Objek Wisata Baru Pasca Tsunami Sebagai Primadona Industri Pariwisata Di Banda Aceh Nanggroe Aceh Darussalam

OBJEK WISATA BARU PASCA TSUNAMI SEBAGAI PRIMADONA INDUSTRI PARIWISATA DI BANDA ACEH NANGGROE ACEH DARUSSALAM
KERTAS KARYA Dikerjakan O L E H DINI ARISTA 062204022
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS SASTRA PROGRAM PENDIDIKAN NON GELAR PROGRAM STUDI PARIWISATA BIDANG KEAHLIAN USAHA WISATA MEDAN 2009
Dini Arista : Objek Wisata Baru Pasca Tsunami Sebagai Primadona Industri Pariwisata Di Banda Aceh Nanggroe Aceh Darussalam, 2009. USU Repository © 2009

OBJEK WISATA BARU PASCA TSUNAMI SEBAGAI PRIMADONA INDUSTRI PARIWISATA DI BANDA ACEH NANGGROE ACEH DARUSSALAM
KERTAS KARYA Dikerjakan
O L E H
DINI ARISTA 062204022
PEMBIMBING
Drs. Mukhtar Majid, S.Sos, S.Par, MA NIP. 131662151
Kertas karya ini Diajukan Kepada Panitia Ujian Program Pendidikan Non Gelar Fakultas Sastra USU Medan Untuk Melengkapi Salah Satu Syarat Ujian Diploma III Dalam Program Studi Pariwisata
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA FAKULTAS SASTRA PROGRAM PENDIDIKAN NON GELAR PROGRAM STUDI PARIWISATA BIDANG KEAHLIAN USAHA WISATA MEDAN 2009
Dini Arista : Objek Wisata Baru Pasca Tsunami Sebagai Primadona Industri Pariwisata Di Banda Aceh Nanggroe Aceh Darussalam, 2009. USU Repository © 2009

Disetujui Oleh : PROGRAM DIPLOMA SASTRA DAN BUDAYA FAKULTAS SASTRA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
Medan, Maret 2009 PROGRAM STUDI DIII PARIWISATA KETUA
Drs. Ridwan Azhar M.Hum NIP. 131124058
Dini Arista : Objek Wisata Baru Pasca Tsunami Sebagai Primadona Industri Pariwisata Di Banda Aceh Nanggroe Aceh Darussalam, 2009. USU Repository © 2009

PENGESAHAN

Diterima Oleh

PANITIA UJIAN PROGRAM PEDIDIKAN NON GELAR SASTRA DAN BUDAYA FAKULTAS SASTRA USU MEDAN UNTUK MELENGKAPI SALAH SATU SYARAT UJIAN DIPLOMA III DALAM BIDANG STUDI PARIWISATA

Pada

:

Tanggal

:

Hari :

Program Diploma Sastra dan Budaya Fakultas Sastra Universitas Sumatera Utara

Drs.Syaifuddin. MA.Ph.D NIP. 132098531

Panitia Ujian

No. Nama

TandaTangan

1.Drs. Ridwan Azhar M.Hum

(Ketua Jurusan)

(

)

2.Drs. Mukhtar Majid, S.Sos, SE.Par, MA ( Sekretaris )

(

)

3.Drs. Mukhtar Majid, S.Sos,SE.Par, MA (Dosen Pembimbing) (

)

4.Drs. Sutan Haris Sutan Lubis,M.SP

(Dosen Pembaca) (

)

Dini Arista : Objek Wisata Baru Pasca Tsunami Sebagai Primadona Industri Pariwisata Di Banda Aceh Nanggroe Aceh Darussalam, 2009. USU Repository © 2009

I Love You PaPa I Love You Mama ILU I Love You PaPa I Love You Mama ILU I Love You PaPa I Love You Mama ILU I Love You PaPa I Love You Mama ILU I Love You PaPa I Love You Mama ILU I Love You PaPa I Love You Mama ILU I Love You PaPa I Love You Mama ILU I Love You PaPa I Lo– ve You Mama ILU I Love You PaPa I Love You Mama ILU I Love You PaPa I Love You Mama ILU I Love You PaPa I Love You Mama ILU I Love You PaPa I Love You Mama ILU I Love You PaPa I Love You Mama ILU I Love You PaPa I Love You Mama ILU I Love You PaPa I Lo- ve You Mama ILU I Love You PaPa I Love You Mama ILU I Love You PaPa I Love You Mama ILU
Dini Arista : Objek Wisata Baru Pasca Tsunami Sebagai Primadona Industri Pariwisata Di Banda Aceh Nanggroe Aceh Darussalam, 2009. USU Repository © 2009

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Allah SWT, yang senantiasa melimpahkan rahmat dan rezekinya hingga penulis dapat menyelesaikan kertas karya yang berjudul “Objek Wisata Baru Pasca Tsunami sebagai Primadona Industri Pariwisata di Banda Aceh Nanggroe Aceh Darussalam” ini dengan sempurna.
Kertas karya ini ditulis sebagai salah satu persayaratan untuk meraih gelar Ahli Madya Pariwisata pada Fakultas Sastra, Program Studi Pariwisata, bidang keahlian Usaha Wisata pada Universitas Sumatera Utara.
Dalam penyelesaian kertas karya ini, penulis banyak menerima bimbingan, masukan, dan bantuan baik moril maupun materil dari berbagai pihak. Pada kesempatan ini, penulis tidak lupa untuk mengucapkan terima kasih sebagai bentuk penghargaan kepada :
1. Bapak Drs.Syaifuddin MA.Ph.D, selaku Dekan Fakultas Sastra USU Medan. 2. Bapak Drs.Ridwan Azhar M.Hum, selaku Ketua Jurusan Program Studi
Diploma III Pariwisata USU. 3. Bapak Drs.Mukhtar Madjid, S.Sos., M.P., AMP, selaku Dosen pembimbing
yang telah memberikan banyak masukan serta kritikan hingga membuat kertas karya ini dapat selesai tepat pada waktunya. 4. Bapak Haris Sutan Lubis, M.SP selaku Dosen Pembaca dalam kertas karya ini yang telah memberikan masukan demi kesempurnaan kertas karya ini. 5. Alm.Bapak Hazed Djoeli, terima kasih atas bakti Bapak terhadap Pariwisata kita hingga akhir hayat. Terima kasih atas segala pujian yang
i ii
Dini Arista : Objek Wisata Baru Pasca Tsunami Sebagai Primadona Industri Pariwisata Di Banda Aceh Nanggroe Aceh Darussalam, 2009. USU Repository © 2009

