Persepsi pasien terhadap keterampilan interpersonal dokter lulusan FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dalam komunikasi dokter-pasien di klinik Makmur Jaya Ciputat, Tangerang Selatan

PERSEPSI PASIEN TERHADAP KETERAMPILAN
INTERPERSONAL DOKTER LULUSAN FKIK UIN
SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA DALAM
KOMUNIKASI DOKTER-PASIEN DI KLINIK MAKMUR
JAYA CIPUTAT, TANGERANG SELATAN
Laporan Penelitian ini ditulis sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
SARJANA KEDOKTERAN

OLEH:
Annisa Zakiroh
1111103000033

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1435 H/2014 M

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT atas segala nikmat
dan karunia yang telah diberikan sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian
ini dengan baik. Shalawat serta salam penulis curahkan kepada Nabi Muhammad
SAW beserta para sahabat dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Laporan penelitian ini berjudul “Persepsi Pasien Terhadap Keterampilan
Interpersonal Dokter Lulusan FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Dalam
Komunikasi Dokter-Pasien di Klinik Makmur Jaya Ciputat, Tangerang Selatan”.
Dalam penyusunan laporan penelitian ini, penulis banyak menerima bantuan dari
berbagai pihak. Untuk itu penulis menghaturkan ucapan terima kasih dan
penghargaan kepada:
1. Prof. DR. (hc). Dr. M.K. Tadjudin, SpAnd selaku Dekan FKIK UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
2. dr. Witri Ardini,M. Gizi, Sp.GK selaku ketua Program Studi Pendidikan
Dokter FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. dr. Fika Ekayanti, M.Med.Ed selaku dosen pembimbing I dan dr. Lady CC
Koesoema, SpKK sebagai pembimbing II yang telah banyak menyediakan
waktu, tenaga dan pikiran untuk membimbing dan mengarahkan saya
dalam pengerjaan penelitian dan penyususnan laporan penelitian ini.
4. dr. Risahmawati, Ph.D dan dr. Bisatyo Mardjikoen, Sp.OT selaku penguji
sidang riset yang memberi banyak masukan pada revisi laporan penelitian
ini.
5. dr. Flori Ratnasari Ph.D selaku penanggung jawab riset Pendidikan Dokter
2011

yang

selalu

membantu

pelaksanaanproses

penelitian

dan

mengingatkan kami untuk segera menyelesaikan penelitian.
6. Bapak, Ibu dosen dan segenap Civitas Akademika FKIK UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta yang telah banyak memberikan ilmu dan pengalaman
kepada penulis.

v

7. dr. Ayat Rahayu, Sp.Rad selaku pemilik Klinik Makmur Jaya Ciputat,
Tangerang Selatan dan tenaga medis serta staf Klinik Makmur Jaya Ciputa
yang telah memberikan izin dan bantuan kepada penulis dalam melakukan
proses pengumpulan data di lokasi penelitian.
8. Ibunda Mundjilah, Amd.Keb, sumber kekuatan utama penulis yang selalu
memberikan motivasi baik moril maupun materil, kasih sayang dan
doatiada henti yang tulus kepada penulis.Ayahanda (Alm.) Suharyono,
sosok panutan yang meninggalkan banyak kebaikan dan kekuatan dalam
diri penulis, semoga Allah SWT menempatkan Bapak disisi terbaik-Nya.
Serta kakak-kakak penulis yang telah memberikan dukungan baik moril
maupun materil hingga penelitian ini selesai.
9. Avissa Mada, Wulan Roudotul, Silmi Lisani, Farah Nabilla, Rissa Adinda
dan Riwi Bedori yang telah menjadi teman terbaik penulis selama
menempuh pendidikan dan memberikan banyak sekali dukungan dan
bantuan tidak ternilai selama mengerjakan penelitian.
10. Teman-teman seangkatan penulis di Program Studi Pendidikan Dokter
2011 yang telah berbagi banyak ilmu dan kebersamaan selama tiga tahun
terakhir ini.
11. Teman-teman dan pihak lain yang tidak dapat penulis sebutkan satu per
satu.

Ciputat, 8 September 2014

Penulis

vi

ABSTRAK

Annisa Zakiroh. Pendidikan Dokter. Persepsi Pasien Terhadap Keterampilan
Interpersonal Dokter Lulusan FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Dalam
Komunikasi Dokter-Pasien di Klinik Makmur Jaya Ciputat, Tangerang Selatan.
2014.

Latar belakang: Keterampilan interpersonal yang baik dalam komunikasi dokter-pasien
dapat memberikan hasil pengobatan yang baik dan meningkatkan kepuasan pasien. FKIK
UIN Syarif Hidayatullah (FKIK UINSH) memiliki kurikulum Dokter Muslim yang salah
satu tujuannya adalahmeningkatkan keterampilan interpersonal islami pada lulusannya.
Tujuan: Mengetahui persepsi pasien terhadap keterampilan interpersonal dokter lulusan
dan bukan lulusan FKIK UIN Syarif Hidayatullah (UINSH) Jakarta di Klinik Makmur
Jaya Ciputat.
Metode: Disain penelitian ini adalah cross sectional dengan teknik pengambilan sampel
purposive sampling dan total sampel 204. Data dikumpulkan menggunakan
kuesionerpada Juli-Agustus 2014 dan dianalisa dengan SPSS 16 menggunakan Chi
square test.Hasil:Dokter lulusan FKIK UINSH menunjukkan keterampilan interpersonal
yang lebih baik (76,9%) dibanding dokter bukan lulusan FKIK UINSH (69,7%). Terdapat
perbedaan

persepsi

pasien

yang

signifikan

(p=0,000)

terhadap

keterampilan

interpersonalantara dokter lulusan dengan bukan lulusan FKIK UINSH di Klinik Makmur
Jaya Ciputat.
Kesimpulan: Persepsi pasien terhadap keterampilan interpersonal dokter lulusan FKIK
UINSH lebih tinggi dibanding dengan dokter bukan lulusan FKIK UINSH di Klinik
Makmur Jaya Ciputat, Tangerang Selatan.
Kata Kunci: persepsi pasien, keterampilan interpersonal, komunikasi dokter-pasien.

vii

Annisa Zakiroh. Medical Study.Patients’ Perception on Doctor’s Interpersonal Skills
by Doctor Who Graduated from Faculty of Medicine and Health Science Islamic State
University Syarif Hidayatullah Jakarta in Doctor-Patient Communication at Makmur
Jaya Clinic Ciputat, South Tangerang. 2014.

