Analisis Musikal Lagu Etnik Pada Gitar Tunggal: Studi Kasus Pada Karya-Karya Jubing Kristianto

(1)

ANALISIS MUSIKAL ARANSEMEN LAGU

ETNIK PADA GITAR TUNGGAL:

STUDI KASUS PADA KARYA-KARYA JUBING KRISTIANTO

T E S I S

Oleh

WONTER LESSON PURBA

NIM. 107037006

PROGRAM STUDI

MAGISTER (S2) PENCIPTAAN DAN PENGKAJIAN SENI

FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN


(2)

ANALISIS MUSIKAL ARANSEMEN LAGU ETNIK PADA

GITAR TUNGGAL:

STUDI KASUS PADA KARYA-KARYA JUBING KRISTIANTO

T E S I S

Untuk memperoleh gelar Magister Seni (M.Sn) dalam Program Studi Magister (S2) Penciptaan dan Pengkajian Seni pada Fakultas

Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara

Oleh

Wonter Lesson Purba

NIM. 107037006

PROGRAM STUDI

MAGISTER (S2) PENCIPTAAN DAN PENGKAJIAN SENI

FAKULTAS ILMU BUDAYA

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN


(3)

Judul Tesis : ANALISIS MUSIKAL ARANSEMEN LAGU ETNIK PADA GITAR TUNGGAL : STUDI KASUS PADA KARYA-KARYA JUBING KRISTIANTO

Nama : Wonter Lesson Purba Nomor Pokok : 107037006

Program Studi : Magister (S2) Penciptaan dan Pengkajian Seni

Menyetujui Komisi Pembimbing

Drs. Irwansyah, M.A. Drs. Heristina Dewi M.Pd NIP. 19621221 199703 1 001 NIP. 196605271994032010

_______________________ ______________________

Ketua Anggota

Program Studi Magister (S2) Fakultas Ilmu Budaya Penciptaan dan Pengkajian Seni Dekan

Drs. Irwansyah, M.A. Dr. Syahron Lubis, M.A.

NIP. 19621221 199703 1 001 NIP. 19511013 197603 1 001


(4)

Telah diuji pada

Tanggal 24 Oktober 2012

_______________________________________________________________

PANITIA PENGUJI UJIAN TESIS

Ketua : Drs. Irwansyah Harahap, M.A. (__________)

Sekretaris : Drs. Torang Naiborhu, M.Hum. (__________)

Anggota I : Drs. Muhammad Takari, M.Hum, Ph.D (__________)

Anggota II : Drs. Irwansyah Harahap, M.A. (__________)


(5)

INTISARI

Penelitian ini menganalisis aransemen lagu etnik pada gitar tunggal dengan studi kasus pada karya-karya Jubing Kristianto dengan pendekatan kepada kajian musikal yang meliputi bagaimana proses analisis aransemen lagu etnik yang diadaptasikan ke gitar tunggal, bagaimana menganalisis musik yang mencakup analisis chord, iringan, bas, harmoni dan teknik-teknik pada gitar tunggal. Bagaimana gaya musik (gaya aransemen) dan gaya bermain gitar dalam aransmen Jubing Kristianto. Guna menjawab hal ini akan digunakan metode penelitian kualitatif dengan memanfaatkan teori-teori interdisiplin ilmu.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aransemen lagu etnik pada gitar tunggal dengan studi kasus pada karya-karya Jubing merupakan kontribusi sebuah ilmu pengetahuan khususnya ilmu aransemen pada gitar bagi pendidikan musik dan menunjukkan kemampuan gitar sebagai salah satu alat musik yang mampu membawakan serta mewakili bebagai genre musik lagu-lagu etnik kedalam seni pertunjukan Indonesia. Dan melalui tulisan ini, maka didapatlah sebuah nilai-nilai universal dalam konteks musik yang digarap Jubing Kristianto. Mulai dari lagu anak-anak, lagu-lagu etnik ataupun tradisional Indonesia, lagu-lagu nasional Indonesia, lagu-lagu dari luar Negara Indonesia seperti Jepang, Amerika, Eropa, Mandarin yang dirangkum menjadi sebuah gaya Classical Crossover, dan hasil dari penyajian penelitian ini menunjukkan bahwa Jubing Kristianto merupakan Inovator dari Indonesia yang memunculkan perpaduan dari gaya ini yaitu dangdut, klasik, flamenco dan jazz.


(6)

PRAKATA

Segala hormat, kuasa dan kemuliaan bagi Tuhan Yesus Kristus atas kemurahan dan pertolongan-Nya bagi penulis hingga akhirnya penelitian ini dapat selesai hingga dapat dituangkan kedalam bentuk tulisan ilmiah. Terkhusus buat orangtua penulis, Bapak St. Jawater Purba dan Ibu Rosmianna br. Simanjuntak, S. Pd atas dukungan moral, spiritual dan material mereka, mulai dari awal kuliah hingga akhir penulis dapat menyelesaikannya.

Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, M.Sc (CTM), Sp. A(K), selaku Rektor Universitas Sumatera Utara dan Bapak Dr. Syahron Lubis, M.A selaku Dekan Fakultas Ilmu Budaya yang telah memberi fasilitas pembelajaran sehingga penulis dapat menuntut ilmu di Universitas Sumatera Utara dengan baik.

2. Bapak Drs. Irwansyah, M.A, selaku Ketua Program Studi Magister (S2) Penciptaan dan Pengkajian Seni Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara dan sekaligus merangkap menjadi Pembimbing Satu penulis, atas bimbingan dan saran-sarannya untuk menyelesaikan tesis ini.

3. Bapak Drs. Torang Naiborhu, M.Hum, selaku Sekretaris Program Studi Magister (S2) Penciptaan dan Pengkajian Seni Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara yang telah mengoreksi tatacara penulisan ilmiah dan lain-lainnya yang berkenaan dengan penelitian tesis ini.

4. Ibu Dra. Heristina, M. Pd, selaku Pembimbing Dua yang telah memberikan koreksi, arahan dan kontrisbusi terhadap penyelesaian tesis ini.


(7)

5. Ibu Dra. Ritha Ony Hutajulu, M.A, atas koreksi pemahaman analisis musikal beliau banyak membantu koreksi penelitian ini.

6. Bapak Drs. Ponisan selaku pegawai administrasi Program Studi Magister (S2) Penciptaan dan Pengkajian Seni Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara yang telah mendukung kelancaran administrasi.

7. Seluruh dosen yang telah membagikan ilmu pengetahuan saat perkuliahan di Program Studi Magister (S2) Penciptaan dan Pengkajian Seni Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara.

8. Teman-teman seangkatan stambuk 2010, atas diskusi-diskusi dan masukan selama proses perkuliahan.

9. Bapak Jubing Kristianto selaku pembimbing dan informan yang telah memberikan kesediaan atas karya-karya beliau terhadap penelitian ini, serta banyak membantu dan memberikan informasi tentang kasus-kasus dalam aransemen lagu etnik karya Jubing Kristianto.

10.Amang boru Arpozen Nahampun, selaku kakak rohani yang selalu tekun mengajarkan pertumbuhan rohani dan atas segala dukungan doa dan ucapan syukur dapat mengenal Tuhan di dalam perjalanan proses perkuliahan mulai dari penulis mengambil program sarjana dan pasca sarjana

11.Istri yang saya cintai Tina Silvia Romauli br. Sihombing, teman bergumul sehidup semati, adik saya Dina br. Purba yang selalu bersedia menemani dalam perjalanan kunjungan wisata dan adik saya Ove Oktavian Purba dalam dukungan moral dan pelayanan didalam Tuhan.


(8)

Penulis menyadari bahwa masih terdapat kelemahan dan kekurangan dalam penelitian ini, baik dalam bentuk maupun isinya. Untuk itu penulis sangat mengharapkan saran, kritik dan koreksi guna perbaikan di kemudian hari.

Medan, 24 Oktober 2012 Penulis,

Wonter Lesson Purba NIM. 107037006


(9)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Wonter Lesson Purba

NIM : 107037006

Tempat / Tanggal Lahir : Tebing Tinggi / 16 Januari 1982 Alamat : Jl. Sempurna Ujung No. 230A Medan

Agama : Kristen Protestan

Jenis Kelamin : Laki-Laki

Pekerjaan : Wiraswasta

Pendidikan : Sarjana Seni (S.Sn) dari Fakultas Bahasa dan Seni Universitas HKBP Nommensen Medan, Jurusan Seni Musik, Lulus Tahun 2007

Pada tahun 2010/2011 diterima menjadi mahasiswa pada Program Studi Magister (S2) Penciptaan dan Pengkajian Seni Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sumatera Utara.


(10)

PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam tesis ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.

Medan, Oktober 2012

Wonter Lesson Purba NIM. 107037006


(11)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

INTISARI ... iv

PRAKATA ... v

DAFTAR RIWAYAT HIDUP ... viii

HALAMAN PERNYATAAN ...ix

DAFTAR ISI ... x

DAFTAR GAMBAR ... xiii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah ... 1

1.2 Rumusan Masalah ... 9

1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 10

1.3.1 Tujuan Penelitian ... 10

1.3.2 Manfaat Penelitian ... 11

1.4 Tinjauan Pustaka ... 11

1.5 Konsep dan Landasan Teori ... 14

1.5.1 Konsep ... 14

1.5.2 Teori ... 19

1.6 Metode Penelitian ... 22

1.6.1 Teknik Pengumpulan Data ... 22

1.6.2 Analisis Data ... 23

1.7 Sistematika Penulisan ... 23

BAB II TINJAUAN MUSIK GITAR TUNGGAL 2.1 Sejarah Instrumen Gitar dan Perkembangannya ... 25

2.2 Sejarah Persebaran dan Perkembangan Gitar di Indonesia ... 39

2.3 Perkembangan Awal Pendidikan Gitar Klasik di Indonesia ... 43

2.4 Metode Pembelajaran Gitar Tunggal ... 47

2.4.1 Posisi dan Sikap Bermain Gitar Tunggal ... 48

2.4.1.1 Posisi dan Sikap Anatomi Tubuh yang Ideal dan Efektif dalam Bermain Gitar Tunggal ... 48

2.4.1.2 Posisi dan Sikap pada Tangan Kanan ... 50

2.4.1.3 Posisi dan Sikap pada Tangan Kiri ... 52

2.4.2 Metode Pembelajaran Notasi pada Gitar ... 54

2.4.3 Metode Pembelajaran dengan Sistem Tingkatan (Grade atau Level) ... 64

2.5 Organologi Gitar ... 70

2.5.1 Pengertian Organologi ... 70

2.5.2 Akustika Bunyi Gitar ... 71

2.5.3 Konstruksi Gitar Tunggal ... 84

2.5.3.1 Bagian Atas Gitar ... 88


(12)

2.5.3.3 Fungsi Bagian-Bagian Gitar ... 97

2.6 Jenis-Jenis Gitar ... 102

2.7 Teknik-Teknik Permainan Gitar Tunggal ... 106

2.7.1 Teknik Ornamentasi ... 106

2.7.2 Teknik Tremolo ... 108

2.7.3 Teknik Pizzikato ... 110

BAB III BIOGRAFI JUBING KRISTIANTO 3.1 Latar Belakang Kehidupan Jubing Kristianto ... 111

3.2 Eksistensi Jubing Kristianto Sebagai Aranger, Penulis, Komponis dan Musisi Gitar Tunggal ... 115

3.2.1 Jubing Kristianto Sebagai Aranger Gitar Tunggal ... 116

3.2.1.1 Daftar Kumpulan Lagu-Lagu Aransemen Jubing Untuk Gitar Tunggal ... 128

3.2.2 Jubing Sebagai Penulis Gitar ... 130

3.2.3 Jubing Sebagai Komponis Gitar ... 134

3.2.3.1 Daftar Kumpulan Lagu-Lagu Ciptaan Jubing Kristianto Untuk Gitar Tunggal ... 142

3.2.4 Jubing Sebagai Musisi Gitar Tunggal ... 144

BAB IV ANALISIS MUSIKAL ARANSEMEN LAGU-LAGU ETNIK PADA GITAR TUNGGAL KARYA JUBING KRISTIANTO 4.1 Transkripsi ... 170

4.1.1 Proses Transkripsi ... 171

4.2 Ayam Den Lapeh ... 172

4.2.1 Analisis Melodi ... 177

4.2.2 Analisis Chord ... 183

4.2.3 Analisis Pola Ritem ... 188

4.2.4 Analisis Teknik Permainan Gitar ... 190

4.2.4.1 Bagian Intro ... 191

4.2.4.2 Bagian Lagu ... 193

4.3 Bengawan Solo ... 195

4.3.1 Analisis Melodi ... 199

4.3.2 Analisis Chord ... 206

4.3.3 Analisis Pola Ritem ... 212

4.3.4 Analisis Teknik Permainan Gitar ... 214

4.4 Rek Ayo Rek ... 220

4.4.1 Analisis Melodi ... 220

4.4.2 Analisis Chord ... 229

4.4.3 Analisis Pola Ritem ... 238

4.4.4 Analisis Teknik Permainan Gitar ... 239

4.5 Karakteristik (Gaya Musik) Permainan Jubing Kristianto ... 242

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan ... 245

5.2 Saran ... 247


(13)

