Uji aktivitas antijamur ekstrak etanol Rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh Terhadap Jamur Candida albicans

UJI AKTIVITAS ANTIJAMUR EKSTRAK ETANOL
RUMPUT LAUT Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh
TERHADAP JAMUR Candida albicans

SKRIPSI

OLEH:
AFRIZA DEWI
NIM 091524081

PROGRAM EKSTENSI SARJANA FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

UJI AKTIVITAS ANTIJAMUR EKSTRAK ETANOL
RUMPUT LAUT Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh
TERHADAP JAMUR Candida albicans

SKRIPSI

Diajukan untuk Melengkapi Salah Satu Syarat untuk Memperoleh
Gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi
Universitas Sumatera Utara

OLEH:
AFRIZA DEWI
NIM 091524081

PROGRAM EKSTENSI SARJANA FARMASI
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

LEMBAR PENGESAHAN SKRIPSI

UJI AKTIVITAS ANTIJAMUR EKSTRAK ETANOL
RUMPUT LAUT Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh
TERHADAP JAMUR Candida albicans
OLEH:
AFRIZA DEWI
NIM 091524081
Dipertahankan di hadapan Panitia Penguji
Fakultas Farmasi
Universitas Sumatera Utara
Pada tanggal: Agustus 2011
Pembimbing I,

Panitia penguji,

Dra. Aswita Hafni Lubis, M.Si., Apt.
M.Si., Apt.
NIP 195304031983032001

Dra. Herawaty Ginting,

Pembimbing II,
M.Si., Apt.

Dra. Aswita Hafni Lubis,

NIP 195112231980032002

NIP 195304031983032001
Dra. Suwarti Aris, M.Si., Apt.
Apt.
NIP 195107231982032001

Drs. Suryadi Achmad, M.Sc.,
NIP 195109081985031002

Dra. Erly Sitompul, M.Si.,
Apt.
NIP 195006121980032001

Disahkan Oleh:
Dekan,

Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt.
NIP 195311281983031002

Universitas Sumatera Utara

UJI AKTIVITAS ANTIJAMUR EKSTRAK ETANOL
RUMPUT LAUT Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh
TERHADAP JAMUR Candida albicans
ABSTRAK
Rumput laut sudah lama dikenal dan dimanfaatkan oleh manusia, yaitu
sejak zaman kekaisaran Shen Nung di Cina sekitar tahun 2700 sebelum Masehi.
Salah satu jenis rumput laut yang banyak tumbuh diperairan Indonesia adalah
Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh. Rumput laut memproduksi beberapa
jenis senyawa sekunder seperti florotanin, steroid dan sterol. Sargassum
merupakan sumber alginate yang digunakan sebagai bahan pembuatan cangkang
kapsul, salep, emulsifier dan dapat juga digunakan sebagai bahan pembuat cat
rambut dan krim, sedangkan oleh masyarakat setempat jenis ini lebih sering
dikonsumsi sebagai sayuran. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas
antijamur ekstrak etanol rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh.
Tahapan kerja meliputi penyiapan bahan, karakterisasi simplisia, skrining
fitokimia, pembuatan ekstrak dan uji aktivitas antijamur terhadap Candida
albicans dengan metode difusi agar menggunakan silinder logam. Pembuatan
ekstrak rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh secara maserasi dan
soxhletasi dengan pelarut etanol 96% .
Karakterisasi simplisia talus rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C.
Agardh yaitu pemeriksaan makroskopik berbentuk talus,
berwarna coklat
kehitaman, berbau khas,dan tidak berasa. Pemeriksaan mikroskopik serbuk
simplisia memperlihatkan adanya sel parenkim, sel parenkim berisi pigmen
coklat, sel propagule bersel satu, sel propagule bersel dua dan sel propagule bersel
tiga. Kadar air 7,96%, kadar sari larut dalam air 5,52%, kadar sari larut dalam
etanol 4,77%, kadar abu total 8,59% dan kadar abu yang tidak larut dalam asam
0,35%.
Hasil skrining fitokimia talus rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner)
C. Agardh menunjukkan adanya senyawa glikosida dan triterpenoid/steroid.
Ekstrak etanol yang diperoleh dengan metode maserasi memiliki daya hambat
yang lebih besar daripada ekstrak etanol yang diperoleh dari metode soxhletasi.
Konsentrasi hambat minimum (KHM) ekstrak etanol terhadap Candida albicans
yaitu 10 mg/ml. Kesimpulan yang diperoleh menunjukkan ekstrak etanol talus
rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh memiliki kemampuan
menghambat pertumbuhan jamur Candida albicans.

Kata kunci: Aktivitas antijamur, Candida albicans, Sargassum ilicifolium
(Turner) C. Agardh.

TEST ANTIFUNGAL ACTIVITIES ETHANOL EXTRACT
SEAWEED Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh
TO FUNGI Candida albicans

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT
Seaweed has long been known and utilized by humans, since the days of
empire Shen Nung in China around the year 2700 BC. One type of seaweed that
grow in the waters of Indonesia is Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh. This
seaweed produce several types of secondary compounds, such as phlorotanin,
steroid and sterols. Sargassum is a source of alginate is used as material for shell
capsule, ointment, emulsifier and can also be used an material for hair dye and
cream, while the local communities of this type is more often consumed as a
vegetable. This research was conducted to test the antifungal activity from ethanol
extract of seaweed Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh. Stages of work
included preparation of materials, characterization simplicia, phytochemical
screening, the manufacture of test extract and antifungal activity against Candida
albicans by agar diffusion method using a metal cylinder. Making extract seaweed
Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh in maceration and soxhletasi with
solvent ethanol 96%.
Characterization simplicia seaweed thallus Sargassum ilicifolium (Turner)
C. Agardh, macroscopic examination is shaped thallus, blackish brown color,
distinctive smell, and tasteless. Microscopic axamination the powder simplicia
showed parenchymal cells, parenchymal cells contained brown pigment, singlecelled propagule cells, cell-celled propagule two and three-celled propagule cells.
7.96% water content, 5.52% level of water soluble extract, 4.77% level of soluble
extract in ethanol, 8.59% total ash content and ash content that does not dissolue
in acid 0.35%.
The result of phytochemical screening of seaweed thallus Sargassum
ilicifolium (Turner) C. Agardh indicate the presence of glicosida and
triterpenoids/steroids. Ethanol extract obtained by maceration method has a
greater inhibitory power than the ethanol extract obtained from the method
soxhletasi. The minimum inhibitory concentration (MIC) of ethanol extract of
Candida albicans which is 10 mg/ml conclusions obtained shows the ethanol
extract of seaweed thallus Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh has ability to
inhibit the growth of the fungus Candida albicans.
Keywords: Antifungal activity, Candida albicans, Sargassum ilicifolium (Turner)
C. Agardh.

