Perampasan Asset Milik Pelaku Tindak Pidana Korupsi Dalam Perspektif Rezim Civil Forfeiture

PERAMPASAN ASSET MILIK PELAKU TINDAK PIDANA
KORUPSI DALAM PERSPEKTIF REZIM
CIVIL FORFEITURE

TESIS

Oleh

INDRI WIRDIA EFFENDY
097005085/HK

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

PERAMPASAN ASSET MILIK PELAKU TINDAK PIDANA
KORUPSI DALAM PERSPEKTIF REZIM
CIVIL FORFEITURE

TESIS

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat
Untuk Memperoleh Gelar Magister Hukum
dalam Program Magister Ilmu Hukum pada Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara

Oleh

INDRI WIRDIA EFFENDY
097005085/HK

PROGRAM STUDI MAGISTER ILMU HUKUM
FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2011

Universitas Sumatera Utara

Judul Tesis

Nama Mahasiswa
Nomor Pokok
Program Studi

: PERAMPASAN ASSET MILIK PELAKU TINDAK
PIDANA KORUPSI DALAM PERSPEKTIF REZIM
CIVIL FORFEITURE
: Indri Wirdia Effendy
: 097005085
: Ilmu Hukum

Menyetujui
Komisi Pembimbing

(Dr. Mahmud Mulyadi, SH, M.Hum)
Ketua

(Prof. Dr. Bismar Nasution, SH, MH)

(Prof. Dr. Suhaidi, SH, MH)

Anggota

Anggota

Ketua Program Studi

(Prof. Dr. Suhaidi, SH, MH)

Dekan

(Prof. Dr. Runtung, SH, M.Hum)

Tanggal lulus : 11 Agustus 2011

Universitas Sumatera Utara

Telah diuji pada
Tanggal 11 Agustus 2011

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua

: Dr. Mahmud Mulyadi, SH, M.Hum

Anggota

: 1. Prof. Dr. Bismar Nasution, SH, MH
2. Prof. Dr. Suhaidi, SH, MH
3. Prof. Dr. Sunarmi, SH, M.Hum
4. Dr. Mahmul Siregar, SH, M.Hum

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Berdasarkan UU No.31 Tahun 1999 junto UU No.20 Tahun 2001 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UUPTPK) selama ini cenderung
mengutamakan jalur pidana yang berfokus pada penghukuman terhadap pelaku tindak
pidana korupsi dari pada perampasan aset negara, kenyataannya, jalur pidana tidak
cukup ampuh untuk meredam, mencegah, memberantas, dan mengurangi kuantitas
tindak pidana korupsi. Sementara rejim civil forfeiture dapat lebih effektif untuk
merampas aset yang dicuri para pelaku dibandingkan rejim pidana sebab rejim civil
forfeiture mempunyai kelebihan mempermudah perampasasn aset melalui
pembuktian terbalik murni dimana terdakwa yang harus membuktikan bahwa harta
itu adalah miliknya dan bukan berasal dari suatu tindak pidana.
Permasalahan dalam penelitian ini adalah: pertama, bagaimanakah pengaturan
perampasan aset tindak pidana korupsi berdasarkan Undang-Undang Nomor 31
Tahun 1999 junto Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001? kedua, bagaimanakah
perampasan aset milik pelaku tindak pidana korupsi melalui instrumen civil
forfeiture? dan ketiga, apakah kelebihan dan kelemahan penggunaan instrumen civil
forfeiture dalam perampasan aset milik pelaku tindak pidana korupsi?
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum
normatif yaitu penelitian yang mengacu kepada norma-norma dan asas-asas hukum
yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan dan putusan pengadilan.
Alasannya didasarkan pada paradigma hubungan dinamis antara teori, konsep-konsep
dan data yang merupakan umpan balik atau modifikasi yang tetap dari teori dan
konsep yang didasarkan pada data yang dikumpulkan.
Kesimpulan yang diperoleh bahwa pengaturan perampasan aset dalam
UUPTPK dilakukan terlebih dahulu harus menunggu putusan hakim yang
berkekuatan hukum tetap atau karena terdakwa telah meninggal dunia baru dilakukan
perampasan aset. Perampasan aset milik pelaku tindak pidana korupsi melalui
instrumen civil forfeiture dapat dilakukan instrumen pidana dan perdata secara
bersamaan namun dapat secara langsung melalui gugatan perdata khusus terhadap
aset yang tidak mempunyai kaitan dengan tindak pidananya. Kelebihannya, civil
forfeiture menempatkan harta sebagai pihak yang berperkara sedangkan
kelemahannya tidak bertujuan untuk menghukum pelaku.
Saran yang diharapkan adalah: agar dilakukan revisi terhadap Pasal 18 dengan
memberlakukan civil forfeiture dan revisi Pasal 19 ayat (1) UU No.39 Tahun 1999
tentang HAM; agar perampasan aset milik pelaku tindak pidana korupsi melalui
instrumen civil forfeiture dilakukan pembentukan suatu lembaga tersendiri mengenai
perampasan aset sebab pengaturan civil forfeiture sangat luas sehingga diperlukan
undang-undang; agar pemerintah Indonesia serius memiskinkan koruptor melalui
kebijakan-kebijakan legislasi anti korupsi.
Kata Kunci:

Tindak Pidana Korupsi, Perampasan Aset, civil forfeiture, dan
criminal forfeiture

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT
Based on Law No.31/1999 in conjunction with Law No. 20/2001 on the
Eradication of Corruption Criminal Act (UUPTPK), the handling of the corruption
criminal act today tends to emphasize on the criminal law which is focused on the
punishment of the corruptors rather than on the confiscation of the corruptors’
assets. In reality, the criminal law is not effective enough to eliminate, restrain,
eradicate, and reduce the quantity of corruption criminal act. Meanwhile, the civil
forfeiture regime is more effective to confiscate the assets which have been stolen by
the corruptors rather than the criminal regime because the civil forfeiture regime is
able to make easier to confiscate the assets through the reversal of the burden of
proof in which the defendants have to give the evidence that the assets belong to him
and did not come from criminal act.
The problems in this research were as follows: first, how to regulate the
confiscation of the assets of the corruption criminal act, based on Law No. 31/1999 in
conjunction with Law No. 20/2001? Secondly, how to confiscate the corruptors’
assets through the instrument of civil forfeiture? Thirdly, what were the advantages
and the disadvantages of using the instrument of civil forfeiture in confiscating the
corruptors’ assets?
The method used in this research was judicial normative approach which was
referred to legal norms and legal principles found in the legal provisions and in
Court’s verdicts. The reason was based on the paradigm of the dynamic relationship
among the theories, the concepts, and the data as the feedback or final modification
of the theories and concepts based on the collected data.
The result of the research showed that the confiscation of the assets,
according to the UUPTPK, was accomplished after the judge’s verdict which was
final and conclusive, or when the defendant died. The confiscation of the corruptors’
assets through the civil forfeiture could be done with both the criminal and civil
instruments simultaneously, but it could also be done directly through special civil
complaint on the assets which did not have any correlation with the criminal act. The
advantage was that the civil forfeiture considered the status of the assets as the
litigants, while the disadvantage was that it was not aimed to punish the perpetrator.
It was recommended that Article 18 should be revised by imposing civil
forfeiture and Article 19 paragraph (1) of Law No. 39/1999 on Human Rights should
also be revised, that a special committee should be established in the process of
confiscating the corruptors’ assets through civil forfeiture instrument because the
civil forfeiture regulation was broad enough so that a law was needed, and that the
Indonesian government should seriously impoverish the corruptors through the
policies of anti-corruption legislation.
Key words: Corruption Criminal Act, Confiscation of Assets, Civil Forfeiture, and
Criminal Forfeiture

