Pemetaan Penyebaran Pohon dan Stok Karbon dengan Menggunakan Sistem Informasi Geografis di PT. Ratah Timber Kalimantan Timur.

1
 

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hutan sebagai salah satu sumberdaya alam merupakan kekayaan negara
yang harus dikelola secara bijaksana guna kemakmuran dan kesejahteraan
masyarakat. Hutan merupakan suatu ekosistem alam yang kompleks dan terdiri
atas berbagai komponen ekosistem yang saling berkaitan satu dengan lainnya.
Hutan dapat memberikan manfaat tangible berupa hasil hutan kayu, hasil hutan
non kayu, dan manfaat intangible seperti sebagai penghasil oksigen, pengatur
siklus air, penyimpan karbon dan pengatur iklim mikro (Arief 2001). Oleh karena
itu pengelolaan hutan harus dilaksanakan secara baik melalui perencanaan yang
cermat, rasional, dan terarah. Pengelolaan hutan yang baik membutuhkan data dan
informasi yang memadai (handal, akurat, dibutuhkan, standar, tidak berbias, dan
dapat diakses). Untuk keperluan data dan informasi tersebut maka diperlukan
suatu kegiatan inventarisasi hutan.
Secara umum inventarisasi hutan didefinisikan sebagai pengumpulan dan
penyusunan data dan fakta mengenai sumberdaya hutan untuk perencanaan
pengelolaan sumberdaya hutan bagi kesejahteraan masyarakat secara lestari dan
serbaguna. Inventarisasi hutan dilakukan untuk mengetahui kondisi biofisik
sumberdaya hutan baik berupa flora, fauna, keadaan fisik lapangan, dan kondisi
sosial ekonomi dari areal atau kawasan hutan yang diinventarisasi. Inventarisasi
hutan dapat dilakukan dengan beberapa metode pengukuran, yaitu: pengukuran
secara

terestris

(ground

survey),

pengukuran

menggunakan

teknologi

penginderaan jauh (remote sensing), dan pengukuran dengan menggabungkan
metode terestris dan penginderaan jauh yang merupakan metode yang sesuai
untuk pengukuran potensi hutan (Eventi 2010).
Tegakan merupakan salah satu komponen penting ekosistem hutan selalu
mengalami dinamika dari waktu ke waktu dalam hal jumlah individu, dimensi
(ukuran) dari setiap individu, maupun komposisi jenisnya. Areal hutan alam bekas
tebangan (logged-over area) di Indonesia pada tahun 2010 seluas 39,18 juta ha

2
 

atau sebesar 42,61% (Putra 2010). Areal bekas tebangan adalah kondisi hutan
setelah periode pengusahaan hutan yang pertama selesai.
Kegiatan pengusahaan hutan ini merupakan salah satu faktor yang dapat
mempengaruhi karakteristik tegakan hutan. Kegiatan penebangan yang tidak
sesuai dengan pertambahan volume pohon atau tegakan per satuan waktu tertentu
dapat merubah kondisi karakteristik tegakan hutan serta berpengaruh terhadap
potensi hutan untuk siklus tebang berikutnya.
Dalam rangka mengetahui potensi hutan atau standing stock, berdasarkan
Peraturan Menteri Kehutanan (Permenhut) No 34/Menhut-II/2007 yang
diperbaharui dengan P.33/Menhut-II/2009 perlu dilakukan Inventarisasi Hutan
Menyeluruh Berkala (IHMB) yang dilakukan setiap sepuluh tahun sekali.
Inventarisasi Hutan Menyeluruh Berkala (IHMB) merupakan inventarisasi hutan
berkala sepuluh tahunan untuk menyusun rencana kerja usaha pemanfaatan hasil
hutan sepuluh tahunan. Sedangkan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 6
Tahun 2007 tentang Tata Hutan dan Penyusunan Rencana Pengelolaan Hutan
serta Pemanfaatan Hutan, para pemegang Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan
Kayu dalam Hutan Alam (IUPHHK-HA) dan Hutan Tanaman (IUPHHK-HT)
wajib melakukan IHMB.
Kegiatan IHMB ini dilaksanakan oleh IUPHHK yang sedang berjalan
selambat-lambatnya 1 (satu) tahun sejak di berlakukannya peraturan tersebut dan
bagi IUPHHK yang akan berakhir jangka waktu ijinnya dan akan mengajukan
perpanjangan ijin selambat-lambatnya 2 (dua) tahun sebelum ijinnya berakhir.
Hasil yang diperoleh dari kegiatan IHMB ini berupa data pohon-pohon komersil
yang dapat digunakan sebagai dasar penentuan AAC (annual allowable cut).
Selanjutnya dilakukan pengolahan data secara tabular maupun secara spasial.
Pada pengolahan data secara tabular diperoleh hasil potensi dan sediaan tegakan
sedangkan pada pengolahan spasial diperoleh distribusi sebaran potensi dan
sediaan tegakan tersebut. Proses pengolahan spasial dilakukan dengan
menggunakan Sistem Informasi Geografis (SIG).
Isu lingkungan mengenai perubahan iklim global akibat naiknya
konsentrasi gas rumah kaca (CO2, CH4, N2O, HFCs) ke lapisan atmosfir
merupakan salah satu isu penting yang mendapat sorotan dunia saat ini. Laju

3
 

kenaikan konsentrasi gas rumah kaca dapat mengakibatkan pemanasan global di
muka bumi. Pemanasan global dapat diartikan sebagai kenaikan temperatur muka
bumi secara perlahan yang berakibat pada perubahan iklim global di muka bumi
yang berdampak negatif terhadap keberlangsungan kehidupan manusia.
Sebagaimana vegetasi hijau lainnya, tumbuhan di hutan menyerap karbon dari
lingkungannya melalui proses fotosintesis. Hasil fotosintesis setelah dikurangi
respirasi dan yang di makan oleh herbivora akan terakumulasi berupa biomassa
tumbuhan. Besarnya biomassa tumbuhan akan mempengaruhi kandungan karbon
tumbuhan tersebut. Karbon yang terdapat dalam tumbuhan jika masuk ke
lingkungan, baik lingkungan tanah, perairan, maupun udara terutama melalui
kebakaran hutan dapat menjadi bahan pencemar dan pada akhirnya akan
mempengaruhi kualitas lingkungan sekitarnya (Onrizal 2004).
SIG secara umum dapat digunakan sebagai alat untuk melakukan integrasi
data dan permodelan data, sehingga dapat diperoleh informasi spasial yang lebih
komprehensif. Informasi spasial tersebut nantinya dapat digunakan sebagai bahan
dalam pengambilan keputusan. Sistem Informasi Geografis (SIG) adalah
sekumpulan yang terorganisir dari perangkat keras computer (computer
hardware), perangkat lunak (software), data geografi (geographic data), dan
personil (personnel) yang dirancang secara efisien merekam (capture),
menyimpan (store), memperbaharui (update), memanipulasi (manipulate),
menganalisis (analize), dan menyajikan (display) semua bentuk informasi yang
bereferensi geografis (Jaya 2002).
Data yang diperoleh dari hasil IHMB dapat di gunakan untuk mengetahui
potensi hutan, menganalisis karakteristik tegakan. Selanjutnya informasi tentang
potensi hutan dapat digunakan untuk menduga potensi sebaran cadangan karbon.
Gambaran tentang dugaan potensi cadangan karbon tersebut dapat dijadikan
sebagai bahan pertimbangan dalam perdagangan karbon agar kelestarian hutan
atas dasar pertimbangan ekologis maupun ekonomis dapat dicapai.
1.2 Tujuan Penelitian
1. Menghitung dugaan simpanan karbon areal petak tebangan Q37 Rencana
Kerja Tahunan (RKT) 2011 PT. Ratah Timber, Kalimantan Timur.

