Strategi implementasi new wave marketing pada perbankan syariah

STRATEGI IMPLEMENTASI NEW WAVE MARKETING
PADA PERBANKAN SYARIAH

Skripsi
Diajukan kepada Fakultas Syariah dan Hukum
untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Ekonomi Syariah (S.E.Sy)

Oleh :
Hidayat
NIM : 103046128261

KONSENTRASI PERBANKAN SYARIAH
PROGRAM STUDI MUAMALAT (EKONOMI ISLAM)
FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1432 H/2011 M

STRATEGI IMPLEMENTASI NEW WAVE MARKETING
PADA PERBANKAN SYARIAH

Skripsi
Diajukan Kepada Fakultas Syariah dan Hukum
Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh
Gelar Sarjana Ekonomi Islam (S.E.Sy)

Oleh:
Hidayat
NIM : 103046128261

Menyetujui,
Pembimbing

Fahmi Muhammad Ahmadi, S.Ag.,M.Si.
NIP. 197412132003121002

KONSENTRASI PERBANKAN SYARIAH
PROGRAM STUDI MUAMALAT (EKONOMI ISLAM)
FAKULTAS SYARIAH DAN HUKUM
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1432 H/2011 M

ii

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa :
1. Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukan untuk memenuhi salah
satu persyaratan memperoleh gelar strata 1 di Fakultas Syariah dan Hukum
Universitas Islam Negeri Syarif (UIN) Hidayatullah Jakarta.
2. Semua sumber yang gunakan dalam penulisan ini saya cantumkan sesuai dengan
ketentuan yang berlaku di Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri
Syarif (UIN) Hidayatullah Jakarta.
3. Jika di kemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya asli saya atau
merupakan hasil jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia menerima
sanksi yang berlaku di Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri
Syarif (UIN) Hidayatullah Jakarta.

Jakarta, 30 Desember 2010

Hidayat

iii

PENGESAHAN PANITIA UJIAN
Skripsi Berjudul “Strategi Implementasi New Wave Marketing Pada Perbankan
Syariah” telah diujikan dalam sidang munaqasah Fakultas Syariah dan Hukum
Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta pada tanggal 01 Februari
2011. Skripsi ini telah diteriam sebagai salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana
Ekonomi Syariah (SE. Sy) pada Program studi Muamalat (Ekonomi Islam).

Jakarta, 01 Februari 2011
Mengesahkan,
Dekan Fakultas Syariah dan Hukum

Prof. Dr. H. Muhammad Amin Suma, SH., MA., MM
NIP. 1955 0505 1982 0310 12

PANITIA UJIAN
1. Ketua

: Prof. Dr. H. M. Amin Suma, SH., MA., MM
NIP. 1955 0505 1982 0310 12

(…………………)

2. Sekretaris

: Mu’min Rauf, MA
NIP. 150281979

(…………………)

3. Pembimbing

: Fahmi Ahmadi, S.Ag, M.Si
NIP. 197412132003121002

(…………………)

4. Penguji I

: Drs.H. Abdul Malik, MM

(…………………)

5. Penguji II

: Mu’min Rauf, MA
NIP. 150281979

(…………………)

KATA PENGANTAR

Bismillahirahmanirahim.
Penulis Memanjatkan segala puji dan syukur kehadirat Allah SWT, yang
senantisa memberi rahmat, taufiq dan hidayahNya kepada kita semua. Shalawat serta
salam semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita semua Nabi Muhammad Saw.
Dengan taufiq dan hidayah Allah SWT, serta dilakukan dengan sungguhsungguh, penulis dapat menyusun skripsi hingga selesai yang berjudul “Strategi
Implementasi New Wave Marketing Pada Perbankan Syariah”. Dalam menyusun
skripsi ini, penulis banyak menemukan berbagai kesulitan yang dirasakan
menghambat penyelesaian skripsi ini. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima
kasih yang tak terhingga kepada yang terhormat :
1. Bapak Prof. Dr. H. Muhammad Amin Suma, S.H, M.A, M.M, selaku Dekan
Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
Jakarta, yang secara langsung maupun tidak langsung membimbing penulis dalam
setiap pertemuan, sehingga bias terselesaikannya skripsi ini.
2. Ibu Dr. Euis Amalia, M.Ag, dan Bapak Mu’min Rauf, MA selaku Ketua dan
Sekretaris Program Studi Muamalat (Ekonomi Islam) yang telah memberi
semangat dan dorongan serta arahan dalam penyelesaian skripsi ini.
3. Bapak Fahmi Muhammad Ahmadi, S.Ag.,M.Si., Selaku Dosen Pembimbing
yang dengan penuh kesabaran telah banyak memberi semangat dan dorongan
serta arahan dalam membimbing baik secara lahir maupun batin, sehingga penulis
dapat menyelesaikan skripsi ini.

iv

4. Seluruh Dosen Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri (UIN)
Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah banyak memberikan kontribusi pemikiran
ekonomi Islam dalam perkuliahan.
5. Seluruh Staf Perpustakaan Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam Negeri
(UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, yang telah meluangkan waktu, memberikan
fasilitas dan beberapa referensi untuk penyelesaian skripsi ini.
6. Kedua orang tuaku yang tercinta “Bapak Rohmani (alm) dan Ibu Khodijah”
yang selalu membimbingku dengan segala kasih dan sayangnya dimanapun
ananda berada, begitu juga Kakak tersayang “Kholid, Munani, Herman, ” dan
untuk adik-adik ku tersayang “Shinta Oktalita, Irfan, Yusri, dan keponakan
ku, “Mas Syafei, dan seluruh karyawan PT.BAF yang selalu memotivasiku
secara langsung maupun secara tidak langsung.
7. Rekan-rekan angkatan 2003 Fakultas Syariah dan Hukum, Universitas Islam
Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, yang telah menggoreskan banyak
kenangan

manis,

canda

serta

tawa

selama

menjalankan

perkuliah

diantaranya.Lala latifa, Badi’u Rajab, Candra, Cipta, Nuril, Saidil Mursalin,
Ocim, Rini, Yayang, Habib, Remaja Perisai,
Akhirnya tiada untaian kata yang berharga kecuali ucapan Alhamdulillahi
Robbil ‘Alamin atas rahmat dan karunia serta ridho Allah SWT. Besar harapan
penulis, dengan hadirnya skripsi ini semoga bermanfaat khususnya bagi penulis dan
bagi pembaca pada umumnya, sekian dan terima kasih.
Jakarta, 17 Januari 2011

Penulis

v

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR

iv

DAFTAR ISI

vii

BAB I.

BAB II.

BAB III,

BAB IV,

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah

1

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah

8

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian

9

D. Review Terdahulu

11

E. Metode Penelitian

13

F. Sistematika Penulisan

14

NEW WAVE MARKETING
A. Pengertian New Wave Marketing

15

B. Tren New Wave Marketing

16

C. Strategi New Wave Marketing

20

METODE PENELITIAN
A. Metode Penelitian

37

B. Definisi Pemasaran

40

C. Strategi Pemasaran Perbankan Syariah

50

ANALISA TERHADAP MARKETING PERBANKAN SYARIAH
A. Strategi Pengembangan Perbankan Syariah di Era New Wave
Marketing

57

vii

B. Menyusun Strategi Marketing Perbankan Syariah di era New Wave
Marketing

BAB V.