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR
Dengan mengucapkan puji dan syukur kehadirat Allah SWT, berkat limpahan
rahmat dan karunian-Nya yang maha pemurah lagi maha penyayang, penulis dapat
menyelesaikan studi untuk memperoleh gelar Magister Hukum (M.H) di Program
Studi Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Sumatera Utara dengan judul penelitian
yaitu, ”Perampasan Asset Milik Pelaku Tindak Pidana Korupsi dalam
Perspektif Rezim Civil Forfeiture” Penelitian ini telah dinyatakan lulus dalam
yudisium dengan baik dan tepat pada waktunya pada tanggal 11 Agustus 2011
Sehubungan dengan ini dengan kerendahan hati yang tulus dan ikhlas, penulis
ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada:
1. Rektor Universitas Sumatera Utara Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H,
CTM (K), Sp.A (K),
2. Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, Bapak Prof. Dr.
Runtung, SH, M.Hum;
3. Ketua Program Studi Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas
Sumatera Utara, Prof. Dr. Suhaidi, SH, MH, yang juga sebagai Pembimbing
III yang telah banyak memberikan petunjuk serta saran yang bermanfaat dan
sangat mendukung dalam penyelesaian Tesis ini;
4. Sekretaris Program Studi Magister Ilmu Hukum Bapak Dr. Mahmul Siregar,
SH, M.Hum, sekaligus sebagai penguji pada penelitian ini
5. Dr. Mahmud Mulyadi, SH, M.Hum, selaku Ketua Komisi Pembimbing yang
telah banyak berupaya memberikan koreksi sehingga menjadi sempurna.
Selain itu juga telah banyak memberikan bimbingan, dorongan dan motivasi
kepada penulis selama penelitian berlangsung hingga studi ini dapat selesai
tepat waktu dengan nilai yang sangat memuaskan;
6. Prof. Dr. Bismar Nasution, SH, MH, selaku anggota Komisi Pembimbing I
yang telah memberikan motivasi, bimbingan, petunjuk dan saran yang sangat
bermanfaat bagi saya dalam menyelesaikan penelitian Tesis ini,

Universitas Sumatera Utara

7. Prof. Dr. Sunarmi, S.H., M.Hum, selaku penguji yang telah meluangkan
waktu dan telah banyak memberikan bantuan berupa motivasi, bimbingan,
petunjuk, saran dan arahan, dalam menyelesaikan penelitian Tesis ini,
8. Bapak/ Ibu dosen pengajar pada Program Magister Ilmu Hukum, Fakultas
Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah berjasa menyumbangkan
Ilmunya yang sangat berarti bagi masa depan saya,
9. Staf Administrasi Program Studi Magister Ilmu Hukum Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara Medan, yang telah memberikan bantuan dalam
informasi mengenai perkuliahan,
10. Dalam kesempatan ini, dengan penuh sukacita, Peneliti mengucapkan terima
kasih kepada Orangtua tercinta ayahanda Syahrul Effendi dan Ibunda Hj.
Tetty Shahriah, atas segala jerih payah dan pengorbanannya yang tiada
terhingga dalam mengasuh, mendidik, membimbing Peneliti sejak lahir, serta
senantiasa mengiringi Penulis dan keluarga dengan doa yang tiada putus. Dan
kepada saudara-saudara terkasih, adik-adik tersayang Kresna Affandi, SH dan
M. Thessya Priangga, atas segala dukungan moril yang diberikan, Peneliti
mengucapkan terima kasih
11. Seorang sahabat hati Fauzan A Nasution, SH yang selalu memberikan
dorongan, motivasi dan doa demi untuk menyelesaikan studi ini;
12. Teman-teman seperjuangan pada Program Studi Magister Ilmu Hukum
Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara, serta saudara-saudara, family
dan handai toulan yang tidak dapat disebutkan satu persatu
Demikianlah sebagai kata pengantar, mudah-mudahan penelitian ini memberi
manfaat bagi semua pihak dalam menambah dan memperkaya wawasan Ilmu
Pengetahuan. Khusus kepada penulis, mudah-mudahan dapat memadukan dan
mengimplementasikan ilmu serta mampu menjawab tantangan atas perkembangan
hukum yang ada dalam maasyarakat.
Peneliti menyadari pula, bahwa substansi Tesis ini tidak luput dari berbagai
kekhilafan, kekurangan dan kesalahan, dan tidak akan sempurna tanpa bantuan,

Universitas Sumatera Utara

nasehat, bimbingan, arahan, kritikan. Oleh karenanya, apapun yang disampaikan
dalam rangka penyempurnaan Tesis ini, penuh sukacita Peneliti terima dengan tangan
terbuka.
Semoga Tesis ini dapat memenuhi maksud

penelitiannya, dan dapat

bermanfaat bagi semua pihak, sehingga Ilmu yang telah diperoleh dapat dipergunakan
untuk kepentingan bangsa. Amin ya robbal’alamin

Medan,

Agustus 2011.

Penulis,

Indri Wirdia Effendy

Universitas Sumatera Utara

RIWAYAT HIDUP
Nama

:

Indri Wirdia Effendy

Tempat/Tanggal Lahir

:

Medan, 23 Desember 1986

Jenis Kelamin

:

Wanita

Agama

:

Islam

Jabatan/ Pekerjaan

:

Staff Tindak Pidana Khusus/ Kejaksaan P. Siantar

Alamat

:

Kompleks Johor Permai Jl. Melinjo II No. 18
Medan

Pendidikan

:

Sekolah Dasar
Tahun 1998

Swasta Al-Azhar Medan, Lulus

Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Medan, Lulus
Tahun 2001,
Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Medan, Lulus
Tahun 2004,
Strata Satu (S1) Fakultas Hukum Universitas Islam
Sumatera Utara, Lulus Tahun 2008
Strata Dua (S2) Program Studi Magister Ilmu
Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera
Utara, Lulus Tahun 2011

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
Halaman
ABSTRAK ............................................................................................................

i

ABSTRACT ...........................................................................................................

ii

KATA PENGANTAR..........................................................................................

iii

RIWAYAT HIDUP ..............................................................................................

vi

DAFTAR ISI.........................................................................................................

vii

BAB I

: PENDAHULUAN ..............................................................................