selalu bapak ucapkan, penulis belajar banyak hal dari Bapak. Semoga Bapak tenang disisi Nya dan amal ibadah Bapak diterima disisi Allah SWT, amin. 6. Ibu Audry, selaku pengurus segala administrasi perkuliahan. 7. Seluruh dosen dan staf pengajar pada Program Studi Pariwisata yang telah mendidik dan membimbing penulis selama masa perkuliahan. 8. Teristimewa kepada kedua orang tua tercinta, ayahanda Sakiman dan Ibunda Mutiara Wani atas segala motivasi, kasih sayang, cinta, dan perhatian bagi penulis selama ini. Buat penulis, tiada harta berharga yang penulis miliki selain kalian di muka bumi ini. Love u Dad, Love u Mom. 9. Buat kakak dan adik penulis, Mba’Gita dan Dek Mel. Berilah yang terbaik buat orang tua kita. Senyum dan keberhasilan kita kunci kebahagiaan mereka. 10. From Bali with Love and from Bali with you. “Denny”. Makasi buat support dan perhatian yang tiada henti kepada penulis. 11. Sahabat penuh kasih, penuh canda, penuh tawa, penuh tangis juga. SHE 5 (Ika, Ira, Lela, Yunda). Love u beibz. Moga kita sukses selalu. 12. Sahabat-sahabat lainnya. Nunun, Wahyu, Agus. Jangan nakal ya, miss u. sahabat-sahabat di Kos Muslimah (Kak Nanda, Nenda, Nely) thanks for all. 13. Buat bang Dhani, yang selalu mengajarkan tentang hidup dan tentang kesederhanaan. 14. Buat semua teman-teman seperjuangan di UW’06, begitu banyak kisah yang udah kita lewati. Terima kasih buat kehangatan yang terjalin dalam berbagai tour yang kita lalui. Semoga kita menjadi orang yang sukses dikemudian hari.
iii
Dini Arista : Objek Wisata Baru Pasca Tsunami Sebagai Primadona Industri Pariwisata Di Banda Aceh Nanggroe Aceh Darussalam, 2009. USU Repository © 2009

15. Buat adik-adik pariwisata 2007-2008, berikan yang terbaik untuk pariwisata kita. Terutama untuk ketua IMAPA “Dian Permana Alam”.
16. Malaysia Airlines (Bang Hendra, Bang Heri, Bang Amar, Pak Mior, Bang Bob, Kak Sony), PT.NATS Nusantara (Bang Joko, Ari, Putra, Bang Raja, Babe), Overland Travel (Pak Asep, Bang Sani, Kak Ida, Bu Fani), JP Travel Bandung (Pak Uto, Pak Sofyan, Pak Hendi, Pak Odas), special for Bli Wayan. Penulis sadar masih banyak kekurangan dalam kertas karya ini, baik sistem
penulisan, ejaan, dan isinya. Oleh sebab itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun dari semua pihak demi kesempurnaan kertas karya ini.
Akhir kata penulis ucapkan terima kasih atas perhatian pembaca, semoga keberadaan kertas karya ini dapat memberikan masukan khususnya untuk Program Studi Pariwisata USU dan khalayak ramai umumnya.

Medan,

Maret 2009

Penulis

Dini Arista NIM 062204022

iv
Dini Arista : Objek Wisata Baru Pasca Tsunami Sebagai Primadona Industri Pariwisata Di Banda Aceh Nanggroe Aceh Darussalam, 2009. USU Repository © 2009

ABSTRAK
Semua kita mengetahui bahwa dalam masa perkembangannya Nanggroe Aceh Darussalam pernah mengalami masa-masa yang maju dalam bidang ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan sejarah. Akan tetapi, kemajuan-kemajuan itu mengalami pasang surut yang disebabkan berbagai peristiwa yang telah melanda daerah ini. Keadaan tersebut menyebabkan Aceh agak jauh tertinggal dalam bidang kepariwisataan, padahal Aceh khususnya Banda Aceh yang merupakan Ibu kota dari provinsi Nanggroe Aceh Darussalam memiliki asset potensi pariwisata yang cukup tinggi berupa nilai historis dan kultural. Namun tidak terpeliharanya objek wisata yang ada dan tidak mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah setempat yang membuat Aceh mengalami keterhambatan dalam pengembangan pariwisata.
Ditambah lagi dengan tsunami yang melanda hampir diseluruh belahan provinsi Nanggroe Aceh Darussalam membuat Aceh makin jauh tertinggal dalam pengembangan pariwisatanya. Bencana ini seolah membuat wajah Aceh kembali tercoreng di mata dunia, setelah konflik panjang tiada berkesudahan yang terjadi di bumi Serambi Mekkah ini.
Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam sesungguhnya sangat memiliki potensi kultural dan historis yang cukup besar, dilihat dari kekayaan alamnya, budaya, pola laku masyarakatnya yang sangat memegang teguh adat istiadat, serta perkembangan sejarah dalam jantung Aceh. Kita semua menaruh keyakinan melalui pengembangan pariwisata, setidaknya akan mampu mewujudkan kesadaran pariwisata yang bukan hanya mengangkat peninggalan sejarah untuk dinikmati sebagai hiburan, juga melalui aktifitas-aktifitas tersebut dapat mencapai dan mengembangkan beberapa pokok tujuan dalam melestarikan niali sejarah dan budaya Aceh.
Dengan adanya pengembangan pariwisata, diharapkan dapat menggugah apresiasi masyarakat Aceh terhadap nilai-nilai historis dan kultural. Demikian pula generasi muda untuk dapat berperan dan melestarikan potensi wisata yang ada guna membangkitkan Nanggroe Aceh Darussalam dari keterpurukan yang pernah dialami.
Keyword : sejarah, tsunami, objek wisata, industri pariwisata
Dini Arista : Objek Wisata Baru Pasca Tsunami Sebagai Primadona Industri Pariwisata Di Banda Aceh Nanggroe Aceh Darussalam, 2009. USU Repository © 2009

DAFTAR ISI

Kata Pengantar................................................................................................................ Abstrak ........................................................................................................................... Daftar Isi.........................................................................................................................

i iv v

BAB I. PENDAHULUAN 1.1.Latar Belakang Masalah............................................................................................ 1.2.Pembatasan Masalah ................................................................................................. 1.3.Tujuan Penulisan ..................................................................................................... 1.4.Metode Penelitian ..................................................................................................... 1.5.Sistematika Penulisan................................................................................................

1 4 5 5 6

BAB II. URAIAN TEORITIS KEPARIWISATAAN 2.1. Pengertian Pariwisata ............................................................................................... 2.2. Industri Pariwisata.................................................................................................... 2.3. Definisi Wisatawan ................................................................................................. 2.4. Pengertian Objek Wisata dan daya Tarik Wisata ...................................................... 2.5. Sumber Objek Wisata............................................................................................... 2.6. Pengertian Tsunami..................................................................................................

7 8 9 10 12 13

BAB III. GAMBARAN UMUM BANDA ACEH 3.1. Letak Geografis ..................................................................................................... 3.2. Jumlah Penduduk ..................................................................................................... 3.3. Latar Belakang Kebudayaan Aceh............................................................................
3.3.1. Latar Belakang Sejarah .............................................................................. 3.3.2. Struktur Masyarakat................................................................................... 3.3.3. Sistem Kekerabatan ................................................................................... 3.4. Fasilitas Pendukung Pariwisata ................................................................................ 3.4.2. Perhubungan Udara ................................................................................... 3.4.3. Perhubungan Darat .................................................................................... 3.4.4. Perhubungan Laut ......................................................................................

