Hubungan antara kecerdasan emosional dengan akhlak siswa kelas xi SMA Triguna Utama Tangerang Selatan

HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSIONAL
DENGAN AKHLAK SISWA KELAS XI SMA TRIGUNA
UTAMA TANGERANG SELATAN
SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk memenuhi syarat
memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Islam

OLEH

EVI LAILATUL LATIFAH
NIM : 106011000087

JURUSAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1431 H/2010 M

LEMBAR PENGESAHAN

Skripsi Evi Lailatul Latifah (106011000087) yang berjudul “Hubungan antara
Kecerdasan Emosional dengan Akhlak Siswa Kelas XI SMA Triguna Utama
Tangerang Selatan” diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan telah dinyatakan lulus dalam Ujian
Munaqasah pada tanggal 16 September 2010 di hadapan dewan penguji. Oleh
karena itu, penulis berhak memperoleh gelar Sarjana S1 (S.Pd.i) pada jurusan
Pendidikan Agama Islam.
Jakarta, 16 Sepetember 2010

Panitia Ujian Munaqasah
Tanggal

Tanda Tangan

Ketua Jurusan PAI
Bahrissalim, M.Ag
NIP. 19680307 199803 1 002

……………

..……………..

Sekretaris Jurusan PAI
Drs. Sapiudin Sidiq, MA
NIP. 19670328 200003 1 001

..…………

..……………..

Penguji I
Dr. Sururin, MA
NIP. 19710319 199803 2 001

……………

.……………...

……………

.……………...

Penguji II
Drs. Masan AF, M.Pd
NIP. 19510716 198103 1 004

Mengetahui:
Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan,

Prof. Dr. Dede Rosyada, MA
NIP. 19571005 198703 1 003

ABSTRAK

Evi Lailatul Latifah. Hubungan antara Kecerdasan Emosional dengan
Akhlak Siswa Kelas XI SMA Triguna Utama Tangerang Selatan. Skripsi,
Jurusan Pendidikan Agama Islam Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
(FITK) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta. Masalah akhlak
bagi para remaja khususnya siswa SMA merupakan permasalahan yang harus
ditangani secara serius. Beragamnya persoalan siswa pada usia remaja yaitu
menyangkut masalah penyimpangan akhlak akibat pengaruh media massa (seperti
VCD, acara-acara televisi yang berbau kekerasan, pornografi dan porno aksi) serta
adanya pengaruh lingkungan yang tidak baik, berdampak negatif terhadap
perkembangan kepribadian siswa yang dihadapi sekolah akhir-akhir ini. Salah
satu aspek yang mempengaruhi kepribadian siswa adalah kecerdasan emosional
yang dimiliki oleh siswa. Untuk mengembalikan citra remaja menjadi lebih baik
maka salah satu caranya adalah dengan meningkatkan kecerdasan emosional
remaja. Berdasarkan latar belakang tersebut penulis dapat merumuskan masalah
yaitu apakah terdapat hubungan antara kecerdasan emosional dengan akhlak siswa
kelas XI SMA Triguna Utama Tangerang Selatan. Sedangkan tujuan penelitian ini
adalah untuk mengetahui apakah terdapat hubungan yang signifikan antara
kecerdasan emosional dengan akhlak siswa kelas XI SMA Triguna Utama
Tangerang Selatan. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Triguna Utama Tangerang
Selatan pada semester genap tahun ajaran 2009/2010. Teknik yang digunakan
sebagai alat pengumpul data dalam penelitian ini adalah teknik angket
(Questionnaire) bentuk skala Likert. Sampel dalam penelitian ini adalah seluruh
siswa kelas XI yang berjumlah 53 siswa. Instrument penelitian terdiri dari 2
kategori yaitu instrument kecerdasan emosional dan instrument akhlak, dimana
instrument tersebut diambil dari teori-teori yang telah teruji. Data penelitian
kecerdasan emosional dan akhlak ini diperoleh dengan menggunakan alat ukur
kecerdasan emosional berbentuk skala yang terdiri dari 45 item dengan koefisien
reliabilitas sebesar 0,90, dan alat ukur akhlak yang terdiri dari 20 item dengan
koefisien reliabilitas sebesar 0,81. Data yang diperoleh kemudian dianalisa
menggunakan formula Product Moment Karl Pearson. Berdasarkan hasil analisa
data dengan Product Moment Karl Pearson diperoleh hasil nilai r hitung = 0,674,
r tabel = 0,273 dengan df = 50 dan dengan perhitungan Coefficient of
Determination diperoleh nilai koefisien determinasi sebesar 45%. Hasil penelitian
ini menunjukkan adanya hubungan yang cukup signifikan antara kecerdasan
emosional dengan akhlak siswa kelas XI SMA Triguna Utama Tangerang Selatan.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa akhlak yang terdapat dalam diri siswa dapat
ditingkatkan dengan adanya pelatihan dan pengembangan kecerdasan emosional.
Kata kunci: kecerdasan emosional, akhlak.


 

KATA PENGANTAR

Bismillahi walhamdulillah.
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Kiranya tiada kata yang lebih pantas untuk diucapkan selain Alhamdulillah,
segala puji bagi Allah sebagai manifestasi rasa syukur kita kehadirat Illahi Rabbi
yang telah menghadiahkan anugerah yang begitu mahal harganya sehingga
penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan judul ”Hubungan antara
Kecerdasan Emosional dengan Akhlak Siswa”. Shalawat salam semoga senantiasa
tercurah pada sang reformer sejati Muhammad saw yang dengan kecerdasan dan
kesabarannya mampu mendobrak kejahiliyahan manusia.
Skripsi ini penulis susun dalam rangka memenuhi salah satu syarat untuk
memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
(FITK), Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta.
Penulis sangat berterima kasih dan memberikan penghargaan yang setinggitingginya atas bantuan, dorongan dan bimbingan dari beberapa pihak. Ucapan
terima kasih dan penghargaan tersebut diajukan kepada:
1.

Bapak Prof. Dr. Dede Rosyada, MA selaku Dekan FITK UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.

2.

Bapak Bahrissalim, M.Ag selaku Ketua Jurusan Pendidikan Agama Islam
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Semoga kebijakan yang dibuat selalu
mengarah pada kontinuitas eksistensi mahasiswanya.

3.

Bapak Drs. Sapiudin Shidiq, MA selaku Sekretaris Jurusan Pendidikan
Agama Islam Jakarta. Terima kasih atas waktu luang yang telah diberikan
untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada kami selaku mahasiswa.

4.

Ibu Dra. Zikri Neni Iska, M.Psi selaku pembimbing I. Terima kasih tak
terkira untuk kesediaannya berbagi ilmu dan waktu, berbagi pengalaman
hidup sehingga penulis dapat mengambil hikmah dari semuanya.

ii

5.

Bapak Abdul Ghofur, MA. S. Ag. selaku pembimbing II. Terima kasih telah
menjadi pembimbing sekaligus teman yang mau berbagi cerita maupun ilmu
kepada penulis. Semoga semuanya dapat bermanfaat dikemudian hari. Amin.

