Uji Efek Hipoglikemik Natrium Alginat Dari Rumput Laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh Terhadap Tikus Putih Jantan Galur Wistar Yang Diinduksi Aloksan

UJI EFEK HIPOGLIKEMIK NATRIUM ALGINAT DARI
RUMPUT LAUT Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh
TERHADAP TIKUS PUTIH JANTAN GALUR
WISTAR YANG DIINDUKSI ALOKSAN

SKRIPSI

OLEH:
PUTRI YANI
NIM 071501057

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

BAHAN SKRIPSI

UJI EFEK HIPOGLIKEMIK NATRIUM ALGINAT DARI
RUMPUT LAUT Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh
TERHADAP TIKUS PUTIH JANTAN GALUR
WISTAR YANG DIINDUKSI ALOKSAN

Diajukan Untuk Melengkapi Salah Satu Syarat Untuk Mencapai
Gelar Sarjana Farmasi pada Fakultas Farmasi
Universitas Sumatera Utara

OLEH:
PUTRI YANI
NIM 071501057

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

Pengesahan Skripsi
UJI EFEK HIPOGLIKEMIK NATRIUM ALGINAT DARI
RUMPUT LAUT Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh
TERHADAP TIKUS PUTIH JANTAN GALUR
WISTAR YANG DIINDUKSI ALOKSAN

OLEH:
PUTRI YANI
NIM 071501057
Dipertahankan Di Hadapan Panitia Penguji Skripsi
Fakultas Farmasi
Universitas Sumatera Utara
Pada Tanggal : Agustus 2011
Pembimbing I,

Panitia Penguji

(Dra. Suwarti Aris, M.Si., Apt.)

NIP 195107231982032001

(Prof. Dr. Urip Harahap, Apt.)
NIP 195301011983031004

(Dra. Suwarti Aris, M.Si., Apt.)
NIP 195107231982032001

Pembimbing II,

(Prof. Dr. Rosidah, M.Si., Apt.)
NIP 195103261978022001

(Dra.Aswita Hafni Lubis, M.Si.,Apt.)
NIP 195304031983032001

(Drs. Panal Sitorus, M.Si., Apt.)
NIP 195310301980031002

Dekan Fakultas Farmasi

(Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt.)
NIP 195311281983031002

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena limpahan rahmat
kasih dan karuniaNya, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang
berjudul ”UJI EFEK HIPOGLIKEMIK NATRIUM ALGINAT DARI
RUMPUT LAUT Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh TERHADAP
TIKUS

PUTIH

JANTAN

GALUR

WISTAR

YANG

DIINDUKSI

ALOKSAN”. Skripsi ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh
gelar sarjana farmasi pada Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.
Terimakasih dan penghargaan yang tulus kepada Ayahanda dan Ibunda
tercinta, Rusli Ahmad dan Wardah, yang tiada pernah hentinya berkorban dengan
tulus ikhlas bagi kesuksesan penulis, dan juga kepada kakakku Lia dan adikku
Riki yang selalu setia memberi doa, dorongan serta semangatnya.
Penulis juga menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada
Ibu Dra. Suwarti Aris, M.Si., Apt dan Prof. Dr. Rosidah, M.Si., Apt., yang telah
membimbing penulis dengan penuh kesabaran dan tanggung jawab selama
melakukan penelitian hingga selesainya penulisan skripsi ini.
Pada kesempatan ini penulis juga mengucapkan terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt., selaku Dekan Fakultas
Farmasi

yang

telah

memberikan

fasilitas

sehingga penulis dapat

menyelesaikan pendidikan.
2. Bapak Alm Drs. Ubaidillah, M.Si., Apt dan Drs. Syahrial Yoenoes, SU.,
Apt., sebagai dosen wali yang telah banyak membimbing penulis selama
masa perkuliahan hingga selesai.

Universitas Sumatera Utara

3. Ibu Dra. Suwarti Aris, M.Si., Apt., selaku Kepala Laboratorium
Farmakognosi dan Ibu Marianne, S.Si., M.Si., Apt selaku Kepala
Laboratorium Farmakologi yang telah memberikan fasilitas sehingga penulis
dapat menyelesaikan penelitian.
4. Bapak Prof. Dr. Urip Harahap, Apt., Ibu Dra. Aswita Hafni Lubis, M.Si.,
Apt., dan Bapak Drs. Panal Sitorus, M.Si., Apt., selaku dosen penguji yang
telah memberi masukan dan saran kepada penulis hingga selesainya
penulisan skripsi ini.
5. Bapak dan Ibu staf pengajar Fakultas Farmasi USU yang telah mendidik
penulis selama masa perkuliahan.
6. Sahabat – sahabat terbaikku Nonie, Lia dan Riah yang selalu menyemangati
dan menemani hidup penulis disaat susah dan senang. Rekan – rekan
stambuk 2007, khususnya ”FKK’07”, k’vika, nova, melisa, nurul, karsi,
darma, tonny, dani, ayu, eva dan teman - teman lainnya yang tidak dapat
disebut satu per satu yang juga banyak membantu serta memberi dorongan
dan semangat kepada penulis.
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih belum sempurna.
Untuk itu penulis mengharapkan saran dan kritik yang membangun. Semoga
skripsi ini bermanfaat bagi penulis dan pembaca.

Medan, Agustus 2011
Penulis,

( Putri Yani )

Universitas Sumatera Utara

UJI EFEK HIPOGLIKEMIK NATRIUM ALGINAT DARI
RUMPUT LAUT Sargassum ilicifolium (Turner) C.Agardh
TERHADAP TIKUS PUTIH JANTAN GALUR
WISTAR YANG DIINDUKSI ALOKSAN

ABSTRAK
Diabetes mellitus ( DM ) merupakan salah satu penyakit yang menjadi
masalah kesehatan masyarakat. Diabetes mellitus disebabkan oleh kekurangan
hormon insulin yang berfungsi memanfaatkan glukosa sebagai sumber energi dan
sintesa lemak sehingga kekurangan hormon insulin dapat menyebabkan glukosa
meningkat di dalam darah. Natrium alginat hasil ekstraksi dari rumput laut coklat
jenis Sargassum sp. diduga berguna bagi penderita penyakit diabetes mellitus
karena dapat memperlambat penyerapan glukosa pada saluran cerna ke dalam
aliran darah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian
natrium alginat hasil ekstraksi dari rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C.
Agardh terhadap kadar glukosa darah tikus yang diinduksi aloksan.
Penelitian meliputi karakterisasi ampas simplisia, isolasi alginat, dan
pengujian efek penurun kadar glukosa darah dari natrium alginat hasil ekstraksi
dari rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh terhadap tikus yang
dibuat diabetes. Sebelum digunakan tikus terlebih dahulu diinduksi dengan
aloksan 130 mg/Kg BB secara intraperitoneal. Peningkatan kadar glukosa darah
diukur pada hari ke-3. Selanjutnya tikus dikelompokkan menjadi 5 kelompok dan
diberikan suspensi natrium alginat secara oral dengan dosis 200, 400, 800 mg/kg
BB, metformin dosis 50 mg/kg BB sebagai pembanding positif, dan suspensi NaCMC 0,5% sebagai pembanding negatif. Pengujian dilakukan pada hari ke-6 dan
ke-9. Data yang diperoleh dianalisis secara analisis variansi kemudian dilanjutkan
dengan metode Duncan.
Hasil pemeriksaan karakterisasi ampas simplisia rumput laut diperoleh
kadar air 12,62% (v/b), kadar sari larut dalam air 5,43% (b/b), kadar abu total
9,30% (b/b), kadar abu tidak larut dalam asam 0,39% (b/b). Hasil pengujian
statistik (α=0,05) menunjukkan bahwa pada pemberian natrium alginat dosis 800
mg/kg BB memberikan penurunan kadar glukosa darah yang tidak berbeda secara
nyata dengan pemberian suspensi metformin 50 mg/kg BB, sedangkan natrium
alginat 200 dan 400 mg/Kg BB memberikan penurunan kadar glukosa darah yang
berbeda secara nyata dengan pemberian suspensi metformin 50 mg/kg BB.
Kata kunci: rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh, natrium
alginat, aloksan, diabetes mellitus

