Pengaruh Kepatuhan dan Motivasi Penderita TB Paru Terhadap Tingkat Kesembuhan dalam Pengobatan di Puskesmas Sadabuan Kota Padangsidimpuan Tahun 2011

SKRIPSI

PENGARUH KEPATUHAN DAN MOTIVASI PENDERITA TB PARU
TERHADAP TINGKAT KESEMBUHAN DALAM PENGOBATAN
DI PUSKESMAS SADABUAN KOTA PADANGSIDIMPUAN
TAHUN 2011

Oleh :

INDAH DOANITA HASIBUAN
NIM. 091000195

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit menular yang masih
menjadi masalah kesehatan penting bagi masyarakat di dunia hingga saat ini termasuk
Indonesia. Puskesmas Sadabuan merupakan puskesmas yang memiliki angka
kesembuhan terendah dari 9 puskesmas yang ada di Kota Padangsidimpuan. Jumlah
penderita TB Paru BTA positif di Puskesmas Sadabuan Kota Padangsidimpuan pada
Tahun 2008 sebanyak 103 orang dengan angka kesembuhan 85,44%. Pada Tahun
2009, terdapat 61 penderita TB Paru BTA positif tapi angka kesembuhan hanya
63,93%. Hal ini berarti terjadi penurunan angka kesembuhan di Puskesmas Sadabuan
dan belum mencapai target yang ditetapkan yaitu minimal 85%.
Jenis penelitian ini menggunakan tipe explanatory research yang bertujuan
untuk menjelaskan pengaruh kepatuhan dan motivasi (dukungan keluarga/PMO,
dorongan petugas dan rasa tanggung jawab) terhadap tingkat kesembuhan dalam
pengobatan TB paru di Puskesmas Sadabuan Kota Padangsidimpuan Tahun 2011.
Populasi adalah seluruh penderita TB paru BTA positif yang tercatat di form TB-01
dengan sampel sebanyak 44 orang. Uji statistik yang digunakan adalah regresi
logistik ganda.
Hasil uji statistik bivariat menunjukkan bahwa variabel yang mempunyai
pengaruh terhadap tingkat kesembuhan pengobatan TB paru yaitu kepatuhan
penderita (p=0,000), dukungan keluarga/PMO (p=0,005), dorongan petugas
kesehatan (p=0,033), dan rasa tanggung jawab (p=0,000). Variabel yang paling
dominan memberikan pengaruh terhadap tingkat kesembuhan pengobatan TB Paru,
yaitu kepatuhan penderita (B=3.408).
Untuk meningkatkan kesadaran (awarenes) penderita TB, perlu adanya
komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) tentang penyakit TB paru, penyuluhan atau
pemberian bimbingan konseling kepada penderita sehingga penderita lebih paham
akan penyakit yang dideritanya dan bertanggung jawab atas kesembuhannya.
Kata kunci : Kesembuhan TB Paru, Kepatuhan dan Motivasi

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACK
Tuberculosis (TB) is one of the infectious disease remains a significant
health problem for people in the world till now, including Indonesia. Sadabuan
Health Center is a clinic that has the lowest cure rate of 9 health centers in
Padangsidimpuan City. The number of patients with Pulmonary TB positive BTA at
Sadabuan health center Padangsidimpuan City by the Year 2008 as many as 103
people with cure rate 85.44%. In the year 2009, there were 61 patients with
Pulmonary TB positive BTA but cure rate only 63.93%. This means decreasing of
cure rate in Sadabuan Health Center and did not reach the target yet that was set at
least 85%.
This type of research using explanatory research that aims to explain the
effect of adherence and motivation (family support / PMO, staff support and sense of
responsibility) to cure level of pulmonary tuberculosis treatment at Sadabuan health
center Padangsidimpuan City on 2011. The population were all patients with positive
BTA pulmonary TB were recorded in the form of TB-01 with a sample size of 44
people. The statistic test was used multiple logistic regression.
The results of bivariat statistic test showed that variables which had
influence on treatment of Pulmonary TB cure rate, were patient compliance
(p=0.000), the family support/PMO (p=0.005), staff support (p=0.033) and sense of
responsibility (p=0.000). Variables that had dominant influence with treatment of
Pulmonary TB cure rate was patient compliance (B=3.408).
For increase TB patients awareness need IEC (Information, Education and
Communication) about pulmonary tuberculosis diseases, extension or counseling to
patients so that patients more understand about their diseases and responsible on
their recovery.
Key Word : Pulmonary TB cure, Compliance and Motivation

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR RIWAYAT HIDUP
Nama

: Indah Doanita Hasibuan

Tempat/Tgl Lahir

: Sibuhuan, 26 Nopember 1984

Agama

: Islam

Status Perkawianan

: Belum Menikah

Jumlah anggota keluarga

: 5 (anak ke-1 dari 5 bersaudara)

Alamat Rumah

: Jl. Setia Gg. Mulia No 36i Medan

Riwayat Pendidikan
1990 – 1996

: SD Negeri No.142926 Barumun Kecamatan
Barumun Kabupaten Padang Lawas

1996 – 1999

: SMP Negeri I Barumun Kecamatan Barumun

1999 – 2002

: SMU Negeri I Barumun

2002 – 2005

: DIII Ilmu Keperawatan USU Medan

2009 – 2011

: Fakultas Kesehatan Masyarakat USU Medan

Riwayat Pekerjaan
2005 – 2006

: Perawat Klinik Bersalin Elly Medan

2006 – 2009

: Staf Dinas Kesehatan Daerah Kota Padangsidimpuan

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT karena atas rahmat dan
karunia-Nyalah penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan judul Pengaruh
Kepatuhan dan Motivasi Penderita TB Paru Terhadap Tingkat Kesembuhan
dalam Pengobatan di Puskesmas Sadabuan Kota Padangsidimpuan Tahun 2011,
guna memenuhi salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kesehatan
Masyarakat.
Dalam penyusunan skripsi ini, penulis banyak mendapatkan bimbingan dan
bantuan baik moril maupun materil oleh karena itu penulis mengucapkan terima kasih
yang sedalam-dalamnya kepada :
1. Dr. Drs. Surya Utama, M.S., selaku Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat
Universitas Sumatera Utara.
2. dr. Heldy B.Z, M.P.H., selaku Ketua Departemen Administrasi dan Kebijakan
Kesehatan, Dosen Pembimbing I sekaligus sebagai Ketua Penguji.
3. Siti Khadijah Nst., SKM, M. Kes., selaku Dosen Pembimbing II dan Dosen
Penguji I.
4. Prof. dr. Aman Nasution, M.P.H selaku Dosen Penguji II.
5. dr. Fauzi, SKM, selaku Dosen Penguji III.
6. Ir. Evi Naria, M.Kes, selaku Dosen Pembimbing Akademik.
7. Para Dosen dan Staf di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera
Utara khususnya Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan.

Universitas Sumatera Utara

8. Seluruh jajaran Dinas Kesehatan Kota Padangsidimpuan secara khusus
kepada drg. Khairunnisa, selaku Kepala Puskesmas Sadabuan Kota
Padangsidimpuan.
9. Terkhusus kepada kedua orang tua tercinta, Ayahanda Darman Hasibuan dan
Ibunda Pinta Marsaulina, adik-adikku Rini, Ikhsan, Hafiz dan Obi yang
senantiasa mendukung dan mendoakan penulis untuk menyelesaikan skripsi
ini.
10. Sahabat-sahabat terbaikku Sondari, Hariyanti dan Syafrina.
11. Teman-teman seperjuangan di Departemen Administrasi dan Kebijakan
Kesehatan dan semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.
Akhirnya semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang
memerlukannya.