Background: Good interpersonal skill on doctor-patient communication can give positive
result of therapy and improve patients’ satisfication. Faculty of Medicine and Health
Science Islamic State University Syarif Hidayatullah has Moslem Doctor Curriculum as
an effort to increase islamicinterpersonal skill to their graduates.
Aim: To identify patients’ perception on doctor’s interpersonal skills in doctor-patient
communication between doctor who graduated and isn’t graduated from Faculty of
Medicine and Health Science Islamic State University Syarif Hidayatullah Jakarta at
Makmur Jaya Clinic Ciputat, South Tangerang.
Method: The study design was cross sectional using purposive sampling technique and
total samples were 204. Data was gathered using questionnaires within July-August
2014and analyzed by SPSS 16 using Chi square test.
Results: Doctor who graduated from Faculty of Medicine and Health Science Islamic
State University Syarif Hidayatullah Jakarta shows good interpersonal skill (76,9%)
better than doctor who isn’t graduated (69,7%). There was significant difference
(p=0,000)of patients’ perception on doctor’s interpersonal skills between doctor who
graduated and isn’t graduated from Faculty of Medicine and Health Science Islamic
State University Syarif Hidayatullah Jakarta.
Conclusion: Patients’ perception of doctor’s interpersonal skill on doctor who graduated
is higher than doctor who isn’t graduatedfrom Faculty of Medicine and Health Science
Islamic State University Syarif Hidayatullah Jakarta in Makmur Jaya Clinic Ciputat.
Keywords: patients’ perception, interpersonal skills, doctor-patient comunication.

viii

DAFTAR ISI
LEMBAR JUDUL............................................................................................

i

LEMBAR PERNYATAAN ............................................................................

ii

LEMBAR PERSETUJUAN ...........................................................................

iii

LEMBAR PENGESAHAN .............................................................................

iv

KATA PENGANTAR .....................................................................................

v

ABSTRAK ........................................................................................................

vii

DAFTAR ISI ....................................................................................................

ix

DAFTAR TABEL ............................................................................................

xi

DAFTAR GAMBAR .......................................................................................

xiii

DAFTAR LAMPIRAN ...................................................................................

xiv

BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang ..................................................................................

1

1.2 Rumusan masalah .............................................................................

3

1.3 Hipotesis ...........................................................................................

4

1.4 Tujuan penelitian ..............................................................................

4

1.4.1 Tujuan umum ..........................................................................

4

1.4.2 Tujuan khusus .........................................................................

4

1.5 Manfaat penelitian ............................................................................

4

BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Keterampilan Interpersonal…............................................................

6

2.2 Komunikasi........................................................... ...........................

12

2.3 Komunikasi Dokter-Pasien...............................................................

13

2.4 Komunikasi Efektif Dokter-Pasien....................................................

17

2.5 Kurikulum Pendidikan Profesi Dokter Indonesia ............................

23

2.6 Kurikulum Dokter Muslim UIN Syarif Hidayatullah Jakarta...........

26

2.7 Kerangka/Landasan Teori..................................................................

31

2.8 Kerangka Konsep..............................................................................

32

2.9 Definisi Operasional..........................................................................

32

ix

BAB 3 METODE PENELITIAN
3.1. Disain Penelitian ...............................................................................

33

3.2. Lokasi dan Waktu Penelitian ...........................................................

33

3.3. Populasi dan Sampel Penelitian ........................................................

33

3.4. Cara Kerja Penelitian .......................................................................

33

3.5. Variabel Yang Diteliti........................................................................

34

3.6. Manajemen Data ...............................................................................

35

BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN .............................................................

37

BAB 5 SIMPULAN DAN SARAN ..................................................................

59

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................

61

LAMPIRAN ......................................................................................................

64

x

DAFTAR TABEL
Tabel 2.1.1.1. Taksonomi Keterampilan Interpersonal ....................................... 7
Tabel 2.9. Definisi Operasional .......................................................................... 32
Tabel 3.2.1.Timeline Penelitian........................................................................... 33
Tabel 4.1.3.1 Distribusi Responden Penelitian ................................................... 39
Tabel 4.1.3.2 Deskripsi Dokter ........................................................................... 40
Tabel 4.1.3.3 Perbedaan Persepsi Pasien Terhadap Kemampuan Dokter
Menunjukkan Pemahaman Atas Perasaan Pasien ............................................... 41
Tabel 4.1.3.4 Perbedaan Persepsi Pasien Terhadap Kemampuan Dokter
Menenangkan Pasien Saat Mengeluhkan Sakit Yang Dirasakan ........................ 41
Tabel 4.1.3.5 Perbedaan Persepsi Pasien Terhadap Kemampuan Dokter
Menjelaskan Dengan Bahasa Yang Sederhana Tentang Penyakit Pasien .......... 42
Tabel 4.1.3.6 Perbedaan Persepsi Pasien Terhadap Kemampuan Dokter
Meyakinkan Pasien Bahwa Pasien Akan Baik-baik Saja ................................... 42
Tabel 4.1.3.7 Perbedaan Persepsi Pasien Terhadap Kemampuan Dokter
Menjelaskan Pengobatan Yang Harus Pasien Lakukan Dengan Gamblang ..... 43
Tabel 4.1.3.8 Perbedaan Persepsi Pasien Terhadap Keterbukaan Dokter Dalam
Menerima Pendapat Pasien ................................................................................ 44
Tabel 4.1.3.9 Perbedaan Persepsi Pasien Terhadap Kemauan Dokter Memberi
Kesempatan Bagi Pasien Untuk Bertanya........................................................... 44
Tabel

4.1.3.10

Perbedaan

Persepsi

Pasien

Terhadap

Kemauan

Dokter

Mengapresiasi Tindakan dan Jenis Pengobatan Yang Pernah Pasien Lakukan
Sebelumnya ........................................................................................................... 45
Tabel 4.1.3.11 Perbedaan Persepsi Pasien Terhadap Kemampuan Dokter Terlihat
Tenang Selama Pemeriksaan dan Menenangkan Pasien ...................................... 45
Tabel 4.1.3.12 Perbedaan Persepsi Pasien Terhadap Kemampuan Dokter
Memperhatikan Pasien Saat Pasien Bicara ........................................................ 46
Tabel 4.1.3.13 Perbedaan Persepsi Pasien Terhadap Kemampuan Dokter
Menjelaskan Diagnosis Dengan Suara Tegas ....................................................... 46
xi

Tabel

4.1.3.14

Perbedaan

Persepsi

Pasien

Terhadap

Kemauan

Dokter

Mengizinkan Pasien Menelepon ke Nomor Pribadinya Dalam Keadaan
Darurat................................................................................................................. 47
Tabel 4.1.3.15 Perbedaan Persepsi Pasien Terhadap Kemampuan Dokter
Menjelaskan Seluruh Prosedur Pengobatan Dengan Sabar ................................ 48
Tabel 4.1.3.16 Perbedaan Persepsi Pasien Terhadap Ketidakseganan Dokter
Bertanya Tentang Keadaan Keluarga Pasien ...................................................... 48
Tabel

