EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN LEARNING CYCLE 3E PADA MATERI REAKSI OKSIDASI-REDUKSI UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENGELOMPOKKAN DAN PENGUASAAN KONSEP PADA SISWA

EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN LEARNING CYCLE 3E PADA
MATERI REAKSI OKSIDASI-REDUKSI UNTUK MENINGKATKAN
KETERAMPILAN MENGELOMPOKKAN DAN
PENGUASAAN KONSEP PADA SISWA

(Skripsi)

Oleh
SULIS SETYOWATI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2012

ABSTRAK
EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN LEARNING CYCLE 3E PADA
MATERI REAKSI OKSIDASI-REDUKSI UNTUK MENINGKATKAN
KETERAMPILAN MENGELOMPOKKAN DAN
PENGUASAAN KONSEP PADA SISWA
Oleh
SULIS SETYOWATI

Efektivitas pembelajaran merupakan suatu ukuran yang berhubungan dengan tingkat keberhasilan dari suatu proses pembelajaran. Pembelajaran dikatakan efektif
meningkatkan hasil belajar siswa apabila secara statistik hasil belajar siswa menunjukan perbedaan yang signifikan antara pemahaman awal dengan pemahaman
setelah pembelajaran. Penelitian ini dilakukan untuk mendeskripsikan efektivitas
pembelajaran learning cycle 3E dalam meningkatkan keterampilan mengelompokkan dan penguansaan konsep melalui reaksi oksidasi-reduksi. Model pembelajaran learning cycle 3E terdiri dari 3 fase yaitu fase eksplorasi (exploration),
fase penjelasan konsep (explaination) dan Fase penerapan konsep (elaboration).

Sampel dalam penelitian ini adalah siswa SMAN 1 Gadingrejo kelas X2 dan X4
semester Genap Tahun Ajaran 2011-2012 yang memiliki karakteristik hampir
sama. Penelitian ini menggunakan metode kuasi eksperimen dengan Non
Equivalent Control Group Design. Hasil penelitian menunjukkan nilai rata-rata
n-Gain keterampilan mengelompokkan untuk kelas kontrol dan eksperimen
masing-masing 0,52 dan 0,77 dan rata-rata n-Gain penguasaan konsep untuk kelas

kontrol dan eksperimen masing-masing 0.37 dan 0,42. Berdasarkan uji hipotesis,
diketahui bahwa kelas dengan pembelajaran Learning Cycle 3E memiliki keterampilan mengelompokkan yang lebih tinggi dibandingkan kelas dengan pembelajaran konvensional, dan kelas dengan pembelajaran Learning Cycle 3E memiliki
penguasaan konsep yang lebih rendah dibandingkan kelas dengan pembelajaran
konvensional. Hal ini menunjukkan bahwa pembelajaran Learning Cycle 3E
efektif dalam meningkat-kan keterampilan mengelompokkan tetapi kurang efektif
dalam penguasaan konsep.

Kata kunci: Learning Cycle 3E, keterampilan mengelompokkan dan penguasaan
konsep

EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN LEARNING CYCLE 3E PADA
MATERI REAKSI OKSIDASI-REDUKSI UNTUK MENINGKATKAN
KETERAMPILAN MENGELOMPOKKAN DAN
PENGUASAAN KONSEP PADA SISWA

Oleh
SULIS SETYOWATI

Skripsi
Sebagai salah satu syarat untuk mencapai gelar
SARJANA PENDIDIKAN
Pada
Program Studi Pendidikan Kimia
Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2012

Judul Skripsi

: EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN
LEARNING CYCLE 3E PADA MATERI REAKSI
OKSIDASI-REDUKSIUNTUKMENINGKATKAN
KETERAMPILAN MENGELOMPOKKAN DAN
PENGUASAAN KONSEP PADA SISWA

Nama Mahasiswa

: Sulis Setyowati

No. Pokok Mahasiswa : 0853023053
Program Studi

: Pendidikan Kimia

Jurusan

: Pendidikan MIPA

Fakultas

: Keguruan dan Ilmu Pendidikan

MENYETUJUI
1.

Dra. Ila Rosilawati, M.Si.
NIP.196507171990032001

Komisi Pembimbing

Dra. Chansyanah Diawati, M.Si.
NIP. 196608241991112002

2. Ketua Jurusan Pendidikan MIPA

Dr. Caswita, M.Si.
NIP 196710041993031004

MENGESAHKAN

1. Tim Penguji
Ketua

: Dra. Ila Rosilawati, M.Si

___________

Sekretaris

: Dra. Chansyanah Diawati, M.Si.

___________

Penguji
Bukan Pembimbing : Drs. Tasviri Efkar, M.S

2. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Dr. H. Bujang Rahman M.Si
NIP. 19600315 198503 1 003

Tanggal Lulus Ujian Skripsi: 13 Agustus 2012

___________

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang
pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan disuatu perguruan tinggi
dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang
pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu
dalam naskah dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Apabila ternyata kelak dikemudian hari terbukti ada ketidakbenaran dalam
pernyataan Saya diatas, maka Saya akan bertanggung jawab sepenuhnya.

Bandar Lampung, Agustus 2012

Sulis Setyowati
NPM 0853023053

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Way jepara, pada tanggal 02 November 1989, sebagai anak
kedua dari dua bersaudara, dari pasangan Bapak Suradi dan Ibu Sutini. Penulis
mengawali pendidikan formal di TK Pertiwi Labuhan Ratu Satu Way Jepara
Lampung Timur, kemudian melanjutkan ke SDN 1 Labuhan Ratu Satu Way
Jepara Lampung Timur . Pada tahun yang sama penulis diterima di SMP Islam
YPI 3 Way Jepara Lampung Timur diselesaikan pada tahun 2005.

Tahun 2005 masuk SMA N 1 Way Jepara Lampung Timur dan selesai pada tahun
2008. Pada tahun yang sama penulis terdaftar sebagai mahasiswa Program Studi
Pendidikan Kimia, Jurusan Pendidikan MIPA Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan Universitas Lampung.

Pada tahun 2011 penulis mengikuti Kuliah Kerja Lapangan (KKL) ke JakartaBandung. Pada tahun yang sama penulis mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN)
di Desa Sukamaju Kec. Sekincau Lampung Barat . Selain itu penulis juga
mengikuti Program Pengalaman Lapangan (PPL) di SMA N 1 Sekincau Lampung
Barat.

PERSEMBAHAN

Puji syukur kehadirat Allah SWT yang selalu memberikan limpahan
rahmat dan karunia-Nya. Dengan segala kerendahan hati
kupersembahkan lembaran-lembaran sederhana ini kepada:
 Bapak dan mamak tersayang yang telah membesarkan,
mendidik, selalu mendoakanku siang dan malam, mengajariku
arti sebuah perjuangan, memberikanku semangat dan motivasi,
cinta, kasih sayang, dan materi untuk keberhasilanku di masa
datang . Jerih payah dan kerja keras bapak dan mamak tidak
akan terlupakan dan tidak mungkin dapat terbalaskan.
Mudah-mudahan kelak dapat membahagiakan kalian.
 Kakakku Sunyoto tercinta yang selalu memberi semangat dan
motivasi, membantuku dalam materi untuk keberhasilanku di
masa datang.
 Almamaterku tercinta....

