Pola komunikasi dokter terhadap pasien dalam proses penyembuhan di klinik makmur jaya

POLA KOMUNIKASI DOKTER
TERHADAP PASIEN DALAM PROSES PENYEMBUHAN
DI KLINIK MAKMUR JAYA

Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi
Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana
Ilmu Komunikasi Islam (S.Sos.I)

Oleh:
Putri Rachmania
NIM: 106054002030

JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM (KPI)
FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UIN SYARIF HIDAYAHTULLAH
JAKARTA
2011 M / 1432 H

POLA KOMUNIKASI DOKTER
TERHADAP PASIEN DALAM PROSES PENYEMBUHAN
DI KLINIK MAKMUR JAYA

Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi
Untuk Memenuhi Syarat Meraih
Gelar Sarjana Ilmu Sosial Islam (S.Sos.I)

Oleh:
Putri Rachmania
206051104346

Di bawah bimbingan

Dra. Musfirah Nurlaily, MA.
NIP: 1971041222000032

JURUSAN KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM (KPI)
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UIN SYARIF HIDAYAHTULLAH
JAKARTA
2011 M / 1432 H

ABSTRAK

Putri Rackmania
“POLA KOMUNIKASI DOKTER TERHADAP PASIEN DALAM PROSES
PENYEMBUHAN DI KLINIK MAKMUR JAYA”
Komunikasi dan pengaruhnya terhadap proses penyembuhan pasien adalah
komunikasi yang melibatkan dua individu yang berbeda, dan disebut sebagai
komunikasi antar pribadi. Komunikasi menjadi piranti utama dalam bagi dokter
untuk menyampaikan pesan dan keinginan dokter terhadap pasien ataupun
sebaliknya. Komunikasi menjadi mediator bagi dokter dalam menyampaikan
simbol-simbol atau arti yang dimaksudkan oleh dunia kesahatan dalam mencapai
tujuan yang diinginkan pasien, yaitu penyembuhan. Komunikasi digunakan
sebagai alat pendekatan sosial oleh dokter demi mencapai satu stabilitas objektif
dari obyek penelitian untuk mendapatkan apa yang dibutuhkan dokter. Oleh sebab
itu, komunikasi dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan dokter dan pasien yang
dapat berpengaruh pada proses penyembuhan yang tengah dilakukan. Dengan
demikian, peranan lembaga pelayanan menjadi penting untuk menyelaraskan
komunikasi sebagai alat yang dapat memberikan perubahan terhadap prilaku,
pandangan, dan budaya masyarakat sebagai obyek yang dilayani (pasien).
Tujuan dari penelitian ini adalah; untuk mengetahui pola komunikasi
dalam upayanya memberikan dampak penyembuhan. Mengetahui bagaimana
penerapan komunikasi dalam proses penyembuhan. Mendapatkan satu pola
komunikasi yang berpengaruh pada proses penyembuhan. Tujuan lain, untuk
mengetahui peran penting komunikasi sebagai media yang mampu mempengaruhi
proses kesembuhan pasien. Selain itu, adalah untuk mengetahui pendekatanpendekatan sosial komunikasi yang diciptakan oleh Klinik Makmur Jaya.
Metodologi penelitian karya ilmiah ini menggunakan pendekatan
kualitatif. Dimana pendekatan kualitatif menurut Taylor yang dikutip oleh Lexsi J.
Moleong, adalah “prosedur sebuah penelitian yang menghasilkan data deskriptif
berupa kata-kata, tertulis atau lisan dari orang dan prilaku yang dapat diamati.
Hasil penelitian yang penulis temukan terkait dengan pola komunikasi
dokter terhadap proses penyembuhan pasien di Klinik Makmur Jaya adalah
komunikasi berperan sangat signifikan dalam proses penyembuhan pasien,.
Pendekatan-pendekatan komunikasi pada penerapannya mampu sangat
berpengaruh terhadap perubahan psikologi dan perilaku pasien yang sedang
menjalani proses pengobatan,
Dengan demikian, Pola Komunikasi Dokter Terhadap Proses
Penyembuhan Pasien adalah untuk mengupayakan perubahan sikologis dan
perilaku pasien terhadap apa yang terjadi didalam diri mereka sendiri. Bahwa,
selain dokter, pasien juga harus berperan aktif, memahami, dan bertanggung
jawab terhadap kesembuhan diri mereka. Dan komunikasi dalam hal ini mencoba
mambangun, mengembangkan, dan membina hubungan keduanya secara
responsif terhadap problem sosial apa pun yang tengah mereka hadapi.

i

ii

KATA PENGANTAR
Bismillahirrahmannirrahim

Segala puja dan puji bagi Allah SWT sebagai pagar penjaga nikmatNya,
Zat Yang Maha menggenggam segala sesuatu yang ada dan tersembunyi di balik
jagad semesta alam, zat yang Maha Meliputi segala sesuatu yang terfikir maupun
yang tidak terfikir. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah atas sang
Nabi Muhammad SAW, keluarganya, sahabatnya, dan bagi seluruh Umat Islam
yang terlena maupun terjaga atas sunnahnya.
Alhamdulillahirrabil ‘alamin, penulis mengucapkan rasa syukur kepada
Allah SWT atas segala rahmat dan pertolonganNya, sehingga skripsi ini dapat
diselesaikan. Karena tanpa rahmat pertolonganNya tidaklah mungkin penulis
dapat menyelesaikan skripsi ini.
Dengan penuh kesadaran dan kerendahan hati, penulisan skripsi ini tidak
akan terselesaikan bila tanpa bantuan serta dukungan dari berbagai pihak, baik
secara moril maupun materil. Sudah sepatutnya penulis mengucapkan terima
kasih kepada semua pihak yang telah memberikan bantuan serta dukungannya,
sehingga penulisan skripsi ini dapat diselesaikan. Penulis mengucapkan terima
kasih sebesar-besarnya kepada :

1.

Bapak Dr. Arief Subhan, M.Ag, selaku Dekan Fakultas Dakwah dan
Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pembantu Dekan Bidang
Akademik Bapak Drs Wahidin Saputra, MA. Pembantu Dekan Bidang
Administrasi Umum dan Keuangan Bapak Drs. H. Mahmud Jalal, MA., serta
Pembantu Dekan Bidang Kemahasiswaan Bapak Drs. Study Rizal LK., MA.

2.

Ibu Hj. Asriati Jamil, M.Hum, selaku Ketua Jurusan Koordinator Teknis
Program Non Reguler, Ibu Hj. Musfirah Nurlaily, MA., selaku Sekretaris
Program Non Reguler.

3.

Dosen Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) angkatan 2007. Serta
Bapak/Ibu Dosen Fakultas dakwah dan Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah
ii

iii

yang telah mengarahkan, mendidik, membimbing, dan memberikan ilmu
yang sangat bermanfaat untuk hidup penulis.
4.

Ibu Dra. Musfirah Nurlaily, MA., sebagai Dosen Pembimbing skripsi, yang
tidak pernah menutup pintu keluasan waktunya untuk membimbing dan
memberikan semangat dan arahan dalam penulisan skripsi ini.

5.

Seluruh karyawan Perpustakaan Utama UIN Jakarta, dan Perpustakaan
Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Konunikasi UIN Jakarta.

6.

Dokter Ayat Rahayu yang telah bersedia meluangkan waktu. Dan para
fasilitator buku-buku tentang komunikasi dan kesehatan, yang memberikan
kesempatan pada penulis untuk menyelami buku-buku tentang komunikasi
(umum dan khusus) dokter terhadap pasien, tanpa batas waktu

7.