4.1.3.17

Perbedaan

Persepsi

Pasien

Terhadap

Kemauan

Dokter

Menanyakan Daerah Tempat Tinggal Pasien ..................................................... 49
Tabel 4.1.3.18 Perbedaan Persepsi Pasien Terhadap Kemampuan Dokter
Mengingat Nama Pasien Dengan Baik ............................................................... 49
Tabel 4.1.3.19 Perbedaan Persepsi Pasien Terhadap Kemampuan Dokter Memberi
Penjelasan Yang Lengkap Tentang Penyakit Yang Pasien Derita ...................... 50
Tabel 4.1.3.20 Perbedaan Persepsi Pasien Terhadap Kemampuan Dokter
Menunjukkan Kepedulian Pada Kesembuhan Pasien ......................................... 51
Tabel 4.1.3.21Perbedaan Persepsi Pasien Terhadap Kemauan Dokter Menyapa
Pasien Dengan Memanggil Nama ....................................................................... 51
Tabel 4.1.3.22 Perbedaan Persepsi Pasien Terhadap Kemampuan Dokter
Menjelaskan Riwayat Penyakit Pasien Dari Awal Sampai Tuntas ..................... 52
Tabel 4.1.3.23Perbedaan Persepsi Pasien Terhadap Kejujuran Dokter Mengatakan
Perihal Penyakit Yang Pasien Derita .................................................................. 52
Tabel 4.1.3.24Perbedaan Persepsi Pasien Terhadap Tidak Adanya Usaha Dokter
Menyembunyikan Diagnosis Penyakit Pasien .................................................... 53
Tabel 4.1.3.25 Persepsi Pasien Terhadap Keterampilan Interpersonal Dalam
Komuikasi Dokter-Pasien ................................................................................... 53
Tabel 4.1.3.26 Distribusi Pilihan Pasien Lebih Suka Langsung Berkonsultasi
Dengan Dokter Spesialis Dibandingkan ke Dokter Umum ................................ 54

xii

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1.2.1. Siklus Keterampilan Interpersonal ...........................................

9

Gambar 2.1.2.2 Model Penampilan Interpersonal ..............................................

9

Gambar 2.2.2.1. Model Proses Komunikasi ....................................................... 12
Gambar 2.3.2.1. Tahap komunikasi dokter-pasien ............................................. 14
Gambar 2.5.1. Pondasi dan Pilar Kompetensi .................................................... 24
Gambar 2.7. Kerangka Teori ............................................................................... 31
Gambar 2.8. Kerangka Konsep ........................................................................... 32
Gambar 4.1.3.. Alasan Responden Lebih Suka Langsung Berkonsultasi Dengan
Dokter Spesialis .................................................................................................. 55
Gambar 4.1.3.2 Alasan Responden Lebih Suka Berkonsultasi Dengan Dokter
Umum.................................................................................................................. 56
Gambar 4.1.3.3 Harapan Pasien Tentang Keterampilan Interpersonal Yang Harus
Dimiliki Seorang Dokter ..................................................................................... 57

xiii

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1.Hasil Pengolahan Data Penelitian ................................................... 64
Lampiran 2. Surat Izin Penelitian Kepada Pimpinan Klinik Makmur Jaya,
Ciputat ................................................................................................................. 83
Lampiran 3. Kuesioner Penelitian ....................................................................... 84
Lampiran 4. Riwayat Hidup Penulis ................................................................... 86

xiv

BAB I
PENDAHULUAN
1.1.

Latar Belakang
Menurut Konsil Kedokteran Indonesia1, komunikasi dokter-pasien adalah
salah satu kompetensi yang harus dimiliki seorang dokter, karena kompetensi ini
dapat menentukan keberhasilan penyelesaian masalah kesehatan pasien. Hingga
saat ini, dapat dikatakan kalau para dokter masih mengabaikan kompetensi
komunikasi dokter-pasien, baik dalam proses pendidikan maupun praktik
kedokteran.
Di Indonesia, banyak dokter merasa tidak memiliki waktu yang cukup
untuk berbincang-bincang dengan pasiennya, sehingga hanya bertanya seperlunya.
Hal ini dapat berakibat dokter tidak mendapat keterangan yang cukup untuk
menegakkan diagnosis dan menentukan perencanaan dan tindakan lebih lanjut.
Dari sisi pasien, umumnya pasien merasa dalam posisi lebih rendah di hadapan
dokter (superior-inferior), sehingga takut bertanya dan bercerita atau hanya
menjawab sesuai pertanyaan dokter saja.
Menggali keterangan dari pasien tidaklah mudah, karena memang tidak
dapat diperoleh begitu saja. Perlu dibangun hubungan saling percaya yang
dilandasi keterbukaan, kejujuran dan pengertian akan kebutuhan, harapan,
maupun kepentingan masing-masing. Dengan terbangunnya hubungan saling
percaya, pasien akan memberikan keterangan yang benar dan lengkap sehingga
dapat membantu dokter dalam mendiagnosis penyakit pasien secara baik dan
memberi obat yang tepat bagi pasien.
Komunikasi yang baik dan berlangsung dalam kedudukan setara (tidak
superior-inferior) sangat diperlukan agar pasien mau/dapat menceritakan
sakit/keluhan yang dialaminya secara jujur dan jelas. Komunikasi efektif mampu
mempengaruhi emosi pasien dalam pengambilan keputusan tentang rencana
tindakan selanjutnya, sedangkan komunikasi tidak efektif akan mengundang
masalah.
1

2

Berdasarkan penelitian Iswandari, Suryadi dan Nugraha mengenai
ketidakpuasan pasien di Indonesia terhadap kinerja dokter di layanan primer
umumnya dihubungkan dengan komunikasi dan perilaku, sebagaimana tercantum
dalam penelitian Sri Linuwih2. Sri Linuwih2 juga menyebutkan bahwa hal tersebut
sejalan dengan laporan tentang data pengaduan masyarakat yang diterima Majelis
Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI) selama periode Maret 2006
hingga Mei 2010, dimana terdapat 126 pengaduan berupa pelanggaran asuhan
medik, kompetensi dan komunikasi.
Pernyataan dr. Khie Chen, salah satu anggota Perhimpunan Ahli Penyakit
Dalam Indonesia (PAPDI) yang dikutip oleh Arianto3 mengemukakan bahwa
terjadinya sengketa medis lebih sering disebabkan kesenjangan persepsi antara
dokter dan pasien. Pasien dan keluarga merasa kurang puas dengan proses atau
hasil pengobatan yang dilakukan, sedangkan pada sisi lain, dokter dan pihak
rumah sakit merasa sudah melakukan pengobatan secara optimal. Sengketa medis
juga terjadi karena adanya ekspektasi berlebihan dari pasien terhadap dokter,
adanya perbedaan ‘bahasa’, makna pesan, dan atau ketidaksiapan dokter untuk
menjalin komunikasi yang empatik.
Keterampilan interpersonal menjadi semakin dibutuhkan dalam profesi
kedokteran, karena kini ekspektasi pasien terhadap dokter tidak lagi hanya
pengetahuan mengenai ilmu kedokteran saja. Untuk melakukan praktik
kedokteran

profesional

dengan

efektif,

dokter

harus

mengembangkan

keterampilan interpersonal dalam komunikasi, kepemimpinan, manajemen,
mengajar dan manajemen waktu. Hal tersebut kini menjadi subjek pengajaran
yang semakin penting dalam pendidikan kedokteran.4
Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta, sebagai institusi pendidikan kedokteran mencoba menangkap isu tersebut
dan memberi solusi dari sisi pendidikan. Keunggulan FKIK berupa kurikulum
untuk menghasilkan lulusan sebagai Dokter Muslim. Salah satu tujuan Dokter
Muslim adalah untuk menanamkan nilai-nilai keislaman melalui kegiatan-

