Pollution Burden Analysis And Assimilation Capacity Of Cidurian River Banten Province

ANALISIS BEBAN PENCEMARAN
DAN KAPASITAS ASIMILASI SUNGAI CIDURIAN
PROVINSI BANTEN

ISTIANA WINDU KARTIKA

SEKOLAH PASCA SARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012

PERNYATAAN MENGENAI TESIS DAN
SUMBER INFORMASI

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Analisa Beban Pencemaran
dan Kapasitas Asimilasi Sungai Cidurian Provinsi Banten adalah karya saya
dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk
apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau
dikutip dari karya yang diterbitkan maupun sudah diterbitkan dari penulis lain
telah disebutkan dalam tesis dan dicantumkan dalam daftar pustaka bagian
akhir tesis ini.

Bogor, April 2012
Istiana Windu Kartika
P052094064

ABSTRACT

ISTIANA WINDU KARTIKA, Pollution Burden Analysis and Assimilation Capacity of
Cidurian River Banten Province, under direction of
ETTY RIANI and BUDI
KURNIAWAN.

The river has the ability to clean itself of the burden of pollution naturally which
is known as the capacity of assimilation. Incoming load exceeds the capacity of
assimilation would lead to a decrease in the quality of the river until the river functions
decline. This research aims to analyze the water quality of Cidurian River, analyze the
contribution of pollution loads entering River Cidurian, and knowing the assimilation
capacity of the stream. Research results show that the water quality, starting from the
upstream to downstream concentrations of BOD, TSS, COD and E. coli are likely to
exceed the standard of quality. Contribution to the total burden of polluters from certain
sources (point source) in DAS Cidurian 2,4 tons/month BOD, COD 4,3 tons/month, TSS
2,26 tons/month. The contribution burden of polluters undefinable (non point source)
based on the analysis of land use from agricultural sector BOD 206,76 tons/month,TSS
24,13 ton/month, based on the analysis of the population of each sub DAS, domestic
sector have 1.374 tons/month of BOD, COD 1.890 tons/month, TSS 1.305 tons/month
and E.coli 1,02 E 16 tons/month. Total contribution burden of polluters undefinable (non
point source) parameters BOD 1.580 tons/month, COD 1.890 tons/month, TSS 1.324
tons/month, more dominant compared to certain sourced (point source). Capacity of
assimilation to the parameters of TSS 22.901,55 tons/month, BOD 2.347,83
tons/month, COD 24.208,33 tons/month, E.coli 424.629,90 tons/month. Overall value of
assimilation capacity is smaller compared to the burden of pollution of the river,
resulting in the organic matter pollution experienced TSS, BOD, COD and E.coli. The
high contribution to the burden of domestic source of polluters and agriculture, as well
as the capacity of assimilation to consider in an attempt to control water pollution.
Keyword: water quality, pollution burden, assimilation capacity,

RINGKASAN
ISTIANA WINDU KARTIKA, Analisis Beban Pencemaran dan Kapasitas Asimilasi
Sungai Cidurian Provinsi Banten, dibimbing oleh ETTY RIANI dan BUDI
KURNIAWAN
Sungai merupakan sumber daya alam yang dimanfaatkan untuk berbagai
kepentingan baik ekologi, ekonomi maupun sosial. Namun sungai juga digunakan
manusia sebagai tempat pembuangan limbah. Berbagai aktifitas di bidang industri,
domestik serta pertanian berpotensi menghasilkan limbah yang di buang ke sungai
baik secara langsung maupun tak langsung. Hal ini mengakibatkan sungai
menerima beban pencemaran yang melebihi kemampuannya dalam
membersihkan diri atau dikenal sebagai kapasitas asimilasi. Kondisi dimana beban
pencemaran yang diterima ke sungai melebihi kapasitas asimilasi dikatakan
sebagai kondisi tercemar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas air
Sungai Cidurian,, menganalisis potensi beban pencemaran yang masuk Sungai
Cidurian, serta mengetahui nilai kapasitas asimilasi.
Lokasi penelitian adalah DAS Cidurian, dengan meninjau wilayah
ekosistem maupun administrasi. Ekosistem DAS Cidurian meliputi sub DAS
Cidurian Hulu, sub DAS Cibereum, serta sub DAS Cidurian Hilir. Wilayah
administratif yang dilintasi DAS Cidurian antara lain ; Kabupaten Bogor, Kabupaten
Lebak, Kabupaten Serang serta Kabupaten Tangerang. Metode yang digunakan
dalam penelitian ini meliputi penentuan status mutu air menggunakan metode
storet dan indeks pencemar, analisa kualitas air dengan membandingkan baku
mutu menurut kelas II Peraturan Pemerintah no 82 tahun 2001. Sedangkan
metode analisis beban pencemaran dilakukan melalui analisis terhadap beban
pencemaran dari sumber tertentu (point  source) serta sumber tak tentu (non  point 
source), untuk setiap sub DAS maupun wilayah administratif, serta analisis sektor
kegiatan yang berkontribusi paling dominan terhadap beban pencemaran di
Sungai Cidurian. Pendekatan yang dilakukan untuk menentukan beban
pencemaran dari sumber tak tentu (non point source) melalui asumsi emisi yang
dikeluarkan kegiatan pertanian dan domestik. Kegiatan pertanian berkaitan dengan
penggunaan lahan untuk sawah, palawija dan perkebunan lain. Kegiatan domestik
berkaitan dengan emisi yang dihasilkan per orang per hari. Untuk mengetahui
penggunaan lahan dan pola penyebaran penduduk sepanjang DAS Cidurian
digunakan alat bantu GIS (geographic information system). GIS membantu
memilah jumlah penduduk berdasarkan jarak pemukiman terhadap sungai. Asumsi
yang digunakan adalah semakin dekat dengan sungai semakin besar potensi
membuang limbah domestik secara langsung. Metode penentuan kapasitas
asimilasi dilakukan dengan menarik garis regresi antara beban pencemaran
sungai serta kualitas air yang diamati langsung di lapangan pada Bulan Oktober,
November dan Desember 2011.