Medan, Juli 2011
Penulis

INDAH DOANITA HASIBUAN

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
Halaman
Halaman Persetujuan..............................................................................................
Abstrak ..................................................................................................................
Abstract .................................................................................................................
Daftar Riwayat Hidup............................................................................................
Kata Pengantar.......................................................................................................
Daftar Isi ................................................................................................................
Daftar Tabel.............................................................................................................

i
ii
iii
iv
v
vii
x

BAB I

PENDAHULUAN .................................................................................
1.1. Latar Belakang ..............................................................................
1.2. Perumusan Masalah.......................................................................
1.3. Tujuan Penelitian...........................................................................
1.4. Manfaat Penelitian.........................................................................

1
1
8
8
8

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA........................................................................
2.1. Tuberkulosis .................................................................................
2.1.1. Cara Penularan...................................................................
2.1.2. Risiko Penularan................................................................
2.1.3. Gejala-gejala Tuberkulosis.................................................
2.1.4. Penemuan Penderita Tuberkulosis Paru.............................
2.1.5. Diagnosis Tuberkulosis Paru.............................................
2.1.6. Klasifikasi Penyakit...........................................................
2.1.7. Tipe Penderita Tuberkulosis Paru.....................................
2.1.8. Pengobatan Tuberkulosis Paru..........................................
2.1.8.1. Prinsip Pengobatan Tuberkulosis.........................
2.1.8.2. Hasil Pengobatan.................................................
2.2. Penanggulangan TB Paru..............................................................
2.2.1. Rencana Global Penanggulangan TB Paru.......................
2.2.2. Strategi DOTS...................................................................
2.3. Pengawas Minum Obat (PMO).....................................................
2.4. Faktor-faktor yang Memengaruhi Kesembuhan............................
2.4.1. Kepatuhan Berobat............................................................
2.4.2. Motivasi.............................................................................
2.4.2.1. Definisi Motivasi.................................................
2.4.2.2. Teori Motivasi.....................................................
2.5. Kerangka Konsep........ ..................................................................
2.6. Hipotesis Penelitian.......................................................................

9
9
9
10
10
10
11
11
12
13
13
14
15
16
16
18
19
19
23
23
24
26
27

BAB III METODE PENELITIAN .................................................................... 28
3.1. Jenis Penelitian ............................................................................. 28
3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian......................................................... 28

Universitas Sumatera Utara

3.3.
3.4.
3.5.
3.6.

Populasi dan Sampel......................................................................
Metode Pengumpulan Data ...........................................................
Definisi Operasional......................................................................
Aspek Pengukuran.........................................................................
3.6.1. Aspek Pengukuran Variabel Independen..........................
3.6.2. Aspek Pengukuran Variabel Dependen.............................
3.7. Teknik Analisa Data......................................................................

28
29
29
31
31
32
32

BAB IV HASIL PENELITIAN...........................................................................
4.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian..............................................
4.1.1. Letak Geografis.................................................................
4.1.2. Demografis........................................................................
4.1.3. Sumber Daya Kesehatan....................................................
4.2. Analisis Univariat..........................................................................
4.2.1. Deskripsi Karakteristik Responden...................................
4.2.2. Deskripsi Responden Berdasarkan Kepatuhan Penderita..
4.2.3. Deskripsi Responden Berdasarkan Dukungan
Keluarga/PMO...................................................................
4.2.4. Deskripsi Responden Berdasarkan Dorongan
Petugas Kesehatan .............................................................
4.2.5. Deskripsi Responden Berdasarkan Rasa Tanggung
Jawab.................... .............................................................
4.2.6. Deskripsi Responden Berdasarkan Tingkat Kesembuhan
Pengobatan.........................................................................
4.3. Analisis Bivariat............................................................................
4.4. Analisis Multivariat.......................................................................
4.5. Hasil Wawancara...........................................................................

34
34
34
34
35
36
36
37

44
45
47
48

BAB V

50

PEMBAHASAN....................................................................................
5.1. Pengaruh Kepatuhan Penderita terhadap Tingkat Kesembuhan
Pengobatan TB Paru......................................................................
5.2. Pengaruh Motivasi terhadap Tingkat Kesembuhan Pengobatan
TB Paru..........................................................................................
5.2.1. Pengaruh Dukungan Keluarga/PMO terhadap Tingkat
Kesembuhan Pengobatan TB Paru.....................................
5.2.2. Pengaruh Dorongan Petugas Kesehatan terhadap
Tingkat Kesembuhan Pengobatan TB Paru.......................
5.2.3. Pengaruh Rasa Tanggung Jawab terhadap Tingkat
Kesembuhan Pengobatan TB Paru.....................................
5.3. Pengaruh Kepatuhan dan Motivasi (Dukungan Keluarga/
PMO, Dorongan Petugas Kesehatan dan
Rasa Tanggung Jawab) terhadap Tingkat Kesembuhan
Pengobatan TB Paru......................................................................
5.4. Variabel Lain Memengaruhi Tingkat Kesembuhan
Pengobatan TB Paru yang Ditemukan di Lapangan......................

39
41
43

50
52
52
53
54

54
55

Universitas Sumatera Utara

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN............................................................
6.1. Kesimpulan...................................................................................
6.2. Saran.............................................................................................

56
56
57

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
1.
2.
3.
4.

Kuesioner
Hasil Pengolahan Statistik
Surat Permohonan Izin Penelitian
Surat Keterangan Telah Melaksanakan Penelitian

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

Halaman
Tabel 1.1.

Jumlah Kesakitan
dan
Kesembuhan TB Paru Menurut
Puskesmas di Kota Padangsidimpuan Tahun 2008 - 2009 .............

6

Tabel 3.1.

Aspek Pengukuran Variabel Independen........................................

32

Tabel 3.2.

Aspek Pengukuran Variabel Dependen .........................................

32

Tabel 4.1.

Distribusi Penduduk Berdasarkan Jenis Kelamin ..........................

35

Tabel 4.2.

Puskesmas Pembantu di Wilayah Kerja Puskesmas Sadabuan .......

35

Tabel 4.3.

Jenis Tenaga Kesehatan di Puskesmas Sadabuan ..........................

36

Tabel 4.4.

Distribusi Responden Berdasarkan Umur, Jenis Kelamin,
Pendidikan dan Pekerjaan ..............................................................

37

Tabel 4.5.

Distribusi Responden Berdasarkan Kepatuhan Penderita ...............

38

Tabel 4.6.

Distribusi Responden Berdasarkan Kategori Kepatuhan
Penderita .......................................................................................

39

Tabel 4.7.

Distribusi Responden Berdasarkan Dukungan Keluarga/ PMO ......

40

Tabel 4.8.

Distribusi Responden Berdasarkan Kategori Dukungan
Keluarga/ PMO .............................................................................

41

Distribusi Responden Berdasarkan Dorongan Petugas Kesehatan ..