Karyawan dan Staff Klinik Makmur Jaya yang telah memberikan kesempatan
kepada penulis untuk melakukan observasi dan dan wawancara.

8.

Bapakku yang terkasih, Budi Marwoto dan Ibunda tercinta Rosmilawati, yang
telah memberikan terkasih kebebasan untuk memilih jalan hidup, hampir
setiap nafas yang terlewati ini penulis merasakan lantunan doa yang begitu
kuat, semoga pintu Rahman dan RahimNya Allah senantiasa dibukakan bagi
kesabaran dan pengorbanamu. Amin.

9.

Adik-adikku tercinta, Rosafina Shabira, Raniah Farah Nadhifa, dan Irsya
Budi, yang telah banyak memberikan keluasan waktu dan yang selalu
menciptakan ketenangan dalam rumah yang menjadi surga bagi keluarga.
Terima kasih atas doa dan dukungan yang terucap maupun tidak.

10. Teman-teman KPI Program Non Reguler angkatan 2006 atas keakraban dan
kerja sama di masa-masa kita masih sempat selalu berkumpul, dan temanteman lain yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Hanya ucapan
terima kasih yang bisa saya sampaikan.

iv

11. Dan kepada semua pihak yang telah membantu serta memberikan dukungan
kepada penulis baik secara moril maupun materil, penulis ucapkan terima
kasih yang sebesar-besarnya, hanya Allahlah yang dapat membalasnya.

Ciputat, 15 Februari 2011

Penulis

v

DAFTAR ISI

ABSTRAK……………………………………………………………………i
KATA PENGANTAR……………………………………………………….ii
DAFTAR ISI………………………………………………………………….v

BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang……………………………………………………..1
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah………………………………10
C. Tujuan dan Manfaat penelitian……………………………………..10
D. Metodologi penelitian……………………………………………....11
E. Tinjauan Pustaka…………………………………………………....15
F. Sistemetika penulisan……………………………………………….16

BAB II LANDASAN KOMUNIKASI
A. Komunikasi……………………………………………………...…18
1. Pengertian……………………………………………………...18
2. Unsur-unsur Komunikasi………………………………………21
3. Fungsi Komunikasi……………………………………………26
B. Pola Komunikasi………….………………………………….........28
C. Pola Komunikasi Antar Pribadi…………………………………...32
D. Hubungan Dokter dengan Pasien………………………………….41

BAB III GAMBARAN UMUM KLINIK MAKMUR JAYA
A. Profil Klinik Makmur Jaya……………………………………........48
B. Sejarah Berdirinya Klinik Makmur Jaya…………………………...48
C. Sarana dan Prasarana……………………………………………….52
D. Dokter dan Tenaga Medis………………………………………….53

v

vi

BAB IV HASIL TEMUAN dan ANALISA DATA
A. Pola Komunikasi Dokter dan Pasien di Klinik Makmur Jaya………55
B. Penerapan Komunikasi Terhadap Pasien di Klinik Makmur Jaya….66
C. Komunikasi Antar Pribadi Sebagai Media Klinik Makmur Jaya Dalam
Meningkatkan Kesembuhan Pasien……….………………………..71
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran-Saran

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

1

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Di beberapa negara, menunjukkan bahwa adanya hari-hari produktif yang
hilang atau Dissabiliiy Adjusted Life Years (DALY's) yang disebabkan oleh
masalah kesehatan. Sementara kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan,
jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial
dan ekonomis. Atas dasar ini, maka manusia selalu dilihat sebagai satu kesatuan
yang utuh (holistik), dari unsur “badan” (organobiologik), “jiwa” (psiko-edukatif),
dan “sosial” (sosio-kultural), yang tidak dititik beratkan pada “penyakit” saja,
tetapi pada kualitas hidup yang terdiri dari “kesejahteraan” dan “produktivitas
sosial ekonomi. Dengan demikian, kesehatan adalah suatu kondisi yang
memungkinkan perkembangan fisik, intelektual dan emosional yang optimal dari
seseorang, dan perkembangan itu berjalan selaras dengan keadaan orang lain.1
Makna kesehatan jiwa mempunyai sifat-sifat yang harmonis (serasi) dan
memperhatikan semua segi dalam kehidupan manusia dan dalam hubungannya
dengan manusia lain. Untuk mendapatkan kesehatan jiwa, maka perlu ada
terselenggaranya pelayanan kesehatan yang bermutu dan merata untuk seluruh
masyarakat. Pembangunan kesehatan Indonesia beberapa dekade yang lalu harus
diakui relatif berhasil, terutama pembangunan infrastruktur pelayanan kesehatan
yang telah menyentuh sebagian besar wilayah kecamatan dan pedesaan. Namun

1

Studi Bank Dunia (World Bank) pada tahun 1995-2000 di beberapa negara (Eropa,
Amerika,
Afrika,
dan
Asia),
dalam
http://kesmas.depkes.go.id/index.php?option=comcontent&task=view&id
=61&Itemid=79.
(diambil pada hari senin tanggal 11 Januari 2011, jam 19:00).

1

2

keberhasilan yang sudah dicapai belum dapat menuntaskan problem kesehatan
masyarakat secara menyeluruh, bahkan sebaliknya tantangan sektor kesehatan
cenderung semakin meningkat.2
Transisi epidemiologis, yang di tandai dengan semakin berkembangnya
penyakit degeneratif dan penyakit tertentu yang belum dapat diatasi sepenuhnya
(seperti TBC, DHF dan malaria); hal ini merupakan sebagian tantangan kesehatan
di masa depan. Tantangan lainnya yang harus ditanggulangi antara lain adalah
meningkatnya masalah kesehatan kerja, kesehatan lingkungan, masalah obatobatan; dan perubahan dalam bidang ekonomi, kependudukan, pendidikan, sosial
budaya; dan dampak globalisasi yang akan memberikan pergaruh terhadap
perkembangan keadaan kesehatan masyarakat. Karena kesehatan merupakan
kebutuan yang sangat mendasar secara fisik maupun dalam hal psikis. Kesehatan
sangat esensial untuk mencapai berbagai tujuan, sebab dengan kesehatan manusia
dapat melakukan aktifitas sehari-hari tanpa adanya satu hambatan.3
Berdasarkan penjelasan di atas sangat diperlukan upaya agar masalah
kesehatan di masa depan dapat ditanggulangi dengan baik sehingga mencapai
kualitas kesehatan masyarakat yang diinginkan. Beberapa upaya yang dapat
dilakukan antara lain meliputi pengembangan organisasi dan manajemen
pelayanan kesehatan, pengembangan institusi pendidikan, peningkatan orientasi
penelitian dan peningkatan partisipasi masyarakat. Pengembangan organisasi
pelayanan kesehatan merupakan suatu keharusan. Pendekatan organisasi birokrasi
yang selama ini berlaku dan bersifat sangat hirarkis (top down) atau sentralistis

2

Ibid.
Media
Indonesia;
Wajah
Buram
Keseshatan
Bangsa
Kita.
http://www.aidsindonesia.or.id. (diambil pada hari senin tanggal 11 Januari 2011, jam 18:30).
3