59

C. Implementasi Strategi Taktik Pemasaran Perbankan Syariah

64

D. Implementasi Strategi Value Pemasaran Perbankan Syariah

68

PENUTUP
A. Kesimpulan

75

B. Saran-saran

76

DAFTAR PUSTAKA

78

viii

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Bank sebagai badan usaha yang menghimpun dana dari masyarakat dalam
bentuk simpanan dan menyalurkannya kepada masyarakat dalam bentuk kredit
dan atau bentuk–bentuk lainnya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat
banyak. Berdasarkan fungsi bank tersebut, maka dana yang dihimpun seharusnya
disalurkan ke masyarakat dalam bentuk kredit/pembiayaan untuk modal kerja,
investasi maupun untuk konsumsi. Berdasarkan kegiatan usahanya, Bank Umum
terdiri dari bank yang melaksanakan kegiatan usahanya secara konvensional dan
bank berdasarkan prinsip Syariah.
Pada saat ini, perkembangan perbankan syariah sebagai bagian dari aplikasi
sistem ekonomi syariah di Indonesia telah memasuki babak baru. Pertumbuhan
industri

perbankan

syariah

telah

bertransformasi

dari

hanya

sekedar

memperkenalkan suatu alternatif praktik perbankan syariah menjadi bagaimana
bank syariah menempatkan posisinya sebagai pemain utama dalam percaturan
ekonomi di tanah air. Bank syariah memiliki potensi besar untuk menjadi pilihan
utama dan pertama bagi nasabah dalam pilihan transaksi mereka.
Setelah diakomodasi Bank Syariah pada Undang–Undang Perbankan No.
10/1998, dan UU No. 21 tentang Perbankan Syariah dapat dirasakan pertumbuhan
Bank Syariah cukup tinggi. Bahkan pada tahun 2010 Bank Indonesia (BI)

1

2

mencatat industri perbankan syariah nasional pada ini menunjukkan pertumbuhan
yang solid yaitu naik 47% dengan total aset bank syariah per Desember 2010
mencapai Rp 100,26 triliun.1 Secara rinci jumlah asset tersebut adalah asset bank
umum syariah (BUS) dan unit usaha syariah (UUS) sebesar Rp 97,52 triliun dan
aset Bank Perkreditan Rakyat Syariah (BPRS) sebesar Rp 2,74 triliun. Adapun
jumlah nasabah syariah pada tahun 2010 ini mencapai 6 juta orang dan jumlah
tenaga kerja yang diserap mencapai lebih dari 20 ribu orang. Bahkan saat ini
terdapat 2 bank syariah yang masuk dalam kelompok 25 bank terbesar di tanah
air. Secara keseluruhan jaringan operasional bank syariah meliputi 3321 kantor
dari 11 BUS, 23 UUS dan 151 BPRS. Jaringan operasional tersebut juga telah
didukung oleh lebih dari 6 ribu jaringan ATM Bersama, ATM Prima, dan 7 ribu
jaringan ATM BCA, "Sehingga kemudahan dan kenyamanan bertransaksi yang
ditawarkan tidak lagi berbeda dengan yang ditawarkan bank-bank konvensional.2
Bank Indonesia, sebagai pemegang kebijakan moneter, dan para stakeholder
yang terlibat lainnya yakin bahwa pengembangan Bank Syariah dianggap masih
mempunyai prospek yang tinggi. Hal tersebut diyakini karena peluang yang besar
dan dapat dilihat dari hal-hal sebagai berikut:
1. Respon masyarakat yang antusias dalam melakukan aktivitas ekonomi dengan
menggunakan prinsip-prinsip syariah;
1

Choir, Target Kenaikan Market share Perbank Syariah, http://zonaekis.com di akses 10
Februari 2011
2

Nina Dwiantika, Bernadette C Munthe, Industri Bank Syariah, http: //keuangan.kontan.
co.id di akses 10 Februari 2011

3

2. Kecenderungan yang positif di sektor non-keuangan/ekonomi, seperti sistem
pendidikan, hukum dan lain sebagainya yang menunjang pengembangan
ekonomi syariah nasional.
3. Pengembangan instrumen keuangan syariah yang diharapkan akan semakin
menarik investor/pelaku bisnis masuk dan membesarkan industri Perbankan
Syariah Nasional;
4. Potensi investasi dari negara-negara Timur Tengah dalam industri Perbankan
Syariah Nasional.
Walaupun demikian, terdapat hal-hal yang masih menjadi kendala dalam
pengembangan Bank Syariah di samping imbas kondisi makro-ekonomi, juga
dipengaruhi oleh hal-hal sebagai berikut:
1. Jaringan kantor pelayanan dan keuangan syariah masih relatif terbatas;
2. Sumber Daya Manusia yang kompeten dan professional masih belum optimal;
3. Pemahaman masyarakat terhadap bank syariah sudah cukup baik, namun
minat untuk menggunakannya masih kurang;
4. Sinkronisasi kebijakan dengan institusi pemerintah lainnya berkaitan dengan
transaksi keuangan, seperti kebijakan pajak dan aspek legal belum maksimal;
5. Fluktuasi suku bunga masih berpengaruh terhadap loyalitas nasabah syariah;3
Menurut Ahmad dan Sudin (2002), pangsa pasar bank syariah (baik dari sisi
total asset, pendanaan dan pembiayaan) merupakan refleksi penerimaan

3

Merza Gamal, Tantangan Bank Syariah Ke Depan, (http://www.ekonomisyariah.net
diposting 3 November 2006), diakses 23 Desember 2010

4

masyarakat terhadap sistim perbankan Islam, yaitu dengan terlihatnya data yang
menunjukkan masih rendahnya total asset bank syariah terhadap total asset
perbankan Nasional. Dengan kata lain, masyarakat belum dapat sepenuhnya
meninggalkan produk perbankan konvensional. Persaingan ketat baik antara
sesama bank syariah maupun dengan bank konvensional, meningkatkan standar
ekspektasi nasabah terhadap layanan jasa perbankan. Masyarakat yang sudah
terbiasa dengan sistim konvensional dan memiliki image bahwa layanan bank
konvensional lebih baik daripada bank syariah menjadi tantangan tersendiri untuk
bank syariah dalam menemukan strategi yang lebih tetap untuk mempertahankan
nasabah dan meningkatkan pangsa pasar.4
Pemulihan ekonomi global pasca resesi di akhir tahun 2009 memberikan out
look yang optimis terhadap perkembangan perekonomian dunia di tahun 2010.
Meskipun sempat dilanda oleh krisis Yunani yang terjadi di awal triwulan II pada
tahun 2010 namun krisis tersebut tidak berpengaruh secara signifikan terhadap
industri perbankan syariah di tanah air. Kondisi perbankan syariah nasional yang
masih belum terintegrasi secara global terhadap sistem finansial dunia. Jumlah
eksposur valas yang dimiliki belum terbilang signifikan berdampak pada terhindar
nya bank syariah dari pengaruh langsung krisis tersebut. Kiprah industri
perbankan syariah di Indonesia sungguh fantastis.
Sepanjang tahun 2010 perbankan syariah tumbuh dengan volume usaha
yang tinggi sebesar 43.99% (yoy). Meningkat pada periode yang sama pada tahun
4

