Perlindungan Hukum Terhadap Hak-Hak Penerjemah Dalam Perjanjian Penerbitan Buku

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP HAK-HAK
PENERJEMAH DALAM PERJANJIAN
PENERBITAN BUKU

TESIS

OLEH

MAIMUNAH
097011082/M.Kn

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP HAK-HAK
PENERJEMAH DALAM PERJANJIAN
PENERBITAN BUKU

TESIS

Diajukan Untuk Memperoleh Gelar Magister Kenotariatan Pada
Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara

OlEH
MAIMUNAH
097011082/M.Kn

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

Judul Tesis

Nama Mahasiswa
Nomor Pokok
Program Studi

: PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP HAKHAK PENERJEMAH DALAM PERJANJIAN
PENERBITAN BUKU
: Maimunah
: 097011082
: Kenotariatan

Menyetujui
Komisi Pembimbing

(Prof. Dr. Runtung, SH, MHum)

Pembimbing

(Dr. T. Keizerina Devi A, SH, CN, MHum)

Ketua Program Studi,

(Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN)

Pembimbing

(Dr. Jelly Leviza, SH, MHum)

Dekan,

(Prof. Dr. Runtung, SH, MHum)

Tanggal lulus : 19 Agustus 2011

Universitas Sumatera Utara

Telah diuji pada
Tanggal : 19 Agustus 2011

PANITIA PENGUJI TESIS
Ketua

:

Prof. Dr. Runtung, SH, MHum

Anggota

:

1. Dr. T. Keizerina Devi A, SH, CN, MHum
2. Dr. Jelly Leviza, SH, MHum
3. Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, MS, CN
4. Syafruddin S. Hasibuan, SH, MH

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Karya terjemahan merupakan salah satu karya cipta yang dilindungi oleh
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta (UUHC). Proses
penerjemahan ini melibatkan pemegang hak cipta asli, penerjemah dan penerbit. Dalam
proses penerjemahan itu banyak ditemukan masalah-masalah internak dan eksternal.
Perlindungan hukum bagi seorang penerjemah dan buku terjemahannya juga diatur dalam
Undang-Undang Hak Cipta No. 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta.
Berkaitan dengan hal-hal yang diatas objek permasalahan dalam tesis ini adalah
bagaimana perlindungan hukum terhadap hak-hak penerjemah dalam perjanjian
penerbitan buku, bagaimana tanggung jawab hukum penerjemah dalam menghadapi
tuntutan ganti rugi dari pemegang hak cipta asli, bagaimana penyelesaian sengketa
apabila terjadi wanprestasi oleh penerbit. Masalah-masalah tersebut akakn dijawab
dengan menggunakan metode penelitian yuridis normatif yang bersifat deskriftif analisis,
dengan analisis data secara kualitatif.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa Perlindungan hukum terhadap hak-hak
penerjemah dalam perjanjian penerbitan buku terjemahan yaitu dalam bentuk perjanjian
yang dibuat oleh penerjemah dan penerbit, kesepakatan yang mereka buat dalam
perjanjian itu mengontrol hak, tetapi juga menentukan spesifik tindakan dan kompensasi
apa yang diperlukan untuk menikmati hak itu, Tanggung jawab hukum penerjemah
dalam menghadapi tuntutan ganti rugi dari pemegang hak cipta asli tidak ada, jadi yang
bertanggung jawab atas tuntutan pihak ketiga adalah penerbit karena penerjemah hanya
bertanggung jawab untuk menerjemahkan saja atau menerima royalty saja, sedangkan
penerbit bertanggung jawab untuk mencetak, menerbitkan, dan memasarkan buku
terjemahan, Penyelesaian sengketa apabila terjadi wanprestasi oleh penerbit dilakukan
secara musyawarah mufakat dan jika tidak menghasilkan mufakat, kedua belah pihak
setuju menyelesaikannya melalui pengadilan negeri. Dan berdasarkan UUHC No. 19
Tahun 2001 bisa melalui pengadilan dan diluar pengadilan.
Penelitian ini menyarankan Hendaknya para pihak membuat perjanjian tertulis ke
Notaris sehingga isi perjanjian penerbitan tidak berat sebelah, Undang-Undang Hak Cipta
No.19 Tahun 2002 harus lebih disosialisasikan kepada penerjemah serta kepada para
penerbit sehingga mereka sangat faham akan hak dan kewajibannya, Penerjemah
sebaiknya mendaftarkan karya ciptaannya guna mendapat perlindungan hukum yang
pasti, sehingga jika terjadi sengketa akan lebih mudah melakukan pembuktiannya
meskipun tanpa pendaftaran hak cipta itu juga dilindungi namun sulit dalam hal
pembuktiannya.
Kata Kunci : Perlindungan Hukum, hak-hak penerjemah, perjanjian penerbitan buku

i

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT

Translation product is one of the works protected by Law No.19/2002 on
Copy Right. The process of translation involves the holder of the original copy right,
translator and publisher. In the process of translation, a lot of internal and external
problems are found. Legal protection for a translator and the book he/she translated
is also regulated in Law No.19/2002 on Copy Right.
In relation to the above issue, the research problems of this study were what
kinds of legal protection is applied to protect the rights of translator in the book
publishing agreement, what kind of legal responsibility does the translator have when
dealing with compensation claims by the holder of the original copy right, what kind
of dispute settlement will be applied in case the publisher does not keep what he/she
has agreed in the agreement (wanprestasi). The research questions were answered by
this analytical descriptive study employing normative juridical research method and
qualitative data analysis.
The result of this study showed that legal protection for the rights of
translator in the book (translation product) publishing agreement is in the form of
agreement made by both translator and the publisher, the agreement they made not
only controls the right, but also determines specific action and compensation needed
to benefit from the right. The translator does not have any legal responsibility in
dealing with compensation claim by the holder of original copy right. The one who is
responsible for the claim by the third party is the publisher because the translator is
only responsible for translating the book or receiving the royalty for that, while the
publisher is responsible for printing, publishing, and marketing the translation
products (the books). When the publisher (wanprestasi) does not keep what he/she
has agreed in the agreement, the dispute is settled through deliberation and
consensus, and if this way does not work, both parties agree to take the case to the
court of the first instance. Based on what stated in Law No. 19/2002, this case can be
settled either through or out side of the court.
The parties involved are suggested to make a written agreement before a
notary that the content of the translation product publishing agreement is impartial.
Law No. 19/2002 must be more socialized to the translators and the publishers that
they can understand their rights and responsibilities. The translators should register
their works to get a certain legal protection that in case there is a dispute that it will
be easier to conduct evidentiary. Even though without registration, the translation
product is also protected but the process to prove it is difficult to do.

