :
a) Dengan maksud :
b) Menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi;
c) Menyalahgunakan kewenangan atau kesempatan atau sarana yang ada
padanya karena jabatan atau kedudukan;
d) Dapat merugikan keuangan/perekonomian negara.

c. Memberi Hadiah dengan Mengingat Kekuasaan
Hal ini diatur dalam pasal 13 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999,yang
bunyinya sebagai berikut :
”setiap orang yang memberi hadiah atau janji kepada pegawai negeri dengan
mengingat kekuasaa atau wewenang yang melekat pada jabatan atau
kedudukannya, atau oleh pemberi hadiah atau janji dianggap melekat pada
jabatan atau kedudukan tersebut, dipidana dengan pidana penjara paling lama
3 ( tiga ) tahun dan denda paling banyak Rp.150.000.000,00
( seratus lima puluh juta rupiah).
Pada dasarnya ” hadiah ” tidak mengharapkan ”balasan ” dalam hal ini
karena diberi dengan mengingat ” jabatan ” atau kedudukan ” berarti
mengaharapkan sesuatu ”imbalan ”.dengan demikian istilah ”hadiah” tidak

Universitas Sumatera Utara

tepat dalam pasal ini yang tepat adalah ” memberikan sesuatu ” yang menurut
Hoge Raad pada tanggal 26 April 1916 diartikan :
”meliputi setiap penyerahan barang sesuatu yang untuk orang lain
mempunyai nilai dengan maksud sebagaimana dimuat dalam pasal
ini. 15

d. Percobaan/Pembantuan/Pemufakatan Jahat Melakukan Tindak Pidana
Korupsi
Hal ini diatur dalam pasal 15 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 yang
bunyinya sebagai berikut :
”setiap orang yang melakukan percobaan, pembantuan atau pemukafakatan
jahat untuk melakukan tindak pidana korupsi dipidana dengan pidana yang
sama sebagaimana dimaksud dengan Pasal 2, Pasal 3,Pasal 5 sampai Pasal 14”
Penjelasan resmi atas Pasal 15 berbunyi sebagai berikut :
”ketentuan ini merupakan aturan khusus karena ancaman pidana pada
percobaan dan pembantuan tindak pidana pada umumnya dikurangi 1/3 ( satu
pertiga ) dari ancaman pidananya”.
”Percobaan” melakukan tindak pidana diatur oleh Pasal 35 KUHP, sedang
”pembantuan” diatur dalam Pasal 56 KUHP.istilah ”pemukafakatan”
dipergunakan juga dalam Pasal 110 KUHP. Penjelasan istilah kata
”pemukafakatan” ada dimuat pada Rencana Undang-undang (RUU) KUHP1993 penjelasan Pasal 171 ( 1-8 ),antara lain sebagai berikut :
”........Pemukafakatan dapat dilihat dalam pasal 22 yaitu apabila ada dua
orang atau lebih bersepakat untuk melakukan tindak pidana.....”

15

Soenarto Soerodibroto, .KUHP dilengkapi Arrest-arrest Hoge Raad

Universitas Sumatera Utara

Secara umum ” pemukafakatan” dalam ilmu hukum pidana,masih
termasuk ”perbuatan persiapan” dan belum merupakan perbuatan pidana
kecuali terhadap beberapa tindak pidana sebagaimana dimaksud Pasal 22
RUU-KUHP-1993,yang berbunyi sebagai berikut :
” pemukafakatan jahat ( samenspanning,conspiracy)dapat dipidana
meskipun perbuatan yang dilarang belum terlaksana sama sekali, namun niat
jahat dari dua orang atau lebih itu, yang merupakan pemukafakatan jahat yang
dipidana dibatasi hanya pada beberapa tindak pidana yang sangat serius dan
dinyatakan dalam perumusan tindak pidana”.
e.