Norafifah Ahmad dan Sudin Haron, Perceptions Of Malaysian Corporate Customers
Towards Islamic Banking Products & Services, (International Journal of Islamic Financial, Vol. 3, No.
4, January - March 2002)

5

sebelumnya yaitu sebesar (26.55%) dengan pertumbuhan funding dan juga
financing yang cukup signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.5 Pertumbuhan
bisnis perbankan syariah jauh lebih baik dibandingkan perbankan konvensional
secara Nasional. Untuk pertumbuhan DPK perbankan syariah pada triwulan III
2010 mencapai 22.27% pada periode yang sama tahun sebelumnya dibandingkan
perbankan konvensional yang hanya mencapai pertumbuhan di kisaran 8.67%.
Sedangkan pertumbuhan pembiayaan bank syariah mencapai 30.04% dan bank
konvensional hanya mencapai 15.38%.
Pertumbuhan yang lebih tinggi ini didukung oleh meningkatnya pelaku
bisnis di industri perbankan syariah, yang berjumlah 10 Bank Umum Syariah
(BUS), 23 Unit Usaha Syariah (UUS), dan 145 Bank Perkreditan Rakyat Syariah
(BPRS), serta 1388 jumlah kantor BUS dan UUS (Statistik Perbankan Syariah
Bank Indonesia, 2010). Selain itu pertumbuhan bank syariah tidak lepas dari
meningkatnya kepercayaan masyarakat untuk menyimpan dananya untuk diolah
secara syariah. Hal ini dapat dilihat dari low cost fund dan deposito bank syariah
yang tumbuh lebih tinggi dari bank konvensional. Untuk giro tumbuh sebesar
19.43%, tabungan tumbuh sebesar 18.12%, dan deposito tumbuh sebesar 25.17%
periode Desember 2009 sampai dengan September 2010 (ytd). Bahwa ini
merupakan suatu prestasi yang luar biasa apabila melihat pertumbuhan DPK bank
konvensional secara nasional masih di bawah 10%.

5

Bank Indonesia, Outlook Perbankan Syariah 2011: Penguasaan Pasar Domestik Dengan
Kualitas Pelayanan Berstandar Internasional, Direktorat Islamic Banking BI

6

Selain itu efektivitas intermediasi bank syariah juga lebih baik. FDR
(Financing to Deposit Ratio) sebesar 95% dan secara geografis telah mencapai
masyarakat di lebih dari 103 Kabupaten dan 33 Propinsi di Indonesia. Walaupun
porsi pembiayaan terbesar masih berada di DKI Jakarta sebesar Rp 24.46T dari
total pembiayaan perbankan syariah yang diberikan secara nasional setidaknya
untuk efektivitas intermediasi perbankan syariah sudah cukup bagus. Apabila
dibandingkan dengan LDR perbankan nasional yang masih hanya berkisar di
range 60-70%. Walaupun ratio FDR bank syariah cukup tinggi perlu diperhatikan
agar bank syariah tetap harus berhati-hati dalam menyalurkan dananya serta
pengelolaan risiko yang harus ditingkatkan agar Non Performing Financing
(NPF) bisa dijaga pada level yang reasonable. Selain itu CAR (Capital Adequacy
Ratio) harus tetap dijaga di atas level 12% agar perbankan Syariah tetap dapat
menyalurkan pembiayaan ke sektor-sektor produktif secara agresif dan sehat.6
Pada awal abad-21 ini, dunia teknologi semakin memberikan interaksi,
partisipasi, dan peluang untuk berkolaborasi, sehingga membawa kita untuk
melakukan praktek pemasaran yang bertumpu pada jejaring yang saling
terhubung.7 Jaringan yang terhubung secara terus menerus ini akan bisa merubah
segala sesuatu yang dahulu di anggap tidak mungkin bisa terjadi, namun sekarang

6

Andy Rio Wijaya MBA, Strategi Pengembangan Bisnis Pasca 2010, (Jakarta:
Suarapembaca.detik.com, 2010), http://suarapembaca.detik.com
7

Hermawan Kartajaya,Waizly Darwin, Selamat Datang ke Orde Baru Dunia Pemasaran,
(KOMPAS.com: Rabu, 9 Desember 2009 | 10:16 WIB), http://bisniskeuangan. kompas.com/
read/2009/12/09/10164560/ Selamat. Datang. ke.Orde.Baru.Dunia.Pemasaran.

7

sudah terbukti bisa terjadi. Mulai dari yang dewasa sampai dengan anak-anak bisa
terhubung dimanapun dan kapanpun.
Terdapat beberapa perubahan paradigma dalam perkembangan dewasa ini,
salah satunya adalah pergeseran fokus perbankan dari “alpha-market” ke “betamarket”. Alpha merupakan istilah untuk produk yang mempunyai profil high
return / high risk. Menurut New York Times pada laporannya tanggal 16 April
2009, industri perbankan di Amerika Serikat telah menunjukkan tanda-tanda
pemulihan, termasuk dua bank yang mendapat dampak sangat besar dari krisis
ekonomi global, Citigroup dan Bank of America. Walaupun dikatakan beberapa
sektor masih banyak mengalami kesulitan, antara lain layanan kartu kredit dan
private equity.8
Marketing dan sharing marketing ideas dengan mencoba menerapkan new
wave

marketing

dalam

mendukung

perkembangan

perbankan

syariah.

Perkembangan yang juga harus menjadi perhatian kita adalah pasar atau
pelanggan itu sendiri. Thomas L. Friedman, dalam bukunya mengungkapkan
“The World is Flat” untuk menggambarkan dunia sebagai “level playing field” di
mana semua kompetitor mempunyai kesempatan yang sama di pasar global.
Kemudian Hermawan Kartajaya dalam bukunya “New Wave Marketing”
mengungkapkan, “the world is still round, but the market is already flat”.
Konsekuensinya terdapat perubahan paradigma dalam pemasaran menuju “many

8

JP Morgan Chase, Investors Remain Worried Over Citi, (New York: New Yok Times,
2009), diakses tanggal 20 Desember 2010.

8

to many marketing” atau New Wave Marketing”, di mana interaksi antar
pelanggan menjadi penting. Interaksi ini sebelumnya dikenal dengan istilah words
of mouth atau buzz. Fenomena buzz menjadi lebih dominan dengan adanya
perkembangan telekomunikasi yang memungkinkan interaksi yang luar biasa,
terutama didukung oleh perkembangan internet.
Karakter perbankan syariah yang spesifik dan citra layanan yang
menentukan tingkat kepercayaan masyarakat memungkinkannya untuk lebih
cepat diterima di beberapa komunitas, terutama di Indonesia. Sehingga seperti
yang dirilis gulfnews.com pada tanggal 1 Agustus 2009, market share perbankan
syariah Indonesia diprediksi akan mampu menggeser Malaysia di kawasan Asia
Tenggara. Dalam many to many marketing, peran komunitas menjadi sangat
penting. Potensi besar ini menjadi tantangan perbankan syariah untuk menerapkan
New Wave Marketing. Melihat tantangan perbankan syariah tersebut maka
penulis ingin membahas tentang: “Strategi Implementasi New Wave Marketing
Pada Perbankan Syariah”.

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah
Karena

terlalu

luasnya

permasalahan

yang

ada

maka

demi

terselesaikannya penulisan ini maka, penelitian ini hanya membahas tentang New
wave marketing yang diimplementasikan kepada perbankan syariah. Yang
kemudian penelitiannya dibatasi hanya pada Strateginya saja.