16 18 19 19 20 22 22 24 24 24

BAB.IV. OBJEK WISATA BARU PASCA TSUNAMI SEBAGAI PRIMADONA BARU INDUSTRI PARIWISATA DI NANGGROE ACEH DARUSSALAM 4.1. Sekilas Mengenai Industri Pariwisata di Banda Aceh ............................................... 4.2. Deskripsi Objek Wisata Pra Tsunami .......................................................................
4.2.1. Wisata Alam .............................................................................................. a. Pantai Lampuuk ........................................................................... b. Krueng Raya ................................................................................ c. Taman Wisata Krueng Aceh.........................................................
4.2.2. Wisata Sejarah........................................................................................... a. Mesjid Raya Baiturrahman ........................................................... b. Museum Negeri Aceh...................................................................

Dini Arista : Objek Wisata Baru Pasca Tsunami Sebagai Primadona Industri Pariwisata Di Banda Aceh Nanggroe

Aceh Darussalam, 2009.

USU Repository © 2009

v

26 27 27 27 28 29 29 30 31

c. Kerkhoff....................................................................................... d. Taman Sari................................................................................... e. Gunongan..................................................................................... f. Rumah Cut Nyak Dien .................................................................
g. Makam Syiah Kuala ..................................................................... h. Monumen RI 001 ......................................................................... i. Makam Sultan Iskandar Muda ...................................................... j. Benteng Indra Pura....................................................................... k. Mesjid Kuno Indra Puri ................................................................ l. Makam Kandang XII.................................................................... 4.2.3. Wisata Budaya........................................................................................... a. Taman Pekan Kebudayaan Aceh .................................................. 4.3. Deskripsi Objek Wisata Pasca Tsunami.................................................................... 4.3.1. Objek Wisata yang Terkena Tsunami......................................................... a. Mesjid Raya Baiturrahman ........................................................... b. Rumah Cut Nyak Dien ................................................................. c. Pantai lampuuk............................................................................. d. Krueng Raya ................................................................................ 4.3.2. Objek Wisata Peninggalan Tsunami........................................................... a. Kapal PLTD Apung ..................................................................... b. Taman Edukasi Tsunami .............................................................. c. Museum Tsunami......................................................................... d. Monumen Peringatan Tsunami ..................................................... e. Kapal Apung Lampulo ................................................................. f. Kuburan Massal di Lambaro......................................................... g. Kawasan Ulee Lheue.................................................................... h. Perumahan Bantuan Tiongkok...................................................... i. Mesjid Rahmatullah Lampuuk...................................................... j. Mesjid Bantuan Kesultanan Oman (Arab) ................................... k. Pusat Riset Tsunami dan Mitigasi Bencana Nasional Provinsi NAD BAB.V. KESIMPULAN.................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................................... LAMPIRAN

32 32 33 33
34 34 35 36 36 37 37 37 38 39 39 40 40 41 41 41 44 45 46 46 48 48 49 50 50 50 51
52

Dini Arista : Objek Wisata Baru Pasca Tsunami Sebagai Primadona Industri Pariwisata Di Banda Aceh Nanggroe Aceh Darussalam, 2009. USU Repository © 2009

BAB I PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG MASALAH Perkembangan kepariwisataan Indonesia tidak terlepas dari pembangunan
pariwisata nasional yang menitikberatkan kepada usaha dalam negeri dengan tujuan mempromosikan dan memperkenalkan kebudayaan yang beraneka ragam, keindahan alam yang dimiliki, serta peninggalan-peninggalan sejarah yang dimiliki oleh berbagai daerah yang ada di Indonesia. Oleh sebab itu, pemerintah RI mengeluarkan berbagai kebijaksanaan peraturan serta keputusan tentang kepariwisataan nasional agar perkembangan kepariwisataan nasional dapat berjalan sesuai dengan apa yang telah ditetapkan dalam GBHN.
Nanggroe Aceh Darussalam adalah provinsi yang terletak di wilayah paling Barat Indonesia dan memiliki berbagai potensi yang cukup cerah dalam rangka menunjang Pembangunan Nasional. Potensi dan asset yang dimiliki di Aceh tidak hanya bersumber dari industri, pertanian, kesenian, maupun adat istiadat budayanya saja namun ada sektor lainnya yang cukup memberikan andil seperti sektor pariwisata. Salah satu yang cukup menarik perhatian dan mata dunia adalah berupa objek wisata peninggalan tsunami yang menjadikan Aceh semakin kaya dalam bidang pariwisata.
vvi i
Dini Arista : Objek Wisata Baru Pasca Tsunami Sebagai Primadona Industri Pariwisata Di Banda Aceh Nanggroe Aceh Darussalam, 2009. USU Repository © 2009

2
Bencana, cobaan, ataupun siksaan sekalipun tiada seorang pun yang tahu pasti kapan akan terjadi. Di penghujung tahun 2004 ketika fajar baru menyongsong, tepatnya tanggal 26 Desember 2004 sekitar pukul 08.00 wib, gempa bumi berkekuatan 8,9 skala ritcher, mengguncang sebagian besar wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Sumatera Utara. Bencana yang dirasakan semenanjung kawasan Aceh ini cukup besar dari gempa yang pernah terjadi sebelumnya. Tanpa ada komando, masyarakat setempat lari berhamburan meninggalkan rumah masing-masing.
Bencana yang terjadi hari Minggu itu, membuat masyarakat Aceh panik, seketika bangunan tampak porak-poranda. Kejadian tidak hanya berlangsung sampai sini saja, kurang dari 10 menit, alun-alun kota Banda Aceh diramaikan oleh penduduk yang seakan takjub melihat keindahan surutnya air laut dan seolah memberi kebahagiaan bagi mereka karena ikan-ikan yang menggelepar di darat.
Dari sinilah semua bersumber, tidak lebih dari 15 menit kemudian, suara dengungan air deras bagai suara gemuruh membuat suasana kota Banda Aceh sekejap berubah mencekam. Tak ada yang menduga, bencana sedahsyat tsunami akan meluluhlantahkan kota Banda Aceh. Air laut naik dengan ketinggian yang bervariasi dengan kecepatan 600mil/700mil perjam atau setara dengan 970km/jam, kecepatan ini setara pula dengan kecepatan maksimal sebuah pesawat luar angkasa yakni jumbo jet B747-100.
Peristiwa besar ini dialami penduduk di pinggiran pantai Aceh, baik wilayah Barat, Timur, ataupun sebagian wilayah Sumatera Utara. Gelombang ini menghancurkan apa saja yang dilaluinya. Sebagian besar infrastruktur, sarana dan
Dini Arista : Objek Wisata Baru Pasca Tsunami Sebagai Primadona Industri Pariwisata Di Banda Aceh Nanggroe Aceh Darussalam, 2009. USU Repository © 2009
1

