Keaslian Penelitian Kerangka Teori dan Konsep

dalam bidang hukum pidana mengenai tindak pidana pencucian uang . Serta lebih khusus lagi memberikan masukan terhadap kalangan akademisi dan praktisi dalam rangka pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang dalam merumuskan suatu perbuatan merupakan tindak pidana pencucian uang. b. Bersifat Praktis Mengharapkan bahwa hasil penelitian ini dapat dimanfaatkanditerapkan oleh pengambil kebijakan dan para pelaksanapenegak hukum , khususnya penegakan hukum tindak pidana pencucian uang, dengan menerapkan konsep- konsep kebijakan hukum pidana dalam pemberantasan tindak pidana pencucian uang

E. Keaslian Penelitian

Berdasarkan hasil penelusuran di Program Pasca Sarjana USU terdapat 10 judul yang membahas tindak pidana pencucian uang, namun tidak ada yang membahas unsur unsur tindak pidana pencucian uang . Selain itu juga dikarenakan masih barunya disahkan UU No 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. Dengan demikian mengacu kepada alasan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa penelitian ini adalah asli dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara ilmiah. Universitas Sumatera Utara

F. Kerangka Teori dan Konsep

1. Kerangka Teori Hukum merupakan suatu sistem yang dapat berperan dengan baik dan tidak pasif dimana hukum mampu dipakai di tengah masyarakat, jika instrumen pelaksanaannya dilengkapi dengan kewenangan-kewenangan dalam bidang penegakan hukum. L.M. Friedman, 24 R. Subekti, bahwa hukum tersusun dari sub sistem hukum yang berupa substansi hukum, struktur hukum, dan budaya hukum. Unsur sistem hukum ini sangat menentukan apakah suatu sistem hukum dapat berjalan dengan baik atau tidak. Substansi hukum menyangkut segala aspek-aspek pengaturan hukum atau peraturan perundang-undangan, struktur hukum lebih menekankan kepada kinerja aparatur hukum serta sarana dan prasarana hukum itu sendiri, sementara budaya hukum menyangkut perilaku masyarakatnya. 25 menjelaskan bahwa sistem hukum adalah suatu susunan atau tatanan yang teratur, suatu keseluruhan yang terdiri atas bagian-bagian yang berkaitan satu sama lain, tersusun menurut suatu rencana atau pola, hasil dari suatu pemikiran untuk mencapai suatu tujuan. Sementara itu, Sudikno Mertokusumo 26 24 L.M. Friedman, The Legal System; A Social Science Persfective, New York : Russel Sage Foundation, 1975, hal. 11. mengatakan bahwa sistem hukum adalah suatu kesatuan 25 H. Ridwan Syahrani, Rangkuman Intisari Ilmu Hukum, Bandung: Citra Aditya Bakti, Bandung, 1999, hal. 169. 26 Ibid. Universitas Sumatera Utara yang terdiri dari unsur-unsur yang mempunyai interaksi satu sama lain dan bekerja sama untuk mencapai tujuan kesatuan tersebut. Lili Rasjidi dan I.B. Wyasa Putra, 27 Hal ini menunjukkan sistem hukum sebagai suatu kompleksitas sistem yang membutuhkan kecermatan yang tajam untuk memahami keutuhan prosesnya. lebih jauh mengatakan bahwa pada hakekatnya sistem hukum merupakan suatu kesatuan sistem besar yang tersusun atas sub-sub sistem yang kecil, yaitu sub sistem pendidikan, pembentukan hukum, penerapan hukum, dan lain-lain, yang hakekatnya merupakan sistem tersendiri pula. Hukum dan penegakan hukum, menurut Soerjono Soekanto, 28 Penelitian terhadap Analisis Yuridis Tentang Penentuan Unsur Unsur Tindak Pidana Pencucian Uang Money Laundering Dalam UU No. 8 Tahun 2010 akan menggunakan teori sistem diatas dalam membahas substansi hukum Tindak Pidana Pencucian Uang Money Laundering Dalam UU No. 8 Tahun 2010 yaitu dalam membahas permasalahan yang diajukan. merupakan bagian faktor-faktor penegakan hukum yang tidak bisa diabaikan karena jika diabaikan akan menyebabkan tidak tercapainya penegakan hukum yang diharapkan. 27 Lili Rasjidi dan I.B. Wyasa Putra, Hukum Sebagai Suatu Sistem, Bandung: Mandar Maju, 2003, hal. 151. 