4
 

2. Membuat peta penyebaran pohon dan karbon areal petak tebangan Q37
Rencana Kerja Tahunan (RKT) 2011 PT. Ratah Timber, Kalimantan
Timur.
1.3 Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat digunakan untuk kepentingan penyusunan
Rencana Kerja Tahunan Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (RKTUPHHK),
memberikan informasi dan kontribusi nyata khususnya kepada PT. Ratah Timber
terhadap potensi fungsi hutan sebagai simpanan karbon dalam mengurangi
konsentrasi gas rumah kaca yang mengakibatkan pemanasan global, dan menjadi
bahan masukan dan pertimbangan dalam perdagangan karbon (carbon trade)
dunia.

5
 

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Hutan Hujan Tropis
Hutan merupakan kumpulan pepohonan yang tumbuh rapat beserta
tumbuh-tumbuhan memanjat dengan bunga yang beraneka warna yang berperan
sangat penting bagi kehidupan di bumi ini (Arief 2001).
Menurut Arief (2001) hutan hujan tropis mempunyai suhu bulanan ratarata 20˚ C – 50˚ C dengan curah hujan 2000 – 5000 mm per tahun. Hutan hujan
tropis terdapat di Amerika Selatan (lembah Amazone), Amerika Tengah, Afrika
(lembah Congo), dan Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia, dan Filipina). Jenisjenis pohon yang tumbuh untuk Amerika, yaitu: Swietinia, Mora, Cedrella,
Ocotea, dan Virolla. Jenis-jenis pohon yang tumbuh untuk Afrika, yaitu:
Terminalia, Khaya, Triplochiton, dan Anchomea. Sedangkan jenis-jenis pohon
yang tumbuh untuk Asia Tenggara adalah Dipterocarpaceae.
Dalam UU RI No. 41 tahun 1999, hutan adalah suatu kesatuan ekosistem
berupa hamparan lahan berisi sumberdaya alam hayati yang didominasi
pepohonan dalam persekutuan alam lingkungan, yang satu dengan yang lainnya
tidak dapat dipisahkan. Pengertian hutan dapat ditinjau dari beberapa faktor antara
lain: wujud biofisik lahan dan tumbuhan, fungsi ekologi, kepentingan kegiatan
operasional pengelolaan atau kegiatan tertentu lainnya, dan status hukum lahan
hutan (Suhendang 2002).
Hutan bukan hanya sekumpulan individu pohon, tetapi sebagai masyarakat
tumbuhan yang kompleks, terdiri atas pepohonan, semak, tumbuhan bawah, jasad
renik tanah, dan hewan. Satu sama lain saling terikat dalam hubungan
ketergantungan. Untuk dapat dikategorikan sebagai hutan, sekelompok pepohonan
harus mempunyai tajuk yang cukup rapat, sehingga merangsang pemangkasan
alami dengan cara menaungi ranting dan dahan di bagian bawah, serta
menghasilkan tumpukan bahan organik (serasah) yang sudah terurai maupun yang
belum di atas tanah mineral (Indriyanto 2008).
Menurut Simbolon et al. (1989) diacu dalam Indriyanto (2008), hutan
hujan tropis memiliki ciri, yaitu: terdapat pada daerah beriklim basah, tanah

6
 

kering, pedalaman, dan berupa hutan campuran didominasi oleh pohon-pohon
yang selalu hijau. Di Indonesia, hutan hujan tropik terdapat di Sumatera,
Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Irian Jaya. Hutan tersebut mempunyai lebih
kurang 3000 jenis pohon besar dan termasuk ke dalam 450 marga atau genus
(Arief 1994, diacu dalam Indriyanto 2008).
Isi tegakan hutan hujan tropika didominasi oleh pohon-pohon yang selalu
hijau dan tidak mengenal periode menggugurkan daun. Menurut tinggi tempatnya
hutan hujan tropik dibedakan menjadi 3 zone sebagai berikut (Indriyanto 2008):
Zone 1 : 0 – 1000 mdpl; hutan hujan bawah
Zone 2 : 1000 – 3300 mdpl; hutan hujan tengah
Zone 3 : 3300 – 4100 mdpl; hutan hujan atas
2.2 Sistem Silvikultur Tebang Pilih Tanam Indonesia (TPTI)
Menurut Darjadi dan Hardjono (1976) diacu dalam Indriyanto (2008),
sistem silvikultur adalah proses pemeliharaan, penebangan, penggantian sesuatu
tegakan hutan untuk menghasilkan kayu atau hasil hutan lainnya dalam bentuk
tertentu. Silvikultur TPTI adalah serangkaian tindakan yang dilakukan secara
berencana terhadap tegakan tidak seumur untuk mamacu pertumbuhan tegakan
sesuai dengan keadaan hutan dan tapaknya sehingga terbentuk tegakan tertata,
yakni yang optimal dan lestari.
Tujuan TPTI adalah terbentuknya struktur dan komposisi tegakan hutan
alam tak seumur yang optimal dan lestari sesuai dengan sifat-sifat biologi dan
keadaan tempat tumbuh aslinya. Ini ditandai dengan wujud tegakan yang
mengandung jumlah pohon, tiang, permudaan jenis-jenis niagawi dengan mutu
dan produktivitas tinggi, didampingi oleh sejumlah jenis pohon lainnya sehingga
memenuhi tingkat keanekaragaman hayati yang diinginkan.
Sasaran sistem TPTI adalah tegakan hutan alam produksi tidak seumur
dengan keanekaragaman hayati yang tinggi. Untuk mencapai tujuan pelaksanaan
TPTI, Departemen Kehutanan (1993) membuat acuan, sebagai berikut:
1. Pengaturan komposisi jenis pohon di dalam hutan yang diharapkan dapat
lebih menguntungkan baik ditinjau dari segi ekologi maupun ekonomi.

7
 

2. Pengaturan struktur/kerapatan tegakan yang optimal di dalam hutan yang
diharapkan dapat memberikan peningkatan produksi kayu bulat dari
tegakan sebelumnya.
3. Terjaminnya fungsi hutan dalam rangka pengawetan tanah dan air.
4. Terjaminnya fungsi perlindungan hutan.
Pelaksanaan

sistem

silvikultur

TPTI

dalam

pengusahaan

hutan

dimaksudkan untuk mengatur kegiatan penebangan dan pembinaan hutan alam
produksi yang mempunyai jumlah pohon inti minimal 25 pohon per hektar. Pohon
inti adalah pohon jenis komersial berdiameter 20 cm yang akan membentuk
tegakan utama yang akan ditebang pada rotasi tebangan berikutnya. Pohon inti
yang ditunjuk, diutamakan terdiri dari pohon-pohon komersial yang sama dengan
pohon yang ditebang. Seandainya jumlahnya masih kurang dari 25 pohon per
hektar dapat ditambah dari jenis kayu lain (Departemen kehutanan 1993).
Sistem silvikultur TPTI merupakan sistem yang paling sedikit mengubah
ekosistem hutan di hutan produksi yang merupakan hutan alam campuran tak
seumur, dibanding sistem silvikultur lainnya. Sistem TPTI diharapkan menjadi
modifikasi dari peristiwa alami di dalam hutan dengan menyingkirkan pohonpohon yang tua agar ruang yang dipakai dapat dimanfaatkan oleh pohon-pohon
muda yang masih produktif (Departemen Kehutanan 1993).
2.3 Biomassa, Karbon dan Cara Pendugaannya
Biomassa merupakan jumlah total dari bahan organik yang dinyatakan
dalam berat kering oven ton per hektar (Brown 1997). Menurut Whitten et al.
(1984) biomassa hutan adalah jumlah total bobot kering semua bagian tumbuhan
hidup, baik untuk seluruh atau sebagian tubuh organisme, produksi atau
komunitas dan dinyatakan dalam berat kering per satuan luas (ton/ha). Biomassa
dibedakan ke dalam dua kategori, yaitu: biomassa di atas permukaan tanah (above
ground biomass) dan di bawah permukaan tanah (below ground biomass).
Menurut Hairiah (2002) yang termasuk ke dalam komponen biomassa di atas
permukaan tanah adalah semua vegetasi di atas permukaan tanah yang masih
hidup termasuk semak-semak, tumbuhan bawah, dan bagian-bagian vegetasi yang
mati (nekromassa) termasuk serasah di atas permukaan tanah, tunggak yang mati,
batang, cabang, dan ranting.