Keywords: Legal Protection, Translator’s Rights, Book Publishing Agreement

ii

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah SWT yang telah menganugerahkan rahmat, hidayah dan
karunia-Nya,

sehingga

penulis

dapat

menyelesaikan

tesis

ini

dengan

judul

“PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP HAK-HAK PENTERJEMAH DALAM
PERJANJIAN PENERBITAN BUKU”.
Penulis menyadari dalam penulisan tesis ini masih terdapat banyak kekurangan
dan kesalahan, sehingga penulis sangat mengharapkan saran dan kritikan yang bersifat
masukan yang membangun demi melengkapi kesempurnaan dalam penulisan tesis ini.
Pada kesempatan ini, penulis juga ingin menyampaikan ucapan terimakasih yang
sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penulisan dan
penyelesaian tesis ini terutama yang terhormat :
1.

Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc (CTM), Sp.A(K) selaku
Rektor, atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan kepada penulis untuk mengikuti
dan menyelesaikan pendidikan pada Program Studi Magister Kenotariatan Fakultas
Hukum Universitas Sumatera Utara.

2.

Bapak Prof. Dr. Runtung, SH, M.Hum selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas
Sumatera Utara, sekaligus Komisi Pembimbing Utama yang telah memberikan
bimbingan, dukungan serta kritik dari awal penelitian ini, sampai akhirnya penulis
dapat menyelesaikan perkuliahan.

3.

Bapak Prof. Dr. Muhammad Yamin, SH, M.S, CN selaku Ketua Program Studi
Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Sumatera Utara, dan juga selaku Komisi
Penguji yang telah memberikan kritik dan saran dalam tesis ini.

4.

Ibu Dr. T. Keizerina Devi A, SH, CN, M.Hum selaku Sekretaris Program Magister
Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara sekaligus Komisi
Pembimbing yang telah memberikan bimbingan, dukungan serta saran kritik dari
awal penelitian, sampai akhirnya penulis dapat menyelesaikan perkuliahan ini.

iii

Universitas Sumatera Utara

5.

Bapak Dr. Jelly Leviza, SH. M.Hum, selaku Komisi pembimbing yang telah
memberikan dukungan, kritik dan saran sehingga penulis dapat menyelesaikan
penulisan tesis ini.

6.

Bapak Syafruddin Hasibuan, SH, MH selaku Komisi Penguji yang telah banyak
memberikan kontribusi pemikiran dan arahan dalam penyelesaian tesis ini.

7.

Para Guru Besar serta seluruh Dosen Staff Pengajar Program Magister Kenotariatan
Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan ilmu dan
pengetahuannya kepada penulis selama mengikuti proses perkuliahan.

8.

Seluruh Rekan Staff dan Pegawai Sekretariat Program Studi Magister Kenotariatan
Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, atas bantuan dan informasi yang
diberikan kepada penulis dalam proses penyelesaian tesis ini.

9.

Orang tuaku yang ku sayangi dan sangat penulis banggakan Ayahanda H.Abdul
Rahman dan Ibudaku Hj. Fatimah yang selalu mendoakanku dan memberikan
dorongan baik meteril maupun moril dengan harapan penulis bisa bergunan untuk
keluarga, masyarakat, agama dan bangsa. Semoga sang pemilik dunia ini
memberikan kesehatanm ketenangan hati dan surge diakhir nanti. Amin.

10. Saudara-saudaraku semuanya, semoga kita bisa menyenangkan hati ayah dan ibu
kita. Amin.
11. Temen-teman Magister Kenotariatan Local A, B,C dan kelas khusus. Terima kasih
atas semuanya.
Akhirnya penulis mengharapkan agar tesis ini dapat bermanfaat bagi dunia
pendidikan dan pengembangan keilmuan terutama dalam memperkaya khasanah ilmu
pengetahuan hukum dimasa mendatang.
Semoga segala bantuan dan dukungan dari semua pihak yang tidak mengkin
penulis balas, mendapat balasan dari Allah SWT dengan segala rahmat dan hidayah-Nya.
Amin
Medan,
Penulis

Agustus 2011

MAIMUNAH

iv

Universitas Sumatera Utara

RIWAYAT HIDUP

I. Identitas Pribadi
Nama

: Maimunah

Tempat/Tanggal lahir

: Pem-Sei-Baru/ 19 September 1984

Jenis Kelamin

: Perempuan

Agama

: Islam

Alamat

: Jalan Kcipir, Siumbut-umbut Kisaran

II. Keluarga
Nama Ayah

: H. Abdul Rahman

Nama Ibu

: Hj. Fatimah

Nama Abang

: Drs. Hubban Khoir
Dr. H. Abdul Halim, M.A.

Nama Kakak

: Dr. Hj. Ummi Kalsum, S. Ag, MA
Halimatun Syakdiyah, S.Pd, M.Pd
Zakiah Rahman, S.Kep, Ners

III. Pendidikan
1. SD Tanjung Balai Tamat 1997
2. Madrasah Tsanawiyah PMDU Kisaran Tamat Tahun 2000
3. Madrasah Aliyah PGAI Padang Tamat Tahun 2003
4. S-1 Fakultas Hukum Universitas Islam Sumatera Utara (2008)
5. S-2 Program Studi Magister Kenotariatan (MKn) Fakultas Hukum Universitas
Sumatera Utara (2011)

v

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ......................................................................................................

i

ABSTRACT ......................................................................................................

ii

KATA PENGANTAR ......................................................................................

iii

RIWAYAT HIDUP...........................................................................................

v

DAFTAR ISI .....................................................................................................

vi

BAB I

BAB II

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang.........................................................................

1

B.

Rumusan Masalah....................................................................

8

C.

Tujuan Penelitian .....................................................................

9

D. Manfaat Penelitian ...................................................................

9

E.

Keaslian Penelitian ..................................................................

10

F.

Kerangka Teori dan Konsepsi..................................................

11

1. Kerangka Teori ....................................................................

11

2. Konsepsi...............................................................................

21

G. Metodologi Penelitian..............................................................

22

1 Spesifikasi Penelitian ...........................................................

22

2. Metode Pendekatan..............................................................

22

3. Sumber Data ........................................................................

23

4. Teknik Pengumpulan Data...................................................

24

5. Analisis Data........................................................................

24

PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PENERJEMAH
DALAM
PERJANJIAN
PENERBITAN
BUKU
TERJEMAHAN
A. Proses Penerbitan Buku Terjemahan .......................................
26
1. Penerbit Meminta Izin kepada Pemegang Hak Cipta
Asli untuk Menerjemahkan Buku Terjemahan...................

26

2. Penerbit Membuat Perjanjian dengan Penerjemah untuk
Menerjemahkan Buku Terjemahan ....................................

27

vi

Universitas Sumatera Utara

BAB III

B. Hubungan Hukum antara Penerbit dan Penerjemah dalam
Penerbitan Buku Terjemahan ..................................................

31

C. Hak dan Tanggung Jawab Penerjemah dalam Pelaksanaan
Penerbitan Buku Terjemahan ..................................................

38

1. Hak Penerjemah dalam Pelaksanaan Penerbitan Buku
Terjemahan .........................................................................