6.

Kepala sekolah, Guru dan semua staf di SMA Triguna Utama Tangerang
Selatan, khusunya Bapak Ase Saepul Karim seorang guru agama yang dapat
memberikan arahan dan bimbingan hidup kepada penulis.

7.

Suami tercinta Saeful Rizal, S.Pd. dengan penuh harapan selalu menjadi
imam yang baik bagi keluarga dan yang selalu setia mendengarkan keluh
kesah penulis selama menyelesaikan skripsi serta terima kasih atas
dukungannya yang tulus, atas cinta dan kesetiaannya.

8.

Anakku tersayang Muhammad Al Farizi Rizal semoga menjadi anak yang
sholeh dan membanggakan kedua orang tuanya. Engkau adalah semangat
hidup mama.

9.

Abah, mama dan adik-adikku tercinta Jamal dan Udin, yang selalu
memberikan motivasi bagi penulis untuk dapat menghadapi segala cobaan
dengan hati yang lapang. Terima kasih untuk pengorbanan untuk anakmu ini.

10. Bapak Afip Gunadi, S.Pd. Ibu Intan, S.Pd. serta adik-adikku Pika dan Litot,
terima kasih telah mau menerima semua kekurangan dan kalian telah
memberikan kebahagiaan kepada kami sekeluarga.
11. Teman seperjuangan dalam menuntut ilmu, Apit, Mega, Ina, Jojo, Jihad,
Bang Fajrin dan semua teman kelas PAI C kehadiran kalian selama ini telah
mewarnai hidupku.
12. Teman seperjuangan dalam menempuh ujian munaqasah (Indah, Adit dan
Rukmi) . Terima kasih atas bantuan dan keakraban selama beberapa hari ini.
13. Semua teman di asrama Darunnisa terima kasih atas doa dan dukungannya.
Pada akhirnya, tiada yang lebih berarti selain menjadi pribadi yang berguna
bagi orang lain. ”Khoirunnas Anfa’uhum linnas”.
Wassalamu’alaikum Wr.Wb.
Jakarta, 20 Agustus 2010

Penulis

iii

DAFTAR ISI
Halaman
LEMBAR PERSETUJUAN
LEMBAR PENGESAHAN
SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI
ABSTRAK ...................................................................................................... i
KATA PENGANTAR ................................................................................... ii
DAFTAR ISI .................................................................................................. iv
DAFTAR TABEL ........................................................................................... vi
DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... vii
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... viii
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ...................................................................... 1
B. Identifikasi Masalah ........................................................................... 4
C. Pembatasan Masalah ............................................................................ 4
D. Perumusan Masalah ............................................................................ 4
E. Tujuan Penelitian ................................................................................ 5
F. Manfaat Penelitian .............................................................................. 5
BAB II. DESKRIPSI TEORITIK, KERANGKA BERPIKIR
DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
A. Deskripsi Teoritik
1. Kecerdasan Emosional ................................................................. 6
a. Pengertian Emosi .................................................................... 6
b. Pengertian Kecerdasan Emosional .......................................... 8
c. Karakteristik Kecerdasan Emosional ..................................... 10
d. Pengembangan Kecerdasan Emosional ................................... 13
2. Akhlak ........................................................................................... 15
a. Pengertian Akhlak ................................................................... 15
b. Indikator Akhlak ...................................................................... 16
c. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pembentukan Akhlak....... 19
iv

B. Kerangka Berpikir ............................................................................... 22
C. Pengajuan Hipotesis ............................................................................ 23
BAB III. METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian ............................................................ 24
B. Identifikasi Variabel Penelitian ........................................................... 24
C. Definisi Operasional Variabel ............................................................ 25
D. Subjek Penelitian dan Teknik Pengambilan Sampel ........................... 25
E. Teknik Pengumpulan Data ................................................................. 26
F. Instrumen Penelitian ........................................................................... 27
G. Prosedur Penelitian ............................................................................. 31
H. Analisis Instrumen Penelitian ............................................................. 32
I. Uji Hipotesis ...................................................................................... 34
BAB IV.

HASIL PENELITIAN

A. Deskripsi Data
1.

Hasil Data Kecerdasan Emosional ............................................... 36

2.

Hasil Data Akhlak ........................................................................ 38

3.

Deskripsi Data Kecerdasan Emosional dan Akhlak Siswa .......... 40

4.

Interpretasi Data .......................................................................... 41

BAB V.

PENUTUP

A. Kesimpulan ......................................................................................... 45
B. Saran .................................................................................................... 46
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 47
LAMPIRAN-LAMPIRAN

v

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Jumlah Seluruh Siswa SMA Triguna Utama ................................... 25
Tabel 2. Kriteria Penilaian Angket ................................................................ 28
Tabel 3. Kisi-Kisi Instrumen Penelitian Kecerdasan Emosional ................... 29
Tabel 4. Kisi-Kisi Instrumen Penelitian Akhlak Siswa .................................. 30
Tabel 5. Deskripsi Data Kecerdasan Emosional ............................................ 36
Tabel 6. Penggolongan Tingkat Kecerdasan Emosional Siswa ..................... 37
Tabel 7. Skor Skala Kecerdasan Emosional

................................................ 38

Tabel 8. Deskripsi Data Akhlak Siswa ........................................................... 39
Tabel 9. Penggolongan Tingkat Kualitas Akhlak Siswa ................................ 39
Tabel 10. Skor Skala Akhlak Siswa ................................................................ 40
Tabel 11. Hasil Koefien Korelasi .................................................................... 41

vi

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1. Diagram Kerangka Berpikir Hubungan Kecerdasan Emosional
(EQ) dengan Akhlak siswa ........................................................... 22
Gambar 2. Skor Kecerdasan Emosional Siswa ............................................... 38
Gambar 3. Skor Akhlak Siswa ........................................................................ 40

vii

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Instrumen Pengumpulan Data
a. Angket Kecerdasan Emosional Siswa Validasi ..................... 50
b. Angket Kecerdasan Emosional Siswa Penelitian .................. 55
c. Angket Akhlak Siswa Validasi ............................................. 58
d. Angket Akhlak Siswa Penelitian .......................................... 60
Lampiran 2. Validitas
a. Validitas Angket Kecerdasan Emosional .............................. 62
b. Validitas Angket Akhlak Siswa ............................................ 64
Lampiran 3. Reliabilitas
a. Perhitungan Varian Total pada Instrumen Kecerdasan
Emosional ............................................................................. 66
b. Perhitungan Reliabilitas pada Angket Kecerdasan
Emosional ............................................................................. 67
c. Perhitungan Varian Total pada Instrumen Akhlak ................ 68
d. Perhitungan Reliabilitas pada Angket Akhlak ...................... 69
Lampiran 4. Data Hasil Angket Kecerdasan Emosional Siswa ...................... 70
Lampiran 5. Data Hasil Angket Akhlak .......................................................... 72
Lampiran 6. Persiapan Perhitungan Koefisien Korelasi ................................. 73
Lampiran 7. Perhitungan Koefisien Korelasi Kecerdasan Emosional dengan
Akhlak Siswa ............................................................................. 74
Lampiran 8. Perhitungan Koefisien Determinasi ............................................ 75
Lampiran 9. Berita Wawancara ....................................................................... 76
Lampiran 10. Laporan Observasi .................................................................... 77
Lampiran 11. Surat Permohonan Izin Penelitian ............................................ 78
Lampiran 12. Surat Permohonan Riset ........................................................... 79
Lampiran 13. Surat Keterangan telah Mengadakan Penelitian ....................... 80