Sungai Cidurian berada dalam kondisi tercemar oleh bahan organik. Hal ini
diperkuat dari hasil penelitian kualitas air pada setiap lokasi pengamatan memiliki
kecenderungan melebihi baku mutu.menurut Peraturan Pemerintah no 82 tahun 2001.
Parameter yang dominan antara lain TSS, BOD, COD dan E.coli. Hasil penentuan
status mutu air menunjukkan Sungai Cidurian berada dalam kondisi tercemar sedang
sampai berat, sesuai Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup no 115 tahun 2003.
Kontribusi beban pencemar dari sumber tertentu, dari sektor industri untuk
parameter BOD sebesar 2,4 ton/bulan, COD sebesar 4,3 ton/bulan, TSS sebesar 2,26
ton/bulan, Berdasarkan analisa ekosistem tiap sub DAS, diperoleh hasil bahwa
kontribusi beban pencemaran tertinggi dari sumber pertanian untuk parameter BOD
adalah sub DAS Cidurian Hilir sebesar 116,63 ton/bulan, untuk parameter TSS adalah
sub DAS Cibereum sebesar 21,12 ton/bulan. Hal ini berkaitan dengan penggunaan
lahan di daerah hilir banyak didominasi oleh sawah yang mempunyai faktor emisi dari
pembusukan jerami sebesar 18 gr/ha/musim tanam. Sub DAS Cibereum penggunaan
lahannya lebih bervariasi, untuk sawah, palawija dan perkebunan lain. Kontribusi beban
pencemar dari sumber domestik yang paling dominan adalah sub DAS Cidurian Hulu,
dengan nilai E.coli, TSS, BOD, COD berturut - turut sebesar; 0,56 ton/bulan, 0,59
ton/bulan dan 0,81 ton/bulan. Sub DAS Cidurian Hilir jumlah penduduknya lebih tinggi
dibandingkan sub DAS Cidurian Hulu. Namun beban pencemaran sub DAS Cidurian
Hilir dari sumber domestik lebih kecil dari sub DAS Cidurian Hilir. Hal ini disebabkan
penduduk di sub DAS Cidurian Hulu sebagian besar pemukimannya berdekatan
dengan sungai, yang berpeluang membuang limbah secara langsung ke sungai.
Berdasarkan analisa wilayah, diperoleh hasil wilayah yang dominan terhadap
kontribusi beban pencemaran, dari sektor pertanian dan domestik, sebagai bahan
masukan pengambilan kebijakan pengendalian pencemaran air. Total kontribusi beban
pencemar dari sumber tak tentu (non point source) parameter BOD 1.580 ton/bulan,
COD 1.890 ton/bulan, TSS 1.329 ton/bulan. Secara umum diperoleh gambaran bahwa
kontribusi beban pencemaran dari sumber tak tentu (non point source) lebih besar
dibandingkan dengan sumber tertentu (point source).
Nilai kapasitas asimilasi masing masing parameter yang diamati berturut-turut
TSS 22.901,55 ton/bulan, BOD 2.347,83 ton/bulan, COD 24.208,33 ton/bulan, E.coli
424.629,90 ton/bulan. Secara umum diperoleh gambaran, beban pencemaran TSS,
BOD, COD, E.coli  melebihi kapasitas asimilasi, sehingga Sungai Cidurian dalam
kondisi tercemar.
Kata kunci : kualitas air, beban pencemar, kapasitas asimilasi

ANALISIS BEBAN PENCEMARAN
DAN KAPASITAS ASIMILASI SUNGAI CIDURIAN
PROVINSI BANTEN

ISTIANA WINDU KARTIKA

Tesis
Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Magister Sains pada
Program Studi Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan

SEKOLAH PASCA SARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012

Penguji luar komisi pada ujian tesis :

Dr. Ir. Yunizar Ernawati

KATA PENGANTAR

Puji syukur yang tak hingga kami sampaikan kehadirat Allah SWT yang
telah

memberikan

rahmat

dan

karunia

Nya,

sehingga

kami

dapat

menyelesaikan tesis ini. Judul yang dipilih adalah Analisis Beban Pencemaran
dan Kapasitas Asimilasi Sungai Cidurian Provinsi Banten. Penelitian dilakukan
selama Bulan Agustus 2011 sampai dengan Desember 2011.
Kami menyampaikan terima kasih kepada Ibu Dr.Ir.Etty Riani, MS dan
Bapak Dr. Budi Kurniawan, M.Eng, selaku dosen pembimbing. Kami juga
menyampaikan penghargaan yang setinggi tingginya kepada rekan rekan
Badan Lingkungan Hidup serta Balai Pengelolaan Sumber Daya Air Provinsi
Banten , serta semua pihak yang telah membantu dalam pengumpulan data
serta penyelesaian tesis ini. Tak lupa kami sampaikan terima kasih yang tak
terhingga kepada rekan-rekan PSL kelas khusus angkatan kedua, atas
dukungannya. Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Orangtua kami,
suami, anak-anak tercinta serta seluruh keluarga besar atas doa, dukungan dan
pengorbanannya.

Bogor, April 2012

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Malang pada tanggal 7 Oktober 1969 dari ayah H.Faisal
Munieb dan Ibu Solichah Ashadi. Penulis merupakan anak kedelapan dari delapan
bersaudara. Penulis lulus dari Sekolah Dasar di Malang tahun 1982, dan melanjutkan di
SMP Negeri 1 Malang. Setelah tamat tahun 1985, penulis melanjutkan studi ke SMA
Negeri 3 Malang, dan tamat tahun 1988. Pada tahun 1988 penulis melanjutkan studi ke
Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS) Jurusan Teknik Lingkungan, dan
tamat tahun 1993.
Pada tahun ajaran 2009 – 2010 penulis melanjutkan studi ke Sekolah Pasca
Sarjana Institut Pertanian Bogor, Program Studi Pengelolaan Sumber Daya Alam dan
Lingkungan. Saat ini penulis bekerja di Badan Lingkungan Hidup Provinsi Banten.

DAFTAR ISI
Halaman

DAFTAR TABEL…………………………………………….................................
DAFTAR GAMBAR…………………………………………………………………
DAFTAR LAMPIRAN………………………………………………………………
BAB I. PENDAHULUAN……………………………………………………………
1.1 Latar Belakang…………………………………………………………………

1

1.2 Kerangka Pemikiran………………………………………………………….

2

1.3 Perumusan Masalah…………………………………………………………..

4

1.4 Tujuan Penelitian……………………………………………………………..

5

1.5 Manfaat Penelitian……………………………………………………………..

5

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kualitas Air Sungai……………………………………………………………

6

2.2 Beban Pencemaran……………………………………………………………

7

2.3 Kapasitas Asimilasi…………………………………………………………...

14

2.4 Sungai Cidurian………………………………………………………………

15

2.5 Pengendalian Pencemaran Air Sungai…………………………………

18

BAB III. METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan Lokasi Penelitian………………………………………………...

20

3.2 Jenis dan Sumber Data………………………………………………………

20

3.3 Metode Sampling……………………………………………………………..

20

3.4 Metode Analisis Potensi Beban Pencemaran……………………………..

23

3.5 Metode Analisis Kapasitas Asimilasi Beban Pencemaran……………….

27

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Analisa Kualitas Air Sungai Cidurian………………………………………..