1

A. Latar Belakang ..............................................................................

1

B. Perumusan Masalah .......................................................................

15

C. Tujuan Penelitian ...........................................................................

15

D. Manfaat Penelitian .........................................................................

16

E. Keaslian Penelitian.........................................................................

16

F. Kerangka Teori dan Landasan Konsepsional.................................

17

1. Kerangka Teori.........................................................................

17

2. Landasan Konsepsional............................................................

25

G. Metode Penelitian...........................................................................

28

1. Jenis dan Sifat Penelitian .........................................................

29

2. Sumber Data.............................................................................

29

3. Teknik Pengumpulan Data.......................................................

30

4. Analisis Data ............................................................................

31

Universitas Sumatera Utara

BAB II : PENGATURAN PERAMPASAN ASET TINDAK PIDANA
KORUPSI BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 31
TAHUN 1999 JUNTO UNDANG-UNDANG NOMOR 20
TAHUN 2001 ......................................................................................

32

A. Pengaturan Perampasan Aset Dalam Perspektif Undang-Undang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi .........................................

32

1. Perampasan Aset dalam UUPTPK...........................................

32

2. Perampasan Aset Melalui Gugatan Perdata dalam UUPTPK..

40

B. Kaitan

Perampasan

Aset

Terhadap

Pembuktian

Terbalik

Sebagaimana Diatur Dalam KAK 2003.........................................

45

C. Kaitan Pengaturan Pembuktian Terbalik Antara KAK 2003
dengan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 junto UndangUndang Nomor 20 Tahun 2001 dan UU No.8 Tahun 2010...........

51

D. Pengaturan Perampasan Aset dan Pembuktian Terbalik Dalam
UUPTPK serta Kaitannya dengan Hak Asasi Manusia .................

67

BAB III : PERAMPASAN ASET MILIK PELAKU TINDAK PIDANA
KORUPSI MELALUI INSTRUMEN CIVIL FORFEITURE .......

76

A. Stolen Asset Recovery (StAR) Sebagai Program Bersama Bank
Dunia dan PBB dalam Menghadapi Masalah Korupsi ..................

76

B. Perampasan Aset Milik Pelaku Tindak Pidana Korupsi dengan
Mengupayakan Mutual Legal Assistance (MLA) ..........................

85

C. Implementasi Instrumen Civil Forfeiture Untuk Merampas Aset
Milik Pelaku Tindak Pidana Korupsi.............................................

94

Universitas Sumatera Utara

BAB IV : KELEBIHAN

DAN

KELEMAHAN

PENGGUNAAN

INSTRUMEN CIVIL FORFEITURE DALAM PERAMPASAN
ASET MILIK PELAKU TINDAK PIDANA KORUPSI ...............

108

A. Kelebihan dan Kelemahan Instrumen Civil Forfeiture dalam
Merampas Aset Milik Pelaku Tindak Pidana Korupsi...................

108

1. Kelebihan Civil Forfeiture .......................................................

108

2. Kelemahan Civil Forfeiture .....................................................

113

B. Solusi Terhadap Kelemahan Undang-Undang Pemberantasan
Tindak Pidana Korupsi Untuk Mengadopsi Civil Forfeiture.........

116

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN ..........................................................

129

A. Kesimpulan ....................................................................................

129

B. Saran...............................................................................................

131

DAFTAR PUSTAKA ...........................................................................................

133

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Berdasarkan UU No.31 Tahun 1999 junto UU No.20 Tahun 2001 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (UUPTPK) selama ini cenderung
mengutamakan jalur pidana yang berfokus pada penghukuman terhadap pelaku tindak
pidana korupsi dari pada perampasan aset negara, kenyataannya, jalur pidana tidak
cukup ampuh untuk meredam, mencegah, memberantas, dan mengurangi kuantitas
tindak pidana korupsi. Sementara rejim civil forfeiture dapat lebih effektif untuk
merampas aset yang dicuri para pelaku dibandingkan rejim pidana sebab rejim civil
forfeiture mempunyai kelebihan mempermudah perampasasn aset melalui
pembuktian terbalik murni dimana terdakwa yang harus membuktikan bahwa harta
itu adalah miliknya dan bukan berasal dari suatu tindak pidana.
Permasalahan dalam penelitian ini adalah: pertama, bagaimanakah pengaturan
perampasan aset tindak pidana korupsi berdasarkan Undang-Undang Nomor 31
Tahun 1999 junto Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001? kedua, bagaimanakah
perampasan aset milik pelaku tindak pidana korupsi melalui instrumen civil
forfeiture? dan ketiga, apakah kelebihan dan kelemahan penggunaan instrumen civil
forfeiture dalam perampasan aset milik pelaku tindak pidana korupsi?
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian hukum
normatif yaitu penelitian yang mengacu kepada norma-norma dan asas-asas hukum
yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan dan putusan pengadilan.
Alasannya didasarkan pada paradigma hubungan dinamis antara teori, konsep-konsep
dan data yang merupakan umpan balik atau modifikasi yang tetap dari teori dan
konsep yang didasarkan pada data yang dikumpulkan.
Kesimpulan yang diperoleh bahwa pengaturan perampasan aset dalam
UUPTPK dilakukan terlebih dahulu harus menunggu putusan hakim yang
berkekuatan hukum tetap atau karena terdakwa telah meninggal dunia baru dilakukan
perampasan aset. Perampasan aset milik pelaku tindak pidana korupsi melalui
instrumen civil forfeiture dapat dilakukan instrumen pidana dan perdata secara
bersamaan namun dapat secara langsung melalui gugatan perdata khusus terhadap
aset yang tidak mempunyai kaitan dengan tindak pidananya. Kelebihannya, civil
forfeiture menempatkan harta sebagai pihak yang berperkara sedangkan
kelemahannya tidak bertujuan untuk menghukum pelaku.
Saran yang diharapkan adalah: agar dilakukan revisi terhadap Pasal 18 dengan
memberlakukan civil forfeiture dan revisi Pasal 19 ayat (1) UU No.39 Tahun 1999
tentang HAM; agar perampasan aset milik pelaku tindak pidana korupsi melalui
instrumen civil forfeiture dilakukan pembentukan suatu lembaga tersendiri mengenai
perampasan aset sebab pengaturan civil forfeiture sangat luas sehingga diperlukan
undang-undang; agar pemerintah Indonesia serius memiskinkan koruptor melalui
kebijakan-kebijakan legislasi anti korupsi.
Kata Kunci:

Tindak Pidana Korupsi, Perampasan Aset, civil forfeiture, dan
criminal forfeiture

Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT
Based on Law No.31/1999 in conjunction with Law No. 20/2001 on the
Eradication of Corruption Criminal Act (UUPTPK), the handling of the corruption
criminal act today tends to emphasize on the criminal law which is focused on the
punishment of the corruptors rather than on the confiscation of the corruptors’
assets. In reality, the criminal law is not effective enough to eliminate, restrain,
eradicate, and reduce the quantity of corruption criminal act. Meanwhile, the civil
forfeiture regime is more effective to confiscate the assets which have been stolen by
the corruptors rather than the criminal regime because the civil forfeiture regime is
able to make easier to confiscate the assets through the reversal of the burden of
proof in which the defendants have to give the evidence that the assets belong to him
and did not come from criminal act.
The problems in this research were as follows: first, how to regulate the
confiscation of the assets of the corruption criminal act, based on Law No. 31/1999 in
conjunction with Law No. 20/2001? Secondly, how to confiscate the corruptors’
assets through the instrument of civil forfeiture? Thirdly, what were the advantages
and the disadvantages of using the instrument of civil forfeiture in confiscating the
corruptors’ assets?
The method used in this research was judicial normative approach which was
referred to legal norms and legal principles found in the legal provisions and in
Court’s verdicts. The reason was based on the paradigm of the dynamic relationship
among the theories, the concepts, and the data as the feedback or final modification
of the theories and concepts based on the collected data.
The result of the research showed that the confiscation of the assets,
according to the UUPTPK, was accomplished after the judge’s verdict which was
final and conclusive, or when the defendant died. The confiscation of the corruptors’
assets through the civil forfeiture could be done with both the criminal and civil
instruments simultaneously, but it could also be done directly through special civil
complaint on the assets which did not have any correlation with the criminal act. The
advantage was that the civil forfeiture considered the status of the assets as the
litigants, while the disadvantage was that it was not aimed to punish the perpetrator.
It was recommended that Article 18 should be revised by imposing civil
forfeiture and Article 19 paragraph (1) of Law No. 39/1999 on Human Rights should
also be revised, that a special committee should be established in the process of
confiscating the corruptors’ assets through civil forfeiture instrument because the
civil forfeiture regulation was broad enough so that a law was needed, and that the
Indonesian government should seriously impoverish the corruptors through the
policies of anti-corruption legislation.
Key words: Corruption Criminal Act, Confiscation of Assets, Civil Forfeiture, and
Criminal Forfeiture

Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sejak diundangkannya Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi pada tanggal 16 Agustus 1999, kemudian
undang-undang tersebut diubah melalui Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001
tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang
Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang diundangkan tanggal 21 November 2001
(selanjutnya ditulis UUPTPK), pemberantasan tindak pidana korupsi belum juga
mencapai titik keberhasilan yang diharapkan di Indonesia.1 Koentjaraningrat,
menyatakan bahwa korupsi sudah menjadi budaya bangsa.2
Korupsi bukan saja masalah nasional suatu bangsa bahkan merupakan
masalah internasional. Purwaning M. Yanuar, menyebutkan, “banyak negara-negara
berkembang yang mengalami kerugian karena tindak pidana korupsi, oleh sebab itu,
masalah korupsi sebagai hal yang harus mendapat perhatian serius”.3 Bahkan
sebenarnya beberapa negara menginginkan

agar perampasan aset korupsi

1

Ario Wandatama dan Detania Sukarja, “Implementasi Instrumen Civil Forfeiture di
Indonesia Untuk Mendukung Stolen Asset Recovery (StAR) Initiative”, Makalah dalam Seminar
Pengkajian Hukum Nasinal, 2007, hal. 1.
2
Koentjaraningrat, Bunga Rampai Kebudayaan, Mentalitet dan Pembangunan, (Jakarta:
Gramedia, 1974), hal. 75.
3
Purwaning M. Yanuar, Pengembalian Aset Hasil Korupsi Berdasarkan Konvensi PBB Anti
Korupsi 2003 Dalam Sistem Hukum Indonesia, (Bandung: Alumni, 2007), hal. 10.

1

Universitas Sumatera Utara

diperlakukan sebagai hak yang tidak bisa dihapus atau dicabut.4 Aset korupsi
merupakan hak negara yang harus dikembalikan kepada negara dan negara lah yang
berhak untuk mengelola aset atau kekayaan negara dan dipergunakan sebesarbesarnya untuk kemakmuran dan kesejahteraan rakyat.
Indonesia dalam menangani kasus-kasus korupsi selama ini cenderung
mengutamakan cara melalui jalur pidana yang lebih berfokus pada penghukuman
terhadap pelaku tindak pidana korupsi dari pada pengembalian aset negara, namun
kenyataannya, jalur pidana tidak cukup ampuh untuk meredam, mencegah,
memberantas, dan mengurangi jumlah tindak pidana korupsi.
Sebagaimana peristiwa-peristiwa tindak pidana korupsi yang pernah terjadi
misalnya setelah tahun 1998 (reformasi telah berlanjut hingga saat ini), para koruptor
bermunculan ketika Pemerintah memfokuskan pemberantasan terhadap korupsi.
Mulai dari mantan Presiden Soeharto dalam perkara korupsi atas dana senilai 420 juta
dolar AS dan Rp.185,92 miliar, ditambah lagi ganti rugi immateriil Rp.10 triliun pada
tujuh yayasan termasuk Yayasan Supersemar, namun upaya itu gagal karena Soeharto
sakit dan dinyatakan tidak dapat diadili. Pada tanggal 11 Mei 2006, Kejaksaan Agung
mengeluarkan Surat Ketetapan Penghentian Penuntutan Perkara (SKP3) HM.
Soeharto dan mengalihkan upaya pengembalian aset negara melalui pengajuan
gugatan perdata. Kejaksaan Agung (Kejagung) melalui Jaksa Agung Muda Perdata
4

Ibid., hal. 10-11. Istilah yang tidak dapat dihapus dan dicabut diacu kepada konsep hak-hak
yang sama sekali tidak dapat dipisahkan dari pemilik hak tersebut. Dimana hak ini melekat pada diri
manusia tanpa perlu adanya pengakuan. Beberapa Filsuf menyatakan bahwa siapa pun yang
menyangkal hak-hak ini adalah salah. Teori hukum alam dari John Locke didasarkan pada gagasan
bahwa setiap individu memiliki hak dasar tertentu yang tidak dapat dihapus atau dicabut sepanjang
menyangkut kehidupan, kemerdekaan, dan kekayaan.

