Pengaruh model cooperative learning tipe snowball throwing terhadap hasil belajar matematika siswa

PENGARUH MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE
SNOWBALL THROWING TERHADAP
HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA

Disusun Oleh:

Rahmadini Husna
105017000434

JURUSAN PENDIDIKAN MATEMATIKA
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2010

ABSTRAK

RAHMADINI HUSNA, Pengaruh Model Cooperative Learning tipe Snowball
Throwing Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa. Skripsi Jurusan
Pendidikan Matematika, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas
Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Oktober 2010.
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh model Coopertive
Learning tipe Snowball Throwing terhadap hasil belajar matematika siswa. Penelitian
ini dilakukan di MTs. Negeri Legok Tahun Ajaran 2010/2011. Metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah metode quasi eksperimen dengan desain
penelitian Two Group Randomized Subject Posttest Only. Subyek penelitian ini
adalah 72 siswa yang terdiri dari 36 siswa untuk kelas eksperimen dan 36 siswa untuk
kelas kontrol yang diperoleh dengan teknik sampel acak kelas pada siswa kelas VII.
Instrumen yang digunakan adalah tes hasil belajar matematika yang terdiri dari 20
butir soal bentuk pilihan ganda. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian
ini adalah uji-t, dan berdasarkan perhitungan uji-t menunjukkan thitung 2,37 dan ttabel
1,66 pada taraf signifikansi 5% yang berarti thitung > ttabel (2,37 > 1,66), maka H0
ditolak dan Ha diterima. Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa ” Rata-rata hasil
belajar matematika siswa yang diajar dengan model Cooperative Learning tipe
Snowball Throwing lebih tinggi dari pada rata-rata hasil belajar matematika siswa
yang diajar dengan pembelajaran konvensional”. Dengan demikian, model
Cooperative Learning tipe Snowball Throwing berpengaruh terhadap hasil belajar
matematika siswa.
Kata kunci : Cooperative Learning, Snowball Throwing, Hasil Belajar.

i

ABSTRACT

RAHMADINI HUSNA, The Influence of Cooperative Learning type Snowball
Throwing on Students Mathematics Learning Outcomes. The paper of
Mathematics Education Department, Faculty of Tarbiyah and Teaching Science,
Syarif Hidayatullah State Islamic University Jakarta, Oktober 2010.
The purpose of this research is to determine the influence of Cooperative
Learning type Snowball Throwing on students mathematics learning outcomes. The
research was conducted at MTs Negeri Legok for academic year 2010/2011. The
method used in this research is quasi experimental method with Subject Two
randomized posttest-only group. The subject of this research are 72 students
consisting of 36 students for grade 36 students to experimental and control classes
obtained by cluster random sampling technique in class VII. Instruments are obtained
from the test scores of students mathematics learning outcomes. Tests consisted of 20
questions in mulitiple choice. Data analysis technique used in this research are t-test
to test the hypotesis with thitung 2,37 and ttabel 1,66 in taraf signifikansi 5% it’s mean
thitung > ttabel (2, 37 > 1, 66) , then H0 rejected and Ha accepted. So it can be concluded
that " The students who taught with cooperative learning type Snowball Throwing
have mean score of students mathematics learning outcomes higher than who taught
with convensional learning”. Therefore cooperative learning model type Snowball
Throwing is effected to students mathematics learning outcomes.

Keywords: Cooperative Learning, Snowball Throwing, Learning Outcomes.

ii

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT, karena atas rahmat
dan hidayah-Nya maka skripsi ini dapat diselesaikan. Penulisan skripsi ini merupakan
salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Matematika pada Fakultas
Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
Jakarta.
Disadari sepenuhnya bahwa kemampuan dan pengetahuan penulis sangat
terbatas, maka adanya bimbingan, pengarahan dan dukungan dari berbagai pihak
sangat membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. Untuk itu penulis
mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya, kepada yang terhormat :
1. Bapak Prof. Dr. H. Dede Rosyada, MA, Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan.
2. Ibu Dra. Maifalinda Fatra, M.Pd, Ketua Jurusan Pendidikan Matematika.
3. Bapak Otong Suhyanto, M.Si, Sekretaris Jurusan Pendidikan Matematika.
4. Bapak Drs. H. M. Ali Hamzah, M.Pd, pembimbing I yang selalu memberikan
bimbingan dan pengarahan dalam penulisan skripsi ini.
5. Ibu Lia Kurniawati, MPd, pembimbing II yang selalu memberikan bimbingan dan
pengarahan dalam penulisan skripsi ini.
6. Seluruh Dosen dan Staf Jurusan Pendidikan Matematika.
7. Ibu Halimatussadiyah, S.Ag, kepala MTs. Negeri Legok yang telah banyak
membantu penulis selama penelitian berlangsung.
8. Ibu Fiyanti Malawati, S.Pd, guru pamong tempat penulis mengadakan penelitian.
9. Ayah dan ibuku tercinta yang senantiasa memberikan motivasi dan dukungan
kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
10. Suami dan putriku tersayang yang senatiasa memberiku motivasi, dukungan,
semangat dan pengertiannya kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.

iii

11. Kakak dan adikku tercinta yang senantiasa memberikan doanya kepada penulis
dalam menyelesaikan skripsi ini.
12. Teman-teman ku tercinta, mahasiswa dan mahasiswi jurusan pendidikan
matematika angkatan 2005, semoga kebersamaan kita menjadi kenangan terindah
untuk menggapai kesuksesan dimasa mendatang.
13. Semua pihak yang telah banyak memberikan bantuan, dorongan dan informasi
serta pendapat yang sangat bermanfaat bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi
ini.
Semoga Allah SWT dapat menerima sebagai amal kebaikan atas jasa baik
yang diberikan kepada penulis.
Penulis menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih banyak kekurangankekurangan karena terbatasnya kemampuan penulis. Untuk itu kritik dan saran yang
membangun sangat penulis harapkan. Mudah-mudahan skripsi ini dapat bermanfaat
bagi penulis khususnya dan umumnya bagi khasanah ilmu pengetahuan. Amin.

Jakarta, Oktober 2010
Penulis

Rahmadini Husna

iv

DAFTAR ISI

hal
LEMBAR PENGESAHAN
SURAT PERNYATAAN KARYA ILMIAH
ABSTRAK ......................................................................................................

i

ABSTRACT .....................................................................................................

ii

KATA PENGANTAR ....................................................................................

iii

DAFTAR ISI ...................................................................................................

v

DAFTAR TABEL ..........................................................................................

viii

DAFTAR GAMBAR ......................................................................................

ix

DAFTAR LAMPIRAN ..................................................................................

x

BAB I

PENDAHULUAN............................................................................