prasarana baik itu rumah, perkantoran, pertokoan, jalan beserta kehidupan yang a3da telah menjadi rata dengan tanah.
Bencana ini telah menyebabkan begitu banyak korban yang berjatuhan hingga mencapai angka ratusan ribu jiwa. Bencana ini juga menghancurkan sarana komunikasi, listrik air bersih, transportasi sehingga kawasan Aceh dan wilayah Sumatera Utara terisolasi dari aktivitas kehidupan. Banda Aceh, kota yang sebelumnya cukup indah dan berpenduduk 220.737 jiwa berdasarkan sensus penduduk pada tahun 2000, kini kontan menjadi kota mati. Sarana komunikasi, transportasi, dan lainnya yang berada di kota seluas 61,36 km² itupun lumpuh total.
Pasca tragedi tsunami yang terjadi, pemerintah daerah bersama BRR NADNias (Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi) dan NGO serta beberapa dermawan lainnya mulai menata kota untuk membangun sarana dan prasarana yang musnah karena hantaman tsunami. Perbaikkan itu diagendakan pada perbaikan sistem RANData Base, sistem komunikasi dan informasi, perbaikan rumah, infrastruktur udara, darat, dan laut serta perbaikan sekaligus pembangunan kembali Airport yang mana airport menjadi pintu utama yang menghubungkan Aceh menuju global. (Seumangat, 26/12/08).
Kini empat tahun tragedi tsunami telah berlalu, 3,5 tahun waktu yang dibutuhkan pemerintah daerah, BRR, dan NGO untuk menata kembali provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Peristiwa tersebut tak selamanya menjadi derita bagi Nanggroe Aceh Darussalam khususnya Kota Banda Aceh. Dengan adanya bencana ini Banda Aceh kini siap bangkit dengan asset yang mereka miliki berupa objek
Dini Arista : Objek Wisata Baru Pasca Tsunami Sebagai Primadona Industri Pariwisata Di Banda Aceh Nanggroe Aceh Darussalam, 2009. USU Repository © 2009

wisata-objek wisata yang bermunculan pasca tsunami. Ini merupakan hal yang 4
tentunya dapat membangkitkan pariwisata di Nanggroe Aceh Darussalam. Dalam perkembangan objek wisata baru ini, diharapkan dapat memberi nilai tambah bagi pendapatan daerah serta dapat memajukan provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang kini sedang berusaha untuk menjadi salah satu Daerah Tujuan Wisata. Kini munculnya objek wisata peninggalan tsunami di Banda Aceh, mulai dikenal oleh wisatawan dan telah menjadi daya tarik wisata tersendiri.
Dengan latar belakang yang disebutkan, maka penulis memilih judul pada karya tulis ini “OBJEK WISATA BARU PASCA TSUNAMI SEBAGAI PRIMADONA INDUSTRI PARIWISATA DI BANDA ACEH NANGGROE ACEH DARUSSALAM”.
1.2 PEMBATASAN MASALAH Dalam pembahasan Kertas Karya ini penulis membatasi masalah mengenai
deskripsi objek wisata peninggalan tsunami dengan rincian masalah sebagai berikut : 1. Bagaimana kondisi objek wisata peninggalan tsunami di Banda Aceh hingga dijadikan sebagai primadona ? 2. Bagaimana perkembangan industri pariwisata di Banda Aceh? 3. Bagaimana objek wisata peninggalan tsunami dapat menjadi primadona baru dalam Industri Pariwisata di Banda Aceh ?
1.3 TUJUAN PENULISAN Adapun tujuan penulis dalam membuat Kertas Karya ini adalah :
Dini Arista : Objek Wisata Baru Pasca Tsunami Sebagai Primadona Industri Pariwisata Di Banda Aceh Nanggroe Aceh Darussalam, 2009. USU Repository © 2009

a. Sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan pendidikan pada program studi 5
Pariwisata D-III Bidang Usaha Wisata di Fakultas Sastra USU. b. Memperkenalkan objek wisata peninggalan tsunami serta mendeskripsikan
objek wisata yang dimiliki Banda Aceh pra-tsunami dan pasca tsunami. c. Memperluas pengetahuan mengenai kekayaan objek wisata yang dimiliki oleh
Nanggroe Aceh Darussalam dalam rangka untuk proses pembangunan pariwisata Aceh kedepannya. d. Mengetahui objek wisata tsunami yang dikatakan sebagai primadona di industri pariwisata di Banda Aceh.
1.4 METODE PENELITIAN Di dalam penulisan kertas karya ini, penulis menggunakan metode penelitian :
a. Library Research, penulis mengadakan penelusuran literature untuk mendapatkan data-data bahan pustaka yang berhubungan dengan kertas karya ini.
b. Field Research, penulis mengadakan penelitian langsung ke lapangan dengan cara mewawancarai pihak-pihak terkait serta meninjau langsung atraksiatraksi wisata budayanya dan beberapa objek wisatanya.
1.5 SISTEMATIKA PENULISAN Sistematika penulisan dan penyusunan Kertas Karya ini dapat dijelaskan
sebagai berikut :
Dini Arista : Objek Wisata Baru Pasca Tsunami Sebagai Primadona Industri Pariwisata Di Banda Aceh Nanggroe Aceh Darussalam, 2009. USU Repository © 2009

6

BAB I

:

BAB II

:

BAB III :

BAB IV :

BAB V

:

Daftar Pustaka

Lampiran

Pendahuluan Dalam bab ini, diuraikan tentang alasan pemilihan judul, pembatasan masalah, tujuan penulisan, metode penelitian, dan sistematika penulisan. Uraian Teoritis Kepariwisataan Meliputi : Pengertian tsunami, Pengertian pariwisata, Pengertian industri pariwisata, Definisi wisatawan, Pengertian objek wisata dan atraksi wisata, dan Sumber objek wisata. Gambaran umum kota Banda Aceh Meliputi : Letak geografis, Jumlah penduduk, Latar belakang Kebudayaan Aceh, Kelengkapan akomodasi di Banda Aceh, dan Fasilitas pendukungnya. Objek Wisata Baru Pasca Tsunami Menjadi Primadona Industri Pariwisata di Banda Aceh Nanggroe Aceh Darussalam Meliputi : Beberapa objek wisata peninggalan tsunami yang dimiliki Kota Banda Aceh sebelum dan sesudah tsunami. Penutup

Dini Arista : Objek Wisata Baru Pasca Tsunami Sebagai Primadona Industri Pariwisata Di Banda Aceh Nanggroe Aceh Darussalam, 2009. USU Repository © 2009

BAB II URAIAN TEORITIS KEPARIWISATAAN
2.1 PENGERTIAN PARIWISATA Istilah “pariwisata” yang digunakan di Indonesia sebagai terjemahan dari
Bahasa Inggris “Tourism”. Secara etimologi berasal dari bahasa sansakerta, yang terdiri dari dua suku kata. “pari” dan “wisata”. Pari artinya banyak, berkali-kali, atau berkeliling. Sedangkan wisata berarti perjalanan atau dapat diartikan dengan bepergian. Secara garis besarnya dapat diartikan suatu perjalanan yang dilakukan berkali-kali dari satu tempat ke tempat lain. (Oka A. Yoeti, 1996 : 112).
Secara teknis, ilmu pariwisata adalah suatu ilmu yang mempelajari rangkaian yang dilakukan oleh manusia baik secara perorangan atau kelompok di dalam wilayah negaranya sendiri atau Negara lain yang menggunakan kemudahan, jasa atau pelayanan yang disediakan pemerintah, dunia usaha, dan industri agar terwujud keinginan wisatawan. (Sinaga, 1995 : 1).
Menurut Prof.Hunzieker dan Prof.Kraff (dalam buku Oka Yoeti, 1996 : 115) mengatakan bahwa ilmu pariwisata adalah keseluruhan dari segala yang ditimbulkan oleh perjalanan dan pendiaman orang-orang asing dari segala yang ditimbulkan oleh
Dini Arista : Objek Wisata Baru Pasca Tsunami Sebagai Primadona Industri Pariwisata Di Banda Aceh Nanggroe Aceh Darussalam, 2009. USU Repository © 2009

