Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Lihou Kabupaten Simalungun (1987-2000)

Lembar Pengesahan Pembimbing Skripsi
PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM (PDAM) TIRTA LIHOU KABUPATEN SIMALUNGUN (1987-2000)
SKRIPSI SARJANA
DIKERJAKAN
O L E H
Desriany Panjaitan 060706014
Pembimbing
Dra. SP Dewi Murni, M.A NIP. 195408141984032002
Skripsi ini diajukan kepada panitia ujian Fakultas Sastra USU Medan, untuk melengkapi Salah satu syarat ujian Sarjana Sastra Dalam bidang Ilmu Sejarah

DEPARTEMEN ILMU SEJARAH FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011
1

Universitas Sumatera Utara

Lembar Pengesahan Ujian Skripsi PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM (PDAM) TIRTA LIHOU
KABUPATEN SIMALUNGUN (1987-2000)
Yang diajukan oleh Nama : Desriany Panjaitan Nim : 060706014
Telah disetujui untuk diujikan dalam ujian skripsi oleh
Pembimbing

Dra. SP Dewi Murni, M.A NIP. 195408141984032002

Tanggal,

Ketua Departemen Ilmu Sejarah
Drs. Edi Sumarno, M.Hum NIP 196409221989031001

Tanggal,

DEPARTEMEN ILMU SEJARAH FAKULTAS SASTRA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2011
2
Universitas Sumatera Utara

Lembar Persetujuan Ketua Departemen DISETUJUI OLEH
FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN

DEPARTEMEN ILMU SEJARAH Ketua Departemen

Drs. Edi Sumarno, M. Hum NIP 196409221989031001

Medan, Maret 2011

3

Universitas Sumatera Utara

LEMBAR PERSEMBAHAN

Bukan dengan kekuatanku ku dapat jalani hidupku

Tanpa Tuhan yang disampingku ku tak mampu sendiri

Engkaulah kuatku yang selalu menopangku

Kupandang wajahMu dan berseru permohonanku datang Darimu

Peganglah tanganku jangan lepaskan Kaulah harapan dalam hidupku

Betapa kumencintai segala yang telah terjadi

Tak pernah sendiri jalani hidup ini selalu menyertai

Kau selalu memberi rancangan terbaik oleh karena kasih

Bapa sentuh hatiku ubah hidupku menjadi yang baru

Bagai emas yang murni Kau membentuk bejana hatiku

Ajarku mengerti sebuah kasih yang selalu memberi

Bagai air mengalir yang tiada pernah berhenti.

Berbahagialah orang yang suci hatinya

Karena mereka akan melihat Allah.

(matius 5:8)

Skripsi ini saya persembahkan untuk kemuliaan nama Tuhan dan kedua orang

tua saya:

Ayahanda : A. Panjaitan

Ibunda

: R. Manurung

Skripsi ini juga penulis persembahkan kepada orang-orang yang saya kasihi.

By : Desriany Panjaitan

4
Universitas Sumatera Utara

UCAPAN TERIMA KASIH
Segala puja dan puji penulis haturkan kepadaNYA pemilik dan pemelihara hidup, yang senantiasa memberikan kekuatan, bimbingan, kesehatan, pertolongan serta ketekunan kepada penulis sehingga penulisan skripsi ini dapat diselesaikan, meskipun banyak sekali tantangan maupun hambatan.
Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, hal ini karena keterbatasan pengetahuan penulis, kemampuan, pengalaman, maupun literatur yang dimiliki penulis. Meski menghadapi berbagai tantangan, berkat usaha yang gigih dari penulis, dan berkat bantuan dari berbagai pihak, akhirnya skripsi ini dapat diselesaikan sebagaimana mestinya.
Dalam kesempatan ini, penulis mengucapkan banyak terima kasih dan penghormatan yang mendalam kepada:
1. Kepada kedua orang tuaku tercinta A. Panjaitan dan R. manurung yang senantiasa mengasihi, dan menyayangi sejak lahir hingga saat ini, dan selalu memberi dukungan yang tak ternilai harganya, sehingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada kedua saudaraku, b’Helwin Panjaitan dan adikku Novelina Cerelia Panjaitan yang telah banyak memberikan dorongan dan semangat kepada penulis.
2. Bapak Dr. Syahron Lubis, M.A selaku Dekan Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara beserta staf dan pegawainya.
5
Universitas Sumatera Utara

3. Bapak Drs. Edi Sumarno, M. Hum, selaku Ketua Departemen Ilmu Sejarah FS-USU dan Dra. Nurhabsyah M. Si selaku sekretaris Departemen, yang telah membantu penulis selama dalam masa perkuliahan.
4. Bapak Drs. Wara Sinuhaji, M. Hum selaku dosen wali penulis. 5. Ibu Dra. Sri Pangestri Dewi Murni, M.A selaku dosen pembimbing dalam
penulisan ini, yang telah memberikan inspirasi, semangat, dorongan, dan telah banyak meluangkan waktu untuk membimbing penulis. Kebaikan ibu senantiasa penulis ingat, dan semoga Tuhan memberikan berkatNYA kepada ibu dan keluarga. 6. Bapak dan ibu dosen serta staf administrasi pendidikan Departemenn Ilmu Sejarah (B’Ampera) yang telah banyak membantu penulis mulai masa awal perkuliahan hingga dalam penyelesaian skripsi ini. 7. Bapak Ir. Jhon Pariaman Saragih sebagai Direktur Utama PDAM Tirta Lihou Kabupaten Siamalungun dan kepala Bagian Keuangan Bapak Firman Simanjuntak dan seluruh pegawai PDAM Tirta Lihou Kabupaten Simalungun. 8. Seluruh informan yang membantu penulis dalam menyelesaikan skripsi ini. 9. Teman-temanku khususnya Sancani Angelia Tamba, Kariani Zalukhu, Derni Simanjuntak, Desmika Sembiring, Jhondato Sagala, yang telah banyak memberikan dorongan, dan bantuan dalam penulisan skripsi ini. Dan juga kepada Ramlan, Eva, Fri Yanti, Kalvin, dan teman-teman stambuk 2006 semua. 10. Kepada Franky Moses (kaka Slank) yang sangat banyak membantu penulis, jasa dan semangat yang kamu berikan kepada ku akan ku ingat selalu dan tak
6
Universitas Sumatera Utara

