Status hukum thalaq di luar pengadilan dalam perspektif fiqh, UU NO 1/1974 dan kompilasi hukum Islam

STATUS HUKUM THALAQ DI LUAR PENGADILAN
DALAM PERSPEKTIF FIQH, UU NO 1/1974 DAN KOMPILASI HUKUM
ISLAM
Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Syari’ah dan Hukum Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Mencapai Gelar Sarjana Syari’ah (S.Sy)

Oleh :

Dofir
Nim

: 105044101363

KONSENTRASI PERADILAN AGAMA PROGRAM STUDI AHWAL
AS-SYAHSIYAH FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGRI (UIN)
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1431 H / 2010 M

STATUS HUKUM THALAQ DI LUAR PENGADILAN
DALAM PERSPEKTIF FIQH, UU NO 1/1974 DAN KHI

Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Syari’ah dan Hukum Untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Mencapai Gelar Sarjana Sarjana Syari’ah (S.Sy)

Nama : Dofir
Nim

: 105044101363

Di bawah bimbingan

Pembimbing I

Pembimbing II

Dr. Umar al-Haddad, MA

Sri Hidayati, M. Ag

NIP : 196809041994011001

NIP : 197102151997032002

KONSENTRASI PERADILAN AGAMA
PROGRAM STUDI AHWAL AS-SYAHSIYAH
FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM
UNIVERSITAS ISLAM NEGRI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1431 H / 2010 M

PENGESAHAN PANITIA UJIAN

Skripsi yang berjudul Status Hukum Thalaq Di Luar Pengadilan Perspektif Fiqh,
UU No 1 Tahun 1974 dan KHI, telah diujikan dalam Sidang Munaqasyah Fakultas
Syari’ah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 18 Maret 2010.
skripsi ini telah diterima sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana
Program Strata 1 (S1) pada Program Studi Ahwal Syakhshiyah.
Jakarta, 18 Maret 2010
Dekan,

Prof. Dr. H. Muhammad Amin Suma, SH, MA, MM
NIP : 195505051982031012

Panitia Ujian Munaqasyah

Ketua

: Drs. H. A. Basiq Djalil. SH., MA
NIP : 195003061976031001

(.............................................)

Sekretaris

: Kamarusdiana, S.Ag., MH
NIP : 197202241998031003

(.............................................)

Pembimbing I : Dr. Umar al-Haddad, MA
NIP : 196809041994011001

(.............................................)

Pembimbing II : Sri Hidayati, M.Ag
NIP : 197102151997032002

(.............................................)

Penguji I

: Dr. H. Mujar Ibnu Syarif, M.Ag
NIP : 197112121995031001

(.............................................)

Penguji II

: Kamarusdiana, S.Ag., MH
: NIP : 197202241998031003

(.............................................)

SURAT PERNYATAAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama
Nim
Semester/jurussan/prodi
Fakultas

: Dofir
: 105044101363
: 10/Peradilan Agama/Ahwal As-Syahsiyah
: Syari’ah dan Hukum

Dengan ini mohon penundaan pembayaran kuliah semester sepuluh (10) yang
akan di bayarkan pada tanggal 04 Maret 2010 dengan segala dendanya.
Demikian atas perhatian dan kebijaksanaannya saya ucapkan terima kasih.

