Campur Kode dalam Karangan Narasi Siswa Kelas VIII MTs (Madrasah Tsanawiyah) Manbaul Ulum Pondok Pesantren Asshiddiqiyah II Bartu Ceper, Tangerang

(1)

ASSHIDDIQIYAH II BATU CEPER, TANGERANG

Skripsi

Diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan untuk

Memenuhi Persyaratan Mendapat Gelar Sarjana Pendidikan

(S.Pd)

Disusun Oleh

Aufalina Husna

NIM 1112013000064

JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN (FITK)

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)

SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

2016


(2)

(3)

(4)

(5)

ii

Siswa Kelas VIII MTs (Madrasah Tsanawiyah) Manbaul Ulum Pondok Pesantren Asshiddiqiyah II Batu Ceper, Tangerang”. Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2016. Pembimbing: Dra. Mahmudah Fitriyah ZA, M.Pd.

Tujuan penelitian ini adalah untuk: mendeskripsikan fungsi campur kode dalam karangan narasi siswa kelas VIII Madrasah Tsanawiyah (MTs) Manbaul Ulum Pondok Pesantren Asshiddiqiyah II Batu Ceper, Tangerang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif deskriptif. Metode kualitatif deskriptif dipilih karena data penelitian ini berupa bahasa tulisan dengan teknik pengumpulan data berupa tugas dan catat. Kemudian, data yang memungkinkan terjadi campur kode digolongkan untuk menganalisis fungsi campur kode. Teknik triangulasi digunakan sebagai peningkatan pemahaman penelitian atas fungsi campur kode. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah karangan narasi siswa kelas VIII MTs (Madrasah Tsanawiyah) Manbaul Ulum Pondok Pesantren Asshiddiqiyah II Batu Ceper, Tangerang yang berjumlah 36 karangan.

Berdasarkan analisis data dari hasil penelitian menunjukkan terdapat fungsi campur kode, yaitu (1) melancarkan komunikasi dengan memudahkan penyampaian maksud yang akan disampaikan, (2) menunjukkan status keterpelajarannya, (3) kenyamanan berbahasa, (4) kebiasaan berbahasa, dan (5) keterbatasan pengetahuan berbahasa. Fungsi campur kode yang dominan dalam karangan narasi siswa yaitu, kenyamanan berbahasa sebanyak 93 data berupa ragam bahasa Indonesia cakapan dan ragam bahasa Arab.


(6)

iii

Department of Indonesian Language and Literature, Faculty of Science and Teaching of MT, State Islamic University Syarif Hidayatullah Jakarta, 2016. Supervisor: Dra. Mahmudah Fitriyah ZA, M.Pd.

The purpose of this study is to: describe the function of code-mixing in a narrative essay class VIII MTs Manbaul Ulum Islamic Boarding School Asshiddiqiyah II Batu Ceper, Tangerang. The method used in this research is descriptive qualitative method. Descriptive qualitative method selected for this study data in the form of a written language with data collection techniques such as tasks and notes. Then, the data that enables code-mixing occurs classified to analyze the functions of code-mixing. Triangulation technique is used as an improved understanding of the research on code-mixing functions. The data used in this study is a narrative essay class VIII MTs Manbaul Ulum Islamic Boarding School Asshiddiqiyah II Batu Ceper, Tangerang as 36 essays.

Based on data analysis of the results showed there were functions of code-mixing, namely (1) launched the communication by facilitating the delivery of intent to be delivered, (2) shows their educated status, (3) the comfort of speaking, (4) language habits, and (5) limitations knowledge of language. Function code-mixing dominant narrative essay students are comfortable speaking a total of 93 data is a wide variety of Indonesian and Arabic conversation.


(7)

iv

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji dan syukur hanya bagi Allah SWT karena berkat rahmat dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi ini dengan baik dan lancar. Sewalat dan salam semoga selalu tercurah pada junjungan Nabi Muhammad SAW, beserta keluarga, sahabat, dan para pengikutnya yang senantiasa mengikuti ajaran beliau hingga akhir zaman.

Skripsi berjudul “Campur Kode dalam Karangan Narasi Siswa Kelas VIII Madrasah Tsanawiyah (MTs) Manbaul Ulum Asshiddiqiyah II Batu Ceper, Tangerang”, disusun untuk memperoleh gelar Sarjana Pendidikan pada Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Dalam menyusun skripsi ini, tentunya penulis tidak terlepas dari bantuan berbagai pihak yang tanpa lelah memberikan dorongan baik moril maupun materiil. Dengan segala kerendahan hati, penulis ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya, kepada :

1. Prof. Dr. Ahmad Thib Raya, M.A. Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah

Keguruan Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta

2. Dr. Makyun Subuki, M.Hum. selaku Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa

dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

3. Dra. Mahmudah Fitriyah ZA, M.Pd. selaku dosen pembimbing skripsi

yang penuh keikhlasan dalam membimbing dan memotivasi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini dengan sebaik-baiknya.

4. Abah Kiai Nur Muhammad Iskandar, S.Q. beserta ustaz dan ustazah MTs

Manbaul Ulum Pondok Pesantren Asshiddiqiyah II Batu Ceper, Tangerang yang senantiasa memberikan izin penelitian di sekolah demi lancarnya pengerjaan skripsi.


(8)

v

5. Ayahanda Emzamil Djunaed dan Ibunda Nur Asnifah. Orang tua yang

selalu berjuang dan berdoa tanpa henti memberikan yang terbaik untuk putri bungsunya.

6. Mas Fida Zulfahmi dan Mas Khilfa Adib. Serta segenap keluarga di

Sunggingan, Kudus yang memberikan dukungan dorongan baik moril maupun materiil yang tak terhingga kepada penulis.

7. Sahabat dekat penulis yang selalu memberi semangat kepada penulis, Geri

Alpian.

8. Sahabat hati sejak MTs sampai detik ini, Syifa Dwi Mutiah, Halimatus

Sa’diyah, Neneng Sobibatu Rohmah, Siti Balqis Khairul Bariyah, Millatul Haq, dan Yuliana Dwi Handayani. Terima kasih atas suntikan semangat yang selalu diberikan kepada penulis.

9. Sahabat sejawat selama di Ciputat yang selalu mengobarkan api semangat

satu sama lain, Anis Rozanah, Bernika Liana, Haiza Hazrina, Hasna Puspita Sari, Sa’adah Abadiyah, Siti Sarah Ismiani dan Titih Sundari.

10.Teman-teman mahasiswa PBSI angkatan 2012 yang tidak dapat

disebutkan namanya satu persatu.

Penulis berharap semoga kebaikan, keikhlasan, dan ketulusan semua pihak yang telah membantu penulis dibalas oleh Allah SWT. Akhirnya penulis berharap semoga skripsi yang sekiranya jauh dari sempurna ini dapat memberikan manfaat bagi penulis khususnya dalam segi pembaca umumnya dalam dunia pendidikan.

Jakarta, 6 Oktober 2016 Penulis


(9)

vi

SURAT PERNYATAAN ... i

ABSTRAK ... ii

ABSTRACT ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR LAMPIRAN ... ix

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A.Latar Belakang Masalah ... 1

B.Identifikasi Masalah ... 5

C.Pembatasan Masalah ... 5

D.Perumusan Masalah ... 5

E. Tujuan Penelitian ... 6

F. Manfaat Penelitian ... 6

BAB II LANDASAN TEORI DAN PENELITIAN YANG RELEVAN ... 7

A.Teori Campur Kode ... 7

B.Teori Karangan ... 13

C.Teori Karangan Narasi ... 15

D.Penelitian yang Relevan ... 17

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 20

A. Tempat dan Waktu Penelitian ... 20

B. Metode Penelitian... 20

C. Subjek Penelitian ... 21


(10)

vii

A. Profil Madrasah ... 24

B. Penyajian Data ... 27

C. Analisis Data ... 40

BAB V PENUTUP ... 45

A. Simpulan ... 45

B. Saran ... 45

DAFTAR PUSTAKA ... 46 UJI REFERENSI


(11)

viii

4.1 Ragam Cakapan ... 29

4.2 Ragam Bahasa Inggris ... 29

4.3 Ragam Bahasa Arab ... 30

4.4 Fungsi Campur Kode dengan Ragam Cakapan ... 30

4.5 Fungsi Campur Kode dengan Ragam Bahasa Inggris ... 30


(12)

ix

Lampiran 2 : Karangan Narasi Muhammad Bintang “Kegiatan Pondokku”

Lampiran 3 : Karangan Narasi Fadhil Umam A. “Dakwah Keliling”

Lampiran 4 : Karangan Narasi Rama Saputra “Kegiatanku”

Lampiran 5 : Karangan Narasi Rafli Erlangga “Kenanganku”

Lampiran 6 : Karangan Narasi Rafly Ali Ramly “Liburan Semester Ganjil”

Lampiran 7 : Karangan Narasi Pandu Sukma Fahrizal “Kegiatan di Pondok”

Lampiran 8 : Karangan Narasi Farhan Suhail Al Fikri “Kegiatanku Sehari-hari

di Pondok”

Lampiran 9 : Karangan Narasi Rosidin “Kegiatan Santri”

Lampiran 10 : Karangan Narasi Muhammad Aziz A. “Kegiatan di Pesantrenku” Lampiran 11 : Karangan Narasi Ismail Nur Rahman “Kegiatan di Pondok” Lampiran 12 : Karangan Narasi Muhammad Fahri Hasan “Kegiatan Setiap hari

di Pondok”

Lampiran 13 : Karangan Narasi Faliqul Isbah “Kegiatan ku”

Lampiran 14 : Karangan Narasi Mohammad Ali Jalu Mampang “Liburan di Rumah Kakek di Pekalongan”

Lampiran 15 : Karangan Narasi Muhammad Rizki Fauzi “Penuh Sejuta Cerita” Lampiran 16 : Karangan Narasi M. Ikfi H. “Kegiatan di Pondok”

Lampiran 17 : Karangan Narasi Adin “Kegiatan Sehari-hari”

Lampiran 18 : Karangan Narasi Muhammad Yogi “Kegiatanku di Pondok” Lampiran 19 : Karangan Narasi Dea Amalia Haris “Pengalaman Kegiatan”


(13)

x

Lampiran 22 : Karangan Narasi Febby Teddyana “Liburan Tahun Baru” Lampiran 23 : Karangan Narasi Tuhfa Nur Hadianti “Pengalaman Study Tour” Lampiran 24 : Karangan Narasi Nisa Atiyah Ulfah “Kegiatan Sehari-hariku di

Pesantren”

Lampiran 25 : Karangan Narasi Dhiyaa Apprilia “Aktivitas di Pondok” Lampiran 26 : Karangan Narasi Elsa Permata Juliana “Pengalaman Haflah” Lampiran 27 : Karangan Narasi Nisrinaa Bias P. “Liburan Tahun Baru 2015” Lampiran 28 : Karangan Narasi Tracy Yusanna “Pengalaman dan Kegiatanku di

Pondok”

Lampiran 29 : Karangan Narasi Sherly Nur Sabrina “Pengalamanku Pertama Masuk Pondok Pesantren”

Lampiran 30 : Karangan Narasi Chusnul Azizah “Hari Ulang Tahun” Lampiran 31 : Karangan Narasi Rachmah Wulan S “Study Tour”

Lampiran 32 : Karangan Narasi Annisa Nabila Fatimah “Liburan Tahun Baru” Lampiran 33 : Karangan Narasi Artanti Rihab “Liburan Kenaikan Kelas” Lampiran 34 : Karangan Narasi Khoirunnisa “Aktivitasku Hari Ini” Lampiran 35 : Karangan Narasi Ananda Shabila “Kegiatan di Pondok” Lampiran 36 : Karangan Narasi Ardita Hidayah “Study Tour”


(14)

1

A.