MOTTO

Selalu bersyukur dengan apa yang kita miliki, tetap selalu
semangat dan berusaha untuk kesuksesan hidup ini
(Sulis Setyowati)

jika kau ingin sukses bersabarlah, karena setiap langkahmu
di bayangi dengan ujian ujian dan yakinlah bahwa ujian
ujian itu pasti berlalu dan terlewati. Yang penting tetap
semangat,kerja keras dan pantang menyerah.
(Wawan Setiadi)
Dibalik derita ada kebahagiaan, dibalik kesulitan ada
kemudahan, percaya setiap apa yang dilakukan berbanding
lurus dengan apa yang didapat
(Setia setyo)

SANWACANA

Puji syukur kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat-Nya skripsi ini dapat
diselesaikan. Skripsi dengan judul “ Efektivitas Model Pembelajaran Learning
Cycle 3E Pada Materi Reaksi Oksidasi-reduksi Untuk Meningkatkan
Keterampilan Mengelompokkan Dan Penguasaan Konsep ” sebagai salah satsu
syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan di Universitas Lampung.

Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Dr. Hi. Bujang Rahman, M.Si., selaku Dekan FKIP Unila.
2. Bapak Dr. Caswita, M.Si., selaku Ketua Jurusan Pendidikan MIPA.
3. Ibu Dra. Nina Kadaritna, M.Si., selaku Ketua Program Studi Pendidikan
Kimia.
4. Ibu Dra. Ila Rosilawati, M.Si., selaku Pembimbing Akademik sekaligus
Pembimbing I, atas keikhlasan waktu, kesabaran, motivasi dan bimbingannya.
5. Ibu Dra. Chansyanah Diawati, M.Si., selaku Pembimbing II, atas keikhlasan
waktu, kesabaran, motivasi dan bimbingannya.
6. Bapak Drs. Tasviri Efkar, M.S., selaku Pembahas atas bimbingan, keikhlasan
waktu, motivasi, kesabaran dan bantuannya.
7. Seluruh Dosen dan staf di Jurusan PMIPA Universitas Lampung.

ii

8. Ibu Dra. Hermin Budiarsi, selaku Kepala SMA N 1 Gadingrejo dan Ibu Dra.
Sulistini selaku guru mitra, yang telah memberikan izin penulis untuk
melaksanakan penelitian, terimakasih atas bantuan dan kerjasamanya.
9. Seluruh siswa, Guru dan Staf SMA N 1 Gadingrejo atas kerja sama dan
bantuannya selama penelitian.
10. Yang teristimewa untuk Bapak dan Mamak, yang selalu memberikan kasih
sayang, cinta, doa yang tulus dan tak pernah putus, dan terima kasih yang
teramat dalam atas segala pengorbanan, motivasi, dan kesabarannya.
11. Mamasku Sunyoto tercinta yang selalu memberiku semangat, motivasi dan
materi untuk keberhasilanku.
12. Buat teman seperjuangan Novi, Yuli, Pitri, Putri, Resi, Putu, Lia, Qiqi dan
Rizka maksih atas doa, semangat dan bantuanya dalam menyelesaikan skripsi
saya. Buat mba Mimi Sundari patner skripsiku terima kasih atas
kerjasamanya.
13. Sahabat seperjuanganku angkatan 2008, Kakak dan Adik tingkat di Program
Studi Pendidikan Kimia, serta semua pihak yang telah membantu dalam
menyelesaikan skripsi ini.
Akhirnya, penulis meghanturkan maaf atas ucapan dan tingkah yang kurang
berkenan dihati. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan hidayahnya kepada kita
semua dan semoga skripsi ini bermanfaat bagi kita semua, Amin.

Bandar Lampung, Agustus 2012

Sulis Setyowati

iii

DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR TABEL............................................................................................ vii
DAFTAR GAMBAR .......................................................................................

I.

II.

viii

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang ................................................................................

1

B. Rumusan Masalah ............................................................................

5

C. Tujuan Penelitian ..............................................................................

5

D. Manfaat Penelitian ...........................................................................

5

E. Ruang Lingkup Penelitian ...............................................................

6

TINJAUAN PUSTAKA
A. Efektivitas pembelajaran ..................................................................

8

B. Pembelajaran Konstruktivisme ........................................................

9

C. Learning Cycle 3 E ..........................................................................

11

D. Keterampilan Proses Sains .............................................................

13

E. Penguasaan konsep ..........................................................................

16

F Keterampilan mengelompokkan .......................................................

18

G. Kerangka Pemikiran..........................................................................

18

H. Anggapan Dasar ...............................................................................

20

L. Hipotesis Umum .................................................................................

20

iv

III.

IV.

V.

METODOLOGI PENELITIAN
A. Populasi dan Sampel Penelitian ......................................................

21

B Metode dan Variabel Penelitian ......................................................

22

C

Design Penelitian .............................................................................

22

D. Jenis dan Sumber Data ...................................................................

23

E . Instrumen Penelitian ........................................................................

23

F. Pelaksanaan Penelitian.....................................................................

25

G. Teknik Analisis Data........................................................................

27

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian dan Analisis Data ...................................................

32

B. Pembahasan .....................................................................................

38

KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan .....................................................................................

49

B. Saran ................................................................................................

50

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN
1. Silabus eksperimen...................................................................................

51

2. Silabus kontrol .........................................................................................

58

3. RPP eksperimen .......................................................................................

64

4. RPP kontrol ..............................................................................................

83

5. Lembar Kerja Siswa ................................................................................ 101

v

6. Kisi-Kisi Pretest ....................................................................................... 129
7. Jawaban dan Penilaian pretest .................................................................. 134
8. Kisi-Kisi Postest........................................................................................ 137
9. Jawaban dan Penilaian pretest .................................................................. 141
10. Soal Pretes ............................................................................................... 145
11 Soal Postest ............................................................................................. 150
12. Data Pretest dan Postest ........................................................................... 154
13. Data Rata-rata Nilai n-Gain .................................................................... 156
14. Perhitungan .............................................................................................. 157
15. Kinerja Guru .......................................................................................... 180
16. Lembar Penilaian aktivitas....................................................................... 196

vi

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman

1.

Indikator keterampilan proses sains dasar ................................................

14

2.

Indikator keterampilan proses sains terpadu ............................................

14

3. Desain Penelitian .......................................................................................

22

4.

Nilai rata-rata pretes dan postes penguasaan konsep ................................

32

5

Nilai rata-rata pretes dan postes keterampilan mengelompokkan.............

33

6. Nilai rata-rata nilai n-gain penguasaan konsep dan keterampilan
mengelompokkan siswa kelas eksperimen dan kontrol ...........................

34

7. Data nilai Chi kuadrat ( χ2) untuk distribusi n-gain keterampilan
mengelompokkan........................................................................................ 35
8. Data nilai Chi kuadrat ( χ2) untuk distribusi n-gain penguasaan konsep.....