Universitas Sumatera Utara

dan Tata Usaha Negara (Jamda TUN) memerintahkan Direktorat jajarannya untuk
bertindak sebagai Jaksa Pengacara Negara (JPN).5
Hasil tindak pidana korupsi yang dilakukan mantan Komisaris Utama Bank
Harapan Sentosa, Hendra Rahardja, sebesar US$ 9,3 juta yang disimpan dalam
bentuk rekening bank di Hongkong, Irwan Salim US$ 5 juta di Bank Swiss, dalam
bentuk dana di Amerika Serikat, Cina, Australia, dan Singapura diperkirakan
mencapai Rp.6-7 triliun.6 Korupsi atas Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI) ke
luar negeri sekitar Rp.18,5 triliun dalam rekening beberapa bank di Amerika Serikat.7
Perkara tindak pidana korupsi Gayus Tambunan dengan jumlah aset Gayus yang
disita sekitar Rp.109 miliar, diantaranya rekening senilai Rp.28 miliar serta aset
berupa uang US$659.800, Sin$9.680.000, dan 31 batang emas (@100 gram) senilai
Rp.74 miliar.8 Kasus-kasus korupsi yang diungkapkan di atas, hanya sebahagian kecil
dari jumlah kasus korupsi yang pernah terjadi di Indonesia. Kasus-kasus korupsi di
atas, tergolong bahwa aset negara yang dikorupsi jumlahnya banyak.
Berdasarkan fakta yang terjadi, dapat dikatakan bahwa korupsi tidak pernah
habis bahkan tumbuh subur. Marwan Effendy, menyebut korupsi di Indonesia seperti
tidak habis-habisnya, semakin ditindak semakin meluas, bahkan perkembangannya
terus meningkat dari tahun ke tahun, baik dalam jumlah kasus, jumlah kerugian
keuangan negara maupun kualitasnya. Bahkan modus operandinya semakin terpola
5

http://groups.yahoo.com/group/nasional-list/message/62822, diakses tanggal 9 Februari

2011.
6

http://www.sinarharapan.co.id/berita/0601/09/nas10.html, diakses tanggal 9 Februari 2011.
http://kontak.club.fr, diakses tanggal 9 Februari 2011.
8
Metanews.com., ”Kasus Gayus Diusulkan Dilebur”, Tanggal 26 Januari 2011.
7

Universitas Sumatera Utara

dan tersistematis, lingkupnya pun telah merambah ke seluruh aspek kehidupan
masyarakat dan lintas batas negara, korupsi secara nasional disepakati tidak saja
sebagai kejahatan luar biasa (extra ordinary crime) dan kejahatan transnasional.9
Pengembalian uang negara atau aset negara hasil dari tindak pidana korupsi
dalam pelaksanaannya terasa sulit diterapkan karena pada umumnya tindak pidana
korupsi baik dalam skala kecil maupun skala besar dilakukan dengan cara-cara yang
sangat rahasia, terselubung, melibatkan banyak pihak dengan solidaritas yang kuat
untuk saling melindungi atau menutupi perbuatan korupsi melalui manipulasi hukum,
rekayasa hukum, dan masa bodoh para pejabat negara terhadap kepentingan rakyat.
Bahkan harta kekayaan dari hasil jarahan para koruptor sudah sampai melewati lintas
negara melalui transfer antar rekening ke negara lain sebagai antisipatif dan untuk
mengaburkan asal-usul kekayaan tersebut.10 Oleh sebab itu, harus dilakukan cara
yang luar biasa yaitu dengan cara perampasan terhadap aset hasil korupsi tersebut.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), pada tahun 2003 membentuk sebuah
konvensi yang dinamakan dengan Konvensi PBB Anti Korupsi 2003 (KAK 2003)
atau United Nations Convention Against Corruption 2003 (UNCAC 2003). Pada
tanggal 18 April 2006 KAK 2003 ini diratifikasi oleh pemerintah Indonesia melalui
Undang-Undang Nomor Nomor 7 Tahun 2006 terdiri dari VIII Bab yaitu: Bab I
Ketentuan-ketentuan umum; Bab II Tindakan-tindakan pencegahan; Bab III
9

Marwan Effendy, ”Pengadilan Tindak Pidana Korupsi”, Lokakarya, Anti-korupsi bagi
Jurnalis, Surabaya, 2007, hal. 1.
10
Oka Mahendra, ”Kerjasama Bantuan Timbal Balik Dalam Pengembalian Aset Hasil
Korupsi”, Makalah dalam Seminar Sinergi Pemberantasan Korupsi, Jakarta, Selasa 4 April 2006, hal.
9.

Universitas Sumatera Utara

Kriminalisasi dan Penegakan Hukum; Bab IV Kerjasama internasional; Bab V
Pengembalian asset; Bab VI Bantuan teknis, Pelatihan dan Pengumpulan, Peraturan
dan Analisis informasi; Bab VII Mekanisme untuk pelaksanaan; dan Bab VIII Pasalpasal penutup.11
Sebelum KAK 2003 atau UNCAC 2003, ada dua konvensi yang dikeluarkan
oleh negara-negara yang tergabung dalam Uni Eropa (Organization of Council of
Europe) yaitu Criminal Law Convention on Corruption yang telah berlaku sejak
tanggal 1 Juli 2002, dan Civil Law Convention on Corruption yang berlaku efektif
sejak tanggal 1 November 2003, dan telah diratifikasi oleh 21 negara Uni Eropa.
Selain itu, dapat dicatat bahwa negara-negara yang tergabung dalam Uni Afrika telah
pula menghasilkan Africa Union Convention on Preventing and Combating
Corruption, yang ditetapkan di Adis Ababa (ibu kota Ethiopia) pada tanggal 18 s/d 19
September 2002.12
KAK 2003 sangat berarti bagi Indonesia dalam memberantas tindak pidana
korupsi. Arti pentingnya KAK 2003 bagi Indonesia adalah:13

11

Ratifikasi KAK 2003 atau UNCAC 2003 oleh pemerintah Indonesia yang secara politis
menempatkan posisi Indonesia sebagai salah satu negara di Asia yang memiliki komitmen
pemberantasan korupsi lewat kerjasama internasional, diharap mampu memberikan dorongan terutama
bagi negara- negara lain yang kurang kooperatif dalam pengembalian aset hasil korupsi di Indonesia,
di samping pula langkah Indonesia untuk mencegah dan mengembalikan aset hasil korupsi dari negara
lain akan menjadi bagian dari agenda kerjasama internasional dalam upaya pemberantasan korupsi
secara global.
12
I. Gusti Ketut Ariawan, ”Stolen Asset RecoveryInitiative, Suatu Harapan Dalam
Pengembalian Aset Negara”, dalam Jurnal Kertha Patrika, Vol. 33 No. 01, Bali, Januari 2008, hal. 6.
13
Penjelasan Undang-Undang Nomor Nomor 7 Tahun 2006 tentang Ratifikasi KAK 2003
atau UNCAC 2003.