Universitas Sumatera Utara

TEST OF HYPOGLIKEMIC EFFECT OF SODIUM ALGINATE OF
SEAWEED (Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh) ON
ALOXAN INDUCED WISTAR WHITE MALE RATS

ABSTRACT
Diabetes mellitus (DM) is one of the diseases of public health problems.
Diabetes mellitus is caused by a deficiency of the hormone insulin that functions
utilize glucose as an energy source and synthesis of fat so that the deficiency of
insulin can cause accumulate glucose in the blood. Sodium alginate extracted
from brown seaweed species Sargassum sp. thought to be useful for people with
diabetes because it can slow the absorption of glucose in the gastrointestinal tract
into the bloodstream. The objective of this research is to assess the effect of
sodium alginate on rat blood glucose levels which induced aloxan.
The research includes characterization of simplicia dregs, isolation
alginate, and the assessment of blood glucose lowering effect of sodium alginate
extracted from seaweed Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh of rats made
diabetic. Before the rats are used, they are induced by 130 mg/kg bw alloxan
intraperitoneally. Grouped into 5 groups of rats and then sodium alginate
suspension was administered orally at a dosage of 200 mg / kg, 400 mg / kg, 800
mg / kg BW. Metformin dosage of 50 mg / kg BW as a positive control, and the
suspension of Na-CMC 0.5% as the negative control. The tests performed on day
6 and 9. Data were analyzed with analysis of variance continued by Duncan.
The result of the characterization of simplicia dregs seaweed showed water
content of 12.62% (v/w), water soluble extract content of 5.43%(w/w), total ash
content 9.30% (w/w), and ash insoluble in acid 0.39 % (w/w). The result of
statistical tests (α=0.05) showed that the administration of sodium alginate 800
mg / kg BW gave a reduction in blood glucose levels did not differ significantly
with the provision of metformin suspension dosage 50 mg / kg BW, while sodium
alginate 200 and 400 mg / kg BW gave a decrease in blood glucose levels that
were significantly different with the provision of metformin suspension 50 mg /
kg.

Keywords: seaweed Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh, sodium alginate,
alloxan, diabetes mellitus

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
Halaman
JUDUL ………………………………………………………………........

i

HALAMAN PENGESAHAN …………………………………………...

iii

KATA PENGANTAR ................................................................................

iv

ABSTRAK ………………………………………………………………..

vi

ABSTRACT …………………………………………………………...….

vii

DAFTAR ISI …………………………………………………………......

viii

DAFTAR TABEL ………………………………………………………..

xii

DAFTAR GAMBAR ………………………………………….................

xiii

DAFTAR LAMPIRAN ……………………………………………..........

xiv

BAB I. PENDAHULUAN ………………………………………………

1

1.1 Latar belakang ………………………………………………...

1

1.2 Perumusan masalah …………………………………………...

3

1.3 Hipotesis ……………………………………………………....

3

1.4 Tujuan Penelitian ……………………………………………...

4

1.5 Manfaat Penelitian …………………………………………….

4

1.6 Kerangka Konsep Penelitian ......................................................

5

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ...............................................................

6

2.1 Uraian Tumbuhan ......................................................................

6

2.1.1 Sistematika Tumbuhan .....................................................

6

2.1.2 Morfologi Tumbuhan .......................................................

6

2.2 Alginat .......................................................................................

7

2.2.1 Struktur Alginat ................................................................

7

Universitas Sumatera Utara

2.2.2 Sifat – Sifat Alginat ............................................................

8

2.3 Aloksan .........................................................................................

9

2.3.1 Definisi Aloksan ..................................................................

9

2.3.2 Penagruh Aloksan Terhadap Kerusakan Sel β Pankreas .....

9

2.4 Pengaturan Kadar Glukosa Darah ................................................

10

2.4.1 Pankreas ...............................................................................

11

2.4.1.1 Insulin .....................................................................

11

2.4.1.2 Glukagon .................................................................

11

2.4.2 Hati ......................................................................................

12

2.5 Diabetes Mellitus .........................................................................

12

2.5.1 Klasifikasi Diabetes Mellitus ..............................................

13

2.5.1.1 Diabetes Mellitus Tipe 1 ........................................

13

2.5.1.2 Diabetes Mellitus Tipe 2 .........................................

13

2.5.1.3 Diabetes Mellitus Gestasional .................................

14

2.5.1.4 Diabetes Mellitus Tipe Lain ....................................

14

2.5.2 Manajemen Terapi ..............................................................

14

2.5.2.1 Terapi Insulin ..........................................................

14

2.5.2.2 Terapi Obat Hipoglikemia ......................................

15

2.5.3 Diagnosis .............................................................................

17

BAB III. METODE PENELITIAN ...........…………………………..........