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
memberikan penulis kesehatan dan kesempatan untuk menyelesaikan penelitian
dan penulisan skripsi ini. Terima kasih tidak terhingga kepada Ayahanda Drs.
Herman Tarib M.Ag dan Ibuda Asnayati S.Ag serta bang Fadlin, adik-adikku
Milah, Nicha, Dhanis dan Halimi yang telah memberikan semangat, doa dan
pengorbanan baik moril maupun materil dalam penyelesaian skripsi ini.
Penulis juga menyampaikan rasa terima kasih sebesar-besarnya kepada Ibu
Dra. Aswita Hafni Lubis, M.Si., Apt., dan Ibu Dra. Suwarti Aris, M.Si., Apt.,
selaku dosen pembimbing yang telah memberikan waktu, bimbingan dan nasehat
selama melakukan penelitian hingga selesainya penyusunan skripsi ini.
Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt., selaku Dekan Fakultas
Farmasi Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan fasilitas
sehingga penulis dapat menyelesaikan pendidikan.
2. Bapak Prof. Dr. Jansen Silalahi, M.App Sc., Apt., selaku penasehat
akademi yang telah memperhatikan dan membimbing penulis selama masa
perkuliahan.
3. Ibu Dra. Herawaty Ginting, M.Si., Apt., Bapak Drs. Suryadi Achmad,
M.Sc., Apt., dan Ibu Dra. Erly Sitompul, M.Si., Apt. selaku dosen penguji
yang telah memberikan saran dan kritikan kepada penulis hingga
selesainya penulisan skripsi ini.
4. Bapak dan Ibu Staf Pengajar Fakultas Farmasi yang telah banyak
membimbing penulis selama masa pendidikan.

Universitas Sumatera Utara

5. Teman-teman penulis Nani, SWAF, B’Ian, Taqin, Bayu, Agnes, Widya,
Rini, Santa, Farhan, Tentuwin (K’Ira, Emil, Mba’ Iik, Vie kei, K’Ve,
Desmi, Nita, Riekha,Winda, Ipit), Aceh sepakat (Ika, Harty, Acoet, Rika,
K’Teti, K’Hetty, Deni, Anna, Mama Srie, Dara) dan rekan-rekan Farmasi
Ekstensi angkatan 2009 lainnya yang tidak dapat disebut satu persatu,
yang telah memberikan bantuan, saran, dan semangat kepada penulis.
6. Kepala dan Staf Laboratorium Mikrobiologi, Fitokimia dan Farmakognosi
serta asisten-asisten Kak Vika, Denny, Kak Meyti atas bimbingannya di
laboratorium.
Penulis menyadari bahwa skripsi masih jauh dari kata sempurna. Untuk itu
penulis dengan kerendahan hati bersedia menerima kritikan dan saran yang
membangun dari kesempurnaan skripsi ini.

Medan, Agustus 2011
Penulis,

Afriza Dewi
NIM 091524081

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
Halaman
JUDUL ....................................................................................................

i

LEMBAR PENGESAHAN ......................................................................

iii

KATA PENGANTAR…………………………………………………….

iv

ABSTRAK ..............................................................................................

vi

ABSTRACT ............................................................................................

vii

DAFTAR ISI ...........................................................................................

viii

DAFTAR TABEL ...................................................................................

xii

DAFTAR GAMBAR ...............................................................................

xiii

DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................

xiv

BAB I PENDAHULUAN ........................................................................

1

1.1 Latar belakang ............................................................................

1

1.2 Perumusan masalah.....................................................................

3

1.3 Hipotesis .....................................................................................

3

1.4 Tujuan penelitian ........................................................................

3

1.5 Manfaat penelitian ......................................................................

4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA………………………………………….

5

2.1 Uraian tumbuhan…………………………………………………

5

2.1.1 Sistematika tumbuhan .......................................................

5

2.1.2 Habitat rumput laut ...........................................................

5

2.1.3 Morfologi tumbuhan .........................................................

6

2.1.4 Kandungan kimia ..............................................................

6

2.1.5 Manfaat rumput laut Sargassum ........................................

6

Universitas Sumatera Utara

2.2 Ekstraksi ...................................................................................

7

2.2.1 Metode ekstraksi ...............................................................

7

2.3 Sterilisasi...................................................................................

9

2.4 Tinjauan mengenai jamur ..........................................................

10

2.4.1 Karakteristik fisiologi jamur ..............................................

13

2.4.2 Candida albicans ..............................................................

15

2.4.3 Media pertumbuhan mikroba ............................................

17

2.4.4 Metode isolasi biakan jamur ..............................................

18

2.4.5 Pengukuran aktivitas antimikroba .....................................

19

BAB III METODE PENELITIAN ...........................................................

20

3.1 Alat-alat................................................................................................

20

3.2 Bahan-bahan ........................................................................................

20

3.3 Pengumpulan sampel tumbuhan ..........................................................

21

3.3.1 Identifikasi tumbuhan ........................................................

21

3.3.2 Pengolahan simplisia .........................................................

21

3.4 Pembuatan larutan pereaksi ................................................................

22

3.4.1 Pereaksi Asam Klorida 2 N ...............................................

22

3.4.2 Pereaksi Asam Sulfat 2 N .................................................

22

3.4.3 Pereaksi Besi (III) Klorida 1% ..........................................

22

3.4.4 Pereaksi Bouchardat .........................................................

22

3.4.5 Pereaksi Dragendorff ........................................................

23

3.4.6 Pereaksi Kloralhidrat ........................................................

23

3.4.7 Pereaksi Liebermann-Burchard .................................................

23

3.4.8 Pereaksi Mayer .........................................................................

23

3.4.9 Pereaksi Molish .........................................................................

23

Universitas Sumatera Utara

3.4.10 Pereaksi Natrium Hidroksida 2 N ...............................................

23

3.4.11 Pereaksi Timbal (II) asetat 0,4 M ....................................

23

3.5 Skrining fitokimia................................................................................

24

3.5.1 Pemeriksaan alkaloida...............................................................

24

3.5.2 Pemeriksaan glikosida ...............................................................

24

3.5.3 Pemeriksaan flavonoida ............................................................

25

3.5.4 Pemeriksaan tanin .............................................................

25

3.5.5 Pemeriksaan saponin.........................................................

25

3.5.6 Pemeriksaan antrakinon ....................................................

26

3.5.7 Pemeriksaan steroida/triterpenoida ....................................

26

Karakterisasi simplisia ...............................................................