36

9. Data Nilai varians n-gain............................................................................... 36
10. Data nilai varians n-gain keterampilan mengelompokkan........................... 37
11. Nilai uji hipotesis (uji-t) penguasaan konsep................................................ 37
12. Nilai uji hipotesis (uji- t') keterampilan mengelompokkan........................... 38

vii

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Halaman

1. Alur penelitian ............................................................................................

26

2. Grafik rata-rata n-gain.................................................................................

34

viii

1

1. PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang

Ilmu kimia merupakan bagian dari Ilmu Pengetahuan Alam (IPA), yang berkembang berdasarkan pada fenomena alam. Ada tiga hal yang berkaitan dengan kimia
yaitu kimia sebagai produk yang berupa fakta, konsep, prinsip, hukum, dan teori;
kimia sebagai proses atau kerja ilmiah; dan kimia sebagai sikap. Oleh sebab itu
pembelajaran kimia harus memperhatikan karakteristik kimia sebagai proses,
produk, dan sikap. Fakta yang ditemui dalam pembelajaran pada pendidikan
formal adalah pembelajaran yang dilakukan hanya melibatkan siswa sebagai pendengar, pencatat dan penghafal konsep karena pembelajaran cenderung hanya
menghadirkan konsep-konsep, hukum-hukum, dan teori-teori saja; tanpa menyuguhkan bagaimana proses ditemukan konsep, hukum, dan teori tersebut, sehingga
tidak tumbuh sikap ilmiah dalam diri siswa.
Hal ini dapat diatasi dengan melatihkan keterampilan berpikir secara ilmiah kepada siswa. Dengan demikian sebagai hasil belajar sains diharapkan siswa memiliki kemampuan berpikir dan bertindak berdasarkan pengetahuan sains yang
dimilikinya, atau lebih dikenal dengan keterampilan proses sains (KPS). Dengan
demikian materi pembelajaran tidak hanya bersifat hafalan dan sebatas kemampuan untuk menjawab soal tanpa memikirkan keterkaitan antara ilmu yang diperolehnya dengan yang terjadi di lingkungan kita.

2

Sebagian besar materi kimia dapat dikaitkan dengan kondisi atau masalah yang
ada dalam kehidupan sehari-hari. Sesuai dengan kompetensi dasarnya yaitu menjelaskan perkembangan konsep reaksi oksidasi-reduksi dan hubungannya dengan
tata nama senyawa serta penerapannya, banyak sekali masalah dalam kehidupan
sehari-hari yang dapat dihubungkan dengan materi ini; misalnya besi berkarat.
Namun yang terjadi selama ini dalam pembelajaran kimia di SMA pada materi
reaksi oksidasi-reduksi, lebih dikondisikan untuk dihafal oleh siswa, akibatnya
siswa mengalami kesulitan menghubungkannya dengan apa yang terjadi di lingkungan sekitar, dan tidak merasakan manfaat dari pembelajaran pada materi
reaksi oksidasi-reduksi, sehingga keterampilan proses sains siswa rendah.

Kegiatan pembelajaran tersebut kurang sejalan dengan proses pembelajaran yang
seharusnya diterapkan pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yaitu
proses pembelajaran yang menempatkan siswa sebagai pusat pembelajaran (student centered). Dalam pembelajaran KTSP guru berperan sebagai fasilitator dan
motivator, serta siswa dituntut untuk memiliki kompetensi khusus setelah proses
pembelajaran.

Selain melatihkan KPS kepada siswa guru juga perlu menerapkan model pelajaran
yang mampu meningkatkan keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran dan
membantu siswa dalam menemukan konsep. Salah satu model pembelajaran yang
dapat memfasilitasi hal tersebut dan mampu menciptakan KPS siswa saat proses
pembelajaran adalah dengan model pembelajaran konstruktivisme yaitu model
Learning Cycle 3E. Model Learning Cycle 3E adalah pembelajaran yang dilakukan melalui serangkaian tahap (fase pembelajaran) yang dapat meningkatkan

3

motivasi belajar siswa. Dengan kata lain siswalah yang mendominasi kegiatan
belajar. Selain itu, model Learning Cycle 3E dapat mengembangkan sikap ilmiah
siswa. Hal ini akan mengaki-batkan pembelajaran menjadi lebih bermakna dan
siswa akan lebih mudah untuk memahami konsep-konsep pada materi reaksi
oksidasi-reduksi. Fase-fase pem-belajaran tersebut meliputi : (1) fase eksplorasi
(exploration); (2) fase penjelasan konsep (explaination); dan (3) fase penerapan
konsep (elaboration).

Fase eksplorasi (exploration), guru memberi kesempatan pada siswa untuk bekerja sama dalam kelompok-kelompok kecil tanpa pengajaran langsung dari guru
untuk menguji prediksi, melakukan dan mencatat pengamatan melalui kegiatankegiatan seperti mengamati reaksi-reaksi.

Fase penjelasan konsep (explaination), siswa lebih aktif untuk menentukan atau
mengenal suatu konsep berdasarkan pengetahuan yang telah diperoleh sebelumnya di dalam fase eksplorasi.

Fase penerapan konsep (elaboration), siswa menerapkan konsep pada contoh
kejadian yang lain, baik yang sama tingkatannya ataupun yang lebih tinggi tingkatannya.

Dari hasil observasi yang telah dilakukan di SMAN 1 Gadingrejo, bahwa selama
proses pembelajaran materi-materi kimia, guru melakukannya dengan menanamkan konsep secara verbal, masih memegang kendali proses belajar-mengajar.
Siswa tidak dilibatkan dalam menemukan konsep sehingga pembelajaran menjadi
monoton dan siswa kurang termotivasi untuk belajar. Aktivitas siswa yang rele-

4

van dengan pembelajaran seperti mengemukakan pendapat, bertanya pada guru,
menjawab pertanyaan dari guru dan saling berbagi informasi dengan teman jarang
sekali muncul. Apabila guru mengajukan pertanyaan kepada siswa, hanya beberapa siswa yang menjawab pertanyaan dari guru, sebagian besar siswa yang lain
hanya diam.

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Fitri (2011) pada materi reaksi
oksidasi-reduksi siswa kelas X1 SMA Budaya Bandar Lampung, menunjukkan
bahwa penerapan pembelajaran Learning Cycle 3E dapat meningkatkan keterampilan berkomunikasi dan penguasaan konsep siswa. Fitri (2011) memiliki kendala
dalam hal pengelolaan waktu yang digunakan dalam proses pembelajran, hal ini
dikarenakan LKS eksperimen yang digunakan dalam proses pembelajaran mengharuskan siswa melakukan praktikum, mengamati percobaan, mencatat hasil percobaan, mempresentasikan hasilnya, dan mengambil kesimpulan, sehingga memerlukan pengelolaan waktu yang baik. Untuk mengatasi hal tersebut, maka
dalam penelitian ini menggunakan LKS non-eksperimen. Peneliti lain adalah
Mariana (2012) pada materi kesetimbangan siswa kelas XI IPA SMA Persada
Bandar Lampung tahun ajaran 2011/2012 menunjukkan bahwa model pembelajaran Learning Cycle 3E dapat meningkatkan keterampilan berkomunikasi dan
penguasaan konsep kesetimbangan kimia. Mariana (2012) juga memiliki kendala
dalam hal pengelolaan waktu yang digunakan dalam proses pembelajran dan
menggunakan LKS eksperimen dalam proses pembelajarannya, maka dalam
penelitian ini menggunakan LKS non-eksperimen.