29

4.2 Analisa Beban Pencemaran Sungai Cidurian……………………………

44

4.2.1 Analisa Ekosistem……………………………………………………

44

4.2.2 Analisa Wilayah ………………………………………………………

58

4.2.3 Analisa Sektoral………………………………………………………..

78

4.3 Kapasitas Asimilasi…………………………………………………………

86

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan……………………………………………………………………

94

5.2 Saran…………………………………………………………………………..

94

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………....

96

LAMPIRAN…………………………………………………………………………………...

98

DAFTAR TABEL
Halaman
1. Emisi air limbah domestik………………………………………………………….

12

2. Klasifikasi emisi BOD di Indonesia……………………………………………….

12

3. Emisi dari kegiatan pertanian……………………………………………………..

13

4. Pembagian lokasi sampling berdasarkan sub DAS……………………………..

21

5. Metode analisa kualitas air…………………………………………………………

21

6. Lokasi sampling logam berat………………………………………………………

23

7. Hasil pemantauan kualitas air Sungai Cidurian parameter TSS……………….

30

8. Hasil pemantauan kualitas air Sungai Cidurian parameter COD………………

32

9. Hasil pemantauan kualitas air Sungai Cidurian parameter BOD………………

34

10. Hasil pemantauan kualitas air Sungai Cidurian parameter DO………………

37

11. Hasil pemantauan kualitas air Sungai Cidurian parameter E.coli……………...

38

12. Hasil pemantauan logam berat Sungai Cidurian………………………………..

40

13. Hasil pehitungan status mutu air metode storet bagian hulu…………………..

41

14. Hasil perhitungan status mutu air metode storet bagian tengah………………

41

15. Hasil perhitungan status mutu air metode storet bagian hilir…………………..

42

16. Rekapitulasi hasil perhitungan status mutu air metode storet…………………

42

17. Hasil perhitungan status mutu air metode indeks pencemaran………………..

43

18. Perhitungan beban pencemaran BOD dari kegiatan industri…………………

44

19. Perhitungan beban pencemaran COD dari kegiatan industri…………………..

47

20. Perhitungan beban pencemaran TSS dari kegiatan industri…………………...

48

21. Beban pencemaran BOD dari kegiatan pertanian di DAS Cidurian…………...

49

22. Rekapitulasi penggunaan lahan di DAS Cidurian……………………………….

50

23. Beban pencemaran TSS dari kegiatan pertanian di DAS Cidurian……………

53

24. Beban pencemaran domestik berdasarkan analisa ekosistem………………..

54

25. Penggunaan lahan di Kabupaten Lebak………………………………………….

55

26. Kontribusi beban pencemaran dari pertanian di Kabupaten Lebak…………...

56

27. Kontribusi beban pencemaran dari pertanian di Kabupaten Serang…………

58

28. Kontribusi beban pencemaran dari pertanian di Kabupaten Tangerang……..

59

29. Kontribusi beban pencemaran dari pertanian di Kabupaten Bogor……………

61

30. Beban pencemaran dari kegiatan domestik di Kabupaten Lebak……………..

64

31. Beban pencemaran dari kegiatan domestik di Kabupaten Serang……………

66

32. Beban pencemaran dari kegiatan domestik di Kabupaten Tangerang………..

69

33. Beban pencemaran dari kegiatan domestik di Kabupaten Bogor……………..

72

34. Perbandingan beban pencemaran dari sektor domestik dan pertanian di

74

Kabupaten Lebak……………………………………………………………………
35. Perbandingan beban pencemaran dari sektor domestik dan pertanian di

77

Kabupaten Serang………………………………………………………………….
36. Perbandingan beban pencemaran dari sektor domestik dan pertanian di

79

Kabupaten Tangerang……………………………………………………………..
37. Perbandingan beban pencemaran dari sektor domestik dan pertanian di

80

Kabupaten Bogor……………………………………………………………………
38. Fungsi hubungan beban pencemaran sungai dan kualitas sungai bagian hilir

83

39. Perbandingan beban pencemaran dari sector domestic dan pertanian di

84

Kabupaten Bogor…………………………………………………………………..
40. Nilai kapasitas asimilasi Sungai Cidurian………………………………………..

87

DAFTAR GAMBAR
Halaman
1. Kerangka pemikiran analisis beban pencemaran dan kapasitas asimilasi

3

2. Lokasi sampling………………………………………………………………..

22

3. Grafik analisa kualitas air Sungai Cidurian periode pengamatan (20102011) parameter TSS………………………………………………………….

30

4. Grafik analisa kualitas air Sungai Cidurian dari hulu sampai hilir (20102011) parameter TSS……………………………………………………………

31

5. Grafik analisa kualitas air Sungai Cidurian periode pengamatan (20102011) parameter COD…………………………………………………………..

32

6. Grafik analisa kualitas air Sungai Cidurian dari hulu sampai hilir (20102011) parameter COD…………………………………………………………..

33

7. Grafik analisa kualitas air Sungai Cidurian periode pengamatan (20102011) parameter BOD…………………………………………………………..

35

8. Grafik analisa kualitas air Sungai Cidurian dari hulu sampai hilir (20102011) parameter BOD…………………………………………………………..

35

9. Grafik analisa kualitas air Sungai Cidurian periode pengamatan (20102011) parameter DO…………………………………………………………….

37

10. Grafik analisa kualitas air Sungai Cidurian dari hulu sampai hilir (20102011) parameter E. coli …………………………………………………...........

39

11. Grafik status mutu air berdasarkan nilai indeks pencemar…………………

43

12. Grafik perbandingan beban pencemaran dari kegiatan industri di DAS
Cidurian…………………………………………………………………………..

48

13. Prosentase penggunaan lahan untuk sawah dan palawija di DAS
Cidurian….………………………………………………………………………..

51

14. Prosentase penggunaan lahan untuk perkebunan lain di DAS Cidurian…

52

15. Kontribusi beban pencemar dan prosentase BOD dari pertanian………….

53

16. Grafik perbandingan penggunaan lahan di DAS Cidurian…………………..

54

17. Kontribusi beban pencemaran TSS dari kegiatan pertanian di DAS
Cidurian…………………………………………………………………………..

55

18. Prosentase kontribusi beban pencemaran TSS dan hubungan antara luas
lahan pertanian dengan beban pencemaran TSS dari pertanian…………

55

19. Kontribusi beban pencemaran dari domestic berdasarkan analisa
ekosistem…………………………………………………………………………

57

20. Jumlah penduduk di tiap sub DAS Cidurian dan prosentase jumlah
penduduk…………………………………………………………………………

57

21. Penggunaan lahan DAS Cidurian di Kabupaten Lebak……………………..

58

22. Kontribusi beban pencemaran BOD dan prosentase kontribusi beban
pencemaran BOD dari pertanian di Kabupaten Lebak………………

59

23. Hubungan antara beban pencemaran BOD dari pertanian dengan luas
penggunaan lahan…………………………………………………………

59

24. Kontribusi beban pencemaran TSS dan prosentase kontribusi beban
pencemaran TSS dari pertanian di Kabupaten Lebak………………

60

25. Hubungan antara luas lahan pertanian dengan beban pencemaran TSS
dari pertanian di Kabupaten Lebak………………………………………

61

26. Kontribusi beban pencemaran BOD dan prosentase kontribusi beban
pencemaran BOD dari pertanian………………………………………

62

27. Hubungan antara luas lahan pertanian dengan kontribusi beban
pencemaran BOD dari pertanian di Kabupaten Serang……………………..