Latar Belakang Masalah

Bahasa merupakan ciri pembeda manusia yang paling utama sebagai makhluk hidup. Melalui bahasa, manusia bisa berinteraksi dengan manusia lainnya baik secara lisan maupun tulisan. Untuk menciptakan sebuah interaksi yang efektif, tidak dalam kemampuan berbicara saja. Ketika seorang komunikan menyampaikan ide atau gagasan pikirannya dengan baik dan benar, respoden dapat menerima dengan baik pesan yang telah didapatkannya. Kemampuan menulis pun dapat menciptakan hal yang sama. Saat sebuah tulisan mengandung tulisan baik dan benar, maka pembaca pun akan mudah mendapatkan informasi yang ingin disampaikan oleh penulisnya. Maka dari itu, agar ide atau gagasan pikiran dapat diterima dengan dengan baik, seorang penutur atau penulis perlu berbahasa yang baik dan benar.

Era globalisasi yang sedang berjalan membuat perkembangan bahasa pada komunikasi menjadi sangat cepat. Menuntut sebuah jarak bukan menjadi suatu hambatan untuk mendapatkan informasi dari berbagai penjuru dunia. Sebagian besar bahasa yang ada di dunia pasti dipengaruhi oleh bahasa lainnya, tidak terkecuali bahasa Indonesia. Indonesia merupakan negara dengan penduduk yang memiliki kemampuan berbahasa lebih dari satu bahasa, multilingual. Di tiap-tiap provinsinya memiliki ragam bahasa yang berbeda. Oleh karena itu tidak selamanya bahasa Indonesia menjadi bahasa pertama yang dipelajari oleh masyarakat Indonesia. Adakalanya bahasa Indonesia menjadi bahasa ajar bagi masyarakat Indonesia.

Pelajaran bahasa asing menjadi suatu langkah awal yang baik untuk dapat berkomunikasi dengan orang lain, guna menghadapi tantangan


(15)

globalisasi. Bila hanya mengetahui bahasa asing saja tanpa menguasainya, belum cukup untuk memenuhi kebutuhan globalisasi dalam komunikasi sehari-hari. Seiring dengan kemajuan peradaban manusia dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, dan informasi, manusia secara tidak langsung dituntut untuk dapat berkomunikasi dengan bahasa asing agar mereka menjadi lebih leluasa dalam menjalin komunikasi dengan orang lain yang berasal dari bangsa yang berbeda dengan dirinya. Juga menghadirkan pemahaman yang baik antar pribadi, kelompok, dan antar bangsa.

Ada beberapa cara yang dilakukan untuk mempelajari bahasa asing, yaitu melalui pendidikan formal maupun non formal. Di Indonesia sudah banyak instansi pendidikan yang dikelola oleh pemerintah maupun swasta yang menerapkan sekolah bilingual bahkan multilingual sekaligus. Sekolah yang menerapkan hal tersebut, mewajibkan seluruh warga sekolah untuk menggunakan bahasa asing di dalam lingkungan sekolah. Tidak hanya warga sekolah saja yang menggunakan bahasa asing, seperangkat elemen sekolah pun memiliki petunjuk yang ditulis dengan bahasa asing.

Dalam praktiknya, MTs Mabaul Ulum Pondok Pesantren Asshidiqiyah II Batu Ceper, Tangerang yang terletak di pinggir kota Jakarta merupakan instansi pendidikan yang mengintegrasikan bahasa asing, bahasa Arab dan Inggris sebagai bahasa percakapan sehari-hari, baik di luar maupun di dalam asrama. Keefektifan bahasa asing bukan hanya dilihat dari sisi lingkungannya saja, tetapi waktu penerapannya juga sangat penting. Pembelajaran bahasa secara formal dilakukan pada kegiatan belajar-mengajar di kelas, seperti mata pelajaran bahasa Arab dan bahasa Inggris. Kemudian secara informal lembaga Madiniyah memiliki program pembelajaran yang sangat membantu kelancaran masyarakatnya dalam belajar bahasa asing, seperti belajar kitab kuning dan kelas bahasa. Lalu program bahasa yang ditangani oleh OSPA, satu


(16)

bulan bebas berbahasa Indonesia. Program khusus ini dibuat bagi para siswa baru untuk belajar bahasa asing. Pada bulan berikutnya mereka harus mengikuti peraturan, wajib berbicara bahasa asing di keseharian mereka. Apabila salah seorang dari mereka melanggar, akan dikenakan sanksi. Sanksi yang didapatkan bersifat mendidik agar lebih disiplin dalam berbahasa.

Dengan demikian, institusi pendidikan seperti MTs Manbaul Ulum juga dapat dianggap tidak hanya menanamkan nilai-nilai keagamaan sebagai pedoman hidup. Tetapi menjadi sebuah lembaga yang paling efektif dalam meningkatkan kemampuan bahasa asing, seperti bahasa Arab dan bahasa Inggris. Bahasa Arab adalah bahasa yang terdapat dalam pedoman hidup umat Islam, yaitu Al-Qur’an. Secara tidak langsung, tujuan mempelajari dan menguasai bahasa Arab, adalah untuk mengkaji Al-Qur’an. Lain halnya dalam bahasa Inggris yang merupakan bahasa internasional. Pada zaman modern sekarang, mempelajari bahasa Inggris merupakan hal yang penting agar dapat bersaing di masa depan. Menurut Fishman dalam Holmes, “Area penggunaan bahasa melibatkan terjadinya interaksi khusus antarmitra tutur dalam aturan

yang khusus” (A domain involves typical interactions between typical

participants in typical settings).1 Kebijakan untuk mewajibkan masyarakatnya menggunakan bahasa pengantar di pesantren dan kondisi masyarakat yang multilinguistik, menimbulkan fenomena pergeseran penggunaan bahasa Indonesia pada praktik berbicara maupun menulis dalam bahasa Indonesia. Penggunaan kosakata bahasa Arab dan bahasa Inggris yang didapatkan lebih sering dipakai daripada kosakata bahasa Indonesia.

Hal ini berdampak pada dewasa ini, praktik pembelajaran bahasa Indonesia untuk mengalami pergeseran terutama dalam minat

1

Janet Holmes, An Introduction to Sosiolinguistics. (London and New York: Longman, 2008), h. 21


(17)

belajarnya. Munculnya anggapan dari para siswa, pembelajaran bahasa Indonesia merupakan suatu perkara yang mudah, dan sebagai warga Indonesia tidak perlu lagi mengkaji bahasa Indonesia. Pola pikir dan sikap seperti ini telah mempengaruhi siswa untuk mencintai bahasa Indonesia. Faktor keseharian penggunaan bahasa asing, serta hubungan dari keterampilan berbahasa, menjadi salah satu alat untuk mengetahui kemampuan siswa kelas VIII MTs Manbaul Ulum Pondok Pesantren Asshidddiqiyah untuk dapat menulis dalam bahasa Indonesia. Siswa kelas VIII merupakan siswa yang menjalani satu tahun program disiplin bahasa.

Persentuhan antar bahasa dapat mengakibatkan pergantian penggunaan bahasa oleh penutur dalam konteks sosial atau biasa disebut kontak bahasa. Proses kontak bahasa terjadi pada lingkungan dan masyarakat bilingual/multilingual. Lingkungan dan masyarakat MTs Manbaul Ulum Pondok Pesantren Asshiddiqiyah yang berasal dari berbagai daerah merupakan salah satu wadah kontak bahasa. Ditambah dengan kewajiban berbahasa dalam percakapan sehari-hari memiliki pengaruh yang besar dengan memasukkan unsur-unsur bahasa lain atau serpihan-serpihan bahasa asing yang disebut campur kode. Tidak hanya ke dalam tuturan bahasa Indonesia mereka saja, tetapi ke dalam karangan bahasa Indonesia.

Kegiatan padat para siswa baik di luar maupun di dalam asrama menjadikan mereka kurang mengembangkan ide-idenya. Keterampilan menulis menjadi hal yang sangat layak dilakukan oleh mereka untuk mengungkapkan gagasan sebagai penggali ide yang mereka miliki. Menulis karangan narasi juga membantu kemampuan menulis dengan teknik bercerita yang memiliki tujuan untuk menggali ide si penulis agar dapat menulis dengan eksploratif.

Oleh karena itu, peneliti tertarik untuk meneliti CAMPUR KODE DALAM KARANGAN NARASI SISWA KELAS VIII MADRASAH


(18)

TSANAWIYAH (MTs) MANBAUL ULUM PONDOK PESANTREN ASSHIDDIQIYAH II BATU CEPER, TANGERANG.

B.

Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, maka identifikasi masalah dalam penelitian ini sebagai berikut

1. Rendahnya penguasaan bahasa Indonesia di kalangan siswa

karena pengaruh bahasa asing dalam kemampuan berbahasa Indonesia.

2. Peraturan atau sanksi bahasa tidak dikenakan pada bahasa

Indonesia.

3. Pemakaian bahasa asing sehari-hari menyebabkan sering terjadi

adanya campur kode.

4. Ditemukan penggunaan bahasa asing dalam karangan narasi

siswa.

C.

Pembatasan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah di atas, maka kajian dalam penelitian ini hanya mencakup analisis fungsi campur kode dalam karangan narasi siswa kelas VIII Madrasah Tsanawiyah (MTs) Manbaul Ulum Pondok Pesantren Asshiddiqiyah II Batu Ceper, Tangerang.

D.

Rumusan Masalah

Berdasarkan pembatasan masalah di atas, maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah, bagaimana fungsi campur kode dalam karangan narasi siswa kelas VIII Madrasah Tsanawiyah (MTs) Manbaul Ulum Pondok Pesantren Asshiddiqiyah II Batu Ceper, Tangerang?


(19)

E.

Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui fungsi campur kode dalam karangan narasi siswa kelas VIII Madrasah Tsanawiyah (MTs) Manbaul Ulum Pondok Pesantren Asshiddiqiyah II Batu Ceper, Tangerang.

F.

Manfaat Penelitian

Adapun manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah:

1. Manfaat Teoretis

Penelitian ini bermanfaat untuk peneliti, sebagaimana peneliti memperoleh ilmu baru. Penelitian ini diharapan dapat menambah wawasan mengenai pengaruh bahasa asing terhadap perkembangan pembelajaran bahasa Indonesia yang berdampak pada terjadinya campur kode. Serta memperluas pengetahuan kajian Sosiolinguistik pada umumnya dan campur kode pada khususnya, terutama untuk calon guru Bahasa dan Sastra Indonesia UIN Syarif Hidayatullah.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi guru, penelitian ini dapat menambah wawasan mengenai

hal-hal yang berkaitan dengan campur kode dan meningkatan kualitas pengajaran serta pembelajaran mengarang bahasa Indonesia khususnya di sekolah.

b. Bagi peneliti lain, penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan

referensi penelitian lebih lanjut yang berhubungan dengan campur kode.


(20)

7

A.

Teori Campur Kode

Sebelum menelaah lebih dalam mengenai campur kode atau biasa

dalam bahasa Inggris disebut code mixing, terlebih dahulu perlu

mengetahui istilah kode. Peristiwa campur kode terjadi tidak dapat terlepas dari hakikat manusia sebagai makhluk sosial yang saling berkomunikasi. Melalui proses komunikasi antar manusia, hadirlah kontak bahasa yang kemudian melahirkan variasi-variasi bahasa. Menurut Suwito, “Alat komunikasi yang merupakan varian dari bahasa dikenal dengan istilah

kode”.1 Mansoer menyatakan, “Seorang yang melakukan pembicaraan

sebenarnya mengirimkan kode-kode kepada lawan bicaranya”.2 Dapat

disimpulkan bahwa kode merupakan variasi bahasa yang khusus digunakan oleh suatu masyarakat tutur sebagai alat untuk membangun suatu kelancaran komunikasi.

