Analisis Kontrastif Kata Bantu Bilangan dalam Bahasa Mandarin dan Bahasa Indonesia.

ANALISIS KONTRASTIF KATA BANTU BILANGAN DALAM BAHASA MANDARIN DAN BAHASA INDONESIA 汉印量词对比分析
SKRIPSI
Disusun oleh : CHERRY CERIANTI
070710001
PROGRAM STUDI SASTRA CINA FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011
Universitas Sumatera Utara

ANALISIS KONTRASTIF KATA BANTU BILANGAN ANTARA BAHASA MANDARIN DAN BAHASA INDONESIA

SKRIPSI
Skripsi ini diajukan kepada Panitia Ujian Fakultas Ilmu Budaya universitas Sumatera Utara untuk melengkapi salah satu syarat ujian Sarjana dalam Bidang Ilmu Sastra Cina.
Oleh:

Cherry Cerianti 070710001

Pembimbing I

Pembimbing II

Dra. Nur Cahaya Bangun, M. Si NIP: 19600711 198903 23 001

Wu Qiao Ping, M. A

Universitas Sumatera Utara Fakultas Ilmu Budaya
Program Studi S-1 Sastra Cina Medan 2011
Universitas Sumatera Utara

PENGESAHAN
Diterima oleh:
Panitia Ujian Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara untuk melengkapi salah satu syarat ujian Sarjana dalam Bidang Ilmu Sastra Cina

Pada Tanggal Hari

: Pukul 8.30 – 11.30 wib : 13 Juni 2011 : Senin

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara Dekan

Dr. H. Syahron Lubis, M.A NIP: 196201161987031003
Panitia Ujian No 1. Dr. T. Thyrhaya Zein, M.A 2. Dra. Nur Cahaya Bangun, M.Si 3. Wu Qiao Ping, M. A 4. Liu Jin Feng, M. A

Tanda Tangan () () () ()

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT
The title of this thesis is “ANALISIS KONTRASTIF KATA BANTU BILANGAN DALAM BAHASA MANDARIN DAN BAHASA INDONESIA”. This thesis is analyzing the similarities and differences of measure word in Chinese and Indonesian. The purpose of this research is to find the similarities and differences of measure word in Chinese and Indonesian, to easy the students in learning language. The methodology used in this paper is descriptive method. The writer use Contrastive Analysis as a theory to analyze the similarities and differences of measure words between the both languages.The result found that there are three similarities of measure word in Chinese and Indonesian, such as measure word in Chinese is usually noun-measure word, as well as in Indonesian. Measure words in both languages have the same pattern reduplication “numeral A-numeral A”. Measure word in both languages that has noun in measure word; don’t have to use measure word again. And there are eight kinds of differences of measure word found in Chinese and Indonesian. Verb-measure word. Numeral “satu” can be abridged to “se” and combine with measure word. Measure word in Chinese is compulsory to use. Comparison between 些 and beberapa. Chinese measure word usually use with pronoun bookmark. The different pattern of reduplication “AA”, “numeral AA” in Chinese and “seA demi seA”, “ber A-A” in Indonesian. Insert the adjective between numeral and measure word. In Chinese there are some nouns that can go before measure word and have a plural nouns meaning. Key words: Analisis Kontrastif; Kata Bantu Bilangan
Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas segala anugerah dan kesempatan yang telah diberikan oleh-Nya kepada penulis mulai dari masa perkuliahan sampai dengan tahap penyelesaian tugas akhir di Fakultas Ilmu Budaya Departemen Sastra Cina Universitas Sumatera Utara.
Tugas Akhir ini diberi judul “Analisis Kontrastif Kata Bantu Bilangan dalam Bahasa Mandarin dan Bahasa Indonesia”. Hal pertama yang membuat penulis ingin mengangkat tentang topik ini adalah dikarenakan banyak murid Indonesia yang menemukan kesulitan dalam belajar kata bantu bilangan dalam bahasa Mandarin, yang menyebabkan penggunaan yang salah ataupun penerjemahan kata yang tak tepat. Selain itu, penulis juga berkeinginan besar untuk lebih mengerti mengenai perbedaan ataupun persamaan yang terdapat antara kata bantu bilangan bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia.
Sungguh suatu hal yang luar biasa dimana akhirnya tugas akhir ini dapat diselesaikan dengan baik dan tepat pada waktu yang diharapkan. Tugas akhir adalah merupakan salah satu unsur yang sangat penting sebagai pemenuhan nilai-nilai tugas dalam mencapai gelar Sarjana Humaniora dari Fakultas Sastra Departemen Sastra China di universitas ataupun perguruan tinggi manapun di seluruh Nusantara, termasuk pula di Universitas Sumatera Utara.
Pada kesempatan yang berbahagia ini, penulis tidak lupa ingin menghaturkan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada : 1. Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara, atas kesempatan dan waktu
yang telah diberikan kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan studi Strata-I di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara dengan baik.
Universitas Sumatera Utara

2. Dr. T.Thyrhaya Zein, M.A. selaku Ketua Departemen Sastra China dan dengan selalu member petunjuk kepada penulis semasa perkuliahan.
3. Drs. Nur Cahaya Bangun, M.Si selaku Dosen Pembimbing I atas bimbingan, nasehat dan waktu yang diberikan untuk penulis mulai dari masa perkuliahan sampai saat ini.
4. Wu Qiao Ping, M.A. selaku Dosen Pembimbing II, atas bimbingan, nasehat dan waktu yang diberikan untuk penulis mulai dari masa perkuliahan sampai saat ini.
5. Liu Jin Feng, M.A. yang selalu dengan sabar dan rendah hati dalam membimbing penulis serta memberikan arahan, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
6. Bapak / Ibu Dosen Fakultas Ilmu Budaya Departemen Program Studi Sastra Cina Universitas Sumatera Utara, tanpa bisa penulis sebut lagi satu per satu, dengan segala kerendahan hati dan tidak mengurangi rasa hormat bagi beliau-beliau, atas jasajasanya dalam mengasuh dan memberikan ilmu dan bimbingan serta nasehat yang sangat berarti kepada penulis mulai dari semester I sampai dengan sekarang ini.
7. Kedua orang tua penulis, yang sangat penulis cintai dan sayangi, serta juga kepada abang dan adik yang penulis sayangi.
8. Teman-teman yang memberikan dukungan, doa, saran dan idenya 9. Dan segenap pihak yang belum penulis sebut di sini atas jasa-jasanya dalam
mendukung dan membantu penulis dari segi apapun, sehingga tugas akhir ini dapat diselesaikan dengan baik.
Selain itu, penulis sebelum dan sesudahnya juga memohonkan maaf atas segala kesilapan-kesilapan dan mungkin kesalahan atas perbuatan maupun ucapan yang telah penulis lakukan. Seperti kata pepatah “Tiada Gading yang Tak Retak”, begitu pula penulis yang hanyalah manusia biasa yang tentunya tidak akan luput dari kesilapan dan kesalahan.
Tugas Akhir yang telah penulis selesaikan dengan segenap hati dan pemikiran ini tentunya masih perlu untuk diperbaiki bilamana di kemudian hari terdapat kekurangan.
iii
Universitas Sumatera Utara

