Efektifitas Ekstrak Kulit Durian (Durio zibethinus Murr) Sebagai Pengendali Nyamuk Aedes spp Tahun 2010.

EFEKTIFITAS EKSTRAK KULIT DURIAN ( Durio Zibethinus Murr)
SEBAGAI PENGENDALI NYAMUK Aedes spp
TAHUN 2010

SKRIPSI

Oleh :

LENY YOS SANTI
NIM. 081000249

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2011

Universitas Sumatera Utara

EFEKTIFITAS EKSTRAK KULIT DURIAN ( Durio Zibethinus Murr)
SEBAGAI PENGENDALI NYAMUK Aedes spp
TAHUN 2010

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat
Untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Kesehatan Masyarakat

Oleh :

LENY YOS SANTI
NIM. 081000249

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2011

Universitas Sumatera Utara

HALAMAN PENGESAHAN
Skripsi Dengan Judul
EFEKTIFITAS EKSTRAK KULIT DURIAN ( Durio zibethinus Murr)
SEBAGAI PENGENDALI NYAMUK Aedes spp
TAHUN 2010
Yang Dipersiapkan dan Dipertahankan Oleh :
LENY YOS SANTI
NIM. 081000249
Telah Diuji dan Dipertahankan Dihadapan Tim Penguji Skripsi
Pada Tanggal 19 Agustus 2011 dan
Dinyatakan Telah Memenuhi Syarat Untuk Diterima
Tim Penguji
Ketua Penguji

Penguji I

Dr.Devi Nuraini Santi, M.Kes
NIP.1970219 19982 2 001

Ir. Evi Naria, M.Kes
NIP. 19680302 199303 2 001

Penguji II

Penguji III

Ir.Indra Chahaya S, M.Si
NIP.19681101 199303 2 005

DR.Dra.Irnawati Marsaulina, MS
NIP.19650109 199403 2 002

Medan, 19 Agustus 2011
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Sumatera Utara
Dekan,

DR.Drs.Surya Utama, MS
NIP.196108311989031001

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Jenis nyamuk demam berdarah dengue (DBD) mempunyai beberapa sppesies
yaitu Aedes aegtpti dan Aedes albopictus yang hidup di daerah tropis dan merupakan
vektor utama penyakit DBD. Penyakit DBD adalah penyakit menular yang
disebabkan oleh virus dengue dengan tanda-tanda tertentu dan disebarkan melalui
gigitan nyamuk Aedes spp. Penyakit ini menyebabkan penyakit endemik dengan
kejadian luar biasa yang berlangsung pada periode-periode tertentu. Kasus DBD
setiap tahun di Indonesia terus meningkat bahkan makin merajalela dengan
pemanasan global.
Dalam upaya mengatasi penyakit Demam Berdarah Dengue ini perlu adanya
pengendalian dengan memamfaatkan tanaman Durian yaitu pada kulit durian (Durio
zibethinus Murr ) yang mengandung bahan kimia aktif dalam bentuk tepung maupun
dalam bentuk minyak yang di kenal sebagai minyak atsiri, dapat di gunakan sebagai
insektisida.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas ekstrak kulit durian
dalam membunuh nyamuk Aedes spp. Penelitian ini bersifat ekspperiment semu
(Quasi ekspperiment) yaitu untuk melihat pengaruh beberapa kosentrasi dari ekstrak
kulit durian terhadap kematian nyamuk Aedes spp.
Metode penelitian menggunakan Rancang acak kelompok (RAK) yang terdiri
dari 4 perlakuan ( 0%, sebagai kontrol, 25%, 50% dan 75% dengan 3 kali
pengulangan. Hasil penelitian pada masing-masing kosentrasi dengan tiga kali
pengulangan selama 30 menit pengamatan dengan interval waktu setiap 5 menit
pengamatan menunjukan hasil yang berbeda-beda pada kosentrasi 25% tingkat
kematian nyamuk Aedes spp sebesar ; 60 %, Kosentrasi 50% : 86,67 %, kosentrasi
75% telah mencapai : 93,33 %, serta pada kontrol tidak terjadi kematian nyamuk
Aedes spp.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah Ekstrak kulit durian mengandung zat
pestisida yang dapat digunakan dalam membunuh nyamuk Aedes spp. Dengan
kosentrasi efektif pada kosentrasi 25% diharapkan tanaman durian dapat menjadi
suatu alternatif untuk mengendalikan serangga seperti nyamuk.
Saran Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi suatu alternatif
pengendalian vektor khususnya nyamuk Aedes spp sebagai insektisida nabati yang
aman bagi lingkungan dan manusia.

Kata kunci : Kulit Durian ( Durio zibethinus Murr ) nyamuk Aedes spp.

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT

The type of DBD (dengue) mosquitoes has some species; namely, Aedes aegipti and
Aedes albopictus which live in the tropical area and constitute the main vector of
dengue fever. Dengue is a contagious disease with specific symptoms and is cause by
the bites of Aedes spp mosquitoes. This disease can be endemic with an extraordinary
occurrence which occurs in specific periods. The case of DBD is increasing and is
even uncontrollable in Indonesia each year, especially caused by the global warming.
The dengue fever can be overcome by controlling it with the use of durian
shell (Duio Zibethinus Murr) which contains active chemical substance in the form of
powder or in the form of oil which is called essential oil which can be used as
pesticide. The aim of this research was to know the effectiveness of the extract of
durian shell in killing Aedes spp mosquitoes. This research was a quasi experiment;
that is, to know the influences of some concentrations of the extract of durian shell on
the death of Aedes spp mosquitoes.
The research used Group random plan method which consisted of four
activities (0%, as controlling, 25%, 50%, and 75% by three times of repetition. The
result of the research in each concentration with three times of repetition within 30
minutes of observation with the interval in every five minutes, showed in different
result in concentration of 25% the death level of Aedes spp mosquitoes was 60%, in
concentration of 50% was 86.67%, in concentration of 75% was increasing to
93.33%, whereas in the control there was no death of Aedes spp mosquitoes.
The conclusion of the research was that the extract of durian shell contains
pesticides which can be used for killing Aedes spp mosquitoes. By using effective
concentration of in 25%, it is expected that durian shell will be able to be used as an
alternative to control insects, especially mosquitoes.
The recommendation of this research is expected to be an alternative vector
controlling, especially the Aedes spp mosquitoes as a vegetable insecticide which is
safe for environment and human beings.