Mengetahui
Maret 2010
A.N. Dekan
Pembantu dekan bidang administrasi

Jakarta

04

Dofir

105044101363
Dra. Hj. Hermawati
Nip: 150227408
Tembusan:
Yth Dekan (sebagai laporan)

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, puji syukur kita kepada Allah SWT yang telah memberikan
bimbingan dan petunjuk kepada kita, sehingga penulisan skripsi yang berjudul Status
Hukum Thalaq di Luar Pengadilan Perspektif Fiqh, UU No 1/1974 dan KHI untuk
syarat mendapatkan gelar starata 1 (S1) dapat dirampungkan. Dengan skripsi ini
mudah-mudahan bermanfaat bagi kita sekalian. amin. Shalawan dan salam marilah
kita tetap haturkan kepada Nabi kita, Nabi Muhammad SAW yang telah mengenalkan
kita pada agama islam.
Dengan telah selesainya skripsi ini saya juga ucapkan banyak-banyak
terimakasih kepada semua yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini baik
bantuan berupa do’a tenaga harta dan fikiran saya ucapkan Jaza Kumullah Biahsanal
Jaza terutama kepada:
1. Terima ksih yang sedalam-dalamnya kepada semua gura yang telah
memberikan pengetahuan sehingga saya bisa mendapatkan gelar S1, terutama
kepada K.H. Abdul Fatah Ahmad Faqih dan Drs. K.H. Tohir Abdurrahman.
2. Terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada Bapak dan Ibu saya yang telah
membesarkan, merawat, membingbing dan membiayai saya dalam menuntut
ilmu

3. Terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada pembingbing skripsi saya Dr.
Umar al-Haddad, MA yang telah membingbing saya dalam penulisan skripsi
ini, dan trimaksih juga kepada Sri. Hidayati, S. Ag, MA selaku pembingbing
skripsi saya yang telah membingbing saya sehingga skripsi ini bisa
terselesaikan.
4. Terimaksih juga kepada seluruh pegawai Kampus Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah (UIN) dengan segala fasilitas yang diberikan.
Terakhir, kepada Allah AWT penulis mohon taufik dan hidayah-Nya, serta
memanjatkan rasa syukur atas telah selesainya penulisan skripsi ini, karena dengan
petunjuk dan lindungan-Nya jualah penulisan skripsi dapat diselesaikan. Semoga
skripsi ini dapat bermanfaat bagi para pembaca dan menjadi amal sholeh bagi penulis
disisi Allah. Amin.

Jakarta, 25 Februari 2010 M
10 Rabi’ul Awal 1431 H
Penulis

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR ................................................................................... v
DAFTAR ISI ................................................................................................. vii
BAB I PENDAHULUAN .............................................................................. 1
A. Latar Belakang Masalah .............................................................. 1
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah ........................................... 6
C. Tujuan Penelitian ......................................................................... 6
D. Review Studi Terdahulu .............................................................. 7
E. Metode Penelitian ........................................................................ 9
F. Sistematika Penulisan .................................................................. 12

BAB II HUKUM THALAQ DALAM PERSPEKTIF FIQH ...................... 13
A. Pengertian dan Macam-macam Thalaq ........................................ 13
B. Rukun dan Syarat-syarat Thalaq .................................................. 24
C. Redaksi (sighat) Thalaq ............................................................... 27

BAB III PROSES PERCERAIAN DALAM PERSPEKTIF FIQH,
UU NO1 TAHUN 1974 DAN KHI .................................................. 30
A. Perspektif Fiqh ............................................................................. 30
B. Perspektif UU No 1 Tahun 1974................................................... 38
C. Perspektif Kompilasi Hukum Islam .............................................. 47

BAB IV THALAQ DI LUAR PENGADILAN ............................................ 62
A. Status Hukum ............................................................................. 62
B. Saksi Thalaq . ............................................................................. 70
C. Analisis Penulis .......................................................................... 72

BAB V PENUTUP ........................................................................................ 77
A. Kesimpulan .................................................................................. 77
B. Saran ........................................................................................... 78
DAFTAR PUSTAKA .................................................................................... 80
LAMPIRAN-LAMPIRAN

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Akad perkawinan dalam hukum Islam bukanlah perkara perdata semata, tapi
merupakan ikatan suci (mitsaqan ghalizha) yang terkait dengan keyakinan dan
keimanan kepada Allah sebagaimana Firman-Nya dalam surah An-Nisa’ [4] ayat 211.
Dengan demikian ada dimensi ibadah dalam sebuah perkawinan. Untuk itu
perkawinan itu harus dipelihara dengan baik sehingga bisa abadi dan apa yang
menjadi tujuan perkawinan dalam Islam yakni terwujudnya keluarga yang sakinah
mawaddah warahmah dapat terwujud. Tapi ada saat-saat dalam kehidupan manusia
ketika tak mungkin baginya melanjutkan hubungan yang akrab dengan pasangannya,
maka apa yang menjadi tujuan perkawinan kandas ditengah jalan. Syetan, musuh
yang nyata bagi manusia, memainkan peranannya pada puncak kebanggaan
peradaban manusia sehingga seringkali terjadi nasehat baik dan perundingan
bijaksana tidak berfungsi. Dalam keadaan demikian perkawinan tak mungkin lagi
dipertahankan, sehingga berpisah secara baik-baik dianggap lebih baik daripada
terseret berkepanjangan tak menentu, membuat rumah tangga dan keluarga bagaikan
neraka.
1