5

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan di atas, maka dilakukan penelitian
dengan judul “Efektivitas Model Pembelajaran Learning Cycle 3E Pada Materi
Reaksi oksidasi-reduksi untuk Meningkatkan Keterampilan Mengelompokkan
dan Penguasaan Konsep Pada Siswa”

B.

Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang di atas, dapat dirumuskan masalah sebagai berikut:
1.

Bagaimana efektivitas model pembelajaran Learning Cycle 3E pada materi
reaksi oksidasi-reduksi dalam meningkatkan penguasaan konsep pada siswa ?

2.

Bagaimana efektivitas model pembelajaran pembelajaran Learning Cycle 3E
pada materi reaksi oksidasi-reduksi dalam meningkatkan keterampilan
mengelompokkan ?

C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan dari penelitian ini adalah
1.

Mendeskripsikan efektivitas model pembelajaran pembelajaran Learning
Cycle 3E pada materi reaksi oksidasi-reduksi untuk meningkatkan
penguasaan konsep pada siswa

2.

Mendeskripsikan efektivitas model pembelajaran pembelajaran Learning
Cycle 3E pada materi reaksi oksidasi-redsuksi untuk meningkatkan
keterampilan mengelompokkan

6

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan bermanfaat antara lain :
1. Siswa
Mendapat pengalaman belajar secara langsung dan mempermudah dalam
mengkonstruksi konsep pada materi reaksi oksidasi-reduksi, sehingga dapat
meningkatkan keterampilan mengelompokkan dan penguansaan konsep pada
siswa
2. Guru
Pembelajaran dengan model Learning Cycle 3E diharapkan dapat menjadi
salah satu pilihan pemecahan masalah bagi guru dan calon guru kimia dalam
melaksana-kan pembelajaran kimia di sekolah, dapat melaksanakan
pembelajaran yang efektif, efisien dan mempermudah guru dalam pelaksanaan
pembelajaran serta dapat meningkatkan kemampuan belajar siswa.

3. Sekolah
Menjadi informasi dan sumbangan pemikiran dalam upaya meningkatkan
mutu pembelajaran kimia di sekolah.

E. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini adalah:
1.

Lokasi penelitian ini adalah SMA N 1 Gadingrejo

2.

Efektivitas pembelajaran Learning Cycle 3E ditunjukkan dengan adanya
perbedaan yang signifikan antara pemahaman awal dengan pemahaman
setelah pembelajaran (peningkatan gain yang signifikan). (Wicaksono, 2008)

7

3.

Model Pembelajaran Learning Cycle 3E adalah salah satu model
pembelajaran berbasis konstruktivisme yang terdiri dari 3 fase yaitu (1) Fase
eksplorasi (exploration); (2) Fase pen-jelasan konsep (explaination); (3) Fase
penerapan konsep (elaboration).

4.

Indikator keterampilan mengelompokkan meliputi mampu menentukan
perbedaan, membandingkan dan menentukan dasar penggolongan terhadap
suatu obyek.

5.

Penguasaan konsep reaksi reduksi oksidasi berupa nilai siswa pada materi
reaksi reduksi-oksidasi yang diperoleh melalui pretest dan posttest.

6.

Pembelajaran konvensional adalah pembelajaran yang selama ini diterapkan
di SMAN1 Gadingrejo.

8

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Efektivitas Pembelajaran

Efektivitas pembelajaran merupakan suatu ukuran yang berhubungan dengan tingkat keberhasilan dari suatu proses pembelajaran. Menurut Nuraeni (2010), model
pembelajaran dikatakan efektif meningkatkan hasil belajar siswa apabila secara
statistik hasil belajar siswa menunjukkan perbedaan yang signifikan antara pemahaman awal dengan pemahaman setelah pembelajaran (ditunjukkan dengan gain
yang signifikan).

Kriteria keefektifan menurut Wicaksono (2008) mengacu pada:
Model pembelajaran dikatakan efektif meningkatkan hasil belajar siswa
apabila secara statistik hasil belajar siswa menunjukkan perbedaan yang signifikan antara pemahaman awal dengan pemahaman setelah pembelajaran
(gain yang signifikan).
Efektivitas merujuk pada kemampuan untuk memiliki tujuan yang tepat atau
mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Efektivitas juga berhubungan dengan
masalah bagaimana pencapaian tujuan atau hasil yang diperoleh, kegunaan atau
manfaat dari hasil yang diperoleh, tingkat daya fungsi unsur atau komponen, serta
masalah tingkat kepuasaan pengguna/client.

Eggen dan Kauchak (Warsita, 2008), menyatakan bahwa suatu pembelajaran akan
efektif bila siswa secara aktif dilibatkan dalam pengorganisasian dan penemuan

9

informasi (pengetahuan). Hasil pembelajaran tidak saja meningkatkan pengetahuan, melainkan meningkatkan keterampilan berpikir. Dengan demikian dalam
pembelajaran perlu diperhatikan aktivitas siswa selama mengikuti proses pembelajaran. Semakin siswa aktif, pembelajaran akan semakin efektif. Minat juga
akan mempengaruhi proses belajar mengajar. Jika tidak berminat untuk mempelajari sesuatu maka tidak dapat diharapkan siswa akan belajar dengan baik dalam
mempelajari hal tersebut. Jika siswa belajar sesuatu dengan minatnya maka dapat
diharapkan hasilnya akan lebih baik. Ada beberapa ciri pembelajaran efektif yang
dirumuskan oleh Eggen & Kauchak (Warsita, 2008) adalah:
1. Peserta didik menjadi pengkaji yang aktif terhadap lingkungannya melalui
mengobservasi, membandingkan, menemukan kesamaan-kesamaan dan
perbedaan-perbedaan serta membentuk konsep dan generalisasi berdasarkan kesamaan-kesamaan yang ditemukan.
2. Guru menyediakan materi sebagai fokus berpikir dan berinteraksi dalam
pelajaran.
3. Aktivitas-aktivitas peserta didik sepenuhnya didasarkan pada pengkajian.
4. Guru secara aktif terlibat dalam pemberian arahan dan tuntunan kepada
peserta didik dalam menganalisis informasi.
5. Orientasi pembelajaran penguasaan isi pelajaran dan pengembangan keterampilan berpikir.
6. Guru menggunakan teknik pembelajaran yang bervariasi sesuai dengan
tujuan dan gaya pembelajaran guru.
B. Pembelajaran Konstruktivisme

Teori-teori baru dalam psikologi pendidikan di kelompokkan dalam teori pembelajaran konstruktivis (Constructivist Theories Of Learning). Teori konstruktivis
ini menyatakan bahwa siswa harus menemukan sendiri dan mentransformasikan
informasi kompleks, mengecek informasi baru dengan aturan-aturan lama dan
merevisinya apabila aturan-aturan itu tidak sesuai. Teori ini berkembang dari
kerja Piaget, Vygotsky, teori-teori pemrosesan informasi, dan teori psikologi
kognitif yang lain, seperti teori Bruner . Nur (Trianto, 2010).

10

Menurut Von Glasersfeld (Sardiman, 2007) konstruktivisme merupakan salah satu
aliran filsafat pengetahuan yang menekankan bahwa pengetahuan kita merupakan
hasil konstruksi (bentukan) kita sendiri. Pengetahuan bukanlah suatu imitasi dari
kenyataan (realitas). Von Glasersfeld menegaskan bahwa pengetahuan bukanlah
gambaran dari dunia kenyataan yang ada. Tetapi pengetahuan merupakan akibat
dari suatu konstruksi kognitif dari kenyataan yang terjadi melalui kegiatan
seseorang.