1

A. Latar Belakang Masalah..............................................................

1

B. Identifikasi Masalah ....................................................................

5

C. Pembatasan Masalah ...................................................................

6

D. Perumusan Masalah ....................................................................

6

E. Tujuan Penelitian ........................................................................

6

F. Manfaat Penelitian ......................................................................

6

BAB II PENYUSUNAN KERANGKA TEORETIK DAN PENGAJUAN
HIPOTESIS .....................................................................................

8

A. Deskripsi Teoretik .......................................................................

8

1. Pembelajaran Matematika .....................................................

8

a. Belajar dan Pembelajaran................................................

8

b. Hasil Belajar Matematika................................................

11

2. Model Cooperative Learning Tipe Snowball Throwing ........

16

a. Model Cooperative Learning ..........................................

16

b. Cooperative Learning Tipe Snowball Throwing ............

22

3. Pembelajaran Konvensional ..................................................

25

4. Hasil Penelitian yang Relevan ..............................................

26

v

B. Kerangka Berpikir .......................................................................

27

C. Pengajuan Hipotesis ....................................................................

29

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ....................................................

30

A. Tempat dan Waktu Penelitian .....................................................

30

1. Tempat Penelitian ................................................................

30

2.

Waktu Penelitian ..................................................................

30

B. Metode dan Desain Penelitian....................................................

30

C. Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel ................................

31

D. Teknik Pengumpulan Data................................................. ........

31

1.

Variabel yang Diteliti ..........................................................

31

2.

Data Penelitian .....................................................................

32

3.

Instrumen Penelitian ............................................................

32

a. Uji Validitas ....................................................................

33

b. Uji Reliabilitas ................................................................

35

c. Uji Taraf Kesukaran ........................................................

36

d. Uji Daya Beda.................................................................

37

E. Teknik Analisa Data...................................................................

38

1. Uji Normalitas ....................................................................

38

2. Uji Homogenitas ..................................................................

39

3. Pengujian Hipotesis .............................................................

40

F. Hipotesis Statistik ......................................................................... 43

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .............................

44

A. Deskripsi Data.............................................................................

44

1.

Hasil Belajar Matematika Siswa Kelompok Eksperimen....... 45

2.

Hasil Belajar Matematika Siswa Kelompok Kontrol ..........

47

B. Pengujian Persyaratan Analisis ...................................................

50

1.

Uji Normalitas .....................................................................

50

2.

Uji Homogenitas ..................................................................

52

C. Pengujian Hipotesis dan Pembahasan .........................................

52

1.

Pengujian Hipotesis ................................................................ 52

vi

2. Pembahasan Hasil Penelitian ................................................... 53
D. Keterbatasan Penelitian ...............................................................

58

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .......................................................

60

A. Kesimpulan .................................................................................

60

B. Saran............................................................................................

61

DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................

62

LAMPIRAN-LAMPIRAN

vii

DAFTAR TABEL

Tabel 1

Perbedaan Kelompok Belajar Kooperatif Dengan Kelompok Belajar
Konvensional ..............................................................................

19

Tabel 2

Waktu Pelaksanaan Penelitian ....................................................

30

Tabel 3

Desain Penelitian . ......................................................................

31

Tabel 4

Kisi-Kisi Instrumen Tes Hasil Balajar ........................................

32

Tabel 5

Klasifikasi Interpretasi Reliabilitas .............................................

36

Tabel 6

Klasfikasi Interpretasi Taraf Kesukaran .....................................

37

Tabel 7

Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Matematika Kelompok
Eksperimen .................................................................................

Tabel 8

Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Matematika Kelompok
Kontrol ........................................................................................

Tabel 9

45

Perbandingan

Hasil

Belajar

Matematika

48

Kelompok

Eksperimen dan Kelompok Kontrol ...........................................

50

Tabel 10

Hasil Uji Normalitas Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol.......

51

Tabel 11

Hasil Uji Homogenitas................................................................

52

Tabel 12

Hasil Uji Perbedaan Dengan Statistik Uji t ................................

53

viii

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 Kerangka Berpikir Model Cooperative Learning tipe Snowball
Throwing .......................................................................................

28

Gambar 2 Grafik Histogram dan Poligon Distribusi Frekuensi hasil Belajar
Matematika Kelompok Eksperimen ..............................................

47

Gambar 3 Grafik Histogram dan Poligon Distribusi Frekuensi hasil Belajar
Matematika Kelompok Eksperimen ..............................................

49

Gambar 4. Pertanyaan Siswa Dalam Satu Kelompok ......................................

55

Gambar 5. Siswa melempar kertas yang digulung seperti bola .......................

56

Gambar 6. Siswa sedang melakukan diskusi kelompok ..................................

57

ix

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1.

Hasil Wawancara Pra Penelitian ..............................................

64

Lampiran 2.

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Kelas Eksperimen

67

Lampiran 3.

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Kelas Kontrol ......

91

Lampiran 4.

Kertas Kerja Siswa ................................................................... 115

Lampiran 5.

Uji Coba Instrumen Tes ........................................................... 116

Lampiran 6.

Insrumen Tes ........................................................................... 120

Lampiran 7.

Jawaban Instrumen Tes ............................................................ 123

Lampiran 8.

Perhitungan Validitas Item Uji Coba Instrumen ...................... 124

Lampiran 9.

Perhitungan Reliabilitas Item Uji Coba Instrumen .................. 127

Lampiran 10. Langkah-Langkah Perhitungan Indeks Kesukaran Tes
Berbentuk Pilihan Ganda ........................................................ 129
Lampiran 11. Langkah-Langkah Perhitungan Daya Beda Tes
Berbentuk Pilihan Ganda ......................................................... 131
Lampiran 12. Hasil Perhitungan Validitas, Daya Beda dan Tingkat
Kesukaran Tes Soal Postest ..................................................... 133
Lampiran 13. Lembar Keterangan Perbaikan Instrumen ................................ 134
Lampiran 14. Hasil Belajar Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol . 137
Lampiran 15. Perhitungan Daftar Distribusi Frekuensi Kelompok
Eksperimen............................................................................... 139
Lampiran 16. Perhitungan Daftar Distribusi Frekuensi Kelompok Kontrol .. 143
Lampiran 17. Uji Normalitas Kelas Eksperimen............................................ 147
Lampiran 18. Uji Normalitas Kelas Kontrol .................................................. 149
Lampiran 19. Perhitungan Uji Homogenitas .................................................. 151
Lampiran 20. Perhitungan Uji Hipotesis Statistik .......................................... 152
Lampiran 21. Tabel Nilai ”r” Product Moment .............................................. 154
Lampiran 22. Luas Kurva Di Bawah Normal................................................. 156