akan pernah ku lupakan. Kaulah inspirasi yang bisa mengubah ku untuk menjadi yang lebih baik (makasih banyak). 11. Kepada k’Lina (makasih ya kakak ku sayang telah banyak memberi ku semangat dan memberi ku makanan yang membuat ku menangis dan tidak akan pernah lagi memakannya, love you), k’cimot, b’Jonathan, deby, Tika, Benny, Meris, Yunita, Krisman, Osmail yang telah banyak memberikan dukungan dan semangat kepada penulis. Akhirnya untuk semua pihak yang telah membantu penulis yang tidak seluruhnya disebutkan dalam penyusunan skripsi ini, saya mengucapkan banyak terima kasih. Semoga semua kebaikan yang penulis terima dibalas oleh Tuhan Yang Maha Esa. Amin.
Medan, Maret 2011 Penulis
Desriany Panjaitan
7
Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Air bersih merupakan kebutuhan yang sangat mendasar bagi manusia yang berdampak langsung pada kesehatan dan kesejahteraan fisik. Pada dasarnya untuk memenuhi kebutuhan air merupakan tanggung jawab setiap masyarakat, akan tetapi pemerintah mempunyai tanggung jawab dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai amanat UUD Tahun 1945 yaitu dengan membangun berbagai prasarana dan sarana sistem penyediaan air minum baik di perkotaan maupun di pedesaan di seluruh wilayah Indonesia. Perusahaan air minum yang ada di Sumatera Utara pada umumnya berasal dari warisan pemerintah kolonial Belanda yang dikenal dengan nama Water Leading Bedriyf. Pembangunan sarana air minum di Kabupaten Simalungun telah dimulai sejak tahun 1970 berdasarkan peraturan daerah Kabupaten Simalungun No. 2. Pada tahun 1983 bardasarkan peraturan daerah No. 12 PDAM mengalami perubahan nama menjadi Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Daerah Tingkat II Simalungun. Namun pelaksanaan perubahan status perusahaan air minum ini baru terlaksana setelah tahun 1987 sesuai dengan surat keputusan Bupati KDH tingkat II Simalungun No. 188-342/1940/HUK/1987 tanggal 13 Januari 1987. Dampak yang ditimbulkan dari berdirinya PDAM Tirta Lihou adalah terbukanya usaha-usaha rumah-rumah makan, penginapan, penyediaan air untuk perkantoran, untuk rumah-rumah ibadah, dan sekolah-sekolah.
Sebagai sebuah perusahaan yang baru berdiri, pengelolaannya masih memerlukan proses yang panjang dengan dukungan dari berbagai pihak, maka PDAM Tirta Lihou belum begitu mendapat perhatian dan respon dari masyarakat sekitar karena mereka belum begitu mengetahui dengan jelas tentang air minum. Kebutuhan penyediaan dan pelayanan air bersih dari waktu ke waktu semakin meningkat yang terkadang tidak diimbangi oleh kemampuan pelayanan. Peningkatan kebutuhan ini disebabkan oleh peningkatan jumlah penduduk, peningkatan derajat kehidupan warga serta perkembangan kota/kawasan pelayanan ataupun hal-hal yang berhubungan dengan peningkatan kondisi sosial ekonomi warga yang diimbangi dengan peningkatan jumlah kebutuhan air per kapita.
Tulisan ini membahas awal berdirinya PDAM Tirta Lihou Kabupaten Simalungun dan juga membahas proses perkembangan serta usaha-usaha yang dilakukan pihak PDAM Tirta Lihou dalam melakukan fungsi sosialnya bagi masyarakat luas di Kabupaten Simalungun.
Metode yang dipakai dalam penulisan ini adalah metode sejarah, yaitu Heuristik (pengumpulan sumber), Verifikasi (kritik sumber), Interpretasi dan yang terakhir adalah Historiografi (penulisan). Pada tahap Heuristik, penulis menggunakan dua metode penelitian yakni, metode kepustakaan (library Research) dan metode lapangan (Field Research).
8
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
LEMBAR PERSEMBAHAN UCAPAN TERIMA KASIH…………………………………………………………i ABSTRAK…………………………………………………………………………...iv DAFTAR ISI………………………………………………………………………....v DAFTAR TABEL………………………………………………………………….vii BAB I PENDAHULUAN……………………………………………………….1
1.1. Latar Belakang......................................................................................1 1.2. Rumusan Masalah…………………………………………………….5 1.3. Tujuan dan Manfaat………………………………………………......6 1.4. Tinjauan Pustaka……………………………………………………...7 1.5. Metode Penelitian…………………………………………………….9 BAB II LATAR BELAKANG BERDIRINYA PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM TIRTA LIHOU………………………………………...12 2.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian………………………………...12
2.1.1. Letak Geografis……………………………………………….12 2.1.2. Keadaan Penduduk……………………………………………14 2.1.3. Struktur Sosial Budaya Masyarakat Simalungun……………..19 2.2. Sejarah Kabupaten Simalungun……………………………………..21 2.3. Sejarah Berdirinya PDAM Tirta Lihou……………………………..28
9
Universitas Sumatera Utara

BAB III PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM TIRTA LIHOU PERIODE 1987-2000……………………………………………………………….34 3.1. Kondisi Perusahaan…………………………………………………34 3.2. Prinsip Pelayanan Air Bersih PDAM……………………………….35 3.3. Struktur dan Sistem Pengelolaan PDAM Tirta Lihou……………....36 3.3.1. Struktur Organisasi…………………………………………....38 3.3.2. Keuangan dan Administrasi…………………………………..40 3.3.3. Kerjasama dengan Pihak Luar………………………………...42 3.3.4. Aktivitas Usaha PDAM Tirta Lihou…………………………..45 3.4. Permasalahan yang Dihadapi PDAM……………………………….53
BAB IV PERANAN PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM TIRTA LIHOU TERHADAP KABUPATEN SIMALUNGUN…………….57 4.1. Peranan PDAM terhadap Masyarakat Simalungun…………………57 4.2. Peranan PDAM terhadap Perekonomian Daerah…………………...58
BAB V KESIMPULAN…………………………………………………………62 DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………....63 DAFTAR INFORMAN LAMPIRAN PETA LOKASI PENELITIAN
10
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL
Tabel 1 Penduduk Menurut Suku Di Kabupaten Simalungun…….…………………15 Tabel 2 Penduduk Menurut Agama Yang Dianut Di Kabupaten Simalungun………17 Tabel 3 Tingkat Pendidikan Karyawan……………………………………………...39 Tabel 4 Perhitungan Rugi/Laba Selama Periode 1988-2000………………………...41 Tabel 5 Jumlah Sambungan Pipa Yang Aktif Menurut Jenis Pelayanan……………51
11
Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Air bersih merupakan kebutuhan yang sangat mendasar bagi manusia yang berdampak langsung pada kesehatan dan kesejahteraan fisik. Pada dasarnya untuk memenuhi kebutuhan air merupakan tanggung jawab setiap masyarakat, akan tetapi pemerintah mempunyai tanggung jawab dalam upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat sesuai amanat UUD Tahun 1945 yaitu dengan membangun berbagai prasarana dan sarana sistem penyediaan air minum baik di perkotaan maupun di pedesaan di seluruh wilayah Indonesia. Perusahaan air minum yang ada di Sumatera Utara pada umumnya berasal dari warisan pemerintah kolonial Belanda yang dikenal dengan nama Water Leading Bedriyf. Pembangunan sarana air minum di Kabupaten Simalungun telah dimulai sejak tahun 1970 berdasarkan peraturan daerah Kabupaten Simalungun No. 2. Pada tahun 1983 bardasarkan peraturan daerah No. 12 PDAM mengalami perubahan nama menjadi Perusahaan Daerah Air Minum Kabupaten Daerah Tingkat II Simalungun. Namun pelaksanaan perubahan status perusahaan air minum ini baru terlaksana setelah tahun 1987 sesuai dengan surat keputusan Bupati KDH tingkat II Simalungun No. 188-342/1940/HUK/1987 tanggal 13 Januari 1987. Dampak yang ditimbulkan dari berdirinya PDAM Tirta Lihou adalah terbukanya usaha-usaha rumah-rumah makan, penginapan, penyediaan air untuk perkantoran, untuk rumah-rumah ibadah, dan sekolah-sekolah.
Sebagai sebuah perusahaan yang baru berdiri, pengelolaannya masih memerlukan proses yang panjang dengan dukungan dari berbagai pihak, maka PDAM Tirta Lihou belum begitu mendapat perhatian dan respon dari masyarakat sekitar karena mereka belum begitu mengetahui dengan jelas tentang air minum. Kebutuhan penyediaan dan pelayanan air bersih dari waktu ke waktu semakin meningkat yang terkadang tidak diimbangi oleh kemampuan pelayanan. Peningkatan kebutuhan ini disebabkan oleh peningkatan jumlah penduduk, peningkatan derajat kehidupan warga serta perkembangan kota/kawasan pelayanan ataupun hal-hal yang berhubungan dengan peningkatan kondisi sosial ekonomi warga yang diimbangi dengan peningkatan jumlah kebutuhan air per kapita.
Tulisan ini membahas awal berdirinya PDAM Tirta Lihou Kabupaten Simalungun dan juga membahas proses perkembangan serta usaha-usaha yang dilakukan pihak PDAM Tirta Lihou dalam melakukan fungsi sosialnya bagi masyarakat luas di Kabupaten Simalungun.
Metode yang dipakai dalam penulisan ini adalah metode sejarah, yaitu Heuristik (pengumpulan sumber), Verifikasi (kritik sumber), Interpretasi dan yang terakhir adalah Historiografi (penulisan). Pada tahap Heuristik, penulis menggunakan dua metode penelitian yakni, metode kepustakaan (library Research) dan metode lapangan (Field Research).
8
Universitas Sumatera Utara