Untuk itu, penulis dengan tangan terbuka akan menerima segala masukan maupun saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan skripsi ini.
Akhir kata, atas segala perhatian yang telah diberikan untuk hasil karya penulis ini, sekali lagi penulis mengucapkan terima kasih. Semoga karya ini sedikit banyak juga dapat bermanfaat bagi kita semua.
Medan, 30 Juni 2011 Hormat Penulis,
CHERRY CERIANTI NIM. 070710001
iv
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
ABSTRAK………………………………………...…………………………………..i KATA PENGANTAR…………………………………………...…………………..ii DAFTAR ISI…………………………………………………………………………v BAB I. PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang………………..………………………….……..…………………1 1.2 Rumusan Masalah…………………..…………...……..…………………...……..4 1.3 Tujuan Penelitian……………………………………..…...………………………4 1.4 Manfaat Penelitian………………………………...…....…..……………………..4 1.5 Pembatasan Masalah………………..…………..........…….……………………...5 BAB II. KONSEP, LANDASAN TEORI, TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tinjauan Pustaka…………………………………………………...……………...6 2.2 Konsep…………………………………………………………………….………7
2.2.1 Analisis Kontrastif……………………………………...………..……………7 2.2.2 Kata……………………………………………………………......………….8 2.2.3 Jenis Kata…………………………………………………………….………..9
2.2.3.1 Jenis Kata dalam Bahasa Mandarin………………….………….………9 2.2.3.2 Jenis Kata dalam Bahasa Indonesia…………………………...……..11 2.2.4 Kata Bantu Bilangan………………………………………………..……….13 2.2.4.1 Kata Bantu Bilangan dalam Bahasa Mandarin…………….……..……13 2.2.4.2 Kata Bantu Bilangan dalam Bahasa Indonesia…………….…………14 2.3 Landasan Teori……………………………………………………….………….15
Universitas Sumatera Utara

BAB III. METODE PENELITIAN 3.1 Metode Penelitian………………………………………………………..………17 3.2 Teknik Pengumpulan Data…………………………….……….………………..17 3.3 Teknik Analisis Data……………………………………...……………………..18 3.4 Data dan Sumber Data………………………………………………...…………18 BAB IV. PEMBAHASAN 4.1 Kata Bantu Bilangan dalam Bahasa Mandarin………………………..…………20
4.1.1 Jenis-Jenis Kata Bantu Bilangan dalam Bahasa Mandarin ……………….20 4.1.2 Ciri-Ciri Kata Bantu Bilangan dalam Bahasa Mandarin……………….…31 4.2 Kata Bantu Bilangan dalam Bahasa Indonesia …………………………………35 4.2.1 Jenis-Jenis Kata Bantu Bilangan dalam Bahasa Indonesia……………..…35 4.2.2 Ciri-Ciri Kata Bantu Bilangan dalam Bahasa Indonesia………………..…37 4.3 Persamaan dan Perbedaan Kata Bantu Bilangan Bahasa Mandarin dan Bahasa Indonesia………………………………………...40 4.3.1Persamaan Kata Bantu Bilangan Bahasa Mandarin dan Bahasa Indonesia..40 4.3.2 Perbedaan Kata Bantu Bilangan Bahasa Mandarin dan Bahasa Indonesia..42 BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan………………………………………………………………………55 5.2 Saran…………………………………………………………….……………….57 DAFTAR PUSTAKA………………………………………………..……………..vii
vi
Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT
The title of this thesis is “ANALISIS KONTRASTIF KATA BANTU BILANGAN DALAM BAHASA MANDARIN DAN BAHASA INDONESIA”. This thesis is analyzing the similarities and differences of measure word in Chinese and Indonesian. The purpose of this research is to find the similarities and differences of measure word in Chinese and Indonesian, to easy the students in learning language. The methodology used in this paper is descriptive method. The writer use Contrastive Analysis as a theory to analyze the similarities and differences of measure words between the both languages.The result found that there are three similarities of measure word in Chinese and Indonesian, such as measure word in Chinese is usually noun-measure word, as well as in Indonesian. Measure words in both languages have the same pattern reduplication “numeral A-numeral A”. Measure word in both languages that has noun in measure word; don’t have to use measure word again. And there are eight kinds of differences of measure word found in Chinese and Indonesian. Verb-measure word. Numeral “satu” can be abridged to “se” and combine with measure word. Measure word in Chinese is compulsory to use. Comparison between 些 and beberapa. Chinese measure word usually use with pronoun bookmark. The different pattern of reduplication “AA”, “numeral AA” in Chinese and “seA demi seA”, “ber A-A” in Indonesian. Insert the adjective between numeral and measure word. In Chinese there are some nouns that can go before measure word and have a plural nouns meaning. Key words: Analisis Kontrastif; Kata Bantu Bilangan
Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penelitian
Bahasa adalah alat komunikasi antar anggota masyarakat berupa lambang bunyi suara yang dihasilkan oleh alat ucap manusia (Daniel, 1986: 34).
Mengingat betapa pentingnya peranan bahasa baik sebagai sarana komunikasi, sarana integrasi dan adaptasi, maupun yang paling penting adalah sebagai sarana untuk memahami orang lain, maka banyak orang yang mempelajari bahasa dari negara-negara lain atau yang sering disebut sebagai bahasa asing. Bahasa yang biasanya ingin dipelajari oleh seseorang adalah bahasa dari negara maju ataupun negara yang mempunyai pengaruh dalam dunia internasional, salah satunya Negara Cina dengan bahasa Mandarinnya.
Perkembangan perekonomian Cina yang cepat dan mengglobal membuat banyak negara-negara lain sadar akan pentingnya belajar bahasa Mandarin sebagai dasar berkomunikasi. Di Indonesia bahasa Mandarin berkembang pesat. Di manamana orang bicara bahasa Mandarin. Tempat-tempat kursus didirikan di banyak kota besar di Indonesia. Tidak lama kemudian banyak Universitas mendirikan jurusan bahasa Mandarin, seperti Universitas Sumatera Utara Fakultas Ilmu Budaya Jurusan Sastra Cina dan bahkan sekolah-sekolah menengah juga memasukkan bahasa Mandarin dalam kurikulum mereka.
Bahasa Mandarin adalah bagian dari rumpun bahasa Sino-Tibet. Bahasa Mandarin adalah lambang sosial yang ditandai oleh satu sistem tulisan yang mengikat
Universitas Sumatera Utara