3

kegiatan pendidikannya dengan harapan hal ini dapat memicu peningkatan
kemampuan interpersonal yang islami kelak ketika menjadi seorang dokter.
Keterampilan interpersonal dokter dalam melakukan komunikasi dokterpasien hingga saat ini masih belum banyak diteliti di Indonesia. Penelitian
Iskandar yang tercantum dalam penelitian Herqutanto5 menunjukkan bahwa
dalam komunikasi petugas kesehatan dengan pasiennya, kualitas informasi yang
ditukar masih belum baik. Hal tersebut terjadi karena keterampilan komunikasi
petugas kesehatannya sangat terbatas.
Berdasarkan target yang telah ditentukan terhadap dokter lulusan FKIK
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta menyangkut penerapan kurikulum Dokter
Muslim, maka perlu adanya tindak lanjut pencapaian target tersebut.
Penindaklanjutan ini berupa penilaian apakah dokter lulusan FKIK UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta telah memenuhi target yang ditetapkan oleh institusi. Oleh
karena itu, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian untuk mengetahui
bagaimana keterampilan interpersonal dokter lulusan FKIK UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta berdasarkan persepsi pasien. Tidak hanya itu, penelitian ini
juga bertujuan membuat perbandingan persepsi pasien terhadap keterampilan
interpersonal dokter lulusan FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan dokter
bukan lulusan FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

1.2.

Rumusan Masalah
Berdasarkan pada uraian latar belakang masalah tersebut, dapat
dirumuskan permasalahan sebagai berikut:
Apakah terdapat perbedaan persepsi pasien terhadap keterampilan
interpersonal dalam komunikasi dokter-pasien antara dokter lulusan dengan bukan
lulusan FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di Klinik Makmur Jaya Ciputat,
Tangerang Selatan?

4

1.3.

Hipotesis
Terdapat perbedaan persepsi pasien terhadap keterampilan interpersonal
dalam komunikasi dokter-pasien antara dokter lulusan dengan bukan lulusan
FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di Klinik Makmur Jaya Ciputat,
Tangerang Selatan.

1.4.

Tujuan Penelitian

1.4.1. Tujuan Umum
Mengetahui persepsi pasien terhadap keterampilan interpersonal dalam
komunikasi dokter-pasien dokter lulusan dan bukan lulusan FKIK UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta di Klinik Makmur Jaya Ciputat, Tangerang Selatan.
1.4.2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui

perbedaan

persepsi

pasien

terhadap

keterampilan

interpersonal dalam komunikasi dokter-pasien antara dokter lulusan
dengan bukan lulusan FKIK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
b. Mengetahui pilihan pasien lebih suka langsung berkonsultasi dengan
dokter spesialis atau ke dokter umum jika sakit beserta alasannya.
c. Mengetahui harapan pasien tentang keterampilan interpersonal yang harus
dimiliki seorang dokter.

1.5.

Manfaat Penelitian

1.5.1. Bagi Peneliti
a. Sebagai syarat untuk kelulusan pendidikan preklinik Program Studi
Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta.
b. Melatih kemampuan pribadi dalam melakukan riset dan penelitian.
1.5.2. Bagi Institusi
a. Melaksanakan Tri Darma Perguruan Tinggi dalam melaksanakan fungsi
dan tugas perguruan tinggi sebagai lembaga yang menyelenggarakan
pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat.

5

b. Menjadi data penelitian untuk rujukan bagi penelitian berikutnya.
1.5.3. Bagi Masyarakat
Agar dapat menerima pelayanan kedokteran yang lebih berkualitas khususnya
dalam penerapan keterampilan interpersonal dalam komunikasi dokter-pasien
dalam praktik kedokteran profesional.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Keterampilan Interpersonal

2.1.1. Pengertian
Keterampilan interpersonal adalah keterampilan dasar yang termasuk
kedalamnya adalah kemampuan berhadapan dan berhubungan dengan orang lain
dalam hubungan satu orang dengan orang lainnya.6
Jika keterampilan komunikasi terlihat dari perilaku seseorang dan
bagaimana ia mencapai tujuan-tujuan yang diinginkannya, maka keterampilan
interpersonal lebih berorientasi pada proses dan hubungan dengan orang lain.
Keterampilan interpersonal berfokus pada komunikasi terhadap orang lain.
Stewart mengatakan bahwa keterampilan interpersonal dibangun berdasarkan
keterampilan dasar komunikasi, dimana jika hanya ada keterampilan komunikasi
saja, itu tidak akan cukup untuk membangun dan mempertahakankan hubungan
terapetik dengan pasien.7
Elemen penting dari keterampilan interpersonal termasuk:
1. Hormat, memperlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan;
2. Memperhatikan pasien dari apa yang dia katakan hingga gerak-geriknya;
3. Selalu benar-benar ada saat dibutuhkan pasien, sadar akan pentingnya
hubungan dengan pasien;
4. Memiliki

maksud

kepedulian

yang

baik,

tidak

hanya

untuk

menyembuhkan penderitaan yang pasien rasakan tapi juga merasa ingin
tahu dan tertarik dengan ide, nilai, dan kepentingan pasien;
5. Fleksibilitas, yang berarti mampu memantau hubungan dengan pasien
yang sesungguhnya dan menjadikan keterampilan interpersonal sebagai
kebutuhan. 7