62

28. Kontribusi beban pencemaran TSS dan prosentase kontribusi beban
pencemaran TSS dari pertanian di Kabupaten Serang……………..

63

29. Hubungan antara luas lahan pertanian dengan beban pencemaran TSS
dari pertanian di Kabupaten Serang…………………………………………

63

30. Kontribusi beban pencemaran BOD dan perbandingan luas lahan
pertanian di Kabupaten Tangerang………………………………………....

65

31. Kontribusi beban pencemaran TSS dan prosentase kontribusi beban
pencemaran TSS dari pertanian di Kabupaten Tangerang…………
32. Penggunaan lahan DAS Cidurian serta prosentase kontribusi beban
pencemar BOD dari pertanian di Kabupaten Bogor…………………………
33. Kontribusi beban pencemar TSS serta prosentase kontribusi beban
pencemar TSS dari pertanian di Kabupaten Bogor………………………….

66

67

68

34. Kontribusi dan prosentase beban pencemaran BOD dari domestik di
Kabupaten Lebak……………………………………………………………….

69

35. Kontribusi dan prosentase beban pencemaran COD dari domestik di

70

Kabupaten Lebak……………………………………………………………….
36. Kontribusi dan prosentase beban pencemaran TSS dari domestik di

70

Kabupaten Lebak………………………………………………………………..
37. Kontribusi dan prosentase beban pencemaran E. coli dari domestik di
Kabupaten Lebak………………………………………………………………..

71

38. Kontribusi dan prosentase kontribusi beban pencemaran BOD, COD,
TSS dari domestik di Kabupaten Serang………………………………

73

39. Kontribusi dan prosentase kontribusi beban pencemaran E coli dari
domestik di Kabupaten Serang………………………………………………...

73

40. Kontribusi dan prosentase kontribusi beban pencemaran BOD, COD,
TSS dari domestic di Kabupaten Tangerang………………………….

75

41. Kontribusi dan prosentase kontribusi beban pencemaran E coli dari
domestik di Kabupaten Tangerang…………………………………………….

76

42. Prosentase kontribusi beban pencemar dari domestik di Kabupaten
Tangerang………………………………………………………………………..

76

43. Prosentase jumlah penduduk di DAS Cidurian wilayah Kabupaten Bogor..

77

44. Kontribusi beban pencemar dari domestik di Kabupaten Bogor……………

78

45. Perbandingan kontribusi beban pencemaran BOD dan TSS dari domestik
dan pertanian di Kabupaten Lebak……………………………………………

79

46. Prosentase pola penyebaran penduduk di DAS Cidurian wilayah
Kabupaten Lebak……………………………………………………………….

80

47. Perbandingan kontribusi beban pencemaran BOD dan TSS dari domestik
dan pertanian di Kabupaten Serang………………………………………….
48. Prosentase pola penyebaran penduduk di DAS Cidurian Kecamatan
Tanara Kabupaten Serang…………………………………………………….

81
82

49. Perbandingan kontribusi beban pencemaran BOD dan TSS dari domestik
dan pertanian di Kabupaten Tangerang…………………………..................

83

50. Prosentase pola penyebaran penduduk di DAS Cidurian wilayah
Kabupaten Tangerang………………………………………………………….

84

51. Perbandingan kontribusi beban pencemaran BOD dan TSS dari domestik
dan pertanian di Kabupaten Bogor……………………………………………
52. Prosentase pola penyebaran penduduk di DAS Cidurian wilayah
Kabupaten Bogor………………………………………………………………..
53. Analisa regresi antara beban pencemaran TSS dengan konsentrasi TSS
Sungai Cidurian pada bulan pengamatan Oktober sampai Desember
2011……………………………………………………………………………….
54. Analisa regresi antara beban pencemaran BOD dengan konsentrasi BOD
Sungai Cidurian pada bulan pengamatan Oktober sampai Desember
.2011………………………………………………………………………………

85
85

88

89

55. Analisa regresi antara beban pencemaran COD dengan konsentrasi COD
Sungai Cidurian pada bulan pengamatan Oktober sampai Desember
2011……………………………………………………………………………….

90

56. Analisa regresi antara beban pencemaran E. coli dengan konsentrasi

92

E. coli Sungai Cidurian pada bulan pengamatan Oktober sampai
Desember 2011………………………………………………………………….

DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1. Matrik luas penggunaan lahan berdasarkan sub DAS dan administrasi
wilayah dari metode GIS………………………………………………………..

82

2. Perhitungan beban pencemaran kegiatan pertanian parameter BOD
berdasarkan analisa ekosistem……………………………………………….

89

3. Perhitungan beban pencemaran kegiatan domestik berdasarkan jumlah
penduduk per sub DAS ( analisa ekosistem )………………………………

91

4. Perhitungan beban pencemaran kegiatan pertanian parameter BOD
berdasarkan analisa wilayah……………………………………………………

97

5. Perhitungan beban pencemaran kegiatan domestik berdasarkan jumlah
penduduk per kecamatan per Kabupaten ( analisa wilayah )………………