18

3.1 Alat dan Bahan ……………………………………………........

18

3.1.1 Alat ………………………………………………….........

18

3.1.2 Bahan ……………………………………………..............

18

3.2 Penyiapan Simplisia .....................................…………............…

19

Universitas Sumatera Utara

3.2.1 Pengambilan Bahan Tumbuhan...………………………..

19

3.2.2 Identifikasi Bahan Tumbuhan ..........................................

19

3.2.3 Pengeringan Bahan Tumbuhan ........................................

19

3.3 Pemeriksaan Karakterisasi Simplisia …...…………………….

20

3.3.1 Pemeriksaan Makroskopik ................……………………

20

3.3.2 Pemeriksaan Mikroskopik ................……………………

20

3.3.3 Penetapan Kadar Air Simplisia ………………………….

20

3.3.4 Penetapan Kadar Sari yang Larut Dalam Air ..……….....

21

3.3.5 Penetapan Kadar Sari yang Larut Dalam Etanol ……….

21

3.3.6 Penetapan Kadar Abu Total …………………………….

22

3.3.7 Penetapan Kadar Abu Tidak LarutAsam ...……………..

22

3.4 Isolasi Alginat ..........................……………………………….

22

3.4.1 Tahap Praekstraksi .....................................................…...

23

3.4.2 Tahap Pemutihan ..............................................................

23

3.4.3 Tahap Ekstraksi dan Pemurnian …………………………

23

3.4.4 Tahap Pembuatan Natrium Alginat ……………………..

23

3.5 Penetapan Karakterisasi Natrium Alginat Secara
Spektrofotometri FTIR ………………....……………………

24

3.6 Penyiapan Hewan Percobaan .....................................................

24

3.7 Pengujian Farmakologi ..............................................................

24

3.7.1 Pembuatan Larutan Aloksan 5% .....................................

24

3.7.2 Pembuatan suspensi CMC Na 0,5% (b/v) ......................

24

3.7.3 Pembuatan Suspensi Natrium Alginat ............................

25

3.7.4 Pembuatan Suspensi Metformin Dosis 50 mg/Kg BB ...

25

Universitas Sumatera Utara

3.7.5 Penyiapan Hewan Uji yang Hiperglikemia .....................

25

3.7.6 Penentuan Kadar Glukosa Darah (KGD) .........................

25

3.7.7 Penggunaan Alat Glukometer .........................................

26

3.7.8 Pengujian Efek Penurunan Kadar Glukosa Darah............

26

3.8 Analisis Data ............................................................................

27

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ……………………………….

28

4.1 Hasil Identifikasi Tumbuhan ………………………………….

28

4.2 Hasil Karakteristik Simplisia …………………………………

28

4.3 Hasil Pembuatan Natrium Alginat ……………………………

29

4.4 Hasil Penetapan Karakterisasi Natrium Alginat Secara
Spektrofotometri FTIR ………………………………………..

30

4.5 Hasil Uji Farmakologi ………………………………………...

30

4.5.1 Pengaruh Induksi Aloksan terhadap KGD Tikus ………

31

4.5.2 Pengukuran KGD Tikus Diabetes pada Hari ke-4
Setelah Pemberian Sediaan Uji …………………………

33

4.5.3 Pengukuran KGD Tikus Diabetes pada Hari ke-7
Setelah Pemberian Sediaan Uji …………………………

34

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ..……………………………….

37

5.1 Kesimpulan ……………………………………………………

37

5.2 Saran …………………………………………………………..

38

DAFTAR PUSTAKA …………………………………………………….

39

LAMPIRAN ……………………………………………………………...

42

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 4.1 Hasil rata-rata KGD tikus setelah puasa selama 18 jam ………

31

Tabel 4.2 Hasil rata-rata KGD tikus setelah diinduksi aloksan dosis
130mg/kg BB ….………………………………………………

32

Tabel 4.3 Hasil rata-rata KGD tikus hari ke-4 setelah pemberian
sediaan uji ………………………………………………….….

33

Tabel 4.4 Hasil uji beda rata-rata duncan terhadap KGD tikus pada
hari ke- 6 …………………………………………………….…

34

Tabel 4.5 Hasil rata-rata KGD tikus hari ke-4 setelah pemberian
sediaan uji ………………………..…………………………….

35

Tabel 4.6 Hasil uji beda rata-rata duncan terhadap KGD tikus pada hari
ke-9……………………………………………………………..

35

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 1.1 Skema Kerangka Pikir Penelitian …………………………..

5

Gambar 2.1 Struktur Natrium Alginat ………………..………………….

8

Gambar 2.2 Struktur Molekul Aloksan …………...……………………..

9

Gambar 2.3 Skema Pengaturan Glukosa Darah ….……………………...

10

Gambar 4.1 Grafik yang menunjukkan KGD setelah pemberian Na
Alginat dan Metformin ……………………………………..

33

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR LAMPIRAN
Halaman

Lampiran 1. Identifikasi Tumbuhan ....................................................

42

Lampiran 2. Gambar Talus Rumput Laut (Sargassum ilicifolium
(Turner) C. Agardh) ..…………………………………….

43

Lampiran 3. Perhitungan Penetapan Karakteristik Simplisia .................

47

Lampiran 4. Penetapan Kadar Abu Simplisia .......................................

52

Lampiran 5. Bagan Pembutan Natrium Alginat ...................................

53

Lampiran 6. Spektrum Identifikasi Natrium Alginat ............................

54

Lampiran 7. Bagan Alur Pengujian Efek Penurunan Kadar Glukosa
Darah ……… ..................................................................

56

Lampiran 8. Bagan Alur Pengukuran Kadar Glukosa Darah Tikus ..…

57

Lampiran 9. Data Kadar Glukosa Darah Tikus Selama Penelitian ........

58

Lampiran 10. Hasil SPSS .....................................................................

60

Lampiran 11. Contoh Perhitungan Dosis .............................................

64

Lampiran 12. Alat Pengukur Kadar Glukosa Darah Tikus ...................

67

Lampiran 13. Alat Spektrofotometri FTIR ….…………………………

68

Universitas Sumatera Utara

UJI EFEK HIPOGLIKEMIK NATRIUM ALGINAT DARI
RUMPUT LAUT Sargassum ilicifolium (Turner) C.Agardh
TERHADAP TIKUS PUTIH JANTAN GALUR
WISTAR YANG DIINDUKSI ALOKSAN

ABSTRAK
Diabetes mellitus ( DM ) merupakan salah satu penyakit yang menjadi
masalah kesehatan masyarakat. Diabetes mellitus disebabkan oleh kekurangan
hormon insulin yang berfungsi memanfaatkan glukosa sebagai sumber energi dan
sintesa lemak sehingga kekurangan hormon insulin dapat menyebabkan glukosa
meningkat di dalam darah. Natrium alginat hasil ekstraksi dari rumput laut coklat
jenis Sargassum sp. diduga berguna bagi penderita penyakit diabetes mellitus
karena dapat memperlambat penyerapan glukosa pada saluran cerna ke dalam
aliran darah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian
natrium alginat hasil ekstraksi dari rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C.
Agardh terhadap kadar glukosa darah tikus yang diinduksi aloksan.
Penelitian meliputi karakterisasi ampas simplisia, isolasi alginat, dan
pengujian efek penurun kadar glukosa darah dari natrium alginat hasil ekstraksi
dari rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh terhadap tikus yang
dibuat diabetes. Sebelum digunakan tikus terlebih dahulu diinduksi dengan
aloksan 130 mg/Kg BB secara intraperitoneal. Peningkatan kadar glukosa darah
diukur pada hari ke-3. Selanjutnya tikus dikelompokkan menjadi 5 kelompok dan
diberikan suspensi natrium alginat secara oral dengan dosis 200, 400, 800 mg/kg
BB, metformin dosis 50 mg/kg BB sebagai pembanding positif, dan suspensi NaCMC 0,5% sebagai pembanding negatif. Pengujian dilakukan pada hari ke-6 dan
ke-9. Data yang diperoleh dianalisis secara analisis variansi kemudian dilanjutkan
dengan metode Duncan.
Hasil pemeriksaan karakterisasi ampas simplisia rumput laut diperoleh
kadar air 12,62% (v/b), kadar sari larut dalam air 5,43% (b/b), kadar abu total
9,30% (b/b), kadar abu tidak larut dalam asam 0,39% (b/b). Hasil pengujian
statistik (α=0,05) menunjukkan bahwa pada pemberian natrium alginat dosis 800
mg/kg BB memberikan penurunan kadar glukosa darah yang tidak berbeda secara
nyata dengan pemberian suspensi metformin 50 mg/kg BB, sedangkan natrium
alginat 200 dan 400 mg/Kg BB memberikan penurunan kadar glukosa darah yang
berbeda secara nyata dengan pemberian suspensi metformin 50 mg/kg BB.
Kata kunci: rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh, natrium
alginat, aloksan, diabetes mellitus