GLOSARIUM ... 252 LAMPIRAN 1 : DAFTAR TRANSKRIPSI ARANSEMEN JUBING ... 255 LAMPIRAN 2 : PROFIL GITARIS GITAR TUNGGAL INDONESIA .... 265 LAMPIRAN 3 : BEBERAPA TULISAN JUBING ... 276


(14)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1 : Lyra ... 26

Gambar 2 : Permulaan Bentuk Lute dari Cithara, Citharis, Hingga Menjadi Lute ... 27

Gambar 3 : Cithara ... 28

Gambar 4 : Posisi Bermain Alat Musik Cithara ... 28

Gambar 5 : Coptik Gitar ... 30

Gambar 6 : Gitar Klasik ... 33

Gambar 7 : Posisi Bermain Gitar ... 49

Gambar 8 : Posisi Tangan Kanan Sesudah Memetik ... 50

Gambar 9 : Posisi Tangan Kanan Sebelum Memetik ... 51

Gambar 10 : Posisi Tangan Kanan Dari Atas ... 51

Gambar 11 : Posisi Tangan Kiri dari Belakang ... 52

Gambar 12 : Posisi Tangan Kiri dari Atas ... 53

Gambar 13 : Posisi Tangan Kiri dari Depan ... 53

Gambar 14 : Garis Paranada ... 55

Gambar 15 : Garis Bantu Paranada Atas dan Bawah ... 55

Gambar 16 : Diagram Pembelajaran Notasi Balok ... 56

Gambar 17 : Nilai Not Dalam Jumlah Ketukan ... 57

Gambar 18 : Letak Not-not Pada Fret Gitar ... 64

Gambar 19 : Gedung Erasmus Huis Jakarta ... 72

Gambar 20 : Jose Romanillos Terinspirasi dari Sebuah Kubah Mesjid di Spanyol ... 78

Gambar 21 : Bagian dalam Gitar ... 85

Gambar 22 : Jembatan Gitar (Bridge) ... 86

Gambar 23 : Sadle Gitar Klasik ... 86

Gambar 24 : Sadle Melekat Pada Jembatan (Bridge) Gitar ... 87

Gambar 25 : Kepala Gitar ... 88

Gambar 26 : Ukuran Standar Leher / Neck Gitar ... 89

Gambar 27 : Leher (Neck) Gitar Posisi Dari Belakang ... 89

Gambar 28 : Leher (Neck) Gitar Posisi Dari Depan ... 90

Gambar 29 : Fret Gitar ... 90

Gambar 30 : Ivory Nut ... 91

Gambar 31 : Ivory Nut Melekat Pada Bagian Ujung Leher Gitar ... 91

Gambar 32 : Lubang Soundboard Gitar ... 92

Gambar 33 : Backboard Dengan Kayu-kayu Penguat Pada Bagian Dalam ... 93

Gambar 34 : Sideboard Gitar ... 93

Gambar 35 : Bagian-bagian Gitar ... 94

Gambar 36 : Gitar Jose Ramirez ... 95

Gambar 37 : Pembuatan Gitar Ramirez ... 96

Gambar 38 : Peralatan Untuk membuat Gitar Ramirez ... 96

Gambar 39 : Tuning Machines ... 97


(15)

Gambar 41 : Nut Gitar ... 99

Gambar 42 : Leher (Neck) Gitar ... 100

Gambar 43 : Fretboard Gitar ... 101

Gambar 44 : Soundhole Gitar ... 101

Gambar 45 : Gitar Klasik ... 102

Gambar 46 : Gitar Flamenco ... 103

Gambar 47 : Gitar Folk Akustik ... 104

Gambar 48 : Gitar Akustik Elektrik ... 105

Gambar 49 : Gitar Elektrik ... 105

Gambar 50 : Teknik Memainkan Notasi Grace Not ... 106

Gambar 51 : Teknik Memainkan Notasi Moerdent ... 107

Gambar 52 : Teknik Memainkan Notasi Glissando ... 107

Gambar 53 : Teknik Memainkan Notasi Portamento ... 108

Gambar 54 : Teknik Memainkan Notasi Tremolo ... 108

Gambar 55 : Contoh Teknik Tremolo Pada Lagu Requerdos de La Alhambra Karya Francisco Tarrega ... 110

Gambar 56 : Teknik Memainkan Notasi Pizzikato ... 110

Gambar 57 : Salah Satu Pertunjukan Jubing Dalam Sebuah Pentas Seni ... 112

Gambar 58 : Jubing Semasa Kuliah di Universitas Indonesia ... 113

Gambar 59 : Jubing Dalam Yamaha Fesival Gitar Indonesia ... 114

Gambar 60 : Jubing Bersama Istri ... 115

Gambar 61 : Lampiran 1, Membuat Aransemen Gitar Tunggal ... 125

Gambar 62 : Lampiran 2, Membuat Aransemen Gitar Tunggal ... 126

Gambar 63 : Lampiran 3, Membuat Aransemen Gitar Tunggal ... 127

Gambar 64 : Cover Buku Jubing yang Pertama “Gitarpedia, Buku Pintar Gitaris” ... 131

Gambar 65 : Cover Buku Jubing yang Kedua ”Membongkar Rahasia Chord Gitar ... 133

Gambar 66 : Cover album Solo Gitar “Becak Fantasy” ... 146

Gambar 67 : Pembuatan Video Klip Album “Becak Fantasy” ... 146

Gambar 68 : Cover Album “Bossanova 3 Gitar By Jubing” ... 147

Gambar 69 : Jubing At Java Jazz Festival ... 148

Gambar 70 : Jubing At Java Jazz Festival ... 148

Gambar 71 : Panggung dan Sponsor ... 149

Gambar 72 : Penonton 1 ... 150

Gambar 73 : Penonton 2 ... 150

Gambar 74 : Penonton 3 ... 150

Gambar 75 : Sebelum Acara Dimulai ... 151

Ganbar 76 : Penonton Memenuhi Acara Show ... 151

Gambar 77 : Couching Clinic, Jubing Memberikan Pengarahan ... 151

Gambar 78 : Cover Depan Album “Hujan Fantasy” ... 153

Gambar 79 : Cover Belakang Album “Hujan Fantasy” ... 153

Gambar 80 : Persiapan Acara Konser “Hujan Fantasy” ... 154

Gambar 81 : Jubing Dengan Istri Dalam Acara Konser “Hujan Fantasy” ... 154

Gambar 82 : Jumpa Pers ... 155

Gambar 83 : Peresmian Peluncuran CD “Hujan Fantasy” ... 155

Gambar 84 : Pertunjukan Gitar Tunggal ... 156


(16)

Gambar 86 : Foto Bersama Jubing dan Team ... 157

Gambar 87 : Jubing dan Ananda Cek Sound ... 160

Gambar 88 : Penonton, 1 Jam Acara Sebelum Dimulai ... 160

Gambar 89 : Pertunjukan Gitar Tunggal Album “Delman Fantasy” ... 161

Gambar 90 : Pertunjukan Gitar Tunggal Album “Delman Fantasy” ... 161

Gambar 91 : Jubing Mempersiapkan Acara Sebelum Dimulai ... 162

Gambar 92 : Penonton Memenuhi City Walk Sudirman ... 163

Gambar 93 : Penonton Antri Tanda Tangan Jubing ... 163

Gambar 94 : Jubing Dengan Penggemar, Foto Bersama ... 164

Gambar 95 : Cover Album “Kaki Langit” ... 165

Gambar 96 : Andy Owen, I Wayan Balawan dengan Jubing Pada Konser Extra Ordinary Guitar ... 168

Gambar 97 : Transkripsi Lagu Ayam Den Lapeh Versi Jubing ... 174

Gambar 98 : Melodi Lagu Ayam Den Lapeh Versi Jubing ... 177

Gambar 99 : Melodi Lagu Ayam Den Lapeh Versi Lebah Ratu (VLR) ... 178

Gambar 100 : Melodi VLR ... 179

Gambar 101 : Melodi Versi Jubing ... 179

Gambar 102 : Melodi VLR ... 180

Gambar 103 : Melodi Versi Jubing ... 180

Gambar 104 : Bagian Melodi Immortal Publisher ... 181

Gambar 105 : Melodi Bagian Chorus Versi Jubing ... 182

Gambar 106 : Intro Lagu Ayam Den Lapeh ... 184

Gambar 107 : Bagian Lagu Ayam Den Lapeh ... 185

Gambar 108 : Bagian Chorus Lagu ... 187

Gambar 109 : Bagian Coda Lagu ... 188

Gambar 110 : Pola Ritem Melodi Lagu Ayam Den Lapeh ... 189

Gambar 111 : Pola Ritem Iringan Lagu Ayam Den Lapeh ... 190

Gambar 112 : Pola Ritem Not Perdelapan Dalam Versi Lebah Ratu ... 190

Gambar 113 : Teknik Campanelas ... 191

Gambar 114 : Teknik Rasgueado ... 192

Gambar 115 : Teknik Pizzikato ... 193

Gambar 116 : Teknik Tambora ... 194

Gambar 117 : Teknik Golpe ... 194

Gambar 118 : Transkripsi Lagu Bengawan Solo Jubing Kristianto ... 196

Gambar 119 : Melodi Bengawan Solo Versi Immortal Publisher ... 199

Gambar 120 : Melodi Lagu Bengawan Solo Immortal Publisher ... 201

Gambar 121 : Perbedaan Aksen Lagu Bengawan Solo ... 202

Gambar 122 : Bagian Intro Lagu Bengawan Solo ... 202

Gambar 123 : Bagian Melodi Lagu Versi Immortal Publisher ... 203

Gambar 124 : Bagian Melodi Lagu Bengawan Solo Versi Jubing ... 204

Gambar 125 : Melodi Chorus Lagu Bengawan Solo Versi Immortal Publisher ... 204

Gambar 126 : Chorus Lagu Versi Jubing ... 205

Gambar 127 : Hasil Analisis Tahap Perkembangan Melodi Bengawan Solo Versi Jubing ... 205

Gambar 128 : Melodi Lagu Setelah Tahap Perkembangan ... 206

Gambar 129 : Modulasi Melodi Ke Tonika A Mayor ... 206


(17)