38

2. Tanggung Jawab Penerjemah dalam Pelaksanaan
Penerbitan Buku Terjemahan .............................................

46

TANGGUNG JAWAB HUKUM PENERJEMAH DALAM
MENGHADAPI TUNTUTAN GANTI RUGI DARI PIHAK
KETIGA
A. Tuntutan Ganti Rugi dari Pihak Ketiga ...................................

54

1. Pengertian Ganti Rugi ........................................................

54

2. Tuntutan Ganti Rugi dari Pemegang Hak Cipta Asli .........

56

Tanggung Jawan Hukum Penerjemah dalam Menghadapi
Tuntutan Ganti Rugi dari Pihak Ketiga dalam Penerbitan
Buku Terjemahan.....................................................................

57

B.

BAB IV

PENYELESAIAN
SENGKETA
APABILA
WANPRESTASI OLEH PENERBIT

A. Wanprestasi..............................................................................

59

1. Terminasi suatu Kontak......................................................

64

2. Repudiasi Kontrak ..............................................................

79

3. Resisi terhadap Kontrak......................................................

84

4. Reformasi Kontrak .............................................................

86

Wanprestasi oleh Penerbit dalam Penerbitan Buku
Terjemahan. .............................................................................

87

Penyelesaian Sengketa atas Wanprestasi Penerbit dalam
Penerbitan Buku Terjemahan...................................................

88

B.
C.
BAB V

TERJADI

KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan .............................................................................

115

B.

Saran .......................................................................................

116

DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................

117

vii

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Karya terjemahan merupakan salah satu karya cipta yang dilindungi oleh
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta (UUHC). Proses
penerjemahan ini melibatkan pemegang hak cipta asli, penerjemah dan penerbit. Dalam
proses penerjemahan itu banyak ditemukan masalah-masalah internak dan eksternal.
Perlindungan hukum bagi seorang penerjemah dan buku terjemahannya juga diatur dalam
Undang-Undang Hak Cipta No. 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta.
Berkaitan dengan hal-hal yang diatas objek permasalahan dalam tesis ini adalah
bagaimana perlindungan hukum terhadap hak-hak penerjemah dalam perjanjian
penerbitan buku, bagaimana tanggung jawab hukum penerjemah dalam menghadapi
tuntutan ganti rugi dari pemegang hak cipta asli, bagaimana penyelesaian sengketa
apabila terjadi wanprestasi oleh penerbit. Masalah-masalah tersebut akakn dijawab
dengan menggunakan metode penelitian yuridis normatif yang bersifat deskriftif analisis,
dengan analisis data secara kualitatif.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa Perlindungan hukum terhadap hak-hak
penerjemah dalam perjanjian penerbitan buku terjemahan yaitu dalam bentuk perjanjian
yang dibuat oleh penerjemah dan penerbit, kesepakatan yang mereka buat dalam
perjanjian itu mengontrol hak, tetapi juga menentukan spesifik tindakan dan kompensasi
apa yang diperlukan untuk menikmati hak itu, Tanggung jawab hukum penerjemah
dalam menghadapi tuntutan ganti rugi dari pemegang hak cipta asli tidak ada, jadi yang
bertanggung jawab atas tuntutan pihak ketiga adalah penerbit karena penerjemah hanya
bertanggung jawab untuk menerjemahkan saja atau menerima royalty saja, sedangkan
penerbit bertanggung jawab untuk mencetak, menerbitkan, dan memasarkan buku
terjemahan, Penyelesaian sengketa apabila terjadi wanprestasi oleh penerbit dilakukan
secara musyawarah mufakat dan jika tidak menghasilkan mufakat, kedua belah pihak
setuju menyelesaikannya melalui pengadilan negeri. Dan berdasarkan UUHC No. 19
Tahun 2001 bisa melalui pengadilan dan diluar pengadilan.
Penelitian ini menyarankan Hendaknya para pihak membuat perjanjian tertulis ke
Notaris sehingga isi perjanjian penerbitan tidak berat sebelah, Undang-Undang Hak Cipta
No.19 Tahun 2002 harus lebih disosialisasikan kepada penerjemah serta kepada para
penerbit sehingga mereka sangat faham akan hak dan kewajibannya, Penerjemah
sebaiknya mendaftarkan karya ciptaannya guna mendapat perlindungan hukum yang
pasti, sehingga jika terjadi sengketa akan lebih mudah melakukan pembuktiannya
meskipun tanpa pendaftaran hak cipta itu juga dilindungi namun sulit dalam hal
pembuktiannya.
Kata Kunci : Perlindungan Hukum, hak-hak penerjemah, perjanjian penerbitan buku

i

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT

Translation product is one of the works protected by Law No.19/2002 on
Copy Right. The process of translation involves the holder of the original copy right,
translator and publisher. In the process of translation, a lot of internal and external
problems are found. Legal protection for a translator and the book he/she translated
is also regulated in Law No.19/2002 on Copy Right.
In relation to the above issue, the research problems of this study were what
kinds of legal protection is applied to protect the rights of translator in the book
publishing agreement, what kind of legal responsibility does the translator have when
dealing with compensation claims by the holder of the original copy right, what kind
of dispute settlement will be applied in case the publisher does not keep what he/she
has agreed in the agreement (wanprestasi). The research questions were answered by
this analytical descriptive study employing normative juridical research method and
qualitative data analysis.
The result of this study showed that legal protection for the rights of
translator in the book (translation product) publishing agreement is in the form of
agreement made by both translator and the publisher, the agreement they made not
only controls the right, but also determines specific action and compensation needed
to benefit from the right. The translator does not have any legal responsibility in
dealing with compensation claim by the holder of original copy right. The one who is
responsible for the claim by the third party is the publisher because the translator is
only responsible for translating the book or receiving the royalty for that, while the
publisher is responsible for printing, publishing, and marketing the translation
products (the books). When the publisher (wanprestasi) does not keep what he/she
has agreed in the agreement, the dispute is settled through deliberation and
consensus, and if this way does not work, both parties agree to take the case to the
court of the first instance. Based on what stated in Law No. 19/2002, this case can be
settled either through or out side of the court.
The parties involved are suggested to make a written agreement before a
notary that the content of the translation product publishing agreement is impartial.
Law No. 19/2002 must be more socialized to the translators and the publishers that
they can understand their rights and responsibilities. The translators should register
their works to get a certain legal protection that in case there is a dispute that it will
be easier to conduct evidentiary. Even though without registration, the translation
product is also protected but the process to prove it is difficult to do.