perjalanan dan pendiaman itu tidak tinggal menetap dan tidak memperoleh penghasilan dan aktivitas yang bersifat sementara.
Jadi dapat disimpulkan banwa pariwisata adalah suatu perjalanan yang dilakukan sementara waktu dari satu tempat ke tempat lain dengan maksud bu8kan untuk mencari nafkah ataupun menetap ditempat yang dikunjungi, akan tetapi untuk menikmati perjalanan tersebut sebagai rekreasi atau untuk memenuhi keinginan yang beragam tanpa adanya suatu paksaan.
2.2 INDUSTRI PARIWISATA Bila orang mendengar kata “industri”, gambaran dari kebanyakan orang pada
umumnya adalah suatu bangunan pabrik dengan segala perlengkapannya yang mempunyai cerobong asap dengan mempergunakan mesin dalam proses produksinya. Namun pada kenyataannya, tidak demikian dengan definisi industri pariwisata sebenarnya. Untuk itu, berikut merupakan pengertian industri pariwisata :
Menurut R.S. Darmadji, Industri pariwisata merupakan rangkuman dari pada berbagai macam bidang usaha yang secara bersama-sama meghasilkan produkproduk ataupun jasa-jasa dan pelayanan yang nantinya baik secara langsung ataupun tidak langsung akan dibutuhkan oleh wisatawan selama melakukan kegiatan pariwisata.
Dengan adanya pengertian diatas, jelas bahwa industri pariwisata itu tidak hanya berkenaan sebagai suatu produk yang wujudnya konkrit, namun ada pula dalam wujud abstrak seperti pelayanan, atraksi wisata, seni dan budaya asli, ataupun adat istiadat suatu DTW (daerah tujuan wisata). Jadi, atraksi wisata yang berupa
Dini Arista : Objek Wisata Baru Pasca Tsunami Sebagai Primadona Industri Pariwisata Di Banda Aceh Nanggroe Aceh Darussalam, 2009. USU Repository © 2009
7

peninggalan tsunami yang dibahas dalam kertas karya ini termasuk ke dalam elemen

produk wisata suatu dalam industri pariwisata. Karena semakin jauh perbedaan suatu

atraksi wisata di tempat asal wisatawan dengan DTW yang dikunjungi, maka akan

semakin besar minat wisatawan untuk berkunjung ke DTW tesebut.

9

2.3 DEFINISI WISATAWAN Kata “wisatawan” berasal dari bahasa sansekerta, yang berasal dari kata
“wisata” yang berarti perjalanan yang dapat disamakan dengan kata tour dalam bahasa Inggris. Kata “wisatawan” selalu diasosiasikan dengan kata tourist dalam bahasa Inggris.
Berdasarkan Pasal 5 Resolusi Dewan Ekonomi dan Dewan Sosial Perserikatan Bangsa-Bangsa No.870 yang isinya : “ Untuk tujuan statistik yang dimaksud dengan visitor atau pengunjung adalah setiap orang mengunjungi suatu negara yang bukan merupakan tempat tinggalnya yang biasa, dengan alasan apapun juga mengusahakan sesuatu pekerjaan yang dibayar oleh negara yang dikunjunginya “.
Secara umum pengertian wisatawan adalah seseorang yang melakukan perjalanan ke suatu tempat yang bukan untuk bekerja dan tempat tersebut bukanlah tempat asalnya, dimana perjalanannya tersebut lebih dari 24 jam dan kurang dari satu tahun.
Pengunjung dapat dibagi ke dalam dua kategori, yaitu :
Dini Arista : Objek Wisata Baru Pasca Tsunami Sebagai Primadona Industri Pariwisata Di Banda Aceh Nanggroe Aceh Darussalam, 2009. USU Repository © 2009

1. Wisatawan adalah pengunjung sementara yang tinggal paling sedikit selama

24 jam di negara yang dikunjungi dalam bentuk :  Pesiar (leisure) ialah orang yang berkunjung untuk keperluan rekreasi,

berlibur, kesehatan, studi, keagamaan dan olah raga.  Bisnis, keluarga, konferensi, dan misi.

10

2. Pelancong (excursionist) yaitu pengunjungan sementara yang kurang dari 24

jam di Negara yang dikunjungi.

Wisatawan dibagi kedalam dua istilah, yaitu :  WISNU (Wisatawan Nusantara), yaitu wisatawan yang berasal dari dalam
negeri.  WISMAN (Wisatawan Mancanegara), yaitu wisatawan yang berasal dari luar
negeri.

2.4 PENGERTIAN OBJEK WISATA DAN DAYA TARIK WISATA
Istilah “objek” dan “daya tarik wisata” telah dikenal di Indonesia, sedangkan
diluar negeri dikenal dengan istilah “Atraksi Wisata” (tourist attraction). Atraksi
wisata merupakan suatu daya tarik yang tak lepas dari pengertian produk wisata,
karena wisatawan pada umumnya bertujuan untuk menyaksikan objek dan daya tarik
wisata yang ada.
Namun terdapat definisi lain mengenai “objek wisata” dan “atraksi wisata”
yang lazim di kenal di Indonesia dan resmi datang dari pemerintah, diantaranya
adalah :
Dini Arista : Objek Wisata Baru Pasca Tsunami Sebagai Primadona Industri Pariwisata Di Banda Aceh Nanggroe Aceh Darussalam, 2009. USU Repository © 2009

• Menurut UU No. 9/1990

“objek wisata adalah semua hal-hal yang menarik untuk dilihat, dirasakan

oleh wisatawan yang bersumber pada alam”.

11

• SK. Menteri Pertanian dan MENPARPOSTEL No.204/KPTS/HK.050/4/1989 dan No. KM 47/PW.004/MPPT-89 “objek wisata adalah suatu tempat (alam) yang memiliki sumber daya wisata yang dibangun dan dikembangkan sehingga mempunyai daya tarik wisata yang dikunjungi wisatawan”.
• Peraturan Pemerintah No. 24/1979 “objek wisata adalah perwujudan dari pada ciptaan manusia, cara hidup, seni budaya, sejarah bangsa dan juga suatu alam yang menarik untuk dikunjungi”. Sedangkan atraksi wisata merupakan sesuatu yang dipersiapkan terlebih
dahulu agar dapat dilihat, dan dinikmati. Yang termasuk ke dalam atraksi wisata antara lain upacara adat, tarian, kesenian, dan lain-lain.
Menurut UU No. 9/1990 bahwa atraksi wisata adalah semua segala sesuatu yang menarik untuk dilihat, dirasakan, dan dinikmati oleh wisatawan yang kesemuanya merupakan hasil kerja manusia.