Campur kode adalah suatu gejala yang tidak mungkin dihindarkan

oleh para pembelajar bahasa kedua.3 Menurut Kachru dalam Pranowo,

“Campur kode ini merupakan fenomena pemakaian dua bahasa atau lebih dengan saling memasukkan unsur-unsur bahasa yang satu ke dalam bahasa

lain secara konsisten”.4 Seseorang yang sedang dalam proses belajar dan

menguasai bahasa kedua, akan menghasilkan suatu hal yang dinamakan bahasa antara. Ketika menggunakan bahasa ibu (B1) mereka akan menyampurkan bahasa kedua yang telah diketahui dan dimiliki. Kemudian digunakan secara berkesinambungan sebagai salah satu praktik untuk

1

Suwito, Sosiolinguistik Pengantar Awal. (Surakarta: Henary Offset Solo, 1985), h. 67

2

Mansoer Pateda, Sosiolinguistik. (Bandung: Angkasa, 1987), h. 83

3

Pranowo, Teori Belajar Bahasa Untuk Guru Bahasa Dan Mahasiswa Jurusan Bahasa.

(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2014), h. 110

4 Ibid


(21)

mencapai penguasaan bahasa kedua. Hal ini yang membuat terjadinya gejala campur kode.

Ohoiwutun mengemukakan pernyataan mengenai campur kode sebagai berikut:

“Di antara sesama penutur yang bilingual atau multilingual, sering dijumpai suatu gejala yang dapat dipandang sebagai suatu kekacauan atau interferensi berbahasa (performance interference). Fenomena ini berbentuk penggunaan unsur-unsur dari suatu bahasa tertentu dalam satu kalimat atau wacana bahasa lain. Kita namai gejala ini campur

kode (code mixing)”.5

Berdasarkan pendapat di atas, dalam dialek masyarakat tutur yang memiliki kemampuan dua bahasa atau lebih dapat ditemukan perubahan sistem bahasa yang dianggap menyalahi kaidah gramatika bahasa itu sendiri. Contohnya, terselipnya kosakata bahasa Inggris di dalam percakapan yang menggunakan bahasa Arab. Menurut Weinreich dalam

Ohoiwutun, “Menamai campur kode ini sebagai mix grammar”.6

Berdasarkan pendapat Weinreich, campur kode merupakan percampuran tata bahasa dari suatu bahasa ke bahasa lainnya.

Terkait contoh campur kode lainnya menurut Aslinda dan Leni, “Campur kode terjadi apabila seorang penutur bahasa, misalnya bahasa Indonesia memasukkan unsur-unsur bahasa daerahnya ke dalam

pembicaraan bahasa Indonesia”.7 Seseorang yang berkemampuan

memasukkan unsur-unsur bahasa satu ke bahasa lainnya, dapat dipastikan merupakan seorang bilingual. Indonesia menjadi contoh negara yang memiliki masyarakat multilingual. Karena Indonesia memiliki banyak ragam bahasa, sebagian besar masyarakatnya dapat menguasai bahasa ibu yang berupa bahasa daerah. Kemudian bahasa Indonesia yang merupakan bahasa nasional, menjadi bahasa kedua. Atau sebaliknya. Hal ini

5

Paul Ohoiwutun. Sosiolinguistik memahami bahasa dalam konteks masyarakat dan kebudayaan. (Jakarta: Kesaint Blanc, 1997), h. 69

6

Ibid, h.70

7

Aslinda dan Leni Syafyahya, Pengantar Soiolinguistik. (Bandung: PT Refika Aditama, 2014), h. 87


(22)

memungkinkan terjadinya campur kode di kalangan masyarakatnya dengan menyisipkan istilah-istilah dari bahasa daerah ketika berbicara dengan situasi informal.

Menurut Suwito,

“Ciri lain dari gejala campur kode ialah bahwa unsur-unsur bahasa atau variasi-variasinya yang menyisip di dalam bahasa lain tidak lagi mempunyai fungsi tersendiri. Unsur-unsur itu telah menyatu dengan bahasa yang disisipinya dan secara keseluruhan hanya mendukung satu fungsi”.8

Sikap penutur bahasa yang mulai tidak memperhatikan terlebih dahulu bagaimana latar belakang mitra tuturnya, serta rasa gengsi penutur untuk menunjukkan keahlian berbahasanya, sangat memungkinkan terjadinya campur kode. Kemudian, bergesernya fungsi suatu bahasa karena penyisipan unsur bahasa lain yang pada awalnya dilakukan secara coba-coba. Setelah terjadi interaksi dan mendapat respon dari masyarakat tutur, unsur bahasa lain tersebut akan digunakan secara kontinu yang berdampak pada hilangnya fungsi asli bahasa sebenarnya

Menurut Nababan, “Pemilihan atau penggunaan bahasa dan ragam bahasa yang hanya ditentukan oleh kebiasaan atau enaknya perasaan atau

mudahnya pengungkapan seseorang pengguna bahasa kita sebut campur

kode”.9 Campur kode terjadi ketika ujaran yang berasal dari pemilihan

ragam bahasa digunakan oleh penutur, atas dasar kenyamanan dalam berbicara. Suwito menyatakan, “Demikianlah maka campur kode itu

terjadi karena adanya hubungan timbal balik antara peranan (penutur),

bentuk bahasa, dan fungsi bahasa”.10

Nababan mengemukakan mengenai campur kode, yaitu:

“Suatu keadaan berbahasa lainnya ialah bilamana orang mencampur dua (atau lebih) bahasa atau ragam bahasa dalam suatu tindak bahasa

8

Suwito, op. Cit, h.75

9

P.W.J. Nababan, PELLBA 2 Pertemuan Linguistik Lembaga Bahasa Atma Jaya: Kedua.

(Yogyakarta: Penerbit Kanisius, 1989), h. 194

10


(23)

(speech act atau discourse) tanpa ada sesuatu dalam situasi berbahasa itu yang menuntut pencampuran bahasa itu. Dalam keadaan demikian, hanya kesantaian penutur dan/atau kebiasaannya yang dituruti. Tindak

bahasa yang demikian kita sebut campur kode”.11

Hal yang sama juga dinyatakan oleh Gumperz dalam Jendra terkait faktor situasi yang memungkinkan terjadinya campur kode, “Kedua, pembicara dwi bahasa dikatakan mencampur kode (tapi tidak beralih dari satu ke yang lain) ketika tidak ada topik yang berubah, juga tidak ada

perubahan dalam situasi”. (Second, bilingual speakers are said to mix

codes (but not switch from one to other) when there is no topic that changes, nor does the situation). 12.

Menurut Subyakto dalam Suwandi, “Campur kode ialah penggunaan dua bahasa atau lebih atau ragam bahasa secara santai anara orang-orang yang kita kenal dengan akrab. Dalam situasi berbahasa yang informal ini, kita dapat dengan bebas mencampur kode (bahasa atau ragam bahasa) kita; khususnya apabila ada istilah-istilah yang tidak dapat diungkapkan dalam

bahasa lain”.13

Berdasarkan pendapat para ahli di atas, suatu tindak bahasa dapat dikatakan campur kode yakni ketika seorang dwibahasawan menggunakan pengetahuan bahasa yang ia miliki ke dalam ujarannya secara spontan, tanpa memikirkan situasi yang sedang terjadi.

Adapun terjadinya campur kode dilatarbelakangi oleh beberapa hal sebagai berikut:

1. Campur kode yang sering ditemukan yaitu dipakai saat penutur berada

dalam situasi yang santai atau informal. Campur kode digunakan untuk melancarkan jalannya komunikasi dua arah. Bila campur kode ditemukan di situasi resmi atau formal, karena keterbatasan kosakata

11

P.W.J. Nababan, Sosiolinguistik: Suatu Pengantar. (Jakarta: PT Gramedia, 1984), h. 32

12

Made Iwan Indrawan Jendra, Sosiolinguistics The Study of Societies’ Languanges. (Yogyakarta: Graha Ilmu, 2010), h. 79

13

Sarwiji Suwandi, Sebalinguistik Mengupas Pelbagai Praktik Berbahasa. (Surakarta: UNS Press, 2008), h. 87


(24)

bahasa yang digunakan. Sehingga, perlu menggunakan bahasa lain agar maksudnya tersampaikan. Dalam hal ini, Nababan menyatakan,

“Ciri yang menonjol dalam campur kode ini ialah kesantaian atau situasi informal. Dalam situasi berbahasa yang formal, jarang terdapat campur kode. Kalau terdapat campur kode dalam keadaan demikian, itu disebabkan karena tidak ada ungkapan yang tepat dalam bahasa yang sedang dipakai itu, sehingga perlu memakai kata atau ungkapan dari bahasa asing; dalam bahasa tulisan, hal ini kita nyatakan dengan mencetak miring atau menggarisbahawahi

kata/ungkapan bahasa asing yang bersangkutan”.14

Menurut Suwito, “Latar belakang terjadinya campur kode pada dasarnya dapat dikategorikan menjadi dua tipe yaitu: tipe yang berlatar

belakang pada sikap (attitudinal type) dan tipe yang berlatar belakang

kebahasaan (linguistic type)”.15 Yang dimaksud dengan tipe sikap yaitu, penutur mengetahui siapa mitra tuturnya dan bagaimana situasi berbahasa (formal atau informal) yang sedang dilakukan.

2. Latar belakang lainnya seseorang melakukan campur kode karena si

penutur ingin menunjukkan kelas sosialnya. Pranowo menyatakan: “Ciri-ciri khusus adanya campur kode antara lain adanya ketergantungan yang landai adanya hubungan timbal-balik antara peranan (siapa yang memakai) dan fungsi (apa yang hendak dicapai oleh pembicara melalui ujaran) bahasa. Ciri lain adanya campur kode adalah adanya unsur-unsur bahasa atau variasi bahasa yang satu menyicip di dalam bahasa lain dengan tidak lagi memiliki fungsi sendiri. Unsur itu telah menyatu dalam bahasa yang disisipi dan telah kehilangan fungsi aslinya yang secara keseluruhan hablur dan mendukung makna bahasa yang

disisipinya”.16

Suwito juga menyatakan pendapat yang sama terkait hal yang telah disebutkan, yaitu ada tipe yang belatar belakang atas kebahasaan,

adalah penutur yang memiliki pengetahuan lebih dari satu bahasa.17

menurut Nababan, campur kode bisa terjadi bila pembicara ingin

14

Nababan, op.Cit. 15

Suwito, op. Cit., h.77

16

Pranowo, op. Cit. 17


(25)

memamerkan keterpelajarannya atau kedudukannya.18 Penutur ini

biasanya tergolong seorang yang dwibahasawan bahkan

multibahasawan. Dengan adanya latar belakang ini, mendorong seseorang untuk bisa menunjukkan kemampuannya dalam banyak bahasa.

3. Adapun Ohoiwutun juga menyatakan hal lainnya yang

melatarbelakangi terjadinya campur kode, yaitu pemenuhan kebutuhan

mendesak (need filling motive) dan adanya motif prestise (prestige

fillingmotive).19 Pemenuhan kebutuhan mendesak (need filling motive) misalnya, kurangnya kosakata suatu bahasa sehingga mengadopsi bahasa lain untuk mewakili maksud yang dituju. Hal ini biasanya banyak ditemukan dalam istilah teknologi. Contoh peminjaman bahasa asing dalam bidang teknologi yang dinyatakan oleh Jendra:

“Seorang pembicara dwibahasawan keturunan Indonesia meminjam kata bahasa Inggris.

Contoh: Saya lihat tadi hand phonemu di meja”.

(An Indonesian bilingual borrows English word. e.g. Saya lihat tadi hand phonemu di meja).20

Dengan demikian, campur kode merupakan suatu gejala bahasa yang dapat ditemukan pada seorang dwibahasawan bahkan multibahasawan, dengan menyisipkan serpihan-serpihan bahasa satu ke dalam bahasa lainnya. Penyisipan dilakukan karena berfungsi untuk:

1. Melancarkan komunikasi dengan memudahkan penyampaian maksud yang akan disampaikan,

18

Nababan, op.Cit. 19

Ohoiwutun, op. Cit., h.71

20


(26)

2. Sikap kegengsian, kebutuhan akan pengakuan sosial dalam menunjukkan status keterpelajarannya, dan

3. Adanya keterbatasan kosakata dalam suatu bahasa.

B.