9

Berdasarkan batasan masalah dan batasan penelitian di atas, maka untuk
mempermudah pembahasan, penulis merumuskan masalahnya sebagai berikut:
1. Bagaimana Perbankan Syariah menjawab tantangan perubahan di pasar?
2. Bagaimana implementasi spesifik dari konsep new wave marketing dalam
Perbankan Syariah?
3. Apa potensi spesifik yang bisa membedakannya dengan bank konvensional
dalam menerapkan New Wave Marketing?

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian yang penulis lakukan ini adalah:
a. Mengetahui

bagaimana

Perbankan

Syariah

menjawab

tantangan

perubahan di pasar;
b. Mengetahui implementasi spesifik dari konsep new wave marketing dalam
Perbankan Syariah;
c. Mengetahui potensi spesifik yang bisa membedakannya dengan bank
konvensional dalam menerapkan New Wave Marketing.
2. Manfaat Penelitian
Pelaksanaan penelitian ini diharapkan dapat membawa daya guna bagi
kedua belah pihak yang inheren berkaitan, yakni sebagai berikut:

10

a. Bagi Mahasiswa
1) Memperoleh tambahan pengetahuan yang relevan untuk meningkatkan
kompetensi, kecerdasan intelektual dan emosionalnya.
2) Memperoleh kesempatan untuk menerapkan pengetahuan teoritis yang
diperoleh di perkuliahan dalam berbagai kasus riil di dunia kerja.
b. Bagi Institusi
1) Sebagai bahan masukan untuk perusahaan perbankan syariah.
2) Memberikan masukan yang relevan dengan perubahan iklim kerja
modern bagi perusahaan perbaknakn syariah.
3) Dapat memberikan gambaran terhadap langkah-langkah yang strategis
yang harus diambil dalam menghadapi persaingan dan perubahan
jaman.
4) Dapat dipergunakan sebagai referensi dalam mengambil keputusan
strategi pemasaran pada bank syariah.
c. Bagi pihak lain
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan
pertimbangan dan bahan referensi untuk penelitian di masa yang akan
datang.

11

D. Review Studi Terdahulu
Penelitian Tentang Manajemen Strategi Sudah banyak dilakukan terutama
penelitian yang membahas tentang strategi marketing, beberapa tulisan tersebut
adalah:
1. Skripsi Putri Kamilah NIM 206046103863 dengan judul Strategi Pemasaran
Produk Pembiayaan Talangan Haji Pada Bank Syariah Mandiri Cabang
Rawamangun. Adapun yang dibahas dalam skripsi ini antara lain adalah.
Strategi yang dilakukan oleh Bank Syariah mandiri dalam memasarkan
produk talangan haji. Prosedur dan operasional pada produk talangan haji di
Bank Syariah Mandiri cabang Rawamangun. Peluang dan tantangan produk
talangan Haji pada Bank Syariah Mandiri cabang Rawamangun. Adapun
hasil yang diperoleh pada skripsi ini adalah. Memasarkan produk pembiayaan
talangan haji, BSM menggunakan strategi pemasaran yang sederhana yaitu
pertama, memberikan informasi kepada nasabah melalui brosur dengan
design dan inovesi yang unik dan menarik, yang kedua BSM meminimalisir
harga serelatif mungkin agar terjangkau oleh masyarakat, yang ketiga
sosialisasi secara langsung dan juga menggunakan media informasi. Prosedur
dan operasinal pembiayaan talangan haji yang pertama adalah nasabah
mendatangi BSM untuk membuka tabungan haji kemudian mengajukan
pembiayaan talangan haji dengan mingisi formilir danmenyetorkan uang
minimal Rp 500.000,- ditambah Rp 200.000,- untuk bagian administrasi,
setelah itu bank melakukan proses pencairan dana yang kemudian disetorkan

12

ke Kementrian Agama. Setelah itu nasabah datang kembali untuk dibuatkan
bukti setoran biaya penyelenggaraan haji dengan membawa buku tabungan
haji

danyang

terakhir

BSM

meregristrasi

bukti

setoran

Baiaya

Penyelenggaraan Haji ke Kementrian Agama. Peluang yang ada untuk produk
talangan haji adalah sangat banyak karena ibadah haji merupakan rukun Islam
yang kelima. Dan tantangan pada produk ini adalah banyak bank syariah lain
yang mengeluarkan produk yang sama.
2. Skripsi Rabiah Adawiah NIM 204046100636 dengan judul Setrategi
Pemasaran BSM dalam meningkatkan Jumlah Nasabah Gadai Syariah (Studi
Kasus Bank Syariah Mandiri Cabang Tanjung Priok). Pada skripsi ini di
jelasakan tentang. Strategi pemasaran Eksternal dalam meningkatkan jumlah
nasabah Gadai Syariah. Strategi Internal Bank Syariah Mandiri dalam
meningkatkan jumlah nasabah. Faktor dominan yang mempengaruhi
peningkatan jumlah nasabah gadai syariah. Tantangan dan peluang Bank
Syariah Mandiri Cabang Tanjung Priok dalam meningkatkan jumlah Nasabah.
Adapun pengaruh strategi pemasaran dalam meningkatkan jumlah nasabah
gadai syariah. Hasil yang didapat dalam penelitian skripsi ini adalah (1) Pada
BSM cabang Tanjung Priok ini ada 2 strategi eksternal yang dipergunakan
yaitu strategi lingkungan mikro yang terdiri dari Nasabah, perantara bank,
masyarakat serta pesaing; dan yang kedua adalah lingkungan makro yang
terdiri dari lingkungan demografis, ekonomi, teknologi, politik dan kultur; (2)
Strategi Pemasaran internal pada BSM cabang Tanjung Priok adalah keadaan

13

dimana dapat dikendalikan oleh manajemen secara internal yaitu lokasi,
produk, pemasaran harga, dan promosi produk; (3) Strategi pemasaran bank
dalam meningkatkan jumlah nasabah adalah didominasi oleh strategi Internal;
(4) Tantangan yang dihadapi oleh bank adalah kurangnya SDM yang
mempunyai keahlian dibidang Syariah, masyarakat juga kurang mengetahui
tentang ekonomi syariah; (5) sehingga pihak perbankan melakukan strategi
pemasaran dengan menggunakan promosi sehingga masyarakat mengetahui
tentang gadai Syariah.
Dari beberapa skripsi tersebut penulis mendapatkan beberapa strategi
dalam memasarkan produk perbankan syariah dan Asuransi, Namun pada skripsiskripsi tersebut hanya salah satu strategi yang yaitu Strategi Produk yang hal ini
adalah salah satu strategi dalam Marketing Mix yaitu Product. Padahal pada
marketing mix ada 4 tiga lagi yaitu: Price (Harga), Place (Tempat) dan Promition
(Promosi).

E. Metode Penelitian
Penelitian dalam skripsi ini merupakan penelitian Deskriptif. Penelitian
deskriptif karena data-data yang digunakan berupa kata-kata tertulis atau lisan
dari seorang dan perilaku yang diamati tanpa menggunakan perhitungan dan
bertujuan menemukan teori dari data.