42

Tabel 4.10. Distribusi Kategori Dorongan Petugas Kesehatan ..........................

42

Tabel 4.11. Distribusi Responden Berdasarkan Rasa Tanggung Jawab .............

43

Tabel 4.12. Distribusi Kategori Rasa Tanggung Jawab ....................................

44

Tabel 4.13. Distribusi Responden Berdasarkan Tingkat Kesembuhan
Pengobatan ....................................................................................

44

Tabel 4.14. Hubungan Kepatuhan Penderita dengan Tingkat Kesembuhan.......

45

Tabel 4.9.

Universitas Sumatera Utara

Tabel 4.15. Hubungan Dukungan Keluarga/PMO dengan Tingkat
Kesembuhan ..................................................................................

46

Tabel 4.16. Hubungan Dorongan Petugas Kesehatan dengan Tingkat
Kesembuhan ..................................................................................

46

Tabel 4.17. Hubungan Rasa Tanggung Jawab dengan Tingkat Kesembuhan ....

47

Tabel 4.18. Hasil Analisis Multivariat Regresi Logistik Antara Kepatuhan
Penderita, Dukungan Keluarga/PMO, Dorongan Petugas
Kesehatan dan Rasa Tanggung Jawab
dengan Tingkat
Kesembuhan ..................................................................................

47

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1 Kerangka Konsep Penelitian ........................................................... 26

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Tuberkulosis (TB) merupakan salah satu penyakit menular yang masih
menjadi masalah kesehatan penting bagi masyarakat di dunia hingga saat ini termasuk
Indonesia. Puskesmas Sadabuan merupakan puskesmas yang memiliki angka
kesembuhan terendah dari 9 puskesmas yang ada di Kota Padangsidimpuan. Jumlah
penderita TB Paru BTA positif di Puskesmas Sadabuan Kota Padangsidimpuan pada
Tahun 2008 sebanyak 103 orang dengan angka kesembuhan 85,44%. Pada Tahun
2009, terdapat 61 penderita TB Paru BTA positif tapi angka kesembuhan hanya
63,93%. Hal ini berarti terjadi penurunan angka kesembuhan di Puskesmas Sadabuan
dan belum mencapai target yang ditetapkan yaitu minimal 85%.
Jenis penelitian ini menggunakan tipe explanatory research yang bertujuan
untuk menjelaskan pengaruh kepatuhan dan motivasi (dukungan keluarga/PMO,
dorongan petugas dan rasa tanggung jawab) terhadap tingkat kesembuhan dalam
pengobatan TB paru di Puskesmas Sadabuan Kota Padangsidimpuan Tahun 2011.
Populasi adalah seluruh penderita TB paru BTA positif yang tercatat di form TB-01
dengan sampel sebanyak 44 orang. Uji statistik yang digunakan adalah regresi
logistik ganda.
Hasil uji statistik bivariat menunjukkan bahwa variabel yang mempunyai
pengaruh terhadap tingkat kesembuhan pengobatan TB paru yaitu kepatuhan
penderita (p=0,000), dukungan keluarga/PMO (p=0,005), dorongan petugas
kesehatan (p=0,033), dan rasa tanggung jawab (p=0,000). Variabel yang paling
dominan memberikan pengaruh terhadap tingkat kesembuhan pengobatan TB Paru,
yaitu kepatuhan penderita (B=3.408).
Untuk meningkatkan kesadaran (awarenes) penderita TB, perlu adanya
komunikasi, informasi dan edukasi (KIE) tentang penyakit TB paru, penyuluhan atau
pemberian bimbingan konseling kepada penderita sehingga penderita lebih paham
akan penyakit yang dideritanya dan bertanggung jawab atas kesembuhannya.
Kata kunci : Kesembuhan TB Paru, Kepatuhan dan Motivasi

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACK
Tuberculosis (TB) is one of the infectious disease remains a significant
health problem for people in the world till now, including Indonesia. Sadabuan
Health Center is a clinic that has the lowest cure rate of 9 health centers in
Padangsidimpuan City. The number of patients with Pulmonary TB positive BTA at
Sadabuan health center Padangsidimpuan City by the Year 2008 as many as 103
people with cure rate 85.44%. In the year 2009, there were 61 patients with
Pulmonary TB positive BTA but cure rate only 63.93%. This means decreasing of
cure rate in Sadabuan Health Center and did not reach the target yet that was set at
least 85%.
This type of research using explanatory research that aims to explain the
effect of adherence and motivation (family support / PMO, staff support and sense of
responsibility) to cure level of pulmonary tuberculosis treatment at Sadabuan health
center Padangsidimpuan City on 2011. The population were all patients with positive
BTA pulmonary TB were recorded in the form of TB-01 with a sample size of 44
people. The statistic test was used multiple logistic regression.
The results of bivariat statistic test showed that variables which had
influence on treatment of Pulmonary TB cure rate, were patient compliance
(p=0.000), the family support/PMO (p=0.005), staff support (p=0.033) and sense of
responsibility (p=0.000). Variables that had dominant influence with treatment of
Pulmonary TB cure rate was patient compliance (B=3.408).
For increase TB patients awareness need IEC (Information, Education and
Communication) about pulmonary tuberculosis diseases, extension or counseling to
patients so that patients more understand about their diseases and responsible on
their recovery.
Key Word : Pulmonary TB cure, Compliance and Motivation

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang
Penyakit tuberkulosis menjadi salah satu perhatian global karena kasus

tuberkulosis yang tinggi dapat berdampak luas terhadap kualitas hidup dan ekonomi
bahkan mengancam keselamatan jiwa manusia. Tuberkulosis (TB) merupakan salah
satu penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan penting bagi
masyarakat di dunia hingga saat ini. Tuberkulosis adalah penyakit infeksi yang
disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dan biasa terdapat pada paru-paru tetapi
dapat mengenai organ tubuh lainnya. Sekitar 75% penderita TB adalah kelompok usia
yang paling produktif secara ekonomis (Depkes RI, 2008).
Kerugian yang diakibatkan oleh penyakit tuberkulosis paru bukan hanya dari
aspek kesehatan semata tetapi juga dari aspek sosial ekonomi. Diperkirakan seorang

pasien TB dewasa, akan kehilangan rata-rata waktu kerjanya 3 sampai 4 bulan yang
berakibat pada kehilangan pendapatan tahunan rumah tangganya sekitar 20-30%
yang pada akhirnya akan berdampak terhadap ekonomi secara nasional. Jika ia
meninggal akibat TB, maka akan kehilangan pendapatannya sekitar 15 Tahun.
Dengan demikian tuberkulosis paru merupakan ancaman terhadap cita-cita pembangunan
dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat secara menyeluruh. Karenanya perang
terhadap penyakit tuberkulosis paru berarti pula perang terhadap kemiskinan,
ketidakproduktifan dan kelemahan akibat tuberkulosis. Selain merugikan secara

ekonomis, TB juga memberikan dampak buruk lainnya secara sosial stigma bahkan
dikucilkan oleh masyarakat (Depkes RI, 2008).