Gambar 131 : Bagian Lagu Bengawan Solo ... 208

Gambar 132 : Bagian Perkembangan Lagu Bengawan Solo ... 210

Gambar 133 : Bagian Coda Lagu Bengawan Solo ... 212

Gambar 134 : Contoh Pola Ritem Lagu Bengawan Solo ... 214

Gambar 135 : Pola Ritem Lagu Bengawan Solo Versi Immortal Publisher ... 214

Gambar 136 : Penggunaan Teknik Triol ... 215

Gambar 137 : Penggunaan Teknik Slur Bengawan Solo ... 216

Gambar 138 : Penggunaan Teknik Slur dan Slide Pada Bagian Chorus ... 218

Gambar 139 : Penggunaan Teknik Glissando dan Trill ... 219

Gambar 140 : Penggunaan Teknik Trill Bagian Coda ... 219

Gambar 141 : Melodi Lengkapn Lagu Rek Ayo Rek Versi Musika ... 221

Gambar 142 : Melodi Lengkap Lagu Rek Ayo Rek Versi Jubing Kristanto ... 222

Gambar 143 : Melodi Lagu Rek Ayo Rek Versi Musika ... 226

Gambar 144 : Melodi Lagu Rek Ayo Rek Versi Jubing ... 226

Gambar 145 : Penggunaan Ornament Pada Lagu Rek Ayo Rek ... 227

Gambar 146 : Penggunaan Ornament Pada Lagu Rek Ayo Rek ... 227

Gambar 147 : Melodi Bagian Chorus Lagu Rek Ayo Rek Versi Musika ... 228

Gambar 148 : Melodi Bagian Chorus Lagu Rek Ayo Rek Versi Jubing ... 229

Gambar 149 : Bagian Lagu Rek Ayo Rek ... 230

Gambar 150 : Bagian Chorus Lagu Rek Ayo Rek ... 231

Gambar 151 : Arpeggio, Jembatan Menuju 1 Oktaf Lebih Tinggi ... 232

Gambar 152 : Bagian Akhir Lagu Rek Ayo Rek ... 233

Gambar 153 : Pola Ritem Lagu Rek Ayo Rek Versi Jubing ... 238

Gambar 154 : Pola Ritem Lagu Rek Ayo Rek Versi Musika ... 239

Gambar 155 : Penggunaan Teknik Slur Pada Bagian Lagu ... 240

Gambar 156 : Penggunaan Teknik Slur Pada Bagian Perkembangan Lagu ... 240

Gambar 157 : Penggunaan Teknik Gliss Pada Bagian Perkembangan Lagu .... 241

Gambar 158 : Penggunaan Teknik Golpe Pada Bagian Perkembangan Lagu ... 242


(18)

INTISARI

Penelitian ini menganalisis aransemen lagu etnik pada gitar tunggal dengan studi kasus pada karya-karya Jubing Kristianto dengan pendekatan kepada kajian musikal yang meliputi bagaimana proses analisis aransemen lagu etnik yang diadaptasikan ke gitar tunggal, bagaimana menganalisis musik yang mencakup analisis chord, iringan, bas, harmoni dan teknik-teknik pada gitar tunggal. Bagaimana gaya musik (gaya aransemen) dan gaya bermain gitar dalam aransmen Jubing Kristianto. Guna menjawab hal ini akan digunakan metode penelitian kualitatif dengan memanfaatkan teori-teori interdisiplin ilmu.

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa aransemen lagu etnik pada gitar tunggal dengan studi kasus pada karya-karya Jubing merupakan kontribusi sebuah ilmu pengetahuan khususnya ilmu aransemen pada gitar bagi pendidikan musik dan menunjukkan kemampuan gitar sebagai salah satu alat musik yang mampu membawakan serta mewakili bebagai genre musik lagu-lagu etnik kedalam seni pertunjukan Indonesia. Dan melalui tulisan ini, maka didapatlah sebuah nilai-nilai universal dalam konteks musik yang digarap Jubing Kristianto. Mulai dari lagu anak-anak, lagu-lagu etnik ataupun tradisional Indonesia, lagu-lagu nasional Indonesia, lagu-lagu dari luar Negara Indonesia seperti Jepang, Amerika, Eropa, Mandarin yang dirangkum menjadi sebuah gaya Classical Crossover, dan hasil dari penyajian penelitian ini menunjukkan bahwa Jubing Kristianto merupakan Inovator dari Indonesia yang memunculkan perpaduan dari gaya ini yaitu dangdut, klasik, flamenco dan jazz.


(19)

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Analisis Musikal Aransemen Lagu Etnik Pada Gitar Tunggal, merupakan topik penelitian ini dengan studi kasus pada karya-karya Jubing Kristianto. Analisis musik adalah salah satu bagian terpenting dalam mengkaji fenomena-fenomena musikologi. Fenomena-fenomena-fenomena ini amatlah kompleks dan mencakup kepada bagian-bagian yang memfokuskan kepada objek dimensi musikal itu sendiri. Fenomena ini saling berkaitan dan saling mempengaruhi hingga dalam kajiannya merujuk pada aspek-aspek musik. Dalam buku N.H. Nainggolan (1998:4) unsur-unsur musik di dalam lagu mencakup irama, melodi, harmoni, bentuk, dan ekspresi. Jika kita mengamati lebih dalam bagian-bagian ini dapat dipilah kembali hingga unsur-unsur pembentuk musik tersebut dapat kita kenali dan kita pahami bagaimana semestinya ia berada dan berfungsi menurut objek penelitiannya. Misalnya irama, untuk menganalisis irama sangat perlu kita kaji apa itu irama, apa unsur-unsur irama dan bagaimana esensi dari irama itu sendiri dan bagaimana fungsi irama hingga membentuk suatu totalitas musik. Begitu juga halnya dengan melodi, harmoni, bentuk dan ekspresi. Tidak sampai pada batas itu, penulis juga menyoroti bahwa, bagaimana analisis musik itu sampai kepada apakah musik itu yang sesungguhnya, apakah musik dan apakah yang bukan musik, apakah bunyi-bunyi seperti suara burung, suara angin, suara air dan lain-lain apakah itu juga termasuk musik? Fenomena ini sangat kompleks, tetapi sampai kepada tahap-tahap dimana dunia akademis mewujudkannya bagaimana


(20)

para ahli dan peneliti-peneliti mengabstraksikannnya menjadi sebuah ilmu pengetahuan yang dapat dipelajari oleh setiap orang. Jika kita meninjau kembali dalam buku Muttaqin seni musik klasik (2008:87). Bahwa analisis musik mencakup aspek-aspek bunyi, garis para nada, skala nada, kunci, tempo, dinamika, timbre (warna suara), dan bentuk musik. Dalam penyajian analisis musik disini sangat terpengaruh pada kerangka kajian analisis musik Eropa Barat. Dan pada kenyataannya kajian-kajian yang merujuk pada aspek musikologi banyak menggunakan teori-teori musik barat. Teori-teori ini banyak membantu para peneliti khususnya penelitian yang berorientasi pada kajian musikal. Contohnya dalam mengkaji sistem tonal ataupun sistem modal dalam sebuah lagu, teori transkripsi lagu, teori struktur mendengar musik, teori harmoni dan sebagainya.

Analisis musikal dalam penelitian ini hanya memfokuskan kepada aspek-aspek yang terdiri dari analsis melodi, analisis transkripsi, analisis bentuk, analisis chord, dan analisis bentuk. Dan hal ini penulis lakukan guna menghindari analisis yang melebar dan tidak terfokus. Menurut hemat penulis bagian ini adalah bagian terpenting yang akan dilakukan dalam proses pengerjaannya. Mengingat bahwa dalam analisis lagu-lagu etnik ini menggunakan gitar sebagai mediatornya, amatlah penting penulis mengkaji aspek teknik-teknik permainan gitar di dalamnya. Dalam tahap ini penulis melakukan studi pustaka dan wawancara terhadap Jubing Kristianto sendiri sebagai informan dan sekaligus sebagai objek dalam penelitian ini. Dan pada bagian ini merupakan bagian yang terakhir dalam analisisnya.


(21)

“Aransemen merupakan manifestasi atau upaya kreatif dalam menata dan memperkaya sebuah melodi, lagu ataupun komposisi”. Demikian satu kutipan artikel dari seorang gitaris muda Jubing Kristianto yang cukup aktif mengisi kegiatan musik gitar tunggal di bumi Nusantara dalam artikelnya membuat aransemen gitar tunggal.

Aransemen dapat dilakukan pada instrumen musik maupun vokal (suara manusia). Aransemen merupakan sebuah metode atau cara untuk “memindahkan” ataupun mentransformasikan sebuah hasil karya seni khususnya karya musik etnik dalam penelitian ini ke dalam bentuk lain dari bentuk semula hingga menjadi sebuah hasil karya yang sesuai dengan keinginan arrangernya. Misalnya salah satu lagu etnik yang akan dikaji dalam penelitian ini, Ayam Den Lapeh, lagu ini pada dasarnya dinyanyikan oleh suara manusia atau bentuk musik vocal. Tetapi sekarang lagu ini bukan hanya dapat dinyanyikan oleh suara manusia, lagu ini sudah dapat dinyanyikan dan disampaikan oleh suara gitar, bahkan hanya dengan satu gitar. Dan hal ini sudah dilakukan oleh salah seorang musisi yakni Jubing Kristianto. Dan lagu etnik Ayam Den Lapeh yang berasal dari Minangkabau ini

dapat kita lihat dan kita dengar pada VCD Album Gitar Solo “Becak Fantasy”

Jubing Kristianto pada nomor urut ke-enam IMC Record. Oleh karenanya

penelitian ini mengambil Judul “Analisis Musikal Lagu Etnik Pada Gitar Tunggal: Studi Kasus Pada Karya-Karya Jubing Kristianto”. Jika kita mendengar dan menelaah lagu ini, amatlah unik dan kompleks, jalinan melodi, ritem, bas dan

gaya musik mencerminkan sebuah inovasi yang “menghanyutkan” bagi siapa saja yang mendengarkan lagu ini melalui aransemen Jubing Kristianto. Perpaduan klasik, jazz, dangdut dan flamenco merupakan karakteristik pada identitas


(22)

musiknya. Sehingga dalam sisi eksplorasi lainnya penulis dapat mengamati sebuah karakter atau gaya aransemen yang mencerminkan Jubing sebagai gitaris yang cukup kreatif dan sekaligus inovatif dalam menyajikan karya-karya musik khususnya musik etnik dalam penelitian ini. Kemampuan dalam mengaransemen tidak hanya sebatas pada menguasai teori-teori musik yang mengulas tentang pengetahuan aransemen. Penguasaan dalam ilmu ini, harus melewati tahap-tahap seperti mengenal genre musik (jenis-jenis musik dunia) atau aliran-aliran musik seperti jazz, klasik, flamenco, lagu-lagu tradisi, rock dan sebagainya hingga musik industri yang beredar pada masa-masa kini. Pengetahuan aransmenen juga bisa didapatkan melalui melihat konser-konser, mendengar kaset-kaset hingga pengetahuan yang berkaitan yang membentuk totalitas dari dimensi aransemen itu sendiri.

Kesulitan dalam mengaransemen biasanya kurang memahami metode, ataupun sistem yang menyangkut disiplin dalam ilmu aransemen serta berbagai genre musik, baik itu musik etnik atau musik tradisi, musik klasik atau jenis-jenis musik lainnya seperti yang dikemukakan di atas. Bahan baku atau sumber untuk pembuatan aransemen sangat berlimpah mulai dari lagu anak, lagu pop, lagu klasik hingga lagu etnik. Istilah lagu etnik sendiri yang dipakai dalam penelitian ini mengacu kepada musik yang merupakan hasil karya dari budaya kelompok pemeluknya. Seperti yang dikemukakan Meriam dalam Buku Profesor Mauly

Purba tentang Keberagaman Sistem Musik Dunia : “…suatu kebudayaan musik bersemayam di dalam alam masyarakat pemiliknya sendiri…”. Istilah lagu etnik

dalam penelitian ini juga mengacu kepada sebuah kebudayaan dalam kelompok sosial. Seperti yang kita lihat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia pengertian


(23)

untuk istilah etnik. Etnik adalah bertalian dengan kelompok sosial dalam sistem sosial atau kebudayaan yang mempunyai arti atau kedudukan tertentu karena keturunan adat, agama, bahasa, dan sebagainya. Jadi lagu etnik pada penelitian ini adalah lagu yang dimiliki dari kelompok sosial yang mempunyai bahasa, adat dan etnis yang sama. Misalnya dalam penelitian ini, lagu Ayam Den Lapeh berasal dari Minangkabau, berarti lagu ini asalnya dari etnik Minangkabau dan yang memakai lagu ini adalah orang-orang Minangkabau. Lagu Bengawan Solo berasal dari Jawa Tengah digunakan oleh masyarakat Jawa Tengah atau lagu etnik Jawa Tengah.

Dalam konteks seni pertunjukan, aransemen lagu etnik pada gitar tunggal, pada kenyataannya sangat minim jumlahnya beredar khususnya di Indonesia, hal ini terlihat jelas dalam seni pertunjukan gitar baik bersifat kompetisi, festival, hiburan, seminar, workshop dan lain-lain. Hal ini sangat memprihatinkan dan perlu mendapat perhatian, mengingat Indonesia sebagai bangsa yang multi kultural terdiri dari banyak etnik dan budaya yang didalamnya mencakup seni musik memerlukan perhatian yang cukup dalam pelestariannya dalam sudut pandang global, dan dalam hal ini gitar klasik sebagai gitar tunggal mengambil sikap dan peranan untuk mentranskripsikan, sekaligus mentransformasikan lagu-lagu etnik kedalam bentuk seni permainan gitar tunggal.