14

F. Sistematika Penulisan
Adapun penulis menggunakan sistematika penulisan sebagai berikut:
BAB I,

PENDAHULUAN
Yaitu

meliputi

latar

belakang

masalah,

identifikasi

masalah

selanjutnya pembatasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat
penelitian, metode penelitian dan sistematika penulisan.
BAB II,

NEW WAVE MARKETING
Penulis membahas tentang pengertian New Wave Marketing, tren New
Wave Marketing, dan Strategi New Wave Marketing.

BAB III, METODE PENELITIAN
Pada bab ini membahas tentang Metode penelitian untuk skripsi ini
kemudian membahas pengertian pemasaran dan yang terakhir strategi
pemasaran pada bank syariah.
BAB IV, ANALISA TERHADAP MARKETING PERBANKAN SYARIAH
Bab ini membahas tentang strategi implementasi new wave marketing,
serta potensi yang bisa membedakan dengan bank konvensional
BAB V,

PENUTUP
Meliputi kesimpulan dan saran.

BAB II
NEW WAVE MARKETING

A. Pengertian New Wave Marketing
Pengertian secara bahasa New Wave marketing adalah: New artinya Baru,
Wave Artinya Gelombang, Marketing Artinya Pemasaran. Namun Istilah new
wave muncul berawal dari kata I Nyoman G. Wiryanata (Direktur Konsumer PT
Telkom Indonesia) yang melihat adanya pergeseran-pergeseran dari era ke era
selanjutnya. Sehingga Beliau Menyatakan bahwa Era Legacy telah bergeser
menjadi era New Wave.1 Hal ini terjadi karena Dunia Pemasaran saat ini tengah
bergerak dan mengalami transformasi Besar-besaran akibat berbagai krisis dan
juga akibat pergerakan dan perubahan yang sangat cepat.
Perkembangan Teknologi Informasi dan komunikasi, terutama dalam era
Internet Web 2.0 dan berbagai kemajuan teknologi gadget yang ada telah
mengubah praktek pemasaran dari yang tadinya bersifat top to down dan vertikal
menjadi serba sejajar dan horizontal. Sebagai contoh nya Internet yang dahulunya
ada google, yahoo dan lainnya kemudian bertambah lagi dengan Friendster dan
yang sekarang populer adalah Facebook. Dari berbagai perubahan tersebut maka
praktek pemasaran pada era ini oleh Hermawan Kertajaya di sebut dengan New
Wave Marketing.

1

Hermawan Kertajaya, New Wave Marketing The World Is Still Round the Market is Already
Flat, (Jakarta: Gramedia, 2010), Cet. 5, H. 3

15

16

B. Tren New Wave Marketing
1. Perubahan Kekuatan Teknologi (“From (one-to-many) Broadcasting to
(many-to-many) networking)
Teknologi informasi dan komunikasi telah bergeser dari yang tadinya
One-to-Many ke One-to-One dan sekarang di era Many-to-Many. Internet
terus berubah dengan adanya teknologi Web 2.0 yang menyebabkan
pertambahnya aplikasi berbasiskan jejaring Many-to-Many.
Di era New Wave, tekhnologi broadcasting yang bersifdat dari satu ke
banyak (One-to-Many) tidak mati. Lewat Facebook, Twiter, Plurk, Blog,
Online Forum, dan lain sebagainya, kita masih bisa menyiarkan atau
membombardir sebuah pesan. Hanya saja kini teknologi broadcasting lebih
canggih karena memberikan fasilitas platform untuk networking dalam
jejaring pula.
Dulu di era One-to-Many, kita memang menyebarkan satu message ke
mana-mana dengan tujuan hanya untuk mem-broadcast suatu hal. Sekarang,
tujuannya bukan hanya sekedar untuk broadcast namun juga sekaligus bernetworking lewat jejaring sosial. Trickle down effect dari sebuah pesan
menjadi sangat luar biasa karena ia kini dapat diteruskan secara real-time oleh
siapa saja yang menerima, mendengar atau melihat.2

2

Hermawan Kartajaya, Connect! Surfing New Wave Marketing, (Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama, 2010), h. 35- 36

17

2. Perubahan Kekuatan Politik legal
New Wave adalah era ketika dunia politik juga ikut berubah. Pertama,
menjual ideologi partai ke konstituen sudah tidak cukup lagi karena yang juga
tak kalah penting adalah bagaimana tampil memesona dengan karakter yang
kuat dan diferensiasi yang memang mengakar dalam DNA-nya dan bukan
dibuat-buat. Ideologi partai tentu tetap diperlukan, terutama karena ia
merupakan pooling factor untuk menjaring dan mengomunitaskan konstituen
yang memiliki keyakinan yang sama.
Kedua, pendekatan yang sifatnya vertikal semakin lama semakin tidak
laku karena yang dapat dijual adalah sikap politik yang horizontal. Pendekatan
yang bersifat transaksional sekarang semakin bergeser menjadi relasional
untuk menjamin adanya loyalitas dari para konstituen.3
Perkembangan internet dengan Web 2.0 telah melahirkan dunia politik
baru, Politics 2.0. berkembangnya teknologi juga telah membuka dunia politik
dan birokrasi yang lebih transparan. Sejak adanya televisi berita 24 jam sehari,
7 hari seminggu dan ditambah lagi internet, kini kita lebih mempunyai akses
melihat gambaran politik secara nyata.
3. Perubahan Kekuatan Ekonomi
Perkembangan teknologi terus mempercepat proses globalisasi
ekonomi, dimana kita semakin hidup dalam dunia yang serba terinterkoneksi.
Resesi perekonomian global yang dimulai pada tahun 2008 lalu adalah contoh
3

Hermawan Kartajaya, Connect! Surfing New Wave Marketing, h.38-39

18

bagaimana sakitnya perekonomian dan sistem finansial di AS secara
horizontal menular ke negara-negara lain yang terhubung di jaringan
perekonomian dan finansial global.
Oleh sebab itu, di dalam kondisi perekonomian global seperti sekarang
kelompok G7 tampil lebih horizontal, menunjukkan sikap kompromi, dan
kolaboratif dengan negara-negara berkembang. Semakin kompetitifnya
negara-negara berkembang, permasalahan dunia global harus diselessaikan
bersama-sama melalui G20. sebab di era globalisasi, kita semua saling
terhubung. Satu tumbang, semua bisa-bisa ikut tumbang.
Pergesaran dari G7

ke G20 menunjukkan bahwa kekuatan

perekonomian dunia diseimbangi oleh negara-negara maju dan berkembang,
sehingga terjadi pula pergeseran kekuatan dari yang tadinya didominasi secara
vertikal oleh G7 menjadi lebih horizontal.4
4. Perubahan Kekuatan Sosial dan Budaya
Di tengah berkembangnya dunia teknologi informasi dan komunikasi,
kita semua saling terjaring dalam dunia sosial dan budaya baru dan lebih
humanis. Contoh, dunia maya sudah membuktikan pula bahwa agama (belief)
yang bersifat vertikal bisa hidup berdampingan dengan aspek kemanusiaan
(humanity) dan sosial-budaya yang bersifat horizontal.
Di era New Wave, dengan segala platformnya yang kita gunakan, kita
dapat menjelajah galaksi dan membuka cakrawala baru dimana manusia
4