6

7

Tabel 2.1.1.1. Taksonomi Keterampilan Interpersonal
Keterampilan
Interpersonal

Mendengar aktif

Komunikasi
lisan
Komunikasi
tertulis
Komunikasi
tegas
Komunikasi
nonverbal

Kerjasama dan
koordinasi

Kepercayaan

Kepekaan antarbudaya

Orientasi
pelayanan

Presentasi diri

Pengaruh sosial

Deskripsi

Keterampilan Terkait

Keterampilan Komunikasi
Menaruh perhatian penuh pada apa yang
dikatakan, menanyakan pihak lain untuk
Mendengar dengan empati dan simpati;
menjelaskan lebih tepat tentang apa yang ia
mendengar untuk pemahaman
katakan, dan memohon kata-kata atau ide
yang ambigu untuk diulang
Mengabarkan; mengekspresikan diri anda
dengan gamblang; mengkomunikasikan
Mengirim pesan verbal secara konstruktif
emosi; komunikasi inteerpersonal
Kejelasan; mengkomunikasikan arti yang
Menulis dengan jelas dan tepat
dimaksudkan
Secara langsung mengekspresikan perasaan,
Mengemukakan ide; ketegasan sosial;
pilihan, kebutuhan dan opini seseorang
mempertahankan hak; peintah;
dengan cara yang tidak mengancam tidak juga
menyatakan kebutuhan anda
menghukum orang lain
Menguatkan atau menggantikan komunikasi
Ekspresi perasaan; persepsi/pengakuan
wicara melalui penggunaan bahasa tubuh,
perasaan; ekspresi wajah
isyarat, suara, atau benda-benda
Membangun Hubungan
Penyesuaian; kesadaran berbagi bersama
Pemahaman dan bekerja dengan orang lain
situasional; pelaksanaan pengawasan dan
dalam grup atau timl termasuk menawarkan
umpan balik; hubungan interpersonal;
bantuan kepada yang membutuhkan dan
komunikasi; membuat keputusan;
mengerjakan aktivitas untuk memenuhi
keterpaduan; penyelesaian masalah dalam
kebutuhan tim
grup; menjadi pelaku dalam tim
Keyakinan atau kepercayaan individu pada
integritas atau hal yang dapat dipercaya dari
seseorang atau sesuatu; kemauan sebuah pihak Kesadaran diri; penyingkapan diri;
untuk menjadi lemah pada aksi dari pihak lain tangkas
sesuai dengan ekspektasi bahwa beberapa aksi
penting tertentu akan dilakukan
Penerimaan; keterbukaan terhadap ide-ide
Menghargai perbedaan individu diantara
baru; kepekaan kepada orang lain; relasi
orang-orang
lintas budaya
Melampaui ekspektasi pelanggan;
Sebuah perangkat kecendrungan individu
keterampilan kepuasan pelanggan;
dasar dan kecondongan untuk menyediakan
kemampuan untuk menjaga hubungan
pelayanan, menjadi sopan dan penolong dalam
baik dengan klien; penjualan; membangun
berhadapan dengan pelanggan, klien, dan
hubungan; mewakili organisasi kepada
rekan
pelanggan dan publik
Proses dimana seorang individu mencoba
mempengaruhi reaksi dan gambaran yang
orang miliki tentang mereka dan ide-ide
Ekspresi diri; pengelolaan kesan;
mereka; mengelola kesan-kesan agar
pengelolaan persepsi; promosi diri
mencakup range yang luas dari perilaku yang
dapat membentuk pengaruh positif kepada
rekan kerja
Memandu orang-orang ke arah adopsi
Etika bisnis; pemberian alasan;
perilaku, kepercayaan dan sikap yang spesifik; keramahan; pembangunan koalisi; tawarmempengaruhi distribusi keuntungan dan
menawar; permohonan otoritas yang lebih

8

kerugian pada organisasi melalui sebuah aksi

Resolusi dan
negosiasi konflik

Mengadvokasi sebuah posisi dengan pikiran
terbuka, tidak memasukkan pertentangan
dengan anggota lain ke dalam urusan pribadi,
menempatkan diri pada posisi orang lain,
mengikuti argument rasional dan mencegah
evaluasi yang terlalu dini, dan mencoba
mempersatukan ide-ide terbaik dari seluruh
pandangan dan perspektif

tinggi; mengesankan persetujuan; relasi;
persuasi, keterampilan politik yang positif
Gaya mengatasi konflik; pengelolaan
konflik; pencegahan konflik;
berkompromi; penyelesaian masalah;
penawaran integratif; negosiasi berprinsip;
negosiasi kultural; mediasi

Sumber: Klein, DeRouin dan Salas (2006) sebagaimana tercantum pada Assesing
21st Century Skill.8

2.1.2. Pentingnya Keterampilan Interpersonal
Dalam kehidupan sehari-hari, hampir tidak mungkin manusia tidak
berhubungan dengan manusia lainnya. Dalam skema hidup bersama ini muncul
kebutuhan untuk memahami kebutuhan manusia lain, maka timbullah komunikasi
antar manusia.9
Ketika berkomunikasi, banyak hal yang harus dikuasai dan mengerti,
antara lain:
1. Bagaimana mengenal diri sendiri,
2. Bagaimana mengenal dan memahami orang lain,
3. Bagaimana mengekspresikan diri,
4. Bagaimana menegaskan kebutuhan,
5. Bagaimana memberikan dan menerima masukan,
6. Bagaimana mendengarkan pembicaraan dengan orang lain,
7. Bagaimana memengaruhi orang lain,
8. Bagaimana menyesuaikan diri terhadap lingkungan dan orang lain,
9. Bagaimana menjadi anggota sebuah tim/kelompok/grup,
10. Bagaimana melakukan negosiasi,
11. Bagaimana menyelesaikan konflik,
12. dan lainnya.9
Kemampuan

diatas

sangat

memengaruhi

bagaimana

seseorang

mempersepsikan dirinya terhadap orang lain, dan bagaimana orang lain
mempersepsikan dirinya. Dengan memiliki keterampilan interpersonal yang baik,

9

hal pertama yang dapat dirasakan adalah rasa percaya diri yang kemudian
membuat seseorang dihargai oleh orang lain, dan pada akhirnya akan dapat
membangun hubungan yang harmonis dengan orang lain.9
Dalam dunia kerja dan bisnis, keterampilan interpersonal yang baik dapat
membawa kesuksesan dalam perkerjaan dan tentunya akan memberikan
keuntungan finansial/material maupun keuntungan spiritual.9

Keterampilan
interpersonal

Memimpin diri
dan kelompok

Memahami dan
bekerjasama
dengan orang lain

Memahami dan
bekerjasama
dalam tim

Gambar 2.1.2.1. Siklus keterampilan interpersonal.
Sumber: Lestari, Riri, Ak. 2007.
Pengalaman
hidup
sebelumnya
Perbedaan
Individu
- KE dan
kecerdasan
lainnya
- ‘5 Besar’
Ciri
Kepribadian
- Orientasi
tim/kolektif

-

Karakteristik
Situasional
Pengaturan
lingkungan
Tuntutan tugas
Tujuan, rencana
(agenda)
Motivasi
Peran
Norma dan
aturan

Hasil individu
- Motivasi
- Kepuasan
- Penampilan
Persepsi
&
Proses
Penyaringan
Kognitif

Gambar 2.1.2.2 Model penampilan interpersonal.

Eksekusi
Keterampilan
Interpersonal
- KI Komunikasi
- KI Membangunhubungan

Hasil grup/tim
- Penampilan tim
- Pemahaman
berbagi
Hasil organisasi
- Produktivitas
- Penjualan
- Kepuasan
pelanggan

10

CATATAN: Lima besar ciri kepribadian = keterbukaan, teliti, ekstraversion,
keramahan, dan neurotisisme; KE = kecerdasan emosional; KI = keterampilan
interpersonal.
Sumber: Presentasi Stephen Fiore. Klein, DeRouin dan Salas (2006) sebagaimana
tercantum pada Assesing 21st Century Skill.8

Gambar

2.1.2.2

menunjukkan

pegembangan

model

penampilan

interpersonal yang mengilustrasikan interaksi antara berbagai pengaruh, seperti
karakteristik personal, pengalaman hidup sebelumnya, dan karakteristik
situasional; keterampilan komunikasi dasar dan keterampilan membangun
hubungan seorang individu yang digunakan pada setiap situasi; dan hasil yang
muncul dari individu, grup, atau organisasi.

