Analisis Yuridis Tentang Penentuan Unsur-Unsur Tindak Pidana Pencucian Uang (Money Laundering) Dalam UU No. 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang

ANALISI YURIDIS TENTANG PENENTUAN UNSUR UNSUR TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG (MONEY LAUNDERING) DALAM UU NO. 8 TAHUN 2010 TENTANG PENCEGAHAN DAN
PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG
TESIS Oleh : FIRMAN HERMAWAN SIMORANGKIR 097005056
PROGRAM MAGISTER ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011
Universitas Sumatera Utara

ANALISIS YURIDIS TENTANG PENENTUAN UNSUR UNSUR TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG (MONEY LAUNDERING) DALAM UU NO. 8 TAHUN 2010 TENTANG PENCEGAHAN DAN
PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG
TESIS
Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Hukum dalam Program Studi Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara
Oleh :
FIRMAN HERMAWAN SIMORANGKIR 097005056/Hk
PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011
Universitas Sumatera Utara

HALAMAN PENGESAHAN

Judul Tesis

: ANALISI YURIDIS TENTANG PENENTUAN UNSUR

UNSUR TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG (MONEY

LAUNDERING) DALAM UU NO. 8 TAHUN 2010

TENTANG PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN

TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG

Nama Mahasiswa : Firman Hermawan Simorangkir

Nomor Pokok : 097005056

Program Studi : Ilmu Hukum

Menyetujui : Komisi Pembimbing

(Prof. Dr.Bismar Nasution, SH.MH) Ketua

(Prof. DR, Sunarmi, SH.M.Hum.) Anggota

(Dr. Mahmul Siregar, SH,M.Hum) Anggota

Ketua Program Studi Ilmu Hukum

Dekan

(Prof. Dr. Suhaidi, SH, MH)

(Prof. Dr. Runtung, SH, M.Hum)

Universitas Sumatera Utara

Telah diuji pada Tanggal 13 Agustus 2011

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua Anggota

: Prof. Dr. Bismar Nasution, SH.,M.H : 1. Prof. Dr. Sunarmi, SH., M.Hum 2. Dr. Mahmul Siregar, SH., M.Hum 3. Prof. Dr. Suhaidi, SH., M.H 4. Dr. Marlina, SH., M.Hum

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Undang – Undang Nomor 10 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang memberikan penyempurnaan delik Tindak Pidana Pencucian Uang serta juga melengkapi dengan berbagai instrumen yang bertujuan untuk mengefektifkan penegakan hukum terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang.
Penelitian ini menfokuskan pada permasalahan , pertama, bagaimanakah pengaturan unsur-unsur pokok tindak pidana pencucian uang dalam UU Nomor. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, kedua , bagaimanakah proses pembuktian unsur-unsur tindak pidana pencucian uang dalam UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang dan ketiga, bagaimanakah hambatan-hambatan pembuktian unsur-unsur tindak pidana pencucian uang dalam UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian yuridis normatif dengan melakukan analisa secara kulitatif terhadap data data yuridis berupa peraturan perundang undangan maupun pendapat para ahli. Penarikan kesimpulan dilakukan secara induktif.
Penelitian ini menarik kesimpulan Perumusan unsur - unsur tindak pidana pencucian uang didasarkan pada Pasal 3,4,5,6,7,8.9 dan 10 UU No 8 Tahun 2010 dapat mempermudah penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan Tindak Pidana Pencucian Uang karena perumusan perbuatan melawan hukum yang lebih sederhana. Unsur – unsur tindak pidana yang terdapat dalam pasal 3, 4 dan 5 UU Nomor 8 Tahun 2010 bersifat alternatif, sehingga Penuntut Umum tidak perlu membuat dakwaan secara subsidier berlapis . Hal ini akan sangat efektif dalam pembuatan surat dakwaan. Secara keseluruhan UU No 8 Tahun 2010 merupakan suatu sistem hukum yang diciptakan untuk melakukan pencegahan maupun melakukan upaya Pemberantasan (Represif) pencucian uang. Proses pembuktian yang digunakan dalam UU No 8 Tahun 2010 Tentang Pencucian Uang adalah sistem pembuktian terbalik dimana terdakwa diperintahkan oleh hakim dalam proses persidangan untuk membuktikan bahwa harta kekayaan yang terkait bukan dari hasil kejahatan. Pembuktian terbalik diterapkan karena UU Nomor 8 Tahun 2010 memakai pendekatan mengejar aset kejahatan (follow the Money) yang mengadopsi penerapan instrumen perampasan aset (civil forfeiture) dalam UU No 8 Tahun 2010. Dengan demikian pembuktian terbalik merupakan instrumen yang diterapkan sejalan dengan penerapan instrumen perasmpasan aset (civil forfeiture) dalam rangka mempermudah aspek pembuktian TPPU. Hambatan dalam proses pembuktian terbalik adalah bahwa KUHAP yang berlaku di Indonesia berlaku sistem pembuktian negatif. Selanjutnya Pembuktian terbalik juga rawan moral hazard penegak hukum yang mempergunakan sistem ini untuk melakukan penuntutan secara sewenang sewenang karena beban
Universitas Sumatera Utara