Menurut Von Glaserfeld (Pannen, dkk, 2001). Pengetahuan dibentuk oleh struktur
penerimaan konsep seseorang sewaktu mengadakan interaksi dengan lingkungannya.

Battencourt (Suparno, 1997) memandang bahwa pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari seseorang kepada yang lain, tetapi harus diinterpretasikan, ditransformasikan, dan dikonstruksikan sendiri oleh masing-masing siswa. Tiap
siswa harus mengkonstruksi pengetahuan sendiri. Pengetahuan bukan sesuatu
yang sudah jadi, melainkan suatu proses yang berkembang terus-menerus, sejalan
dengan bertambahnya usia dan pengalaman belajar seseorang. Dalam proses itu
keaktifan seseorang yang ingin tahu sangat berperanan dalam perkembangan pengetahuannya.

Prinsip-prinsip konstruktivisme menurut Suparno (1997), antara lain:
(1)pengetahuan dibangun oleh siswa secara aktif; (2) tekanan dalam proses
belajar terletak pada siswa; (3) mengajar adalah membantu siswa belajar; (4)
tekanan dalam proses belajar lebih pada proses bukan pada hasil akhir; (5)
kurikulum menekankan partisipasi siswa; dan (6) guru adalah fasilitator.

11

Secara sederhana konstruktivisme merupakan konstruksi dari kita yang mengetahui sesuatu. Pengetahuan itu bukanlah suatu fakta yang tinggal ditemukan, melainkan suatu perumusan yang diciptakan orang yang sedang mempelajarinya.
Bettencourt menyimpulkan bahwa konstruktivisme tidak bertujuan mengerti
hakikat realitas, tetapi lebih hendak melihat bagaimana proses kita menjadi tahu
tentang sesuatu (Suparno, 1997)

C. Learning Cycle 3 Phase
Learning Cycle merupakan model pembelajaran yang dilandasi oleh filsafat konstruktivisme. Karplus (Wena, 2009) menyatakan bahwa pembelajaran siklus merupakan salah satu model pembelajaran dengan pendeketan konstruktivis. Siklus
belajar merupakan salah satu model pembelajaran dengan pendekatan konstruktivis yang pada mulanya terdiri atas tiga tahap, yaitu:
a. Eksplorasi (Eksploration)
b. Pengenalan konsep (Concept Introduction), dan
c. Penerapan Konsep (Concept Application)

Fajaroh dan Dasna (2007) bahwa: Model pembelajaran Learning Cycle dikembangkan dari teori perkembangan kognitif Piaget. Model belajar ini menyarankan
agar proses pembelajaran dapat melibatkan siswa dalam kegiatan belajar yang
aktif sehingga terjadi proses asimilasi, akomodasi dan organisasi dalam struktur
kognitif siswa. Bila terjadi proses konstruksi pengetahuan dengan baik maka
siswa akan dapat meningkatkan pemahamannya terhadap materi yang dipelajari.
Karplus dan Their (Fajaroh dan Dasna, 2007) mengungkapkan bahwa:
Siklus Belajar (Learning Cycle) adalah suatu model pembelajaran yang berpusat pada siswa (student centered). Learning Cycle merupakan rangkaian
tahap-tahap kegiatan (fase) yang diorganisasi sedemikian rupa sehingga pem-

12

belajar dapat menguasai kompetensi-kompetensi yang harus dicapai dalam
pembelajaran dengan jalan berperanan aktif.

Menurut Karplus (Sunal.1994) ada tiga siklus dalam pembelajaran.
1. Tahap pertama adalah eksplorasi di mana siswa belajar dengan sedikit
bimbingan dari guru mengenai fenomena alam maupun gagasan yang
menghasilkan pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat mereka jawab.
2. Pada fase kedua dari konsep ini adalah fase explaination dimana konsep
yang akan dibelajarkan dijelaskan oleh guru. Di sini guru dituntut untuk
lebih aktif.
3. Yang terakhir, yaitu tahap aplikasi (elaboration), konsep diterapkan
melalui situasi baru dan memperluas jangkauan kegunaan konsep. Pada
Fase ini pembelajaran dicapai melalui pengulangan dan praktek sehingga
ada waktu untuk menstabilkan gagasan baru dan pemikiran siswa.
Learning cycle 3E melalui kegiatan dalam tiap fase mewadahi siswa untuk secara
aktif membangun konsep-konsepnya sendiri dengan cara berinteraksi dengan lingkungan fisik maupun sosial. Hudojo (2001) mengemukakan bahwa implementasi
Learning Cycle 3E dalam pembelajaran sesuai dengan pandangan konstruktivis:
1. siswa belajar secara aktif. Siswa mempelajari materi secara bermakna
dengan bekerja dan berpikir. Pengetahuan dikonstruksi dari pengalaman
siswa,
2. informasi baru dikaitkan dengan skema yang telah dimiliki siswa. Informasi baru yang dimiliki siswa berasal dari interpretasi individu,
3. orientasi pembelajaran adalah investigasi dan penemuan yang merupakan
pemecahan masalah.

Learning Cycle 3E merupakan strategi jitu bagi pembelajaran sains di sekolah
menengah karena dapat dilakukan secara luwes dan memenuhi kebutuhan nyata
guru dan siswa. Dilihat dari dimensi guru, penerapan strategi ini memperluas
wawasan dan meningkatkan kreativitas guru dalam merancang kegiatan
pembelajaran. Cohen dan Clough (Fajaroh dan Dasna, 2007).

13

D.

Keterampilan Proses Sains

Menurut Gagne (Dahar , 1996) keterampilan proses sains adalah kemampuankemampuan dasar tertentu yang dibutuhkan untuk menggunakan dan memahami
sains. Setiap keterampilan proses merupakan keterampilan intelektual yang khas
yang digunakan oleh semua ilmuwan, serta dapat Learning Cycle 3E digunakan
untuk memahami fenomena apapun juga. Keterampilan proses sains mempunyai
cakupan yang sangat luas sehingga aspek-aspek keterampilan proses sains sering
digunakan dalam beberapa pendekatan dan metode. Demikian halnya dalam proses pembelajaran yang dikembangkan yaitu, keterampilan proses sains menjadi
bagian yang tidak terpisahkan dalam kegiatan belajar mengajar yang dilaksanakan.

Menurut Hariwibowo, dkk. (2009):
Keterampilan proses adalah keterampilan yang diperoleh dari latihan
kemampuan-kemampuan mental, fisik, dan sosial yang mendasar sebagai
penggerak kemampuan-kemampuan yang lebih tinggi. Kemampuankemampuan mendasar yang telah dikembangkan dan telah terlatih lamakelamaan akan menjadi suatu keterampilan, sedangkan pendekatan keterampilan proses adalah cara memandang anak didik sebagai manusia
seutuhnya. Cara memandang ini dijabarkan dalam kegiatan belajar mengajar memperhatikan pengembangan pengetahuan, sikap, nilai, serta keterampilan. Ketiga unsur itu menyatu dalam satu individu dan terampil dalam
bentuk kreatifitas.