Karangan

Menulis karangan merupakan bagian dari kegiatan untuk melatih salah satu kemampuan berbahasa yang diajarkan di sekolah. Menurut Danim, “Karangan atau esai adalah sebuah komposisi prosa singkat yang mengekpresikan opini penulis tentang fenomena, gejala, atau subjek tertentu. Karangan juga bermakna curahan berpikir seseorang mengenai fenomena, gejala, atau subyek tertentu yang dituangkan dalam bentuk

tulisan”.21 Karangan merupakan tulisan yang menceritakan suatu ide atau

pemikiran yang dimiliki oleh penulis yang bersifat ekspresif.

Gie menyatakan batasan karangan yaitu, “Karangan adalah hasil perwujudan gagasan seseorang dalam bahasa tulis yang dapat dibaca dan

dimengerti oleh masyarakat pembaca”.22 Menurut Lado dalam Wibowo

terkait batasan karangan “Mengarang adalah menurunkan atau melukiskan lambang-lambang grafik yang menggambarkan suatu bahasa yang dipahami oleh seseorang, sehingga orang lain dapat membaca lambang-lambang grafik tersebut, asalkan mereka memahami bahasa dan gambaran

grafik itu”.23 Dengan demikian, karangan tidak hanya menitikberatkan

pada gagasan penulis yang diwujudkan menjadi tulisan saja. Tetapi, ide juga bisa diekspresikan ke dalam semua bentuk seperti berupa grafik. Agar gagasan atau ide penulis dapat tersampaikan, karangan perlu dibuat dengan menggunakan penyampaian yang teratur. Misalnya karangan

21

Sudarwan Danim, Karya Tulis Inovatif. (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2013), h. 40

22

The Liang Gie, Terampil Menulis. (Yogyakarta: ANDI OFFSET,2002), h.3

23

Wahyu Wibowo, Manajeman Bahasa Pengorganiasasian Karangan Pragmatik dalam Bahasa Indonesia untuk Mahasiswa dan Praktisi Bisnis. (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2001), h. 56


(27)

berupa tulisan harus menggunakan tata bahasa yang baik dan benar. Sehingga, karangan tersebut bisa dinikmati oleh pembacanya.

Widagdho membagi karangan menjadi empat jenis,

“Ada karangan yang nadanya bercerita, entah faktual atau cuma fiksi belaka. Ada karangan yang melukiskan sesuatu hal sedemikian rupa sampai pembaca hanyut oleh pelukan pengarangnya. Ada karangan yang memberikan keterangan terhadap sesuatu hal, atau mengembangkan sebuah gagasan sehingga menjadi konkret. Dan ada

karangan yang berusaha meyakinkan pembaca agar sependapat”.24

Jenis karangan ada empat, yaitu (1) Narasi, karangan yang bersifat menceritakan, (2) Deskripsi, karangan yang bersifat melukiskan, (3) Eksposisi, karangan yang bersifat memaparkan, dan (4) Argumentasi, karangan yang bersifat mempengaruhi. Sesuai dengan jenis-jenisnya, karangan juga memiliki tujuan dalam pembuatannya. Menurut Hugo dalam Wibowo, tujuan karang-mengarang yaitu (a) Tujuan penugasan (assignment purpose), (b) Tujuan altrustik (altrustic purpose), (c) Tujuan

persuasif (persuasive purpose), (d) Tujuan penerangan (informational

purpose), (e) Tujuan pernyataan diri (self expressive purpose), (f) Tujuan

kreatif (creative purpose), dan (g) Tujuan pemecahan masalah (

problem-solving purpose).25 Menulis karangan karena penugasan, contohnya terjadi pada siswa di sekolah karena menulis merupakan salah satu kegiatan pembelajaran di sekolah. Menulis karangan dengan tujuan menghibur pembaca, sering ditemukan di majalah dengan pembahasan mengenai artis. Menulis karangan dengan tujuan penerangan, dapat ditemukan di koran. Menulis karangan dengan tujuan pernyataan diri, yaitu menulis karangan untuk menunjukkan ke masyarakat akan bakat menulis yang dimiliki. Misalnya menulis puisi atau cerpen di majalah. Menulis dengan tujuan kreatif demi pencapaian nilai seni. Hal ini terjadi atas dorongan kreativitas yang lebih tinggi dibanding pernyataan diri. Seperti, menulis

24

Djoko Widagdho, Bahasa Indonesia Pengantar Kemahiran Berbahasa Di Perguruan Tinggi. (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 1994), h.105

25


(28)

novel. Yang terakhir karangan yang bertujuan sebagai pemecahan masalah demi menjelaskan, memaparkan jalan keluar dari sebuah permasalahan. Contohnya, menulis menulis skripsi, tesis, dan disertasi. Karangan dalam penelitian ini dibatasi dalam jenis karangan narasi, yaitu karangan yang sifatnya menceritakan sesuatu.

C.

Karangan Narasi

Hikmat dan Solihati mengemukakan, “Karangan narasi merupakan karangan yang menceritakan atau menyampaikan urutan peristiwa secara

kronologis”.26 Cerita mengenai terjadinya peristiwa demi peristiwa yang

terangkum dalam susunan sejumlah kejadian atau peristiwa. Widagdho menyatakan hal yang sama, “Karangan narasi adalah karangan yang menceritakan satu atau beberapa kejadian dan bagaimana berlangsungnya peristiwa-peristiwa tersebut. Rangkaian kejadian atau peristiwa ini

biasanya disusun menurut urutan waktu (secara kronologis)”.27

Rangkuman cerita tidak hanya tersusun atas beberapa kejadian saja, tetapi adanya urutan waktu menjadi hal yang penting di dalamnya.

Fitriyah dan Gani mengungkapkan hal yang lebih singkat, “Narasi

artinya cerita”.28 Sejalan dengan pendapat tersebut, Hikmat dan Solihati

menyatakan, “Kata narasi diambil dari bahasa Inggris naration yang

bermakna bercerita”.29 Dengan demikian, narasi adalah sebuah cerita yang

menceritakan tentang rangkaian sebuah kejadian yang dibalut dengan waktu terjadinya kejadian tersebut. Danim menyatakan hal yang lebih jelas mengenai karangan narasi, “Karangan naratif menggambarkan suatu ide dengan cara bertutur tertentu. Peristiwa yang diceritakan biasanya

26

Hikmat dan Solihati, op. Cit.

27

Widagdho, op. Cit., h.106

28

Mahmudah Fitriyah dan Ramlan Abdul Gani, Pembinaan Bahasa Indonesia. (Jakarta: UIN Jakarta Press, 2007), h.135

29

Ade Hikmat dan Nani Solihati, Bahasa Indonesia (untuk Mahasiswa S1 & Pascasarjana, Guru, Dosen, Praktisi, dan Umum). (Jakarta: PT Grasindo, 2013), h. 90


(29)

mengikuti alur sesuai urutan waktu”.30 Rangkaian cerita yang dijelaskan secara detail, dapat memudahkan pembaca ketika membacanya.

Vivian dalam Achmadi menyatakan bahwa tulisan naratif itu menuturkan cerita. Oleh karenanya, cerita yang tertulis berkaitan erat

dengan waktu dan perbuatan manusia.31 Gambaran kejadian yang

diceritakan oleh pengarang biasanya sangat dekat dengan hal-hal yang terjadi dalam kehidupan manusia. Baik cerita yang mengedepankan daya khayal pengarangnya, sehingga menjadi cerita fiksi seperti dongeng. Atau cerita yang mengutamakan logika (hal yang masuk akal) pengarangnya yang berupa cerita nonfiksi, misalnya biografi seorang pengusaha.

Kemudian Akhaidah dkk memaparkan,”Oleh sebab itu, unsur yang penting pada sebuah narasi adalah adalah unsur perbuatan dan tindakan.

Perbuatan dan tindakan ini terjadi dalam suatu rangkaian waktu”.32

Melalui cerita yang ditulis secara rinci mengenai perbuatan tokoh serta jalannya sebuah konflik yang terangkai oleh waktu. Pernyataan Keraf merangkum semua pendapat para ahli, “Narasi berusaha menjawab

pernyataan, Apa yang sedang terjadi?”.33

Keraf membagi karangan narasi menjadi dua, yaitu narasi ekspositoris dan narasi sugestif. “Narasi ekspositoris pertama-tama bertujuan untuk menggugah pikiran para pembaca untuk mengetahui apa yang dikisahkan.

Sasaran utamanya adalah rasio, yaitu berupa perluasan pengetahuan para

pembaca sesudah membaca kisah tersebut”.34 Dalam narasi ekspositoris,

pengarang menceritakan suatu proses peristiwa yang dilakukan oleh siapa saja, berdasarkan fakta dan menggunakan bahasa yang logis agar

30

Danim, op. Cit., h.44

31

Muchsin Achmadi, Materi Dasar Pengajaran Komposisi Bahasa Indonesia. (Jakarta: Depdikbud, 1988), h. 113

32

Akhaidah, dkk., Materi Pokok Menulis II. (Jakarta: Karunika Jakarta, 1986), h.1.2

33

Gorys Keraf, Argumentasi dan Narasi. (Jakarta: PT Gramedia, 1989), h.136

34 Ibid


(30)

mencapai sebuah rasionalitas. Contoh narasi ekspositoris yakni, biografi, autobiografi, cerita pengalaman.

Keraf juga menyatakan, “Tetapi tujuan atau sasaran utamanya bukan memperluas pengetahuan seseorang, tetapi berusaha memberi makna atas peristiwa atau kejadian itu sebagai suatu pengalaman. Karena sasarannya adalah makna peristiwa atau kejadian itu, maka narasi sugestif selalu

melibatkan daya khayal (imajinasi)”.35 Narasi sugestif bersifat fiksi.

Pengarang menggunakan bahasa yang figuratif untuk melukiskan sebuah cerita, agar pembaca dapat turut terlibat untuk berimajinasi ditiap rangkaian cerita. Contoh narasi sugestif adalah fabel, dongeng, hikayat, cerpen, dan novel.

Dapat disimpulkan bahwa, narasi adalah serangkaian cerita yang melibatkan tokoh, konflik, dan peristiwa sebagai unsur utama penggerak cerita. Narasi terbagi menjadi dua macam, narasi ekspositoris yang bersifat fakta atau nonfiksi. Dan narasi sugestif yang bersifat fiksi.

D.

Penelitian Relevan

Berikut ini beberapa penelitian relevan yang sekiranya berkaitan dengan penelitian yang dilakukan oleh penulis, di antaranya adalah:

1. Raisa Shahrestani, dengan judul “Campur Kode dalam Buku Kampus

Kabelnaya Karya Koesalah Soebagyo Toer”. Penelitian yang

diperoleh yaitu, tipe pembentukan campur kode dalam buku Kampus

Kabelnaya adalah dalam bentuk kalimat, bukan dalam makna dan juga tidak ada perubahan secara fonologis. Selain itu, campur kode

dalam buku ini adalah berupa kata, frasa, idiom, dan kalimat.36

2. Diduk Dwi Laksono, yang berjudul “Penggunaan Kata Tidak Baku

dan Campur Kode dalam Naskah Drama SMP Muhammadiyah 1 Surakarta Tahun Ajaran 2011/2012”. Dalam penelitian ini terdapat

35

Ibid, h.138

36

Raisa Shahrestani, Campur Kode Dalam Buku Kampus Kabelnaya Karya Koesalah Soebagyo Toer.(Skripsi Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Prodi Rusia, Universitas Indonesia, 2011), h.ix


(31)

beberapa kesimpulan, wujud penggunaan kata baku di karangan siswa SMP Muhammadiyah 1 Surakarta sangatlah sedikit dikarenakan kebiasan penutur menggunakan bahasa sehari-hari, terpengaruh

bahasa sms (Short Message Service) sehingga banyak kata yang

disingkat, kurangnya pemahaman akan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Intensitas campur kode paling tinggi dimulai dari campur kode ke dalam kata sifat 40%, kata benda 4%, kata kerja 3%, kata keterangan 1%, frasa verba 1%. Campur kode ke luar kata sifat 35%, frasa nomina 4%, frasa verba 2%, frasa adjektiva 2%, kata benda