QS. An-Nisa’ [4] : 21: Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian
kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri, dan mereka (isteri-isterimu)
telah mengambil dari kamu Perjanjian yang kuat.

Sebenarnya putusnya perkawinan merupakan hal yang wajar saja, karena
makna dasar dari sebuah akad nikah adalah ikatan atau dapat juga dikatakan
perkawinan, pada dasarnya adalah kontrak.2 Konsekwensinya ia dapat bertahan dan
dapat pula terputus, salah satu sebab putusnya perkawinan adalah dengan jalan
thalaq.
Sebagai suatu ikatan, perkawinan harus diupayakan terjalin utuh. Dalam
keadaan yang tak dapat dihindarkan perceraian dibolehkan dengan alasan-alasan yang
diperbolehkan dan tidak bisa dihindarkan kecuali berpisah, tapi Allah sangat murka
terhadap perbuatan itu sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW.
3

&

‫ﻡ‬

" "# $ %

Artinya: Perbuatan halal yang paling dimurkai Allah adalah thalaq. (HR.
Abu Daud dan Ibnu Majah dan disahehkan oleh Hakim)

Pada dasarnya putusnya sebuah perkawinan itu terjadi karena dua hal;
pertama karena kematian, dan kedua karena perceraian. Dalam hal putusnya
perkawinan karena perceraian, kemudian terdapat ketentuan perundangan di
Indonesia dan beberapa Negara muslim yang mensyaratkan adanya putusan
pengadilan. Islam menyerahkan hak cerai sepenuhnya terhadap suami, tapi Islam juga
tidak seotoriter itu, istri juga punya hak menuntut cerai terhadap suami ke pengadilan
ketika suami tidak memberikan nafkah lahir maupun batin bahkan menurut Mazhab

2

3

Lihat kembali Ahmad Kuzari, Nikah Sebagai Perikatan, Jakarta : Rajawali Pers, 1995,

Al-Hafidz Ibnu Hajar Al-‘Asqalani, Bulughu Al-Maram Min Adillatu Al-Ahkam, (Surabaya:
Al-Hidayah) h. 223

Hanafi ketika istri bersuamikan pria yang tidak memberikan nafkah lahir dan batin
atau mempunyai penyakit cacar yang merusak kebahagian rumah tangga maka dia
punya hak cerai langsung (tanpa melalui proses gugatan).4
Menurut ketentuan hukum Islam, thalaq adalah termasuk salah satu hak
suami, Allah menjadikan hak thalaq di tangan suami, tidak menjadikan hak thalaq itu
di tangan orang lain baik orang lain itu istri, saksi, ataupun Pengadilan sebagaimana
salah satu dari Firman Allah SWT di antaranya surah Al-Ahzab [33] ayat 495
Ibnu Qayyim berkata bahwa thalaq itu menjadi hak bagi orang yang menikah,
karena itulah yang berhak menahan istri, yaitu merujuknya. Suami tidak memerlukan
persaksian untuk mempergunakan haknya. Tidak ada riwayat dari Rasulullah SAW
dan para sahabatnya sesuatu yang menjadikan dalil dan alasan disyari’atkanya
persaksian thalaq.6

Terkait dengan masalah status thalaq di luar sidang Pengadilan Agama, bahsul
masail NU dalam Muktamar ke-28 di Yogyakarta Tahun 1989 telah memberikan
keputusan hukum bahwa thalaq adalah hak prerogatif suami yang bisa dijatuhkan
kapanpun dan dimanapun bahkan tanpa alasan sekalipun. Oleh karena itu apabila
suami belum menjatuhkan thalaq di luar Pengadilan Agama, maka thalaq yang
4