Keywords: Durian Shell (Durio Zibethinus Murr), Aedes spp Mosquitoes

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama

: Leny Yos Santi

Tempat/Tanggal Lahir

: Nagaraja / 07 Mei 1974

Agama

: Islam

Status Perkawinan

: Kawin

Anak ke

: 2 dari 2 bersaudara

Alamat Rumah

: Jl. Binjai KM 11,2 Gg. Persatuan II
Kecamatan Medan sunggal

Riwayat Pendidikan
1. 1980-1986

: SD Negeri 3 No.012128 Nagaraja

2.1986-1989

: SLTP Taman Siswa Nagaraja

3. 1989-1992

: SPK Kesdam Pematang siantar

4. 1992-1993

: DI Kebidanan SPK Flora Medan

5. 1999-2002

: DIII Kebidanan Akbid Politeknik Kesehatan Medan

6. 2008-2011

: Fakultas Kesehatan Masyarakat USU

Riwayat Pekerjaan
1. 1993-1994

: Bidan desa , kecamatan Sipispis

2. 1995-2003

: Bidan desa, kecamatan Kotarih

3. 2004-sekarang

: Staf Puskesmas Muliorejo kecamatan :
Medan Sunggal Kabupaten Deli Serdang

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan
ridhonya, salawat dan salam saya limpahkan kepada junjungan Nabi Besar Muhamad
SAW. Alhamdulillahirobbil alamin atas limpahan rahmat dan hidayah Nya, sehingga
penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul : “EFEKTIFITAS EKSTRAK
KULIT DURIAN (Durio zibethinus Murr) SEBAGAI PENGENDALI NYAMUK
Aedes spp TAHUN 2010” yang merupakan salah satu syarat bagi penulis untuk
menyelesaikan pendidikan di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera
Utara.
Penulisan skripsi ini dapat terselesaikan berkat dorongan dan motivasi,
bimbingan dan arahan, serta adanya kerjasama dari berbagai pihak. Pada kesempatan
ini penulis mengucapkan terimah kasih yang sedalam-dalamnya kepada :
1. Dr. Drs. Surya Utama, MS selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Sumatra Utara.
2. Ibu Ir. Evi Naria M.Kes, selaku Ketua Departemen Kesehatan Lingkungan
Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatra Utara.
3. Ibu dr. Devi Nuraini Santi, M.Kes, selaku Dosen pembimbing I sekaligus Ketua
Penguji atas bimbingan dan arahan nya selama mengerjakan penulisan skripsi ini.
4. Ibu Ir. Evi Naria M.Kes, selaku Dosen pembimbing II sekaligus Dosen Penguji I
atas koreksi dan arahannya serta kesabarannya dalam membimbing.

Universitas Sumatera Utara

5. Ibu Indra Chahaya Msi, selaku Dosen penguji II yang telah banyak memberikan
masukan dan bimbingan.
6. Ibu Dr.Dra.Irna Marsaulina,MS, selaku Dosen Penguji III yang telah
memberikan waktu dan fikiran dalam membimbing kepada penulis sehingga
skripsi ini dapat di selesaikan.
7. Ibu Ir.Kalsum M.Kes, selaku Dosen penasehat akademik.
8. Seluruh Dosen dan staff serta seluruh pegawai FKM USU yang telah
membimbing dan membantu selama perkuliahan.
9. Ibu Norma Sinaga, Apt, selaku pembimbing Balai Laboratorium Kesehatan yang
telah memberi izin penulis untuk melakukan penelitian.
10. Ayahanda H. Wakijo dan Ibunda Hj. Rosnelly yang telah banyak memberikan
didikan dan kasih sayang baik materi dan moril kepada penulis.
11. Suami tercinta Supaino, SE, Msi, serta anak-anak ku tersayang Vivi Yaumil
Fadilla, Tasya Falya Anisa, Farhan Naufal Faris, Akmal Atha Saqif yang telah
banyak membantu penulis dalam memberikan motivasi serta pengertian yang
besar untuk menyelesaikan skripsi ini.
12. Kakanda Irdawati, SP, Abangda sugeng yang telah banyak memberikan motivasi
dan doa kepada penulis untuk menyelesaikan pendidikan.
13. Sahabat-sahabat terbaikku Munadiati, Putri wirdiani, Khairani, Ika Laila, Hardian
Pinem, Rafael, Lukman, Adly Yuzar, Iqbal, Corry, Devina, Dessi, Sunarti, Ruth,
Cia, Rika, Fifit, Ayas, Eka, Yuyun, Sucita, Kak Juli, Latifah, Renova, yang telah

Universitas Sumatera Utara

banyak memberikan dukungan dan bantuan serta kritik untuk penulis
menyelesaikan skripsi ini.
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih belum sempurna
sehingga membutuhkan banyak masukan dan kritikan dari berbagai pihak yang
sifatnya membangun dalam memperkaya materi skripsi ini. Penulis berharap semoga
skripsi ini dapat bermamfaat bagi kita semua khususnya di bidang kesehatan
masyarakat.

Medan, September 2011

Penulis

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
Halaman
Halaman Pengesahan ..........................................................................................
i
Abstrak .................................................................................................................
ii
Abstract ................................................................................................................
iii
Daftar Riwayat Hidup ........................................................................................
iv
Kata Pengantar ...................................................................................................
v
Daftar Isi .............................................................................................................. viii
Daftar Tabel.........................................................................................................
xi
Daftar Lampiran .................................................................................................
xii
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................
1.1. Latar Belakang .................................................................................
1.2. Rumusan Masalah ............................................................................
1.3. Tujuan Penelitian ............................................................................
1.3.1. Tujuan Umum ........................................................................
1.3.2. Tujuan Khusus .......................................................................
1.4. Manfaat Penelitian ..........................................................................

1
1
4
4
4
4
5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA.........................................................................
2.1. Tinjauan umum tentang nyamuk Aedes spp..................................
2.1.1. Klasifikasi nyamuk Aedes spp ............................................
2.1.2. Morfologi nyamuk Aedes spp .............................................
2.1.3. Siklus Hidup nyamuk Aedes spp .........................................
2.1.4 Pengendalian vektor nyamuk ...............................................
2.1.4.1. Pengertian pengendalian vektor .......................................
2.1.4.2. Pengendalian lingkungan (environmental control) ..........
2.1.4.3. Pengendalian vector secara kimia ....................................
2.1.4.4. Secara mekanis .................................................................
2.1.4.5. Secara Biologi ..................................................................
2.1.5. Suhu (temperatur)................................................................
2.1.6. Kelembaban ........................................................................
2.2.Tinjauan umum tentang Insektisida Nabati ......................................
2.2.1. Pengertian Insektisida Nabati..............................................
2.2.2. Pembuatan Insektisida Nabati .............................................
2.2.3. Keunggulan dan Kelemahan Insektisida Nabati .................
2.2.4. Cara masuk Insektisida Nabati ............................................
2.2.5. Toksisitas Insektisida ..........................................................
2.3. Tinjauan umum tentang durian (Durio zibethinus Murr) ................
2.3.1. Data Botani Tanaman Durian (Durio zibethinus Murr)......
2.3.2. Morfologi tanaman Durian..................................................
2.3.3. Komposisi Kimia Buah Durian ...........................................