8
 

Biomassa

tumbuhan

bertambah

karena

tumbuhan

menyerap

karbondioksida dari udara dan mengubah zat tersebut menjadi bahan organik
melalui proses fotosintesis. Jumlah biomassa di dalam hutan adalah hasil dari
perbedaan antara produksi melalui fotosintesis dengan konsumsi melalui respirasi
dan proses penebangan (Whitten et al. 1984).
Menurut Chapman (1976) secara garis besar metode pendugaan biomassa
di atas permukaan tanah dapat dikelompokkan menjadi dua cara yaitu :
1.

Metode Pendugaan Langsung (destructive sampling)
a. Metode Pemanenan Individu Tanaman
Metode ini dapat digunakan pada tingkat kerapatan yang cukup rendah dan
komunitas dengan jenis yang sedikit. Nilai total biomassa diperoleh
dengan menjumlahkan biomassa seluruh individu dalam suatu unit area
contoh.
b. Metode Pemanenan Kuadrat
Metode ini mengharuskan memanen semua individu dalam suatu unit area
contoh dan menimbangnya. Nilai total biomassa diperoleh dengan
mengkonversi berat bahan organik tumbuhan yang dipanen di dalam suatu
unit area contoh.
c. Metode Pemanenan Individu Pohon yang Mempunyai Luas Bidang Dasar
Rata-rata
Metode ini biasanya diterapkan pada tegakan yang memiliki ukuran
individu seragam. Pohon yang ditebang ditentukan berdasarkan rata-rata
diameternya dan kemudian menimbangnya. Nilai total biomassa diperoleh
dengan menggandakan nilai berat rata-rata dari pohon contoh yang
ditebang dengan jumlah individu pohon dalam suatu unit area tertentu atau
jumlah berat dari semua pohon contoh yang digandakan dengan rasio
antara luas bidang dasar dari semua pohon dalam suatu unit area dengan
jumlah luas bidang dasar dari semua pohon contoh.

2.

Metode Pendugaan Tidak Langsung (non destructive sampling)
a. Metode Hubungan Allometrik
Persamaan allometrik dibuat dengan mencari korelasi yang paling baik
antar dimensi pohon dengan biomassanya. Sebelum membuat persamaan

9
 

tersebut, pohon-pohon yang mewakili sebaran kelas diameter ditebang dan
ditimbang. Nilai total biomassa diperoleh dengan menjumlahkan semua
berat individu pohon dari suatu unit area tertentu.
b. Metode Crop Meter
Pendugaan biomassa metode ini dengan cara menggunakan seperangkat
peralatan elektroda listrik yang kedua kutubnya diletakkan di atas
permukaan tanah pada jarak tertentu. Biomassa tumbuhan yang terletak
antara

dua

elektroda

dipantau

dengan

memperhatikan

electrical

capacitance yang dihasilkan alat tersebut.
Menurut Brown (1997) ada dua pendekatan untuk menduga biomassa dari
pohon, yaitu: pendekatan pertama berdasarkan pendugaan volume kulit sampai
batang bebas cabang yang kemudian dirubah menjadi kerapatan biomassa
(ton/ha), sedangkan pendekatan kedua dengan menggunakan persamaan regresi
biomassa atau lebih dikenal dengan persamaan allometrik. Persamaan allometrik
digunakan untuk mempermudah pendugaan biomassa berdasarkan parameter
pohon hidup dengan mengukur dimensi pohon atau tegakan yang mudah diukur,
biasanya menggunakan diameter setinggi dada (Dbh) sebagai dasar pendugaan.
Metode ini menggunakan biomassa sebagai fungsi dari diameter pohon dengan
persamaan sebagai berikut :
Biomassa di atas tanah (Y) = a Db
Keterangan :
Y = biomassa pohon (kg)
D = diameter setinggi dada (130 cm)
a dan b merupakan konstanta
Menurut Ketterings et al. (2001) metode yang paling akurat dalam
pengukuran biomassa tegakan di atas permukaan tanah adalah dengan cara
menimbang biomassa pohon secara langsung di lapangan, tetapi metode tersebut
membutuhkan banyak waktu, sangat merusak, dan pada umumnya terbatas pada
area yang sempit serta ukuran pohon yang kecil. Pendugaan biomassa
meggunakan metode non destructive dengan allometrik bisa lebih cepat
dilaksanakan dan area yang lebih luas bisa dijadikan contoh. Persamaan
allometrik sering digunakan pada studi-studi ekologi dan inventarisasi hutan

10
 

dalam menduga hubungan antara diameter setinggi dada atau variabel-variabel
lain yang mudah diukur dengan volume pohon atau biomassa pohon.
Penetapan persamaan allometrik yang akan digunakan dalam pendugaan
biomassa merupakan tahapan penting proses pendugaan biomassa. Setiap
persamaan allometrik dikembangkan berdasarkan kondisi tegakan dan variasi
jenis tertentu yang berbeda satu dengan yang lain. Penelitian Brown (1997) telah
menghasilkan persamaan allometrik untuk menduga biomassa vegetasi di atas
permukaan tanah di hutan alam tropis. Pada Tabel 1 disajikan beberapa persamaan
allometrik yang telah dibuat untuk menduga biomassa di hutan alam tropis
berdasarkan perbedaan curah hujan. Persamaan tersebut dikembangkan dari data
371 pohon dari 3 daerah tropis dengan rentang diameter antara 5 – 148 cm yang
dikumpulkan dari berbagai sumber.
Tabel 1 Persamaan allometrik untuk menduga biomassa di hutan alam tropis
berdasarkan zona iklim
Zona Iklim

Kering

Lembab

Persamaan

Kisaran Dbh
(cm)

Jumlah
Contoh
Pohon

Y = exp[-1,996 + 2,32 * ln(D)]

5 - 40

28

0,89

Y = 10^[-0,535 + log10 (BA)]

3 - 30

191

0,94

5 - 148

170

Y = 42,69 – 12,800(D) + 1,242(D2)
Y = exp[-2,134 + 2,530 * ln(D)]

Basah

R2

Y = 21,297 – 6,953(D) + 0,740(D2)

0,84
0,97

4 - 112

169

0,92

Sumber : Brown (1997)

Keterangan :
Y = biomassa per pohon (kg)
D = diameter pohon setinggi dada (cm)
BA = basal area (cm2)
Persamaan tersebut diperuntukkan untuk 3 zona iklim yang berbeda, yaitu:
kering, lembab dan basah. Suatu tempat dikatakan masuk dalam zona kering
apabila curah hujan lebih rendah dibandingkan dengan potensial evapotranspirasi
(misalnya curah hujan < 1500 mm/th dan periode kering selama beberapa bulan).
Zona lembab adalah zona yang curah hujannya mendekati seimbang dengan
potensial evapotranspirasi (misalnya curah hujan antara 1500 – 4000 mm/th
dengan tanpa periode kering atau periode kering sangat pendek). Zona basah