Universitas Sumatera Utara

1. Untuk meningkatkan kerja sama internasional khususnya dalam melacak,
membekukan, menyita, dan mengembalikan aset-aset hasil tindak pidana
korupsi yang ditempatkan di luar negeri;
2. Meningkatkan kerja sama internasional dalam mewujudkan tata pemerintahan
Yang baik;
3. Meningkatkan kerja sama internasional dalam pelaksanaan perjanjian
ekstradisi, bantuan hukum timbal balik, penyerahan narapidana, pengalihan
proses pidana, dan kerja sama penegakan hukum;
4. Mendorong terjalinnya kerja sama teknik dan pertukaran informasi dalam
pencegahan dan pemberantasan tindak pidana korupsi di bawah payung kerja
sama pembangunan ekonomi dan bantuan teknis pada lingkup bilateral,
regional, dan multilateral; dan
5. Harmonisasi peraturan perundang-undangan nasional dalam pencegahan dan
pemberantasan tindak pidana korupsi sesuai dengan Konvensi ini.
PPB prihatin terhadap masalah korupsi dan menyatakan bahwa korupsi
merupakan suatu ancaman terhadap stabilitas dan keamanan masyarakat, merusak
lembaga-lembaga dan nilai-nilai demokrasi, nilai-nilai etika, dan keadilan serta
menghambat pembangunan berkelanjutan (sustainable development) bagi negaranegara yang menghadapi fenomena korupsi.14 Bahkan fenomena korupsi saat ini
disertai dengan tindak pidana lain terkait dengan upaya menyembunyikan aset-aset
hasil korupsi melalui pencucian uang atau money laundering.15
Sebagaimana tercantum dalam pembukaan ke-4 UNCAC 2003 atau KAK
2003 yang berbunyi sebagai berikut:16
Convinced that corruption is no longer a local matter but transnasional
phenomenon that effects all societies and economies, making internasional
cooperation to prevent and control it essential. Artinya, Meyakini bahwa
korupsi tidak lagi merupakan masalah lokal, melainkan suatu fenomena
transnasional yang mempengaruhi seluruh masyarakat dan ekonomi yang
14

Purwaning M. Yanuar, Op. cit., hal. 1.
Ibid., hal. 47.
16
Ermansyah Djaja, Memberantas Korupsi Bersama Komisi Pemberantasan Korupsi,
(Jakarta: Sinar Grafika, 2008), hal. 3.
15

Universitas Sumatera Utara

mendorong kerja sama internasional untuk mencegah dan mengontrolnya
secara esensial.
Materi KAK 2003 atau UNCAC 2003 tercermin suatu perubahan cara
pandang terhadap multi aspek korupsi, antara lain:17
1. Masalah korupsi memiliki multi aspek, yakni: aspek hukum, HAM,
pembangunan berkelanjutan, kemiskinan, dan keamanan;
2. Sistem pembuktian secara konvensional tidak selalu ampuh dalam
pemberantasan korupsi, sehingga beban pembuktian terbalik merupakan solusi
alternatif yang potensial.
Hal yang paling mendasar dalam KAK 2003 adalah kerja sama internasional
di bidang perampasan aset (asset recovery).18 KAK 2003 disusul dengan
diluncurkannya Stolen Asset Recovery (StAR) pada bulan Juni 2007 yang memuat
challenges, opportunities dan action plan dalam upaya pengembalian aset hasil
korupsi. StAR merupakan program bersama yang diluncurkan oleh Bank Dunia
(World Bank) dan PBB khususnya United Nations Office on Drugs and Crimes
(UNODC) bertujuan untuk meningkatkan

kerja sama internasional dalam

mengimplementasikan upaya pengembalian aset hasil korupsi sebagai salah satu
terobosan dalam hukum internasional yang menetapkan landasan mengenai
pengembalian aset hasil kejahatan korupsi di negara-negara sedang berkembang.
StAR merupakan bagian integral dari Governance and Anti Corruption Strategy
World Bank Group yang menyatakan perlunya bantuan bagi negara-negara
berkembang dalam pengembalian asset. Progam yang diluncurkan oleh PBB ini
sebenarnya terinspirasi dari keberhasilan Peru, Nigeria dan Filipina dalam
17
18

I. Gusti Ketut Ariawan, Loc. cit.
Chapter V Artikel 51 dan 57 UNCAC 2003.

Universitas Sumatera Utara

mengembalikan aset-aset yang diinvestasikan di Negara lain oleh mantan kepala
negaranya. Walaupun keberhasilan tersebut tidak mudah dan membutuhkan waktu
yang relatif lama.19
Melalui kerja sama internasional, untuk dapat merampas aset hasil korupsi
yang melalui lintas batas antara negara tersebut, dapat dilakukan melalui kerja sama
Perjanjian Bantuan Hukum Timbal Balik (Mutual Legal Assistance/MLA) oleh
negara-negara yang tergabung dalam KAK 2003. Pada prinsipnya dapat dilakukan 3
(tiga) bentuk yaitu: Bilateral; Regional; dan Multilateral.20
Perjanjian Bantuan Hukum Timbal Balik (Mutual Legal Assistance/MLA)
pada prinsipnya, menurut Yunus Husein, harus memperhatikan prinsip persamaan
(aquality) yang didasarkan pada sikap saling menghargai dan kedaulatan
(souvereignity) dari negara-negara yang terlibat dalam kerjasama tersebut, dan
kerjasama yang tertuang dalam perjanjian internasional berlaku dan mengikat secara
politik dan hukum (legally and politically binding effect) kepada negara-negara yang
membuatnya.21

19

http://go.worldbank.org/U2ZCWCDKR0, diakses tanggal 7 Februari 2011. United Nations
Launch of Asset Recovery Initiative. StAR merupakan program bersama yang diluncurkan oleh Bank
Dunia dan PBB dalam rangkaian peningkatan kerja sama internasional dalam mengimplementasikan
upaya pengembalian aset hasil korupsi, sebagai salah satu terobosan dalam hukum internasional yang
menetapkan landasan mengenai pengembalian aset hasil korupsi di negara-negara sedang berkembang.
20
Zulkarnain Sitompul, “Merampas Hasil Korupsi Tantangan Kerja Sama Internasional”,
Artikel dalam Jurnal Forum Keadilan, Nomor 40, Tanggal 13 Februari 2005, hal. 32.
21
Yunus Husein, “Perspektif dan Upaya yang Dilakukan Dalam Perjanjian Bantuan Hukum
timbal Balik Mengenai tindak Pidana Pencucian Uang (Money Laundering)”, Makalah disampaikan
pada Seminar tetang Bantuan Hukum Timbal Balik Dalam Masalh Pidana, yang diselenggarakan oleh
BPHN, Bandung, Tanggal 29 s/d 30 Agustus 2006, hal. 21.