26

3.6.1 Pemeriksaan makroskopik…………………………………

26

3.6.2 Pemeriksaan mikroskopik…………………………………

26

3.6.3 Penetapan kadar air………………………………………...

27

3.6.4 Penetapan kadar sari larut dalam air…………………….. .

27

3.6.5 Penetapan kadar sari larut dalam etanol…………………. .

28

3.6.6 Penetapan kadar abu total…………………………………

28

3.6.7 Penetapan kadar abu yang tidak larut dalam asam…….. ...

28

Pembuatan ekstrak etanol talus rumput laut (Sargassum
ilicifolium (Turner) C.Agardh)…………………………………..

29

3.7.1 Pembuatan ekstrak etanol talus rumput laut (Sargassum
ilicifolium (Turner) C. Agardh) secara maserasi.................

29

3.7.2 Pembuatan ekstrak etanol talus rumput laut (Sargassum
ilicifolium (Turner) C. Agardh) secara soxhletasi……….. .

29

3.8

Sterilisasi alat……………………………………………………

30

3.9

Pembuatan media…………………………………………………

30

3.6

3.7

Universitas Sumatera Utara

3.9.1 Potato Dextrose Agar (PDA)…………………………… ..

30

3.9.2 Larutan NaCl 0,9%...............................................................

30

3.10 Pembuatan stok kultur jamur……………………………………..

30

3.11 Penyiapan inokulum jamur……………………………………….

31

3.12 Pembuatan larutan uji ekstrak etanol dengan berbagai konsentrasi

31

3.13 Metode pengujian efek antijamur secara In vitro……………… .

31

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ..................................................

32

4.1 Identifikasi tumbuhan .................................................................

32

4.2 Hasil skrining fitokimia ..............................................................

32

4.3 Hasil karakterisasi simplisia ........................................................

33

4.4

Uji aktivitas antijamur ekstrak etanol Sargassum ilicifolium
(Turner) C. Agardh terhadap jamur Candida albicans…………...

34

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN....................................................

38

5.1 Kesimpulan .................................................................................

38

5.2 Saran ..........................................................................................

39

DAFTAR PUSTAKA ..............................................................................

40

LAMPIRAN ............................................................................................

42

DAFTAR TABEL

Universitas Sumatera Utara

Halaman
Tabel 1

Hasil Skrining Fitokimia Serbuk Simplisia………………….....

32

Tabel 2

Hasil karakterisasi serbuk simplisia talus rumput laut
Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh……………………..

34

Hasil pengukuran diameter daerah hambatan pertumbuhan
Candida albicans dari ekstrak etanol talus rumput laut
Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh dengan metode
maserasi………………………………………………………...

35

Hasil pengukuran diameter daerah hambatan pertumbuhan
Candida albicans dari ekstrak etanol rumput talus laut
Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh dengan metode
soxhletasi……………………………………………………….

21

Tabel 3

Tabel 4

DAFTAR GAMBAR

Universitas Sumatera Utara

Halaman
Gambar 1 Jamur Candida albicans............................................................

16

Gambar 2 Diagram batang hasil pengukuran diameter daerah hambatan
pertumbuhan jamur Candida albicans dengan metode
maserasi……………………………………………………….

35

Gambar 3 Diagram batang hasil pengukuran diameter daerah hambatan
pertumbuhan jamur Candida albicans dengan metode
soxhletasi…..………………………………………………….

36

DAFTAR LAMPIRAN

Universitas Sumatera Utara

Halaman
Lampiran 1 Identifikasi tumbuhan…………………………………….......

42

Lampiran 2 Bagan karakteristik dan pembuatan simplisia………………...

43

Lampiran 3 Bagan pembuatan ekstrak etanol secara maserasi…………….

44

Lampiran 4 Bagan pembuatan ekstrak etanol secara soxhletasi ………….

45

Lampiran 5 Gambar talus rumput laut (Sargassum ilicifolium (Turner) C.
Agardh)…………………….....................................................

46

Lampiran 6 Perhitungan penetapan karakteristik simplisia ………………

50

Lampiran 7 Penetapan kadar abu simplisia………………………………..

55

Lampiran 8 Bagan uji aktivitas antijamur ekstrak etanol talus rumput laut
Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh................................

56

Lampiran 9 Hasil pengukuran diameter daerah hambatan pertumbuhan
jamur Candida albicans oleh ekstrak etanol talus rumput l;aut
Sargassum ilicifolium (Turner) C. agardh yang diperoleh dari
metode maserasi dan soxhletasi ……………………………...

57

Lampiran 10 Gambar hasil uji aktivitas antijamur ekstrak etanol talus
rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh yang
diperoleh dari metode maserasi ………………………………

58

Lampiran 11 Gambar hasil uji aktivitas antijamur ekstrak etanol talus
rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh yang
diperoleh dari metode soxhletasi ……………………………..

63

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang

Universitas Sumatera Utara

UJI AKTIVITAS ANTIJAMUR EKSTRAK ETANOL
RUMPUT LAUT Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh
TERHADAP JAMUR Candida albicans
ABSTRAK
Rumput laut sudah lama dikenal dan dimanfaatkan oleh manusia, yaitu
sejak zaman kekaisaran Shen Nung di Cina sekitar tahun 2700 sebelum Masehi.
Salah satu jenis rumput laut yang banyak tumbuh diperairan Indonesia adalah
Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh. Rumput laut memproduksi beberapa
jenis senyawa sekunder seperti florotanin, steroid dan sterol. Sargassum
merupakan sumber alginate yang digunakan sebagai bahan pembuatan cangkang
kapsul, salep, emulsifier dan dapat juga digunakan sebagai bahan pembuat cat
rambut dan krim, sedangkan oleh masyarakat setempat jenis ini lebih sering
dikonsumsi sebagai sayuran. Penelitian ini bertujuan untuk menguji aktivitas
antijamur ekstrak etanol rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh.
Tahapan kerja meliputi penyiapan bahan, karakterisasi simplisia, skrining
fitokimia, pembuatan ekstrak dan uji aktivitas antijamur terhadap Candida
albicans dengan metode difusi agar menggunakan silinder logam. Pembuatan
ekstrak rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh secara maserasi dan
soxhletasi dengan pelarut etanol 96% .
Karakterisasi simplisia talus rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C.
Agardh yaitu pemeriksaan makroskopik berbentuk talus,
berwarna coklat
kehitaman, berbau khas,dan tidak berasa. Pemeriksaan mikroskopik serbuk
simplisia memperlihatkan adanya sel parenkim, sel parenkim berisi pigmen
coklat, sel propagule bersel satu, sel propagule bersel dua dan sel propagule bersel
tiga. Kadar air 7,96%, kadar sari larut dalam air 5,52%, kadar sari larut dalam
etanol 4,77%, kadar abu total 8,59% dan kadar abu yang tidak larut dalam asam
0,35%.
Hasil skrining fitokimia talus rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner)
C. Agardh menunjukkan adanya senyawa glikosida dan triterpenoid/steroid.
Ekstrak etanol yang diperoleh dengan metode maserasi memiliki daya hambat
yang lebih besar daripada ekstrak etanol yang diperoleh dari metode soxhletasi.
Konsentrasi hambat minimum (KHM) ekstrak etanol terhadap Candida albicans
yaitu 10 mg/ml. Kesimpulan yang diperoleh menunjukkan ekstrak etanol talus
rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh memiliki kemampuan
menghambat pertumbuhan jamur Candida albicans.