3

haruslah dirubah menjadi suatu tatanan organisasi pelayanan yang lebih
mengutamakan pendekatan psikologis komunikasi yang lebih efektif, mudah, dan
menumbuhkembangkan kesadaran menjaga kesehatan.4
Keberhasilan pembangunan kesehatan yang telah dicapai pada berapa
bidang (terutama pembangunan sarana fisik) merupakan suatu hal yang tidak
dapat dipungkiri. Namun berdampingan dengan keberhasilan yang ada, banyak
fakta menunjukkan bahwa kegagalan pembangunan kesehatan tidak kalah
besarnya. Salah satu faktor sulitnya mencapai prestasi optimum organisasi
pelayanan adalah organisasi kesehatan dianggap terlalu elit (birokratis) dan ruwet
(mahal) bagi masyarakat.5
Hal ini menimbulkan kematian inisiatif dan menghidupkan sikap pasif,
sehingga sekat antara masyarakat dengan organisasi kesehatan menjadi semakin
lebar. Fenomena ini harus segera dirubah melalui pengembangan organisasi dan
manajemen agar lebih siap menghadapi tantangan di masa depan untuk memenuhi
kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan yang berkualitas. Pengembangan
organisasi adalah suatu proses sadar dan terencana untuk mengembangkan
kemampuan suatu organisasi sehingga mampu mencapai suatu tingkat optimum
prestasi dan efisiensi, efektifitas, dan kesehatan organisasi. Pengembangan
manajemen ditekankan pada upaya memperbaiki pengetahuan dan keterampilan
para pimpinan dan paramedis.
Dengan demikian, pengembangan organisasi kesehatan harus mengacu
pada strategi reedukasi dan normatif yang ditujukan untuk mempengaruhi sistem

4

Ibid.
Paper Surya utama; Upaya Menghadapi Masalah Kesehatan Di Masa Depan, Fakultas
Kesehatan Masyarakat, Universitas Sumatera Utara, dalam surya_utamablogspot. (diambil pada
hari senin tanggal 11 Januari 2011, jam 18:35).
5

4

kepercayaan, nilai, dan sikap dalam organisasi sehingga dapat beradaptasi lebih
baik terhadap akselerasi laju perubahan teknologi lingkungan industri dan
lingkungan masyarakat umumnya. Pengembangan organisasi mencakup pula
penataan kembali organisasi formal yang sering mulai, diperlancar dan diperkuat
oleh perubahan normatif dan perilaku. Salah satu yang harus menjadi
pertimbangan organisasi kesehatan (Rumah Sakit, Klinik, Puskesmas, dan lain
sebagainya) adalah otonomi organisasi dalam hal pelayanan kesehatan terhadap
masyarakat.6
Efisiensi

dan

efektifitas

pelayanan

merupakan

sasaran

utama

pengembangan organisasi birokrasi pelayanan kesehatan yang ditujukan untuk
menjamin kualitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat secara terus menerus.
Dengan demikian otonomi sebagai perwujudan pengembangan organisasi
haruslah direncanakan dan dilaksanakan dengan benar dan sungguh-sungguh,
untuk menciptakan suatu organisasi pelayanan kesehatan yang siap menghadapi
tantangan untuk menyelesaikan masalah kesehatan agar senantiasa berkembang
(terutama di daerah-daerah). Pengembangan organisasi pelayanan kesehatan yang
dilakukan harus dapat menghilangkan berbagai penyimpangan perilaku birokrasi
kesehatan yang tidak bermoral, seperti tidak efisien, tidak efektif, korupsi, kolusi,
dan mengabaikan kualitas pelayanan.
Upaya pemerintah untuk mencapai sasaran dan tujuan pembangunan
kesehatan maupun pembangunan bidang lainnya yang terkait dengan kesehatan
masyarakat antara lain dilakukan dengan meningkatkan kuantitas sumber daya
manusia melalui perencanaan kebutuhan dan peningkatan kualitas melalui jalur

6

Ibid.

5

pendidikan. Melalui pendidikan diharapkan dapat terbentuk manusia (tenaga
medis) yang berkualitas, mampu memanfaatkan, mengembangkan, dan menguasai
ilmu pengetahuan dan teknologi yang diperlukan untuk mendukung pembangunan
seluruh sektor kehidupan msyarakat. Dengan demikian pendidikan merupakan
wahana dan sekaligus cara untuk membangun manusia baik sebagai insan maupun
sebagai sumber daya pembangunan.7
Pentingnya sumberdaya manusia yang berkualitas merupakan syarat utama
pengembangan organisasi kesehatan, upaya untuk mendorong terciptanya
organisasi pelayanan kesehatan yang mampu mencapai dan mempertahankan
prestasi, menghendaki sumber daya manusia yang berkualitas. Peningkatan
kualitas sumberdaya manusia dari organisasi pelayanan kesehatan, haruslah
diantisipasi oleh institusi pendidikan kesehatan masyarakat. Artinya, jika
organisasi pelayanan kesehatan telah siap untuk melaksanakan pengembangan
organisasi dan manajemen sebagai antisipasi untuk menghadapi tantangan
kesehatan masyarakat yang semakin kompleks; maka institusi pendidikan
kesehatan masyarakat juga harus melakukan pengembangan organisasi dan
manajemen untuk menghadapi tantangan kesehatan yang semakin kompleks. 8
Institusi pendidikan kesehatan masyarakat harus mampu menciptakan
ilmuan dan praktisi kesehatan yang dapat menopang pengembangan organisasi
dan manajemen pelajaran kesehatan yang dapat membantu memecahkan masalah
kesehatan masyarakat. Selain itu, peran serta masyarakat merupakan syarat mutlak
untuk mencapai keberhasilan pembangunan. Hal ini menegaskan bahwa

7

Ibid.
http://indonesia.go.id/id/index.php?option=com_content&task=view&id=7660&Itemid=
821. (diambil pada tanggal 12, jam: 20:30. 2011).
8

6

partisipasi aktif masyarakat dalam proses pembangunan menempati posisi yang
sangat penting. Pandangan bahwa masyarakat adalah semata-mata objek
pembangunan harus diganti dengan menempatkan masyarakat sebagai bagian dari
pelaku (subjek) pembangunan.9
Masyarakat harus ikut serta dalam proses pembangunan kesehatan sesuai
kondisinya. Situasi dan kondisi masyarakatlah yang seharusnya menentukan
secara objektif tingkat posisi partisipasinya dalam proses pembangunan; bukan
keputusan sepihak birokrasi yang selalu cenderung menafikan potensi masyarakat
yang pada akhirnya sering menempatkan masyarakat sebagai objek pembangunan.
Jika tidak ada pemahaman yang sama (antara dokter dengan pasien), maka
masyarakat Indonseia akan selalu berada dalam sebuah dunia yang saling tarik
menarik, dunia yang menghisap habis energi kebaikan, kebenaran dan kejujuran
menjadi energi yang sangat negatif. Dan masyarakat akan menjadi pribadi-pribadi
yang akan kehilangan diri, tidak produktif, dan perangkat penghubung
(komunkasi) yang memadai.
Dan untuk membangun semua hal di atas, maka dibutuhkan sebuah
jembatan atau instrumen yang dapat mengkomunikasikan hal-hal terkait.
Instrumen tersebut adalah komunikasi, pola komunikasi, dan strategi pelaksanaan
komunikasi. Komunikasi menjadi penting sebagai alur transformasi pendidikan
dan informasi agar tidak semakin rumit. Oleh karenanya, sebuah sistem
komunikasi sangat diperlukan untuk melancarkan mekanisme kerja organisasi
kesehatan (kedokteran) yang ada. Pola komunikasi sangat membantu dalam
memudahkan pencapaian tujuan dari sistem kesehatan yang hendak mencapai

9

Ibid.