Aransemen Jubing dalam lagu-lagu etnik yang diadaptasikan pada gitar tunggal terdapat di keempat album solo gitarnya yang direkam oleh IMC Record. Album tersebut sudah beredar diseluruh Nusantara dan mendapat sambutan baik oleh masyarakat luas. Hal ini terlihat jelas sambutannya oleh setiap orang yang menonton dalam konser-konsernya diberbagai kota di Indonesia. Album yang


(24)

sudah digarap Jubing untuk rekaman gitar tunggal sebanyak 4 buah, album tersebut yaitu Becak Fantasy, Hujan Fantasy, Delman Fantasy dan Kaki Langit.

Jubing Kristianto merupakan arranger gitar tunggal yang sangat kompeten dan produktif dalam menyajikan karya-karyanya. Dia banyak menguasai jenis-jenis musik (genre musik) mulai dari dangdut, flamenco , jazz hingga musik popular yang beredar di pasar saat ini dalam musik industri. Jubing juga merupakan gitaris tunggal yang paling banyak mempopulerkan lagu-lagu yang dikenal sebagai lagu etnik, lagu-lagu yang bukan untuk gitar untuk di adaptasikan pada permaianan gitar melalui media elektronik seperti rekaman, televisi, bahkan workshop dan pertunjukan-pertunjukan gitar di dalam dan luar negeri. Bahkan dalam satu evennya yang secara nyata, penulis sendiri menonton dan mengamati Jubing dalam konser gitar tunggal di Universitas Sumatera Utara Medan, sangat memukau dan menyentuh, sehingga penelitian ini sebahagian besar merupakan akibat dari pertunjukan yang dilakukannya. Hal ini juga merupakan salah satu yang melatar belakangi penelitian ini, mengapa penulis begitu tertarik dengan aransemen-aransemen yang disajikan beliau.

Untuk lagu etnik yang diaransemen Jubing ada beberapa lagu, lagu-lagu tersebut seperti Rek Ayo Rek yang berasal dari Jawa Timur yang diciptakan oleh Is Haryanto, Bengawan Solo dari Jawa Tengah diciptakan oleh Gesang, Sarinande dari Maluku, Ayam Den Lapeh dari Minangkabau ciptaan Abdul Hamid, Bengong Jeumpa dari Aceh.

Pada prinsipnya lagu-lagu etnik yang diaransemen oleh Jubing Kristianto dimainkan berdasarkan pengalaman saja, dari apa yang dia dengar sebelumnya dari orang tuanya semenjak dia mulai meminati gitar. Lagu-lagu ini juga belum


(25)

ada transkripnya untuk notasi, sehingga dalam mengidentifikasi masalah analisis sangat sulit dilakukan.

Gitar tunggal sendiri mulai ada di Indonesia sekitar tahun 1970-an. Istilah gitar tunggal sendiri merujuk kepada satu; satu-satunya bukan jamak. Penelitian ini dilakukan yakni menggarap lagu etnik dan mengadaptasikannya kepada gitar klasik sebagai gitar tunggal bukan dua atau lebih gitar. Sebagai salah satu contoh istilah gitar tunggal sudah familiar dan dipakai dengan diterbitkannya buku-buku dan pertunjukan-pertunjukan atau konser-konser dengan tajuk gitar tunggal. Kaye Solapung dalam bukunya Gitar Tunggal penerbit PT. Indira tahun 1980, buku ini juga sudah ditetapkan dan digunakan Depdikbud sebagai pegangan guru musik di SD dengan Inpres nomor 5 tahun 1981. Di era 70 sampai 80-an tercuat nama gitaris Michael Gan, Nelson Rumantir, ataupun Carl Tanjong yang menerbitkan album kaset untuk gitar tunggal. Istilah gitar tunggal juga sudah ada pada peristiwa-peristiwa Yamaha Festival Gitar Indonesia, misalnya tahun 1977 yang dibawakan secara solo gitar ataupun gitar tunggal dan pada peristiwa itu Jubing menjadi juara dalam festival.

Gitar klasik adalah jenis gitar akustik dengan senar berbahan nilon dan sutra yang dililit logam. Lehernya lebih lebar dari pada gitar jenis lainnya meski banyak digunakan sebagai instrumen pengiring namun gitar klasik lebih populer sebagai instrumen musik solo/tunggal yang dapat memainkan beragam jenis musik dengan bass, akor dan melodi lengkap. Ditangan pemain yang ahli, gitar klasik bisa menghasilkan berbagai warna suara yang berbeda. Perbendaharaan lagu untuk gitar klasik umumnya berasal dari : (a) komposisi untuk instrumen musik lain yang ditranskripsi untuk dimainkan pada gitar misalnya dari komposisi


(26)

untuk Lute, piano, biola, flute, hingga orkestra; (b) karya orisinal untuk gitar, yang diciptakan oleh komposer dari jaman klasik hingga jaman modern; (c) lagu-lagu pop, jazz, hingga musik tradisional yang diaransemen untuk gitar klasik.

Untuk mengaransemen lagu etnik pada karya Jubing Kristianto ada beberapa tahap yang harus dilakukan dalam analisis musikalnya, dan tahap-tahap tersebut berhubungan erat dengan persoalan-persoalan analisa harmoni, pendekatan pada sistem musik seperti penulisan notasi lagu (transkripsi), perubahan chord, perpindahan chord, modalitas, term istilah-istilah yang digunakan dalam menganalisa teknik-teknik permainan gitar tunggal. Dalam membentuk sebuah aransemen terdapat barisan harmoni yakni aturan-aturan yang membentuk suatu bunyi musikalitas atau keselarasan berbagai bunyi yang terkandung dalam sebuah musik. Bagaimana harmoni lagu-lagu etnik tersebut di adaptasikan kepada permainan gitar tunggal.

Aransemen untuk lagu etnik pada karya Jubing Kristianto, belum ada transkripsinya dalam bentuk notasi, hal ini juga yang merupakan salah satu kesulitan dalam mengidentifikasi komposisi yang terdapat pada karya-karya Jubing, harapan penulis juga agar setiap pemain gitar mampu menguasai transkripsi musik, oleh karena setiap aransemen yang hendak dimainkan oleh setiap orang haruslah sesuai dengan maksud dari sang arranger atau sikomponis.

Di Indonesia terdapat ragam budaya yang berbeda dan memiliki musik etnik yang berbeda pula. Dari banyaknya musik etnik tersebut terdapat beragam lagu-lagu yang diiringi dengan alat musik etnik setempat contohnya dalam lagu Ketabo yang berasal dari Tapanuli Selatan diiringi oleh gordang sambilan, lagu Sinanggartulo dari Tapanuli Utara diiringi oleh gondang sabangunan, begitu pula


(27)

lagu Biring Manggis dari Karo diiringi oleh gendang lima sedalenan, lagu Es Lilin dari Jawa Barat diiringi oleh kecapi dan suling Sunda. Dari studi kasus di atas, dalam konteks seni pertunjukan budaya, penulis mengamati sebuah pagelaran budaya disajikan menurut sistem tradisi musiknya sendiri. Seperti yang

dikemukan Merriam “..suatu kebudayaaan musik bersemayam di dalam alam masyarakat pemiliknya sendiri – yaitu ide/gagasan mereka, tingkah laku mereka

dan bunyi atau suara yang mereka produksi.” Dalam hal inilah penulis menawarkan bagaimana lagu-lagu etnik tersebut dapat digubah kedalam bentuk satu permainan gitar tunggal.

Dalam studi kasus yang lain, komposisi musik etnik yang diadaptasikan kedalam gitar tunggal sangat sulit untuk ditemukan. Dimana para komposer gitar, maupun non komposer gitar menemukan kendala dalam mengadaptasikannya kedalam bentuk permainan gitar. Kendala tersebut yang paling besar adalah bagaimana menyusun harmoni, teknik, musikalitas dan membentuk suatu sistem musik yang terkait secara totalitas seperti yang dikemukan di atas.

Dari beberapa studi kasus di atas merupakan hal yang melatarbelakangi penulis untuk membuat tesis yang berjudul : Analisis Musikal Aransemen Lagu Etnik Pada Gitar Tunggal : Studi Kasus Pada Karya-Karya Jubing Kristianto.

1.2 Rumusan Masalah

Sesuai dengan latar belakang masalah, maka fokus penelitian ini berorientasi pada studi kasus karya-karya Jubing Kristianto Dengan Pendekatan Kepada Analisis Musikal.


(28)

Untuk menghindari pembahasan yang menyimpang dan tidak kontekstual penulis merumuskan masalah menjadi empat bagian yaitu :

1. Bagaimana analisis musikal dalam aransemen lagu etnik pada gitar tunggal, atau proses penyajiannya, baik dalam hal analisis melodi, bentuk, chord, iringan, bas serta teknik-teknik permainan gitar?

2. Dari beberapa lagu etnik yang diaransemen Jubing, ada tiga lagu yang dianalisis dalam penelitian ini : Ayam Den Lapeh dari etnik Minangkabau, Rek Ayo Rek dari Etnik Jawa Timur dan Bengawan Solo dari Etnik Jawa Tengah?

3. Bagaimana biografi sejarah perjalanan Jubing Kristianto sebagai arranger, musisi, penulis dan pencipta lagu untuk gitar tunggal?

4. Bagaimana Gaya Musik (gaya aransemen) yang ditampilkan Jubing Kristianto?

1.3 Tujuan Dan Manfaat Penelitian 1.3.1 Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui proses analisis aransemen lagu etnik yang diadaptasikan kepada gitar tunggal.

2. Untuk mengetahui cara menganalisis melodi, bentuk, chord, iringan, bas dan teknik-teknik yang digunakan pada gitar tunggal.

3. Untuk mengetahui Gaya Musik (gaya aransemen) pada karya-karya Jubing Kristianto


(29)

1.3.2 Manfaat Penelitian Manfaat penelitian ini adalah :

1. Untuk memperoleh gelar Magister Seni di Program Studi Pasca Sarjana Universitas Sumatera Utara Medan

2. Memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang teknik mengaransemen lagu pada gitar tunggal

3. Memberikan kontribusi sebagai salah satu sumber informasi tentang teknik aransemen lagu pada gitar tunggal.

4. Memperkenalkan lagu-lagu etnik dibawakan kedalam seni pertunjukan melalui gitar tunggal

5. Sebagai bahan studi banding bagi penulis berikutnya

1.4 Tinjauan Pustaka

Dalam penelitian ini penulis melakukan studi kepustakaan yakni mencari literatur-literatur yang berhubungan dengan objek penelitian. Sepanjang pengetahuan penulis dari hasil penelitian pustaka yang dilakukan menunjukkan bahwa hingga saat ini belum ada pembahasan yang mendalam mengenai aransemen lagu etnik dengan studi kasus pada karya-karya Jubing Kristianto. Adapun bahan literatur tersebut adalah :

1. Drs. NH Nainggolan dkk (1998) Pendidikan Musik. Buku ini menguraikan tentang unsur-unsur musik serta pengertiannya, dan menguraikan tentang bentuk dan struktur lagu. Dalam hal ini penulis menggunakan buku ini untuk mengkaji bentuk lagu etnik yang akan dianalisis, penulis akan mengamati dan mengobservasi dengan membuat studi banding dan mengevaluasi struktur


(30)

bentuknya seperti motif, frase, kalimat lagu, variasi atau pengembangan lagu hingga perjalanan melodi dari setiap birama.

2. Roy Wilkinson (1991) Harmony , buku ini menjelaskan tentang triad, chords, posisi chord, progressi chord, suspensi, dominant seventh chord, modulasi, chord 7, 9, 11, 13 dan kromatik scale. Dalam hal ini penulis menggunakan buku ini untuk mengkaji struktur pembentukan harmoni yang terdapat pada lagu-lagu etnik yang hendak dianalisis.