jutaan manusia yang terdiri dari berbagai suku bangsa dengan berbagai bahasa yang cukup jauh perbedaannya. Bahasa tertulis Mandarin menggunakan aksara.
Karya tulis ini akan menganalisis perbedaan kata bantu bilangan antara Bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia. Oleh karena,Bahasa Mandarin dan Bahsa Indonesia berasal dari rumpun bahasa yang berbeda, maka analisis yang digunakan adalah Analisis Kontrastif. Sesuai degan yang dikatakan Guntur (1987: 226) sebagai berikut,”... Linguistik Kontrastif (Contrastive Linguistics) adalah ilmu bahasa yang meneliti perbedaan-perbedaan, ketidaksamaan yang terdapat pada dua bahasa atau lebih.”
Dengan demikian, perbedaan dan persamaan dari dua bahasa tersebut, baik dalam tatabahasanya maupun aspek-aspek lain diharapkan dapat menjadi pembelajaran bagi orang-orang yang ingin mempelajari bahasa Mandarin.
Pengucapan bahasa Mandarin yang unik, tata bahasa yang berbeda maupun tulisan yang berbeda dengan bahasa Indonesia, membuat bahasa Mandarin menjadi bahasa yang termasuk rumit untuk dipelajari. Kata bantu bilangan bahasa Mandarin yang menjadi bagian dari tata bahasa merupakan salah satu hal yang cukup sulit untuk dipelajari dan dipahami. Berikut adalah hal-hal yang menyebabkan terjadinya kesulitan-kesulitan tersebut, yaitu:
Pertama, kata bantu bilangan bahasa Mandarin terdiri dari kata benda-kata bantu bilangan dan kata kerja- kata bantu bilangan. Sedangkan kata bantu bilangan dalam bahasa Indonesia hanya berupa kata benda-kata bantu bilangan.
Kedua, penggunaan kata bilangan dalam bahasa Mandarin tidak menggunakan penyingkatan, sedangkan dalam bahasa Indonesia, kata bilangan “satu” dapat disingkat menjadi “se” dan dilekatkan pada kata bantu bilangan sehingga menjadi satu morfem.
2
Universitas Sumatera Utara

Ketiga, penggunaan kata bantu bilangan dalam bahasa Mandarin harus digunakan pada kata bilangan atau kata ganti penunjuk. Berbeda dengan bahasa Indonesia secara lisan, kata bantu bilangan dapat ditiadakan atau tidak disebut. Namun, dalam penulisan harus tetap tertulis. Ironisnya, kini kecenderungan untuk meniadakan kata bantu bilangan sering dilakukan.
Keempat, kata bantu bilangan dalam bahasa Mandarin tidak dapat berdiri sendiri, oleh karena itu biasanya kata bantu bilangan digunakan secara bersamaan dengan kata ganti penunjuk ataupun kata bilangan. Dalam bahasa Indonesia, kata bantu bilangan tidak digunakan bersamaan dengan kata ganti penunjuk.
Kelima, kata bantu bilangan dalam bahasa Mandarin bisa diulang (reduplikasi), begitu juga dengan kata bantu bilangan dalam bahasa Indonesia, namun pola reduplikasi antara bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia , berbeda.
Keenam, dalam bahasa Mandarin, antara kata bilangan dan kata bantu bilangan dapat disisipi kata sifat, sedangkan dalam bahasa Indonesia kata bilangan dan kata bantu bilangan tidak dapat dipisahkan.
Ketujuh, dalam bahasa Mandarin, ada beberapa kata benda yang penggunaannya dapat mendahului kata bantu bilangan dengan membentuk satu kesatuan yang memiliki arti jamak. Sedangkan dalam bahasa Indonesia tidak memiliki ciri fungsi seperti ini.
Dengan demikian, perbedaan dan persamaan kata bantu bilangan antara kedua bahasa tersebut menjadi penting untuk dipahami dan dipelajari dengan baik sebagai pembelajar yang mempelajari bahasa Mandarin sebagai bahasa asing, akan lebih mudah.
Perbedaan kata bantu bilangan antara kedua bahasa tersebut merupakan suatu hal yang cukup menarik dan layak untuk dijadikan topik penelitian. Dengan kata lain,
3
Universitas Sumatera Utara

penulis tertarik untuk meneliti perbedaan dan persamaan antara kata bantu bilangan dalam kedua bahasa tersebut, sehingga mengangkat judul penelitian : “ Analisis Kontrastif Kata Bantu Bilangan dalam Bahasa Mandarin dan Bahasa Indonesia.”
1.2 Rumusan Masalah Penelitian Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan pada
pendahuluan di atas, masalah penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Bagaimana persamaan kata bantu bilangan bahasa Mandarin dan Bahasa Indonesia? 2. Bagaimana perbedaan kata bantu bilangan bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia?
1.3 Tujuan Penelitian Sesuai dengan perumusan masalah, maka tujuan analisis ini adalah sbb:
1. Untuk mengetahui persamaan kata bantu bilangan bahasa Mandarin dan Bahasa Indonesia.
2. Untuk mengetahui perbedaan kata bantu bilangan bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia.
1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Secara Teoritis
4
Universitas Sumatera Utara

• Setelah mengetahui persamaan dan perbedaan antara kata bantu bilangan bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia, khususnya oleh pengguna kata bantu bilangan, maka diharapkan para pelajar bahasa asing (Mandarin) akan lebih mudah
• Dapat menambah pengetahuan dalam bidang linguistik bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia.
1.4.2 Secara Praktis • Memberikan sumbangan pemikiran sebagai referensi untuk mengembangkan penulisan yang lebih mendalam di masa yang akan datang. • Dapat membantu dalam pengajaran bahasa Indonesia untuk orang China, atau pengajaran bahasa Mandarin untuk orang Indonesia
1.5 Pembatasan Masalah
Berdasarkan uraian penjelasan diatas,maka ruang lingkup yang akan dibahas dalam tugas akhir yang berjudul: “Analisis Kontrastif Kata Bantu Bilangan dalam Bahasa Mandarin dan Bahasa Indonesia” adalah sebagai berikut:
1. Memaparkan persamaan dan perbedaan jenis kata bantu bilangan dalam bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia.
2. Memaparkan persamaan dan perbedaan ciri-ciri kata bantu bilangan dalam bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia.
3. Jenis dan Ciri-ciri kata bantu bilangan tersebut akan dilihat persamaan dan perbedaan melalui contoh-contoh dalam kalimat
5
Universitas Sumatera Utara

BAB II TINJAUAN PUSTAKA, KONSEP DAN LANDASAN TEORI
2.1 Tinjauan Pustaka Wang Xiao Ling, jurnal (2001) :Perbandingan kata bantu bilangan dalam
bahasa Mandarin dan bahasa Inggris. Jurnal ini membahas tentang pengontrasan jenis-jenis kata bantu bilangan dan ciri-ciri kata bantu bilangan
Liu Jing Jing, Zhang Chang Liang, jurnal (2007) : Perbandingan kata bantu bilangan antara bahasa Mandarin dan bahasa Inggris. Jurnal ini membahas tentang penjabaran perbedaan jenis kata bantu bilangan dan ciri-ciri kata bantu bilangan.
Miao Tao, jurnal (2010): Pengajaran kata bantu bilangan bahasa Mandarin terhadap bahasa lain. Jurnal ini membahas tentang penggunaan kata bantu bilangan bahasa China dan perbedaan kata bantu bilangan terhadap dua bahasa dengan mempertimbangkan perbedaan budaya.
6
Universitas Sumatera Utara