Universitas Sumatera Utara

TEST OF HYPOGLIKEMIC EFFECT OF SODIUM ALGINATE OF
SEAWEED (Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh) ON
ALOXAN INDUCED WISTAR WHITE MALE RATS

ABSTRACT
Diabetes mellitus (DM) is one of the diseases of public health problems.
Diabetes mellitus is caused by a deficiency of the hormone insulin that functions
utilize glucose as an energy source and synthesis of fat so that the deficiency of
insulin can cause accumulate glucose in the blood. Sodium alginate extracted
from brown seaweed species Sargassum sp. thought to be useful for people with
diabetes because it can slow the absorption of glucose in the gastrointestinal tract
into the bloodstream. The objective of this research is to assess the effect of
sodium alginate on rat blood glucose levels which induced aloxan.
The research includes characterization of simplicia dregs, isolation
alginate, and the assessment of blood glucose lowering effect of sodium alginate
extracted from seaweed Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh of rats made
diabetic. Before the rats are used, they are induced by 130 mg/kg bw alloxan
intraperitoneally. Grouped into 5 groups of rats and then sodium alginate
suspension was administered orally at a dosage of 200 mg / kg, 400 mg / kg, 800
mg / kg BW. Metformin dosage of 50 mg / kg BW as a positive control, and the
suspension of Na-CMC 0.5% as the negative control. The tests performed on day
6 and 9. Data were analyzed with analysis of variance continued by Duncan.
The result of the characterization of simplicia dregs seaweed showed water
content of 12.62% (v/w), water soluble extract content of 5.43%(w/w), total ash
content 9.30% (w/w), and ash insoluble in acid 0.39 % (w/w). The result of
statistical tests (α=0.05) showed that the administration of sodium alginate 800
mg / kg BW gave a reduction in blood glucose levels did not differ significantly
with the provision of metformin suspension dosage 50 mg / kg BW, while sodium
alginate 200 and 400 mg / kg BW gave a decrease in blood glucose levels that
were significantly different with the provision of metformin suspension 50 mg /
kg.

Keywords: seaweed Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh, sodium alginate,
alloxan, diabetes mellitus

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Diabetes mellitus ( DM ) merupakan salah satu penyakit yang menjadi
masalah kesehatan masyarakat, dimana pada kondisi ini terjadi gangguan
metabolik tubuh yang dikarakteristikkan dengan kondisi hiperglikemia dan
abnormalitas pada metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein (Well, et al,
2009). Diabetes mellitus disebabkan oleh kekurangan hormon insulin yang
berfungsi memanfaatkan glukosa sebagai sumber energi dan sintesa lemak.
Kekurangan hormon insulin menyebabkan glukosa meningkat di dalam darah
(hiperglikemia) dan akhirnya disekresikan lewat kemih tanpa digunakan
(glikosuria) (Tjay dan Rahardja, 2007).
Kemudahan hidup akibat tersedianya produk teknologi yang membantu
manusia, mengambil alih sebagian besar tenaga manusia, akibatnya manusia
kurang bergerak atau kurang aktif. Perubahan perilaku hidup termasuk pola
makan memberikan kontribusi besar pada peningkatan prevalensi diabetes
mellitus.

Perubahan pola makan kearah makanan cepat saji inilah yang dapat

menimbulkan tingginya kadar glukosa darah. Faktor lain yang menunjang seseorang
terkena diabetes mellitus yaitu faktor keturunan, stress, dan faktor usia. (Amma,

2009).
Sekitar 88% penderita diabetes dilaporkan menggunakan obat antidiabetik
dalam terapinya. Beberapa dasawarsa terakhir di seluruh dunia ada kecenderungan
meningkatnya penggunaan sediaan herbal untuk berbagai keperluan pemeliharaan

Universitas Sumatera Utara

kesehatan meskipun efektivitas pemanfaatannya masih perlu dibuktikan (Amma,
2009).
Rumput laut merupakan salah satu sumber devisa negara dan sumber
pendapatan bagi masyarakat pesisir. Potensi produksi rumput laut di Indonesia
cukup melimpah dan meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2002 produksi
rumput laut mencapai 223.080 ton dan pada tahun 2006 terus meningkat hingga
mencapai 1.341.141 ton. Beberapa hasil olahan rumput laut seperti agar-agar,
alginat dan karagenan merupakan senyawa yang cukup penting dalam industri
(Bawa, dkk, 2007; Erungan, dkk, 2009).
Selama ini telah diketahui bahwa penggunaan natrium alginat sudah cukup
luas dilakukan di berbagai bidang, seperti industri farmasi, makanan, kosmetik,
tekstil, serta makanan dan minuman antara lain sebagai bahan pengemulsi,
pengental, stabilisator, dan penghancur dalam pembuatan tablet (Rasyid, 2003).
Selain itu, natrium alginat hasil ekstraksi dari rumput laut coklat jenis Sargassum
sp. juga berguna bagi penderita penyakit diabetes mellitus karena dapat
memperlambat penyerapan glukosa pada saluran cerna ke dalam aliran darah
(Wikanta, 2005).
Oleh karena itulah, peneliti melakukan penelitian mengenai pengaruh
pemberian natrium alginat yang diekstraksi dari ampas rumput laut Sargassum
ilicifolium (Turner) C. Agardh terhadap penurunan kadar glukosa darah tikus
putih jantan. Penelitian ini diharapkan juga dapat digunakan sebagai dasar
pengembangan rumput laut sebagai alternatif obat alami bahari dalam
menurunkan kadar glukosa darah pada penderita diabetes mellitus.

Universitas Sumatera Utara

1.2 Perumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka perumusan masalah
penelitian adalah:
a. apakah karakteristik simplisia rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner)
C.Agardh dapat diidentifikasi?
b. apakah natrium alginat masih terdapat di dalam ampas rumput laut
Sargassum ilicifolium (Turner) C.Agardh ?
c. apakah natrium alginat hasil ekstraksi dari rumput laut Sargassum
ilicifolium (Turner) C.Agardh dapat menurunkan kadar glukosa darah
tikus yang diinduksi aloksan?
d. apakah ada perbedaan nyata antara efek penurun kadar glukosa darah dari
natrium alginat yang diekstraksi dari rumput laut Sargassum ilicifolium
(Turner) C.Agardh dibandingkan dengan metformin?