Hermawan Kartajaya, Connect! Surfing New Wave Marketing, h. 43-44

19

semakin kecil dan tidak berarti. Pertentangan agama dan etnik yang sangat
vertikal menjadi tidak ada artinya. Karena di era ini, embel-embel suku,
agama, ras, dan etnis lantas nyaris tidak kelihatan lagi secara nyata. Yang
terlihat adalah semangat horizontal yang berlandaskan kemanusiaan dan rasa
persaudaraan.5
5. Perubahan Kekuatan Pasar
Penelitian yang baru-baru ini dilakukan mengungkapkan bahwa iklan
bisnis disitus Web sebesar 27% dari total belanja iklan pada tahun 2002, naik
dari 17% di tahun 1999.6 Dengan internet pasar global telah menjadi datar dan
semua marketer memiliki kesempatan yang sama. Dengan adanya teknologi
teruatama didorong oleh berbagai macam platform yang ada di dunia online
dan mobile, penjual dapat menjangkau pembeli tanpa batas. Dan disisi lain,
pembeli mendapatkan keleluasaan untuk memilih berbagai penawaran dari
manapun untuk mendapatkan value yang terbaik. Pasar, secara gampang,
dapat diartikan sebagai tempat ketemunya penjual dan pembeli, dimana ia
diatur oleh hukum dan mekanisme supply dan demand.7

5

Hermawan Kartajaya, Connect! Surfing New Wave Marketing, h.47-48

6

David Fred F, Konsep-konsep Manajemen Strategis(terj),(Jakarta: Indeks, 2004), h.392

7

Hermawan Kartajaya, Connect! Surfing New Wave Marketing, h. 51-52

20

C. Strategi New Wave Marketing
Marketing terdiri atas tiga komponen yaitu Strategy, Tactic, dan Value. Di
dalam pemasaran era legacy,8 marketing terdiri atas unsur utamanya yaitu Pada
masa New wave marketing ada perubahan yaitu:
1. Segmentation is Communitization
Segmentasi adalah kegiatan membagi pasar yang bersifat heterogin
dari suatu produk kedalam satuan-satuan pasar (segmen pasar) yang bersifat
homogen.9 Di era New Wave seperti sekarang, kita melakukan praktik
segmentasi yang lebih horizontal yaitu mengomunitisasikan konsumen

8

Awalnya, untuk memenuhi kebutuhan dasarnya, manusia berperan sebagai pemburu
binatang atau pengumpul tumbuh-tumbuhan. Karena itu mereka hidup berpindah-pindah alias
nomaden, tergantung ada di mana hewan buruannya itu atau di mana tumbuh-tumbuhan yang bisa
dimakan. Di tahap ini manusia hanya mengenal teknologi yang sangat primitif seperti tombak, panah,
pisau, dan sebagainya, yang dipakai untuk aktivitasnya tadi. Kemudian, di tahap kedua, manusia mulai
menetap dan bercocok tanam. Manusia sudah mengenal sistem pengairan dan cara membiakkan hewan
ternak. Manusia sudah mampu mengolah lahan agar bisa subur untuk bercocok tanam. Pekerjaan
manusia yang dominan di sini adalah bertani. Sampai pada masa inilah yang dikenal sebagai Era
Agrikultural. Era agrikultural ini berlangsung kira-kira sampai pertengahan abad ke-19. Di tahap
ketiga perkembangan peradabannya, mulai tumbuh berbagai industri dengan mesin-mesinnya.
Revolusi industri yang dipelopori oleh penemuan mesin uap oleh James Watt pada pertengahan abad
ke-18 menandai hal ini. Pada Era Industrial inilah orang mulai banyak yang bekerja di pabrik. Orang
juga mulai sering bepergian jauh setelah dibangunnya kapal yang modern dan juga diciptakannya
pesawat udara. Era Industrial ini berlangsung kira-kira sejak pertengahan abad ke-18 sampai
pertengahan abad ke-20. Kemudian di tahap selanjutnya, mulai tumbuh adanya kebutuhan yang
berbasis jasa (service-based) dan pengetahuan (knowledge-based). Karena itulah muncul berbagai
bidang pekerjaan yang berhubungan dengan hal tersebut. Di bidang jasa tumbuh sektor perbankan
untuk mendukung industri manufaktur dan juga bisnis penginapan/hotel untuk memenuhi kebutuhan
orang yang mulai sering bepergian. Setelah itu, pada dasawarsa 1980-an, bidang teknologi informasi
mulai berkembang pesat yang ditandai dengan kehadiran personal computer (PC). Kehadiran PC ini
membuat pengetahuan berkembang dengan sangat pesat karena PC memudahkan orang untuk
mengakses informasi. Perkembangan peradaban manusia yang ditandai oleh lahirnya sektor jasa dan
teknologi informasi inilah yang disebut sebagai Era Informasi, yang berlangsung dari pertengahan
abad ke-20 sampai awal abad ke-21. Era Informasi inilah yang juga disebut dengan era Legacy.
Haikal, The 12 Cs of New Wave Marketing, (http://haikalworld.multiply.com/ journal/item/6/ The 12
Cs of New Wave Marketing) di akses 24 Desember 2010
9
Drs. Basu Swastha DH, MBA, Azas-azas Marketing, (Yogyakarta: Liberty, 2002, cet. 5, h.
65

21

sebagai kelompok orang yang saling peduli satu sama lain, dan memiliki
kesamaan purposes, values, dan identity.
Kalau dalam Legacy Marketing langkah pertama untuk menyusun
strategi marketing adalah dengan melakukan segmentasi. Di era New Wave
ini, komunitisasi adalah langkah pertama dalam strategi. Dalam segmentasi,
motivasi perusahaan adalah untuk memilah konsumen ke dalam satu kotak
pasar dimana semua konsumen punya karakteristik yang sama dalam hal
kenapa mereka membeli. Tujuan akhirnya adalah untuk mendapatkan
gambaran langsung peta konsumen secara demografis, psikografis, dan
perilakunya. Indikator yang digunakan adalah persamaan yang homogen dari
segi preferensi dan kebutuhan dari si konsumen.10
Beda halnya dalam komunitasisi, motivasi perusahaan adalah untuk
menyatukan atau bersatu dengan konsumen yang terkelompok atau
dikelompokan karena mereka semua memiliki tujuan, nilai-nilai dan identitas
yang sama satu sama lainnya. Tujuan akhir yang hendak dicapai oleh
perusahaan dalam hal ini adalah bagaimana komunitas yang diciptakan baik
secara by-default atau by-design tersebut bisa menjadi relevan dengan
karaktert merek perusahaan. Indikator yang digunakan bukan lagi sekedar
kesamaan yang homogen antar konsumen, tapi lebih dari itu, sejauh mana
masing-masing anggota komunitas tersebut betul-betul kohesif, artinya saling
lengket satu sama lain.
10

67-68

Drs. Basu Swastha DH, MBA, Azas-azas Marketing, (Yogyakarta: Liberty, 2002, cet. 5, h.