2.2 Konsep Konsep menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2007:588) adalah gambaran
mental dari suatu objek, proses ataupun yang ada di luar bahasa, yang digunakan oleh akal budi untuk memahami hal-hal lain. 2.2.1 Pengertian Analisis Kontrastif
Analisis Kontrastif sering dipersamakan dengan istilah Linguistik Kontrastif (Hamied,1987). Pranomo (1996:42) menyatakan bahwa, “ Linguistik Kontrastif adalah suatu cabang ilmu bahasa yang tugasnya membandingkan secara sinkronis dua bahasa sedemikian rupa sehingga kemiripan dan perbedaan kedua bahasa itu bisa dilihat”. Hal ini sejalan dengan pengertian Linguistik kontrastif menurut Ridwan (1998:8) yang menyatakan bahwa , “Linguistik kontrastif adalah suatu metode penganalisisan linguistik yang berusaha mendeskripsikan, membuktikan, dan menguraikan perbedaan atau persamaan aspek-aspek kebahasaan dari dua bahasa atau lebih yang dibandingkan. Bahasa-bahasa yang dibandingkan disebut bahasabersentuhan (“language-in-contact”).
Mengacu pada beberapa pendapat diatas, maka Analisis kontrastif dapat diartikan sebagai ilmu bahasa yang meneliti perbedaan-perbedaan, ketidaksamaanketidaksamaan dan persamaan-persamaan yang terdapat pada dua bahasa atau lebih yang dibandingkan.
Parera (1986: 25) mengatakan bahwa: “Linguistik kontrastif membandingkan dua bahasa yang bersifat sezaman. Ia dapat pula disebut linguistik komparatif sinkronis. Umpamanya, orang membandingkan bahasa Indonesia dan bahasa Inggris demi kepentingan pengajaran bahasa. Sedangkan Linguistik Historis komparatif membandingkan dua bahasa secara diakronis, dari satu zaman ke zaman. Linguistik Historis komparatif bertujuan mengelompokkan bahasa-bahasa atas rumpun-rumpun
7
Universitas Sumatera Utara

dan berusaha menemukan sebuah bahasa purba/ proto language yang menurunkan
bahasa-bahasa tersebut. Juga Linguistik Historis komparatif menentukan arah
penyebaran bahasa-bahasa”. Hal ini sejalan dengan pendapat Ridwan (1998:17) yang
mengatakan bahwa,
“Analisis atau Linguistik komparatif mempunyai beda dan persamaan dengan analisis atau linguistik kontrastif. Namun keduanya saling mendukung. Analisis atau linguistik kontrastif akan lebih kuat dan mendalam apabila didukung data yang diperoleh melalui studi komparatif. Analisis komparatif mengacu pada kemiripan(“resemblances”) dan sumber atau asal (“origins”) bahasa tertentu. Sedangkan, analisis kontrastif mengacu pada korespondensi antara aspek-aspek dalam bahasa-bahasa yang dibandingkan. Sifat-sifat keuniversalan kebahasaan diperlukan untuk analisis komparatif maupun kontrastif. Aspek keterkaitan historis diperlukan untuk analisis komparatif tetapi kurang diperlukan untuk analisis kontrastif.” Berdasarkan beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa analisis
kontrastif adalah ilmu bahasa yang meneliti perbedaan-perbedaan, ketidaksamaan
dan persamaan yang terdapat pada pola dua bahasa atau lebih yang tidak serumpun.
Sedangkan Linguistik komparatif adalah ilmu bahasa yang meneliti persamaan dan
perbedaan dengan cara membandingkan dua bahasa atau lebih yang serumpun.
Misalnya komparatif bahasa daerah dengan bahasa Indonesia.
2.2.2 Kata
Menurut Guntur (1985: 6) kata adalah bentuk bebas yang paling kecil, yaitu
kesatuan terkecil yang dapat diucapkan secara berdikari . kata ialah satuan bebas
yang paling kecil, atau dengan kata lain, setiap satuan bebas merupakan kata. kata
terdiri dari satu atau beberapa morfem.
Menurut Tarigan (1985: 6) kata adalah bentuk bebas yang paling kecil, yaitu
kesatuan terkecil yang dapat diucapkan secara berdikari . kata ialah satuan bebas
yang paling kecil, atau dengan kata lain, setiap satuan bebas merupakan kata. kata
terdiri dari satu atau beberapa morfem.
8
Universitas Sumatera Utara

Menurut Suparto (2003:21) kata adalah bagian terkecil dari bahasa yang mempunyai arti dan dapat berdiri sendiri. Kata adalah dasar dari pembentukan
wǒ d ì d ì zài běijīng xuéx í hànyǔ
kalimat. Misalnya kalimat“我| |在|北 京 | 学 习| 汉 语” 6 kata
Berdasarkan pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa kata adalah satuan bebas yang paling kecil yang terdiri dari satu atau beberapa morfem.
2.2.3 Jenis Kata 2.2.3.1 Jenis Kata dalam Bahasa Mandarin
Menurut Xin (2005: iv-v) pembagian kata terdiri dari sepuluh jenis kata, yaitu:
(1) Kata Benda Kata benda adalah kata yang menyatakan orang, benda, waktu, dan tempat.
(2) Kata Bilangan dan Kata Bantu Bilangan
Kata bilangan adalah kata yang menyatakan angka-angka. Kata bantu bilangan adalah kata yang menyatakan satuan kegiatan atau benda. Kata bantu bilangan bahasa Mandarin seringkali digunakan bersama-sama. (3) Kata Kerja
Kata kerja adalah menyatakan tindakan, tingkah laku atau perubahan dari tindakan yang dilakukan orang atau benda. (4) Kata Sifat
Kata sifat adalah kata yang mendeskripsikan bentuk, kualitas, gerakan, tingkah laku, perubahan suatu benda atau orang. (5) Kata Keterangan
9
Universitas Sumatera Utara

Kata keterangan adalah kata yang menyatakan tindakan, tingkah laku, perubahan waktu, lingkup, kualitas dan keadaan. (6) Kata Ganti Kata ganti adalah kata yang mewakili/ menggantikan kata benda, kata kerja, kata sifat, dan lain-lain. (7) Kata Depan Kata depan adalah kata yang diletakkan di depan kata benda, kata ganti atau frasa, membentuk frasa kata depan, yang bersama-sama menyatakan arah, obyek, waktu, tempat, dan lain-lain suatu perubahan/ tindakan. (8) Kata Sambung Kata sambung adalah kata semu yang menyambungkan kata, frasa, atau klausa. (9) Kata Bantu Kata bantu adalah kata yang ditambahkan pada kata, frasa, atau kalimat, menyatakan makna tambahan. Tidak dapat digunakan sendiri, biasanya dibaca nada ringan. (10) Kata Seru dan Kata Peniru Bunyi Kata seru adalah kata yang menyatakan bunyi suatu seruan, teriakan, atau respon terhadap sesuatu. Kata peniru bunyi merupakan kata yang menirukan bunyi suatu benda atu gerakan.
10
Universitas Sumatera Utara