3. Jubing Kristianto (2005) Gitar Pedia, buku pintar gitaris Buku ini menguraikan petunjuk praktis tentang istilah-istilah gitar. Pada buku ini penulis memaknai istilah-istlah teknis yang digunakan pada teknik-teknik permainan gitar hingga memperoleh arti atau pengertian tentang istilah-istlah yang digunakan pada permainan gitar tunggal.

4. William Lovelock First Year Harmony. Dalam buku ini terdapat dua bagian yang menguraikan tentang aturan-aturan dan latihan-latihan menyusun harmoni. Bagian pertama menjelaskan tentang triad, chord, progressi hingga harmoni yang kompleks. Dalam hal ini penulis menggunakan buku ini untuk melihat struktur pembentukan harmoni yang disajikan Jubing dalam transkripsi lagu.

5. William Lovelock Second Year Harmony. Buku yang kedua ini menguraikan tentang penggunaan chord seventh (7), ninths (9), elevents (11) dan thirteenths (13) serta aturan-aturan dan latihan-latihan menyusun harmoni. Dalam hal ini penulis menggunakan buku ini untuk melihat struktur pembentukan harmoni yang disajikan Jubing dalam transkripsi lagu.


(31)

6. M. Soeharto (1986) Belajar Membuat Lagu. Buku ini menguraikan tentang bagaimana membuat melodi, kalimat yang manis, teks lagu menurut maknanya dan pengertian tentang melodi. Dalam hal ini penulis menggunakan buku ini untuk menganalisis notasi, garis paranada, nilai not, tanda diam, not-not penghias dan aksen.

7. Rick Peckham (2007) Berkele Jazz Guitar, buku ini memaparkan tentang chord serta penggunaannya mulai dari triad mayor, minor, dominan, diminish dan augmentes, inversi, serta pengembangannya. Dalam hal ini penulis menggunakan buku ini untuk mengkaji penggunaan chord-chord 7, 9, 11, dan 13 pada posisi gitar tunggal

8. Guitar Chords Dictionary, menguraikan tentang teori chord dan bentuk-bentuk chord gitar lengkap. Buku ini digunakan untuk mengamati semua chord-chord yang digunakan pada lagu, hingga diperoleh keseluruhan chord dari setiap birama hingga didapatkan posisi jari-jari dan letaknya pada gitar. 9. Bahan audio berupa 4 buah CD album Becak Fantasy, Hujan Fantasy,

Delman Fantasy dan Kaki Langit. Yang di dalamnya terdapat lagu etnik yang akan di bahas dalam penelitian ini. Dalam hal ini penulis menggunakan buku

ini untuk “memindahkan” atau mentranskripsikan bentuk keseluruhan lagu ke

dalam notasi balok.

10. Skripsi Wonter Lesson Purba, Universitas HKBP Nommensen Medan, skripsi ini menguraikan tentang sejarah gitar klasik, teknik-teknik permainan gitar klasik dan interpretasi lagu Grand Solo Op.14 Karya Fernando Sor. Buku ini digunakan dalam melihat sejarah gitar.


(32)

11. Skripsi Nikanor Permata Inari Sitompul, Universitas Sumatera Utara Medan, skripsi ini menguraikan tentang analisis metode pengajaran gitar klasik di LPM Farabi Medan. Buku ini digunakan untuk melihat perbandingan tentang pengajaran gitar klasik.

12. Skripsi David Hendra Samosir, Universitas HKBP Nomensen, skripsi ini menguraikan tentang harmoni dan teknik improvisasi dalam musik Jazz. Dalam menggunakan buku ini bagaimana metode yang digunakan dalam improvisasi musik jazz hingga memperoleh kejelasan bagaimana menggunakan progressi-progressi chord dalam musik jazz.

1.5 Konsep Dan Landasan Teori 1.5.1 Konsep

Konsep penting yang digunakan dalam penelitian ini adalah aransemen, lagu etnik, dan Jubing Kristianto.

Aransemen menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah penyesuaian komposisi musik dengan nomor suara penyanyi atau instrumen lain yang didasarkan pada sebuah komposisi yang telah ada sehingga esensi musiknya tidak berubah.

Defenisi aransemen menurut buku Concise Dictionary Of Music adalah : (1) adaptation of a piece of music to make it suitable for perf. By forces other than those for which it was originally composed. Purpose of arrangement may be (a) to facilitate study or domestic performance (b) to enlarge repertory of particular medium (c) to enable work written for large number of performance to be given with more limited resources. Degree of modification required varies composer may go beyond necessary modification to elaborate and add to original text. Bach, Beethoven, Brahms, all made noted arrangements. (2) harmonized setting, for voices or instruments, of existing melody, folk song provides obvious material for such treatment. (1986:20)


(33)

(1) persesuaian dari sebuah karya musik untuk membuat karya tersebut selaras dan dinamis. Dengan tidak menghilangkan komposisi aslinya. Tujuan dari aransemen bisa menjadi (a) untuk memfasilitasi pembelajaran atau pertunjukan. (b) untuk memperluas reportoar dari berbagai media. (c) menuliskan suatu komposisi untuk suatu pertunjukan besar yang diberikan lebih dari keadaannya. Tingkat modifikasi yang dibutuhkan bervariasi, komposer dapat melampaui modifikasi yang diperlukan untuk menguraikan dan menambah teks asli. Bach, Beethoven, Brahms, dan semua aransemen yang dibuat. (2) pengaturan harmoni, untuk suara atau instrument, melodi yang ada, lagu rakyat memberikan materi yang jelas untuk laporan pengerjaan.

Pendapat lain mengenai aransemen menurut Gitarpedia adalah tindakan kreatif menata dan memperkaya sebuah melodi, lagu, atau komposisi kedalam format serta gaya yang berbeda dari gaya aslinya. Bisa digarap untuk medium apa saja, dari instrumen tunggal hingga band ataupun orkestra.

Dengan kata dan kalimat yang tersimpul, aransemen dalam penelitian ini adalah suatu upaya atau kegiatan dalam mempersiapkan, menyusun dan menata komposisi lagu etnik yang diadaptasikan ke media gitar tunggal.

Lagu etnik yang dimaksud disini adalah lagu tradisional yang sudah dinotasikan atau ditranskripsikan kedalam notasi grafis Eropa Barat. Notasi grafis yaitu notasi (simbol-simbol) yang di desain untuk menunjukkan dua sifat penting dari bunyi musikal yakni nada dan durasi ritem. Bila kita telusuri istilah pada pengertian musik etnik, musik tradisional dan musik daerah merupakan ketiga istilah yang pemahaman konsepnya seolah timpang tindih. Dalam hal ini, persoalan yang kita amati hanya merupakan pada saat kapan penggunaan kata etnik, daerah dan tradisional digunakan dalam sebuah kalimat sehingga memberikan pengertian yang baik dan jelas. Jika kita telusuri dalam kamus besar bahasa Indonesia, istilah daerah adalah tempat-tempat dalam satu lingkungan yang sama keadaannya baik iklimnya, hasilnya dan lain-lain sementara dalam


(34)

konteks musik, musik daerah adalah musik yang dimiliki oleh satu lingkungan atau budaya setempat yang memiliki fungsi dan tujuan yang sama. Cotoh musik daerah seperti gamelan, angklung, campur sari, keroncong dan lain-lain. Dalam hal ini musik daerah mempunyai fungsi yang sama misalnya angklung sebagai sarana ritual seperti ngaseuk pare (menanam padi), atau musik daerah dapat juga berfungsi sebagai hiburan.

Dalam buku Seni Budaya Penerbit Erlangga (2006:47) musik atau lagu daerah memiliki ciri serta karakter tersendiri. Bahasa dan gaya yang dipergunakan sesuai dengan bahasa daerah dan gaya daerah setempat. Sementara istilah tradisional sendiri menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia mengacu kepada adat istiadat atau kebiasaan turun temurun, dalam konsep musik tradisional adalah suatu nyanyian yang di tuturkan secara lisan kepada generasi berikutnya. Jika kita amati lagi dalam buku seni musik Napsirudin (2006:2) musik tradisional adalah musik yang berasal dari suatu daerah yang masih kental dengan kebudayaan daerah tersebut. Setiap daerah memiliki unsur musik tradisional yang berbeda, tergantung dari kebudayaan daerah tersebut, seperti musik tradisional di Indonesia yang beragam dari Sabang sampai Merauke. Sementara dalam penelitian ini dipakai istilah etnik. Dalam kamus besar bahasa Indonesia kata etnik adalah bertalian dengan kelompok sosial atau kebudayaan yang mempunyai arti atau kedudukan tertentu karena keturunan, adat, agama, bahasa dan sebagainya. Jadi musik etnik adalah merupakan musik atau suara yang berasal dari berbagai daerah, dalam hal ini di Indonesia, musik ini menggunakan bahasa, gaya, dan tradisi khas daerah setempat. Jika kita mengeksplorasi dari sebuah buku seni musik penerbit erlangga, menurut Hartaris (2006:1) Secara umum istilah musik


(35)

etnik memiliki ciri khas seperti berikut : (1) “Dipelajari secara lisan, sebagai bagian dari kebudayaan, musik daerah diwariskan secara turun menurun”. Istilah ini penulis kemukakan sebagai Transmisi, seperti yang dikemukakan Profesor Mauly Purba dalam bukunya Sistem Keberagaman Musik dunia, transmisi menyangkut bagaimana suatu generasi mewariskan tradisi musiknya ke generasi berikutnya. Cara yang biasa digunakan dalam mempelajari musik ini biasanya dilakukan dengan memperhatikan, mendengarkan lalu ditirukan kemudian menghafalkannya tanpa ada catatan. Tidak heran kedengarannya jika lagu yang diajarkan itu seiring berjalannya waktu terdapat perubahan-perubahan, hal ini disebabkan tidak efektifnya kekuatan dalam ingatan manusia. Berbeda halnya jika kita perhatikan pada sistem tradisi tulisan. Tradisi ini dilakukan di Eropa Barat, jika kita mendengar musik pada masa Gergoianus akan sama dinyanyikan pada saat ini. Hal ini disebabkan oleh adanya tulisan sehingga dalam mempelajarinya akan sama baik pada masa itu maupun sekarang. (2) Tidak memiliki notasi, selama proses pembelajaran berlangsung secara lisan membuat partitur (naskah musik) menjadi satu hal yang tidak penting”, Oleh karena itu, sangat lajim jika musik daerah tidak memiliki partitur notasi tertentu. Walau demikian ada beberapa daerah yang memiliki notasi musik seperti di pulau Jawa dan Bali. Namun, notasi ini tetap tidak memiliki partitur tetapi dipelajari secara lisan. Pada kenyataannya hal ini dikemudian hari dapat menimbulkan masalah. Jika orang-orang yang belajar kesenian itu makin sedikit atau bahkan tidak ada, kesenian tersebut bisa punah. Tanpa catatan tertulis, orang-orang tidak bisa melestarikannya; (3) “Bersifat informal, musik tradisional sangat lajim digunakan sebagai suatu bentuk ekspresi masyarakat”. Musik ini banyak digunakan dalam


(36)

kegiatan rakyat biasa sehingga bersifat lebih sederhana dan informal/santai. Hanya jika digunakan dikalangan istanalah jenis musik ini menjadi lebih kompleks dan formal/serius; (4) “Pemainnya tidak terspesialisasi, sistem yang dikembangkan dalam proses belajar instrumen musik daerah biasanya bersifat generalisasi”. Pemain musik tradisional belajar untuk dapat memainkan setiap instrumen yang ada dalam suatu jenis musik daerah. Mereka akan belajar memainkan instrumen dari yang termudah hingga yang sulit. Jadi, pemain musik daerah yang sudah mahir mempunyai kemampuan untuk memainkan semua instrumen musik tersebut. Contohnya, pemain kolintang yang mahir dapat memainkan kolintang melodi sampai kolintang bas, pemain gamelan dapat memainkan saron sampai rebab. Hal ini sangat jauh berbeda dalam musik barat, pemain musiknya terspesialisasi pada satu jenis instrumen musik tertentu. Misalnya hanya bermain gitar klasik; (5) “Bagian budaya masyarakat, musik etnik atau musik tradisional merupakan salah satu bentuk kebudayaan yang berkembang di dalam kehidupan masyarakat”. Oleh karena itu, setiap ciri kebudayaan masyarakat penciptanya pasti melekat di dalamnya. Musik etnik atau musik daerah merupakan salah satu bentuk gambaran kebudayaan suatu daerah. Melalui musik daerah kita dapat mengenali daerah asal musik itu dan ciri budaya masyarakatnya. Misalnya saat kita mendengarkan permainan gondang sabangunan batak, kita akan langsung mengetahui kalau itu adalah musik etnik Batak yang berasal dari Sumatera Utara dan bukan dari Jawa. Kita dapat mengenali karakter permainannya lewat suara, irama, dan lagunya. Karakter inilah yang menggambarkan ciri khas etnik Bataknya.