Sengaja Mencegah/Merintangi/Menggagalkan Penanganan Tindak
Pidana Korupsi
Hal ini diatur dalam Pasal 21 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 yang
bunyinya sebagai berikut :
”setiap orang yang dengan sengaja mencegah, merintangi atau
menggagalkan
secara
langsung
atau
tidak
langsung
penyidikan,penuntutan,dan pemeriksaan di sidang pengadilan terhadap
tersangka atau terdakwa ataupun para saksi dalam perkara korupsi, dipidana
dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) tahun dan paling lama 12 ( dua
belas ) tahun dan denda paling sedikit Rp.150.000.000,00 ( seratus lima
puluh juta rupiah ) dan paling banyak Rp.600.000.000,00 ( enam ratus juta
rupiah)”
Yang dihalangi/dirintangi/digagalkan tersebut adalah tersangka/terdakwa/s
aksi dalam perkara korupsi. Hal ini berarti, jika tidak dalam perkara korupsi
maka pasal 21 tidak dapat diterapkan atau jika masih penanganan perkara
korupsi masih dalam tahap penyidikan.

f.

Dengan Sengaja tidak Memberi Keterangan yang Benar

Universitas Sumatera Utara

Hal ini diatur dalam Pasal 22 yang berbunyi sebagai berikut :
”sebagai orang sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28, Pasal 29,Pasal 35
atau Pasal 36 yang dengan sengaja tidak memberi keterangan atau
memberi keterangan yang tidak benar, dipidana dengan pidana penjara
paling singkat 3 ( tiga ) tahun dan paling lama 12 (dua belas ) tahun dan
atau denda paling sedikit Rp.150.000.000,00 ( seratus lima puluh juta
rupiah ) dan paling banyak Rp.600.000.000,00 ( enam ratus juta rupiah)”.
Penjelasan

resmi

pasal

22

tersebut

berbunyi

”cukup

jelas”

berdasarkanrumusan Pasal 22, maka unsur-unsur nya adalah :
a. setiap orang yang disebut Pasal 28, 29, 35, dan 56;
b. dengan sengaja;
c. tidak memberi keterangan atau memberi keterangan yang
tidak benar.
g.

Menyebut Nama atau Alamat Pelapor
Hal ini diatur dalam Pasal 24,yang berbunyi sebagai berikut :
” saksi yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 31, dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 ( tiga ) tahun dan
atau denda paling banyak Rp.150.000.000,00 ( seratus lima puluh juta
rupiah )”. Penjelasan resmi Pasal 24 berbunyi cukup jelas.

B. Tindak Pidana Korupsi yang Berasal dari KUHP
Tindak pidana korupsi berasal dari KUHP, dapat diketahui antara lain dari :
a) Pasal

1

butir

2

Undang-undang

Nomor

20

tahun

2001

yang

rumusannya,antaralain sebagai berikut :
” .......dengan tidak mengacu pasal-pasal.....tetapi langsung menyebutkan unsurunsur yang terdapat dalam masing-masing pasal Kitab Undang-undang Hukum
Pidana yang diacu.....”16
16

Indonesia, Undang-Undang Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi), UU No.
20 Tahun 2001, Pasal 1 Butir 2.

Universitas Sumatera Utara

b) Pasal 43B Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 yang antara lain berbunyi
sebagai berikut :
” Pada saat mulai berlakunya undang-undang ini, Pasal 209, 210, 387, 388, 415,
416, 417,418, 420, 423, 425,dan 435 Kitab
Undang-undang Hukum
Pidana......dinyatakan tidak berlaku ” 17
Berdasarkan rumusan diatas,maka Undang-undang nomor 20 Tahun 2001 jelasjelas mengambil alih 13 (tigabelas ) pasal Kitab Undang-undang Hukum Pidana
menjadi Tindak Pidana Korupsi.