1.3 Hipotesis
Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka hipotesis penelitian adalah
sebagai berikut:
a. karakteristik simplisia rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C.
Agardh dapat didentifikasi.
b. natrium alginat masih terdapat di dalam ampas rumput laut Sargassum
ilicifolium (Turner) C. Agardh.
c. natrium alginat hasil ekstraksi dari rumput laut Sargassum ilicifolium
(Turner) C.Agardh dapat menurunkan kadar glukosa darah tikus yang
diinduksi aloksan.

Universitas Sumatera Utara

d. tidak ada perbedaan nyata dari pemberian natrium alginat yang diekstraksi
dari rumput laut (Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh) dibandingkan
dengan metformin.

1.4 Tujuan Penelitian
Berdasarkan uraian di atas, maka tujuan dari penelitian ini adalah:
a. untuk mengetahui karakteristik simplisia rumput laut Sargassum
ilicifolium (Turner) C.Agardh.
b. untuk memperoleh natrium alginat yang diekstraksi dari ampas rumput
laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh.
c. untuk mengetahui pengaruh pemberian natrium alginat hasil ekstraksi dari
rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C.Agardh terhadap kadar
glukosa darah tikus yang dibuat diabetes.
d. untuk mengetahui perbandingan efek natrium alginat yang diekstraksi dari
rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C.Agardh sebagai penurun
kadar glukosa darah dibandingkan dengan metformin.

1.5 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai:
a. sumber karakteristik simplisia rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner)
C. Agardh.
b. sumber informasi ilmiah mengenai khasiat natrium alginat sebagai
penurun kadar glukosa darah.

Universitas Sumatera Utara

sumber untuk mendapatkan dosis yang tepat dari natrium alginat yang memberikan efek

menurunkan kadar glukosa darah optimal.

1.6 Kerangka Pikir Penelitian
Variabel Bebas

Variabel Terikat

Simplisia
Rumput Laut

Karakteristik

Spektrum Inframerah

Natrium Alginat

Aloksan

Tikus Wistar

Tikus Diabetes

Kadar
Glukosa
Darah
Tikus
(mg/dl)

Metformin
Gambar 1.1 Skema Kerangka Pikir Penelitian

Universitas Sumatera Utara

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2. 1 Uraian Tumbuhan
Rumput laut tergolong tanaman berderajat rendah, umumnya tumbuh
melekat pada substrat tertentu, tidak mempunyai akar, batang, maupun daun
sejati; tetapi hanya menyerupai batang yang disebut talus. Rumput laut tumbuh di
alam dengan melekatkan dirinya pada karang, lumpur, pasir, batu dan benda keras
lainnya. Selain benda mati, rumput laut pun dapat melekat pada tumbuhan lain
secara epifitik (Anggadireja., dkk, 2008).
2.1.1 Sistematika Tumbuhan
Dalam taksonomi tumbuhan, rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner)
C. Agardh diklasifikasikan sebagai berikut:
Divisi : Phaeophyta
Kelas : Phaeophyceae
Bangsa : Fucales
Suku : Sargassceae
Marga : Sargassum
Jenis

: Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh (LIPI, 2011)

2.1.2 Morfologi Tumbuhan
Secara umum, ciri-ciri dari marga Sargassum adalah bentuk talus yang
umumnya silindris dan ada yang gepeng, cabangnya rimbun menyerupai pohon di
darat, bentuk daunnya melebar, lonjong ataupun seperti pedang, mempunyai

Universitas Sumatera Utara

gelembung udara, panjangnya mencapai 7 meter, dimana warna talus umumnya
coklat (Aslan, 1998).
2.1.3 Kandungan Rumput Laut
Sebagai sumber gizi, rumput laut terdiri dari air (27,8%), protein (5,4%),
karbohidrat (33,3%), lemak (8,6%) serat kasar (3%) dan abu (22,25%). Selain itu,
rumput laut juga mengandung enzim, asam nukleat, asam amino, vitamin
(A,B,C,D, E dan K) dan makro mineral seperti nitrogen, oksigen, kalsium dan
selenium serta mikro mineral seperti zat besi, magnesium dan natrium.
(Anggadireja, dkk, 2009). Kandungan asam amino, vitamin dan mineral rumput
laut mencapai 10 -20 kali lipat dibandingkan dengan tanaman darat (Sulistyowaty,
2009).

2.2 Alginat
Alginat merupakan salah satu kelompok polisakarida yang terbentuk
dalam dinding sel rumput laut coklat dengan kadar mencapai 40% dari total berat
kering dan memegang peranan penting dalam mempertahankan struktur jaringan
algae (Rasyid, 2003). Alginat dalam rumput laut coklat umumnya bersenyawa
dengan garam natrium, kalium, kalsium, dan magnesium (Yulianto, 2007).
2.2.1 Struktur Alginat
Alginat merupakan suatu kopolimer linear yang terdiri dari dua unit
monomer penyusun alginat, yaitu β-D-Mannopyranosil Uronat dan α-L-Asam
Gulopyranosyl Uronat. Dari kedua jenis monomer tersebut, alginat dapat berupa
homopolimer yang terdiri dari monomer sejenis, yaitu β-D-Mannopyranosil
Uronat saja atau α-L-Asam Gulopyranosyl Uronat saja; atau alginat dapat juga

Universitas Sumatera Utara

berupa senyawa heteropolimer jika monomer penyusunnya adalah gabungan
kedua jenis monomer tersebut (Rasyid, 2003).

Gambar 2.1 Struktur Natrium Alginat
2.2.2 Sifat – Sifat Alginat
Sifat – sifat alginat sebagian besar tergantung pada tingkat polimerisasi
dan perbandingan komposisi guluronan dan mannuronan dalam molekul. Asam
alginat tidak larut dalam air dan mengendap pada pH < 3,5. Alginat tidak dapat
larut dalam pelarut organik tetapi dapat mengendap dengan alkohol. Alginat
paling stabil pada pH antara 4 – 10, tetapi pada pH yang lebih tinggi viskositasnya
sangat kecil akibat adanya degradasi β-eliminatif (Rasyid, 2003; Rowe, et al,
2009), tetapi pH di bawah 4,5 dan di atas 11 viskositasnya akan mudah
terdegradasi atau labil (Yulianto, 2007).

Universitas Sumatera Utara

2.3 Aloksan
2.3.1 Definisi Aloksan
Aloksan adalah suatu substrat yang secara struktural adalah derivate
pirimidin sederhana. Nama lain dari aloksan adalah 2,4,5,6 - tetraoxypirimidin;
2,4,5,6-primidinetetron;

1,3-Diazinan-2,4,5,6-tetron

(IUPAC)

dan

asam

Mesoxalylurea 5-oxobarbiturat. Rumus kimia aloksan adalah C4H2N2O4. Aloksan
murni diperoleh dari oksidasi asam urat oleh asam nitrat. Aloksan adalah senyawa
kimia tidak stabil dan senyawa hidrofilik (Yuriska, 2009).