7
7
8
9
10
11
11
13
13
14
15
15
15
16
16
17
17
19
20
22
24
24
25

Universitas Sumatera Utara

2.4. Tinjauan Umun tentang Minyak Atsiri ..............................................
2.4.1. Pengertian Minyak Atsiri............................................................
2.4.2. Ciri-ciri Minyak Atsiri.................................................................
2.4.3. Beberapa Minyak Atsiri penting.................................................
2.5. Kerangka Konsep...........................................................................
BAB III METODE PENELITIAN ...................................................................
3.1. Jenis Penelitian .................................................................................
3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ...........................................................
3.2.1. Lokasi Penelitian ...................................................................
3.2.2. Waktu Penelitian ...................................................................
3.3. Objek Penelitian ...............................................................................
3.4. Subjek penelitian.............................................................................
3.5. Metode Pengumpulan Data ..............................................................
3.5.1. Data Primer ...........................................................................
3.5.2. Data Sekunder .......................................................................
3.6. Alat dan Bahan Penelitian ................................................................
3.6.1. Alat Penelitian .......................................................................
3.6.2. Bahan penelitian ..............................................................
3.7. Prosedur penelitianl....................................................................
3.7.1. Cara mendapatkan nyamuk Aedes spp Dewasa ..............
3.7.2. Cara mendapatkan ekstrak kulit durian ...........................
3.7.3. Definisi Operasional........................................................
3.7.4. Cara Melakukan Pengenceran Kosentrasi larutan durian
3.7.5. Cara melakukan percobaan.................................................. .
3.8. Analisis Data ....................................................................................

26
26
26
27
29
30
30
30
30
30
30
31
31
31
31
31
31
32
33
33
34
34
35
36
36

BAB IV HASIL PENELITIAN ..........................................................................
37
4.1. Pengaruh perlakuan Ekstrak Kulit Durian (Durio zibethinus Murr)
terhadap kematian nyamuk Aedes spp .............................................
37
4.1.1. Kematian nyamuk Aedes spp pada Kosentrasi 0%
(Kontrol)................................................................................
37
4.1.2. Kematian nyamuk Aedes spp pada Kosentrasi 25%. ...........
38
4.1.3. Kematian nyamuk Aedes spp pada Kosentrasi 50% ............. .... 39
4.1.4. Kematian nyamuk Aedes spp pada Kosentrasi 75% ............. .... 39
4.1.5. Kematian nyamuk Aedes spp pada Empat Kosentrasi
setiap 5 Menit Pengamatan selama 30 menit ........................ .... 40
4.1.6. Rata-rata dan Persentase Kematian nyamuk Aedes spp
pada Empat Kosentrasi setiap 5 Menit Pengamatan selama
30 menit.................................................................................
41
4.1.7. Jumlah dan rata-rata Kematian nyamuk Aedes spp Pada
saat Lethal Dose 50 tercapai setelah 15 menit Pengamatan ..
42
4.2. Suhu Ruangan Penelitian……………………………………….
43

Universitas Sumatera Utara

4.3. Kelembaban Udara Ruangan Penelitian………………………...
BAB V PEMBAHASAN .....................................................................................
5.1. Pengaruh Ekstrak kulit Durian ( Durio Zibthinus Murr )
Terhadap kematian nyamuk Aedes spp .........................................
5.2 Penggunaan Ekstrak Kulit Durian (Durio Zibethinus Murr) Terhadap
Kematian Nyamuk Aedes spp .........................................................
5.3. Suhu Ruangan Penelitian ...............................................................
5.4. Kelembaban Udara Ruangan Penelitian...........................................
BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................
6.1. Kesimpulan .....................................................................................
6.2. Saran................................................................................................

43
44
44
47
47
48
49
49
49

DAFTAR PUSTAKA

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 2.1

Daftar Istilah Toksisitas ....................................................................

Tabel 4.1

Hasil pengamatan Kematian nyamuk Aedes spp setiap 5 menit
Pengamatan Selama 30 Menit Pada Kosentrasi 0% ( Kontrol )........

21

37

Tabel 4.1.2 Hasil Pengamatan Kematian Nyamuk Aedes spp Setiap 5 Menit
Pengamatan Selama 30 Menit Pada kosentrasi 25%

Ekstrak

Kulit Durian (Durio zibethinus Murr) ...............................................

38

Tabel 4.1.3 Hasil Pengamatan Kematian Nyamuk Aedes spp Setiap 5 menit
Pengamatan selama 30 Menit Pada Kosentrasi 50% Ekstrak Kulit
Durian (Durio zibethinus Murr ) .......................................................

39

Tabel 4.1.4 Hasil Pengamatan Kematian Nyamuk Aedes spp Setiap 5 menit
Pengamatan selama 30 Menit Pada Kosentrasi 75% Ekstrak Kulit
Durian (Durio zibethinus Murr ) .......................................................

39

Tabel 4.1.5 Hasil Pengamatan Kematian Nyamuk Aedes spp pada Empat
Konsentrasi Setiap 5 menit Pengamatan selama 30 menit ................

40

Tabel 4.1.6 Rata-rata dan Persentase Kematian Nyamuk Aedes spp Pada
Empat Konsentrasi Setiap 5 Menit Pengamatan Selama 30 Menit ...

41

Tabel 4.1.7 Jumlah dan Rata-rata Kematian nyamuk Aedes spp Pada Empat
Kosentrasi Dengan Tiga kali ulangan pada saat Lethal Dose 50
(LD 50) Tercapai Setelah 15 Menit Pengamatan ..............................

42

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Gambar Kotak Pemeliharaan dan Pengamatan Nyamuk Aedes spp
Lampiran 2. Dokumentasi Penelitian
Lampiran 3. Dokumentasi Penelitian
Lampiran 4. Surat Keterangan Selesai Melakukan Penelitian dari Laboratorium Gizi
Kesehatan Masyarakat USU.

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK

Jenis nyamuk demam berdarah dengue (DBD) mempunyai beberapa sppesies
yaitu Aedes aegtpti dan Aedes albopictus yang hidup di daerah tropis dan merupakan
vektor utama penyakit DBD. Penyakit DBD adalah penyakit menular yang
disebabkan oleh virus dengue dengan tanda-tanda tertentu dan disebarkan melalui
gigitan nyamuk Aedes spp. Penyakit ini menyebabkan penyakit endemik dengan
kejadian luar biasa yang berlangsung pada periode-periode tertentu. Kasus DBD
setiap tahun di Indonesia terus meningkat bahkan makin merajalela dengan
pemanasan global.
Dalam upaya mengatasi penyakit Demam Berdarah Dengue ini perlu adanya
pengendalian dengan memamfaatkan tanaman Durian yaitu pada kulit durian (Durio
zibethinus Murr ) yang mengandung bahan kimia aktif dalam bentuk tepung maupun
dalam bentuk minyak yang di kenal sebagai minyak atsiri, dapat di gunakan sebagai
insektisida.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas ekstrak kulit durian
dalam membunuh nyamuk Aedes spp. Penelitian ini bersifat ekspperiment semu
(Quasi ekspperiment) yaitu untuk melihat pengaruh beberapa kosentrasi dari ekstrak
kulit durian terhadap kematian nyamuk Aedes spp.
Metode penelitian menggunakan Rancang acak kelompok (RAK) yang terdiri
dari 4 perlakuan ( 0%, sebagai kontrol, 25%, 50% dan 75% dengan 3 kali
pengulangan. Hasil penelitian pada masing-masing kosentrasi dengan tiga kali
pengulangan selama 30 menit pengamatan dengan interval waktu setiap 5 menit
pengamatan menunjukan hasil yang berbeda-beda pada kosentrasi 25% tingkat
kematian nyamuk Aedes spp sebesar ; 60 %, Kosentrasi 50% : 86,67 %, kosentrasi
75% telah mencapai : 93,33 %, serta pada kontrol tidak terjadi kematian nyamuk
Aedes spp.
Kesimpulan dari penelitian ini adalah Ekstrak kulit durian mengandung zat
pestisida yang dapat digunakan dalam membunuh nyamuk Aedes spp. Dengan
kosentrasi efektif pada kosentrasi 25% diharapkan tanaman durian dapat menjadi
suatu alternatif untuk mengendalikan serangga seperti nyamuk.
Saran Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi suatu alternatif
pengendalian vektor khususnya nyamuk Aedes spp sebagai insektisida nabati yang
aman bagi lingkungan dan manusia.