Kata kunci: Aktivitas antijamur, Candida albicans, Sargassum ilicifolium
(Turner) C. Agardh.

TEST ANTIFUNGAL ACTIVITIES ETHANOL EXTRACT
SEAWEED Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh
TO FUNGI Candida albicans

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT
Seaweed has long been known and utilized by humans, since the days of
empire Shen Nung in China around the year 2700 BC. One type of seaweed that
grow in the waters of Indonesia is Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh. This
seaweed produce several types of secondary compounds, such as phlorotanin,
steroid and sterols. Sargassum is a source of alginate is used as material for shell
capsule, ointment, emulsifier and can also be used an material for hair dye and
cream, while the local communities of this type is more often consumed as a
vegetable. This research was conducted to test the antifungal activity from ethanol
extract of seaweed Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh. Stages of work
included preparation of materials, characterization simplicia, phytochemical
screening, the manufacture of test extract and antifungal activity against Candida
albicans by agar diffusion method using a metal cylinder. Making extract seaweed
Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh in maceration and soxhletasi with
solvent ethanol 96%.
Characterization simplicia seaweed thallus Sargassum ilicifolium (Turner)
C. Agardh, macroscopic examination is shaped thallus, blackish brown color,
distinctive smell, and tasteless. Microscopic axamination the powder simplicia
showed parenchymal cells, parenchymal cells contained brown pigment, singlecelled propagule cells, cell-celled propagule two and three-celled propagule cells.
7.96% water content, 5.52% level of water soluble extract, 4.77% level of soluble
extract in ethanol, 8.59% total ash content and ash content that does not dissolue
in acid 0.35%.
The result of phytochemical screening of seaweed thallus Sargassum
ilicifolium (Turner) C. Agardh indicate the presence of glicosida and
triterpenoids/steroids. Ethanol extract obtained by maceration method has a
greater inhibitory power than the ethanol extract obtained from the method
soxhletasi. The minimum inhibitory concentration (MIC) of ethanol extract of
Candida albicans which is 10 mg/ml conclusions obtained shows the ethanol
extract of seaweed thallus Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh has ability to
inhibit the growth of the fungus Candida albicans.
Keywords: Antifungal activity, Candida albicans, Sargassum ilicifolium (Turner)
C. Agardh.

Universitas Sumatera Utara

Indonesia sebagai negara kepulauan dengan panjang garis pantai 81.000
km merupakan kawasan pesisir dan lautan yang memiliki berbagai sumberdaya
hayati yang sangat besar dan beragam. Berbagai sumberdaya hayati tersebut
merupakan potensi pembangunan yang sangat penting sebagai sumber-sumber
pertumbuhan ekonomi baru. Salah satu sumberdaya hayati tersebut adalah rumput
laut (Rasyid, 2010).
Rumput laut sudah lama dikenal dan dimanfaatkan oleh manusia, yaitu
sejak zaman kekaisaran Shen Nung di Cina sekitar tahun 2700 sebelum Masehi.
Pada masa itu masyarakat di timur telah memanfaatkannya sebagai obat-obatan
dan sebagai bahan makanan (Aslan, 1998).
Rumput laut tergolong tanaman berderajat rendah, umumnya tumbuh
melekat pada substrat tertentu, tidak mempunyai “akar”, “batang” maupun
“daun”, tetapi hanya berupa talus. Rumput laut tumbuh dialam dengan melekatkan
dirinya pada karang, lumpur, pasir, batu, dan benda keras lainnya. Selain benda
mati, rumput laut pun dapat melekat pada tumbuhan lain secara epifitik
(Anggadiredja, 2006).
Beberapa jenis rumput laut Indonesia yang bernilai ekonomis dan sejak
dulu sudah diperdagangkan yaitu Euchema sp., Hypnea sp., Gracilaria sp., dan
Gelidium sp. dari kelas Rhodophyceae serta Sargassum sp. dari kelas
Phaeophyceae (Anggadiredja, 2006).
Jenis rumput laut yang banyak digunakan untuk pembuatan obat adalah
alga coklat khususnya Sargassum sp. Pengolahan rumput laut jenis tersebut
menghasilkan ekstrak berupa senyawa natrium alginat. Senyawa inilah yang

Universitas Sumatera Utara

dimanfaatkan dalam pembuatan obat sebagai bahan pembuat cangkang kapsul,
emulsifier dan stabilizer. (Trono dan Ganzon, 1998).
Sargassum memproduksi beberapa jenis senyawa metabolit sekunder,
seperti florotanin, steroid dan sterol. Menurut Hay dan Fenical (1988), florotanin
mempunyai sifat antimikroba. Florotanin bersifat polar, sehingga larut dalam air
dan bersifat tidak stabil (Izzati, 2007).
Masalah didunia kedokteran bertambah dengan meningkatnya berbagai
penyakit yang disebabkan oleh jamur, terutama jamur Candida. Penyakit yang
disebabkan oleh Candida dikenal dengan kandidiasis atau kandidosis yaitu suatu
panyakit jamur yang bersifat akut dan subakut yang dapat mengenai mulut,
vagina, kulit, kuku, paru-paru dan saluran pencernaan. Penyakit ini ditemukan di
seluruh dunia dan dapat menyerang semua umur, baik laki-laki maupun
perempuan (Rochani, 2009).
Obat antibakteri telah banyak dikembangkan secara luas, berbeda dengan
obat antijamur yang masih terbatas dalam hal manfaat klinis. Alasan untuk
perbedaan ini adalah adanya hubungan yang erat antara jamur dengan inangnya.
Banyak proses biokimia yang menyediakan sasaran berguna untuk obat
antibakteri tidak terdapat dalam jamur, dan proses yang menjadi sasaran juga
dimiliki inang mamalia (Jawetz et al., 1996).
Karena dari hasil penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa Sargassum
dan Padina adalah jenis rumput laut yang mempunyai aktivitas antibakteri relatif
tinggi dibanding jenis lainnya, maka berdasarkan permasalahan di atas, dilakukan
penelitian uji aktivitas antijamur ekstrak etanol talus rumput laut Sargassum
ilicifolium (Turner) C. Agardh terhadap jamur Candida albicans yang diharapkan

Universitas Sumatera Utara

dapat memberikan informasi dan bukti ilmiah untuk mengembangkan obat baru
dari bahan alam bahari.
1.2

Perumusan Masalah
a.