Gambar 2.2 Struktur Molekul Aloksan
2.3.2 Pengaruh Aloksan Terhadap Kerusakan Sel β Pankreas
Aloksan merupakan bahan kimia yang digunakan untuk menginduksi
binatang percobaan untuk

menghasilkan kondisi diabetik eksperimental

(hiperglikemik) secara cepat. Aloksan dapat diberikan secara intravena,
intraperitoneal, atau subkutan pada binatang percobaan. Tikus hiperglikemik
dapat dihasilkan dengan menginjeksikan 120 - 150 mg/kgBB. Aloksan dapat
menyebabkan Diabetes Melitus tergantung insulin pada binatang tersebut (aloksan
diabetes) dengan karakteristik mirip dengan Diabetes Melitus tipe 1 pada manusia
(Yuriska, 2009). Mekanisme kerja aloksan diawali dengan ambilan aloksan ke
dalam sel-sel β pankreas dan kecepatan ambilan ini akan menentukan sifat
diabetogenik aloksan. Ambilan ini juga dapat terjadi pada hati atau jaringan lain,

Universitas Sumatera Utara

tetapi jaringan tersebut relatif lebih resisten dibanding pada sel-sel β pankreas.
Sifat inilah yang melindungi jaringan terhadap toksisitas aloksan (Amma, 2009).
Penelitian terhadap mekanisme kerja aloksan secara invitro juga
menunjukkan bahwa aloksan menginduksi pengeluaran ion kalsium dari
mitokondria yang mengakibatkan proses oksidasi sel terganggu. Keluarnya ion
kalsium dari mitokondria ini mengakibatkan gangguan homeostasis yang
merupakan awal dari matinya sel (Suharmiati, 2003). Kemampuan aloksan untuk
dapat menimbulkan diabetes juga tergantung pada jalur penginduksian, dosis,
senyawa, hewan percobaan dan status gizinya (Amma, 2009).

2.4 Pengaturan Kadar Glukosa Darah
Pengaturan kadar glukosa dalam darah dipengaruhi oleh organ-organ
tertentu yang paling penting adalah pankreas dan hati.

Gambar 2.3 Skema Pengaturan Glukosa Darah

Universitas Sumatera Utara

2.4.1 Pankreas
Pankreas sangat berperan dalam memelihara homeostasis glukosa darah.
Organ ini memiliki sel eksokrin dan sel endokrin. Hormon - hormon yang
dihasilkan pada sel endokrin dihasilkan oleh 4 jenis sel, yaitu: Sel α (yang
memproduksi hormon glukagon), Sel β (yang menghasilkan insulin), Sel D ( yang
memproduksi somatostatin), dan Sel PP (yang memproduksi polipeptida
pankreas) (Tjay dan Rahardja, 2003).
2.4.1.1 Insulin
Secara umum insulin memiliki empat fungsi utama yang dapat
menurunkan kadar glukosa darah dan meningkatkan penyimpanan karbohidrat
yaitu mempermudah masuknya glukosa ke dalam sebagian besar sel, merangsang
glikogenesis, menghambat glikogenolisis, serta menurunkan pengeluaran glukosa
oleh hati dengan menghambat glukoneogenesis (Sulistyowati, 2009). Setelah
mengkonsumsi karbohidrat yang banyak, glukosa yang diabsorpsi ke dalam darah
akan menyebabkan sekresi insulin yang cepat (Guyton, 1990). Sekali insulin
memasuki sirkulasi, maka insulin diikat oleh reseptor khusus yang terdapat pada
membrane sebagian besar jaringan sehingga memudahkan glukosa menembus
membrane sel (Katzung, 2002). Glukosa yang telah masuk ke dalam sel
selanjutnya akan diubah menjadi energi atau ditimbun sebagai cadangan makanan.
Cadangan ini digunakan bila tubuh kekurangan energi (Tjay dan Rahardja, 2003).
2.4.1.2 Glukagon
Glukagon adalah suatu hormon yang disekresi oleh sel α pulau langerhans
yang fungsinya berlawanan dengan hormon insulin yaitu meningkatkan
konsentrasi glukosa darah. Penurunan konsentrasi glukosa darah akan

Universitas Sumatera Utara

meningkatkan sekresi glukagon, bila kadar glukosa darah turun sampai
70mg/100ml darah, maka pankreas akan mensekresikan glukagon dalam jumlah
banyak yang cepat memobilisasi glukosa dari hati (Guyton, 1990).
2.4.2 Hati
Hati merupakan organ utama yang dicapai insulin endogen melalui
sirkulasi portal. Hati bekerja dengan meningkatkan simpanan glukosa sebagai
glikogen dan membalikkan sejumlah mekanisme katabolisme yang berhubungan
dengan keadaan pascaabsorpsi, seperti: glikogenolisis,

ketogenesis, dan

glukoneogenesis (Katzung, 2002).

2.5 Diabetes Mellitus
Diabetes mellitus merupakan gangguan metabolisme kronik yang ditandai
dengan tingginya konsentrasi glukosa di dalam darah atau disebut juga
hiperglikemia, yang disebabkan oleh kekurangan insulin atau dikombinasikan
dengan terjadinya resistensi insulin. Hiperglikemia terjadi karena pengeluaran
glukosa dari hati yang tidak terkontrol dan berkurangnya sintesis glikogen (Rang,
et al, 2007). Tidak adanya atau tidak memadainya produksi hormon insulin akan
mengakibatkan diabetes melitus tipe 1, terutama ditandai dengan penurunan berat
badan, gejala 3 p (polifagia, polidipsia, poliuria) dan umumnya ditemukan pada
usia anak-anak hingga remaja. Sedangkan peningkatan resistensi insulin dengan
penurunan kuantitas insulin menyebabkan diabetes tipe 2, yang dicirikan oleh
tubuh yang gemuk dan usia menengah keatas (Amma, 2009).