Thahir Al-Haddad, Wanita dalam Syariat dan Masyarakat, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1993,

h. 94.
5

QS. Al-Ahzab [33] : 49: Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu menikahi perempuanperempuan yang beriman, kemudian kamu ceraikan mereka sebelum kamu mencampurinya Maka
sekali-sekali tidak wajib atas mereka 'iddah bagimu yang kamu minta menyempurnakannya. Maka
berilah mereka mut'ah dan lepaskanlah mereka itu dengan cara yang sebaik- baiknya.
6

Abd. Rahman Ghazaly, Fiqh Munakahat, Bogor: Kencana, 2003, h. 209.

dijatuhkan di depan Hakim Agama itu dihitung thalaq yang pertama dan sejak itu
pula dihitung iddahnya. Jika suami telah menjatuhkan thalaq di luar Pengadilan
Agama, maka thalaq yang dijatuhkan di depan Hakim Agama itu merupakan thalaq
yang kedua dan seterusnya jika masih dalam waktu 'iddah raj'iyyah.7
Sedangkan Majlis Tarjih Muhammadiyah dalam fatwanya yang disidangkan
pada hari Jum’at, 8 Jumadil ula 1428 H/ 25 Mei 2007 M memberikan sebuah putusan
bahwa perceraian harus dilakukan melalui proses pemeriksaan pengadilan, cerai
thalaq dilakukan dengan cara suami mengikrarkan thalaq-nya di depan sidang
Pengadilan dan cerai gugat diputuskan oleh hakim.8 Perceraian yang dilakukan di luar
sidang Pengadilan dinyatakan tidak sah. Pandangan NU dan Muhammadiyah di atas
mencerminkan suatu hal yang kontradiktif. Masing-masing memiliki metode istimbat
sendiri-sendiri

Di dalam UU No 1 Tahun 1974 tentang perkawinan perceraian hanya dapat
dilakukan di depan sidang pengadilan, hal yang sama juga di jelaskan dalam KHI
yang mengharuskan thalaq ke pengadilan. Perceraian yang dilakukan kepengadilan
mempunyai kesan adanya saksi dalam thalaq sebagaimana yang dijelasakan dalam
Pasal 16 PP No 9 Tahun 1975 bahwa pengadilan hanya memutuskan untuk
mengadakan sidang pengadilan untuk menyaksikan perceraian, sedangkan di dalam

7

Abdul Aziz Masyhuri, Masalah Keagamaan jilid II, (Jakarta: Qultum Media 2004), cet, I h.

69-70.
8

Ahmad Azhar Basyir (Mantan Ketua Majelis Tarjih Muhammaddiyah), Thalaq di Luar
Pengadilan, Artikel diakses pada 26 juli 2009 dari http://blog.unila.ac.id

fiqh jumhur ulama tidak mengharuskan adanya saksi, kecuali golongan syi’ah yang
mengharuskan adanya dua saksi dalam thalaq9. Pendapat ini didasarkan pada Firman
Allah SAW dalam surah At-Thalaq [65] ayat 2.10

Dengan adanya masalah seperti tersebut di atas penulis tertarik untuk meneliti
lebih jauh tentang sah tidaknya thalaq di luar Pengadilan dan perlukah saksi
terhadapa thalaq dalam pandangan Fiqh, UU No 1/1974 dan KHI dengan mengangkat
sebuah tema "Status Hukum Thalaq di Luar Pengadilan Dalam Perspektif Fiqh, UU
No 1/1974 dan KHI", karena disatu sisi (NU) mengatakan sah thalaq diluar proses
persidangan

mulai

saat

itu

iddahnya

berlaku.

Sedangkan Majelis Tarjih

Muhammaddiyah mengatakan thalaq harus melalui proses persidangan dan suami
mengikrarkan thalaq-nya didepan sidang Pengadilan baru iddahnya terhitung saat itu
dan Undang-undang sendiri mempunyai kesan adanya saksi thalaq yang
mengharuskan thalaq ke pengadilan

9

Muhammad Jawad Mughniyah, Fiqh Lima Mazhab, Terjemahan Masykur A.B, Afif
Muhammad Idrus Al-Khaff, (Jakarta: Lentera, 2007), cet, 6, h. 449
10

QS. At-Thalaq [65]: 2: Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, Maka rujukilah
mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi
yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah
diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa
kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar.