Kata kunci : Kulit Durian ( Durio zibethinus Murr ) nyamuk Aedes spp.

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT

The type of DBD (dengue) mosquitoes has some species; namely, Aedes aegipti and
Aedes albopictus which live in the tropical area and constitute the main vector of
dengue fever. Dengue is a contagious disease with specific symptoms and is cause by
the bites of Aedes spp mosquitoes. This disease can be endemic with an extraordinary
occurrence which occurs in specific periods. The case of DBD is increasing and is
even uncontrollable in Indonesia each year, especially caused by the global warming.
The dengue fever can be overcome by controlling it with the use of durian
shell (Duio Zibethinus Murr) which contains active chemical substance in the form of
powder or in the form of oil which is called essential oil which can be used as
pesticide. The aim of this research was to know the effectiveness of the extract of
durian shell in killing Aedes spp mosquitoes. This research was a quasi experiment;
that is, to know the influences of some concentrations of the extract of durian shell on
the death of Aedes spp mosquitoes.
The research used Group random plan method which consisted of four
activities (0%, as controlling, 25%, 50%, and 75% by three times of repetition. The
result of the research in each concentration with three times of repetition within 30
minutes of observation with the interval in every five minutes, showed in different
result in concentration of 25% the death level of Aedes spp mosquitoes was 60%, in
concentration of 50% was 86.67%, in concentration of 75% was increasing to
93.33%, whereas in the control there was no death of Aedes spp mosquitoes.
The conclusion of the research was that the extract of durian shell contains
pesticides which can be used for killing Aedes spp mosquitoes. By using effective
concentration of in 25%, it is expected that durian shell will be able to be used as an
alternative to control insects, especially mosquitoes.
The recommendation of this research is expected to be an alternative vector
controlling, especially the Aedes spp mosquitoes as a vegetable insecticide which is
safe for environment and human beings.

Keywords: Durian Shell (Durio Zibethinus Murr), Aedes spp Mosquitoes

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit menular yang disebabkan
oleh virus dengue dengan tanda-tanda tertentu dan disebarkan melalui gigitan
nyamuk Aedes spp. Kasus DBD setiap tahun di Indonesia terus meningkat dan
bahkan makin merajalela dengan pemanasan global. Pusat Informasi Departemen
Kesehatan mencatat, jumlah kasus DBD di Indonesia selama 2009 mencapai 77,489
kasus dengan 585 korban meninggal (Depkes RI, 2009).
WHO memperkirakan sebanyak 2,5 sampai 3 milyar penduduk dunia berisiko
terinfeksi virus dengue dan setiap tahunnya terdapat 50-100 juta penduduk dunia
terinfeksi virus dengue, 500 ribu diantaranya membutuhkan perawatan intensif di
fasilitas pelayanan kesehatan. Setiap tahun dilaporkan sebanyak 21.000 anak
meninggal karena DBD atau setiap 20 menit terdapat satu orang anak yang meninggal
(Depkes RI, 2008).
Penyakit demam berdarah penyebarannya sangat luas hampir di semua daerah
tropis diseluruh dunia. Di Indonesia sampai saat ini penyakit demam berdarah ( DBD)
masih merupakan masalah kesehatan masyarakat. Angka kesakitan penyakit ini masih
cukup tinggi terutama di provinsi DKI Jakarta. Pada tahun 2008 DKI Jakarta
menempati urutan pertama sebagai kota dengan jumlah kasus DBD terbanyak
mencapai 21 persen dari jumlah nasional. Jumlahnya mencapai 28.373 dari total

Universitas Sumatera Utara

137.469 kasus DBD di Indonesia pada 2008. Sedangkan selama periode januari
februari 2009 mengalami penurunan sebanyak 4.290 (Depkes RI, 2008).
Demam berdarah dengue (DBD) merupakan penyakit akibat virus yang hidup
bertahan di alam (arthropod-borne viral) melalui kontak biologis, yang menempati
posisi penting dalam deretan penyakit infeksi yang masih menjadi masalah kesehatan
masyarakat, penyakit ini ditemukan hampir di seluruh belahan dunia terutama di
negara tropik dan subtropik baik secara endemik maupun epidemik yang berkaitan
dengan datangnya musim penghujan (Djunaedi, 2006).
Penyakit ini tidak saja ditemukan di daerah perkotaan namun juga terdapat di
daerah pedesaan. Cara penularan penyakit DBD terjadi secara propagatif yaitu virus
dengue berkembang biak dalam tubuh nyamuk Aedes spp

(Gandahusada, dkk,

2000).
Penyebab penyakit demam berdarah dengue Aedes spp selain itu juga
merupakan virus demam kuning (yellow fever) dan chikungunya, Aedes spp bersifat
diurnal atau aktif pada pagi hingga siang hari pada waktu menghisap darah penderita
demam berdarah. Aedes spp merupakan jenis nyamuk yang dapat membawa virus
dengue (DBD) atau orang tanpa gejala sakit yang membawa virus dengue dalam
darahnya. Jika nyamuk ini menggigit orang lain maka virus dengue akan berkembang
biak dalam tubuh orang itu selama 4-7 hari sehingga dapat sebagai sumber penularan.
Dalam waktu satu minggu setelah digigit nyamuk tersebut, orang tersebut akan dapat
menderita penyakit demam berdarah dengue. Sampai saat ini belum ada vaksin untuk
pencegahan penyakit DBD, dan belum ada obat obatan khusus untuk pengobatannya.

Universitas Sumatera Utara

Dengan demikian pengendalian DBD tergantung pada pengendalian nyamuk Aedes
spp (Depkes RI, 2005).
Cara yang tepat dalam pemberantasan penyakit DBD adalah dengan
pengendalian vektor nyamuk sebagai penular. Pengendalian vektor nyamuk Aedes
spp dapat dilakukan dengan cara menggunakan insektisida atau tanpa menggunakan
insektisida.

Penggunaan

insektisida

yang

berlebihan

dan

berulang

dapat

menimbulkan dampak yang tidak diinginkan yaitu pencemaran lingkungan dan
mungkin timbul keracunan pada manusia dan hewan. Untuk mengurangi efek
samping dari bahan kimia maka perlu dikembangkan obat-obat penolak nyamuk dari
bahan yang terdapat di alam yang lebih aman untuk manusia dan lingkungan, serta
sumbernya tersedia dalam jumlah yang besar. Pemanfaatan insektisida alami dalam
pemberantasan vektor diharapkan mampu menurunkan kasus DBD. Selain itu karena
terbuat dari bahan alami, maka diharapkan insektisida jenis ini akan lebih mudah
terurai (biodegradable) di alam sehingga tidak mencemari lingkungan dan relatif
aman bagi manusia dan ternak karena residunya mudah hilang. Salah satu contoh
tanaman adalah durian (Durio zibethinus Murr) (Kardinan, 2004).
Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan, kulit durian mengandung
minyak atsiri, flavonoid, saponin, unsur

selulosa, lignin, serta kandungan pati.