x

Lampiran 23. Nilai Kritis Distribusi Kai Kuadrat (Chi Square)...................... 157
Lampiran 24. Nilai Kritis Distribusi F............................................................ 159
Lampiran 25. Nilai Kritis Distribusi t ............................................................. 161

xi

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kegiatan pendidikan merupakan suatu rangkaian peristiwa yang sangat
kompleks, karena pendidikan adalah suatu proses yang membantu manusia dalam
mengembangkan dirinya sehingga mampu menghadapi segala perubahan dan
permasalahan yang ada. Hal ini senada dengan fungsi pendidikan nasional yang
tertuang dalam Undang-undang Dasar Sistem Pendidikan Nasional Bab II pasal 3
yang berbunyi :
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak manusia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis dan bertanggung
jawab. 1
Banyak faktor yang saling menunjang dalam proses pendidikan, antara lain
adalah sekolah. Sekolah merupakan suatu lembaga pendidikan formal yang
didalamnya terdapat proses pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan
nasional. Proses pembelajaran dan komponen yang ada didalamnya seperti guru,
peserta didik, tujuan pembelajaran, isi pelajaran, metode pembelajaran, dan sarana
serta prasarana yang tersedia merupakan hal-hal yang dapat menetukan suatu
keberhasilan proses pendidikan.
Saat ini salah satu hal yang dapat menunjukkan suatu keberhasilan proses
pendidikan adalah melalui ujian nasional. Siswa atau peserta didik yang lulus
dalam ujian nasional maka dinyatakan telah berhasil dalam proses pendidikan,
sedangkan siswa yang tidak lulus dinyatakan belum berhasil dalam proses
pendidikan. Salah satu mata pelajaran yang termasuk dalam ujian nasional adalah
matematika.

1

Undang-Undang RI No.20 tahun 2003, Tentang Sisdiknas(Jakarta: depdiknas, 2006), h.7.

1

2

Matematika merupakan salah satu mata pelajaran di sekolah yang harus
dikuasai oleh siswa pada jenjang pendidikan sekolah dasar sampai sekolah
menengah atas. Hal ini menunjukkan bahwa matematika merupakan mata
pelajaran yang memiliki kedudukan penting dalam pendidikan, karena matematika
merupakan bidang studi yang amat berguna dan banyak memberi bantuan dalam
berbagai disiplin ilmu yang lain. Oleh karena itu maka dapat dikatakan setiap
orang memerlukan pengetahuan matematika dalam berbagai bentuk sesuai dengan
kebutuhannya.
Mengingat pentingnya mata pelajaran matematika, maka pembelajaran
matematika harus didesain agar menarik minat siswa dan menumbuhkan dorongan
untuk belajar sehingga mereka terikat dalam proses pembelajaran matematika dan
memiliki sikap positif terhadap matematika. Berdasarkan kenyataan yang ada,
mungkin tidaklah mengejutkan kalau banyak siswa sekolah dan orang dewasa
yang takut dengan matematika dan berusaha menghindarinya. Mereka sering kali
percaya kalau hanya sedikit orang berbakat yang bisa sukses dalam matematika.
Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar siswa dalam bidang studi matematika yang
masih memprihatinkan.Selain itu, hal ini juga dapat dilihat dari data yang
mendukung opini tersebut, yaitu :
Dari hasil studi TIMSS tahun 2007 untuk siswa kelas VIII, menempatkan
siswa Indonesia pada urutan ke-36 dari 49 negara dengan nilai rata-rata untuk
kemampuan matematika secara umum adalah 397. nilai tersebut masih jauh dari
standard minimal nilai rata-rata kemampuan matematika yang ditetapkan TIMSS
yaitu 500. Prestasi siswa Indonesia ini berada dibawah siswa Malaysia dan
Singapura. Siswa Malaysia memperoleh nilai rata-rata 593. 2 Skala matematika
TIMSS-Benchmark Internasional menunjukkan bahwa siswa Indonesia berada
pada peringkat bawah, Malaysia pada peringkat tengah, dan Singapura berada
pada peringkat atas. Padahal jam pelajaran matematika di Indonesia 136 jam

2

Ina V.S. Mullis, dkk, “TIMSS 2007 International Mathematics Report”, dari
http://timss.bc.edu/TIMSS2007/techreport.html, 6 September 2009, h. 38.

3

untuk kelas VIII, lebih banyak dibanding Malaysia yang hanya 123 jam dan
Singapura 124 jam. 3
Rendahnya hasil belajar juga terjadi di MTs. Negeri Legok. Hal ini terlihat
dari data nilai ulangan harian kelas VII yang rata-rata siswanya masih
mendapatkan nilai di bawah kkm. Selain itu, hasil wawancara dengan guru bidang
studi matematika juga menunjukkan masih banyak masalah–masalah yang
dihadapi siswa dalam pembelajaran matematika. Diantaranya adalah motivasi
belajar siswa yang rendah, kemampuan dasar mereka juga rendah, dan tidak
adanya dukungan dari orang tua untuk belajar. 4 Rendahnya motivasi belajar juga
mengakibatkan siswa tidak aktif dalam bertanya, entah karena takut maupun
karena mereka tidak tahu apa yang ingin mereka tanyakan.
Puncak dari proses belajar adalah hasil belajar siswa yaitu dengan adanya
penilaian. Dalam penilaian hasil belajar, yang memberikan batasan atau ukuran
terhadap penilaian tersebut adalah guru. Guru merupakan kunci dalam
pembelajaran, karena guru menyusun desain pembelajaran, melaksanakan
pembelajaran, dan menilai hasil belajar. 5
Bagaimana mengoptimalkan hasil belajar matematika siswa adalah tugas
seorang pendidik. Untuk itulah dalam proses pembelajaran dibutuhkan suatu
paradigma baru yang diyakini mampu memecahkan masalah tersebut. Paradigma
baru itu ditandai oleh pembelajaran dengan inovasi-inovasi yang berangkat dari
hasil refleksi terhadap eksistensi paradigma lama yang mengalami masa suram
menuju paradigma baru. Beberapa hal yang menandakan pembelajaran paradigma
lama mengalami masa suram, antara lain guru sebagai pengajar bukan pendidik,
sekolah terikat dengan jadwal yang ketat, basis belajar hanya berkutat pada fakta,
isi pelajaran, dan teori semata, hafalan menjadi agenda utama bagi siswa,
komputer lebih dipandang sebagai objek, penggunaan media statis lebih
mendominasi, komunikasi terbatas, penilaian lebih bersifat normatif. 6 Selain itu,
3

Ina V.S. Mullis, dkk, “TIMSS 2007 International …………h.195.
Fiyanti malawati, Wawancara, Legok, 15 Juni 2010.
5
Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, (Jakarta: Rineka Cipta, 2009), h.250.
6
Suyatno, Menjelajah Pembelajaran Inovatif, (Sidoarjo: Masmedia Buana Pustaka, h. 7.