Keywords: Legal Protection, Translator’s Rights, Book Publishing Agreement

ii

Universitas Sumatera Utara

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Ruang lingkup Hak Kekayaan Intelektual salah satunya adalah Hak Cipta, hak
cipta adalah hak eksklusif para pencipta atau penerima hak untuk mengumumkan atau
memperbanyak ciptaannya atau memberikan izin untuk itu dengan tidak mengurangi
batasan-batasan menurut peraturan perundang-undangan. Ciptaan adalah hasil karya
setiap pencipta yang menunjukkan keaslian dalam lapangan ilmu pengetahuan, seni,
dan sastra. Ciptaan yang dilindungi harus memenuhi syarat keaslian dan konkret. 1
Dihubungkan dengan ketentuan Pasal 12 ayat (1) Undang-Undang Hak Cipta
No. 19 Tahun 2002 dengan Pasal 1 angka 3 UUHC No. 19 Tahun 2002 yang
menetapkan ciptaan-ciptaan yang dilindungi adalah ciptaan dalam bidang ilmu
pengejtahuan, seni dan sastra. Adapun ketentuan tersebut berbunyi sebagai berikut :
Dalam Undang-Undang ini ciptaan yang dilindungi adalah ciptaan dalam
bidang ilmu pengetahuan, seni dan sastra, yang mencakup :
1. Buku, program computer, pamflet, perwajahan (lay out) karya tulis yang
diterbitkan dan semua hasil karya tulis lain;
2. Ceramah, kuliah, pidato dan ciptaan lain yang sejenis dengan itu;
3. Alat peraga yang dibuat untuk kepentingan pendidikan dan ilmu pengetahuan;
4. Lagu atau music dengan atau tanpa teks;
5. Drama atau drama musikal, tari, koreografi, pewayangan dan pantomime;
6. Seni rupa dalam segala bentuk seperti seni lukis, gambar, seni ukir, seni
kaligrafi, seni pahat, seni patung, kolase dan seni terapan;
1

Sudartat, Sudarjana, dkk, Hak Kekayaan Intelektual, Oase Media, Bandung, 2010, hal 19.

1

Universitas Sumatera Utara

2

7. Arsitektur;
8. Peta;
9. Seni batik;
10. Fotografi
11. Sinematografi
12. Terjemahan, tafsir. Saduran, bunga rampai, database dan karya lain dari hasil
pengalihwujudan.2
Hak cipta termasuk kedalam benda immateriil, yang dimaksud dengan hak
milik immateriil adalah hak milik yang objek haknya adalah benda tidak berwujud
(benda tidak bertubuh). Jika dilihat dalam Pasal 11 Undang-undang Hak Cipta Tahun
2002 mengenai hal-hal yang dapat dilindungi hak cipta adalah haknya, bukan benda
yang merupakan perwujudan dari benda tersebut. Jadi bukan buku, bukan patung,
bukan pula lukisan, tetapi hak untuk menerbitkan atau memperbanyak atau
mengumumkan buku, patung, atau lukisan tersebut. Dengan demikian semakin jelas
bahwa benda yang dilindungi dalam hak cipta ini adalah benda immateriil, yaitu
dalam bentuk hak moral (moral right).
Menurut Hendra Tanu Atmadja, ada tiga bentuk kumpulan dari hak moral:
1. Adaption Right/Integrity, hak pencipta untuk melarang orang lain melakukan
2. perubahan atas karya ciptaanya.
3. Translation (hak menerjemahkan)
4. Unditication (hak mengubah isi ciptaan).3

2

Yusran isnaini, , Buku Pintar HAKI, Ghalia Indonesia, Bogor, 2010, hal 2.
Hendra Tanu Atmadja, “Royalti Hak Cipta Atas Lagu Dan Permasalahannya”, Jurnal
Mimbar Ilmiah Hukum, Vol. VI, Januari-Juni 2003, hal. 6
3

Universitas Sumatera Utara

3

Selain hak moral (moral right), hak cipta yang merupakan bagian dari Hak
Kekayaan Intelektual (HAKI) juga memiliki hak lain yaitu hak ekonomi (economy
right).
Salah satu aspek khusus pada Hak Kekayaan Intelektual adalah hak ekonomi
(economy right). Hak ekonomi adalah hak untuk memperoleh keuntungan
ekonomi atas Hak Kekayaan Intelektual. Dikatakan hak ekonomi karena hak
kekayaan intelektual adalah benda yang dapat dinilai dengan uang. Hak
ekonomi tersebut berupa keuntungan sejumlah uang yang diperoleh karena
penggunaan oleh pihak lain berdasarkan lisensi. Hak ekonomi itu
diperhitungkan karena Hak Kekayaan Intelektual dapat digunakan atau
dimanfaatkan oleh pihak lain dalam perindustrian atau perdagangan yang
mendatangkan keuntungan.4
Jenis hak ekonomi pada setiap klasifikasi HAKI dapat berbeda-beda. Pada hak
cipta, jenis ekonominya lebih banyak dibandingkan dengan paten dan merek. Jenis
ekonomi pada hak cipta adalah sebagai berikut :
1. Hak perbanyakan (penggandaan), yaitu penambahan jumlah ciptaan
dengan pembuatan yang sama, hampir sama, atau menyerupai ciptaan
tersebut dengan menggunakan bahan-bahan yang sama maupun tidak
sama, termasuk mengalihwujudkan ciptaan
2. Hak adaptasi (penyesuaian), yaitu penyesuaian dari suatu bentuk kebentuk
yang lain, seperti penterjemahan dari satu bahasa kebahasa yang lain,
novel dijadikan sinetron, patung dijadikan lukisan, drama pertunjukan
dijadikan drama radio.
3. Hak pengumuman (penyiaran), yaitu pembacaan, penyuaraan, penyiaran,
atau penyebaran ciptaan dengan menggunakan alat apapun, dan dengan
cara sedemikian rupa, sehingga ciptaan dapat dibaca, didengar, dilihat,
dijual, atau disewa orang lain.
4. Hak
pertunjukan
(penampilan),
yaitu
mempertontonkan,
mempertunjukkan, mempergelarkan, memamerkan ciptaan dibidang seni
oleh musisi, dramawan, seniman, dan peragawati.5

4

Abdul Kadir Muhammad, Hukum Harta Kekayaan, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 2001,

5

Ibid., hal. 24

hal. 19

Universitas Sumatera Utara

4

Ciri-ciri dari pada hak cipta dapat diketemukan pada ketentuan Pasal 3 ayat
(1) dan (2) yang berbunyi :
1. Hak cipta dianggap sebagai benda bergerak
2. Hak cipta dapat beralih atau dialihkan, baik seluruh maupun sebagian,
karena :
a. Pewarisan
b. Hibah
c. Wasiat.
d. Perjanjian tertulis
e. Sebab-sebab lain yang dibenarkan oleh peraturan perundang-undangan.
Karya terjemahan merupakan salah satu karya cipta yang dilindungi oleh
Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta (Undang-Undang Hak
Cipta). Proses penerjemahan itu melibatkan Pemegang Hak Cipta asli, penerjemah
dan penerbit. Dalam proses penerjemahan itu banyak ditemukan masalah-masalah
internal dan eksternal. Perlindungan hukum bagi seorang penerjemah dan karya
terjemahan juga diatur secara jelas didalam Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002
tentang hak cipta. Selain dari Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2002 tentang hak
cipta itu sendiri yang menjamin perlindungan hak cipta juga perlu adanya peran dari
masyarakat dan penegak hukum demi menegakkan hukum.
Permasalahan internal yang sering terjadi antara penerjemah dan penerbit
yaitu lewatnya limit waktu penerjemahan yang dilakukan oleh penerjemah,
penerjemah tidak mau memperbaiki hasil buku terjemahan yang dipertanyakan oleh
penerbit saat proses pengeditan, penerjemah secara serampangan menerjemhkan buku
berbahasa asing,dll sehingga merugikan penerbit. Dipihak penerbit juga sering
melanggar isi perjanjian seperti pemberian royalty yang tidak sesuai dengan waktu