Universitas Sumatera Utara

Berdasarkan Global Tuberculosis Control Tahun 2010, World Health
Organization (WHO) memerkirakan Prevalensi TB paru di dunia sekitar 14 juta
kasus, kemudian 9,4 juta kasus baru TB paru pada Tahun 2009 dan terdapat 1,7 juta
orang meninggal akibat TB paru pada tahun yang sama, dengan 4.700 kematian per
hari. Kejadian tingkat global diperkirakan turun menjadi 137 kasus per 100.000
penduduk pada Tahun 2009, setelah memuncak pada Tahun 2004 yaitu 142 kasus per
100.000 penduduk. Akan tetapi menurunnya angka ini dinilai masih terlalu lambat.
Secara global, persentase penduduk yang berhasil diobati mencapai level tertinggi
86% pada Tahun 2008. Sebagian besar kasus ditemukan di Asia tenggara, Afrika dan
wilayah pasifik barat.
Berdasarkan Global Tuberculosis Control (Global Report TB, 2010), situasi
epidemiologi TB Indonesia pada Tahun 2009, menunjukkan bahwa Insidensi kasus
baru TB BTA Positif sebesar 102 per 100.000 penduduk atau sekitar 236.029 kasus
baru TB Paru BTA Positif sedangkan kematian TB paru 39 per 100.000 penduduk
atau 250 orang per hari. Tingginya angka kematian dari penyakit tuberkulosis paru ini
menunjukkan rendahnya IPM (Indeks Pembangunan Manusia) dari sisi kesehatan dan
adanya penurunan tingkat kesejahteraan masyarakat di wilayah tersebut (Kurniasih,
2009).
Dengan munculnya pandemi HIV/AIDS di dunia menambah permasalahan
TB Paru. Koinfeksi dengan HIV akan meningkatkan risiko kejadian TB Paru secara
signifikan. Pada saat yang sama, kekebalan ganda kuman TB Paru terhadap obat anti
TB (multidrug resistance = MDR) membuat masalah menjadi lebih besar akibat

Universitas Sumatera Utara

kasus yang tidak berhasil disembuhkan. Keadaan tersebut pada akhirnya akan
menyebabkan terjadinya epidemi TB Paru yang sulit ditangani (Depkes RI, 2008).
Menurut IDI (2008), Indonesia sebagai negara dengan urutan ke-3 terbanyak
setelah India dan Cina dalam jumlah penderita tuberkulosis dengan angka prevalensi
225/100.000 penduduk, seyogianya harus berupaya semaksimal mungkin untuk
menurunkan angka tersebut menjadi 50% nya pada Tahun 2015. WHO
mencanangkan tahun kedaruratan global penyakit tuberkulosis paru (TB) pada Tahun
1993 karena penyakit TB tidak terkendali pada sebagian besar negara di dunia akibat
banyaknya penderita yang tidak berhasil disembuhkan, terutama penderita menular
BTA (Bakteri Tahan Asam) positif (Depkes RI, 2002).
Sejak Tahun 1995, program Pemberantasan Tuberculosis Paru, telah
dilaksanakan dengan strategi DOTS (Directly Observed Treatment, Shortcourse
Chemotherapy) yang direkomendasikan oleh WHO. Kemudian berkembang seiring
dengan

pembentukan

Gerakan Terpadu Nasional (GERDUNAS) TB, maka

pemberantasan penyakit tuberkulosis Paru berubah menjadi program penanggulangan
tuberkulosis. Strategi DOTS mengandung lima komponen, yaitu : 1) komitmen politis
para pengambil keputusan untuk menjalankan program TB nasional, 2) diagnosis TB
dengan pemeriksaan BTA mikroskopik, 3) pengobatan dengan obat anti TB yang

diawasi langsung oleh pengawas menelan obat (PMO), 4) ketersediaan obat, 5)
pencatatan dan pelaporan hasil kinerja program TB (Depkes RI, 2002).

Kunci sukses penanggulangan TB adalah menemukan penderita dan
mengobati penderita sampai sembuh. WHO menetapkan target global Case Detection
Rate (CDR) atau penemuan kasus TB sebesar 70%, dan Cure Rate (CR) atau angka

Universitas Sumatera Utara

kesembuhan/keberhasilan pengobatan sebesar 85%. Hasil yang dicapai Indonesia
dalam menanggulangi TB hingga saat ini telah meningkat. Angka penemuan kasus
TB Paru yang ditemukan pada Tahun 2007 sebesar 160.617 orang (69,12%)
meningkat menjadi 161.115 orang (69,82%) pada Tahun 2008. Keberhasilan
pengobatan TB dari 81,5 % pada kelompok penderita yang ditemukan pada tahun
2007 meningkat menjadi 82,8 % pada Tahun 2008. Akan tetapi angka tersebut masih
di bawah target yang ditetapkan oleh WHO (Depkes RI, 2009).
Dalam lima tahun terakhir jumlah kasus TB paru BTA positif di Sumatera
Utara menunjukkan angka yang tidak stabil. Selama Tahun 2005-2006 kasus TB paru
mengalami peningkatan dari 13.401 kasus menjadi 16.678 kasus, namun Tahun 2007
mengalami penurunan dengan jumlah 13.369 kasus. Jumlah kasus TB paru naik
menjadi 14.158 kasus pada Tahun 2008 dan mengalami peningkatan lagi menjadi
17.026 kasus pada Tahun 2009 (Dinkes Sumut, Bid. P2 & PL 2010).
Penelitian Amiruddin (2006), menunjukkan bahwa terdapat 3 variabel yang
memengaruhi terjadinya kesembuhan dalam pengobatan penderita TB paru di Kota
Ambon yakni Pengawas Menelan Obat (PMO), kepatuhan berobat penderita TB paru
dan efek samping obat. Penelitian Pratiwi (2004), di Kabupaten Kudus menunjukkan
adanya hubungan bermakna antara perilaku dan lingkungan sosial ekonomi dengan
kesembuhan pengobatan TB Paru. Hasil penelitian lainnya, Rizkiyani (2008),
menunjukkan bahwa faktor keteraturan berobat memiliki pengaruh yang kuat dalam
menentukan kesembuhan penderita TB paru di Jakarta Barat.
Menurut Smeltzer dan Bare dalam Sujana (2010), yang menjadi alasan
utama gagalnya pengobatan adalah pasien tidak mau minum obatnya secara teratur

Universitas Sumatera Utara

dalam waktu yang diharuskan. Pasien biasanya bosan harus minum banyak obat
setiap hari selama beberapa bulan, karena itu pada pasien cenderung menghentikan
pengobatan secara sepihak.
Perilaku penderita untuk menjalani pengobatan secara teratur dipengaruhi
beberapa faktor. Menurut Mantra dalam Sujana (2010), perilaku dipengaruhi oleh
faktor pengetahuan, motivasi, kepercayaan dan sikap positif, tersedianya sarana dan
prasarana yang diperlukan dan terdapat dorongan yang dilandasi kebutuhan yang
dirasakan.
Menurut Stoner dan Freedman dalam Sujana (2010), untuk terwujudnya
sebuah perilaku menjadi suatu tindakan maka diperlukan sebuah motivasi. Motivasi
adalah karakteristik psikologi manusia yang memberi kontribusi pada tingkat
komitmen seseorang, hal ini termasuk faktor yang menyebabkan, menyalurkan, dan
mempertahankan tingkah laku manusia dalam arah tekad tertentu.
Menurut Harita dalam Nasution (2003), untuk mencapai keberhasilan
pengobatan dibutuhkan motivasi kesembuhan dari penderita yang menjadi daya
penggerak dalam diri individu sebagai upaya untuk mencari jalan keluar. Orang
dengan motivasi tinggi akan cepat pulih dari penyakitnya.
Banyak yang memengaruhi motivasi seseorang untuk sembuh dari
penyakitnya. Secara umum dapat dibagi menjadi tiga faktor yaitu : 1) Faktor dari
dalam individu, 2) Faktor dari luar individu, dan 3) Faktor religiusitas. Faktor dari
dalam individu dapat berasal dari keinginan seseorang untuk sembuh karena adanya
dorongan untuk melepaskan diri dari rasa sakit yang dideritanya (Siswanto, 1999).