(37)

Konsep yang terakhir adalah Jubing Kristianto. Jubing Kristianto adalah seorang seniman yang cukup aktif dalam mengisi kegiatan bermusik seperti guru gitar, praktisi musik/musisi gitar tunggal, arranger dan penulis, beliau lahir di Semarang pada tanggal 9 April 1966. Menjadi juara festival Yamaha Indonesia sebanyak empat kali (1987, 1992, 1994 dan 1995). Salah satu aransemennya yang cukup menarik adalah Ayam Den Lapeh yang berasal dari Sumatera Barat. Lagu ini dibuatnya pada waktu duduk dibangku SMA kelas satu dan melalui lagu ini menghantarkan dia pada lomba duet gitar festival Yamaha tahun 1982. Beberapa lagu etnik Indonesia yang diaransemen Jubing membawa sekaligus merangsang para pemerhati budaya dan seni juga para gitaris khususnya untuk melestarikan kekayaan lagu-lagu daerah. Dalam hal ini penulis memfokuskan penelitian pada lagu-lagu etnik karya Jubing Kristianto dengan pusat perhatian pada aransemen gitar tunggal.

1.5.2 Teori

Landasan teori yang digunakan dalam penelitian ini yaitu : pertama teori Jubing Kristianto, Membuat Aransemen Gitar Tunggal. Teori ini mengupas sebuah komposisi yang hendak diaransemen kedalam permainan gitar, teori ini juga memberikan pemahaman serta langkah-langkah dalam mengaransemen sebuah melodi lagu.

Kemudian penulis menggunakan teori Felix Salzer, dalam bukunya Structural hearing Tonal Coherence In Music (1962:35) :

The Rudiments of Music a) Notation; scales; church modes; overtones series. b) Major, minor, diminished and augmented intervals; triads and seventh chords; non-harmonic tones (neighbor and passing tones, appoggiaturas, suspensions, anticipations); Roman numerals and figured bass numerals. c)


(38)

chord grammar (ability to write and identify any chord). Listening Approach : a) aural recognition of the material listed above. b) meter (duple, triple, and compound); rhythmic design of melodies. c) melodic dictation of folk tunes and themes from instrumental music; two-part dictation of as preparation for two-part counterpoint.

Dasar musik a) notasi; scale; modus gerejawi; nuansa; b) mayor, minor, diminish, dan augmented interval; triad dan chord tujuh; nada yang bukan harmoni (nada terdekat dan nada lewat, appoggiatura, suspensi, antisipasi); angka romawi dan pemakaian bass. c) bentuk chord (kemampuan untuk menulis dan mengidentifikasi semua bentuk chord). Pendekatan mendengar : a) semua materi yang berhubungan dengan pendengaran. b) pulsa (duple, triple); pola ritem melodi. c) melodi dari lagu rakyat dan tema dari musik instrumentalnya; dua bagian part dalam persiapan dua bagian kontrapung.

Teori ini memberikan gambaran bagaimana mengidentifikasi melalui pengalaman mendengar musik, menentukan melodi, menentukan chord, dan ritem lagu dan kemampuan untuk menulis dan mengidentifikasi semua bentuk-bentuk chord. Penulis juga mengambil teori Bruno Nettl, Transcription Theory And Methode in Ethnomusicology (1964:98) :

there are two main approaches to the description of music : (1) we can analyze and describe what we hear, and (2) we can in some way write it on paper and describe what we see.

Ada dua pendekatan yang utama dalam mendeskripsikan musik : 1) kita dapat menganalisa dan mendeskripsikan apa yang kita dengar dan 2) kita dapat menuliskan keatas kertas dan mendeskripsikan apa yang kita lihat.

Teori ini digunakan dalam mentranskripsikan atau memindahkan bunyi yang didengar oleh telinga untuk divisualisasikan kedalam kertas kerja.

Teori Bruno Nettl, Transcription Theory And Methode in Ethnomusicology (1964:135) : in the next group of paragraphs we will describe three approaches to

the descriptions of music. These three, labeled here “systematic”, “intuitive”, and “selective”. Teori ini digunakan untuk melihat style ataupun gaya yang dipakai


(39)

Jubing Kristianto dalam aransemen lagu etnik yang diadaptasikan kedalam gitar tunggal.

Teori musikal : Pengantar Komposisi dan Aransemen oleh Pra Budidharma mengenai Trinada (2001:16) :

Trinada adalah susunan tiga buah nada secara vertikal dalam garis paranada yang terdiri dari mayor, minor, diminish dan augmented. Trinada merupakan acuan kedua didalam menyusun harmoni lagu pada gitar klasik baik lagu itu sifatnya mayor, minor, diminish dan augmented. Dalam trinada disusun berdasarkan interval ters (nada ketiga). Nada paling bawah disebut nada dasar (root), nada tengah disebut ters, dan nada paling atas disebut nada kuint.

Teori musikal : Pengantar Komposisi dan Aransemen oleh Pra Budidharma mengenai tonal system(2001:17) tonal system dibangun dari susunan triad yang membentuk chord secara fleksibel. Teori yang digunakan untuk menentukan chord, progresi atau perpindahan chord.

Teori musikal : Ilmu Harmoni Karl Edmund Prier SJ, Pusat Musik Liturgi Yogyakarta. Mengenai Akor dan penggunaanya. Akord adalah kesatuan bunyi dalam musik yang mengandung tiga not atau lebih. Kombinasi jarak antar not menentukan nama akor bersangkutan. Dalam budaya musik barat, akor terbentuk dari trinada mayor C-E-G dan trinada minor C-Eb-G. Bila trinada mendapat tambahan not baru diatas nada kuint nama akornya akan berubah sesuai dengan not yang ditambahkan mayor 7 (C-E-G-B), minor 7 (C-Eb-G-Bb), begitu seterusnya untuk mendapatkan akor 9, 11 dan 13. Pada praktiknya, sulit untuk membunyikan semua not ini pada gitar jika memainkan akor 9, 11 dan 13 misalnya. Karena itu, untuk akor-akor tersebut ada not-not tertentu yang harus dihilangkan contohnya akor C11 pada gitar cukup mengandung C-Bb-D-F. Meski tidak lengkap, namun bunyi yang dihasilkan sudah cukup efektif untuk memenuhi fungsinya sebagai akor dominan. Daftar akor diatas baru sebagian kecil dari


(40)

kombinasi akor yang lebih banyak. Misalnya, ada altered chord dimana not ke-5 dan/atau ke-9 bisa dinaikkan atau diturunkan setengah tone. Misalnya, ada akor Cm7b5 yang berisi C-bE-bG-bB atau C7#9 yang berisi C-E-G-b7-#9. Tanda “b”

dan “#” dalam penulisan simbol terkadang diganti dengan “-“ dan “+”. Altered chord biasanya hanya berfungsi sebagai perantara dan jarang digunakan dalam musik pop, namun menjadi elemen penting dalam musik blues dan jazz.

1.6 Metode Penelitian

1.6.2 Teknik Pengumpulan Data

Menurut Lof Land sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan, selebihnya ada dari tambahan seperti dokumen. Sesuai dengan penelitian ini penulis memperoleh sumber data dari :

1. Kata-kata dan tindakan yaitu : wawancara yang merupakan sumber data utama. Sumber data utama dicatat melalui catatan tertulis atau melalui rekaman video/audio tape, pengambilan foto.

2. Sumber tertulis yaitu : bahan tambahan yang berasal dari sumber tertulis dapat dibagi atas partitur lagu, sumber buku, garis paranada, dokumen pribadi dan artikel-artikel yang lain.

3. Foto yang dipakai sebagai alat penelitian kualitatif. 4. Prosedur pengumpulan data (teori apa yang dipakai)

Analisis data menurut patton “analisis data adalah mengatur urutan data,

mengorganisasikannya kedalam suatu pola, kategori dan suatu uraian dasar”. Taylor mendefenisikannya analisis data merupakan proses yang merinci usaha secara formal untuk menemukan tema dan merumuskan hipotesa. Maka dari


(41)

pendapat diatas penulis menggunakan teori tersebut yakni mengorganisasikan data lalu mengidentifikasi dan memberikan komentar. Dengan kata lain penelitian ini mengupayakan metode yang relevansinya erat dan sesuai dengan studi kasus penelitiannya, metode literatur dan metode wawancara. Kedua metode ini penulis lakukan selama proses penelitian

1. Metode Literatur adalah metode yang menggali tesis ini melalui buku-buku, kamus, artikel dan lain-lain

2. Metode Wawancara dan tanya jawab adalah penulis melakukan tanya jawab secara langsung kepada Jubing Kristianto dan pihak-pihak yang berhubungan dengan objek penelitian ini.

1.6.3 Analisis Data

Kegiatan analisis data yang dilaksanakan bersamaan dengan proses pengumpulan data, analisis data diperoleh berdasarkan hasil dari penelitian dan pengamatan. Analisis dilakukan pada upaya dan usaha dalam menjelaskan atau mendeskripsikan pada fokus penelitian.

Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik deskripsi yang berdasarkan teori musik Eropa Barat yaitu sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan keadaan objek penelitian.

1.7 Sistematika Penulisan

Bab I merupakan Pendahuluan yang meliputi : Latar Belakang Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan Dan Manfaat Penulisan, Tinjauan Pustaka, Konsep


(42)

Dan Landasan Teori (Teori Musik Dan Transkripsi), Metode Penelitian, Teknik Pengumpulan Data, Analisis Data, Dan Sistematika Penulisan.

Bab II membahas tentang Tinjauan Musik Gitar Tunggal : Sejarah Instrumen Gitar Dan Perkembangannya, Sejarah Perkembangan Dan Persebaran Gitar Di Indonesia, Perkembangan Awal Pendidikan Gitar Di Indonesia, Metode Pembelajaran Gitar Tunggal Yang Meliputi Posisi Dan Sikap Bermain Gitar, Posisi Tangan Kanan, Posisi Tangan Kiri, Metode Pembelajaran Notasi Pada Gitar, Organologi Gitar, Pengertian Organologi, Akustika Bunyi Gitar, Konstruksi Gitar Tunggal, Bagian Atas Gitar, Bagian Bawah Gitar, Fungsi Bagian-Bagian Gitar, Jenis-Jenis Gitar, Teknik-Teknik Permainan Gitar Tunggal, Teknik Ornamentasi yang meliputi Grace Note, Mordent, Glisando, Portamento, Teknik Tremolo, Teknik Pizzikato.

Bab III membahas tentang Biografi Jubing Kristianto yang mencakup Latar Belakang Kehidupan Jubing Kristianto, Eksistensi Jubing Kristianto Sebagai Arranger, Penulis, komponis Dan Musisi Gitar Tunggal, Jubing Kristianto sebagai arranger, Jubing Kristianto sebagai penulis gitar, Jubing Kristianto sebagai komponis gitar, Jubing Kristianto sebagai musisi Gitar tunggal.

Bab IV Membahas Tentang Aransemen Lagu Etnik Karya Jubing Kristianto Pada Gitar Tunggal Yang Meliputi : Transkripsi, Proses Transkripsi, Tahap-Tahap Analisa Aransemen Jubing Kristianto, Analisa Melodi, Analisa Chord, Analisa Progresi Chord, Analisa Pola Ritem Dan Analisa Teknik Permainan Gitar, karakteristik Jubing dalam seni permainan gitar tunggal.