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah

1. Pembatasan Masalah
Untuk memudahkan penulis dalam penyusun skripsi ini, dengan tidak
mengurangi nilai pembahasan, maka penulis membatasi masalah dalam skripsi ini
hanya pada : “Status Hukum Thalaq di Luar Pengadilan dalam Perspektif Fiqh,
Undang-undang No 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam”, yang dimaksud
Fiqh adalah para ulama mazhab yang empat, Maliki, Hanafi, Syafi’i dan Hambali.
2. Rumusan Masalah
Berdasarkan masalah di atas, masalah yang dibahas dalam skripsi ini, dapat
dirumuskan sebagai berikut :
a.

Apakah sah thalaq yang dilakukan di luar pengadilan?

C. Tujuan Penelitian

Sesuai dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian skripsi ini
adalah :
1. Mengetahui perbedaan antara pendapat Fiqh, UU No 1 Tahun 1974 dan
Kompilasi Hukum Islam (KHI) mengenai kedudukan sah tidaknya thalaq di
luar pengadilan.

3. Mengetahui tentang kekuatan hukum mengikatnya antara Fiqh, UU No 1
Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam

D. Review Studi Terdahulu

Dari sekian banyak literatur skripsi fakultas syari’ah dan hukum yang ada di
perpustakaan penulis mengambil beberapa skripsi untuk melakukan perbandinagan
antara lain:
1. Cici Indriani, dengan judul skripsi Dampak Perceraian (cerai thalaq) Diluar
Prosedur Pengadilan Agama Terhadap Nafkah Iddah Dan Nafkah Anak
(Studi Kasus Di Desa Purwadadi Barat Kec. Purwadadi Subang), pada tahun
2006. Skripsi ini menjelaskan tentang adanya nafkah iddah dan nafkah anak
itu disebabkan jatuhnya thalaq baik thalaq yang dilakukan melalui proses
pengadilan atau tidak, tapi cerai yang dilakukan di luar pengadilan tidak
mengharuskan nafkah iddah dan nafkah anak, karena tidak terikat dengan
hukum
2. Mohd. Serajuddin bin Mokhtar dengan judul skripsi Terhadap Penyelesaian
Thalaq di Luar Sidang (Studi Kasus di Peradilan Agama Daerah Sik Kedah,
Malaysiya), pada tahun 2007. Skripsi ini menjelaskan bahwa masyarakat di
daerah Sik Kedah Malaysiaya mempunyai keyakinan thalaq dianggap sah
walau tanpa kepengadilan dengan berpedoman pada fikih, karena menurut
fiqh sah thalaq yang dijatuhkan di luar pengadilan dan masyarakat disana

sangat

sedikit

melakukan

perceraian

kepengadilan,

karena

mereka

menganggap sah thalaq yang dilakukan di luar atau di dalam pengadilan.
3. Dede Rohyadi, dengan judul skripsi Perceraian di Luar Prosedur Peradilan
Agama di Kecamatan Sodong Hilir, Tasik Malaya dan Akibat Hukum, pada
tahun 2008. Skripsi ini menjelaskan bahwa di kecamatan sodong hilir hampir
semua perceraian di lakukan di luar pengadilan, karena mereka mengagap
perceraian adalah urusan keluarga yang harus ditutupi dan agama sendiri
memperbolehkannya.
4. M. Salman farisi, dengan judul skripsi Kedudukan Hukum Pengucapan Ikrar
Thalaq di Luar Pengadilan Agama (Studi Kasus di Pengadilan Agama
Jakarta Timur), pada tahun 2004. Skripsi menjelaskan pengucapan ikrar
thalaq di luar siding pengadilan itu sah menurut islam selama tidak
bertentangan dengan syari’at islam, tapi tidak mempunyai kekuatan hukum.
5. Ajid, dengan judul skripsi Persepsi Ulama Serang Tentang Cerai di Bawah
Tangan, pada tahun 2004. Skripsi ini memuat kesimpulan bahwa menurut
ulama cerai di luar pengadilan sah berdasarkan firman Allah SWT dalam
Surah Al-Baqarah (2) ayat 229:



%
$


,

!"#$
*-

. &'(

)*+

Artinya: Thalaq (yang dapat dirujuki) dua kali. setelah itu boleh rujuk lagi
dengan cara yang ma'ruf atau menceraikan dengan cara yang baik.