11
 

mempunyai curah hujan yang lebih besar dari potensial evapotranspirasi
(misalnya > 4000 mm/th dan tanpa periode kering).
Dalam inventarisasi karbon hutan, pool karbon (carbon pool) yang
diperhitungkan setidaknya ada 4 pool karbon. Keempat pool karbon tersebut
adalah biomassa atas permukaan, biomassa bawah permukaan, bahan organik
mati, dan karbon organik tanah. Biomassa atas permukaan adalah semua material
hidup di atas permukaan. Termasuk bagian dari pool karbon ini adalah batang,
tunggul, cabang, kulit kayu, biji, dan daun dari vegetasi baik dari strata pohon
maupun dari strata tumbuhan bawah di lantai hutan. Biomassa bawah permukaan
adalah semua biomassa dari akar tumbuhan yang hidup. Pengertian akar ini
berlaku hingga ukuran diameter tertentu yang ditetapkan. Hal ini dilakukan sebab
akar tumbuhan dengan diameter yang lebih kecil dari ketentuan cenderung sulit
untuk dibedakan dengan bahan organik tanah dan serasah. Bahan organik mati
meliputi kayu mati dan serasah. Serasah dinyatakan sebagai semua bahan organik
mati dengan diameter yang lebih kecil dari diameter yang telah ditetapkan dengan
berbagai tingkat dekomposisi yang terletak di permukaan tanah. Kayu mati adalah
semua bahan organik mati yang tidak tercakup dalam serasah baik yang masih
tegak maupun yang roboh di tanah, akar mati, dan tunggul dengan diameter lebih
besar dari diameter yang telah ditetapkan. Karbon organik tanah mencakup karbon
pada tanah mineral dan tanah organik termasuk gambut.
Karbon di hutan alam dapat diduga dengan menggunakan pendugaan
biomassa hutan. Brown (1997) menyatakan bahwa umumnya 50% dari biomassa
hutan tersusun atas karbon. IPCC (2006) menyatakan bahwa konsentrasi karbon
dalam bahan organik adalah sekitar 47%, dengan demikian estimasi jumlah
karbon tersimpan dapat dihitung dengan mengalikan total berat massanya dengan
konsentrasi karbon, yaitu: total biomassa dikalikan dengan konsentrasi karbon
dalam biomassa sebesar 0,47. Untuk memperhitungkan besarnya potensial emisi
karbon akibat kegiatan

pemanenan kayu, maka dapat diduga dari besarnya

biomassa hutan yang terdapat pada pohon yang di panen/ditebang, pohon yang
mengalami kerusakan akibat kegiatan penebangan dan dari pohon yang
mengalami kerusakan akibat kegiatan penyaradan.

12
 

Total emisi karbon tahunan merupakan fungsi dari faktor-faktor, yaitu: (1)
Luas areal yang ditebang per tahun; (2) Jumlah kayu yang dipanen per unit area
(ha) per tahun; (3) Jumlah limbah per ha per tahun yang merupakan sisa
penebangan, pohon yang rusak/mati akibat penebangan, kematian pohon akibat
jalan sarad, jalan angkut, TPn, logyard; (4) Biomassa kayu yang dipakai lama
sebagai produk kayu (GOFC – gold 2009).
2.4 Mengapa Karbon (C) Tersimpan Perlu Diukur
Perubahan iklim global yang terjadi akhir-akhir ini disebabkan karena
terganggunya keseimbangan energi antara bumi dan atmosfir. Keseimbangan
tersebut dipengaruhi, antara lain: peningkatan gas-gas asam arang atau
karbondioksida (CO2), metana (CH4), dan nitrogen oksida (N2O) yang lebih
dikenal dengan gas rumah kaca (GRK). Saat ini konsentrasi GRK sudah mencapai
tingkat yang membahayakan iklim bumi dan keseimbangan ekosistem (Hairiah &
Rahayu 2007).
Konsentrasi GRK di atmosfir meningkat sebagai akibat adanya
pengelolaan lahan yang kurang tepat, antara lain: pembakaran vegetasi hutan
dalam skala luas pada waktu yang bersamaan dan adanya pengeringan lahan
gambut. Kegiatan-kegiatan tersebut umumnya dilakukan pada awal alih guna
lahan hutan menjadi lahan pertanian. Kebakaran hutan dan lahan serta gangguan
lahan lainnya telah menempatkan Indonesia dalam urutan ketiga negara penghasil
emisi CO2 terbesar di dunia. Indonesia berada di bawah Amerika Serikat dan
China dengan jumlah emisi yang dihasilkan mencapai dua miliar ton CO2 per
tahun atau menyumbang 10% dari emisi CO2 di dunia (Hairiah & Rahayu 2007).
Tumbuhan memerlukan sinar matahari, gas asam arang (CO2) yang
diserap dari udara, serta air dan hara yang diserap dari dalam tanah untuk
kelangsungan hidupnya. Melalui proses fotosintesis, CO2 di udara diserap oleh
tanaman dan diubah menjadi karbohidrat, kemudian disebarkan ke seluruh tubuh
tanaman dan akhirnya ditimbun dalam tubuh tanaman berupa daun, batang,
ranting, bunga dan buah. Proses penimbunan C dalam tubuh tanaman hidup
dinamakan proses sekuestrasi (C – sequestration). Dengan demikian mengukur
jumlah C yang disimpan dalam tubuh tanaman hidup (biomassa) pada suatu lahan

13
 

dapat menggambarkan banyaknya CO2 di atmosfir yang diserap oleh tanaman
(Hairiah & Rahayu 2007).
Lebih lanjut Hairiah dan Rahayu (2007) mengatakan, tanaman atau pohon
berumur panjang yang tumbuh di hutan maupun di kebun campuran (agroforestry)
merupakan tempat penimbunan atau penyimpanan C (rosot C = C sink) yang jauh
lebih besar daripada tanaman semusim. Oleh karena itu, hutan alami dengan
keragaman jenis pepohonan berumur panjang dan serasah yang banyak
merupakan gudang penyimpanan C tertinggi (baik di atas maupun di dalam
tanah). Hutan juga melepaskan CO2 ke udara lewat respirasi dan dekomposisi
(pelapukan) serasah, namun pelepasannya terjadi secara bertahap, tidak sebesar
bila ada pembakaran yang melepaskan CO2 sekaligus dalam jumlah yang besar.
Bila hutan diubah fungsinya menjadi lahan-lahan pertanian atau perkebunan atau
ladang pengembalaan maka C tersimpan akan merosot. Berkenaan dengan upaya
pengembangan lingkungan bersih, maka jumlah CO2 di udara harus dikendalikan
dengan jalan meningkatkan jumlah serapan CO2 oleh tanaman sebanyak mungkin
dan menekan pelepasan (emisi) CO2 ke udara serendah mungkin. Jadi,
mempertahankan keutuhan hutan alami, menanam pepohonan pada lahan-lahan
pertanian dan melindungi lahan gambut sangat penting untuk mengurangi jumlah
CO2 yang berlebihan di udara. Jumlah “C tersimpan” dalam setiap penggunaan
lahan tanaman, serasah dan tanah, biasanya disebut juga sebagai “cadangan C”.
Jumlah C tersimpan antar lahan berbeda-beda, tergantung pada keragaman
dan kerapatan tumbuhan yang ada, jenis tanahnya, serta cara pengelolaannya.
Penyimpanan C suatu lahan menjadi lebih besar bila kondisi kesuburan tanahnya
baik atau dengan kata lain jumlah C tersimpan di atas tanah (biomasa tanaman)
ditentukan oleh besarnya jumlah C tersimpan di dalam tanah (bahan organik
tanah) (Hairiah & Rahayu 2007).
Penebangan hutan akan menyebabkan terbukanya permukaan tanah
terhadap radiasi dan cahaya matahari. Dampak langsungnya adalah meningkatnya
suhu tanah dan turunnya kadar air tanah. Dampak langsung lainnya dari kegiatan
penebangan hutan adalah menurunnya cadangan karbon atas permukaan (aboveground carbon stocks) dan selanjutnya akan mempengaruhi penyusutan cadangan
karbon bawah permukaan (below-ground carbon stocks) (Murdiyarso et al. 2004).