4

4

pada saat proses pembelajaran berlangsung juga terlihat kurangnya kerja sama
antara sesama siswa, misalnya saja siswa yang pandai tidak memiliki kemampuan
untuk menjelaskan kepada temannya yang belum mengerti akan materi pelajaran
yang disampaikan.
Paradigma lama tersebut tampaknya sudah tidak relevan lagi untuk kondisi
saat ini yang ditandai oleh perubahan di segala aspek. Pada proses pembelajaran
dengan paradigma lama masih kurangnya variasi model pembelajaran yang
digunakan sehingga proses pembelajaran jadi monoton. Pembelajaran harus turut
berubah seiring dengan perubahan aspek yang lainnya sehingga terjadi
keseimbangan dan kesesuaian.
Salah satu model pembelajaran yang dikembangkan sebagai upaya untuk
meningkatkan kualitas pembelajaran yaitu dengan menggunakan model
cooperative

learning.

Model

cooperative

learning

merupakan

kegiatan

pembelajaran dengan cara berkelompok untuk bekerja sama dan saling membantu
mengkonstruksi konsep, dan memahami materi pelajaran.
Beberapa ahli menyatakan bahwa model ini tidak hanya unggul dalam
membantu siswa memahami konsep yang sulit, tetapi juga sangat berguna untuk
menumbuhkan kemampuan berpikir kritis, bekerja sama, dan membantu teman.
Dalam cooperative learning, siswa terlibat aktif pada proses pembelajaran
sehingga memberikan dampak positif terhadap kualitas interaksi dan komunikasi
yang berkualitas, dapat memotivasi siswa untuk meningkatkan prestasi belajarnya.
Siswa bukan lagi sebagai objek pembelajaran, namun bisa juga berperan sebagai
tutor bagi teman sebayanya.
Cooperative learning juga menghasilkan peningkatan kemampuan
akademik, membentuk hubungan persahabatan, menimba informasi, belajar
menggunakan

sopan-santun,

meningkatkan

motivasi

siswa

dan

belajar

mengurangi tingkah laku yang kurang baik, serta membantu siswa dalam
menghargai pikiran orang lain. Dalam cooperative learning siswa diminta untuk
bekerjasama menyelesaikan masalah dengan menyatukan pendapat demi
memperoleh keberhasilan yang optimal baik kelompok maupun individual.

5

Salah satu teknik pembelajaran dalam model cooperative learning adalah
snowball throwing. Snowball Throwing yang menurut asal katanya berarti ‘bola
salju bergulir, dapat diartikan sebagai tipe pembelajaran dengan menggunakan
bola pertanyaan dari kertas yang digulung bulat berbentuk bola kemudian
dilemparkan secara bergiliran di antara sesama siswa. 7 Kegiatan melempar bola
pertanyan ini akan membuat kelompok menjadi dinamis, karena kegiatan siswa
tidak hanya berpikir, menulis, bertanya, atau berbicara, akan tetapi mereka juga
melakukan aktivitas fisik yaitu menggulung kertas dan melemparkannya pada
siswa lain. Dengan demikian, tiap anggota kelompok akan mempersiapkan diri
karena pada gilirannya mereka harus menjawab pertanyaan dari temannya yang
terdapat dalam bola kertas.
Pembelajaran Snowball Throwing dinilai cocok diterapkan di Sekolah
Menengah Pertama khususnya untuk pelajaran matematika, karena sesuai dengan
inti dari pembelajaran Snowball Throwing yaitu siswa berkreatifitas dalam
membuat soal matermatika dan menjawab pertanyaan yang diberikan temannya
dengan sebaik-baiknya. Siswa dapat belajar efektif dengan perasaan senang,
karena siswa bisa mendiskusikan gagasan atau yang menjadi pemikirannya dalam
proses pembelajaran. Hal ini sangat baik, karena akan terbentuk persepsi bahwa
matematika merupakan pelajaran yang sangat menarik, dan tujuan pembelajaran
akan tercapai sehingga hasil belajar siswa juga akan baik.
Berawal dari alasan diatas, peneliti ingin melakukan penelitian tentang hal
itu dengan mengangkat judul : “ Pengaruh Model Coopertive Learning Tipe
Snowball Throwing Terhadap Hasil Belajar Matematika Siswa”.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah di uraikan di atas, maka
permasalahan dapat diidentifikasi sebagai berikut:
1.

Masih rendahnya hasil belajar matematika pada siswa

2.

Kurangnya variasi model pembelajaran dalam proses pembelajaran
7

http://etd.eprints.ums.ac.id/4921/

6

3.

Proses pembelajaran yang berlangsung masih monoton.

4.

Kurangnya kerja sama antara sesama siswa saat belajar.

C. Pembatasan Masalah
Penelitian ini dibatasi pada masalah perbandingan hasil belajar matematika
siswa yang diajar dengan menggunakan model cooperative learning tipe snowball
throwing dengan siswa yang diajar dengan menggunakan model pembelajaran
konvensional di kelas VII, pada materi bilangan bulat.
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah di atas, maka
permasalahannya dapat dirumuskan sebagai berikut :
1.

Bagaimana hasil belajar siswa yang diajar menggunakan model cooperative
learning tipe Snowball Throwing dan hasil belajar siswa yang diajar
menggunakan pembelajaran konvensional pada pelajaran matematika?

2.

Apakah terdapat pengaruh model cooperative learning tipe snowball
throwing terhadap hasil belajar matematika siswa?

E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah hasil belajar
matematika siswa yang diajar menggunakan model cooperative learning tipe
snowball throwing lebih tinggi daripada hasil belajar siswa yang diajar
menggunakan pembelajaran konvensional.
F. Manfaat Penelitian
Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat diambil manfaatnya, antara
lain:
1.

Bagi siswa, dapat membantu dalam memahami pelajaran matematika,
mengoptimalkan kemampuan berpikir, tanggung jawab, dan kemampuan
siswa dalam kegiatan pembelajaran.

7

2.

Bagi guru, dapat menjadi masukan dalam hal melaksanakan pembelajaran
dan menambah wacana tentang model pembelajaran yang efektif sebagai
upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran matematika.

3.

Bagi peneliti, dapat memperluas wawasan tentang proses pembelajaran
dengan model cooperative learning tipe snowball throwing di bidang
matematika.