Universitas Sumatera Utara

5

yang diperjanjikan, besarnya royalty yang telah diperjanjikan, sampai tidak dibuatnya
nama penerjemah dalam hasil buku terjemahan yang diterbitkan oleh penerbit.
Permasalahan eksternal yang sering terjadi yaitu penerjemahan tidak meminta
izin terlebih dahulu dari Pemegang Hak Cipta asli, tidak dituliskannya nama
Pemegang Hak Cipta asli dalam buku terjemahan yang diterbitkan oleh penerbit, dll.
Penerbit yang menerbitkan buku-buku merupakan penyalur primer yang
menyebarkan bahan-bahan tertulis diperbagai bidang kepada masyarakat pemakai.
Mereka mendapat bahan-bahan pustaka yang diterbitkan penerbit dengan cara
membeli

dan

bertanggung

berlangganan.
jawab

penyebarluasannya

atas
kepada

Didalam

pengadaan,

memberikan

pelayanannya,

pengorganisasian

penyalur-penyalur

sekunder,

penerbit

pengawasan
yaitu

serta

perpustakaan-

perpustakaan, toko-toko buku, dan para distributor buku.
Dalam menjalankan fungsinya itu, hendaknya penerbit buku bersikap
transparan terhadap semua pihak dan terbuka atas perkembangan baru dalam dunia
penerbitan yang membawa horizon baru dalam menyongsong millennium baru.6
Ditetapkanlah terjemahan sebagai hak menerbitkan, banyak orang yang keliru,
menganggap bahwa hak terjemahan milik penerbit. Hak menerbitkan adalah hak
mencetak atau dengan cara lain memperbanyak teks orisinal dengan mesin atau
proses kimia. Hak menerbitkan tidak termasuk hak terjemahan ciptaan ke dalam
bahasa yang lain. Jika penerbit ingin menerbitkan suatu ciptaan dalam bahasa yang

6

Eddy damian, Hukum Hak Cipta, penerbit alumni, Bandung, hal 177.

Universitas Sumatera Utara

6

lain, penerbit harus membuat kontrak yang mencakup hak terjemahan. Dalam hal ini,
kontrak sebaiknya tidak saja mengontrol hak, tetapi juga menentukan secara spesifik
tindakan dan kompensasi apa yang diperlukan untuk menikmati hak itu.7
Lisensi adalah izin yang diberikan oleh Pemegang Hak Cipta atau Pemegang
Hak Terkait kepada pihak lain untuk mengumumkan dan/atau memperbanyak
Ciptaannya atau produk Hak Terkaitnya dengan persyaratan tertentu (lihat pasal 1
angka 14 UUHC). Lisensi diberikan berdasarkan surat perjanjian lisensi (lihat pasal
45 ayat (1) UUHC).
Pada dasarnya, pemberian lisensi disertai dengan kewajiban pemberian royalti
kepada Pemegang Hak Cipta oleh penerima lisensi (lihat pasal 45 ayat (3) UUHC).
Jumlah royalti yang wajib dibayarkan kepada Pemegang Hak Cipta oleh penerima
lisensi adalah berdasarkan kesepakatan kedua belah pihak dengan berpedoman
kepada kesepakatan organisasi profesi (lihat pasal 45 ayat (4) UUHC). Agar dapat
mempunyai akibat hukum terhadap pihak ketiga, perjanjian Lisensi wajib dicatatkan
di Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual Kementerian Hukum dan HAM
(lihat pasal 47 ayat (2) UUHC).
Dengan mengantongi lisensi dari pemegang hak cipta buku asing, maka
penerbit dapat, antara lain, menerjemahkan, memperbanyak, dan menjual hasil
terjemahan buku asing tersebut. Pemegang lisensi juga berhak melarang perbanyakan

7

Tamotsu Hozumi, Asian Copyright Handbook, Indonesian version, Ikatan Penerbit
Indonesia, Jakarta, 2006, hal. 49.

Universitas Sumatera Utara

7

buku terjemahan tersebut oleh pihak lain tanpa seizinnya (lihat Pasal 45 jo Pasal 2
UUHC serta penjelasannya).
Berdasarkan perjanjian lisensi itu, penerbit juga dapat memerintahkan pihak
lain dalam hubungan dinas ataupun hubungan kerja atau berdasarkan pesanan untuk
melaksanakan penerjemahan buku tersebut (lihat Pasal 8 UUHC).
Banyak karya terjemahan yang terbit di Indonesia yang dihasilkan secara,
tanpa sepengetahuan dan yang pasti tanpa seijin pemegang hak cipta karya aslinya.
Seperti ini biasanya agak kurang jelas asal-usul penerbitnya, dan penerjemahannya
pun kerapkali berantakan. Bukan hal yang aneh memang kalau pemegang hak cipta
lazimnya akan menetapkan standar mutu penerjemahan yang baik terhadap siapapun
yang ingin meminta hak penerjemahan. Tentunya mereka tidak ingin reputasi
karyanya menjadi rusak karena diterjemahkan secara serampangan. Bagi mereka
resikonya sudah jelas, yaitu menghadapi tuntutan pelanggaran Hak Cipta.
Kalau ingin menerjemahkan tapi tidak mau ribet dengan pengurusan hak
penerjemahan dari pemegang hak cipta, maka caranya adalah dengan menerjemahkan
karya-karya yang perlindungan Hak Ciptanya sudah habis, sudah berakhir, dan
berada di public domain. Berdasarkan Pasal 29 ayat 1 UU No.19 tahun 2002 tentang
Hak Cipta, masa perlindungan Hak Cipta, khususnya untuk karya-karya tulisan,
berakhir limapuluh tahun sejak meninggalnya si pencipta.
Penerjemah adalah seseorang atau lebih, yang dalam usahanya melakukan
proses mengartikan suatu bahasa ke bahasa lain. Buku adalah sarana yang digunakan