98

6. Perhitungan beban pencemaran Sungai Cidurian pada bulan
pengamatan Oktober 2011 sampai dengan Desember 2011………………

102

7. Beban pencemaran total dan kualitas air di hilir untuk menentukan
kapasitas asimilasi………………………………………………………………

103

8. PETA batas sub DAS Cidurian…………………………………………………

104

9. PETA penggunaan lahan……………………………………………………….

105

10. PETA zona koefisien transfer beban…………………………………………..

106

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang
Sungai Cidurian merupakan salah satu sungai strategis di Provinsi Banten
yang mengalir dari hulu di Kabupaten Bogor, dan melewati Kabupaten Lebak,
perbatasan Kabupaten Serang dan Kabupaten Tangerang serta bermuara di
Laut Jawa. Keberadaan sungai ini sangat penting bagi masyarakat khususnya
yang tinggal di bantaran DAS Cidurian. Berbagai aktifitas di sekitar wilayah
sungai seperti pertanian, industri, penambangan pasir, serta aktifitas masyarakat
berdampak terhadap pelestarian fungsi sungai sebagai penyedia sumber daya
air. Dampak yang sangat potensial adalah terjadinya pencemaran sungai yang
mengakibatkan

penurunan

kualitas

air

sungai,

sehingga

tidak

dapat

dimanfaatkan sesuai peruntukkan kelas sungai .
Sungai Cidurian kualitas airnya termasuk ke dalam kelas III dan IV
(BLHD Banten, 2009), berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001
tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Kualitas Air peruntukkan
tersebut tidak sesuai untuk air baku air minum. Kondisi tersebut, mendorong
untuk dilakukan upaya pengendalian pencemaran Sungai Cidurian, sehingga
Sungai Cidurian dapat berfungsi sesuai peruntukan kelas I khususnya sebagai
penyedia air bersih untuk masyarakat, industri dan aktifitas lainnya.
Pengendalian pencemaran sungai yang ada saat ini baru pada tingkat
pengendalian pada sumber efluennya melalui pendekatan kebijakan penetapan
baku mutu air limbah dari industri. Kebijakan ini mendorong industri melakukan
pendekatan teknologi seperti produksi bersih, end of pipe instalasi pengolahan
air limbah, pemberlakuan prinsip 3 R (reuse, reduce, recycle).

Namun

pengendalian pencemaran belum mencapai hasil yang optimal. Terbukti masih
tingginya tingkat pencemaran di Sungai Cidurian. Hal ini mengindikasikan bahwa
ada sumber pencemar dari kegiatan lain yang belum mampu dikendalikan, serta
belum diketahui kemampuan Sungai Cidurian dalam melakukan pembersihan
alami terhadap beban pencemaran yang diterima, yang disebut dengan
kapasitas asimilasi.
Bertitik tolak dari hal tersebut, perlu dilakukan analisis beban pencemaran
dari sumber tertentu (point source), serta dari sumber yang tak tentu (non point

source) serta mempertimbangkan kondisi alamiah sungai. Pada hakekatnya

2

secara alamiah, sungai memiliki kapasitas asimilasi. Namun kemampuannya
terbatas, untuk itu diperlukan suatu analisis mengenai kapasitas asimilasi sungai.
Limbah cair yang dibuang ke Sungai Cidurian berasal dari berbagai macam
sumber. Sampai saat ini analisis beban pencemaran dan kapasitas asimilasi
Sungai Cidurian belum diketahui bahkan belum pernah dilakukan penelitian
secara khusus. Analisis beban pencemaran dan kapasitas asimilasi badan air
(sungai) yang benar-benar riil sebenarnya sangat sulit dilakukan. Hal ini
dikarenakan banyaknya variabel yang mempengaruhi kemampuan air sungai
untuk melakukan kapasitas asimilasi, diantaranya debit sungai, kecepatan, jenis
dan jumlah pencemar, suhu, cuaca, musim, bentuk aliran dan oksigen terlarut.
Oleh karena itu maka pada penelitian ini dilakukan estimasi analisis beban
pencemaran dan kapasitas asimilasi
1.2 Kerangka Pemikiran
Masalah yang dihadapi Sungai Cidurian Provinsi Banten saat ini adalah
penurunan kualitas air sungai, sehingga sungai tidak berfungsi sesuai dengan
peruntukannya. Penurunan kualitas air disebabkan oleh faktor alamiah dan
pengaruh aktifitas manusia. Sumber pencemar yang alami berasal dari erosi dan
tanah longsor yang menyebabkan peningkatan kandungan bahan tersuspensi.
Sumber pencemar yang berasal dari aktifitas manusia

adalah dari kegiatan

domestik, pertanian yang telah menggunakan bahan pestisida dan herbisida,
serta industri yang tidak diolah atau melebihi baku mutu air limbah yang
ditetapkan. Data dari Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Banten (BLHD
2009) menunjukkan adanya

penurunan status mutu air menurut Peraturan

Pemerintah No 82 tahun 2001 dari kelas II menjadi kelas III dan IV. Berdasarkan
Pearaturan Pemerintah tersebut, mutu Kelas III dan IV adalah kelas air untuk
kepentingan

pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi

tanaman, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama
dengan kegunaan tersebut. Berdasarkan hal tersebut maka kelas III dan IV tidak
layak digunakan sebagai air baku air minum. Penurunan status mutu air,
disebabkan oleh tingginya beban pencemaran pada Sungai Cidurian. Menurut
data dari BLHD Provinsi Banten ada tiga buah Perusahaan Daerah Air Minum
dan sepuluh industri yang mengambil air baku dari Sungai Cidurian, selain
masyarakat sekitar yang memanfaatkan sebagai kegiatan domestik.

3

Sampai saat ini pengendalian pencemaran air pada Sungai Cidurian
dilakukan dengan monitoring dan evaluasi kualitas air rutin setiap bulan oleh
Badan Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Banten. Namun belum pernah
dilakukan penelitian mengenai analisis beban pencemar dan kapasitas asimilasi
di Sungai Cidurian. Bertitik tolak dari hal tersebut, perlu dilakukan upaya
pendekatan

sistem

pengendalian

pencemaran

air

yang

tepat,

dengan

mempertimbangkan beban pencemaran dari sumber tertentu (point source) dan
sumber tak tentu (non point source) serta perlu melihat kemampuan sungai
dalam mereduksi beban pencemaran atau kapasitas asimilasi. Kerangka
pemikiran ini disajikan pada Gambar 1.