BAB II
PENYUSUNAN KERANGKA TEORETIK DAN PENGAJUAN
HIPOTESIS
A. Deskripsi Teoretik
1.

Pembelajaran Matematika
a. Belajar dan Pembelajaran
Belajar

merupakan

komponen

paling

vital

dalam

setiap

penyelenggaraan jenis dan jenjang pendidikan, sehingga tanpa proses belajar
sesungguhnya tidak pernah ada jenjang pendidikan. Belajar merupakan
tindakan dan perilaku siswa yang kompleks. Sebagai tindakan, belajar hanya
dialami oleh siswa itu sendiri. Siswa adalah penentu terjadinya atau tidak
terjadinya proses belajar. Proses belajar terjadi berkat siswa memperoleh
sesuatu yang ada di lingkungan sekitar.
Berhasil atau gagalnya proses pendidikan amat tergantung pada proses
belajar dan mengajar yang dialami siswa dan pendidik baik ketika para siswa
itu disekolah maupun di lingkungan keluarganya sendiri. Terdapat keragaman
dalam cara menjelaskan dan mendefinisikan makna belajar (learning).
Whittaker dalam Djamarah merumuskan belajar sebagai proses dimana
tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan atau pengalaman. 1
Pengertian tersebut senada dengan pendapat fontana yang menyatakan belajar
adalah proses perubahan tingkah laku individu yang relatif tetap sebagai hasil
dari pengalaman. 2 Dengan adanya latihan atau pengalaman maka siswa akan
terbiasa dan selalu teringat akan proses belajar yang terjadi.
Crow dalam Sagala mengemukakan bahwa belajar ialah upaya untuk
memperoleh kebiasaan-kebiasaan, pengetahuan, dan sikap-sikap. 3 Dari
beberapa pendapat para ahli, maka dapat disimpulkan bahwa belajar adalah

1

Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, (Jakarta : PT. Rineka Cipta, 2009), h.12.
Erman Suherman,dkk., Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer, (IMSTEP,
Jurusan Pendidikan FMIPA UPI,2001), h.8
3
Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran, (Bandung: Alfabeta, 2009), h.13.
2

8

9

upaya untuk mendapatkan perubahan mulai dari yang tidak tahu menjadi
tahu, dari yang tidak mampu menjadi mampu dan itu semua diperoleh karena
latihan yang berulang-ulang dan pengalaman.
Berbagai eksperimen dilakukan para ahli psikologi tentang proses
belajar mengajar berhasil mengungkapkan serta menemukan sejumlah prinsip
atau kaidah yang merupakan dasar-dasar dalam melakukan proses dan
mengajar atau pembelajaran. Menurut Suprijono, prinsip-prinsip belajar
meliputi, perubahan perilaku, belajar merupakan proses dan belajar
merupakan bentuk pengalaman. 4
Perubahan perilaku sebagai hasil belajar memiliki ciri-ciri sebagai hasil
tindakan rasional instrumental yaitu perubahan yang disadari, kontinu atau
berkesinambungan dengan perilaku lainnya, fungsional atau bermanfaat
sebagai bekal hidup, positif atau berakumulasi, aktif atau sebagai usaha yang
direncanakan dan dilakukan, permanen atau tetap, bertujuan dan terarah,
mencakup keseluruhan potensi kemanusiaan. Belajar terjadi karena didorong
kebutuhan dan tujuan yang ingin dicapai. Belajar adalah proses sistematik
yang dinamis, konstruktif, dan organic. Belajar merupakan kesatuan
fungsional dari berbagai komponen belajar. Pengalaman pada dasarnya
adalah hasil dari interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya.
Menurut Muhibbin, secara global faktor-faktor yang mempengaruhi
belajar siswa dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu: 5
1) Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam diri siswa yakni
keadaan/kondisi jasmani dan rohani siswa.
2) Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar diri siswa yakni
kondisi lingkungan di sekitar siswa.
3) Faktor pendekatan belajar (approach to learning), yakni jenis upaya belajar
siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk
melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran.

4

Agus Suprijono, Cooperative Learning, (Yogyakarta: Pustaka Belajar), h.4.
Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung: PT. Remaja
Rosda Karya, 2008), h.132.
5

10

Dalam kegiatan yang disebut belajar harus ada 4 kondisi yang
fundamental pada diri orang yang belajar, yaitu adanya:
a) Suatu dorongan atau kebutuhan untuk belajar/mempelajari sesuatu.
b) Suatu perangsangan atau isyarat tertentu sebagai signal/ tanda materi
yang akan dipelajari.
c) Suatu respon utama dari diri orang yang belajar, apakah berupa tindakan
motorik, pengamatan, pemikiran, penghayatan atau perubahan fisiologis.
d) Suatu ganjaran pengukuhan sebagai hasil belajar yang dicapai.
Pembelajaran merupakan proses komunikasi antara guru dengan peserta
didik. Interaksi antara guru dengan peserta didik dalam proses pembelajaran
memegang peranan penting untuk mencapai tujuan pembelajaran yang
efektif. Tanpa adanya interaksi antara guru dengan peserta didik, maka proses
pembelajaran tidak dapat berjalan secara maksimal.
Dimyati dan Mudjiono menyatakan pembelajaran adalah kegiatan guru
secara terprogram dalam desain instruksional, untuk membuat siswa belajar
secara aktif, yang menekankan pada penyediaan sumber belajar. 6 Hal ini
senada dengan UUSPN No. 20 tahun 2003 menyatakan pembelajaran adalah
proses interaksi antara peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada
suatu lingkungan belajar. 7 Sebelum memulai proses pembelajaran guru harus
mempersiapkan model dan strategi pembelajaran yang akan digunakan dalam
proses pembelajaran.
Berdasarkan beberapa definisi yang telah dijelaskan, maka dapat
dinyatakan bahwa pembelajaran adalah proses interaksi antara guru dan siswa
yang terprogram dalam desain instruksional dengan menggunakan sumber
belajar untuk mengembangkan kreatifitas berpikir dan kemampuan
mengkonstruksi pengetahuan baru siswa sebagai upaya untuk meningkatkan
penguasaan yang baik terhadap materi pelajaran.

6
7

Syaiful Sagala, Konsep ..........................................., h.62.
Syaiful Sagala, Konsep............................................, h.62.