1 23 4

5 6* 4

*4 0 /

, -‫ﺱ‬

-+

11

#‫ﺱ‬% ' ( ‫* ی‬

+

&" "# $ % 978

Artinya: dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “tiga perkara
kesungguhannya dipandang benar, dan main-mainnya dipandang benar pula, yaitu:
nikah, thalaq dan ruju’ (HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah dan Tirmizi)
Sedangkan menurut pegawai pencatat nikah dan hakim pengadilan agama
tidak sah berdasarkan UU No 1 Tahun 1974 tentang perkawinan pasal 39 ayat 1

Perbedaan skripsi hasil studi terdahulu dengan skripsi yang penulis tulis
terletak pada jenis penelitian, bahwasannya skripsi ini merupakan kajian kepustakaan
dan status hukum thalaq di luar pengadilan sedangkan skripsi hasil studi terdahulu
menggunakan kajian lapangan (studi kasus) dan membahas akibat dari thalaq di luar
pengadilan.

E. Metode Penelitian

Metode penelitian yang di pakai penulis yaitu :
1. Jenis Penelitian
Tipe penelitian yang dilakukan adalah penelitian hukum normative dengan
pertimbangan bahwa bahan yang digunakan adalah analisis perbandingan Fiqh
dan Hukum Positif. Kajian Fiqh dengan mengambil beberapa literatur kitab klasik
dan buku yang merupakan hasil ijtihad ulama’ salaf maupun khalaf. Sedangkan

11

Al-‘Asqalani, Bulughu Al-Maram, h. 223

kajian Hukum Positif mengacu kepada Undang-undang No. 1 Tahun 1974 dan
Kompilasi Hukum Islam (KHI).

2. Pendekatan
Dari jenis penelitian hukum normative, maka pendekatan yang dilakukan
adalah pendekatan perundang-undangan (statute approach), pendekatan konsep
(conceptual approach) dan pendekatan perbandingan (comparative approach).12
Pendekatan perundang-undangan dilakukan untuk meneliti bagaimana ketentuan
dan hal lain mengenai thalaq. Pendekatan konsep bertujuan sebagai penjelas
pemahaman berdasar konsep-konsep mengenai thalaq baik dalam Fiqh ataupun
Hukum Positif. Pendekatan perbandingan merupakan cara untuk mengetahui
bahwa di dalam Undang-undang No. 1 Tahun 1974 thalaq harus melalui
pengadilan, sedangkan dalam Fiqh, thalaq tidak harus kepengadilan, hal inilah
yang nantinya berimplikasi terhadap status hukum thalaq itu sendiri.

3. Sumber Data
Sumber data penelitian ini terdiri dari :

12

Johnny Ibrahim., Teori dan Metodologi, Penelitian Hukum Normatif., (Malang; Bayumedia
Publishing, 2006), cet. Ke-2, h. 391

a. Sumber data primer ; yaitu data-data yang berasal dari sumber-sumber
utama masalah penelitian ; materi-materi hukum dari UU Perkawinan No 1/1974,
KHI dan pendapat-pendapat mazhab fiqh.13
b. Sumber data sekunder ; yaitu data-data yang berasal dari sember-sumber
pendukung yang terkait dengan masalah yang diteliti, seperti kitab-kitab hukum
Islam, buku teks, pendapat forum kelompok atau kajian Islam, tokoh atau sarjana
yang berkompeten dibidang hukum islam.
c. Bahan hukum tersier adalah bahan hukum yang memberikan petunjuk atau
penjelasan bermakna terhadap bahan hukum primer dan sekunder14 seperti kamus
hukum, ensiklopedi, dan lain-lain.