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Air bersih merupakan kebutuhan pokok manusia, yang kebutuhannya dari hari
ke hari semakin dirasakan meningkat sejalan dengan pertumbuhan kebutuhan dan pola hidup masyarakat terhadap air. Di beberapa daerah di Indonesia fasilitas penyediaan air bersih masih kurang, baik itu disebabkan karena sumber air yang jauh dari pemukiman, daerah yang belum memiliki sumber air, ataupun sumber air yang ada belum dikelola dengan baik, sehingga kapasitasnya belum terpenuhi dan kualitasnya belum terjamin. Oleh karena itu dirasa perlu untuk menyediakan sarana air bersih, sehingga dapat digunakan atau diperoleh dengan mudah dan mempunyai kualitas yang mempunyai standard untuk kesehatan. Menyadari akan hal tersebut, maka perlu sarana dan prasarana dari pemerintah untuk membangun perusahaan yang dapat mengolah air yang kualitasnya sudah terjamin yaitu perusahaan air minum.1
Selain dari pada itu pembangunan lingkungan perkotaan maupun pedesaan sangat membutuhkan penyediaan air bersih yang cukup, untuk pertamanan, bahaya kebakaran, kebersihan dan pembangunan lainnya. Perusahaan air minum yang ada sekarang ini di Sumatera Utara pada umumnya berasal dari warisan pemerintah kolonial Belanda yang dikenal dengan nama Water Leading Bedriyf. Sejarah mencatat bahwa pembangunan air minum beserta fasilitasnya semata-mata
1 Pemerintah Kabupaten Simalungun, Corporate Plan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Lihou Kabupaten Dati II Simalungun, Simalungun, 2000, hal. 1.
12
Universitas Sumatera Utara

dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan penduduk Belanda dan perusahaan milik Belanda. 2
Pengembangan pembangunan sektor air bersih menjadi perhatian tidak saja
oleh pemerintah pusat, melainkan keinginan pemerintah untuk memberdayakan
pembangunan daerah, dalam konteks ekonomi dan desentralisasi. Pemerintah melihat
bahwa kabupaten Simalungun memiliki sumber air cukup potensial. Kemajuan
perusahaan air minum di Sumatera Utara dewasa ini, sebagai perusahaan daerah telah
mengalami berbagai perkembangan terutama di kotamadya. Sedangkan di luar
kotamadya, keadaannya belum begitu memuaskan disebabkan oleh berbagai faktor, yaitu dana yang terbatas, kurangnya rehabilitasi, dan sebagainya.3
Dalam melakukan fungsinya sebagai pengelola air minum daerah masih
terbatas pelaksanaannya bagi Kabupaten Simalungun. Meskipun demikian
keadaannya masihlah sangat memprihatinkan karena air minum yang dihasilkan
belum memenuhi syarat baik ditinjau dari segi kuantitas maupun kualitasnya. Oleh
karena itu untuk mengembangkan air minum di Simalungun, dibentuklah perusahaan
daerah air minum yang merupakan satu-satunya pemasok air minum di Simalungun yang dikelola langsung oleh pemerintah daerah.4
Tirta Lihou diambil dari dua kata yang berasal dari dua bahasa yang berbeda yaitu Tirta yang berarti air5, sedangkan Lihou berasal dari bahasa Simalungun yang
artinya bersih, jadi jika kedua kata ini digabungkan maka arti dari Tirta Lihou adalah
2 Perda Kabupaten Simalungun Nomor: 5 Tahun 1974, Pokok-pokok Pemerintah di Daerah. 3 Wawancara dengan Thansyah Saragih, tanggal 11 November 2010 di Kantor PDAM Tirta Lihou Kabupaten Simalungun. 4 Pemerintah Kabupaten Simalungun, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Lihou Dati II Simalungun, Simalungun, 1992. 5 Kamus Besar Bahasa Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka,1991, hal. 1062.
13
Universitas Sumatera Utara

air bersih. Pada awal perusahaan ini dibentuk untuk melayani kebutuhan masyarakat akan air minum, dibangun enam unit produksi air minum di antaranya: unit produksi Parapat tahun 1925, Pardagangan tahun 1928, Serbelawan tahun 1930, Saribu Dolok tahun 1933, Panei Tongah tahun 1933, Tiga Balata tahun 1934.6
Dalam rangka untuk melayani kebutuhan masyarakat yang semakin meningkat, maka dibangun lagi beberapa unit produksi di kota kecamatan yang dipegang oleh Dinas Air Minum di antaranya: Unit Produksi Tanah Jawa tahun 1968, Unit Produksi Pematang Raya tahun 1970, Unit Produksi Haranggaol tahun 1971, Unit Produksi Tigaras tahun 1975, Unit Produksi Sindar Raya tahun 1977.7
Pembangunan sarana air minum di kabupaten Simalungun telah dimulai sejak tahun 1970 berdasarkan peraturan daerah Kabupaten Dati II Simalungun No. 2. Berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Dati II Simalungun No. 12 tahun 1983 perusahaan air minum Kabupaten Simalungun berubah statusnya menjadi Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Lihou Kabupaten Daerah Tingkat II Simalungun yang berkantor pusat di Jalan Haji Adam Malik No. 2 Pematang Siantar, Sumatera Utara. Namun pelaksanaan perubahan status perusahaan air minum ini baru terlaksana setelah tahun 1987. Sesuai dengan surat keputusan Bupati KDH tingkat II Simalungun No.188-342/1940/HUK/1987 tanggal 13 Januari 1987 tentang PDAM Tirta Lihou Kabupaten Dati II Simalungun yang melayani kebutuhan air minum untuk wilayah kecamatan dalam lingkungan pemerintah daerah Kabupaten Dati II
6 Sejak didirikannya sarana dan prasarana air minum oleh pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1925 yang dikenal dengan nama Water Leading Bedriyf, awal mulanya dibangun 6 unit produksi air minum. Setelah Indonesia merdeka, pengelolaan air minum ditangani oleh Dinas Pekerjaan Umum Propinsi dan pada tahun 1960 pengelolaan air minum diserahkan kepada Dinas Pekerjaan Kabupaten.
7 Pemerintah Kabupaten Simalungun, op.cit., hal. 3.
14
Universitas Sumatera Utara