1%.37

3. Rrr. Prilliana Budi Patmawati, dengan judul “Campur Kode dan Alih

Kode Pada Acara Show Imah di Trans Tv”. Penelitian ini

menunjukkan bahwa dalam acara Show Imah di Trans Tv terdapat

unsur-unsur linguistik dari bahasa Jawa, bahasa Inggris, bahasa Betawi, bahasa Sunda, dan bahasa Arab. Bentuk campur kode yang ditemukan yaitu, 1) kata (kata dasar, kata berimbuhan, dan kata ulang), 2) frase, 3) baster, 4) ungkapan atau idiom. Jenis alih kode yang ada yakni, 1) alih bahasa dan 2) alih variasi bahasa (alih dialek

dan alih ragam).38

4. Jayanti Puspita Dewi, yang berjudul “Campur Kode Pada Penggunaan

Bahasa Indonesia Dalam Karangan Narasi Siswa Kelas X MA (Madrasah Aliyah) Jabal Nur Cipondoh, Tangerang”. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan wujud campur kode berupa kata, frasa, klausa, kalimat, singkatan, dan istilah. Sementara itu, untuk campur

37

Diduk Dwi Laksono, Penggunaan Kata Tidak Baku dan Campur Kode dalam Naskah Drama SMP Muhammadiyah 1 Surakarta Tahun Ajaran 2011/2012. (Skripsi S1 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2012), h.xiv

38

Rrr. Prilliana Budi Patmawati, Campur Kode dan Alih Kode Pada Acara Show Imah di Trans Tv. (Skripsi S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan Ilmu Pendidikan Universitas Jember, 2013)


(32)

kode ke luar, yakni campur kode bahasa Indonesia dengan bahasa

Inggris dan bahasa Arab.39

Dengan demikian berdasarkan penelitian relevan di atas, peneliti mendapatkan penelitian yang hampir sama, yaitu penelitian Jayanti Puspita Dewi. Tetapi, subjek dan fokus penelitan berbeda dengan yang dikaji oleh peneliti. Subjek pada penelitian ini adalah siswa kelas VIII MTs Manbaul Ulum Asshiddiqiyah II Batu Ceper, Tangerang. Serta fokus penelitian ini adalah fungsi campur kode dalam karangan narasi siswa kelas VIII MTs Manbaul Ulum Asshiddiqiyah II Batu Ceper, Tangerang.

39

Jayanti Puspita Dewi, Campur Kode Pada Penggunaan Bahasa Indonesia Dalam Karangan Narasi Siswa Kelas X MA (Madrasah Aliyah) Jabal Nur Cipondoh, Tangerang. (Skripsi S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Jakarta), h. ii


(33)

20

A.

Tempat dan Waktu Penelitian

1.

Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di MTs Manbaul Ulum Pondok Pesantren Asshiddiqiyah II Batu Ceper yang terletak di Jl. Garuda Raya No.32 Kel. Batu Jaya, Kec. Batu Ceper, Kota Tangerang – Banten.

2.

Waktu Penelitian

Penelitian ini dimulai dari bulan Januari sampai September, dari mulai observasi sampai selesai untuk pengumpulan data dan informasi yang diperlukan untuk penyusunan skripsi ini.

B.

Metode Penelitian

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif-deskriptif. Moleong menyatakan,

“Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan, dll., secara holistik, dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai

metode alamiah”.1

Fenomena yang diangkat dalam penelitian ini adalah mengenai campur kode di kalangan pelajar.

Metode deskriptif menurut Azwar, “Penelitian deskriptif bertujuan menggambarkan secara sistematik dan akurat fakta dan karakteristik mengenai populasi atau mengenai bidang tertentu. Penelitian ini berusaha

1

Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatf, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011), h.6


(34)

menggambarkan situasi atau kejadian”.2 Penggunaan metode ini dimaksudkan karena data yang digunakan adalah teks narasi siswa kelas VIII Madrasah Tsanawiyah (MTs) Manbaul Ulum Pondok Pesantren Asshiddiqiyah II Batu Ceper, Tangerang untuk menemukan fungsi campur kode di dalamnya.

C.

Subjek Penelitian

Subjek yang digunakan dalam penelitian ini yaitu, populasi dari keseluruhan siswa kelas VIII Madrasah Tsanawiyah (MTs) Manbaul Ulum Pondok Pesantren Asshiddiqiyah II Batu Ceper, Tangerang yaitu 66 siswa. Kemudian berdasarkan temuan data, sampel yang diambil adalah 36 siswa.

D.

Fokus Penelitian

Fokus penelitian dalam penelitian ini adalah campur kode yang meliputi fungsi campur kode dalam karangan narasi siswa VIII Madrasah Tsanawiyah (MTs) Manbaul Ulum Pondok Pesantren Asshiddiqiyah II Batu Ceper, Tangerang.

E.

Teknik Pengumpulan Data

Teknik penumpulan data dalam penelitian ini menggunakan data deskriptif. Menurut Moleong, “Data yang dikumpulkan adalah berupa kata-kata, gambar dan bukan angka-angka. Hal ini disebabkan oleh adanya

penerapan metode kualitatif”.3 Masing-masing siswa menulis karangan

narasi bebas dengan menggunakan bahasa baku/formal dan panjang isi karangan tidak ditentukan. Karangan narasi bebas digunakan karena untuk memudahkan siswa dalam mengekspresikan ide-ide mereka ke dalam tulisan. Waktu untuk menyelesaikan pembuatan karangan narasi, siswa diberi waktu 1 jam. Kemudian setelah karangan-karangan ini terkumpul, peneliti membaca setiap karangan. Jika menemukan data yang

2

Saifuddin Azwar, Metode Penelitian. (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015), h. 7

3


(35)

memungkinkan terjadi campur kode, segera digarisbawahi agar memudahkan peneliti dalam mendaftar pendeskripsian data dan analisis data.

Adapun untuk memastikan fungsi campur kode yang terdapat dalam karangan narasi siswa, peneliti menggunakan teknik triangulasi. Menurut Sugiyono,

“Dalam teknik pengumpulan data, triangulasi diartikan sebagai teknik pengumpulan data yang bersifat menggabungkan dari teknik pengumpulan data dan sumber data yang telah ada. Bila peneliti melakukan pengumpulan data dengan triangulasi, maka sebenarnya peneliti mengumpulkan data yang sekaligus menguji kredibilitas data, yaitu mengecek kredibilitas data dengan berbagai teknik

pengumpulan data dan berbagai sumber data”.4

Dari hasil fungsi campur kode yang telah didapatkan, peneliti bertanya kepada 12 sampel penelitian dari jumlah populasi yang ada mengenai penggunaan campur kode dari temuan data yang telah didapatkan. Hal ini dimaksudkan sebagai peningkatan pemahaman peneliti terhadap sesuatu yang telah ditemukan.

F.

Teknik Analisis Data

Data yang telah terkumpul diolah dan dianalisis. Pengolahan data dilakukan melalui deskriptif-kualitatif, dengan proses sebagai berikut:

1. Reduksi Data

Data campur kode yang telah diperoleh dari karangan narasi dikumpulkan. Kemudian, data yang memiliki gejala campur kode dimasukkan ke dalam tabel agar memudahkan peneliti dalam menganalisis fungsi campur kode dalam karangan narasi siswa. Adapun tabel yang digunakan sebagai instrumen penelitian adalah sebagai berikut:

4

Sugiyono, Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods). (Bandung: ALFABETA, 2014). h. 327


(36)

Tabel Ragam Cakapan

No Data Frekuensi

Tabel Ragam Bahasa Arab

No Data Frekuensi

Tabel Ragam Bahasa Inggris

No Data Frekuensi

2. Penyajian Data

Langkah selanjutnya setelah reduksi data adalah penyajian data. Penyusunan data secara sistematis dan selektif membantu membuat gambaran data untuk kesimpuan keseluruhan masalah penelitian dengan tepat. Berikut ini tabel akumulasi dari data penelitian yang telah dikumpulkan:

Tabel Fungsi Campur Kode

No Data Makna Fungsi

Campur Kode

3. Kesimpulan

Pengambilan kesimpulan dari data-data yang telah direduksi dan disajikan akan memberikan ketepatan data dalam pengelolaan data penelitian.


(37)

24

A.

Profil MTs (Madrasah Tsanawiyah) Manbaul Ulum Pondok

Pesantren Asshiddiqiyah

1.

Sejarah Singkat Berdirinya Madrasah

Madrasah Tsanawiyah Manbaul Ulum berada dibawah naungan Pondok Pesantren Asshiddiqiyah. Pondok Pesantren Asshiddiqiyah pertama didirikan di atas tanah wakaf dari keluarga H. Djaani oleh Dr. KH. Noer Muhammad Iskandar, S.Q. pada bulan Rabi’ul Awal 1406 H (1 Juli 1985 M). Yang sekarang dikenal dengan Pondok Pesantren Ashhiddiqiyah Pusat, terletak di Kedoya, Kebun Jeruk – Jakarta Barat. Awalnya, jenjang pendidikan yang terdapat di Asshiddiqiyah berupa

sistem madrasah Rabathiah, yakni khalaqoh salaf (belajar dan mengaji

salaf bersama kiai) yang dilakukan secara rutin seminggu sekali. Karena masyarakat sekitar pesantren mulai tertarik untuk mengikuti pengajian tersebut, pada tahun 1986 Kiai Noer mulai mendirikan madrasah formal (MTs) dengan nama Manbaul Ulum. Nama Manbaul Ulum diambil dari nama pondok pesantren yang dibangun oleh

ayahanda Kiai Noer di Sumber Beras, Banyuwangi – Jawa Timur.1

Seiring berjalannya MTs Manbaul Ulum selama setahun, animo masyarakat mulai meningkat. Melihat hal tersebut, menggerakkan beliau untuk membuka jenjang pendidikan Madrasah Aliyah. Tahun demi tahun kepercayaan masyarakat pada Pondok Pesantren Asshiddiqiyah I meningkat pesat. Ketika santri di Kedoya sudah tidak tertampung lagi, Kiai Noer menerima wakaf dari keluarga H. Jamhari dan H. Musa di Batu Ceper, Tangerang. Setelah mendapatkan wakaf, beliau membangun Asshiddiqiyah II di Batu Ceper, Tangerang. Pada tahun 1994, MTs Manbaul Ulum pusat dipindahkan ke Asshiddiqiyah

1

Amin Idris, KH Noer Muhammad Iskandar SQ Pergulatan Membangun Pondok Pesantren. (Bekasi : PT Mencari Ridho Gusti, 2003), h. 118


(38)

II Batu Ceper, Tangerang. Hingga saat ini, MTs Manbaul Ulum memiliki 17 angkatan kelulusan.

Sebagai lembaga pendidikan yang menaungi MTs Asshiddiqiyah,

Pondok Pesantren Asshiddiqiyah memiliki tujuan dasar yang sesuai dengan cita-cita sang Kiai, yaitu:

a. Menguasai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) serta

membangun Iman dan Taqwa (IMTAQ) secara lebih mendalam,

b. Berakhlakul karimah, sebagai dasar dari kehidupan bermasyarakat,

berbangsa, dan bertanah air, dan

c. Menguasai bahasa asing, dalam hal ini yaitu bahasa Arab dan

bahasa Inggris seiring perkembangan zaman dengan tanpa meninggalkan sokoguru daripada dasar pendidikan islam.

2.

Visi, Misi, dan Tujuan

a.

Visi

Menjadi Madrasah berkarakter, unggul dalam bahasa, ilmu pengetahuan, dan berakhlak mulia.

b.

Misi

1. Menyelenggarakan pendidikan sesuai dengan Sistem

Pendidikan Nasional

2. Menyelenggarakan pendidikan yang dilandasi nilai keislaman

serta berkarakter budaya bangsa

3. Melaksanakan peningkatan kompetensi tenaga pendidik dan

kependidkan sesuai dengan Standar Pendidikan Nasional

4. Melaksanakan pembelajaran sesuai standar

5. Melaksanakan pengembangan institusi berdasarkan Manajemen

Pengembangan Mutu Berbasis Madrasah (MPMBM)

6. Meningkatkan budaya hidup sehat untuk mewujudkan generasi


(39)

7. Mewujudkan lulusan yang berakhlakul karimah, berkualitas, dan berwawasan global

c.