viii

1

BAB 1
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Akhir-akhir ini banyak sekali pemberitaan tentang remaja, ada yang positif
dan ada pula yang negatif. Hal ini menandakan bahwa dunia remaja sangatlah
rentan dengan kehidupan yang semakin kompleks akan segala perkembangannya.
Beragamnya persoalan remaja yaitu kenakalan remaja, demoralisasi remaja,
tumbuh terlalu cepat, terlalu mementingkan diri sendiri, kurang kontrol dalam
mengekspresikan emosi dan lain sebagainya adalah beberapa kondisi remaja yang
sering dikeluhkan para orang tua, pendidik, dan masyarakat disekeliling mereka.
Sekalipun situasi masa kini saat kita membesarkan remaja benar-benar berbeda
akibat bertambah banyaknya pengaruh terhadap perkembangan mereka dan
kehirukpikukan kehidupan sehari-hari, remaja tetap anak-anak yang tengah
menjalani transisi menuju kedewasaan.
Dengan adanya problem seperti ini, maka banyak pihak yang seharusnya
bertanggung jawab atas perkembangan remaja. Tidak hanya orang tua yang
merupakan bagian terpenting dan terkecil dalam membina hubungan emosi
terhadap mereka, pendidik pun ikut andil dalam hal tersebut khususnya
dilingkungan sekolah. Akan tetapi tidak dipungkiri pula terdapat pihak lain yang
turut ambil bagian dalam masalah ini. “Demoralisasi yang merajalela dikalangan

1

2

remaja memerlukan usaha-usaha pendidikan khusus yang dapat mengupayakan
pembinaan akhlak bagi para remaja, karena pada masa pubertas dan usia baligh
anak mengalami kekosongan jiwa yang merupakan gejala kegoncangan pikiran,
keragu-raguan, keyakinan akan agama yang dianut, atau bahkan kehilangan
pijakan agama”. 1
Setiap orang tua dan pendidik pasti mendambakan anak-anak yang sehat
jasmani dan rohani, cerdas dan berperilaku baik, sehingga kelak menjadi anakanak yang unggul dan tangguh menghadapi berbagai tantangan dimasa depan. 2
Namun dengan kondisi remaja sekarang ini apakah mungkin dambaan tersebut
akan terwujud?. Perlu disadari bahwa untuk mewujudkan dambaan tersebut serta
untuk mengembalikan citra remaja yang semakin terpuruk maka salah satu
caranya adalah dengan meningkatkan kecerdasan emosional siswa. Dimana
kecerdasan emosional adalah suatu kemampuan untuk mengelola emosi yang
terdapat dalam diri individu. Kecerdasan emosional pada siswa harus
dikembangkan oleh semua pihak yang bersangkutan tak terkecuali pendidik dan
para orang tua, sehingga dari sinilah kepribadian siswa dapat terbentuk menjadi
lebih baik dan terus dibina secara intensif sehingga siswa dapat memiliki akhlak
al-karimah. Peran dari lingkungan yang berada disekitar mereka juga sangat
berperan dan mendukung. Sehingga perkembangan kecerdasan baik intelektual
maupun emosional dan pembentukan akhlak (kepribadian) dapat tumbuh secara
optimal.
Setiap anak yang dilahirkan, telah membawa karakter dan sifatnya sendiri.
Termasuk didalamnya juga telah membawa Kecerdasan Intelektual (IQ) dan
Kecerdasan Emosional (EQ) dalam dirinya. Semua itu akan sangat mempengaruhi
kepribadian, bahkan mungkin kegagalan atau kesuksesannya. Namun, bukan
berarti proses semuanya itu telah selesai, tidak dapat diubah, dan tidak dapat
dipengaruhi. Seperti yang telah disinggung dalam pembahasan di atas, bahwa
orang tua, pendidik dan lingkungan memiliki peran yang sangat penting dalam
1

Arianto Sam, “Pengertian Akhlak”, dari http://sobatbaru.blogspot.com/2010/03/pengertianakhlak.html, 25 Juli 2010.
2
Bambang Trim, Meng-Instal Akhlak Anak, (Jakarta: PT Grafindo Media Pratama, 2008), Cet.
1,hal. 4.

2

3

mengarahkan dan meningkatkan potensi yang telah Allah karuniakan pada diri
anak tersebut. Seorang anak tidak boleh dibebaskan mengikuti kemauannya tanpa
ada bimbingan dan arahan dari orang tua ataupun pendidik yang dapat
meningkatkan dan mengembangkan potensi dasar yang telah dimilikinya.
Menurut psikolog dan pemerhati anak-anak Dr. Seto Mulyadi, M.Psi generasi
sekarang cenderung mulai banyak mengalami kesulitan emosional seperti mudah
merasa kesepian dan pemurung, mudah cemas, mudah bertindak agresif, serta
kurang menghargai sopan santun. Kecerdasan atau angka IQ yang tinggi bukan
merupakan satu-satunya jaminan kesuksesan seorang anak di masa depan. Ada
faktor lain yang saat ini cukup popular yaitu kecerdasan emosional. Pentingnya
kecerdasan ini karena banyak dijumpai anak-anak yang cerdas di sekolah, begitu
cemerlang prestasi akademiknya, namun tidak dapat mengelola emosinya seperti
mudah marah, mudah putus asa atau angkuh dan sombong. Sehingga prestasi
yang telah diraih itu tidak akan banyak bermanfaat bagi dirinya.
Ternyata kecerdasan emosional perlu lebih dihargai dan dikembangkan pada
anak sejak usia dini. Karena inilah yang mendasari keterampilan seseorang di
masyarakat kelak, sehingga akan membuat seluruh potensinya dapat berkembang
secara optimal. Mengingat begitu banyaknya tantangan yang akan dihadapi anak
dalam kehidupannya kelak, maka orang tua maupun pendidik perlu memberikan
bimbingan dan pengarahan untuk mencerdaskan kemampuan serta emosinya. 3
Dalam kaitan pentingnya kecerdasan emosional pada diri anak sebagai salah
satu factor penting dalam pembentukan akhlak, maka dalam penyusunan skripsi
ini penulis tertarik untuk meneliti “Hubungan antara Kecerdasan Emosional
dengan Akhlak Siswa Kelas XI SMA Triguna Utama Tangerang Selatan”.

3

Rubrik PELITA, “Kecerdasan Emosional Anak Penting Dikembangkan (Agama dan
Pendidikan)” dari http://www.pelita.or.id/baca.php?id=16965, 1 Agustus 2010.