Universitas Sumatera Utara

8

untuk mencerdaskan bangsa dan merupakan salah satu jenis ciptaan asli yang
dilindungi. Dalam Pasal 12 Ayat l UUHC disebutkan bahwa terjemahan termasuk
dalam ciptaan yang dilindungi. Diakuinya penerjemah dan karyanya juga diperkuat
dengan adanya Pasal 29 Ayat (1) dan (2) tentang masa berlaku hak cipta, yang
mengatakan bahwa masa berlaku karya terjemahan sama seperti masa berlaku ciptaan
yang dilindungi lainnya, khususnya buku asli.
Kedudukan penerjemah ditempatkan sederajat dengan pengarang asli. Begitu
juga dengan hak-hak penerjemah sama dengan hak-hak pengarang asli. Penerjemah
berhak atas hak ekonomi dan hak moral yang dimiliki oleh pengarang asli. Tetapi
pada kenyataannya banyak terjadi kendala-kendala yang terjadi dalam upaya
melindungi hak cipta penerjemah Tidak dibayarnya royalty yang telah disepati oleh
penerbit dalam hal ini penerjemah tidak dapat menikmati hak ekonomi yaitu
mendapatkan royalti atas apa yang sudah diterjemahkan. Penerjemahan yang secara
serampangan yang dilakukan oleh penerjemah juga akan membawa sanksi hukum
bagi penerjemah karena telah melanggar hak moral dari Pemegang Hak Cipta asli.
Perlindungan hukum untuk penerjemah dalam UUHC yaitu dari segi hukum
pidana dan perdata. Tetapi belum terdapatnya peraturan pelaksana yang mengatur
secara rinci tentang karya terjemahan ini.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana perlindungan hukum terhadap hak-hak penerjemah dalam
perjanjian penerbitan buku terjemahan?

Universitas Sumatera Utara

9

2. Bagaimana tanggung jawab hukum penerjemah dalam menghadapi tuntutann
ganti rugi dari pemegang hak cipta asli?
3. Bagaimana penyelesaian sengketa apabila terjadi wanprestasi oleh penerbit?

C. Tujuan Penelitian
1. Untuk mengetahui perlindungan hukum terhadap hak-hak penerjemah dalam
perjanjian penerbitan buku terjemahan.
2. Untuk mengetahui tanggung jawab hukum penerjemah dalam menghadapi
tuntutan ganti rugi dari pemegang hak cipta asli.
3. Untuk mengetahui penyelesaian sengketa apabila terjadi wanprestasi oleh
penerbit.

D. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan manfaat secara teoritis maupun
praktis yaitu :
1. Secara teoritis, merupakan bahan masukan dan pengkajian lebih lanjut terhadap
teoritis-teoritis yang ingin memperdalam, mengembangkan atau menambah
pengetahuannya dalam hal hak cipta.
2. Secara praktis, penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada
masyarakat maupun praktisi hukum serta lembaga yudikatif mengenai UndangUndang Hak Cipta No. 19 Tahun 2002, untuk melindung hasil karya para
penerjemah yang diterbitkan dalam bentuk buku.

Universitas Sumatera Utara

10

E. Keaslian Penelitian
Pengajuan judul yang disebutkan diatas telah melalui tahap penelusuran pada
data pustaka di lingkungan Universitas Sumatera Utara dan perolehan informasi
belum adanya pengangkatan judul yang diajukan oleh penulis dengan persetujuan
Sekretaris Program Magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Sumatera
Utara. Adapun penelusuran kepustakaan yang dilakukan oleh penulis di lingkungan
kepustakaan Universitas Sumatera Utara, terdapat beberapa penelitian yang mengkaji
tentang pemegang hak cipta/pengarang diantaranya adalah penelitian yang dilakukan
oleh saudari Nurleli Aman, NIM 017011070, dengan judul “Perlindungan Hukum
Terhadap Pemegang Hak Cipta Dan Penerbit”
Dengan permasalahan :
1. Bagaimana bentuk-bentuk perjanjian penerbitan buku antara pemegang hak cipta
dengan penerbit?
2. Bagaimana tanggung jawab pemegang hak cipta dan penerbit atas buku yang
diterbitkan terhadap tuntutan pihak ketiga?
3. Bagaimana mekanisme penyelesaian sengketa yang terjadi dalam pelaksanaan
perjanjian penerbitan buku?
Namun jika dihadapkan penelitian yang telah dilakukan tersebut maka
berbeda materi dan pembahasan yang dilakukan. Oleh karena itu, penelitian ini
adalah asli dan dapat dipertanggung jawabkan.
`

Universitas Sumatera Utara

11

F. Kerangka Teori dan Konsepsi
1. Kerangka teori
Perkembangan ilmu pengetahuan tidak lepas dari teori hukum sebagai
landasannya dan tugas teori hukum adalah untuk : “menjelaskan nilai-nilai hukum
dan postulat-postulatnya hingga dasar-dasar filsafatnya yang paling dalam, sehingga
penelitian ini tidak terlepas dari teori-teori ahli hukum yang di bahas dalam bahasa
dan sistem pemikiran para ahli hukum sendiri.8
Kerangka teori merupakan landasan dari teori atau dukungan teori dalam
membangun atau memperkuat kebenaran dari permasalahan yang dianalisis.
Kerangka teori dimaksud adalah kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori
tesis, sebagai pegangan baik disetujui atau tidak disetujui.9
Teori berguna untuk menerangkan atau menjelaskan mengapa gejala spesifik
atau proses tertentu terjadi dan satu teori harus diuji dengan menghadapkannya pada
fakta-fakta yang menunjukkan ketidakbenarannya. Menurut Soerjono Soekamto,
bahwa “kontinuitas perkembangan ilmu hukum, selain bergantung pada metodologi,
aktivitas penelitian dan imajinasi sosial sangat ditentukan oleh teori”.10
Snelbecker mendefenisikan teori sebagai perangkat proposisi yang terintegrasi
sacara sintaksis (yaitu yang mengikuti aturan tertentu yang dapat dihubungkan secara

8

W.Friedmann, Teori dan Filsafat Umum, Raja Grafindo, Jakarta, 1996, hal.2
M. Solly Lubis, Filsafat Ilmu dan Penelitian, Mandar Maju, Bandung, 1994, hal.80
10
Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, UI-Press, Jakarta 1986, hal.6

9

Universitas Sumatera Utara

12

logis satu dengan lainnya dengan tata dasar yang dapat diamati) dan berfungsi
sebagai wahana untuk meramalkan dan menjelaskan fenomena yang diamati.11
Adapun teori menurut Maria S.W. Sumardjono adalah :
Seperangkat preposisi yang berisi konsep abstrak atau konsep yang sudah
didefenisikan dan saling berhubungan antar variable sehingga menghasilkan
pandangan sistematis dari fenomena yang digambarkan oleh suatu variable
lainnya dan menjelaskan bagaimana hubungan antar variable tersebut.12
Kontinuitas perkembangan ilmu hukum, selain bergantung pada metodologi,
aktifitas penelitian dan imajinasi sosial sangat ditentukan oleh teori.13 Karena
penelitian ini merupakan penelitian yuridis normatif, diperlukan kerangka teoritis lain
yang khas ilmu hukum yakni teori Hans Kelsen yang dapat dijadikan kerangka acuan
pada penelitian hukum normatif. Teori Kelsen merupakan ”normwissenschaft”, dan
hanya mau melihat hukum sebagai kaedah yang dijadikan objek ilmu hukum.
Menurut kelsen, maka setiap tata kaedah hukum merupakan suatu susunan daripada
kaedah-kaedah (stufenbau). Dipuncak stufenbau tersebut terdapat ”grundnorm” atau
kaedah dasar atau kaedah fundamentil, yang merupakan hasil pemikiran secara
yuridis.14