28 Soerjono Soekanto, Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Penegakan Hukum, Jakarta, Rajawali, 1983, hal. 5. Universitas Sumatera Utara Unsur tindak pidana yang diatur dalam Undang Undang No 8 tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang diharapkan akan dapat secara efektif menjerat pelaku tindak pidana pencucian uang dan mengamankan uang yang menjadi hasil dari kejahatan asal. Secara keseluruhan perbaikan terhadap unsur unsur tindak pidana ini berpengaruh terhadap sistem penegakan hukum yang tertuang dalam hukum acara. Pembahasan mengenai substansi hukum UU No.8 Tahun 2010 akan mempergunakan ajaran hukum pidana sebagai teori yang akan menganalisis isi pasal pasal tindak pidana pencucian uang .Pembentuk Undang-Undang di Indonesia menggunakan istilah straafbaarfeit untuk menyebutkan nama tindak pidana. Dalam bahasa Belanda straafbaarfeit terdapat dua unsur pembentuk kata yaitu straafbaar dan feit. Perkataan feit dalan bahasa Belanda diartikan “sebagian dari kenyataan”, sedang straafbaar berarti dapat dihukum. Sehingga jika diartikan secara harafiah straafbaarfeit berarti sebagian dari kenyataan yang dapat dihukum Istilah-Istilah yang digunakan dalam perundang-undangan yang ada maupun dalam literatur hukum sebagai terjemahan dari straafbarfeit adalah 29 1 Tindak pidana, merupakan istilah resmi dalam perundangundangan 2 Peristiwa pidana 3 Delik 29 Adami Chazawi, Pelajaran Hukum Pidana Bagian 1, Jakarta: PT. Raja Grafindo. Persada, 2002, hal 6 Universitas Sumatera Utara 4 Pelanggaran pidana 5 Perbuatan yang boleh dihukum 6 Perbuatan yang dapat dihukum 7 Perbuatan pidana. Moeljatno menggunakan istilah perbuatan pidana, yang didefinisikan sebagai “ perbuatan yang dilarang oleh suatu aturan hukum larangan mana disertai ancaman sanksi yang berupa pidana tertentu, bagi barang siapa melanggar larangan tersebut”. Adapun Istilah perbuatan pidana lebih tepat, alasannya adalah : 30 1 Perbuatannya dilarang perbuatan manusia, yaitu kejadian atau keadaan yang ditimbulkan oleh kelakuan orang, artinya larangan itu ditujukan pada perbuatannya. Sedangkan ancaman pidananya ditujukan pada orangnya. 2 Larangan yang ditujukan pada perbuatan dengan ancaman pidana yang ditujukan pada orang mempunyai hubungan yang erat, dan oleh karena itu perbuatan yang berupa keadaan atau kejadian yang ditimbulkan orang tadi, melanggar larangan dengan orang yang menimbulkan perbuatan tadi ada hubungan erat pula. 3 Untuk menyatakan adanya hubungan yang erat itulah maka lebih tepat digunakan istilah perbuatan pidana, suatu pengertian abstrak yang menunjuk pada keadaan kongrit, yaitu: pertama adanya kejadian tertentu 30 Moeljatno, Azas-Azas Hukum Pidana, Jakarta ,, Bina Cipta,. Jakarta, 1983 Hal 54 Universitas Sumatera Utara perbuatan dan kedua orang yang berbuat atauyang menimbulkan kejadian itu. Pandangan yang memisahkan antara perbuatan dan orang yang melakukan ini sering disebut pandangan dualisme, yang dianut pula oleh : 31 1 Pompe, yang merumuskan bahwa suatu straafbarfeit itu sebenarnya adalah tidak lain dari pada suatu” tindakan yang menurut suatu rumusan undang-undang telah dinyatakan sebagai tindakan yang dapat dihukum. 2 Vos, merumuskan straafbarfeit adalah suatu kelakuan manusia yang diancam pidana oleh perturan perundang-undangan. 3 R. Tresna, walaupun menyatakan sangat sulit untuk merumuskan atau member definisi yang tepat perihal peristiwa pidana, namun beliau juga menarik definisi, yang menyatakan bahwa, “ peristiwa pidana itu adalah suatu perbuatan atau rangkaian perbuatan manusia, yang bertentangan dengan Undang-undang atau peraturan perundang-undangan lainnya, terhadap perbuatan mana diadakan tindakan penghukuman. Selain pandangan dualisme ada pandangan lain yakni pandangan monisme yang tidak memisahkan antara unsur-unsur mengenai perbuatan dan diri orang, pandangan ini dianut oleh : 32 31 Adami Chazawi, op. Cit , hal 72 32 Ibid, hal 75 Universitas Sumatera Utara 1 J.E Jonkers yang merumuskan peristiwa pidana ialah perbuatan yang melawan hukum wedrrechttelijk yang berhubungan dengan kesengajaan atau kesalahan yang dilakukan oleh orang yang dapat dipertanggungjawabkan. 