Tujuan

1. Terealisasinya PBM (Proses Belajar Mengajar) sesuai Sistem

Pendidikan Nasional

2. Terealisasinya pengembangan dan pelayanan pendidikan yang

dilandasi nilai keislaman serta karakter budaya bangsa

3. Terealisasi sumber daya madrasah yang unggul dan kompetitif

4. Mengoptimalkan pembelajaran sesuai standar

5. Terealisasinya pengembangan institusi berdasarkan Manajemen

Pengembangan Mutu Berbasis Madrasah (MPMBM)

6. Terealisasinya budaya hidup sehat untuk mewujudkan generasi

yang kompetitif

3.

Daftar Guru Madrasah Tsanawiyah Manbaul Ulum

Pondok Pesantren Asshiddiqiyah II Batu Ceper,

Tangerang

No

Nama Guru

Pendidikan

Terakhir

Mata

Pelajaran

1 Ali Ridlo, S.Ag. S1 PAI 1995 Fiqih

2 Imam Mudhofir Salim,

S.Pd.I., M.M.

S2 Manajeman

Pendidikan 2012 B. Arab

3 H. Zaenuri Yasmin,

S.Ag., M.Pd.

S2 Evaluasi

Pendidikan 2012 B. Arab

4 Evi Sofiah, M.Pd. S2 PEP 2015 IPS

5 Sigit Subandi, S.Pd.I. S1 PAI 2011 TIK

6 Ida Faridah, S.Ag. S1 PAI 1997 Aqidah Akhlaq

7 Dra. Hj. Raudotul Jannah S1 Perdata dan Pidana Islam

1989

Al Qur’an Hadits

8 Khuzaimah, S.Ag. S1 Komunikasi


(40)

1998

9 Mulhamah M, S.Ag. S1 PAI 1996 Aqidah Akhlaq

10 Miftahul Munir, S.Pd.I. S1 PAI 2011 Pkn

11 M. Ghufron, S.Pd. S1 Pend Bahasa

dan Seni 2008 B. Indonesia

12 Siti Umayyah, S.Ag. Penyiaran Islam S1 Komunikasi

1998

B. Indonesia

13 Nunung Nurjannah,

S.Pd.I. S1 PAI 2011 IPA

14 Mintarsih Hadi, S.Pd.I. S1 PAI 2008 IPA

15 Fathul Munhamir, S.H. S1 Hukum

Keperdataan 1991 IPS

16 Drs. Namang S1 Perdata dan Pidana Islam

1989

IPS

17 Dwi Yarahmani, S.E. S1 Manajemen

1994 IPS

18 Siti Ruqoyah, S.Pd.I. S1 PAI 2007 Matematika

19 Dul Rohim, S,Ag. S1 PAI 1995 B. Inggris

20 Tita Emawati, S.Pd. S1 Pend Bahasa

Inggris 2011 B. Inggris

21 M. Agus Salim, S.Pd.I. S1 PAI 2011 B. Arab

22 Komaruddin, S.Pd.I. S1 PAI 2010 TIK

23 Mujid Aluwi, S.Pd.I. S1 PAI 2005 Penjaskes

24 Wakhid Anwar, S.Ag. S1 PAI 2007 Al Qur’an

Hadits

25 Hadi Munif, S.Pd. S1 Pend

Matematika 2012 Matematika

26 Natiqoh, S.Ag. S1 PAI 2000 SKI

B.

Penyajian Data

Berdasarkan hasil analisis, diperoleh beberapa temuan data campur kode. Pertama, kode utama yang digunakan dalam karangan narasi siswa kelas VIII MTs Manbaul Ulum Pondok Pesantren Asshiddiqiyah II Batu Ceper, Tangerang adalah bahasa Indonesia ragam baku. Penggunaan


(41)

bahasa Indonesia ragam baku digunakan berdasarkan penugasan dari penelitian terhadap siswa terkait dengan materi yang terdapat dalam mata pelajaran bahasa Indonesia. Selain itu, pada umumnya ragam bahasa yang digunakan dalam materi karangan narasi dengan menggunakan bahasa baku.

Temuan kedua, dalam seluruh karangan siswa yang berjumlah 36 karangan narasi, siswa tidak hanya menggunakan satu ragam bahasa melainkan empat ragam bahasa, yaitu bahasa Indonesia ragam baku sebagai kode utama. Bahasa Indonesia ragam cakapan, bahasa Arab dan bahasa Inggris. Berdasarkan pendapat Nababan mengenai campur kode adalah,

“Suatu keadaan berbahasa lainnya ialah bilamana orang mencampur dua (atau lebih) bahasa atau ragam bahasa dalam suatu tindak bahasa (speech act atau discourse) tanpa ada sesuatu dalam situasi berbahasa itu yang menuntut pencampuran bahasa itu. Dalam keadaan demikian, hanya kesantaian penutur dan/atau kebiasaannya yang dituruti. Tindak

bahasa yang demikian kita sebut campur kode”.2

dapat disimpulkan bahwa campur kode terdapat dalam karangan narasi siswa kelas VIII MTs Manbaul Ulum Pondok Pesantren Asshiddiqiyah II Batu Ceper, Tangerang. Adapun jenis campur kode yang terjadi dalam

karangan siswa ini adalah campur kode dalam (inner code-mixing), yaitu

pencampuran ragam cakapan dalam karangan narasi dan campur kode luar (outside code-mixing). Kode luar (outside code-mixing), yaitu dengan pengunaan bahasa Inggris dan bahasa Arab di dalam karangan narasi. Temuan ketiga, berdasarkan hasil analisis, kode yang paling banyak bercampur dengan kode utama dalam karangan narasi siswa adalah bahasa Indonesia ragam cakapan sebanyak 130 kata, bahasa Inggris sebanyak 34 kata, dan bahasa Arab 10 kata. Berikut tabel di bawah ini

menyajikan jenis kata dan frekuensi dari bahasa Indonesia ragam cakapan.

2


(42)

Tabel 4.1 Ragam Cakapan

No Data Frekuensi

1. langsung 37

2. istigosah 30

3. sholat 111

4. kadang-kadang 3

5. solat 19

6. kitaban 11

7. madin 14

8. istighosah 14

9. shalat 43

10. ustadz 3

11. balik 13

12. ngaji 28

13. main 4

14. mancing 1

15. siap-siap 18

16. mushola 3

17. musholla 1

18. mushollah 1

19. taro 1

20. sama 9

21. sampe 1

22. klompok 1

23. mesjid 2

24. cuman 1

25. kaya 1

26. bobo 3

27. udah 7

28. serulah 1

29. menaro 1

30. dianjurin 1

31. gimana 1

32. karna 1

33. tahlilan 1

34. istigoshah 3

35. adzan 3

36. habis 7

37. hapalan 1

38. setoran 11

39. ngederes 1


(43)

41. ngambil 2 42. pasukan kismul

ta’dzib (pakistan) 1

43. istigotsah 1

44. ngetem 2

45. musholah 1

46. lepas 1

47. tengah-tengah 1

48. takbiran 1

49. bontot 1

50. malahan 3

51. dibangunin 1

52. saking 2

53. ngantuk 2

54. malem 1

55. capek 1

56. dimulain 1

57. aktifitas 1

58. rizky 1

59. sodara-sodaraku 2

60. bakar-bakar 4

61. pokonya 1

62. kalo 9

63. ga 6

64. pas 16

65. imamin 1

66. dinasehatin 1

67. bersih-bersih 4

68. taiki 1

69. karna 1

70. keseringan 1

71. bareng 1

72. baca 4

73. bener-bener 1

74. ngisi 1

75. pada 5

76. rapih 1

77. cowo 1

78. ngangkatin 1

79. ngomong 1

80. jones (jomblo


(44)

81. nyesek 1

82. pengen 1

83. banget 9

84. kerasa 1

85. mondok 2

86. beres-beres 1

87. soalnya 1

88. rame 1

89. nyalain 1

90. terus 5

91. tepar 1

92. milih 1

93. gelar 1

94. nyetel 1

95. trus 5

96. nyanyi 1

97. ijin 1

98. kali-kali 1

99. ditelfon 1

100. bikin 1

101. cape 2

102. kecapean 1

103. dicatet 1

104. paling 1

105. ngga 4

106. abis 1

107. kena 1

108. ngeluh 3

109. laper 1

110. abis 4

111. biar 1

112. engga 1

113. tetep 1

114. gapapa 1

115. tuh 2

116. ngadepin 1

117. ngajarin 1

118. nyuci 1

119. ambil 1

120. foto-foto 1


(45)

122. nyalahin 1

123. sholawatan 1

124. aja 1

125. ngeliat 1

126. nungguin 1

127. buat 1

128. berenti 1

129. disetelin 1

130. yaudah 1

Adapun, kata-kata yang berasal dari bahasa Inggris yang menjadi campur kode dalam karangan narasi siswa kelas VIII MTs Manbaul Ulum Pondok Pesantren Asshiddiqiyah II Batu Ceper, Tangerang tersaji dalam tabel di bawah ini:

Tabel 4.2 Ragam Bahasa Inggris

No Data Frekuensi

1. stand 1

2. prepare 7

3. refreshing 2

4. the end 4

5. rilex 1

6. ofender 1

7. mister sleep 1

8. footsall 2

9. vocab 4

10. finish 2

11. always 1

12. mother wash 1

13. mosque 1

14. for study 1

15. together 1

16. study 1

17. house 1

18. berstudy tour 1

19. study tour 6

20. rest area 4

21. momment 1

22. class meeting 1

23. flashback 1


(46)

25. is the best 1

26. come back to 1

27. handfon 1

28. menstop 1

29. taxi 2

30. take a bath 1

31. ngejob 1

32. after 1

33. turn off the lamp 1

34. sexi 2

Kode lain yang bercampur dalam karangan narasi siswa kelas VIII MTs Manbaul Ulum Pondok Pesantren Asshiddiqiyah II Batu Ceper, Tangerang adalah bahasa Arab. Berikut tabel yang menyajikan kata-kata dalam bahasa Arab yang muncul dalam karangan narasi siswa..

Tabel 4.3 Ragam Bahasa Arab

No Data Frekuensi

1. muthoala’ah 14

2. muthollaa 6

3. dita’zir 5

4. ba’da 7

5. majmu 2

6. ta’allum 2

7. minal aidzin wal faidzin 1

8. haflah 7

9. ba’daki 1

10. murojaah 3

Dari hasil pengumpulan data, peneliti membuat tabel data yang diisi dengan temuan data beserta fungsi campur kode yang terdapat di dalam karangan narasi siswa kelas VIII MTs Manbaul Ulum Pondok Pesantren Asshiddiqiyah II Batu Ceper, Tangerang. Adapun fungsi campur kode terdiri atas:

1. Melancarkan komunikasi dengan memudahkan penyampaian maksud yang akan disampaikan,


(47)

2. Sikap kegengsian, kebutuhan akan pengakuan sosial dalam menunjukkan status keterpelajarannya, dan

3. Adanya keterbatasan kosakata dalam suatu bahasa. Berikut adalah tabel analisis fungsi campur kode:

Tabel 4.4 Fungsi Campur Kode dengan Ragam Cakapan

No Data Makna Fungsi

1. langsung segera kenyamanan berbahasa

2. istigosah istigasah keterbatasan pengetahuan

kebahasaan

3. sholat salat kenyamanan berbahasa

4. kadang-kadang terkadang kenyamanan berbahasa

5. solat salat keterbatasan pengetahuan

kebahasaan

6. kitaban belajar kitab kebiasaan berbahasa

7. madin madrasah diniyah kebiasaan berbahasa

8. istighosah istigasah keterbatasan pengetahuan

kebahasaan

9. shalat salat keterbatasan pengetahuan

kebahasaan

10. ustadz ustaz keterbatasan pengetahuan

kebahasaan

11. balik kembali kenyamanan berbahasa

12. ngaji mengaji kenyamanan berbahasa

13. main memainkan kenyamanan berbahasa

14. mancing memancing ikan kenyamanan berbahasa

15. siap-siap bersiap kenyamanan berbahasa

16. mushola musala keterbatasan pengetahuan

kebahasaan

17. musholla musala keterbatasan pengetahuan

kebahasaan

18. mushollah musala keterbatasan pengetahuan

kebahasaan

19. taro meletakkan kenyamanan berbahasa

20. sama dengan kenyamanan berbahasa

21. sampe sampai kenyamanan berbahasa

22. klompok kelompok kenyamanan berbahasa

23. mesjid masjid kenyamanan berbahasa

24. cuman hanya kenyamanan berbahasa

25. kaya seperti kenyamanan berbahasa


(48)