11

Snelbecker dalam Lexy J.Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Remaja Rosdakarya,
Bandung, 1993, hal. 34-35.
12
Maria S. W. Sumarjono, Pedoman Pembuatan Usulan Penelitian, Gramedia, Yogyakarta,
1989, hal 12.
13
Soerjono Soekanto, Op.Cit, Hal. 6
14
Ibid, Hal. 127

Universitas Sumatera Utara

13

Adapun teori yang digunakan dalam melakukan penelitian ini menggunakan
Teori Tanggung Jawab Hukum. Menurut Hans Kelsen dalam teorinya tentang
tanggung jawab hukum menyatakan bahwa: ”seseorang bertanggung jawab secara
hukum atas suatu perbuatan tertentu atau bahwa dia memikul tanggung jawab hukum,
subyek berarti bahwa dia bertanggung jawab atas suatu sanksi dalam hal perbuatan
yang bertentangan.”15 Lebih lanjut Hans Kelsen menyatakan bahwa:16
”Kegagalan untuk melakukan kehati-hatian yang diharuskan oleh hukum
disebut kekhilafan (negligence); dan kekhilafan biasanya dipandang sebagai satu jenis
lain dari kesalahan (culpa), walaupun tidak sekeras kesalahan yang terpenuhi karena
mengantisipasi dan menghendaki, dengan atau tanpa maksud jahat, akibat yang
membahayakan."
Hans Kelsen selanjutnya membagi mengenai tanggung jawab terdiri dari:17
a. Pertanggungjawaban individu yaitu seorang individu bertangung jawab
terhadap pelanggaran yang dilakukannya sendiri;
b. Pertanggungjawaban

kolektif

berarti

bahwa

seorang

individu

bertanggungjawab atas suatu pelanggaran yang dilakukan oleh orang lain;

15

Hans Kelsen sebagaimana diterjemahkan oleh Somardi, General Theory Of Law and State,
Teori Umum Hukum dan Negara, Dasar-Dasar Ilmu Hukum Normatif Sebagai Ilmu Hukum Deskriptif
Empirik, BEE Media Indonesia, Jakarta, 2007, Hal. 81
16
Ibid., Hal. 83
17
Hans Kelsen sebagaimana diterjemahkan oleh Raisul Mutaqien, Teori Hukum Murni,
Nuansa & Nusamedia, Bandung, 2006, Hal. 140

Universitas Sumatera Utara

14

c. Pertanggungjawaban berdasarkan kesalahan yang berarti bahwa seorang
individu bertanggung jawab atas pelanggaran yang dilakukannya karena
sengaja dan diperkirakan dengan tujuan menimbulkan kerugian;
d. Pertanggung jawaban mutlak yang berarti bahawa seorang individu
bertanggung jawab atas pelanggaran yang dilakukannya karena tidak sengaja
dan tidak diperkirakan.
Tanggung jawab secara etimologi adalah kewajiban terhadap segala
sesuatunya atau fungsi menerima pembebanan sebagai akibat tindakan sendiri atau
pihak lain. Sedangkan pengertian tanggung jawab menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia adalah suatu keadaan wajib menanggung segala sesuatunya (jika terjadi
sesuatu dapat dituntut, dipersalahkan, diperkarakan dan sebagainya). 18
Menurut kamus hukum ada 2 (dua) istilah pertanggungjawaban yaitu liability
(the state of being liable) dan responsibility (the state or fact being responsible).
Liability merupakan istilah hukum yang luas, dimana liability menunjuk pada makna
yang paling komprehensif, meliputi hampir setiap karakter resiko atau tanggung
jawab yang pasti, yang bergantung, atau yang mungkin. Liability didefenisikan untuk
menunjuk semua karakter hak dan kewajiban. Liability juga merupakan kondisi
tunduk kepada kewajiban secara aktual atau potensial, kondisi bertanggung jawab
terhadap hal-hal yang aktual atau mungkin seperti kerugian, ancaman, kejahatan,
biaya atau beban, kondisi yang menciptakan tugas untuk melaksanakan undang-

18

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta,
2002, Hal. 1139

Universitas Sumatera Utara

15

undang dengan segera atau pada masa yang akan datang.19 Sedangkan responsibility
berarti hal dapat dipertanggungjawabkan atau suatu kewajiban, dan termasuk putusan,
keterampilan, kemampuan, dan kecakapan. Responsibility juga berarti kewajiban
bertanggung jawab atas undang-undang yang dilaksanakan, dan memperbaiki atau
sebaliknya memberi ganti rugi atas kerusakan apapun yang telah ditimbulkannya.20
Menurut Roscoe Pound, jenis tanggung jawab ada 3 (tiga) yaitu:21
1. Pertanggungjawaban atas kerugian dengan disengaja
2. Atas kerugian karena kealpaan dan tidak disengaja
3. Dalam perkara tertentu atas kerugian yang dilakukan tidak karena kelalaian
serta tidak disengaja.
Fungsi teori dalam penelitian tesis ini adalah memberikan arah/petunjuk serta
menjelaskan gejala yang diamati, karenanya penelitian ini diarahkan kepada ilmu
hukum positif yang berlaku, yaitu tentang hukum perjanjian dan lahirnya perjanjian
yang ditetapkan dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata, dengan azas hukum
kebebasan berkontrak yang menjadi dasar bagi lahirnya perjanjian antara penerjemah
dan penerbit, yang dengan perjanjian penerbitan tersebut telah timbul hubungan
hukum yaitu adanya hak dan kewajiban yang melahirkan aturan hukum untuk
membuktikan tanggung jawab hukum bagi para pihak.