sumber efluennya dan
besarannya sulit
ditentukan

Pencemaran
Air Sungai

Sumber Tak tentu :
Domestik dan Pertanian

Identifikasi
Penduduk dan
penggunaan lahan
di DAS

Kontribusi Beban
pencemar

sumber efluennya dan
besarannya mudah
ditentukan

Sumber Tertentu
(industri) industri

kapasitas asimilasi
Sungai secara alami
terbatas
Kualitas air

Dasar dalam
Kebijakan pengendalian
pencemaran air

Analisis beban
pencemaran dan
kapasitas asimilasi

Gambar 1 Kerangka pemikiran analisis beban pencemaran dan kapasitas
asimilasi

4

1.3 Perumusan Masalah
Pencemaran yang terjadi pada Sungai Cidurian berasal dari sumber
tertentu (point source) seperti efluen dari limbah industri maupun sumber tak
tentu (non point source) seperti

domestik, pertanian. Sumber polutan dari

domestik cukup besar karena jumlah penduduk di DAS Cidurian berjumlah ±
1.656.769 orang (BPS Banten 2010), dan rata-rata penduduknya memanfaatkan
Sungai Cidurian sebagai sumber kehidupan. Saat ini pengendalian pencemaran
Sungai Cidurian belum mengakomodir pencemaran dari limbah domestik dan
pertanian. Faktor penyebabnya adalah kesulitan dalam menentukan beban
pencemaran dari limbah domestik dan pertanian. Oleh karena itu dilakukan
pendekatan melalui metode estimasi beban pencemaran. Pengendalian
pencemaran dari sumber industri telah dilakukan melalui pengaturan limbah yang
masuk ke sungai agar tidak melebihi baku mutu, namun belum mencapai hasil
yang diharapkan. Terbukti kualitas air Sungai Cidurian masih dibawah baku mutu
yang ditetapkan. Hal ini mengindikasikan tinggginya beban pencemaran dari
sumber domestik dan pertanian yang belum dapat dikendalikan.
Secara teoritis air limbah baik yang diolah ataupun yang tidak diolah
apabila masuk ke badan air

akan mengalami tekanan oleh ekosistem air.

Tekanan tersebut berupa pengurangan atau penghilangan bahan pencemar oleh
berbagai proses yang ada dalam air. Proses ini meliputi pengenceran secara
fisik, penyebaran dan pengendapan, reaksi kimia, adsorbsi, penguraian secara
biologis dan stabilisasi. Proses-proses tersebut pada dasarnya merupakan sifat
alamiah

air

yang

memiliki

kemampuan

untuk

membersihkan

atau

menghancurkan berbagai kontaminan dan pencemar yang dibawa air limbah.
Kemampuan air untuk membersihkan diri secara alamiah dari berbagai
kontaminan dan pencemar dikenal sebagai kapasitas asimilasi. Namun kapasitas
asimilasi ada batasnya. Beban pencemar yang masuk ke Sungai Cidurian,
apabila melebihi kapasitas asimilasi menyebabkan penurunan kualitas air.
Analisis beban pencemaran dan kapasitas asimilasi

diharapkan dapat

digunakan sebagai dasar dalam mengendalikan pencemaran berdasarkan
potensi beban pencemar maupun kondisi kualitas perairan alami.

Oleh

karenanya muncul beberapa pertanyaan penelitian sebagai berikut :
1.

Bagaimana kualitas air Sungai Cidurian saat ini?

2.

Seberapa besar beban pencemaran pada Sungai Cidurian saat ini baik
dari sumber titik (point source) maupun dari sumber menyebar (diffuse

5

source)?
3.

Berapa kapasitas asimilasi Sungai Cidurian saat ini?

1.4 Tujuan Penelitian
1. Menganalisis kualitas air Sungai Cidurian ditinjau dari kelas air menurut
Peraturan Pemerintah No. 82 tahun 2001 dan status mutu air menurut
Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No.115 thun 2003
2. Menganalisis potensi kontribusi beban pencemaran pada Sungai Cidurian dari
sumber titik (point source) maupun sumber menyebar (diffuse source).
3. Menganalisis kapasitas asimilasi Sungai Cidurian terhadap beban pencemaran.

1.5

1.

Manfaat penelitian

Pemanfaat dapat mengetahui kualitas air Sungai Cidurian sesuai dengan
peruntukan kelas sungai ditinjau dari kelas air menurut Peraturan Pemerintah
No.82 Tahun 2001 serta status mutu air menurut Keputusan Menteri Lingkungan
Hidup No.115 thun 2003

2.

Pemerintah mendapatkan informasi potensi beban pencemaran pada Sungai
Cidurian dari sumber titik (point source) maupun sumber menyebar (diffuse

source), serta kapasitas asimilasi sebagai bahan masukan dalam pengendalian
pencemaran air.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kualitas Air Sungai
Kualitas air adalah kondisi kualitatif air yang diukur dan atau diuji
berdasarkan parameter-parameter tertentu dan metode tertentu berdasarkan
peraturan perundang-undangan yang berlaku (Pasal 1 Keputusan Menteri
Negara Lingkungan Hidup Nomor 115 Tahun 2003). Kualitas air dapat
dinyatakan dengan parameter kualitas air. Parameter ini meliputi parameter fisik,
kimia, dan mikrobiologis. Parameter fisik menyatakan kondisi fisik air atau
keberadaan bahan yang dapat diamati secara visual/kasat mata, Parameter fisik
meliputi kekeruhan, kandungan partikel/padatan, warna, rasa, bau, suhu, dan
sebagainya. Pengelolaan kualitas air menurut Peraturan Menteri Negara
Lingkungan Hidup Nomor 01 Tahun 2010 adalah upaya pemeliharaan air
sehingga tercapai kualitas air yang diinginkan sesuai peruntukannya untuk
menjamin agar kualitas air tetap dalam kondisi alamiah. Peruntukan badan air
masing-masing kelas menurut PP No 82 Tahun 2001. Pasal 8 adalah sebagai
berikut;


Kelas satu, adalah air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air baku
air minum, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama
dengan kegunaan tersebut.



Kelas dua, adalah air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air
prasarana/ sarana rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air
untuk mengairi pertanaman dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan
mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.



Kelas tiga, adalah air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air
pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman dan
atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan
kegunaan tersebut.



Kelas empat, adalah air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air
mengairi pertanaman dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air
yang sama dengan kegunaan tersebut.

7

2.2

Beban Pencemaran
Definisi pencemaran menurut Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup No
01 Tahun 2010 adalah masuk atau dimasukkannya makhluk hidup, zat, energi,
dan/atau komponen lain ke dalam air oleh kegiatan manusia sehingga
melampaui baku mutu air limbah yang telah ditetapkan. Beban pencemaran
adalah jumlah suatu unsur pencemar yang terkandung dalam air atau limbah .
Beban pencemaran juga merupakan besaran satuan berat zat pencemar dalam
satuan waktu, misal 1 ton BOD/hari (Anonim, 2010).