2.1.3. Pentingnya Keterampilan Interpersonal Bagi Dokter
The General Medical Council di Inggris telah menetapkan standar praktik
medis yang baik dimana menekankan bahwa perhatian/perawatan kepada pasien
seharusnya menjadi perhatian khusus para dokter.10 Memantau perkembangan
pasien serta meningkatkan kinerja perawatan klinis sangat penting untuk
mencapai tujuan tersebut. Selain itu, mengembangkan keterampilan interpersonal
seorang dokter sangatlah penting untuk menjaga standar klinis yang baik dan juga
bermanfaat dalam jangka panjang. Kegagalan dalam komunikasi antara pasien
dan dokter dapat menempatkan dokter dalam posisi yang riskan.4
Agar memiliki kesempatan menjadi dokter yang sukses, setiap hubungan
interpersonal antara dokter dengan pasien harus mempunyai tujuan dan segala
upaya dikerahkan sebisa mungkin agar terhindar dari transaksi kepentingan saja.6
Keterampilan interpersonal yang baik akan membawa pada:
a. Pengurangan litigasi (perselisihan hukum di pengadilan),
b. Menciptakan lingkungan yang ramah bagi pasien dan karyawan,
c. Peningkatan produktivitas karyawan,
d. Manajemen waktu yang efektif,
e. Peningkatan dalam perawatan pasien,

11

f. Pengembangan reputasi yang baik untuk lembaga atau rumah sakit,
g. Meningkatkan kualitas pelatihan karyawan dan karyawan baru.4
2.1.4. Metode Penilaian Keterampilan Interpersonal
Ada banyak metode yang digunakan untuk menilai keterampilan
interpersonal. Penilaian keterampilan interpersonal dapat dilakukan dengan:
1. Pengamatan langsung,
2. Umpan balik dari pasien
3. Review 360 derajat,
4. Konsultasi dalam bentuk rekaman.7
2.1.5. Metode Untuk Meningkatkan Keterampilan Interpersonal
Sama halnya dengan keterampilan lain pada umumnya, keterampilan
interpersonal dapat ditingkatkan melalui berbagai upaya.6 Langkah-langkah
berikut diharapkan dapat diadaptasi untuk mengembangkan keterampilan
interpersonal:
1. Memasukkan keterampilan interpersonal dalam kurikulum lembaga
penyelenggara pendidikan kedokteran,
2. Menyertakan keterampilan interpersonal dalam penilaian sebelum
memasuki sekolah spesialisasi,
3. Keterampilan interpersonal disertakan dalam penilaian tahunan dokter
yang sedang mengikuti pelatihan,
4. Keterampilan interpersonal digunakan sebagai bagian dari penilaian dokter
pasca sarjana,
5. Menyertakan keterampilan interpersonal dalam proses penilaian dan
revalidasi oleh dokter senior,
6. Mengajarkan keterampilan interpersonal melalui kursus dan workshop
dalam pendidikan kedokteran.4

12

2.2. Komunikasi
2.2.1. Pengertian
Menurut Komaruddin (1994), secara umum, pengertian komunikasi adalah
sebuah proses penyampaian pikiran-pikiran atau informasi dari seseorang kepada
orang lain melalui suatu cara tertentu sehingga orang lain tersebut mengerti betul
apa yang dimaksud oleh penyampai pikiran-pikiran atau informasi.
Pada dasarnya, setiap orang memerlukan komunikasi sebagai salah satu
alat bantu dalam kelancaran bekerja sama dengan orang lain dalam bidang
apapun. Komunikasi berbicara tentang cara menyampaikan dan menerima pikiranpikiran, informasi, perasaan dan bahkan emosi seseorang, sampai pada titik
tercapainya pengertian yang sama antara peyampai pesan dan penerima pesan.1
2.2.2. Elemen-elemen Dalam Modul Proses Komunikasi
Menurut Hardjana (2003), komunikasi dapat efektif apabila pesan diterima
dan dimengerti sebagaimana dimaksud oleh pengirim pesan, pesan ditindaklanjuti
dengan sebuah perbuatan oleh penerima pesan dan tidak ada hambatan untuk hal
itu.1
Schermerhorn, Junt & Osborn (1994) menggambar model proses
komunikasi sebagai berikut:
Sumber
Pertemuan
yang
diharapkan

Mengirim

Pesan

Menerima

Menyandi
Saluran
Umpan balik
Hambatan
 Distraksi fisik
 Masalah semantik
 Perbedaan budaya

Gambar 2.2.2.1. Model Proses Komunikasi
Sumber: Konsil Kedokteran Indonesia. 2006.

Penerima
Membaca
sandi

Arti yang
dirasakan

13

Sumber atau kadang disebut juga pengirim pesan adalah orang yang
menyampaikan pemikiran atau informasi yang dimilikinya. Pengirim pesan
bertanggungjawab dalam menerjemahkan ide atau pemikiran menjadi sesuatu
yang berarti, dapat berupa pesan verbal, tulisan, dan atau nonverbal, atau
kombinasi dari ketiganya. Pesan ini dikomunikasikan melalui saluran yang sesuai
dengan kebutuhan.
Pesan diterima oleh penerima pesan. Penerima akan menerjemahkan pesan
tersebut berdasarkan batasan pengertian yang dimilikiya. Dengan demikian, dapat
saja terjadi kesenjangan antara yang dimaksud oleh pengirim pesan dengan yang
dimengerti oleh penerima pesan yang disebabkan kemungkinan hadirnya
penghambat. Penghambat dalam pengertian ini bisa diakibatkan oleh perbedaan
sudut pandang, pengetahuan atau pengalaman, perbedaan budaya, masalah
bahasa, dan lainnya.
Pada saat menyampaikan pesan, pengirim perlu memastikan apakah pesan
telah diterima dengan baik. Sementara penerima pesan perlu berkonsentrasi agar
pesan diterima dengan baik dan memberikan umpan balik kepada pengirim.
Umpan balik penting sebagai proses klarifikasi untuk memastikan tidak terjadi
salah interpretasi.1

2.3.

Komunikasi Dokter-Pasien

2.3.1. Pengertian
Menurut Konsil Kedokteran Indonesia1, komunikasi dokter-pasien adalah
hubungan yang berlangsung antara dokter/dokter gigi dengan pasiennya selama
proses pemeriksaan/pengobatan/perawatan yang terjadi di ruang praktik
perorangan, poliklinik, rumah sakit, dan puskesmas dalam rangka membantu
menyelesaikan masalah kesehatan pasien.
2.3.2. Struktur Komunikasi Dokter-Pasien
Struktur komunikasi dokter-pasien terdiri dari tiga hal yang harus berjalan
secara paralel, yaitu:

14

Menjalin hubungan
Komunikasi
nonverbal
- Mengembangkan
rapport
- Melibatkan pasien

Memulai Wawancara

-

Persiapan
Membangun rapport awal
Mengidentifikasi alasan kunjungan
Pengaturan agenda

-

Mengumpulkan Informasi

-

Eksplorasi awal masalah-masalah pasien
Eksplorasi lebih
lanjut perspektif
penyakit