Simlungun. Dan kemudian dilengkapi dengan surat keputusan Bupati KDH Tingkat II Simalungun No. 188.45/3276/PDAM-1987 tertanggal 17 Maret 1987 tentang susunan organisasi dan pedoman tata kerja PDAM Tirta Lihou Kabupaten Dati II Simalungun, dengan tugas pokok menyelenggarakan pengelolaan air minum untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat yang mencakup aspek sosial, kesehatan, dan pelayanan umum.8
Dampak yang ditimbulkan dari berdirinya PDAM Tirta Lihou ini sangat terasa seperti terbukanya usaha-usaha rumah makan, penginapan, penyediaan air untuk perkantoran, untuk rumah-rumah ibadah, dan sekolah-sekolah.
PDAM Tirta Lihou tidak hanya memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat Kabupaten Simalungun, tetapi juga bagi pemerintah khususnya pemerintah daerah. Pelayanan PDAM Tirta Lihou akan air minum kepada masyarakat menghasilkan sesuatu yang dapat meningkatkan pendapatan dari pemerintah Kabupaten Simalungun.
Untuk mengatasi ketersediaan sumber daya finansial dalam mengembangkan pembangunan sarana air bersih di Kabupaten Simalungun, maka PDAM Tirta Lihou sangat membutuhkan dukungan pendanaan, baik itu dari pemerintah pusat yang bersifat dana inpres, bantuan subsidi, dan juga dari partisipasi kerjasama.
Uraian di atas membuat penulis tertarik untuk meneliti lebih lanjut bagaimana kegiatan PDAM Tirta Lihou dari tahun 1987-2000, dengan judul “Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Lihou Kabupaten Simalungun (1987-2000)”.
8 Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Lihou, Rencana Perbaikan Kinerja Perusahaan PDAM Tirta Lihou Kabupaten Simalungun, 1994.
15
Universitas Sumatera Utara

Penulis berusaha mengkaji permasalahan dengan skop temporal dari tahun 19872000. Tahun 1987 merupakan tahun berdirinya PDAM Tirta Lihou, dimana tahun tersebut status perusahaan air minum berubah menjadi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Lihou yang terlaksanakan berdasarkan keputusan Bupati Simalungun. Sedangkan tahun 2000 merupakan tahun akhir penulisan ini, karena selama periode tersebut telah tampak perkembangan PDAM Tirta Lihou Kabupaten Simalungun. Hal ini dibuktikan dengan dibangunnya beberapa unit-unit produksi, semakin meningkatnya konsumen di berbagai daerah di Kabupaten Simalungun, dan banyaknya pegawai yang bekerja di perusahaan tersebut. Selain itu untuk melihat usaha-usaha yang dilakukan perusahaan daerah dalam meningkatkan mutu pelayanan, dan melihat apakah proses tersebut berjalan dengan cepat atau lambat.
1.2. Rumusan Masalah Perumusan masalah merupakan upaya untuk menyatakan secara tertulis
pertanyaan-pertanyaan yang harus memiliki jawaban. Rumusan masalah merupakan pernyataan yang lengkap dan terperinci mengenai masalah yang akan diteliti berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah. Rumusan masalah disusun secara singkat, padat, jelas, dan dibuat dengan kalimat tanya.
Berangkat dari latar belakang di atas maka perlu dibuat suatu perumusan mengenai masalah yang hendak diteliti sebagai landasan utama dalam sebuah penelitian dan substansi dari penulisan. Sesuai dengan judul yang penulis buat yaitu “Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Lihou Kabupaten Simalungun (19872000)”, maka dibuatlah suatu batasan pokok masalah. Untuk mempermudah
16
Universitas Sumatera Utara

memahami permasalahan dalam penelitian ini maka penulis mengemukakan beberapa pokok permasalahan yaitu:
1. Bagaimana latar belakang perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Lihou?
2. Bagaimana Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Lihou pada tahun 1987-2000?
3. Apa peranan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Lihou bagi kehidupan masyarakat dan perekonomian daerah Kabupaten Simalungun?
1.3. Tujuan dan Manfaat Penelitian Dalam membuat suatu penelitian pasti memiliki tujuan dan manfaat yang
dapat dipetik, dimana tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh gambaran yang lengkap terhadap permasalahan yang diteliti. Tujuan dari penelitian ini adalah:
1. Untuk mengetahui latar belakang Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Lihou sebelum tahun 1987.
2. Untuk mengetahui Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Lihou pada tahun 1987-2000.
3. Untuk mengetahui peranan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Lihou bagi masyarakat dan perekonomian daerah Kabupaten Simalungun.
Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah: 1. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan reverensi untuk penelitian
mengenai perusahaan yang bergerak pada bidang air minum khususnya
17
Universitas Sumatera Utara

Perusahaan Daerah Air minum Tirta Lihou. Dengan demikian penelitian ini dapat menjadi sumber rujukan ataupun sarana perbandingan bagi penulis yang akan menulis masalah perusahaan air minum. 2. Bagi masyarakat, penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan dan menyadari bahwa arti pentingnya keberadaan PDAM Tirta Lihou ditengahtengah masyarakat. Dengan demikian akan muncul rasa memiliki pada diri masyarakat untuk ikut serta menjaga dan merawat faslitas-fasilitas umum yang disediakan oleh PDAM untuk kepentingan bersama masyarakat itu sendiri. 3. Penelitian ini juga diharapkan dapat memberi masukan kepada berbagai pihak yang membaca sehingga mengetahui tentang sejarah PDAM Tirta Lihou.
1.4. Tinjauan Pustaka Tinjauan pustaka merupakan salah satu tahap yang penting dalam melakukan
penelitian. Tinjauan pustaka dilakukan untuk menemukan buku-buku, masalah yang paling relevan dengan objek yang dikaji.
Robert J. Kodoatie, dalam bukunya yang berjudul “Pengelolaan Sumber Daya Air dalam Otonomi Daerah”, menjelaskan bahwa sumber daya air mempunyai peran cukup besar dalam menunjang kegiatan dalam bidang pertanian, air bersih perkotaan dan pedesaan, industri, perikanan, tambak, pariwisata, tenaga listrik dan pengendalian banjir serta erosi.9
9 Robert J. Kodoatie, dkk., Pengelolaan Sumber Daya Air dalam Otonomi Daerah, Yogyakarta: Andi, 2002, hal. 12, 17-18.
18
Universitas Sumatera Utara