Kandungan minyak atsiri pada kulit durian tersebut mempunyai bau yang sangat
menyengat dan tidak disukai oleh nyamuk, sebab efek kandungan tersebut bisa
mempengaruhi syaraf pada nyamuk dan akibat yang ditimbulkannya adalah nyamuk
mengalami kelabilan dan akhirnya mati (Oktavianingrum, dkk, 2007).

Universitas Sumatera Utara

Penelitian lainnya oleh ( Widarto,2008) penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui aktifitas ekstrak kulit durian ( Durio zibethinus Murr) terhadap kematian
nyamuk Aedes spp. Ekstrak kulit durian diperoleh dengan cara penyulingan dan
diujikan dengan konsentrasi 25% yang efektif untuk mematikan nyamuk.
Berdasarkan uraian tersebut maka perlu dilakukan penelitian untuk
mengetahui apakah ekstrak kulit durian mempunyai kemampuan sebagai anti nyamuk
terhadap nyamuk Aedes spp agar dapat diperoleh suatu produk yang berguna bagi
masyarakat yang dapat digunakan sebagai alternatif terbaik sebagai pengendalian
penyebaran penyakit demam berdarah.

1.2. Perumusan Masalah .
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka rumusan penelitian adalah
bagaimana pengaruh ekstrak kulit durian (Durio zibethinus Murr) dalam
pengendalian nyamuk Aedes spp.

1.3. Tujuan Penelitian
1.3.1.Tujuan Umum
Untuk mengetahui efektifitas ekstrak kulit durian (Durio zibethinus Murr )
terhadap nyamuk Aedes spp.
1.3.2. Tujuan Khusus .
1. Untuk mengetahui kematian nyamuk Aedes spp setelah di beri perlakuan
disemprot dengan aquadest tanpa campuran ekstrak kulit durian (Durio

Universitas Sumatera Utara

zibethinus Murr ) pada kosentrasi 0% sebagai kontrol, diamati selama 30
menit dengan interval waktu setiap 5 menit.
2. Untuk mengetahui kematian nyamuk Aedes spp setelah diberi perlakuan
disemprot dengan ekstrak kulit durian (Durio zibethinus Murr ) pada
kosentrasi 25% diamati selama 30 menit dengan interval waktu setiap
5 menit.
3. Untuk mengetahui kematian nyamuk Aedes spp setelah diberi perlakuan
disemprot dengan ekstrak kulit durian (Durio zibethinus Murr ) pada
kosentrasi 50% diamati selama 30 menit dengan interval waktu setiap 5
menit.
4. Untuk mengetahui kematian nyamuk Aedes spp setelah diberi perlakuan
disemprot dengan ekstrak kulit durian (Durio zibethinus Murr ) pada
kosentrasi 75% diamati selama 30 menit dengan interval waktu setiap 5
menit.
5. Untuk mengetahui perbedaan tingkat kematian nyamuk Aedes spp dengan
berbagai perlakuan kosentrasi ekstrak kulit durian (Durio zibethinusMurr)
6. Untuk mengetahui kosentrasi yang paling efektif mematikan nyamuk Aedes
spp dari ekstrak kulit durian (Durio zibethinus Murr ).

Universitas Sumatera Utara

1.4. Manfaat Penelitian
1. Sebagai bahan masukan kepada masyarakat dalam memamfaatkan insektisida
nabati yang aman dan mudah di dapat dalam upaya pengendali

nyamuk

Aedes spp.
2. Sebagai tambahan wawasan dan pengetahuan mahasiswa khususnya
mahasiswa kesehatan lingkungan tentang insektisida nabati yang berasal dari
kulit durian.

Universitas Sumatera Utara

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Tinjauan Umum tentang nyamuk Aedes spp
Aedes spp merupakan Spesies nyamuk yang terdiri dari Aedes aegypti dan
Aedes albopiktus yang hidup di daerah tropis dan merupakan vektor utama penyakit
demam berdarah yang hidup aktif di siang hari dan lebih senang mengisap darah
manusia, biasanya ketahanan hidup Spesies ini tergantung pada ketinggian
permukaan laut dan tidak di temukan di daerah dengan ketinggian lebih dari 1000 m
diatas permukaan laut (djunaedy, 2006).
Tempat perindukan Aedes spp adalah di dalam rumah dan diluar rumah,
nyamuk Aedes aegypti biasa aktif di dalam rumah biasanya hinggap dibaju - baju
yang bergantungan dan berada di tempat yang gelap seperti di bawah tempat tidur,
dan mempunyai ciri pada tubuhnya tampak bercak hitam putih bila di lihat dengan
kaca pembesar di sisi kanan kiri punggungnya tampak dua garis berwarna putih, suka
bertelur di air yang bersih seperti di tempayan, bak mandi, vas bunga segar yang
berisi air dan lain nya dan menetas di dinding bejana air, telur ( jentik ) nyamuk
Aedes aegypti bisa bertahan 2-3 bulan. Sedangkan nyamuk Aedes albopiktus biasanya
aktif di luar rumah dan banyak terdapat di kebun ( pekarangan rumah) misalnya pada
kaleng-kaleng bekas,botol plastik, ban mobil bekas, tempurung dan pelepah kelapa,
bambu pagar dan lain nya yang menampung air hujan di halaman rumah. Cirinya
hampir sama dengan nyamuk Aedes aegypti bila di lihat dengan kaca pembesar
30 

Universitas Sumatera Utara

 

( mikroskop ) tampak di medium punggung nya ada garis putih, waktu menggigit nya
juga sama pada pagi dan sore hari (Kesuma hadi, 2009).
Penularan penyakit dilakukan oleh nyamuk betina karena hanya nyamuk
betina yang mengisap darah. Biasanya nyamuk betina mencari mangsanya pada siang
hari, aktivitas menggigit biasanya mulai pagi sampai petang hari, dengan 2 puncak
aktivitas antara pukul 08.00-13.00 dan antara jam 15.00-17.00. Hal itu dilakukannya
untuk memperoleh asupan protein yang diperlukannya untuk Aedes spp memproduksi
telur. Nyamuk jantan tidak membutuhkan darah, dan memperoleh energi dari nektar
bunga ataupun tumbuhan, Jenis ini menyenangi area yang gelap dan lembab
(Djunaedi, 2006).
2.1.1. Klasifikasi Nyamuk Aedes spp
Aedes spp pengebarannya sangat luas, meliputi hampir semua daerah tropis di
seluruh dunia. Sebagai pembawa virus dengue, Aedes aegypti merupakan pembawa
utama (primary vektor) dan bersama Aedes albopictus menciptakan siklus persebaran
dengue di desa dan di kota. Mengingat keganasan penyakit Demam Berdarah Dengue
masyarakat harus mampu mengenali dan mengetahui cara – cara mengendalikan jenis
nyamuk ini untuk membantu mengurangi persebaran penyakit Demam Berdarah
Dengue(DBD) (Wikipedia, 2008).
Kedudukan nyamuk Aedes spp dalam klasifikasi hewan adalah sebagai
berikut:
Filum

: Arthropoda

Kelas

: Insecta

Universitas Sumatera Utara

 

Bangsa

: Diptera

Suku

: Culicidae

Marga

: Aedes

Spesies

: Aedes spp (Gandahusada, dkk, 2000).