(43)

BAB II

TINJAUAN MUSIK GITAR TUNGGAL

2.1 Sejarah Instrumen Gitar Dan Perkembangannya

Dalam melihat sejarah gitar, penulis menelaah beberapa sumber-sumber literatur yang berhubungan dengan aspek-aspek kesejarahan dalam gitar. Diantaranya seperti buku Classic Guitar Course 3 Yamaha (2006:4), Bambang Wiryawan dalam bukunya Metode Praktis Belajar Gitar (1985:17) dan buku Gitarpedia oleh Jubing Kristianto (2005:32). Jika diamati proses perjalanan sejarah gitar amatlah panjang. Gitar adalah salah satu alat musik petik yang paling terkenal saat ini. Karena hampir menguasai seluruh lapisan masyarakat di dunia. Bila kita menyelidiki gitar tidaklah pasti darimana asal mulanya, tetapi dapat ditelusuri kembali kemasa Mesir kuno (3000 tahun sebelum masehi), dimana diyakini bahwa permulaannya adalah Lyra. Lyra adalah instrumen senar kuno mempunyai sebuah badan dengan beban pada leher yaitu dua lengan yang mengarah keatas. Kedua ujung lengan dihubungkan dengan sebuah crossbar/jembatan penyambung. Senar lyra diregangkan diatas dan sejajar dengan kotak resonansi dan diikatkan ke crossbar.


(44)

Gambar 1. Lyra

Sumber : www.homoecumenicus.com

Kemudian dapat ditelusuri diwilayah Persia 1500 tahun sebelum masehi yang dikenal sebagai instrumen musik petik kuno dengan sebutan citar atau sehtar.

Lain halnya di Yunani, dalam menyelidiki asal-usul gitar serta proses pembentukannya di Yunani telah dikenal suatu alat musik petik yang dibuat dari rumah kura-kura sebagai alat dari resonansinya, pada ujung-ujungnya dimasukkan kayu melengkung sehingga berbentuk seperti busur panah, kemudian pada ujung satu kayu dengan yang lainnya dibentangkan tiga tali dari bubat yang terbuat dari ekor kuda sebagai senarnya, inilah permulaan dari bentuk harpa dalam bahasa


(45)

Yunani disebut Sitar yang artinya tiga senar. Di Syria disebut Chetarah, bahasa Ibraninya disebut Kinnura (Kinor) dan di wilayah Chalden disebut Qitra.

Gambar 2. Permulaan Bentuk Lute Mulai Dari Cithara, Citharis, Hingga Menjadi Lute


(46)

Gambar 3. Cithara

Sumber : www.homoecumenicus.com

Gambar 4. Posisi Bermain Alat Musik Cithara Sumber : www.homoecumenicus.com


(47)

Bentuk citharis atau lyra kayu penahannya berbentuk lingkaran, ada bentuk lain seperti bentuk U dengan kayu penahan pada kiri kanan dan pada ujungnya diikatkan satu kayu melintang sebagai penahan senar disebut cithara menghasilkan bunyi yang lebih besar dan dapat diberdirikan tanpa ditahan. Kemudian berkembang suatu bentuk lute yaitu bentuk permulaan pada gitar, pada ujung lubang kura-kura dimasukkan sebuah kayu lurus dan datar pada permukaannya kemudian sampai pada ujung lubang yang lain ditarik tiga senar dengan menekan tiga senar pada kayu tersebut atau salah satu senarnya maka akan dihasilkan beberapa nada yang berbeda. Rumah kura-kura sebagai alat resonansinya kemudian diganti dengan kayu utuh yang dibuat melengkung atau mendatar, kemudian bagian atasnya ditutup dengan kayu atau papan atau dengan kulit binatang. Kira-kira 1000 tahun sebelum Kristus Yesus lahir telah dituliskan dididalam Alkitab lute dengan sepuluh senar. Mazmur 33:2 “Bersyukurlah kepada Tuhan dengan kecapai (harpa), berMazmurlah bagiNya dengan Gambus (lute)

sepuluh tali”

Dalam kebudayaan Arab mempengaruhi daratan Eropa melalui Spanyol, dengan suatu alat musik seperti lute yang disebut “al-ud” dalam bahasa Arab yang

berbunyi “kayu”. Di daerah Mesir yaitu di Qarra ditemukan suatu alat musik

sejenis gitar dengan bentuk seperti biola disebut “Coptic Gitar” dipakai oleh bangsa Mesir kira-kira abad ke-4 sampai ke-8 sesudah masa Kristus. Mungkin ini adalah asal mula dari perkembangan biola yang tergolong pada musik string pada masa itu.


(48)

Gambar 5. Coptik Gitar

Sumber : Bambang Wiryawan (1985:18)

Ada dua hipotesa tentang asal mula gitar dan perkembangannya yakni :

1. Dimulai dengan lute dari Assyria, melewati Mesir, Persia, Arab dan kemudian sampai di Spanyol

2. Sesuai dengan poin pertama, Ketharah dari Assyria dan Kittara dari Yunani berkembang menjadi Citara-Roma, kemudian berkembang lagi menjadi Rotta atau Chrotta. Kemudian abad 16 di Spanyol rotta atau chrotta menjadi vihuella sanak/keluarga terdekat dari gitar. Dua bentuk yang lajim pada abad ke-12 di Spanyol adalah gitar latin yang dianggap keturunan alat musik dari Roma dan Yunani, serta gitar morisca yang dianggap dibawa dari Arab, memiliki empat senar tunggal yang serupa dengan gitar masa kini dan secara umum dimainkan dengan gaya punteado (dimainkan dengan petikan pendek seperti stakatto). Berbentuk oval dengan bagian belakang yang melingkar,


(49)

ada yang dua dan tiga senar. Gitar morisca dimainkan dalam gaya Rasgueado.

Vihuella yang muncul di Spanyol pada abad ke-16 yakni vihuella de mano yang dimainkan dengan jari dan vihuella de arco yang dimainkan dengan plektrum. Gitar masa kini merupakan keturunan langsung dari vihuella de mano. Senar vihuella yang kedua hingga senar yang keenam berlipat ganda, sedangkan senar satunya tunggal. Nadanya yang umum dipakai ialah : G-C-F-A-D’-G’ (dari senar enam sampai senar ke satu). Hal ini sama seperti menurunkan senar ke tiga setengah nada dalam nada standard gitar dengan sebuah capo pada fret ketiga di papan pencet gitar. Selama abad ke-16 vihuella dan gitar dibedakan berdasarkan jumlah senar yang digunakan pada masa itu. Menurut Juan Bermudo gitar latin memiliki empat senar, senar kedua sampai senar keempat digandakan dan senar kesatu tunggal. Selama abad tersebut banyak pemain vihuella yang cukup tenar seperti Luis Milan, Narvaez, dan Mudarra yang secara aktif membentuk bagian terpenting dalam sejarah gitar.

Gitar, pada mulanya terdiri dari empat senar dengan nada : A-D-G-E’. Pada akhir abad ke-17 Joan Charles membuat senar dobel menjadi : A-A, D-D, G-G, B-B, dan E’. Kemudian pada tahun 1799 Fernando Ferandiere merubah tulisan cifra (tabulasi) yang sudah berumur 250 tahun menjadi not balok seperti yang kita kenal saat ini, supaya dapat dimainkan dengan alat-alat musik lainnya dan merubah senar gitar dari lima senar menjadi enam senar. Terdiri dari lima senar dobel dan satu senar tunggal dibagi dalam 17 fret/papan pencet gitar. Pada abad ke-17 gitar mulai menggantikan vihuella. Vihuella adalah sejenis instrumen seperti gitar yang mempunyai enam senar dengan nada : G-E-F-A-D-G’.


(50)

Pada tahun 1349 di Spanyol terdapat dua jenis gitar yaitu guitarra latina dan guitarra morisca, Duke Jehan dari Perancis khusus mempelajari kedua gitar ini. Pada guitarra latina bentuk bagian belakang rata dan mempunyai empat senar yaitu satu senar tunggal dan tiga senar dobel. Biasa dimainkan dengan teknik Rasgueado yakni memakai ibu jari untuk memetik senar secara beruntun, dan banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Romawi dan Yunani kuno. Sedangkan pada guitarra morisca bentuk bagian belakang melengkung beberbentuk oval (bulat telur seperti buah badam) memiliki lengan yang panjang mempunyai delapan senar dan dimainkan dengan petikan-petikan yang pendek (stakatto/punteado) dan banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Arab. Pada abad ke-16 gitar Spanyol mulai berkembang dalam popularitasnya karena mempunyai suara yang sangat bagus. Pengembangan gitar Spanyol ini diprakarsai oleh Juan Carlos Amat dan Vicente Espinel (1551-1642) di dalam buku yang dikarang oleh Juan Carlos yaitu

“guitarra espanola de cinco ordenes”. Dan kemudian pada tahun 1596 menuliskan

mengenai penalaan gitar yakni : A-D-G-B-E dan menuliskan beberapa lagu yang populer pada masa itu seperti Italianas, Villanos, Pabanillas.

Sebelum tahun 1780 bentuk senar enam gitar tunggal muncul di Spanyol dan diprakarsai oleh Antonio Ballestera dan dilanjutkan oleh Fernando Ferandiero, Federico Moretti pada tahun 1799. Selama akhir abad ke-18 sampai dengan abad ke-19 hal-hal yang menarik dari gitar sangat berkembang, pada awal abad ke-19 ada tiga hal yang berkembang pada gitar yaitu teknik, reportoar dan konstruksi gitar.


(51)

Gambar 6. Gitar Klasik Sumber : Dokumentasi Pribadi

Sementara dalam buku Gitarpedia yang disusun oleh Jubing sendiri tentang sejarah gitar (2005:32), yakni :

Sudah sekian banyak ahli menyelidiki, namun sampai kini asal-usul gitar yang sesungguhnya masih terus diperdebatkan. Sekian banyak pendapat bertebaran, namun tetap saja di dalamnya mengandung keraguan. Sebuah alat musik petik Yunani Kuno bernama kitharra sering disebut sebagai nenek moyang gitar. Kendati begitu, hanya namanya saja yang mirip, lantaran bentuknya lebih


(52)

seperti harpa kecil. Berbagai artefak kuno di Mesopotamia dan Mesir menunjukkan adanya alat musik petik dengan tubuh dan leher seperti gitar. Kenyataannya, hampir di semua kawasan pusat peradaban manusia, alat musik petik mirip gitar senantiasa ada.

Pada abad ke-11, di Eropa mulai bermunculan jenis-jenis instrumen petik mirip gitar. Desainnya diyakini diperoleh dari alat-alat musik yang ada di Asia, salah satunya adalah gittern. Bentuknya sudah mirip dengan gitar modern. Bahkan dilengkapi dengan fret pada lehernya. Senarnya terbuat dari usus domba (bukan usus kucing, kendati julukannya adalah catgut). Jumlah jalur (course) senarnya tiga atau empat, dengan dua senar per jalur.

Selama dua abad lebih, gittern berkembang menjadi berbagai bentuk dengan nama-nama baru yang mirip, semisal quitarra, guiterre, gitarer, dan gitar. Pada tahun 1300-an di daratan Eropa berkembang dua desain gittern dengan nama guitare latine (berasal dari Spanyol) dan guitare morisca (berasal dari Timur Tengah dan Timur Jauh). Memasuki abad ke-15, mulai berkembang instrumen petik lain yang bernama lute (berasal dari bahasa Arab, alud). Bentuknya seperti gitar namun dengan bentuk tubuh mirip buah pir dengan course yang lebih banyak.

Kendati demikian, gittern tidak sepenuhnya lenyap. Di sebagian wilayah Eropa ia tetap bertahan, namun dengan nama baru, vihuela. Catatan menunjukkan Raja Henry VIII dari Inggris terampil bermain vihuela. Ada gosip yang menyebutkan bahwa dialah pencipta lagu “Greensleeves” yang abadi itu. Jika benar, maka besar kemungkinan ia menciptakannya dengan vihuela. Popularitas lute terus menanjak di Eropa sementara vihuela lebih terkenal hanya di Spanyol.


(53)

Desain lute maupun vihuela yang makin baik memungkinkan penambahan course serta peningkatan kualitas suara. Hal ini mendorong makin suburnya penciptaan komposisi dengan lute dan vihuela. Para komposer kondang untuk lute dan vihuela menikmati kejayaan pada masa tersebut.