Pengertian

terakhir

adalah

tindak

pidana

korupsi

dimana

disampaikan bahwa tindak pidana korupsi adalah :

1. setiap orang yang secara melawan hukum melakukan perbuatan memperkaya
diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi yang dapat merugikan
keuangan Negara atau perekonomian negara.
2. Setiap orang yang dengan tujuan menguntungkan diri sendiri atau orang lain
atau suatu korporasi, menyalahgunakan kewenangan, kesempatan atau sarana
yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan yang dapat merugikan
keuangan negara atau perekonomian negara.

Pengertian korupsi sebenarnya telah dimuat secara tegas di dalam UndangUndang Nomor 3 Tahun 1971 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Sebagian
besar pengertian korupsi di dalam undang-undang tersebut dirujuk dari Kitab UndangUndang Hukum Pidana (KUHP) yang lahir sebelum negara ini merdeka. Namun, sampai
17

Ibid, Pasal 43B

Universitas Sumatera Utara

dengan

saat

ini

pemahaman

masyarakat

terhadap

pengertian korupsi masih sangat kurang.
Menjadi lebih memahami pengertian korupsi juga bukan sesuatu hal yang mudah.
Berdasarkan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 20
tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Korupsi, kebiasaan berperilaku koruptif yang
selama ini dianggap sebagai hal yang wajar dan lumrah dapat dinyatakan sebagai tindak
pidana korupsi.

4. Pengertian Pengadilan Negeri
Istilah Peradilan dan Pengadilan adalah memiliki makna dan pengertian
yang berbeda, perbedaannya adalah :
1. Peradilan dalam istilah inggris disebut judiciary dan rechspraak dalam bahasa
Belanda

yang

meksudnya

adalah

segala

sesuatu

yang

berhubungan

dengan tugas Negara dalam menegakkan hukum dan keadilan.
2. Pengadilan dalam istilah Inggris disebut court dan rechtbank dalam bahasa
Belanda yang dimaksud adalah badan yang melakukan peradilan berupa
memeriksa, mengadili, dan memutus perkara.
Kata Pengadilan dan Peradilan memiliki kata dasar yang sama
yakni “adil” yang memiliki pengertian:
a. Proses mengadili.
b. Upaya untuk mencari keadilan.
c. Penyelesaian sengketa hukum di hadapan badan peradilan.
d. Berdasar hukum yang berlaku.

Universitas Sumatera Utara

Pembaharuan Lembaga Peradilan Reformasi hukum di bidang lembaga hukum
menyeruakdalam penerapan system peradilan satu atap di Indonesia yang melahirkan
amandemen UUD 1945 yakni pasal 24 ayat (2) menyebutkan bahwa kekuasaan
kehakiman dilakukan dilakukan oleh sebuah Mahkamah Agung dan peradilan yang
berada di bawahnya dalam lingkungan peradilan umum, lingkungan peradilan agama,
lingkungan peradilan militer, lingkungan peradilan tata usaha Negara, dan oleh
sebuah Mahkamah Konstitusi. Kemudian UU No. 48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan
Kehakiman Pasal 25 ayat (1) menyebutkan bahwa badan peradilan yang berada di
bawah Mahkamah Agung meliputi badan peradilan dalam lingkungan peradilan
umum,

peradilan

agama,

peradilan

militer,

dan peradilan tata usaha Negara.

Ke-empat lembaga peradilan tersebut berpuncak di Mahkamah Agung, baik dalam
hal teknis yudisialnya maupun non teknis yudisialnya. Adapun strata ke-empat
lembaga tersebut adalah: 18
a. Peradilan umum sebagaimana dimaksud dalam ayat

(1) berwenang memeriksa,

mengadili, dan memutus perkara pidana dan perdata sesuai dengan ketentuan
peraturan perundang-undangan.
b. Peradilan agama sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berwenang memeriksa,
mengadili, memutus dan menyelesaikan perkara antara orang-orang yang beragama
Islam sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

18

Indonesia, Undang-Undang Tentang Kekuasaan Kehakiman), UU No. 48 Tahun 2009,
Pasal 25 ayat 1-5.