pembuktian yang diemban terdakwa sehingga profesionalisme aparat penegak hukum perlu utnuk ditingkatkan dalam menerapkan pembuktian terbalik ini. Kata Kunci : Unsur
Tindak Pidana Pencucian Uang
Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT
Law No. 10/2010 on Prevention and Eradication of Money Laundering Crime revamps the offense of money laundering crime and completes various instruments which are aimed to make law enforcement effective in eradicating money laundering crime. This research was focused on the problems as follows: first, about how the regulation of the basic elements of money laundering crime in Law No. 8/2010 on the Prevention and Eradication of Money Laundering Crime was; secondly, about how the process in proving the count of money laundering crime in Law No. 8/2010 was; and thirdly, about how the obstacles in proving the count of money laundering crime in Law No. 8/2010 on the Prevention and Eradication of Money Laundering Crime was.
This research used judicial formative method by conducting qualitative analysis on the secondary data which were comprised of legal provisions or experts’ opinion. The conclusions were drawn inductively.
The formulation of the count of money laundering crime, based on Articles 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9 and 10 of Law No. 8/2010, would make easier the investigation, prosecution, and examination of the money laundering crime because of the simple formulation of the violation of criminal law. The counts of the criminal act in Articles 3, 4, and 5 of Law No. 8/2010 were alternative so that the Prosecutor did not need to indict with double crime. This was more effective in making an indictment. Basically, Law No. 8/2010 is a legal system which was created to prevent repressively money laundering. The process of obtaining the proof used in Law No. 8/2010 on Money Laundering is reversal of the burden of proof in which the defendant in the trial is ordered by the judge to prove that the assets related to accusation do not come from a criminal act. The reversal of the burden of proof is applied because Law No. 8/2010 uses “follow the Money” approach which adopts civil forfeiture instrument. Therefore, the reversal of the burden of proof constitutes an applied instrument which is in line with the application of civil forfeiture in order to make easier the application of proof of money laundering crime. The obstacle found in the reversal of the burden of proof is that the Criminal Code in Indonesia imposes negative proof. Besides that, the reversal of the burden of proof is also easily subject to moral hazard of the law enforcement that uses his authority arbitrarily. Therefore, it is recommended that the defendant’s proof and the professionalism of the law enforcement in applying the reversal of the burden of proof should be improved.
Keywords: Criminal Law, Money Laundering
Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis haturkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena hanya dengan rahmat dan kasihNya, saya sebagai penulis dapat menyelesaikan penulisan tesis yang berjudul Analisis Yuridis Tentang Penentuan Unsur-Unsur Tindak Pidana Pencucian Uang (Money Laundering) Dalam UU No. 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. Tesis ini merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi untuk menyelesaikan Program Studi Magister Ilmu Hukum Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara. Penulisan tesis ini masih kurang sempurna, dan dengan segala keterbatasan, penulis berharap kiranya penelitian ini dapat bermanfaat bagi penulis dan bagi pembaca sekalian.
Ucapan adalah refleksi dari pikiran, dan tulisan adalah refleksi dari ucapan, namun tulisan memiliki keterbatasan menyampaikan pesan yang seharusya diucapkan. Ungkapan tersebut menyadarkan bahwa tulisan adalah sebuah karya yang tidak mampu mewakili keseluruhan pesan penulis yang seharusnya diketahui oleh pembaca. Atas dasar realita tersebut, oleh karenanya penulis dengan senang hati menerima saran dan kritikan yang bersifat konstruktif dan edukatif demi kesempurnaan penulisan tesis ini.
Di dalam hal pembuatan tesis ini penulis yakin tidak akan terselesaikan begitu saja tanpa adanya arahan, bimbingan, dan motivasi dari setiap insan terkasih yang ada disekitar penulis, baik yang bersifat moril maupun materil. Oleh karena itu pada
Universitas Sumatera Utara

kesempatan yang baik ini, perkenankanlah dengan segala kerendahan hati penulis menghaturkan rasa terima kasih secara khusus kepada yang terhormat:
1. Bapak, Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, MSc, (CTM), SP.A(K), selaku Rektor atas kesempatan menjadi mahasiswa pada Program Studi Magister Ilmu Hukum Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara.
2. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH, MH, selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara atas kesempatan menjadi mahasiswa pada Program Studi Magister Ilmu Hukum Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara.
3. Bapak Prof. Dr. Suhaidi, SH, MH, selaku Direktur Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara dan sekaligus sebagai Komisi Penguji penulis atas kesempatan yang telah diberikan untuk menyelesaikan pendidikan Program Studi Magister Ilmu Hukum Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara.
4. Bapak Prof. Dr. Bismar Nasution, SH, MH, selaku Komisi Pembimbing Utama Penulis.
5. Ibu Prof. Dr. Sunarmi, SH, MHum selaku Komisi Pembimbing Kedua Penulis. 6. Bapak Dr. Mahmul Siregar, SH, MHum selaku Komisi Pembimbing Ketiga
penulis. 7. Ibu Dr. Marlina, SH, MHum selaku Komisi Penguji Penulis.
Atas segala bantuan yang diberikan, penulis berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa agar para pembimbing dan para penguji senantiasa mendapat lindungan dan rahmat kasihNya serta mendapatkan kebahagiaan di dunia dalam menjalani
Universitas Sumatera Utara

kehidupan serta pengabdian tugasnya sebagai kalangan akademisi dan di akhirat kelak.
Selanjutnya penulis mengucapkan rasa terima kasih kepada:
1. Ayahanda tercinta Ir. S. Simorangkir dan Ibunda termulia H. Br Simatupang. Dengan segenap jiwa dan lembut kasih sayangnya yang telah mengimaniku dengan kasihNya, mengajarkanku setiap hal terbaik, memberiku sepatu terkuat dan jiwa yang besar saatku jatuh lalu berdiri tegar, dan menuntunku menyongsong masa depan yang lebih baik. Merekalah yang telah menghantarkan penulis dalam usaha mencapai kemantapan hidup guna menjadi putra kebanggaan. Oleh karena itu penulis berdoa semoga Tuhan Yang Maha Kuasa senantiasa memberikan perlindunganNya, memberikan kebahagiaan, kesehatan serta umur yang panjang.
2. Adik-adik tercinta Enda Noviyanti Simorangkir, S.E., Yolanda Evans Simorangkir, dan Yulia Resa Simorangkir yang telah mendoakan penulis dalam menyelesaikan studi pada Program Studi Magister Ilmu Hukum, semoga senantiasa dalam lindungan Tuhan Yang Maha Kuasa dan senantiasa dimudahkan segala cita-citanya.
3. Rekan-rekan mahasiswa seperjuangan pada Program Studi magister Ilmu Hukum Sekolah Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara.
4. Semua Pihak yang tak dapat penulis sebutkan satu persatu. Demikianlah kata pengantar dari penulis ini. Akhir kata dengan segala
kekurangan dan keterbatasan, penulis berharap semoga penulisan tesis ini dapat
Universitas Sumatera Utara

bermanfaat bagi penulis dan bagi pembaca sekalian guna meluaskan dan mencerdaskan wawasan keilmuan.
Medan, Agustus 2011 Penulis
Firman Hermawan Simorangkir
Universitas Sumatera Utara

RIWAYAT HIDUP

Nama

: Firman Hermawan Simorangkir

Tempat/Tanggal Lahir

: Sabang, 25 Oktober 1986

Jenis kelamin

: Laki-laki

Agama

: Kristen Protestan

Pekerjaan

: Kejaksaan RI

Pendidikan

: Sarjana Hukum

- SD Negeri No. 064017 Medan

( Lulus tahun 1998 )

- SMP Katholik BUDI MURNI-1 Medan

( Lulus tahun 2001 )

- SMA METHODIST-2 Medan

( Lulus tahun 2004 )

- Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

( Lulus tahun 2008 )

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

Halaman

ABSTRAK ......................................................................................................

1i

ABSTRACT......................................................................................................

iii

KATA PENGANTAR......................................................................................

iv

RIWAYAT HIDUP..........................................................................................

viii

DAFTAR ISI.....................................................................................................

ix

BAB I : PENDAHULUAN .......................................................................

1

A. Latar Belakang ....................................................................... B. Perumusan Masalah ............................................................... C. Tujuan Penelitian ................................................................... D. Kegunaan Penelitian.............................................................. E. Keaslian Penelitian................................................................. F. Kerangka Teori dan Konsepsi................................................
1. Kerangka Teori ................................................................ 2. Landasan Konsepsional ................................................... G. Metode Penelitian .................................................................. 1. Spesifikasi Penelitian.......................................................