2.1.2 Morfologi Nyamuk Aedes spp
Nyamuk Aedes spp biasanya berukuran lebih kecil jika dibandingkan dengan ukuran
nyamuk rumah (Culex quinquefasciatus). Telur Aedes spp mempunyai dinding
bergaris-garis dan membentuk bangunan menyerupai gambaran kain kasa. Sedangkan
larva Aedes spp Nyamuk Aedes spp dewasa memiliki ukuran sedang, dengan tubuh
berwarna hitam kecoklatan. Tubuh dan tungkainya ditutupi sisik dengan garis-garis
putih keperakan seperti gambar dibawah ini (Gambar 1. Spesies Nyamuk Aedes
aegypti dan Gambar 2. Spesies Nyamuk Aedes albopictus).

Gambar 1. Nyamuk Aedes aegypti

Gambar 2. Nyamuk Aedes albopictus

Universitas Sumatera Utara

 

Di bagian punggung tubuhnya tampak dua garis melengkung vertikal di
bagian kiri dan kanan yang menjadi ciri dari Spesies ini. Sisik-sisik pada tubuh
nyamuk pada umumnya mudah rontok atau terlepas sehingga menyulitkan
identifikasi pada nyamuk tua. Ukuran dan warna nyamuk ini sering kali berbeda antar
populasi, tergantung dari kondisi lingkungan dan nutrisi yang diperoleh nyamuk
selama perkembangan. Nyamuk jantan umumnya lebih kecil dari nyamuk betina dan
terdapat rambut-rambut tebal pada antena nyamuk jantan. Kedua ciri ini dapat
diamati dengan mata telanjang (Gandahusada, dkk, 2000).
2.1.3. Siklus Hidup Nyamuk Aedes spp
Spesies ini mengalami metamorfosis yang sempurna. Nyamuk betina
meletakkan telur di atas permukaan air dalam keadaan menempel pada diding tempat
permukaannya. Seekor nyamuk betina dapat meletakkan rata-rata sebanyak 100 butir
telur tiap kali bertelur, setelah kira-kira dua hari baru menetas menjadi larva, lalu
mengadakan pengelupasan kulit sebanyak 4 kali, tumbuh menjadi pupa dan untuk
menjadi dewasa memerlukan waktu kira-kira 9-10 hari (Gandahusada, dkk, 2000).
Lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 3 dibawah ini.

Gambar 3. Siklus hidup Nyamuk Aedes spp
Sumber. www.pusdiknakes.or.id

Universitas Sumatera Utara

 

1.Stadium telur
Telur Nyamuk Aedes spp berwarna gelap, berbentuk oval biasanya telur
diletakkan diatas permukaan air satu- persatu dalam keadaan menempel pada dinding
tempat perindukannya. Seekor nyamuk betina dapat meletakkan rata-rata sebanyak
100 butir telur tiap kali bertelur. Telur dapat bertahan hidup dalam waktu yang cukup
lama ditempat yang kering tanpa air dapat bertahan berbulan-bulan pada suhu 2 0C420C Namun bila air cukup tersedia, telur-telur itu biasanya menetas 2-3 hari sesudah
diletakkan ( Sembel , 2009 ).
2. Stadium Larva
Stadium larva ini sering juga disebut jentik dan berlangsung 5-7 hari,
perkembangan larva tergantung pada temperatur air, kepadatan larva, dan tersedianya
makanan, larva nyamuk hidup dengan memakan organisme-organisme kecil. Larva
akan mati pada suhu dibawah 100C dan diatas suhu 360C Larva Aedes spp memiliki
kepala yang cukup besar serta torak dan abdomen yang cukup jelas. Untuk
mendapatkan oksigen biasanya larva menggantungkan dirinya agak tegak lurus pada
permukaan air. Kebanyakan larva nyamuk menyaring mikroorganisme dan fartikelfartikel lainnya dalam air, biasanya larva melakukan pergantian kulit empat kali
(Sembel, 2009).
3. Stadium Pupa
Sesudah melewati pergantian kulit keempat, maka terjadi pupasi. Pupa
berbentuk agak pendek, tidak memerlukan makanan, tetapi tetap aktif bergerak dalam
air terutama bila diganggu. Bila perkembangan pupa sudah sempurna, yaitu sesudah 2

Universitas Sumatera Utara

 

atau 3 hari berkisar 270C - 320C umum nya nyamuk jantan menetas terlebih dahulu
dari nyamuk betina, maka kulit pupa pecah dan nyamuk dewasa keluar serta terbang
(Sembel, 2009).
4. Stadium dewasa
Pada stadium dewasa nyamuk yang keluar dari pupa menjadi nyamuk jantan
dan nyamuk betina dengan perbandingan 1 : 1. Nyamuk dewasa yang baru keluar dari
pupa berhenti sejenak diatas permukaan air untuk mengeringkan tubuhnya terutama
sayap-sayapnya sesudah mampu mengembangkan sayapnya, nyamuk dewasa akan
segera kawin dan nyamuk betina yang telah dibuahi akan mencari makan dalam
waktu 24-36 jam kemudian. Darah merupakan sumber protein terpenting untuk
mematang kan telurnya. Umur nyamuk dewasa dipengaruhi aktifitas produksi dan
jumlah makanan. Nyamuk Aedes spp dewasa rata-rata dapat hidup selama 10 hari
sedangkan di laboratorium mencapai umur 2 bulan, Aedes spp mampu terbang sejauh
2 kilometer, walaupun umumnya jarak terbangnya pendek yaitu kurang lebih 40
meter dan maksimal 100 meter.

2.1.4. Pengendalian vektor nyamuk
2.1.4.1. Pengertian pengendalian vektor
Pengendalian vektor adalah semua usaha yang dilakukan untuk menurunkan
atau menekan populasi vektor pada tingkat yang tidak membahayakan kesehatan
masyarakat.Pengendalian vektor penyakit sangat diperlukan bagi beberapa macam
penyakit karena berbagai alasan (Soemirat, 2007).