Universitas Sumatera Utara

c. Peradilan militer sebagaimana dimaksud pada ayat (1) berwenang memeriksa,
mengadili, memutus, dan menyelesaikan perkara tindak pidana militer sesuai dengan
ketentuan peraturan perundang-undangan.
d. Peradilan tata usaha Negara

sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) berwenang

memeriksa, mengadili, memutus, dan menyelesaikan sengketa tata usaha Negara
sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

5. Pengertian Pengadilan Tindak Pidana Korupsi
Pengadilan Tindak Pidana Korupsi adalah pengadilan yang khusus menangani
perkara korupsi. Pengadilan Tindak Pidana Korupsi bertugas dan berwenang memeriksa
dan memutus tindak pidana korupsi yang penuntutannya diajukan oleh Komisi
Pemberantasan Korupsi.

Pengadilan Tindak Pidana Korupsi berada di lingkungan Peradilan Umum. Untuk
pertama kali Pengadilan Tindak Pidana Korupsi dibentuk pada Pengadilan Negeri Jakarta
Pusat yang wilayah hukumnya meliputi seluruh wilayah negara Republik Indonesia.
Pengadilan ini dibentuk berdasarkan pasal 53 Undang-undang Nomor 30 Tahun 2002
tentang Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. 19

Dalam ayat 54 Undang-undang Nomor 30 Tahun 2002 juga menyebutkan bahwa :

(1) Pengadilan Tindak Pidana Korupsi berada di lingkungan Peradilan Umum.

19

http;/www.kpk.go.id/modules/edito/doc/UU302002.pdf. diakses pada tanggal 13
Januari 2010 jam 14.15 Wib.

Universitas Sumatera Utara

(2) Untuk pertama kali Pengadilan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) dibentuk pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang wilayah hukumnya
meliputi seluruh wilayah negara Republik Indonesia.

(3) Pembentukan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi selain sebagaimana dimaksud pada
ayat (2) dilakukan secara bertahap dengan Keputusan Presiden.

Dimana dengan adanya pengadilan Tindak Pidana Korupsi diharapkan akan membantu
untuk mengurangi timbulnya Tindak pidana korupsi di Indonesia juga untuk membantu
Pengadilan Negeri dalam menangani kasus-kasus korupsi.

F. Metode Penelitian

1. Metode Pendekatan

Dalam penulisan skipsi ini,agar tujuan lebih terarah dan dapat dipertanggung
jawabkan,dipergunakan metode penelitian hukum normatif atau penelitian hukum
yuridis normatif yaitu dengan pengumpulan data secara studi pustaka ( library
research) yang berkaitan dengan isi dari skipsi ini.

2. Sumber Data

Sebagaimana umumnya penelitian hukum normatif dilakukan dengan penelitian
pustaka,yaitu penelitian yang dilakukan dengan mempelajari bahan pustaka atau
data sekunder,dimana data sekunder diperoleh dengan mempelajari sumbersumber bacaan yang dapat dijadikan bahan dalam penulisan skipsi.sumbersumber

dalam

penulisan

skipsi

ini

berupa

referensi

dari

beberapa

Universitas Sumatera Utara

buku,artikel,koran,majalah,dan wacana yang dikemukakan oleh pendapat para
ahli

hukum

dengan

cara

membaca,menafsirkan,membandingkan

serta

menterjemahkan dari beberapa sumber yang berhubungan dengan hukum pidana
umumnya dan korupsi pada khususnya.

3. Analisis Data

Data-data yang diperoleh dari sumber-sumber tersebut diatas dianalisis secara
kualitatif dan disajikan secara deskriptif.Analisa kualitatif ini ditujukan untuk
mengungkap secara mendalam tentang pandangan dan konsep yang diperlukan
dan akan diurai secara komprehensif untuk mnjawab berbagai permasalahan yang
telah dirumuskan dalam skipsi ini.