22

Perbedaan yang signifikan antara segmentasi dan komunitisasi adalah
paradigmanya. Mindset yang digunakan oleh pemasar pada saat mensegmen
pasar adalah bagaimana menjadikan mereknya sebagai pusat gravitasi. Karena
intensinya adalah bagaimana pemasar dapat memuaskan preferensi dan
kebutuhan dari masing-masing segmen yang dibidik atau yang pas untuk
dieksploitasi.
Dalam komunitasisasi, pemasar meletakkan konsumen sebagai pusat
gravitasinya, bukan sekedar mereknya yang menjadi sentral. Karena pada
dasarnya langkah komunitisasi adalah bagaimana konsumen dalam komunitas
ini diberikan kesempatan untuk berpartisipasi dan berinteraksi dengan
perusahaan yang berkarakter horizontal dan lebih humanis.
Dalam segmentasi, sebelum kita melakukan targeting atau pemilihan
pasar mana yang mau kita tuju langkah yang digunakan adalah identifikasi.11
Sedangkan dalam komunitisasi, prosesnya adalah bagaimana kita melakukan
eksplorasi yang mendalam terhadap konsumen-konsumen yang ada atau
berpotensi untuk dibentuk. Setelah itu, karena sifatnya horizontal, perusahaan
tidak lagi asal menarget atau membidik konsumen-konsumennya dalam
komunitas, namun ia sekiranya “permisi” atau memohon izin terlebih dahulu
sebelum mengajak mereka untuk bekerjasama dan berkolaborasi. Kalau sudah

11

Rambat Lupiyoadi, Manajemen Pemasaran Jasa: Teori dan Praktek, (Jakarta: Salemba
empat, 2001), h. 40

23

dapat “izin” barulah bisa di-confirm bahwa komunitas tersebut menjadi
confirmed community, bukan lagi target segment.12

2. Targeting is Confirmation
Targeting sesungguhnya adalah strategi mengalokasikan sumber daya
perusahaan secara efektif. Hal karena sumber daya dalam perusahaan selalu
terbatas. Ini menyangkut bagaimana melakukan „fitting’ perusahaan ke dalam
segmen target market yang dipilih .
Sekadar mengulas sekilas mengenai konsep targeting, biasanya ada tiga
kriteria yang harus dipenuhi perusahaan manapun pada saat mengevaluasi dan
menentukan segmen mana yang mau dibidik. Yang pertama adalah memastikan
bahwa segmen pasar yang dipilih itu cukup besar dan menguntungkan bagi
perusahaan dan juga potensi pertumbuhan pasarnya. Kriteria kedua adalah strategi
targeting ini harus didasarkan pada keunggulan kompetitif perusahaan yang
bersangkutan. Keunggulan kompetitif merupakan cara untuk mengukur apakah
perusahaan itu memiliki kekuatan dan keahlian yang memadai untuk
mendominasi segmen pasar yang dipilih. Kriteria ketiga adalah bahwa segmen
pasar yang dibidik itu harus didasarkan pada situasi persaingannya.
Dari penjelasan diatas, sudah terlihat betul bahwa praktik targeting tidak
lagi relevan di era New Wave ini. Kenapa? Pertama, alasan yang paling mendasar
adalah karena prinsip targeting tidak sejalan dengan nilai horizontal. Targeting
12

Hermawan Kertajaya, Cnnect! Surfing New Wave Marketing, h. 88-89

24

adalah langkah yang dilakukan oleh perusahaan. Jadi suka atau tidak suka,
seseorang bia menjadi target market sebuah perusahaan.
Kedua, langkah strategi awal yang dilakukan oleh perusahaan di era New
Wave ini bukan lagi sekedar mensegmen atau memetakan kelompok konsumen
(segmentation), namun melakukn praktik komunitisasi (communitization).
Artinya, kita melakukan eksplorasi dan meninjau lebih dalam komunitas
konsumen yang sekiranya pas untuk diajak berhubungan secara horizontal dan
strategis.13
3. Positioning is Clarification
Di tengah dunia yang berubah dari legacy ke New Wave seperti sekarang,
langkah positioning sudah tidak lagi relevan. Karena sudah jelas. Positioning
adalah praktik yang company-driven, artinya langkahnya dilakukan oleh
perusahaan yang mencoba untuk membangun persepsi untuk merasuki benak
konsumen.
Padahal dunia New Wave adalah dunia yang horizontal, dimana
konsumen semakin kuat, semakin komunal dan tidak lagi dapat dipaksa untuk
membeli. Di era yang syarat dengan teknologi yang canggih dan dunia yang
connected seperti sekarang, perusahaan tidak lagi memegang kendali brand nya.
Persepsi suatu merek akan cepat kabur, apalagi yang namanya positioning
statement sebuah merek mungkin bisa diciptakan oleh siapapun yang
menyebarkannya lewat Wikipedia, YouTube, Blog dan situs jejaring lainnya.
13

Hermawan Kartajaya, Connect! Surfing New Wave Marketing, h. 99-101

25

Dengan demikian, apa yang harus dilakukan bukanlah positioning lagi,
tapi clarification. Perusahaan bukan lagi memosisikan merek mereka kepada
target market, namun melakukan klarifikasi bersama dan terhadap komunitas
dimana ia berada. Dengan melakukan klarifikasi, berarti kita memperjelas persona
atau karakter kita kepada komunitas yang sudah kita konfirmasikan sebelumnya.14
4. Differentiation is Codification (of DNA15)
Di era New Wave ini, menonjolkan diferensiasi saja tidak cukup. Untuk
menang, pemasar harus dapat mengidentifikasi aspek darinya yang betul-betul
berbeda sampai ke tingkat DNA, bukan hanya dipermukaan. Kami sendiri
berpendapat bahwa, differentiation is codification of DNA. Perusahaan juga harus
mampu lebih terkoneksi dengan pelanggan sehingga mampu membuat produk
yang benar-benar sangat personal bagi pelanggan sehingga tidak satu pun produk
lainnya yang menyerupai produk tersebut.
Seperti yang dikatakan sebelumnya di era New Wave, yang menjadi
nyawanya perusahaan adalah codification dari DNA-nya. Kode DNA ini adalah
yang dicari konsumen. Karena mereka pada akhirnya akan melihat sejauh mana
authenticity dari sebuah produk, merek atau perusahaan. Jika pelanggan
14

15

Hermawan Kartajaya, Connect! Surfing New Wave Marketing, h. 112

DNA dalam bahasa Inggris: deoxyribonucleic acid, adapun pengertian dalam bahasa
Indonesia DNA adalah sejenis asam nukleat yang tergolong biomolekul utama penyusun berat kering
setiap organisme. Di dalam sel, DNA umumnya terletak di dalam inti sel. Secara garis besar, peran
DNA di dalam sebuah sel adalah sebagai materi genetik; artinya, DNA menyimpan cetak biru bagi
segala aktivitas sel. Ini berlaku umum bagi setiap organisme (http://id.wikipedia.org/wiki
/Asam_deoksiribonukleat, di akses tanggal 15 Februari 2011). Adapun maksud DNA dalam
pengertian skripsi ini adalah Inti sel pembentuk perusahaan baik dari produk sampai dengan pemasaran
produk perusahaan.