Vihuela menikmati kejayaan hanya hingga akhir abad ke-16 ketika ia mulai digantikan oleh gitar barok. Bentuknya sudah mirip dengan gitar modern, hanya saja ukurannya jauh lebih kecil dan hanya memiliki empat course. Ini menyulitkan bila musisi hendak memainkan lagu-lagu yang lebih kompleks. Karena itu, sempat muncul gitar Barok dengan lima course pada abad ke-16. Pada masa inilah kejayaan gitar dimulai. Para gitaris dan komposer handal bermunculan.

Memasuki abad ke-17 hingga 18, popularitas gitar seakan terhenti. Sedikit sekali komposer yang memperhatikan gitar. Berangsur-angsur gitar akhirnya hanya menjadi alat musik seniman keliling jalanan. Para bangsawan dan masyarakat kelas atas lainnya menghindari gitar. Kendati begitu, gitar terus berkembang. Bahkan ada yang makin mirip desainnya dengan gitar modern, termasuk jumlah course yang mencapai enam, hanya saja sistem penalaannya sama sekali berbeda. Tubuhnya kelewat tipis dan ramping. Memasuki abad ke-19, gitar memasuki kembali gerbang kejayaannya. Pada masa ini lahir para virtuos dan komposer luar biasa seperti Sor, Giuliani, Aguado, Carcassi, Carulli, Coste, dan banyak lagi. Karya-karya mereka bahkan hingga kini masih menjadi favorit para gitaris modern.

Menjelang abad ke-20, desain gitar di Eropa tidaklah seragam. Masing-msing gitaris bisa saja memainkan jenis gitar yang berbeda dari gitaris lainnya.


(54)

Orang yang paling bertanggung jawab mendesain gitar hingga bentuknya jadi seperti yang sekarang kita kenal adalah Antonio Torres Jurado (1817-1892). Pembuat gitar dari Spanyol ini menemukan standar anatomi gitar (dimensi, rangka, panjang dawai, dan sebagainya) yang mampu menghasilkan kualitas suara secara maksimal, sekaligus nyaman dimainkan. Temuan Jurado ini segera diikuti para pembuat gitar lainnya. Kini, kendati tiap pembuat gitar punya kekhasan dan

“resep” masing-masing, ada patokan tertentu dalam desain gitar modern yang berpegang pada desain Torres.

Repertoar gitar bertumbuh pesat dengan makin berlimpahnya gitaris dan komposer yang tak henti memopulerkan gitar. Salah satunya Francisco Tarrega (1852-1909), gitaris dan komposer kelahiran Spanyol. Tarrega adalah perintis permainan gitar klasik menjadi sebuah ilmu dan seni tersendiri. Ia bukan saja dikenal sebagai pendidik yang bertangan dingin namun juga komposer gitar yang inovatif. Posisi duduk bermain gitar klasik yang dikenal sekarang digagas oleh Tarrega. Posisi ini memungkinkan gitar dalam posisi stabil, serta membantu lengan kanan maupun kiri menjelajahi fretboard dan senar di posisi manapun dengan lebih leluasa.

Banyak teknik baru bermain gitar yang ia populerkan, dari tremolo hingga Tabalet. Ditangannya, gitar bisa bernyanyi ceria, merintih, hingga menangis tersedu-sedu. Salah satu komposisi gitar tunggalnya “Recuerdos de Alhambra” (Kenangan akan Alhambra), cukup terkenal sehingga sering diaransemen ulang oleh musisi-musisi masa kini.

Gebrakan Tarrega lainnya adalah mentranskrip berbagai komposisi untuk alat musik lain ke gitar tunggal, termasuk diantaranya berbagai komposisi ciptaan


(1)

Kondisi ini terkadang malah bikin musisi/penyanyi jadi stres jika ada bagian tertentu yang harus diulang berkali-kali. Jika berkonser paling lama 1 - 3 jam kelar, rekaman di studio menguras energi fisik dan mental dalam rentang waktu lebih lama.

Memang, teknologi rekaman digital kini memungkinkan kita "menyambung" permainan. Artinya, jika ada kesalahan di satu bagian lagu, kita tidak perlu mengulanginya dari awal. Cukup "disambung" di bagian yang salah tadi. Namun hal ini memerlukan keterampilan operator maupun musisi agar "penyambungan" tadi di-eksekusi di lokasi dan waktu yang tepat. Sang musisi juga mesti menyelaraskan mood dan feeling agar tetap konsisten dengan bagian yang hendak "disambung".

Sumber ketegangan lain dalam studio adalah keterbatasan gerak kita. Bila dalam konser kita berada di tempat terbuka, ditonton banyak orang, dan bebas bergerak, maka keadaan di studio adalah kebalikannya. Kita berada di ruangan sempit, hanya memandang wajah operator (entah sampai berapa jam atau berapa

shift lagi), dan mengulang lagu yang itu-itu saja.

Gerakan kita pun mesti dibatasi. Terutama jika rekaman dengan mikrofon. Sekecil apa pun gerakan, bisa menimbulkan suara-suara yang mengganggu (gesekan kulit lengan di gitar, kaki yang bergeser/bergoyang tanpa sadar, menggeser posisi pantat yang pegal, helaan nafas yang kelewat kuat). Benar-benar harus konsentrasi tanpa henti.


(2)

Agar sewa studio tidak terlalu lama, sebaiknya betul-betul bersiap. Jika harus bermain mengiringi penyanyi, mintalah draft lagu atau sampel aransemen kasar yang sudah baku sebagai bahan berlatih. Kalau memungkinkan, berlatihlah dulu dengan sang penyanyi/grup.

Bila tampil solo, pastikan semua lagu sudah berhasil Anda mainkan dengan mulus dan lancar saat latihan. Bila belum lancar, jangan buru-buru rekaman. Hindari menggunakan studio rekaman sebagai studio latihan. Dengan demikian kita terhindar dari pengeluaran biaya yang percuma. Selamat rekaman.

(Tulisan ini pernah dimuat di majalah Staccato tahun 2007)

B. GITAR TUNGGAL : ANTARA KLASIK DAN FINGERSTYLE oleh Jubing Kristianto pada 14 September 2012 pukul 0:01 ·

Sejak instrumen musik petik (berdawai) mulai dikenal manusia, selalu ada dua cara utama memainkannya. Yakni, sebagai instrumen pendamping atau sebagai instrumen tunggal/solo.

Sebagai pendamping, ia melengkapi salah satu fungsi yang diperlukan dalam sebuah sajian musik Bisa sebagai pengiring (rhythm section) atau sebagai melodi/nyanyian. Sebagai instrumen tunggal, ia dimainkan tanpa ada musisi lain ataupun penyanyi. Jadi, dengan satu alat musik saja, sang musisi merangkap fungsi pengiring dan melodi sekaligus.

Ketika instrumen gitar modern lahir, teknik bermain untuk sajian tunggal sudah semakin kompleks. Bahkan desain gitar modern oleh Antonio Torres (Spanyol) jelas mementingkan kebutuhan para gitaris tunggal. Tiga senar bas dan tiga senar


(3)

treble adalah kombinasi ideal untuk memainkan melodi dan iringan dengan harmoni paling paling efisien.

BEBERAPA PERBEDAAN

Gitar mulai dapat julukan "gitar klasik" gara-gara penemuan gitar elektrik. Sebelum itu tidak dikenal istilah "classical guitar". Istilah ini pun akhirnya lebih spesifik ditujukan pada pemain tunggal. Mereka adalah gitaris yang bisa menggelar pertunjukan/konser utuh hanya dengan memainkan satu gitar saja, tanpa musik atau musisi tambahan.

Beberapa dekade belakangan, lahir di Amerika istilah "finger-picking style". yang kemudian dikenal sebagai "fingerstyle". Istilah ini mengacu pada teknik memetik senar gitar langsung dengan jemari, bukan dengan flatpick atau plectrum. Bermula ketika sebagian gitaris musik rakyat Amerika (country) mulai memetik senar satu persatu dengan jari untuk membentuk arpegio sebagai pengiring. Instrumennya pun lebih menggunakan gitar dengan dawai dari logam. Bukan nilon seperti gitar klasik.

Dengan makin berkembangnya teknik dan perbendaharaan lagu, para gitaris fingerstyle mulai ada yang bermain tunggal. Sehingga mereka bisa membuat penampilan solo seperti halnya gitaris klasik. Bedanya, selain jenis senar, lagu-lagu sajian mereka bersumber pada lagu-lagu rakyat atau lagu-lagu-lagu-lagu populer. Sedangkan gitaris klasik umumnya mengandalkan sajian musik yang berakar dari musik literatur Eropa.


(4)

Perbedaan lain yang masih mencolok adalah posisi saat memainkan gitar. Kebanyakan gitaris klasik menemukan kenyamanan dengan posisi tradisional --gitar ditumpukan di paha kiri yang dinaikkan ke atas footstool agar kepala --gitar terangkat. Ini terkait dengan kestabilan gitar (tidak mudah goyang karena bertumpu pada tiga titik tubuh), kenyamanan gerak lengan dan jemari kiri, serta kualitas tone yang dihasilkan jemari kanan.

Adapun gitaris fingerstyle umumnya lebih senang menggunakan strap atau tali gitar. Ini juga terkait dengan tradisi, posisi ini digunakan gitaris-gitaris pendahulu mereka. Main bisa sambil duduk, namun banyak yang memilih berdiri saat di panggung. Bisa karena alasan estetika visual pertunjukan, bisa juga karena membuat mereka lebih bebas bergerak atau bergoyang untuk melepaskan ekspresi.

Karena umumnya menggunakan senar logam, tidak sedikit gitaris fingerstyle menggunakan kuku imitasi untuk memetik. Karena jika memakai kuku asli, akan terkikis oleh senar. Ada juga melapisi kukunya dengan bahan pengeras kuku. Gitaris klasik tak perlu semua itu karena senar nilon lebih bersahabat bagi kuku, tidak sekeras senar logam.

BATAS MAKIN KABUR

Saat ini, seiring main mudahnya kita mendapat dan bertukar informasi --terutama lewat internet- batas atara gitar klasik dan fingerstyle juga menipis. Gitaris fingerstyle terus menyerap teknik-teknik gitaris klasik. Misalnya variasi arpegio serta detail harmoni yang lebih kaya. Sebaliknya gitaris klasik juga mulai


(5)

menyerap teknik-teknik yang sebelumnya lazim digunakan gitaris fingerstyle, semisal beragam efek perkusi pada senar maupun tubuh gitar hingga pola-pola ritmis yang lebih modern dan kompleks.

Dalam hal pilihan sajian musik pun demikian. Gitaris klasik masa kini bisa memasukkan ke dalam konsernya sajian lagu-lagu rakyat maupun genre-genre musik populer, dan sebaliknya.

Kondisi seperti sekarang ini terkadang memicu perdebatan: apakah fingerstyle itu cabang dari klasik, ataukah sebaliknya klasik itu bagian dari fingerstyle? Masing-masing kubu punya argumen sendiri.

Meski demikian, bagi saya perdebatan ini kelak tidak penting lagi. Kenapa? Karena batasan fingerstyle dan klasik akan samar. Sejumlah nama gitaris bisa jadi contoh betapa pada akhirnya kita tidak memerlukan lagi batasan-batasan itu.

Dari gitar klasik, misalnya ada nama Roland Dyens, Andrew York. dan Muriel Anderson. Kedua sama-sama tumbuh dari tradisi gitar klasik sehingga fasih memainkan Bach, Sor, Tarrega, hingga Villa-Lobos dan Brouwer. Namun mereka juga aktif membuat komposisi maupun aransemen gitar tunggal yang multi-genre. Dyens banyak dipengaruhi jazz, sementara York dan Anderson kerap memanfaatkan idiom country dan blues.

Dari golongan fingerstyle, bisa disebut Peter Finger dan Michael Chapdelaine. Karya komposisi maupun aransemen mereka memiliki kualitas estetika setara dengan komposer-komposer klasik. Untuk menambahkan, ada nama Martin Taylor dan Tuck Andess. Keduanya meski gitaris fingerstyle namun


(6)

menggunakan gitar elektrik sebagai instrumennya. Ini memberi mereka keunikan tersendiri. Meski umumnya memainkan jazz, mereka juga piawai memainkan jenis-jenis musik lainnya.

Demikianlah, pada akhirnya yang terpenting bukan soal istilah atau nama, tapi kualitas seni dan/atau nilai estetika musik yang dihasilkan sang gitaris.