Universitas Sumatera Utara

 

2.1.4.2. Pengendalian lingkungan ( environmental control )
Pengendalian dilakukan dengan cara mengelola lingkungan (environmental
managemen),yaitu memodifikasi atau memanipulasi lingkungan, sehingga terbentuk
lingkungan yang tidak cocok (kurang baik) yang dapat mencegah atau membatasi
perkembangan vektor.
a. Modifikasi lingkungan yaitu :
Cara ini paling aman dan tidak merusak keseimbangan alam dan tidak
mencemari lingkungan, tetapi harus dilakukan terus menerus.misalnya :
pengaturan sistem irigasi, penimbunan tempat-tempat yang dapat menampung air
dan tempat-tempat pembuangan sampah, pengaliran air yang menggenang.
b. Manipulasi lingkungan yaitu :
Cara ini berkaitan dengan pembersihan atau pemeliharaan sarana fisik yang
sudah ada supaya tidak terbentuk tempat-tempat perindukan atau tempat
istirahatan serangga. Misalnya : membuang atau mencabut tumbuhan air yang
tumbuh di kolam atau rawa.
2.1.4.3. Pengendalian Vektor Secara Kimia
Insekstisida secara umum adalah senyawa kimia yang digunakan untuk
membunuh serangga pengganggu atau hanya untuk menghalau serangga saja
(repellent). Kelebihan cara pengendalian ini ialah dapat dilakukan dengan
segera,meliputi daerah yang luas,sehingga dapat menekan populasi serangga dalam
waktu yang singkat.Kekurangannya cara pengendalian ini hanya bersifat sementara

Universitas Sumatera Utara

 

dapat menimbulkan pencemaran lingkungan, kemungkinan timbulnya resistensi dan
mengakibatkan matinya beberapa pemangsa.
Selain itu yang perlu diperhatikan mengenai Spesies serangga yang akan
dikendalikan, ukuran, susunan badannya, stadium sistem pernafasan, bentuk mulut,
habitat dan perilaku serangga dewasa termasuk kebiasaan makannya.
2.1.4.4. Secara mekanis
Pengendalian secara mekanis yang bisa dilakukan adalah pemasangan kelambu
dan pemasangan pelengkap nyamuk baik menggunakan cahaya, lem atau raket
pemukul. Cara yang hingga saat ini masih dianggap paling tepat untuk
mengendalikan penyebaran penyakit demam berdarah adalah dengan mengendalikan
populasi dan penyebaran vektor. Program yang sering dikampanyekan di Indonesia
adalah 3M+1T menguras, mengubur, dan telungkupkan (wikipedia, 2008).
yaitu :
1) Menguras bak mandi, untuk memastikan tidak adanya larva nyamuk yang
berkembang di dalam air dan tidak ada telur yang melekat pada dinding bak
mandi.
2) Menutup tempat penampungan air sehingga tidak ada nyamuk yang memiliki
akses ke tempat itu untuk bertelur.
3) Mengubur barang bekas sehingga tidak dapat menampung air hujan dan
dijadikan tempat nyamuk bertelur.

Universitas Sumatera Utara

 

2.1.4.5. Secara Biologi
Pengendalian biologis antara lain adalah dengan memperbanyak pemangsa dan
parasit sebagai musuh alami bagi serangga, dapat dilakukan pengendalian serangga
yang menjadi vektor atau hospes perantara. Beberapa jenis ikan sebagai pemangsa
yang dapat mengendalikan nyamuk vektor stadium larva adalah ikan kepala timah,
ikan gabus. Beberapa cara alternatif pernah dicoba untuk mengendalikan vektor
dengue ini, antara lain mengintroduksi musuh alamiahnya yaitu larva nyamuk
Toxorhyncites spp. Predator larva Aedes spp ini ternyata kurang efektif dalam
mengurangi penyebaran virus dengue. Penggunaan insektisida yang berlebihan tidak
dianjurkan, karena sifatnya yang tidak spesifik sehingga akan membunuh berbagai
jenis serangga lain yang bermanfaat secara ekologis (Gandahusada, 2000).

2.1.5. Suhu (temperatur)
Nyamuk Aedes spp dewasa hidup pada suhu 60C-360C. Suhu yang terlalu tinggi
atau terlalu rendah dapat mempengaruhi kelangsungan hidup serta populasi nyamuk
di lingkungan. Suhu minimum adalah 150C, suhu optimum 250C, suhu maksimum
450C (Depkes RI, 2004).

2.1.6. Kelembaban
Kelembaban udara sangat mendukung dalam kelangsungan hidup nyamuk
mulai dari telur, larva, pupa hingga dewasa. Kelembaban yang dibutuhkan oleh
nyamuk untuk kelangsungan hidupnya adalah 60% - 80% (Depkes RI, 2005).

Universitas Sumatera Utara

 

2.2. Tinjauan Umum Tentang Insektisida Nabati
2.2.1. Pengertian Insektisida Nabati
Secara umum insektisida nabati di artikan sebagai suatu insektisida yang bahan
dasarnya berasal dari tumbuhan.Insektisida nabati relatif mudah di buat dengan
kemampuan dan pengetahuan terbatas, oleh karena terbuat dari bahan alami nabati.
Penggunaan insektisida nabati dimaksutkan bukan untuk meninggalkan dan
menganggap tabu penggunaan insektisida sintetis, hanya merupakan suatu cara
alternatif dengan tujuan agar pengguna tidak hanya tergantung kepada insektisida
sintetis. Tujuan lainnya adalah agar penggunaan insektisida sintetis dapat di
minimalkan sehingga lingkungan yang di akibatkannya pun diharapkan dapat di
kurangi pula (Kardinan, 2004).
Insektisida nabati mempunyai kelompok metabolit sekunder yang mengandung
beribu-ribu senyawa bioaktif seperti alkaloid, fenolik, dan zat kimia sekunder lainnya.
Senyawa bioaktif yang terdapat pada tanaman dapat di mamfaatkan seperti layaknya
insektisida sintetik. Perbedaannya adalah bahan aktif pada insektisida nabati disintesa
dari tumbuhan dan jenisnya bisa lebih dari satu macam (campuran ).
Bagian tumbuhan seperti daun, bunga, buah, biji, kulit dan batang dan
sebagainya dapat digunakan dalam bentuk utuh, bubuk ataupun ekstraksi (dengan air
ataupun pelarut organik). Insektisida nabati merupakan bahan alami, bersifat mudah
terurai di alam (biodegradable) sehingga tidak mencemari lingkungan dan relatif
aman bagi manusia maupun ternak karena residunya mudah hilang (Naria, 2005).

Universitas Sumatera Utara

 

2.2.2. Pembuatan Insektisida Nabati
Cara pembuatan insektisida nabati dari berbagai jenis tumbuhan tidak dapat di
jelaskan secara khusus atau distandarisasi karena memang sifatnya tidak berlaku
secara umum. Pembuantan insektisida nabati dapat di lakukan secara sederhana atau
secara laboratorium. Cara sederhana (jangka pendek) dapat di lakukan dengan
penggunaan ekstrak sesegera mungkin setelah pembuatan ekstrak di lakukan. Cara
laboratorium (jangka panjang) biasanya di lakukan oleh tenaga ahli yang sudah
terlatih hal tersebut menyebabkan produk insektisida nabati menjadi mahal. Hasil
kemasannya memungkinkan untuk disimpan relatif lama.
Untuk menghasilkan bahan insektisida nabati dapat di lakukan teknik sebagai
berikut:
1. Penggerusan, penumbukan atau pengepresan untuk mengahasilkan produk
berupa tepung, abu atau pasta.
2. Rendaman untuk produk ekstrak.
3. Ekstraksi dengan menggunakan bahan kimia pelarut disertai perlakuan
khusus oleh tenaga yang terampil dan dengan peralatan yang khusus.
2.2.3. Keunggulan dan Kelemahan Insektisida Nabati
Penggunaan insektisida nabati memiliki keunggulan dan kelemahan yaitu
sebagai berikut (Naria, 2005) :

Universitas Sumatera Utara

 