4. Pengumpulan Data
Dari sumber data primer dan sekunder yang telah terkumpul, berdasarkan
masalah penelitian diatas, maka dikumpulkan lalu dirumuskan dan selanjutnya
dikaji secara komprehensif berdasarkan rumusan-rumusan yang diperoleh.

5. Pengolahan dan Analisis Bahan Hukum
Pada fase ini biasa disebut sebagai pengolahan data, yaitu kegiatan untuk
mengadakan sistematisasi terhadap data-data yang terkumpul,15 baik sistemisasi
dari penelitian studi kepustakaan, perundang-undangan, artikel dan lain

13
14

15

Peter Mahmud Marzuki., Penelitian Hukum., (Jakarta; Kencana, 2008), cet. ke-4, h. 141
Johnny, Teori dan Metodologi, h. 392
Soerjono Soekanto., Pengantar Penelitian Hukum., (Jakarta; UI Press, 1986), h. 251

sebagainya penulis uraikan dan hubungkan sedemikian rupa guna memperoleh
penyajian yang lebih sistematis sehingga bisa menjawab permasalahan mengenai
status hukum thalaq di luar pengadilan. Pengolahan data yang dilakukan secara
deduktif yaitu menarik kesimpulan dari suatu permasalahan yang bersifat umum
terhadap permasalahan konkrit berdasarkan penelitian. Selanjutnya bahan-bahan
yang diperoleh dianalisis untuk melihat keabsahan thalaq di luar ataupun yang
melalui pengadilan dan kedudukan saksi dalam thalaq.

F. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan yang penulis pakai tersistem sebagai berikut:
Kata pengantar, daftar isi dan memuat beberapa beb yaitu:
Bab I Tentang Pendahuluan yang berisikan latar belakang masalah,
pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, metode
penelitian dan sistematika penulisan.
Bab II Menjelaskan sekilas tentang thalaq yang berisikan tentang pengertian
thalaq, macam-macam thalaq, syarat-syarat thalaq, redaksi (sighat) thalaq
Bab III Menjelaskan proses perceraian yang berisikan tentang: Perspektif
Fiqh, UU No 1 Tahun 1974 dan KHI.
Bab IV Menjelaskan tentang hukum thalaq di luar Pengadilan yang memuat
tentang status hukum, kesaksian dalam thalaq dan analisis penulis.

Bab V Penutup yang memuat kesimpulan dan saran yang terakhir daftar
pustaka dan lampiran-lampiran.

BAB II
SEKILAS TENTANG THALAQ

A. Pengertian dan Macam-Macam Thalaq

1. Pengertian Thalaq
Kata “thalaq” secara harfiyah berarti “membuka ikatan” atau “membatalkan
perjanjian”16 jika kita hubungkan dengan putusnya perkawinan antara suami dan istri,
berarti mereka telah membuka ikatan yang pernah mengikat mereka berdua, yaitu
perkawinan atau mereka telah membatalkan perjanjian yang pernah mereka janjikan
dalam suatu perkawinan. Sedangkan secara terminologis ulama-ulama fiqh
memberikan rumusan yang berbeda–beda tapi esensinya sama. Seperti halnya Abi
Yahya Zakariya al-Anshari dalam kitabnya Fathu al-Wahhab merumuskan:17

$# ‫ﻥ‬

;

Artinya: “Melepaskan ikatan perkawinan dengan lafadz thalaq dan
sepadannya”
Imam Taqiyuddin dalam kitabnya Kifayatu al-Akhyar merumuskan:18

1 23 4 , >

‫ﺱ‬

Artinya: “Nama untuk tindakan melepaskan ikatan perkawinan”
16

Ahmad Warson Munawwir, Al-Munawwir, Kamus Arab-Indonesia, (Surabaya: Pustaka
Progresif, 1997) edisi II
17

Abi Yahya Zakariya Al-Anshari, Fathu al-Wahhab bi Syarhi Minhaju at-Thullab, Beirut,
Juz II, h. 72
18

Taqiyuddin Abi Bakr Bin Muhammad Husaini, Kifayatu al-Akhyar, Beirut, Juz, II, h. 84