14
 

Aliran karbon dari atmosfir ke vegetasi merupakan aliran yang bersifat dua
arah, yaitu: pengikatan CO2 ke dalam biomasa melalui fotosintesis dan pelepasan
CO2 ke atmosfir melalui proses dekomposisi dan pembakaran. Diperkirakan
sekitar 60 Pg (1 Pg = 1 Gt) karbon mengalir antara ekosistem daratan dan atmosfir
setiap tahunnya, dan sebesar 0,7 ± 1,0 Pg karbon diserap oleh ekosistem daratan.
Alih guna lahan dan konversi hutan merupakan sumber utama emisi CO2 dengan
jumlah sebesar 1,7 ± 0,6 Pg karbon per tahun. Apabila laju konsumsi bahan bakar
dan pertumbuhan ekonomi global terus berlanjut seperti yang terjadi pada saat ini,
maka dalam jangka waktu 100 tahun yang akan datang suhu global rata-rata akan
meningkat sekitar 1,7 - 4,50 C (Rahayu et al. 2007).
Kegiatan konversi hutan menjadi lahan pertanian melepaskan cadangan
karbon ke atmosfir dalam jumlah yang cukup berarti. Namun jumlah tersebut
tidak memberikan dampak yang berarti terhadap jumlah CO2 yang mampu diserap
oleh hutan dan daratan secara keseluruhan. Dampak konversi hutan ini baru terasa
apabila diikuti dengan degradasi tanah dan hilangnya vegetasi, serta berkurangnya
proses fotosintesis akibat munculnya hutan beton serta lahan yang dipenuhi
bangunan-bangunan dari aspal sebagai pengganti tanah atau rumput. Meskipun
laju fotosintesis pada lahan pertanian dapat menyamai laju fotosintesis pada
hutan, namun jumlah cadangan karbon yang terserap lahan pertanian jauh lebih
kecil. Selain itu, karbon yang terikat oleh vegetasi hutan akan segara dilepaskan
kembali ke atmosfir melalui pembakaran, dekomposisi sisa panen maupun
pengangkutan hasil panen. Masalah utama yang terkait dengan alih guna lahan
adalah perubahan jumlah cadangan karbon. Pelepasan karbon ke atmosfir akibat
konversi hutan berjumlah sekitar 250 Mg per ha C yang terjadi selama
penebangan dan pembakaran, sedangkan penyerapan kembali karbon menjadi
vegetasi pohon relatif lambat, hanya sekitar 5 Mg per ha C. Penurunan emisi
karbon dapat dilakukan dengan cara, yaitu: (1) Mempertahankan cadangan karbon
yang telah ada dengan: mengelola hutan lindung, mengendalikan deforestasi,
menerapkan praktek silvikultur yang baik, mencegah degradasi lahan gambut, dan
memperbaiki pengelolaan cadangan bahan organik tanah, (2) Meningkatkan
cadangan karbon melalui penanaman tanaman berkayu, dan (3) Mengganti bahan
bakar fosil dengan bahan bakar yang dapat diperbarui secara langsung maupun

15
 

tidak langsung (angin, biomasa, aliran air), radiasi matahari, atau aktivitas panas
bumi (Rahayu et al. 2007).
Peningkatan penyerapan cadangan karbon dapat dilakukan dengan cara,
sebagai berikut: (1) Meningkatkan pertumbuhan biomasa hutan secara alami, (2)
Menambah cadangan kayu pada hutan yang ada dengan penanaman pohon atau
mengurangi pemanenan kayu, dan (3) Mengembangkan hutan dengan jenis pohon
yang cepat tumbuh. Karbon yang diserap oleh tanaman disimpan dalam bentuk
biomasa kayu, sehingga cara yang paling mudah untuk meningkatkan cadangan
karbon adalah dengan menanam dan memelihara pohon (Hairiah & Rahayu
2007).
Untuk memperoleh potensial penyerapan karbon yang maksimum perlu
ditekankan pada kegiatan peningkatan biomasa di atas permukaan tanah bukan
karbon yang ada dalam tanah, karena jumlah bahan organik tanah yang relatif
lebih kecil dan masa keberadaannya singkat. Hal ini tidak berlaku pada tanah
gambut (Rahayu et al. 2007).
Cadangan karbon pada suatu sistem penggunaan lahan dipengaruhi oleh
jenis vegetasinya. Suatu sistem penggunaan lahan yang terdiri dari pohon dengan
spesies yang mempunyai nilai kerapatan kayu tinggi, biomasanya akan lebih
tinggi bila dibandingkan dengan lahan yang mempunyai spesies dengan nilai
kerapatan kayu rendah. Biomasa pohon (dalam berat kering) dihitung
menggunakan allometric equation berdasarkan pada diameter batang setinggi 1,3
m di atas permukaan tanah (Rahayu et al. 2007).
2.5 Potensi Stok Karbon di Hutan Alam Tropika
Hutan merupakan reservoir dari karbon yang cukup besar adalah sekitar
350 GTC (Giga Ton Carbon) dari 550 GTC yang ada di biota daratan. Rosot
karbon di hutan akan berpengaruh terhadap perubahan neraca karbon hutan, yang
pada akhirnya dapat mempengaruhi sumber karbon di hutan (Channel 1996, diacu
dalam Junaedi 2007). Penyerapan karbon oleh hutan ditentukan melalui proses
penangkapan dalam proses fotosintesis dan pelepasan karbon melalui respirasi.
Karbon yang ditangkap dan dilepaskan akan mempengaruhi produktifitas
ekosistem bersih (NEP). Menurut Johnsen et al. (2001) diacu dalam Junaedi
(2007), besarnya NEP oleh hutan sebesar 5620 – 6780 pound karbon/ha/tahun.

16
 

Suhendang (2002) menyatakan bahwa sumberdaya hutan di Indonesia
memiliki potensi tinggi dalam hal keanekaragaman hayati dan potensi penyerapan
karbon. Diperkirakan hutan di Indonesia yang luasnya 120,4 juta hektar mampu
menyerap dan menyimpan karbon sekitar 15,05 milyar ton karbon.
Lokasi utama cadangan karbon di hutan alam tropika, yaitu: di atas
permukaan tanah (vegetasi hutan) dan di dalam permukaan tanah (Van Noordwijk
et al. 1997). Lasco (2002) menyatakan bahwa cadangan karbon di hutan tropis
asia berkisar antara 40 – 250 ton C/ha untuk vegetasi dan 50 – 120 ton C/ha untuk
tanah. Sedangkan menurut Murdiyarso et al. (1994) bahwa hutan tropis di
Indonesia diperkirakan mempunyai cadangan karbon berkisar antara 161 – 300
ton C/ha.
Akumulasi kandungan biomassa hutan dipengaruhi oleh teknik pemanenan
kayu dan perlakuan silvikultur yang digunakan. Kandungan biomassa di hutan
hujan tropika Asia Tenggara berkisar antara 400 – 500 ton/ha (berat kering oven)
termasuk biomassa akar (Pinard & Putz 1997, diacu dalam Junaedi 2007).
Proses pelepasan cadangan karbon ke atmosfir dipengaruhi oleh beberapa
faktor diantaranya intensitas pemanenan hutan dan proses dekomposisi (Ojima et
al. 1996, diacu dalam Junaedi 2007). Hasil penelitian Van Noordwijk et al.
(1997) menyatakan bahwa cadangan karbon di hutan alam Jambi dapat melebihi
50 kg/m2, dimana 80% cadangan karbon terdapat pada pohon, 10% pada pohon
yang sudah mati dan 10% berada pada tanah. Sedangkan pada hutan sekunder 10
tahun, penurunan cadangan biomassa terlihat sangat nyata yang berakibat
cadangan karbonnya semakin menurun drastis.
2.6 Sistem Informasi Geografis
2.6.1 Konsep Dasar
Sejak pertengahan 1970-an, telah dikembangkan sistem-sistem yang
secara khusus dibuat untuk menangani masalah informasi yang bereferensi
geografis dalam berbagai cara dan bentuk. Masalah-masalah tersebut mencakup
pengorganisasian data dan informasi, menempatkan informasi pada lokasi
tertentu, melakukan komputansi, memberikan ilustrasi keterhubungan satu sama
lainnya (koneksi), beserta analisis-analisis spasial lainnya. Sebutan umum untuk
sistem-sistem yang menangani masalah-masalah tersebut adalah Sistem Informasi