Universitas Sumatera Utara

2.5.1 Klasifikasi Diabetes Mellitus
2.5.1.1 Diabetes Mellitus Tipe 1
Diabetes tipe ini sering disebut Insulin Dependent Diabetes Melitus
(IDDM) atau juvenil onset diabetes (Tjay dan Rahardja, 2003). Penyebab
utamanya karena kerusakan autoimun dari sel β pancreas. Penanda dari kerusakan
sel β yang ada pada saat dilakukan diagnosis dari 90% individu dan termauk sel
islet antibodi, antibodi terhadap dekarboksilasi asam glutamat, dan antibodi
terhadap insulin (Dipiro., et al, 2008). Pada kondisi ini, insulin di dalam sirkulasi
tidak ada , glukagon plasma meningkat, dan sel β pankreas gagal berespon
terhadap semua rangsangan insulinogenik. Oleh karena itu, diperlukan insulin
eksogen untuk memperbaiki kondisi katabolik, mencegah ketosis, dan mengurangi
hiperglukagonemia serta penngkatan kadar glukosa darah (Katzung, 2002).
2.5.1.2 Diabetes Mellitus Tipe 2
Diabetes ini sering disebut Non Insulin Dependent Diabetes Melitus
(NIDDM), dimana penyakit dikarakteristikkan oleh adanya resistensi insulin atau
kurangnya sekresi insulin. Kurangnya sekresi insulin posprandial disebabkan
gangguan fungsi sel β pankreas dan kurangnya rangsangan untuk mensekresi
insulin dari hormon usus (Dipiro., et al, 2008). Pada kondisi seperti ini, pasien
dapat diobati dengan antidiabetika oral dan kecenderungan terjadinya asidosis
tidak ada. Sekitar 70-80% dari pasien diabetes yang tegolong jenis ini dikarenakan
factor keturunan yang berperan besar. Bilamana terjadi resistensi insulin, hali itu
biasanya diakibatkan makan terlalu banyak dibandingkan dengan kebutuhan
individualnya, seperti lazimnya pada orang gemuk (Tjay dan Rahardja, 2003).

Universitas Sumatera Utara

2.5.1.3 Diabetes Mellitus Gestasional
Diabetes tipe ini terjadi sebagai akibat intoleransi glukosa yang didapat
selama masa kehamilan. Deteksi klinis diperlukan sebagai terapi untuk
mengurangi morbiditas dan mortalitas janin (Dipiro., et al, 2008). Kebanyakan
wanita penderita gestational diabetes memiliki homeostatis glukosa yang normal
selama paruh pertama (sampai bulan kelima) masa hamil. Pada paruh kedua masa
hamil (antara bulan keempat dan kelima) mengalami defisiensi insulin relatif.
Pada umumnya kadar glukosa darah kembali normal setelah melahirkan (Amma,
2009). Penyebab diabetes gestasional dianggapa berkaitan dengan peningkatan
kebutuhan energi dan kadar esterogen serta hormon pertumbuhan yang terusmenerus tinggi selama kehamilan. Hormon pertumbuhan dan esterogen
menstimulasi pelepasan insulin yang berlebihan mengakibatkan penurunann
responsivitas seluler.hormon pertumbuhan juga memiliki beberapa efek anti
insulin, misalnya perangsangan glikogenolisis dan stimulasi jaringan adipose
(Corwin, 2009).
2.5.1.4 Diabetes Mellitus Tipe Lain
Tipe ini disebabkan oleh faktor lain, seperti efek genetis pada fungsi sel β
pancreas pada kerja insulin, penyakit pankreas eksokrin, atau akibat penggunaan
obat-obatan (Dipiro., et al, 2008).
2.5.2 Manajemen Terapi
2.5.2.1 Terapi Insulin
Terapi insulin adalah pengobatan utama untuk semua pasien dengan DM
tipe 1, DM tipe 2 yang tidak dapat diterapi dengan diet maupun agen
hipoglikemik oral, serta untuk pasien dengan diabetes postpancreatectomy dan

Universitas Sumatera Utara

diabetes gestasional. Selain itu, insulin berperan dalam pengelolaan diabetes
ketoasidosis, dan memiliki peran penting dalam pengobatan hiperglikemik, koma
nonketosis dan dalam manajemen perioperatif dari DM tipe 1 dan DM tipe 2.
Pada semua kasus, tujuannya tidak hanya untuk menormalkan glukosa darah
tetapi juga semua aspek metabolisme. Pengobatan yang optimal memerlukan
pendekatan yang terkoordinasi untuk diet, olahraga, dan pemberian insulin
(Goodman and Gilman, 2006).
2.5.2.2 Terapi Obat Hipoglikemik
Berdasarkan cara kerjanya ada lima golongan obat antidiabetika oral yang
sering digunakan, yaitu:
1. Sulfonilurea
Mekanisme kerjanya menstimulasi sel β dari pulau langerhans sehingga
sekresi insulin ditingkatkan. Kepekaan sel β untuk kadar glukosa darah
juga diperbesar melalui pengaruhnya atas protein transport glukosa (Tjay
dan Rahardja, 2003). Sulfonilurea juga dapat meningkatkan jumlah insulin
dengan mengurangi clearance hepatik dari hormon, merangsang pelepasan
somatostatin serta menekan sekresi glukagon walau hanya sedikit
(Goodman and Gilman, 2006). Generasi pertama sulfonilurea adalah
asetoheksamid, klorpropamid, tolbutamid, dan tolazamid, sedangkan
generasi keduanya adalah glibenklamid dan glipizida (Dipiro., et al, 2008).
Efek samping dari sulfonilurea jarang, biasanya terjadi pada sekitar 4%
dari pasien yang memakai obat generasi pertama dan mungkin sedikit
kurang sering pada pasien yang menerima obat generasi kedua. Efek yang
terjadi berupa reaksi hipoglikemik, termasuk koma. Efek samping lainnya

Universitas Sumatera Utara

dari sulfonilurea termasuk penyakit kuning, mual dan muntah, kolestasis,
agranulositosis, anemia aplastik dan hemolitik, reaksi hipersensitivitas
umum, dan reaksi dermatologis (Goodman and Gilman, 2006).
2. Biguanida
Golongan obat ini bekerja berdasarkan peningkatan kepekaan reseptor
insulin sehingga absorpsi glukosa di jaringan perifer meningkat dan
bersifat menekan nafsu makan (Tjay dan Rahardja, 2003). Contoh dari
golongan ini adalah metformin. Metformin tidak memiliki efek yang
signifikan terhadap sekresi glukagon, kortisol, hormon pertumbuhan, atau
somatostatin. Metformin mengurangi kadar glukosa terutama oleh
penurunan produksi glukosa hati dan dengan meningkatkan aksi insulin
pada otot dan lemak. Efek samping dari metformin yang terjadi pada
sampai dengan 20% dari pasien diare, antara lain perut tidak nyaman,
mual, dan anoreksia (Goodman and Gilman, 2006).
3. Glukosidase inhibitor
Mekanisme kerja utamanya yaitu untuk menurunkan hiperglikemia
postprandial dengan memperlambat laju karbohidrat yang diabsorpsi dari
saluran pencernaan (Craig and Robert, 1997). Glukosidase inhibitor
menyebabkan malabsorpsi terkait dosis, perut kembung, dan diare
(Goodman and Gilman, 2006).
4. Thiazolidindion
Efek farmakologisnya berupa penurunan kadar glukosa dan insulin dengan
jalan meningkatkan kepekaan bagi insulin dari otot, lemak, dan hati (Tjay
dan Rahardja, 2003). Thiazolidindion meningkatkan transportasi glukosa

Universitas Sumatera Utara

ke dalam otot dan jaringan adiposa dengan meningkatkan sintesis dan
translokasi

bentuk

-

bentuk

khusus

dari

transporter

glukosa.