Tri Joko dalam bukunya yang berjudul “Sistem Penyediaan Air Minum” mengatakan bahwa penyediaan air minum adalah kegiatan menyediakan air minum untuk memenuhi kebutuhan masyarakat agar mendapatkan kehidupan yang sehat, bersih dan produktif. Selain itu menjelaskan bagaimana sistem perindustriannya, jaringan pipa, tekanan air, kecepatan aliran dan debit air.10
Selain buku-buku di atas, ada beberapa penelitian mengenai perusahaan daerah air minum yang dituangkan dalam bentuk tulisan yaitu skripsi yang ditulis oleh Linda Siallagan. Namun skripsi yang berjudul “Peranan Manajemen Dalam Meningkatkan Kinerja Pegawai Pada PDAM Tirta Lihou Kabupaten Simalungun’’, mengangkat topik PDAM Tirta Lihou dari sudut ekonomi khususnya bagian manajemen. Linda Siallagan menjelaskan mengenai sejarah Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Lihou dan manajemen perusahaan tersebut. Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Lihou awalnya adalah perusahaan air minum yang dipegang oleh dinas pekerjaan Kabupaten Simalungun dan kemudian dipegang oleh perusahaan daerah setelah adanya kebijakan dari pemerintah pusat.11 Skripsi ini dapat dijadikan sebagai sumber informasi mengenai sejarah perusahaan tersebut bagi peneliti.
Noviyanti Damanik dalam skripsinya yang berjudul “Perkembangan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bulian Tebing Tinggi (1977-1990)”, menjelaskan tentang perkembangan Perusahaan Daerah Air Minum dari tahun ketahun, dalam proses perkembangan perusahaan tersebut, tidak terus-menerus mengalami kemajuan akan tetapi ada saat dimana perusahaan mengalami masalah.
10 Tri Joko, Sistem Penyediaan Air Minum, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2009, 1, 14, 26. 11 Linda Siallagan, “Peranan Manajemen Dalam Meningkatkan Kinerja Pegawai Pada PDAM Tirta Lihou Kabupaten Simalungun’’ Skripsi S-I, Pematangsiantar: USI, 2008, Hal. 24.
19
Universitas Sumatera Utara

Selain itu dalam skripsinya, dijelaskan juga bagaimana peralihan fungsi dan tugas pengelolaan air minum daerah dari dinas air minum menjadi perusahaan daerah air minum. Beberapa mata air yang terdapat di wilayah Tebing Tinggi belum memenuhi syarat untuk dapat dijadikan sebagai air minum karena pada musim kemarau akan terjadi kekeringan dan sebaliknya bila datang musim hujan akan menyebabkan air menjadi keruh dan berubah rasa. Sejak beroperasinya PDAM Tirta Bulian dalam memenuhi kebutuhan masyarakat akan air bersih tidak secara langsung mendorong kreatifitas masyarakat setempat untuk mencari pendapatan sampingan ataupun menjadikannya sebagai salah satu pendukung profesi yang memanfaatkan sarana yang disediakan oleh PDAM Tirta Bulian. Usaha-usaha profesi itu seperti membuat jenis makanan ringan, membuka perusahaan air limun, rumah makan, tempat pencucian mobil dan lain-lain.12
1.5. Metode Penelitian Penelitian ini menggunakan metode sejarah yaitu proses menguji dan
menganalisis secara kritis rekaman dari peninggalan masa lampau.13 Menurut Louis Gottschalk ada empat tahap yang digunakan dalam penelitian yaitu heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi.14
Pertama, heuristik (mengumpulkan data atau sumber-sumber yang sesuai dengan objek yang diteliti). Dalam hal ini yang digunakan adalah metode penelitian
12 Noviyanti Damanik, Perkembangan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Bulian Tebing Tinggi (1977-1990), Skripsi S1, Medan, USU, 2005, hal. 51, 59.
13 Louis Gottschalk, Mengerti Sejarah (terj. Nugroho Notosusanto), Jakarta: UI-Press, 1971, hal. 18.
14 Ibid.
20
Universitas Sumatera Utara

kepustakaan atau studi literatur dan penelitian lapangan atau studi lapangan. Dalam penelitian kepustakaan tersebut dilakukan dengan mengumpulkan beberapa buku, majalah, artikel-artikel, skripsi dan karya tulis ilmiah yang telah pernah ditulis sebelumnya yang berkaitan dengan judul yang sedang dikaji. Sumber tertulis diperoleh dari berbagai instansi terkait seperti, PDAM Tirta Lihou Kabupaten Simalungun, berupa laporan tahunan yang berkaitan dengan perkembangan PDAM Tirta Lihou sebelum tahun 1987 dan pada periode 1987-2000. Laporan yang didapatkan dari PDAM Tirta Lihou berupa data jumlah unit produksi, karyawan, konsumen, hingga nama direktur utamanya. Kemudian penelitian lapangan akan dilakukan dengan menggunakan metode wawancara terhadap informan-informan yang dianggap mampu memberikan informasi yang dibutuhkan dalam penulisan ini, baik mereka yang bekerja ataupun yang terlibat langsung di dalam PDAM Tirta Lihou dan penduduk yang menggunakan jasa layanan yang diberikan PDAM Tirta Lihou termasuk beberapa orang tokoh masyarakat.
Kedua, kritik sumber, merupakan cara untuk mengetahui data yang lebih akurat melalui: -Kritik Intern yang merupakan cara untuk memperoleh dokumen yang dengan menganalisis sejumlah data tertulis yang berkaitan dengan PDAM Tirta Lihou, -Kritik Ekstern untuk memperoleh data yang otentik.
Tahapan selanjutnya setelah uji dan analisis data ialah tahap interpretasi. Dalam tahapan ini, data yang diperoleh dianalisa sehingga melahirkan suatu analisa yang baru dan sifatnya lebih objektif dan ilmiah dari objek yang diteliti. Objek kajian yang cukup jauh ke belakang serta minimnya data dan fakta yang ada membuat interpretasi menjadi sangat vital dan dibutuhkan keakuratan serta analisis yang tajam
21
Universitas Sumatera Utara

agar mendapatkan fakta sejarah yang objektif. Dengan kata lain, tahapan ini dilakukan dengan menyimpulkan kesaksian atau data-data/informasi yang dapat dipercaya dari bahan-bahan yang ada.
Tahapan akhir dari penelitian ini yaitu historiografi. Dengan hasil akhir dari suatu penulisan yang diperoleh dari fakta-fakta yang dilakukan secara sistematis dan kronologis untuk menghasilkan tulisan sejarah yang ilmiah dan objektif. Historiografi ini merupakan hasil dari pengumpulan sumber, kritik (baik kritik intern maupun ekstern) serta hasil dari interpretasi.
22
Universitas Sumatera Utara