Eksplorasi lebih
lanjut perspektif
kesakitan

-

Menstruktur
wawancara
Penyaringan
Negosiasi
Pengaturan
agenda
Ringkasan
internal
Pemberian
tanda
Meringkas
Peruntutan

Informasi latar belakang yang penting
Penjelasan dan Perencanaan
Penjelasan
Memberikan informasi yang
benar dan tepat
Menolong
Mengingat kembali
& Memahami

Mencapai
Berbagi pemahaman

Perencanaan
Menggabungkan perspektif pasien
Berbagi pengambilan keputusan
Menutup Wawancara
Ringkasan akhir
Mengontrak
Menjaring keselamatan
Pemeriksaan terakhir

Gambar 2.3.2.1. Tahap komunikasi dokter-pasien.
Sumber: Silverman J, Kurtz SM, Draper J, Kurtz SM. 2005.
Dari diagram diatas dapat dilihat bahwa tahap komunikasi dokter-pasien
meliputi:
1. Memulai wawancara,
2. Mengumpulkan informasi,
3. Penjelasan dan perencanaan,
4. Menutup wawancara.11

15

Kemudian pada saat melaksanakan tahap-tahap komunikasi dokter-pasien
tersebut ada dua hal yang selalu diperhatikan, yaitu:
1. Kemampuan menjalin hubungan/sambung rasa dengan pasien,
2. Kemampuan menstruktur wawancara.
Kemampuan menjalin hubungan dan kemampuan menstruktur wawancara
harus selalu digunakan secara tepat pada tiap tahap komunikasi dokter-pasien.
Bisa dikatakan kedua hal tersebut harus bisa berjalan secara paralel pada saat
wawancara sedang berlangsung.
2.3.3. Aplikasi Komunikasi Dokter-Pasien
Aplikasi definisi komunikasi dalam interaksi antara dokter dan pasien di
tempat praktik dapat diartikan tercapainya pengertian dan kesepakatan yang
dibangun dokter bersama pasien pada setiap langkah penyelesaian masalah
pasien.1
Untuk sampai pada tahap tersebut, diperlukan berbagai pemahaman seperti
pemanfaatan jenis komunikasi (lisan, tulisan/verbal, nonverbal), menjadi
pendengar yang baik, adanya penghambat proses komunikasi, pemilihan alat
penyampai pikiran atau informasi yang tepat, dan mengenal mengekspresikan
perasaan dan emosi. 1
Dalam hubungan dokter-pasien, baik dokter maupun pasien dapat berperan
sebagai sumber atau pengirim pesan dan penerima pesan secara bergantian. Pasien
sebagai pengirim pesan, menyampaikan apa yang dirasakan atau menjawab
pertanyaan dokter sesuai pengetahuannya. Sementara dokter sebagai pengirim
pesan, berperan pada saat menyampaikan penjelasan penyakit rencana pengobatan
dan terapi, efek samping obat yang mungkin terjadi, serta dampak dari dilakukan
atau tidak dilakukannya terapi tertentu. Dalam penyampaian ini, dokter
bertanggung jawab untuk memastikan pasien memahami apa yang disampaikan. 1
Sebagai penerima pesan, dokter perlu berkonsentrasi dan memperhatikan
setiap pernyataan pasien. Untuk memastikan apa yang dimaksud pasien, dokter
sesekali perlu membuat pertanyaan atau pernyataan klarifikasi. Mengingat
kesenjangan informasi dan pengetahuan yang ada antara dokter dan pasien, dokter

16

perlu mengambil peran aktif. Ketika pasien dalam posisi sebagai penerima pesan
dokter perlu secara proaktif memastikan apakah pasien benar-benar memahami
pesan yang telah disampaikannya. 1
2.3.4. Pentingnya Komunikasi Dokter-Pasien
Komunikasi dalam bidang kesehatan sangat penting. Sebuah konferensi di
Toronto yang membahas tentang komunikasi kesehatan menghasilkan ‘Toronto
Consesus’ dimana terdapat delapan butir pernyataan hubungan antara praktek
komunikasi dan kesehatan sebagai berikut:
1. Masalah komunikasi dalam praktisi medik sangat penting dan biasa
terjadi,
2. Kegelisahan dan ketidakpuasan pasien mempunyai relasi dengan
ketidakpastian dan kurangnya informasi, penjelasan, dan umpan balik,
3. Dokter sering salah persepsi atas banyaknya dan tipe dari informasi yang
pasien sebenarnya ingin dapatkan,
4. Kualitas komunikasi klinis yang telah ditingkatkan ada hubungannya
dengan hasil kesehatan yang positif,
5. Menjelaskan dan mengerti apa yang pasien inginkan, bahkan jika
sebenarnya tidak dapat diselesaikan, dapat berdampak pada penurunan
kecemasan pasien,
6. Partisipasi yang besar oleh pasien saat bertemu mempertinggi tingkat
kepuasan, pemenuhan, dan hasil dari pengobatan,
7. Level dari tekanan psikologis di pasien dengan peyakit yang serius
berkurang ketika mereka merasa sudah mendapatkan informasi yang
cukup,
8. Keuntungan dari komunikasi klinik sangat mungkin dalam praktisi klinik
dan dapat didapatkan sehari-hari, tanpa harus memperpanjang waktu. Hal
ini bisa dilakukan jika orang-orang di klinik telah belajar teknik-teknik
yang relevan.3

17

2.4.

Komunikasi Efektif Dokter-Pasien

2.4.1. Pengertian
Komunikasi efektif dokter-pasien adalah pengembangan hubungan dokterpasien secara efektif yang berlangsung secara efisien, dengan tujuan utama
penyampaian informasi atau pemberian penjelasan yang diprlukan dalam rangka
membangun kerjasama antara dokter dengan pasien. Komunikasi yang dilakukan
secara verbal dan nonverbal menghasilkan pemahaman pasien terhadap keadaan
kesehatannya, peluang dan kendalanya, sehingga dapat bersama-sama dokter
mencari alternatif untuk mengatasi permasalahannya.1
Komunikasi efektif diharapkan dapat mengatasi kendala yang ditimbulkan
oleh kedua pihak, pasien dan dokter. Opini yang menyatakan bahwa
mengembangkan komunikasi dengan pasien hanya akan menyita waktu dengan
dokter, tampaknya harus diluruskan. Sebenarnya bila dokter dapat membangun
hubungan komunikasi yang efektif dengan pasiennya, banyak hal-hal negatif
dapat dihindari. Dokter dapat mengetahui dengan baik kondisi pasien dan
keluarganya dan pasien pun percaya sepenuhnya kepada dokter.1
2.4.2. Tujuan Komunikasi Efektif Dokter-Pasien
Tujuan komunikasi yang relevan dengan profesi dokter adalah:
1. Memfasilitasi tercapainya pencapaian tujuan kedua pihak (dokter dan
pasien).
2. Membantu pengembangan rencana perawatan bersama pasien, untuk
kepentingan pasien dan atas dasar kemampuan pasien, termasuk
kemampuan finansial.
3. Membantu memberikan pilihan dalam upaya penyelesaian masalah
kesehatan pasien.
4. Membimbing pasien sampai pada pengertian yang sebenarnya tentang
penyakit/masalah yang dihadapinya.
5. Membantu mengendalikan kinerja dokter dengan acuan langkah-langkah
atau hal-hal yang telah disetujui pasien. 1