Bagaimana

karakterisasi serbuk simplisia talus rumput laut

Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh ?
b. Golongan senyawa kimia apa yang terdapat dalam talus rumput laut
Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh ?
c.

Apakah ekstrak etanol talus rumput laut Sargassum ilicifolium
(Turner) C. Agardh mempunyai aktivitas antijamur terhadap jamur
Candida albicans ?

1.3

Hipotesis
a. Karakteristik simplisia talus rumput laut Sargassum ilicifolium
(Turner) C. Agardh dapat diperoleh dengan menggunakan prosedur
dalam Materia Medika Indonesia.
b. Serbuk simplisia dan ekstrak talus rumput laut Sargassum ilicifolium
(Turner) C. Agardh mempunyai kandungan kimia yang berkhasiat
sebagai antijamur.
c. Ekstrak etanol talus rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C.
Agardh mempunyai aktivitas antijamur terhadap jamur Candida
albicans.

1.4

Tujuan
a. Untuk mengetahui hasil karakterisasi dari serbuk simplisia talus
rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh.

Universitas Sumatera Utara

b. Untuk mengetahui golongan senyawa kimia yang terdapat dalam talus
rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh.
c. Untuk mengetahui adanya aktivitas antijamur dari ekstrak etanol talus
rumput laut Sargassum illicifolium (Turner) C. Agardh serta
konsentrasi hambat minimumnya terhadap jamur Candida albicans.

1.5

Manfaat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi tentang efek

antijamur dari ekstrak etanol talus rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C.
Agardh terhadap jamur Candida albicans.

Universitas Sumatera Utara

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1
Uraian Tumbuhan
2.1.1 Sistematika tumbuhan
Talus

rumput

laut

Sargassum

ilicifolium

(Turner)

C.

Agardh

diklasifikasikan sebagai berikut:
Kingdom

: Plantae

Divisio

: Phaeophyta

Kelas

: Phaeophyceae

Bangsa

: Fucales

Suku

: Sargassaceae

Marga

: Sargassum

Spesies

: Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh

2.1.2 Habitat rumput laut
Pertumbuhan dan penyebaran rumput laut seperti halnya biota perairan
lainnya sangat dipengaruhi oleh toleransi fisiologi dari biota tersebut untuk
beradaptasi terhadap faktor-faktor lingkungan, seperti substrat, salinitas,
tempratur, intensitas cahaya, tekanan dan nutrisi. Secara umum, rumput laut
dijumpai tumbuh di daerah perairan yang dangkal dengan kondisi dasar perairan
berpasir, sedikit lumpur, atau campuran keduanya. Rumput laut memiliki sifat
benthic (melekat) dan disebut juga benthic algae. Disamping itu, rumput laut juga
hidup sebagai fitobentos dengan cara melekatkan talus pada substrat pasir, lumpur
berpasir, karang, fragmen karang mati, kulit kerang, batu atau kayu. Rumput laut
jenis Sargassum mampu tumbuh pada substrat batu karang di daerah berombak
(Anggadiredja, 2006).

Universitas Sumatera Utara

2.1.3 Morfologi tumbuhan
Talus berbentuk silindris, akar (holdfast)

membentuk cakram kecil,

“batang” pendek dengan percabangan utama tumbuh rimbun dibagian ujungnya.
“Daun” kecil, lonjong, ujungnya rata dan runcing, tepi daun bergerigi dan urat
daun tidak begitu jelas, gelembung udara atau vesikel bulat telur, duduk pada
percabangan (Atmaja, 1996).
2.1.4 Kandungan kimia
Berdasarkan skrining fitokimia yang telah dilakukan Yanti Aryani (2004)
rumput laut jenis Sargassum mengandung steroid/triterpenoid. Rumput laut ini
juga mengandung protein, vitamin C, fenol dan memproduksi beberapa jenis
senyawa metabolit sekunder, seperti florotanin, steroid dan sterol (Izzati, 2007).
2.1.5 Manfaat rumput laut Sargassum
Rumput laut telah lama dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai bahan
makanan dan obat. Sebagai bahan makanan, rumput laut dikonsumsi dalam
bentuk lalapan (dimakan mentah), dibuat acar dengan bumbu cuka, dimasak
sebagai sayur atau ditumis (Anggadiredja, 2006).
Sargassum diketahui sebagai sumber penghasil alginat yang digunakan
sebagai bahan pembuat cangkang kapsul, emulsifier dan stabilizer. Dibidang
kosmetik, kandungan koloid alginatnya digunakan sebagai bahan pembuat sabun,
shampo dan cat rambut. Sedangkan dibidang perikanan, keberadaan Sargassum
membantu meningkatkan produksi udang windu, sehingga rumput laut jenis
Sargassum ini digunakan sebagai model budidaya ganda dengan udang windu.
Adanya rumput laut jenis Sargassum disekitar tambak udang windu dapat

Universitas Sumatera Utara

mengurangi jumlah bakteri patogen sehingga mampu menurunkan kemungkinan
berkembangya penyakit yang menyerang udang windu (Izzati, 2007).

2.2

Ekstraksi
Ekstraksi adalah kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut

sehingga terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan pelarut cair (Ditjen
POM, 2000).
Ekstrak adalah sediaan kering, kental atau cair yang dibuat dengan
simplisia nabati atau hewani dengan cara yang sesuai diluar pengaruh cahaya
matahari langsung (Depkes RI, 1979).
2.2.1 Metode ekstraksi
Menurut Ditjen POM (2000), ada beberapa metode ekstraksi:
1.