2.2.1 Sumber dan Jenis Beban Pencemaran

Sumber pencemar (polutan) dapat berupa suatu lokasi tertentu (point

source) dan tak tentu/tersebar (non-point/diffuse source) Sumber pencemar point
source misalnya knalpot mobil, cerobong asap pabrik, dan saluran limbah
industri. Pencemar yang berasal dari point source bersifat lokal. Efek yang
ditimbulkan dapat ditentukan berdasarkan karakteristik spasial kualitas air.
Volume pencemar dari point source biasanya relatif tetap. Sumber pencemar non

- point source bersifat menyebar dalam jumlah yang banyak Misalnya limpasan
dari daerah pemukiman dan domestik dan limpasan dari daerah perkotaan
(Effendi, 2003).
Bahan pencemar (polutan) adalah bahan-bahan yang bersifat asing
bagi alam atau bahan yang berasal dari alam itu sendiri yang memasuki suatu
tatanan ekosistem sehingga mengganggu peruntukan ekosistem tersebut.
Berdasarkan cara masuknya ke dalam lingkungan, polutan dikelompokkan
menjadi dua, yaitu polutan alamiah dan polutan antropogenik. Polutan alamiah
adalah polutan yang memasuki suatu lingkungan (misalnya badan air) secara
alami, misalnya akibat letusan gunung berapi, tanah longsor, banjir, dan
fenomena alam yang lain. Polutan yang memasuki suatu ekosistem secara
alamiah sukar dikendalikan. Polutan antropogenik adalah polutan yang masuk ke
badan air akibat aktifitas manusia, misalnya kegiatan domestik (rumah tangga),
kegiatan urban (perkotaan), maupun kegiatan industri. Intensitas polutan
antropogenik dapat dikendalikan dengan cara mengontrol aktifitas yang
menyebabkan timbulnya polutan tersebut (Effendi, 2003).
Menurut Effendi (2003) polutan yang memasuki perairan terdiri atas
campuran berbagai jenis polutan. Jika diperairan terdapat lebih dari dua jenis

8

polutan, maka kombinasi pengaruh yang ditimbulkan oleh beberapa jenis polutan
tersebut dapat dikelompokkan menjadi tiga sebagai berikut :
1. Additive; pengaruh yang ditimbulkan oleh beberapa jenis polutan merupakan
penjumlahan dari pengaruh masing-masing polutan. Misalnya, pengaruh
kombinasi zinc dan kadmium terhadap ikan
2. Synergism; pengaruh yang ditimbulkan oleh beberapa jenis polutan lebih besar
daripada penjumlahan pengaruh dari masing-masing polutan. Misalnya ,
pengaruh kombinasi copper dan klorin atau pengaruh kombinasi copper dan
surfaktan
3. Antagonism; pengaruh yang ditimbulkan oleh beberapa jenis polutan saling
mengganggu sehingga pengaruh secara kumulatif lebih kecil atau mungkin
hilang. Misalnya pengaruh kombinasi kalsium dan timbal atau zinc atau
aluminium.
Rao (1991) dalam (Hefni, 2003) mengelompokkan bahan pencemar di
perairan menjadi beberapa kelompok, yaitu :
1.

Limbah yang menyebabkan penurunan kadar oksigen terlarut
Semua limbah yang dioksidasi, terutama limbah domestik, termasuk
dalam kategori limbah penyebab penurunan kadar oksigen terlarut (oxygen

demanding waste). Oksigen sangat penting bagi kelangsungan hidup organisme
pada ekosistem perairan. Kadar oksigen terlarut di perairan dipengaruhi oleh
proses aerasi, fotosintesis, respirasi dan oksidasi limbah. Aerasi adalah proses
transfer oksigen dari atmosfer ke perairan melalui proses difusi. Apabila kadar
oksigen terlarut di perairan mencapai saturasi dan berada dalam kesetimbangan
dengan kadar oksigen di atmosfer maka proses aerasi tidak akan berlangsung.
Transfer oksigen dari udara ke dalam air berlangsung apabila kadar oksigen
pada badan air belum mencapai tingkat jenuh (saturasi), dan sebaliknya. Pada
siang hari, proses fotosintesis menghasilkan oksigen di perairan. Sebaliknya,
pada malam hari oksigen justru dimanfaatkan oleh makhluk hidup untuk
keperluan respirasi. Penurunan kadar oksigen di perairan juga diakibatkan oleh
keberadaan limbah organik yang membutuhkan oksigen untuk melakukan
perombakan atau dikenal dengan istilah dekomposisi (Anonim, 2007).
2.

Limbah yang mengakibatkan timbulnya penyakit
Air mudah tercemar oleh mikroorganisme berbahaya (patogen) yang
masuk melalui limbah. Berbagai metode untuk mengidentifikasi bakteri patogen
di perairan telah banyak dikembangkan. Akan tetapi, penentuan semua jenis

9

bakteri patogen membutuhkan waktu dan biaya yang besar, sehingga penentuan
grup bakteri coliform dianggap sudah cukup baik dalam menilai tingkat higienitas
perairan. Escherichia coli adalah salah satu bakteri coliform total tidak berbahaya
yang ditemukan dalam tinja manusia. Keberadaan E. coli secara berlimpah
menggambarkan bahwa perairan tersebut tercemar oleh kotoran manusia, yang
mungkin juga disertai dengan cemaran bakteri patogen.
3. Limbah yang merupakan senyawa organik
Bahan organik baik yang alami maupun sintesis masuk ke badan air,
sebagai hasil dari aktifitas manusia. Penyusun utama bahan organik biasanya
berupa polisakarida (karbohidrat), polipeptida (protein), lemak (fats), asam
nukleat (nucleid acid). Setiap bahan organik memiliki karakteristik fisika, kimia,
dan toksisitas yang berbeda. Limbah organik juga mengandung bahan-bahan
organik sintesis yang toksik. Beberapa contoh bahan organik yang bersifat toksik
terhadap organisme akuatik adalah minyak, fenol, pestisida, surfaktan, dan

polychlorinated biphenyl (PCBs). Berbeda dengan limbah organik alami yang
relatif mudah diurai secara biologis, senyawa organik sintetik pada umumnya
tidak dapat diurai secara biologis (non biodegradable). Senyawa organik sintesis
juga bersifat persisten atau bertahan dalam waktu yang lama di dalam badan air
serta bersifat kumulatif. Bahan buangan organik pada umumnya berupa limbah
yang dapat membusuk atau terdegradasi oleh mikroorganisme, sehingga hal ini
dapat mengakibatkan semakin berkembangnya mikroorganisme dan mikroba
patogen pun ikut juga berkembang baik dimana hal ini dapat mengakibatkan
berbagai macam penyakit. Limbah pertanian dari penggunaan pestisida jenis
klorotalonil maupun pestisida golongan klor-organik lainnya, susah larut dalam
air. Senyawanya dapat berikatan dengan senyawa organik lain yang bersifat
asam (Manuaba ,2007).
4.