Menurut pendapat Tim Action Research Buletin Pelangi pendidikan (Fitriani, D.
2009) ketrampilan proses sains dibagi menjadi dua antara lain:
1.

Keterampilan proses dasar ( Basic Science Proses Sklill), yang terlihat dalam
tabel 1 berikut.

14

Tabel 1. Indikator keterampilan proses sains dasar

Keterampilan dasar
Observasi

Mengelompokkan

Pengukuran

Berkomunikasi

Inferensi

2.

Indikator
Mampu menggunakan semua indera (penglihatan,
pembau, pendengaran, pengecap, dan peraba) untuk
mengamati, mengidentifikasi, dan menamai sifat benda
dan kejadian secara teliti dari hasil pengamatan.
Mampu menentukan perbedaan, mengkontraskan ciriciri, mencari kesamaan, membandingkan dan menentukan dasar penggolongan terhadap suatu obyek.
Mampu memilih dan menggunakan peralatan untuk
menentukan secara kuantitatif dan kualitatif ukuran
suatu benda secara benar yang sesuai untuk panjang,
luas, volume, waktu, berat dan lain-lain. Dan mampu
mendemontrasikan perubahan suatu satuan pengukuran ke satuan pengukuran lain.
Memberikan/menggambarkan data empiris hasil
percobaan atau pengamatan dengan tabel, menyusun
dan menyampaikan laporan secara sistematis, menjelaskan hasil percobaan, membaca tabel, mendiskusikan hasil kegiatan suatu masalah atau suatu peristiwa.
Mampu membuat suatu kesimpulan tentang suatu
benda atau fenomena setelah mengumpulkan,
menginterpretasi data dan inormasi.

Keterampilan proses terpadu (Intergated Science Proses Skill), meliputi merumuskan hipotesis, menamai variabel, mengontrol variabel, membuat definisi operasional, melakukan eksperimen, interpretasi, merancang penyelidikan,
dan aplikasi konsep. Indikator keterampilan proses sains terpadu ditunjukkan
pada Tabel 2 sebagai berikut:

Tabel 2. Indikator keterampilan proses sains terpadu

Keterampilan
Terpadu
Merumuskan
hipotesis

Indikator
Mampu menyatakan hubungan antara dua variabel, mengajukan perkiraan penyebab suatu hal terjadi dengan
mengungkapkan bagaimana cara melakukan pemecahan
masalah.

15

Menamai variabel

Mampu mendefinisikan semua variabel jika digunakan
dalam percobaan.

Mengontrol variabel

Mampu mengidentifikasi variabel yang mempengaruhi
hasil percobaan, menjaga kekonstanannya selagi memanipulasi variabel bebas.
Mampu menyatakan bagaimana mengukur semua faktor
atau variabel dalam suatu eksperimen.
Mampu melakukan kegiatan, mengajukan pertanyaan
yang sesuai, menyatakan hipotesis, mengidentifikasi dan
mengontrol variabel, mendefinisikan secara operasional
variabel-variabel, mendesain sebuah eksperimen yang
jujur, menginterpretasi hasil eksperimen.
Mampu menghubung-hubungkan hasil pengamatan
terhadap obyek untuk menarik kesimpulan, menemukan
pola atau keteraturan yang dituliskan (misalkan dalam
tabel) suatu fenomena alam.
Mampu menentuka alat dan bahan yang diperlukan
dalam suatu penyelidikan, menentukan variabel kontrol,
variabel bebas, menentukan apa yang akan diamati,
diukur dan ditulis, dan menentukan cara dan langkah
kerja yang mengarah pada pencapaian kebenaran ilmiah.
Mampu menjelaskan peristiwa baru dengan menggunakan konsep yang telah dimiliki dan mampu menerapkan
konsep yang telah dipelajari dalam situasi baru.

Membuat definisi
operasional
Melakukan
Eksperimen

Interpretasi

Merancang
penyelidikan

Aplikasi konsep

Conny Setiawan (Hariwibowo, 2008) mengemukakan empat alasan mengapa
pendekatan keterampilan proses harus diwujudkan dalam proses belajar dan pembelajaran, yaitu:
a. Dengan kemajuan yang sangat pesat dalam ilmu pengetahuan dan teknologi,
guru tidak mungkin lagi mengajarkan semua fakta dan konsep dari sekian
mata pelajaran, karena waktunya tidak akan cukup.
b. Siswa-siswa, khususnya dalam usia perkembangan anak, secara psikologis
lebih mudah memahami konsep,apalagi yang sulit, bila disertai dengan
contoh-contoh konkrit, dialami sendiri, sesuai dengan lingkungan yang
dihadapi. J. Piaget mengatakan bahwa intisari pengetahuan adalah kegiatan
atau aktivitas, baik fisik maupun mental.

16

c.

Ilmu pengetahuan dapat dikatakan bersifat relatif, artinya suatu kebenaran
teori pada suatu saat berikutnya bukan kebenaran lagi, tidak sesuai lagi
dengan situasi. Suatu teori bisa gugur bila ditemukan teori-teori yang lebih
baru dan lebih jitu. Jadi, suatu teori masih dapat dipertanyakan dan diperbaiki. Oleh karena itu, perlu orang-orang yang kritis, mempunyai sikap
ilmiah. Wajar kiranya kalau siswa sejak dini sudah ditanamkan dalam dirinya
sikap ilmiah dan sikap kritis ini. Dengan menggunakan keterampilan proses,
maksud tersebut untuk saat ini pantas diterima.

d. Proses belajar dan pembelajaran bertujuan membentuk manusia yang utuh
artinya cerdas, terampil dan memiliki sikap dan nilai yang diharapkan. Jadi,
pengembangan pengetahuan dan sikap harus menyatu. Dengan keterampilan
memproses ilmu, diharapkan berlanjut kepemilikan sikap dan mental.

E. Penguasaan Konsep
Konsep merupakan salah satu pengetahuan awal yang harus dimiliki siswa karena
konsep merupakan dasar dalam merumuskan prinsip-prinsip. Penguasaan konsep
yang baik akan membantu pemakaian konsep-konsep yang lebih kompleks. Penguasaan konsep merupakan dasar dari penguasaan prinsip-prinsip teori, artinya
untuk dapat menguasai prinsip dan teori harus dikuasai terlebih dahulu konsepkonsep yang menyusun prinsip dan teori yang bersangkutan. Untuk mengetahui
sejauh mana penguasaan konsep dan keberhasilan siswa, maka diperlukan tes
yang akan dinyatakan dalam bentuk angka atau nilai tertentu. Penguasaan konsep
juga merupakan suatu upaya pemahaman siswa untuk memahami hal-hal lain di
luar pengetahuan sebelumnya. Jadi, siswa dituntut untuk menguasai materimateri pelajaran selanjutnya.

17

Piaget (Dimyati dan Madjiono, 2002) menyatakan bahwa pengetahuan dibentuk
oleh individu. Individu melakukan interaksi terus-menerus dengan lingkungan.
Lingkungan tersebut mengalami perubahan. Dengan adanya interaksi dengan
lingkungan maka fungsi intelek semakin berkembang.