3

4

B. Identifikasi Masalah
Berkaitan dengan latar belakang di atas, maka masalah yang dapat
diidentifikasi adalah sebagai berikut:
1. Pendidikan kecerdasan emosional belum sepenuhnya diterapkan dalam
lingkungan pendidikan.
2. Kurang diperhatikannya akhlak siswa dalam bermasyarakat baik di
lingkungan sekolah, keluarga maupun di lingkungan masyarakat.
3. Kebanyakan para orang tua lebih menekankan IQ daripada EQ.
4. Sebagian pendidik belum memberikan keteladanan yang baik sebagai modal
utama pembentukan kepribadian anak.
5. Banyak sekali problem remaja yang belum tersentuh/ditangani secara serius
oleh pihak sekolah khususnya.
6. Mayoritas dari setiap pelaksana pendidikan masih berorientasi pada aspekaspek pengetahuan (kognitif) dan keterampilan (psikomotor) saja, padahal
pembelajaran yang berhasil adalah pembelajaran yang menyeimbangkan
berbagai aspek antara lain aspek kognitif, psikomotorik, dan afektif yang
menanamkan nilai-nilai sikap dan moral kepada peserta didik.

C. Pembatasan Masalah
Supaya penelitian ini dapat terarah dan ruang lingkupnya lebih jelas, maka
penulis membatasi permasalahan-permasalahan yang muncul. Adapun batasanbatasan masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Pendidikan kecerdasan emosional belum sepenuhnya diterapkan dalam
lingkungan pendidikan.
2. Kurang diperhatikannya akhlak siswa dalam bermasyarakat baik di
lingkungan sekolah, keluarga maupun di lingkungan masyarakat

D. Perumusan Masalah
Dari pembatasan masalah di atas, maka masalah yang dirumuskan disini
adalah “Apakah terdapat hubungan yang signifikan antara kecerdasan emosional
dengan akhlak siswa?”.

4

5

E. Tujuan Penelitian
Penelitian ini memiliki beberapa tujuan yang didasarkan atas perumusan
masalah di atas, tujuan tersebut yaitu untuk mengetahui:
1. Seberapa besar kecerdasan emosional yang dimiliki oleh siswa.
2. Bagaimana akhlak yang dimiliki oleh siswa.
3. Korelasi antara 2 variabel yaitu variabel kecerdasan emosional dan variabel
akhlak.
4. Apakah ada pengaruh antara kecerdasan emosional dengan akhlak siswa.

F. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan membawa manfaat dalam proses pembelajaran,
yaitu:
1. Bagi penulis, diharapkan penelitian ini dapat memperlancar proses
pengembangan ilmu yang selama ini penulis dapatkan serta dapat
memperlancar pencapaian gelar Sarjana Pendidikan Islam di UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta.
2. Bagi guru, diharapkan penelitian ini menjadi bahan pertimbangan bahwa
dalam proses pembelajaran tidak

hanya berorientasi pada perkembangan

intelektual siswa semata, akan tetapi kecerdasan emosional siswa juga perlu
dikembangkan secara lebih maksimal.
3. Bagi calon pendidik, diharapkan penelitian ini dapat memberikan wawasan
tentang pengembangan kecerdasan emosional siswa yang berkaitan dengan
akhlak. Agar mereka sebagai calon pendidik dapat mempersiapkan strategi
dan kemampuan didalam mengembangkan kecerdasan siswa baik itu yang
bersifat intelektual maupun yang bersifat emosional.
4. Bagi Instansi yang berkepentingan dalam hal ini, diharapkan masalah
kecerdasan

emosional

ini

menjadi

salah

satu

faktor

yang

dapat

dipertimbangkan dalam bimbingan di sekolah agar akhlak siswa dapat terus
ditingkatkan menjadi lebih baik.

5

6

BAB II
DESKRIPSI TEORITIK, KERANGKA BERPIKIR
DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

A. Deskripsi Teoritik
1. Kecerdasan Emosional
a. Pengertian Emosi
Kata emosi berasal dari bahasa latin yaitu emovere yang berarti
bergerak menjauh. Arti kata ini menyiratkan bahwa kecenderungan
bertindak merupakan hal mutlak dalam emosi. Dan pada dasarnya emosi
adalah dorongan untuk bertindak. Menurut Daniel Goleman

emosi

merujuk pada ”suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan
biologis dan psikologis dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak”. 1
Biasanya emosi merupakan reaksi terhadap rangsangan dari luar dan
dalam diri individu. Sebagai contoh emosi gembira mendorong perubahan
suasana hati seseorang, sehingga secara fisiologi terlihat tertawa, emosi
sedih mendorong seseorang berperilaku menangis.
Emosi berkaitan dengan perubahan fisiologis dan berbagai pikiran.
Jadi, emosi merupakan salah satu aspek penting dalam kehidupan manusia,
1

Goleman, Emotional Intelligence (terjemahan), (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2009),
Cet. 18, h. 411.

6

7

karena

emosi

dapat

merupakan

motivator

perilaku

dalam

arti

meningkatkan, tapi juga dapat mengganggu perilaku intensional manusia.
Sedangkan menurut Zikri Neni Iska, ”emosi adalah setiap keadaan diri
seseorang yang disertai dengan warna afektif, baik pada tingkat yang
lemah maupun pada tingkat yang kuat. Warna afektif merupakan perasaan
yang berbeda-beda, baik perasaan senang maupun perasaan tidak
senang”. 2
Beberapa tokoh mengemukakan tentang macam-macam emosi, antara
lain Descrates. Menurut Descrates, emosi terbagi atas: Desire (hasrat),
Hate (benci), Sorrow (sedih/duka), Wonder (heran), Love (cinta) dan Joy
(kegembiraan).

3

Sedangkan JB Watson mengemukakan tiga macam

emosi, yaitu: Fear (ketakutan), Rage (kemarahan), Love (cinta). 4 Dan
menurut F. Wundi ada tiga pasang kutub emosi, yaitu: Lust–Unlust
(senang-tak senang), Spannung-Losung (tegang-tak tegang), EerregungBerubigung

(semangat-tenang). 5

Daniel

Goleman

mengemukakan

beberapa macam emosi yang tidak berbeda jauh dengan ketiga tokoh di
atas, yaitu :
1) Amarah: beringas, mengamuk, benci, jengkel, kesal hati.
2) Kesedihan: pedih, sedih, muram, suram, melankolis, mengasihi
diri, putus asa.
3) Rasa takut: cemas, gugup, khawatir, was-was, perasaan takut
sekali, waspada, tidak tenang, ngeri.
4) Kenikmatan: bahagia, gembira, riang, puas, riang, senang, terhibur,
bangga.
5) Cinta: penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa
dekat, bakti, hormat, kemesraan, kasih sayag.
6) Terkejut: terkesiap, terkejut.

2

Zikri Neni Iska, Psikologi Pengantar Pemahaman Diri dan Lingkungan, (Jakarta: KIzi
Brother’s, 2008), h. 103.
3
Hartati, Nety, dkk. Islam dan Psikologi, (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2003), Cet. 1, hal. 100.
4
Hartati, Nety, dkk. Islam dan Psikologi…hal. 94.
5
Hartati, Nety, dkk. Islam dan Psikologi…hal. 102.