Kepuasan wisatawan pada suatu DTW tergabung atas dua faktor, yaitu :
1. Tourism Resources
Merupakan segala sesuatu yang ada di DTW dan menarik untuk disaksikan.
2. Tourism Services
Dini Arista : Objek Wisata Baru Pasca Tsunami Sebagai Primadona Industri Pariwisata Di Banda Aceh Nanggroe Aceh Darussalam, 2009. USU Repository © 2009

Merupakan suatu pelayanan yang diberikan kepada wisatawan selama melakukan perjalanan. Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa objek wisata adalah perwujudan
12 dari segala sesuatu, baik itu ciptaan Tuhan maupun manusia seperti alam, seni budaya, peninggalan sejarah, serta tata kelakuan hidup masyarakat yang dapat dijadikan daya tarik wisata.
2.5 SUMBER OBJEK WISATA Sumber objek wisata sebagai daya tarik wisata dapat dikelompokkan menjadi
4 kelompok yang terdiri dari beberapa unsur : a. Nature (alam) Yaitu segala sesuatu yang berasal dari alam yang dapat dimanfaatkan, dan diusahakan ditempat objek wisata yang dapat dinikmati dan memberikan kepuasan bagi wisatawan. Contohnya : keindahan alam seperti pantai, pegunungan, flora dan fauna, dan lainnya. b. Culture (kebudayaan) Yaitu segala sesuatu yang berupa daya tarik yang berasal dari seni dan kreasi manusia. Contohnya : upacara adat, perkawinan adat, tarian, dan lain-lain. c. Human (manusia) Yaitu segala sesuatu yang merupakan aktivitas/kegiatan manusia dan mempunyai daya tarik wisata tersendiri yang dapat dijadikan objek wisata.
Dini Arista : Objek Wisata Baru Pasca Tsunami Sebagai Primadona Industri Pariwisata Di Banda Aceh Nanggroe Aceh Darussalam, 2009. USU Repository © 2009

Contohnya : Suku Asmat dan Suku Dayak yang masih hidup dengan tata cara kehidupan mereka yang primitif.
13 d. Man made (ciptaan manusia)
Yaitu segala sesuatu yang merupakan hasil karya manusia yang dapat dijadikan sebagai objek wisata. Contohnya : prasasti, candi, kerajinan tangan, dan lain-lain. Untuk dapat dijadikan sebagai suatu daerah tujuan wisata atau objek wisata pada suatu daerah, maka harus dikembangkan tiga hal yaitu : • Something to see : yaitu adanya sesuatu yang menarik untuk dilihat. • Something to buy : yaitu adanya sesuatu yang menarik atau khas untuk
dibeli. • Something to do : yaitu adanya suatu aktifitas yang dapat dilakukan
di daerah itu.
2.6 PENGERTIAN TSUNAMI
Tsunami sesuai ejaan bahasa Jepang, secara sempit memiliki arti "ombak besar di pelabuhan". Berarti dalam arti luasnya adalah sebuah ombak yang terjadi setelah sebuah gempa bumi, gempa laut, gunung berapi meletus, atau hantaman meteor di laut. Tenaga setiap tsunami adalah tetap terhadap fungsi ketinggian dan kelajuannya. Dengan itu, apabila gelombang menghampiri pantai, ketinggiannya
Dini Arista : Objek Wisata Baru Pasca Tsunami Sebagai Primadona Industri Pariwisata Di Banda Aceh Nanggroe Aceh Darussalam, 2009. USU Repository © 2009

meningkat sementara kelajuannya menurun. Gelombang tersebut bergerak pada

kelajuan tinggi, hampir tidak dapat dirasakan efeknya apabila berada dalam pantai

yang dalam. Tsunami bisa menyebabkan kerusakan erosi dan korban jiwa pada

kawasan pesisir pantai dan kepulauan.

14

Dampak negatif yang diakibatkan tsunami adalah merusak apa saja yang dilaluinya. Bangunan, tumbuh-tumbuhan, dan mengakibatkan korban jiwa manusia serta menyebabkan genangan, pencemaran air asin, lahan pertanian, tanah, dan air bersih.

Syarat terjadinya tsunami akibat gempa adalah :

• Gempa bumi yang berpusat di tengah laut dan dangkal (0 - 30 km) • Gempa bumi dengan kekuatan sekurang-kurangnya 6,5 Skala Richter • Gempa bumi dengan pola sesar naik atau sesar turun

Penyebab terjadinya tsunami adalah : Tsunami dapat terjadi jika terjadi gangguan yang menyebabkan perpindahan sejumlah besar air, seperti letusan gunung api, gempa bumi, longsor maupun meteor yang jatuh ke bumi. Namun, 90% tsunami adalah akibat gempa bumi bawah laut.

Gerakan vertikal pada kerak bumi, dapat mengakibatkan dasar laut naik atau
turun secara tiba-tiba, yang mengakibatkan gangguan kesetimbangan air yang berada
di atasnya. Hal ini mengakibatkan terjadinya aliran energi air laut, yang ketika sampai
di pantai menjadi gelombang besar yang mengakibatkan terjadinya tsunami.
Dini Arista : Objek Wisata Baru Pasca Tsunami Sebagai Primadona Industri Pariwisata Di Banda Aceh Nanggroe Aceh Darussalam, 2009. USU Repository © 2009

Kecepatan gelombang tsunami tergantung pada kedalaman laut di mana gelombang terjadi, dimana kecepatannya bisa mencapai ratusan kilometer per jam. Bila tsunami mencapai pantai, kecepatannya akan menjadi kurang lebih 50 km/jam dan energinya sangat merusak daerah pantai yang dilaluinya. Di tengah laut tinggi
15 gelombang tsunami hanya beberapa cm hingga beberapa meter, namun saat mencapai pantai tinggi gelombangnya bisa mencapai puluhan meter karena terjadi penumpukan masa air. Saat mencapai pantai tsunami akan merayap masuk daratan jauh dari garis pantai dengan jangkauan mencapai beberapa ratus meter bahkan bisa beberapa kilometer. Gerakan vertikal ini dapat terjadi pada patahan bumi atau sesar. Gempa bumi juga banyak terjadi di daerah subduksi, dimana lempeng samudera menelusup ke bawah lempeng benua.
Tanah longsor yang terjadi di dasar laut serta runtuhan gunung api juga dapat mengakibatkan gangguan air laut yang dapat menghasilkan tsunami. Gempa yang menyebabkan gerakan tegak lurus lapisan bumi. Akibatnya, dasar laut naik-turun secara tiba-tiba sehingga keseimbangan air laut yang berada di atasnya terganggu. Demikian pula halnya dengan benda kosmis atau meteor yang jatuh dari atas. Jika ukuran meteor atau longsor ini cukup besar, dapat terjadi megatsunami yang tingginya mencapai ratusan meter.
Dini Arista : Objek Wisata Baru Pasca Tsunami Sebagai Primadona Industri Pariwisata Di Banda Aceh Nanggroe Aceh Darussalam, 2009. USU Repository © 2009

BAB III GAMBARAN UMUM BANDA ACEH
3.1 LETAK GEOGRAFIS Kota Banda Aceh adalah ibukota provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.
Dahulu kota ini bernama Kutaraja, kemudian sejak 28 Desember 1962 namanya diganti menjadi Banda Aceh. Sebagai pusat pemerintahan, Banda Aceh menjadi pusat segala kegiatan ekonomi, politik, sosial, dan budaya. Berdasarkan Perda Aceh No.5/1988, tanggal 22 April 1205 ditetapkan sebagai tanggal keberadaan kota yang telah berumur 797 tahun ini.
Wilayah kota Banda Aceh sangat strategis berada pada jalur pelayaran Selat Malaka dan Lautan Hindia, berhadapan dengan jarak tidak terlalu jauh dengan negara tetangga Malaysia, Vietnam, dan kamboja.
Kota Banda Aceh luasnya 61,36 km², terletak pada 05.30 - 05.35 LU dan 95.30 - 99.16 BT, dengan posisi membujur dari arah Selatan ke Barat Laut. Adapun batas-batas wilayah Banda Aceh :
Dini Arista : Objek Wisata Baru Pasca Tsunami Sebagai Primadona Industri Pariwisata Di Banda Aceh Nanggroe Aceh Darussalam, 2009. USU Repository © 2009