Thiazolidindion telah dilaporkan dapat menyebabkan anemia, peningkatan
berat badan, edema, dan ekspansi volume plasma (Goodman and Gilman,
2006).
5. Miglitinida
Mekanismenya khusus yaitu dengan mencetuskan pelepasan insulin dari
pankreas segera sesudah makan (Tjay dan Rahardja, 2003). Obat yang
tergolong ke dalam miglitinida antara lain repaglinida dan nateglinida
(Craig and Robert, 1997).
2.5.3 Diagnosis
Pemeriksaan untuk DM tipe 2 harus dilakukan setiap 3 tahun pada setiap
orang dewasa dimulai pada usia 45 tahun. Pemeriksaan harus dipertimbangkan
pada usia yang lebih dini dan pada individu dengan faktor risiko seperti: riwayat
keluarga DM, obesitas, dan adanya tanda-tanda resistensi insulin (Wells, et al,
2009).
Pemeriksaan yang dianjurkan adalah:
a. glukosa plasma puasa (FPG = fasting plasma glucose). FPG normal adalah
kurang dari 100 mg/dl (5,6 mmol/L).
b. Glukosa puasa terganggu antara 100 sampai 125 mg/dl (5,6 - 6,9 mmol/L).
c. Toleransi glukosa terganggu didiagnosis ketika 2 jam setelah makan. Uji
toleransi glukosa oral adalah antara 140 dan 199 mg/dL (7,8 untuk
11,0 mmol / L) (Wells, et al, 2009).

Universitas Sumatera Utara

BAB III
METODE PENELITIAN

Metodologi penelitian ini adalah metode eksperimental berdasarkan
rancangan acak lengkap. Penelitian meliputi penyiapan simplisia, karakterisasi
simplisia, isolasi alginat, penyiapan hewan percobaan dan pengujian efek penurun
kadar glukosa darah pada hewan percobaan. Penelitian dilakukan di Laboratorium
Farmakognosi dan Laboratorium Farmakologi, Fakultas Farmasi, Universitas
Sumatera Utara. Data hasil penelitian dianalisis secara Anava (analisis variansi)
dan dilanjutkan dengan uji beda rata-rata Duncan meggunakan program SPSS
(Statistical Product and Service Solution) versi 17.

3.1 Alat dan Bahan
3.1.1 Alat
Alat-alat yang digunakan pada penelitian ini meliputi alat-alat gelas
laboratorium, cawan porselin, desikator, Glucometer dan Glucotest strip (Gluco
Dr), hot plate (Fissons), mikroskop (Olympus), mortir, neraca hewan, lemari
pengering, oral sonde, oven listrik, penangas air, spatula, labu bersumbat, neraca
kasar, neraca listrik (Metler Toledo), seperangkat alat destilasi penetapan kadar
air, spektrofotometri FTIR (Shimadzu), spuilt,

stamfer, syringe, dan alat-alat

lainnya yang dibutuhkan.
3.1.2 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan pada penelitian ini adalah ampas rumput
laut Sargassum ilicifolium (Turner) C.Agardh, semua bahan yang digunakan

Universitas Sumatera Utara

berkualitas pro analisa seperti kalsium klorida (E-Merck),

asam klorida (E-

Merck), toluene (E-Merck), kecuali dinyatakan lain yaitu: air suling, aloksan,
hidrogen peroksida (Brataco), infus NaCl 0,9%, kalsium hipoklorida (Brataco),
kloroform (CV. Rudang Jaya), natrium karboksi metil selulosa, , pakan tikus, dan
tablet metformin (Bernofarm).

3.2 Penyiapan Simplisia
3.2.1 Pengumpulan Bahan Tumbuhan
Pengumpulan

bahan

dilakukan

secara

purposif

yaitu

tanpa

membandingkan dengan tumbuhan dari daerah lain. Bahan penelitian adalah
ampas simplisia rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh. Talus
diperoleh dari Pantai Ponchan, Sibolga. Gambar tumbuhan segar dapat dilihat
pada Lampiran 2, halaman 43.
3.2.2 Identifikasi Bahan Tumbuhan
Identifikasi bahan tumbuhan dilakukan oleh Vindy Carolina di Pusat
Penelitian Oseanografi - LIPI. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa bahan
tumbuhan yang digunakan adalah rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C.
Agardh. Hasil identifikasi dapat dilihat pada lampiran 1, halaman 42.
3.2.3 Pengeringan Bahan Tumbuhan
Bahan yang digunakan pada penelitian adalah serbuk ampas simplisia
rumput laut Sargassum ilicifolium (Turner) C. Agardh. Bahan dikeringkan di
lemari pengering. Gambar serbuk ampas simplisia rumput laut dapat dilihat pada
Lampiran 2, halaman 45.

Universitas Sumatera Utara

3.3 Pemeriksaan Karakterisasi Simplisia
Pemeriksaan karakterisasi simplisia meliputi pemeriksaan makroskopik
dan mikroskopik, penetapan kadar air, penetapan kadar abu total, penetapan kadar
abu yang tidak larut dalam asam, penetapan kadar sari yang larut dalam etanol dan
penetapan kadar sari yang larut dalam air (Ditjen POM, 1995; WHO, 1992).
3.3.1 Pemeriksaan Makroskopik
Pemeriksaan makroskopik dilakukan pada tumbuhan segar dan simplisia
kering yang meliputi pemeriksaan bentuk, bau, rasa dan warna. Gambar simplisia
dapat dilihat pada Lampiran 2, halaman 44.
3.3.2 Pemeriksaan Mikroskopik
Pemeriksaan mikroskopik terhadap ampas simplisia dilakukan dengan cara
meneteskan kloralhidrat diatas kaca objek, kemudian di atasnya diletakkan serbuk
ampas simplisia, lalu ditutup dengan kaca penutup dan dilihat di bawah
mikroskop. Hasil pemeriksaan mikroskopik dapat dilihat pada Lampiran 2,
halaman 46.
3.3.3 Penetapan Kadar Air Simplisia
Penetapan kadar air dilakukan dengan metode Azeotropi (destilasi toluen).
Alat terdiri dari labu alas 500 ml, alat penampung, pendingin, tabung penyambung
dan tabung penerima.
Cara penetapan:
Labu bulat dimasukkan 200 ml toluena dan 2 ml air suling, didestilasi
selama 2 jam. Setelah itu toluena didinginkan dan volume air pada tabung
penerimaan dibaca. Kemudian ke dalam labu dimasukkan 5 g serbuk simplisia
yang telah ditimbang seksama, lalu dipanaskan hati-hati selama 15 menit. Setelah

Universitas Sumatera Utara

toluena mulai mendidih, kecepatan tetesan diatur, kurang lebih 2 tetes tiap detik,
hingga sebagian besar air tersuling. Kemudian kecepatan penyulingan dinaikkan
hingga 4 tetes tiap detik. Setelah 2 jam di