11

b. Hasil Belajar Matematika
Hasil belajar merupakan kemampuan yang dimiliki siswa setelah
mengalami proses belajar mengajar. Menurut Abdurrahman, “hasil belajar
adalah kemampuan yang diperoleh anak setelah melalui kegiatan belajar.” 8
Muhibbin mengemukakan arti hasil belajar adalah “ segenap aspek psikologis
yang berubah sebagai akibat dari pengalaman dan proses belajar siswa.” 9
Sudjana mengemukakan bahwa hasil belajar adalah “suatu perubahan yang
terjadi pada individu yang belajar, bukan saja perubahan mengenai
pengetahuan, tetapi juga pengetahuan untuk membentuk kecakapan,
kebiasaan, sikap dan cita-cita”. 10
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli, dapat disimpulkan bahwa
hasil belajar adalah hasil akhir setelah siswa mengalami proses belajar,
dimana terdapat perubahan dalam tingkah laku maupun pola pikir siswa yang
dapat diamati dan diukur karena hasil belajar menentukan tingkat
keberhasilan dalam proses belajar mengajar. Kinsley membagi 3 macam hasil
belajar yakni: 11
(a) keterampilan dan kebiasaan
(b) pengetahuan dan pengertian
(c) sikap dan cita-cita.
Merujuk pemikiran Gagne, ada lima kategori hasil belajar yaitu: 12
(1) Informasi verbal yaitu kemampuan mengungkapkan pengetahuan dalam
bentuk bahasa, baik lisan maupun tulisan yang tidak memerlukan
manipulasi symbol, pemecahan masalah maupun penerapan aturan.
(2) Keterampilan intelektual yaitu kemampuan melakukan aktivitas kognitif
bersifat

khas

untuk

mempresentasikan

konsep

dan

lambang.

Keterampilan intelektual terdiri dari kemampuan mengkategorisasi,
8

Mulyono Abdurrahman, Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar, (Jakarta: PT.
Rineka Cipta, 2009), Cet.II, h. 37.
9
Muhibbin Syah, Psikologi.................................., h.150
10
Nana Sudjana, Penilaian Hasil Proses Belajar Matematika,(Bandung: Remaja
Rosdakarya, 2004), hal. 22
11
Nana Sudjana, Penilaian Hasil……, hal. 22
12
Agus Suprijono, Cooperative ..................................., h.5-6.

12

kemampuan analitis-sintesis fakta-konsep dan mengembangkan prinsipprinsip keilmuan.
(3) Strategi kognitif yaitu kecakapan menyalurkan dan mengarahkan
aktivitas kognitifnya sendiri. Kemampuan ini meliputi penggunaan
konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah.
(4) Keterampilan motorik yaitu kemampuan melakukan serangkaian gerak
jasmani dalam urusan dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme
gerak jasmani.
(5) Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak objek berdasarkan
penilaian

terhadap

objek

tersebut.

Sikap

berupa

kemampuan

menginternalisasi dan eksternalisasi nilai-nilai.
Bloom dan Rathwol mengkategorikan jenis perilaku hasil belajar
kepada tiga jenis ranah yang melekat pada diri peserta didik, yaitu: ranah
kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotor. 13
Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kerja otak. Dalam ranah
kognitif itu terdapat enam jenjang/level proses berpikir, mulai dari jenjang
terendah sampai dengan jenjang yang paling tinggi. Menurut revisi Bloom,
keenam level tersebut adalah: 14

13

Knowledge
(Pengetahuan)

Remembering
(Mengingat)

Comprehension

Understanding

(Pemahaman)

(Memahami)

Application

Applying

(Aplikasi)

(Mengaplikasikan)

Analysis

Analyzing

(Analisa)

(Menganalisa)

Synthesis

Evaluating

(Perpaduan)

(Mengevaluasi)

Evaluating

Creating

Yatim Riyanto, Paradigma Baru Pembelajaran, (Jakarta : Kencana, 2009), h .17
Prasetyo Wijaya, Mengetahui Level Soal Matematika Dengan Taksonomi Bloom,
http://www.doestoe.com/does/4956972/Mengetahui-level-soal-matematika-dengan-taksonomibloom
14

13

(Evaluasi)

(Membuat)

Keterangan :
1. Remembering (Mengingat)
Pada level ini, kerja otak kita hanya mengambil informasi dalam satu
langkah dan menulisnya secara apa adanya.
2. Understanding (Memahami)
Pada level ini, kerja otak kita mengambil informasi dalam satu langkah
dan menjelaskannya secara gamblang.
3. Applying (Mengaplikasikan)
Pada level ini, kerja otak kita mengambil informasi dalam satu langkah
dan menerapkan informasi itu untuk memecahkan persoalan yang ada.
4. Analyzing (Menganalisa)
Pada level ini, kerja otak kita mengambil informasi dalam satu langkah
dan menerapkan informasi itu untuk memecahkan persoalan yang ada.
Akan tetapi informasi itu belum bisa memecahkan permasalahan, sehingga
dibutuhkan informasi lain yang berbeda dari informasi sebelumnya untuk
memecahkan permasalahan.
5. Evaluating (Mengevaluasi)
Pada level ini, kita dihadapkan pada permasalahan yang menuntut suatu
keputusan. Dimana keputusan ini diambil setelah kita melakukan analisa
secara menyeluruh.
6. Creating (Membuat)
Pada level ini, kita diharuskan untuk menghasilkan sesuatu hal/rumus yang
baru yang bisa kita gunakan untuk memecahkan persoalan.
Ranah afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai.
Ranah psikomotor adalah ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skill)
atau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar
tertentu.
Hasil belajar tiap individu berbeda-beda antara satu dengan yang
lainnya karena ada beberapa faktor yang mempengaruhinya. Abdurrahman

14

menyatakan hasil belajar dipengaruhi oleh faktor yang berasal dari dalam diri
anak dan faktor yang berasal dari lingkungan.

15

Faktor yang datang dalam

diri siswa antara lain kemampuan yang dimilikinya, minat, perhatian,
motivasi belajar, konsep diri, sikap, dan sebagainya. Sedangkan faktor yang
datang dari luar meliputi orang tua, guru, teman sekolah, dan sebagainya.
Hasil belajar yang baik dapat diperoleh dengan belajar yang berulangulang, hal ini seperti pada proses belajar matematika. James dan James
mengatakan bahwa matematika adalah ilmu tentang logika mengenai bentuk,
susunan, besaran, dan konsep-konsep yang berhubungan satu dengan yang
lainnya. Reys menyatakan bahwa matematika adalah “ telaah tentang pola
dan hubungan, suatu jalan atau pola berpikir, suatu seni, suatu bahasa dan
suatu alat.” 16
Berdasarkan beberapa definisi matematika yang telah dijelaskan, maka
dapat disimpulkan bahwa matematika adalah ilmu tentang logika mengenai
konsep-konsep yang memiliki pola dan hubungan antara satu dengan yang
lainnya serta dapat digunakan sebagai alat untuk berpikir.
Bruner mengemukakan bahwa belajar matematika adalah belajar
mengenai konsep-konsep dan struktur-struktur yang tercakup dalam pokok
bahasan yang diajarkan, serta keterkaitan antara konsep-konsep dan strukturstruktur tersebut. 17 Pemahaman terhadap konsep dan struktur suatu materi
menjadikan materi itu dipahami secara lebih komprehensif, peserta didik
lebih mudah mengingat materi itu bila yang dipelajari merupakan pola yang
berstruktur.
Menurut Cockroft siswa perlu belajar matematika karena : 18
(1) selalu digunakan dalam semua bidang kehidupan
(2) semua bidang studi memerlukan keterampilan matematika yang sesuai
(3) merupakan sarana komunikasi yang kuat, singkat dan jelas
(4) dapat digunakan untuk menyajikan informasi dalam berbagai cara
15