I. Keunggulan
1. Insektisida nabati tidak atau hanya sedikit meninggalkan residu pada
komponen lingkungan dan bahan makanan sehingga dianggap lebih aman
dari pada insektisida sintetis/kimia.
2. Zat pestisidik dalam insektisida nabati lebih cepat terurai di alam
sehingga tidak menimbulkan resistensi pada sasaran.
3. Dapat dibuat sendiri dengan cara yang sederhana.
4. Bahan membuat insektisida nabati dapat disediakan di sekitar rumah.
5. Secara ekonomi tentunya akan mengurangi biaya pembelian insektisida.
II. Kelemahan
Selain keunggulan insektisida nabati, tentunya kita tidak dapat
mengesampingkan beberapa kelemahan pemakaian insektisida nabati
tersebut kelemahanya antara lain :
1. Frekuensi penggunaan inssektisida nabati lebih tinggi di banding kan
dengan insektisida sintesis. Tingginya frekuensi penggunaan insektisida
nabati adalah karena sifatnya yang mudah terurai di lingkungan sehingga
harus lebih sering di aplikasikan.
2. Insektisida nabati memiliki bahan aktif yang kompleks (multiple
activeingredient ) dan kadang kala tidak dapat di deteksi.
3. Tanaman insektisida nabati

yang sama, tetapi tumbuh di tempat yang

berbeda. Iklim berbeda, jenis tanah berbeda, umur tanaman berbeda, dan

Universitas Sumatera Utara

 

waktu panen yang berbeda mengakibatkan bahan aktifnya menjadi sangat
bervariasi.
2.2.4. Cara masuk insektisida
Menurut cara masuk insektisida ke dalam tubuh serangga dapat dibagi menjadi
tiga kelompok sebagai berikut ( Gandahusada, 2000) :
1. Racun lambung (racun perut/stomach poison)
Racun lambung atau racun perut adalah insektisida yang membunuh serangga
sasaran dengan cara masuk melalui mulut ke organ pencernaan melalui
makanan yang di makan serangga dan menggigit mengisap diserap oleh
dinding usus kemudian ditranslokasikan ke tempat sasaran yang mematikan
sesuai dengan jenis bahan aktif insektisida misalkan manuju ke pusat syaraf
serangga menuju ke organ-organ resppirasi meracuni sel-sel lambung dan
sebagainya. Oleh, karena itu serangga harus memakan tanaman yang sudah di
semprot insektisida yang mengandung residu dalam jumlah yang cukup untuk
membunuh.
2. Racun kontak ( contact poisons )
Racun kontak adalah insektisida yang masuk dalam tubuh seraangga melalui
kulit atau langsung mangenai mulut serangga, serangga akan mati apabila
bersinggungan langsung (kontak) dengan insektisida tersebut. Kebanyakan
racun kontak juga berperan sebagai racun perut.

Universitas Sumatera Utara

 

3. Racun pernafasan ( fumigants )
Racun pernafasan adalah insektisida yang masuk melalui sistem pernafasan
serangga sasaran akan mati bila menghirup insektisida dalam jumlah yang
cukup. Kebanyakan racun pernafasan berupa gas, asap, maupun uap dari
insektisida cair.
2.2.5. Toksisitas Insektisida
Dalam mengukur Toksisitas Insektisida dikenal istilah LD50, LC50, ED50,
RL50, EC50, dan TLM dengan penjelasan sebagai berikut:

Universitas Sumatera Utara

 

Tabel 2.1. Daftar Istilah Toksisitas

Universitas Sumatera Utara

 

2.3.

Tinjauan umum tentang durian (Durio zibethinus Murr)
Durian memiliki nama latin (Durio zibethinus Murr), tanaman Durian pada

mulanya diperkirakan sebagai tumbuhan liar dan merupakan tanaman yang
serbaguna, batang nya bisa jadi bahan bangunan dan kayu bakar, buahnya memiliki
nilai ekonomis yang lumayan tinggi, aroma buah durian sangat khas dan harum,
rasanya sangat enak dan lezat. Watak pohon durian tidak mau mengalah dengan
pohon-pohon di sekitarnya, pohon durian memiliki kemampuan mengejar matahari,
karena tidak berhenti meninggi, ketinggian pohon durian bisa mencapai 50 meter,
mempunyai bunga berbentuk mangkok bermahkota 5 helai, dan mempunyai benang
sari berkisar 3-12 buah.
Pada dasar bunga terdapat bakal buah yang berbentuk oval yang terdiri dari 5
kelopak, bagian luarnya berbulu halus, rapat dan berwarna putih perak. Sedangkan
buahnya ada yang berbentuk agak bulat, ada juga yang lonjong. Garis tengah tengah
buah antara 10-25 cm. Kulit buahnya berduri, ada yang berduri runcing panjang dan
rapat, ada pula yang runcing pendek renggang. Jika buah Durian di belah maka di
dalamnya terdapat ruang-ruang atau rongga yang jumlahnya rata-rata 5, setia

Dokumen yang terkait

Karakteristik Kertas Berbahan Baku Kulit Durian Dan Sampah Kertas Perkantoran

3 71 65

Efektivitas Briket Kulit Durian Dalam Menurunkan Kadar Besi (Fe) Air Sumur Di Perumahan Milala Kelurahan Lau Cih Kecamatan Medan Tuntungan Tahun 2014

6 75 81

Pengaruh Pemberian Daging Buah Durian (Durio Zibethinus l.) terhadap Kadar Profil Lipid Darah Sukarelawan Sehat

5 92 93

Asetilasi Kayu Kemiri (Aleurites moluccana), Durian (Durio zibethinus), dan Manggis (Garcinia mangostana)

1 40 69

Efektifitas Beberapa Jenis Insektisida Terhadap Nyamuk Aedes aegypti (L.)

1 77 96

AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL KULIT BUAH DURIAN (Durio zibethinus Murr.) TERHADAP Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Kulit Buah Durian (Durio Zibethinus Murr.) Terhadap Staphylococcus Epidermidis Dan Shigella Sonnei Serta Bioautografinya.

7 21 15

AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL KULIT BUAH DURIAN (Durio zibethinus Murr.) TERHADAP Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Kulit Buah Durian (Durio Zibethinus Murr.) Terhadap Staphylococcus Epidermidis Dan Shigella Sonnei Serta Bioautografinya.

0 2 12

AKTIVITAS ANTIBAKTERI EKSTRAK ETANOL KULIT BUAH DURIAN (Durio zibethinus Murr.) TERHADAP Klebsiella Aktivitas Antibakteri Ekstrak Etanol Kulit Buah Durian (Durio Zibethinus Murr.) Terhadap Klebsiella Pneumoniae Dan Streptococcus Pyogenes Serta Bioautogra

0 3 12

UJI AKTIVITAS MINYAK ATSIRI KULIT DURIAN (Durio zibethinus Murr) SEBAGAI OBAT NYAMUK ELEKTRIK TERHADAP NYAMUK Aedes aegypti.

0 3 14

KARYA TULIS ILMIAH PERBANDINGAN EFEKTIFITAS DAYA USIR EKSTRAK KULIT DURIAN (Durio zibethinus Murr) DAN OBAT NYAMUK ELEKTRIK TERHADAP NYAMUK Aedes aegypti

1 1 18