2.2.3.2 Jenis Kata dalam Bahasa Indonesia Menurut Chaer (2006: 86) pembagian jenis kata dibedakan atas lima belas
macam, yaitu : (1) Kata Benda
Kata benda adalah kata-kata yang diikuti dengan frase yang… atau yang sangat (2) Kata Ganti
Kata ganti kata benda yang menyatakan orang sering kali diganti kedudukannya di dalam petuturan dengan sejenis kata yang lazim. (3) Kata Kerja
Kata kerja adalah kata-kata yang diikuti oleh frase dengan…, baik yang menyatakan alat, yang menyatakan keadaan, maupun yang menyatakan penyerta. (4) Kata Sifat
Kata sifat adalah kata-kata yang diikuti dengan kata keterangan sekali serta dapat dibentuk menjadi kata ulang berimbuhan gabung SE-NYA. (5) Kata Sapaan
Kata sapaan adalah kata-kata yang digunakan untuk menyapa, menegur, atau menyebut orang kedua, atau orang yang diajak bicara. (6) Kata Penunjuk
Kata penunjuk adalah kata-kata yang digunakan untuk menunjuk benda. Ada dua macam kata penunjuk, yaitu INI dan ITU.
11
Universitas Sumatera Utara

(7) Kata Bilangan
Kata bilangan adalah kata-kata yang menyatakan jumlah, nomor, urutan, atau himpunan. Kata bilangan terdiri dari: a. Kata Bilangan Utama b. Kata Bilangan Tingkat c. Kata Bantu Bilangan (8) Kata Penyangkal
Kata penyangkal adalah kata-kata yang digunakan untuk menyangkal atau mengingkari terjadinya suatu peristiwa atau adanya suatu hal. (9) Kata Depan
Kata depan adalah kata-kata yang digunakan di muka kata depan untuk merangkaikan kata benda itu dengan bagian kalimat lain. (10) Kata Penghubung
Kata penghubung adalah kata-kata yang digunakan untuk menghubungkan kata dengan kata, klausa dengan klausa, atau kalimat dengan kalimat. (11) Kata Keterangan
Kata keterangan adalah kata-kata yang digunakan untuk member penjelasan pada kalimat atau bagian kalimat lain, yang sifatnya tidak menerangkan keadaan atau sifat. (12) Kata Tanya
Kata tanya adalah kata-kata yang digunakan sebagai pembantu di dalam kalimat yang menyatakan pertanyaan.
12
Universitas Sumatera Utara

(13) Kata Seru Kata seru adalah kata-kata yang digunakan untuk mengungkapkan perasaan batin, misalnya karena kaget, terharu, kagum, marah atau sedih.
(14) Kata Sandang Kata sandang adalah kata-kata yang berfungsi menjadi penentu.
(15) Kata Partikel Kata partikel adalah morfem-morfem yang digunakan untuk menegaskan.
2.2.4 Kata Bantu Bilangan 2.2.4.1 Kata Bantu Bilangan dalam Bahasa Mandarin
Pengertian kata bantu bilangan dalam bahasa Mandarin menurut beberapa pendapat para ahli:
1. Suparto (2003:73) mengatakan bahwa, “kata bantu bilangan bahasa Mandarin adalah kata yang menyatakan satuan atau unit dari orang atau benda”
2. Xin (2005: 21) mengatakan bahwa, “kata bantu bilangan menyatakan unit suatu kegiatan atau benda”
liàngcíshìbiǎoshìrén shì
3. Menurut 段玉贞 (2002:61) mengatakan bahwa, “ 量 词 是 表 示 人 、 事
wù 平òng zuò 平ān wèi 平年 cí
物 动 作 单 位 的 词 ” maksudnya bahwa, kata bantu bilangan adalah menyatakan unit suatu orang, benda atau kegiatan.
13
Universitas Sumatera Utara

Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa kata bantu bilangan dalam bilangan dalam bahasa Mandarin adalah kata yang menyatakan satuan atau unit dari suatu orang, benda dan kegiatan. 2.2.4.2 Kata Bantu Bilangan dalam Bahasa Indonesia
Pengertian kata bantu bilangan dalam bahasa Indonesia menurut beberapa pendapat para ahli: 1. Chaer (2006: 116) mengatakan bahwa ,“kata bantu bilangan adalah kata-kata yang digunakan sebagai tanda pengenal benda dan digunakan dibelakang kata bilangan dalam menyebutkan jumlah suatu benda .” 2. Alieva (1991: 224) mengatakan bahwa, “kata bantu bilangan , yaitu nomina yang menghubungkan numeralia dengan nomina yang menyatakan pengertian benda yang dapat dihitung”. Berdasarkan pendapat diatas, dapat disimpulkan bahwa kata bantu bilangan dalam bahasa Indonesia adalah kata-kata yang menghubungkan kata bilangan dan nomina yang digunakan sebagai tanda pengenal benda atau menyebutkan jumlah benda.
14
Universitas Sumatera Utara

2.3 Landasan Teori
Teori yang akan menjadi landasan dalam menganalisis rumusan masalah dalam penelitian ini adalah teori Analisis Kontrastif
Analisis kontastif mencoba menjembatani kesulitan proses menguasai bahasa kedua dengan mengontraskan kedua sistem bahasa tersebut untuk meramalkan kesulitan-kesulitan yang terjadi.
Kajian kebahasaan hasil analisis kontrastif ini, terutama pada temuannya tentang adanya perbedaan antara bahasa pertama dan bahasa kedua selanjutnya akan dipergunakan untuk menentukan prioritas siswa dalam belajar bahasa kedua. Analisis kontrastif biasanya menunjukkan tingkat kesukaran yang akan dihadapi oleh siswa bahasa, sehingga mempermudah guru dalam menentukan urutan proses belajar bahasa kedua.
Umumnya proses siswa belajar bahasa kedua yang dikembangkan berdasarkan analisis kontrastif tidak memperhitungkan bahasa pertama siswa, karena hal ini amat berpengaruh terhadap metode dan teknik pembelajaran maupun teknik pemerolehan bahasa kedua. Dengan demikian proses belajar hanya dipusatkan pada bahasa kedua sebagai sasaran pembelajaran . Dengan cara itu diharapkan siswa bahasa dapat segera menguasai bahasa keduanya dengan cepat, dan kemudian menjadi dwibahasawan.
Fries (dalam Nurhadi 1995: 68) menjelaskan kesalahan yang seseorang lakukan dalam mengungkapkan kalimat bahasa kedua akibat pengaruh kontruksi kalimat bahasa pertamanya disebabkan oleh adanya perbedaan antara bahasa pertama dan bahasa kedua. Sedangkan kemudahan dalam belajarnya disebabkan oleh adanya kesamaan-kesamaan antara unsur bahasa pertama dan bahasa kedua.
15
Universitas Sumatera Utara