Posner (Suparno, 1997) menyatakan bahwa dalam proses belajar terdapat dua
tahap perubahan konsep yaitu tahap asimilasi dan akomodasi. Pada tahap asimilasi, siswa menggunakan konsep-konsep yang telah mereka miliki untuk berhadapan dengan fenomena yang baru. Pada tahap akomodasi, siswa mengubah konsepnya yang tidak cocok lagi dengan fenomena baru yang mereka hadapi. Guru
sebagai pengajar harus memiliki kemampuan untuk menciptakan kondisi yang
kondusif agara siswa dapat menemukan dan memahami konsep yang diajarkan.
Hal ini sesuai dengan pendapat Toulmin (Suparno, 1997) yang menyatakan bahwa
bagian terpenting dari pemahaman siswa adalah perkembangan konsep secara
evolutif. Dengan terciptanya kondisi yang kondusif, siswa dapat menguasai
konsep yang disampaikan guru. Penguasaan konsep adalah kemampuan siswa
menguasai materi pelajaran yang diberikan.

Menurut Piaget (Santrock, 2003) remaja menyesuaikan diri dengan dua cara yaitu
melalui asimilasi dan adaptasi, diantara proses asimilasi dan adaptasi anak akan
mengalami disequilibrium dalam usahanya menemukan pengetahuan. Menurut
Piaget akan terjadi pergeseran antara equilibrium (keseimbangan kognitif) dan
disequilibrium (ketidakseimbangan kognitif) ketika asimilasi dan adaptasi
berlangsung sehingga menimbulkan perubahan kognitif anak.

18

F. Keterampilan Mengelompokkan

Keterampilan klasifikasi (mengelompokkan) adalah keterampilan dalam menggolong-golongkan sesuai dengan tujuan yang diinginkan. Dalam mengklasifikasi
adalah siswa harus terlatih untuk memahami persamaan dan perbedaan sesuatu.
Dasar dari klasifikasi adalah dapat berupa ciri khusus, tujuan, maupun untuk
kepentingan tertentu. (Rahayu, 2010).

Adapun proses pengelompokkan tercakup beberapa kegiatan seperti mencari
kesamaan, mencari perbedaan, mengontraskan ciri-ciri, membandingkan dan
mencari dasar penggolongan. (Rustaman. dkk ,2005).

G. Kerangka Pemikiran

Pembelajaran melalui Learning Cycle 3E, terutama dalam membelajarkan materi
reaksi reduksi dan oksidasi, merupakan pembelajaran siklus belajar mengharuskan
siswa membangun sendiri pengetahuannya dengan memecahkan permasalahan
yang dibimbing oleh guru. Model pembelajaran ini memiliki tiga langkah sederhana, yaitu fase eksplorasi (exploration), fase penjelasan konsep (explaination),
dan fase penerapan konsep (elaboration).
1. Fase eksplorasi (exploration), siswa diberi kesempatan untuk bekerja sama
dalam kelompok-kelompok kecil tanpa pengajaran langsung dari guru untuk
menguji prediksi, melakukan dan mencatat pengamatan melalui kegiatankegiatan seperti mengamati reaksi-reaksi. Pada fase siswa akan mengalami
kebingungan dan mempunyai rasa keingintahuan yang tinggi terhadap fakta
baru yang mengarah pada berkembangnya daya nalar tingkat tinggi yang diawali dengan kata-kata seperti mengapa dan bagaimana. Munculnya perta-

19

nyaan-pertanyaan tersebut sekaligus merupakan indikator kesiapan siswa
untuk menempuh fase pengenalan konsep (explaination).
2. Fase penjelasan konsep (explaination), siswa lebih aktif untuk menentukan
atau mengenal suatu konsep berdasarkan pengetahuan yang diperoleh sebelumnya di dalam fase eksplorasi. Pada fase ini siswa akan mencari tahu jawaban atas pertanyaan mengapa dan bagaimana sehingga terjadi proses menuju
kesetimbangan antara konsep-konsep yang telah dimiliki siswa dengan konsep-konsep yang baru dipelajari, begitu seterusnya sehingga terjadi kesetimbangan antara struktur kognitif dengan pengetahuan yang baru (ekuilibrasi).
3. Fase penerapan konsep (elaboration). Pada fase ini siswa diajak untuk menerapkan konsep pada contoh kejadian yang lain, baik yang sama ataupun yang
lebih tinggi tingkatannya.

Pembelajaran kimia yang demikian memberikan pengalaman belajar pada siswa
sebagai proses dengan menggunakan sikap ilmiah agar mampu memiliki pemahaman melalui fakta-fakta yang mereka temukan sendiri, sehingga mereka dapat
menemukan konsep, hukum, dan teori, serta dapat mengaitkan dan menerapkan
pada realistis kehidupan.

Dengan berpikir apabila metode pembelajaran Learning Cycle 3 E diterapkan
pada pembelajaran kimia di kelas diharapkan siswa dapat meningkatkan keterampilan mengelompokkan dan juga penguasaan konsep, sehingga keterampilan
mengelompokkan dan penguasaan konsep siswa menggunakan model pembelajaran ini akan lebih baik bila dibandingkan dengan kemampuan mengelompokkan
dan penguasaan konsep siswa yang dibelajarkan melalui pembelajaran konvensional.

20

H. Anggapan Dasar
Anggapan dasar dalam penelitian ini adalah:
1. Semua siswa kelas X semester genap SMA Negeri 1 Gadingrejo tahun pelajaran 2011/2012 yang menjadi objek penelitian mempunyai kemampuan dasar
yang sama dalam penguasaan konsep kimia.
2. Perbedaan keterampilan mengelompokkan dan penguasaan konsep siswa
terjadi karena perbedaan perlakuan dalam proses pembelajaran.
3. Faktor-faktor lain yang mempengaruhi peningkatan hasil belajar kimia siswa
kelas kelas X semester genap SMA Negeri 1 Gadingrejo tahun pelajaran
2011/2012 diabaikan.

I.

Hipotesis Umum

Hipotesis umum dalam penelitian ini adalah:
1. Pembelajaran Learning Cycle 3E efektif dalam meningkatkan keterampilan
mengelompokkan reaksi oksidasi-reduksi.
2. Pembelajaran Learning Cycle 3E efektif dalam meningkatkan penguasaan
konsep reaksi oksidasi-reduksi.

21

III. METODOLOGI PENELITIAN

A. Populasi dan Sampel Penelitian

1.

Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah semua siswa kelas X SMAN 1 Gadingrejo
pada semester genap tahun pelajaran 2011-2012 yang berjumlah 248 siswa dan
tersebar dalam 8 kelas yaitu X1, X2, X3, X4, X5, X6, X7 dan X8.
2.

Sampel

Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto, 2002).
Sampel penelitian adalah bagian dari populasi yang memiliki karakteristik yang
sama dengan populasi. Sampel dalam penelitian ini adalah dua kelas (kelas X
SMAN 1 Gadingrejo) yang memiliki homogenitas karakteristik siswanya dan kemampuan penguasaan konsep serta keterampilan proses sains. Pengambilan
sampel dilakukan dengan teknik purposif sampling dikenal juga sebagai sampling
pertimbangan yaitu pengambilan sampel dilakukan berdasarkan pertimbangan
(berdasarkan saran dari ahli) yang dibuat oleh peneliti sendiri, berdasarkan ciri
atau sifat-sifat populasi yang sudah diketahui sebelumnya. Dalam hal ini Ibu
Sulistini sebagai guru mata pelajaran kimia yang memahami karakteristik siswa di
sekolah tersebut untuk memberikan saran kepada peneliti dalam menentukan
kelas yang akan dijadikan sampel. Akhirnya penulis mendapatkan kelas X2 dan

22

X4 sebagai sampel. Kelas X4 sebagai kelompok eksperimen yang mengalami
pembelajaran Learning Cycle 3E, sedangkan kelas X2 sebagai kelompok kontrol
yang mengalami pembelajaran konvensional.

