terhadap penggunaan model STAD dapat menjadikan guru termotivasi untuk mencoba transisi dari praktek pengajaran tradisional ke STAD dan menjadikan
siswa sebagai pembelajar aktif yang dapat memecahkan masalah proyek, bekerja dalam tim untuk mencapai umum tujuan, berkomunikasi, berbagi ide, dan
pertukaran dengan orang lain. Berdasarkan hasil penelitian tersebut dapat disimpulkan bahwa penggunaan model STAD dapat meningkatkan keterampilan
guru dan keaktifan siswa dalam pembelajaran. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa kualitas pembelajaran
mengalami peningkatan dengan menggunakan model kooperatif tipe STAD berbantuan audiovisual pada proses pembelajaran. Oleh karena itu, penelitian-
penelitian tersebut dapat digunakan sebagai acuan bagi peneliti untuk melakukan penelitian tindakan kelas dengan judul “Peningkatan Kualitas Pembelajaran IPS
melalui Model kooperatif Tipe STAD Berbantuan Audiovisual Siswa Kelas V SDN Purwoyoso 01 Kota Semarang”.
2.3 KERANGKA BERPIKIR
Pelaksanaan pembelajaran IPS pada kelas V SDN Purwoyoso 01 Kota Semarang belum optimal. Berdasarkan refleksi yang dilakukan, terdapat beberapa
permasalahan pada keterampilan guru, aktivitas siswa, dan hasil belajar siswa. Permasalahan yang muncul tersebut antara lain: 1 guru hanya menerapkan
metode ceramah dan belum menggunakan model pembelajaran kooperatif yang dapat mengaktifkan siswa dalam kegiatan kerjasama; 2 kurang adanya variasi
pembelajaran yang dilakukan oleh guru; 3 guru belum menggunakan media pembelajaran; 4 kurangnya motivasi pada diri siswa; 5 siswa belum dapat
mengembangkan kemampuan berpikir dan bekerjasama secara kolaboratif; 6 siswa cenderung pasif dan kurang berpartisipasi dalam pembelajaran; 7 25 siswa
71,4 belum mencapai nilai KKM yaitu 70. Melihat kondisi tersebut, peneliti bersama kolaborator merencanakan
untuk melakukan tindakan perbaikan pembelajaran dengan menerapkan model kooperatif tipe STAD berbantuan audiovisual. Penerapan model kooperatif tipe
STAD berbantuan audiovisual pada pembelajaran IPS KD 2.3 tentang menghargai jasa dan peranan tokoh dalam memproklamasikan kemerdekaan akan
menciptakan hubungan yang interaktif, dan meningkatkan kerjasama secara kolaboratif dalam diskusi untuk mengembangkan kemampuan berpikir serta
memfokuskan perhatian siswa terhadap pembelajaran IPS, sehingga dapat meningkatkan kualitas pembelajaran, yaitu keterampilan guru, aktivitas siswa, dan
hasil belajar. Oleh sebab itu, tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan akan tercapai dengan baik. Tindakan perbaikan yang dilakukan peneliti diharapkan
dapat meningkatkan kualitas pembelajaran yang meliputi keterampilan guru, aktivitas siswa, dan hasil belajar siswa SDN Purwoyoso 01 Semarang.
Berdasarkan kajian teori dan kajian empiris tersebut, dapat dirumuskan kerangka berpikir yang digambarkan ke dalam sebuah bagan 4.2 sebagai berikut.
Bagan 2.2 Kerangka Berpikir
Penerapan pembelajaran melalui model STAD berbantuan audiovisual, dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a. Siswa memperhatikan media audiovisual video.
b. Siswa dan guru melakukan tanya jawab mengenai media audiovisual yang mereka amati.
c. Siswa mendengarkan penjelasan dari guru sambil
mengamati media audiovisual powerpoint. d. Siswa membentuk beberapa kelompok heterogen.
e. Siswa mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru secara
berkelompok. f.
Siswa yang sudah mengerti dapat menjelaskan pada anggota lainnya sampai semua anggota dalam kelompok itu
mengerti. g. Siswa menyatukan pendapat masing-masing anggota
kelompok bersama dengan anggota kelompoknya untuk disimpulkan.
h. Siswa bersama kelompoknya menuliskan hasil diskusi. i.
Siswa membacakan hasil diskusi. j.
Guru memberikan penguatan terhadap hasil diskusi siswa. k. Siswa melakukan kuis.
Pelaksanaan Tindakan
1 Guru telah menerapkan model pembelajaran kooperatif
yang dapat mengaktifkan siswa dalam kegiatan kerjasama. 2 Guru telah menerapkan variasi pembelajaran.
3 Guru telah menggunakan media pembelajaran 4 Meningkatnya motivasi pada diri siswa
5 Siswa telah mampu mengembangkan kemampuan berpikir
dan bekerjasama secara kolaboratif. 6 Siswa aktif dalam pembelajaran
7 Sekurang-kurangnya 85 siswa telah KKM yaitu 70
Kondisi Akhir
Kondisi Awal
1 Guru hanya menerapkan metode ceramah dan belum menggunakan model pembelajaran kooperatif yang dapat
mengaktifkan siswa dalam kegiatan kerjasama.
2 Kurang adanya variasi pembelajaran yang dilakukan oleh
guru. 3 Guru belum menggunakan media pembelajaran
4 Kurangnya motivasi pada diri siswa 5 Siswa belum dapat mengembangkan kemampuan berpikir
dan bekerjasama secara kolaboratif.
6 Siswa cenderung pasif dan kurang berpartisipasi dalam
pembelajaran 7 25 siswa 71,4 belum mencapai KKM yaitu 70
2.4 HIPOTESIS TINDAKAN