7

kesamaan dan keserasian dalam pembangunan. Komunikasi dapat dijadikan
pedoman dalam proses interaksi antar individu dan kelompok di masyarakat.
Dalam

kehidupan,

komunikasi

merupakan

rumusan

baru

meskipun

pelaksanaannya secara implisit telah dilakukan oleh masyarakat dalam kehidupan
sehari-hari.10
Untuk mendapatkan satu sistem (pola) komunikasi yang bekerja selaras
dengan organisasi kesehatan agar mampu memberikan

dampak positif

(penyembuhan, kesadaran, ketenangan) terhadap perkembangan kesahatan
masyarakat. Maka, perlu adanya peranan lembaga kesehatan11 dan dokter yang
mampu menggunakan komunikasi sebagai perangkat (alat atau media) pelayanan
yang paling efektif dan efisien untuk mengetahui kebutuhan dan mendapatkan
keluhan masyarakat.
Dalam hubungan ini, perangkat (sarana dan prasarana) kesehatan berperan
penting bagi manusia untuk menemukan kembali kebugaran (kesehatan) jiwa
raganya dalam kehidupan sehari-hari. Klinik atau sejenis, merupakan salah satu
faktor pendukung manusia yang dapat membantu pemenuhan kebutuhan manusia
akan kesehatan. Sarana-sarana di atas adalah wadah sosial yang secara langsung
berhadapan dengan kebutuhan masyarakat. Klinik menjadi salah satu organisasi
sosial masyarakat yang mengandaikan adanya hubungan (komunikasi) sosial yang
seimbang dan searah, karena antara masyarakat dengan wadah sosial (kesehatan)
tersebut selalu akan memiliki hubungan timbal-balik (feedback), saling
membutuhkan satu sama lain.

10
11

Ibid.
Rumah Sakit, Klinik, Puskesmas, Posyandu dan lain sebagainya.

8

Sedangkan komunikasi merupakan kebutuhan dasar (kodrati/asali)
manusia sebagai prasyarat mutlak bagi perkembangan manusia, baik sebagai
individu, kelompok, maupun bermasyarakat. Dengan komunikasi, manusia dapat
menyampaikan perasaan, pikiran, pendapat, sikap dan informasi kepada
sesamanya secara timbal balik. Misalnya, komunikasi yang digunakan di dalam
kedokteran, seorang dokter dituntut memiliki pola komunikasi yang baik, lancar,
dan dapat dipahami oleh pasien. Komunikasi yang mudah dimengerti merupakan
salah satu keahlian yang harus dikuasai oleh seorang dokter. Keahlian dalam
komunikasi sangat menentukan keberhasilan seorang dokter dalam mengarahkan
atau menyelesaikan permasalahan sosial (kesehatan) masyarakat sebagai penderita
(pasien).12
Akan menjadi tidak mudah bagi dokter dalam melakukan identifikasi
mengenai permasalahan kesehatan masyarakat apabila tidak memiliki kecerdasan
(kelebihan) dalam mengkomunikasikan gejala-gejala yang dirasakan oleh pasien,
atau menjelaskan secara logika (masyarakat awam), sebab-akibat dari suatu
penyakit (berat) yang dialami. Di dalam sistem komunikasi kedokteran, ada
beberapa unsur komunikasi yang dibangun atas dasar saling percaya, keterbukaan,
kejujuran, dan pengertian akan kebutuhan pasien, harapan, dan juga kepentingan
dari masing-masing. Komunikasi harus berlangsung dalam kedudukan yang
setara. Memiliki cukup pengertian yang sama-sama dipahami.13
Tidak ada pembatas yang membedakan, adanya kepercayaan dan
kesepakatan bahwa komunikasi merupakan pertukaran informasi yang saling

12

http://fasilitator-masyarakat.org/index.php?pg=artikel_detail&id=190. Peranan Pekerja
Sosial Dalam Pendampingan, (diambil pada tanggal 12, jam: 20:30. 2011).
13
Ibid.

9

menguntugkan satu sama lain. Dengan adanya hubungan yang dilandasi saling
percaya serta saling mengerti akan kebutuhan masing-masing, maka pasien akan
dengan mudah memberikan keterangan dari gejala yang dirasakan, sehingga
dokter sebagai tenaga medis yang melayani kebutuhan pasien dapat mengarahkan
kebutuhan pasien pada solusi yang dapat meringankan problem kesehatan pasien.
Komunikasi efektif juga dibutuhkan dalam kerangka kerja kesehatan dan
kedokteran, efektif dalam arti, komunikasi yang selalu terkait pada keluhan
pasien, sehingga kendala dapat diatasi secara spesifik dan cepat. Jika ada opini
yang menyatakan bahwa komunikasi yang dikembangkan dengan cara-cara yang
lebih efektif dapat menyita waktu, adalah menjadi tugas ilmu kesehatan modern
untuk mengembangkan metodologi atau sistem dan pola komunikasi yang lebih
efektif bagi dunia kesehatan, misalnya, menggunakan simbol-simbol (verbal dan
non-verbal) yang lebih sederhana agar supaya dapat secara luas mencegah hal-hal
negatif yang ditimbulkan oleh kesalahan pengertian dan penerimaan komunikasi
antara kedua belah pihak.
Dari berbagai permasalahan di atas, penulis ingin menuangkan
problematika kehidupan sosial masyarakat dalam bernegara (kesehatan) juga
berbangsa (komunikasi) ke dalam satu karya tulis yang berjudul; “POLA
KOMUNIKASI

DOKTER

TERHADAP

PASIEN

PENYEMBUHAN DI KLINIK MAKMUR JAYA”.

DALAM

PROSES

10

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah
Mengingat luasnya pembahasan yang akan diteliti, maka penelitian ini
akan dibatasi pada : “Pola Komunikasi Dokter Terhadap Pasien Dalam Proses
Penyembuhan.”
Selanjutnya untuk mempermudah pembahasan, maka di sini penulis
memberikan perumusan, antara lain: Bagaimana Pola Komunikasi Dokter
Terhadap Pasien dalam Proses Penyembuhan di Klinik Makmur Jaya?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
Dengan memahami latar belakang seperti di atas, maka dalam penelitian
karya ilmiah ini, terdapat beberapa tujuan yang mendasar dan manfaat/kegunaan
dari penelitian tersebut. Adapun tujuannya, antara lain:

1. Tujuan Penelitian
a. Untuk

mengetahui

pola

komunikasi

dokter

terhadap

pasien

dilaksanakan di Klinik Makmur Jaya.
b. Untuk mengetahui bagaimana pengaruh komunikasi dokter terhadap
proses penyembuhan pasien.
c. Dan terakhir, mendapatkan informasi tentang bagaimana pentingnya
komunikasi bagi dokter dan pasien dalam kehidupan sosial
masyarakat.
2. Kegunaan Penelitian
a. Kegunaan Teoritis: Sebagai sumbangan pemikiran bagi pengembangan
disiplin ilmu dalam Komunikasi Penyiaran Islam.

11

b. Kegunaan Praktis: Sebagai bahan masukan bagi pengelola Klinik
Makmur Jaya tentang pola komunikasi di dalam melakukan pelayanan
terhadap pasien (masyarakat) demi terciptanya kesehatan yang
optimal.

D. Metodologi Penelitian
1. Pendekatan Penelitian
Untuk

penelitian

ini

penulis

menggunakan

penelitian

kualitatif.