1 16 16 17 18 19 19 27 30 30

Universitas Sumatera Utara

2. Metode Pendekatan.......................................................... 3. Alat Pengumpulan Data.................................................. 4. Prosedur Pengambilan dan Pengumpulan Data............... 5. Analisa Data.....................................................................

32 33 33 34

BAB II. : UNSUR UNSUR TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG

BERDASARKAN UNDANG – UNDANG NO 8 TAHUN 2010…. 35

A. Tindak Pidana Pencucian Uang Secara Umum……………………. 35

1. Latar Belakang Anti Money Laundering…………………………. 35

2. Faktor-Faktor Pendorong Maraknya Pencucian Uang………… 37

3. Tahapan dan Teknik Pencucian Uang………………………… 40

4. Metode Praktek Pencucian Uang………………………………. 43

5. Dampak dan Kerugian Pencucian Uang……………………… 46

B. Perkembangan Pengaturan Anti Money Loundering di Indonesia 57

C. Dasar Yuridis Pembentukan UU No 8 Tahun 2010………………. 64

D. Ketentuan – ketentuan pokok Dalam UU No 8 Tahun 2010……… 72

1. Pokok Pokok UU Tindak Pidana Pencucian Uang Tahun 2010…… 72

2. Tindak Pidana Pencucian Uang dan Tindak Pidana Asal…………. 87

3. Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan……………….. 91

E. Unsur Unsur Pokok Tindak Pidana Pencucian Uang Dalam

UU No 8 Tahun 2010……………………………………….

99

Universitas Sumatera Utara

BAB III : PROSES PEMBUKTIAN TINDAK PIDANA PENCUCIAN

UANG DALAM UU NO 8 TAHUN 2010 TENTANG

PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN TINDAK

PIDANA PENCUCIAN UANG………………………………..

A. Sistem Pembuktian……………………………………………….. 112

B. Sistem Pembuktian Dalam KUHAP……………………

119

C. Pengaturan Pembuktian Terbalik Dalam KUHAP……………….. 120

D. Pengaturan Pembuktian Terbalik Dalam UU No 8 Tahun 2010…. 122

E. Proses Pembuktian Terbalik Dalam UU No 8 Tahun 2010………. 124

BAB IV

: HAMBATAN PEMBUKTIAN UNSUR-UNSUR TINDAK

PIDANA PENCUCIAN UANG ……………………………….. 127

A. Hambatan Pertentangan Asas Pembuktian Terbalik Dengan Asas

Praduga Tidak Bersalah……………………………………………. 127

B. Aspek Pembenaran Pemberlakukan Sistem Pembuktian Terbalik…. 130

C. Pembuktian Terbalik Sebagai Konsekuensi Penerapan

Instrumen Perampasan Aset …………………………………..….. 132

BAB V.

KESIMPULAN DAN SARAN…………………………………… 145

A. Kesimpulan…………………………………………………….. 145

B. Saran……………………………………………………………. 146

DAFTAR PUSTAKA

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Undang – Undang Nomor 10 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang memberikan penyempurnaan delik Tindak Pidana Pencucian Uang serta juga melengkapi dengan berbagai instrumen yang bertujuan untuk mengefektifkan penegakan hukum terhadap Tindak Pidana Pencucian Uang.
Penelitian ini menfokuskan pada permasalahan , pertama, bagaimanakah pengaturan unsur-unsur pokok tindak pidana pencucian uang dalam UU Nomor. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang, kedua , bagaimanakah proses pembuktian unsur-unsur tindak pidana pencucian uang dalam UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang dan ketiga, bagaimanakah hambatan-hambatan pembuktian unsur-unsur tindak pidana pencucian uang dalam UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.
Penelitian ini menggunakan metode penelitian yuridis normatif dengan melakukan analisa secara kulitatif terhadap data data yuridis berupa peraturan perundang undangan maupun pendapat para ahli. Penarikan kesimpulan dilakukan secara induktif.
Penelitian ini menarik kesimpulan Perumusan unsur - unsur tindak pidana pencucian uang didasarkan pada Pasal 3,4,5,6,7,8.9 dan 10 UU No 8 Tahun 2010 dapat mempermudah penyidikan, penuntutan dan pemeriksaan Tindak Pidana Pencucian Uang karena perumusan perbuatan melawan hukum yang lebih sederhana. Unsur – unsur tindak pidana yang terdapat dalam pasal 3, 4 dan 5 UU Nomor 8 Tahun 2010 bersifat alternatif, sehingga Penuntut Umum tidak perlu membuat dakwaan secara subsidier berlapis . Hal ini akan sangat efektif dalam pembuatan surat dakwaan. Secara keseluruhan UU No 8 Tahun 2010 merupakan suatu sistem hukum yang diciptakan untuk melakukan pencegahan maupun melakukan upaya Pemberantasan (Represif) pencucian uang. Proses pembuktian yang digunakan dalam UU No 8 Tahun 2010 Tentang Pencucian Uang adalah sistem pembuktian terbalik dimana terdakwa diperintahkan oleh hakim dalam proses persidangan untuk membuktikan bahwa harta kekayaan yang terkait bukan dari hasil kejahatan. Pembuktian terbalik diterapkan karena UU Nomor 8 Tahun 2010 memakai pendekatan mengejar aset kejahatan (follow the Money) yang mengadopsi penerapan instrumen perampasan aset (civil forfeiture) dalam UU No 8 Tahun 2010. Dengan demikian pembuktian terbalik merupakan instrumen yang diterapkan sejalan dengan penerapan instrumen perasmpasan aset (civil forfeiture) dalam rangka mempermudah aspek pembuktian TPPU. Hambatan dalam proses pembuktian terbalik adalah bahwa KUHAP yang berlaku di Indonesia berlaku sistem pembuktian negatif. Selanjutnya Pembuktian terbalik juga rawan moral hazard penegak hukum yang mempergunakan sistem ini untuk melakukan penuntutan secara sewenang sewenang karena beban
Universitas Sumatera Utara