- Utara

: Selat Malaka

- Timur

: Kecamatan Barona Jaya dan Kecamatan

Darussalam, Kabupaten AcehBesar

- Barat

: Kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar

- Selatan

: Kecamatan Darul Imarah dan Kecamatan Ingin Jaya

Kabupaten Aceh Besar

17

Secara geografis, Banda Aceh terdiri dari 9 kecamatan, 70 desa (gampong),
16 dan 20 kelurahan. Permukaan tanah kota Banda Aceh pada umumnya datar, dengan

ketinggian rata-rata 0,80 cm diatas permukaan air laut.

Gampong (Desa) 16 10 11 9 9 10 6 9
Dini Arista : Objek Wisata Baru Pasca Tsunami Sebagai Primadona Industri Pariwisata Di Banda Aceh Nanggroe Aceh Darussalam, 2009. USU Repository © 2009

18

Berikut merupakan data dari 9 kecamatan lengkap

dengan luas dan persentase untuk tiap kecamatan :

No. Kecamatan

Luas / Km2

Persentase

80 desa

1. Meuraxa

7,258

11,83

2. Baiturrahman

4,539

7,40

3. Kuta Alam

10,047

16,37

4. Syiah Kuala 5. Ulee Kareng 6. Banda Raya

14,244 6,150 4,789

23,21 10,02 7,80

3.2 JUMLAH PENDUDUK
Penduduk kota

7. Kuta Raja

5,211

8,49 Banda Aceh mayoritas

8. Lueng Bata 9. Jaya Baru
Jumlah

5,341 3,780 61,359

8,70 6,16 100,00

beragama

Islam

dengan jumlah jiwa

146.409 jiwa atau

69%, Katolik 984 jiwa

atau 0,46%, Kristen 602 jiwa atau 0,28%, Hindu 11 jiwa atau 0,005%, Budha 268

jiwa atau 0,12.5% dan selebihnya pemeluk konghucu.

Akibat bencana gempa dan tsunami pada akhir tahun 2004 yang lalu terjadi perubahan besar pada kota Banda Aceh, baik geografisnya, struktur penduduk, struktur ekonomi, maupun struktur sosial.

Penduduk kota Banda Aceh sebelum tsunami berjumlah 265.533 jiwa, yang
terdiri dari laki-laki berjumlah 141.154 jiwa, perempuan berjumlah 101.839 jiwa.
Dini Arista : Objek Wisata Baru Pasca Tsunami Sebagai Primadona Industri Pariwisata Di Banda Aceh Nanggroe Aceh Darussalam, 2009. USU Repository © 2009

Tingkat kepadatan sebelum tsunami mencapai 4.238 jiwa/km², dengan laju pertumbuhan penduduk rata-rata 4,5%. Akibat bencana tsunami penduduk kota Banda Aceh sekarang pasca tsunami ±3.483 jiwa/km².
Jumlah penduduk pada tahun 2008 sebesar 220.669 jiwa berdasarkan hasil proyeksi penduduk yang dilakukan di berbagai BPS (Badan Pengawas Sosial).
3.3 LATAR BELAKANG KEBUDAYAAN ACEH
1. Latar Belakang Sejarah
Seperti bagian Indonesia lainnya, daerah Aceh juga telah lama didiami oleh manusia. Hal ini dapat dipahami apabila diamati letak geografis daerahnya. A19ceh relative menguntungkan dalam hubungan interaksi antar dua pusat peradaban kuno, yaitu India dan Tiongkok. Tentu saja sedikit banyak unsur peradaban dan kebudayaan kedua kebudayaan itu ikut menyerap ke pelbagai segi kehidupan penduduk Aceh pada waktu itu.
Letak yang strategis inilah yang barangkali membawa agama Islam masuk dan menyebar ke kepulauan Indonesia, dan Aceh merupakan daerah yang mula-mula dimasukinya. Pemberian gelar “Seuramo Meukah” (Serambi Mekkah), sekurangkurangnya memberi gambaran betapa berartinya Aceh dalam hubungannya dengan penyebaran agama Islam di kepulauan Indonesia. Kendati pun kapan waktu yang pasti masuknya Islam di Indonesia masih menjadi persoalan, namun toh kerajaan Islam yang pertama di Indonesia adalah di Samudera Pasai dan Perlak.
Dini Arista : Objek Wisata Baru Pasca Tsunami Sebagai Primadona Industri Pariwisata Di Banda Aceh Nanggroe Aceh Darussalam, 2009. USU Repository © 2009

Mengenai awal penetapan kota Banda Aceh, pada tahun 1205 merupakan awal keberadaannya dan masih bernama Kutaraja bukan Banda Aceh, hal ini berdasarkan Keputusan Menteri Pemerintahan Umum dan Otonomi Daerah tertanggal 9 Mei 1963 No. Des 52/1/43-43. Dan pada tahun 1962 resmilah Banda Aceh menjadi nama ibukota Propinsi Nanggroe Aceh Darussalam bukan lagi Kutaraja. Nama Banda Aceh dikenal hingga saat ini.
2. Struktur Masyarakat
Berdasarkan pendekatan historis, lapisan masyarakat Aceh yang paling menonjol dapat dikelompokkan pada dua golongan, yaitu :
20
1. Golongan Umara
Maksudnya : sebagai pemerintah atau pejabat pelaksana pemerintah dalam satu unit wilayah kekuasaan. Contohnya seperti jabatan Sultan yang merupakan pimpinan atau pejabat tertinggi dalam unit pemerintahan kerajaan, Uleebalang sebagai pimpinan unit pemerintah Nanggroe (negeri), Panglima Sagoe (Panglima Sagi) yang memimpin unit pemerintahan Sagi, Kepala Mukim yang menjadi pimpinan unit pemerintahan Mukim dan Keuchiek atau Geuchiek yang menjadi pimpinan pada unit pemerintahan Gampong (kampung). Kesemua mereka atau pejabat tersebut di atas, dalam struktur pemerintahan di Aceh pada masa dahulu dikenal sebagai lapisan pemimpin adat, pemimpin keduniawian, atau kelompok elite sekuler.
Dini Arista : Objek Wisata Baru Pasca Tsunami Sebagai Primadona Industri Pariwisata Di Banda Aceh Nanggroe Aceh Darussalam, 2009. USU Repository © 2009