Cara Dingin
a. Maserasi
Maserasi adalah proses pengekstrakan simplisia dengan menggunakan
pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada tempratur
ruangan (kamar). Secara teknologi termasuk ekstraksi dengan prinsip metode
pencapaian konsentrasi pada keseimbangan. Maserasi kinetik berarti
dilakukan pengadukan yang kontinu (terus-menerus). Remaserasi berarti
dilakukan pengulangan penambahan pelarut setelah dilakukan penyaringan
maserat pertama dan seterusnya.
b. Perkolasi
Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru sampai
sempurna (exhaustive extraction) yang umumnya dilakukan pada tempratur
ruangan. Proses terdiri dari tahapan pengembangan bahan, tahap maserasi

Universitas Sumatera Utara

antara, tahap perkolasi sebenarnya (penetesan/penampungan ekstrak), terus
menerus sampai diperoleh ekstrak (perkolat) yang jumlahnya 1-5 kali bahan.
2. Cara Panas
a. Refluks
Refluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada tempratur titik didihnya,
selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif konstan dengan
adanya pendingin balik. Umumnya dilakukan pengulangan proses pada residu
pertama sampai 3-5 kali sehingga dapat termauk proses ekstraksi sempurna.
b. Soxhlet
Soxhlet adalah ekstraksi menggunakan pelarut yang selalu baru yang
umumnya dilakukan dengan alat khusus sehingga terjadi ekstraksi kontinu
dengan jumlah pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin balik.
c. Digesti
Digesti adalah maserasi kinetik (dengan pengadukan kontinu) pada
tempratur yang lebih tinggi dari tempratur ruangan (kamar), yaitu secara
umum dilakukan pada temprtur 40-50ºC.
d. Infus
Infus adalah ekstraksi dengan pelarut air pada tempratur penangas air
(bejana infus tercelup dalam penangas air mendidih, tempratur terukur 9698ºC) selama waktu tertentu (15-20 menit).
e. Dekok
Dekok adalah infus pada waktu yang lebih lama (≥30ºC) dan tempratur
sampai titik didih air.

Universitas Sumatera Utara

2.3

Sterilisasi
Sterilisasi merupakan suatu proses yang dilakukan untuk tujuan

membunuh atau menghilangkan mikroorganisme yang tidak diinginkan pada
suatu objek atau spesimen.
Cara-cara sterilisasi yaitu:
a. Sterilisasi dengan bahan kimia, contoh: senyawa fenol dan turunannya.
Desinfektan ini digunakan misalnya untuk membersihkan area tempat
bekerja.
b. Sterilisasi kering, digunakan untuk alat-alat gelas misalnya cawan petri,
tabung reaksi. Cara ini cocok untuk alat-alat gelas karena tidak ada
pengembunan dan tetes air.
c. Sterilisasi basah, biasanya menggunakan uap panas bertekanan dalam
autoklaf. Media biakan, larutan dan kapas dapat disterilkan dengan cara
ini. Autoklaf merupakan suatu alat pemanas bertekanan tinggi, dengan
meningkatnya suhu air maka tekanan udara akan bertambah dalam
autoklaf yang tertutup rapat. Sejalan dengan meningkatnya tekanan di atas
tekanan udara normal, titik didih air meningkat. Biasanya pemanasan
autoklaf berada pada suhu 1210 C selama 15 menit.
d. Filtrasi bakteri, digunakan untuk mensterilkan bahan-bahan yang terurai
atau tidak tahan panas. Metode ini didasarkan pada proses mekanik yaitu
menyaring semua bakteri dari bahan dengan melewatkan larutan tersebut
melalui lubang saringan yang sangat kecil.

Universitas Sumatera Utara

e. Incenerasi, yaitu sterilisasi dengan pemanasan atau pembakaran pada api
langsung. Misalnya untuk sterilisasi jarum ose dan pinset (Beisher, L,
1991).

2.4

Tinjauan mengenai jamur
Jamur merupakan organisme eukariotik yang mempunyai inti sel,

memproduksi

spora,

tidak

mempunyai

klorofil

sehingga

tidak

dapat

berfotosintesis, berkembangbiak secara seksual dan aseksual, mempunyai bagian
tubuh berbentuk filamen dengan dinding sel yang mengandung selulosa atau kitin
bahkan keduanya. Jamur tergolong Eumycota (Eumycetes) dan dibedakan menjadi
empat kelas yaitu Phycomycetes yang dibedakan menjadi Zygomycetes dan
Oomycetes; Ascomycetes; Basidiomycetes dan Deuteromycetes (Fardiaz, 1992).
Jamur terdiri dari talus yang tersusun dari filamen bercabang yang disebut
hifa dan kumpulan dari hifa disebut miselium. Hifa tumbuh dari spora yang
melakukan germinasi membentuk suatu tuba germ yang akan tumbuh terus
membentuk filamen yang panjang dan bercabang yang disebut hifa, kemudian
seterusnya akan membentuk masa hifa yang disebut miselium. Berdasarkan
struktur hifa maka jamur dikelompokkan menjadi (a) hifa tidak bersekat atau
nonsepta dengan inti sel tersebar disepanjang hifa yaitu kelas Phycomycetes dan
(b) hifa bersekat atau septa yang membagi hifa dalam mangan-mangan, dimana
setiap mangan mempunyai satu atau lebih inti sel yaitu Ascomycetes,
Basidiomycetes dan Deuteromycetes (Fardiaz, 1992).
Jamur merupakan divisi Thallopyta (tumbuhan yang bentuk selnya tidak
dapat dibedakan “batang”, “akar” dan “daun”nya). Eumycetes disebut sebagai
jamur sesungguhnya karena tidak mempunyai klorofil. Sel jamur seperti sel pada

Universitas Sumatera Utara

tumbuhan yang lebih tinggi dengan inti terlihat, dinding sel dengan ketebalan
yang berbeda dan sitoplasma yang mengandung banyak komponen (Pelczar &
Reid, 1958). Jamur dapat mensintesis protein dengan mengambil sumber karbon
dari karbohidrat (misalnya glukosa, sukrosa dan maltosa), sumber nitrogen dari
bahan organik atau anorganik dan mineral dari substratnya. Jamur mempunyai
ciri-ciri yang spesifik seperti berikut :
1. Mempuyai inti sel
2. Memproduksi spora
3. Tidak mempunyai klorofil
4. Dapat berkembangbiak secara seksual maupun aseksual
5. Beberapa mempunyai bagian-bagian tubuh berbentuk filamen dengan
dinding sel yang mengandung selulosa atau kitin atau keduanya
(Fardiaz, 1992).
Fungi dibedakan menjadi 2 golongan, yakni kapang dan khamir. Kapang
merupakan fungi yang berfilamen atau mempunyai miselium, pertumbuhannya
dalam bahan makanan mudah sekali dilihat, yakni seperti kapas. Sedangkan tubuh
atau talus suatu kapang pada dasarnya terdiri dari dua bagian miselium dan spora.
Miselium merupakan kumpulan beberapa filamen yang dinamakan hifa.
Disepanjang setiap hifa terdapat sitoplasma bersama. Pertumbuhan fungi mulamula berwarna putih, tetapi bila telah memproduksi spora akan membentuk
berbagai warna tergantung dari jenis kapang. Kebanyakan kapang bersifat
mesofilik, yaitu mampu tumbuh baik pada suhu kamar. Suhu optimum
pertumbuhan untuk kebanyakan kapang adalah 25 sampai 30ºC, tetapi beberapa
dapat tumbuh pada suhu 35 sampai 37ºC atau lebih misalnya Aspergillus.