pembuktian yang diemban terdakwa sehingga profesionalisme aparat penegak hukum perlu utnuk ditingkatkan dalam menerapkan pembuktian terbalik ini. Kata Kunci : Unsur
Tindak Pidana Pencucian Uang
Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT
Law No. 10/2010 on Prevention and Eradication of Money Laundering Crime revamps the offense of money laundering crime and completes various instruments which are aimed to make law enforcement effective in eradicating money laundering crime. This research was focused on the problems as follows: first, about how the regulation of the basic elements of money laundering crime in Law No. 8/2010 on the Prevention and Eradication of Money Laundering Crime was; secondly, about how the process in proving the count of money laundering crime in Law No. 8/2010 was; and thirdly, about how the obstacles in proving the count of money laundering crime in Law No. 8/2010 on the Prevention and Eradication of Money Laundering Crime was.
This research used judicial formative method by conducting qualitative analysis on the secondary data which were comprised of legal provisions or experts’ opinion. The conclusions were drawn inductively.
The formulation of the count of money laundering crime, based on Articles 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9 and 10 of Law No. 8/2010, would make easier the investigation, prosecution, and examination of the money laundering crime because of the simple formulation of the violation of criminal law. The counts of the criminal act in Articles 3, 4, and 5 of Law No. 8/2010 were alternative so that the Prosecutor did not need to indict with double crime. This was more effective in making an indictment. Basically, Law No. 8/2010 is a legal system which was created to prevent repressively money laundering. The process of obtaining the proof used in Law No. 8/2010 on Money Laundering is reversal of the burden of proof in which the defendant in the trial is ordered by the judge to prove that the assets related to accusation do not come from a criminal act. The reversal of the burden of proof is applied because Law No. 8/2010 uses “follow the Money” approach which adopts civil forfeiture instrument. Therefore, the reversal of the burden of proof constitutes an applied instrument which is in line with the application of civil forfeiture in order to make easier the application of proof of money laundering crime. The obstacle found in the reversal of the burden of proof is that the Criminal Code in Indonesia imposes negative proof. Besides that, the reversal of the burden of proof is also easily subject to moral hazard of the law enforcement that uses his authority arbitrarily. Therefore, it is recommended that the defendant’s proof and the professionalism of the law enforcement in applying the reversal of the burden of proof should be improved.
Keywords: Criminal Law, Money Laundering
Universitas Sumatera Utara

BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Beberapa tahun belakangan ini, kecenderungan perkembangan ekonomi
makro Indonesia menunjukkan perkembangan ke arah perbaikan khususnya di bidang moneter yang ditandai dengan stabilnya nilai tukar rupiah dan penurunan tingkat suku bunga. Namun demikian, dari sisi ekonomi mikro, pelaku pasar khususnya perbankan sebagai lembaga intermediasi. Hal ini diperparah dengan lambannya pertumbuhan di bidang investasi baik domestik maupun internasional. Kondisi ini mengakibatkan sektor riil belum bergerak sesuai yang diharapkan.1
Implikasi selanjutnya adalah rendahnya penyerapan tenaga kerja dan turunnya pendapatan perkapita masyarakat, yang berimplikasi pula pada permasalahan sosial kemasyarakatan seperti meningkatnya tindak pidana. Sebagian besar tindak pidana yang terjadi khususnya korupsi, illegal logging dan narkoba pada dasarnya bermotifkan ekonomi. Tanpa ada kepentingan ekonomi, tindak pidana tersebut tidak akan terjadi. Demikian pula halnya terorisme, aksi-aksi terorisme tidak mungkin dilakukan apabila tidak terdapat pendanaan untuk melaksanakan kegiatan tersebut.
1 Editorial Media Indonesia, “Kelonggaran Kredit”, http://opini.wordpress.com/tag/ekonomi. 2 Oktober 2010.
Universitas Sumatera Utara

Seiring dengan perkembangan teknologi yang semakin canggih, mengakibatkan modus operandi kejahatan menjadi semakin canggih pula, mulai dari menggunakan telepon genggam hingga menggunakan fasilitas internet. Dapat dikatakan perkembangan teknologi mengakibatkan kejahatan menjadi semakin pesat.
Modus operandi kejahatan seperti ini, hanya dapat dilakukan oleh orangorang yang mempunyai status sosial menengah ke atas dalam masyarakat, bersikap dan bertingkah laku intelektual, sangat tenang, simpatik, dan terpelajar.2 Modus kejahatan seperti ini yang sejak beberapa waktu lalu mulai dikenal dengan istilah kejahatan “kerah putih” atau White Collar Crime. Karakteristik dari White Collar Crime menurut Hazel Croall (terjemahan) adalah:3
1. Tidak kasat mata (low visibility). 2. Sangat kompleks (complexity) 3. Ketidakjelasan pertanggung-jawaban pidana (diffusion of responsibility) 4. Ketidakjelasan korban (diffusion of victims). 5. Aturan hukum yang samar atau tidak jelas (ambiguous criminal law) 6. Sulit dideteksi dan dituntut (weak detection and prosecution).
Dapat dipastikan bahwa pada setiap kejahatan yang dilakukan, si pelaku sedapat mungkin berusaha untuk menghilangkan segala bukti yang dapat
2 Marulak Pardede, Masalah Money Laundering di Indonesia, editor L. Sumartini et.al.(Jakarta: Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Kehakiman dan HAM, 2001) hal. 2.
3 Hazzel Croal (1992), White Collar Crime, dikutip oleh Harkristuti Harkrisnowo, Kriminalisasi Pemutihan Uang (Money Laundering) sebagai bagian dari White Collar Crime, (Makalah disampaikan pada seminar Money Laundering (Pencucian Uang) Ditinjau dari Perspektif Hukum dan Ekonomi, Jakarta, 23 Agustus 2001), hal. 4.
Universitas Sumatera Utara

menyeretnya ke “meja hijau”. Begitu pula yang dilakukan oleh para pelaku kejahatan di bidang perekonomian yang merupakan salah satu bentuk kejahatan kerah putih.
Mereka selalu berusaha untuk menyembunyikan uang hasil kejahatannya agar tidak dapat ditemukan oleh aparat penegak hukum. Segala cara mereka lakukan agar uang tersebut tidak “tercium” sebagai uang haram.
Kegiatan untuk menyembunyikan asal usul uang hasil kejahatan mereka lakukan dengan melakukan “pencucian” terhadap uang tersebut. Hal yang seringkali dilakukan oleh para pelaku kejahatan ini ternyata sulit untuk dibuktikan, dan dikenal dengan istilah money laundering (pencucian uang).
Penegakan hukum Tindak Pidana Pencucian uang berbanding lurus dengan perkembangan ekonomi nasional. Diasumsikan bahwa semakin meningkatnya penegakan hukum TPPU akan berpengaruh positif terhadap perkembangan ekonomi nasional. Dengan meningkatnya penegakan hukum ini, maka kepastian hukum, ketertiban dan keadilan menjadi lebih baik serta tingkat kriminalitaspun menjadi berkurang, dan pada gilirannya stabilitas maupun tingkat kepercayaan masyarakat kepada sistem keuangan menjadi lebih baik. Bagi PJK yang merupakan salah satu komponen dalam sistem keuangan, akan dapat memberikan manfaat maksimal kepada pemegang saham, karyawan, masyarakat dan pemerintah. Bagi pemegang saham dapat memperoleh keuntungan berupa deviden atau capital gain, sedangkan terhadap karyawan dapat meningkatkan penghasilan. Di sisi lain, masyarakat akan memperoleh manfaat antara lain terbukanya lapangan kerja, secara optimal dapat memanfaatkan fasilitas atau layanan lembaga keuangan seperti kredit atau
Universitas Sumatera Utara