Selanjutnya, Fries (dalam Pranowo 1996:46) mengatakan bahwa, bahasa pengajaran yang paling efektif untuk menguasai bahasa ke dua adalah materi yang didasarkan pada suatu deskripsi ilmiah dan sistematis dari bahasa yang akan dipelajari, yang kemudian dikontraskan dengan deskripsi paralel dari bahasa ibu pembelajar. Beliau kemudian memaparkan langkah-langkah yang harus dilakukan agar tujuan belajar bahasa kedua berhasil secara maksimal sebagai berikut:
a. menetapkan materi yang terpilih b. mengadakan analisis ilmiah pada materi bahasa yang sudah terpilih untuk
mendapatkan hasil yang signifikan tentang struktur dan sistem kedua bunyi bahasa, dan c. mengadakan perbandingan antara bahasa kedua dengan bahasa ibu pembelajar. Dengan cara demikian menurut Fries dipandang bahwa pembelajar bahasa akan lebih ekonomis dan efisien.
Begitu pun seperti yang dinyatakan Lee ( dalam Pranowo 1996: 44-45) yang mengajukan asumsi bahwa analisis kontrastif hendaknya dilakukan dengan langkahlangkah sebagai berikut:
1. deskripsi kedua bahasa yang akan dikontraskan 2. seleksi unsur-unsur persamaan dan perbedaan kedua bahasa 3. mengontraskan perbedaan sistem kedua bahasa, dan 4. meramalkan sebab-sebab kesulitan belajar berdasarkan hasil pengontrasan
tersebut
16
Universitas Sumatera Utara

BAB III Metode Penelitian
3.1 Metode Penelitian Menurut Djajasudarma (1993: 3) Metode penelitian merupakan alat, prosedur
dan teknik yang dipilih dalam melaksanakan penelitian (dalam mengumpulkan data). Metode penelitian bahasa berhubungan erat dengan tujuan penelitian bahasa. Penelitian bahasa bertujuan mengumpulkan dan mengkaji data, serta mempelajari fenomena-fenomena kebahasaan. Di dalam penelitian bahasa (linguistik) dapat dilakukan di lapangan atau perpustakaan.
Metode memiliki peran yang sangat penting. Metode merupakan syarat atau langkah-langkah yang dilakukan dalam sebuah penelitian. Hal ini sangat penting agar tujuan yang diharapkan dapat tercapai, maka metode penulisan yang digunakan adalah metode deskriptif yaitu mendeskripsikan persamaan dan perbedaan kata bantu bilangan yang terdapat antara bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia. Menurut Moleong (2006: 11) Data dalam metode deskriptif yang dikumpulkan adalah berupa kata – kata, gambar dan bukan angka – angka. Dengan demikian, laporan penelitian akan berisi kutipan – kutipan kata untuk memberi gambaran penyajian laporan tersebut. 3.2 Teknik Pengumpulan data Teknik pengumpulan data yang dilakukan dalam penelitian untuk mendapatkan seluruh data-data yang dibutuhkan dalam penulisan karya ilmiah ini yaitu dengan cara: studi kepustakaan (library research) , yaitu pengumpulan data-data dan informasi yang bersumber dari naskah, catatan, buku-buku kepustakaan yang ada kaitannya dengan kata bantu bilangan bahasa Mandarin dan bahasa Indonesia, baik
17
Universitas Sumatera Utara

yang berbahasa Indonesia maupun yang berbahasa Mandarin. Studi kepustakaan dilakukan untuk mendapatkan data yang relevan dengan penggarapan masalah dan untuk mengetahui sejauh mana data yang sudah diperoleh dari peneliti terdahulu. 3.3 Teknik Analisis Data
Analisis data dalam penelitian ini akan diupayakan untuk memperdalam atau menginterpretasikan secara spesifik dalam rangka menjawab keseluruhan pertanyaan penelitian. Adapun proses yang dilakukan adalah :
1. Mengumpulkan buku-buku yang diharapkan dapat mendukung tulisan ini kemudian memilih data yang dianggap paling penting dan menyusunnya secara sistematis
2. Mengelompokkan data-data sehingga dapat terlihat kaitannya satu sama lain 3. Menguraikan data-data yang telah ada dengan sebaik-baiknya sehingga data
tersebut dengan jelas memberikan pengertian tentang uraian yang disampaikan 4. Berdasarkan data-data lalu membuat kesimpulan.
Hasil olahan data dan analisis tersebut akan dijadikan sebagai bahan tulisan yang nantinya dapat ditemukan tema yang akan dirumuskan. Selanjutnya hasil pengolahan data analisis tersebut disusun secara sistematis dengan teknis deskriptif kualitatif, sehingga hasilnya dapat dilihat dalam suatu bentuk laporan karya ilmiah atau skripsi. 3.4 Data dan Sumber Data
Dalam penelitian ini, sumber data primer penulis adalah sebagai berikut: 1. Jurnal-jurnal mandarin
a) 王 .英汉量词对比浅析 J .科教文化,200版 04 月
b) 刘静静,张常亮. 英汉量词之比较 J .重庆文理学院学报 社会
科学版 ,2007 0版 月
18
Universitas Sumatera Utara

c) 王晓玲.汉英量词之比较 J .南京航空航天大学学报 社会科学 版 ,200所 03 月
2. Tata Bahasa Mandarin itu Mudah karya Suparto, percetakan Puspa Swara, 2003. 3. Tata Bahasa Praktis Bahasa Indonesia penulis Abdul Chaer, percetakan Rineka
Cipta,2006. 4. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia karya Hasan Alwi, percetakan Balai Pustaka,
2003. Sumber data sekunder penulis adalah sebagai berikut: 1. Intisari Tata Bahasa Mandarin karya Zhao Yong Xin, percetakan Rekayasa
Sains,2005. 2. Bahasa Indonesia Deskripsi dan Teori karya N.F.Alieva, percetakan Kanisius,
1991. Serta buku-buku lainnya yang mendukung penyelesaian skripsi ini.
19
Universitas Sumatera Utara

BAB IV PEMBAHASAN

4.1 Kata Bantu Bilangan dalam Bahasa Mandarin Kata bantu bilangan dalam bahasa Mandarin menurut jenis dan ciri-cirinya,
adalah sebagai berikut: 4.1.1 Jenis Kata Bantu Bilangan dalam Bahasa Mandarin
Xin (2005: 21) mengatakan bahwa, “kata bantu bilangan menyatakan unit suatu kegiatan atau benda”. Menurut definisi tersebut, maka ada 2 macam jenis kata bantu bilangan dalam bahasa Mandarin, yaitu: kata benda-kata bantu bilangan dan kata kerja-kata bantu bilangan . a. Kata benda-kata bantu bilangan
Menurut Xin (2005: 21) kata benda-kata bantu bilangan adalah kata yang menyatakan jumlah benda. Adapun contohnya adalah sebagai berikut:
zhī
1. : dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan menjadi sebelah (untuk salah

satu benda yang sepasang), sebuah, dan seekor.
zhi
Untuk menyatakan salah satu benda yang sepasang, maka dapat diartikan

menjadi sebelah.