Universitas Sumatera Utara

Beberapa kapang bersifat psikotrofik, yakni dapat tumbuh baik pada suhu lemari
es, dan beberapa bahkan masih dapat tumbuh lambat pada suhu dibawah suhu
pembekuan, misalnya -5 sampai -10ºC. selain itu, beberapa kapang bersifat
termofilik, yakni mampu tumbuh pada suhu tinggi. Semua kapang bersifat
aerobik, yakni membutuhkan oksigen dalam pertumbuhannya. Kebanyakan
kapang dapat tumbuh baik pada pH luas, yakni 2,0 sampai 8,5 tetapi biasanya
pertumbuhannya akan baik bila pada kondisi asam atau pH rendah (Waluyo,
2005).
Khamir merupakan fungi bersel tunggal dan tidak berfilamen. Sebagai sel
tunggal khamir tumbuh dan berkembang biak lebih cepat dibanding kapang yang
tumbuh dengan pembentukan filamen. Reproduksi vegetatif terjadi dengan cara
pertunasan. Khamir juga lebih efektif dalam memecah komponen kimia dibanding
kapang, karena mempunyai perbandingan luas permukaan dengan volume yang
lebih besar. Sel khamir mempunyai ukuran yang bervariasi, yaitu dengan panjang
12-50 mm, dan lebar 1-10 mm. bentuk khamir bermacam-macam, yaitu bulat,
oval, silinder, ogival yaitu bulat panjang dengan salah satu ujung runcing, segitiga
melengkung (trianguler), berbentuk botol, bentuk alpukat atau lemon, membentuk
pseudomiselium, dan sebagainya. Dinding selnya sangat tipis untuk sel-sel yang
masih muda, dan semakin lama semakin tebal jika sel semakin tua. Komponen
dinding selnya berupa glukan (selulosa khamir), mannan, protein, kitin dan lipid
(Waluyo, 2005).
2.4.1 Karakteristik Fisiologi jamur
Dengan mengetahui nutrisi dan morfologi jamur merupakan dasar untuk
mengetahui ekologi jamur dan aspek ekologinya terhadap kerusakan yang

Universitas Sumatera Utara

disebabkan oleh jamur. Faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan jamur
yaitu :
1. Kelembapan dan aktivitas air
Air berperan dalam reaksi metabolik didalam sel dan merupakan alat
pengangkut zat gizi atau bahan buangan kedalam dan keluar sel, jika air
mengalami kristalisasi dan membentuk es atau terikat secara kimia dalam
gula atau garam maka air tersebut tidak dapat digunakan lagi. Jamur
bersifat heterotrofik, memerlukan selapis air disekitar hifanya untuk
tumbuh sehingga jika bersaing dengan mokroorganisme lain maka jamur
akan kalah. Jumlah air dalam makanan disebut aktivitas air (aw)
merupakan perbandingan tekanan uap pelarut (umumnya air), sebanding
dengan kelembapan relative (RH) dari udara atmosfir.
2. Suhu
Suhu mempengaruhi pertumbuhan organisme melalui (a) kenaikan suhu
membuat kecepatan metabolisme meningkat dan pertumbuhan dipercepat
dan (b) suhu terlalu tinggi atau terlalu rendah membuat pertumbuhan
terhenti, komponen sel menjadi tidak aktif dan sel akan mati. Kebanyakan
kapang bersifat mesofilik sehingga tumbuh baik pada suhu ruangan
dengan suhu optimal 25-30oC dan suhu minimum sekitar 5oC hifa jamur
dapat tumbuh pada suhu yang ekstrim (Frazier & Westhoff, 1988).
3. Oksigen dan pH
Jamur dan kapang bersifat aerobik sehingga pertumbuhannya memerlukan
oksigen. Sel jamur dapat didapar, pernafasan endogen pada medium
eksternal yang berbeda berada pada rentang pH 5-8, tetapi umumnya pada

Universitas Sumatera Utara

pH asam. Pernafasan eksogen dan pertumbuhan hifa dipengaruhi oleh
perubahan pH eksternal dimana mekanisme yang sesungguhnya belum
diketahui. Karbondioksida sebanyak 10% dapat menghambat pertumbuhan
bakteri dan jamur .
4. Makanan
Mikroorganisme memerlukan suplai makanan untuk sumber energi dan
menyediakan unsur kimia dasar untuk pertumbuhan sel. Jamur dan kapang
mempunyai enzim hidrolitik, beberapa mempunyai enzim amylase,
pektinase, proteinase, dan lipase untuk mencerna bahan makanan (Fardiaz,
1992).
2.4.2 Candida albicans
Klasifikasi Candida albicans sebagai berikut:
Divisio

: Eumycophyta

Kelas

: Deuteromycetes

Ordo

: Melaneoniales

Familia

: Moniliaceae

Genus

: Candida

Spesies

: Candida albicans

Candida albicans adalah jamur lonjong bertunas yang menghasilkan
pseudomisellium dalam biakan, jaringan dan eksudat. Ukuran C. albicans yaitu 23 µ m x 4-6 µ m. C. albicans merupakan anggota flora normal selaput lendir,
saluran pernafasan, saluran pencernaan, dan genitalia wanita. C. albicans dapat
menimbulkan invasi dalam aliran darah, trombofiebitis, endo karditas atau infeksi
pada mata dan organ lain. C.albicans mampu meragikan glukosa dan maltosa,

Universitas Sumatera Utara

menghasilkan asam dan gas, tidak bereaksi dengan laktosa. Peragian karbohidrat
ini bersama-sama dengan sifat koloni dan morfologi koloni, membedakan
C.albicans dengan spesies candida lainnya (Jawetz et al, 1986).
Infeksi yang disebabkan oleh jamur C.albicans antara lain:
1. Mulut
Infeksi mulut (sariawan) terutama pada bayi, terjadi pada selaput lendir
pipi dan nampak sebagai bercak putih yang sebagian besar terdiri atas
pseudomisellium dan epitel yang terkelupas.
2. Genitalia wanita
Vulvovaginitis menyerupai sariawan, tetapi menimbulkan iritasi dan
gatal yang hebat. Timbulnya vulvovaginitis dipermudah oleh pH alkali.
Dalam keadaan normal pH dinetralkan oleh kuman vagina.
3. Kulit
Infeksi kulit terutama terjadi pada bagian tubuh yang basah, hangat
seperti ketiak, lipatan paha, atau lipatan dibawah payudara, infeksi
paling sering terdapat pada orang gemuk dan diabetes. Infeksi pada
kulit antara jari-jari tangan paling sering setelah pencelupan dalam air
yang berlangsung lama dan berulang.
4. Kuku
Rasa sakit, bengkak kemerahan dari lipatan kuku dapat mengakibatkan
penebalan dan akhirnya kehilangan kuku.
5. Paru-paru dan organ-organ lain

Universitas Sumatera Utara

Infeksi candida dapat merupakan invasi sekunder paru-paru, ginjal, dan
organ-organ lain dimana terdapat penyakit sebelumnya (misalnya
tuberkolosis dan kanker) (Jawetz et al, 1995).