Mulyono Abdurrahman, Pendidikan Bagi............., h. 42
Erman Suherman,dkk, Strategi Pembelajaran ...., h.18-19.
17
Erman Suherman,dkk, Strategi Pembelajaran ...., h. 44.
18
Mulyono Abdurrahman, Pendidikan Bagi.........., h.253
16

15

(5) meningkatkan kemampuan berfikir logis dan ketelitian
(6) dapat memberikan kepuasan terhadap usaha memecahkan masalah yang
menantang
Matematika merupakan bahan pelajaran yang objektif berupa fakta,
konsep, operasi, dan prinsip yang semuanya adalah abstrak, maka dapat
dikatakan hasil belajar matematika siswa sebagian besar dinilai oleh guru
pada ranah kognitifnya, penilaiannya dilakukan dengan tes hasil belajar
matematika. Berdasarkan uraian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa hasil
belajar matematika adalah tingkat penguasaan yang dicapai oleh siswa
tentang konsep-konsep dan struktur-struktur matematika yang terdapat
didalam materi yang dipelajari serta mencari hubungan-hubungan antara
konsep-konsep dan struktur-struktur matematika tersebut sesuai tujuan
pendidikan yang ditetapkan.
Hasil belajar matematika siswa yang akan diukur dalam penelitian ini
adalah pada ranah kognitifnya saja yaitu berupa tes formatif pokok bahasan
bilangan bulat. Materi bilangan bulat berkaitan dengan materi bilangan cacah
yang telah dipelajari oleh peserta didik pada tingkat sekolah dasar.
Hasil belajar matematika dipengaruhi oleh pembelajaran matematika
yang diartikan sebagai proses belajar matematika oleh siswa dengan
bantuan/pendampingan dari guru. Hal ini dimaksudkan bahwa dalam
pembelajaran matematika, kegiatan utama dilakukan oleh siswa untuk
mempelajari bahan ajar matematika dalam rangka menguasai kompetensi
yang telah ditetapkan guru matematika.
Pembelajaran matematika tidak bisa terlepas dari sifat-sifat matematika
yang abstrak dan sifat perkembangan intelektual siswa yang kita ajar. Oleh
karena itulah kita perlu memperhatikan beberapa sifat atau karakteristik
pembelajaran matematika. 19
a. pembelajaran matematika adalah berjenjang
bahan kajian matematika diajarkan secara berjenjang, yaitu dimulai dari
hal yang konkrit dilanjutkan ke hal yang abstrak, dari hal yang sederhana
19

Erman Suherman,dkk., Strategi Pembelajaran..........................., h. 65

16

ke hal yang kompleks, dari konsep yang mudah menuju konsep yang lebih
sukar
b. pembelajaran matematika mengikuti metode spiral
dalam setiap memperkenalkan konsep atau bahan yang baru perlu
memperhatikan konsep atau bahan yang telah dipelajari siswa sebelumnya.
Metoda spiral bukanlah mengajarkan konsep hanya dengan pengulangan
atau perluasan saja tetapi harus ada peningkatan. Spiralnya harus spiral
naik bukan spiral datar.
c. pembelajaran matematika menekankan pola pikir deduktif
pemahaman konsep-konsep matematika melalui contoh-contoh tentang
sifat-sifat yang sama yang dimiliki dan yang tidak dimiliki oleh konsepkonsep tersebut merupakan tuntutan pembelajaran matematika.
d. pembelajaran matematika menganut kebenaran konsistensi
kebenaran-kebenaran dalam matematika pada dasarnya merupakan
kebenaran konsistensi, tidak ada pertentangan antara kebenaran suatu
konsep dengan yang lainnya. Suatu pernyataan dianggap benar bila
didasarkan atas pernyataan-pernyataan terdahulu yang telah diterima
kebenarannya.
2.

Model Coopertive Learning Tipe Snowball Throwing
a. Model Cooperative Learning
Menurut Joyce model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau
suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan
pembelajaran di kelas atau pembelajaran tutorial dan untuk menentukan
perangkat-perangkat pembelajaran. 20 Model pembelajaran merupakan
suatu pedoman yang digunakan oleh guru dalam proses pembelajaran
untuk mencapai tujuan belajar.

20

Trianto, Model – Model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstruktivistik, (Jakarta:
Prestasi Pustaka, 2007), hal. 5

17

Model pembelajaran mempunyai empat ciri, yaitu: 21
1) rasional teoritik logis yang disusun oleh para pencipta atau
pengembangnya
2) landasan pemikiran tentang apa dan bagaimana siswa belajar (tujuan
pembelajaran yang akan dicapai)
3) tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat
dilaksanakan dengan berhasil
4) lingkungan belajar yan diperlukan agar tujuan pembelajaran itu dapat
tercapai
Cooperative learning berasal dari kata cooperative yang artinya
mengerjakan sesuatu secara bersama-sama dengan saling membantu satu
sama lainnya sebagai satu kelompok atau satu tim. Model cooperative
learning ditandai oleh struktur tugas, tujuan, dan dan reward yang kooperatif.
Siswa dalam situasi cooperative learning didorong dan/atau dituntut untuk
mengerjakan tugas yang sama secara bersama-sama, dan mereka harus
mengkoordinasikan usahanya untuk menyelesaikan tugas itu.
Slavin dalam Isjoni mengemukakan bahwa pembelajaran kooperatif
merupakan suatu model pembelajaran dimana sistem belajar dan bekerja
dalam kelompok-kelompok kecil yang berjumlah 4-6 orang secara kolaboratif
sehingga dapat membuat siswa lebih bergairah dalam belajar. 22
Sedangkan Johnson mengemukakan bahwa pembelajaran kooperatif
adalah model pembelajaran dimana siswa bekerja sama dalam mencapai
tujuan bersama.