Pendekatan kualitatif adalah penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa
kata-kata, tertulis atau lisan dari orang dan prilaku yang dapat diamati.
Kirk dan Miller memberikan pengertian penelitian kualitatif sebagai tradisi
penelitian yang tergantung pada pengamatan sesuai dengan orang-orang di sekitar
objek penelitian dalam bahasa dan peristilahan sendiri.14
Penelitian deskriptif merupakan penelitian yang dimaksudkan untuk
mengeksplorasi dan mengklasifikasikan suatu fenomena atau kenyataan sosial,
dengan jalan mendeskripsikan sejumlah variabel yang berkenaan dengan masalah
dan unit yang diteliti.15
Berdasarkan beberapa definisi di atas, peneliti melakukan penelitian
dengan menguraikan fakta-fakta yang didapat di lapangan berdasarkan hasil dari
penelitian lapangan (field research) yang kemudian diolah, dikaji dan dianalisis
agar dapat menghasilkan suatu kesimpulan.

14

Lexy J. Moloeng, Metode Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Remaja Rosda Karya,
2009), edisi revisi cet. Ke 26, h. 3.
15
Prof. Dr. H. Syamsir Salam, MS dan Jaenal Aripin, M.Ag, Metodologi Penelitian
Sosial, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2006), h. 13.

12

2. Sumber Data
Adapun sumber data pada penelitian ini terbagi menjadi dua bagian, yaitu
data primer dan data sekunder.
Data Primer diperoleh melalui proses penelitian langsung dari partisipan
atau sasaran penelitian, yaitu data yang berasal dari pasien yang berkunjung atau
berobat di Klinik Makmur Jaya, pengelola atau pengurus Klinik, dan pimpinan
Klinik.
Data Sekunder adalah data yang diperoleh dari catatan-catatan atau
dokumen yang terkait dengan penelitian dari lembaga yang diteliti ataupun
referensi dan buku-buku dari perpustakaan.

1. Lokasi Penelitian dan Waktu Penelitian
Penelitian ini berlokasi di Klinik Makmur Jaya, Jl. Kertamukti no. 84A,
Ciputat Tangerang Selatan Banten. Penelitian ini dilakukan bulan November 2010
sampai pada Februari 2011.
Alasan peneliti memilih lokasi tersebut adalah karena tempat tersebut
mudah diakses oleh peneliti, dan tempatnya pun strategis. Hal tersebut yang
membuat penulis melakukan penelitian di lokasi tersebut.
2. Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan data yang objektif, penulis menggunakan teknik:
a. Observasi, adalah pengamatan langsung dengan menggunakan seluruh
panca indera (melihat, mendengar, dan merasakan)16 dan pencatatan

16

Indriati Yulistiani, Ragam Penelitian Kualitatif: Penelitian Lapangan, (Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik: UI, 2001), h. 16.

13

secara sistematis gejala-gejala yang terjadi di lapangan penelitian,17
yaitu dengan mengadakan pengamatan langsung terhadap pelaksanaan
pelayanan pasien, yaitu proses komunikasi (prosedur) dokter dengan
pasien serta kegiatan pengurus (dokter dan tenaga medis) di Klinik
Makmur Jaya. Dalam melakukan observasi tersebut, keberadaan
penulis diketahui oleh pengelola, tutor, dan pasien.
b. Wawancara adalah salah satu alat untuk mengumpulkan (memperoleh)
informasi langsung tentang beberapa jenis data18, yang berkaitan
dengan permasalahan penelitian sehingga dapat menemukan data atau
keterangan mengenai kegiatan pelayanan Klinik Makmur Jaya. Dalam
penelitian ini penulis mewawancarai pimpinan Klinik, tenaga medis,
pengurus, dan pasien yang berkunjung (berobat) di Klinik Makmur
Jaya atau unsur-unsur yang berhubungan dengan penelitian atau
berkaitan dengan permasalahan yang ingin digali.
c. Dokumentasi
Dokumentasi adalah pengumpulan data yang diperoleh melalui
dokumen-dokumen dan pustaka sebagai bahan analisis dalam
penelitian ini. Yang memfokuskan masalah mengenai pola komunikasi
dokter terhadap pasien. Kajian dokumen ini seperti didefinisikan oleh
Barelson (1952, dalam Guba dan Lincoln, 1981:240) 19 sebagai teknik
penelitian untuk keperluan mendeskripsikan secara objektif, sistematis,
dan kuantitatif tentang manifestasi komunikasi.
17

Husaini Usman dan Purnomo Setiadi Akbar, Metodologi Penelitian Sosial, (Jakarta:
Bumi aksara, 1998). Cet. Ke-2 h. 54.
18
Sutrisno Hadi, “Metodologi Research,” Jogjakarta: Andi Offset, 1983), hal. 49.
19
Lexy J. Moloeng, Metode Penelitian Kualitatif, h. 220.

14

3. Subjek dan Objek Penelitian
Sesuai dengan karakteristik penelitian kualitatif teknik pemilihan subjek
dan objek penelitian ini adalah dokter dan pasien yang menurut peneliti dapat
memberikan data dan informasi tentang bagaimana pola komunikasi dokter
terhadap pasien memberikan dampak kesembuhan terhadap proses masa
penyembuhan di Klinik Makmur Jaya.
Dalam mencari data peneliti mewawancarai Pimpinan dari Klinik Makmur
Jaya sekaligus dokter, yaitu Dr. Ayat Rahayu, Sp. Rad. M. Kes, beberapa staf
(perawat) Klinik Makmur Jaya, yaitu, Novi Anggraini, dan Sulistia Velasiva,
peneliti juga mewawancarai beberapa pasien Klinik Makmur Jaya yang
berkunjung ke Klinik Makmur Jaya, yaitu Fenny, Zaskyah, Ilham, Reza Fahlevi.
4. Teknik Analisis Data
Yakni menelaah seluruh data yang tersedia dari berbagai sumber dengan
hasil yang diperoleh dari pengamatan peneliti secara langsung di lapangan.
Analisis data adalah proses penyusunan data agar bisa ditafsirkan, dan
memberikan makna. Model analisis yang dipakai dalam penelitian ini adalah
teknik analisis deskriptif. Hal ini didasarkan atas pertimbangan bahwa sasaran
penelitian ini adalah kegiatan analisis data yang meliputi kegiatan reduksi data,
reduksi yaitu menganalisa sesuatu secara keseluruhan kepada bagian-bagiannya
atau menjelaskan tahap akhir dari proses perkembangan sebelumnya yang lebih
sederhana.20

20

A. Pius Partanto dan M. Dahlan Al-Barry, Kamus Ilmiah Populer, (Surabaya:
Arkola,1994) Cet. ke-1.

15

E. Tinjauan Pustaka
Ada beberapa hasil penelitian yang hampir sama dengan penelitian yang
akan penulis jadikan bahan perbandingan. Pertama, Skripsi berjudul ”Pola
Komunikasi Dokter Dalam Proses Penyembuhan Pasien di Klinik Yasmin” 2007,
yang disusun oleh Bani, UHAMKA. Skripsi berisi mengenai pola komunikasi
melalui pendekatan psikologi dan therapy sebagai upaya memberikan stimulasi
dalam proses penyembuhan terhadap pasien.
Kedua, skripsi yang berjudul “Komunikasi Dokter dan Pasien dalam
Pelayanan Medis di Rumah Sakit UIN”, 2010, yang disusun oleh Susanti. Skripsi
ini berisi tentang peran komunikasi yang diterapkan Rumah Sakit UIN sebagai
media pelayanan yang dapat memberikan dampak pada proses kesembuhan jiwa
maupun pikiran dari pasien, tentang bagaimana pola komunikasi dokter dalam
mendiagnosa pasien agar mendapatkan kesembuhan, dan tidak takut mengahadapi
problem kesehatan.
Skripsi yang penulis bahas adalah mengenai pola komunikasi dokter
terhadap pasien dalam proses penyembuhan di Klinik Makmur Jaya. Fokus Klinik
tersebut adalah memberikan pelayanan kesehatan dengan cara-cara dialogis.
Fokus penulis pada skripsi ini adalah pola komunikasi dokter terhadap pasien
yang mempengaruhi proses penyembuhan yang ada di Klinik Makmur Jaya.