pembiayaan dan juga membantu memperlancar kegitan ekonomi lainnya. Sedangkan bagi pemerintah, di samping memperoleh manfaat dari pengumpulan pajak untuk membiayai pembangunan nasional, juga dapat membantu dalam melaksanakan kebijakan moneter.4
Pencucian uang dimasukkan dalam kategori kejahatan, pertama kali dikenal di Amerika Serikat pada tahun 1930-an. Istilah “money laundering” ditujukan pertama kali pada tindakan mafia yang mempergunakan uang hasil kejahatan yang berasal dari pemerasan, penjualan ilegal minuman keras dan perjudian serta pelacuran, membeli perusahaan pencucian pakaian (laundramat). Pembelian ini bertujuan mencampur uang hasil kejahatan dengan bisnis yang bersih, untuk menyamarkannya.5
Al Capone melakukannya pada tahun 1930-an, yang pada waktu itu hanya dianggap sebagai perbuatan penyalahan pajak (tax evasion).6 Baru pada tahun 1986 di AS pencucian uang menjadi suatu perbuatan kriminal yang kemudian diikuti oleh berbagai negara.
Kriminalisasi terhadap pencucian uang telah dilakukan di Indonesia sejak awal tahun 2002 dengan diundangkannya Undang-undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang, yang kemudian diamandemen dengan Undang-undang Nomor 25 Tahun 2003 dan terahir dengan Undang-undang nomor 8 tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.
4 DPR RI, Op.Cit. hal 25 5 Michael A. De Feo, “Depriving International Narcotics Traffickers and Other Organized Criminals of Illegal Proceeds and Combating Money Laundering”, Den. J. Int’l L & Pol’y, vol 18:3, 6 Billy @ Laundryman. U-net.com, 5 August 1998, Bil – 3/27.
Universitas Sumatera Utara

Alasan utama amandemen tersebut adalah sulitnya peraturan hukum dimaksud diterapkan, disamping karena adanya desakan dari The Financial Action Task Force (FATF).7
Sidang Pleno FATF tanggal 17 – 19 Februari 2010 di Abu Dhabi Uni Emirat Arab menempatkan Indonesia bersama 19 negara/yurisdiksi lain dalam kelompok negara/yurisdiksi yang masih memiliki kelemahan strategic, namun dianggap memiliki komitmen yang kuat untuk memperbaiki kelemahan-kelemahan yang ada. Dalam dokumen berjudul: Improving Global AML/CFT Compliance: On-Going Process disebutkan, bahwa kelemahan strategic Indonesia yang perlu segera diperbaiki adalah mengenai kriminalisasi pencucian uang dan pendanaan terorisme, penerapan pembekuan aset teroris serta penerapan instrumen-instrumen terkait dengan Konvensi Internasional Pemberantasan Pendanaan Terorisme Tahun 1999 yang telah diratifikasi dengan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 6 Tahun 2006. 8
Selanjutnya, berdasarkan Surat Presiden FATF tanggal 2 Maret 2010, status Indonesia saat ini adalah dalam proses monitoring ICRG (International Cooperation Review Group). Indonesia diharapkan dapat melaksanakan komitmen sebagaimana
7 Financial Action Task Force (FATF) adalah badan antar-pemerintah yang tujuannya adalah pengembangan dan promosi kebijakan nasional dan internasional untuk memerangi pencucian uang dan pendanaan teroris. Oleh karena itu FATF merupakan badan pembuatan kebijakan yang bekerja untuk menghasilkan kemauan politik yang diperlukan untuk membawa reformasi tentang legislatif dan peraturan di daerah-daerah. FATF telah menerbitkan 40 + 9 Rekomendasi dalam rangka memenuhi tujuan ini. http://www.fatf-gafi.org
8 Yunus Husein, Urgensi Pengesahan Rancangan Undang-Undang Tentang Pencegahan Dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang , (PPATK, 2010 ), hal 9
Universitas Sumatera Utara

telah disampaikan oleh Pemerintah Republik Indonesia melalui surat Menteri Keuangan Republik Indonesia tanggal 8 Pebruari 2010. 9
Untuk mengatasi kelemahan strategic tersebut diatas, FATF meminta Indonesia untuk mengimplementasikan action plan yang telah dibuat sendiri oleh Indonesia antara lain dengan mengesahkan RUU tentang Pencegahan dan Pemberantasan TPPU pada Tahun 2010.
Kejahatan pencucian uang (money laundering) pada mulanya lebih berkaitan dengan kejahatan perdagangan narkoba. Kini kejahatan itu dihubungkan dengan proses atas uang hasil perbuatan kriminal secara umum dalam jumlah besar. Di beberapa negara, termasuk Indonesia, uang hasil korupsi termasuk kategori kriminal, maka pencucian uang dikaitkan pula dengan perbuatan korupsi.10
Pencucian uang telah menjadi mata rantai penting dalam kejahatan. Pelakupelaku kejahatan menyembunyikan hasil kejahatan dalam sistem keuangan atau dalam berbagai bentuk upaya lainnya. Tindakan menyembunyikan hasil kejahatan atau dana-dana yang diperoleh dari tindak pidana dimaksudkan untuk mengaburkan asal usul harta kekayaan11
Pada umumnya, pelaku tindak pidana pencucian uang berusaha agar harta kekayaan hasil tindak pidananya susah ditelusuri oleh aparat penegak hukum
9 ibid 10 NHT Siahaan, Money Laundering & Kejahatan Perbankan , (Jakarta:Jala Permata, 2008), hal 3 11 Ivan Yustiavandana, , Tindak Pidana Pencucian Uang di Pasar Modal, (Jakarta : Ghalia, 2010), hal 2
Universitas Sumatera Utara