7

8

7) Jengkel: hina, jijik, muak, mual, tidak suka.
8) Malu: malu hati, kesal.
Berdasarkan uraian tersebut, dapat disimpulkan bahwa emosi adalah
suatu perasaan (afek) yang mendorong individu untuk merespon atau
bertingkah laku terhadap stimulus, baik yang berasal dari dalam maupun
dari luar dirinya.
b. Pengertian Kecerdasan Emosional
Istilah “Kecerdasan Emosional” pertama kali dilontarkan pada tahun
1990 oleh psikolog Peter Salovey dari Harvard University dan John Mayer
dari University of New Hampshire untuk menerangkan kualitas-kualitas
emosional yang tampaknya penting bagi keberhasilan.
Mengutip pendapat Cooper dan Sawaf dalam buku Revolusi
Kecerdasan Abad 21 mendefinisikan Kecerdasan Emosional sebagaimana
di bawah ini:
“Emotional Intelligence is the ability to sense, understand, and
effectively apply the power and acumen of emotions as a source of
human energy, information, connection, and influence.” (Kecerdasan
Emosional adalah kemampuan merasakan, memahami, dan secara
efektif mengapilkasika kekuatan serta kecerdasan emosi sebagai
sebuah sumber energy manusia, informasi, hubungan, dan
pengaruh)”. 6
Kecerdasan emosional sangat dipengaruhi oleh lingkungan, tidak
bersifat menetap, dapat berubah-ubah setiap saat. Untuk itu peranan
lingkungan terutama

orang tua pada masa kanak-kanak sangat

mempengaruhi dalam pembentukan kecerdasan emosional.
Keterampilan Emotional Quotient (EQ) bukanlah lawan keterampilan
Intellegence Quotient (IQ) atau keterampilan kognitif, namun keduanya
berinteraksi secara dinamis, baik pada tingkatan konseptual maupun di
dunia nyata. Selain itu, EQ tidak begitu dipengaruhi oleh faktor keturunan.
Sebuah model pelopor lain tentang kecerdasan emosional diajukan
oleh Bar-On pada tahun 1992 seorang ahli psikologi Israel, yang

6

Agus Effendi, Revolusi Kecerdasan Abad 21; Kritik MI, EI, SQ, AQ & Successful Intelligence
Atas IQ, (Bandung: Alfabeta, 2005), Cet. I, hal. 172.

8

9

mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai ”serangkaian kemampuan
pribadi, emosi dan sosial yang mempengaruhi kemampuan seseorang
untuk berhasil dalam mengatasi tuntutan dan tekanan lingkungan”. 7
Sedangkan menurut Gardner kecerdasan emosional merupakan
”kemampuan seseorang untuk memecahkan masalah dan menghasilkan
produk dalam suatu setting yang bermacam-macam dalam situasi yang
nyata”. 8
Gardner juga dalam bukunya yang berjudul Frame Of Mind
mengatakan bahwa bukan hanya satu jenis kecerdasan yang monolitik
yang penting untuk meraih sukses dalam kehidupan, melainkan ada
spektrum kecerdasan yang lebar dengan tujuh varietas utama yaitu
naturalistik, linguistik, matematika/logika, spasial, kinestetik, musik,
interpersonal dan intrapersonal. Kecerdasan ini dinamakan oleh Gardner
sebagai kecerdasan pribadi yang oleh Daniel Goleman disebut sebagai
kecerdasan emosional. 9
Menurut Gardner, kecerdasan pribadi terdiri dari kecerdasan antar
pribadi yaitu kemampuan untuk memahami orang lain, apa yang
memotivasi mereka, bagaimana mereka bekerja, bagaimana bekerja
bahu membahu dengan kecerdasan. Sedangkan kecerdasan intra
pribadi adalah kemampuan yang korelatif, tetapi terarah ke dalam diri.
Kemampuan tersebut adalah kemampuan membentuk suatu model diri
sendiri yang teliti dan mengacu pada diri serta kemampuan untuk
menggunakan modal tadi sebagai alat untuk menempuh kehidupan
secara efektif. 10
Dalam rumusan lain, Gardner menyatakan bahwa inti kecerdasan antar
pribadi itu mencakup “kemampuan untuk membedakan dan menanggapi
dengan tepat suasana hati, temperamen, motivasi dan hasrat orang lain”.
Dalam kecerdasan antar pribadi yang merupakan kunci menuju
pengetahuan diri, ia mencantumkan “akses menuju perasaan-perasaan diri

7

Goleman, Working With Emotional Intelligence (terjemahan), (Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama. 2005), Cet. 6. h. 580.
8
Iskandar, Psikologi Pendidikan Sebuah Orientasi Baru, (Ciputat: Gaung Persada Press, 2009),
Cet. I, h. 53.
9
Goleman, Emitional Intelligence (terjemahan)...h.50-53.
10
Goleman, Emitional Intelligence (terjemahan)....h. 52.

9

10

seseorang dan kemampuan untuk membedakan perasaan-perasaan tersebut
serta memanfaatkannya untuk menuntun tingkah laku”. 11
Berdasarkan kecerdasan yang dinyatakan oleh Gardner tersebut,
Salovey memilih kecerdasan interpersonal dan kecerdasan intrapersonal
untuk dijadikan sebagai dasar untuk mengungkap kecerdasan emosional
pada diri individu. Menurutnya kecerdasan emosional adalah ”kemampuan
seseorang untuk mengenali emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri
sendiri, mengenali emosi orang lain (empati) dan kemampuan untuk
membina hubungan (kerjasama) dengan orang lain”. 12
Menurut Goleman, kecerdasan emosional adalah ”kemampuan
seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan inteligensi (to manage
our emotional life with intelligence); menjaga keselarasan emosi dan
pengungkapannya (the appropriateness of emotion and its expression)
melalui keterampilan kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri,
empati dan keterampilan sosial”. 13
Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan kecerdasan emosional
adalah kemampuan siswa untuk mengenali emosi diri, mengelola emosi
diri, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain (empati) dan
kemampuan untuk membina hubungan (kerjasama) dengan orang lain.
c.

Karakteristik Kecerdasan Emosional
Goleman mengutip Salovey menempatkan kecerdasan pribadi Gardner

dalam definisi dasar tentang kecerdasan emosional yang dicetuskannya
dan memperluas kemapuan tersebut menjadi lima kemampuan utama,
yaitu : 14
1) Mengenali Emosi Diri
Mengenali emosi diri sendiri merupakan suatu kemampuan untuk
mengenali perasaan sewaktu perasaan itu terjadi. Kemampuan ini
merupakan dasar dari kecerdasan emosional, para ahli psikologi
11
12

13
14

Goleman, Emitional Intelligence (terjemahan)....h. 53.
Goleman, Emitional Intelligence (terjemahan)....h. 57.
Goleman, Working With Emotional Intelligence (terjemahan)…h. 512.
Goleman, Emitional Intelligence (terjemahan)...h.58-59.