Universitas Sumatera Utara

Kota Padangsidimpuan terdiri dari 6 kecamatan dengan 9 Puskesmas.
Berdasarkan Profil Dinas kesehatan Kota Padangsidimpuan Tahun 2007, diketahui
bahwa dari 870 penderita TB paru klinis dan 118 penderita TB Paru BTA positif yang
ada di Puskesmas Sadabuan, sebanyak 112 orang dinyatakan sembuh (94,91%). Pada
Tahun 2008, terdapat 927 penderita TB paru klinis dan 103 BTA (+) dengan angka
kesembuhan sebesar 85,44%. Meskipun angka kesembuhan tersebut sudah melebihi
target nasional, akan tetapi angka kesembuhan di Puskesmas Sadabuan terus
mengalami penurunan hingga pada Tahun 2009, Puskesmas Sadabuan merupakan
puskesmas dengan angka kesembuhan paling rendah dari 9 puskesmas yang ada di
Kota Padangsidimpuan yaitu sebesar 63,93%. Kemudian pada Tahun 2010 terdapat
peningkatan jumlah penderita TB Paru BTA (+) yaitu sebanyak 83 orang.
Data dari Dinas Kesehatan Kota Padangsidimpuan mengenai jumlah
kesakitan dan kesembuhan TB Paru di Kota Padangsidimpuan dari Tahun 2008
hingga 2009 dapat dilihat pada Tabel 1.1. berikut :
Tabel 1.1.

Jumlah Kesakitan dan Kesembuhan TB Paru Menurut
Puskesmas di Kota Padangsidimpuan Tahun 2008 - 2009

No Puskesmas
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Sadabuan
Padangmatinggi
Sidangkal
Batunadua
Hutaimbaru
Pijorkoling
Labuhan Rasoki
Pokenjior
Pintu Langit
Jumlah

Klinis
927
1.157
135
204
113
197
138
89
2.960

2008
BTA (+) % Sembuh
103
85,44
160
76,88
12
50,00
19
78,95
19
89,47
13
92,31
16
62,50
12
91,67
354

79,66

Klinis
610
717
107
177
193
250
138
52
2.244

2009
BTA(+) % Sembuh
61
63,93
61
75,41
10
70,00
14
85,71
18
100,00
26
76,92
28
75,00
10
90,00
228
75,44

Sumber : Profil Dinkes Kota Padangsidimpuan Tahun (2008-2009)

Universitas Sumatera Utara

Data di atas menunjukkan bahwa angka kesembuhan penderita TB paru
terendah terdapat di Puskesmas Sadabuan sebesar 63,93% dan jika dibandingkan
dengan angka kesembuhan nasional 85%, maka persentase angka kesembuhan ini
belum mencapai target minimal yang telah ditetapkan WHO tersebut.
Berdasarkan survei pendahuluan peneliti, dari pernyataan beberapa penderita
TB paru di Puskesmas Sadabuan dapat diketahui bahwa kurangnya motivasi berobat
penderita TB Paru baik motivasi yang berasal dari individu itu sendiri maupun dari
luar dirinya. Salah satu penyebabnya adalah karena penderita merasa bosan dan lelah
dalam menjalani pengobatan.
Masih rendahnya cakupan angka kesembuhan berdampak negatif pada
kesehatan masyarakat dan keberhasilan pencapaian program, karena masih memberi
peluang terjadinya penularan penyakit TB Paru kepada anggota keluarga dan
masyarakat sekitarnya. Selain itu memungkinkan terjadinya resistensi kuman TB
Paru terhadap Obat Anti Tuberkulosis (OAT), sehingga menambah penyebarluasan
penyakit TB Paru, meningkatkan kesakitan dan kematian akibat TB Paru (Amiruddin,
2006).
Berdasarkan uraian di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan
penelitian tentang pengaruh kepatuhan dan motivasi penderita TB Paru terhadap
tingkat

kesembuhan

dalam

pengobatan

di

Puskesmas

Sadabuan

Kota

Padangsidimpuan Tahun 2011.

Universitas Sumatera Utara

1.2.

Perumusan masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka yang menjadi perumusan

masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pengaruh kepatuhan dan motivasi
penderita TB Paru terhadap tingkat kesembuhan dalam pengobatan di Puskesmas
Sadabuan Kota Padangsidimpuan Tahun 2011.

1.3.

Tujuan Penelitian
Untuk menjelaskan pengaruh kepatuhan dan motivasi penderita TB Paru

terhadap tingkat kesembuhan dalam pengobatan di Puskesmas Sadabuan Kota
Padangsidimpuan Tahun 2011.

1.4.

Manfaat Penelitian

1.

Sebagai informasi dan bahan masukan kepada pihak Dinas Kesehatan Kota
Padangsidimpuan dalam penanggulangan penyakit TB Paru.

2.

Sebagai bahan masukan bagi Puskesmas Sadabuan Kota Padangsidimpuan
dalam melaksanakan program penanggulangan TB Paru dan meningkatkan
kualitas pelayanan kesehatan kepada penderita TB paru.

3.

Sebagai bahan informasi dan pengembangan bagi penelitian sejenis dan
berkelanjutan.

Universitas Sumatera Utara

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Tuberkulosis
Tuberkulosis adalah penyakit menular langsung yang disebabkan oleh

kuman yang disebut Mycobacterium tuberculosis dan bukanlah penyakit keturunan
tetapi dapat ditularkan dari seseorang ke orang lain. Sebagian besar kuman TB
menyerang paru, tetapi dapat juga mengenai organ tubuh lainnya (Aditama, 1994).
Kuman tuberkulosis mempunyai sifat khusus yaitu tahan terhadap asam pada
pewarnaan sehingga disebut sebagai Basil Tahan Asam (BTA). Kuman TB Paru
cepat mati dengan sinar matahari langsung, tetapi dapat bertahan hidup beberapa jam
di tempat yang gelap dan lembab. Dalam jaringan tubuh kuman ini dapat dormant,
tertidur lama selama beberapa tahun (Depkes RI, 2002).

2.1.1.

Cara Penularan
Sumber penularan adalah penderita TB Paru BTA positif yang belum

diobati. Kuman TB menyebar dalam bentuk percikan dahak (droplet nuclei), pada
waktu penderita batuk atau bersin. Sekali batuk dapat menghasilkan sekitar 3000
percikan dahak. Percikan dahak dapat bertahan selama beberapa jam dalam keadaan
yang gelap dan lembab. Daya penularan seorang penderita ditentukan oleh banyaknya
kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat kepositifan hasil
pemeriksaan dahak, makin menular penderita tersebut. Kemungkinan seseorang
terpajan kuman TB ditentukan oleh konsentrasi percikan dalam udara dan lamanya
menghirup udara tersebut (Depkes RI, 2008).