sehingga dengan leluasa memanfaatkan harta kekayaan tersebut baik untuk kegiatan yang sah maupun tidak sah.
Penelusuran harta kekayaan hasil tindak pidana pada umumnya dilakukan oleh lembaga keuangan melalui mekanisme baku yang diatur dalam peraturan perundang-undangan. Untuk dapat melakukan hal ini, lembaga keuangan memiliki peranan penting khususnya dalam menerapkan prinsip mengenali Pengguna Jasa dan melaporkan Transaksi tertentu kepada otoritas (financial intelligence unit) sebagai bahan analisis yang untuk selanjutnya disampaikan kepada penyidik untuk proses hukum lebih lanjut.
Berkaitan dengan hal itu, lembaga keuangan bukan hanya berperan dalam membantu penegakan hukum tetapi juga menjaga dirinya dari berbagai risiko yaitu risiko operasional, hukum, terkonsentrasinya Transaksi, dan reputasi karena tidak lagi digunakan sebagai sarana dan sasaran oleh pelaku tindak pidana untuk mencuci uang hasil tindak pidana. Dengan pengelolaan risiko yang baik, lembaga keuangan akan mampu melaksanakan fungsinya secara baik sehingga pada gilirannya sistem keuangan menjadi lebih stabil dan terpercaya.
Perlunya kebijakan formulasi perundang-undangan yang baru di bidang pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang dilatarbelakangi oleh adanya kebutuhan di dalam negeri, yaitu untuk meningkatkan efektifitas penegakan
Universitas Sumatera Utara

hukum, khususnya tindak pidana pencucian uang melalui pendekatan anti pencucian uang (anti-money laundering strategy). 12
Dengan pendekatan anti pencucian uang ini, pengungkapan tindak pidana dan pelakunya dilakukan melalui penelusuran transaksi keuangan atau aliran dana (follow the money). Penelusuran transaksi keuangan atau aliran dana merupakan cara yang paling mudah untuk memastikan terjadinya kejahatan, menemukan pelakunya, dan tempat dimana hasil kejahatan disembunyikan atau disamarkan. Pendekatan ini tidak terlepas dari pemikiran dan keyakinan bahwa hasil kejahatan (proceeds of crime) merupakan life-blood of the crime, artinya hasil kejahatan merupakan “darah” yang menghidupi tindak kejahatan itu sendiri sekaligus merupakan titik terlemah dari mata rantai kejahatan. 13
Dengan pendekatan follow the money ini, selain dapat menelusuri dan menyelamatkan aset hasil kejahatan untuk kepentingan negara, dalam beberapa kasus, aliran dana yang berhubungan dengan suatu transaksi keuangan dapat pula menghubungkan suatu kejahatan dengan pelaku utamanya (intellectual dader), dimana dengan pendekatan konvensional (follow the suspect) hal tersebut sulit untuk dilakukan.
Perjalanan + 8 (delapan) tahun UU Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Republik Indonesia Nomor 25 Tahun 2003, menunjukan adanya beberapa kelemahan
12 Yunus Husein, .Op.Cit. hal 1 13 Ibid
Universitas Sumatera Utara

(loopholes) dalam undang-undang itu sendiri sehingga menghambat efektifitas penegakan hukum melalui pendekatan anti pencucian uang sebagaimana diuraikan diatas. Salah satu kelemahan dimaksud antara lain 14 kriminalisasi perbuatan pencucian uang yang multi interpretatif, banyaknya unsur yang harus dipenuhi atau dibuktikan sehingga menyulitkan dalam hal pembuktian
Kendala legislasi tersebut mengakibatkan tidak maksimalnya pendekatan anti pencucian uang dalam mendukung dan membantu upaya penegakan hukum atas tindak pidana asal (predicate crime) seperti tindak pidana korupsi, penyuapan, narkotika dan psikotropika, tindak pidana ekonomi (perbankan, pasar modal, perasuransian, pajak, kepabeanan, cukai dsb), serta tindak pidana terorisme. 15
Lahirnya Undang – undang No 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian uang adalah untuk memenuhi kepentingan nasional dan menyesuaikan standar internasional. Undang undang ini sebagai pengganti Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2003 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 15 Tahun 2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang.
14 Ibid, hal 4 15 Annotated Money Laundering: Case Reports, (Jakarta : Pustaka Juanda Tigalima & ELSDA Institute, 2008), hal 6
Universitas Sumatera Utara

Materi muatan yang terdapat dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 , antara lain 16 redefinisi pengertian hal yang terkait dengan tindak pidana pencucian uang dan penyempurnaan kriminalisasi tindak pidana pencucian uang.
Sampai dengan akhir bulan Maret 2010, PPATK telah menyampaikan Laporan Hasil Analisis (LHA) kepada penegak hukum sebanyak 1.184 LHA terkait dengan analisi dari 2.442 LTKM. Rinciannya, sebanyak 92% (atau 1094 LHA) diserahkan kepada Kepolisian dan 8% (atau 90 LHA) diberkan kepada Kejaksaan. Berdasarkan hasil analisis yang disampaikan kepada penegak hukum, tindak pidana Korupsi menjadi tindak pidana yang paling banyak yaitu sebanyak 486 HA dengan jumlah LTKM terkait sebanyak 1.030 LTKM. Diikuti oleh tindak pidana penipuan 357 LHA. 17
Dari hasil pemantauan PPATK, sampai dengan akhir tahun 2009, hanya ada 26 (dua puluh enam) putusan terkait tindak pidana pencucian uang atau yang diputuskan oleh pengadilan dengan menggunakan UU-TPPU. Sebagian besar laporan PPATK yang ditindaklanjuti hingga ke pemeriksaan di sidang pengadilan akhirnya diputus dengan menggunakan UU lain terutama KUHP.18
Rumusan kriminalisasi perbuatan pencucian uang dinilai oleh berbagai kalangan baik praktisi maupun akademisi sebagai salah satu penyebab lemahnya penegakan hukum. Rumusan delik pencucian uang tersebut mengandung terlalu
16 Penjelasan UU No 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang
17 Statistik Kepatuhan dan Hasil Analisis , PPATK, April 2010 18 Ibid
Universitas Sumatera Utara

banyak unsur yang harus dipenuhi atau dibuktikan. Selain itu, rumusan tersebut juga terkesan banyak duplikasi yang akhirnya menimbulkan kesulitan dalam hal pembuktian.
Pada UU TPPU nomor 25 Tahun 2003 rumusan delik untuk pelaku TPPU Aktif (Pasal 3) dibagi menjadi 7 (tujuh) jenis delik yang unsurnya hampir sama, sehingga tidak efisien untuk digunakan dalam rumusan surat dakwaan karena Penuntut Umum harus memilih rumusan delik dari huruf a sampai dengan huruf g, sedangkan pada UU No 8 Tahun 2010 hal ini hanya dirumuskan (Pasal 3 UU) dengan unsur yang bersifat alternatif, sehingga Penuntut Umum tidak perlu membuat dakwaan secara subsidier berlapis dari huruf a sampai dengan huruf g.19
Pada UU TPPU yang lalu hanya terdapat 2 delik yang murni merupakan TPPU, yaitu Pasal 3 dan Pasal 6, itupun rumusannya tidak ringkas (memberikan banyak pilihan) dan PU harus menentukan pilihan tersebut secara pasti, padahal fakta sesungghnya baru akan diungkap di persidangan. Sedangkan pada UU No 8 Tahun 2010, dirumuskan ketentuan delik baru yaitu pada Pasal 4 tentang tindakan penyembunyian kepemilikan atas harta kekayaan dari hasil kejahatan. Pasal 5 sebagaimana penyempurnaan Pasal 6 yang dirumuskan dalam 1 pasal dengan unsur delik yang alternatif sifatnya, sehingga akan memudahkan Penuntut Umum untuk menuntaskan penanganan perkara TPPU.20
19 Yunus Husein, Op. Cit hal 9 20 Ibid, hal 10
Universitas Sumatera Utara