2 Wirjono Projodikoro, menyatakan bahwa tindak pidana itu adalah suatu perbuatan yang pelakunya dapat dikenakan hukuman pidana. a. H.J.van Schravendijk, merumuskan perbuatan yang boleh dihukum adalah kelakuan orang yang begitu bertentangan dengan keinsyafan hukum sehingga kelakuan itu diancam dengan hukuman, asal dilakukan oleh seorang yang karena itu dapat dipersalahkan. b. Simons, merumuskan strafbarfeit adalah suatu tindakan melanggar hukum yang dengan sengaja telah dilakukan oleh seseorang yang dipertanggungjawabkan atas tindakannya yang dinyatakan sebagai dapat dihukum. Menurut Moeljatno, unsur-unsur tindak pidana adalah: 1 Perbuatan 2 Yang dilarang oleh aturan hukum 3 Ancaman pidana bagi yang melanggar Sedangkan menurut Kitab Undang-undang Hukum Pidana KUHP terdapat unsur-unsur yang selalu disebutkan dalam setiap rumusan, misalnya mengenai tingkah laku atau perbuatan, walaupun Universitas Sumatera Utara ada perkecualian seperti Pasal 351 penganiayaan. Unsur kesalahan dan melawan hukum kadang dicantumkan, dan tidak seringkali juga tidak dicantumkan. Dari rumusan-rumusan tindak pidana tertentu dalam KUHP itu, maka dapat diketahui adanya 8 unsur tindak pidana,yaitu : 33 1 Unsur tingkah laku 2 Unsur melawan hukum 3 Unsur kesalahan 4 Unsur akibat konstitusi 5 Unsur keadaan yang menyertai 6 Unsur syarat tambahan untuk dapatnya dituntut pidana 7 Unsur syarat tambahan untuk memperberat pidana 8 Unsur syarat untuk dapatnya dipidana. Unsur tingkah laku yang termasuk di dalam unsur ini adalah tingkah laku aktif atau positif handelen, atau juga disebut perbuatan materiil materiel feit, misalnya: mengambil Pasal 362 KUHP atau memalsu dan membuat palsu Pasal 268 KUHP dan tinkah laku pasif atau negative natelen, misalnya: tidak memberikan pertolongan Pasal 531 KUHP, membiarkan Pasal 304 KUHP, tidak datang Pasal 522 KUHP. 34 33 Ibid , hal 81-111 34 Adami Chazawi, Pelajaran Hukum Pidana Jakarta : Rajawali Pers,2001, hal 83-86 Universitas Sumatera Utara Melawan hukum merupakan suatu sifat tercelanya atau terlarangnya dari suatu perbuatan, yang sifat tercela mana dapat bersumber pada undang-undang melawan hukum formil dan dapat bersumber pada masyarakat melawan hukum materiil. 35 Kesalahan schuld adalah unsur mengenai keadaan atau gambaran batin orang sebelum atau pada saat memulai perbuatan, karena itu unsur ini melekat pada diri pelaku dan bersifat subyektif. 36 Kesalahan dalam hukum pidana berhubungan dengan pertanggungan jawab pidana yang terdiri dari kesengajaan dolus dan kelalaian culpa. Unsur akibat konstitusi ini terdapat pada tindak pidana materiil atau tindak pidana dimana akibat menjadi syarat selesainya tindak pidana, tindak pidana yang mengandung unsur akibat sebagai syarat pemberat pidana dan tindak pidana dimana akibat merupakan syarat dipidananaya pembuat. Unsur akibat sebagai syarat pemberat pidana karena bukan merupakan unsur pokok tindak pidana, artinya jika syarat ini tidak timbul, tidak terjadi percobaan, melainkan terjadi tindak pidana selesai, misalnya pada Pasal 288 KUHP jika akibat luka berat. 37 35 Ibid, hal 86 36 Ibid, hal 90 37 Ibid, hal 103 Universitas Sumatera Utara Unsur keadaaan yang menyertai ini merupakan unsur tindak pidana yang berupa semua keadaan yang ada dan berlaku dalam mana perbuatan dilakukan. Unsur ini dalam kenyataan dapat: 38 1 Mengenai cara melakukan perbuatan 2 Mengenai cara untuk dapat dilakukan perbuatan 3 Mengenai obyek tindak pidana 4 Mengenai subyek tindak pidana 5 Mengenai tempat dilakukannya tindak pidana 6 Mengenai waktu dilakukannya tindak pidana Unsur syarat tambahan untuk dapatnya dituntut pidana ini hanya terdapat dalam tindak pidana aduan. Tindak pidana aduan adalah tindak pidana yang hanya dapat dituntut pidana jika adanya pengaduaan dari yang berhak mengadu, misalnya: perzinaan Pasal 284 ayat 2 KUHP, penghinaan Pasal 310-318 jo 319 KUHP. Unsur syarat tambahan untuk memperberat pidana ini bukan merupakan unsur pokok tindak pidana yang bersangkutan, artinya tindak pidana tersebut dapat terjadi tanpa adanya unsur ini , misalnya: pada penganiayaan berat Pasal 354 KUHP, kejahatan ini dapat terjadi ayat 1, walaupun akibat luka berat tidak terjadiayat 2. Luka berat hanya merupakan syarat saja untuk memperberat pidana. 38 Ibid, hal 106 Universitas Sumatera Utara Unsur syarat tambahan untuk dapatnya dipidana ini merupakan keadaan tertentu yang timbul setelah perbuatan dilakukan, yang menentukan untuk dapat dipidananya perbuatan. Artinya bila setelah perbutan dilakukan keadaan ini tidak timbul, terhadap perbuatan itu tidak bersifat melawan hukum dan karenanya si pembuat pidana tidak dapat dipidana. 39