9
Universitas Sumatera Utara

2.1.2.

Risiko Penularan
Risiko penularan setiap tahun (Annual Risk of Tuberculosis Infection =

ARTI) yaitu proporsi penduduk yang berisiko terinfeksi TB selama satu tahun. ARTI
sebesar 1 %, berarti diantara 1000 penduduk terdapat sepuluh orang terinfeksi setiap
tahun. ARTI di Indonesia bervariasi antara 1-3 %. Kemungkinan seseorang menjadi
penderita TB adalah daya tahan tubuh yang rendah, diantaranya infeksi HIV/AIDS
dan malnutrisi/gizi buruk (Depkes RI, 2008).

2.1.3.

Gejala-Gejala Tuberkulosis
Gejala utama penderita TB paru adalah batuk berdahak selama 2-3 minggu

atau lebih. Batuk dapat diikuti dengan gejala tambahan yaitu dahak bercampur darah,
batuk darah, sesak nafas, badan lemas, nafsu makan menurun, berat badan menurun,
rasa kurang enak badan (malaise), berkeringat malam hari tanpa kegiatan fisik,
demam meriang lebih dari satu bulan. Setiap orang dengan gejala tersebut dianggap
sebagai seorang tersangka (suspek) penderita TB dan perlu dilakukan pemeriksaan
dahak secara mikroskopis (Depkes RI, 2008).

2.1.4.

Penemuan Penderita Tuberkulosis Paru
Menurut Depkes RI (2008), penemuan penderita merupakan langkah

pertama dalam kegiatan program penanggulangan TB Paru yang terdiri dari
penjaringan suspek, diagnosis, penentuan klasifikasi penyakit dan tipe penderita.
Penemuan penderita TB paru dilakukan secara pasif dengan promosi aktif.
Penjaringan tersangka penderita dilakukan di Unit Pelayanan Kesehatan (UPK);
didukung dengan penyuluhan secara aktif baik oleh petugas kesehatan maupun

Universitas Sumatera Utara

masyarakat untuk meningkatkan cakupan penemuan tersangka penderita TB. Selain
itu, semua kontak penderita TB Paru BTA positif dengan gejala sama, harus diperiksa
dahaknya.

2.1.5.

Diagnosis Tuberkulosis Paru
Untuk mengetahui adanya tuberkulosis, dokter biasanya berpegang pada tiga

patokan utama. Pertama, hasil wawancaranya tentang keluhan pasien dan hasil
pemeriksaan yang dilakukan pada pasien yang disebut dengan anamnesis. Kedua,
hasil pemeriksaan laboratorium untuk menemukan adanya BTA pada spesimen
penderita dengan cara pemeriksaan 3 spesimen dahak dalam waktu 2 hari berturutturut yaitu sewaktu-pagi-sewaktu (SPS). Ketiga, pemeriksaaan rontgen dada yang
akan memperlihatkan gambaran paru yang akan diperiksanya. Selain ketiga patokan
tersebut kadang dokter juga mengumpulkan data tambahan dari hasil pemeriksaan
darah atau pemeriksaan tambahan lain (Aditama, 1994).

2.1.6.

Klasifikasi Penyakit

1.

Tuberkulosis (TB ) Paru
Menurut Depkes RI (2008), Tuberkulosis (TB ) Paru adalah tuberkulosis

yang menyerang jaringan paru, tidak termasuk pleura (selaput paru) dan kelenjar pada
hilus. Berdasarkan hasil pemeriksaan dahak, TB paru dibagi dalam :
a.

TB Paru BTA (+)
Sekurang-kurangnya 2 dari 3 spesimen dahak Sewaktu-Pagi-Sewaktu
(SPS) hasilnya BTA positif. Satu spesimen dahak SPS hasilnya BTA
positif dan foto toraks dada menunjukkan gambaran TB.

Universitas Sumatera Utara

b.

TB Paru BTA (-)
Pemeriksaan 3 spesimen dahak SPS hasilnya BTA negatif dan foto
toraks menunjukkan gambaran TB. Tidak ada perbaikan setelah
pemberian antibiotika dan non OAT (Obat Anti Tuberkulosis).

2.

Tuberkulosis (TB ) Ekstra Paru
Tuberkulosis yang menyerang organ tubuh lain selain paru, misalnya pleura

(selaput paru), selaput otak, pericardium (selaput jantung), kelenjar lymfe, tulang,
ginjal dan lain-lain. TB ekstra paru dibagi berdasarkan tingkat keparahan
penyakitnya, yaitu :
a.

TB ekstra paru ringan, misalnya TB kelenjar lymfe, tulang (kecuali
tulang belakang), sendi dan kelenjar adrenal.

b.

TB ekstra paru berat, misalnya Meningitis millier, perikarditis, TB
tulang belakang, TB usus, TB saluran kemih dan alat kelamin (Depkes
RI, 2008).

2.1.7.

Tipe Penderita Tuberkulosis Paru
Menurut Depkes RI (2008), tipe penderita ditentukan berdasarkan riwayat

pengobatan sebelumnya, ada beberapa tipe penderita yaitu :
1.

Baru adalah penderita yang belum pernah diobati dengan Obat Anti
Tuberkulosis (OAT) atau sudah pernah menelan OAT kurang dari satu bulan
(4 minggu).

Universitas Sumatera Utara

2.

Kambuh (Relaps) adalah penderita tuberkulosis yang sebelumnya pernah
mendapatkan pengobatan tuberkulosis dan telah dinyatakan sembuh,
kemudian didiagnosis kembali dengan BTA positif.

3.

Pengobatan setelah putus berobat (Default) adalah penderita yang telah
berobat dan putus berobat 2 bulan atau lebih dengan BTA positif.

4.

Gagal (Failure) adalah penderita yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap
positif atau kembali menjadi positif pada bulan ke lima atau lebih selama
pengobatan.

5.

Pindahan (Transfer In) adalah penderita yang dipindahkan dari Unit
Pelayanan Kesehatan (UPK) yang memiliki register TB lain untuk
melanjutkan pengobatannya.

6.

Lain-lain adalah kasus yang tidak memenuhi ketentuan diatas. Dalam
kelompok ini termasuk Kasus Kronis, yaitu penderita dengan hasil
pemeriksaan masih BTA positif setelah selesai pengobatan ulangan.

2.1.8.

Pengobatan Tuberkulosis Paru

2.1.8.1. Prinsip Pengobatan Tuberkulosis Paru
Menurut Depkes RI (2008), OAT diberikan dalam bentuk kombinasi dari
beberapa jenis obat, dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori
pengobatan. Pengobatan TB Paru diberikan dalam dua tahap, yaitu tahap awal
(intensif) dan lanjutan.

Universitas Sumatera Utara

1.

Tahap Awal (Intensif)
Pada tahap awal (Intensif) penderita mendapat obat setiap hari dan perlu
diawasi langsung untuk mencegah terjadinya resistensi (kekebalan). Bila
pengobatan tahap intensif tersebut diberikan secara tepat, biasanya penderita
menular menjadi tidak menular dalam kurun waktu 2 minggu. Sebagian
besar penderita TB Paru BTA positif menjadi BTA negatif (konversi) dalam
2 bulan.