BAB II
LATAR BELAKANG BERDIRINYA PERUSAHAAN DAERAH AIR MINUM TIRTA LIHOU
2.1. Gambaran Umum Lokasi Penelitian
Gambaran umum lokasi penelitian merupakan salah satu bagian yang penting dalam penulisan. Hal ini dimaksudkan untuk mengenalkan kepada pembaca wilayah yang dipilih sebagai lokasi penelitian, sebelum membahas lebih lanjut mengenai topik yang dibahas dalam penelitian ini. Di bawah ini akan dipaparkan mengenai lokasi PDAM Tirta Lihou.
2.1.1. Letak Geografis
Dilihat dari letak geografisnya Kabupaten Simalungun sangat strategis untuk meningkatkan perekonomian. Posisinya sentral dan memungkin dibuatnya wilayah Simalungun menjadi pusat perdagangan dan pendidikan. Secara administratif Kabupaten Simalungun terdiri dari 21 Kecamatan dengan 237 desa/nagori dan 14 kelurahan, dengan jarak rata-rata ibukota kecamatan ke ibukota kabupaten antara 13 Km s.d 97 Km. Luas wilayah Kabupaten Simalungun adalah 4.386,60 Km² atau 438660 Ha merupakan 6,12 % dari luas wilayah Provinsi Sumatera Utara. Keadaan iklim Kabupaten Simalungun bertemperatur sedang, suhu tertinggi terdapat pada bulan April dengan rata-rata 25,5ºC. Rata-rata suhu udara tertinggi per tahun adalah 30,1ºC dan terendah 20,6ºC.
23
Universitas Sumatera Utara

Kelembaban udara rata-rata perbulan 83.0 % dengan kelembaban tertinggi terjadi pada bulan Oktober yaitu 86 %, dengan penguapan rata-rata 3,52 mm/hari. Dalam satu tahun rata-rata terdapat 15 hari hujan dengan hari hujan tertinggi terdapat pada bulan Oktober sebanyak 24 hari hujan, curah hujan terbanyak pada bulan nopember sebesar 407 mm. Adapun batas-batas wilayah daerah tingkat II Kabupaten Simalungun terletak di antara 02º36-03º18' LU dan 98º32'-99º35' BT, dengan ketinggian rata-rata 369 meter di atas permukaan laut yang memiliki batas-batas sebagai berikut: sebelah Utara berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang, sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Asahan, sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Toba Samosir, dan sebelah Barat berbatasan dengan Kabupaten Karo.
Kabupaten Simalungun terdiri dari 21 kecamatan, 237 desa/nagori dan 14 kelurahan, antara lain: Kecamatan Silimakuta, Kecamatan Purba, Kecamatan Dolok Pardamean, Kecamatan Sidamanik, Kecamatan Girsang Sipangan Bolon, Kecamatan Tanah Jawa, Kecamatan Hutabayu Raja, Kecamatan Dolok Panribuan, Kecamatan Jorlang Hataran, Kecamatan Panei, Kecamatan Raya, Kecamatan Dolok Silau, Kecamatan Silau Kahean, Kecamatan Raya Kahean, Kecamatan Dolok Batu nanggar, Kecamatan Tapian Dolok, Kecamatan Siantar, Kecamatan Bandar, Kecamatan Pematang Bandar, Kecamatan Bosar Maligas, Kecamatan Ujung Padang.15
Wilayah Simalungun yang terdiri dari daerah dataran dan pegunungan mempunyai curah hujan yang sangat baik untuk perkebunan dan pertanian rakyat.
15 Badan Pusat Statistik Kabupaten Simalungun, Simalungun Dalam Angka Tahun 1999, hal.1.
24
Universitas Sumatera Utara

Ditinjau dari sudut wilayahnya, tanah Simalungun dapat dibagi menjadi 4 bagian yaitu dataran seperti dataran rendah, berawa, dan landai, bergelombang, berbukit, dan bergunung.
2.1.2. Keadaan Penduduk Pertumbuhan penduduk yang ada di Simalungun dimulai sejak masa
penjajahan Belanda, yang didominasi oleh orang-orang sub-etnik Simalungun sendiri. Baru setelah masuknya Belanda ke Simalungun sub-sub etnik semakin ramai. Penduduk yang menetap di Simalungun merupakan orang-orang pendatang, seperti yang datang dari Toba, Sidikalang, Pematangsiantar, maupun dari daerah lain yang ada di Sumatera Utara. Kehadiran penduduk ini merupakan suatu penunjang pertumbuhan di Kabupaten Simalungun. Hal tersebut bisa dilihat dari sistem perekonomiannya, dimana penduduk di Simalungun mayoritas bermata pencaharian bertani, seperti menanam padi, sayur, dan buah-buahan.
Selain bermata pencaharian sebagai petani, penduduk di Simalungun juga ada yang bermata pencaharian sebagai pedagang, supir, dan pegawai. Walaupun mereka memiliki mata pencaharian sebagai pedagang, supir, maupun pegawai, penduduk juga melakukan pekerjaan sampingan agar dapat memenuhi kebutuhan keluarga, seperti menanam sayur, padi, dan buah-buahan. Hasil dari pertanian penduduk dijual ke luar daerah Simalungun seperti Pematangsiantar. Selain dijual, hasil pertanian tersebut juga dikonsumsi oleh sebagian penduduk Simalungun. Penjualan dari pertanian penduduk dapat menambah income bagi daerah Siamlungun.
25
Universitas Sumatera Utara

Pada masa penjajahan Belanda di Simalungun, masyarakatnya masih homogen jika dilihat dari arti kata Simou yang artinya samar-samar atau antara kelihatan dan tidak kelihatan, tetapi ada, dan Lungun yang artinya sunyi atau sepi karena wilayah ini dulunya terdiri dari hutan belantara yang sunyi, dimana penduduknya sangat sedikit. Jumlah penduduknya relatif sedikit dibanding dengan luas wilayahnya. Setelah masa penjajahan Belanda, masyarakat Kabupaten Simalungun merupakan masyarakat yang heterogen, yang terdiri dari beranekaragam etnik seperti etnik Batak yang terdiri dari beberapa sub-etnik seperti Simalungun, Karo, Toba, selain itu terdapat juga beberapa etnik lain seperti etnik Jawa, dan Cina. Persentase jumlah dari masing-masing suku tersebut dapat dilihat dari tabel di bawah ini:

Tabel 1. Penduduk Menurut Suku di Kabupaten Simalungun berdasarkan Ratio

terhadap Jumlah Penduduk Tahun 1999.

NO SUKU

1987

1995

1996

1999

1 Simalungun

45,5 %

50 %

65,3 %

75 %

2 Karo

13 %

16,3 %

16,9 %

17 %

3 Toba

20 %

15,6 %

9,6 %

6,5 %

4 Jawa

15,5 %

10,3 %

2%

1,2 %

5 Lain-lain

6%

4,2 %

0,2 %

0,3 %

Sumber: Kabupaten Simalungun dalam Angka Tahun 1999.