27. udah sudah kenyamanan berbahasa

28. serulah seru sekali

melancarkan komunikasi dengan memudahkan peyampaian maksud

29. menaro meletakkan kenyamanan berbahasa

30. dianjurin dianjurkan kenyamanan berbahasa

31. gimana bagaimana

melancarkan komunikasi dengan memudahkan peyampaian maksud

32. karna karena kenyamanan berbahasa

33. tahlilan membaca tahlil kebiasaan berbahasa

34. istigoshah Istigasah keterbatasan pengetahuan

kebahasaan

35. adzan azan keterbatasan pengetahuan

kebahasaan

36. habis setelah kenyamanan berbahasa

37. hapalan hafalan kenyamanan berbahasa

38. setoran menyetorkan kebiasaan berbahasa

39. ngederes melancarkan

hafalan kebiasaan berbahasa

40. ganti mengganti kenyamanan berbahasa

41. ngambil mengambil kenyamanan berbahasa

42.

pasukan kismul ta’dzib (pakistan)

petugas

kebersihan kebiasaan berbahasa

43. istigotsah istigasah keterbatasan pengetahuan

kebahasaan

44. ngetem menunggu kebiasaan berbahasa

45. musholah musala keterbatasan pengetahuan

kebahasaan

46. lepas setelah kenyamanan berbahasa

47. tengah-tengah ditengah kenyamanan berbahasa

48. takbiran membaca takbir kebiasaan berbahasa

49. bontot anak terakhir kebiasaan berbahasa

50. malahan bahkan kenyamanan berbahasa

51. dibangunin dibangunkan kenyamanan berbahasa

52. saking sangat kenyamanan berbahasa

53. ngantuk mengantuk kenyamanan berbahasa

54. malem malam kenyamanan berbahasa

55. capek lelah kenyamanan berbahasa

56. dimulain dimulai kenyamanan berbahasa

57. aktifitas aktivitas keterbatasan pengetahuan

kebahasaan

58. rizky rezeki keterbatasan pengetahuan


(49)

59. sodara-sodaraku

saudara-saudaraku kenyamanan berbahasa

60. bakar-bakar membakar kenyamanan berbahasa

61. pokonya intinya

melancarkan komunikasi dengan memudahkan peyampaian maksud

62. kalo kalau kenyamanan berbahasa

63. ga tidak kenyamanan berbahasa

64. pas ketika kebiasaan berbahasa

65. imamin diimami kenyamanan berbahasa

66. dinasehatin dinasehati kenyamanan berbahasa

67. bersih-bersih

kegiatan membersihkan diri sebelum tidur seperti, sikat gigi, cuci muka, dan lain-lain

kebiasaan berbahasa

68. taiki menaiki kenyamanan berbahasa

69. karna karena kenyamanan berbahasa

70. keseringan terlalu sering kenyamanan berbahasa

71. bareng bersama kenyamanan berbahasa

72. baca membaca kenyamanan berbahasa

73. bener-bener benar-benar kenyamanan berbahasa

74. ngisi mengisi kenyamanan berbahasa

75. pada terlihat kebiasaan berbahasa

76. rapih rapi keterbatasan pengetahuan

kebahasaan

77. cowo laki-laki kenyamanan berbahasa

78. ngangkatin mengangkati kenyamanan berbahasa

79. ngomong berbicara kenyamanan berbahasa

80. jones (jomblo

ngenes)

orang yang tidak memiliki

pasangan

kebiasaan berbahasa

81. nyesek sesak kenyamanan berbahasa

82. pengen ingin kenyamanan berbahasa

83. banget sekali kenyamanan berbahasa

84. kerasa terasa kenyamanan berbahasa

85. Mondok tinggal di pondok

pesantren kebiasaan berbahasa

86. beres-beres merapikan kenyamanan berbahasa

87. soalnya karena kenyamanan berbahasa

88. rame ramai kenyamanan berbahasa

89. nyalain menyalakan kenyamanan berbahasa

90. terus kemudian kenyamanan berbahasa


(50)

92. milih memilih kenyamanan berbahasa

93. gelar menggelar kenyamanan berbahasa

94. nyetel menyalakan kenyamanan berbahasa

95. trus kemudian kenyamanan berbahasa

96. nyanyi bernyanyi kenyamanan berbahasa

97. ijin izin keterbatasan pengetahuan

kebahasaan

98. kali-kali sesekali keterbatasan pengetahuan

kebahasaan

99. ditelfon ditelpon keterbatasan pengetahuan

kebahasaan

100. bikin dibuat kenyamanan berbahasa

101. cape lelah kenyamanan berbahasa

102. kecapean kelelahan kenyamanan berbahasa

103. dicatet dicatat kenyamanan berbahasa

104. paling sangat kenyamanan berbahasa

105. ngga tidak kenyamanan berbahasa

106. abis setelah kenyamanan berbahasa

107. kena terkena kenyamanan berbahasa

108. ngeluh mengeluh kenyamanan berbahasa

109. laper lapar kenyamanan berbahasa

110. abis setelah kenyamanan berbahasa

111. biar agar kenyamanan berbahasa

112. engga tidak kenyamanan berbahasa

113. tetep tetap kenyamanan berbahasa

114. gapapa tidak apa-apa kenyamanan berbahasa

115. tuh itu kebiasaan berbahasa

116. ngadepin menghadapi kenyamanan berbahasa

117. ngajarin mengajari kenyamanan berbahasa

118. nyuci mencuci kenyamanan berbahasa

119. ambil mengambil kenyamanan berbahasa

120. foto-foto berfoto-foto kenyamanan berbahasa

121. motoin mengambil foto kenyamanan berbahasa

122. nyalahin menyalakan kenyamanan berbahasa

123. sholawatan membaca selawat kebiasaan berbahasa

124. aja saja kenyamanan berbahasa

125. ngeliat melihat kenyamanan berbahasa

126. nungguin menunggu kenyamanan berbahasa

127. buat membuat kenyamanan berbahasa

128. berenti berhenti kenyamanan berbahasa

129. disetelin dinyalakan kenyamanan berbahasa


(51)

Tabel 4.5 Fungsi Campur Kode dengan Ragam Bahasa Inggris

No Data Makna Fungsi

1. stand stan, tempat

berjualan

menunjukkan status keterpelajarannya

2. prepare bersiap-siap menunjukkan status

keterpelajarannya

3. refreshing penyegaran diri menunjukkan status

keterpelajarannya

4. the end selesai menunjukkan status

keterpelajarannya

5. rilex rileks keterbatasan pengetahuan

kebahasaan

6. ofender hukuman keterbatasan pengetahuan

kebahasaan

7. mister sleep

sebutan bagi seseorang yang gemar tidur

kebiasaan berbahasa

8. footsall futsal keterbatasan pengetahuan

kebahasaan

9. vocab

kegiatan memberikan kosakata kepada santri

kebiasaan berbahasa

10. finish selesai menunjukkan status

keterpelajarannya

11. always selalu menunjukkan status

keterpelajarannya

12. mother wash ibu cuci keterbatasan pengetahuan

kebahasaan

13. mosque masjid menunjukkan status

keterpelajarannya

14. for study untuk belajar menunjukkan status

keterpelajarannya

15. together bersama menunjukkan status

keterpelajarannya

16. study Belajar menunjukkan status

keterpelajarannya

17. house rumah menunjukkan status

keterpelajarannya

18. berstudy tour melakukan

karyawisata

keterbatasan pengetahuan kebahasaan

19. study tour karyawisata keterbatasan pengetahuan

kebahasaan


(52)

kebahasaan

21. momment saat keterbatasan pengetahuan

kebahasaan

22. class meeting

kegiatan

perlombaan antar kelas di bawah naungan OSIS

kebiasaan berbahasa

23. flashback kilas balik menunjukkan status

keterpelajarannya

24. with dengan menunjukkan status

keterpelajarannya

25. is the best terbaik menunjukkan status

keterpelajarannya

26. come back to kembali ke menunjukkan status

keterpelajarannya

27. handfon telpon genggam keterbatasan pengetahuan

kebahasaan

28. menstop memberhentikan

melancarkan komunikasi dengan memudahkan penyampaian maksud

29. taxi taksi menunjukkan status

keterpelajarannya

30. take a bath mandi menunjukkan status

keterpelajarannya

31. ngejob Bertugas kebiasaan berbahasa

32. after

kegiatan mengantri di kamar mandi

kebiasaan berbahasa

33. turn off the

lamp matikan lampu kebiasaan berbahasa

34. sexi seksi keterbatasan pengetahuan

kebahasaan

Tabel 4.6 Fungsi Campur Kode dengan Ragam Bahasa Arab

No Data Makna Fungsi

1. muthoala’ah kegiatan belajar

malam kebiasaan berbahasa

2. muthollaa kegiatan belajar

malam kebiasaan berbahasa

3. dita’zir dikenakan

hukuman kebiasaan berbahasa

4. ba’da setelah kenyamanan berbahasa

5. majmu buku kumpulan

doa-doa kebiasaan berbahasa


(53)

keterpelajarannya

7. minal aidzin

wal faidzin “semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang kembali (kepada fitrah) dan (mendapat) kemenangan” biasanya diucapkan ketika perayaan Idulfitri kebiasaan berbahasa

8. Haflah

perayaan kelulusan bagi siswa tingkat akhir

kebiasaan berbahasa

9. ba’daki

kegiatan mengantri di kamar mandi

kebiasaan berbahasa

10. murojaah mengulang

hafalan kebiasaan berbahasa

C.

Analisis Data

1.

Analisis Data Campur Kode Ragam Cakapan, Bahasa

Inggris dan Bahasa Arab

Penggunaan ragam cakapan sehingga terjadi campur kode dalam karangan narasi siswa kelas VIII MTs Manbaul Ulum Pondok Pesantren Asshiddiqiyah II Batu Ceper, Tangerang karena rasa kenyamanan berbahasa yang mereka gunakan untuk menulis. Contohnya dalam karangan narasi Syarif M. Fajri yang berjudul “Kegiatan di Pondok”, sebagai berikut:

Setiap harinya aku bangun jam 03.00 dan langsung ke

masjid.3

Campur kode yang terjadi yaitu masuknya ragam cakapan langsung. Kata langsung dalam KBBI memiliki arti “terus”.

3


(54)

Maksud kata langsung pada kalimat di atas adalah segera ke masjid. Hal ini sengaja dimasukkan penulis karena kenyamanannya dalam berbahasa.

Latar belakang sekolah siswa yang berasrama dengan kegiatan yang padat, serta peraturan berbahasa asing (bahasa Arab dan Inggris) di luar dan di dalam lingkungan sekolah, membuat siswa ingin mengekspresikan gagasan mereka dengan menggunakan bahasa Indonesia yang mudah diketahui dan dipahami.

Campur kode selanjutnya yaitu masuknya ragam bahasa Inggris ke dalam karangan narasi siswa. Contohnya dalam karangan narasi Dhiyaa Apprilia yang berjudul “Aktivitas Di Pondok”, yaitu:

Setelah selesai sholat ada pembelajaran vocab.4

Kata vocab berarti “kosakata”. Maksud dari kata vocab dalam

karangan narasi milik Dhiyaa adalah kegiatan rutin pemberian

kosakata kepada santri. Masuknya ragam bahasa Inggris vocab

karena penulis telah terbiasa menggunakan kata tersebut untuk berbahasa.