10

11

menyebutkan kesadaran diri sebagai metamood, yakni kesadaran
seseorang akan emosinya sendiri. Menurut Mayer, kesadaran diri
adalah waspada terhadap suasana hati maupun pikiran tentang
suasana hati, bila kurang waspada maka individu menjadi mudah
larut dalam aliran emosi dan dikuasai oleh emosi. Kesadaran diri
memang belum menjamin penguasaan emosi, namun merupakan
salah satu prasyarat penting untuk mengendalikan emosi sehingga
individu mudah menguasai emosi. Dalam penelitian ini diharapkan
siswa dapat mengenali emosi diri sendiri seperti rasa marah, sedih.
gundah, bahagia dan lain sebagainya.
2) Mengelola Emosi (Pengendalian Diri)
Mengelola

emosi

merupakan

kemampuan

individu

dalam

menangani perasaan agar dapat terungkap dengan tepat atau
selaras, sehingga tercapai keseimbangan dalam diri individu.
Menjaga agar emosi yang merisaukan tetap terkendali merupakan
kunci menuju kesejahteraan emosi. Ini masuk dalam pengendalian
emosi diri agar tidak terus menerus menjelajah alam pikiran kita,
sehingga kita dapat mengontrol emosi yang kita alami. Emosi yang
berlebihan, yang meningkat dengan intensitas terlampau lama akan
mengoyak kestabilan kita.
3) Memotivasi Diri Sendiri
Prestasi harus dilalui dengan dimilikinya motivasi dalam diri
individu, yang berarti memiliki ketekunan untuk menahan diri
terhadap kepuasan dan mengendalikan dorongan hati, serta
mempunyai perasaan motivasi yang positif, yaitu antusianisme,
gairah, optimis dan keyakinan diri.
4) Mengenali Emosi Orang Lain
Kemampuan untuk mengenali emosi orang lain disebut juga
empati.

Menurut

Goleman,

kemampuan

seseorang

untuk

mengenali perasaan orang lain atau peduli, menunjukkan
kemampuan

empati

seseorang.

11

Individu

yang

memiliki

12

kemampuan empati lebih mampu menangkap sinyal-sinyal sosial
yang tersembunyi yang mengisyaratkan apa-apa yang dibutuhkan
orang lain sehingga ia lebih mampu menerima sudut pandang
orang lain, peka terhadap perasaan orang lain dan lebih mampu
untuk mendengarkan orang lain.
Rosenthal dalam penelitiannya menunjukkan bahwa orang-orang
yang mampu membaca perasaan dan isyarat non verbal lebih
mampu menyesuaikan diri secara emosional, lebih populer, lebih
mudah bergaul, dan lebih peka. 15 Nowicki, ahli psikologi
menjelaskan bahwa anak-anak yang tidak mampu membaca atau
mengungkapkan emosi dengan baik akan terus menerus merasa
frustasi. Seseorang yang mampu membaca emosi orang lain juga
memiliki kesadaran diri yang tinggi. Semakin mampu terbuka pada
emosinya sendiri, mampu mengenal dan mengakui emosinya
sendiri, maka orang tersebut mempunyai kemampuan untuk
membaca perasaan orang lain. 16
5) Membina Hubungan
Kemampuan

dalam

membina

hubungan

merupakan

suatu

keterampilan yang menunjang popularitas, kepemimpinan dan
keberhasilan antar pribadi. 17 Keterampilan dalam berkomunikasi
merupakan kemampuan dasar dalam keberhasilan membina
hubungan.

Individu

sulit

untuk

mendapatkan

apa

yang

diinginkannya dan sulit juga memahami keinginan serta kemauan
orang lain.
Orang-orang yang hebat dalam keterampilan membina hubungan
ini akan sukses dalam bidang apapun. Orang berhasil dalam
pergaulan karena mampu berkomunikasi dengan lancar pada orang
lain. Orang-orang ini populer dalam lingkungannya dan menjadi
teman yang menyenangkan karena kemampuannya berkomunikasi.
15

Goleman, Emitional Intelligence (terjemahan)...h.136.
Goleman, Emitional Intelligence (terjemahan)...h.172.
17
Goleman, Emitional Intelligence (terjemahan)...h.59.
16

12

13

Ramah tamah, baik hati, hormat dan disukai orang lain dapat
dijadikan petunjuk positif bagaimana siswa mampu membina
hubungan dengan orang lain. Sejauh mana kepribadian siswa
berkembang dilihat dari banyaknya hubungan interpersonal yang
dilakukannya.
d. Pengembangan Kecerdasan Emosional
Guru menempati posisi yang sangat penting dalam meningkatkan EQ
murid-muridnya. Langkah pertama yang harus dilakukannya adalah
“meningkatkan EQ-nya sendiri, dan dalam waktu yang sama berusaha
meningkatkan EQ murid-muridnya”. 18 Baik guru maupun murid dapat
memanfaatkan proses pembelajaran guna meningkatkan EQ mereka.
Dengan demikian proses pembelajaran akan sangat menyenangkan karena
dibangun di atas sikap saling menghargai dan menjawab kebutuhan
masing-masing.
Perlu diingat bagi guru bahwa setiap murid mempunyai karakter
emosi yang berbeda-beda sehingga perlakuan seorang guru

terhadap

setiap murid pun haruslah sesuai dengan karakter emosi dan perasaannya.
Langkah kedua yang harus dilakukan untuk mengembangkan
kecerdasan emosional pada anak adalah dengan “mengajarinya bagaimana
mengenali perasaan khususnya, dan dengan mengembangkan kecakapan
bahasanya agar dapat mengekspresikan emosi-emosi yang dialaminya”.19
Anak tidak hanya diajari bagaimana mengatakan bahwa dirinya
sedang marah atau sedih, tetapi juga diajari bagaimana melukiskan atau
mengekspresikan secara detail perasaan marah dan sedihnya itu. Disaat
mengajari anak bagaimana cara mengekspresikan perasaannya, sebenarnya
sebagai seorang pendidik juga sedang megajarinya untuk mengemban
tanggung jawab terhadap kebutuhan emosinya. Disaat mengajari anak
bagaimana mengenali hakekat emosinya dan mengungkapkannya dalam
kata-kata, maka sebenarnya seorang pendidik sedang membekalinya
18

Makmun Mubayidh, Kecerdasan dan Kesehatan Emosional Anak, (Jakarta: Pustaka AlKautsar, 2006), hal. 125.
19
Makmun Mubayidh, Kecerdasan dan Kesehatan Emosional Anak…hal. 111.