2. Golongan Ulama
Maksudnya : Yang menjadi pimpinan atau yang mengurusi masalah-masalah keagamaan (hukum atau syariat Islam) dikenal sebagai pemimpin keagamaan atau masuk kelompok elite religious. Para ulama ini mengurusi hal-hal yang menyangkut keagamaan, maka dari itu mereka haruslah seorang yang berilmu, yang dalam istilah Aceh disebut Ureung Nyang Malem. Dengan ilmu lah mereka dapat menyandang predikat/sebutan ulama itu sendiri. Yang berarti para ahli ilmu atau para ahli pengetahuan. Adapun golongan atau kelompok Ulama ini dapat disebutkan, yaitu :
1. Tengku Meunasah, yang memimpin masalah-masalah yang berhubungan 21
dengan keagamaan pada satu unit pemerintah Gampong (kampung). 2. Imum Mukim (Imam Mukim), yang mengurusi masalah keagamaan pada
tingkat pemerintahan mukim, yang bertindak sebagai imam sembahyang pada setiap hari Jumat di sebuah mesjid pada wilayah mukim yang bersangkutan. 3. Qadli (kadli), yaitu orang yang memimpin pengadilan agama atau yang dipandang mengerti mengenai hukum agama pada tingkat kerajaan dan juga pada tingkat Nanggroe yang disebut Kadli Uleebalang. 4. Teungku-teungku, yaitu pengelola lembaga-lembaga pendidikan keagamaan seperti dayah dan rangkang, juga termasuk murid-muridnya. Bagi mereka yang sudah cukup tinggi tingkat keilmuannya, disebut dengan istilah Teungku Chiek.
Dini Arista : Objek Wisata Baru Pasca Tsunami Sebagai Primadona Industri Pariwisata Di Banda Aceh Nanggroe Aceh Darussalam, 2009. USU Repository © 2009

Selain pembagian atas kedua kelompok tersebut di atas, yang paling menonjol dalam masyarakat Aceh tempo doeloe, terdapat lapisan-lapisan lain
seperti kelompok Sayed yang bergelar habib untuk laki-laki dan Syarifah untuk perempuan. Kelmpok ini dikatakan berasal dari keturunan Nabi Muhammad. Jadi kelompok Sayed ini juga merupakan lapisan tersendiri dalam masyarakat Aceh. Pelapisan masyarakat Aceh juga dapat dilihat dari segi harta yang mereka miliki. Untuk itu, maka ada golongan hartawan/orang kaya dan rakyat biasa (Ureung leue).
3. Sistem Kekerabatan
Sistem kekerabatan etnis Aceh adalah menurut garis keturunan Ayah dan juga Ibu. Perpaduan patrilineal dan matrilineal ini dalam hubungan kekerabatan22yang mengakibatkan terjadinya pembauran etnis ini dengan etnis lainnya sehingga terjadinya asimilasi sehingga menumbuhkan bentuk ke-Singkil-an suku. Terlebih lagi mencairnya pemisahan antara berbagai etnis maka terjadilah perkawinan antar etnis yang memunculkan kehidupan harmonis saling menghargai.
3.4 FASILITAS PENDUKUNG PARIWISATA
A. AKOMODASI
Jika mengunjungi daerah Banda Aceh, jangan ragu akan akomodasi. Sebab semenjak pembangunan kembali Aceh, fasilitas akomodasi pun ikut dikembangkan
Dini Arista : Objek Wisata Baru Pasca Tsunami Sebagai Primadona Industri Pariwisata Di Banda Aceh Nanggroe Aceh Darussalam, 2009. USU Repository © 2009

dan sudah terhitung sebagai hotel berbintang dan sesuai dengan standart hotel berbintang pada umumnya. Berikut daftarnya :

1. Cakra Donya Hotel

Address

: Jl. Khairil Anwar No.10 , Banda Aceh

Phone

: (0651) 33633

2. Sultan Hotel

Address

: Jl. Sultan Hotel No.1, Peunayong Banda Aceh

Phone

: (0651) 22469

3. Kartika Hotel

Address

: Jl. Nyak Adam Kamil IV No.1 Banda Aceh

Phone

: (0651) 31205

4. Taman Tepi Laut Hotel

23

Address

: Jl. Banda Aceh-Meulaboh KM 17,55 Lhoknga Banda Aceh

Phone

: (0651) 44202

5. Medan Hotel

Address

: Jl. Jend. Ahmad Yani No. 17, Peunayong Banda Aceh

Phone

: (0651) 33851

6. Hermes Palace (Ex: Swissbelt Hotel)

Dini Arista : Objek Wisata Baru Pasca Tsunami Sebagai Primadona Industri Pariwisata Di Banda Aceh Nanggroe Aceh Darussalam, 2009. USU Repository © 2009

Address Phone

: Jl. Panglima Nyak Makam Banda Aceh : (0651) 755888

B. PERHUBUNGAN UDARA
Dalam kota Banda Aceh, terdapat satu bandara yang bernama Bandara Sultan Iskandar Muda. Ini merupakan satu-satunya bandara yang dapat menghubungkan Banda Aceh dengan luar kota. Sehari-harinya, pesawat komersil seperti Garuda Indonesia (GA), Sriwijaya Air (SJ) siap melayani route Banda Aceh (BNA) – Medan (MES).
Bila musim haji tiba, Banda Aceh dan bandara ini khususnya menjadi penghubung untuk keberangkatan jamaah haji asal provinsi Nanggroe Aceh Darussalam menuju Saudi Arabia.

24
C. PERHUBUNGAN DARAT
Dengan adanya peningkatan sarana jalan, angkutan darat pun terus meningkat. Angkutan penumpang bus umum dan truk barang merupakan sarana penting untuk kelancaran perekonomian daerah ini yang merupakan jalur penghubung antara Banda Aceh – Aceh Utara – Medan dan daerah lainnya di provinsi NAD.
D. PERHUBUNGAN LAUT
Dini Arista : Objek Wisata Baru Pasca Tsunami Sebagai Primadona Industri Pariwisata Di Banda Aceh Nanggroe Aceh Darussalam, 2009. USU Repository © 2009

Di jalur perairan Nanggroe Aceh Darussalam, terdapat sembilan pelabuhan yang masing-masing berlokasi di :
- 4 (empat) pelabuhan terdapat di bagian barat, Meulaboh (100 Dwt), Tapak Tuan (4.000 Dwt), Susoh Aceh Selatan (3.000 Dwt) dan Sinabang (3.000 Dwt)
- 5 (lima) pelabuhan lagi terdapat di bagian timur Aceh, Sabang (10.000 Dwt), Malahayati (5.000 Dwt), Lhokseumawe (10.000 Dwt), Kuala Langsa (5.000 Dwt)
- Dan 4 (empat) pelabuhan khusus yang dimiliki oleh perusahaan gas/minyak dan pupuk (AAF, EXXON MOBIL, ARUN LNG, PIM dan PT. SAI). Untuk memperlancar pelayaran kapal Ferry yang menghubungkan Banda
Aceh – Sabang kini pasca tsunami telah siap diperbaiki pelabuhan Ulee Lhee (500 Dwt) di Banda Aceh.
BAB IV OBJEK WISATA PASCA TSUNAMI SEBAGAI PRIMADONA BARU
INDUSTRI PARIWISATA DI BANDA ACEH NANGGROE ACEH DARUSSALAM
Dini Arista : Objek Wisata Baru Pasca Tsunami Sebagai Primado

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

119 3984 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1057 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 945 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 632 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 790 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1348 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

66 1253 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 825 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 1111 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1350 23