Kecenderungan campur kode dengan bahasa Inggris dalam karangan narasi siswa, dilatarbelakangi oleh program disiplin berbahasa asing (bahasa Arab dan Inggris) yang dijalankan oleh tiap siswa. Siswa kelas VIII MTs Manbaul Ulum merupakan siswa yang baru setahun mengikuti program disiplin berbahasa asing. Sehingga, mereka belum sepenuhnya mahir dalam berbahasa

Inggris. Program bahasa lainnya, yaitu kegiatan ICP (Intensive

Conversation Program) yang dilaksanakan rutin setelah sholat subuh. Adapun bila serpihan-serpihan bahasa Inggris yang masuk ke dalam karangan narasi bahasa Indonesia siswa secara benar maupun salah dalam penulisannya, merupakan sarana bagi mereka

4


(55)

untuk menunjukkan kemampuan siswa akan penerimaan bahasa Inggris yang dimiliki.

Kecenderungan penggunaan ragam bahasa Arab dalam karangan narasi bahasa Indonesia siswa kelas VIII MTs Manbaul Ulum Pondok Pesantren Asshiddiqiyah II Batu Ceper, Tangerang tidak hanya karena program disiplin berbahasa asing di luar dan di dalam lingkungan asrama saja. Sekolah formal Madrasah Tsanawiyah (MTs) juga menjadi salah satu penunjang siswa menggunakan bahasa Arab ke dalam karangannya. Di sekolah formal mereka belajar kaidah berbahasa Arab dengan mempelajari ilmu Nahwu dan Shorof. Untuk sekolah nonformal, siswa mengikuti kegiatan belajar kitab kuning yang rutin dilaksanakan di kelas setelah sholat Asar, dan di masjid setelah sholat Isya. Kegiatan-kegiatan ini yang menunjang kebiasaan siswa dalam berbahasa Arab. Misalnya dalam karangan Muhammad Fahri Hasan yang berjudul “Kegiatan Setiap Hari di Pondokku”, yaitu:

Lepas sholat ashar selesai lalu saya menuju masjid untuk ta’alum kitab bersama Ust. Mudhofir Salim.5

Kata ta’alum memiliki arti belajar. Dalam kalimat di atas juga

ta’alum memiliki arti yang sama. Hanya saja penulis memasukkan ragam bahasa Arab tersebut karena ingin menunjukkan kemampuan berbahasanya.

2.

Analisis Data Fungsi Campur Kode

Pada temuan data dalam karangan narasi siswa kelas VIII MTs Manbaul Ulum Asshiddiqiyah II Batu Ceper, Tangerang terdapat

campur kode berupa empat ragam cakapan, yakni: serulah,

gimana, pokonya, dan menstop. Penulis menggunakan bentuk tersebut karena memiliki fungsi campur kode yaitu, untuk

5


(56)

melancarkan komunikasi dalam penyampaian maksud yang akan disampaikan.

Temuan data lainnya yang terdapat dalam karangan narasi siswa kelas VIII MTs Manbaul Ulum Asshiddiqiyah II Batu Ceper, Tangerang terdapat campur kode sebanyak 17 data yang terdiri atas

ragam bahasa Inggris dan bahasa Arab, yakni: stand, prepare,

refreshing, the end, finish, always, mosque, for study, together, study, house, flashback, with, is the best, comeback, take a bath, dan ta’allum. Penulis menggunakan bentuk tersebut dengan tujuan untuk menunjukkan status keterpelajarannya sebagai siswa yang dapat berbahasa asing karena faktor kesehariannya siswa diwajibkan untuk berbahasa asing di dalam dan di luar lingkungan sekolah.

Adapun dalam temuan data, peneliti menemukan fungsi campur kode lainya, yaitu:

a. Kenyamanan penulis dalam berbahasa. Fungsi ini

berjumlah 93 data berupa ragam cakapan dan ragam

bahasa Arab, yakni: langsung, sholat, kadang-kadang,

balik, ngaji, main, mancing, siap-siap, taro, sama sampe, klompok, mesjid, cuman, kaya, bobo, udah, menaro dianjurin, karna, habis, hapalan, ganti, ngambil, lepas, tengah-tengah, malahan, dibangunin, saking, ngantuk, malem, capek, dimulain, sodara-sodaraku, bakar-bakar, kalo, ga, imamin, diasehatin, taiki, karna, keseringan, bareng, baca, bener-bener, ngisi, cowo, ngangkatin, ngomong, nyesek, pengen, banget, kerasa, beres-beres, soalnya, rame, nyalain, terus, milih, gelar, nyetel, trus, nyanyi, bikin, cape, kecapean, dicatet, paling, ngga, abis, kena, ngeluh, laper, abis, biar, engga, tetep, gapapa, ngadepin,


(57)

ngajarin, nyuci, ambil, foto-foto, motoin, nyalain, aja, ngeliat, nungguin, buat, berenti, disetelin, yaudah, dan ba’da.

b. Kebiasaan penulis dalam berbahasa. Fungsi ini dalam

karangan narasi siswa kelas VIII MTs Manbaul Ulum Pondok Pesantren Asshidiqiyah II Batu Ceper, Tangerang berjumlah 31 temuan data, terdiri dari ragam cakapan, bahasa Inggris, dan bahasa Arab yaitu: kitaban, madin, tahlilan, setoran, ngederes, pakistan, dita’zir, ngetem, takbiran, bontot, pas, bersih-bersih, pada, jones, mondok, tepar, ngejob, tuh, sholawatan, mistersleep, vocab, class meeting, after, turn off the lamp, muthoala’ah, muthollaa, majmu, minal aidzin wal faizin, haflah, ba’daki, dan murojaah.

c. Keterbatasan pengetahuan kebahasaan penulis. Fungsi

campur kode ini terdapat dalam karangan narasi siswa VIII MTs Manbaul Ulum Pondok Pesantren Asshidiqiyah II Batu Ceper, Tangerang sebanyak 29 temuan data yang terdiri dari ragam cakapan, bahasa Inggris, dan bahasa Arab. Berikut ini adalah temuan

datanya: istigosah, solat, istighosah, shalat, ustadz,

musholla, mushollah, istigoshah, adzan, istigotsah, musholah, aktifitas, rizky, rapih, berstudy tour, handfon, ijin, kali-kali, ditelfon, rilex, ofender, footsall, mother wash, study tour, rest area, momment, taxi, dan sexi.


(58)

45

A.

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan terkait fungsi campur kode dalam karangan narasi siswa kelas VIII MTs Manbaul Ulum Assiddiqiyah II Batu Ceper, Tangerang dapat disimpulkan sebagai berikut: Fungsi campur kode yaitu, (1) melancarkan komunikasi dengan memudahkan penyampaian maksud yang akan disampaikan, (2) menunjukkan status keterpelajarannya, (3) kenyamanan berbahasa, (4) kebiasaan berbahasa, dan (5) keterbatasan pengetahuan berbahasa. Fungsi campur kode yang dominan dalam karangan narasi siswa yaitu, kenyamanan berbahasa sebanyak 93 data berupa ragam bahasa Indonesia cakapan dan ragam bahasa Arab.

B.

Saran

Melalui penelitian ini dapat diketahui fungsi campur kode dalam karangan narasi siswa kelas VIII MTs Manbaul Ulum Assiddiqiyah II Batu Ceper, Tangerang, peneliti memiliki beberapa saran yaitu:

1. Pada saat kegiatan belajar mengajar di sekolah, hendaknya guru

inovatif agar memiliki daya tarik dalam pembelajaran bahasa Indonesia.

2. Guru hendaknya lebih memperhatikan pengetahuan siswa terkait

bahasa Indonesia.

3. Pada saat menulis karangan, hendaknya siswa diarahkan untuk

menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar agar tidak ada lagi unsur-unsur bahasa asing yang masuk ke dalam karangan.

4. Bagi peneliti selanjutnya, diharapkan dapat meneliti terkait campur


(59)

46

Akhaidah, dkk. Materi Pokok Menulis II. Jakarta: Karunika Jakarta, 1986.

Aslinda dan Leni Syafyahya, Pengantar Soiolinguistik. Bandung: PT Refika

Aditama, 2014.

Azwar, Saifuddin. Metode Penelitian. Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2015.

Danim, Sudarwan. Karya Tulis Inovatif. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2013.

Dewi, Jayanti Puspita. Campur Kode Pada Penggunaan Bahasa Indonesia Dalam

Karangan Narasi Siswa Kelas X MA (Madrasah Aliyah) Jabal Nur Cipondoh, Tangerang. Skripsi S1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Jakarta.

Fitriyah, Mahmudah dan Ramlan Abdul Gani. Pembinaan Bahasa Indonesia.

Jakarta: UIN Jakarta Press, 2007.

Gie, The Liang. Terampil Menulis. Yogyakarta: ANDI OFFSET,2002.

Hikmat, Ade dan Nani Solihati. Bahasa Indonesia (untuk Mahasiswa S1 &

Pascasarjana, Guru, Dosen, Praktisi, dan Umum). Jakarta: PT Grasindo, 2013.

Holmes, Janet. An Introduction to Sosiolinguistics. (London and New York:

Longman, 2008.

Idris, Amin. KH Noer Muhammad Iskandar SQ Pergulatan membangun Pondok

Pesantren. Bekasi : PT Mencari Ridho Gusti, 2003.

Jendra, Made Iwan Indrawan. Sosiolinguistics The Study of Societies’

Languanges. Yogyakarta: Graha Ilmu, 2010.

M. Echols, John dan Hassan Shadily, Kamus Inggris Indonesia, Jakarta: PT

Gramedia, Cet-25, 2003.

Keraf, Gorys. Argumentasi dan Narasi. Jakarta: PT Gramedia, 1989.

Laksono, Diduk Dwi. Penggunaan Kata Tidak Baku dan Campur Kode dalam

Naskah Drama SMP Muhammadiyah 1 Surakarta Tahun Ajaran 2011/2012. Skripsi S1 Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2012.

Moleong, Lexy J. Metodologi Penelitian Kualitatf, (Bandung : Remaja


(1)

(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

Riwayat Penulis

AUFALINA HUSNA lahir di Jakarta pada 1 Februari 1994, biasa dipanggil Aufalina. Anak bungsu dari Bapak Emzamil dan Ibu Nur Asnifah ini mengawali pendidikannya di TK Az-zahrah pada tahun 1997, kemudian melanjutkan pendidikannya ke SDN Tanah Tinggi 05 Pagi Jakarta pada 1999-2005. Pada saat berada di kelas II SD, ia mengikuti program akselerasi di MI Al-Ittihadiyah Jakarta pada 2000-2004. Setelah lulus, ia melanjutkan pendidikannya di MTs Manbaul Ulum Pondok Pesantren Asshiddiqiyah II Batu Ceper, Tangerang pada 2005-2008. Setelah itu, ia menamatkan sekolah menengah atas di SMA Manbaul Ulum Pondok Pesantren Asshiddiqiyah II Batu Ceper, Tangerang pada 2008-2011. Ia juga sempat belajar non-formal di LBPP LIA sepanjang tahun 2011-2012. Pada tahun 2012 ia meneruskan pendidikannya di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan dengan jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.

Semasa duduk di bangku menengah pertama, ia aktif dalam Organisasi Intra Sekolah (OSIS) sebagai ketua dalam departemen Pengembangan Minat dan Bakat (PMB). Sejak tahun 2006-2010 ia juga aktif dalam Organisasi Santri Pondok Pesantren Asshiddiqiyah (OSPA) selaku anggota yang kemudian menjadi ketua di departemen Olahraga. Perempuan yang gemar mendengarkan radio ini pernah tergabung dalam kepanitiaan Seminar Internasional yang diselenggarakan oleh jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia pada 2014. Semoga karya ilmiah yang berjudul “Campur Kode dalam Karangan Narasi Siswa Kelas VIII Madrasah Tsanawiyah (MTs) Pondok Pesantren Asshiddiqiyah II Batu Ceper, Tangerang” dapat memberi manfaat kepada semua pihak.