17
 

Geografis (SIG). SIG dipandang sebagai hasil dari perkawinan antara sistem
komputer untuk bidang Kartografi (CAC: computer assisted cartografi) atau
sistem komputer untuk bidang perancangan (CAD: computer aided design)
dengan teknologi basis data (database) (Prahasta 2002).

Gambar 1 Model dunia nyata (Prahasta 2002).
Pada dasarnya, data geografi hanya disajikan di atas peta dengan
menggunakan simbol, garis, dan warna. Sebuah peta menjadi media yang efektif
baik sebagai alat presentasi maupun sebagai bank tempat penyimpanan data
geografis. Namun, media peta masih mengandung kelemahan dan keterbatasan.
Informasi-informasi yang tersimpan, diproses dan dipresentasikan dengan suatu
cara tertentu, dan biasanya untuk tujuan tertentu pula. Tidak mudah untuk
merubah bentuk presentasi ini. Sebuah peta selalu menyediakan gambar atau
simbol unsur geografi dengan bentuk yang tetap (statik), meskipun diperlukan
untuk berbagai kebutuhan yang berbeda. Bila dibandingkan dengan peta, SIG
memiliki keunggulan inheren karena penyimpanan data dan presentasinya
dipisahkan. Dengan demikian, data dapat dipresentasikan dalam berbagai cara dan
bentuk (Prahasta 2002).
2.6.2 Pengertian
Menurut Prahasta (2002) pada dasarnya istilah sistem informasi goegrafis
merupakan gabungan dari tiga unsur pokok, yaitu: sistem, informasi, dan
geografis. Sistem Informasi Geografis adalah sistem berbasis komputer yang

18
 

terdiri atas perangkat keras komputer (hardware), perangkat lunak (software),
data geografis dan sumberdaya manusia (brainware) yang mampu merekam,
menyimpan, memperbaharui, menampilkan, dan menganalisis informasi yang
bereferensi geografis (Jaya 2002). Menurut Aronoff (1989) diacu dalam Prahasta
(2002), SIG adalah sistem yang berbasiskan komputer yang digunakan untuk
menyimpan dan memanipulasi informasi-informasi geografi. SIG dirancang untuk
mengumpulkan, menyimpan, dan menganalisis objek-objek dan fenomena dimana
lokasi geografi merupakan karakteristik yang penting atau kritis untuk dianalisis.
Dengan demikian, SIG merupakan sistem komputer yang memiliki empat
kemampuan dalam menangani data yang bereferensi geografi, sebagai berikut:
1. Masukan
2. Manajemen data (penyimpanan dan pemanggilan data)
3. Analisis dan manipulasi data
4. Keluaran
2.6.3 Komponen Utama Sistem Informasi Geografis (SIG)
Menurut Prahasta (2002) SIG merupakan sistem kompleks yang biasanya
terintegrasi dengan lingkungan sistem-sistem komputer yang lain di tingkat
fungsional dan jaringan. Menurut Gistut (1994) diacu dalam Prahasta (2002), SIG
terdiri dari beberapa komponen, sebagai berikut:
1. Perangkat keras
Pada saat ini, SIG tersedia untuk berbagai platform perangkat keras mulai
dari PC desktop, workstations, hingga multi user host yang dapat digunakan oleh
banyak orang secara bersamaan dalam jaringan 18able1818r yang luas,
berkemampuan tinggi, memiliki ruang penyimpanan (harddisk) yang besar, dan
mempunyai kapasitas memori (RAM) yang besar. Walaupun demikian,
fungsionalitas SIG tidak terikat secara ketat terhadap karakteristik-karakteristik
fisik perangkat keras ini sehingga keterbatasan memori pada PC-pun dapat diatasi.
Adapun perangkat keras yang sering digunakan untuk SIG adalah 18able1818r
(PC), mouse, digitizer, printer, plotter, dan scanner.
2. Perangkat lunak
Bila dipandang dari sisi lain, SIG juga merupakan 18able18 perangkat
lunak yang tersusun secara modular dimana basis data memegang peranan kunci.

19
 

Setiap sub sistem diimplementasikan dengan menggunakan perangkat lunak yang
terdiri dari beberapa modul, hingga tidak mengherankan jika ada perangkat SIG
yang terdiri dari ratusan program (*.exe) yang masing-masing dieksekusi sendiri.
3. Data dan informasi geografi
SIG dapat mengumpulkan dan menyimpan data dan informasi yang
diperlukan baik secara tidak langsung dengan cara mengimport-nya dari
perangkat-perangkat lunak SIG yang lain maupun secara langsung dengan cara
mendijitasi data spasialnya dari peta dan memasukkan data atributnya dari 19abletabel dan laporan dengan menggunakan keyboard.
4. Manajemen
Suatu proyek SIG akan berhasil jika dimanage dengan baik dan dikerjakan
oleh orang-orang yg memiliki keahlian yang tepat pada semua tingkatan.
2.6.4. Perangkat Lunak ArcGIS Desktop dan ArcView GIS
2.6.4.1 ArcGIS Desktop
Menurut Awaludin (2010) ArcGIS Desktop adalah sebuah solusi software
aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG) yang integral. Di dalam ArcGIS
desktop terdapat beberapa aplikas Sistem Informasi Geografis yang memiliki
fungsi berbeda-beda, antara lain: ArcMap, ArcCatalog, dan ArcReader.
ArcGIS dikembangkan oleh ESRI (Environmental System Research
Institute), sebuah perusahaan yang memfokuskan diri pada solusi pemetaan digital
terintegrasi. ArcGIS Desktop adalah salah satu dari sekian banyak produk yang
saling terkait di bidang pemetaan digital yang dikembangkan oleh ESRI
(Awaludin 2010).
2.6.4.2 ArcView GIS
ArcView merupakan sebuah software pengolah data spasial. Software ini
memiliki berbagai keunggulan yang dapat dimanfaatkan oleh kalangan pengolah
data spasial. ArcView memiliki kemampuan dalam pengolahan atau editing arc,
menerima atau konversi dari data digital lain seperti CAD, atau dihubungkan
dengan data image seperti format JPG, TIFF, atau image gerak.

20
 

Budiyanto (2002) ArcView terdapat beberapa proyek yang masing-masing
isi dari proyek tersebut saling terkait namun memiliki fungsi dan peran yang
berbeda.
2.6.5 Aplikasi Sistem Informasi Geografis (SIG)
Menurut Jaya (2002) pada bidang kehutanan, SIG sangat diperlukan guna
mendukung pengambilan keputusan untuk memecahkan masalah keruangan
(spasial) mulai dari tahap perencanaan, pengelolaan sampai dengan pengawasan.
SIG sangat membantu memecahkan permasalahan yang menyangkut luasan
(polygon), batas (line atau Arc) dan lokasi (point). Data spasial (peta) yang umum
digunakan di bidang kehutanan, sebagai berikut:
1.