26
Universitas Sumatera Utara

Dari tabel di atas terlihat bahwa mayoritas penduduk di Kabupaten Simalungun adalah dari sub-etnik Simalungun. Selain itu juga sub-etnik Karo dan Toba merupakan bagian etnik yang lebih besar jumlahnya dibandingkan dengan etnik lain yang ada di Simalungun. Suku Batak Toba, Jawa, dan suku lain pada tahun 19871999 semakin lama semakin berkurang, dikarenakan suku-suku tersebut pindah ke daerah asalnya ataupun pindah ke daerah yang mayoritas suku masing-masing misalnya ke Pematangsiantar, Toba, dengan maksud mencari kehidupan yang lebih maju.
Dapat disimpulkan bahwa pertumbuhan penduduk Kabupaten Simalungun adalah cukup lambat. Biasanya tipe pertumbuhan penduduk demikian merupakan ciri-ciri pertumbuhan di daerah pertanian yang belum berkembang atau jauh dari pusat-pusat perkembangan kota. Daerah-daerah yang menjadi pusat pertumbuhan di daerah pertanian dapat digolongkan ke dalam tipe pertanian agropolitan.
Ciri-ciri kota pertanian dapat ditandai dengan kegiatan perkotaan yang masih bercampur dengan kegiatan pertanian, industri-industri yang berkembang masih dalam taraf pengelolaan hasil pertanian dari daerah yang belum berkembang dan pelayannya diperuntukkan bagi kebutuhan daerah setempat dan sektor pelayanan jasa bersifat perorangan dengan skala kecil.
Sebagian besar masyarakat Kabupaten Simalungun adalah masyarakat agraris yang kehidupannya bertumpu pada pertanian. Oleh karena itu tidak mengherankan apabila mayoritas penduduk hidup sebagai petani. Selain pertanian, masyarakat Simalungun memiliki mata pencaharian lain, seperti pedagang, pegawai, dan sebagainya.
27
Universitas Sumatera Utara

Kabupaten Simalungun memiliki sarana ibadah, seperti mesjid dan gereja yang terdapat di seluruh kecamatan. Mesjid berjumlah 808 buah, Gereja Protestan berjumlah 941 buah, dan Gereja Katolik berjumlah 171 buah. Penduduk Kabupaten Simalungun memeluk berbagai agama. Ada beberapa agama yang dianut oleh penduduk di Kabupaten Simalungun, yaitu Agama Kristen Protestan, Katolik, Islam, Hindu dan Budha. Adapun persentase masyarakat yang menganut agama tertera pada tabel berikut ini:

Tabel 2. Penduduk Menurut Agama yang Dianut di Kabupaten Simalungun

Tahun 1999.

No Agama

Jumlah

1 Kristen Protestan

918139

2 Islam

721375

3 Katolik

299042

4 Lainnya

4283

Sumber: Kabupaten Simalungun dalam Angka Tahun 1999.

Berdasarkan tabel di atas dapat dikatakan bahwa mayoritas masyarakat Kabupaten Simalungun menganut agama Kristen Protestan, yaitu sekitar 74 %, agama Islam adalah agama mayoritas kedua setelah Kristen Protestan, yaitu sekitar 20 %, agama Katolik sekitar 4 %, yang lainnya seperti Hindu dan Budha sekitar 2 %.
Sumber daya manusia merupakan faktor penentu dalam pelaksanaan pembangunan, apakah sebagai perencana, pengambil kebijakan atau sebagai pelaksana. Peranan sumber daya manusia yang berkualitas akan dapat menentukan

28
Universitas Sumatera Utara

arah dan mempercepat proses pembangunan untuk mencapai sasaran yang telah ditentukan.
Pada tahun 1999, di lingkungan pemerintah Kabupaten Simalungun, komposisi dari SDM yang dimiliki menurut pendidikannya yang tersebar pada Kantor/Badan dan dinas-dinas adalah tamat SD 461 orang, SLTP 251 orang, SLTA 7.985 orang, D3 2.564 orang, dan S1 1.353 orang. Sedangkan tamatan S1 yang terbanyak terdapat di Dinas Pendidikan dan Pengajaran yakni sebanyak 909 orang (79.32 %). Sementara untuk SDM yang terdapat di kantor-kantor kecamatan, tamatan SD 22 orang, SLTP 53 orang, SLTA 349 orang, D3 31 orang, dan S1 sebanyak 86 orang.
Masalah kependudukan selalu berhubungan erat dengan masalah pembangunan sebab penduduk merupakan subyek sekaligus obyek pembangunan. Sebagai subyek, penduduk merupakan modal dasar pembangunan (sebagaimana tercantum dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara) sehingga perlu ditingkatkan kualitasnya dan sebagai obyek, penduduk merupakan beban pembangunan, karenanya perlu dikendalikan jumlahnya pada tingkat tertentu. Jumlah penduduk yang besar dengan pertumbuhan yang cepat dapat menghambat laju pembangunan yang serius.
Berdasarkan data dari Kantor Badan Pusat Statistik Kabupaten Simalungun, pada tahun 1987, jumlah penduduk Simalungun 788.149 jiwa yang tersebar di 17 kecamatan, dengan jumlah penduduk laki-laki 385.052 jiwa dan jumlah penduduk perempuan 403.097 jiwa.16
16 Badan Pusat Statistik Kabupaten Simalungun, Simalungun Dalam Angka Tahun 1987, hal.3.
29
Universitas Sumatera Utara

Pada tahun 1999, penduduk Simalungun berjumlah 827.541 jiwa yang tersebar di 21 kecamatan, dengan jumlah penduduk laki-laki 405.849 jiwa dan penduduk perempuan berjumlah 421.692 jiwa dan merupakan daerah Kabupaten/kota dengan penduduk terbanyak kelima di Sumatera Utara. Jumlah tersebut meningkat rata-rata 1,25 % per tahunnya dibanding dengan jumlah tahun-tahun sebelumnya. Jumlah penduduk terbesar berada di Kecamatan Siantar yaitu sebesar 60.771 jiwa dan terkecil berada di Kecamatan Haranggaol Horison yang hanya sebesar 5.689 jiwa.
Kecamatan yang memiliki luas wilayah terbesar terdapat di Kecamatan Silau Kahean dengan luas 324.08 Km² dan wilayah terkecil di Kecamatan Haranggaol Horison (34.50 Km²), wilayah yang paling padat penduduknya terdapat di Kecamatan Bandar (577.67 jiwa/Km), disusul Kecamatan Siantar (449.16 jiwa/Km) dan Raya (424.58 jiwa/Km).
Penduduk wanita pada tahun 1999 sedikit lebih banyak dari penduduk lakilaki seperti tampak dari rasio jenis kelamin yang lebih kecil dari angka 100. Pada tahun 1999 penduduk Kabupaten Simalungun masih berkelompok pada usia 5-14 tahun yaitu sebesar 29,20 %, menyusul kelompok usia 15-24 tahun yaitu sebesar 20,17 %, kemudian kelompok usia 25-34 tahun yaitu sebesar 14,26 %, sedangkan yang terendah adalah kelompok usia 65 tahun ke atas yaitu sebesar 4,41 %.17
17 Badan Pusat Statistik Kabupaten Simalungun, Simalungun Dalam Angka Tahun 1999, hal.39.
30
Universitas Sumatera Utara