13

14

kemampuan diri dalam beradaptasi dengan emosi dan hidupnya. Jika hal
ini ditambah dengan penghormatan kita akan perasaan anak dan mengajari
mereka untuk menghormati perasaan orang lain, maka masa depan anak
akan lebih gemilang. Dimana ia mampu menyelesaikan semua masalah
dan konflik secara damai, jauh dari kekerasan dan penggunaan fisik.
Metode dalam pengembangan EQ adalah dengan menggabungkan
unsur pendidikan EQ dalam materi pelajaran yang sudah ada sehingga
tidak diperlukan waktu ekstra untuk mengembangkan EQ murid.
Pada saat-saat tertentu, murid tidak membutuhkan pengetahuan akan tetapi
mereka lebih membutuhkan belaian tangan yang penuh kasih sayang, kata
lembut yang membahagiakannya, perasaan bebas dan aman, perasaan
dihargai dan dihormati, atau pengakuan atas emosi yang dirasakannya.
Intinya adalah diperlukan adanya interaksi emosi antara

guru dengan

murid sehingga seorang guru menyelami kondisi emosi sang murid.
Secara lebih rinci maka yang harus dilakukan oleh seorang guru dalam
mengembangkan emosi murid adalah dengan “Pelatihan Emosi”, dimana
oleh Daniel Goleman anak-anak yang mendapatkan pelatihan emosi ini
disebut “orang-orang yang memiliki kecerdasan emosional”.
Kemampuan-kemampuan ini mencakup kemampuan mengatur
keadaan emosional mereka sendiri. Anak-anak itu lebih terampil
dalam menenangkan diri mereka sendiri bila mereka marah. Mereka
mampu menenangkan jantung mereka dengan lebih cepat. Unjuk kerja
unggul dalam bagian fisiologi mereka yang terlibat dalam
menenangkan diri mereka sendiri menyebabkan mereka jarang
menderita penyakit menular. Mereka lebih terampil dalam
memusatkan perhatian. Mereka berhubungan lebih baik dengan orang
lain. Mereka lebih cakap dalam memahami orang lain. Pendek kata,
mereka telah mengembangkan sejenis “IQ” yang meyangkut orang
maupun dunia perasaan, atau kecerdasan emosional. 20
Sehingga dalam hal ini sekolah yang ideal adalah sekolah yang
berupaya mengembangkan secara berimbang kecerdasan emosi (EQ) dan
kecerdasan intelektual (IQ).
20

John Gottman, Kiat-kiat Membesarkan Anak yang Memiliki Kecerdasan Emosional
(terjemahan), (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1997), hal. xvii.

14

15

1. Akhlak
a.

Pengertian Akhlak
Akhlak merupakan mutiara yang membedakan manusia dengan

makhluk lainnya. Menurut pengertian asal katanya (istilah bahasa) kata
akhlak berasal dari bahasa arab jamak dari “khuluqun” yang menurut
loghat diartikan budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. 21 Senada
dengan

definisi di atas dalam Kamus Ilmiah Kontemporer akhlak

diartikan juga sebagai budi pekerti, perangai atau tingkah laku. 22
Menurut Ibnu Maskawaih yang dikutip M. Yatimin Abdullah
mendefinisikan akhlak sebagai “suatu keadaan yang melekat pada jiwa
manusia, yang berbuat dengan mudah tanpa melalui proses pemikiran dan
pertimbangan”. 23 Dalam definisi tersebut seseorang dapat berbuat sesuatu
tanpa memerlukan proses pemikiran terlebih dahulu.
Menurut Al Ghazali dalam kitab Ihya-nya yang dikutip Asmaran
menyatakan bahwa “Akhlak ialah sifat yang tertanam dalam jiwa yang
menimbulkan macam-macam perbuatan dengan gampang dan mudah,
tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan”. 24
Sedangkan intisari akhlak menurut Abudinata adalah: 25
1) Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang telah tertanam kuat dalam
diri seseorang.
2) Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan mudah
tanpa pemikiran.
3) Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang timbul dari dalam diri
seseorang yang mengerjakannya tanpa ada paksaan dari luar.
4) Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan sesungguhnya
dan bukan main-main.

21

Hamzah Yakub, Etika Islam. (Bandung : CV Diponegoro, 1995), h. 11
Alex MA, Kamus Ilmiah Populer Kontemporer, (Surabaya: Karya Harapan, 2005), h. 21.
23
M. Yatimin Abdullah, Studi Akhlak dalam Perspektif Al-Qur’an, (Jakarta: AMZAH, 2007),
Cet. 1, hal. 4.
24
As, Asmaran, Pangantar Studi Akhlak, (Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1994), Cet. 2,
hal. 2-3.
25
Abudinata, Akhlak Tasawuf, (Jakarta : Rajawali Press, 1996), h. 4-6.
22

15

16

5) Perbuatan akhlak adalah perbuatan yang dilakukan dengan ikhlas
semata karena Allah.
Berdasarkan definisi tersebut diatas dapat disimpulkan akhlak adalah
sifat-sifat yang dibawa manusia sejak lahir yang tertanam dalam jiwanya
dan selalu ada padanya. Sifat itu dapat lahir berupa perbuatan baik yang
disebut akhlak Al-mahmudah atau perbuatan buruk yang disebut akhlak
Al-mazmumah, semua itu sesuai dengan pembinaan akhlak khususnya
diwaktu kecil.
Seseorang yang mempunyai akhlak Al-mahmudah akan terpancar dari
sikap dan tingkah lakunya sehari-hari. Akhlak yang mulia akan terlahir
dari orang tua yang memberikan pendidikan akhlak kepada anaknya sejak
dini. Penanaman akhlak haruslah sesuai dengan usia perkembangannya.
b. Indikator Akhlak
Menurut Ahmad Tafsir indikator akhlak meliputi akhlak terhadap
Allah, akhlak terhadap sesama, akhlak terhadap lingkungan. 26 Dalam
perwujudannya indikator akhlak meliputi:
1) Akhlak terhadap Allah
Akhlak terhadap Allah dapat diartikan sebagai “Sikap atau
perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai
makhluk kepada Tuhan sebagai Khaliqnya”. Menyadari posisi
manusia sebagai mahluk ciptaan Allah, tentu saja memiliki ia
kewajiban terhadap khaliqnya, sebagaimana menurut pendapat
Hamzah Yakub mengemukakan kewajiban manusia terhadap Allah
sehubungan dengan akhlak antara lain: 27
a) Beriman, yaitu meyakini bahwa Allah itu ada dengan segala
kesempurnaan-Nya.
b) Taat, yaitu menjalankan perintah-Nya dan menjauhi laranganNya.
c) Ikhlas, beramal hanya karena Allah.
26

Heny Narendrany Hidayati, Pengukuran Akhlakul Karimah Mahasiswa, (Jakarta: UIN
Jakarta Press, 2009), hal. 12.
27
Hamzah Yakub, Etika Islam… h. 141.