18

2.4.3. Manfaat Komunikasi Efektif Dokter-Pasien
Manfaat komunikasi efektif dokter-pasien diantaranya adalah:
1. Meningkatkan kepuasan pasien dalam menerima pelayanan medis dari
dokter atau institusi pelayanan medis.
2. Meningkatkan kepercayaan pasien kepada dokter yang merupaka dasar
hubungan dokter-pasien yang baik.
3. Meningkatkan keberhasilan diagnosis terapi dan tindakan medis.
4. Meningkatkan kepercayaan diri dan ketegaran pada pasien fase terminal
dalam menghadapi penyakitnya. 1
2.4.4. Aplikasi Komunikasi Efektif Dokter-Pasien
a. Sikap profesional dokter
Sikap profesional seorang dokter ditunjukkan ketika dokter berhadapan
dengan tugasnya, yang berarti mampu menyelesaikan tugas-tugasnya sesuai
peran dan fungsinya; mampu mengatur diri sendiri seperti ketepatan waktu,
pembagian tugas profesi dengan tugas-tugas pribadi yang lain; dan mampu
menghadapi berbagai macam tipe pasien serta mampu bekerja sama dengan
profesi kesehatan yang lain. Menurut Silverman11 Di dalam proses komunikasi
dokter-pasien, sikap profesional ini penting untuk membangun rasa nyaman,
aman,

dan

percaya

pada

dokter,

yang

merupakan

landasan

bagi

berlangsungnya komunikasi secara efektif. Sikap profesional ini hendaknya
dijalin terus-menerus sejak awal konsultasi, selama proses konsultasi
berlangsung, dan di akhir konsultasi. 1
Contoh sikap dokter ketika menerima pasien:


Menyilakan masuk dan mengucapkan salam,



Memanggil/menyapa pasien dengan namanya,



Menciptakan suasana yang nyaman (isyarat bahwa punya cukup
waktu,

menganggap

penting informasi

menghindari tampak lelah),

yang

akan

diberikan,

19



Memperkenalkan diri, menjelaskan tugas/perannya (apakah dokter
umum, spesialis, dokter keluarga, dokter paliatif, konsultan gizi,
konsultasi tumbuh kembang, dan lain-lain),



Menilai suasana hati lawan bicara,



Memperhatikan sikap nonverbal (raut wajah/mimik, gerak/bahasa
tubuh) pasien,



Menatap mata pasien secara profesional yang lebih terkait dengan
makna menunjukkan perhatian dan kesungguhan mendengarkan,



Memperhatikan keluhan yang disampaikan tanpa melakukan interupsi
yang tidak perlu,



Apabila pasien marah, menangis, takut, dan sebagainya maka dokter
tetap menunjukkan raut wajah dan sikap yang tenang,



Melibatkan pasien dalam rencana tindakan medis selanjutnya atau
pengambilan keputusan,



Memeriksa ulang segala sesuatu yang belum jelas bagi kedua belah
pihak,



Membukakan pintu, atau berdiri ketika pasien hendak pulang. 1

b. Sesi pengumpulan informasi
Di dalam komunikasi dokter-pasien, ada dua sesi yang penting, yaitu
sesi pengumpulan informasi yang di dalamnya terdapat proses anamnesis, dan
sesi penyampaian informasi. Tanpa penggalian informasi yang akurat, dokter
dapat terjerumus ke dalam sesi penyampaian informasi (termasuk nasihat,
sugesti atau motivasi dan konseling) secara prematur.1
Dalam dunia kedokteran, model proses komunikasi pada sesi
penggalian informasi telah dikembangkan oleh Van Dalen (2005) dan
digambarkan dalam sebuah model yang sangat sederhana dan aplikatif.

20

1

3
2



3

Kotak 1:
Pasien memimpin pembicaraan melalui pertanyaan terbuka yang
dikemukakan oleh dokter



Kotak 2:
Dokter memimpin pembicaraan melalui pertanyaan tertutup/terstruktur
yang telah disusunnya sendiri.



Kotak 3:
Kesepakatan apa yang harus dan akan dilakukan berdasarkan negosiasi
kedua belah pihak. 1

c. Sesi penyampaian informasi
Setelah sesi sebelumnya dilakukan dengan akurat, maka dokter dapat
sampai kepada sesi memberikan penjelasan. Tanpa informasi yang akurat di
sesi sebelumnya, dokter dapat terjebak dalam kecurigaan yang tidak
beralasan.1
Secara ringkas ada enam hal yang penting diperhatikan agar efektif
dalam berkomunikasi dengan pasien, yaitu:
1. Materi informasi apa yang disampaikan
a. Tujuan anamnesis dan pemeriksaan fisik (kemungkinan rasa tidak
nyaman/sakit saat pemeriksaan).
b. Kondisi saat ini dan berbagai kemungkinan diagnosis.
c. Berbagai tindakan medis yang akan dilakukan untuk menentukan
diagnosis, termasuk manfaat, risiko, serta kemungkinan efek
samping/komplikasi.
d. Hasil dan interpretasi dari tindakan medis yang telah dilakukan untuk
menegakkan diagnosis.
e. Diagnosis, jenis atau tipe.

21

f. Pilihan tindakan medis untuk tujuan terapi (kekurangan dan kelebihan
masing-masing cara).
g. Prognosis.
h. Dukungan yang tersedia.
2. Siapa yang diberi informasi
a. Pasien, apabila dia menghendaki dan kondisinya memungkinkan.
b. Keluarganya atau orang lain yang ditunjuk oleh pasien.
c. Keluarganya atau pihak lain yang menjadi wali/pengampu dan
bertanggung

jawab

atas

pasien

kalau

kondisi

pasien

tidak

memungkinkan untuk berkomunikasi sendiri secara langsung.
3. Berapa banyak atau sejauh mana
a. Untuk pasien: sebanyak yang pasien kehendaki, yang dokter merasa
perlu untuk disampaikan, dengan memperhatikan kesiapan mental
pasien.
b. Untuk keluarga: sebanyak yang pasien/keluarga kehendaki dan
sebanyak yang dokter perlukan agar dapat menentukan tindakan
selanjutnya.
4. Kapan menyampaikan informasi
Segera jika kondisi dan situasinya memungkinkan.
5. Di mana menyampaikannya
a. Di ruang praktik dokter.
b. Di bangsal, ruangan tempat pasien dirawat.
c. Di ruang diskusi.
d. Di tempat lain yang pantas, atas persetujuan bersama, pasien/keluarga
dan dokter.
6. Bagaimana menyampaikannya
a. Informasi penting sebaiknya dikomunikasikan

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

110 3480 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

39 884 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

39 801 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

18 524 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 673 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

57 1169 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1065 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 664 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 944 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

39 1157 23