16

F. Sistematika Penulisan
Untuk memudahkan pembahasan masalah dalam penelitian ini, penulis
berusaha

membuat

sistematika

khusus

dengan

jalan

mengelompokkan

berdasarkan kesamaan dan hubungan masalah yang ada. Sistematika skripsi ini
dalam penulisannya akan dibagi menjadi 5 (Lima) bab, dan masing-masing bab
akan dibagi lagi menjadi su-sub bab, yaitu sebagai berikut;

BAB I

Pendahuluan, yang meliputi Latar Belakang Masalah, Pembatasan
dan Perumusan Masalah, Tujuan dan Manfaat Penelitian,
Metodologi

Penelitian,

Tinjauan

Pustaka,

dan

Sistematika

Penulisan.

BAB II

Landasan Komunikasi yang mencakup: Pengertian Komunikasi,
Unsur-unsur Komunikasi, Fungsi Komunikasi, Pola Komunikasi,
Pola Komunikasi Antar Pribadi, dan Hubungan Dokter dengan
Pasien.

BAB III

Gambaran Umum Klinik Makmur Jaya yang membahas tentang;
Profil Klinik Makmur Jaya, Sejarah Singkat Klinik Makmur Jaya,
Sarana dan Prasarana, Dokter dan Tenaga Medis..

BAB IV

Hasil penelitian terdiri dari: Pola Komunikasi Dokter dan Pasien di
Klinik Makmur Jaya, Penerapan Komunikasi Terhadap Pasien di
Klinik Makmur Jaya, Komunikasi Antar Pribadi Sebagai Media

17

Klinik Makmur Jaya dalam Meningkatkan Kesembuhan Pasien,
dan segala hal yang terkait atau berhubungan dengan penelitian
yang tengah dilakukan.
BAB V

Penutup, yang terdiri dari kesimpulan, saran-saran, dan kritik.

DAFTAR PUSTAKA

18

BAB II
LANDASAN KOMUNIKASI

A. Komunikasi
1. Pengertian Komunikasi
Secara etimologis, istilah komunikasi (communication) berasal dari bahasa
Latin communicatio, dan bersumber dari kata communis yang berarti sama. Sama
di sini maksudnya adalah sama makna.1 Komunikasi akan terjadi atau
berlangsung selama ada kesamaan makna mengenai apa yang dipercakapkan.
Kesamaan

bahasa

yang

dipergunakan

dalam

percakapan

belum

tentu

menimbulkan kesamaan makna.2 Dengan kata lain, memahami satu bahasa tidak
mengandaikan pemahaman akan makna yang dimaksudkan. Dan percakapan
dapat dikatakan komunikatif apabila kedua belah pihak, selain mengerti bahasa
yang digunakan, juga mengerti makna dari bahan yang diperbincangkan.
Pengertian komunikasi yang dipaparkan di atas sifatnya dasariah, dalam
arti kata bahwa komunikasi minimal harus mengandung makna, kesamaan makna
antara dua pihak yang terlibat. Karena kegiatan komunikasi tidak hanya bersifat
informatif, agar orang mengerti dan tahu, tetapi juga persuasif, yaitu orang lain
bersedia menerima suatu paham atau keyakinan, melakukan suatu perbuatan atau
kegiatan, dan lain-lain.3

1

Djamalul Abidin Ass, Komunikasi dan Bahasa Dakwah, (Jakarta: Gema Insani Press,
1996), h. 6.
2
Onong Uchjana Effendy, Ilmu Komunikasi; Teori dan Praktek, (Bandung: PT Remaja
Rosdakarya, 2009), cet. Ke-22, h. 9.
3
Ibid, h. 9.

18

19

Kata komunikasi menjadi salah satu kata yang paling sering digunakan
dalam percakapan baik dalam bahasa Inggris maupun bahasa Indonesia. Para ahli
telah melakukan berbagai upaya untuk mendefinisikan komunikasi, namun
membangun suatu definisi tunggal mengenai komunikasi terbukti tidak mungkin
dilakukan dan mungkin juga tidak terlalu bermanfaat. Frank Dance (1970)4
melakukan terobosan penting dalam upayanya memberikan klarifikasi terhadap
pengertian komunikasi. Ia mengklasifikasikan teori komunikasi yang banyak itu
berdasarkan sifat-sifatnya.
Dance mengajukan sejumlah elemen dasar yang digunakan untuk
membedakan komunikasi. Ia menemukan tiga hal yang disebutnya dengan
“diferensiasi konseptual kritis” (critical conceptual differentiation) yang
membentuk dimensi dasar teori komunikasi yang terdiri atas: 1) Dimensi level
observasi, komunikasi yang bersifat sangat luas (inclusive). Misalnya, definisi
komunikasi yang menyatakan komunikasi adalah: proses yang menghubungkan
bagian-bagian terputus dari dunia hidup satu sama lainnya;5
2) Dimensi kesengajaan, adalah komunikasi yang dikemukakan para ahli
yang hanya memasukkan faktor pengiriman dan penerimaan pesan yang memiliki
kesengajaan atau maksud tertentu (purposeful), misalnya: komunikasi adalah
situasi dimana sumber mengirimkan pesan kepada penerima dengan sengaja untuk
mempengaruhi tingkah laku penerima.

4

Theodore Clevenger Jr, Can One Not Communicate? A Conflict of Model,
Communication Studies, dalam Stephen W. Littlejohn, Theories of Human Communication, (New
Jersey: Wadsworth Publication, 1991), h. 6.
5
Terjemahan yang lebih sederhana, komunikasi adalah proses yang menghubungkan
antara berbagai makhluk hidup di dunia untuk saling memberikan pemahaman dan pengertian di
antara satu sama lain.