23

Dalam kegiatan kooperatif, siswa mencari hasil yang

menguntungkan bagi seluruh anggota kelompok dengan pemanfaatan
kelompok kecil untuk memaksimalkan belajar mereka dan belajar anggota
lainnya dalam kelompok itu.

21

Trianto, Model- Model Pembelajaran….., hal. 6
Isjoni, Cooperative Learning, (Bandung: Alfabeta, 2009), h.15.
23
Isjoni, Cooperative ............................................................, h.15-16.

22

18

Falsafah yang mendasari pembelajaran kooperatif dalam pendidikan
adalah falsafah homo homini socius, yang menekankan bahwa manusia
adalah makhluk social. Kerjasama merupakan kebutuhan yang sangat penting
artinya bagi kelangsungan hidup. Tanpa kerjasama tidak akan ada keluarga,
organisasi atau sekolah.
Pelaksanaan prosedur pembelajaran kooperatif dengan benar akan
memungkinkan pendidik mengelola kelas dengan lebih efektif. Langkahlangkah pembelajaran kooperatif adalah sebagai berikut. 24
a). Menyampaikan tujuan dan memberikan motivasi kepada siswa.
b). Menyajikan informasi.
c). Mengorganisasikan siswa ke dalam kelompok-kelompok belajar.
d). Membimbing kelompok belajar dan bekerja.
e). Evaluasi.
f). Memberikan penghargaan kapada kelompok-kelompok belajar.
Unsur- unsur yang ada dalam pembelajaran kooperatif : 25
1. Mengembangkan interaksi yang silih asah, silih asih, dan silih asuh antar
sesama sebagai latihan hidup bermasyarakat.
2. Saling ketergantungan positif antar individu (tiap individu punya
kontribusi dalam mencapai tujuan) dalam satu kelompok.
3. Siswa mempunyai tanggung jawab secara individu.
4. Temu muka dalam proses pembelajaran.
5. Komunikasi antar anggota kelompok.
6. Evaluasi proses pembelajaran kelompok.
Unsur-unsur dasar pembelajaran kooperatif tersebut diberitahukan
kepada siswa dengan harapan agar siswa dapat bekerja sama dengan baik
dalam kelompoknya, sehingga menunjukkan sikap baik dalam proses belajar

24

Suyatno, Menjelajah Pembelajaran Inovatif, (Sidoarjo: Masmedia Buana Pustaka, 2009),

25

Yatim Riyanto, Paradigma................, h.269-270.

h. 52.

19

mengajar yang pada akhirnya kemampuan akademik atau hasil belajar siswa
menjadi baik, sesuai dengan teori perkembangan yang mengasumsikan bahwa
interaksi antar siswa di sekitar tugas-tugas yang sesuai, meningkatkan
penguasaan mereka terhadap konsep-konsep yang sulit.
Pembelajaran kooperatif memiliki ciri-ciri sebagai berikut : 26
1. Kelompok dibentuk dengan siswa kemampuan tinggi, sedang, dan rendah.
2. Siswa dalam kelompok sehidup semati.
3. Siswa melihat semua anggota kelompok mempunyai tujuan yang sama.
4. Siswa membagi tugas dan dan tanggung jawab yang sama.
5. Akan dievaluasi untuk semua.
6. Berbagi kepemimpinan dan keterampilan untuk bekerja bersama.
7. Diminta untuk mempertanggungjawabkan individual materi yang
ditangani.
Ada beberapa perbedaan kelompok belajar kooperatif dengan
kelompok belajar konvensional, yaitu: 27
Tabel 1
Pebedaan Kelompok Belajar Kooperatif Dengan Kelompok
Belajar Konvensional
Kelompok belajar kooperatif

Kelompok belajar konvensional

Adanya saling ketergantungan positif,

Guru sering membiarkan adanya

saling membangun, dan saling

siswa yang mendominasi kelompok

memberikan motivasi sehingga ada

atau menggantungkan diri pada

interaksi positif

kelompok

Adanya akuntabilitas individual yang Akuntabilitas
mengukur

penguasaan

materi diabaikan

individual

sehingga

sering

tugas-tugas

pelajaran tiap anggota kelompok, dan sering di borong oleh salah seorang
kelompok diberi umpan balik tentang anggota

kelompok

sedangkan

hasil belajar para anggotanya sehingga anggota kelompok lainnya hanya
26

Yatim Riyanto, Paradigma................, h. 270.
Trianto, Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Konstrukvistik (Konsep,
Landasan Teoritis-Praktis dan Implementasinya), (Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher, 2007),
h.43-44
27

20

dapat saling mengetahui siapa yang “mendo

Dokumen yang terkait

Penerapan metode snowball throwing dalam peningkatan keterampilan berbicara siswa kelas III MI Pembangunan UIN Jakarta

2 10 164

Perbedaan hasil belajar siswa atara model pembelajaran NHT (numbered head together) dengan stad (student team achievment division pada konsep laju reaksi)

3 10 173

Penggunaan Model Pembelajaran Snowball Throwing Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar IPS Pada Siswa Kelas VIII-4 Di SMP PGRI 1 Ciputat

1 4 249

Pengaruh penerapan model cooperative learning tipe stad terhadap hasil belajar kimia siswa pada konsep sistem koloid (quasi eksperimen di MAN 2 Kota Bogor)

4 38 126

Peningkatan hasil belajar Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) melalui penerapan model pembelajaran kooperatif tipe Snowball 0hrowing pada siswa kelas III MI Hidayatul Athfal Depok

0 10 0

Penerapan Model Pembelajaran Snowball Throwing Termodifikasi Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar IPA Siswa Kelas VII.4 Di SMP Negeri 3 Kota Tangerang Selatan

0 3 6

Upaya meningkatkan hasil belajar siswa melalui model pembelajaran cooperative learning tipe jigsaw pada pelajaran IPS kelas IV dalam materi sumber daya alam di MI Annuriyah Depok

0 21 128

Penerapan Model Cooperative Learning Tipe Snowball Throwing untuk Meningkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar IPS Siswa SD

0 3 10

PERBANDINGAN PENERAPAN COOPERATIVE LEARNING TIPE TEAM GAMES TOURNAMENT DENGAN COOPERATIVE LEARNING TIPE SNOWBALL THROWING TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA MATA PELAJARAN TEKNOLOGI INFORMASI DAN KOMUNIKASI.

0 1 48

PENINGKATAN HASIL BELAJAR PEMBELAJARAN IPS MENGGUNAKAN MODEL COOPERATIVE TIPE SNOWBALL THROWING DI SEKOLAH DASAR

0 0 16

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

119 3984 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1057 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 945 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 632 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 790 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1348 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

66 1253 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 825 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 1111 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1350 23