26

mempersepsikan apa yang pemasar tawarkan ke mereka sebagai tiruan atau palsu,
pemasar akan kehilangan kredibilitas, pelanggan dan pada akhirnya penjualan pun
akan turun.
Di dunia yang serba horizontal seperti sekarang, peluang menjadi tidak
terbatas dan terbuka bagi setiap orang. Pesaing bisa bermunculan kapan saja
dengan keunggulan-keunggulan yang mirip dengan yang kita miliki. Menonjolkan
diferensiasi dan keunikan menjadi tidak cukup karena yang perlu ditonjolkan
adalah kode DNA kita yang betul-betul autantik dan tidak bisa ditiru oleh para
pesaing. Dengan demikian, kita tidak hanya di-respect oleh komunitas kita,
namun juga dapat menjaga kredibilitas, integritas, dan autentisitas karakter
mereka.16
5. Product is Co-Creation
Proses pengembangan produk baru selalu menarik untuk dikaji. Seperti
proses melahirkan seorang bayi, pengembangan produk baru merupakan tahapan
proses yang penuh tantangan dan resiko tinggi. Karena begitu beresikonya, proses
pengembangan baru diperusahaan biasanya melibatkan berbagai lintas divisi atau
departemen. Tidak hanya divisi pemasaran saja, tapi juga sampai bagian
operasional lain.
Lain halnya dengan era New Wave dimana proses pengembangan produk
tidak lagi dilakukan secara vertikal, namun secara horizontal. Di sini perusahaan
memberikan peluang yang sebesar-besarnya kepada konsumen untuk ikut aktif
16

Hermawan Kartajaya, Connect! Surfing New Wave Marketing, h. 124-130

27

dalam pengembangn produk baru. Artinya produk adalah kreasi bersama antara
perusahaan dan konsumennya. Prahalad dan Ramaswamy berpendapat apabila
perusahaan sudah menjalankan proses co-creation seperti ini dengan baik, value
dari produk tersebut akan lebih baik dari pada produk yang dihasilkan melalui
NPD biasa di legacy.
Dalam menerapkan co-creation, ada beberapa hal yang harus dipenuhi.
Pertama, identifikasi perilaku konsumen anda dalam membeli, yang mana secara
umum dapat dibagi menjadi dua, yaitu high involvement dan low involvement.
Konsumen dengan proses pembelian produk high involvement adalah konsumen
yang ketika membeli produk tersebut harus memperhatikan dengan teliti setiap
fitur yang ada dalam produk tersebut dan biasanya proes pembeliannya
membutuhkan waktu yang lama, sementara low involvement adalah produkproduk yang proses pembeliannya relatif singkat dan lebih bersifat “beli putus”.
Kedua, pilihlah konsumen terbaik yang akan dibatalkan dalam cocreation, atau konsumen yang memiliki kombinasi kriteria konsumen dengan
tingkat loyalitas tinggi yang disebut sebagai promoters dan konsumen dengan
sifat kreatif dan inovatif yang disebut sebagai innovator. Memang tipe konsumen
yang co-creator ini tidak banyak.17
6. Price is Currency
Pricing atau harga merupakan komponen pemasaran yang langsung
mempengaruhi persepsi konsumen, reaksi pemerintah, permintaan dan penawaran
17

Hermawan Kartajaya, Connect! Surfing New Wave Marketing, h. 132-133

28

serta berujung pada pencapaian sasaran profit perusahaan.18 Orang bisa beli
karena harga. Dari yang tadinya tidak mau beli malah jadi beli karena melihat
harganya yang menggiurkan. Orang bisa juga tidak jadi beli karena setelah lihat
harganya yang tidak pas. Tapi, ada juga orang yang membeli karena harganya
meskipun kemahalan ya nggak apa-apa, karena membantu meningkatkan
statusnya dimata temannya.
Pricing adalah masalah antar fungsi dalam internal perusahaan. Untuk
orang keuangan di perusahaan, pricing menjadi perhatian karena keterkaitannya
untuk costing. Buat orang marketing, pricing menjadi perhatian orang marketing
karena keterkaitannya dengan praktik promosi pemasaran di lapangan. Buat orang
sales, pricing tentunya menjadi perhatian tersendiri karena harga menentukan
penjualan.
Di era New Wave, praktek pricing juga berubah karena tiga hal. Pertama,
new wave adalah era yang horizontal bukan lagi vertikal. Praktik perusahaan
melakukan pricing akan lebih horizontal dengan melewati proses negosiasi
dengan pelanggan. Di era legacy, pemasar dapat bergerak dari price taker menjadi
price maker. Maka, di era new wave seperti ini, tugas dari pemasar adalah
bagaimana bergerak dari price maker menjadi price facilitator, karena pada
akhirnya, price akan ditentukan secara bersama dan tidak lagi satu pihak.

18

M. Ismail Yusanto dan MK. Widjajakusuma, Manajemen Strategis Perspektif Syariah,
(Jakarta: Khairul Bayaan, 2003), H.80

29

Kedua, karena adanya Connect! (C kelima), dinamika harga dan biaya
akan semakin naik turun secara transparan. Konsumen akan tahu harga yang pas
sebetulnya berapa. Dan bukan itu saja, mereka pun akan tahu bahwa sedikit
banyak elemen-elemen biaya yang sesungguhnya. Informasi tentang harga dan
biaya toh sudah semakin gampang dilacak.
Ketiga, pemasar menjual produknya yang co-create bersama komunitas
pelanggan. Artinya, produk yang di jual bisa saja di-customized sesuai dengan
keinginan pelanggan dan bisa juga diciptakan sendiri oleh konsumen yang
semakin komunal. Produk seperti ini pada akhirnya menjadi milik bersama, bukan
yang sifatnya mass, namun milik komunitas tertentu.
Karena ketiga hal itu harga menjadi kian relatif, layaknya currency, yang
nilai tukarnya ditentukan oleh lima hal yakni: supply dan demand, spekulasi,
kekuatan fundamental, asumsi-asumsi, dan intervensi. Persis seperti dalam
kondisi makro itulah harga sebuah produk akan bergerak-gerak bebas dari Nol
sampai tak terhingga. From Free to Priceless! Semuanya tergantung pada kelima
hal tadi yang diadopsi dari fenomena makro ke mikro.19
7. Place is Communal Activation
Place dalam new wave marketing mix adalah communal activation.
Karena produknya melalui proses Co-create bersama dengan komunitas
pelanggan untuk komunitas, sudah lumrah kalau distribusinya lewat komunitas
pula. Communal activation bisa dilakukan selama Anda punya connecting
19

Hermawan Kartajaya, Connect! Surfing New Wave Marketing, h.142-146

30

platform yang sifatnya mobile, experential dan juga sosial, yang ada di dunia
online dan offline.
Dari sini kita lihat bahwa antara strategi dan implementasi pemasaran
yang new wave adalah saling terkait dan singkron. Strateginya dimulai dengan
communitilization atau langkah pemasar dalam melakukan praktik komunitisasi.
Artinya, kita melakukan eksplorasai dan meninjau lebih dalam komunitas
konsumen yang sekiranya pas untuk diajak berhubungan secara horizontal dan
strategis. Setelah menemukan komunitas-komunitas konsumen yang ada, langkah
selanjutnya adalah melakukan aktivitas pemasaran bersama mereka.
Place is Communal Activation, di mana perusahaan berusaha untuk
mengaktifkan komunitasnya lewat connector yanga da di physical (offline) dan
virtual (online). Kalau sudah ada connector untuk komunitas, tentunya melakukan
aktivitas pemasaran apa saja akan lebih mudah.20
8. Promotion is Conversation
Promosi lebih luas dari sekedar iklan. Komponen ini menetapkan strategi
komunikasi produk dan perusahaan dengan konsumen.21 Di era seperti sekarang,
konsumen semakin memegang kendali dala

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

103 3183 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

37 799 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

36 709 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

16 462 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 615 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

53 1061 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

53 967 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 584 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

24 850 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

35 1051 23