19

Ridwan HR, Hukum Administrasi Negara, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2007, Hal. 335
Ibid, Hal 335-336
21
Roscoe Pound, Pengantar Filsafat Hukum (An Introduction to the philosophy of Law)
diterjemahkan oleh Mohammad Radjab, Bhratara Niaga Media, Jakarta, 1996, Hal. 92
20

Universitas Sumatera Utara

16

Van kant mengatakan bahwa hukum bertujuan menjaga kepentingan tiap-tiap
manusia supaya kepentingan-kepentingan itu tidak diganggu.22
Perjanjian penerbitan yang telah ditetapkan sepihak oleh penerbit sebagai
bentuk dari perjanjian baku, yang melahirkan hukum bagi keduanya. Bahwa
keduanya terikat untuk melaksanakan isi dari perjanjian yang disepakati.
Pitlo menggolongkan kontrak baku sebagai perjanjian paksa (dwang contract)
yang walaupun secara teoritis yuridis kontrak baku tidak memenuhi ketentuan
Undang-Undang dan oleh beberapa ahli ditolak, namun kenyataannya kebutuhan
masyarakat berjalan dalam arah yang berlawanan dengan keinginan hukum.23
Stein mencoba memecahkan masalah ini dengan mengemukakan bahwa
kontrak baku dapat diterima sebagai perjanjian, berdasarkan fiksi adanya kemauan
dan kepercayaan (fictie van will en vertrouwen) yang membangkitkan kepercayaan
bahwa para pihak mengikatkan diri pada perjanjian itu, jika debitur menerima
dokumen itu berarti ia secara sukarela setuju pada isi perjanjian tersebut.24
Selain itu Aser Rutten mengatakan bahwa :
Setiap orang yang menanda tangani perjanjian bertanggung jawab pada isi dan
apa yang ditandatangani. Jika ada orang yang membubuhkan tanda tangan
pada formulir perjanjian baku, tanda tangan itu akan membangkitkan
kepercayaan bahwa yan bertanda tangan mengetahui dan menghendaki isi

22

CST Kansil, Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta,
2002, hal. 44-45
23
Ahmadi miru, Hukum Kontrak dan Perancangan Kontrak, Raja Grafindo, Jakarta, 2010,
hal. 44
24
Ibid.

Universitas Sumatera Utara

17

formulir yang ditanda tangani tidak mungkin seorang menanda-tangani apa
yang tidak diketahui isinya.25
Berdasarkan Pasal 1 sampai dengan Pasal 5 dari Perjanjian Penerbitan buku
antara penerjemah dan penerbit terdapat tanggung jaawab penerjemah dan dalam
Pasal 6 terdapat hak dari penerjemah.
Pasal 47 ayat (2) Undang-Undang Hak Cipta No.19 Tahun 2002 menyatakan
bahwa agar dapat mempunyai akibat hukum terhadap pihak ketiga, perjanjian lisensi
wajib dicatatkan di Direktorat Jenderal. Pendaftaran ciptaan dalam Undang-Undang
Hak Cipta diatur dalam Pasal 35 sampai dengan 44.
Dua esensi hak yang terkandung dalam hak cipta :
1.

Hak ekonomi (economic rights), yang meliputi: hak untuk mengumumkan
dan/atau memperbanyak Ciptaannya dan memberi izin untu itu kepada pihak
lain, serta hak untuk memberi izin atau melarang orang lain untuk
menyewakan Ciptaannya dibidang Karya Sinematografi dan Program
Komputer.

2.

Hak moral (moral rights) Pencipta meliputi :
a. Hak pencipta atau hak warisnya untuk menuntut Pemegang Hak Cipta
supaya nama Pencipta tetap dicantumkan dalam Ciptaan;
b. Melarang Pemegang Hak Cipta merubah suatu Ciptaan, pencantuman dan
perubahan nama atau nama samara Pencipta), termasuk hak Pencipta

25

Arie Sukanti Hutagalung dan Markus Gunawan, Kewenangan Pemeerintah di bidang
Pertanahan, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2008, hal. 49.

Universitas Sumatera Utara

18

untuk mengadakan perubahan pada Ciptaannya sesuai dengan kepatutan
dalam masyarakat.
Berdasarkan pengertian Hak Ekonomi dan Hak Moral tersebut, jelas bahwa
hak ekonomi dari Hak Cipta dapat beralih atau dialihkan kepada orang lain oleh
Pencipta, sedangkan hak moral tidak demikian. Hak moral ini tetap mengikuti dan
melekat pada diri Pencipta, walaupun Hak Ekonomi dari Hak Cipta tersebut telah
beralih atau dialihkan kepada orang lain.26
Hak eksklusif adalah hak yang semata-mata diperuntukkan bagi pemegangnya
sehingga tidak ada pihak lain yang boleh memanfaatkan hak tersebut tanpa izin dari
pemegangnya.

Hak

eksklusif

itu

dalam

pengertian

“mengumumkan

atau

memperbanyak”, memberikan izin kepada orang lain untuk mengumumkan dan/atau
memperbanyak Ciptaannya.27
Sesuai dengan Pasal 12 ayat (1) huruf a UU No. 19 Tahun 2002 tentang Hak
Cipta (“UUHC”), merupakan ciptaan yang dilindungi hak cipta. Hak untuk
mengumumkan dan memperbanyak buku dimiliki si penulis buku yang bersangkutan
atau pihak lain yang diberikan izin untuk melakukan hal tersebut.
Sebagaimana pemegang hak cipta memiliki hak eksklusif atas hasil ciptaaanya
(buku), maka pemegang hak cipta tersebut memiliki hak eksklusif atas segala hak
yang timbul (hak turunan) bila ciptaan tersebut dialihwujudkan dalam bentuk produkproduk yang berbeda, sebagai contoh dibuatnya suatu buku menjadi film ataupun
26

Rachmadi Usman, Hukum Hak atas Kekayaan Intelektual, Alumni, Bandung, 2003,

hal.112.

Universitas Sumatera Utara

19

diterjemahkan ke dalam bahasa asing. Hal ini mengacu kepada penjelasan pasal 2
ayat (1) UUHC.
Oleh karena itu, agar dapat menerbitkan buku asing atau terjemahannya,
penerbit harus terlebih dahulu mendapatkan izin berupa lisensi dari pencipta atau
pemegang hak cipta buku asing tersebut. Dari perjanjian lisensi tersebut, pihak
penerbit akan mengetahui apa saja hak dan kewajibannya sebagai penerima lisensi.
Terjemahan, berdasarkan UUHC, dilindungi sebagai ciptaan tersendiri dengan
tidak mengurangi hak cipta dari ciptaan asli (lihat pasal 12 ayat (1) huruf l jo ayat (2)
UUHC). Kemudian, sebagai bagian dari hak moral pencipta, penerbit buku
terjemahan wajib mencantumkan nama penulis asli buku terjemahan tersebut. Selain
itu, penerbit tidak boleh mengubah isi maupun judul buku kecuali mendapat izin dari
penulis asli atau ahli warisnya (lihat pasal 24 UUHC).28
Dengan demikian, sesuai dengan ketentuan Pasal ini, sepanjang sebuah karya
tulisan dilindungi Hak Cipta dimana perlindungan Hak Ciptanya tersebut masih
berlaku, maka setiap orang yang ingin menerjemahkan karya tersebut ke dalam
bahasa lain harus mendapatkan izin terlebih dahulu dari pemegang Hak Cipta atas
karya aslinya itu.
Pemberian hak penerjemahan ini merupakan salah satu “hak eksklusif” yang
dimiliki oleh Pemegang Hak Cipta berkat Hak Ciptanya tersebut. Dalam
melaksanakan hak eksklusif itu, terserah kepada si Pemegang Hak Cipta apakah hak

28

http://www.google.com/ Hak Kekayaan