16

17

d) Tadarru dan khusyu, yaitu beribadah kepada Allah dengan
sepenuh hati.
e) Ar-Raja dan Ad-Dua, yaitu memiliki rasa optimis untuk
mendapat ampunan dan rahmat-Nya.
f) Husnudhan, yaitu sifat berbaik sangka terhadap Allah.
g) Tawakkal,

mempercayakan

diri

kepada-Nya

dalam

melaksanakan suatu pekerjaan yang telah direncanakan dengan
mantap.
h) Tasyakur dan Qanaah, yaitu berterima kasih terhadap
pemberian-Nya dan merasa cukup terhadap apa yang
dimilikinya.
i) Taubat dan Istighfar, yakni menyesal dan tidak mengulangi
lagi setelah memohon ampun.
Maka akhlak manusia kepada Allah secara garis besarnya adalah
melaksanakan ibadah dalam segala aspek, baik secara lahiriah
maupun batiniah.
2) Akhlak terhadap Sesama Manusia
Manusia adalah mahluk sosial yang secara kodratnya tidak mampu
untuk hidup sendiri tanpa bantuan orang lain. Maka akhlak yang
baik diperlukan dalam membina keselarasan hidup dengan
manusia lain.
Akhlak terhadap sesama manusia pada dasarnya bertolak kepada
keseluruhan budi dalam menempatkan diri kita dan menempatkan
diri orang lain pada posisi yang tepat. 28 Salah satu indikator kuat
lemahnya iman seseorang tampak dari perilakunya terhadap orang
lain, dengan kata lain mereka memperlakukan semua manusia
sama. Inilah yang merupakan prinsip dari tumbuh kembangnya
iman seseorang. Hal ini didukung oleh firman Allah dalam Al
Qur’an Surat Al Maidah ayat 2 :

28

Heny Narendrany Hidayati, Pengukuran Akhlakul Karimah Mahasiswa…hal. 14

17

18

t„"É

‹ ‰Í5‹ˆ`Ό"ˆ…‹

yŠ‹ˆ u‹‰Þ ’*‹ˆ ´Op¯Þ
¯2Þ20S

t„"É

‰Í5‹ˆ`Ό"

… ®I ‹ˆÚkÉÎÞ‹ˆ
“Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan
dan taqwa, dan jangan tolong menolonglah kamu dalam berbuat
dosa dan pertengkaran”. 29
Bagi siswa yang masih dalam usia remaja tidak membedakan
dalam berteman merupakan salah satu pengamalan dari akhlak
terhadap sesama manusia.
3) Akhlak terhadap Diri Sendiri
Setiap manusia memiliki kewajiban moral terhadap dirinya
sendiri, sebagaimana yang diungkapkan oleh Hamzah Yakub
yaitu: 30
a) Membina disiplin pribadi, orang yang tidak mempunyai
disiplin pribadi tidak akan berhasil mencapai memelihara
kesucian diri, baik jasmani maupun rohani. Pemeliharaan dari
segi jasmaniah dapat berupa segala perbuatan yang dapat
menjaga fisik kita dari segala macam hal yang dapat merusak,
seperti

halnya

merokok,

perkelahian/tawuran

antar

pemakaian
siswa

dan

narkotika,
lain

tato,

sebagainya.

Sedangkan memelihara kesucian rohaniah dapat melalui
taqarrub kepada Allah.
b) Memelihara kerapihan diri, faktor kerapihan merupakan
manifestasi adanya disiplin pribadi dan keharmonisan pribadi.
Seperti berpakaian yang sopan dan santun sesuai dengan
syari’at Islam juga termasuk ke dalam pemeliharaan kerapihan
diri.

29
30

Depag RI. 1999 Al Qur’an dan Terjemahnya. Jakarta : Departemen Agama RI.
Hamzah Yakub, Etika Islam…h. 138-140.

18

19

c) Menambah pengetahuan, dengan cara menuntut ilmu, karena
menuntut ilmu itu bukan hanya sebagai suatu kewajiban tetapi
juga bekal untuk kehidupan di dunia dan akhirat. Dengan
berkembangnya IPTEK yang sangat pesat maka diperlukan
benteng-benteng khusus yang dapat menjaga kemurnian
pengetahuan yang semestinya dimiliki oleh para siswa
sehingga tidak menyalahi dari yang seharusya; seperti
pemakaian internet yang tanpa batasan informasi dan waktu
oleh para siswa.
4) Akhlak terhadap Lingkungan
Lingkungan yang dimaksud disini adalah segala sesuatu yang
berada disekitar manusia, baik binatang, tumbuh-tumbbuhan,
maupun benda-benda tak bernyawa. Akhlak terhadap lingkungan
juga merupakan refleksi dari totalitas penghambaan diri kita
kepada Allah SWT. Sehingga semua yang kita perbuat dialam ini
adalah semata-mata didasari akhlak kita kepada Allah.
Akhlak kita terhadap lingkungan yang diajarkan oleh Al-Qur’an
bersumber dari fungsi manusia itu sendiri sebagai khalifah di
dunia. Kekhalifahan menuntut adanya interaksi antara manusia
dengan sesamanya dan manusia terhadap alam. Kekhalifahan yang
dimaksud mengandung pengertian pengayoman, pemeliharaan
serta

bimbingan

agar

setiap

makhlkuk

mencapai

tujuan

penciptaannya. 31
e.

Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pembentukan Akhlak
Banyak sekali faktor-faktor yang mempengaruhi pembentukan akhlak

antara lain adalah: 32
1) Insting (Naluri)
Aneka corak refleksi sikap, tindakan dan perbuatan manusia
dimotivasi oleh kehendak yang dimotori oleh insting seseorang
31

Heny Narendrany Hidayati, Pengukuran Akhlakul Karimah Mahasiswa…hal. 14-15
Alfia Futukhi, “Pembentukan Akhlak”,
http://alfiatullaili.blogspot.com/2010/05/pembentukan-akhlak.html, 5 Agustus 2010.
32

19

20

(dalam bahasa Arab gharizah). Insting merupakan tabiat yang
dibawa manusia sejak lahir. Para Psikolog menjelaskan bahwa
insting berfungsi sebagai motivator penggerak yang mendorong
lahirnya tingkah laku antara lain adalah:
a) Naluri Makan (Nutrive Instinct). Manusia lahir telah membawa
suatu hasrat makan tanpa didorang oleh orang lain.
b) Naluri Berjodoh (Sexual Instinct). Dalam alquran diterangkan:
"Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada
apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta
yang banyak".
c) Naluri Keibuan (Parenting Instinct) tabiat kecintaan orang tua
kepada anaknya dan sebaliknya kecintaan anak kepada orang
tuanya.
d) Naluri Berjuang (Combative Instinct). Tabiat manusia untuk
mempertahnkan diri dari gangguan dan tantangan.
e) Naluri Bertuhan. Tabiat manusia mencari dan merindukan
penciptanya.
Naluri manusia itu merupakan paket yang secara fitrah sudah ada
dan tanpa perlu dipelajari terlebih dahulu.
2) Adat/Kebiasaan
Adat/Kebiasaan adalah setiap tindakan dan perbuatan seseorang
yang dilakukan secara berulang-ulang dalam bentuk yang sama
sehingga menjadi kebiasaan.
3) Warotsah (keturunan)
Adapun warisan adalah berpindahnya sifat-sifat tertentu dari pokok
(orang tua) kepada

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

94 2599 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

35 673 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 571 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 370 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

23 503 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

42 846 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

39 750 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

12 474 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 697 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

29 830 23