Penyempurnaan rumusan delik pencucian uang tersebut tetap mengacu pada
standar internasional seperti Konvensi Wina 1988, Konvensi Palermo 2000, dan
United Nations Model Law on Money Laundering and Proceed of Crime Bill 2003
(UN Model Law).21
Dalam penyidikan tindak pidana pencucian uang belum terdapat kesamaan
persepsi antara polisi dan jaksa nampaknya masih terdapat kendala, misalnya
berkaitan dengan pemaknaan unsur tindak pidana ini. Perbedaan tersebut antara lain
berkaitan dengan tindakan polisi yang harus menyelidiki dan menyidik adanya unsur
objektifinya atau actus area (unsur objektif). Kesulitan polisi terutama untuk mencari
bukti yang berkaitan dengan mens areal dalam tindak pidana pencucian uang
terutama Pasal 3 dan Pasal 6 yaitu knowledge (mengetahui atau patut menduga) dan
21 Dikualifikasikan sebagai “kejahatan serius” sesuai Pasal 2 huruf b Konvensi Palermo 2000 yang bunyinya sebagai berikut: “Serious crime shall mean conduct constituting an offence punishable by a maximum deprivation of liberty of at least four years or a more serious penalty”. United Nations Conventions Againts Transnational Organized Crime, 2000.
Kelompok organisasi kejahatan di Amerika Serikat mengakui bahwa kegiatan pencucian uang merupakan bisnis kriminal yang sangat menguntungkan. Namun untuk membuktikan tindak kejahatan pencucian uang tidaklah mudah dilakukan, sebab dalam kegiatan bisnis tersebut banyak pihak yang terkait yang lazim disebut “criminal class professional money launderers”. Mereka ini terdiri dari berbagai macam profesi mulai dari pegawai dan pengelola bank, akuntan, penasihat hukum, para penegak hukum, otoritas pengawas pasar keuangan, hingga anggota dari lembaga-lembaga resmi lainnya.
Walaupun mereka tidak terlibat dalam kejahatan pencucian uang secara langsung, namun yang bersangkutan ikut aktif membantu melakukan berbagai kegiatan seperti menyembunyikan data atau informasi, melakukan transfer atau pemindahan hasil-hasil kejahatan, melakukan kegiatan administrasi dan sebagainya. Esensi kegiatan pencucian uang bukanlah hal sederhana seperti misalnya hanya ingin menyembunyikan hasil-hasil kejahatannya, tetapi lebih jauh dari itu adalah bagaimana memanfaatkan kembali hasil-hasil kejahatan tersebut melalui berbagai proses yang begitu rumit dan kompleks sehingga akhirnya seakan-akan telah menjadi sumber keuangan yang sah. Penggunaan badan usaha atau lembaga terselubung untuk menyembunyikan hasil-hasil kejahatan tersebut di bank-bank luar negeri dan mendaur-ulangnya melalui sistem keuangan untuk berspekulasi dalam bentuk uang atau barang merupakan pilihan atau metode yang lazim digunakan oleh para pencuci uang. Lihat Rijanto Sastroatmodjo, Memerangi Kegiatan Pencucian Uang dan Pemdanaan/Pembiayaan Terorisme, (Juli 2004, tanpa penerbit), hal. 72-73
Universitas Sumatera Utara

intended (bermaksud). Kedua unsur tersebut berkaitan dengan unsur terdakwa mengetahui bahwa dana tersebut berasal dari kejahatan dan terdakwa mengetahui tentang atau maksud untuk melakukan transaksi. Pembuktian ini pun sulit, mengetahui atau cukup menduga apalagi bermaksud untuk menyembunyikan hasil kejahatan, benar-benar harus didukung berbagai faktor.
Sistem pembuktian adalah pengaturan tentang macam-macam alat bukti yang boleh dipergunakan, penguraian alat bukti dan dengan cara-cara bagaimana alat-alat bukti itu dipergunakan dan cara bagaimana hakim harus membentuk keyakinannya.22 Pembuktian tentang benar tidaknya terdakwa melakukan perbuatan yang didakwakan, merupakan bagian yang terpenting acara pidana. Dalam hal ini pun hak asasi manusia dipertaruhkan. Bagaimana akibatnya jika seseorang yang didakwakan dinyatakan terbukti melakukan perbuatan yang didakwakan berdasarkan alat bukti yang ada disertai keyakinan hakim, padahal tidak benar. Untuk inilah maka hukum acara pidana bertujuan untuk mencari kebenaran materiil, berbeda dengan hukum acara perdata yang cukup puas dengan kebenaran formal.
Setiap perbuatan kejahatan dalam kegiatannya apabila dilihat dari rumusan delik dalam hukum pidana maka perbuatan itu harus dapat dibuktikan, dalam rumusan delik menunjukan apa yang harus dibuktikan menurut hukum pidana, semua
22 Hari Sasangka dan Lily Rosita, Hukum Pembuktian dalam Perkara Pidana, Mandar Maju, Bandung. 2003. Hal. 11
Universitas Sumatera Utara

yang tercantum dalam rumusan delik harus dibuktikan menurut aturan hukum pidana.23
Masing – masing unsur berdiri sendiri dan harus dibuktikan, berdiri sendiri diartikan antara unsur yang satu dengan yang lain tidak ada yang sama, sejenis atau mempunyai pengertian yang mirip atau sama artinya sehingga tidak bisa dikelompokkan.
Penelitian ini penting untuk dilakukan untuk dapat melakukan konstruksi hukum terhadap unsur unsur tindak pidana pencucian uang yang dirumuskan dalam UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. Konstruksi hukum yang dirumuskan nantinya dapat menjadi referensi bagi penegakan hukum tindak pidana pencucian uang.
B. Permasalahan 1. Bagaimanakah pengaturan unsur-unsur pokok tindak pidana pencucian uang dalam UU Nomor. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang ? 2. Bagaimanakah proses pembuktian unsur-unsur tindak pidana pencucian uang dalam UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang ?
23 Tb. Imran S, Hukum Pembuktian Pencucia Uang (Money Laundering), (Bandung : MQS Publishing & Ayyccs Group:2006), hal 55
Universitas Sumatera Utara