20

Sedangkan yang tidak memerlukan kesengajaan atau maksud tertentu
misalnya; komunikasi yang membuat dua atau beberapa orang memahami apa
yang menjadi monopoli satu atau beberapa orang lainnya); dan 3) Dimensi
penilaian

normatif,

adalah

komunikasi

yang

memasukkan

pernyataan

keberhasilan atau keakuratan (accuracy), misalnya, menganggap proses
komunikasi selalu berakhir dengan kesuksesan. Karena komunikasi adalah
pertukaran verbal dari pemikiran dan gagasan, asumsi ini diyakini bahwa
pemikiran atau gagasan itu selalu berhasil dipertukarkan.
Secara terminologi, menurut Carl I Hovland6 adalah: Upaya yang
sistematis untuk merumuskan secara tegar asas-asas penyampaian informasi
serta pembentukan pendapat dan sikap. Definisi Hovland, menunjukkan bahwa
yang dijadikan objek studi ilmu komunikasi bukan saja penyampaian informasi,
melainkan juga pembentukan pendapat umum (public opinion) dan sikap publik
(public attitude) yang dalam kehidupan sosial dan kehidupan politik memainkan
peranan yang amat penting. Hovland mengatakan bahwa komunikasi adalah
proses mengubah perilaku orang lain.
Sedangkan menurut Charles H. Cooley yang dikutip oleh Djoenaesih,
(1991 :15)7 mengemukakan konsep komunikasi, menurut definisnya yakni:
mekanisme yang mengadakan hubungan antara manusia mengembangkan semua
lambang dari pkiran bersama dengan arti yang menyertainya dan melalui
keleluasaan yang menyediakan tepat pada waktunya. Definisi lain seperti yang

6

Onong Uchjana Effendy, Ilmu Komunikasi, h. 9-10.
Tommy Suprapto dan Fahrianoor, Komunikasi Penyuluhan; Dalam Teori dan Praktek,
(Jogjakarta: Arti Bumi Intaran, 2004), cet. I, h. 2.
7

21

dikemukakan oleh Moor8 (1993: 78), yaitu penyampaian pengertian antar
individu. Menurutnya semua manusia dilandasi kapasitas untuk menyampaikan
maksud, hasrat, perasaan, pengetahuan dan pengalaman kepada orang lain. Wilbur
Schramm, menjelaskan komunikasi adalah proses saling berbagi informasi secara
bersama.9
Berdasarkan beberapa uraian tentang definisi dan pengertian komunikasi
tersebut di atas, jika disimpulkan, maka dapat digeneralisasi secara tegas, bahwa
komunikasi adalah proses penyampaian pesan dalam bentuk simbol atau lambang
yang melibatkan dua orang atau lebih yang terdiri atas pengirim (komunikator)
dan penerima (komunikan) dengan maksud untuk mencapai tujuan bersama
mengenai masalah atau persoalan masing-masing pihak.

2. Unsur-unsur Komunikasi
Komunikasi telah di definisikan sebagai usaha penyampaian pesan antar
manusia, dari pengertian komunikasi tersebut, tampak adanya sejumlah komponen
komunikasi yang pada dasarnya merupakan suatu persyaratan terjadinya proses
komunikasi, yang menjelaskan siapa? mengatakan apa? dengan saluran apa?
kepada siapa? dengan akibat atau hasil apa? (who? says what? in which channel?
to whom? with what effect?). (Lasswell 1960)10. Lasswell mencoba menjelaskan
enam unsur komunikasi, yang diantaranya adalah:

8

Ibid, h. 3.
D. Lawrence Kincaid dan Wilbur Schramm, Azas-azas Komunikasi antar Manusia.
Penerjemah Agus Setiadi (Jakarta: LP3ES bekerja sama dengan East-West Communication
Institute, 1977), h. 6.
10
Djamalul Abidin Ass, Komunikasi dan Bahasa Dakwah, h. 16-17.
9

22

1. Who? (siapa atau sumber atau komunikator)
Sumber atau komunikator adalah pelaku utama atau pihak yang
mempunyai kebutuhan untuk berkomunikasi atau yang memulai suatu komunikasi
(berbicara atau menulis), bisa seorang individu, kelompok, organisasi (surat kabar,
radio, televisi, film11) dan lain sebagainya. Dalam proses komunikasi ini, arus
pesan tidak hanya datang dari satu arah saja yaitu dari sumber ke sasaran,
melainkan ada suatu proses interaktif dan konvergen. Ini berarti komunikator dan
komunikan bisa berganti peran (karena ada proses feedback yang terjadi).
Ada beberapa ciri yang dilakukan komunikator dalam melakukan
kegiatannya, sesuai dengan situasi yang dihadapi. Ciri-cirinya dapat dibedakan
dalam beberapa model seperti:12
a. Komunikator yang membangun: 1) Mau mendengar pendapat orang
lain; 2) Saling pengertian; 3) Mengadakan komunikasi timbal balik;
dan 4) Menganggap orang lain memiliki pikiran yang lebih baik.
b. Komunikator yang mengendalikan: 1) Pendapatnya dianggap paling
baik; dan 2) Meninginkan komunikasi satu arah saja.
c. Komunikator yang melepaskan diri: 1) Banyak menerima; 2) Merasa
rendah diri; 3) Lebih suka mendengar; dan 4) Suka melempar
tanggung jawab.
d. Komunikator yang menarik diri: 1) Bersifat pesimis; 2) Suka melihat
keadaan seadanya; dan 3) Jarang memberikan buah pikiran.

11

A. W. Widjaja, Komunikasi dan Hubungan Masyarakat (Jakarta: PT. Bina Aksara,
1986), h. 12.
12
Ibid, h. 13-14.

23

2. Says What? (pesan)
Adapun yang dimaksud pesan dalam proses komunikasi adalah suatu
informasi yang akan dikirimkan kepada si penerima.13 Pesan dapat berupa verbal
atau non-verbal yang mewakili perasaan, nilai, gagasan atau maksud dari sumber.
Pesan verbal dapat berupa tulisan, seperti: surat, buku, majalah, memo, sedangkan
secara lisan dapat berupa percakapan tatap muka, melalui telepon, radio dan
sebagainya. Sedangkan pesan non verbal dapat berupa isyarat, gerakan badan,
ekpresi muka dan nada suara.14
Pesan yang disampaikan komunikator adalah pernyataan sebagai panduan
pikiran dan perasaan, dapat berupa ide, informasi, keluhan, keyakinan, imbauan,
anjuran, dan lain sebagainya. Pesan dapat disampaikan secara panjang, tetapi
perlu diperhatikan dan diarahkan pada tujuan dari komunikasi.15 Adapun pesan
yang dianggap berhasil disampaikan oleh komunikator harus memenuhi beberapa
syarat sebagai berikut:16 a) Pesan direncanakan secara baik serta sesuai dengan
kebutuhan pembaca; b) Pesan menggunakan bahasa yang dimengerti; dan c)
Pesan harus menarik minat dan kebutuhan pribadi penerima (kepuasan).
Pendapat lain mengatakan syarat-syarat pesan harus memenuhi:17 a)
Umum, Berisikan hal-hal umum dan mudah dipahami; b) Jelas dan gamblang,
tidak samar-samar, agar tidak salah tafsir; c) Bahasa yang jelas, menggunakan
istilah yang mudah dipahami; d) Positif; e) Seimbang, agar tidak berubah makna;
dan f) Penyesuaian dengan keinginan komunikan.

13

Anri Muhammad, Komunikasi Organisasi, (Jakarta: Bumi Aksara, 1995), h. 17.
Ibid., h. 18.
15
Onong Uchyana Effendy, Dinamika Komunikasi, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
2004), cet. Ke-6, h. 4.
16
Ibid., h. 15.
17
Ibid., h. 15-16.
14

24

3. In Which Channel? (saluran atau media)
Adapun yang dimaksud media di sini adalah saluran yang digunakan untuk
menyampaikan pesan dari sumber kepada penerima.18 Wahana atau alat untuk
menyampaikan pesan dari komunikator (sumber) kepada komunikan (penerima)
baik secara langsung (tatap muka) maupun tidak langsung, menyangkut semua
peralatan mekanik. Tanpa saluran (media), pesan-pesan tidak dapat menyebar
secara cepat dan luas.19
Dengan demikian media dapat dibedakan menjadi dua, yaitu media massa
(surat kabar, majalah, radio, televisi) dan media personal (surat, telepon,
telegram).20 Pada dasarnya komunikasi yang sering dilakukan dapat berlangsung
menurut dua saluran, yaitu: 1) Saluran formal (resmi), mengikuti garis wewenang
dari suatu organisasi (dari tingkat paling tinggi ke tingkat paling bawah atau dari
bawah ke tingkat atas). Juga terdapat saluran yang bersifat mendatar (horisontal).
Saluran yang dipakai dalam berkomunikasi dapat terjadi 3 arah, yaitu: ke atas, ke
bawah, dan ke samping (disebut tiga dimensi);21 dan 2) Saluran informal (tidak
resmi) Saluran informasi ini berbentuk dari kabar angin yang timbul karena orang
ingin mengetahui sesuatu yang berhubungan dengan dirinya, kelompoknya dan
lain-lain.22