Limbah yang merupakan senyawa anorganik dan mineral
Senyawa anorganik terdiri atas logam dan logam berat yang pada
umumnya bersifat toksik. Davis dan Cornwell (1991) dalam Hefni (2003)
mengemukakan, bahan anorganik yang dianggap toksik adalah arsen (As),
barium (Ba), kadmium (Cd), kromium (Cr), timbal (Pb), air raksa (Hg), selenium
(Se) dan perak (Ag). Senyawa anorganik dapat berasal dari limbah domestik,
dan industri. Limpasan perkotaan merupakan sumber utama timbal (Pb) dan
seng (Zn) (Davis dan Cornwell, 1991 dalam Hefni, 2003). Bahan buangan

10

anorganik pada umumnya berupa limbah yang tidak dapat membusuk dan sulit
didegradasi

oleh

mikroorganisme.

Dalam

perairan,

buangan

anorganik

menyebabkan terjadinya peningkatan jumlah ion logam di dalam air, sehingga
hal ini dapat mengakibatkan air menjadi bersifat sadah, karena mengandung ion
kalsium (Ca) dan ion yang bersifat toksik.
5.

Sedimen
Sedimen meliputi tanah dan pasir yang masuk ke badan air akibat
erosi atau banjir. Pada dasarnya, sedimen tidak bersifat toksik. Sedimen berupa
bahan-bahan tersuspensi di dalam air. Keberadaan sedimen dalam badan air air
mengakibatkan terjadinya peningkatan kekeruhan perairan, yang selanjutnya
menghambat penetrasi cahaya dan transfer oksigen dari atmosfer ke perairan.
Peningkatan

kekeruhan

akan

menghambat

daya

lihat

(visibilitas)

dan

terganggunya kehidupan organisme akuatik.
6. Minyak
Minyak tersebar di perairan dalam bentuk terlarut, lapisan film yang
tipis yang terdapat di permukaan, emulsi dan fraksi yang terserap. Di perairan,
interaksi dari bentuk minyak ini sangat kompleks, dipengaruhi oleh nilai specific
gravity, titik didih, tekanan permukaan, viskositas, kelarutan dan penyerapan.
Kadar minyak mineral dan produk-produk petroleum yang diperkenankan
terdapat dalam air minum berkisar antara 0,01 – 0,1 mg/liter. Kadar yang
melebihi 0,3 mg/liter bersifat toksik terhadap beberapa jenis ikan air tawar
(UNESCO/WHO/UNEP, 1992).

2.2.2 Penentuan Beban Pencemaran
Berdasarkan Peraturan Menteri Negara Lingkungan Hidup nomor 1 tahun
2010 tentang tata laksana pengendalian pencemaran air, metode untuk
menentukan beban pencemaran

dikelompokkan

berdasarkan

sumber

pencemar tertentu (point source) dan sumber tak tentu (non point source).
Penentuan

beban

pencemar

dari

sumber

tertentu

(point

source)

berdasarkan data primer dari lapangan maupun data sekunder hasil pemantauan
instansi yang berwenang. Data kuantitas dan kualitas pencemar air dari sumber
tertentu dievaluasi dan dikaji dengan menggunakan metode estimasi sebagai
berikut :
I,j

= Ci x V x OpHrs/1.000.000

Keterangan :

11

I,i

= Besar beban/emisi pencemar atau parameter i, kg/tahun

C,i

= Konsentrasi jneis pencemar i dalam buangan air limbah, mg/l
(data pemantauan lapangan)

V

= Laju alir buangan air limbah liter/jam

OpHrs

=Jumlah jam operasi per tahun, jam/tahun

1 000. 000 = faktor konversi, mg/kg
(Sumber : Permen LH no 01 tahun 2010)
Beban pencemar dari sumber tak tentu (non point source) diperkirakan
dengan terlebih dahulu menentukan faktor emisi yang bersifat spesifik untuk
masing-masing kategori kegiatan. Metode estimasi untuk setiap kelompok
kegiatan yang menghasilkan air limbah kategori sumber tak tentu (non Point

source) sebagai berikut :
Kegiatan dan penggunaan barang konsumsi menghasilkan emisi berupa :
a. Emisi polutan dari proses sanitasi dan pencucian
b. Emisi yang berkaitan dengan kepadatan penduduk
Hasil penelitian Irianto dan Iskandar, 2007 emisi air limbah domestik seperti
Tabel 1
Tabel 1. Emisi air limbah domestik
No
Parameter
Faktor Emisi (gr/hari)
1.
TSS
38
2.
BOD
40
3.
COD
55
4.
Minyak dan Lemak
1,22
5.
Detergen
0,189
6.
NH4-N
1,8
7.
NO2-N
0,002
8.
NO3-N
0,01
9.
Organik-N
0,11
10.
Total-N
1,95
11.
PO4-P
0,17
12.
Total-P
0,21
13.
S
1,3
14.
Phenol
0,001
15.
Coli Tinja
3 E +14
Sumber : Irianto dan Iskandar, 2007 dalam Puslitbang SDA
Anonim (2010) mengatakan bahwa emisi BOD untuk limbah domestik seperti
pada Tabel 2 :

12

Tabel 2. Klasifikasi emisi BOD di Indonesia
No Daerah

Klasifikasi

Rentang Beban

Rata-rata Beban

Rasio

gr BOD/orang/hari

gr BOD/orang/hari

ekivalen
kota

1.

Kota

Tinggi

37,5 – 42,5

40

1

2.

Pinggiran

Sedang

27,5 – 37,5

32,5

0,8125

Pedalaman Rendah

22,5 – 27,5

25

0,625

kota
3.

Sumber : Balai Lingkungan Keairan Pusat Litbang Sumber Daya air
Beban pencemar dapat diestimasi dengan beberapa rumus berikut :
(1) Beban pencemar = faktor emisi x kepadatan populasi x rasio ekivalen kota
(Iskandar, 2007)
(2) Beban pencemar = jumlah penduduk x

x faktor emisi (tabel 1)

(Anonim, 2010)
(3) Beban pencemar = Luas daerah pemukiman x kepadatan penduduk x
faktor emisi
(PerMenLH no 01 tahun 2010)
Keterangan:
: koefisien transfer beban, (0,3 – 0,8), yang merupakan pendekatan dari estimasi
air limbah yang masuk ke sungai berdasarkan jarak pemukiman terhadap sungai.
Asumsi yang digunakan adalah semakin dekat dengan sungai semakin besar
peluang membuang limbah langsung ke sungai. Sebaliknya semakin jauh dari
sungai masyarakat semakin rendah peluang membuang limbah secara langsung
ke sungai (Kurniawan, 2003)
Jarak

0

- 100 m ; nilai

=1

Jarak 100 m - 500 m ; nila

Dokumen yang terkait

Dokumen baru

Pollution Burden Analysis And Assimilation Capacity Of Cidurian River Banten Province