2.

Tahap Lanjutan
Pada tahap lanjutan penderita mendapat jenis obat lebih sedikit, namun
dalam jangka waktu yang lebih lama. Tahap lanjutan penting untuk
membunuh kuman persisten (dormant) sehingga mencegah terjadinya
kekambuhan.
Apabila paduan obat yang digunakan tidak adekuat (jenis, dosis dan jangka

waktu pengobatan), kuman TB Paru akan berkembang menjadi kuman kebal obat
(resisten). Untuk menjamin kepatuhan penderita menelan obat, pengobatan perlu
dilakukan dengan pengawasan langsung (DOTS = Directly Observed Treatment
Shortcourse) oleh seorang Pengawas Menelan Obat (Depkes RI, 2002).

2.1.8.2. Hasil Pengobatan
1.

Sembuh
Penderita

telah

menyelesaikan

pengobatannya

secara

lengkap

dan

pemeriksaan ulang dahak sebelum akhir pengobatan dan pada akhir
pengobatan hasilnya negatif.

Universitas Sumatera Utara

2.

Pengobatan Lengkap
Adalah pasien yang telah menyelesaikan pengobatannya secara lengkap
tetapi tidak memenuhi persyaratan sembuh atau gagal.

3.

Meninggal
Adalah penderita yang meninggal dalam masa pengobatan karena sebab
apapun.

4.

Pindah
Adalah pasien yang pindah berobat ke unit dengan register TB 03 yang lain
dan hasil pengobatannya tidak diketahui.

5.

Default/ Drop Out
Penderita yang tidak berobat selama 2 bulan berturut-turut atau lebih
sebelum masa pengobatannya selesai.

6.

Gagal
Penderita yang hasil pemeriksaan dahaknya tetap positif atau kembali
menjadi positif sebelum akhir pengobatan atau pada akhir pengobatan
(Depkes RI, 2008).

2.2.

Penanggulangan TB

2.2.1.

Rencana Global Penanggulangan TB
Menurut Depkes RI (2007), Rencana Global 2006-2015 mencakup enam

elemen utama dalam strategi baru Stop TB –WHO yang terdiri dari :
1.

Memperluas

dan

meningkatkan

ekspansi

DOTS

yang

berkualitas,

meningkatkan penemuan kasus dan kesembuhan melalui pendekatan yang

Universitas Sumatera Utara

terfokus pada penderita agar pelayanan DOTS yang berkualitas dapat
menjangkau seluruh penderita, khususnya kelompok masyarakat yang
miskin dan rentan.
2.

Menghadapi tantangan TB/HIV , MDR-TB dan tantangan lainnya, dengan
cara meningkatkan kolaborasi TB/HIV, DOTS-Plus dan pendekatan lainnya.

3.

Berkontribusi dalam memperkuat sistem kesehatan melalui kerjasama
dengan berbagai program dan pelayanan kesehatan lainnya, misalnya dalam
memobilisasi sumber daya manusia dan finansial untuk implementasi dan
mengevaluasi hasilnyaserta pertukaran informasi dalam keberhasilan
pencapaian dalam program penanggulangan TB.

4.

Melibatkan seluruh penyedia pelayanan kesehatan, pemerintah, lembaga
swadaya masyarakat (LSM) dan swasta, dengan cara memperluas
pendekatan berbasis public-private mix (PPM) dengan menggunakan ISTC.

5.

Melibatkan penderita TB dan masyarakat untuk memberikan kontribusi
dalam penyediaan pelayanan yang efektif. Hal ini meliputi perluasan
pelayanan TB di masyarakat, menciptakan kebutuhan masyarakat akan
pelayanan TB, advokasi yang spesifik; komunikasi dan mobilisasi sosial;
serta mendukung pengembangan piagam pasien TB dalam masyarakat, dan

6.

Memberdayakan dan meningkatkan penelitian operasional.

2.2.2.

Strategi DOTS (Directly Observed Treatment Shortcourse)
Strategi DOTS adalah strategi penanggulangan TB Paru nasional yang telah

direkomendasikan oleh WHO, yang dimulai pelaksanaannya di Indonesia pada Tahun

Universitas Sumatera Utara

1995/1996. Sebelum pelaksanaan strategi DOTS (1969-1994) angka kesembuhan TB
Paru yang dapat dicapai oleh program hanya 40-60% saja. Dengan strategi DOTS
diharapkan angka kesembuhan dapat dicapai minimal 85% dari penderita TB Paru
BTA positif yang ditemukan (Aditama, 2002).
Pengertian DOTS dimulai dengan keharusan pengelola program TB untuk
memfokuskan perhatian dalam usaha menemukan penderita. Dalam arti deteksi kasus
dengan pemeriksaan mikroskopik, yaitu dengan keharusan mendeteksi kasus secara
baik dan akurat. Kemudian, setiap pasien harus diobservasi dalam memakan obatnya,
setiap obat yang ditelan pasien harus di depan seorang pengawas. Pasien juga harus
menerima pengobatan yang tertata dalam sistem pengelolaan, distribusi dan
penyediaan obat secara baik. Kemudian setiap pasien harus mendapat obat yang baik,
artinya pengobatan jangka pendek standard yang telah terbukti ampuh secara klinik.
Akhirnya, harus ada dukungan dari pemerintah yang membuat

program

penanggulangan TB mendapat prioritas yang tinggi dalam pelayanan kesehatan
(Aditama, 2002).
Prinsip DOTS adalah mendekatkan pelayanan pengobatan terhadap
penderita agar secara langsung dapat mengawasi keteraturan menelan obat dan
melakukan pelacakan bila penderita tidak datang mengambil obat sesuai dengan yang
ditetapkan.
Strategi DOTS mempunyai lima komponen :
1.

Komitmen politis dari para pengambil keputusan, termasuk dukungan dana.

2.

Diagnosa TB dengan pemeriksaan dahak secara mikroskopis.

Universitas Sumatera Utara

3.

Pengobatan dengan paduan Obat Anti Tuberkulosis (OAT) jangka pendek
dengan pengawasan langsung oleh Pengawas Menelan Obat (PMO).

4.

Kesinambungan persediaan OAT jangka pendek dengan mutu terjamin.

5.

Pencatatan dan pelaporan secara baku untuk memudahkan pemantauan dan
evaluasi program penanggulangan TB.

2.3.

Pengawas Menelan Obat (PMO)
Salah satu komponen DOTS adalah pengobatan paduan OAT jangka pendek

dengan pengawasan langsung. Untuk menjamin keteraturan pengobatan diperlukan
seorang PMO. Menurut Depkes RI (2008), persyaratan seorang PMO adalah :
a.

Seseorang yang dikenal, dipercaya dan disetujui, baik oleh petugas
kesehatan

maupun penderita, selain itu harus disegani dan dihormati oleh

penderita.
b.

Seseorang yang tinggal dekat dengan penderita.

c.

Bersedia membantu penderita dengan sukarela.

d.