Dari rumusan yang di kemukakan Abi Yahya Zakariya al-Anshari dan Imam
Takiyuddin yang mewakili definisi yang diberikan kitab-kitab fiqh terdapat tiga kata
kunci yang menunjukkan hakikat dari perceraian:
Pertama: kata “melepaskan” mengandung arti bahwa thalaq itu melepaskan
sesuatu yang selama ini telah terikat, yaitu ikatan perkawinan.
Kedua: kata “ikatan perkawinan” yang mengandung arti bahwa thalaq itu
mengakhiri hubungan perkawinan yang terjadi selama ini. Bila ikatan perkawinan itu
memperbolehkan hubungan antara suami dan istri, maka dengan telah dibuka ikatan
itu status suami dan istri kembali kepada keadaan semula, yaitu haram.
Ketiga: dengan kata tha-la-qa dan sepadanya yang sama maksudnya dengan
itu mengandung arti bahwa putusnya perkawinan itu melalui suatu ucapan dan
ucapan yang digunakan itu adalah thalaq atau semaksud dengan itu, bila tidak dengan
ucapan tersebut maka putus dengan kematian.
Dalam Undang-undang No 1 Tahun 1974 tentang perkawinan, tidak dikenal
adanya istilah thalaq, tapi dikenal dengan istilah yang disebut “putusnya
perkawinan”. Undang-undang No 1 Tahun 1974 ini tidak menganal istalah thalaq,
karena Undang-undang ini masih terinterpensi dengan hukum barat Burgerlijk
Wetboek yang desubut dengan BW. Berbeda dengan KHI yang masih memakai
istilah thalaq dalam urusan perceraian walaupun di permulaan Bab, yaitu Bab XVI
masih menggunakan istilah “putusnya perkawinan, karena KHI tidak sepenuhnya

mengadopsi dari kitab-kitab fiqh bahkan masih mengadopsi dari Undang-undang No
1 Tahun 1974 tentang perkawinan.
Di dalam KHI thalaq diartikan sebagai ikrar sumi sebagaimana yang terdapat
dalam Pasal 117
Thalaq adalah ikrar suami di depan sidang Pengadilan Agama yang menjadi
salah satu sebab putusnya perkawinan, dengan cara sebagaimana dimaksud
dalam pasal 129, 130 dan 131.

2. Macam-Macam Thalaq
Thalaq itu dapat dibagi-bagi dengan melihat

kepada beberapa keadaan.

Dengan melihat kepada keadaan istri waktu thalaq itu diucapkan oleh suami, thalaq
itu ada dua macam:19

a. Thalaq Sunni
Abdurrahman Bin Muhammad Awad al-Jaziri dalam kitabnya al-Fiqhu Ala
al-Mazdahib al-Arba’ah mengatakan:20

8‫" ﻡ‬48 '

8‫@ ?ﻡ ﻡ‬A '

‫ﻡ‬

Artinya: “Thalaq yang sudah ditentukan zaman dan bilangannya”

Yang dimaksud thalaq sunni adalah thalaq yang dijatuhkan suami yang sesuai
dengan Al-Qur’an dan Al-Hadits. Yaitu seorang suami men-thalaq istrinya yang
19

Amir Syarifuddin, hukum perkawinan islam di Indonesia: antara fiqih munakahat dan
undang-undang perkawinan, (Jakarta: Kencana, 2006), cet,I, h. 217
20

Abdurrahman Bin Muhammad Awad Al-Jaziri, al-Fiqhu Ala al-Mazahibil al-Arba’ah,
Darul Ibnu al-Haitsam, 1360-1299 Hijriyah,h. 974

pernah dicampurinya dengan sekali thalaq di masa bersih dan belum ia sentuh
kembali semasa bersihnya.21 Sebagaimana firman Allah dalam Surah At-Thalaq (65)
ayat 1.

; <
6789:
BCD
#EF
…… JK0M+2#

#

+,

/012 34 5(
=>@ @

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

98 2954 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

36 752 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

34 651 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 423 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

24 579 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

49 970 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

49 885 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

14 536 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 795 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

33 956 23