B. Metode dan Variabel Penelitian
Dalam penelitian ini terdiri dari satu variabel bebas dan satu variabel terikat. Sebagai variabel bebas adalah model pembelajaran yang digunakan, yaitu model
pembelajaran Learning Cycle 3E dan pembelajaran konvensional. Sebagai
variabel terikat adalah keterampilan mengelompokkan dan penguasaan konsep
pada materi reaksi reduksi-oksidasi siswa SMAN 1 Gadingrejo.

C. Design Penelitian
Metode penelitian ini adalah kuasi eksperimen dengan Non Equivalent Control
Group Design (Creswell, 1997) Di dalamnya terdapat langkah-langkah yang
menunjuk-kan suatu urutan kegiatan penelitian yaitu:
Tabel 3. Desain penelitian
Kelas kontrol

Pretes
O1

Perlakuan
-

Postes
O2

Kelas eksperimen

O1

X1

O2

Keterangan
O1 : pretes yang diberikan sebelum diberikan perlakuan
O2 : postes yang diberikan setelah diberikan perlakuan
X1 : pembelajaran konvensional
X2 : perlakuan berupa penerapan pembelajaran Learning Cycle 3E.

23

D. Jenis dan Sumber Data

1. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data yang bersifat
kuantitatif. Data kuantitatif diperoleh dari tes hasil belajar.
2. Sumber data dibagi menjadi dua yaitu :
a. Data primer yang meliputi :
2.1. Data hasil pretest dan posttest kelompok kontrol
2.2. Data hasil pretest dan posttest kelompok eksperimen dan
b. Data sekunder yang meliputi :
Lembar kinerja guru dan lembar observasi siswa
3. Sumber data dibagi menjadi dua yaitu:
a. Data primer yang meliputi data hasil pretest dan posttest kelas eksperimen
dan kelas kontrol
b. Data sekunder yang meliputi data lembar kinerja guru dan lembar aktivitas
siswa.

E. Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian merupakan suatu alat untuk mengumpulkan data dalam suatu
penelitian. Pada penelitian ini, instrumen yang digunakan adalah:
1. LKS Kimia berbasis keterampilan proses sains materi pokok reaksi oksidasireduksi. Sejumlah 4 LKS, dengan rincian :
a. LKS 1 berisi sub materi reaksi oksidasi-reduksi berdasarkan penangkapan
dan pelepasan oksigen serta reaksi oksidasi reduksi berdasakan serah terima
elektron.

24

b. LKS 2 berisi sub materi reaksi oksidasi reduksi berdasarkan penurunan dan
kenaikkan bilangan oksidasi.
c. LKS 3 berisi sub materi reaksi dissproposionasi (autoredoks).
d. LKS 4 berisi sub materi tatanama IUPAC senyawa berdasarkan perubahan
bilangan oksidasi.

2. Soal pretest dan posttest untuk membangun pemahaman konsep siswa
a. Pretest
Soal Pretest dalam penelitian ini terdiri dari pilihan jamak dan uraian yang di
dalamnya terdapat indikator keterampilan mengelompokkan.
b. Posttest
Soal posttest terdiri dari soal pilihan jamak dan soal uraian yang di dalamnya
terdapat indikator keterampilan mengelompokkan.

Adapun pengujian kevalidan isi ini dilakukan dengan cara judgment. Dalam hal
ini pengujian dilakukan dengan menelaah kisi-kisi, terutama kesesuaian antara
tujuan penelitian, tujuan pengukuran, indikator, dan butir-butir pertanyaannya.
Bila antara unsur-unsur itu terdapat kesesuaian, maka dapat dinilai bahwa instrumen dianggap valid untuk digunakan dalam mengumpulkan data sesuai kepentingan penelitian yang bersangkutan.
3. Lembar observasi kinerja guru dan lembar aktivitas siswa guna mendukung
berjalannya penelitian.

F. Pelaksanaan Penelitian

Langkah-langkah yang digunakan penelitian ini adalah:

25

1. Observasi Pendahuluan
Tujuan observasi pendahuluan:
a. Meminta izin kepada Kepala SMAN 1 Gadingrejo untuk melaksanakan
penelitian dan menyampaikan surat izin penelitian yang telah dibuat.
b. Menentukan pokok bahasan yang akan diteliti berdasarkan karakteristik materi
yang cocok untuk diterapkan pembelajaran Learning Cycle 3E.
c. Menentukan populasi dan sampel penelitian sebanyak 2

Dokumen yang terkait

EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN LEARNING CYCLE 3E PADA MATERI KESETIMBANGAN KIMIA DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENGKOMUNIKASIKAN DAN PENGUASAAN KONSEP

0 3 35

EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN LEARNING CYCLE 3E PADA MATERI KESETIMBANGAN KIMIA DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN PROSES SAINS DAN PENGUASAAN KONSEP

0 16 44

EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN LEARNING CYCLE 3E PADA MATERI HUKUM - HUKUM DASAR KIMIA DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN INFERENSI DAN PENGUASAAN KONSEP

0 12 70

EFEKTIVITAS PEMBELAJARAN LEARNING CYCLE 3E PADA MATERI HUKUM - HUKUM DASAR KIMIA DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN INFERENSI DAN PENGUASAAN KONSEP

0 11 66

EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN LEARNING CYCLE 3E PADA MATERI REAKSI OKSIDASI-REDUKSI UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENYIMPULKAN DAN PENGUASAAN KONSEP PADA SISWA

0 10 57

EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN LEARNING CYCLE 3E PADA MATERI REAKSI OKSIDASI-REDUKSI DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENGKOMUNIKASIKAN DAN PENGUASAAN KONSEP PADA SISWA

0 10 54

EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN LEARNING CYCLE 3E PADA MATERI REAKSI OKSIDASI-REDUKSI UNTUK MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENGELOMPOKKAN DAN PENGUASAAN KONSEP PADA SISWA

0 25 54

EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN LEARNING CYCLE 3E PADA MATERI REAKSI OKSIDASI- REDUKSI DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN INFERENSI DAN PENGUASAAN KONSEP

0 8 61

EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN LEARNING CYCLE 3E DALAM MENINGKATKAN KETERAMPILAN MENGKOMUNIKASIKAN DAN PENGUASAAN KONSEP SISWA PADA MATERI ASAM BASA

0 4 43

EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN LEARNING CYCLE 3E DALAM MENINGKATKAN PENGUASAAN KONSEP PADA MATERI LARUTAN NON-ELEKTROLIT DAN ELEKTROLIT

0 3 49

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

76 1878 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 495 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 436 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

9 262 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 381 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 578 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 506 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

10 320 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 494 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 588 23