2.1.3. Struktur Sosial Budaya Masyarakat Simalungun Dari hasil perhitungan yang dilakukan oleh pemerintah mulai dari tahun 1987-
2000, setiap tahunnya penduduk yang menempati Kabupaten Simalungun semakin bertambah. Pertambahan jumlah ini ditafsirkan sebagai masyarakat pendatang yang jumlahnya semakin meningkat ataupun masyarakat yang dilihat dari tingginya angka kelahiran.
Banyak etnik yang ada di Nusantara datang ke Simalungun untuk mencari pekerjaan seperti buruh kebun. Banyak dari kelompok buruh ini yang tinggal menetap di Simalungun atau sekitarnya. Beberapa etnik dan sub-etnik yang ada di Simalungun seperti etnik Batak Toba, Simalungun, Karo, dan terdapat juga beberapa etnik lain seperti Jawa, dan Cina. Kelompok etnik inilah yang akan menjadi dasar-dasar dari pembentukan sistem sosial dan budaya di Simalungun, sebab mereka datang dengan budaya yang lengkap yang mereka miliki.
Sebelum merdeka, segala sistem yang berlaku di sekitar daerah kesultanan, Simalungun pada umumnya, terbentuk dari kebijakan kesultanan dan pemerintah kolonial. Pada bagian administrasi masyarakat, kebijakan datang dari pemerintah kolonial, sedangkan kebijakan yang berhubungan dengan sistem sosial dan kemasyarakatan pada dasarnya dibentuk oleh kesultanan. Hal ini berlangsung sampai Indonesia memperoleh kemerdekaan. Kemerdekaan Indonesia memberikan dampak terhadap perubahan sistem sosial, dan struktur masyarakat di Simalungun.
Setelah kemerdekaan terdapat budaya baru di Simalungun yang merupakan budaya percampuran (pluralis) dari berbagai suku yang mendiami Simalungun. Seperti suku Jawa, Melayu, Batak Toba, Simalungun, Karo, Nias, Tionghoa dan
31
Universitas Sumatera Utara

suku-suku lainnya yang masing-masing melaksanakan tradisi yang mereka miliki, tanpa ada unsur paksaan dari budaya dan suku lain.
Dalam bidang agama, masing-masing suku yang tinggal di Simalungun mayoritas agama yang mereka anut adalah agama yang mereka bawa dari daerah asal mereka datang. Seperti etnis Melayu, Jawa, Mandailing yang beragama Islam, demikian juga halnya dengan etnis Batak Toba, Simalungun, Karo yang pada umumnya menganut agama Kristen Protestan dan Katolik.
Nilai-nilai keagamaan yang ada di Simalungun sangat banyak memberikan nilai positif bagi terselenggaranya kekerabatan antar sesama masyarakat. Unsur-unsur budaya dan unsur keagamaan masyarakat yang saling menghormati menjadi salah satu ciri masyarakat yang tinggal di sekitar Simalungun. Sistem sosial yang berlaku dalam kehidupan masyarakat di Simalungun merupakan sistem sosial yang diatur berdasarkan sistem sosial yang berlaku di Indonesia. Peraturan pemerintah dan sistem norma masyarakat menjadi dasar dari kehidupan sosial masyarakat Simalungun.
Masyarakat di Simalungun memilki nilai kekerabatan yang sangat kuat. Misalnya masyarakat Simalungun yang beragama Kristen merayakan hari Natal, masyarakat yang beragama lain ikut merayakannya dengan berkunujung ke rumah masyarakat yang beragama kristen. Rasa saling menghormati antar suku dan umat beragama sangat kental dimana apabila ada kegiatan keagamaan, mereka saling membantu satu dengan yang lainnya.
32
Universitas Sumatera Utara

2.2. Sejarah Kabupaten Simalungun Daerah Simalungun merupakan salah satu kabupaten yang terdapat di Propinsi
Sumatera Utara. Pada mulanya kata Simalungun tidak begitu dikenal oleh masyarakat sebelumnya. Orang hanya mengenal daerah Tano Jau atau Batak Timur, karena wilayahnya yang terletak di sebelah paling timur dari sub-sub suku Batak lainnya. Daerah ini dulunya dikenal sebagai wilayah dari kerajaan Nagur dan Silo yang menurut legenda adalah asal muasal keturunan kerajaan-kerajaan yang ada di Simalungun.
Menurut T.B.A. Purba Tambak kata Simalungun berasal dari dua kata yaitu Simou dan Lungun. Simou artinya samar-samar atau antara kelihatan dan tidak kelihatan, tetapi ada. Sedangkan Lungun artinya sunyi atau sepi karena wilayah ini dulunya terdiri dari hutan belantara yang sunyi, dimana penduduknya sangat sedikit. Melalui proses penyebaran bahasa, kata simou dan lungun kemudian disebut dengan ucapan Simalungun. Meskipun demikian tidak diketahui secara pasti sejak kapan orang mulai menggunakan kata Simalungun tersebut. Pada masa pemerintahan kolonial Belanda Simalungun terbagi dua, yakni Simalungun Atas dan Simalungun Bawah. Simalungun Atas terdiri dari Kerajaan Tanah Jawa, Pane, dan Raya. Sedangkan Simalungun Bawah terdiri dari Kerajaan Dolok Silo, Silimakuta, dan Purba. 18
Pada awal abad ke V (570-620) Kerajaan Nagur sudah ada, yang sudah mempunyai hubungan dagang dengan bangsa-bangsa lain terutama Tiongkok (China). Sebelum berdirinya Kerajaan Naopat (Kerajaan Berempat) di Simalungun
18 T.B.A. Purba Tamba, Sejarah Daerah Simalungun, Pematangsiantar: T.B.A. Purba Tamba, 1982, hal. 14.
33
Universitas Sumatera Utara

telah berdiri Kerajaan Nagur. Para ahli menyatakan pusat pemerintahan Kerajaan Nagur terletak di sekitar Kampung Tongko yaitu Nagaraya (Nagur Raya). Kerajaan diperintah oleh raja secara turun temurun yang bermarga Damamim Rappogos. Kerajaan Nagur meliputi daerah Simalungun, Serdang Hulu dan Padang Bedagai. Kerajaan ini lemah dan hancur karena kalah perang terhadap Pasei serta serangan Sultan Aceh Alauddin Riayatsyah Al Khabar, sehingga Kerajaan Nagur hancur.19
Tanah Simalungun merupakan suatu daerah yang subur, sangat baik
digunakan untuk perkebunan dan persawahan. Hal ini yang mengundang pihak
kolonial Belanda untuk menanamkan modalnya, dengan membuka beberapa
perkebunan di daerah ini. Sehingga pada tahun 1900 dibuka perkebunan teh,
perkebunan kelapa sawit, dan coklat.
Pada mulanya masyarakat Simalungun mengenal sistem kerajaan, sehingga tata kehidupan masyarakatnya pun masih bersifat feodal.20 Kerajaan Nagur dan
Kerajaan Purba Deisa Naualuh yang merupakan kerajaan pertama di Simalungun.
Kerajaan Nagur berbentuk “Dewan” yang disebut “Harajaan”. Di samping Raja
sebagai kepala pemerintahan, masih ada perangkat-perangkat kerajaan. Ada yang
disebut “Tungkat” (Urang Kaya), “Gamot” (Datuk Pamogang) dan “Pangulu Dusun”.
Selain itu ada lagi Penasehat yang disebut “Guru Bolon”. Walaupun kekuasaan
berada ditangan Raja, sebelum memutuskan sesuatu harus dimusyawarahkan oleh
Harajaan. Oleh sebab itu raja juga disebut Partongah (yang menengahi).
Dalam bidang pertahanan raja berfungsi sebagai Panglima Tertinggi dan
sebagai Pimpinan Tentera diangkat “Raja Goraha” (Panglima Perang). Untuk
mengelola harta kekayaan dan perbendaharaan diangkat salah seorang Tungkat
19 Batara Sangti Simanjuntak, Sejarah

Dokumen yang terkait

Dokumen baru