Gambar 1. Jamur Candida albicans (www.linedrawing.com)
2.4.3 Media Pertumbuhan Bakteri
Media biakan dapat dikelompokkan dalam beberapa kategori, yaitu:
a. Berdasarkan asalnya, media dibagi atas:
1. Media sintetik yaitu media yang kandungan dan isi bahan yang
ditambahkan diketahui secara terperinci. Contoh: glukosa, kalium
fosfat, magnesium fosfat.
2. Media non-sintetik yaitu media yang kandungan dan isinya tidak
diketahui secara terperinci dan menggunakan bahan yang terdapat
di alam. Contohnya: ekstrak daging, pepton (Lay, BW, 1994).
b. Berdasarkan kegunaannya, dapat dibedakan menjadi:
1. Media selektif

Universitas Sumatera Utara

Media selektif adalah media biakan yang mengandung paling
sedikit satu bahan yang dapat menghambat perkembang biakan
mikroorganisme

yang

tidak

diinginkan

dan

membolehkan

perkembang biakan mikroorganisme tertentu yang ingin diisolasi,
contohnya: MSA, PDA, Saboaraut Agar (SA).
2. Media diferensial
Media ini digunakan untuk menyeleksi suatu mikroorganisme dari
berbagai jenis dalam suatu lempengan agar, contohnya: EMB,
SSA.
3. Media diperkaya
Media ini digunakan untuk menumbuhkan mikroorganisme yang
diperoleh dari lingkungan alami karena jumlah mikroorganisme
yang ada terdapat dalam jumlah sedikit, beberapa zat organik yang
mengandung zat karbon dan nitrogen (Irianto, K, 2006).
c. Berdasarkan konsistensinya, dibagi atas (Irianto, K, 2006):
1. Media padat/ solid
2. Media semi solid
3. Media cair
2.4.4 Metode isolasi biakan jamur
a) Cara gores
Ose yang telah steril dicelupkan ke dalam suspensi mikroorganisme yang
diencerkan, lalu dibuat serangkaian goresan sejajar yang tidak saling
menutupi di atas permukaan agar yang telah padat.
b) Cara sebar

Universitas Sumatera Utara

Suspensi mikroorganisme yang telah diencerkan diinokulasikan secara
merata dengan menggunakan hockey stick pada permukaan media padat.
c) Cara tuang
Pengenceran inokulum yang berturut-turut diletakkan pada cawan petri
steril dan dicampurkan dengan medium agar cair, lalu dibiarkan memadat.
Koloni yang berkembang akan tertanam di dalam media tersebut (Stanier,
RY et al, 1982).
2.4.5 Pengukuran aktivitas antimikroba
Penentuan kepekaan bakteri patogen terhadap antibakteri tertentu dapat
dilakukan dengan salah satu dari dua metode pokok yaitu dilusi atau difusi.
Penting sekali menggunakan metode standar untuk mengendalikan semua faktor
yang mempengaruhi aktivitas antimikroba.
a. Metode dilusi
Metode ini menggunakan antimikroba dengan kadar yang menurun secara
bertahap, baik dengan media cair atau padat. Kemudian media diinokulasi bakteri
uji dan dieramkan. Tahap akhir dilmasukkan antimikroba dengan kadar yang
menghambat atau mematikan. Uji kepekaan cara dilusi agar memakan waktu dan
penggunaannya dibatasi pada keadaan tertentu saja (Jawetz et al, 1995).
b. Metode difusi
Metode yang paling sering digunakan adalah metode difusi agar. Cakram
kertas saring berisi sejumlah tertentu obat ditempatkan pada permukaan medium
padat yang sebelumnya telah diinokulasi bakteri uji pada permukaannya. Setelah
inkubasi, diameter zona hambatan sekitar cakram dipergunakan mengukur
kekuatan hambatan obat terhadap organisme uji. Metode ini dipengaruhi oleh

Universitas Sumatera Utara

beberapa faktor fisik dan kimia, selain faktor antara obat dan organisme (misalnya
sifat medium dan kemampuan difusi, ukuran molekular dan stabilitas obat).
Meskipun demikian, standarisasi faktor-faktor tersebut memungkinkan melakukan
uji kepekaan dengan baik (Jawetz et al, 1995).
c.

Metode turbidimetri
Kedalam tabung reaksi ditambahkan 1 ml larutan antibiotik dan 9 ml

inokulum. Diinkubasikan pada suhu 30ºC selama 3-4 jam. Serapan diukur dengan
spektrofotometer pada 530 nm. Kadar antibiotik ditentukan berdasarkan
perbandingan serapannya terhadap serapan standar (Wattimena, 1991).

Universitas Sumatera Utara

BAB III
METODE PENELITIAN

Metode penelitian yang dilakukan adalah metode eksperimental. Tahap
penelitian meliputi penyiapan bahan, skrining fitokimia, karakterisasi simplisia,
dan pembuatan ekstrak. Selanjutnya pengujian aktivitas antijamur dengan metode
difusi agar menggunakan silinder logam. Parameter yang dilihat adalah besarnya
diameter hambat pertumbuhan jamur. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium
Fitokimia dan Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Farmasi Universitas Sumatera
Utara.

3.1

Alat – alat
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat-alat gelas, autoklaf

(Fisons), blender (Philips), desikator, freeze dryer (Modulio), inkubator (Fiber
Scientific), jangka sorong, jarum ose, kamera digital (Sony), kompor (Sharp),
krus porselin, Laminar Air Flow Cabinet (Astec HLF 1200L), lemari pendingin
(Toshiba), mikroskop, neraca kasar (Sun), neraca listrik (Vibra AJ),

oven

(Memmert), penangas air (Yenaco), pinset, pipet mikro (Eppendorf), rotary
evaporator (Haake D), seperangkat alat penetapan kadar air, seperangkat alat
soxhletasi, silinder logam, spektrofotometer visibel (Dynamic) dan tanur.

3.2

Bahan – bahan
Bahan yang digunakan un

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

119 3984 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1057 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 945 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 632 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 790 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1348 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

66 1253 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 825 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 1111 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1350 23