18

I.B. Mantra, Komunikasi, (Jakarta: DepKes RI {Pusat Penyuluhan Kesehatan
Masyarakat}, 1994), h. 3.
19
Wiryanto, Teori Komunikasi Massa, (Jakarta: PT Grasindo, 2000), h. 7.
20
Onong Uchyana Effendi, Dinamika Komunikasi, h. 10.
21
A.W. Widjaja, Komunikasi dan Hubungan Masyaraka, h. 17.
22
Ibid., h. 18.

25

4. To Whom? (untuk siapa atau penerima)
Komunikan atau penerima pesan adalah orang yang menjadi sasaran
kegiatan komunikasi. Komunikasi atau penerima pesan bisa bertindak sebagai
pribadi atau orang banyak. 23 Komunikasi atau penerima pesan dapat dibedakan
menjadi 3 jenis yaitu sebagai berikut:24 1) Individu (sasaran tunggal); 2) Group
(kelompok), yang dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu: a) Kelompok kecil (small
group) yaitu sejumlah orang yang terlibat dalam interaksi satu sama lain dalam
suatu pertemuan yang bersifat tatap muka;25 b) Kelompok besar (large group)
adalah sekumpulan orang banyak (di sebuah lapangan); dan 3) Organisasi
(kumpulan sistem) yang berusaha mencapai tujuan tertentu.

5. With What Effect? (dampak atau efek)
Dampak atau efek dari suau komunikasi, yakni sikap atau tingkah laku
orang sebagai komunikan, sesuai atau tidak dengan yang diinginkan oleh
komunikator. Efek yang ditimbulkan dapat diklasifikasikan menurut kadarnya,
yakni:26 1) Dampak Kognitif, meningkatnya intelektual; 2) Dampak Afektif,
menimbulkan perasaan tertentu (misalnya, iba, terharu, sedih dan sebagainya; dan
3) Dampak Behavioral, dampak dalam bentuk perilaku, tindakan atau kegiatan.

23

YS. Gunadi, Himpunan Istilah Komunikasi, (Jakarta: Gramedia, 1998), h. 71
Stewart L. Tubbs-Sylvia Moss, Human Communication; Konteks-konteks Komunikasi,
Penerjemah Deddy Mulyana (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2000), h. 164.
25
Onong Uchyana Effendi, Dinamika Komunikasi, h. 72.
26
A.W. Widjaja, Komunikasi dan hubungan Masyarakat, h. 20.
24

26

6. Umpan Balik (feed back)
Umpan balik (feed back) adalah tanggapan (reaksi) dari penerima kepada
pengirim. Kemudian dapat pula timbul tanggapan atau reaksi kembali dari
pengirim kepada penerima. Maka terjadilah komunikasi timbal balik. Dengan
adanya umpan balik inilah yang menjadikan komunikasi menjadi dinamis.27
Umpan balik memainkan peranan yang amat penting dalam komunikasi, sebab ia
menentukan berlanjutnya atau berhentinya komunikasi yang dilancarkan. 28
Umpan balik dapat berwujud verbal dan non-verbal.29 Secara verbal misalnya
dengan menggunakan bahasa, sedangkan secara non-verbal misalnya dengan
isyarat.

3. Fungsi Komunikasi
Dalam kajian ilmu komunikasi banyak ahli mengemukakan pendapatnya
tentang fungsi-fungsi komunikasi. Dari berbagai pendapat yang berkembang,
misalnya pendapat Harold D. Laswell (1948)30, yang secara terperinci fungsifungsi komunikasi31 dikemukakan sebagai berikut: 1) Penjajagan (pengawasan
lingkungan); 2) Menghubungkan bagian-bagian yang terpisah dari msyarakat; dan
3) Menurunkan warisan sosial dari generasi ke generasi berikutnya.

27

Sutarto, Dasar-dasar Komunikasi Administrasi, (Yogyakarta: Duta Wacana University
Press, 1991), h. 46.
28
Onong Uchyana Effendi, Dinamika Komunikasi, h. 14.
29
A.W. Widjaja, Ilmu Komunikasi; Pengantar Studi, (Yogyakarta: Rineka Cipta, 2002),
h. 45.
30
Onong Uchaja Effendy, Ilmu Komunikasi, h. 27.
31
Paul Lazarfeld dan Robert K Merton mengemukakan fungsi komunikasi antara lain
penganugerahan status (status conferral), pengukuhan norma-norma, mengakhlakkan (ethcizing),
Jhon Vivian dalam bukunya The Media of Mass Comunication (1991) menyebutkan; (1) providing
information, (2) providing entertainment, (3) helping to persuade, dan (4) contributing to social
cohesion {mendorong kohesi sosial}. (Nurudin, 2010).

27

Charles R. Wright (1988)32 menambahkan satu fungsi, yakni entertaiment
(hiburan) yang menunjukan pada tindakan-tindakan komunikatif yang terutama
sekali dimaksudkan untuk menghibur dengan tidak mengindahkan efek-efek
instrumental

yang

dimilikinya.

Fungsi

pengawasan

yang

menunjukkan

pengumpulan dan distribusi informasi baik di dalam maupun di luar masyarakat
tertentu. Tindakan menghubungkan bagian-bagian meliputi interpretasi informasi
mengenai lingkungan dan pemakainnya untuk berperilaku dalam reaksinya
terhadap peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian. Adapun fungsi warisan sosial
berfokus pada pengetahuan, nilai dan norma sosial.
Apabila komunikasi dipandang dari arti yang lebih luas, tidak hanya
diartikan sebagai pertukaran berita dan pesan, tetapi sebagai kegiatan individu dan
kelompok mengenai tukar menujar data, fakta, dan ide, maka fungsi komunikasi
dalam tiap sistem sosial adalah sebagai berikut: 33 (a) Informasi, pengumpulan,
penyimpanan, penyebaran (berita, data, gambar, fakta dan pesan, opini dan
komentar);

(b)

Sosialisasi

(pemasyarakatan),

Penyediaan

sumber

ilmu

pengetahuan yang memungkinkan orang sadar akan fungsi sosial, sehingga ia
dapat aktif di dalam masyarakat; (c) Motivasi, Mendorong orang menentukan
pilihannya dan keinginannya; (d) Perdebatan dan diskusi, saling menukar fakta;
(e) Pendidikan: Pengalihan ilmu pengetahuan; (f) Memajukan kebudayaan; (g)
Hiburan; (h) Integrasi, menyediakan berbagai pesan yang diperlukan, agar saling
kenal dan mengerti dan menghargai kondisi, pandangan, dan keinginan orang lain.
dari beberapa pendapat.

32

Nurudin, Sistem Komunikasi Indonesia, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2010), h.

3

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

110 3487 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

39 891 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

39 803 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

18 525 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 676 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

57 1173 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1066 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 669 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 946 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

39 1162 23