3. Bagaimanakah hambatan pembuktian unsur-unsur tindak pidana pencucian uang dalam UU Nomor 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang ?
C. Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaturan unsur unsur pokok tindak pidana pencucian uang dalam UU No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang . 2. Untuk mengetahui dan menganalisis proses pembuktian unsur unsur tindak pidana pencucian uang dalam UU No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. 3. Untuk mengetahui dan menganalisis hambatan pembuktian unsur unsur tindak pidana pencucian uang dalam UU No. 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.
D. Kegunaan Penelitian Ada dua kegunaan yang dapat diperoleh dalam penelitian ini yaitu bersifat teoritis dan bersifat praktis. a. Bersifat teoritis Mengharapkan bahwa hasil penelitian ini dapat menyumbangkan pemikiran di bidang hukum yang akan mengembangkan disiplin ilmu hukum, khususnya
Universitas Sumatera Utara

dalam bidang hukum pidana mengenai tindak pidana pencucian uang . Serta lebih khusus lagi memberikan masukan terhadap kalangan akademisi dan praktisi dalam rangka pencegahan dan pemberantasan tindak pidana pencucian uang dalam merumuskan suatu perbuatan merupakan tindak pidana pencucian uang.
b. Bersifat Praktis Mengharapkan bahwa hasil penelitian ini dapat dimanfaatkan/diterapkan oleh pengambil kebijakan dan para pelaksana/penegak hukum , khususnya penegakan hukum tindak pidana pencucian uang, dengan menerapkan konsepkonsep kebijakan hukum pidana dalam pemberantasan tindak pidana pencucian uang
E. Keaslian Penelitian Berdasarkan hasil penelusuran di Program Pasca Sarjana USU terdapat 10
judul yang membahas tindak pidana pencucian uang, namun tidak ada yang membahas unsur unsur tindak pidana pencucian uang . Selain itu juga dikarenakan masih barunya disahkan UU No 8 Tahun 2010 tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang.
Dengan demikian mengacu kepada alasan tersebut maka dapat disimpulkan bahwa penelitian ini adalah asli dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara ilmiah.
Universitas Sumatera Utara

F. Kerangka Teori dan Konsep 1. Kerangka Teori Hukum merupakan suatu sistem yang dapat berperan dengan baik dan tidak pasif dimana hukum mampu dipakai di tengah masyarakat, jika instrumen pelaksanaannya dilengkapi dengan kewenangan-kewenangan dalam bidang penegakan hukum. L.M. Friedman,24 bahwa hukum tersusun dari sub sistem hukum yang berupa substansi hukum, struktur hukum, dan budaya hukum. Unsur sistem hukum ini sangat menentukan apakah suatu sistem hukum dapat berjalan dengan baik atau tidak. Substansi hukum menyangkut segala aspek-aspek pengaturan hukum atau peraturan perundang-undangan, struktur hukum lebih menekankan kepada kinerja aparatur hukum serta sarana dan prasarana hukum itu sendiri, sementara budaya hukum menyangkut perilaku masyarakatnya. R. Subekti,25 menjelaskan bahwa sistem hukum adalah suatu susunan atau tatanan yang teratur, suatu keseluruhan yang terdiri atas bagian-bagian yang berkaitan satu sama lain, tersusun menurut suatu rencana atau pola, hasil dari suatu pemikiran untuk mencapai suatu tujuan. Sementara itu, Sudikno Mertokusumo26 mengatakan bahwa sistem hukum adalah suatu kesatuan
24 L.M. Friedman, The Legal System; A Social Science Persfective, (New York : Russel Sage Foundation, 1975), hal. 11.
25 H. Ridwan Syahrani, Rangkuman Intisari Ilmu Hukum, (Bandung: Citra Aditya Bakti, Bandung, 1999), hal. 169.
26 Ibid.
Universitas Sumatera Utara

yang terdiri dari unsur-unsur yang mempunyai interaksi satu sama lain dan bekerja sama untuk mencapai tujuan kesatuan tersebut.
Lili Rasjidi dan I.B. Wyasa Putra,27 lebih jauh mengatakan bahwa pada hakekatnya sistem hukum merupakan suatu kesatuan sistem besar yang tersusun atas sub-sub sistem yang kecil, yaitu sub sistem pendidikan, pembentukan hukum, penerapan hukum, dan lain-lain, yang hakekatnya merupakan sistem tersendiri pula.
Hal ini menunjukkan sistem hukum sebagai suatu kompleksitas sistem yang membutuhkan kecermatan yang tajam untuk memahami keutuhan prosesnya.
Hukum dan penegakan hukum, menurut Soerjono Soekanto,28 merupakan bagian faktor-faktor penegakan hukum yang tidak bisa diabaikan karena jika diabaikan akan menyebabkan tidak tercapainya penegakan hukum yang diharapkan.
Penelitian terhadap Analisis Yuridis Tentang Penentuan Unsur Unsur Tindak Pidana Pencucian Uang (Money Laundering) Dalam UU No. 8 Tahun 2010 akan menggunakan teori sistem diatas dalam membahas substansi hukum Tindak Pidana Pencucian Uang (Money Laundering) Dalam UU No. 8 Tahun 2010 yaitu dalam membahas permasalahan yang diajukan.
27 Lili Rasjidi dan I.B. Wyasa Putra, Hukum Sebagai Suatu Sistem, (Bandung: Mandar Maju, 2003), hal. 151

Dokumen yang terkait

Tinjauan Yuridis Mengenai Peranan Perbankan Dalam Mencegah Tindak Pidana Pencucian Uang (Money Laundering)

0 90 94

Analisis Yuridis Tentang Penentuan Unsur-Unsur Tindak Pidana Pencucian Uang (Money Laundering) Dalam UU No. 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang

2 64 142

Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Perpajakan Melalui Penerapan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang

1 67 151

Tindak Pidana Pencucian Uang Yang Dilakukan Oleh Korporasi Menurut UU No. 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang

2 76 117

Pembuktian Terbalik Dalam Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi Dan Undang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang

3 64 102

Prinsip Akuntabilitas dan Transparansi Yayasan Dalam Rangka Mencegah Tindak Pidana Pencucian Uang (Money Laundering)

1 48 103

Kegagalan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang (Money Laundering) Di Indonesia Ditinjau Dari Sistem Pembuktian

0 33 119

Kewenangan Komisi Pemberantasan Korupsi Dalam Penuntutan Tindak Pidana Pencucian Uang

0 4 87

BAB II PENGATURAN TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG - Tindak Pidana Pencucian Uang Yang Dilakukan Oleh Korporasi Menurut UU No. 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang

0 0 35

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - Tindak Pidana Pencucian Uang Yang Dilakukan Oleh Korporasi Menurut UU No. 8 Tahun 2010 Tentang Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang

0 0 15

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

69 1655 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 429 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

27 393 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

8 241 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 351 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 502 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

22 444 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

9 284 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

13 453 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

23 524 23