2. Kerangka Konsepsional


Dokumen yang terkait

Tinjauan Yuridis Mengenai Peranan Perbankan Dalam Mencegah Tindak Pidana Pencucian Uang (Money Laundering)

0 91 94

Analisis Yuridis Tentang Penentuan Unsur-Unsur Tindak Pidana Pencucian Uang (Money Laundering) Dalam UU No. 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang

2 64 142

Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Perpajakan Melalui Penerapan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang

1 68 151

Tindak Pidana Pencucian Uang Yang Dilakukan Oleh Korporasi Menurut UU No. 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang

2 77 117

Pembuktian Terbalik Dalam Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Dan Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang

3 64 102

Prinsip Akuntabilitas dan Transparansi Yayasan Dalam Rangka Mencegah Tindak Pidana Pencucian Uang (Money Laundering)

1 48 103

Kegagalan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (Money Laundering) Di Indonesia Ditinjau Dari Sistem Pembuktian

0 33 119

Kewenangan Komisi Pemberantasan Korupsi Dalam Penuntutan Tindak Pidana Pencucian Uang

0 4 87

BAB II PENGATURAN TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG - Tindak Pidana Pencucian Uang Yang Dilakukan Oleh Korporasi Menurut UU No. 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang

0 0 35

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - Tindak Pidana Pencucian Uang Yang Dilakukan Oleh Korporasi Menurut UU No. 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang

0 0 15

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

85 2182 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 561 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

30 484 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

12 313 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

22 434 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

36 691 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 599 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

11 386 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

16 568 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

27 688 23