G. Sistematika Penulisan

Dalam menghasilkan karya ilmiah yang baik,maka pembahasan harus diuraikan
secara sistematis.Agar penulisannya lebih terarah dan lebih mudah dipahami,maka
diperlukan adanya sistematika penulisan yang teratur.Sistematika dalam penulisan skipsi
ini adalah :

BAB I

:Berisikan pendahuluan yang didalamnya diuraikan mengenai latar
belakang penulisan skipsi,perumusan masalah,kemudian dilanjutkan
dengan tujuan dan mamfaat penulisan skipsi,keaslian skipsi,tinjauan
pustaka yang mengemukakan berbagai defenisi,rumusan dan pengertian
dari beberapa istilah yang terdapat dalam judul untuk memberi batasan

Universitas Sumatera Utara

dalam pemahaman mengenai istilah-istilah tersebut,dan terakhir
diuraikan sistematika penulisan.

BAB II

:Adalah tentang Peranan dan kewenangan pengadilan negeri dan
pengadilan tindak pidana korupsi dalam mengadili tindak pidana
korupsi.Dalam bab ini akan diuraikan mengenai latar belakang dan dasar
hukum di jadikannya pengadilan negeri dan pengadilan tindak pidana
korupsi sebagai lembaga yang berwenang untuk mengadili perkara
tindak pidana korupsi,peranan dan juga kewenangan dari pengadilan
negeri dan pengadilan tindak pidana korupsi dalam mengadili tindak
pidana korupsi.

BAB III

:Dalam

bab

ini

akan

dibahas

mengenai

mekanisme

penyelidikan,penyidikan,dan penuntutan, konektisitas dan pemeriksaan
sidang pengadilan, tindakan-tindakan selama proses perkara, sidang In
Absentia, dan pembuktian terbalik .

BAB IV

:merupakan pembahasan mengeni faktor-faktor penyebab terjadinya
dualisme kewenangan mengadili antara pengadilan negeri dan
pengadilan tindak pidana korupsi beserta upaya penanggulangannya.

BAB V

:Merupakan penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran

BAB II

Universitas Sumatera Utara

PERANAN DAN KEWENANGAN PENGADILAN NEGERI DALAM
MENGADILI TINDAK PIDANA KORUPSI

A.

Latar Belakang dan Dasar Hukum Dijadikannya Pengadilan Negeri sebagai
Lembaga yang Berwenang Dalam Mengadili Tindak Pidana Korupsi.

Dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986 tentang Peradilan Umum
disebutkan dalam ayat 2 bahwa Peradilan Umum adalah salah satu pelaksana
kekuasaan kehakiman bagi rakyat pencari keadilan pada umumnya dan pada ayat
tiganya ( 3 ) juga dikatakan bahwa :

(1) Kekuasaan Kehakiman di lingkungan Peradilan Umum dilaksanakan

oleh :

a. PengadilanNegeri;
b. PengadilanTinggi.
(2) Kekuasaan Kehakiman di lingkunganPeradilan Umum berpuncak pada
Mahkamah Agung sebagai Pengadilan NegaraTertinggi.
Dimana kemudian Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986 tersebut diubah
menjadi Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2004 yang kemudian dirubah kembali
menjadi Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 yang mana isinya tidak jauh
berbeda dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986 sebelumnya.

Pengadilan negeri disini, sebagai pelaksana tugas kekuasaan kehakiman
seperti yang terkandung dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 48
Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman, mempunyai tugas dan wewenang
untuk menyelenggarakan peradilan guna menegakkan hukum dan keadilan demi

Universitas Sumatera Utara

terciptanya masyarakat yang tertib, aman dan damai seperti yang diamanatkan
dalam pancasila dan Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia.

Sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 2 Undang-Undang Nomor 4