Peta Rencana Tata Ruang,

2.

Peta Tata Guna Hutan,

3.

Peta Rupa Bumi (kontur),

4.

Peta Jaringan Jalan,

5.

Peta Jaringan Sungai,

6.

Peta Tata Batas,

7.

Peta Batas Unit Pengelolaan Hutan,

8.

Peta Batas Administrasi Kehutanan,

9.

Peta Tanah,

10. Peta Iklim,
11. Peta Geologi,
12. Peta Vegetasi (turunan dari foto udara atau citra satelit),
13. Peta Potensi Sumberdaya Hutan (volume kayu, jenis, kelas umur, dsb).
Data spasial tersebut pada umumnya sangat terkait dengan data deskriptif
(tabular) yang diperlukan dalam melakukan analisis suatu permasalahan.
Mengingat kemampuan SIG yang cukup handal dalam menganalisis data spasial,
penggunaan SIG di bidang kehutanan berkembang sedemikian pesat.

21
 

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Lokasi dan Waktu Penelitian
Kegiatan penelitian ini dilaksanakan di petak tebang Q37 Rencana Kerja
Tahunan (RKT) 2011 IUPHHK-HA PT. Ratah Timber, Desa Mamahak Teboq,
Kecamatan Long Hubung, Kabupaten Kutai Barat, Kalimantan Timur (Gambar
2). Waktu penelitian dilakukan selama satu bulan dari bulan April 2011 sampai
dengan bulan Mei 2011.

Gambar 2 Peta lokasi penelitian petak Q37 blok tebangan RKT 2011 PT. Ratah
Timber.
3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah seperangkat komputer
dengan software Microsoft Excel untuk mengolah data serta ArcView GIS 3.2 dan
ArcGIS 9.3 untuk pemetaan hasil pengolahan data. Bahan yang digunakan dalam
penelitian ini adalah data sekunder Laporan Hasil Cruising (LHC) dari hasil
Inventarisasi Tegakan Sebelum Penebangan pada blok tebangan petak Q37

22
 

Rencana Kerja Tahunan (RKT) 2011 PT Ratah Timber, data curah hujan, data
pertumbuhan tegakan Petak Ukur Permanen (PUP) yang tidak diberi perlakuan
pada areal bekas tebangan blok RKT 2003 sebagai pembanding, peta areal kerja
pengusahaan hutan, peta areal kerja blok tebangan RKT 2011 PT Ratah Timber.
3.3. Metode Penelitian
Pada penelitian ini metode penelitian untuk menduga stok karbon
menggunakan persamaan allometrik biomassa yang disusun oleh Brown (1997)
yang diterapkan pada zona iklim lembab, sedangkan untuk membuat peta sebaran
pohon dan karbon menggunakan metode Sistem Informasi Geografis (SIG).
Tahap penelitian dimulai dari menentukan secara langsung petak tebang yang
akan diteliti, pengumpulan data, pengolahan data, analisis dan pemetaan. Petak
tebang yang dipilih dalam penelitian ini adalah petak Q37 blok tebangan Rencana
Kerja Tahunan (RKT) 2011.
Langkah awal dalam melaksanakan penelitian ini adalah memeriksa
kebenaran Laporan Hasil Cruising (LHC), mengambil beberapa pohon untuk
dihitung ulang dan dicocokkan dengan data yang terdapat pada LHC. Untuk lebih
jelasnya tahap penelitian disajikan pada Gambar 3.
Laporan Hasil Cruising (LHC):
1. Jenis pohon
2. Diameter (cm)
3. Tinggi bebas cabang (m)
4. Koordinat pohon (X,Y)

Pengecekan lapangan
(memeriksa kebenaran LHC)

Pengolahan dan
analisis data

Pemetaan

Peta sebaran
pohon

Peta sebaran
karbon

Gambar 3 Diagram alur penelitian.

23
 

3.3.1 Pengumpulan Data
3.3.1.1 Data Sekunder
Data sekunder yang di kumpulkan adalah berupa data potensi tegakan
sebelum dilakukannya kegiatan penebangan yang diperoleh dari Laporan Hasil
Cruising (LHC), data kondisi umum perusahaan, data curah hujan, data
pertumbuhan tegakan Petak Ukur Permanen (PUP), peta areal kerja pengusahaan
hutan, peta areal kerja blok tebangan Rencana Kerja Tahunan (RKT) 2011, daftar
nama pohon yang berada di kawasan IUPHHK PT. Ratah Timber.
3.3.2 Pengolahan Data
Pengelompokan data dan pengolahan data yang dilakukan dalam
penelitian ini, sebagai berikut:
1. Pengelompokan Jenis
Pengelompokan jenis dilakukan dengan mengelompokkan jenis ke dalam
kelompok Dipterocarpaceae dan kelompok jenis non Dipterocarpaceae.
2. Pengelompokan Diameter Pohon
Dalam penelitian ini, data dikelompokkan menjadi tiga kelas diameter sesuai
dengan sistem silvikultur TPTI, yaitu: kelompok pohon inti (diameter 20-49,9
cm), pohon lindung dan kelompok pohon layak tebang (diameter ≥ 50 cm).
3. Penghitungan Jumlah Pohon
Jumlah pohon dihitung untuk setiap kelompok jenis (Dipterocarpaceae dan non
Dipterocarpaceae) dan setiap kelompok kelas diameter pohon.
4. Penghitungan Persentase Jumlah Pohon
Persentase jumlah pohon dihitung dari perbandingan jumlah pohon setiap
kelompok jenis dan setiap kelompok kelas diameter pohon terhadap
keseluruhan jumlah total pohon dalam plot.
5. Pengelompokan Berdasarkan Kelompok Jumlah Pohon dan Persentase Jumlah
Pohon
Jumlah pohon masing-masing plot dikelompokkan menjadi beberapa kelas
sesuai sebaran jumlah pohon dan plot-plot yang termasuk dalam kelas jumlah
pohon tersebut kemudian dikelompokkan berdasarkan persentase jumlah
kelompok jenis pohonnya.
6. Pemetaan Sebaran Pohon dan Karbon Berdasarkan Kelompok Kondisi Tegakan

24
 

Sebaran pohon dan karbon sesuai pengelompokannya digambarkan ke dalam
peta agar secara spasial dapat menunjukkan sebaran pohon dan karbon plot
yang diamati.
3.3.2.1 Perhitungan Volume Tegakan
Perhitungan volume tegakan dilakukan untuk mengetahui besarnya potensi
volume tegakan yang terdapat pada plot penelitian sebelum dilakukannya kegiatan
pemanenan kayu dan juga untuk mengetahui seberapa besar volume pemanenan
yang dilakukan. Volume tegakan per hektar diperoleh dengan cara merata-ratakan
volume tegakan yang terdapat pada seluruh areal penelitian dan volume tegakan
tiap plot ditentukan melalui penjumlahan nilai volume pohon-pohon yang
ditemukan pada plot tersebut. Untuk menentukan volume pohon yang terdapat
pada plot penelitian dilakukan dengan menggunakan rumus:
V = ¼. π. D2. Hbc. f
Keterangan :
V = Volume pohon (m3)
D = Diameter pohon (m)
Hbc = Tinggi pohon bebas cabang (m)
π = Phi (3,14)
f
= Faktor angka bentuk (0,7)
3.3.2.2 Perhitungan Biomassa dan Karbon
Perhitungan biomassa yang dilakukan dalam penelitian ini menggunakan
persamaan allometrik biomassa yang disusun oleh Brown (1997) yang diterapkan
pada zona iklim lembab yaitu :
Y = exp [-2,134 + 2,530 x ln(D)]
Keterangan :
Y = Biomassa per pohon (Kg)
D = Diameter pohon setinggi dada (cm)
Kandungan karbon di hutan alam dapat dihitung dengan menggunakan
pendugaan biomassa hutan. Brown (1997) menyatakan bahwa umumnya 50% dari
biomassa hutan tersusun atas karbon sehingga dari hasil perhitungan biomassa
dapat dirubah ke dalam bentuk karbon (ton C/ha) yaitu dengan mengalikan nilai
biomassa dengan faktor konversi sebesar 0,5. Nilai pendugaan karbon secara
matematis dapat dirumuskan sebagai berikut:

25
 

Karbon (C) = B x 0,5
Keterangan :
C = Jumlah karbon (ton C/ha)
B = Biomassa (ton/ha)
Untuk memperhitungkan besarnya potensi simpanan karbon yang hilang
akibat kegiatan pemanenan kayu maka dapat diduga dari besarnya karbon yang
terdapat pada pohon yang di panen atau ditebang.
3.3.2.3 Pemetaan
Pembuatan peta sebaran pohon dan karbon pada penelitian ini
menggunakan metode Sistem Informasi Geografis (SIG). Data sekunder Laporan
Hasil Cruising yang di dalamnya terdapat data jenis pohon, diameter, tinggi bebas
cabang (Tbc), dan koordinat posisi pohon (X, Y). Dari data LHC tersebut
dilakukan analisis data untuk menghitung luas bidang dasar (Lbds), Volume
pohon, serta menghitung dugaan biomassa dan karbon dengan menggunakan
persamaan allometrik yang disusun oleh Brown (1997). Kemudian dari hasil
analisis tersebut dibuat rekapan data dalam bentuk tabel dengan menggabungakan
data attribut dari LHC dan data hasil analisis (Lbds, volume, biomassa, dan
karbon) dengan menggunakan Microsoft Excel. Setelah semua data digabungkan,
data disimpan dalam format file dBase IV (Dbf IV) atau tab delimited (txt). Untuk
lebih jelasnya tahapan pembutan peta sebaran pohon dan karbon disajikan pada
Gambar 4.

26
 

Data LHC:
- Jenis pohon
- Diameter (cm)
- Tbc (m)
- Koordinat posisi pohon
(X, Y)

Analisis Data:
- Lbds pohon (m2)
- Volume pohon (m3)
- Biomassa (ton/ha)
- Karbon (ton/ha)

Rekap data dalam
bentuk tabel

Analisis
SIG

Data posisi
pohon serta
attributnya

Joint tabel data LHC dan
hasil analisis data
(Microsoft Excel format
file Dbf IV atau txt)

Peta sebaran pohon

Analisis classify

Peta sebaran karbon

Gambar 4 Tahapan pembuatan peta sebaran pohon dan karbon.

27
 

BAB IV
KONDISI UMUM LOKASI PENELITIAN

4.1 Sejarah dan Perkembangan Perusahaan
PT. Ratah Timber merupakan salah satu perusahaan swasta nasional yang
memperoleh kepercayaan dari pemerintah untuk mengelola hutan dalam bentuk
Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu (IUPHHK) pada hutan alam
berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 359/Menhut-II/2009 tanggal
18 Juni 2009. Keputusan Menteri kehutanan tersebut merupakan izin
perpanjangan ke-2 (kedua) setelah sebelumnya mendapatkan izin perpanjangan
ke-1 (pertama) berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 95/KptsII/2000 tanggal 22 desember 2000. Adapun Keputusan Pemberian Hak
Pengusahaan Hutan untuk pertama kali diperoleh berdasarkan Keputusan Menteri
Pertanian No. 526/Kpts/Um/II/1970 tanggal 7 Nopember 1970 dengan luas areal ±
125.000 ha.
Berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor SK.359/MenhutII/2009, luas areal kerja IUPHHK PT. Ratah Timber adalah ± 93.425 ha, terletak
di Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur, jangka waktu IUPHHK
berlaku selama 45 tahun terhitung sejak tanggal 8 Nopember 2010 dan akan
berakhir pada tanggal 7 Nopember 2055.
Selama masa PT. Ratah Timber dari tahun 1970 – 2010, perusahaan sudah
memanfaatkan hasil hutan berupa kayu sebanyak 2.440.679 m³ seluas 84.323 ha.
Realisasi tebangan tiap sepuluh tahun disajikan pada Tabel 2.
Tabel 2 Realisasi tebangan PT. Ratah Timber
Tahun

Luas (ha)

Produksi (m³)

1970-1980

40.800

1.133.358

1981-1990

15.200

545.773

1991-2000

14.088

434.483

2000-2010

14.235

327.065

Jumlah

84.323

2.440.679

Sumber: Rencana Karya Tahunan 2010 PT. Ratah Timber

28
 

4.2 Letak dan Luas Perusahaan
Berdasarkan SK perpanjangan terakhir SK. 359/Menhut-II/2009 tanggal
18 Juni 2009 Luas areal IUPHHK PT. Ratah Timber adalah seluas ± 93.425 ha.
Secara geografis areal kerja IUPHHK PT. Ratah Timber terletak pada 114°55’ 115°30’ Bujur Timur dan 0°2’ LS - 0°15’ LU. Berdasarkan letak administrasi
pemerintahan, areal tersebut berada dalam wilayah Kecamatan Long Hubung dan
Kecamatan Laham, Kabupaten Kutai Barat, Provinsi Kalimantan Timur.
Berdasarkan wilayah pemangkuan hutan IUPHHK PT. Ratah Timber termasuk
dalam wilayah Bagian Kesatuan Pemangkuan Hutan (BKPH) Mamahak Besar,
Dinas Kehutanan Kabupaten Kutai Barat, Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan
Timur. Menurut pembagian wilayah Daerah Aliran Sungai (DAS), areal IUPHHK
PT. Ratah Timber berada dalam wilayah DAS Mahakam yang tersebar pada Sub
DAS Ratah. Adapun batas-batas areal kerja IUPHHK PT. Ratah Timber disajikan
pada Tabel 3 dan Gambar 5.
Tabel 3 Batas-batas pengusahaan hutan IUPHHK PT. Ratah Timber
No Lokasi
1

Utara

Berbatasan dengan
Areal penggunaan lain (APL) dan IUPHHK-HA PT.
Seroja Universum Narwastu

2

Timur

APL dan IUPHHK-HA PT. Kedap sayaaq

3

Selatan

Hutan negara (Non IUPHHK) dan Hutan lindung batu
buring ayok

4

Barat

Hutan negara (Non IUPHHK) dan IUPHHK Agro City
Kaltim

29
 

Gambar 5 Peta areal kerja Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu dalam
Hutan Alam PT. Ratah Timber.
Hasil super-imposse antara Peta Areal Kerja IUPHHK PT. Ratah Timber
dengan Peta Penunjukan Kawasan Hutan dan Perairan Provinsi Kalimantan Timur
menunjukkan bahwa PT. Ratah Timber termasuk dalam Hutan Produksi Tetap
(HP) dan Hutan Produksi Terbatas (HPT) seluas masing-masing Hutan Produksi
Tetap 73.420 ha dan Hutan Produksi Terbatas 20.005 ha (Tabel 4).
Tabel 4 Luas areal kerja IUPHHK PT. Ratah Timber berdasarkan fungsi hutan
No
1

Fungsi hutan
Hutan

Dokumen yang terkait

Pemetaan Penyebaran Pohon dan Stok Karbon dengan Menggunakan Sistem Informasi Geografis di PT. Ratah Timber Kalimantan Timur.