Universitas Sumatera Utara

Pola tindak pidana korupsi bertitik tolak pada tingkah laku atau tindakan yang
tidak bermoral, tidak etis dan atau melanggar hukum untuk kepentingan pribadi dan
atau golongan yang merugikan keuangan negara,22 maka untuk memberantas tindak
pidana korupsi tersebut, di samping mengoptimalkan hukum pidana,23 juga harus
menggunakan sarana hukum perdata. Proses perdata dilakukan dalam pengembalian
kerugian keuangan negara dengan menggunakan instrumen civil forfeiture yang
merupakan amanah dari KAK 2003.24
Berkenaan dengan instrumen civil forfeiture, istilah pengambilalihan atau
pengembalian kurang relevan digunakan, perlu ditekankan bahwa dalam konteks civil
forveiture lebih tepat digunakan istilah perampasan atau merampas aset. Objeknya
adalah aset negara berada di pihak lain yang tidak berhak untuk memilikinya karena
terkait tindak pidana. Irdanul Achyar, menyatakan:25
Jalur keperdataan dalam perampasan aset negara, dibandingkan jalur pidana
relatif lebih mudah karena dalam hal pembuktian, pemerintah cukup
mempunyai bukti awal bahwa aset yang akan diambil adalah hasil, atau
berhubungan dengan tindak pidana. Implementasinya adalah apa yang disebut
civil forfeiture. Dalam masalah pembuktian, pemerintah cukup menghitung
berapa pendapatan yang layak bagi pelaku, kemudian membandingkan dengan
aset yang dimiliki. Jika aset yang dimiliki melebihi jumlah pendapatannya,
22

Juniadi Soewartojo, Korupsi, Pola Kegiatan dan Penindakannya Serta Peran Pengawasan
Dalam Penanggulangannya, (Jakarta: Balai Pustaka, 1998), hal. 5.
23
Romli Atmasasmita, Kapita Selekta Hukum Pidana dan Kriminologi, (Bandung: Mandar
Maju, 1995), hal. 135. Lihat juga: IGM Nurdjana., Sistem Hukum Pidana dan Bahaya Laten Korupsi
”Perspektif Tegaknya Keadilan Melawan Mafia Hukum”, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), hal.
12. Sistem peradilan pidana (criminal justice system) adalah suatu kesatuan proses pengadilan pidana
yang tidak dapat dipisahkan antara satu sama lainnya dalam penegakan hukum pidana.
24
Tambok Nainggolan, Kerugian Keuangan Negara Pada Yayasan Beasiswa Supersemar,
Tesis, (Medan: Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara 2010), hal.
90.
25
Irdanul Achyar, Analisis Pengimplementasian Rezim Civil Forfeiture Dalam
Pemberantasan Money Laundering, (Medan: Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum Universitas
Sumatera Utara 2010), hal. 6.

Universitas Sumatera Utara

maka pelaku berkewajiban membuktikan bahwa aset tersebut diperoleh secara
legal.
Bismar Nasution, mengatakan bahwa rejim civil forfeiture bisa lebih effektif
dalam mengembalikan aset yang dicuri para koruptor dibandingkan melalui rejim
pidana. Hal ini dikarenakan rejim civil forfeiture mempunyai kelebihan dalam
mempermudah pengambilan aset melalui proses pembuktian di persidangan. Civil
forfeiture menggunakan rejim hukum perdata yang menggunakan standar pembuktian
lebih rendah dari pada standar yang dipakai oleh proses hukum pidana. Civil
forfeiture menggunakan sistem pembuktian terbalik dimana apabila pemerintah
cukup mempunyai bukti awal bahwa aset yang akan dirampas adalah hasil yang
berhubungan dengan tindak pidana, maka pelaku harus membuktikannya bahwa harta
itu adalah miliknya dan bukan berasal dari suatu tindak pidana.26
Hal inilah yang menyebabkan rezim civil forfeiture menjadi suatu alternatif
yang sangat baik apabila jalur pidana tidak berhasil. Bahkan dalam praktiknya,
ditemukan bahwa prosedur civil forfeiture dinilai lebih efektif dalam mengambil
kembali aset-aset yang dicuri, meskipun prosedur ini tidak luput dari berbagai
kelemahan seperti lambat dan biaya tinggi.27

26
Bismar Nasution, “Stolen Asset Recovery Initiative dari Perspektif Hukum Ekonomi di
Indonesia”, Makalah disampaikan pada Seminar Pengkajian Hukum Nasional 2007, Pengembalian
Aset (Asset Recovery) Melalui Instrumen Stolen Asset Recovery (StAR) Initiative dan PerundangUndangan Indonesia, yang diadakan oleh Komisi Hukum Nasional (KHN) di Hotel Millenium Jakarta
28-29 November 2007, hal. 6. Bismar mencontohkan misalnya dalam hal pemerintah cukup
menghitung berapa pendapatan dari si koruptor dan membandingkan dengan jumlah aset yang
dimilikinya. Jika aset tersebut melebihi dari jumlah pendapatan si koruptor, maka tugas si koruptorlah
untuk membuktikan bahwa aset tersebut dia dapat melalui jalur yang sah.
27
Ibid., hal. 7.

Universitas Sumatera Utara

Menurut Anthony Kennedey, implementasi civil forfeiture yang dilakukan di
tiap-tiap negara berbeda-beda. Civil forfeiture pada awalnya diterapkan dalam skala
domestik, yaitu mengajukan gugatan perdata untuk menyita atau merampas atau
mengambil alih aset-aset hasil kejahatan yang berada dalam negeri. Apabila aset hasil
kejahatan berada di luar negeri, beberapa negara yang menggunakan civil forfeiture
secara domestik mengaplikasikannya secara ekstra territorialitas.28
Sebagaimana telah disebutkan di atas bahwa model civil forfeiture adalah
model yang menggunakan pembalikan beban pembuktian. Model ini merupakan
model yang memfokuskan kepada gugatan terhadap aset bukan mengejar pelaku
(tersangka). Penyitaan dengan menggunakan model civil forveiture ini lebih cepat
setelah diduga adanya hubungan aset dengan tindak pidana, sehingga aset negara
dapat diselamatkan meskipun tersangka telah melarikan diri atau meninggal dunia.
Karena pada prinsipnya civil forfeture adalah “hak negara harus kembali ke negara
demi kesejahteraan rakyat”. Terdapat beberapa perbedaan mendasar secara umum
antara civil forfeiture dibandingkan dengan criminal forfeiture, antara lain:29
1. Civil forfeiture tidak berhubungan dengan sebuah tindak pidana, sehingga
penyitaan dapat lebih cepat diminta kepada pengadilan. Penyitaan dalam
proses pidana mengharuskan adanya seorang tersangka atau putusan bersalah.
Civil forfeiture dapat dilakukan secepat mungkin begitu adanya hubungan
antara aset dengan tindak pidana;
2. Civil forfeiture menggunakan standar pembuktian perdata, tetapi dengan
menggunakan sistem pembalikan beban pembuktian, sehingga lebih ringan
dalam melakukan pembuktian terhadap gugatan yang diajukan;

28

Anthony Kennedy, “An Evaluation of the Recovery of Criminal Proceeds in the United
Kingdom”, Journal of Money Laundering Control, Vol.10, No.1, Tahun 2007, hal. 144.
29
Tambok Nainggolan, Op. cit., hal. 25.