Contoh:

y i zhishou
一手

y i zhiyanjing
一 眼睛

sebelah tangan

sebelah mata

20
Universitas Sumatera Utara

zhi
Untuk menyatakan binatang yang berukuran sedang, maka dapat diartikan

menjadi seekor.

Contoh:

y i zhiy a
一鸭

y i zhigou
一狗

seekor bebek

seekor anjing

zhi

shǒubiǎo

xiǎo chuán

digunakan pada jam tangan 手 表 dan kapal kecil 小 船 ,

zhi
maka dapat diartikan menjadi sebuah.

Contoh:

y i zhishoubiao
一 手表

y i zhixiaochuan
一 小船

sebuah jam tangan

sebuah kapal kecil

tiáo
2. 条 : dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan menjadi sebatang (untuk benda

yang panjang, berliku, lentur atau elastis), seekor, seutas, dan sebuah.
tiao
Untuk menyatakan benda seperti sungai, maka 条 dapat diartikan menjadi

sebatang. Contoh:

y i tiaoh e
一条河

sebatang sungai
tiao
Untuk menyatakan ular dan ikan , maka 条 dapat diartikan menjadi seekor

Contoh:

y i tiaoyu
一条鱼

y i tiaoshe
一条蛇

21
Universitas Sumatera Utara

seekor ikan

seekor ular

tiao
Untuk menyatakan benda seperti tali, maka 条 dapat diartikan menjadi

seutas. Contoh:

y i tiaosheng
一条 绳

seutas tali
tiao
Untuk menyatakan berita atau kabar, maka 条 dapat diartikan menjadi

sebuah. Contoh:

y i tiaoxinwen
一条新 闻

y i tiaoxiaox i
一条 消息

sebuah berita

sebuah kabar

běn
3. 本 : dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan menjadi sebuah.

ben shū z ázhì
本 digunakan pada buku 书 , majalah 杂志

Contoh:

y i benz azhi
一 本 杂志

y i benshu
一本 书

sebuah majalah

sebuah buku


4. 把 : dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan menjadi sebuah, segengam.

ba
Untuk menyatakan benda yang memiliki gagang, maka 把 dapat diartikan

menjadi sebuah.

Contoh:

y i b adao z i
一把 刀 子

y i b a yusan
一把雨伞

22
Universitas Sumatera Utara

sebuah pisau

sebuah payung

Untuk menyatakan benda yang dapat dicekram dengan sebuah tangan, maka

ba
把 dapat diartikan menjadi segengam.

Contoh:

y i b asha
一把沙

y i b ahuasheng
一把 花 生

segengam pasir

segengam kacang

gēn
5. 根: dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan menjadi sebatang (untuk benda

gen
panjang yang keras), seutas, sebuah. 根 digunakan pada benda yang panjang

dan halus:

Contoh:

y i gen l a zhu
一根蜡烛

y i gentie s i
一 根 铁丝

sebatang lilin

sebuah kawat besi


6. 匹 : dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan menjadi seekor, gulungan.

pi

chóuduàn



匹digunakan pada gulungan kain sutra 绸 缎 atau kain 布

Contoh:

y i p i chouduan
一匹 绸 缎

y i p ibu
一匹布

satu gulung kain sutra

satu gulung kain

p i mǎ l ǘ p i
匹hanya digunakan pada kuda 马 , dan keledai 驴 , maka 匹 dapat

diartikan menjadi seekor

Contoh:

y i p i ma
一匹马

yipilǘ
一匹驴

23
Universitas Sumatera Utara

seekor kuda

seekor keledai

tào
7. 套 : dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan menjadi sebuah, satu set.

tao
Untuk menyatakan ide, peraturan, maka 套 dapat diartikan menjadi sebuah.

Contoh:

y i taobanf a
一套 办法

y i taozhidu
一套制度

sebuah ide

sebuah peraturan

tao
Untuk menyatakan baju atas bawah, perabot rumah tangga dalam set, maka 套

dapat diartikan menjadi satu set.

Contoh:

y i tao y i f u
一套衣服

y i taojia
一套家

satu set baju

satu set perabot

shuāng
8. 双 : dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan menjadi sepasang. Namun,

shuang
双 hanya digunakan pada benda yang berpasang dan tidak untuk orang:

y i shuangshou
Contoh: 一 双 手

y i shuangxie z i
一 双 鞋子

sepasang tangan

sepasang sepatu

duì
9. 对: dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan menjadi sepasang. Namun,

dui
对hanya digunakan untuk pasangan, dan bukan untuk benda.

Contoh:

y i duiqingl ǘ
一对 情 侣

y i duixinniang
一对新 娘

sepasang kekasih

sepasang pengantin

24
Universitas Sumatera Utara

qún
10. 群 : dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan menjadi sekelompok.

Contoh:

y i qunren
一群人

sekompok orang
duī dui
11. 堆: dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan menjadi timbunan. 堆 dapat

digunakan untuk benda yang konkret ataupun abstrak.

Contoh:

y i dui l a j i
一堆垃圾

y i duiwen t i
一堆 问 题

timbunan sampah

timbunan masalah

pái pai
12. 排: dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan menjadi sederet. 排digunakan

pada benda yang berderetan.

Contoh:

y i paiy achi
一排牙齿

y i paifangwu
一排 房 屋

y i paishu
一排 树

sederet gigi

sederet bagunan sederet pohon

chǐ
13. 尺: dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan menjadi 1/3 meter

sanchi
Contoh: 三尺

Satu meter

san
三=tiga

chi
尺=1/3 meter

cùn
14. : dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan menjadi inci

y i cun
Contoh: 一

25
Universitas Sumatera Utara

satu inci
jīn
15. 斤: dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan menjadi gram

y ijindami
Contoh: 一斤大米

satu gram beras
liǎng
16. 两 : dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan menjadi ons

e r liang
Contoh: 二 两

dua ons
diǎn
17. 点 :Dalam bahasa Indonesia bermakna “sedikit”. Menyatakan jumlah kecil tak

xiē y ì diǎn
tentu, lebih kecil dibandingkan 些. Jumlah yang dinyatakan “一 点 ”pasti

y ì diǎne r
tidak banyak (一 点 儿 tidak digunakan untuk orang ).

k āfēi l ǐ qǐngfàng y ī diǎn é r táng
Contoh: 咖啡 请 放 一 点 儿 糖

tarulah sedikit gula didalam kopi.

kafei

li

fang y i d i a n r

咖啡= kopi =dalam 放 =taruh 一点儿=sedikit

tang
糖 =gula

xiē
18. 些: Dalam bahasa Indonesia bermakna “beberapa”. Menyatakan jumlah tak tentu,

zhè n à



sering dirangkaikan dengan 这,那,dan 哪 yang menerangkan kata benda.

Contoh:

zhèxiēshū
这些书

26
Universitas Sumatera Utara

ini beberapa buku. beberapa buah buku ini.

19. 笔: dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan menjadi sebuah dan sejumlah.

bi
Pemakaian 笔berhubungan dengan keuangan.