Bersedia dilatih dan atau mendapat penyuluhan bersama-sama dengan
penderita.
Sebaiknya PMO adalah petugas kesehatan, misalnya bidan di desa, perawat,

sanitarian, juru imunisasi, dan lain-lain. Bila tidak ada petugas kesehatan yang
memungkinkan, PMO dapat berasal dari kader kesehatan, guru, anggota Perhimpunan
Pemberantasan Tuberkulosis Indonesia (PPTI), atau tokoh masyarakat lainnya atau
anggota keluarga.

Universitas Sumatera Utara

Tugas seorang PMO antara lain :
1.

Mengawasi penderita TB Paru agar menelan obat secara teratur sampai
selesai pengobatan.

2.

Memberi dorongan kepada penderita agar mau berobat teratur.

3.

Mengingatkan penderita untuk periksa ulang dahak pada waktu yang telah
ditentukan.

4.

Memberi penyuluhan pada anggota keluarga penderita TB Paru yang
mempunyai

gejala-gejala

mencurigakan

TB

Paru

untuk

segera

memeriksakan diri ke Unit Pelayanan Kesehatan.

2.4.

Faktor- faktor yang memengaruhi Kesembuhan

2.4.1.

Kepatuhan Berobat
Menurut Sacket dalam Ester (2000), kepatuhan pasien adalah sejauh mana

perilaku pasien sesuai dengan ketentuan yang diberikan oleh profesional kesehatan.
Menurut

Sarafino

dalam

Bart

(1994),

ketidaktaatan

meningkatkan

risiko

berkembangnya masalah kesehatan atau memperpanjang atau memperburuk
kesakitan yang sedang diderita. Perkiraan yang ada menyatakan bahwa 20% jumlah
opname di rumah sakit merupakan akibat dari ketidaktaatan pasien terhadap aturan
pengobatan. Kepatuhan atau ketaatan merupakan tingkat pasien melaksanakan cara
pengobatan dan perilaku yang disarankan oleh dokternya atau boleh yang lain.
Kepatuhan berobat adalah tingkah perilaku penderita dalam mengambil
suatu tindakan atau upaya untuk secara teratur menjalani pengobatan. Penderita yang
patuh berobat adalah yang menyelesaikan pengobatannya secara teratur dan lengkap

Universitas Sumatera Utara

tanpa terputus selama 6 bulan sampai dengan 8 bulan, sedangkan penderita yang tidak
patuh berobat dan minum obat bila frekuensi minum obat tidak dilaksanakan sesuai
rencana yang ditetapkan (Depkes RI, 2002).
Faktor-faktor yang memengaruhi ketidakpatuhan dapat digolongkan menjadi
empat bagian yaitu :
1.

Pemahaman Tentang Instruksi
Tak seorang pun mematuhi instruksi jika ia salah paham tentang instruksi

yang diberikan padanya. Ley dan Spelman dalam Ester (2000) menemukan bahwa
lebih dari 60% yang diwawancarai setelah bertemu dengan dokter salah mengerti
tentang instruksi yang diberikan pada mereka. Kadang-kadang hal ini disebabkan
oleh kegagalan profesional kesehatan dalam memberikan informasi yang lengkap,
penggunaan istilah-istilah medis dan banyak memberikan instruksi yang harus diingat
oleh pasien.
Pendekatan praktis untuk meningkatkan kepatuhan pasien ditemukan oleh
DiNicola dan DiMatteo dalam Ester (2000), yaitu:
a.

Buat instruksi tertulis yang jelas dan mudah diinterpretasikan.

b.

Berikan informasi tentang pengobatan sebelum menjelaskan hal-hal
lain.

c.

Jika seseorang diberikan suatu daftar tertulis tentang hal-hal yang harus
diingat, maka akan ada efek keunggulan, yaitu mereka berusaha
mengingat hal-hal yang pertama kali ditulis.

d.

Instruksi-instruksi harus ditulis dengan bahasa umum (non medis) dan
hal-hal yang perlu ditekankan.

Universitas Sumatera Utara

2.

Kualitas Interaksi
Kualitas interaksi antara profesional kesehatan dan pasien merupakan bagian

yang penting dalam menentukan derajat kepatuhan. Hal ini perlu ditingkatkan untuk
memberikan umpan balik pada pasien setelah memperoleh informasi tentang
diagnosis. Pasien membutuhkan penjelasan tentang kondisinya saat ini, apa
penyebabnya dan apa yang dapat mereka lakukan dengan kondisi seperti ini.
3.

Isolasi Sosial dan Keluarga
Keluarga dapat menjadi faktor yang sangat berpengaruh dalam menentukan

keyakinan dan nilai kesehatan individu, menentukan program pengobatan yang dapat
mereka terima juga dapat memberikan dukungan dan membuat keputusan mengenai
perawatan anggota keluarga yang sakit
4.

Keyakinan, Sikap, Kepribadian
Ahli psikologis telah menyelidiki tentang hubungan antara pengukuran-

pengukuran kepribadian dan kepatuhan. Mereka menemukan bahwa data kepribadian
secara benar dibedakan antara orang yang patuh dengan orang

Dokumen yang terkait

Tingkat Kepatuhan Minum Obat Penderita Tuberculosis Paru Di Poli Paru Rumah Sakit Haji Medan 2012

4 85 65

Hubungan Dukungan Keluarga Dan Karakteristik Penderita Tb Paru Dengan Kesembuhan Pada Pengobatan Tb Paru Di Wilayah Kerja Puskesmas Polonia Medan

3 51 102

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG TB PARU DENGAN KEPATUHAN MENJALANI PROGRAM PENGOBATAN Hubungan Tingkat Pengetahuan Tentang TB Paru Dengan Kepatuhan Menjalani Program Pengobatan Pada Penderita TB Paru di BBKPM Surakarta.

0 0 15

Gambaran Perilaku Keluarga Penderita TB Paru Terhadap Pencegahan TB Paru di Wilayah Puskesmas Padangmatinggi Kota Padangsidimpuan Tahun 2015

1 1 16

Gambaran Perilaku Keluarga Penderita TB Paru Terhadap Pencegahan TB Paru di Wilayah Puskesmas Padangmatinggi Kota Padangsidimpuan Tahun 2015

0 0 2

Gambaran Perilaku Keluarga Penderita TB Paru Terhadap Pencegahan TB Paru di Wilayah Puskesmas Padangmatinggi Kota Padangsidimpuan Tahun 2015

0 0 8

Gambaran Perilaku Keluarga Penderita TB Paru Terhadap Pencegahan TB Paru di Wilayah Puskesmas Padangmatinggi Kota Padangsidimpuan Tahun 2015

0 1 26

Gambaran Perilaku Keluarga Penderita TB Paru Terhadap Pencegahan TB Paru di Wilayah Puskesmas Padangmatinggi Kota Padangsidimpuan Tahun 2015

0 1 3

Gambaran Perilaku Keluarga Penderita TB Paru Terhadap Pencegahan TB Paru di Wilayah Puskesmas Padangmatinggi Kota Padangsidimpuan Tahun 2015

0 0 32

HUBUNGAN PERAN KELUARGA DENGAN TINGKAT KESEMBUHAN PADA PENDERITA TB PARU DI BALAI PENGOBATAN PENYAKIT PARU-PARU UNIT MINGGIRAN YOGYAKARTA NASKAH PUBLIKASI - Hubungan Peran Keluarga dengan Tingkat Kesembuhan pada Penderita TB Paru di Balai Pengobatan Penya

0 0 11