Universitas Sumatera Utara

3. Civil forfeiture merupakan proses gugatan terhadap asset (in rem), sehingga
pelaku tindak pidana tidak relevan lagi;
4. Civil forfeiture berguna bagi kasus dalam hal penuntutan secara pidana
mendapat halangan atau tidak mungkin untuk dilakukan.
Keberhasilan penggunaan civil forfeiture di negara maju bisa dijadikan
wacana bagi Indonesia karena civil forfeiture dapat memberikan keuntungan dalam
proses peradilan dan untuk mengejar aset para koruptor. Seperti yang terlihat selama
ini, seringkali jaksa mengalami kesulitan dalam membuktikan kasus-kasus korupsi
karena tingginya standar pembuktian yang digunakan dalam kasus pidana. Selain itu,
seringkali dalam proses pemidanaan para koruptor, mereka menjadi sakit, hilang atau
meninggal yang dapat mempengaruhi atau memperlambat proses peradilan. Hal ini
dapat diminimalisir dengan menggunakan civil forfeiture karena obyeknya adalah
aset bukan koruptornya, sehingga sakit, hilang atau meninggalnya si koruptor bukan
menjadi halangan dalam proses persidangan.30
Kemudahan dalam masalah pembuktian melalui civil forfeiture, merupakan
alternatif yang potensial, karena lebih efektif dalam upaya pengembalian aset,
walaupun civil forfeiture tidak luput dari berbagai kelemahan, seperti lambat dan
biaya tinggi. Selain itu, perlu dipertimbangkan bahwa pemanfaatan civil forfeiture
harus diikuti dengan adanya perjanjian bilateral (ekstradisi) di samping pula
memerlukan suatu restrukrisasi hukum nasional. Restrukrisasi di bidang hukum,
antara lain menghendaki adanya reformasi bidang hukum materiil dan formil. Bidang
hukum formil antara lain, hukum acara perdata yang harus diformat kembali,

30

Ibid., hal. 26.

Universitas Sumatera Utara

mengingat Indonesia masih menggunakan hukum acara perdata biasa yang hanya
berlaku dalam kasus-kasus yang bersifat individual atau private to private. Sementara
civil forfeiture menuntut legal expertise dan pengetahuan teknis yang tinggi.31
Penggunaan instrumen civil forfeiture merupakan suatu hal yang mutlak, mengingat
aset hasil korupsi lebih banyak disembunyikan di negara lain. Hal yang lebih penting
adalah perlu untuk dipertimbangkannya aspek check and balance karena jalur ini
rawan penyalahgunaan oleh aparat penegak hukum.32
Instrumen civil forfeiture menggunakan gugatan in rem yakni suatu gugatan
yang substansinya merupakan perampasan terhadap harta kekayaan hasil tindak
pidana korupsi secara perdata yakni dengan pemulihan kembali harta kekayaan
negara yang telah dikorupsi. Berbeda dengan perampasan harta kekayaan secara
pidana merupakan bagian dari pelaksanaan putusan hakim pidana dalam suatu
perkara pidana, jenis perampasan harta kekayaan ini disebut juga sebagai tindakan in
personam terhadap terpidana, bukan tindakan in rem terhadap harta kekayaan yang
terkait dengan tidak pidana. Civil forfeiture merupakan proses gugatan terhadap aset
(in rem), sehingga pelaku tindak pidana tidak relevan lagi. Jadi, instrumen civil
forfeiture cukup menjanjikan dalam merampas aset korupsi karena dapat melakukan

31
32

Ibid., hal. 27.
Bismar Nasution, Op. cit., hal. 11.

Universitas Sumatera Utara

penyitaan aset melalui gugatan in rem atau gugatan terhadap aset hasil korupsi secara
perdata.33
Semakin meningkatnya kuantitas dan kualitas kasus-kasus korupsi di
Indonesia, maka untuk memerangi korupsi, salah satu cara dapat menggunakan
instrument civil forfeiture untuk memudahkan perampasan aset koruptor melalui jalur
perdata. Indonesia selama ini cenderung mengutamakan penyelesaian melalui jalur
pidana yang lebih fokus untuk menghukum pelaku tindak pidana korupsi dari pada
pengembalian kerugian keuangan negara. Kenyataannya jalur pidana tidak mampu
untuk meredam atau mengurangi jumlah/terjadinya tindak pidana korupsi.34
Tindak pidana korupsi adalah tindak pidana khusus. Sebab tindak pidana
korupsi memiliki spesifikasi tertentu yang berbeda dengan hukum pidana secara
umum, seperti adanya penyimpangan hukum acara dan materi yang diatur
dimaksudkan untuk merampas aset negara hasil korupsi.35 Oleh sebab itulah,
Konvensi PBB mendiskripsikan bahwa masalah korupsi sudah merupakan ancaman
serius terhadap stabilitas dan keamanan masyarakat, melemahkan institusi, dan
merusak demokrasi.36

33

Oloan Harahap, Analisis Guigatan Bersifat In Rem Terhadap Pelaku Tindak Pidana
Korupsi pada Sistem Common Law, Tesis, (Medan: Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Hukum
Universitas Sumatera Utara 2009), hal. 2.
34
Irdanul Achyar, Op. cit., hal. 49.
35
Purwaning M. Yanuar, Op. cit., hal. 45.
36
Lilik Mulyadi, Pembalikan Beban Pembuktian Tindak Pidana Korupsi, (Bandung: Alumni,
2007), hal. 3.

Universitas Sumatera Utara

B. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, perumusan masalah dalam penelitian ini
adalah:
1. Bagaimanakah pengaturan perampasan aset tindak pidana korupsi berdasarkan
Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 junto Undang-Undang Nomor 20
Tahun 2001?
2. Bagaimanakah perampasan aset milik pelaku tindak pidana korupsi melalui
instrumen civil forfeiture?
3. Apakah kelebihan dan kelemahan penggunaan instrumen civil forfeiture
dalam perampasan aset milik pelaku tindak pidana korupsi?

C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan perumusan masalah di atas maka yang menjadi tujuan dari
penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui dan mendalami pengaturan perampasan aset tindak pidana
korupsi berdasarkan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 junto UndangUndang Nomor 20 Tahun 2001.
2. Untuk mengetahui dan mendalami perampasan aset milik pelaku tindak
pidana korupsi melalui instrumen civil forfeiture.
3. Untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan penggunaan instrumen civil
forfeiture dalam perampasan aset milik pelaku tindak pidana korupsi.

Universitas Sumatera Utara

D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini dapat memberikan sejumlah manfaat kepada para pihak, baik
secara teoritis maupun praktis, manfaat tersebut adalah:
1. Secara teoritis
Penelitian ini dapat membuka wawasan dan paradigma berfikir dalam
memahami dan mendalami permasalahan hukum khususnya pemahaman tentang
penggunaan instrumen civil forfeiture dalam merampas aset milik pelaku tindak
pidana korupsi. Selain itu, penelitian ini dapat menjadi bahan referensi bagi peneliti
selanjutannya serta seb