Contoh:

y i b i shengy i
一笔 生 意

y i b i qian
一笔 钱

sebuah bisnis

sejumlah uang

bēi
20. 杯: dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan menjadi cangkir, gelas.

Contoh:

liǎngbēishuǐ
两 杯水

dua gelas air
chuáng
21. 床 : dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan menjadi sebuah. Pemakaian

chuang
床 berbubungan dengan ranjang, kasur dan tikar.

y i chuangtan z i
Contoh: 一 床 毯子

y i chuangx i z i
一 床 席子

sebuah kasur

sebuah tikar

wǎn
22. 碗 : dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan menjadi mangkok.

Contoh:

y ī wǎnzhōu
一碗 粥

semangkok bubur
bāo
23. 包: dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan menjadi bungkus.

27
Universitas Sumatera Utara

Conntoh:

liǎngbāoxiāngyān
两包 香 烟

dua bungkus rokok
tóu tou
24. 头: dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan menjadi seekor. Pemakaian 头

digunakan untuk menghitung binatang yang besar.

Contoh:

y i touniu
一头牛

y i touxiang
一头 象

seekor sapi

seekor gajah

b. Kata Kerja-Kata Bantu Bilangan

Menurut Xin (2005: 21) Kata kerja-kata bantu bilangan adalah kata yang

menyatakan frekuensi suatu kegiatan. Adapun contohnya adalah sebagai berikut:

cì ci
1. : dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan menjadi kali; digunakan pada

kegiatan (gerakan) yang diulang-ulang.

Contoh:

quy i c i
去一

pergi sekali

jiàcì
a) 架 jumlah berapa kali penerbangan pesawat

fei j i zonggongchu dongshib ajia c i
Contoh: 飞机 总 共 出 动 十 架

Keseluruhan pesawat terbang lepas landas 8 kali

feiji
飞机= pesawat terbang

zonggong
总 共 =seluruh

chudong
出 动 lepas landas

28
Universitas Sumatera Utara

ba
=8

jiaci
架 = kali

réncì
b) 人 penjumlahan total orang

canjiarenshud adaosanqianren c i
Contoh: 参加人 数达 到 三 千 人

Jumlah pendaftar mencapai 3000 orang

canjiaren

shu dadao

参加人= pendaftar 数=jumlah 达到=mencapai

sanqian
三 千 =3000

renci
人 =orang

bāncì
c) 班 jumlah berapa kali intensitas kendaran

zenjiagonggongq i cheban c i
Contoh: 增加 公 共 汽车 班

Menambah jumlah jurusan bus

zenjia

qiche

增加=menambah jumlah 汽车=bus

banci
班 =jurusan

chǎng
2. 场 : dalam bahasa Indonesia dapat diterjemahkan menjadi sebuah. Penggunaan

场 pada proses alam yang terjadi, entertainment atau event olahraga.

y i changyu
Contoh: 一 场 雨

y i changwudao
一 场 舞蹈

y i changqiushai
一 场 球赛

yu
雨=Hujan

sebuah tarian

sebuah pertandingan

tàng
3. 趟 : hanya menyatakan perjalanan dari kata kerja.

qu y i tang
Contoh: 去一 趟

29
Universitas Sumatera Utara

pergi sekali (pulang pergi)
zhèn zhen
4. 阵 : Pemakaian 阵 digunakan untuk menerangkan kejadian atau kegiatan yang

terjadi. Contoh:

y i zhenfeng
一阵 风

y i zhenchangsheng
一阵 掌 声

feng
风 = angin

zhangsheng
掌 声 = tepuk tangan

biàn bian
5. 遍 : Pemakaian 遍 digunakan pada proses pengulangan dari awal sampai akhir

Contoh:

zaishuo y i bian
再 说 一遍

zai
再= lagi

Ngomong sekali lagi
shuo y i
说 =ngomong一=satu

bian
遍 =kali

dùn c ì
6. 顿 : sama arti dengan pengulangan“ ” kali. Namun dalam jumlah makanan

y i tianwozhichiy i dunfan
Contoh: 一 天 我 吃一 顿 饭

Satu hati Cuma makan sekali.

yitian

zhi

一天=sehari =cuma

chifan

yi

吃饭=makan 一=satu

dun
顿 =kali

jiàoy ī shēng
7. 一 声 : suara sekali memanggil

jiao t a y i sheng
Contoh: 他一 声

Panggil dia sekali

30
Universitas Sumatera Utara

t ī y ī jiǎo
8. 踢一 脚 : kaki sekali menendang

t i t a y i jiao
Contoh: 踢他一 脚

tendang dia sekali
qiē y ī dāo
9. 切一 刀: pisau sekali memotong

qie y i dao shirou l i kai
Contoh: 切一 刀 ,使肉离开

Belah sekali, agar daging terbelah

qie
切=belah

yi
一=satu

dao
刀 =pisau

shi
使=agar

rou
肉=daging

likai
离开=terbelah

4.1.2 Ciri-Ciri Kata Bantu Bilangan dalam Bahasa Mandarin

Ciri-ciri kata bantu bilangan dalam bahasa Mandarin, sebagai berikut:

1. Kata Bantu Bilangan Tidak Dapat Dihapus atau Melekat pada Kata Bilangan

Kata bantu bilangan tidak dapat dihapus atau dilekat pada kata bilangan. yang

berarti, antara kata bilangan dengan kata benda ataupun kata kerja bantu bilangan

wajib menggunakan kata bantu bilangan sebagai penengah. kecuali pada idiom.

Contoh idiom :

wànshuǐqiānshān
万水千 山

sānxīnè r y ì
三 心二意

q ī shǒub ājiǎo
七手 脚

2. Kata Bantu Bilangan Dapat Digunakan Bersama Kata Ganti Penunjuk

31
Universitas Sumatera Utara

Kata bantu bilangan tidak bisa berdiri- sendiri. Biasanya, kata bantu bilangan

digunakan bersama kata ganti penunjuk atau kata bilangan.

zhèběnshūhěnhǎo
Contoh: a) 这 本 书 很 好。

zhe
这 ini — kata ganti penunjuk)

Buku ini sangat bagus.

zhe
这 =ini

ben
本 =buah

shu
书 =buku

henhao
很 好 =sangat bagus

n àtiáoyúhěnd à
b) 那 条 鱼 很大。

na
那 itu—kata ganti penunjuk)

Ikan itu sangat besar.

na
那=itu

tiao
条 =ekor

yu
鱼=ikan

hend a
很 大=sangat besar

sānzhāngzhǐ
c) 三 张 纸

san
三 tiga—kata bilangan)

Tiga lembar kertas

san
三=tiga

zhang

zhi

张 =lembar 纸=kertas

liǎng c ì
d) 两 次。

liang
两 dua — kata bilangan

Dua kali
liang
两 =dua

ci
次=kali

3. Kata Depan yang Sudah Memiliki Sifat Kata Bantu Bilangan

Kata depan yang sudah mempunyai sifat kata bantu bilangan maka

didepannya tidak bisa menggunak

Dokumen yang terkait

Dokumen baru